Anda di halaman 1dari 20

PRESANTASE KASUS

ILMU PENYAKIT THT


Rhinofaringitis et. Causa virus

Dokter Pembimbing :
Dr. Andriana Sp, THT, Msi, Med.
Disusun Oleh :
Ellen Seprilia Sujiman
11.2013.251

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT THT


FAKULTAS KEDOKERAN UNIVERSITAS
KRISTEN KIDA WACANA
RUMAH SAKIT PANTI WILASA, DR.CIPTO
SEMARANG
PERIODE 19 MEI-21 JUNI 2014

LAPORAN KASUS
KEPANITERAAN KLINIK
BAGIAN ILMU KESEHATAN THT
RUMAH SAKIT PANTI WILASA DR. CIPTO
SEMARANG
Nama

: Ellen Seprilia Sujiman

NIM

: 11.2013.251

Dr. Pembimbing

: Dr. Andriana Sp. THT, MSi Med

1.

Tanda Tangan

IDENTITAS PASIEN

Nama lengkap : Nn. NR

Jenis kelamin : Perempuan

Usia : 24 tahun

Agama : Islam

Pendidikan: SMU

Pekerjaan : Karyawan

Status Pernikahan : Belum Menikah

Alamat : Purnasari Raya RT 7/2

2.

ANAMNESIS
Autoanamnesis dilakukan pada tanggal 3 Juli 2014, pukul 09.30 WIB
Keluhan utama : Sakit Tenggorokan 2 hari SMRS
Keluhan tambahan : Demam, pusing, badan lemas, pilek.
Riwayat Penyakit Sekarang (RPS):
Sepuluh hari SMRS pasien awalnya merasa badannya demam tinggi. Pasien
sudah berobat ke klinik dan dikasih obat penurun demam.. Pasien juga merasakan
kepala pusing dan badan terasa lemas. Pasien juga megatakan kalau merasa pilek,
dimana pasien mengatakan ingusnya encer dan bening.
Dua hari SMRS pasien merasakan nyeri pada tenggerokannya. pasien
mengatakan sudah berobat lagi, tapi tidak ada perubahan. Pasien juga mengaku kalau
nafsu makannya menurun, karena nyeri pada saat menelan, sehingga membuat berat
badannya turun.
Kerika ditanya lebih lanjut lagi pasien mengaku, kalau setiap pulang kerja
pasien cepat merasa kelelah dan demamnya mulain naik lagi. Pasien mengatakan
sebelumnya bulum pernah seperti ini.
2

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat alergi obat (-), asma (-), maag (-), hipertensi(-), diabetes mellitus(-)
Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat penyakit serupa (-), alergi (-), asma(-), maag (-), hipertensi(-), diabetes
mellitus (-)
3.

PEMERIKSAAN OBYEKTIF
Status Generalis
Keadaan umum : Baik

4.

Kesadaran

: Compos mentis

Status Gizi

: Cukup

Nadi

: 84 x/menit

Tensi

: Tidak dilakukan

RR

: 20 x/menit

Suhu

: Tidak dilakukan

Ekstremitas

: akral hangat +/+/+/+, udem -/-/-/-

PEMERIKSAAN FISIK
TELINGA
Kanan

Kiri

Bentuk daun telinga

Normotia

Normotia

Kelainan congenital

tidak ditemukan

tidak ditemukan

Tumor/tanda
peradangan

tidak ditemukan

tidak ditemukan

- preaurikuler

tidak ditemukan

tidak ditemukan

- retroaurikuler
Nyeri tekan tragus

(-)

(-)

Penarikan daun telinga

(-)

(-)

Liang Telinga

CAE lapang, serumen (-), CAE lapang, serumen (-), Hiperemis


Hiperemis (-)

(-)

Dalam batas normal, MT

Dalam batas normal, MT

Intak,hyperemi(-),

Intak,hyperemi(-),

kesuraman(-),retraksi(-),rel

kesuraman(-),retraksi(-),releks

eks cahaya (+) jam 5

cahaya (+) jam 7

- Rinne

positif

positif

- Weber

tidak ada lateralisasi

tidak ada lateralisasi

sama dengan pemeriksa

sama dengan pemeriksa

Membran timpani

Tes Penala:

- Swabach

Kesan : Tidak ada kelainan pada kedua telinga ADS dalam batasan normal
HIDUNG DAN SINUS PARANASAL
Bentuk

: Normal.tidak tampak deviasi atau depresi tulang

hidung
Tanda peradangan

: Hiperemis(-),panas(-),nyeri(-),bengkak(-)

Vestibulum

: Hiperemis -/- secret +/+

Cavum nasi

: Lapang +/+,oedem -/-,hiperemi -/-

Konka inferior kanan/kiri

: oedem +/+ hiperemis +/+

Konka medius kanan/kiri

: oedem -/- hiperemis -/-

Meatus nasi medius kanan/kiri : secret +/+


Septum nasi

: Tidak ada deviasi

Pasase udara

: sumbatan -/-

Daerah sinus frontalis

: Nyeri tekan(-),nyeri ketuk (-)

