Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Telinga tengah adalah daerah yang dibatasi dengan dunia luar oleh
gendang telinga. Daerah ini menghubungkan suara dengan alat pendengaran di
telinga dalam. Selain itu di daerah ini terdapat saluran Eustachius yang
menghubungkan telinga tengah dengan rongga hidung belakang dan tenggorokan
bagian atas.
Penyebab otitis media akut (OMA) dapat merupakan virus maupun
bakteri. Pada 25% pasien, tidak ditemukan mikroorganisme penyebabnya. Virus
ditemukan pada 25% kasus dan kadang menginfeksi telinga tengah bersama
bakteri.

Bakteri

penyebab

otitis

media

tersering

adalah

Streptococcus

pneumoniae, diikuti oleh Haemophilus influenzae dan Moraxella cattarhalis.


Yang perlu diingat pada OMA, walaupun sebagian besar kasus disebabkan oleh
bakteri, hanya sedikit kasus yang membutuhkan antibiotik.
Anak lebih mudah terserang otitis media dibanding orang dewasa karena
kekebalan tubuh yang masih dalam perkembangan, dan posisi saluran eustachius
pada anak lebih lurus secara horizontal dan lebih pendek sehingga ISPA lebih
mudah menyebar ke telinga tengah. Namun orang dewasa juga dapat teerkena
infeksi ini Faktor pertahanan tubuh seperti silia dari mukosa tuba eustachius,
enzim, dan antibodi sangat berperan dalam patomekanisme penyakit ini. Faktor
ini akan mencegah masuknya mikroba ke dalam telinga tengah. Tersumbatnya
tuba eustachius merupakan pencetus utama terjadinya otitis media supuratif akut
(OMA).

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Setelah mempelajari definisi, etiologi, gejala klinis dan penatalaksanaan pada
penyakit Otitis media akut, diharapkan laporan kasus ini dapat menambah
pengetahuan dokter muda secara teoritis sehingga mudah dalam menangani kasus
tersebut. Selain itu berguna pula untuk teman sejawat yang membaca tinjauan
pustaka ini sebagai acuan kita untuk mendiagnosis secara pasti.

2. Tujuan Khusus
Dengan mempelajari laporan kasus ini, diharapkan dokter muda dapat:
1.
2.
3.
4.

Mengetahui definisi pada otitis media akut


Mengetahui etiologi pada otitis media akut
Mengetahui gejala klinis pada otitis media akut
Mengetahui penatalaksanaan otitis media akut

C. Ruang Lingkup
Dalam penulisan ini penulis membatasi ruang lingkup pembahasan yakni hanya
membahas teori tentang anatomi dan fisiologi telinga serta teori tentang penyakit
otitis media akut.
D. Teori
Teori teori yang terdapat di dalam penulisan ini adalah diambil dari buku
kedokteran, bahan kuliah dan hasil pencarian dari internet.

E. Sumber
Data data yang didapat dalam penulisan ini adalah didapatkan dari kuliah Ilmu
penyakit THT, buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala leher
FKUI, buku anatomi dan jurnal dari internet.
BAB II
STATUS PASIEN
2

A. Identitas Pasien
Nama

: An. H S

Umur

: 10 tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Alamat

: Cianjur

Tanggal Pemeriksaan

: 17 Oktober 2015

B. Anamnesis - Alloanamnesis
Keluhan Utama

Sakit pada telinga kiri dan kanan sejak 2 minggu SMRS.


Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke poli THT RSUD cianjur dengan keluhan sakit pada telinga
kiri dan kanan sejak 2 minggu SMRS..
Keluhan tidak disertai nyeri dan pendengaran berkurang. Awalnya ayah
pasien mengaku sering membersihkan telinga dengan jari tangan 3-4x
/minggu. Rasa berdenging pada telinga disangkal. Keluhan rasa penuh pada
kedua telinga juga disangkal.
Batuk dan pilek disangkal. Keluhan nyeri kepala dan sakit tenggorokan juga
disangkal. Keluhan demam disangkal.

Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien dahulu pernah mengalami keluhan yang sama

Riwayat penyakit hidung dan tenggorokan sebelumnya disangkal

Diabetes mellitus (-) asma (-)

Riwayat Penyakit Keluarga

Keluarga pasien tidak ada yang mengalami gejala seperti pasien

Hipertensi (-), Diabetes mellitus (-), asma (-), alergi (-)

Riwayat Alergi : Alergi udara dingin, makanan dan obat disangkal


Riwayat Pengobatan : Pasien belum pernah berobat sebelumnya
Riwayat Psikososial
-

Sering mengorek ngorek telinga dengan jari tangan

C. Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum
Kesadaran
Tanda Vital

BB

: Baik
: Compos mentis
: TD
: 110/70 mmHg
Pernapasan : 22x/menit
Nadi

: 86 x/menit

Suhu

: 36,3C

: 51 kg

1. Status Generalis
Kepala

: Normochepal, rambut kehitaman, distribusi merata

Mata

: Sklera ikterik -/-, konjungtiva anemis -/-, refleks


pupil (+/+)

Telinga

: (Status lokalis THT)

Hidung

: (Status lokalis THT)

Mulut

: Bibir lembab (+), sianosis (-), stomatitis (-)

Tenggorokan

: (Status lokalis THT)

Thorax

: Bentuk dan gerak simetris

Paru-paru
Inspeksi

: Pergerakan dada simetris, retraksi sela iga (-/-)

Palpasi

: Kedua hemithorax teramgkat simetris

Perkusi

: Sonor pada seluruh lapang paru

Auskultasi

: Suara napas vesikuler +/+, rhonchi -/-,wheezing -/-

Jantung
Inspeksi

: Ictus cordis tidak terlihat

Palpasi

: Batas jantung atas dan bawah dalam batas normal,

Perkusi

:Batas kanan jantung di parasternal dextra, batas kiri


jantung di midclavicula sinistra

Auskultasi

: BJ I & II reguler , murmur (-) , gallop (-)

Abdomen
Inspeksi

: Tampak datar

Auskultasi

: Bising usus normal

Palpasi

: Supel, Nyeri tekan (-), hepatomegali (-),


splenomegali (-)

Perkusi

: Timpani 4 kuadran

Ekstremitas

2.

