Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN KASUS THT

Identitas Penderita 1. Nama 2. Tempat, tanggal lahir 3. Jenis Kelamin 4. Usia 5. Agama 6. Suku 7. Alamat 8. No. telpn 9. Pekerjaan 10. Pendidikan 11. No. RM 12. Tanggal MRS : Nn. F : Semarang, 27 Maret 1994 : Perempuan : 19 tahun : Islam : Jawa : Mranak 02/09 Kel: wonorejo Kec: Pringapus :: Karyawan swasta : SMA : 044236 : 23 september 2013

ANAMNESIS ( autoanamnesis) Tanggal : 23 September 2013 Keluhan Utama : sakit di tenggorokan 1. Riwayat Penyakit Sekarang 2 minggu yang lalu pasien mengeluh sakit di tenggorokan, sakit dirasakan terys menerus, sakit bertambah parah jika pasien menelan makanan, pasien juga mengeluh rasa mengganjal di tenggorokan rasa mengganjal juga dirasakan terus menerus,selain itu pasien mengeluhkan bdan tidak nyaman dan demam, keluhan lain seperti batuk, pilek, nafas serak, bau mulut, dan nyeri telinga tidak ada. 2. Riwayat Penyakit Dahulu a. Riwayat penyakit serupa diakui pasien sejak kelas 3 SD dan sering kambuh dalam setahuninipasien mengaku sudah 3 kali mengalami hal yang sama b. Riwayat alergi obat dan makanan (merah-merah pada kulit, dan sesak nafas setelah mengkonsumsi obat atau makanan) tidak diakui. c. Tekanan darah tinggi, kencing manis, dan jantung disangkal d. Riwayat bersin-bersin dipagi hari disangkal 3. Riwayat Penyakit Keluarga a. Riwayat penyakit serupa disangkal 1 Jam: 10.20 WIB

b. Riwayat alergi (sesak nafas, merah-merah pada kulit) disangkal. c. Riwayat darah tinggi, kencing manis dan jantung disangkal. d. Riwayat bersin-bersin dipagi hari disangkal. 4. Riwayat Sosial Ekonomi Pasien tinggal dengan paman dan bibinya, biaya pengobatan ditanggung JAMKESDA. Pasien sehari-hari bekerja sebagai karyawan swasta. Pasien menyangkal minum minuman beralkohol dan merokok. Pasien mengaku menyukai makan goreng-gorengan dan makanan yang pedas.

PEMERIKSAAN PEMERIKSAAN FISIK : Tanggal : 21 september 2013, Jam : 10.40 WIB 1. Status Generalisata a. KU b. Kesadaran c. Tensi d. Nadi e. Nafas f. Suhu g. Kulit h. Kepala i. Konjungtiva j. BB : 65 kg : : Baik : composmentis : 120/80 mmHg : 80 kali/menit : 18 kali/menit : 37,8 0C : Turgor cukup : Mesocephal : hiperemis (-)

k. Tb : 166 cm l. BMI : 23.42 (normal)

m. Status gizi : baik 2. Satus Interrnus a. Jantung :


-

Inspeksi

: ictus cordis tidak nampak

- Palapsi : ictus cordis teraba namun tidak kuat angkat, thrill (-), pulsus epigastrium (-), pulsus parasternal (-), sternal lift (-) - Perkusi : batas atas : ICS II lin.parasternal sinistra : ICS III parasternal sinsitra : ICS V lin.sternalis dextra

pinggang jantung batas kanan bawah

batas kiri bawah

: ICS V 2 cm ke arah medial mid clavikula sinistra

konfigurasi jantung dalam batas normal - Auskultasi : reguler Suara jantung murni : SI, SII (normal) reguler. Suara jantung tambahan gallop (-), murmur (-) SIII (-), SIV (-) b. Paru : Paru Depan 1. Inspeksi Bentuk dada Hemitorak 2. Palpasi Stem fremitus Nyeri tekan Pelebaran ICS 3. Perkusi Dextra = sinistra Tidak ada nyeri tekan (-) Sonor di seluruh lapang paru Dextra = sinistra Tidak ada nyeri tekan (-) Sonor di seluruh lapang paru Datar Simetris Datar Simetris Dextra Sinistra