Daerah sinus maxilaris

: Nyeri tekan (-),nyeri ketuk(-)


4

NASOFARING (RHINOSKOPI POSTERIOR) : tidak dilakukan


Koana

:-

Septum nasi superior

:-

Muara tuba Eustachius

:-

Torus rubarius

:-

Konka inferior & media

:-

Dinding posterior

:-

PEMERIKSAAN TRANSMULASI
Sinus frontalis,grade :
Sinus Maxilaris,grade :

Kanan
-

Kiri
-

TENGGOROK
Faring
Dinding faring

: hiperemis (+),granular(+), mukosa berbenjol-benjol

Arkus faring

: simetris, edema (-)

Tonsil

: Ukuran
Hiperemis

: T1/T1
: +/+

Permukaan mukosa granular dan tidak rata : -/Kripta melebar

: -/-

Detritus

: -/-

Perlengketan

: -/-

Uvula

: letak ditengah,hiperemis(-),oedem(-)

Gigi geligi

: Lengkap,karies (-)

Lain-lain

: Post nasal drip(-)

LARING (LARINGOSKOPI) : tidak dilakukan


Epiglotis

:-

Plica aryepligotis

:-

Arytenoid

:-

Plika Ventrikularis

:-

Pita suara asli

:-

Rima Glotis

:5

Cincin Trakea

:-

Sinus piriformis

:-

Leher
Kelenjar submandibular

: tidak teraba membesar

Kelenjar servikal

: tidak teraba membesar

Maksilo-Fasial

5.

Deformitas/hematom

: tidak ada

Parese saraf otak

: tidak ada

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Belum ada pemeriksaan penunjang yang dilakukan

6.

RESUME
Nn. NR usian 24 tahun datang ke poli THT dengan keluhan nyeri tenggerokan 2 hari
SMRS. Nyeri dirasakan pada saat menelean dan membuat nafsu makannya menurun.
Sepuluh hari sebelum tenggerokannya sakit pasien awalnya hanya sakit demam dan
pilek. Pasien mengatakan sudah berobat tapi tidak ada perubahan.
Dari hasil pemeriksaan fisik ditemukan :
Faring

: hiperemis (+),granular(+), mukosa berbenjol-benjol

Tonsil

: Ukuran
Hiperemis

: T1/T1
: +/+

Permukaan mukosa granular dan tidak rata : -/-

Lain-lain
7.

Kripta melebar

: -/-

Detritus

: -/-

:-

DIAGNOSIS BANDING
Rhinofaringitis akut et.causa bakteri
Rhinofaringitis merupakan iritasi pada mukosa hidung, dan dimana terdapat peradanag
pada faring, yang biasa disebabkan oleh bakteri grup A streptokokus hemolitikus.
Pada pemeriksaan pasien ditemukan mukosa faring hiperemis, tonsil besar, dan terdapat
eksuda. Pasien juga mengalami nyeri kepala hebat, mual, kadang-kadang disertai
demam dengan suhu yang tinggi.
6

8.

DIAGNOSIS KERJA
Rhinofaringitis akut et.causa Virus
Rhinofaringitis adalah merupakan iritasi pada mukosa hidung, dan dimana terdapat
peradangan pada faring, yang biasa disebabkan oleh Coxsachievirus dan Epstain Barr
Virus (EBV). Pada pemeriksaan ditemukan pada hidung terdapat pembengkakan konka
dan banyak seret, dan pada faring terdapat mukosanya hiperemis.

9.

USULAN PEMERIKSAAN PENJUNJANG


Pemeriksaan laboraturium berupa kultur tenggorokan dan rontagen (CT-scan)

10.

PENATALAKSANAAN
Medika mentosa :
1. Sanmol tablet 500 mg 3x1
2. Flamar 50 mg 3x1
3. Isoprenosine 500 mg 1x1

11.

ANJURAN
1. Istirahat yang cukup
2. Banyank minum air
3. Jangan lupa minum vitamin buat daya tahan tubuh
4. Kontrol ke poliklinik THT

12.

PROGNOSIS
Ad vitam

: Ad bonam

Ad fungsionam : Ad bonam

Anatomi hidung 1
Hidung secara anatomi dibagi menjadi dua bagian, yaitu hidung bagian luar (nasus
eksterna) dan rongga hidung (nasus interna atau kavum nasi).
Nasus eksterna. Bagian hidung yang paling menonjol ke depan, disebut ujung hidung
(apeks nasi). Pangkal hidung disebut radiks nasi. Bagian hidung mulai dari radiks sampai
apeks nasi disebut dorsum nasi. Lubang hidung (nares anterior) kanan dan kiri dipisahkan
7

