Anda di halaman 1dari 44

LAPORAN

TUTORIAL
DEMAM TIFOID

Nadia Resha Rahestha


2009730100
Yasdika Imam Taufik 2010730113
Rahmi Nurfitriani 2010730154
Luthfita Rahmawati
2010730062
Rahmi Dwi Winarsih 2010730087
Richky Nurhakim 2010730091
St. Ulfa Fauzia
2010730162
Vicca Selsiana
2010730109
Sri Asmawati
2010730101

PENDAHULUAN

Kebutuhan masyarakat akan pelayanan


kedokteran yang bermutu dan manusiawi
sudah tidak dapat di tunda lagi. Hal ini
mengingat bahwa pelayanan kedokteran
meskipun berkembang pesat, tetapi semakin
terkotak-kotak dengan munculnya berbagai
spesialisasi dan subspesialisasi.

HASIL PENGAMATAN TERHADAP


KELUARGA

Jenis Pengamatan
: Kunjungan
Cara Pengamatan: Wawancara dan
laporan
Waktu Pelaksanaan : Kamis, 7
Januari 2016
Lokasi : Kampung Buaran RT
03/01 Kelurahan Paku Jaya

IDENTITAS PENDERITA
Nama
: Tn. F
Usia
: 22 tahun
Kedudukan dalam keluarga : anak
Jenis Kelamin
: Laki-laki
Pendidikan terakhir
: SMA
Pekerjaan
: Mahasiswa
Status Perkawinan
: Belum Menikah

ANAMNESIS
Keluhan Utama : demam sejak 1
minggu sebelum masuk puskesmas

Riwayat Penyakit Sekarang :


demam sejak 1 minggu sebelum masuk puskesmas,
Demam timbul secara perlahan-lahan, dirasakan tinggi
pada sore dan malam hari.
Menurut pasien, demam
sempat turun bila minum obat penurunan panas, tetapi
kurang lebih 4 jam kemudian demam timbul lagi. Pasien
mengeluh adanya keluhan sakit kepala terutama dibagian
depan (kening). Pasien mengaku ada keluhan mual dan
muntah sebanyak 2 kali sehari berisi makanan dan
minuman yang dimakannya, yang lama kelamaan berupa
cairan warna kuning. Pasien juga mengaku nafsu makan
menjadi menurun, badan terasa lemas dan pegal-pegal.
Sudah 3 hari ini, pasien belum BAB. BAK tidak ada keluhan.
Pasien mengeluh ulu hati terasa perih dan seluruh perut
terasa nyeri, serta perut terasa kembung. Menurut pasien,
kurang lebih seminggu sebelum timbul gejala, pasien
makan dipinggir jalan, tidak jauh dari rumahnya.

Riwayat Penyakit Terdahulu : belum


pernah mengalami penyakit seperti ini.

Riwayat Penyakit Keluarga :


Sebelumnya dikeluarga tidak ada yang
menderita sakit yang sama.

PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan umum: tampak sakit


sedang
Kesadaran : compos mentis
Tanda-tanda vital :
TD
: 110/70 mmHg
Nadi
: 88 x/menit, regular, kuat
angkat, isi cukup
Pernapasan : 22 x/menit
Suhu
: 380C

STATUS GENERALIS
Kepala
:
normocepal,
rambut
warna
hitam,
distribusi merata, tidak mudah rontok.
Mata : konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-,
refl ek cahaya (+/+), pupil isokor.
Hidung : septum deviasi (-), sekret -/-, epistaksis
-/-.
Telinga : bentuk normotia, serumen -/-, otorhea -/-.
Mulut : mukosa bibir lembab (+), lidah kotor (+),
tremor (-), stomatitis (-), sianosis (-), perdarahan
gusi (-).
Leher : pembesaran KGB (-), pembesaran tiroid (-)

Paru
I
:
normochest,
pergerakan
dinding
dada simetris, retraksi
sela iga (-).
P
:
vokal
fremitus
kanan dan kiri sama
(+), nyeri tekan (-).
P : sonor pada kedua
lapang paru.
A : vesikuler +/+,
ronki -/-, wheezing -/-.

