Anda di halaman 1dari 20

https://www.scribd.

com/doc/261059330/Makalah-Fraktur
BAB I
PENDAHULUAN

Salah satu masalah yang banyak dijumpai pada pusat-pusat pelayanan


kesehatan di seluruh dunia saat ini adalah penyakit muskuloskeletal. Bahkan pada
dasawarsa terakhir ini antara tahun 2000 sampai dengan tahun 2010 organisasi
kesehatan tingkat dunia WHO menetapkan sebagai Dekade Tulang dan
Persendian.
Komponen muskuloskeletal terdiri atas tulang, otot, dan sendi. Jika tulang
mengalami trauma, maka hal ini disebut fraktur. Sedangkan jika trauma terjadi
pada otot maka disebut kontusio atau rupture. Dan bila suatu trauma terjadi pada
sendi, maka kemungkinan yang dapat terjadi adalah dislokasi, haematrosis, ruptur
pada ligamentum, serta ketidak stabilan sendi.
Tulang bersifat relatif rapuh, namun cukup mempunyai kekuatan dan gaya
pegas untuk menahan tekananan. Fraktur dapat terjadi akibat peristiwa trauma
tunggal, tekanan yang berulang-ulang, atau kelemahan tulang yang abnormal
(fraktur patologik).

BAB III
PEMBAHASAN

A. Definisi Fraktur
Terdapat banyak definisi tentang fraktur, diantaranya :
1. Fraktur adalah discontinuitas dari jaringan tulang (patah tulang) yang
biasanya di sebabkan oleh adanya kekerasan yang timbul secara mendadak
(Bernard Bloch, 1986).
2. Fraktur adalah putusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai tipe dan
luasnya (Harnowo, 2002).
3. Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan/atau tulang
rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Arif, 2000).
Maka dapat disimpulkan bahwa fraktur adalah suatu patahan pada kontinuitas
struktur tulang. Patahan itu mungkin tidak lebih dari suatu retakan, suatu
pengisutan atau perimpilan korteks, tetapi biasanya patahan itu lengkap dan
fragmen tulang bergeser. Jika kulit di atasnya masih utuh, keadaan ini disebut
fraktur tertutup (atau sederhana), sedangkan jika kulit atau salah satu dari rongga
tubuh tertembus, keadaan ini disebut fraktur terbuka (atau compound), yang
cenderung untuk mengalami kontaminasi dan infeksi
.
B. Jenis Fraktur
Penampilan fraktur dapat sangat bervariasi tetapi untuk alasan yang praktis
fraktur dibagi atas beberapa kelompok yang jelas.
1. Fraktur Lengkap
Tulang benar-benar patah menjadi dua fragmen atau lebih. Jika fraktur
bersifat melintang, fragmen itu biasanya tetap di tempatnya setelah reduksi.
Jika bersifat oblik atau spiral, fraktur cenderung bergeser dan berpindah lagi
sekalipun tulang itu dibebat. Pada fraktur implikasi, fragmen-fragmen terikat

erat bersama-sama dan garis fraktur itu tidak jelas. Frakatur kominutif adalah
fraktur dengan lebih dari dua fragmen karena ikatan sambungan pada
permukaan fraktur tidak baik, lesi ini sering tidak stabil.
2. Fraktur Tak Lengkap
Dalam keadaan ini, tulang terpisah secara tak lengkap dan periosteum
tetap menyatu. Pada fraktur greenstick tulang bengkok atau melengkung
(seperti ranting hijau yabg dipatahkan). Hal ini ditemukan pada anak-anak
yang tulangnya lebihb elastis daripada tulang orang dewasa. Reduksi biasanya
mudah dan penyembuhannya cepat. Fraktur kompresi terjadi bila tulang yang
bersepon mengerut. Hal ini terjadi pada orang dewasa, terutama dalam badan
vertebra. Kalau tidak dioperasi seketika itu, reduksi tidak dapat dilakukan dan
tak dapat dihindari adanya deformitas sisa.
C. Deskripsi Fraktur
Untuk menjelaskan keadaan fraktur, hal-hal yang perlu dideskripsikan adalah
sebagai berikut :
1. Komplit atau tidak komplit.
Fraktur komplit, bila garis patah melalui seluruh penampang tulang atau
melalui kedua korteks tulang. Fraktur tidak komplit, bila garis patah tidak
melalui seluruh penampang tulang, seperti:

Hairline fracture (patah retak rambut).

Buckle fracture atau torus fracture, bila terjadi lipatan dari satu korteks
dengan kompresi tulang spongiosa di bawahnya, biasanya pada distal
radius anak-anak.