Atas

: Hangat (+/+), edema (-/-), RCT < 2 dtk ,sianosis (-/-)

Bawah

: Hangat (+/+), edema (-/-), RCT < 2 dtk ,sianosis (-/-)

Status Lokalis

THT

a. Telinga
Aurikula Dextra
Normotia, Heliks sign (-)

Aurikula

Aurikula Sinistra
Normotia, Heliks sign(-)

Tragus sign (-)

Tragus sign (-)

Hematoma (-)
Pus (-)

Hematoma (-)
Pus (-)

Preaurikula

Nyeri tekan (-)

Nyeri tekan (-)

Fistula (-)

Fistula (-)

Edema (-)
Nyeri tekan (-), edema
(-), sikatriks(-)
Mukosa tenang

Retroaurikula

Edema (-)
Nyeri tekan (-), edema

MAE

(-), sikatriks(-)
Mukosa tenang

Serumen (-)

Serumen (-)

Sekret (-) mukopurulen

Sekret (-)

Massa (-) Hiperemis (-)

Massa (-) Hiperemis (-)

Hiperemis (+)

KAE

Hiperemis (+)

Sekret (-)

Sekret (-)

Massa (-)
Intak (+)

Massa (-)
Intak

Membran tympani

Reflex cahaya (-)

Reflex cahaya (-)

Hiperemis (+)

Hiperemis (+)

Edema (+)
+

Tes Rinne

Edema (+)
+

Tidak ada lateralisasi

Tes Weber

Tidak ada lateralisasi

Sama dengan pemeriksa

Tes Schwabach

Sama dengan pemeriksa

b. Hidung
Hidung kanan
Bentuk dbn

Hidung kiri
Hidung luar

Bentuk dbn

Inflamasi (-)

Inflamasi (-)

Deformitas (-)

Deformitas (-)

Nyeri tekan (-)

Nyeri tekan (-)


Rinoskopi anterior

Mukosa tenang (+)

Kavum nasi

Mukosa tenang (+)

Hiperemis (-)

Hieperemis (-)

Sekret (-)

Sekret (-)

Massa (-)

Massa (-)

Korpus alineum (-)

Korpus alineum (-)

Ulkus (-)

Vestibulum

Ulkus (-)

nasi
Edema (-)

Konka nasi

Edema (-)

Hipertrofi (-)

Hipertrofi (-)

Hieperemis (-)

Hiperemis (-)

Deviasi (-)

Septum nasi

Deviasi (-)

(+)

Passase udara

(+)

Sinus paranasal

Inspeksi : Pembengkakan pada pipi (-/-)

Palpasi

- Nyeri tekan pada pipi (-/-)


- Nyeri tekan medial atap orbita (-/-)
- Nyeri tekan kantus medius (-/-)

Transiluminasi
Sinus maksilaris: Terang / Terang (seperti bulan sabit pada fossa orbita)
Sinus frontalis : Terang / Terang (seperti sarang tawon pada os frontalis)

c. Tenggorok

Nasofaring

a) Rinoskopi posterior

Nasofaring (Rinoskopi Posterior)


Konka superior
Torus tubarius
Fossa Rossenmuller
Plika salfingofaringeal

Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan

b) Orofaring

Dekstra

Pemeriksaan Orofaring

Sinistra

Tenang

Mukosa mulut

Tenang

Bersih, normal

Lidah

Bersih, normal

Tenang

Palatum molle

Tenang

Tanggal (-) Lubang (-)

Gigi geligi

Tanggal (-) Lubang (-)

Simetris

Uvula

Simetris

Tenang

Mukosa

Tenang

Mulut

Tonsil

TI

TI

Melebar (-)

Kripta

Melebar (-)

Folikel (-) Membran (-)

Detritus

Folikel (-) Membran (-)

(-)

Perlengketan

(-)

Faring

Tenang

Mukosa

Tenang

(-)

Granula

(-)

(-)

Post nasal drip

(-)

Tes Pengecapan
Manis
Asin
Asam
Pahit

Normal
Normal
Normal
Normal

c) Laringofaring

Laringofaring (Laringoskopi Indirect)


Epiglotis
Plika ariepiglotika
Plika ventrikularis
Plika vokalis
Rima glotis

Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan

d. Maksilofasial
Dextra
Normosmia dengan bubuk

Nervus
I.

N. Olfaktorius

Sinistra
Normosmia dengan bubuk

kopi 18 cm, tembakau 17

kopi : 18 cm, tembakau 17

cm

cm

Visus Normal, Pupil bulat ,

II.

N. Optikus

isokor, refleks cahaya +


Membuka kelopak mata +,

Visus Normal, Pupil bulat ,


isokor, refleks cahaya +

III.

N. Olfaktorius

membuka kelopak mata +,

gerak bola mata superior +,

Gerak bola mata superior +,

media +, inferior +,

media +, inferior +,

laterosuperior +

laterosuperior +

Gerak bola mata medial

IV.

N. Troklearis

inferior +
Sensoris cabang oftalmikus

Gerak bola mata medial


inferior +

V.

N. Trigeminal

Sensoris cabang oftalmikus

(V1) : +

(V1) : +

cabang maksila (V2) : (+)

cabang maksila (V2) : (+);


cabang mandibula (V3) : +

cabang mandibula (V3) : (+)

Motoris : rahang simetris ,

Motoris : rahang simetris ,

refleks menggigit baik

refleks menggigit baik


Gerak bola mata lateral +

VI.

Wajah simetris , senyum

VII.

N. Abducens

Gerak bola mata lateral +

N. Fasialis

Wajah simetris , senyum

simetris , angkat alis +,

simetris , angkat alis +,

kerutan dahi +,

kerutan dahi +, menunjukkan

menunjukkan gigi +, daya

gigi +, daya kecap 2/3

kecap 2/3 anterior +

anterior +

Lihat tes garpu tala


Refleks muntah

VIII. N. Akustikus
IX.

N. Glossofaringeus

Daya kecap 1/3 posterior(+)


Refleks muntah dan

Lihat tes garpu tala


Refleks muntah
Daya kecap 1/3 posterior(+)

X.

N. Vagus

Refleks muntah dan

menelan (+)

menelan (+)

Deviasi uvula (-)

Deviasi uvula (-)

Pergerakan palatum simetris

Pergerakan palatum simetris

Memalingkan kepala (+)

XI.

N. Assesorius

Memalingkan kepala (+)


10

Mengangkat bahu (+)


Deviasi lidah (-)

Mengangkat bahu (+)


XII.

N. Hipoglossus

Tremor lidah (-)

Deviasi lidah (-)


Tremor lidah (-)

e. Leher
Dextra

Pemeriksaan

Sinistra

Pembesaran (-)

Thyroid

Pembesaran (-)

Pembesaran (-)

Kelenjar submental

Pembesaran (-)

Pembesaran (-)

Kelenjar submandibula

Pembesaran (-)

Pembesaran (-)

Kelenjar jugularis superior

Pembesaran (-)

Pembesaran (-)

Kelenjar jugularis media

Pembesaran (-)

Pembesaran (-)

Kelenjar jugularis inferior

Pembesaran (-)

Pembesaran (-)

Kelenjar suprasternal

Pembesaran (-)

Pembesaran (-)

Kelenjar supraklavikula

Pembesaran (-)

D. Resume
Pasien An. A A dengan sakit pada telinga kiri dan kanan 2 minggu SMRS.
Keluhan tidak disertai otalgia dan pendengaran berkurang pada kedua telinga.
Batuk dan pilek disangkal.. Pasien belum pernah berobat ke dokter sebelumnya.
Ayah pasien mengatakan pasien sering mengorek telinga dengan jari tangan.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan pada KAE aurikula dextra dan sinistra tampak
hiperemis (+). Membran timpani aurikula dextra dan sinistra intak, reflek cahaya
(-) dan hiperemis (+).

