Anda di halaman 1dari 13

MEMAHAMI ASAL USUL GERAKAN MUHAMMADIYAH

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sejarah telah mencatat bahwa islam telah memberikan suatu kerangka bagi perkembangan ilmu
pengetahuan dan peradaban dunia. Sikap dan semangat ilmiah yang telah di bentuk oleh dunia
islam pada abad pertengahan, melahirkan figure ensiklopedik dari berbagai ilmu pengetahuan.
Peradaban dan kemajuan di bidang ilmu pengetahuan yang telah di capai Oleh kaum muslimin
sebelumnya tidak nampak lagi bahkan kaum muslimin tampak statis dalam lapangan pemikiran,
termasuk bidang pemikiran keagamaan.
Sejak itu kondisi dunia islam dengan berbagi aspeknya menarik perhatian banyak kalangan. Dari
pihak non muslim yang bersimpati berpandangan agar kaum muslimin itu bisa menyesuiakan diri
dengan semangat kebudayaan modern. Bagaimana kaum muslimin dengan latar belakang
kebudayaan yang berbeda itu memahami ajaran islam untuk memecahkan persoalan-persoalan
kini. Bahkan sebagian dari kelompon non muslim yang lebih ekstrim mengatakan bahwa
kemungkinan yang ada untuk mengembalikan kejayaan islam adalah meninggalkan warisan lama
dan memasukkan kebudayaan barat ke dalam kehidupan kaum muslimin. Kelompok ini
mengganggap bahwa setiap apa yang di hasilkan barat identik kemajuan.
Dari kalangan kaum muslimin terdapat dua kelompok. Pertama, mereka yang menyadari tentang
keadaan kaum muslimin dan menilai kenyataan pemahaman dari praktek keagamaan kini yang
telah di anggap menyimpang dari ajaran islam yang benar. Mereka berpendapat jika kaum
muslimin kembali pada prinsip ajaran islam dan mengegerakkan semangat islam dan
mengegerakkan semangat ijtihad dalam setiap proses pemikiran, maka kaum muslimin akan
memperoleh kembali kemajuan sebagai mana yang telah di capainya pada waktu lampau. Kedua,
mereka yang berpegang teguh pada warisan tradisi abad pertengahan beranggapan bahwa apa

yang telah di capai oleh ulama islam di bidang pemikiran agama di nilai mutlak, dan tidak
mungkin ada pemikiran lain yang bisa menandinginya.
Di Indonesia, proses perubahan alam pikiran tentang islam, selain fakor kondisi intern umat
islam terjadi setelah terbukanya komunikasi yang luas dengan Negara timur tengah yang menjadi
pusat islam. Proses perubahan ini di lakukan oleh individu dalam kelompok masyarakat yang
ingin memperjuangkan identitas dan prinsip ajaran islam di tengah-tengah kehidupan bangsa
Indonesia. Usaha tersebut di realisir dengan mendirikan organisasi tertentu. Di antara organisasi
ini, muhammdiyah di pandang memiliki peranan yang sangat penting dalam menyebarkan ideide pembaharuan islam dan memiliki perngaruh yang cukup kuat di kalangan masyarakat
menengah Indonesia. (Din Syamsuddin )
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Muhammadiyah adalah sebuah organisasi Islam yang besar di Indonesia. Nama organisasi ini
diambil dari nama Nabi Muhammad SAW. sehingga Muhammadiyah juga dapat dikenal sebagai
orang-orang yang menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW.
Persyarikatan Muhammadiyah didirikan untuk mendukung usaha KH Ahmad Dahlan untuk
memurnikan ajaran Islam yang dianggap banyak dipengaruhi hal-hal mistik. Kegiatan ini pada
awalnya juga memiliki basis dakwah untuk wanita dan kaum muda berupa pengajian Sidratul
Muntaha. Selain itu peran dalam pendidikan diwujudkan dalam pendirian sekolah dasar dan
sekolah lanjutan, yang dikenal sebagai Hooge School Muhammadiyah dan selanjutnya berganti
nama menjadi Kweek School Muhammadiyah (sekarang dikenal dengan Madrasah Muallimin
_khusus laki-laki, yang bertempat di Patangpuluhan kecamatan Wirobrajan dan Muallimaat
Muhammadiyah_khusus Perempuan, di Suronatan Yogyakarta).
Muhammadiyah secara etimologis berarti pengikut nabi Muhammad, karena berasal dari kata
Muhammad, kemudian mendapatkan ya nisbiyah, sedangkan secara terminologi berarti gerakan

