Anda di halaman 1dari 10

A.1.

Sejarah
dan
Latar
Belakang
Hak
Sipil
dan
Politik
di
Indonesia
Pada tanggal 10 Desember 1948, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa memproklamasikan
Universal Declaration of Human Rights (Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, untuk selanjutnya
disingkat DUHAM), yang memuat pokok-pokok HAM dan kebebasan dasar, dan yang dimaksudkan
sebagai acuan umum hasil pencapaian untuk semua rakyat dan bangsa bagi terjaminnya pengakuan dan
penghormatan hak-hak dan kebebasan dasar secara universal dan efektif, baik dikalangan rakyat
Negara-negara anggota PBB sendiri maupun dikalangan rakyat di wilayah-wilayah yang berada dibawah
yuridiksi mereka. Oleh sebab bentuknya sebagai acuan umum, maka diperlukan penjabaran isi dan
makna DUHAM ke dalam instrumen internasional yang bersifat mengikat secara hukum.
Pada tahun 1950, Majelis Umum PBB mengesahkan sebuah resolusi yang menyatakan bahwa
pengenyaman kebebasan sipil dan politik serta kebebasan dasar di satu pihak dan hak-hak ekonomi,
sosial, dan budaya di lain pihak bersifat saling terkait dan saling tergantung. Setelah melalui perdebatan
yang panjang, akhirnya pada tanggal 16 Desember 1966, dengan resolusi 2200A (XXI), Majelis Umum
PBB mengesahkan International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) beserta Protokol
Opsionalnya dan juga mengesahkan International Covenant on Economic, Social and Culture Rights
(ICESR) beserta Protokol Opsional. Pembedaan kedua tema HAM ini yang melahirkan ICCPR
merupakan hasil kompromi politik yang keras antara kekuatan negara-negara Blok Sosialis melawan
kekuatan negara-negara Blok Kapitalis yang sedang terlibat Perang Dingin. Situasi ini mempengaruhi
proses legislasi perjanjian internasional hak asasi manusia yang ketika itu sedang digarap Komisi HAM
PBB (mulai bekerja tahun 1949). Akibatnya terjadi pemisahan kategori hak-hak sipil dan politik dengan
hak-hak dalam kategori ekonomi, sosial, dan budaya ke dalam dua kovenan atau perjanjian internasional,
yang pada awalnya diusahakan dapat diintegrasikan ke dalam satu kovenan saja. Akibat pembedaan ini
telah membawa implikasi-implikasi tertentu dalam penegakkan kedua kategori hak tersebut.
Indonesia, sebagai salah satu negara yang memiliki banyak persoalan di bidang HAM, pada dasarnya
telah memuat beberapa muatan hak yang menjadi materi di pasal-pasal ICCPR, jauh sebelum ICCPR itu
sendiri disahkan. Hal ini dapat dibuktikan dari pasal-pasal yang terdapat dalam Undang-Undang Dasar
1945. Namun demikian, pasca proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia materi hak sipil dan politik
yang termuat dalam UUD 1945 tidak dapat dan atau tidak mau dijalankan sepenuhnya dengan baik oleh
pemerintah-pemerintah yang berkuasa pada masanya, mulai dari rejim Presiden Soekarno sampai
dengan Soeharto. Seiring dengan proses demokrasi yang terus tumbuh dan bergerak cepat di Indonesia,
maka terjadilah sebuah pemberontakan rakyat kepada rejim Presiden Soeharto yang korup dan otoriter
pada tahun 1998 yang ditandai dengan lahirnya sebuah suasana politik yang baru yang disebut orde
reformasi.
Selanjutnya, penghormatan dan penegakkan HAM di Indonesia mulai membaik dengan ditandai adanya
Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor : XVII/MPR/1998 tentang HAM,
UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM, UU Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM. Untuk hak
sipil dan politik lebih konkrit lagi ditandai dengan Pengesahan ICCPR dengan UU Nomor 12 Tahun 2005.
Akan tetapi realitas penegakkan instrumen-instrumen tersebut dalam kehidupan masyarakat, belum
sepenuhnya berjalan dengan dengan baik. Hal ini tercermin dari beberapa kasus yang ada dimana terjadi
pelanggaran
hak
sipil
dan
politik
di
dalamnya.
A.2.
Jenis
dan
Muatan
Hak
dalam
ICCPR,
UU
HAM,
dan
UUD
1945
A.2.1.
ICCPR
Pada dasarnya ICCPR memuat ketentuan mengenai pembatasan penggunaan kewenangan oleh
aparatur negara yang ingin bertindak refresif, khususnya negara-negara yang menjadi pihak dalam
ICCPR. Oleh sebab itulah, hak-hak yang ada didalamnya sering disebut sebagai hak-hak negatif
(negative rights), artinya hak-hak dan kebebasan yang dijamin didalamnya akan dapat terpenuhi apabila
peran negara terbatasi atau terlihat berkurang. Akan tetapi, apabila negara berperan sebagai
intervensionis, maka hak-hak dan kebebasan yang diatur di dalamnya akan dilanggar oleh negara. Inilah
yang membedakan dengan model legislasi ICESCR yang justru menuntut peran maksimal negara untuk
memenuhi hak-hak dalam kovenan tersebut yang sering disebut juga sebagai hak-hak positif (positive
rights).
Ada dua klasifikasi terhadap hak-hak dalam ICCPR, yakni Non-Derogable Rights dan Derogable Rights.