Greenstick fracture, mengenai satu korteks dengan angulasi korteks


lainnya yang terjadi pada tulang panjang anak.

2. Bentuk garis patah dan hubungannya dengan mekanisme trauma.

Garis patah melintang: trauma angulasi atau langsung

Garis patah oblik: trauma angulasi

Garis patah spiral: trauma rotasi


3

Fraktur kompresi: trauma aksial-fleksi pada tulang spongiosa

Fraktur avulsi: trauma tarikan/traksi otot pada insersinya di tulang,


misalnya fraktur patela.

3. Jumlah garis patah.

Fraktur kominutif: garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan.

Fraktur segmental: garis patah lebih dari satu tetapi tidak berhubungan.
Bila dua garis patah disebut pula fraktur bifokal.

Fraktur multipel: garis patah lebih dari satu tetapi pada tulang yang
berlainan tempatnya, misalnya fraktur femur, fraktur kruris, dan fraktur
tulang belakang.

4. Bergeser atau tidak bergeser.

Fraktur undisplaced (tidak bergeser), garis patah komplit tetapi kedua


fragmen tidak bergeser, periosteumnya masih utuh.

Fraktur displaced (bergeser), terjadi pergeseran fragmen-fragmen


fraktur yang juga disebut lokasi fragmen, terbagi:
a. dislokasi ad longitudinam cum contractionum (pergeseran searah
sumbu dan overlapping)
b. dislokasi ad axim (pergeseran yang membentuk sudut)
c. dislokasi ad latus (pergeseran di mana kedua fragmen saling
menjauhi).

5. Terbuka atau tertutup.

Terbuka jika kulit atau salah satu dari rongga tubuh tertembus.

Tertutup jika kulit di atasnya masih utuh.

6. Komplikasi atau tanpa komplikasi.


Komplikas dapat berupa komplikasi dini atau lambat, lokal atau
sistemik, oleh trauma atau akibat pengobatan.
D. Komplikasi Fraktur
1.

Sindroma Kompartemen

Sindroma kompartemen adalah suatu sindrom yang terjadi karena


beberapa hal, bisa disebabkan oleh fraktur, di mana terjadi peningkatan
tekanan intrakompartemen sehingga terjadi iskemia jaringan. Peningkatan
tekanan ini disebabkan oleh terisinya cairan ke dalam kompartemen (fascia),
dan tidak diikuti oleh pertambahan luas/volume kompartemen itu sendiri.
Cairan tersebut dapat berupa darah atau edema yang disebabkan oleh fraktur.
Dengan

meningkatnya

tekanan

intrakompartemen

(interstitial)

yang

melampaui tekanan perfusi kapiler (pembuluh darah), akan menyebabkan


aliran darah yang seyogyanya mensuplai oksigen dan nutrisi ke jaringan
menjadi tidak adekuat (kolaps). Hal ini akan memicu terjadinya iskemia
jaringan, yang menyebabkan edema sehingga tekanan intrakompartemen
tersebut akan semakin meningkat. Bila hal ini tidak diatasi, maka iskemia
yang terjadi akan menimbulkan kematian jaringan dan nekrosis, yang pada
akhirnya dapat mengancam nyawa.
Secara

umum

terdapat

beberapa

tanda

(sign)

untuk

sindroma

kompartemen, yang disingkat menjadi 5P:

Pain (nyeri), yang sering ditemukan dan terjadi di awal sindrom

Parestesia, yaitu gangguan pada saraf sensorik

Paralisis, yaitu gangguan motorik yang ditemukan setelah beberapa


waktu

Pallor, yaitu pucat pada kulit akibat berkurangnya suplai darah

Pulselessness, yaitu kehilangan denyut arteri

Cara untuk mengatasi hal ini adalah dengan teknik fasciotomi, suatu
tindakan operatif untuk membebaskan cairan yang terperangkap di dalam
kompartemen.
2.