Islam, dakwah amar maruf nahi mungkar dan tajdid, bersumber pada al-Quran dan as-Sunnah.
Berkaitan dengan latar belakang berdirinya Muhammadiyah secara garis besar faktor
penyebabnya adalah pertama, faktor subyektif adalah hasil pendalaman KH. Ahmad Dahlan
terhadap al-Quran dalam menelaah, membahas dan mengkaji kandungan isinya. Kedua, faktor
obyektif di mana dapat dilihat secara internal dan eksternal. Secara internal ketidakmurnian
amalan Islam akibat tidak dijadikannya al-Quran dan as-Sunnah sebagai satu-satunya rujukan
oleh sebagiab besar umat Islam Indonesia.
Muhammadiyah adalah Gerakan Islam yang melaksanakan dawah amar maruf nahi munkar
dengan maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud
masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Muhammadiyah berpandangan bahwa Agama Islam
menyangkut seluruh aspek kehidupan meliputi aqidah, ibadah, akhlaq, dan muamalat
dunyawiyah yang merupakan satu kesatuan yang utuh dan harus dilaksanakan dalam kehidupan
perseorangan maupun kolektif. Dengan mengemban misi gerakan tersebut Muhammadiyah dapat
mewujudkan atau mengaktualisasikan Agama Islam menjadi rahmatan lil-alamin dalam
kehidupan di muka bumi ini.
Visi Muhammadiyah adalah sebagai gerakan Islam yang berlandaskan al-Quran dan as-Sunnah
dengan watak tajdid yang dimilikinya senantiasa istiqamah dan aktif dalam melaksanakan
dakwah Islam amar maruf nahi mungkar di segala bidang, sehingga menjadi rahmatan li
al-alamin bagi umat, bangsa dan dunia kemanusiaan menuju terciptanya masyarakat Islam yang
sebenar-benarnya yang diridhai Allah swt dalam kehidupan di dunia ini. Misi Muhammadiyah
adalah:
(1) Menegakkan keyakinan tauhid yang murni sesuai dengan ajaran Allah swt yang dibawa oleh
Rasulullah yang disyariatkan sejak Nabi Nuh hingga Nabi Muhammad saw.
(2) Memahami agama dengan menggunakan akal pikiran sesuai dengan jiwa ajaran Islam untuk
menjawab dan menyelesaikan persoalan-persoalan kehidupan yang bersifat duniawi.
(3) Menyebarluaskan ajaran Islam yang bersumber pada al-Quran sebagai kitab Allah yang
terakhir untuk umat manusia sebagai penjelasannya.

