Anda di halaman 1dari 60

KELOMPOK II MODUL LBM 4 KEPERAWATAN NEUROBEHAVIOUR

Ketua

: Ermila susanti

Sekretaris

: Orien Ratna Sari


: Hj. Munawarah

Anggota

: Arief Dwi Saputro


Fitria Raudatul Jannah
M. Rifqi
Helwatin najwa
Suhaimi

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH (LBM 4)
Klien Ny.W 40 tahun dating ke RSJ dengan keluhan mendengar suara-suara
dan melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ad, tertawa sendiri, berbicara
sendiri dengan keras tanpa memperdulikan sekelilingnya. Perawat mengkaji
genogram, gejala positif dan negative klien dengan metoda Bleurs 4 As,
perawat berupaya untuk merencanakan keterampilan dan perangkat kehidupan
setelah kembali ke masyarakat dan melatih klien agar mampu menjahit selama
di Ruang Rehabilitasi.
B. TUGAS MAHASISWA
Membuat sebnanyak mungkin pertanyaan yang timbul setelah menganalisi LBM
tersebut diatas.
C. CARA BELAJAR
1. Menerapkan metode SEVEN JUMP.
2. Diskusi kelompok tanpa tutor untuk mengidentifikasi pertanyaan teori,
sumber belajar, dan pertanyaan praktik.
3. Diskusi kelompok dengan tutor untuk mengkonfirmasikan sumber
sumber belajar dan alternative jawaban.
4. Konsultasi untuk memperdalam pemahaman.
5. Lecture dan atau hand-out.

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

BAB 2
METODE SEVEN JUMP
A. JUMP 1 : IDENTIFIKASI MASALAH
1. Metoda bluers : memori di organisasikan menjadi unit unit data, yang
disebut record. Akses dibuat dalam bentuk urutan linier yang spesifik.
Informasi pengalamatan dipakai untuk memisahkan record-record dan
untuk membantu proses pencarian. Mekanisme baca/tulis digunakan
secara bersama ( shared read/write mechanism), dengan cara berjalan
menuju lokasi yang diinginkan untuk mengeluarkanm record.
2. Ruang rehabilitasi : suatu bentuk pelayanan kesehatan yang terpadu
dengan pendekatan medik, psikososial, edukasional, vokasional untuk
mencapai kemampuan fungsionalsemaksimal mungkin.
3. RSJ : rumah sakit khus untuk keperawatan gannguan mental serius.
4. Genogram : suatu alat bantu berupa peta ( visual map ) dari silsilahkeluarga
pasien yang berguna bagi pemberian layanan kesehatan untuk segera
mendapatkan informasi nama anggota keluarga pasien, kualitas hubungan
antara anggota keluarga.
B. JUMP 2 : ANALISA DATA
Ny.W 40 tahun datang ke RSJ datang dengan keluhan mendengar suarasuara dan melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada, tertawa sendiri,

berbicara sendiri dengan keras tanpa memperdulikan sekelilingnya.


Perawat mengkaji genogram, gejala positif dan negative klien dengan

metoda bleurs 4As


Perawat berupaya untuk merencanakan keterampilan dan perangkat

kehidupan
Setelah kembali ke masyarakat dan melatih klien agar mampu selama di

ruang rehabilitasi
Diagnosa Medis : SKIZOPRENIA
C. JUMP 3 : ANALISIS MASALAH
1. Ada berapa macamkah jenis Skizofrenia ?
a. Skizofrenia Simplek
Sering timbul pertama kali pada usia pubertas, gejala utama berupa
3