Jantung
I : ictus cordis terlihat di
ICS V linea midclavicula
sinistra.
P : ictus cordis teraba di
ICS V linea midclavicula
sinistra.
P : batas atas di ICS II linea
parasternalis dextra, batas
kanan
di
ICS
IV
linea
sternalis dextra, batas kiri
di ICS V linea midclavicula
sinistra.
A : BJ I dan II murni reguler,
gallop (-), murmur (-).

Abdomen
I : datar.
A : bising usus (+) normal.
P : nyeri tekan epigastrium (+), hepar teraba 1 jari
dibawah arcus costae, limfa tidak teraba, P : timpani
pada 4 kuadran abdomen.
Ekstremitas
Atas : Akral hangat, RCT < 2 detik, edema -/-,
tourniquet test (-).
Bawah : Akral hangat, RCT < 2 detik, edema -/-.

PEMERIKSAAN PENUNJANG (051-2016)


Pemeriksan

Hasil

Satuan

Hemoglobin

15,0

g/dL

Leukosit

9.900

/L

Hematokrit

43

Trombosit

313.000

/L

Widal
S. Typhosa H

1/80

S. Typhosa O

1/160

S. Paratyphosa BH

1/80

S. Paratyphosa AO

1/160

PROFIL KELUARGA DAN


STRUKTUR
Jumlah

Anggota

Keluarga inti
Nama

orang

Ayah : Daryono

58

kepala keluarga

Ibu

: Sutarmi

Anak :

50 tahun
26 tahun

- Wahyudin
- Opih
- Fazri
- Alifah
- Sufi Nur

24 tahun
22 tahun
15 tahun
11 tahun

tahun,

Pekerjaan

Ayah

Bangunan

Ibu

Ibu

rumah

tangga
Anak

Mahasiswa/
pelajar/

Kewarganegar

WNI

pekerja

aan
Sudah

24 tahun

berkeluarga
selama
berapa tahun
Tempat

Kamp.Buaran RT

tinggal

003/001

Kel.

Paku

Kec.

Jaya

Agama

Islam

Pendidikan

Ayah

SMA

terakhir

Ibu

SMA

Struktur Keluarga
Bentuk keluarga : Keluarga tradisional
(keluarga inti)
Siklus kehidupan keluarga : The
launching family

FUNGSI
Fungsi Biologis
Pola asuh yang diterima ayah : otoriter
Pola asuh yang diterima ibu :
demokratis
Pola asuh yang diterapkan pada anak :
otoriter-demokratis

Fungsi Psikologis
Tercipta rasa aman sesama anggota keluarga untuk saling
melindungi

Fungsi Sosial
Orang tua merawat dengan penuh kasih sayang dalam
tumbuh kembang anak
Orang tua sebagai fi gur dalam hal baik bagi anak
Orang tua sebagai aktor dalam mensosialisasikan berbagai
perilaku
Orang tua mensosialisasikan berbagai aturan ketika
berhubungan dengan orang lain
Orang tua membiasakan anak untuk bertanggung jawab

Fungsi Ekonomi
Menengah ke bawah, kebutuhan seluruh
anggota keluarga terpenuhi
Fungsi Adaptasi
Belum ada perubahan bentuk keluarga
Tidak ada disfungsi anggota keluarga
Lingkungan hidup keluarga dengan tetangga
sangat baik
Perilaku kesehatan keluarga baik (tidak
ditemukan rokok, botol minum)

DIAGNOSIS KELUARGA
INPUT

Keluarga

PROSES

Perhatian

inti dengan

orang tua ke

5 anak

anak

OUTPUT

Gizi

kurang

optimal

bisa Sering

Anak ke 3

menjadi

tercemar

menderita

kurang

bakteri

demam
tifoid

Kebiasaan
makan yang
kurang sehat

Salmonella
typi

OUTCOME

Aktivitas anak
terganggu
(sekolah dll)

