Anda di halaman 1dari 4

Autism Spectrum Disorder (ASD) merupkan suatu kondisi perkembangan neurologis yang

terjadi pada awal tahun kehidupan dan mencakup beberapa gangguan berat dalam interaksi
dan komunikasi, seiring dengan terjadinya gangguan minat dan sangat terkait dengan
kegiatan rutin atau prilaku repetitive atau perilaku perseperative. Diperkirakan jumlah
populasi ASD Pada anak-anak meningkat secara drastic pada beberapa decade, satu dari 88
anak di Amerika Serikat memenuhi Kriteria ini. Tingginya prevalensi ditambah dengan
tingginya biaya pengobatan serta keterbatasan perawat anak-anak ASD, berhubungan
dengan

kebutuhan untuk mengidentifikasi penyebab dari ASD itu sendiri dan

mengembangkan intervensi untuk mengurangi gejala inti dan komorbid dari ASD itu
sendiri. Gangguan gastro intestinal sering terjadi pada anak dengan ASD, dan banyak
hipotesis yang merujuk pada penyebab dan terapi dari ASD yang menyangkut gangguan
GI. Ini menyangkut ide bahwa terdapat gangguan GI spesifik yang dihubungkan dengan
ASD, yang diinduksi oleh fungsi imun abnormal atau peningkatan permiabilitas usus.
Sejumlah kontroversi terhadap topic ini sejak dipublikasikan pada tahun 1998 mengenai
entitas patologi autistic entercolitis, yang bertanggung jawab terhadap keterlambatan
perkembangan pada anak berusia 12 tahun setelah pemberian vaksin campak-rubela (vaksin
MMR). Pada akhirnya penelitian tersebut ditarik kembali karena beberapa alasan seperti
keraguan implementasi penelitian seperti yang ditemukan oleh general medical counsil of
United Kingdom. Hubungan antara vaksin MMR dan ASD tidak didukung dengan
penelitian berkelanjutan. Sehingga, status dari fungsi system GI pada pasien ASD masih
dipertanyakan. Tambahan teori menyatakan bahwa anak dengan ASD memiliki resiko yang
lebih tinggi terhadap variasi gen, defisiensi lactase dan sensitivitas terhadap gluten.
Meskipun terdapat patofisiologi GI yang spesifik dan unik pada pasien ASD yang harus
diidentifikasi, peningkatan gejala-gejala GI ini masih menjadi critical issue pada seting
pediatric karena populasi ini secara signifikan lebih banyak menggunakan obat-obatan GI
dan mengalami perawatan di rumah sakit dikarenakan gangguan pada system GI
dibandingkan anak seusianya.

Perhatian tentang kemungkinan adanya disfungsi GI pada ASD lebih di intensifkan lagi
pada tingginya masalah dalam pemberian makanan serta sekuel konsekuensi medis yang
diakibatkannya pada orang dengan ASD.
Anak-anak dengan ASD memiliki kecenderungan kesulitan dalam pemberian makanan 5
kali lebih besar dibandingkan dengan anak seusianya. Tingginya selektifitas terhadap
makanan (contoh : konsumsi makanan yang kurang bervariasi) merupakan masalah yang
paling sering terjadi pada anak-anak dengan ASD, terutama kecenderungan mengkonsumsi
pati, makanan ringan, makanan siap saji, dan kurangnya konsumsi buah, sayur serta
protein. meski demikian perhatian terhadap pemberian makanan pada anak dengan ASD
sering di khususkan pada hubungan terhadap area klinis lainnya, mungkin karena pola
konsumsi makanan yang selektif tidak berhubungan dengan peningkatan reiko gangguan
pertumbuhan (failure to thrive, declining growth velocity) yang menyebabkan perlunya
perhatian klinis pada setting psien pediatric.
Bukti menunjukkan bahwa pola intake yang atipikal pada ASD menyebabkan populasi ini
berada pada resiko komplikasi nitrisional dan medis jangka panjang dan tidak terdeteksi
oleh broad asnthopometri atau analisis dari intake keseluruhan energy termsuk defisiensi
vitamin dan mineral serta gangguan pertumbuhan tulang. Tentu saja pemeriksaan intake
nutrisi pada populasi ASD secara signifikan mengindikasikan kekurangan nutrisi secara
spesifik (low intaje dari kalsium dan protein) dan dalam jumlah yang lebih banyak, terjadi
kekurangan energy secara keseluruhan pada anak dengan ASD