oleh sekat yang disebut kolumela. Di sebelah lateral nares dibatasi oleh ala nasi kanan dan
kiri.
Arteri karotis eksterna dan interna memberikan aliran darah ke nasus eskterna. Aliran
darah balik dialirkan melalui vena fasialis anterior yang berjalan bersama arteri maksilaris
eksterna. Aliran getah bening dari nasus eksterna melalui pembuluh getah bening yang
mengikuti jalannya vena fasialis anterior ke limfonoduli submaksila. Kemudian mengadakan
anastomosis dengan pembuluh-pembuluh getah bening dari rongga hidung.
Persarafan nasus eksterna adalah oleh cabang dari n. trigeminus, yaitu n. oftalmikus
yang mempunyai 3 cabang, yaitu n. etmoidalis anterior, n. suprakoklearis, dan n.
infrakoklearis. Cabang lain adalah n. maksilaris, melalui cabang-cabang dari n. infraorbitalis.
Rongga hidung (kavum nasi). Rongga hidung dibagi dua bagian, kanan dan kiri di
garis median oleh septum nasi sekaligus menjadi dinding medial dari rongga hidung.
Kerangka septum dibentuk oleh lamina perpendikularis tulang etmoid (superior), kartilago
kuadrangularis (anterior), tulang vomer (posterior), dan krista maksila dan krista palatine
(bawah) yang menghubungkan septum dengan dasar rongga hidung.
Di bagian anterior septum nasi terdapat bagian yang disebut Area Little, merupakan
anyaman pembuluh darah yaitu Pleksus Kiesselbach. Tempat ini mudah terkena trauma dan
menyebabkan epistaksis. Di bagian anterokaudal, septum nasi mudah digerakkan.
Ke arah belakang rongga hidung berhubungan dengan nasofaring melalui sepasang
lubang yang disebut koane berbentuk bulat lonjong (oval), sedangkan kea rah depan rongga
hidung berhubungan dengan dunia luar melalui nares.
Atap rongga hidung bentuknya kurang lebih menyerupai busur yang sebagian besar
dibentuk oleh lamina kribosa tulang etmoid. Di sebelah anterior, bagian ini dibentuk oleh
tulang frontal dan sebelah posterior oleh tulang sphenoid. Melalui lamina kribosa keluar
ujung-ujung saraf olfaktoria menuju mukosa yang melapisi bagian teratas dari septum nasi
dan permukaan kranial dari konka nasi superior. Bagian ini disebut region olkfaktoria.
Dinding lateral rongga idung dibentuk oleh konka nasi dan meatus nasi. Konka nasi
merupakan tonjolan-tonjolan yang memanjang dari anterior ke posterior dan mempunyai
rangka tulang. Meatus nasi terletak di bawah masing-masing konka nasi dan merupakan
bagian dari hidung.
8

Konka nasi. Dalam kavum nasi terdapat 3 pasang konka nasi, yaitu konka nasi
inferior, konka nasi medius dan konka nasi superior. Konka nasi inferior merupakan konka
yang terbesar di antara ketiga konka nasi. Mukosa yang melapisinya tebal dan mengandung
banyak pleksus vena, dan membentuk jaringan kavernosus. Rangka tulangnya melekat pada
tulang palatine, etmoid, maksila, dan lakrimal.
Konka nasi media adalah yang kedua setelah konka inferior. Terletak di antara konka
inferior dan konka superior. Mukosa yang melapisinya sama dengan yang melapisi konka
nasi inferior. Rangka tulangnya merupakan bagian dari tulang etmoid. Kadang-kadang di
dalam konka media terdapat sel sehingga konka menjadi besar dan menutup meatus nasi
media yang disebut konka bulosa.
Konka nasi superior merupakan konka yang paling kecil. Mukosa yang melapisinya
jauh lebih tipis dari kedua konka lainnya. Rangka tulangnya juga merupakan bagian dari
tulang etmoid. Kadang-kadang didapatkan konka nasi suprema yang merupakan konka nasi
yang keempat. Jika ada, konka suprema ini sangat kecil dan sebenarnya merupakan bagian
dari konka superior yang membelah menjadi dua bagian.
Meatus nasi. Meatus nasi inferior merupakan celah yang terdapat di bawah konka
inferior. Dekat ujung anteriornya terdapat ostium (muara) duktus nasolakrimalis. Muara ini
sering kali dilindungi oleh lipatan mukosa yang disebut katup dari Hasner (plika lakrimalis
Hasner). Meatus nasi media terletak di antara konka inferior dan konka media. Ostium sinus
adalah lubang penghubung sinus paranasal dan kavum nasi, berfungsi sebagai ventilasi dan
sinus paranasal sebagian besar terletak di meatus media.
Persarafan oleh n, infraorbitalis dan nn. Alveolaris superior anterior, medius dan
posterior. Ketiga saraf alveolaris superior ini juga mmebawa persarafan snesorik gigi geligi
rahang atas. 1,2
Aliran darah rongga hidung. Arteri yang memasok darah ke dinding lateral rongga
hidung adalah A. etmoid anterior, a. etmoid posterior, dan a. sfenopalatina. Arteria yang
memberikan darah pada septum nasi adalah cabang a. etmoid anterior dan posterior, a.
nasopalatina, a. palatine mayor dan cabang septal a. labialis superior. Di bagian depan septum
beberapa arteri membentuk pleksus Kiesselbach. 1,2
Urat saraf rongga hidung. Inervasi dari rongga hidung oleh n. trigeminus yang
memberikan cabang-cabang: n. oftalmikus dan n. maksilaris. Aliran getah bening rongga
9

hidung. Getah bening dari bagian posterior rongga hidung dialirkan ke dalam kelenjar limfe
retrofaring dan servikal profunda, sedangkan dari bagaian anteriornya ke kelenjar submaksila.
1,2