4. Auskultasi Suara dasar Suara tambahan

Vesikuler (-)

Vesikuler (-)

Belakang 1. Inspeksi Punggung 2. Palpasi Punggung Stem fremitus 3. Perkusi Punggung Sonor di seluruh lapang paru Vesikuler 4. Auskultasi Suara dasar Suara tambahan (-) Sonor di seluruh lapang paru Vesikuler (-) Tidak ada nyeri tekan (-) Tidak ada nyeri tekan (-) Tidak ada kelainan tidak ada kelainan

c. Hati Inspeksi Palpasi Perkusi : tidak ada pembesaran : hepar tidak teraba : pekak (+)

Auskultasi : normal d. Limfa Inspeksi Palpasi Perkusi : tidak tampak pembesaran : lien tidak teraba : pekak (+)

Auskultasi : normal e. Limfe : limfe tidak teraba, pembesaran (-)

3. Extremitas Superior Akral dingin Oedem Sianosis Gerak Reflek fisiologis Reflek patologis Aktif Tidak diperiksa Tidak diperiksa Inferior Aktif Tidak diperiksa Tidak diperiksa

CRT

< 2 detik

< 2 detik

Status lokalis : Tenggorokan : Dispneu Sianosis Mukosa Dinding belakang faring Suara ::: merah muda : normal : tidak ada kelainan

Tonsil : Pembesaran Hiperemis Permukaan mukosa Kripte Detritus Fiksasi

Kanan T3 + tidak rata melebar -

Kiri T3 + tidak rata melebar -

Tonsil dekstra: Detritus (-), hiperemis (+), permukaan tidak rata

Tonsil sinistra: detritus (-), hiperemis (+), permukaan tidak rata

RINGKASAN :

Pasien Nn. F 19 tahun datang dengan keluhan sakit di tenggorokan, sakit dirasakan terys menerus, sakit bertambah parah jika pasien menelan makanan, pasien juga mengeluh rasa mengganjal di tenggorokan rasa mengganjal juga dirasakan terus menerus,selain itu pasien mengeluhkan bdan tidak nyaman dan demam, keluhan lain seperti batuk, pilek, nafas serak, bau mulut, dan nyeri telinga tidak ada. Pada pemeriksaan fisik pada keadaan umum dan status internus dalam batas normal dan pada pemeriksaan lokalis ditemukan Tonsil dekstra: Detritus (-), hiperemis (+), permukaan

tidak rata tidak rata


DIAGNOSIS BANDING :

Tonsil sinistra: detritus (-), hiperemis (+), permukaan

1. Tonsilitis Kronis 2. Tonsilitis Difteri 3. Angina Plaut Vincent (stomatitis ulceromembranosa) 4. Mononukleosis Infeksiosa 5. Tonsilitis Akut
DIAGNOSIS Tonsilitis kronis :

RENCANA PENGELOLAAN 1. Innisial Plan Diagnostik : S : (-)

O : Biakan swab tenggorok dan tes kepekaan kuman (sensitivity test) 2. Terapi : a. Lameson 2x1 b. Lapicef 2x1 c. Lapistan 3x1 3. Innisial Plan Monitoring a. Monitoring kesembuhan

4. Innisial Plan Edukasi a. Menjelaskan pada pasien mengenai penyakit yang dideritanya. b. Menjelaskan pada pasien tentang pemakaian obat. c. Menganjurkan pasien untuk menjaga kebrsihan mulut. d. Menganjurkan pasien untuk menghindari makanan yang terlalu panas, pedas, dan mempunyai bahan penyedap e. Menyarankan kepada pasien untuk dilakukan operasi