(4) Mewujudkan amalan-amalan Islam dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat. Lihat
Tanfidz Keputusan Musyawarah Wilayah ke-39 Muhammadiyah Sumatera Barat tahun 2005 di
Kota Sawahlunto
2.2 Latar Belakang Berdirinya Muhammadiyah
Keininan dari KH. Akhmad Dahlan untuk mendirikan organisasi yang dapat dijadikan sebagai
alat perjuangnan dan dawah untuk nenegakan amar maruf nahyi munkar yang bersumber pada
Al-Quran, surat Al-Imron:104 dan surat Al-maun sebagai sumber dari gerakan sosial praktis
untuk mewujudkan gerakan tauhid.
Ketidak murnian ajaran islam yang dipahami oleh sebagian umat islam Indonesia, sebagai
bentuk adaptasi tidak tuntas antara tradisi islam dan tradisi lokal nusantara dalam awal
bermuatan faham animisme dan dinamisme. Sehingga dalam prakteknya umat islam di indonesia
memperlihatkan hal-hal yang bertentangan dengan prinsif-prinsif ajaran islam, terutama yang
berhubuaan dengan prinsif akidah islam yag menolak segala bentuk kemusyrikan, taqlid, bidah,
dan khurafat. Sehingga pemurnian ajaran menjadi piliha mutlak bagi umat islamm Indonesia.
Keterbelakangan umat islam indonesia dalam segi kehidupan menjadi sumber keprihatinan untuk
mencarikan solusi agar dapat keluar menjadi keterbelakangan. Keterbelakangan umat islam
dalam dunia pendidikan menjadi sumber utama keterbelakangan dalam peradaban. Pesantren
tidak bisa selamanya dianggap menjadi sumber lahirnya generasi baru muda islam yang berpikir
moderen. Kesejarteraan umat islam akan tetap berada dibawah garis kemiskinan jika kebodohan
masih melengkupi umat islam indonesia.
Maraknya kristenisasi di indonesia sebegai efek domino dari imperalisme erofa ke dunia timur
yang mayoritas beragama islam. Proyek kristenisasi satu paket dengan proyek imperialalisme
dan modernisasi bangsa eropa, selain keinginan untuk memperluas daerah koloni untuk
memasarkan produk-produk hasil refolusi industeri yang melada erofa.
Imperialisme erofa tidak hanya membonceng grilia gerejawan dan para penginjil untuk
menyampaikan ajaran jesus untuk menyapa umat manusia diseluruh dunia untuk mengikuti
ajaran jesus. Tetapi juga membawa angin modernisasi yang sedang melanda erofa. Modernisasi

yang terhembus melalui model pendidikan barat (belanda) di indonesia mengusung pahampaham yang melahirkan moernisasi erofa, seperti sekularisme, individualisme, liberalisme dan
rasionalisme. Jika penetrasi itu tidak dihentikan maka akan terlahir generasi baru islam yang
rasionaltetapi liberal dan sekuler.
1. Faktir Internal
Faktir internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri umat islam sendiri yang tercermin
dalam dua hal, yaitu sikap beragama dan sistem pendidikan islam.
Sikap beragama umat ilam saat itu pada umumnya belum dapat dikatakan sebagai sikapberagama
yang rasional. Sirik, taklid, dan bidah masih menyelubungai kehidupan umat islam, terutama
dalam lingkungan kraton, dimana kebudayaan hindu telah jauh tertanam. Sikap beragama yang
demikian bukanlah terbentuk secara tiba-tiba pada awal abad ke 20 itu, teapi merupakan warisan
yang berakar jauh pada masa terjadinya proses islamisasi beberapa abad sebelumnya. Seperti
diketahui proses islamisasi di indonesia sangat di pengaruhi oleh dua hal, yaitu Tasawuf/Tarekat
dan mazhab fikih, dan dalam proses tersebut para pedagang dan kaum sifi memegang peranan
yag sangat penting. Melaluii merekalah islam dapat menjangkau daerah-daerah hampir diseluruh
nusantara ini.
1. Faktir eksernal
Factor lain yang melatrbelakangi lahirnya pemikiran Muhammadiah adalah factor yang bersifat
eksternal yang disebabkan oleh politik penjajahan colonial belanda. Factor tersebut antara lain
tanpak dalam system pendidikan colonial serta usaha kearah westrnisasi dan kristenisasi.
Pendidikan colonial dikelola oleh pemerintah kolonia untuk anak-anak bumi putra, ataupun yang
diserahkan kepada misi and zending Kristen dengan bantuan financial dari pemerintah belanda.
Pendidikan demikian pada awal abad ke 20 telah meyebar dibeberapa kota, sejak dari pendidikan
dasar sampai atas, yang terdiri dari lembaga pendidikan guru dan sekolah kejuruan. Adanya
lembaga pendidikan colonial terdapatlah dua macam pendidikan diawal abad 20, yaitu
pendidikan islam tradisional dan pendideikan colonial. Kedua jenis pendidikan ini dibedakan,
bukan hanya dari segi tujuan yang ingin dicapai, tetapi juga dari kurikulumnya.