Cedera Vaskular
Cedera vaskular, terutama cedera arteri merupakan konsekuensi berbahaya

dari fraktur yang dapat mengancam jaringan dan nyawa. Pembuluh darah dapat
mengalami cedera di mana saja, namun ada tempat-tempat tertentu yang sangat
rentan terhadap cedera vaskular. Di ekstremitas atas, bagian aksila, lengan atas
anterior dan medial serta fossa antecubital adalah daerah yang berisiko tinggi,
5

sedangkan di ekstremitas bawah, daerah inguinal, paha medial dan fossa


popliteal adalah daerah yang berisiko tinggi jika mengalami cedera vaskular.
Pada daerah-daerah tersebut, hanya terdapat satu arteri tunggal yang berjalan
sepanjang daerah tertentu sebelum bercabang (furcatio) di daerah yang lebih
distal. Arteri tunggal ini nantinya akan bercabang menjadi dua di ekstremitas
atas (a. brachialis bercabang menjadi a.radialis dan a.ulnaris setelah fossa
cubiti) dan tiga di ekstremitas bawah (a.femoralis akan bercabang menjadi
a.tibial anterior, a.tibial posterior, dan a.fibular/peroneal setelah fossa
popliteal). Dengan demikian, apabila terjadi cedera vaskular pada arteri tunggal
ini menyebabkan iskemia yang luas pada jaringan yang lebih distal. Hal ini
akan berbeda jika cedera vaskular terjadi di daerah yang lebih distal setelah
percabangan, di mana risiko iskemia jaringan tidak seluas yang ditimbulkan
oleh cedera arteri tunggal. Braten et al mengemukakan bahwa penanganan
cedera vaskular paling baik dalam jangka waktu 6 jam setelah terjadinya
fraktur. Penanganan tersebut meliputi imobilisasi ekstremitas, penekanan
(namun tidak menggunakan torniket), serta tindakan operatif. Setelah itu
disarankan untuk dilakukan fasciotomi demi mencegah terjadinya sindroma
kompartemen.
3.

Osteonekrosis
Osteonekrosis (nekrosis avaskular) adalah keadaan yang terjadi di mana

tulang kehilangan suplai darah untuk waktu yang lama/permanen. Tanpa suplai
darah, jaringan tulang akan mati dan menjadi nekrotik. Osteonekrosis paling
sering terjadi di tulang panggul, terutama pada dislokasi panggul posterior
disertai fraktur kepala femur. Koval et al mengemukakan bahwa sepuluh persen
pasien dislokasi panggul anterior mengalami osteonekrosis.
4. Major blood loss (fraktur pelvis, fraktur femur)
Fraktur dengan kehilangan darah (major blood loss) paling sering terjadi
pada fraktur pelvis dan fraktur femur. Hal ini disebabkan vaskularisasi yang
ekstensif pada kedua daerah tersebut. Apabila terjadi perdarahan secara
signifikan (lebih dari 1 liter) dapat berakibat secara sistemik, seperti shock,

hipotensi, dan takikardia. Sekitar 40 persen pasien dengan fraktur pelvis


mengalami perdarahan intraabdominal yang dapat berujung pada kematian.
Pada fraktur pelvis, terdapat beberapa lokasi yang sangat rentan terjadinya
perdarahan setelah fraktur:

Perdarahan intraosseus (periosteal, kapsular, intramuscular)

Perdarahan intrapelvis (a.gluteus superior, obturator, pudendal, dan


iliaka)

Perdarahan intraabdominal (visceral dan intraabdominal mayor)

Perdarahan melalui luka terbuka

Pada fraktur yang disertai dengan rotasi eksternal pelvis, di mana terjadi
robekan ligamen pelvis, dapat terjadi pengumpulan darah dalam jumlah
besar di ruang retroperitoneal dan dapat berekstravasasi ke sekitar pelvis.
Hampir sama dengan fraktur pelvis, fraktur femur juga dapat

menyebabkan kehilangan darah yang sangat masif karena strukturnya yang


sangat vaskular. Lieurance et al mengemukakan bahwa sekitar 40 persen
penderita fraktur femur mengalami kehilangan darah rata-rata sebanyak 1.276
cc. Hal ini dapat diminimalisasi dengan cara mengimobilisasi tulang yang
mengalami fraktur, memperbaiki deformitas, menyambung (ligasi) pembuluh
darah serta resusitasi.
5. Cedera Saraf Perifer (Peripheral Nerve Injury)
Cedera saraf perifer merupakan komplikasi lain dari fraktur. Saraf yang
rentan mengalami cedera adalah saraf yang letaknya di dekat tulang/fascia.
Berdasarkan struktur, fungsi, dan regenerasinya, cedera saraf dapat dibagi
menjadi beberapa golongan:

Neurapraxia, yaitu kehilangan fungsi dari sel saraf namun tidak disertai
oleh kelainan struktur.

Axonotmesis, yaitu kehilangan fungsi dari sel saraf dan disertai oleh
cedera akson, namun struktur inti beserta selubung dan sel Schwann masih
utuh. Pada cedera ini, regenerasi aksonal dapat mengembalikan fungsi
yang hilang.