Hak Non-Derogable Rights adalah hak-hak yang bersifat absolut yang tidak boleh dikurangi
pemenuhannya oleh negara pihak, walau dalam keadaan darurat sekalipun. Hak-hak yang termasuk ke
dalam
jenis
ini
adalah:
a)
hak
atas
hidup
(right
to
life)
Pasal
3,
b)
hak
bebas
dari
penyiksaan
(right
to
be
free
from
torture)
Pasal
5,
c)
hak
bebas
dari
perbudakan
(right
to
be
free
from
slavery)
Pasal
4,
d) hak bebas dari penahanan karena gagal memenuhi perjanjian utang (Pasal 9),
e)
hak
bebas
dari
pemidanaan
yang
berlaku
surut,
f)
hak
sebagai
subjek
hukum,
dan
g)
hak
atas
kebebasan
berpikir,
keyakinan
dan
agama
(Pasal
200).
Klasifikasi kedua adalah Derogable Right, yakni hak-hak yang boleh dikurangi atau dibatasi
pemenuhannya
oleh
negara-negara
pihak.
Termasuk
jenis
hak
ini
adalah:
a)
hak
atas
kebebasan
berkumpul
secara
damai,
b) hak atas kebebasan berserikat, termasuk membentuk dan menjadi anggota serikat buruh, dan
c) hak atas kebebasan menyatakan pendapat atau berekspresi; termasuk kebebasan mencari, menerima
dan memberikan informasi dan segala macam gagasan tanpa memperhatikan batas (baik melalui tulisan
maupun
tulisan).
Berikut adalah rincian hak-hak sipol sebagaimana tercantum dalam UU No 12 Tahun 2005 yang
merupakan
ratifikasi
terhadap
kovenan
internasional
tentang
hak
sipil-politik.
Pasal 6 Hak untuk hidup (tidak dibunuh/dihukum mati setidaknya bagi anak di bawah 18 tahun)
Pasal 7 Hak untuk tidak disiksa, diperlakukan atau dihukum secara keji, tak manusiawi atau
merendahkan martabat manusia (termasuk tidak diculik/dihilangkan secara paksa, diperkosa)
Pasal 8 Hak untuk tidak diperbudak (larangan segela bentuk perbudakan, perdagangan orang, dan kerja
paksa,)
Pasal 9 Hak atas kebebasan dan keamanan pribadi (tidak ditangkap atau di-tahan dengan sewenangwenang,
didasarkan
pada
ketentuan
hukum
acara
pidana)
Pasal 10 Hak sebagai tersangka dan terdakwa (diperlakukan manusiawi, anak dipisahkan dari orang
dewasa,
sistem
penjara
bertujuan
reformasi
dan
rehabilitasi)
Pasal 11 Hak untuk tidak dipenjara atas kegagalan memenuhi kewajiban kon-traktual (utang atau
perjanjian
lainnya)
Pasal 12 Hak atas kebebasan bergerak dan berdomisili (termasuk meninggalkan dan kembali ke
negerinya
sendiri)
Pasal 13 Hak sebagai orang asing (dapat diusir hanya sesuai hukum atau alasan yang meyakinkan
mengenai
kepentingan
keamanan
nasional)
Pasal 14 Hak atas kedudukan yang sama di muka hukum (dibuktikan kesalah-annya oleh pengadilan
yang berwenang dan tidak memihak, jaminan minimal, dapat ditinjau kembali, tidak diadili dua kali dalam
perkara
yang
sama)
Pasal 15 Hak untuk tidak dipidana berdasarkan hukum yang berlaku surut (jika keluar ketentuan hukum
sebelum
tindak
pidana,
si
pelaku
harus
menda-patkan
keringanannya)
Pasal 16 Hak sebagai subyek hukum (hak perdata setiap orang seperti kewarganegaraan)
Pasal 17 Hak pribadi (tidak dicampuri atau diganggu urusan pribadi seperti kerahasiaan, keluarga atau
rumah
tangga,
kehormatan,
surat-menyurat
atau
komunikasi
pribadi)
Pasal 18 Hak atas kebebasan berpikir, beragama dan berkeyakinan (menganut ideologi atau orientasi
politik,
memeluk
agama
dan
kepercayaan)
Pasal 19 Hak atas kebebasan berpendapat (termasuk mencari, menerima dan menyebarkan informasi,
dalam
bentuk
karya
seni/ekspresi
atau
melalui
sarana
lainnya)
Pasal 20 Hak untuk bebas dari propaganda perang dan hasutan rasial (kebencian atas dasar
kebangsaan,
ras,
agama
atau
golongan)
Pasal 21 Hak atas kebebasan berkumpul (mengadakan pertemuan, arak-arakan atau keramaian)
Pasal 22 Hak atas kebebasan berserikat (bergabung dalam perkumpulan, partai politik atau serikat
buruh)
Pasal 23 Hak untuk menikah dan membentuk keluarga (tidak dipaksa, termasuk tanggung jawab atas

