Anda di halaman 1dari 8

I.

PENDAHULUAN
Hipertensi atau tekanan darah tinggi seringkali muncul tanpa gejala, sehingga
disebut sebagai silent killer. Secara global, tingkat prevalensi hipertensi di seluruh
dunia masih tinggi. Lebih dari seperempat jumlah populasi dunia saat ini menderita
hipertensi. Namun sebaliknya, tingkat kontrol tekanan darah secara umum masih
rendah. Dari data NHANES pada orang dewasa hipertensi di Amerika tahun 19992000 mengungkapkan, 70% sadar bahwa mereka menderita hipertensi. Kesadaran
tersebut membawa 59% dari mereka untuk melakukan terapi. Tetapi hanya 34% dari
mereka yang melakukan terapi memiliki tekanan darah yang terkontrol.
Hipertensi didefinisikan sebagai suatu kondisi dengan tekanan darah 140/90
mmHg. Hipertensi hanya dapat diketahui dengan mengukur tekanan darah. Walaupun
tekanan darah yang telah terlanjur tinggi tidak dapat kembali normal, masih ada hal
yang dapat dilakukan oleh penderita hipertensi, yakni menjaga agar tekanan darah
selalu terkontrol. Tekanan darah diharapkan dapat dipertahankan di bawah 140/90
mmHg atau di bawah 130/80 mmHg untuk pasien yang mengalami diabetes dan gagal
ginjal.

II. LAPORAN KASUS


Seorang pasien laki-laki tua 72 tahun yang sudah lama mengalami angina
pectoris dan dianjurkan oleh kardiolog untuk dilakukan tindakan invasif angiografi
koroner guna mengetahui dengan tepat lokalisasi sumbatan pembuluh darah koroner
pasien tersebut.
Dengan menggunakan kateter yang dimasukkan melalui arteri brachialis atau
arteri femoralis kearah ascendens maka kontras radioopak dapat dimasukkan melalui
ostium arteri koronaria dextra dan sinistra. Dan kemudian akan mengalir keseluruh
percabangan koronaria.
Sistem kardiovaskuler bekerja alat transport untuk menyediakan oksigen dan
zat-zat makanan sesuai dengan kebutuhan jaringan tubuh, serta mengangkut hasil
metabolisme ketempat pembuangannya. Sistem ini juga berperan dalam pengaturan
suhu tubuh dan pengangkutan hormon. Transport oleh sistem kardiovaskuler ini juga
dibantu oleh sistem limfe. Sistem limfe mengembalikan 15 % cairan yang keluar dari
kapiler darah kedalam sistem kardiovaskuler melalui pembuluh limfe.
III. PEMBAHASAN