Neurotmesis, yaitu cedera saraf yang lebih berat dari neurapraxia dan
axonometsis. Pada neurotmesis, terjadi kehilangn fungsi disertai cedera
aksonal, selubung myelin dan jaringan konektif sehingga penyembuhan
menghasilkan jaringan parut yang menghambat regenerasi akson.

Beberapa contoh cedera saraf perifer antara lain:


a.

Carpal tunnel syndrome (CTS), yaitu sindroma yang ditandai dengan nyeri
atau mati rasa pada jari 1-3 yang disebabkan oleh cedera pada n.
medianus. Gejala ini bertambah di malam hari.

b.

Kompresi n.ulnaris, yang berhubungan dengan fraktur dan dislokasi di


daerah siku. Ditandai dengan kesulitan untuk memisahkan jari-jari dan
kelemahan pada jari 4-5.

c.

Peroneal nerve palsy, yang disebabkan oleh kompresi pada n.peroneal


(fibula) ditandai dengan kelemahan motorik seperti dorsofleksi dan eversi
kaki.
Fraktur dapat menyebabkan cedera saraf perifer melalui beberapa

mekanisme. Yang pertama adalah trauma mekanik secara langsung, misalnya


dengan terpotong atau melalui penggunaan torniket. Mekanisme berikutnya
adalah melalui kompresi atau tekanan, yang pada fraktur dapat disebabkan oleh
tulang atau sindroma kompartemen. Iskemia yang dihasilkan oleh sindroma
kompartemen juga dapat mencederai sel saraf.
Sel saraf yang cedera dapat mengalami penyembuhan apabila cedera
tersebut tidak mengenai struktur keseluruhan sel saraf. Penyembuhan akan
terjadi dengan kecepatan sekitar 1 mm/hari. Selain itu, dapat dilakukan
tindakan operatif, yang pada prinsipnya merupakan penyambungan saraf yang
cedera.
6.

Fraktur vertebra dan instabilitas disertai defisit neurologis memburuk atau


inkomplit
Vertebra merupakan salah satu bagian rangka aksial pada manusia. Fraktur

vertebra terjadi 4 kali lebih banyak pada pria dan sering terjadi di usia lanjut
(>75 tahun). Mekanisme terjadinya cedera pada vertebra antara lain meliputi
kontusio, kompresi, tarikan (stretching) dan laserasi. Karena vertebra
8

merupakan tulang yang melindungi medula spinalis (sistem saraf pusat), maka
cedera pada vertebra dapat memberi dampak secara neurologis.
Cedera neurologis yang ditimbulkan dapat dibagi menjadi:
a. Cedera spinal komplit, yang ditandai dengan kehilangan fungsi sensoris
atau motoris di bawah level spinal yang mengalami cedera. Pada cedera
spinal komplit, mungkin terjadi kehilangan refleks bulbocavernosus
(refleks sfingter anus) yang diatur di segmen S2-S4 dan akan kembali
dalam

waktu

sekitar

24

jam

setelah

cedera.

Apabila

refleks

bulbocavernosus sudah kembali namun tidak diikuti oleh kembalinya


kemampuan sensorik dan motorik lain, maka cedera yang terjadi adalah
cedera spinal komplit.
b. Cedera

spinal

inkomplit,

yang

ditandai

dengan

adanya

fungsi

sensorik/motorik yang tersisa di bawah level spinal yang mengalami


cedera. Refleks bulbocavernosus bisa menghilang atau tetap. Jika refleks
bulbocavernosus menghilang, maka salah satu ciri cedera spinal inkomplit
adalah kembalinya fungsi-fungsi sensorik dan motoris lain setelah refleks
bulbocavernosus kembali.
Selain itu, cedera spinal yang diakibatkan oleh cedera vertebra dapat
berakibat spesifik sesuai dengan daerah yang dipersarafinya. Beberapa contoh
antara lain:

. Segmen servikal

C1-C3 : gangguan fungsi diafragma (untuk pernapasan)


C4

: gangguan fungsi biceps dan lengan atas

C5

: gangguan fungsi tangan dan pergelangan tangan

C6

: gangguan fungsi tangan secara komplit

C7 & T1 : gangguan fungsi jari tangan

Segmen torakal

T1-T8 :gangguan fungsi pengendalian otot abdominal, gangguan


stabilitas tubuh.
T9-T12 :kehilangan parsial fungsi otot abdominal dan batang tubuh

Segmen lumbar dan sakral


9

Cedera

pada

segmen

lumbar

dan

sakral

dapat

mengganggu

pengendalian tungkai, sistem saluran kemih dan anus.