Fisiologi Hidung
Berdasarkan teori structural, teori revolusioner dan teori fungsional, maka fungsi
fisiologis hidung dan sinus paranasal adalah: 1) fungsi respirasi untuk mengatur kondisi udara
(air conditioning), penyaring udara, humudifikasi, penyeimbangan dalam penukaran tekanan
dan mekanisme imunologik local; 2) fungsi penghidu, karena terdapatnya mukosa olfaktorius
(penciuman) dan reservoir udara untuk menampung stimulus penghidu; 3) fungsi fonetik
yang berguna untuk resonasi suara, membantu proses berbicara dan mencegah hantaran suara
sendiri melalui konduksi tulang; 4) fungsi statistic dan mekanik untuk meringankan beban
kepala, proteksi terhadap trauma dan pelindung panas; 5) reflex nasal. 3

Anatomis dan Fisiologi Faring


Faring adalah suatu kantong fibromuskular yang bentuknya seprti corong, yang besar
dibagian atas dan sempit dibagian bawah. Kantong ini mulai dari dasar tengkorak terus
menyambung ke esophagus setinggi vertebra servikal ke-6. Ke atas, faring berhubungan
dengan hidung melalui koana, ke depan berhubungan dengan rongga mulut melalui ismus
orofaring, sedangkan dengan laring dan ke bawah berhubungan melalui aditus laring dan ke
bawah berhubungan dengan esophagus. Panjang dinidng [osterior faring pada orang dewasa
kurang lebih 14 cm, bagian ini merupakan bagian dinding faring yang terpanjang. Dinidng
faring dibentuk oleh (dari dalam keluar) selaput lender, fasia faringobasilier, pembungkus
otot dan sebagian fasia bukofaringeal. Faring terbagi atas nasofaring, orofaring, dan
laringofaring (hipofaring). Unsur-unsur faring meliputi mukosa, palut lender (mucous
blanket) dan otot. 3
Mukosa faring bervariasi, tergantung pada letaknya. Pada nasofaring karena fungsinya
untuk saluran respirasi, maka mukosanya bersilia, sedangkan epitelnya torak berlapis yang
mengandung sel goblet. Di bagian bawahnya, yaitu orofaring dan laringofaring, karena
fungsinya untuk saluran cerna, epitelnya gepeng berlapis dan tidak bersilia.

10

Disepanjang faring dapat ditemukan banyak sel jaringan limfoid yang terletak dalam
rangkaian jaringan ikat yang termasuk dalam system retikuloendotelial. Oleh karena itu
faring dapat disebut juga daerah pertahanan tubuh terdepan. 3
Palut lendir (Mucous Blanket)
Daerah nasofaring dilalui oleh udara pernafasan yang diisap melalui hidung. Dibagain
atas, nasofaring ditutupi oleh palut lendir yang terletak diatas silia dan bergerak sesuai
dengan arah gerak silia ke belakang. Palut lendir ini berfungsi untuk menangkap partikel
kotoran yang terbawa oleh udara yang diisap. Palut lendir ini mengandung enzim lysozyme
yang penting untuk proteksi. 3
Otot
Otot-otot faring tersusun dalam lapisan melingkar (sirkular) dan memanjang
(longitudianal). Otot-otot yang sirkular terdiri dari m.kostriktor faring superior, m.konstrikor
faring media, m.konstriktor faring inferior. Otot-otot ini terletak di sebelah luar. Otot-otot ini
berbentuk kipas dengan tiap bagian bawahnya menutup sebagian otot bagian atasnya dari
belakang. Di sebelah depan, otot-otot ini bertemu pada jaringan ikat yang disebut rafe
faring (raphe pharyngis). Kerja otot konstriktor untuk mengecilkan lumen faring. Otot-otot
ini dipersarafi oleh n.vagus (n.X). 3
Otot-otot yang longitudinal adalah m.stilofaring dan m.palatofaring. letak otot-otot ini
disebalah dalam. M.stilofaring gunanya untuk melebarkan faring dan menarik laring,
sedangkan m.palatofaring mempertemukan ismus orofaring dan menaikkan bagian bawah
faring dan laring. Jadi kedua otot ini berkerja sebagai elevator. Kerja kedua otot itu penting
pada waktu menelan. M.stilofaring dipersarafi oleh n.IX sedangkan m.palatofaring
dipersarafi oleh n.X. 3
Pada palatum mole terdapat lima pasang otot yang dijadikan satu dalam satu sarung fasia dari
mukosa yaitu, m.levator veli palatine, m.tensor veli palatine, m.palatoglosus m.palatofaring,
m.azigos uvula.
M.levator veli palatine membentuk sebagian besar palatum mole dan kerjanya untuk
menyempitkan ismus faring dan memperlebar ostium tuba Eustachius. Otot ini dipersarafi
oleh n.X. 3