anak)
Pasal 24 Hak anak untuk mendapatkan perlindungan dan jaminan (setiap kela-hiran anak didaftarkan dan
memperoleh
kewarganegaraan
tanpa
dis-kriminasi)
Pasal 25 Hak untuk berpartisipasi dalam politik (termasuk memilih, dipilih dan tidak memilih)
Pasal 26 Hak untuk bebas dari diskriminasi dalam hukum (semua orang dilin-dungi hukum tanpa
diskriminasi) Pasal 27 Hak kelompok minoritas (perlu mendapatkan perlindungan khusus)
Negara-negara pihak ICCPR diperbolehkan mengurangi atau mengadakan penyimpangan atas
kewajiban dalam memenuhi hak-hak tersebut, tetapi penyimpangan tersebut hanya dapat dilakukan
apabila sebanding dengan ancaman yang mengganggu keamanan nasional atau situasi darurat yang
dihadapi dan tidak bersifat diskriminatif terhadap ras dan etnis.
A.2.2. Undang-Undang HAM
Konsep Non-Derogable Rights juga dianut dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM
yang dapat dibaca pada ketentuan Pasal 4 yang menyebutkan bahwa: Hak untuk hidup, hak untuk tidak
disiksa, hak kebebasan pribadi, pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak
untuk diakui sebagai pribadi dan persamaan dihadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar
hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dikurangi dalam keadaan apapun dan
oleh siapapun. Pengaturan lebih konkrit dari hak sipil dan politik dapat dibaca mulai dari Pasal 9 s.d. 34
UU HAM, yakni hak untuk hidup, hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan, hak mengembangkan diri,
hak memperoleh keadilan, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk bebas memeluk agama, hak untuk
berpendapat dan berorganisasi, hak atas rasa aman, hak untuk tidak disiksa, dan hak untuk tidak ditahan
secara sewenang-wenang.
A.2.3. Undang-Undang Dasar 1945
Sebagai sumber hukum tertinggi di Indonesia, UUD 1945 menjadi acuan bagi seluruh peraturan
perundang-undangan yang dibawahnya. Konsep HAM menjadi lebih jelas pengaturannya dalam arti
mendapat tempat tersendiri, yakni pada Bab XA tentang HAM, ditambah beberapa pasal diluar Bab
tersebut yang tetap memuat materi HAM. Muatan hak sipil dan politik di dalam UUD 1945 dapat dibaca
pada Pasal 27 tentang persamaan dalam hukum, Pasal 28 tentang kemerdekaan berserikat dan
berkumpul, Pasal 28A tentang hak hidup, Pasal 28B tentang hak berkeluarga, Pasal 28C tentang hak
mengembangkan diri, Pasal 28D tentang hak mendapat perlakuan hukum yang adil dan kepastian
hukum, Pasal 28E tentang hak beragama, Pasal 28F tentang hak berkomunikasi, dan Pasal 28G tentang
hak
atas
rasa
aman.
Konsep Non Derogable Rights juga dianut dalam UUD 1945, yakni pada Pasal 28I yang menyebutkan
bahwa: Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak
beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi dihadapan hukum, dan hak
untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat
dikurangi dalam keadaan apapun. Penyebutan secara limitatif ini menimbulkan implikasi bahwa hak-hak
lain
diluar
Pasal
ini
mengandung
arti
termasuk
jenis
derogale
rights.
A.3. Tanggung Jawab Pemenuhan dan Implementasi Hak Sipil dan Politik di Indonesia
A.3.1
Tanggung
Jawab
Pemenuhan
Hak
Sipil
dan
Politik
Tanggung jawab perlindungan dan pemenuhan atas semua hak dan kebebasan yang dijanjikan di dalam
ICCPR ada di pundak negara, khususnya yang menjadi Negara Pihak ICCPR. Hal ini ditegaskan dalam
Pasal 2 ayat (1) ICCRPR yang menyebutkan bahwa: Setiap negara pihak pada kovenan ini berjanji
untuk menghormati dan menjamin hak yang diakui dalam kovenan ini bagi semua individu yang berada di
dalam wilayahnya dan berada di wilayah yuridiksinya, tanpa pembedaan jenis apapun, seperti ras, warna
kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, pandangan politik atau pandangan lainnya, asal-usul kebangsaan
atau sosial, hak milik, status kelahiran atau status lainnya. Kalau hak dan kebebasan yang terdapat
dalam kovenan ini belum dijamin dalam yuridiksi suatu negara pihak, maka negara tersebut diharuskan
untuk mengambil tindakan legislatif atau tindakan lainnya yang perlu guna mengefektfkan perlindungan
hak itu sebagaimana yang bunyi Pasal ayat (2) ICCPR. Kewajiban negara pihak lainnya adalah menjamin
pemulihan hak yang efektif dari suatu pelanggaran hak sipil dan politiknya walaupun si pelaku bertindak