E. Diagnosis Banding
11

1. Otitis media akut stadium hiperemis aurikula dextra sinistra


2. Otitis eksterna AD
F. Diagnosis Kerja :
Otitis media akut stadium hiperemis aurikula dextra sinistra
G.

Penatalaksanaan
Medikamentosa
Sanmol 20ml 3 x sehari
Maxpro 100 mg 2 x sehari
Histrine 10 mg 1 x sehari
Forte 200 mg 2 x sehari
Proceles 60 ml 3 x sehari

Non-medikamentosa
a. Menghindari kegiatan berenang
b. Tidak mengorek-ngorek telinga dengan benda apapun maupun dengan
jari tangan
c. Nutrisi bergizi: (buah & sayuran)
H. Prognosis
ad vitam : dubia ad bonam
ad functionam : dubia ad bonam

12

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
A. ANATOMI TELINGA TENGAH1,11
Telinga tengah terdiri dari :
1.
2.
3.
4.

Membran timpani.
Kavum timpani.
Prosesus mastoideus.
Tuba eustachius

a.

Membran Timpani1
Membran timpani dibentuk dari dinding lateral kavum timpani dan

memisahkan liang telinga luar dari kavum timpani. Ketebalannya rata-rata


0,1 mm. Letak membrana timpani tidak tegak lurus terhadap liang telinga
akan tetapi miring yang arahnya dari belakang luar kemuka dalam dan
membuat sudut 45o dari dataran sagital dan horizontal. Dari umbo kemuka
bawah tampak refleks cahaya ( none of ligt).

13

Membran timpani mempunyai tiga lapisan yaitu :


1) Stratum kutaneum (lapisan epitel) berasal dari liang telinga.
2) Stratum mukosum (lapisan mukosa) berasal dari kavum timpani.
3) Stratum fibrosum (lamina propria) yang letaknya antara stratum
kutaneum dan mukosum.
Secara Anatomis membrana timpani dibagi dalam 2 bagian :
d. Pars tensa
e. Pars flasida atau membran Shrapnell, letaknya dibagian atas muka dan
lebih tipis dari pars tensa dan pars flasida dibatasi oleh 2 lipatan yaitu :
a). Plika maleolaris anterior ( lipatan muka)
b). Plika maleolaris posterior ( lipatan belakang)
b.

Kavum Timpani

Kavum timpani terletak didalam pars petrosa dari tulang temporal, bentuknya
bikonkaf. Diameter anteroposterior atau vertikal 15 mm, sedangkan diameter
transversal 2-6 mm. Kavum timpani mempunyai 6 dinding yaitu : bagian atap,
lantai, dinding lateral, dinding medial, dinding anterior, dinding posterior.
1) Atap kavum timpani
Dibentuk tegmen timpani, memisahkan telinga tengah dari fosa
kranial dan lobus temporalis dari otak. bagian ini juga dibentuk

14

oleh pars petrosa tulang temporal dan sebagian lagi oleh skuama
dan garis sutura petroskuama.
2).

Lantai kavum timpani


Dibentuk oleh tulang yang tipis memisahkan lantai kavum

timpani dari bulbus jugularis, atau tidak ada tulang sama sekali hingga
infeksi dari kavum timpani mudah merembet ke bulbus vena jugularis.
3).

Dinding medial.
Dinding medial ini memisahkan kavum timpani dari telinga

dalam, ini juga merupakan dinding lateral dari telinga dalam.


4).

Dinding posterior
Dinding posterior dekat ke atap, mempunyai satu saluran

disebut aditus, yang menghubungkan kavum timpani dengan antrum


mastoid melalui epitimpanum. Dibelakang dinding posterior kavum
timpani adalah fosa kranii posterior dan sinus sigmoid.
5).

Dinding anterior
Dinding anterior bawah adalah lebih besar dari bagian atas dan

terdiri dari lempeng tulang yang tipis menutupi arteri karotis pada saat
memasuki tulang tengkorak dan sebelum berbelok ke anterior5.
Dinding ini ditembus oleh saraf timpani karotis superior dan inferior
yang membawa serabut-serabut saraf simpatis kepleksus timpanikus
dan oleh satu atau lebih cabang timpani dari arteri karotis interna1.
Dinding anterior ini terutama berperan sebagai muara tuba eustachius.
Kavum timpani terdiri dari :
a) Tulang-tulang pendengaran ( maleus, inkus, stapes)
b) Dua otot
c) Saraf korda timpani

15

d) Saraf pleksus timpanikus


Tulang-tulang pendengaran terdiri dari :
a) Malleus (hammer / martil).
b) Inkus (anvil / landasan)
c) Stapes (stirrup / pelana)
Otot-otot pada kavum timpani terdiri dari: otot tensor timpani (muskulus
tensor timpani) dan otot stapedius (muskulus stapedius)11
(1) Saraf Korda Timpani
Merupakan cabang dari nervus fasialis masuk ke kavum timpani dari
analikulus posterior yang menghubungkan dinding lateral dan posterior.
Korda timpani juga mengandung jaringan sekresi parasimpatetik yang
berhubungan dengan kelenjar ludah sublingual dan submandibula melalui
ganglion ubmandibular. Korda timpani memberikan serabut perasa pada 2/3
depan lidah bagian anterior.
(2)

Pleksus Timpanikus
Berasal dari n. timpani cabang dari nervus glosofaringeus dan dengan

nervus karotikotimpani yang berasal dari pleksus simpatetik disekitar arteri


karotis interna.
(3). Saraf Fasial11
Meninggalkan fosa kranii posterior dan memasuki tulang temporal
melalui meatus akustikus internus bersamaan dengan N. VIII. Saraf fasial
terutama terdiri dari dua komponen yang berbeda, yaitu :

16

(a). Saraf motorik untuk otot-otot yang berasal dari lengkung brankial
kedua (faringeal) yaitu otot ekspresi wajah, stilohioid, posterior
belly m. digastrik dan m. stapedius
(b). Saraf intermedius yang terdiri dari saraf sensori dan sekretomotor
parasimpatetis preganglionik yang menuju ke semua glandula
wajah kecuali parotis
c.

Tuba Eustachius
Tuba eustachius disebut juga tuba auditory atau tuba faringotimpani.