11

M.tensor veli palatine membentuk tenda palatum mole dan kerjanya untuk
mengencangkan bagian anterior palatume mole dan membuka tuba Eustachius. Otot ini
dipersarafi oleh n.X.
M.palatoglosus membentuk arkus anterior faring dan kerjanya menyempitkan ismus
faring. Otot ini dipersarafi oleh n.X.
M.palatofaring membentuk arkus posterior faring. Otot ini dipersarafi oleh n.X.
M.azigos uvula merupakan otot yang kecil, kerjanya memperpendek dan menaikkan uvula
kebelakang atas. Otot ini dipersarafi oleh n.X. 3,4
Pendarahan
Faring mendapat darah dari beberapa sumber dan kadang-kadang tidak beraturan.
Yang utama berasal dari cabang a.karotis eksterna (cabang faring asendens dan cabang fasial)
serta dari cabang a.maksila interna yakni cabang palatine superior..
Persarafan
Persarafan motoric dan sensorik daerah faring berasal dari pleksus faring yang
ekstensif. Pleksus ini dibentuk oleh cabang faring dan n.vagus, cabang dari n.glosofaring dan
serabut simpais. Cabang faring dari n.vagus berisi serabut motoric. Dari pleksus faring yang
ekstensif ini keluar cabang-cabang untuk otot-otot faring kecuali m.stilofaring yang
dipersarafi langsung oleh cabang n.glosofaring (n.IX). 4
Kelenjar getah bening
Aliran limfe dari dinding faring dapat melalui 3 saluran, yakni superior, media, dan
inferior. Saluran limfe superior mengalir ke kelenjar getah bening retrofiring dan kelenjar
getah bening servikal dalam atas. Saluran limfe media mengalir ke kelenjar getah bening
jugulo digastik dan kelenjar servikan dalam atas, sedangkan saluran limfe inferior mengalir
ke kelenjar getah bening servikal dalam bawah: 3
Berdasarkan letak faring dibagi atas: 1,2
1. Nasofaring
Batas nasofaring dibagian atas adalah dasar tengkorak, di bagian bawah adalah
palatum mole, ke depan adalah rongga hidung sedangkan ke belakang adalah vertebra
servikal.
12

Nasofaring yang relative kecil, mengandung serta berhubungan erat dengan beberapa
struktur penting, seperti adenoid, jaringan limfoid pada dinding lateral faring dengan
resesus faring yang disebut fosa Rosenmuller, kantong Rathke, yang merupakan
invaginasi struktur embrional hipofisis serebri, torus tubarius, suara refleksi mukosa
faring di atas penonjolan kartilago tuba Eustachius, koana, foramen jugelare, yang
dilalui oleh n.glosofaring, n.vagus, dan n.asesorius spinal saraf kranial dan v.jugularis
interna, bagian petrosus os temporalis dan foramen laserum dan muara tuba
eustachius.

2. Orofaing
Orofaring disebut juga mesofaring, dengan batas atanya palatum mole, batas bawah
adalah tepi atas epiglottis, ke depan adalah rongga mulut, sedangkan ke belakang
adalah vertebra servikal.
Struktur yang terdapat di rongga orofaring adalah dinding posterior faring, tonsil
palatine, fosa tonsil serta arkus faring anterior dan posterior, uvula, tonsil lingual dan
foramen sekum. 4

Diding posterior faring


Secara klinik dinding posterior faring penting karena ikut terlibat pada radang akut
atau radang kronik faring, abses retrofaring, serta gangguan otot-otot di bagian tersebut.
Gangguan otot posterior faring bersama-sama dengan otot palaum mole berhubungan dengan
gangguan n.vagus.

Fosa Tonsil 3,4


Fosa tonsil dibatasi oleh arkus faring anterior dan posterior. Batas lateralnya adalah
m.konsriktor faring superior. Pada batas yang disebut katub atas (upper pole) terdapat suatu
ruang kecil yang dinamakan fosa supra tonsil. Fosa ini berisi jaringan ikat jarang dan
biasanya merupakan tempat nanah memecah ke luar bila terjadi abses. Fosa tonsil diliputi
oleh fasia yang merupakan bagian dari fasia bukofaring, dan disebut kapsul yang sebenarnya
bukan merupakan kapsul yang sebenarnya.
Tonsil
13