Salah satu fungsi kateter adalah untuk mengetahui letak penyumbatan pada
pembuluh darah. Apabila kateter dimasukkan melalui A. brachialis kearah ascendens,
kateter tersebut akan melalui arteri yang berdiameter besar dimulai dari A. Brachialis
lalu A. axillaris lalu A.subclavia dexter lalu A.truncus brahiocephalicus lalu Arcus
aorta lalu pars ascendens aorta lalu bulbus aorta dan terakhir akan sampai pada A.
Coronaria.
Sedangkan bila kateter dimasukkan kedalam arteri femoralis kearah ascenden,
kateter tersebut akan melalui arteri yang berdiameter besar dimulai dari A. Femoralis
lalu A. Iliaca externa lalu A. Iliaca communis lalu bifurcatio aortae lalu aorta
abdominalis lalu aorta thoracica lalu aorta ascendens lalu ke arcus aortae berakhir di
arteri coronaria.
Aliran pembuluh arteri dari cordis sampai ekstrimitas atas dextra yaitu dari
ventrikel kiri ke bulbus aorta lalu ke pars ascendens aorta lalu arcus aorta menuju
truncus brachiocephalicus setelah itu menuju ke A.subclavia dextra lalu ke A.axillaris
lalu A.brachialis setelah itu terbagi dua : A.ulnaris dan A.radialis, percabangan itu
menyatu kembali ke arcus palmaris superficial dan profundus.
Sedangkan aliran pembuluh arteri mulai dari cordis sampai ke ekstrimitas bawah yaitu
dari ventrikel kiri ke bulbus aorta lalu ke pars ascendens aorta lalu ke arcus aorta
menuju ke pars descendens aorta ke aorta thoracalis menuju aorta abdominalis lalu
A.bifurcatio aorta setelah itu A.iliaca communis lalu A.iliaca externa lalu A.femoralis
setelah itu terbagi dua : A.tibia posterior dan anterior.A.tibia posterior meneruskan ke
A.fibularis lalu berakhir di A.medial plantar,A.tibia anterior berakhir di A.dorsal
pedis.
Vena punksi adalah vena yang digunakan untuk pemasangan infus. (punksi
artinya tusukan). Contoh-contoh vena yang termasuk vena punksi antara lain : V.
Mediana cubiti, V. Brachialis, V. Radialis, V. Basilica, V. Cephalica dan V. Femoralis.
Aliran pembuluh balik ekstremitas atas mulai dari tangan sampai ke pembuluh
balik utama ada dua yaitu di sisi dorsal dan ventral. Dari rete venosum dorsale manus
bercabang ke V.cephalica dan V.basilica. Di palmar terdapat arcus palmar venous
superficial terbagi dua ke V.ulnaris dan V.radialis lalu ke V.brachialis menuju
V.axillaris lalu ke V.subclavia lalu V.brachiocephalica. Dari V.cephalica bercabang ke
V.mediana cubiti dan V.axillaris sedangkan V.basilica ke V.brachialis lalu V.axillaris
dan menuju V.subclavia lalu ke V.brachiocephalica lalu ke V.cava superior dan
terakhir masuk ke atrium dextra.
Aliran pembuluh balik ekstremitas bawah mulai dari kaki sampai bermuara di
pembuluh balik utama ada dua yaitu sisi medial dan dorsal. Sisi medial berawal dari

arcus venous dorsal lalu ke V.marginal medialis menuju V.saphena magna sampai di
V.femoralis. Sisi dorsal berawal dari arcus venous dorsal ke V.marginal lateralis
menuju V.saphena parva lalu ke V.perforans poplitea sampai di V.femoralis menyatu
dengan sisi medial. Setelah itu diteruskan ke V.iliaca externa lalu ke V.iliaca
communis lalu ke V.cava inferior dan terakhir masuk ke atrium dextra.
Resistensi perifer total
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi resistensi perifer total, diantaranya
jari-jari arteriol dan viskositas darah. Dimana jika jumlah sel darah merah dan konsentrasi
plasma meningkat maka viskositas darah akan meningkat dan sebaliknya. Sedangkan jari- jari
arteriol dipengaruhi oleh kontrol lokal atau kontrol intrinsik, yaitu perubahan lokal yang
bekerja pada arteriol otot polos disekitarnya dan kontrol ekstrinsik, yaitu faktor yang penting
untuk mengatur tekanan
Pemakain terapetik, pengeluaran histamin dan perubahan metabolik lokal juga mempengaruhi
kontrol intrinsik tersebut.
Kontrol ekstrinsik juga dipengaruhi oleh aktivitas simpatis yang menimbulkan efek
vasokonstriksi umum dan beberapa hormon, diantaranya hormon vasopressin, hormon
angiotengsin II, hormon epinefrin, dan hormon norepinefrin.
Namun diantara semua faktor diatas, aktivitas simpatis dan perubahan metabolik lokal yang
merupakan faktor utama.
Faktor- faktor yang dapat mempegaruhi alir balik vena:
1. Pengaruh katup vena
Berfungsi agar darah tidak mengalir ke jaringan tetapi mengalir ke jantung
2. Penghisapan oleh jantung