Bentuknya seperti huruf S. Pada orang dewasa panjang tuba sekitar 36 mm


berjalan ke bawah, depan dan medial dari telinga tengah dan pada anak
dibawah 9 bulan adalah 17,5 mm.
Tuba terdiri dari 2 bagian yaitu:
1) Bagian tulang terdapat pada bagian belakang dan pendek (1/3 bagian)
2) Bagian tulang rawan terdapat pada bagian depan dan panjang (2/3
bagian)
Otot yang berhubungan dengan tuba eustachius yaitu:
1.
2.
3.
4.

M. tensor veli palatini


M. elevator veli palatini
M. tensor timpani
M. salpingofaringeus

Fungsi tuba eustachius sebagai ventilasi telinga.


d.

Prosesus Mastoideus
Rongga mastoid berbentuk seperti bersisi tiga dengan puncak

mengarah ke kaudal. Atap mastoid adalah fosa kranii media. Dinding


medial adalah dinding lateral fosa kranii posterior. Sinus sigmoid terletak
dibawah duramater pada daerah ini.
Pneumatisasi prosesus mastoideus ini dapat dibagi atas :

17

1) Prosesus Mastoideus Kompakta (sklerotik), dimana tidak ditemui selsel


2) Prosesus Mastoideus Spongiosa, dimana terdapat sel-sel kecil saja
3) Prosesus Mastoideus dengan pneumatisasi yang luas, dimana sel-sel
disini besar
B. FISIOLOGI PENDENGARAN1,4,
Getaran suara ditangkap oleh daun telinga yang dialirkan keliang telinga
dan mengenai membran timpani, sehingga membran timpani bergetar. Getaran ini
diteruskan ke tulang-tulang pendengaran yang berhubungan satu sama lain.
Selanjutnya stapes menggerakkan tingkap lonjong (foramen ovale) yang juga
menggerakkan perilimf dalam skala vestibuli. Getaran diteruskan melalui
membran Reissener yang mendorong endolimf dan membran basal kearah bawah,
perilimf dalam skala timpani akan bergerak sehingga tingkap (foramen rotundum)
terdorong ke arah luar. Skala media yang menjadi cembung mendesak endolimf
dan mendorong membran basal, sehingga menjadi cembung kebawah dan
menggerakkan perilimf pada skala timpani. Pada waktu istirahat ujung sel rambut
berkelok-kelok, dan dengan berubahnya membran basal ujung sel rambut menjadi
lurus. Rangsangan fisik tadi diubah oleh adanya perbedaan ion Kalium dan ion
Natrium menjadi aliran listrik yang diteruskan ke cabang-cabang n.VIII, yang
kemudian meneruskan rangsangan itu ke pusat sensorik pendengaran diotak (area
39-40) melalui saraf pusat yang ada dilobus temporalis.
FISIOLOGI KESEIMBANGAN1,4,11
Selain perannya dalam pendengaran yang bergantung pada koklea, telinga
dalam memiliki komponen khusus lain, yakni aparatus vestibularis, yang
memberikan informasi yang penting untuk sensasi keseimbangan dan untuk
koordinasi gerakan-gerakan kepala dengan gerakan-gerakan mata dan postur
tubuh. Aparatus vestibularis terdiri dari dua set struktur yang terletak di dalam
tulang temporalis di dekat kokleakanalis semisirkularis dan organ otolit, yaitu
utrikulus dan sakulus. 1
Aparatus vestibularis mendeteksi perubahan posisi dan gerakan kepala.

18

Seperti di koklea, semua komponen aparatus vestibularis mengandung endolimfe


dan dikelilingi oleh perilimfe. Juga, serupa dengan organ Corti, komponen
vestibuler masing-masing mengandung sel-sel rambut yang berespons terhadap
perubahan bentuk mekanis yang dicetuskan oleh gerakan-gerakan spesifik
endolimfe. Seperti sel-sel rambut auditorius, reseptor vestibularis juga dapat
mengalami depolarisasi atau hiperpolarisasi, bergantung pada arah gerakan cairan.
Namun, tidak seperti sistem pendengaran, sebagian besar informasi yang
dihasilkan oleh sistem vestibularis tidak mencapai tingkat kesadaran. 1,2,4
Kanalis semisirkularis mendeteksi akselerasi atau deselerasi anguler atau
rotasional kepala, misalnya ketika memulai atau berhenti berputar, berjungkir
balik, atau memutar kepala. Tiap-tiap telinga memiliki tiga kanalis semisirkularis
yang secara tiga dimensi tersusun dalam bidang-bidang yang tegak lurus satu
sama lain. Sel-sel rambut reseptif di setiap kanalis semisirkularis terletak di atas
suatu bubungan (ridge) yang terletak di ampula, suatu pembesaran di pangkal
kanalis. Rambut-rambut terbenam dalam suatu lapisan gelatinosa seperti topi di
atasnya, yaitu kupula, yang menonjol ke dalam endolimfe di dalam ampula.
Kupula bergoyang sesuai arah gerakan cairan, seperti ganggang Taut yang
mengikuti arah gelombang air.4
Akselerasi (percepatan) atau deselerasi (perlambatan) selama rotasi kepala
ke segala arah menyebabkan pergerakan endolimfe, paling tidak, di salah satu
kanalis semisirkularis karena susunan tiga dimensi kanalis tersebut. Ketika kepala
mulai bergerak, saluran tulang dan bubungan sel rambut yang terbenam dalam
kupula bergerak mengikuti gerakan kepala. Namun, cairan di dalam kanalis, yang
tidak melekat ke tengkorak, mulamula tidak ikut bergerak sesuai arah rotasi, tetapi
tertinggal di belakang karena adanya inersia (kelembaman). (Karena inersia,
benda yang diam akan tetap diam, dan benda yang bergerak akan tetap bergerak,
kecuali jika ada suatu gaya luar yang bekerja padanya dan menyebabkan
perubahan.) Ketika endolimfe tertinggal saat kepala mulai berputar, endolimfe
yang terletak sebidang dengan gerakan kepala pada dasarnya bergeser dengan
arah yang berlawanan dengan arah gerakan kepala (serupa dengan tubuh Anda
yang miring ke kanan sewaktu mobil yang Anda tumpangi berbelok ke kiri).
Gerakan cairan ini menyebabkan kupula condong ke arah yang berlawanan