Tonsil adalah masa yang terdiri dari jaringan limfoid dan ditunjang oleh jaringan ikat
dengan kriptus di dalamnya.
Terdapar 3 macam tonsil yaitu tonsil faringal (adenoid), tonsil palatine dan tonsil
lingual yang ketiga-tiga membentuk lingkaran yang disebut cincin Waldeyer. Tonsil palatine
yang biasanya disebut tonsil saja terletak di dalam fosa tonsil. Pada katub atas tonsil
seringkali ditemukan celah intratonsil yang merupakan sisa kantong faring yang kedua. Katub
bawah tonsil biasanya melekat pada dasar lidah. Permukaan medial tonsil bentuknya
beraneka ragam dan mempunyai celah yang disebut kriptus biasanya ditemukan leukosit. Di
dalam kriptus biasanya ditemukan leukosit, limfosit, epitel yang terlepas, bakteri dan sisa
makanan. Permukaan lateral tonsil melekat pada fasia faring yang sering juga disebut kapsul
tonsil. Kapsul ini tidak melekat erat pada otot faring, sehingga mudah dilakukan diseksi pada
tonsilektomi. Tonsil mendapat darah dari a.palatina minor, a.palatina asendens, cabang tonsil
a.maksila ekterna, a.faring asendens dan a.lingualis dorsal. Tonsil lingual terletak didasar
lidah dan dibagi menjadi dua oleh ligamentum glosoepiglotika. Di garis tengah, disebelah
anterior massa ini terdapat foramen sekum pada apeks, yaitu sudut yang terbentuk oleh
papilla sirkumvalata. Tempat ini kadang-kadang menunjukkan perjalan duktus tiroglosus dan
secara klinik merupakan tempat penting bila ada massa tiroid lingual atau kista tiroglosus.
3. Laringofaring (Hipofaring)
Batas laringofaring disebelah superior adalah tepi atas epiglottis, batas anterior ialah
laring, batas inferior ialah esophagus serta batas posterior ialah vertebra servikal. Bila
laringofaing diperiksa laring tidak langusng atau dengan laringoskop pada
pemeriksaan laring langusng, maka struktur pertama yang tampak dibawah dasar
lidah ialah valekula. Bagian ini merupakan dua buah cekungan yang dibentuk oleh
ligamentum glosoepiglotika medial dan lagamentum glosoepiglotika lateral pada tiap
sisi. Valekula disebut juga kantong pil (pill pockets), sebab pada beberapa orang,
kadang-kadang bila menelan pil akan tersangkut dibagian tersebut.
Dibawah valekula terdapat epiglottis. Pada bayi epiglottis ini berbentuk omega dan
pada perkembangannya akan lebih melebar, meskipun kadang-kadang bentuk infantile
(bentuk omega) ini tetap sampai dewasa. Dalam perkembangannya, epiglotis ini dapat
menjadi demikian lebar dan tipisnya sehingga pada pemeriksaan laringoskopi tidak
langsung tampat menutupi pita suara. Epiglotis berfungsi juga untuk melindungi
(proteksi) glottis ketika menelan minuman atau bolus makanan, pada saat bolus
tersebut menuju ke sinus piriformis dan ke esophagus.
14

Nervus laring superior berjalan di bawah dasar sinus piriformis pada tiap sisi
laringofaring. Hal ini penting untuk diketahui pada pemberian analgesia local di
faring dan laring pada tindakan laringoskopi langsung.

3,4

Fungsi Faring 3,4


Fungsi faring yang terutama ialah untuk respirasi, pada waktu menelan, resonansi suara dan
untuk artikulasi.
Fungi menelan
Terdapat 3 fase dalam proses menelan yaitu fase oral, fase faringal, fase esofagal.
Fase oral, bolus makanan dari mulut menuju ke faring. Gerekan disini disengaja (voluntary).
Fase faringal yaitu pada waktu transport bolus makanan melalui faring. Gerakan disini tidak
sengaja (involuntary). Fase esofagal, disini gerakannya tidak disengaja, yaitu pada waktu
bolus makanan bergerak secara peristaltic di esophagus menuju lambung.
Fungsi faring dalam proses bicara
Pada saat berbicara dan menelan terjadi gerakan terpadu dari otot-otot palatum dan
faring. Gerakan ini Antara lain berupa pendekatan palatume mole kea rah dinding belakang
faring. Gerakan penutupan ini terjadi sangat cepat dan melibatkan mula-mula
m.salpingofaring dan m.paltofaring, kemudia m.levator veli palatine bersama-sama
m.konstriktor faring superior. Pada gerakan penutupan nasofaring m.levator veli palatine
menarik palatum mole ke atas belakang hamper megenai dinding posterior faring. Jarak yang
tersisa ini diisi oleh tonjolan (fold of) Passavant pada dinding belakang faring yang terjadi
akibat 2 macam mekanisme, yaitu pengangkatan faring sebagai hasil gerakan m.palatofaring
(bersama m.salpingofaring) dan oleh kontraksi aktif m.konstriktor faring superior. Mungkin
gerakan ini bekerja tidak pada waktu yang bersamaan.

