Anda di halaman 1dari 14

I.

Memahami dan menjelaskan demam


I.1 Definisi demam
Kenaikan suhu tubuh diatas normal. Bisa terjadi dikarenakan fisiologikal
stress seperti ovulasi, pengeluaran hormon sekresi thiroid, atau olahraga. Bisa juga
terjadi karena infeksi dari mikroorganisme atau juga non-infeksi seperti inflamasi
atau pengeluaran beberapa material, seperti leukemia.Juga disebut dengan
pyrexia.Beberapa penyakit ditandakan dengan kenaikan suhu tubuh. (Dorland)
Febris/demam adalah kenaikan suhu tubuh diatas variasi sirkadian yang normal
sebagai akibat dari perubahan pada pusat termoregulasi yang terletak dalam
hipotalamus anterior (Isselbacher.1999)
Demam adalah kenaikan suhu tubuh karena adanya perubahan pusat termoregulasi
hipotalamus (Berhman.1999).
Seseorang mengalami demam bila suhu tubuhnya diatas 37,8 C (suhu oral atau
aksila) atau suhu rektal (Donna L. Wong, 2003)
Tempat
pengukuran
Aksila
Sublingual
Rektal
Telinga

Jenis thermometer
Air
elektronik
Air
elektronik
Air
elektronik

raksa,
raksa,
raksa,

Emisi infra merah

Rentang; rerata
suhu normal (oC)
34,7
36,4
35,5
36,6

37,3;

37,5;

Demam
(oC)
37,4
37,6

36,6 37,9; 37

38

35,7
36,6

37,6

37,5;

Etiologi demam
Demam adalah hasil dari respon imun tubuh terhadap benda asing. Benda asing ini
termasuk virus, bakteri, jamur, obat-obatan, atau racun lainnya.
Benda asing dianggap sebagai zat memproduksi yang memproduksi demam
(disebut pirogen), yang memicu respon kekebalan tubuh. Pirogen memberitahu
hipotalamus untuk meningkatkan suhu set point untuk membantu tubuh melawan
infeksi.
Suhu tubuh diatur oleh hipotalamus sebagai thermostat. Set poin adalah 37 +/- 0.5
1. Set point hipotalamus meningkat:
a. Pirogen endogen: Infeksi, keganasan, alergi, steroid, penyakit kolagen.
b. Penyakit/zat: kerusakan saraf pusat, keracunan DDT
2. Set point hipotalamus normal:

a. pembentukan panas lebih dari pengeluarannya: hipertermia malignan,


hipertirodi, hipernatremi
b. Lingkunan lebih panas dari tubuh
c. pengeluaran panas yang tidak baik: dysplasia ectoderm, terbakar, heat stroke
3. Rusaknya pengatur suhu :
a. penyakit yang langsung menyarang set poin:
trauma kepala, esafalitis/meningitis, pendarahan di kepala
I.2 Klasifikasi demam

Demam kontinyu (Gambar 1.) atau sustained fever ditandai oleh peningkatan
suhu tubuh yang menetap dengan fluktuasi maksimal 0,4 oC selama periode 24
jam. Fluktuasi diurnal suhu normal biasanya tidak terjadi atau tidak signifikan.

Gambar 1. Pola demam pada demam tifoid (memperlihatkan bradikardi relatif)

Demam remiten ditandai oleh penurunan suhu tiap hari tetapi tidak mencapai
normal dengan fluktuasi melebihi 0,5oC per 24 jam. Pola ini merupakan tipe
demam yang paling sering ditemukan dalam praktek pediatri dan tidak spesifik
untuk penyakit tertentu (Gambar 2.). Variasi diurnal biasanya terjadi,
khususnya bila demam disebabkan oleh proses infeksi.

Gambar 2. Demam remiten

Pada demam intermiten suhu kembali normal setiap hari, umumnya pada pagi
hari, dan puncaknya pada siang hari (Gambar 3.). Pola ini merupakan jenis
demam terbanyak kedua yang ditemukan di praktek klinis.