Pendidikan colonial melarang masuknya pelajaran agama dalam sekolah-sekolah colonial, dan
dalan artian ini orang menilai pendidikan colonial sebagai pendidikan yang bersifat sekuler,
disamping sebagai peyebar kebudayaan barat. Dengan corak pendidikan yang demikian
pemerintah colonial tidak hanya menginginkan lahirnya golongan pribumi yang terdidik, tetapi
juga berkebudayaan barat. Hal ini merupakan salah satu sisi politik etis yang disebut politik
asisiasi yang pada hakekatnya tidak lain dari usaha westernisasi yang bertujuan menarik
penduduk asli Indonesia kedalam orbit kebudayaan barat. Dari lembaga pendidikan ini lahirlah
golongan intlektual yang biasanya memuja barat dan menyudutkan tradisi nenekmoyang serta
kurang menghargai islam, agama yang dianutnya. Hal ini agaknya wajar, karena mereka lebih
dikenalkan dengan ilmu-ilmu dan kebudayaan barat yang sekuler anpa mengimbanginya dengan
pendidiakan agama konsumsi moral dan jiwanya. Sikap umat yang demikianlah tankanya yang
dimaksud sebagai ancaman dan tantangan bagi islam diawal abad ke 20.
2.3 Profil Pendiri Muhammadiyah
Ahmad Dahlan (bernama kecil Muhammad Darwisy), adalah pelopor dan bapak pembaharuan
Islam. Kyai Haji kelahiran Yogyakarta, 1 Agustus 1868, inilah yang mendirikan organisasi
Muhammadiyah pada 18 November 1912. Pahlawan Nasional Indonesia ini wafat pada usia 54
tahun di Yogyakarta, 23 Februari 1923.
KH Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah untuk melaksanakan cita-cita
pembaharuan Islam di nusantara. Ia ingin mengadakan suatu pembaharuan dalam cara berpikir
dan beramal menurut tuntunan agama Islam. Ia ingin mengajak ummat Islam Indonesia untuk
kembali hidup menurut tuntunan al-Quran dan al-Hadits. Ia mendirikan Muhammadiyah bukan
sebagai organisasi politik tetapi sebagai organisasi sosial kemasyarakatan dan keagamaan yang
bergerak di bidang pendidikan.
Pada saat Ahmad Dahlan melontarkan gagasan pendirian Muhammadiyah, ia mendapat
tantangan bahkan fitnahan, tuduhan dan hasutan baik dari keluarga dekat maupun dari
masyarakat sekitarnya. Ia dituduh hendak mendirikan agama baru yang menyalahi agama Islam.
Ada yang menuduhnya kiai palsu, karena sudah meniru-niru bangsa Belanda yang Kristen dan
macam-macam tuduhan lain. Bahkan ada pula orang yang hendak membunuhnya. Namun

rintangan-rintangan tersebut dihadapinya dengan sabar. Keteguhan hatinya untuk melanjutkan