Pengaruh

penyakit

pada Pengaruh

keluarga

pada

keluarga
penyakit
Bila ada anggota keluarga Keluarga sebagai unit terkecil
Ketidaknyamanan dalam Keluarga
adalah
pusat
yang menderita demam dalam masyarakat sehingga
lingkungan keluarga
pengambilan
keputusan
tifoid
maka
terjadi penyakit
dalam
keluarga
kesehatan yang penting
masalah kesehatan dalam merupakan
masalah
yang
dapat
membantu
keluarga
dikarenakan masyarakat keseluruhan
proses
penyembuhan
demam tifoid
penyakit
Mempengaruhi
Keluarga merupakan wadah
produktivitas keluarga

atau saluran yang efektif untuk


menyampaikan
kesehatan

pesan-pesan

GENOGRAM KELUARGA
Tary
o

Doni

Wahyud
in

surti

Daryon
o

Sutarmi

Leni

Opih

mimi

Deni

Fazri

Alifah

Suryani

Sufi Nur

ASPEK PERILAKU HIDUP SEHAT DAN


BERSIH (PHBS)
Indikator PHBS

Ya

Tidak

1. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan

2. Memberikan ASI Eksklusif

3. Menimbang balita setiap bulan

4. Memberikan imunisasi balita sesuai jadwal

5. Menggunakan air bersih

6. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun

7. Menggunakan jamban sehat

8. Memberantas jentik di rumah 1x tiap minggu

9. Makan buah dan sayur setiap hari

10.Melakukan aktivitas fisik setiap hari

PENATALAKSANAAN
Gejala Klinis

Demam tinggi muncul tiap sore sampai


malam, seminggu pertama muncul diare,
konstipasi, nyeri ulu hati, mual, muntah,
nafsu makan menurun, mialgia, malaise,

Diagnosis

radang tenggorokan.
Demam Tifoid

Terapi

1. Diet rendah serat


2. Tirah baring
3. Olahraga yang teratur
4. Terapi:

amoksilin,

omeprazol

paracetamol,

ranitidin,

Yang

1. Tindakan

yang

dilakukan

meliputi

Dilakukan

tindakan terhadap pasien, keluarga

Dokter

dan lingkungan

Keluarga

2. Lakukan edukasi terhadap keluarga


mengenai demam tifoid (penyebab,
gejala, terapi) serta pencegahannya
3. Penyuluhan mengenai demam tifoid
pada para warga

Rujukan

Pencatatan
Pelaporan

dan Isi :
a. Genogram
b. Family Folder
Rekam Medis :
c. Identitas pasien
d. Pemeriksaan fisik
e. Diagnosis / masalah
f. Tindakan / pengobatan
g. Pelayanan lain yang telah diterima pasien

Tindakan

Lakukan penyuluhan kepada masyarakat dan komunitas

Promotif

kesehatan tentang diagnosis dini dan cara pengobatan


pasien demam tifoid serta cara pencegahannya

Tindakan

1. Makanan dan minuman yang bersih dan sehat.

Preventif

2. Berikan cairan cukup


3. Rutin berolahraga

DEFINISI

Demam tifoid adalah suatu


penyakit infeksi sistemik bersifat
akut yang disebabkan oleh
Salmonella Tyyphi
ETIOLOGI

Demam tifoid disebabkan oleh


Salmonella Tyyphi yang
mempunyai flagela, tidak
berkapsul, tidak membentuk spora,
fakultatif anaerob.
Guideline for The Management of typhoid fever, WHO 2011

EPIDEMIOLOGI

Merah = Daerah Endemik


Coklat = Daerah dengan kasus yang sering
Abu-abu
= Daerah dengan kasus jarang
Parry CM. Typhoid fever. N Engl J Med 2002;347(22):1770-82.