Selain itu gangguan fungsi sensoris dan motoris, cedera vertebra dapat
berakibat lain seperti spastisitas atau atrofi otot.
7.

Infeksi
Pada fraktur, infeksi dapat terjadi melalui 3 jalur:

a. Fraktur terbuka yang disertai luka yang terpajan ke lingkungan luar


b. Fraktur yang disertai hematoma, di mana bakteri dibawa oleh aliran darah
c. Infeksi pasca operasi
Infeksi pada fraktur dapat dibagi menjadi infeksi luar (superfisial) dan
infeksi dalam. Pada infeksi luar, penanganan dapat dilakukan dengan
pemberian antibiotik dan pembersihan serta mengelola luka dengan baik. Jika
infeksi terjadi di dalam, maka drainase pus, pembersihan jaringan nekrotik dan
mengelola luka merupakan penanganan yang baik. Pemberian antibiotik juga
dapat dilakukan, namun tidak semua antibiotik memiliki spektrum yang tepat.
Sebaiknya dilakukan analisis mikroorganisme sebelum pemberian antibiotik.
8. Non-union, malunion, delayed union
Non-union adalah suatu kondisi di mana tidak terjadi penyatuan
(penyembuhan) tulang yang mengalami fraktur setelah beberapa waktu, di
mana normalnya tulang tersebut seharusnya sudah menyatu. Sebagai contoh
untuk tulang panjang dikatakan non-union jika setelah 6 bulan tidak ada
penyatuan, atau 3 bulan untuk bagian leher tulang femur.
Non-union bisa disebabkan oleh beberapa faktor, seperti usia, nutrisi yang
kurang baik/adekuat, efek penggunaan steroid, terapi radiasi, infeksi, suplai
darah yang tidak adekuat, atau imobilisasi yang kurang benar. Non-union bisa
dibagi menjadi beberapa tipe:
a. Hypertropic non-union, di mana terbentuk kalus tulang namun tidak
terbentuk penulangan antara tulang yang fraktur.
b. Oligotropic non-union, di mana tidak terbentuk kalus tulang untuk
penyatuan namun keadaan lain seperti vaskular membaik.

10

c. Atropic non-union, di mana tidak terbentuk kalus tulang dan keadaan lain
seperti vaskular tidak membaik.
d. Gap non-union, di mana penyatuan tidak terjadi akibat terpotongnya pusat
penulangan (diafisis) pada saat fraktur.
Malunion adalah penyembuhan fraktur dalam posisi yang tidak anatomis
(abnormal). Biasanya disebabkan oleh penanganan yang kurang adekuat.
Malunion dapat menyebabkan gangguan fungsional dan estetik, dan paling
sering terjadi sebagai komplikasi fraktur tulang phalangs. Beberapa contoh
malunion adalah malrotasi (terjadi pada fraktur spiral atau oblik), angulasi, dan
pemendekan (shortening).
Delayed union adalah keterlambatan penyembuhan/penyatuan fraktur.
Tidak ada batasan waktu yang jelas kapan suatu penyembuhan fraktur
dikatakan delayed union. Beberapa penyebab delayed union antara lain infeksi
dan suplai darah yang inadekuat.
E. Diagnosis Fraktur
1. Anamnesis.
Bila tidak ada riwayat trauma, berarti fraktur patologis. Trauma harus
diperinci kapan terjadinya, di mana terjadinya, jenisnya, berat-ringan trauma, arah
trauma, dan posisi pasien atau ekstremitas yang bersangkutan (mekanisme
trauma). Jangan lupa untuk meneliti kembali trauma di tempat lain secara
sistematik dari kepala, muka, leher, dada, dan perut.
2. Pemeriksaan umum
Dicari kemungkinan komplikasi umum seperti syok pada fraktur multipel,
fraktur pelvis, fraktur terbuka; tanda-tanda sepsis pada fraktur terbuka yang
mengalami infeksi.
3. Pemeriksaan status lokalis
Tanda-tanda klinis pada fraktur tulang panjang:
a. Look, cari apakah terdapat:

11

Deformitas, terdiri dari penonjolan yang abnomal (misalnya pada


fraktur

kondilus

lateralis

humerus),

angulasi,

rotasi,

dan

pemendekan

Functio laesa (hilangnya fungsi), misalnya pada fraktur kruris tidak


dapat berjalan.