sebagai pejabat negara sebagaimana yang disebutkan dalam Pasal 2 ayat (3) ICCPR. Perlindungan dan
pemenuhan kewajiban hak-hak dan kebebasan dalam ICCPR oleh negara adalah bersifat mutlak dan
harus
segera
dijalankan
(immediately)
atau
justiciable.
Menurut Pasal 8 jo. Pasal 71 UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM, perlindungan, pemajuan,
penegakan, dan pemenuhan HAM terutama menjadi tanggung jawab negara. Kewajiban dan tanggung
pemerintah tersebut menurut Pasal 72 UU HAM meliputi langkah implementasi yang efektif dalam bidang
hukum, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan keamanan negara, dan bidang lain. Ketentuanketentuan ini juga berarti termasuk perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak-hak dan
kebebasan sipil dan politik. Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28I ayat (4) juga menyebutkan bahwa
Perlindungan, pemajuan, penegakan dan pemenuhan HAM adalah menjadi tanggung jawab negara,
terutama
pemerintah.
A.3.2. Pengaturan Hak Asasi Manusia dalan Berbagai Peraturan Perundang-undangan Nasional
dan
Bidang
Politik
A.3.2.1.
Bidang
Sipil
Pada pokoknya, kategorisasi hak-hak sipil dan politik sebagai hak asasi didasarkan kepada kovenan Sipil
dan Politik yang merupakan salah satu perangkat hukum internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa
yang paling lengkap. Keseluruhan kovenan ini terdiri dari 27 Pasal. dari ke-27 Pasal kovenan tersebut,
berbagai hak yang terdapat di dalamnya di kategorisasi menjadi hak politik dan hak sipil. Hak sipil di
dalam kovenan itu sendiri dapat di generalisasi menjadi empat macam hak sipil, yakni:
1. Hak diperlakukan sama di muka umum (TAP MPR Nomor XVII/MPR/1998, UU RI Nomor 39 Tahun
1999
Pasal
(17))H
2.
Hak
bebas
dari
kekerasan
(TAP
MPR
RI
Nomor
XVII/MPR/I998)
3. Hak khusus bagi kelompok anggota masyarakat tertentu (UU RI Nomor 39 Tahun 1999)
4.
Hak
hidup
dan
kehidupan
A.3.2.2.
Bidang
Politik
Hak
kebebasan
berserikat
dan
berkumpul
(Pasal
28
UUD
1945)
- Hak Kemerdekaan Mengeluarkan Pikiran dengan Lisan dan Tulisan (Pasal 28 UUD 1945)
- Hak Menyampaikan Pendapat di Muka Umum (Pasal 28 UUD 1945, Pasal 11 UU No 9 Tahun 1998)
A.4.
Implementasi
Hak
Sipil
dan
Politik
di
Indonesia
A.4.1.
Hak
Hidup
Pasal 6 ICCPR menyatakan setiap manusia memiliki hak atas hidup yang bersifat melekat dan harus
dilindungi oleh hukum. Keharusan melindungi ini berarti setiap negara pihak wajib memiliki hukum yang
melindungi hak atas hidup dalam sistem hukum di negaranya. Berkaitan dengan hak hidup ini, maka isu
yang paling sering diperdebatkan adalah apakah hukuman mati diijinkan atau tidak. Perdebatan
kebolehan atau tidak ini terjadi diantara para ahli hukum dan HAM dan juga ditengah-tengah kehidupan
masyarakat kita. Para pendukung atau pro hukuman mati berpendapat hukuman mati masih sangat
diperlukan untuk memberikan efek jera kepada pelaku-pelaku kejahatan yang dianggap melakukan suatu
kejahatan yang sangat melukai rasa keadilan masyarakat atau biadab walaupun definisi mengenai arti
melukai
atau
biadab
itu
sangat
multi
tafsir.
Argumentasi Golongan Pro lainnya adalah Pasal 6 ICCPR sendiri membolehkan adanya hukuman mati
dengan
beberapa
persyaratan
atau
kondisi
yang
khusus,
yakni:
1) Dijatuhkan pada kejahatan yang sangat serius; harus sesuai hukum positif yang ada di negara
tersebut;
2) Tidak bertentangan dengan ketentuan-ketentuan lain dalam kovenan atau Konvensi Pemusnahan
Suku
Bangsa;
3) Hanya dapat dilaksanakan sesuai dengan pertimbangan akhir yang diberikan oleh pengadilan yang
berkompeten;
dan
4) Tidak dijatuhkan kepada anak yang berusia dibawah 18 tahun dan wanita hamil. Untuk golongan yang
kontra hukuman mati argumentasinya adalah bahwa hak hidup termasuk non derogable rights
sebagaimana yang tercantum dalam UUD 1945 dan UU HAM. Namun demikian, pro kontra mengenai hal
ini sudah pernah diujikan di Mahkamah Konstitusi dan putusannya membolehkan hukuman mati
sepanjang memenuhi syarat peraturan perundang-undangan yang berlaku dan tidak melanggar HAM.