Gambar 3. Demam intermiten

Demam septik atau hektik terjadi saat demam remiten atau intermiten
menunjukkan perbedaan antara puncak dan titik terendah suhu yang sangat
besar.
Demam quotidian, disebabkan oleh P. Vivax, ditandai dengan paroksisme
demam yang terjadi setiap hari.
Demam quotidian ganda (Gambar 4.)memiliki dua puncak dalam 12 jam
(siklus 12 jam)

Gambar 4. Demam quotidian

Undulant fever menggambarkan peningkatan suhu secara perlahan dan


menetap tinggi selama beberapa hari, kemudian secara perlahan turun menjadi
normal.
Demam lama (prolonged fever) menggambarkan satu penyakit dengan lama
demam melebihi yang diharapkan untuk penyakitnya, contohnya > 10 hari
untuk infeksi saluran nafas atas.
Demam rekuren adalah demam yang timbul kembali dengan interval irregular
pada satu penyakit yang melibatkan organ yang sama (contohnya traktus
urinarius) atau sistem organ multipel.
Demam bifasik menunjukkan satu penyakit dengan 2 episode demam yang
berbeda (camelback fever pattern, atau saddleback fever). Poliomielitis
merupakan contoh klasik dari pola demam ini. Gambaran bifasik juga khas
untuk leptospirosis, demam dengue, demam kuning, Colorado tick fever,
spirillary rat-bite fever (Spirillum minus), dan African hemorrhagic fever
(Marburg, Ebola, dan demam Lassa).
Relapsingfever dan demam periodik:
o Demam periodik ditandai oleh episode demam berulang dengan interval
regular atau irregular. Tiap episode diikuti satu sampai beberapa hari,
beberapa minggu atau beberapa bulan suhu normal. Contoh yang dapat
dilihat adalah malaria (istilah tertiana digunakan bila demam terjadi setiap

hari ke-3, kuartana bila demam terjadi setiap hari ke-4) (Gambar 5.)dan
brucellosis.

Gambar 5. Pola demam malaria


o Relapsing fever adalah istilah yang biasa dipakai untuk demam rekuren
yang disebabkan oleh sejumlah spesies Borrelia (Gambar 6.)dan
ditularkan oleh kutu (louse-borne RF) atau tick (tick-borne RF).

Gambar 6. Pola demam Borreliosis (pola demam relapsing)


Penyakit ini ditandai oleh demam tinggi mendadak, yang berulang secara
tiba-tiba berlangsung selama 3 6 hari, diikuti oleh periode bebas demam
dengan durasi yang hampir sama. Suhu maksimal dapat mencapai 40,6 oC
pada tick-borne fever dan 39,5oC pada louse-borne.Gejala penyerta
meliputi myalgia, sakit kepala, nyeri perut, dan perubahan kesadaran.
Resolusi tiap episode demam dapat disertai Jarish-Herxheimer reaction
(JHR) selama beberapa jam (6 8 jam), yang umumnya mengikuti
pengobatan antibiotik. Reaksi ini disebabkan oleh pelepasan endotoxin
saat organisme dihancurkan oleh antibiotik.JHR sangat sering ditemukan
setelah mengobati pasien syphillis.Reaksi ini lebih jarang terlihat pada
kasus leptospirosis, Lyme disease, dan brucellosis.Gejala bervariasi dari
demam ringan dan fatigue sampai reaksi anafilaktik full-blown.
o Contoh lain adalah rat-bite fever yang disebabkan oleh Spirillum minus
dan Streptobacillus moniliformis. Riwayat gigitan tikus 1 10 minggu
sebelum awitan gejala merupakan petunjuk diagnosis.
o Demam Pel-Ebstein (Gambar 7.), digambarkan oleh Pel dan Ebstein pada
1887, pada awalnya dipikirkan khas untuk limfoma Hodgkin (LH). Hanya
sedikit pasien dengan penyakit Hodgkin mengalami pola ini, tetapi bila
ada, sugestif untuk LH. Pola terdiri dari episode rekuren dari demam yang
berlangsung 3 10 hari, diikuti oleh periode afebril dalam durasi yang
serupa. Penyebab jenis demam ini mungkin berhubungan dengan destruksi
jaringan atau berhubungan dengan anemia hemolitik.