cita-cita dan perjuangan pembaharuan Islam di tanah air bisa mengatasi semua rintangan
tersebut. 1)
Atas jasa-jasa KH Ahmad Dahlan dalam membangkitkan kesadaran bangsa ini melalui
pembaharuan Islam dan pendidikan, maka Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya
sebagai Pahlawan Nasional dengan surat Keputusan Presiden no. 657 tahun 1961. Penetapannya
sebagai Pahlawan Nasional didasarkan pada empat pokok penting yakni: Pertama, KH Ahmad
Dahlan telah mempelopori kebangkitan ummat Islam untuk menyadari nasibnya sebagai bangsa
terjajah yang masih harus belajar dan berbuat.
Kedua, dengan organisasi Muhammadiyah yang didirikannya, telah banyak memberikan ajaran
Islam yang murni kepada bangsanya. Ajaran yang menuntut kemajuan, kecerdasan, dan beramal
bagi masyarakat dan ummat, dengan dasar iman dan Islam. Ketiga, dengan organisasinya,
Muhammadiyah telah mempelopori amal usaha sosial dan pendidikan yang amat diperlukan bagi
kebangkitan dan kemajuan bangsa, dengan jiwa ajaran Islam. Keempat, dengan organisasinya,
Muhammadiyah bagian wanita (Aisyiyah) telah mempelopori kebangkitan wanita Indonesia
untuk mengecap pendidikan.
Diasuh di Lingkungan Pesantren Muhammad Darwisy lahir dari keluarga ulama dan pelopor
penyebaran dan pengembangan Islam di tanah air. Ayahnya, KH Abu Bakar adalah seorang
ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta, dan ibunya, Nyai Abu
Bakar adalah puteri dari H. Ibrahim yang juga menjabat penghulu Kasultanan Yogyakarta pada
masa itu
Ia anak keempat dari tujuh orang bersaudara, lima saudaranya perempuan dan dua lelaki yakni ia
sendiri dan adik bungsunya. Dalam silsilah, ia termasuk keturunan yang kedua belas dari
Maulana Malik Ibrahim, seorang wali besar dan seorang yang terkemuka diantara Wali Songo,
yang merupakan pelopor pertama dari penyebaran dan pengembangan Islam di Tanah Jawa
(Kutojo dan Safwan, 1991). 2)Idem
Silsilahnya lengkapnya ialah Muhammad Darwisy (Ahmad Dahlan) bin KH Abu Bakar bin KH
Muhammad Sulaiman bin Kiyai Murtadla bin Kiyai Ilyas bin Demang Djurung Djuru Kapindo

bin Demang Djurung Djuru Sapisan bin Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Djatinom) bin
Maulana Muhammad Fadlulllah (Prapen) bin Maulana Ainul Yaqin bin Maulana Ishaq bin
Maulana Malik Ibrahim (Yunus Salam, 1968: 6).
Sejak kecil Muhammad Darwisy diasuh dalam lingkungan pesantren, yang membekalinya
pengetahuan agama dan bahasa Arab. Pada usia 15 tahun (1883), ia sudah menunaikan ibadah
haji, yang kemudian dilanjutkan dengan menuntut ilmu agama dan bahasa arab di Makkah
selama lima tahun. Ia pun semakin intens berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu
dalam dunia Islam, seperti Muhammad Abduh, al-Afghani, Rasyid Ridha, dan ibn Taimiyah.
Interaksi dengan tokoh-tokoh Islam pembaharu itu sangat berpengaruh pada semangat, jiwa dan
pemikiran Darwisy.
Semangat, jiwa dan pemikiran itulah kemudian diwujudkannya dengan menampilkan corak
keagamaan yang sama melalui Muhammadiyah. Bertujuan untuk memperbaharui pemahaman
keagamaan (ke-Islaman) di sebagian besar dunia Islam saat itu yang masih bersifat ortodoks
(kolot). Ahmad Dahlan memandang sifat ortodoks itu akan menimbulkan kebekuan ajaran Islam,
serta stagnasi dan dekadensi (keterbelakangan) ummat Islam. Maka, ia memandang, pemahaman
keagamaan yang statis itu harus diubah dan diperbaharui, dengan gerakan purifikasi atau
pemurnian ajaran Islam dengan kembali kepada al-Quran dan al-Hadits.
Setelah lima tahun belajar di Makkah, pada tahun 1888, saat berusia 20 tahun, Darwisy kembali
ke kampungnya. Ia pun berganti nama menjadi Ahmad Dahlan. Lalu, ia pun diangkat menjadi
khatib amin di lingkungan Kesultanan Yogyakarta Pada tahun 1902, ia menunaikan ibadah haji
untuk kedua kalinya, sekaligus dilanjutkan dengan memperdalam ilmu agama kepada beberapa
guru di Makkah hingga tahun 1904.
Sepulang dari Makkah, ia menikah dengan Siti Walidah, sepupunya sendiri, anak Kyai Penghulu
Haji Fadhil. Siti Walidah, kemudian lebih dikenal dengan nama Nyai Ahmad Dahlan, seorang
Pahlawanan Nasional dan pendiri Aisyiyah. Pasangan ini mendapat enam orang anak yaitu
Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, Siti Zaharah (Kutojo dan
Safwan, 1991). Di samping itu, KH. Ahmad Dahlan pernah pula menikahi Nyai Abdullah, janda
H. Abdullah. Ia juga pernah menikahi Nyai Rum, adik Kyai Munawwir Krapyak. KH. Ahmad