A.6.
KOVENAN
HAK-HAK
SIPIL
DAN
POLITIK,
KOVENAN internasional Hak-Hak Sipil dan Politik atau International Covenan on Civil and Political Rights
(ICCPR) merupakan produk Perang Dingin, ia merupakan hasil dari kompromi politik yang keras antara
kekuatan negara blok Sosialis melawan negara blok Kapitalis. Saat itu situasi ini mempengaruhi proses
legislasi perjanjian internasional hak asasi manusia yang ketika itu sedang digarap Komisi Hak Asasi
Manusia PBB. Hasilnya adalah pemisahan kategori hak-hak sipil dan politik dengan hak-hak dalam
kategori ekonomi, sosial, dan budaya ke dalam dua kovenan atau perjanjian internasional yang tadinya
diusahakan dapat diintegrasikan ke dalam satu kovenan saja. Tapi realitas politik menghendaki lain.
Kovenanyang satunya lagi itu adalah Kovenan Internasional Hak-Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya atau
International Covenan on Economic, Social and Cultural Rights (ICESCR). Kedua kovenan ini merupakan
anak kembar yang dilahirkan di bawah situasi yang tidak begitu kondusif itu, yang telah membawa
implikasiimplikasi tertentu dalam penegakan kedua kategori hak tersebut. Saat ini Kovenan Internasional
Hak-hak Sipil dan Politik itu ( selanjutnya disingkat ICCPR) telah diratifikasi oleh 141 Negara. Itu artinya
tidak kurang dari 95% negaranegara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berjumlah 159
negara itu. Telah menjadi Negara Pihak (State Parties) dari kovenan tersebut. Ditinjau dari segi tingkat
ratifikasi, maka dapat dikatakan kovenan ini memiliki tingkat universalitas yang sangat tinggi bila
dibanding dengan perjanjian internasional hak asasi manusia lainnya. Tidak salah apabila kemungkinan
kovenan ini dimasukkan menjadi bagian dari International Bill of Human Rights. Yang mengherankan
justru adalah sikap pemerintah kita terhadap kovenan ini yang hingga hari ini belum juga memutuskan
untuk segera meratifikasinya. Jadi sampai sekarang kita belum menjadi Negara Pihak dari kovenan yang
sangat penting itu.

B.
Prinsip-Prinsip
Hak
Sipil
dan
Politik
dalam
UU.
Nomor
39
Tahun
1999
Pada tataran internasional, wacana hak asasi manusia telah mengalami perkembangan yang sangat
signifikan. Sejak diproklamirkannya The Universal Declaration of Human Right tahun 1948, telah tercatat
dua tonggak historis lainnya dalam petualangan penegakan hak asasi manusia internasional. Pertama,
diterimanya dua kovenan (covenant) PBB, yaitu yang mengenai Hak Sipil dan Hak Politik serta Hak
Ekonomi, Sosial dan Budaya. Dua kovenan itu sudah dipermaklumkan sejak tahun 1966, namun baru
berlaku sepuluh tahun kemudian setelah diratifikasi tiga puluh lima negara anggota PBB. Kedua,
diterimanya Deklarasi Wina beserta Program Aksinya oleh para wakil dari 171 negara pada tanggal 25
Juni 1993 dalam Konferensi Dunia Hak Asasi Manusia PBB di Wina, Austria. Deklarasi yang kedua ini
merupakan kompromi antar visi negara-negara di Barat dengan pandangan negara-negara berkembang
dalam
penegakan
hak
asasi
manusia.
Di Indonesia, dikhusus tetang penegakan hak asasi manusia juga tidak kalah gencarnya. Keseriusan
pemerintah di bidang HAM paling tidak bermula pada tahun 1997, yaitu semenjak Komisi Nasional Hak
Asasi Manusia (KOMNAS HAM) didirikan setelah diselenggarakannya Lokakarya Nasional Hak Asasi
Manusia pada tahun 1991. Sejak itulah tema tentang penegakan HAM di Indonesia menjadi pemebicaran
yang serius dan berkesinambungan. Kesinambungan itu berwujud pada usaha untuk mendudukkan
persoalan HAM dalam kerangka budaya dan sistem politik nasioanal sampai pada tingkat implementasi
untuk membentuk jaringan kerjsama guna menegakkan penghormatan dan perlindungan HAM tersebut di
Indonesia. Meski tidak bisa dipungkiri adanya pengaruh internasional yang menjadikan hak asasi
manusia sebagai salah satu isu global, namun penegakan hak asasi manusia di Indonesia lebih
merupakan hasil dinamika internal yang merespon gejala internasional secara positif.
pada tahun 1999, Indonesia memiliki sistem hukum yang rigid dan jelas dalam mengatur dan
menyelesaikan persoalan pelangaran HAM di Indonesia. Diberlakukannya UU No. 39 tahun 1999 tentang
Hak Asasi Manusia kendati agak terlambat merupakan langkah progresif dinamis yang patut dihargai
dalam merespon isu internasional di bidang hak asasi manusia walaupun masih perlu dilihat dan diteliti
lebih
jauh
isinya.
Undang Nomor 11 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Economic, Social and
Cultural Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya) yang termuat
dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara

Republik Indonesia Nomor 4557, dan Undang-undang Nomor 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan
International Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan
Politik) yang termuat dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 119, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4558, memberikan harapan adanya keadilan dan kepastian
hukum bagi masyarakat yang mendambakan penegakan hak-hak asasinya. Hak-hak asasi ini bukan lah
pemberian Pemerintah. Ini hak kodrati dari Sang Pencipta kepada semua mahluk di muka bumi. Dalam
kenyataannya tidak demikian karena sangat memprihatinkan dan mengecewakan. Dengan adanya kedua
undang-undang tersebut di atas, maka Indonesia telah melengkapi penerimaan atas Undang-undang
Internasional Hak Asasi Manusia, yang telah dilakukan sebelumnya. Sebelumnya, penerimaan Indonesia
atas Undang-undang Internasional Hak Asasi Manusia atau dalam dunia internasional dikenal dengan
nama International Bills of Human Right, dilakukan terhadap Universal Declaration of Human Rights
(Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia). Meskipun deklarasi tersebut merupakan instrumen non yuridis,
namun semua anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations), termasuk Indonesia, wajib
mengakui dan menerima pokok-pokok pikira yang terkandung dalam deklarasi tersebut. Dalam konteks
Indonesia, Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia menjadi pertimbangan dalam hal dibuatnya Undangundang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Dengan demikian, dengan adanya Undangundang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, Undang-undang Nomor 11 Tahun 2005
tentang Pengesahan Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya, dan Undangundang Nomor 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik,
seharusnya tidak ada alasan lagi bagi Indonesia untuk tidak menegakkan HAM masyarakatnya. Hal ini
karena secara sederhana saja, Indonesia sudah mempunyai peraturan maupun pengadilan untuk
menyelesaikan pelanggaran HAM. Sayang, kenyataannya tidak demikian. Harus diakui, masih ada
kontroversi atau perbedaan pendapat yang cukup tajam atas suatu permasalahan berkaitan dengan
kovenan-kovenan tersebut. Tentang hak atas hidup, misalnya, Kovenan Internasional tentang Hak-hak
Sipil dan Politik (KIHSP) yang diadakan pada tahun 1966, menyatakan bahwa hak atas hidup adalah hak
yang mendasar dan tidak dapat dilanggar dalam keadaan apapun. KIHSP juga mengatakan, di negaranegara yang masih memakai hukuman mati, hukuman ini hanya boleh dipakai untuk kejahatan yang
paling berat, dan pelaksanaannya hanya dapat dilakukan kalau ketentuan-ketentuan KIHSP dipenuhi,
termasuk hak atas pengadilan di depan peradilan yang "kompeten." Pada sisi lain, ketentuan hukum
pidana di Indonesia dalam hal ini KUHP (dan aturan lain) masih memberlakukan pidana mati. Perdebatan
lain yang muncul seputar implementasi konvensi di atas adalah masalah penafsiran dan implementasi
dari perlindungan terhadap menjalankan agama dan keyakinannya secara bebas tanpa ada ras takut,
tentang hak untuk tidak ditangkap tanpa surat penangkapan dalam proses peradilan pidana, atau tentang
perlindungan saksi yang belum optimal di Indonesia. Untuk hal tersebut, KHN melakukan diskusi untuk
menelaah lebih jauh mengenai arti penting dari diratifikasi kovenan-kovenan tersebut, dan telah berwujud
dalam Undang-undang Nomor 11 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Economic,
Social and Cultural Rights (Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya), dan
Undang-undang Nomor 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Civil and Political
Rights
(Kovenan
Internasional
tentang
Hak
Sipil
dan
Politik).
Sejak reformasi berbagai produk hukum telah dilahirkan guna memperbaiki kondisi hak asasi manusia di
Indonesia, khususnya hak sipil dan politik. Antara lain, Tap MPR tentang HAM, UU Pers, UU tentang
Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat (UU Unjuk rasa), UU HAM (UU No. 39 Tahun 1999), UU Pemilu,
UU Parpol, UU Susduk MPR, DPR, dan DPRD, UU Otonomi Daerah, UU ratifikasi Konvensi AntiDiskriminasi Rasial dan UU No 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis. Pada
30 September 2005 pemerintah Indonesia meratifikasi dua perjanjian internasional tentang hak-hak
manusia, yaitu Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (International
Covenant on Economic, Social and Cultural Rights ICESCR) dan Kovenan Internasional tentang Hakhak Sipil dan Politik atau KIHSP (International Covenant on Civil and Political Rights ICCPR). Dan pada
28 Oktober 2005, pemerintah Indonesia mengesahkan ICESCR menjadi UU No. 11/2005 dan ICCPR
menjadi UU No. 12/2005. Dengan demikian, selain menjadi bagian dari sistem hukum nasional; maka
kedua kovenan ini sekaligus melengkapi empat perjanjian pokok yang telah diratifikasi sebelumnya, yaitu