19

dengan arah gerakan kepala, membengkokkan rambut-rambut sensorik yang


terbenam di dalamnya. Apabila gerakan kepala berlanjut dalam arah dan
kecepatan yang sama, endolimfe akan menyusul dan bergerak bersama dengan
kepala, sehingga rambut-rambut kembali ke posisi tegak mereka. Ketika kepala
melambat dan berhenti, keadaan yang sebaliknya terjadi. Endolimfe secara
singkat melanjutkan diri bergerak searah dengan rotasi kepala sementara kepala
melambat untuk berhenti. Akibatnya, kupula dan rambutrambutnya secara
sementara membengkok sesuai dengan arah rotasi semula, yaitu berlawanan
dengan arah mereka membengkok ketika akselerasi. Pada saat endolimfe secara
bertahap berhenti, rambut-rambut kembali tegak. Dengan demikian, kanalis
semisirkularis mendeteksi perubahan kecepatan gerakan rotasi kepala. Kanalis
tidak berespons jika kepala tidak bergerak atau ketika bergerak secara sirkuler
dengan kecepatan tetap. 2,3
Rambut-rambut pada sel rambut vestibularis terdiri dari dua puluh sampai
lima puluh stereosilia, yaitu mikrovilus yang diperkuat oleh aktin, dan satu silium,
kinosilium. Setiap sel rambut berorientasi sedemikian rupa, sehingga sel tersebut
mengalami depolarisasi ketika stererosilianya membengkok ke arah kinosilium;
pembengkokan ke arah yang berlawanan menyebabkan hiperpolarisasi sel. Sel-sel
rambut membentuk sinaps zat perantara kimiawi dengan ujung-ujung terminal
neuron aferen yang akson-aksonnya menyatu dengan akson struktur vestibularis
lain untuk membentuk saraf vestibularis. Saraf ini bersatu dengan saraf auditorius
dari koklea untuk membentuk saraf vestibulokoklearis. Depolarisasi sel-sel
rambut meningkatkan kecepatan pembentukan potensial aksi di serat-serat aferen;
sebaliknya, ketika sel-sel rambut mengalami hiperpolarisasi, frekuensi potensial
aksi di serat aferen menurun. 1,2,4
Sementara kanalis semisirkularis memberikan informasi mengenai
perubahan rotasional gerakan kepala kepada SSP, organ otolit memberikan
informasi mengenai posisi kepala relatif terhadap gravitasi dan juga mendeteksi
perubahan dalam kecepatan gerakan linier (bergerak dalam garis lurus tanpa
memandang arah). Utrikulus dan sakulus adalah struktur seperti kantung yang
terletak di dalam rongga tulang yang terdapat di antara kanalis semisirkularis dan
koklea. Rambut-rambut pada sel-sel rambut reseptif di organ-organ ini juga

20

menonjol ke dalam suatu lembar gelatinosa di atasnya, yang gerakannya


menyebabkan perubahan posisi rambut serta menimbulkan perubahan potensial di
sel rambut. Terdapat banyak kristal halus kalsium karbonatotolit ("batu
telinga")yang terbenam di dalam lapisan gelatinosa, sehingga lapisan tersebut
lebih berat dan lebih lembam (inert) daripada cairan di sekitarnya. Ketika
seseorang berada dalam posisi tegak, rambut-rambut di dalam utrikulus
berorientasi secara vertikal dan rambut-rambut sakulus berjajar secara horizontal.4
Sakulus memiliki fungsi serupa dengan utrikulus, kecuali bahwa is
berespons secara selektif terhadap kemiringan kepala menjauhi posisi horizontal
(misalnya bangun dari tempat tidur) dan terhadap akselerasi atau deselerasi liner
vertikal (misalnya meloncat-loncat atau berada dalam elevator). 4
Sinyal-sinyal yang berasal dari berbagai komponen aparatus vestibularis
dibawa melalui saraf vestibulokoklearis ke nukleus vestibularis, suatu kelompok
badan sel saraf di batang otak, dan ke serebelum. Di sini informasi vestibuler
diintegrasikan dengan masukan dari permukaan kulit, mata, sendi, dan otot untuk:
(1) mempertahankan keseimbangan dan postur yang diinginkan
(2) mengontrol otot mata eksternal, sehingga mata tetap terfiksasi ke titik
yang sama walaupun kepala bergerak
(3) mempersepsikan gerakan dan orientasi. 1,3
Beberapa individu, karena alasan yang tidak diketahui, sangat peka
terhadap gerakan-gerakan tertentu yang mengaktifkan aparatus vestibularis dan
menyebabkan gejala pusing (dizziness) dan mual; kepekaan ini disebut mabuk
perjalanan (motion sickness). Kadang-kadang ketidakseimbangan cairan di telinga
dalam menyebabkan penyakit Meniere. Tidaklah mengherankan, karena baik
aparatus vestibularis maupun koklea mengandung cairan telinga dalam yang
sama, timbul gejala keseimbangan dan pendengaran. Penderita mengalami
serangan sementara vertigo (pusing tujuh keliling). 4

C. OTITIS MEDIA1,2,3,4,5
1).

Pengertian
21

Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga


tengah., tuba Eustachius, antrum mastoid dan sel-sel mastoid.
Otitis media terbagi atas otitis media supuratif dan otitis media non
supuratif (otitis media serosa, otitis media sekretoria, otitis media musinosa,
otitis media efusi/OME). Masing-masing mempunyai bentuk akut dan
kronis. Selain itu terdapat juga otitis media spesifik, seperti otitis media
tuberkulosa atau otitis media sifilitika. Otitis media yang lain disebut otitis
media adhesive. Pada beberapa penelitian, diperkirakan terjadinya otitis
media yaitu 25% pada anak-anak. Infeksi umumnya terjadi dua tahun
pertama kehidupan dan puncaknya pada tahun pertama masa sekolah.
Harus dibedakan antara otitis media akut dan otitis media efusi. Otitis
media efusi lebih umum daripada otitis media akut. Ketika otitis media efusi
didiagnosis dengan otitis media akut, antibiotic yang diberikan bisa tidak
sesuai. Otitis media efusi yaitu adanya cairan ditelinga tengah tanpa adanya
gejala infeksi. Otitis media efusi biasanya disebabkan tertutupnya Tuba
Eustachius dan cairan terperangkap di telinga tengah. Gejala dari otitis
media akut datang bila cairan di telinga tengah terinfeksi.
Otitis Media Akut3,4,5,6
Telinga tengah biasanya steril, meskipun terdapat mikroba di daerah
nasofaring dan faring. Secara fisiologik nterdapat mekanisme pencegahan
masuknya mikroba ke dalam telinga tengah oleh silia mukosa tuba
Eustachius, enzim dan antibodi.
Otitis media akut (OMA) biasanya terjadi karena faktor pertahanan
tubuh ini terganggu. Sumbatan tuba Eustachius merupakan factor penyebab
utama dari otitis media. Karena fungsi tuba Eustachius terganggu,
pencegahan invasi kuman ke telinga tengah juga terganggu, sehingga kuman
masuk ke dalam telinga tengah dan terjadi peradangan.
Selain itu, pencetus lain adalah infeksi saluran napas atas. Pada anak,
makin sering anak terkena infeksi saluran napas, makin besar kemungkinan
terjadinya OMA. Pada bayi terjadinya OMA dipermudah oleh karena tuba

22

Eustachiusnya pendek, lebar dan letaknya agak horizontal, dan juga adenoid
pada anak relatif lebih besar dibanding orang dewasa.
2).