Lihat juga ukuran panjang tulang, bandingkan kiri dan kanan,


misalnya pada tungkai bawah meliputi apparent length (jarak antara
umbilikus dengan maleolus medialis), dan true length (jarak antara
SIAS dengan maleolus medialis).

b. Feel, apakah terdapat nyeri tekan. Pemeriksaan nyeri sumbu tidak


dilakukan lagi karena akan menambah trauma.
c. Move, untuk mencari:

Krepitasi, terasa bila fraktur digerakkan. Tetapi pada tulang


spongiosa atau tulang rawan epifisis tidak terasa krepitasi.
Pemeriksaan ini sebaiknya tidak dilakukan karena menambah
trauma.

Nyeri bila digerakkan, baik pada gerakan aktif maupun pasif.

Seberapa jauh gangguan-gangguan fungsi, gerakan-gerakan yang


tidak mampu dilakukan, range of motion (derajat dari ruang lingkup
gerakan sendi), dan kekuatan.

F. Proses Penyembuhan
Secara ringkas tahap penyembuhan tulang adalah sebagai berikut :
1. Stadium Pembentukan Hematom

Hematom terbentuk dari darah yang mengalir yang berasal dari pembuluh
darah yang robek.

Hematom dibungkus jaringan lunak sekitar (periosteum & otot).

Terjadi sekitar 1-2 x 24 jam.

2. Stadium Pembentukan Hematom

Sel-sei berproliferasi dari lapisan dalam periosteum, sekitar lokasi fraktur.


12

Sel-sel ini menjadi precursor osteoblast.

Sel-sel ini aktif tumbuh kearah fragmen tulang.

Proliferasi juga terjadi di jaringan sumsum tulang.

Terjadi setelah hari ke-2 kecelakaan terjadi.

3. Stadium Pembentukan Kallus

Osteoblast membentuk tulang lunak (kallus).

Kallus memberikan rigiditas pada fraktur.

Jika terlihat massa kallus pada X-ray berarti fraktur telah telah menyatu.

Terjadi setelah 6-10 hari setelah kecelakaan terjadi.

4. Stadium Konsolidasi

Kallus mengeras danerjadi proses konsolidasi. Fraktur teraba telah


menyatu.

Secara bertahap menjadi tulang mature.

Terjadi pada minggu ke 3-10 setelah kecelakaan.

5. Stadium Remodeling

Lapisan bulbous mengelilingi tulang khususnya pada lokasi eks fraktur.

Tulang yang berlebihan dibuang oleh osteoklast.

Pada anak-anak remodeling dapat sempurna, pada dewasa masih ada tanda
penebalan tulang.

G. Komplikasi Penyembuhan Fraktur


Pada proses penyembuhan patah tulang, dapat mengalami beberapa gangguan,
diantaranya adalah :
1. Terjadi perlambatan penyembuhan patah tulang, disebut juga pertautan
lambat dan dengan berlalunya waktu pertautan akan terjadi.
2. Patah tulang tidak menyambung sama sekali, meskipun ditunggu berapa
lama. Gagalnya pertautan mengakibatkan pseudartrosis atau sendi palsu
karena bagian bekas patah tulang ini dapat digerakkan seperti sendi

13

3. Terjadi pertautan namun dalam posisi yang salah, keadaan ini disebut juga

salah-taut.
Komplikasi penyembuhan fraktur yang mungkin terjadi antara lain :
a. Compartment syndrome
Setelah terjadi fraktur terdapat pembengkakan yang hebat di sekitar
fraktur yang mengakibatkan penekanan pada pembuluh darah yang
berakibat tidak cukupnya supply darah ke otot dan jaringan sekitar fraktur.
b. Neurovascular injury
Pada beberapa fraktur yang berat dapat mengakibatkan arteri dan saraf
disekitarnya mengalami kerusakan.
c. Post traumatic arthritis
Fraktur yang berhubungan dengan sendi (intra artikuler fraktur) atau
fraktur yang mengakibatkan bertemunya tulang dengan sudut abnormal di
dalam sendi yang dapat mengakibatkan premature arthritis dari sendi.
d. Growth abnormalities
Fraktur yang terjadi pada open physis atau growth plate pada anak
anak dapat menyebabkan berbagai macam masalah. Dua dari masalah ini
adalah premature partial atau penutupan secara komplit dari physis yang
artinya salah satu sisi dari tulang atau kedua sisi tulang berhenti tumbuh
sebelum tumbuh secara sempurna. Jika seluruh tulang seperti tulang
panjang berhenti tumbuh secara premature dapat mengakibatkan
pendeknya salah satu tulang panjang dibandingkan tulang panjang lainnya,
membuat salah satu tulang kaki lebih pendek dibandingkan tulang kaki
lainnya.
H. Penatalaksanaan Fraktur
1. Penatalaksanaan secara umum
Fraktur biasanya menyertai trauma. Untuk itu sangat penting untuk
melakukan pemeriksaan terhadap jalan napas (airway), proses pernafasan
(breathing) dan sirkulasi (circulation), apakah terjadi syok atau tidak. Bila
sudah dinyatakan tidak ada masalah lagi, baru lakukan anamnesis dan
14