PATOFISIOLOGI
Makanan
terkontaminas
i Salmonella

Lume
n usus

duktus
torasikus
Kuman Masuk
kedalam sirkulasi
darah
Bakterimia I
asimptomati
k

Sebagian masuk
kembali ke sirkulasi
darah
Bakterimia II
simptomatik

Respon imun humoral


(IgA) mukosa usus
kurang baik

Kuman
menembus sel-sel
epitel usus

Magrofag
Berkembangbiak
melakukan
di lamina propria
fagositosis
Kuman dibawa
Kuman dapat
Kelenjar
ke Plaque
hidup dalam
mesenterik
peyeri
makrofag
a
Menyebar ke organ
berkembangbi
retikuloendotelial : Hepar dan
ak di luar sel
lien
atau ruang
sinusoid
disekresikan ke
kandung empedu
dalam lumen
usus
Feses

Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid III. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit
Dalam FK UI .Jakarta : 2006

Bakterimia
II
simptomatik

Reaksi
hipersensitivitas tipe
lambat

Nekrosis
Reaksi
Hyperplasia
Jaringan
Proses patologis
jaringan limfoid
berjalan terus
menurus
Menembus lapisan
otot, mukosa &
serosa usus

Makrofag telah
teraktifasi
hiperaktif

erosi pembuluh darah


sekitar Plak Peyeri
Perdaraha
n saluran
cerna

fagositosis
Salmonella kembali
Sejumlah mediator
radang dilepaskan
(sitokin)

GEJALA reaksi
inflamasi
Demam
Malaise
Mialgia
Sakit kepala
Sakit perut
Instabilitas
vaskuler
Koagulasi

Perforasi
Usus

Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid III. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit
Dalam FK UI .Jakarta : 2006

CLINICAL FEATURES

Acute noncomplicated
disease

Prolonged fever, disturbances of bowel function (constipation


in adults, diarrhoea in children), headache, malaise and
anorexia. Bronchitic cough is common in the early stage of the
illness. During the period of fever, up to 25% of patients show
exanthem (rose spots), on the chest, abdomen and back.

Complicated
disease

Acute typhoid fever may be severe, melena. Intestinal


Perforation, Abdominal discomfort develops and increases, A
rising white blood cell count with a left shift and free air on
abdominal radiographs are usually seen. Altered mental
status in typhoid patients, Other serious complications
documented with typhoid fever include haemorrhages
(causing rapid death in some patients), hepatitis, myocarditis,
pneumonia,
disseminated
intravascular
coagulation,
thrombocytopenia and haemolytic uraemic syndrome

Chronic
Carrier

1-5% of patients, depending on age, become chronic carriers


harbouring S.typhi in the gallbladder.

Guideline for The Management of typhoid fever, WHO 2011

MANIFESTASI KLINIS
Gejala klinis
- Demam tinggi > 7 hari,
peningkatan panas
bertahap dan perlahan,
terutama sore hingga
malam hari
- nyeri kepala
- Pusing
- nyeri otot
- anoreksia
- mual
- Muntah
- konstipasi
- diare
- batuk

Tanda klinis

- Tremor
- Coated tongue
- Hepatosplenomegali
- Penurunan kesadaran

Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid III. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit
Dalam FK UI .Jakarta : 2006

LANGKAH DIAGNOSTIK

Anamnesis
Anamnesis

- Demam (meningkat
- Demam (meningkat
pada malam hari)
pada
malam hari)
- Gangguan
- Gangguan
gastrointestinal
gastrointestinal
- Mual
dan muntah
- Mual
danotot
muntah
- Nyeri
-- Nyeri otot
Pusing
Pusing
- Kebiasaan
hidup
- Kebiasaan hidup
(pola makan)
(pola makan)
- lingkungan
hidup
- lingkungan hidup

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Fisik

- Keadaan Umum
- - Keadaan Umum
Kesadaran
Kesadaran
- Tanda
Vital
Tanda
Vital
- Coated tongue
-- Coated tongue
Nyeri tekan
Nyeri tekan
- Hapatosplenomegali
- Hapatosplenomegali
- Kembung
- Kembung

Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid III. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit
Dalam FK UI .Jakarta : 2006

PEMERIKSAAN PENUNJANG

The definitive diagnosis of typhoid fever depends on the isolation


of S. typhi organisms from the blood or bone marrow or stool.

The classical Widal test measuring agglutinating antibody titres


against S. typhi in serum has only moderate sensitivity and
specificity. It can be negative in up to 30% of culture-proven
cases of typhoid fever and can be falsely positive in many
circumstances.