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan. Gangguan proses berfikir


sukar ditemukan, waham dan halusinasi jarang didapat, jenis ini timbulnya
perlahan-lahan.
b. Skizofrenia Hebefrenia
Permulaannya perlahan-lahan atau subakut dan sering timbul pada masa
remaja atau antaraa 15-25 tahun. Gejala yang menyolok ialah gangguan
proses berfikir, gangguan kemauaan dan adaanya depersenalisasi atau
double personality. Gangguan psikomotor seperti mannerism, neologisme
atau perilaku kekanak-kanakan sering terdapat, waham dan halusinaasi
banyak sekali.
c. Skizofrenia Katatonia
Timbulnya pertama kali umur 15-30 tahun dan biasanya akut serta sering
didahului oleh stress emosional. Mungkin terjadi gaduh gelisah katatonik
atau stupor katatonik.
d. Skizofrenia Paranoid
Gejala yang menyolok ialah waham primer, disertai dengan wahamwaham sekunder dan halusinasi. Dengan pemeriksaan yang teliti ternyata
adanya gangguan proses berfikir, gangguan afek emosi dan kemauan
e. Episode Skizofrenia akut
Gejala Skizofrenia timbul mendadak sekali dan pasien seperti dalam
keadaan mimpi.Kesadarannya mungkin berkabut.Dalam keadaan ini
timbul perasaan seakan-akan dunia luar maupun dirinya sendiri berubah,
semuanya seakan-akan mempunyai suatu arti yang khusus baginya.
f.

Skizofrenia Residual
Keadaan Skizofrenia dengan gejala primernya Bleuler, tetapi tidak jelas
adanya gejala-gejala sekunder.Keadaan ini timbul sesudah beberapa kali
serangan Skizofrenia.

g. Skizofrenia Skizo Afektif


Disamping gejala Skizofrenia terdapat menonjol secara bersamaaan juga
gejala-gejal depresi (skizo depresif) atau gejala mania (psiko-manik).Jenis
ini cenderung untuk menjadi sembuh tanpa defek, tetapi mungkin juga
4

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

timbul serangan lagi.


2.

Apakah penyakit Ny.W bisa kambuh kembali?


Biasanya timbul bila pendrita berhenti minum obat, untuk itu, sangat penting
untuk

mengetahui

alasan

mengapa

penderita

berhenti

minum

obat.Terkadang penderita berhenti minum obat karena efek samping yang


ditimbulkan oleh obat tersebut. Apabila hal ini terjadi, dokter dapat
menurunkan dosis menambah obat untuk efek sampingnya, atau mengganti
dengan obat lain yang efek sampingnya lebih rendah. Apabila penderita
berhenti minum obat karena alasan lain, dokter dapat mengganti obat oral
dengan injeksi yang bersifat long acting, diberikan tiap 2- 4 minggu.
Pemberian obat dengan injeksi lebih simpel dalam penerapannya.Terkadang
pasien dapat kambuh walaupun sudah mengkonsumsi obat sesuai anjuran.
Hal ini merupakan alasan yang tepat untuk menggantinya dengan obat
obatan yang lain, misalnyaantipsikotik konvensonal dapat diganti dengan
newer atipycal antipsycotic atau newer atipycalantipsycotic diganti dengan
antipsikotik atipikal lainnya. Clozapine dapat menjadi cadangan yang dapat
bekerja bila terapi dengan obat-obatan diatas gagal.
3.

Perawatan apa yang dilakukan saat berada di rumah sakit ?


Indikasi utama perawatan rumah sakit adalah untuk tujuan diagnostik,
menstabilkan medikasi, keamanan pasien karena gagasan bunuh diri atau
membunuh,

prilaku

yang

sangat

kacau

termasuk

ketidakmampuan

memenuhi kebutuhan dasar.Tujuan utama perawatan dirumah sakit yang


harus ditegakkan adalah ikatan efektif antara pasien dan sistem pendukung
masyarakat.Rehabilitasi dan penyesuaian yang dilakukan pada perawatan
rumahsakit harus direncanakan. Dokter harus juga mengajarkan pasien dan
pengasuh serta keluarga pasien tentang skizofrenia.Perawatan di rumah
sakit menurunkan stres pada pasien dan membantu mereka menyusun
aktivitas harian mereka.Lamanya perawatan rumah sakit tergantung dari
keparahan penyakit pasien dan tersedianya fasilitas pengobatan rawat
5

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

jalan.Rencana pengobatan di rumah sakit harus memiliki orientasi praktis ke


arah masalah kehidupan, perawatan diri, kualitas hidup, pekerjaan, dan
hubungan sosial.Perawatan di rumah sakit harus diarahkan untuk mengikat
pasien

dengan

fasilitas

perawatan

termasuk

keluarga

pasien.Pusat

perawatan dan kunjungan keluarga pasien kadang membantu pasien dalam


memperbaiki kualitas hidup.