pemeriksaan fisis secara terperinci. Waktu tejadinya kecelakaan penting


ditanyakan untuk mengetahui berapa lama sampai di RS, mengingat golden
period 1-6 jam. Bila lebih dari 6 jam, komplikasi infeksi semakin besar.
Lakukan anamnesis dan pemeriksaan fisis secara cepat, singkat dan
lengkap. Kemudian lakukan foto radiologis. Pemasangan bidai dilakukan
untuk mengurangi rasa sakit dan mencegah terjadinya kerusakan yang lebih
berat pada jaringan lunak selain memudahkan proses pembuatan foto.
2. Penatalaksanaan kedaruratan
Segera setelah cedera, pasien berada dalam keadaan bingung, tidak
menyadari adanya fraktur dan berusaha berjalan dengan tungkai yang
patah, maka bila dicurigai adanya fraktur, penting untuk mengimobilisasi
bagain tubuh segara sebelum pasien dipindahkan. Bila pasien yang
mengalami cedera harus dipindahkan dari kendaraan sebelum dapat
dilakukan pembidaian, ekstremitas harus disangga diatas dan dibawah
tempat patah untuk mencegah gerakan rotasi maupun angulasi. Gerakan
fragmen patahan tulang dapat menyebabkan nyeri, kerusakan jaringan
lunak dan perdarahan lebih lanjut.
Nyeri sehubungan dengan fraktur sangat berat dan dapat dikurangi
dengan menghindari gerakan fragmen tulang dan sendi sekitar fraktur.
Pembidaian yang memadai sangat penting untuk mencegah kerusakan
jaringan lunak oleh fragmen tulang
Daerah yang cedera diimobilisasi dengan memasang bidai sementara
dengan bantalan yang memadai, yang kemudian dibebat dengan kencang.
Imobilisasi tulang panjang ekstremitas bawah dapat juga dilakukan dengan
membebat kedua tungkai bersama, dengan ektremitas yang sehat bertindak
sebagai bidai bagi ekstremitas yang cedera. Pada cedera ektremitas atas,
lengan dapat dibebatkan ke dada, atau lengan bawah yang cedera digantung
pada sling. Peredaran di distal cedera harus dikaji untuk menntukan
kecukupan perfusi jaringan perifer.
Pada fraktur terbuka, luka ditutup dengan pembalut bersih (steril) untuk
mencegah kontaminasi jaringan yang lebih dalam. Jangan sekali-kali
15

melakukan reduksi fraktur, bahkan bila ada fragmen tulang yang keluar
melalui luka. Pasanglah bidai sesuai yang diterangkan diatas.
Pada bagian gawat darurat, pasien dievaluasi dengan lengkap. Pakaian
dilepaskan dengan lembut, pertama pada bagian tubuh sehat dan kemudian
dari sisi cedera. Pakaian pasien mungkin harus dipotong pada sisi cedera.
Ektremitas sebisa mungkin jangan sampai digerakkan untuk mencegah
kerusakan lebih lanjut.
3. Penatalaksanaan bedah ortopedi
Banyak pasien yang mengalami disfungsi muskuloskeletal harus
menjalani pembedahan untuk mengoreksi masalahnya. Masalah yang dapat
dikoreksi meliputi stabilisasi fraktur, deformitas, penyakit sendi, jaringan
infeksi atau nekrosis, gangguan peredaran darah (misalnya sindrom
komparteman), adanya tumor. Prosedur pembedahan yang sering dilakukan
meliputi Reduksi Terbuka dengan Fiksasi Interna atau disingkat ORIF
(Open Reduction and Fixation). Berikut dibawah ini jenis-jenis
pembedahan ortopedi dan indikasinya yang lazim dilakukan :

Reduksi terbuka : melakukan reduksi dan membuat kesejajaran


tulang yang patah setelah terlebih dahulu dilakukan diseksi dan
pemajanan tulang yang patah.

Fiksasi interna : stabilisasi tulang patah yang telah direduksi


dengan skrup, plat, paku dan pin logam.

Graft tulang : penggantian jaringan tulang (graft autolog


maupun heterolog) untuk memperbaiki penyembuhan, untuk
menstabilisasi atau mengganti tulang yang berpenyakit.