Konvensi Internasional Penghapusan Diskriminasi Perempuan (CEDAW),berhak untuk mencari,


memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan
segala jenis saluran yang tersedia.

Hak-Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya


3

Hak ekonomi, sosial, dan budaya ( selanjutnya disebut hak ekosob ) merupakan bagian yang esensial
dalam hukum hak asasi manusia internasional yang tercantum dalam internasional bill of human
rights.4 Kedudukan hak ekosob sangat penting dalam kedudukan sebagai hak asasi manusia
internasional, ia menjadi acuan pencapaian bersama dalam pemajuan ekonomi, sosial, dan budaya.
Dengan demikian maka hak ekosob tidak dapat ditempatkan dibawah hak sipil dan politik maupun
hak lainnya. Karena pentingnya hak ekosob ini maka dunia internasional pun membuat konvensi
yang mengatur tentang hak-hak ini yaitu ICESCR ( International Covenant on Economic, Social and
Cultural Rights ) yang dibarengi juga dengan konvensi yang mengatur hak-hak sipil dan politik yaitu
ICCPR ( International Covenant on Civil and Political Rights ) pada Tahun 1966.
Pentingnya kesetaraan hak politik dan hak ekonomi bagi suatu negara tercermin
dalam pelaksanaan kerjasama antar negara yang dilaksanakan atas dasar sama
derajat tanpa terkait syarat-syarat tertentu (conditionality).
Sesuai dengan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, cita-cita umat manusia yang bebas untuk
menikmati kebebasan dari rasa takut dan kekurangan hanya dapat dicapai apabila diciptakan kondisi
dimana setiap orang dapat menikmati baik hak hak ekonomi, sosial dan budayanya, maupun hak sipil
dan politiknya.6 Pelanggaran terhadap hak ekosob merupakan suatu masalah negara yang sulit
dipecahkan. Bila dibandingkan dengan pelanggaran hak sipil dan politik yang telah memiliki
mekanisme yang memadai, hak ekosob belum sepenuhnya memiliki mekanisme dalam menangani
pelanggaran atasnya
Undang Undang Dasar 1945 menjelaskan secara tegas bahwa Negara Indonesia berdasarkan atas
hukum (rechtstaat), tidak berdasarkan atas kekuasaan belaka (machtstaat). Hal itu berarti bahwa
Republik Indonesia ialah negara hukum yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, menjunjung
tinggi hak asasi manusia dan menjamin segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam
hukum dan pemerintahan, serta wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada
kecualinya.7 Bab XA, dalam pasal 28 sampai dengan 28 J UUD 1945 mengatur mengenai Hak Asasi
Manusia. Namun kaitannya dengan hak-hak di bidang ekonomi, sosial dan budaya identifikasinya
belum rinci dan jelas. Oleh karena hak-hak yang berkaitan dengan hak dibidang ekonomi, sosial dan
budaya masih tersebar dalam pasal-pasal yang ada. Dengan penelusuran melalui pendekatan sejarah,
maka ditemukan perkembangan dari hak-hak dibidang ekosob. Hak-hak ekosob lazimnya
dikategorikan sebagai hak-hak positif (positive rights) yang dirumuskan dalam bahasa rights to
(hak atas), sedangkan hak-hak sipil dan politik dikategorikan sebagai hak-hak negative (negative
rights) yang dirumuskan dalam bahasa freedom from (kebebasan dari). Sebagai hak-hak positif,
hak-hak ekosob dipahami sebagai hak- hak yang tidak dapat dituntut di muka pengadilan (nonjusticible), sebaliknya dengan hak-hak sipil dan politik, sebagai hak-hak negatif, dapat dituntut di
muka pengadilan.
Tanggung jawab negara ( state obligation ) dalam memajukan hak- hak ekonomi , sosial dan budaya
tidak hanya dalam bentuk obligation of result ,tetapi sekaligus dalam bentuk obligation of conduct.9
Dalam konsep tanggung jawab ini, kebijakan negara dalam memajukan hak-hak ekosob harus dapat
menunjukkan terpenuhinya kedua bentuk kewajiban itu. Artinya ketika negara merancang kebijakan
kesehatan, ia harus sudah menimbang hasilnya dapat menjamin terpenuhinya hak atas kesehatan
tersebut. Begitu pula negara harus menyediakan sarana yang memberi akses kepada rakyat apabila
hak tersebut tidak terpenuhi. Seperti yang tampak diterapkan oleh pemerintahan saat ini, negara tetap
memikul kewajiban untuk merealisasikan hak-hak ekosob warga negaranya dalam kerangka sistem
ekonomi. Akan tetapi, apabila kebijakan ekonomi negara tersebut gagal dalam memberi jaminan
terhadap pemenuhan hak-hak ekosob warga negaranya, maka negara tersebut dapat dikatakan
melanggar hak-hak yang terdapat dalam Kovenan Internasional hak ekonomi, sosial dan budaya (
International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights).10