Gambar 7. Pola demam penyakit Hodgkin (pola Pel-Ebstein).


a. Mekanisme demam
Demam dapat timbul dari terpaparnya tubuh manusia terhadap pirogen eksogen
yang kemudian akan mengakibatkan terstimulasinya pirogen endogen untuk
melindungi tubuh dan menciptakan kekebalan melawan pirogen eksogen tersebut,
atau disebabkan pengaruh pirogen endogen itu sendiri. Contoh pirogen endogen
yanga ada dalam tubuh adalah interleukin-1 (IL-1), -interferon, dan tumor
necrosis factor (TNF). IL-1 berperan penting dalam mekanisme pertahanan tubuh
yaitu antara lain dapat menstimulasi limfosit T dan B, mengaktivasi netrofil,
merangsang sekresi reaktan (Creactive protein, haptoglobin, fibrinogen) dari
hepar, mempengaruhi kadar besi dan seng plasma dan meningkatkan katabolisme
otot. IL-1 bereaksi sebagai pirogen yaitu dengan merangsang sintesis
prostagalndin E2 di hipotalamus, yang kemudian bekerja pada pusat vasomotor
sehingga meningkatkan produksi panas sekaligus menahan pelepasan panas,
sehingga menyebabkan demam.TNF (cachectin) juga mempunyai efek
metabolisme dan berperan juga pada penurunan berat badan yang kadang-kadang
diderita setelah seseorang menderita infeksi.TNF bersifat pirogen melalui dua cara,
yaitu efek langsung dengan melepaskan prostaglandin E2 dari hipotalamus atau
dengan merangsang perlepasan IL-1.Sedangkan, alpha-interferon (IFN-) adalah
hasil produksi sel sebagai respons terhadap infeksi virus.
Prostaglandin yang dihasilkan pirogen-pirogen itu kemudian mensensitisasi
reseptor dan diteruskan oleh resptor sampai hypotalamus yang akan menyebabkan
peningkatan derajat standart panas hypotalamus (Hypotalamic Termostat).
Peningkatan derajat standart panas hypotalamus inilah yang akan memicu sistem
pengaturan suhu tubuh (termoregulation) untuk meningkatkan suhu, maka
terjadilah demam.

II. Memahami dan menjelaskan Salmonella enterika


Salmonella adalah suatu genus bakteri yang merupakan penyebab utama penyakit
bawaan makanan di seluruh dunia. Bakteri umumnya ditularkan ke manusia melalui
konsumsi makanan yang terkontaminasi yang berasal dari hewan, terutama daging,
unggas, telur dan susu.
Gejala infeksi Salmonella biasanya muncul 12-72 jam setelah infeksi, dan termasuk
demam, sakit perut, diare, mual dan kadang-kadang muntah. Penyakit ini biasanya
berlangsung 4-7 hari, dan kebanyakan orang sembuh tanpa pengobatan.Namun, di sangat
muda dan orang tua, dan dalam kasus-kasus ketika bakteri memasuki aliran darah,
antibiotherapy mungkin diperlukan.
a. Morfologi salmonella
S. typhimerupakan bakteri batang gram negatif dan tidak membentuk spora, serta
memiliki kapsul. Bakteri ini juga bersifat fakultatif, dan sering disebut sebagai
facultative intra-cellular parasites.Dinding selnya terdiri atas murein, lipoprotein,
fosfolipid, protein, dan lipopolisakarida (LPS) dan tersusun sebagai lapisan-lapisan
(Dzen, 2003).
Salmonella adalah bakteri berbentuk batang, racun dan memproduksi terutama
saluran pencernaan manusia dan hewan yang terinfeksi.Mereka memimpin dengan
gejala demam tifoid (Salmonella typhi, Salmonella paratyphi).