Amputasi : penghilangan bagian tubuh.

Artroplasti : memperbaiki masalah sendi dengan artroskop


(suatu alat yang memungkinkan ahli bedah mengoperasi
dalamnya sendi tanpa irisan yang besar) atau melalui
pembedahan sendi terbuka.

Menisektomi : eksisi fibrokartilago sendi yang telah rusak.


16

Penggantian sendi : penggantian permukaan sendi dengan bahan


logam atau sintetis.

Penggantian sendi total : penggantian kedua permukaan


artikuler dalam sendi dengan logam atau sintetis.

Transfer tendo : pemindahan insersi tendo untuk memperbaiki


fungsi.

Fasiotomi : pemotongan fasia otot untuk menghilangkan


konstriksi otot atau mengurangi kontraktur fasia.

BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Dari uraian-uraian yag telah disampaikan pada bab sebelumnya, maka
dapat ditarik kesimpulan bahwa :

Fraktur adalah suatu patahan pada kontinuitas struktur tulang.

Fraktur terdiri dari fraktur lengkap dan fraktur tak lengkap.

Untuk menjelaskan keadaan fraktur, hal-hal yang perlu dideskripsikan


adalah komplit atau tidak komplit, bentuk garis patah dan
hubungannya dengan mekanisme trauma, jumlah garis patahan,
bergeser atau tidak, terbuka atau tertutup, serta ada komplikasi atau
tidak.

Contoh dari komplikasi fraktur adalah sindroma kompartemen, cedera


vaskular, dan osteonekrosis.

Untuk mendiagnosis frakatur, hal yang perlu dilakukan adalah


anamnesis, pemeriksaan umum, dan pemeriksaan status lokalis.

Proses penyembuhan fraktur terdiri dari beberapa proses, yakni


stadium pembentukan hematom, stadium pembentukan hematom,

17

stadium pembentukan kallus, stadium konsolidasi, dan stadium


remodeling.

Penatalaksanaan pada fraktur terdiri atas penatalaksanaan secara


umum, penatalaksanaan kedaruratan, dan penatalaksanaan bedah
ortopedi.

B. Saran
Kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab fraktur (patah tulang)
terbanyak. Selain menyebabkan fraktur, menurut WHO kecelakaan lalu lintas
bahkan dapat menyebabkan kematian 1,25 juta orang tiap tahunnya, dengan
korban sebagian besar adalah remaja. Maka dari itu, sebaiknya kita menjaga
diri agar terhindar dari hal-hal yang dapat menyebabkan fraktur misalnya
kecelakaan, dengan cara berhati-hati apabila sedang berkendara di jalan raya.
Budayakan tertib berlalu lintas agar keselamatan jiwa terjamin.

18

DAFTAR PUSTAKA

Swiontkowski MF, Stovitz SD. Manual of orthopaedics. 6th ed. US: Lippincott
Williams and Wilkins; 2001.
Koval KJ, Zuckerman JD. Handbook of fractures. 3rd ed. US: Lippincott Williams
and Wilkins; 2006.
Braten M, Helland P, Mhyhre H, Malste A, Terjesen T. 11 femoral fractures with
vascular injury - good outcome with early vascular repair and internal
fixation. Acfa Orthop Scand 1996 [cited 2009 Dec 8]; 67 (2): 1614.
Lieurance R, Benjamin JB, Rappaport WD. Blood loss and transfusion in patient
with isolated femur fracture. J Orthop Trauma 1992 [cited 2009 Dec
8];6(2):175-9.
Goodship, A.E and Kenwright, J. (1985) The influence of induced
micromovement upon the healing of experimental tibial fractures. Journal of
Bone and Joint Surgery 67b, 650-655

19

Gustilo, R.B., Merkow, R.L. and Templemen, D. (1990) Current concepts: the
management of open fractures. Journal of Bone and Joint Surgery 72A, 299304
Rasjad Chairuddin., Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi, Bintang Lamumpatue,
Ujung Pandang, 1998, 3888-389.
Sarmiento, A. and Latta, L.L. (1981) Closed Functional Treatment of Fractures,
Springer, Berlin, Heidelberg: New York
Manson Paul, John Cameron., Terapi Bedah Mutakhir Jilid Dua, Alih Bahasa
Widjaya Kusuma, Edisi Empat, Binarupa Aksara, Jakarta, 1997, 471, 482484.
Charnley, J. (1961) The Closed Treatment of Common Fractures, 3rd edn,
Livingstone: Edinburgh

20