Ketika ventrikal kontraksi, katup AV tertarik kebawah, maka atrium membesar


sehingga tekanan dibawah 0 mmHg, lalu darah mengalir dari vena menuju jantung.
3. Vasokonstriksi vena akibat peningkatan tonus simpatis
Ketika terjadi Vasokonstriksi, kapasitas vena menurun sehingga meningkatkan aliran
darah ke jantung.
4. Aktifitas otot rangka

Saat otot kontraksi, vena tertekan sehingga kapasitas vena menurun maka aliran darah
ke jantung meningkat.
5. Hisapan akibat pernapasan
Karena aktivitas respirasi, tekanan dalam rongga dada menjadi rata-rata 5 mmHg
dibawah tekanan atmosfer, sedangkan vena di tungkai dan abdomen adalah tekanan
atmosfer normal. Perbedaan itulah yang vena abdomen mengalir ke vena dada
Shock
Shock sirkulasi terbagi menjadi beberapa kategori, diantaranya:
1. Shock hipovolemik : shock yang diinduksi oleh penurunan volume darah karena

pendarahan hebat yang menyebabkan hilangnya banyak cairan yang berasal dari
plasma.
2. Shock kardiogenik : terjadi akibat kegagalan jantung yang melemah sehingga tidak

mampu memompa darah.


3. Shock vasogenik : shock yang terjadi akibat vasodilatasi yang luas karena adanya zat-

zat vasodilator.
4. Shock neurogenik : disebabkan karena tonus vaskular simpatis berkurang.
5. Shock obstruktif : terjdi karena ketidakmampuan ventrikel pada saat diastole.

Shock tipe pertama dan kedua menyebabkan cardiac output menurun, sedangkan tipe ketiga
dan keempat menyebabkan menurunnya resistensi perifer.
Hipertensi merupakan masalah kesehatan masyarakat yang sangat serius, tetapi
sebagian besar penyebabnya tidak dapat diketahui. Hipertensi terjadi bila tekanan darah di
atas 140/90 mmHg. Penyakit hipertensi berdasarkan penyebabnya dibagi atas 2 macam:
1. Hipertensi primer ( essensial )
Hipertensi primer/essensial ini bersifat herediter/turunan yang dapat diperparah oleh
factor-faktor kontribusi seperti kegemukan, stress, merokok, dan mengkonsumsi
garam berlebihan. Hipertensi ini dapat diobati tetapi tidak dapat disembukan.
2. Hipertensi sekunder
Penyebab pada hipertensi sekunder dibagi atas 4 macam :
a. Hipertensi kardiovaskular

Berkaitan dengan peningkatan kronik resistensi perifer total yang disebabkan


oleh aterosklerosis.
b. Hipertensi renal
Dapat terjadi akibat 2 defek ginjal yaitu oklusi parsial arteri renalis atau
penyakit jaringan ginjal itu sendiri.
c. Hipertensi endokrin
Terjadi akibat sedikitnya 2 gangguan hormon endokrin yaitu
-

feokromositoma adalah suatu tumor medulla adrenalis yang


mengeluarkan

epinefrin

dan

norepinefrin

dalam

jumlah

berlebihan.
-

Sindrom Conn berkaitan dengan peningkatan pembentukan


aldosteron oleh korteks adrenal.

d. Hipertensi neurogenik
Terjadi akibat lesi saraf, kesalahan kontrol tekanan darah akibat defek di pusat
kardiovaskular atau di baroreseptor.
Pembagian hipertensi menurut WHO (1999)
Kategori
Optimal
Normal
Normal tinggi

Hipertensi
Hipertensi stage 1
Hipertensi stage 2
Hipertensi stage 3
Hipertensi sistolik isolasi