Genus: Salmonella
Keluarga: Enterobacteriaceae
Diameter: 0,7-1,5 mikron
Durasi: 2 - 5 mikron
Gram-negatif
ponsel aktif
anaerob fakultatif (organisme yang tidak tergantung pada oksigen untuk
metabolisme mereka)
Chemoorganotroph (ekstraksi energi dari reaksi kimia)
Jangan membentuk spora
Lysotypie
Salmonella adalah di dalam tanah, pada tanaman dan kotoran manusia atau hewan
sebelumnya.Reservoir patogen membentuk hewan dan manusia. Di seluruh dunia,
ada total sekitar 2.400 jenis salmonella.
Ukuran panjangnya bervariasi, dan sebagian besar memiliki peritrichous flagella
sehingga bersifat motil.S. typhimembentuk asam dan gas dari glukosa dan
mannosa. Organisme ini juga menghasilkan gas H2S, namun hanya sedikit (Winn,
2006). Bakteri ini tahan hidup dalam air yang membeku untuk waktu yang lama
(Brooks, 2005).
Sifat Salmonella typhi
Host reservoar: unggas, babi, hewan pengerat, hewan ternak, binatang piaraan,
dsb.
Menghasilkan hasil positif terhadap reaksi fermentasi manitol dan sorbitol.
Memberikan hasil negatif pada reaksi indol, DNase, fenilalanin deaminase,
urease, Voges Proskauer, reaksi fermentasi terhadap sukrosa, laktosa, dan adonitol.
Pada agar SS, Endo, EMB, dan McConkey, koloni kuman berbentuk bulat, kecil,
dan tidak berwarna.Pada agar Wilson-Blair, koloni kuman berwarna hitam.
Dapat masuk ke dalam tubuh secara oral, melalui makanan dan minuman yang
terkontaminasi.
Dosis infektif rata-rata untuk menimbulkan infeksi klinis atau subklinis pada
manusia pada manusia adalah 105108 organisme.
Faktor pejamu yang menimbulkan resistensi terhadap infeksi Salmonella adalah
keasaman lambung, flora mikroba normal usus, dan kekebalan usus setempat.
Dapat bertahan dalam air yang membeku untuk waktu yang lama (+ 4 minggu).
Mati pada suhu 56oC, juga pada keadaan kering.
Hidup subur dalam medium yang mengandung garam empedu.
Resisten terhadap zat warna hijau brilian, natrium tetrationat, dan natrium
deoksikolat yang menghambat pertumbuhan kuman koliform sehingga senyawasennyawa tersebut dapat digunakan untuk inklusi isolat Salmonella dari feses pada
medium.
b. Klasifikasi salmonella
Klasifikasi Salmonella terbentuk berdasarkan dasar epidemiologi, jenis inang,
reaksi biokimia, dan struktur antigen O, H, V ataupun K. Antigen yang paling
umum digunakan untuk Salmonella adalah antigen O dan H.

Antigen O, berasal dari bahasa Jerman (Ohne), merupakan susunan senyawa


lipopolisakarida (LPS).LPS mempunyai tiga region.Region I merupakan antigen
O-spesifik atau antigen dinding sel. Antigen ini terdiri dari unit-unit oligosakarida
yang terdiri dari tiga sampai empat monosakarida.Polimer ini biasanya berbeda
antara satu isolat dengan isolat lainnya, itulah sebabnya antigen ini dapat
digunakan untuk menentukan subgrup secara serologis.Region II merupakan
bagian yang melekat pada antigen O, merupakan core polysaccharide yang konstan
pada genus tertentu.Region III adalah lipid A yang melekat pada region II dengan
ikatan dari 2-keto-3-deoksioktonat (KDO). Lipid A ini memiliki unit dasar yang
merupakan disakarida yang menempel pada lima atau enam asam lemak. Bisa
dikatakan lipid A melekatkan LPS ke lapisan murein-lipoprotein dinding sel (Dzen,
2003).
Antigen H merupakan antigen yang terdapat pada flagela dari bakteri ini, yang
disebut juga flagelin.Antigen H adalah protein yang dapat dihilangkan dengan
pemanasan atau dengan menggunakan alkohol.Antibodi untuk antigen ini
terutamanya adalah IgG yang dapat memunculkan reaksi aglutinasi. Antigen ini
memiliki phase variation, yaitu perubahan fase salam satu serotip tunggal. Saat
serotip mengekspresikan antigen H fase-1, antigen H fase-2 sedang disintesis
(Chart, 2002).
Antigen K berasal dari bahasa Jerman, kapsel.Antigen K merupakan antigen kapsul
polisakarida dari bakteri enteric (Dzen, 2003).Antigen ini mempunyai berbagai
bentuk sesuai genus dari bakterinya.Pada salmonella, antigen K dikenal juga
sebagai virulence antigen (antigen Vi).
Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, antigen menentukan klasifikasi dari
Salmonella, yakni ke dalam serogrup dan serotipnya seperti contoh pada tabel