Epidemiologi4,5,6
Di Amerika Serikat, diperkirakan 75% anak mengalami setidaknya

satu episode otitis media sebelum usia tiga tahun dan hampir setengah dari
mereka mengalaminya tiga kali atau lebih. Di Inggris, 25% anak
mengalami minimal satu episode sebelum usia sepuluh tahun. Sering terjadi
pada usia 3-6 tahun.
3).

Etiologi4,5,6
Faktor pasien

Prematur dan bayi berat lahir rendah


Umur muda
Riwayat keluarga
Ras
Imunitas rendah
Kelainan kraniofasial
Penyakit neuromuscular
Alergi
Faktor lingkungan
-

4).

Tempat tinggal yang padat penduduk


Status sosial-ekonomi rendah
Terpapar polusi dan merokok
Musin gugur atau dingin
Tidak mendapatkan asi, menggunakan susu botol.

Patologi3,4
Kuman utama penyebab OMA adalah bakteri piogenik, seperti

Streptokokus hemolitikus, Stafilokokus aureus, Pneumokokus. Selain itu


kadang

ditemukan

Streptokokus

juga

Hemofilus

unhemolitikus,

Proteus

influenza,
vulgaris

Escherichia
dan

colli,

Pseudomonas

23

aurugenosa. Hemofilus influenza sering ditemukan pada anak dibawah 5


tahun.
5).

Stadium OMA

Perubahan mukosa telinga tengah sebagai akibat infeksi dapat dibagi atas 5
stadium :
a).

Stadium Oklusi Tuba Eustachius4


Stadium oklusi tuba Eustachius terdapat sumbatan tuba

Eustachius yang ditandai oleh retraksi membrana timpani akibat


tekanan negatif dalam telinga tengah karena terjadinya absorpsi udara.
Selain retraksi, membrana timpani kadang-kadang tetap normal atau
hanya berwarna keruh pucat atau terjadi efusi.
Stadium oklusi tuba Eustachius dari otitis media supuratif akut
(OMA) sulit kita bedakan dengan tanda dari otitis media serosa yang
disebabkan virus dan alergi.
b) Stadium Hiperemis (Pre Supurasi) 4
Stadium hiperemis (pre supurasi) akibat pelebaran pembuluh
darah di membran timpani yang ditandai oleh membran timpani
mengalami hiperemis, edema mukosa dan adanya sekret eksudat
serosa yang sulit terlihat.
c) Stadium Supurasi4,5
Stadium supurasi ditandai oleh terbentuknya sekret eksudat
purulen (nanah). Selain itu edema pada mukosa telinga tengah makin
hebat dan sel epitel superfisial hancur. Ketiganya menyebabkan
terjadinya bulging (penonjolan) membrana timpani ke arah liang
telinga luar.
Pasien akan tampak sangat sakit, nadi & suhu meningkat dan
rasa nyeri di telinga bertambah hebat. Anak selalu gelisah dan tidak
bisa tidur nyenyak.

24

Stadium supurasi yang berlanjut dan tidak tertangani dengan


baik akan menimbulkan ruptur membran timpani akibat timbulnya
nekrosis mukosa dan submukosa membran timpani. Daerah nekrosis
terasa lebih lembek dan berwarna kekuningan. Nekrosis ini
disebabkan oleh terjadinya iskemia akibat tekanan kapiler membran
timpani karena penumpukan nanah yang terus berlangsung di kavum
timpani dan akibat tromboflebitis vena-vena kecil.
Keadaan stadium supurasi dapat kita tangani dengan melakukan
miringotomi. Bedah kecil ini kita lakukan dengan membuat luka insisi
pada membran timpani sehingga nanah akan keluar dari telinga tengah
menuju liang telinga luar. Luka insisi pada membran timpani akan
mudah menutup kembali sedangkan ruptur lebih sulit menutup
kembali. Bahkan membran timpani bisa tidak menutup kembali jika
membran timpani tidak utuh lagi.
d) Stadium Perforasi4,5
Stadium perforasi ditandai oleh ruptur membran timpani
sehingga sekret berupa nanah yang jumlahnya banyak akan mengalir
dari telinga tengah ke liang telinga luar. Kadang-kadang pengeluaran
sekret bersifat pulsasi (berdenyut). Stadium ini sering disebabkan oleh
terlambatnya pemberian antibiotik dan tingginya virulensi kuman.
Setelah nanah keluar, anak berubah menjadi lebih tenang, suhu
menurun dan bisa tidur nyenyak. Jika membran timpani tetap perforasi
dan pengeluaran sekret (nanah) tetap berlangsung selama lebih 3
minggu maka keadaan ini disebut otitis media supuratif subakut. Jika
kedua keadaan tersebut tetap berlangsung selama lebih 1,5-2 bulan
maka keadaan itu disebut otitis media supuratif kronik (OMSK).
e).

Stadium Resolusi4
Stadium resolusi ditandai oleh membran timpani berangsur

normal hingga perforasi membran timpani menutup kembali dan


sekret purulen tidak ada lagi. Stadium ini berlangsung jika membran

25

timpani masih utuh, daya tahan tubuh baik, dan virulensi kuman
rendah. Stadium ini didahului oleh sekret yang berkurang sampai
mengering.
Apabila stadium resolusi gagal terjadi maka akan berlanjut
menjadi otitis media supuratif kronik (OMSK). Kegagalan stadium ini
berupa membran timpani tetap perforasi dan sekret tetap keluar secara
terus-menerus atau hilang timbul. Otitis media supuratif akut (OMA)
dapat menimbulkan gejala sisa (sequele) berupa otitis media serosa.
Otitis media serosa terjadi jika sekret menetap di kavum timpani tanpa
mengalami perforasi membran timpani.
6).

Gejala Klinik OMA5,6


Gejala klinik otitis media supuratif akut (OMA) tergantung dari

stadium penyakit dan umur penderita. Gejala stadium supurasi berupa


demam tinggi dan suhu tubuh menurun pada stadium perforasi.
Gejala klinik otitis media supuratif akut (OMA) berdasarkan umur
penderita, yaitu :
-

Bayi dan anak kecil. Gejalanya : demam tinggi bisa sampai 39 0C


(khas pada stadium supurasi), sulit tidur, tiba-tiba menjerit saat tidur,
mencret, kejang-kejang, dan kadang-kadang memegang telinga yang
sakit. Jika terjadi rupture membrane timpani, maka secret mengalir ke

liang telinga, suhu tubuh menurun dan anak tertidur tenang.


Anak yang sudah bisa bicara. Gejalanya : biasanya rasa nyeri dalam

telinga, suhu tubuh tinggi, dan riwayat batuk pilek.


Anak lebih besar dan orang dewasa. Gejalanya : rasa nyeri dan
gangguan pendengaran (rasa penuh dan pendengaran berkurang).

7).

Terapi 9,10

Penatalaksanaan OMA tergantung pada

stadium

penyakitnya.