Peran Pemerintah sebagai pihak yang terkait dengan jaminan perlindungan HAM sangatlah penting.
Pemerintah dalam kewenangannya telah mengusahakan untuk melaksanakan program perlindungan,
penegakan serta pemajuan HAM. Diantaranya adalah membangun suatu Lembaga Nasional Komnas
HAM pada Tahun 1993, membentuk dan menyempurnakan produk hukum yaitu Undang-Undang
Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia, dan membentuk peradilan HAM.11
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang ( selanjutnya disebut Komnas HAM ) adalah lembaga
mandiri yang berfungsi melaksanakan pengkajian, penelitian, penyuluhan, pemantauan, dan mediasi
hak asasi manusia, termasuk hak ekonomi, sosial dan budaya manusia.
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Sumatera Barat (selanjutnya disebut Komnas
HAM Sumbar) merupakan perwakilan Komnas HAM yang mempunyai peran
penting dalam membantu tugas Komnas HAM untuk memberi perlindungan dan
penegakkan HAM. Pada Tahun 2006 sampai dengan akhir Tahun 2009 tercatat
sebanyak 354 pengaduan ,Selain itu juga ada pengaduan terkait hak ekonomi,
sosial dan budaya sebanyak 36 kasus pada Tahun 2009. 12 Hal ini menunjukkan
bahwa perhatian masyarakat di Sumatera Barat sangat besar atas kasus
pelanggaran HAM, termasuk atas pelanggaran hak ekosob.

Semua aturan dan ketentuan mengenai HAM tak pelak lagi selalu mengacu pada
DUHAM. Salah seorang penggagas DUHAM asal Lebanon, Rene Cassin, menyatakan bahwa isi
DUHAM sebetulnya bisa dibagi menjadi lima hal, yaitu hak sipil (pasal 1-11), hak sosial (pasal
12-17), hak politik (pasal 18-21), hak ekonomi dan budaya (pasal 22-27), serta tanggungjawab
negara 28-30.
Rene Cassin juga menyatakan bahwa ada beberapa kata kunci yang memayungi pasalpasal
dalam DUHAM, yaitu biarkan saya menjadi diri saya sendiri untuk pasal hak sipil,
jangan campuri urusan kami untuk pasal hak sosial, biarkan kami turut berpartisipasi
untuk pasal hak politik, beri kami mata pencaharian untuk pasal hak ekonomi dan budaya.
Adapun bangunan umum rujukan HAM bisa digambarkan sebagaimana bagan berikut,

Indonesia pada 30 September 2005 meratifikasi dua perjanjian internasional tentang hakhak
manusia, yaitu Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya
(International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights ICESCR) dan Kovenan
Interna-sional tentang Hak-hak Sipil dan Politik (International Covenant on Civil and Political
Rights ICCPR).
Pada 28 Oktober 2005, pemerintah Indonesia mengesahkan ICESCR menjadi UU No.
11/2005 dan ICCPR menjadi UU No. 12/2005. Dengan demikian, selain menjadi bagian dari
sistem hukum nasional maka kedua kovenan ini sekaligus melengkapi empat perjanjian pokok
6

yang telah diratifikasi sebelumnya, yaitu CEDAW (penghapusan diskriminasi perempuan), CRC
(anak), CAT (penyiksaan), dan CERD (penghapusan diskriminasi rasial).