Systole

Diastole

< 120 mmHg


<130 mmHg
130 139 mmHg

< 80 mmHg
< 85 mmHg
85 89 mmHg

Systole

Diastole

140 149 mmHg


160 169 mmHg
180 mmHg
140 mmHg

90 99 mmHg
100 109 mmHg
110 mmHg
< 90 mmHg

Jika tekanan darah turun kurang dari 100/90 mmHg dan turun secara drastis sehingga
aliran darah ke jaringan tidak dapat dipertahankan maka akan timbul keadaan yang disebut
sebagai syok sirkulasi. Syok sirkulasi dikategorikan menjadi 4 golongan :
1. Syok hipovolemik
Diinduksi oleh penurunan volume darah.
Langsung : karena pendarahan hebat
Tidak langsung : karena hilangnya cairan yang berasal dari plasma.
2. Syok kardiogenik
Disebabkan oleh kegagalan jantung yang melemah untuk memompa darah secara
kuat.
3. Syok vasogenik
Disebabkan oleh vasodilatasi luas oleh adanya zat-zat vasodilator.
a. Syok septic, yang dapat menyertai infeksi luas dan ditimbulkan oleh zat-zat
vasodilator yang dikeluarkan oleh penyebab infeksi.
b. Syok anafilaktik, pengeluaran histamin yang berlebihan pada reaksi alergi
hebat dapat menyebabkan vasodilatasi luas.
4. Syok neurogenik
Disebabkan oleh hilangnya tonus vaskuler sehingga menyebabkan vasodilatasi umum
yang serupa dengan hipotensi emosional tetapi lebih berat dan lama.
Tekanan arteri rata-rata secara konstan dipantau oleh baroreseptor di dalam system
sirkulasi. Apabila reseptor mendeteksi adanya penyimpangan dari normal, akan dimulai
serangkaian respons refleks untuk memulihkan tekanan arteri ke nilai normalnya.
Refleks Baroreseptor terhadap peningkatan tekanan darah
Apabila tekanan darah meningkat diatas normal akan menyebabkan potensial reseptor
sinus karotiks meningkat lalu kecepatan pembentukan potensial aksi di saraf aferen juga
meningkat oleh karena itu pusat kardiovaskuler meningkatkan aktivitas saraf parasimpatis
sehingga kecepatan denyut jantung dan volume sekuncup menurun lalu curah jantung dan
resistensi perifer total menurun sehingga menyebabkan tekanan darah menurun menuju
normal kembali.

Refleks Baroreseptor terhadap penurunan tekanan darah


Apabila tekanan darah menurun diatas normal akan menyebabkan potensial reseptor
sinus karotiks menurun lalu kecepatan pembentukan potensial aksi di saraf aferen juga
menurun oleh karena itu pusat kardiovaskuler meningkatkan aktivitas saraf simpatis dan
aktivitas saraf vasokonstriktor sehingga kecepatan denyut jantung dan volume sekuncup
meningkat lalu curah jantung dan resistensi perifer total meningkat sehingga menyebabkan
tekanan darah meningkat menuju normal kembali.

IV. KESIMPULAN
Arteri berfungsi untuk membawa zat-zat dari jantung ke seluruh tubuh sedangkan vena
berfungsi membawa zat-zat dari jaringan kembali ke jantung. Vena punksi merupakan vena
yang biasa digunakan untuk menusukkan kateter untuk menemukan sumbatan pada vena.
Sumbatan pada vena tersebut dapat mempengaruhi tekanan darah. Tekanan darah pada tubuh
dipengaruhi oleh sistem saraf otonom yaitu saraf simpatis dan saraf parasimpatis.
Baroreceptor berperan sebagai autoregulasi.

V. DAFTAR PUSTAKA
1. Putz R , Pabst R. Handatlas der Anatomie des Menschen, 22 auflage. Elsevier.
Munchen. : 2006. p
2. Sherwood L. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Edisi 2. EGC. 1996. p 314-34.
3. _______.Hipertensi. Access on 24 Januari 2009. Available:
http://www.litbang.depkes.go.id/Publikasi_BPPK/Maskes_BPPK/Triwulan1/
Hipertensi.html.
4. Spalteholz W. Spanner R. Handatlas der Anatomie des Menschen, 16 auflage.
Scheltema und Holkema N. V. Stutgart: 1959-60. p 878-905. p 906-37.

5.

_______. Hipertensi. Access on 24 Januari 2009. Available:


http://medicastore.com/index.php?mod=seminar&id=73.