Pemilihan makanan pada anak dengan ASD juga menjelaskan adanya bukti peningkatan
insiden obesitas berdasarkan pola konsumsi makan yang melibatkan tingginya konsumsi
snack siap saji dan makanan tinggi kalori. Faktor penyebab yang berkontribusi terhadap
pola prevalence dari atypical intake pada nanak dengan ASD masih sulit dipahami, namun
mungkin terlibat dalam proses patofisiologi yang terjadi pada saluran cerna.
Meskipun factor organic yang menyebabkan kesulitan makan, seperti gatroesophageal
Reflux, gastroenteritis, alergi makanan, sering memegang peranan dalam perkembangan

masalah kronis pemberian makanan pada populasi anak-anak lainnya, penelitian telah
ditujukan untuk mengidentifikasi secara jelas hubungan antara GI terhadap seberapa
besar kegawatan, pemeliharaan dan topography dari pemberian makanan yang
terkait dengan ASD.
Penelitian yang difokuskan pada disfungsi GI dan masalah pemberian makanan pada anak
dengan ASD sebelumnya telah diangkat menjadi prioritas oleh NATIONAL INSTITUTE of
HEALTH INTERAGENCY AUTISM COORDINATING COMMITTEE (http://
iacc.hhs.gov/), yang memiliki jaringan 14 center akademi kesehatan yang menyebar di
seluruh amrika serikat, masalah pemberian makan dan masalah pada GI dilaporkan terjadi
pada 50% pasien yang mengikuti protocol pengobatan
Terlebih lagi, laporan consensus sebelumnya menyimpulkan terdapat bukti yang merujuk
pada kecenderungan prevalence gejala-gejala dan kelainan GI yang lebih besar pada anak
dengan ASD sementara tidak ada kesimpulan definitive dan bukti yang menyatakan
hubungan antara disfungsi gastro intestinal dengan kejadian ASD, hal ini menjadi tidak
mungkin karena tidak adanya data penelitian yang berkualitas tinggi. Kesimpulan ini
diambil berdasarkan review kualitatif yang melibatkan 11 benelitian. Identifikasi penelitian
memiliki variasi metodelogi yang besar, dengan kurang dari stengah penelitian dimasukkan
ke dalam kelompok pembanding dan dengan pengumpulan data primer berasal dari laporan
orang tua, chart review, atau quisionnaires yang spesifik terhadap penelitian.

This article has been cited 26 times


in peer-reviewed publications (as of April 2013) dan mungkin menjadi sumber primer
untuk dokter spesialis anak dalam pendekatan terhadap issue ini, menegaskan kebutuhan
penelitian tambahan pada bidang ini untuk pedoman klinis serta aktifitas penelitian.
Pertumbuhan literature penelitian ditambah dengan avaibilitas prosedur kuantitatif untuk
menghasilkan keluaran data, mengadakan kesempatan untuk mengupdate analis tentang
literarur yang telah ada. Penelitian ini bertujuan untuk melihat literature medis untuk
mengidentifikasi penelitian menggunakan metode empiris untuk menginvestigasi diagnosis

GI, tanda dan gejala pada anak-anak dengan ASD dan menyimpulkan bukti dengan
prosedur deskriptif dan metaanalisis

METHODE
Strategi pencarian dan pemilihan penelitian
Mengikuti outline dari guideline dengan memilih item laporan untuk systematic review dan
Meta analisis kami mencari medline, PsycINFO dan pubMed database (januari 1980 hingga
September 2012) dan mencari secara online jurnal berbahasa inggris untuk legalitas
penelitian. Parameter pencarian (table 1) termasuk kombinasi dari kata kunci yang merujuk
pada target populasi (e.g autism, austistic disorder) dipasangkan secara sistematis dengan
indicator GI (e.g digestion, gastritis). Kami melakukan pengecekan silang terhadap hasil
pencarian dan menghilangkan kutipan yang tumpang tindih. Referensi dari artikel yang
relefan dan review tentang hal ini juga kami cari untuk bahan penelitian.
Untuk dimasukkan kedalam penelitian meta analisis harus memenuhia criteria
berikut : Sampel melibatkan populasi pediatric ( umur < 18 th) dengan ASD,
Penelitian

menggunakan

perbandingan

pada

kelompok

NON

ASD

tanpa

neurobehavioral delays untuk menganalisis masalah GI. E.g kelompok sebaya yang
tipikal atau saudara kandung), dan penelitian menyajikan data pada gejala GI baik
secara deskriptif (frekuensi, persentasi) maupun secara statistic ( p-value, t
scores). Untuk menghindari bias sampling, kami mengeksklusi penelitian yang
melibatkan sample ASD yang didapatkan dari anak-anak yang telah diketahui
diagnose gangguan GI atau group pembanding dari anak tanpa gangguan pada
perut ataupun usus.

Variables Coded, Data Extraction,


and Reliability