Dahlan juga mempunyai putera dari perkawinannya dengan Ibu Nyai Aisyah (adik Adjengan
Penghulu) Cianjur yang bernama Dandanah. Beliau pernah pula menikah dengan Nyai Yasin
Pakualaman Yogyakarta.
Mendirikan Muhammadiyah Semangat, jiwa dan pemikiran pembaharu dalam dunia Islam, yang
diperolehnya dari Muhammad Abduh, al-Afghani, Rasyid Ridha, ibn Taimiyah dan lain-lain
selama belajar Makkah (1883-1888 dan 1902-1904), kemudian diwujudkannya dengan
menampilkan corak keagamaan yang sama melalui Muhammadiyah. Bertujuan untuk
memperbaharui pemahaman keagamaan (ke-Islaman) di sebagian besar dunia Islam saat itu yang
masih bersifat ortodoks (kolot). Ahmad Dahlan memandang sifat ortodoks itu akan menimbulkan
kebekuan ajaran Islam, serta stagnasi dan dekadensi (keterbelakangan) ummat Islam. Maka, ia
memandang, pemahaman keagamaan yang statis itu harus diubah dan diperbaharui, dengan
gerakan purifikasi atau pemurnian ajaran Islam dengan kembali kepada al-Quran dan al-Hadits.
Dalam artikel riwayat Ahmad Dahlan di situs resmi Parsyarikatan Muhammadiyah
(muhammadiyah.or.id), pesan ini disebut menyiratkan sebuah semangat yang besar tentang
kehidupan akhirat. Dan untuk mencapai kehidupan akhirat yang baik, maka Dahlan berpikir
bahwa setiap orang harus mencari bekal untuk kehidupan akhirat itu dengan memperbanyak
ibadah, amal saleh, menyiarkan dan membela agama Allah, serta memimpin ummat ke jalan
yang benar dan membimbing mereka pada amal dan perjuangan menegakkan kalimah Allah.
Dengan demikian, untuk mencari bekal mencapai kehidupan akhirat yang baik harus mempunyai
kesadaran kolektif, artinya bahwa upaya-upaya tersebut harus diserukan (dakwah) kepada
seluruh ummat manusia melalui upaya-upaya yang sistematis dan kolektif.
Dijelaskan dalam artikel itu, kesadaran seperti itulah yang menyebabkan Dahlan sangat
merasakan kemunduran ummat Islam di tanah air. Hal ini merisaukan hatinya. Ia merasa
bertanggung jawab untuk membangunkan, menggerakkan dan memajukan mereka. Dahlan sadar
bahwa kewajiban itu tidak mungkin dilaksanakan seorang diri, tetapi harus dilaksanakan oleh
beberapa orang yang diatur secara seksama. Kerjasama antara beberapa orang itu tidak mungkin
tanpa organisasi. Perkumpulan, parsyarikatan dan gerakan dakwah: Muhammadiyah. Dahlan pun
memilih strategi yang amat baik dengan lebih dahulu membina angkatan muda untuk turut

bersama-sama melaksanakan upaya dakwah tersebut, sekaligus meneruskan cita-citanya