Demikian banyaknya serotip dari Salmonella, namun hanya Salmonella typhi,


Salmonella cholera, dan mungkin Salmonella paratyphi A dan Salmonella
parathypi B yang menjadi penyebab infeksi utama pada manusia. Infeksi bakteri ini
bersumber dari manusia, namun kebanyakan Salmonella menggunakan binatang
sebagai reservoir infeksi pada manusia, seperti babi, hewan pengerat, ternak, kurakura, burung beo, dan lain-lain. Dari beberapa jenis salmonella tersebut di atas,
infeksi Salmonella typhi merupakan yang tersering (Brooks, 2005).
c. Siklus hidup salmonella
Infeksi terjadi dari memakan makanan yang terkontaminasi dengan feses yang
terdapat bakteri Salmonella typhi dari organisme pembawa (host).

III.

Setelah masuk dalam saluran pencernaan, maka S. typhi menyerang dinding


usus yang menyebabkan kerusakan dan peradangan.
Infeksi dapat menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah karena dapat
menembus dinding usus tadi ke organ-organ lain, seperti hati, limpa, paruparu, tulang-tulang sendi, plasenta dan dapat menembus sehingga menyerang
fetus pada wanita atau hewan betina yang hamil, serta menyerang membran
yang menyelubungi otak.
Substansi racun dapat diproduksi oleh bakteri dan dapat dilepaskan dan
mempengaruhi keseimbangan tubuh.
Di dalam hewan atau manusia yang terinfeksi, pada fesesnya terdapat
kumpulan S. typhi yang dapat bertahan sampai berminggu-minggu atau
berbulan-bulan.
Bakteri tersebut tahan terhadap range temperatur yang luas sehingga dapat
bertahan hidup berbulan-bulan dalam tanah atau air.
Memahami dan menjelaskan demam typhoid
a. Definisi demam thypoid
Demam tifoid adalah penyakit infeksibakteri, yang disebabkan oleh Salmonella
typhi .Penyakit ini ditularkan melalui konsumsi makanan atau minuman yang
terkontaminasi oleh tinja atau urin orang yang terinfeksi.Gejala biasanya muncul 13 minggu setelah terkena, dan mungkin ringan atau berat. Gejala meliputi demam
tinggi, malaise, sakit kepala, mual, kehilangan nafsu makan ,sembelit atau diare,
bintik-bintik merah muda di dada (Rose spots), dan pembesaran limpa dan hati.
Demam tifoid (termasuk para-tifoid) disebabkan oleh kuman Salmonella typhi, S
paratyphi A, S paratyphi B dan S paratyphi C. Jika penyebabnya adalah S
paratyphi, gejalanya lebih ringan dibanding dengan yang disebabkan oleh S typh
b. Etiologi demam thypoid
Demam typhoid timbul akibat dari infeksi oleh bakteri golongan Salmonella yang
memasuki tubuh penderita melalui saluran pencernaan. Sumber utama yang
terinfeksi adalah manusia yang selalu mengeluarkan mikroorganisme penyebab
penyakit,baik ketika ia sedang sakit atau sedang dalam masa penyembuhan.Pada
masa penyembuhan, penderita masih mengandung Salmonella spp didalam
kandung empedu atau di dalam ginjal. Sebanyak 5% penderita demam tifoid kelak
akan menjadi karier sementara, sedang 2 % yang lain akan menjadi karier yang
menahun.Sebagian besar dari karier tersebut merupakan karier intestinal (intestinal
type) sedang yang lain termasuk urinary type. Kekambuhan yang yang ringan pada
karier demam tifoid,terutama pada karier jenis intestinal,sukar diketahui karena
gejala dan keluhannya tidak jelas
c. Klasifikasi demam thypoid
Gejala utama : Demam, gangguan saraf pusat/kesadaran.
Trias nya :
- Demam > 7 hari
- Gangguan Saluran Pencernaan
- Gangguan Kesadaran/Apatis
Masa inkubasi : 7-20 hari (1-3 minggu)
Inkubasi terpendek : 3 hari
Inkubasi terpanjang : 60 hari