Diagnosis 3-5
Rhinitis Vasomotor
Definisi : terdapatnya gangguan fisiologik lapisan mukosa hidung yang disebabkan oleh
bertambahnya aktivitas parasimpatis.
Etiologi : belum diketahui pasti, tapi diduga adanya gangguan keseimbangan vasomotor.
15

Faktor-faktor yang mempengaruhi keseimbangan vasomotor antara lain:


a. Obat-obatan yang menekan dan menghambat kerja saraf simpatis, seperti: obat
anti hipertensi, kontrasepsi oral, dll.
b. Faktor fisik, seperti iritasi oleh asap rokok, udara dingin, udara lembab, bau
yang merangsang, makanan yang pedas dan panas.
c. Faktor endokrin, seperti keadaan kehamilan, pubertas, hipotiroidisme.
d. Faktor psikis, seperti rasa cemas, tegang.
Manifestasi klinis :
a. Hidung tersumbat, bergantian kiri kanan.
b. Rinore mucus/serus
c. Konka warna merah gelap/pucat
d. Konka dapat licin/berbenjol
Patogenesis & Patofisiologis :
Gangguan keseimbangan vasomotor yang dipengaruhi oleh beberapa factor (obatobatan, fisik, endokrin, psikis). Gangguan keseimbangan tersebut dapat merangsang saraf
otonom yang ada di mukosa hidung (n. Vidianus), sehingga terjadi penurunan aktivitas saraf
simpatis dan peningkatan aktivitas saraf parasimpatis. Sistem saraf otonom mengontrol suplai
darah ke dalam mukosa nasal dan sekresi mukus. Diameter dari arteri hidung diatur oleh saraf
simpatis sedangkan saraf parasimpatis mengontrol sekresi glandula dan mengurangi tingkat
kekentalannya, serta menekan efek dari pembuluh darah kapasitan (kapiler). Efek dari
hipoaktivitas saraf simpatis atau hiperaktivitas saraf parasimpatis bisa berpengaruh pada
pembuluh darah tersebut yaitu menyebabkan terjadinya peningkatan edema interstisial dan
akhirnya terjadi kongesti yang bermanifestasi klinis sebagai hidung tersumbat. Aktivasi dari
saraf parasimpatis juga meningkatkan sekresi mukus yang menyebabkan terjadinya rinorea
yang eksesif.
Penatalaksanaan :
1. Menghindari penyebab / pencetus ( Avoidance therapy )
2. Pengobatan konservatif ( Farmakoterapi ) :
- Dekongestan atau obat simpatomimetik digunakan untuk mengurangi keluhan hidung
tersumbat. Contohnya : Pseudoephedrine dan Phenylpropanolamine ( oral ) serta
-

Phenylephrine dan Oxymetazoline (semprot hidung ).


Anti histamin : paling baik untuk golongan rinore.
Kortikosteroid topikal mengurangi keluhan hidung tersumbat, rinore dan bersin-bersin
dengan menekan respon inflamasi lokal yang disebabkan oleh mediator vasoaktif.
Biasanya digunakan paling sedikit selama 1 atau 2 minggu sebelum dicapai hasil yang

16

memuaskan. Contoh steroid topikal : Budesonide, Fluticasone, Flunisolide atau


-

Beclomethasone
Anti kolinergik juga efektif pada pasien dengan rinore sebagai keluhan utamanya.

Contoh : Ipratropium bromide ( nasal spray )


3. Terapi operatif ( dilakukan bila pengobatan konservatif gagal )
Kauterisasi konka yang hipertrofi dengan larutan AgNO3 25% atau triklorasetat pekat
-

( chemical cautery ) maupun secara elektrik (electrical cautery ).


Diatermi submukosa konka inferior ( submucosal diathermy of the inferior turbinate )
Bedah beku konka inferior ( cryosurgery )
Reseksi konka parsial atau total (partial or total turbinate resection)
Turbinektomi dengan laser ( laser turbinectomy )
Neurektomi n. vidianus (vidian neurectomy ), yaitu dengan melakukan pemotongan
pada n. vidianus, bila dengan cara diatas tidak memberikan hasil. Operasi sebaiknya
dilakukan pada pasien dengan keluhan rinore yang hebat. Terapi ini sulit dilakukan,
dengan angka kekambuhan yang cukup tinggi dan dapat menimbulkan berbagai
komplikasi.