memajukan bangsa ini.
Pada tahun 1912, tepatnya tanggal 18 Nopember 1912, Ahmad Dahlan pun mendirikan
organisasi Muhammadiyah untuk melaksanakan cita-cita pembaharuan Islam. Ia punya visi untu
melakukan suatu pembaharuan dalam cara berpikir dan beramal menurut tuntunan agama Islam.
Ia ingin mengajak ummat Islam Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan al-Quran dan
al-Hadits. Berbagai tantangan ia hadapi sehubungan dengan gagasan pendirian Muhammadiyah
itu. Bahkan ia dituduh hendak mendirikan agama baru yang menyalahi agama Islam. Kiai palsu.
Sampai ada pula orang yang hendak membunuhnya. Namun rintangan-rintangan tersebut
dihadapinya dengan sabar.
Dahlan teguh pada pendiriannya. Pada tanggal 20 Desember 1912, ia mengajukan permohonan
kepada Pemerintah Hindia Belanda untuk mendapatkan badan hukum. Permohonan itu baru
dikabulkan pada tahun 1914, dengan Surat Ketetapan Pemerintah No. 81 tanggal 22 Agustus
1914. Tampaknya, Pemerintah Hindia Belanda ada kekhawatiran akan perkembangan organisasi
ini. Sehingga izin itu hanya berlaku untuk daerah Yogyakarta dan organisasi ini hanya boleh
bergerak di daerah Yogyakarta
Namun, walaupun Muhammadiyah dibatasi, tetapi di daerah lain seperti Srandakan, Wonosari,
dan Imogiri dan lain-lain tempat telah berdiri cabang Muhammadiyah. Hal ini jelas bertentangan
dengan dengan keinginan pemerintah Hindia Belanda. Untuk mengatasinya, maka KH. Ahmad
Dahlan menyiasatinya dengan menganjurkan agar cabang Muhammadiyah di luar Yogyakarta
memakai nama lain. Misalnya Nurul Islam di Pekalongan, Ujung Pandang dengan nama AlMunir, di Garut dengan nama Ahmadiyah
Sedangkan di Solo berdiri perkumpulan Sidiq Amanah Tabligh Fathonah (SATF) yang mendapat
pimpinan dari cabang Muhammadiyah. Bahkan dalam kota Yogyakarta sendiri ia menganjurkan
adanya jamaah dan perkumpulan untuk mengadakan pengajian dan menjalankan kepentingan
Islam. Perkumpulan-perkumpulan dan Jamaah-jamaah ini mendapat bimbingan dari
Muhammadiyah, yang di antaranya ialah Ikhwanul Muslimin, Taqwimuddin, Cahaya Muda,
Hambudi-Suci, Khayatul Qulub, Priya Utama, Dewan Islam, Thaharatul Qulub, Thaharatul-Aba,
Taawanu alal birri, Taruf bima kan,u wal-Fajri, Wal-Ashri, Jamiyatul Muslimin, Syahratul