Klasifikasi Demam :
1. Demam Remitten :
Fluktuasi > 1 C, Tidak pernah Normal
2. Demam Intermitten
Fluktuasi> 1 C, Pernah Normal
3. Demam Continous
Fluktuasi< 1 C, Tidak pernah Normal
d. Pathogenesis demam thypoid
Salmonella yang terbawa melalui makanan ataupun benda lainnya akan memasuki
saluran cerna. Di lambung, bakteri ini akan dimusnahkan oleh asam lambung,
namun yang lolos akan masuk ke usus halus. Bakteri ini akan melakukan penetrasi
pada mukosa baik usus halus maupun usus besar dan tinggal secara intraseluler
dimana mereka akan berproliferasi.
Ketika bakteri ini mencapai epitel dan IgA tidak bisa menanganinya, maka akan
terjadi degenerasi brush border. Kemudian, di dalam sel bakteri akan dikelilingi
oleh inverted cytoplasmic membrane mirip dengan vakuola fagositik (Dzen, 2003).
Setelah melewati epitel, bakteri akan memasuki lamina propria. Bakteri dapat juga
melakukan penetrasi melalui intercellular junction.Dapat dimungkinkan munculnya
ulserasi pada folikel limfoid (Singh, 2001). S. typhi dapat menginvasi sel M dan sel
enterosit tanpa ada predileksi terhadap tipe sel tertentu (Santos, 2003).
Evolusi dari S. typhi sangat mengagumkan. Pada awalnya S. typhi berpfoliferasi di
Payers patch dari usus halus, kemudian sel mengalami destruksi sehingga bakteri
akan dapat menyebar ke hati, limpa, dan sistem retikuloendotelial. Dalam satu
sampai tiga minggu bakteri akan menyebar ke organ tersebut. Bakteri ini akan
menginfeksi empedu, kemudian jaringan limfoid dari usus halus, terutamanya
ileum. Invasi bakteri ke mukosa akan memicu sel epitel untuk menghasilkan
berbagai sitokin seperti IL-1, IL-6, IL-8, TNF-, INF, GM-CSF (Singh, 2001).

e. Tatalaksana demam thypoid


a.
Perawatan
Pasien thypoid perlu dirawat di Rumah Sakit untuk mendapatkan perawatan,
observasi dan diberikan pengobatan yakni :
Isolasi pasien.
Desinfeksi pakaian.
Perawatan yang baik untuk menghindari komplikasi, mengingat sakit yang
lama, lemah, anoreksia dan lain-lain.
Istirahat selama demam sampai dengan 2 minggu setelah suhu normal
kembali (istirahat total), kemudian boleh duduk jika tidak panas lagi, boleh
berdiri kemudian berjalan diruangan.
b.
Diet
Makanan harus mengandung cukup cairan, kalori dan tinggi protein. Bahan
makanan tidak boleh mengandung banyak serat, tidak merangsang dan tidak
menimbulkan gas, susu 2 gelas sehari, bila kesadaran pasien menurun
diberikan makanan cair melalui sonde lambung. Jika kesadaran dan nafsu
makan anak baik dapat juga diberikan makanan biasa.
c.