PROGNOSIS Ad bonam

PEMBAHASAN Tonsilitis kronis 2.1 Tonsil Tonsil merupakan suatu akumulasi dari limfonoduli permanen yang letaknya di bawah epitel yang telah terorganisir sebagai suatu organ. Pada tonsil terdapat epitel permukaan yang ditunjang oleh jaringan ikat retikuler dan kapsel jaringan ikat serta kriptus di dalamnya. Berdasarkan lokasinya, tonsil dibagi menjadi : 1. Tonsilla lingualis, terletak pada radix linguae. 2. Tonsilla palatina (tonsil), terletak pada isthmus faucium antara arcus glossopalatinus dsan arcus glossopharingicus. 3. Tonsilla pharingica (adenoid), terletak pada dinding dorsal dari nasofaring. 4. Tonsilla tubaria, terletak pada bagian lateral nasofaring di sekitar ostium tuba auditiva. 5. Plaques dari Peyer (tonsil perut), terletak pada ileum. Dari kelima macam tonsil tersebut, tonsilla lingualis, tonsilla palatina, tonsilla pharingica dan tonsilla tubaria membentuk cincin jaringan limfe pada pintu masuk saluran nafas dan saluran pencernaan. Cincin ini dikenal dengan nama cincin Waldeyer. Kumpulan jaringan ini melindungi anak terhadap infeksi melalui udara dan makanan. Jaringan limfe pada cincin Waldeyer menjadi hipertrofi fisiologis pada masa kanak-kanak, adenoid pada umur 3 tahun dan tonsil pada usia 5 tahun, dan kemudian menjadi atrofi pada masa pubertas. Jaringan limfoid pada Cincin Waldeyer berperan penting pada awal kehidupan, yaitu sebagai daya pertahanan lokal yang setiap saat berhubungan dengan agen dari luar (makan, minum, bernafas), dan sebagai surveilen imun. Fungsi ini didukung secara anatomis dimana di daerah faring terjadi tikungan jalannya material yang melewatinya disamping itu bentuknya tidak datar, sehingga terjadi turbulensi khususnya udara pernafasan. Dengan demikian kesempatan kontak berbagai agen yang ikut dalam proses fisiologis tersebut pada permukaan penyusun cincin Waldeyer itu semakin besar.

Palatum molle Uvula Arkus Anterior Arkus Posterior Tonsil

Gambar 2.1 Penampang Kavum Oris

2.1.1 Embriologi Tonsilla Palatina Perluasan ke lateral dari kantong faringeal kedua diserap dan bagian dorsalnya tetap ada dan menjadi epitel tonsilla palatina. Pilar tonsil berasal dari arcus branchial kedua dan ketiga. Kripte tonsillar pertama terbentuk pada usia kehamilan 12 minggu dan kapsul terbentuk pada usia kehamilan 20 minggu.

2.1.2 Anatomi Tonsilla Palatina Tonsilla palatina adalah dua massa jaringan limfoid berbentuk ovoid yang terletak pada dinding lateral orofaring dalam fossa tonsillaris. Tiap tonsilla ditutupi membran mukosa dan permukaan medialnya yang bebas menonjol kedalam faring. Permukaannnya tampak berlubang-lubang kecil yang berjalan ke dalam cryptae tonsillares yang berjumlah 6-20 kripte. Pada bagian atas permukaan medial tonsilla terdapat sebuah celah intratonsil dalam. Permukaan lateral tonsilla ditutupi selapis jaringan fibrosa yang disebut capsula tonsilla palatina, terletak berdekatan dengan tonsilla lingualis. Adapun struktur yang terdapat disekitar tonsilla palatina adalah : 1. Anterior : arcus palatoglossus 2. Posterior : arcus palatopharyngeus 3. Superior : palatum mole 4. Inferior : 1/3 posterior lidah 5. Medial : ruang orofaring

6. Lateral : kapsul dipisahkan oleh m. constrictor pharyngis superior oleh jaringan areolar longgar. A. carotis interna terletan 2,5 cm dibelakang dan lateral tonsilla.