4.

Apa saja pilihan obat untuk penyakit skizoprenia ?


Antagonis Reseptor Dopamin : Adalah obat antipsikotik yang klasik dan
efektif dalam pengobatan skizofrenia. Obat ini memiliki dua kekurangan
utama, yaitu
a. Hanya sejumlah kecil pasien, cukup tertolong untuk mendapatkan
kembali jumlah fungsi mental yang cukup normal.
b. Disertai dengan efek merugikan yang mengganggu dan serius. Efek
mengganggu yang paling utama adalah akatisia dan gejala mirip
parkinsonisme berupa rigiditas dan tremor. Efek serius yang potensial
adalah tardive dyskinesia dan sindroma neuroleptik malignan.
Remoxipride adalah antagonis reseptor dopamin dari kelas yang
berbeda dari pada antagonis reseptor dopamin yang sekarang ini
tersedia. Awalnya obat ini disertai efek samping neurologist yang
bermakna, tetapi akhirnya remoxipride disertai dengan anemia aplastik,
jadi membatasi nilai klinisnya.

Risperidone : Adalah suatu obat antispikotik dengan aktivitas antagonis


yang bermakna pada reseptor serotonin tipe 2 ( 5-HT 2 ) dan pada reseptor
dopamine tipe 2 ( d2 ). Risperidone menjadi obat lini pertama dalam
pengobatan skizofrenia karena kemungkinan obat ini adalah lebih efektif
dan lebih aman daripada antagonis reseptor dopaminergik yang tipikal.

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

Clozapine : Adalah suatu obat antipsikotik yang efektif.Mekanisme


kerjanya belum diketahui secara pasti.Clozapine adalah suatu antagonis
lemah terhadap reseptor D2 tetapi merupakan antagonis yang kuat
terhadap reseptor D4 dan mempunyai aktivitas antagonistic pada reseptor
serotogenik.Agranulositosis

merupakan

suatu

efek

samping

yang

mengharuskan monitoring setiap minggu pada indeks-indeks darah.Obat


ini merupakan lini kedua, diindikasikan pada pasien dengan tardive
dyskinesia karena data yang tersedia menyatakan bahwa clozapine tidak
disertai dengan perkembangan atau eksaserbasi gangguan tersebut.
5.

Ada beberapa hal yang bisa memicu kekambuhan skizofrenia?


a. tidak minum obat dan tidak kontrol ke dokter secara teratur.
b. menghentikan sendiri obat tanpa persetujuan dari dokter.
c. kurangnya dukungan dari keluarga dan masyarakat,.
d. serta adanya masalah kehidupan yang berat yang membuat stress,
(Akbar, 2008).
http://www.abualbanicentre.com/skizofrenia

6. Apa yang harus dilakukan bila ada anggota keluarga yang menderita
skizofrenia?
a. Hindari penyalahgunaan obat-obatan terlarang, terutama pada masa
remaja
b. Hindari paparan terhadap berbagai zat kimia yang beracun bagi
perkembangan otak
c. Batasi konsumsi minuman beralkohol
d. Hindari kejadian traumatis atau kekerasan fisik maupun seksual. Jika
Anda mengalami kekerasan dalam hubungan Anda dengan pasangan
atau mengalami suatu kejadian traumatis, segera cari pertolongan
e. Jalinlah hubungan dan komunikasi dengan orang lain di sekitar Anda
karena dukungan sosial dapat membantu mengurangi stress, mencegah
7

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

Anda merasa kesepian dan tidak berharga, serta membuat Anda tetap
sibuk
f.

Belajar mengatasi rasa stress yang Anda alami. Stress kronik dan rasa
cemas dapat berdampak buruk pada kesehatan Anda, baik kesehatan
fisik maupun mental

g. Rawatlah diri Anda sendiri dengan mengkonsumsi diet sehat dan


seimbang serta berolahraga secara teratur
h. Hindari terjadinya cedera kepala
7.