Pengobatan pada stadium awal ditujukan untuk mengobati infeksi saluran


napas,

dengan

pemberian antibiotik, dekongestan lokal atau sistemik, dan

antipiretik. Tujuan pengobatan pada otitis media adalah untuk menghindari

26

komplikasi intrakrania dan ekstrakrania yang mungkin terjadi, mengobati


gejala, memperbaiki fungsi tuba Eustachius, menghindari perforasi membran
timpani, dan memperbaiki sistem imum lokal dan sistemik.
Pada stadium oklusi, tujuan terapi dikhususkan untuk membuka kembali
tuba eustachius. Diberikan obat tetes hidung HCl efedrin 0,5% dalam larutan
fisiologik untuk anak <12 thn dan HCl efedrin 1% dalam larutan fisiologik untuk
anak yang berumur >12 thn atau dewasa, antihistamin bila ada tanda-tanda alergi,
serta antipiretik. Selain itu, sumber infeksi juga harus diobati dengan memberikan
antibiotik selama 7 hari:
Ampisilin

: Dewasa 500 mg 4 x sehari; Anak 25 mg/KgBB 4 x sehari atau

Amoksisilin

: Dewasa 500 mg 3 x sehari; Anak 10 mg/KgBB 3 x sehari atau

Eritromisin

: Dewasa 500 mg 4 x sehari; Anak 10 mg/KgBB 4 x sehari

Pada stadium presupurasi, diberikan antibiotik, obat tetes hidung, dan


analgesik. Bila membran timpani sudah hiperemi difus, sebaiknya dilakukan
miringotomi. Antibiotik yang diberikan ialah penisilin atau eritromisin, selama
10-14 hari:
Ampisilin

: Dewasa 500 mg 4 x sehari; Anak 25 mg/KgBB 4 x sehari atau

Amoksisilin

: Dewasa 500 mg 3 x sehari; Anak 10 mg/KgBB 3 x sehari atau

Eritromisin

: Dewasa 500 mg 4 x sehari; Anak 10 mg/KgBB 4 x sehari

Jika terdapat resistensi, dapat diberikan kombinasi dengan asam klavunalat


atau sefalosporin. Untuk terapi awal diberikan penisilin IM agar konsentrasinya
adekuat di dalam darah. Antibiotik diberikan minimal selama 7 hari. Pada anak
diberikan ampisilin 4x50-100 mg/KgBB, amoksisilin 4x40 mg/KgBB/hari, atau
eritromisin 4x40 mg/kgBB/hari. Kemudian diberikan obat tetes hidung nasal
dekongestan maksimal 5 hari, antihistamin bila ada tanda-tanda alergi, antipiretik,
analgetik dan pengobatan simtomatis lainnya.
Pada stadium supurasi terjadi edema yang hebat pada mukosa telinga
tengah dan hancurnya sel epitel superficial, serta terbentuknya eksudat yang
purulen di kavum timpani, menyebabkan membrane timpani menonjol (bulging)
kearah liang telinga luar.pada keadaan ini pasien tampak sangat sakit, nadi dan
27

suhu meningkat, serta rasa nyeri di telinga bertambah hebat. Apabila tekanan
nanah di kavum timpani tidak berkurang, maka terjadi iskemi, akibat tekanan
pada kapiler-kapiler, serta timbul tromboflebitis pada vena-vena kecil dan
nekrosis mukosa dan submukosa. Nekrosis ini pada membrane timpani terlihat
sebagai daerah yang lebih lembek dan berwarna kekuningan, di tempat ini akan
terjadi ruptur.
Bila tidak dilakukan insisi membrane timpani (miringotomi) pada stadium
ini, maka kemungkinan besar membrane timpani akan rupture dan nanah keluar
ke liang telinga. Dengan dilakukan miringotomi luka insisi akan menutup
kembali, sedangkan apabila terjadi rupture, maka lubang tempat rupture
(perforasi) tidak mudah menutup kembali. Miringotomi dilakukan jika membran
timpani masih utuh.
Selain miringotomi, diberikan juga antibiotik pada stadium ini, yaitu:
Amoxyciline

: Dewasa 3x 500mg/hari, Bayi/anak 50mg/kgBB/hari

Erythromycine

: Dewasa/ anak sama dengan dosis amoxyciline

Cotrimoxazole: (kombinasi trimethroprim 80mg dan sulfamethoxazole 400mgtablet)

untuk

dewasa

2x2

tablet,

Anak

(trimethroprim

40mg

dan

sulfamethoxazole 200mg) suspense 2x1 cth.


Jika kuman sudah resisten (infeksi berulang): kombinasi amoxyciline dan asam
clavulanic, dewasa 3x625 mg/hari. Bayi /anak, disesuaikan dengan BB dan usia.
Antibiotik diberikan 7-10 hari, pemberian yang tidak adekuat dapat
menyebabkan kekambuhan. Penderita yang alergi penicillin dapat diberikan
golongan makrolid (Azithromicine, Roxythromicine).
Pada

stadium

perforasi,

sering

terlihat

sekret

banyak

keluar,

kadang secara berdenyut atau pulsasi. Diberikan obat cuci telinga (ear toilet)
H2O2 3% (4-5 tetes sehari) selama 3 sampai dengan 5 hari serta antibiotik
yang adekuat, berupa ciprofloxacin 200 mg (2x1) selama 3-14 hari. Biasanya
sekret akan hilang dan perforasi akan menutup kembali dalam 7 sampai
dengan 10 hari.

28

Pada stadium resolusi, membran timpani berangsur normal kembali,


sekret tidak ada lagi, dan

perforasi menutup. Bila tidak terjadi resolusi

biasanya sekret mengalir di liang telinga luar melalui perforasi di membran


timpani. Antibiotik dapat dilanjutkan sampai 3 minggu. Bila keadaan ini
berterusan, mungkin telah terjadi mastoiditis.
Sekitar 80% kasus OMA sembuh dalam 3 hari tanpa pemberian
antibiotik. Observasi dapat dilakukan. Antibiotik dianjurkan jika gejala tidak
membaik dalam dua sampai tiga hari, atau ada perburukan gejala. Ternyata
pemberian antibiotik yang segera dan dosis sesuai dapat terhindar dari tejadinya
komplikasi supuratif seterusnya. Masalah yang

muncul

adalah

risiko

terbentuknya bakteri yang resisten terhadap antibiotik meningkat. Menurut


American Academy of Pediatrics (2004), mengkategorikan OMA yang dapat
diobservasi dan yang harus segera diterapi dengan antibiotik sebagai berikut. 6
Tabel 1. Kriteria Terapi Antibiotik dan Observasi pada Anak dengan OMA
Usia