Guideline for The Management of typhoid fever, WHO 2011

Diagnostik Laboratorium
Hubungannya dengan perjalanan
penyakit
demam
darah

tinja
urin

antibodi

1
S.typhi masuk

minggu

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Blood

Specimen

Stool sample

Guideline for The Management of typhoid fever, WHO 2011

Serum

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Uji TUBEX

Uji Widal

Pemeriksaan
penunjang

Pemeriksaan
Darah rutin

Kultur Feses

Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid III. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit
Dalam FK UI .Jakarta : 2006

DIFFERENTIAL DIAGNOSIS

<7 hari
DHF
Faringitis
Rinofaringitis
Bronchiolitis
Pneumonia
Otitis Media Akut
Campak
Varicella
Enchepalitis
ISK
Sinusitis e.c Viral
SLE

Buku Infeksi Tropis

>7 hari

Tifoid
Malaria
Tb paru
Meningitis
Endokarditis Infektif
Demam Rematik Akut
Abses Dalam

Diagnosis
Penyakit
Demam Tifoid

Anamnesis

Pemfis

Demam (soremalam)
Batuk
Konstipasi/diare
Malaise, mialgia
Anoreksia
Higiene buruk

Pem. penunjang

Bradikardi
relative
Coated tongue
Nyeri tekan
Hepatosplenome
gali
Kembung

Kultur darah,
sumsum tulang
Uji widal
Uji tubex
Feses

TB Paru

Demam samar2

malam hari
berminggu2

Batuk kering

Malaise
Anoreksia, sakit
dada, sesak, riwayat
kontak dg TB

Rhonki pada
apeks paru
Kelemahan
Berat badan
kurang/ kurus

Tes BTA
Foto dada
Darah rutin
Tes tuberkulin

Malaria

Menggigil, panas,
keringat, apireksia
Malaise, anoreksia,
sefalgia, myalgia,
nyeri tulang,
riwayat bepergian

Splenomegali
Tanda-tanda
anemia
Demam periodic
khas

Apusan sel darah


tepi
Serologis
PCR
Elisa

Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid III. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit
Dalam FK UI .Jakarta : 2006

TATALAKSANA

More than 90% of patients can be managed at home with oral


antimicrobial, minimal nursing care, and close medical follow-up
for complications or failure to respond to therapy.

There is need to use culture and sensitivity tests to guide the


choice of antibiotics. The available evidence suggests that the
fluoroquinolones (Ciprofloxacin) are the optimal choice for the
treatment of typhoid fever. However, in areas where the
bacterium is still fully sensitive to traditional first-line drugs
(Chloramphenicol, Ampicillin, Amoxicillin or Trimethoprim
Sulfamethoxazole)

Guideline for The Management of typhoid fever, WHO 2011

Komplikasi

Intestinal
- Perdarahan intestinal
- Perforasi Usus

Ekstra
intestinal

- Komplikasi
Hematologi
( trombositopenia)
- Hepatitis Tifosa
- Pankreatitis Tifosa
- Miookarditis
- Tifoid Toksik
(delirium, sindrom
otak akut)

Pencegaha
Pencegaha
n
n
- Preventif dan kontrol penularan
1. Identifikasi dan eradikasi S.
Typhi pada pasien tifoid
asimtomatik, karier dan akut.
2. Pencegahan transmisi
langsung dari penderita
terinfeksi S. Typhi akut
maupun karier.
3. Proteksi pada orang yang
beresiko tinggi tertular dan
terinfeksi
4. Vaksinasi

Prognosis

Prognosis demam tifoid tergantung dari umur,


keadaan umum, derajat kekebalan tubuh, jumlah
Salmonella serta cepat dan tepatnya pengobatan

KESIMPULAN
salah satu anggota keluarga tersebut terkena
penyakit demam tifoid karena kurang menjaga
kebersihan dalam segi makan, lingkungan dan
daya tahan tubuh yang kurang baik. Tetapi dari
aspek
lainnya
seperti
fungsi
keluarga,
perkembangan kehidupan, sosial ekonomi, dan
pendidikan keluarga ini sudah termasuk dalam
kategori baik.
Saran
Pasien dengan penyakit demam tifoid harus lebih
memperhatikan faktor kebersihan makanan ,dan
lingkungan.

TERIMA KASIH