2.1.3 Vaskularisasi Arteri terutama masuk melalui polus caudalis, tapi juga bisa melalui polus cranialis. Melalui polus caudalis : rr. tonsillaris a. dorsalis linguae, a. palatina ascendens dan a. facialis. Melalui polus cranialis : rr. tonsillaris a. pharyngica ascendens dan a. palatina minor. Semua cabangcabang tersebut merupakan cabang dari a. carotis eksterna. Darah venous dari tonsil terutama dibawa oleh r. tonsillaris v. lingualis dan di sekitar kapsula tonsillaris membentuk pleksus venosus yang mempunyai hubungan dengan pleksus pharyngealis. Vena paratonsillaris dari palatum mole menuju ke bawah lewat pada bagian atas tonsillar bed untuk menuangkan isinya ke dalam pleksus pharyngealis. Cairan limfe dituangkan ke lnn. submaxillaris, lnn. cervicalis superficialis dan sebagian besar ke lnn. cervicalis profundus superior terutama pada limfonodi yang terdapat di dorsal angulus mandibular (lnn. tonsillaris). Nodus paling penting pada kelompok ini adalah nodus jugulodigastricus yang terletak di bawah dan belakang angulus mandibulae.

2.1.4 Innervasi Innervasi terutama dilayani oleh n. IX (glossopharyngeus) dan juga oleh n. palatina minor (cabang ganglion sphenopalatina). Pemotongan pada n. IX menyebabkan anestesia pada semua bagian tonsil (Dandy).

2.1.5 Imunologi Tonsil merupakan organ yang unik karena keterlibatannya dalam pembentukan imunitas lokal dan pertahanan imunitas tubuh. Limfosit B berproliferasi di germinal center. Imunoglobulin (Ig G, A, M, D), komponen komplemen, interferon, lisosim dan sitokin berakumulasi di jaringan tonsillar. Infeksi bakterial kronis pada tonsil akan menyebabkan terjadinya antibodi lokal, perubahan rasio sel B dan sel T. Efek dari adenotonsilektomi terhadap integritas imunitas seseorang masih diperdebatkan. Pernah dilaporkan adanya penurunan produksi Imunoglobulin A nasofaring terhadap vaksin polio setelah adenoidektomi atau adanya peningkatan kasusu Hodgkins limfoma. Namun
10

bagaimanapun peran tonsil masih tetap kontroversial dan sekarang ini belum terbukti adanya efek imunologis dari tonsilektomi.

2.2 Tonsilitis Kronis 2.2.1 Definisi Keradangan kronis yang mengenai seluruh jaringan tonsil yang pada umumnya sering didahului oleh suatu keradangan di bagian tubuh lain, seperti misal sinusitis, rhinitis, infeksi umum seperti morbili, dan sebagainya. Tonsilis berulang terutama terjadi pada anak-anak dan diantara serangan tidak jarang tonsil tampak sehat. Tapi tidak jarang keadaan tonsil diluar serangan membesar disertai dengan hiperemi ringan yang mengenai pilar anterior dan bila tonsil ditekan keluar detritus.

2.2.2 Etiologi Etiologi berdasarkan Morrison yang mengutip hasil penyelidikan dari Commission on Acute Respiration Disease yang bekerja sama dengan Surgeon General of the Army, dimana dari 169 kasus didapatkan : 25 % disebabkan oleh Streptokokus hemolitikus yang pada masa penyembuhan tampak adanya kenaikan titer Streptokokus antibodi dalam serum penderita. 25 % disebabkan oleh Streptokokus lain yang tidak menunjukkan kenaikan titer Sreptokokus antibodi dalam serum penderita. Sisanya adalah Pneumokokus, Stafilokokus, Hemofilus influensa.(12) Ada pula yang menyebutkan etiologi terjadinya tonsilitis sebagai berikut :(10) 1. Streptokokus hemolitikus Grup A 2. Hemofilus influensa 3. Streptokokus pneumonia 4. Stafilokokus (dengan dehidrasi, antibiotika) 5. Tuberkulosis (pada immunocompromise)