Mubtadi (Kutojo dan Safwan, 1991: 33). Gagasan pembaharuan Islam, Muhammadiyah
disebarluaskan oleh Ahmad Dahlan dengan mengadakan tabligh ke berbagai kota, di samping
juga melalui relasi-relasi dagang yang dimilikinya. Gagasan ini ternyata mendapatkan sambutan
yang besar dari masyarakat di berbagai kota di Indonesia. Ulama-ulama dari berbagai daerah lain
berdatangan kepadanya untuk menyatakan dukungan terhadap Muhammadiyah. Muhammadiyah
makin lama makin berkembang hampir di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, pada tanggal 7 Mei
1921 Dahlan mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan
cabang-cabang Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Permohonan ini dikabulkan oleh
pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 2 September 1921.
Dalam bulan Oktober 1922, Ahmad Dahlan memimpin delegasi Muhammadiyah dalam kongres
Al-Islam di Cirebon. Kongres ini diselenggarakan oleh Sarikat Islam (SI) guna mencari aksi baru
untuk konsolidasi persatuan ummat Islam. Dalam kongres tersebut, Muhammadiyah dan AlIrsyad (perkumpulan golongan Arab yang berhaluan maju di bawah pimpinan Syeikh Ahmad
Syurkati) terlibat perdebatan yang tajam dengan kaum Islam ortodoks dari Surabaya dan Kudus.
Muhammadiyah dipersalahkan menyerang aliran yang telah mapan (tradisionalis-konservatif)
dan dianggap membangun mazhab baru di luar mazhab empat yang telah ada dan mapan.
Muhammadiyah juga dituduh hendak mengadakan tafsir Quran baru, yang menurut kaum
ortodoks-tradisional merupakan perbuatan terlarang. Menanggapi serangan tersebut, Ahmad
Dahlan menjawabnya dengan perkataan, Muhammadiyah berusaha bercita-cita mengangkat
agama Islam dari keadaan terbekelakang. Banyak penganut Islam yang menjunjung tinggi tafsir
para ulama dari pada Quran dan Hadits. Umat Islam harus kembali kepada Quran dan Hadits.
Harus mempelajari langsung dari sumbernya, dan tidak hanya melalui kitab-kitab tafsir.
Sebagai seorang yang demokratis dalam melaksanakan aktivitas gerakan dakwah
Muhammadiyah, Dahlan juga memfasilitasi para anggota Muhammadiyah untuk proses evaluasi
kerja dan pemilihan pemimpin dalam Muhammadiyah. Selama hidupnya dalam aktivitas gerakan
dakwah Muhammadiyah, telah diselenggarakan duabelas kali pertemuan anggota (sekali dalam
setahun), yang saat itu dipakai istilah Algemeene Vergadering (persidangan umum). Di samping
aktif dalam menggulirkan gagasannya tentang gerakan dakwah Muhammadiyah, ia juga tidak
lupa akan tugasnya sebagai pribadi yang mempunyai tanggung jawab pada keluarganya. Sebagai
salah seorang keturunan bangsawan yang menduduki jabatan sebagai Khatib Masjid Besar

Yogyakarta, ia mempunyai penghasilan cukup tinggi. Ia juga berkecimpung sebagai seorang


wirausahawan yang cukup berhasil dengan berdagang batik.
BAB III
KESIMPULAN

Muhammadiyah adalah Gerakan Islam yang melaksanakan dawah amar maruf nahi
munkar dengan maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam
sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Keinginan dari KH. Akhmad Dahlan untuk mendirikan organisasi yang dapat dijadikan
sebagai alat perjuangnan dan dawah untuk nenegakan amar maruf nahyi munkar yang
bersumber pada Al-Quran, surat Al-Imron:104 dan surat Al-maun sebagai sumber dari
gerakan sosial praktis untuk mewujudkan gerakan tauhid. 104 : hendaklah ada diantara
kamu umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh dengan maruf (yang baik baik)
dan melarang dari yang mungkar dan mereka itulah yang menang.

KH Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah untuk melaksanakan cita-cita


pembaharuan Islam di nusantara. Ia ingin mengadakan suatu pembaharuan dalam cara
berpikir dan beramal menurut tuntunan agama Islam. Ia ingin mengajak ummat Islam
Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan al-Quran dan al-Hadits. Ia mendirikan
Muhammadiyah bukan sebagai organisasi politik tetapi sebagai organisasi sosial
kemasyarakatan dan keagamaan yang bergerak di bidang pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA
Anonymoous, 2010, Gerakan Muhammadiyah.http://regenerasi.wordpress.com/?p=9 Diakses
pada tanggal 23 maret 2010
Ahmad Syafii Maarif : Strategi Dakwah Muhammadiyah.
http://www.muhammadiyah.or.id/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=471. Diakses
pada tanggal 23 maret 2010

Website resmi Muhammadiyah. Sejarah Singkat Pendirian Persyarikatan Muhammadiyah.


http://www.muhammadiyah.or.id/index.php?
option=com_content&task=view&id=22&Itemid=35 diakses tanggal 23 mareet 2010
Lubis, arbiyah .1989. Pemikiran Muhammadiyah dan Muhammad Abduh . PT Karya Unipress,
Jakarta
Sairin. Weineta, 1995. Gerakan Pembaharuan Muhammadiyah. PT Fajar Interpratama, Jakarta
Syamsudin . 1990. Muhammadiyah Kini dan Esuk. Pustaka Panjimas, Jakarta