Diagnosis pasti (certain) Diagnosis meragukan

Kurang dari 6 bulan

Antibiotik

Antibiotik

6 bulan sampai 2 tahun Antibiotik


2 tahun ke atas

Antibiotik

Antibiotik jika gejala berat,


jika

gejala Observasi

berat

Diagnosis pasti OMA harus memiliki tiga kriteria, yaitu bersifat akut,
terdapat efusi telinga tengah, dan terdapat tanda serta gejala inflamasi telinga
tengah. Gejala ringan adalah nyeri telinga ringan dan demam kurang dari 39C
dalam 24 jam terakhir. Sedangkan gejala berat adalah nyeri telinga sedang
berat atau demam 39C. Pilihan observasi selama 48 72 jam hanya dapat
dilakukan pada anak usia enam bulan sampai dengan dua tahun, dengan gejala
ringan saat pemeriksaan, atau diagnosis meragukan pada anak di atas dua
tahun. Follow-up dilaksanakan dan pemberian analgesia seperti asetaminofen
dan ibuprofen tetap diberikan pada masa observasi. 10
29

Menurut American Academic of Pediatric (2004), amoksisilin merupakan


first-line terapi dengan pemberian 80mg/kgBB/hari sebagai terapi antibiotik awal
selama lima hari. Amoksisilin efektif terhadap

Streptococcus penumoniae.

Jika pasien alergi ringan terhadap amoksisilin, dapat diberikan sefalosporin


seperti cefdinir. Second-line terapi seperti amoksisilin-klavulanat efektif
terhadap

Haemophilus influenzae dan Moraxella catarrhalis, termasuk

Streptococcus penumoniae. Pneumococcal 7- valent conjugate vaccine dapat


dianjurkan untuk menurunkan prevalensi otitis media. 6

Pembedahan
Terdapat beberapa tindakan pembedahan yang dapat menangani OMA
rekuren, seperti miringotomi dengan insersi tuba timpanosintesis, dan
adenoidektomi.
1.

Miringotomi8,9
Miringotomi ialah tindakan insisi pada pars tensa membran
timpani, supaya terjadi drainase sekret dari telinga tengah ke liang telinga
luar. Syaratnya adalah harus dilakukan secara dapat dilihat langsung,
anak harus tenang sehingga membran timpani dapat dilihat dengan baik.
Lokasi miringotomi ialah di kuadran postero-inferior. Bila terapi yang
diberikan sudah adekuat, miringotomi tidak perlu dilakukan, kecuali jika
terdapat pus di telinga tengah. Indikasi miringotomi pada anak dengan
OMA adalah nyeri berat, demam, komplikasi OMA seperti paresis
nervus fasialis, mastoiditis, labirinitis, dan infeksi sistem saraf pusat.
Miringotomi merupakan terapi third-line pada pasien yang mengalami
kegagalan terhadap dua kali terapi antibiotik pada satu episode OMA.
Salah satu tindakan

miringotomi atau timpanosintesis dijalankan

terhadap anak OMA yang respon kurang memuaskan terhadap terapi


second-line, untuk menidentifikasi mikroorganisme melalui kultur.
2.

Timpanosintesis8,9
Timpanosintesis merupakan pungsi pada membran timpani,
dengan analgesia lokal supaya mendapatkan sekret untuk tujuan

30

pemeriksaan. Indikasi timpanosintesis adalah terapi antibiotik tidak


memuaskan, terdapat komplikasi supuratif, pada bayi baru lahir atau
pasien yang sistem imun tubuh rendah. Menurut Buchman (2003), pipa
timpanostomi dapat menurun morbiditas OMA seperti otalgia, efusi
telinga tengah, gangguan pendengaran secara signifikan dibanding
dengan plasebo dalam tiga penelitian prospertif, randomized trial yang
telah dijalankan.
3.

Adenoidektomi8,9
Adenoidektomi efektif dalam menurunkan risiko terjadi otitis
media dengan efusi dan OMA

rekuren, pada anak yang pernah

menjalankan miringotomi dan insersi tuba timpanosintesis, tetapi hasil


masih tidak memuaskan. Pada anak kecil dengan OMA rekuren yang
tidak

pernah

didahului

dengan

insersi

tuba,

tidak

dianjurkan

adenoidektomi, kecuali jika terjadi obstruksi jalan napas dan rinosinusitis


rekuren.
8).

Komplikasi Otitis Media Supuratif Akut (OMA) 5,6,7


a) Intratemporal atau ekstrakranial

Mastoiditis

Labirintitis

Paralse N VII

Petrositis

b) Intrakranial

Trombosus sinus lateralis

31

Meningitis

Abses Otak

Abses Ekstra dural

Abses subdural

Otitik hidrosefalus
Komplikasi intrakranial jauh lebih sering ditemukan sebagai akibat
OMSK tipe Maligna

32

DAFTAR PUSTAKA

1. Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD. Buku Ajar Ilmu Kesehatan
Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Edisi Keenam. Jakarta : FKUI ;
2007. p. 102-103
2. Sutedjo A.Y. Buku Saku Mengenal Penyakit Melalui Hasil Pemeriksaan
Laboratorium. Yogyakarta: Amara Books ; 2007.
3. Price SA, Wilson LM. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Ed 6.
Jakarta : EGC ; 2005. P. 1402-1421
4. Otitis_Media_(Ear_Infection).Available_from
http://www.nidcd.nih.gov/health/hearing/otitism.asp

[diunduh

November

2015: 18:47]
5. Chronic Otitis Media (Middle Ear Infection) and Hearing Loss. Available from
http://www.entnet.org/KidsENT/hearing_loss.cfm [diunduh 30 Oktober 2015:
16:23]
6. Diagnosis and Management of Acute Otitis Media. PEDIATRICS Vol. 113 No.
5May_2004,pp._1451-1465._available_from
http://aappolicy.aappublications.org/cgi/content/full/pediatrics

;113/5/1451

[diunduh 30 Oktober 2015: 14:15]


7. Diagnosis and treatment of otitis media in children. Institute for Clinical Systems
Improvement (ICSI). Diagnosis and treatment of otitis media in children.
Bloomington (MN): Institute for Clinical Systems Improvement (ICSI); 2012
May.

Available

from

http://www.guideline.gov/summary/summary.aspx?

doc_id=5450 [diunduh 30 Oktober 2015: 10:47]


8. Little P, et al. Predictors of poor outcome and benefits from antibiotics in children
with acute otitis media: pragmatic randomised trial. BMJ 2009;325:22 Available
from

http://bmj.bmjjournals.com/cgi/content/full/325/7354/22?

ijkey=742c411e86bbfb31b1a51105ff9bfc95d8a31433

[diunduh

30

Oktober

2015: 10:01]
9. Wellbery C. Standard-Dose Amoxicillin for Acute Otitis Media. Available from
http://www.aafp.org/afp/20120501/tips/18.html [diunduh 31 Oktober 2015:
20:52]

33

10. Adams, George L. M.D et all. BOIES Fundamentals of otolaryngology. Edisi VI.

EGC, Jakarta : 1997.

34