2.2.3 Faktor Predisposisi 1. Rangsangan kronis (rokok, makanan) 2. Higiene mulut yang buruk
11

3. Pengaruh cuaca (udara dingin, lembab, suhu yang berubah-ubah) 4. Alergi (iritasi kronis dari alergen) 5. Keadaan umum (gizi jelek, kelelahan fisik) 6. Pengobatan tonsilitis akut yang tidak adekuat.

2.2.4 Patologi Proses keradangan dimulai pada satu atau kebih kripte tonsil. Karena proses radang berulang, maka epitel mukosa dan jaringan limfoid terkikis, sehingga pada proses penyembuhan jaringan limfoid akan diganti oleh jaringan parut. Jaringan ini akan mengerut sehingga kripte akan melebar. Secara klinis kripte ini akan tampak diisi oleh detritus (epitel yang mati, sel leukosit yang mati dan bakteri yang menutupi kripte berupa eksudat berwarna kekuning-kuningan). Proses ini meluas hingga menembus kapsul dan akhirnya timbul perlekatan dengan jaringan sekitar fossa tonsillaris. Pada anak, proses ini disertai dengan pembesaran kelenjar submandibula.

2.2.5 Manifestasi Klinis Pasien mengeluh ada penghalang di tenggorokan, terasa kering dan pernafasan berbau, rasa sakit terus menerus pada kerongkongan dan sakit waktu menelan.(6,12,14) Pada pemeriksaan, terdapat 2 macam gambaran tonsil yang mungkin tampak : 1. Tampak pembesaran tonsil oleh karena hipertrofi dan perlengketan ke jaringan sekitar, kripte yang melebar, tonsil ditutupi oleh eksudat yang purulen atau seperti keju. 2. Mungkin juga dijumpai tonsil tetap kecil, mengeriput, kadang-kadang seperti terpendam di dalam tonsil bed dengan tepi yang hiperemis, kripte yang melebar dan ditutupi eksudat yang purulen. Berdasarkan rasio perbandingan tonsil dengan orofaring, dengan mengukur jarak antara kedua pilar anterior dibandingkan dengan jarak permukaan medial kedua tonsil, maka gradasi pembesaran tonsil dapat dibagi menjadi : T0 : Tonsil masuk di dalam fossa T1 : <25 % volume tonsil dibandingkan dengan volume nasofaring T2 : 25-50% volume tonsil dibandingkan dengan volume nasofaring T3 : 50-75% volume tonsil dibandingkan dengan volume nasofaring
12

T4 : >75% volume tonsil dibandingkan dengan volume nasofaring(11)

Gambar Gradasi pembesaran tonsil

2.2.6 Diagnosis 1. Anamnesa Anamnesa ini merupakan hal yang sangat penting, karena hampir 50 % diagnosa dapat ditegakkan dari anamnesa saja. Penderita sering datang dengan keluhan rasa sakit pada tenggorok yang terus menerus, sakit waktu menelan, nafas bau busuk, malaise, sakit pada sendi, kadang-kadang ada demam dan nyeri pada leher. 2. Pemeriksaan Fisik Tampak tonsil membesar dengan adanya hipertrofi dan jaringan parut. Sebagian kripta mengalami stenosis, tapi eksudat (purulen) dapat diperlihatkan dari kripta-kripta tersebut. Pada beberapa kasus, kripta membesar, dan suatu bahan seperti keju/dempul amat banyak terlihat pada kripta. Gambaran klinis yang lain yang sering adalah dari tonsil yang kecil, biasanya membuat lekukan dan seringkali dianggap sebagai kuburan dimana tepinya hiperemis dan sejumlah kecil sekret purulen yang tipis terlihat pada kripta.