Rhinitis akut simplex 3,5


Rhinitis akut simpleks adalah iritasi pada hidung dimana terjadi inflamasi
selama beberapa hari yang secara umum disebabkan oleh virus. Rhinitis akut
simpleks dapat pula disebut sebagai common cold, selesma, pilek, maupun flu.
Etiologi yang umum pada rhinitis simpleks adalah Rhinovirus, namun dapat pula
disebabkan oleh virus lain seperti Myxovirus, Adenovirus, virus Influenza, virus
Parainfluenza, Coxsackie virus, ECHO virus dan lainnya. Penyakit ini sangat
menular dan gejala timbul akibat tidak adanya kekebalan, atau menurunnya daya
tahan tubuh (kedinginan, kelelahan, adanya penyakit menahun dan lain-lain). Gejala
yang terjadi antara lain : panas, gatal dan kering pada hidung, bersin berulang, pilek
batuk, hidung merah dan bengkak serta nyeri kepala. Mukosa hidung dampak merah
dan membengkak. Bila terjadi infeksi sekunder bakteri, ingus menjadi
mukopurulen.
Tidak ada terapi spesifik untuk rhinitis simpleks, selain istirahat dan pemberian
obat-obat simtomatis, seperti alergika, antipiterika dan obat dekongestan.

Faringitis akut 3
A.

Faringitis viral
17

Rinovirus menimbulkan gejala rhinitis dan beberapa hari kemudian menimbulkan


faringitis.
Gejala dan tanda
Demam disertai rinore, mual, nyeri tenggorok, sulit menelan.
Pada pemeriksaan tampak faring dan tonsil hiperemis. Virus influenza, coxsachievirus
dan cytomegalovirus tidak menghasilkan eksudat. Coxsachievirus dapat menimbulkan
lesi vesicular di orofaring dan lesi kulit berupa mucolopapular rash.
Adenovirus selain menimbulkan gejala faringitis, juga menimbulkan gejala
konjungtivitis terutama pada anak.
Epstein barr virus (EBV) meyebabkan faringitis yang disertai produksi eksudat pada
faring yang banyak. Terdapat pemebesaran kelenjar limfa di seluruh tubuh terutama
retroservikal dan hepatosplenomegal.
Faringitis yang disebabkan HIV-1 menimblkan keluhan nyeri tenggorok, nyeri
menelan, mual, dan demam. Pada pemeriksaan tampak faring hiperemis, terdapat
eksudat, limfadenopati akut di leher dan pasien tampak lemah.
Terapi Istirahat yang cukup minum yang banyak. Kumur dengan air hangat.
Analgetika jika perlu tablet isap.
Antivirus metisoprinol (Isoprenosine) diberikan pada infeksi herpes simpleks dengan
dosis 60-100 mg/kgBB dibagi dalam 4-6 kali pemeberian/hari pada orang dewasa dan
pada anak <5 tahun diberikan 50 mg/kgBB dibagi dalam 4-6 kali pemberian/hari.

B.

Faringitis Bakterial 3
Infeksi grup A sterptokokus hemolitikus merupakan penyebab faringitis akut pada
orang dewasa (15%) dan pada anak-anak (30%)
Gejala dan Tanda
Nyeri kepala yang hebat, muntah, kadang-kadang disertai demam dengan suhu yang
tinggi, jarang disertai batuk. Pada pemeriksaan tampak tonsil membesar, faring dan
tonsil hiperemis dan terdapat eksudat di permukaannya. Beberapa hari kemudian
18

tombul bercak petekie pada palatum dan faring. Kelenjar limfa leher anterior
membesar, kenyal dan nyeri pada penekanan.
Terapi
a. Antibiotik
Diberikan terutama bila diduga penyebab faringitis akut ini grup A streptokokus
hemolitikus. Penicillin G Banzatin 50.000 U/kgBB, IM dosis tunggal, atau
amoksisilin 50 mg/kgBB dosis dibagi 3 kali/hari selama 10 hari dan pada dewasa
3x500 mg selama 6-10 hari atau eritromisin 4x500 mg/hari.
b. Kortikosteroid: deksametason 8-16 mg, IM, 1 kali. Pada anak 00.8-0,3 mg/kgBB,
IM, 1 kali.
c. Analgetika
d. Kumur dengan air hangat atau antiseptik.

Komplikasi
-

Otitis Media Akut

Sinusitis

Tonsillitis

19

Daftar Pustaka

1. Herawati S, Rukmini S. Buku ajar ilmu penyakit telinga hidung tenggorok untuk
mahasiswa fakultas kedokteran gigi. Jakata: EGC, 2003.
2. Seeley, Stephen, Tate. Respiratory System. Anatomy and physiology. Chapter 23: The
McGraw-Hill Companies; 2004. h. 816
3. Rusmarjono dan Soepardi, EA. Faringitis, Tonsilitis, dan Hipertrofi Adenoid. Dalam
Soepardi, Efiaty Arsyad, et al., Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung,
Tenggorok, Kepala & Leher. ed 6. Jakarta. FKUI, 2009: p. 217-225.
4. Adams LG, Boies RL, Higler AP, BOIES Fundamentals of Otolaryngology. 6th Ed.
Edisi Bahasa Indonesia, EGC, Jakarta, 2001; 263-368.
5. Angeir E, Willingron J, Scadding G, Holmes S. Management of allergic anda nonallergic rhinitis. Department of Immunology and Allergy, Northern General Hospital,
Sheffied, UK. 6 Mei 2010.

20