Obat
Obat anti mikroba yang sering digunakan :

Cloramphenicol
Cloramphenicol masih merupakan obat utama untuk pengobatan thypoid.
Dosis untuk anak : 50 100 mg/kg BB/dibagi dalam 4 dosis sampai 3 hari
bebas panas/minimal 14 hari.
Kotrimaksasol
Dosis untuk anak : 8 20 mg/kg BB/hari dalam 2 dosis sampai 5 hari bebas
panas/minimal 10 hari.
Bila terjadi ikterus dan hepatomegali : selain Cloramphenicol juga diterapi dengan
ampicillin 100 mg/kg BB/hari selama 14 hari dibagi dalam 4 dosis.
Obat obat antimikroba yang sering digunakan dalam melakukan tatalaksana tifoid
adalah:
Pada demam typhoid, obat pilihan yang digunakan adalah chloramphenicol
dengan dosis 4 x 500 mg per hari dapat diberikan secara oral maupun
intravena, diberikan sampai dengan 7 hari bebas panas. Chloramphenicol
bekerja dengan mengikat unit ribosom dari kuman salmonella, menghambat
pertumbuhannya dengan menghambat sintesis protein. Chloramphenicol
memiliki spectrum gram negative dan positif. Efek samping penggunaan
klorampenikol adalah terjadi agranulositosis. Sementara kerugian
penggunaan klorampenikol adalah angka kekambuhan yang tinggi (5-7%),
penggunaan jangka panjang (14 hari), dan seringkali menyebabkan
timbulnya karier.
Tiamfenikol, dosis dan efektifitasnya pada demam tofoid sama dengan
kloramfenikol yaitu 4 x 500 mg, dan demam rata-rata menurun pada hari ke5 sampai ke-6. Komplikasi hematologi seperti kemungkinan terjadinya
anemia aplastik lebih rendah dibandingkan dengan kloramfenikol.
Ampisillin dan Amoksisilin, kemampuan untuk menurunkan demam lebih
rendah dibandingkan kloramfenikol, dengan dosis 50-150 mg/kgBB selama 2
minggu.
Trimetroprim-sulfamethoxazole, (TMP-SMZ) dapat digunakan secara oral
atau intravena pada dewasa pada dosis 160 mg TMP ditambah 800 mg SMZ
dua kali tiap hari pada dewasa.
Sefalosforin Generasi Ketiga, yaitu ceftriaxon dengan dosis 3-4 gram dalam
dekstrosa 100 cc diberikan selama jam perinfus sekali sehari, diberikan
selama 3-5 hari.
Golongan Flurokuinolon (Norfloksasin, siprofloksasin). Secara relatif obat
obatan golongan ini tidak mahal, dapat ditoleransi dengan baik, dan lebih
efektif dibandingkan obat obatan lini pertama sebelumnya (klorampenicol,
ampicilin, amoksisilin dan trimethoprim-sulfamethoxazole). Fluroquinolon
memiliki kemampuan untuk menembus jaringan yang baik, sehingga mampu
membunuh S. Thypi yang berada dalam stadium statis dalam
monosit/makrophag dan dapat mencapai level obat yang lebih tinggi dalam
gallblader dibanding dengan obat yang lain. Obat golongan ini mampu
memberikan respon terapeutik yang cepat, seperti menurunkan keluhan
panas dan gejala lain dalam 3 sampai 5 hari. Penggunaan obat golongan
fluriquinolon juga dapat menurunkan kemungkinan kejadian karier pasca