13

3. Pemeriksaan Penunjang Dapat dilakukan kultur dan uji resistensi kuman dari sediaan apus tonsil. Biakan swab sering menghasilkan beberapa macam kuman dengan derajat keganasan yang rendah, seperti Streptokokus hemolitikus, Streptokokus viridans, Stafilokokus, Pneumokokus.

2.2.7 Diagnosa Banding Diagnosa banding dari tonsilitis kronis adalah: 1. Penyakit-penyakit yang disertai dengan pembentukan pseudomembran yang menutupi tonsil (tonsilitis membranosa) a. Tonsilitis difteri Disebabkan oleh kuman Corynebacterium diphteriae. Tidak semua orang yang terinfeksi oleh kuman ini akan sakit. Keadaan ini tergantung pada titer antitoksin dalam darah. Titer antitoksin sebesar 0,03 sat/cc darah dapat dianggap cukup memberikan dasar imunitas. Gejalanya terbagi menjadi 3 golongan besar, umum, lokal dan gejala akibat eksotoksin. Gejala umum sama seperti gejala infeksi lain, yaitu demam subfebris, nyeri kepala, tidak nafsu makan, badan lemah, nadi lambat dan keluhan nyeri menelan. Gejala lokal yang tampak berupa tonsil membengkak ditutupi bercak putih kotor yang makin lama makin meluas dan membentuk pseudomembran yang melekat erat pada dasarnya sehingga bila diangkat akan mudah berdarah. Gejala akibat eksotoksin dapat menimbulkan kerusakan jaringan tubuh, misalnya pada jantung dapat terjadi miokarditis sampai dekompensasi kordis, pada saraf kranial dapat menyebabkan kelumpuhan otot palatum dan otot pernafasan dan pada ginjal dapat menimbulkan albuminuria. b. Angina Plaut Vincent (Stomatitis ulseromembranosa) Gejala yang timbul adalah demam tinggi (39C), nyeri di mulut, gigi dan kepala, sakit tenggorok, badan lemah, gusi mudah berdarah dan hipersalivasi. Pada pemeriksaan tampak membran putih keabuan di tonsil, uvula, dinding faring, gusi dan prosesus alveolaris. Mukosa mulut dan faring hiperemis. Mulut berbau (foetor ex ore) dan kelenjar submandibula membesar.

14

c. Mononukleosis Infeksiosa Terjadi tonsilofaringitis ulseromembranosa bilateral. Membran semu yang menutup ulkus mudah diangkat tanpa timbul perdarahan, terdapat pembesaran kelenjar limfe leher, ketiak dan regio inguinal. Gambaran darah khas, yaitu terdapat leukosit mononukleosis dalam jumlah besar. Tanda khas yang lain adalah kesanggupan serum pasien untuk beraglutinasi terhadap sel darah merah domba (Reaksi Paul Bunnel). 2. Penyakit kronik faring granulomatus a. Faringitis tuberkulosa Merupakan proses sekunder dari TBC paru. Keadaan umum pasien buruk karena anoreksi dan odinofagi. Pasien mengeluh nyeri hebat di tenggorok, nyeri di telinga (otalgia) dan pembesaran kelenjar limfa leher. b. Faringitis luetika Gambaran klinis tergantung dari stadium penyakit primer, sekunder atau tersier. Pada penyakit ini dapat terjadi ulserasi superfisial yang sembuh disertai pembentukan jaringan ikat. Sekuele dari gumma bisa mengakibatkan perforasi palatum mole dan pilar tonsil. c. Lepra Penyakit ini dapat menimbulkan nodul atau ulserasi pada faring kemudian menyembuh dan disertai dengan kehilangan jaringan yang luas dan timbulnya jaringan ikat. d. Aktinomikosis faring Terjadi akibat pembengkakan mukosa yang tidak luas, tidak nyeri, bisa mengalami ulseasi dan proses supuratif. Blastomikosis dapat mengakibatkan ulserasi faring yang ireguler, superfisial, dengan dasar jaringan granulasi yang lunak. Penyakit-penyakit diatas, keluhan umumnya berhubungan dengan nyeri tenggorok dan kesulitan menelan. Diagnosa pasti berdasarkan pada pemeriksaan serologi, hapusan jaringan/kultur, X ray dan biopsi.

15

2.2.8 Komplikasi Komplikasi dari tonsilitis kronis dapat terjadi secara perkontinuitatum ke daerah sekitar atau secara hematogen/limfogen ke organ yang jauh dari tonsil. 1. Komplikasi sekitar tonsil a. Peritonsilitis Peradangan tonsil dan daerah sekitarnya yang berat tanpa adanya trismus dan abses. b. Abses Peritonsilar (Quinsy) Kumpulan nanah yang terbentuk di dalam ruang peritonsil. Sumber infeksi berasal dari penjalaran tonsilitis akut yang mengalami supurasi, menembus kapsul tonsil dan penjalaran dari infeksi gigi. c. Abses Parafaringeal Infeksi dalam ruang parafaring dapat terjadi melalui aliran getah

bening/pembuluh darah. Infeksi berasal dari daerah tonsil, faring, sinus paranasal, adenoid, kelenjar limfe faringeal, mastoid dan os petrosus. d. Abses retrofaring Merupakan pengumpulan pus dalam ruang retrofaring. Biasanya terjadi pada anak usia 3 bulan sampai 5 tahun karena ruang retrofaring masih berisi kelenjar limfe. e. Krista Tonsil Sisa makanan terkumpul dalam kripta mungkin tertutup oleh jaringan fibrosa dan ini menimbulkan krista berupa tonjolan pada tonsil berwarna putih/berupa cekungan, biasanya kecil dan multipel. f. Tonsilolith (kalkulus dari tonsil) Terjadinya deposit kalsium fosfat dan kalsium karbonat dalam jaringan tonsil membentuk bahan keras seperti kapur. 2. Komplikasi ke organ jauh a. Demam rematik dan penyakit jantung rematik b. Glomerulonefritis c. Episkleritis, konjungtivitis berulang dan koroiditis d. Psoriasis, eritema multiforme, kronik urtikaria dan purpura e. Artritis dan fibrositis
16

2.2.9 Penatalaksanaan Pengobatan pasti untuk tonsilitis kronis adalah pembedahan pengangkatan tonsil. Tindakan ini dilakukan pada kasus-kasus dimana penatalaksanaan medis atau yang konservatif gagal untuk meringankan gejala-gejala. Penatalaksanaan medis termasuk pemberian penisilin yang lama, irigasi tenggorokan sehari-hari dan usaha untuk membersihkan kripta tonsillaris dengan alat irigasi gigi/oral. Ukuran jaringan tonsil tidak mempunyai hubungan dengan infeksi kronis/berulang. Tonsilektomi merupakan suatu prosedur pembedahan yang diusulkan oleh Celsus dalam De Medicina (10 Masehi), tindakan ini juga merupakan tindakan pembedahan yang pertama kali didokumentasikan oleh Lague dari Rheims (1757) Indikasi untuk dilakukan tonsilektomi yaitu Obstruksi : - Hiperplasia tonsil dengan obstruksi. - Sleep apnea atau gangguan tidur. - Kegagalan untuk bernafas. - Corpulmonale. - Gangguan menelan. - Gangguan bicara. - Kelainan orofacial / dental yang menyebabkan jalan nafas sempit. Infeksi - Tonsilitis kronika / sering berulang. - Tonsilitis dengan : + Absces peritonsilar. + Absces kelenjar limfe leher. + Obstruksi Akut jalan nafas. + Penyakit gangguan klep jantung. - Tonsilitis yang persisten dengan : + Sakit tenggorok yang persisten. - Tonsilolithiasis Carrier Streptococcus yang tidak respon terhadap terapi. - Otitis Media Kronika yang berulang.
17

Neoplasia atau suspek neoplasia benigna / maligna.