pengobatan.
Kombinasi 2 antibiotik atau lebih diindikasikan pada keadaan tertentu seperti
toksik tifoid, peritonitis atau perforasi, serta syok septik. Pada wanita hamil,
kloramfenikol tidak dianjurkan pada trimester ke-3 karena menyebabkan
partus prematur, kematian fetus intrauterin, dan grey syndrome pada
neonatus. Tiamfenikol tidak dianjurkan pada trimester pertama karena
memiliki efek teratogenik. Obat yang dianjurkan adalah ampisilin,
amoksisilin, dan ceftriaxon.
f. Komplikasi demam thypoid
Komplikasi demam thypoid dibagi dalam :
a.
Komplikasi Intestinal
1. Pendarahan usus
2. Perforasi usus
3. Ileus paralitik
b.
Komplikasi ektra-intestinal
1.
Komplikasi kardiovaskuler
Kegagalan sirkulasi perifel (renjatan sepsis) miokarditis, trombosis dan
tromboflebitis.
2.
Komplikasi darah
Anemia hemolitik, trombositoperia dan sidroma uremia hemolitik.
c.
Komplikasi paru
Pneumonia, emfiema, dan pleuritis
d.
Komplikasi hepair dan kandung empedu
Hepatitis dan kolesistitis
e.
Komplikasi ginjal
Glomerulonefritis, periostitis, spondilitis, dan arthritis
f.
Komplikasi neuropsikiatrik
Delirium, meningismus, meningistis, polyneuritis perifer, sindrom, katatoni
g. Pencegahan demam thypoid
Pencegahan demam tifoid, rute utama penularan demam tifoid adalah melalui
air minum atau makan makanan yang terkontaminasi dengan Salmonella
typhi. Pencegahan didasarkan pada akses menjamin untuk aman air dan
dengan mempromosikan praktek-praktek penanganan makanan yang
aman.Pendidikan kesehatan penting untuk meningkatkan kesadaran publik dan
mendorong perubahan perilaku.
1. Air yang aman
Demam tifoid adalah penyakit ditularkan melalui air dan ukuran pencegahan
utama adalah untuk memastikan akses terhadap air yang aman. Air harus
berkualitas baik dan harus cukup untuk kebutuhan semua masyarakat. Selama
wabah langkah-langkah kontrol berikut adalah kepentingan tertentu:
a. Di daerah perkotaan, pengendalian dan pengobatan sistem pasokan air harus
diperkuat dari tangkapan ke konsumen. Air minum yang aman harus dibuat
tersedia untuk populasi melalui sistem pipa atau dari truk tangki.
b. Di daerah pedesaan, sumur harus diperiksa untuk patogen dan dirawat jika
perlu.

c. Di rumah, perhatian khusus harus diberikan kepada desinfeksi dan


penyimpanan air yang aman sumbernya.
2. Makanan yang aman
Makanan yang terkontaminasi merupakan wahana yang penting untuk
transmisi demam tifoid. Penanganan makanan yang tepat dan pengolahan
adalah yang terpenting dan kebersihan dasar berikut tindakan harus
dilaksanakan atau diperkuat selama wabah:
mencuci tangan dengan sabun sebelum menyiapkan atau sebelum makan
makanan.
3. Sanitasi
Sanitasi yang layak memberikan kontribusi untuk mengurangi risiko penularan
dari semua bakteri patogen termasuk Salmonella typhi.
a. Fasilitas yang sesuai untuk pembuangan limbah manusia harus tersedia
untuk semua komunitas. Dalam keadaan darurat, jamban dapat dengan cepat
dibangun.
b. Pengumpulan dan pengolahan limbah, khususnya selama musim hujan,
harus
diimplementasikan.
4.Pendidikan kesehatan
Pendidikan kesehatan sangat penting untuk meningkatkan kesadaran publik
tentang semua yang disebutkan di atas sebagai upaya pencegahan. Pesan
pendidikan kesehatan bagi masyarakat rentan harus disesuaikan dengan
kondisi lokal dan diterjemahkan ke dalam bahasa lokal.Keterlibatan
masyarakat adalah landasan dari perubahan perilaku berkaitan dengan
kebersihan dan untuk pengaturan dan pemeliharaan prasarana yang
dibutuhkan.
5.Vaksinasi
Vaksinasi dengan menggunakan vaksin T.A.B (mengandung basil tifoid dan
paratifoid A dan B yang dimatikan ) yang diberikan subkutan 2 atau 3 kali
pemberian dengan interval 10 hari merupakan tindakan yang praktis untuk
mencegah penularan demam tifoid Jumlah kasus penyakit itu di Indonesia
cukup tinggi, yaitu sekitar 358-810 kasus per 100.000 penduduk per tahun.
Suntikan imunisasi tifoid boleh dilakukan setiap dua tahun manakala vaksin
oral diambil setiap lima tahun. Bagaimanapun, vaksinasi tidak memberikan
jaminan perlindungan 100%.