Indikasi tonsilektomi secara garis besar terbagi 2, yaitu : 1. Indikasi absolut a. Tonsilitis akut/kronis berulang-ulang b. Abses peritonsillar c. Karier Difteri d. Hipertrofi tonsil yang menutup jalan nafas dan jalan makanan e. Biopsi untuk menentukan kemungkinan keganasan f. Cor Pulmonale 2. Indikasi relatif a. Rinitis berulang-ulang b. Ngorok (snoring) dan bernafas melalui mulut c. Cervical adenopathy d. Adenitis TBC e. Penyakit-penyakit sistemik karena Streptokokus hemolitikus: demam rematik. Penyakit jantung rematik, nefritis, dll. f. Radang saluran nafas atas berulang-ulang g. Pertumbuhan badan kurang baik h. Tonsil besar i. Sakit tenggorokan berulang-ulang j. Sakit telinga berulang-ulang

Secara umum dapat disebutkan indikasi tonsilektomi adalah: 1. Infeksi berulang : 3 kali dalam setahun selama 3 tahun, 5 kali setahun selama 2 tahun, 7 kali atau lebih dalam setahun atau tidak masuk kerja/sekolah lebih dari 2 minggu dalam 1 tahun karena penyakitnya itu. 2. Hipertrofi sehingga menyebabkan obstruksi saluran nafas atas (obstruksi,sleep apnea) 3. Abses peritonsilar 4. Kemungkinan keganasan, baik pembesaran unilateral atau mencari sumber primer yang tidak dikeahui
18

5. Hipertrofi yang menyebabkan masalah pencernaan 6. Tonsilitis rekuren yang menyebabkan kejang demam 7. Karier difteri

Sedangkan kontraindikasi dari tonsilektomi adalah : 1. Kontraindikasi relatif a. Palatoschizis b. Radang akut, termasuk tonsilitis c. Poliomyelitis epidemica d. Umur kurang dari 3 tahun 2. Kontraindikasi absolut a. Diskariasis darah, leukemia, purpura, anemia aplastik, hemofilia b. Penyakit sistemis yang tidak terkontrol : DM, penyakit jantung, dan sebagainya.

19

DAFTAR PUSTAKA

1. Rubin MA, Gonzales R, Sande MA. 2005. Infections of the Upper Respiratory Tract. th Harrison's Principle of Internal Medicine. 16 ed. New York, NY: McGraw Hill. 2. Rusmarjono, Soepardi EA.2001. Penyakit dan kelainan tonsil dan Faring. Buku Ajar Ilmu THT. Jakarta : Balai Penerbit FKUI 3. Nave H, Gebert A, Pabst. 2001. Morphology and immunology of the human palatine tonsil. Anatomy Embryology 2004: 367-373. 4. Byron J., 2001. Laringology. Head and Neck Surgery-Otolaryngology 3rd Edition, New York : Lippincott Williams and Wilkins (CD-ROM). 5. Seeley, Stephens, Tate. 2004. The Special Senses. Anatomy and Physiology, Ch.15, 6th Ed. The McGrawHill Companies, New York 6. Nurjanna Z, 2011. Karakteristik Penderita Tonsilitis Kronis di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2007-2010. USU Institutonal Repository. [Accessed from:

http://repository.usu.ac.id/] 7. Amarudin, Tolkha et Anton Christanto. 2005. Kajian Manfaat Tonsilektomi, Cermin Dunia Kedokteran. [Available from : http://www.cerminduniakedoteran.com] 8. Dedya, et. Al. Tonsilitis Kronis Hipertrofi dan Obstructive Sleep Apnea (OSA) Pada Anak. Bagian/Smf Ilmu Penyakit Tht Fk Unlam. 2009. 9. Derake A, Carr MM. Tonsillectomy. Dalam : Godsmith AJ, Talavera F, Allen Ed. EMedicine.com.inc.2002 : 1 - 10

20