Apakah penyakit Ny. W menular ?


Jawaban :
Penelitian tentang genetik telah membuktikan faktor genetik/keturunan
merupakan salah satu penyumbang bagi jatuhnya seseorang menjadi
skizofren. Resiko seseorang menderita skizofren akan menjadi lebih tinggi
jika terdapat anggota keluarga lainnya yang juga menderita skizofren, apalagi
jika

hubungan

keluarga

dekat.

Penelitian

terhadap

anak

kembar

menunjukkan keberadaan pengaruh genetik melebihi pengaruh lingkungan


pada munculnya skizofrenia, dan kembar satu telur memiliki kemungkinan
lebih besar untuk mengalami skizofrenia.
Prevalensi skizofrenia pada populasi tertentu dalam Saddock&Saddock
(2003)
Populasi Prevalensi
Populasi umum 1%
Saudara kandung pasien skizofren 8%
Anak dengan salah satu orangtua skizofren 12%
Kembar dua telur dari pasien skizofren 12%
Anak dengan kedua orangtua skizofren 40%
Kembar satu telur dari pasien skizofren 47 %
8. Bagaimana prognosis pada Ny.W setelah direhabilitasi ?
Jawaban :
Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa lebih dari periode 5 sampai
10 tahun setelah perawatan psikiatrik pertama kali di rumah sakit karena
skiofrenia, hanya kira-kira 10-20 % pasien dapat digambarkan memliki hasil
yang baik.Lebih dari 50% pasien dapat digambarkan memiliki hasil yang
8

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

buruk, dengan perawatan di rumah sakit yang berulang, eksaserbasi gejala,


episode gangguan mood berat, dan usaha bunuh diri. Walaupun angkaangka yang kurang bagus tersebut, skizofrenia memang tidak selalu memiliki
perjalanan penyakit yang buruk, dan sejumlah faktor telah dihubungkan
dengan prognosis yang baik. Rentang angka pemulihan yang dilaporkan
didialam literatur adalah dari 10-60% dan perkiraan yang beralasan adalah
bahwa 20-30% dari semua pasien skizofrenia mampu untuk menjalani
kehidupan yang agak normal. Kira-kira 20-30% dari pasien terus mengalami
gejala yang sedang,dan 40-60% dari pasien terus terganggu scara bermakna
oleh gangguannya selama seluruh hidupnya.
Secara umum prognosis skizofrenia tergantung pada:
1. Usia pertama kali timbul ( onset): makin muda makin buruk.
2. Mula timbulnya akut atau kronik: bila akut lebih baik.
3. Tipe skizofrenia: episode skizofrenia akut dan katatonik lebih baik.
4. Cepat, tepat serta teraturnya pengobatan yang didapat.
5. Ada atau tidaknya faktor pencetusnya: jika ada lebih baik.
6. Ada atau tidaknya faktor keturunan: jika ada lebih jelek.
7. Kepribadian prepsikotik: jika skizoid, skizotim atau introvred lebih jelek.
8. Keadaan sosial ekonomi: bila rendah lebih jelek.

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

Prognosis Baik

Prognosis Buruk

Onset lambat

Onset muda

Faktor pencetus yang jelas

T
idak ada factor pencetus

Onset akut

Onset tidak jelas

Riwayat sosial, seksual dan

Riwayat

pekerjaan premorbid yang

social

dan

pekerjaan

premorbid yang buruk

baik
Prilaku menarik diri atau autistic
Gejala

gangguan

(terutama

mood

gangguan

depresif)

T
idak

menikah,

bercerai

atau

janda/ duda

Menikah

Sistem pendukung yang buruk

Riwayat keluarga gangguan

Gejala negatif

mood
Sistem pendukung yang baik
Gejala positif

T
anda dan gejala neurologist
Riwayat trauma perinatal
T
idak ada remisi dalam 3 tahun
Banyak relaps
Riwayat penyerangan

10

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

9. Apakah lingkungan mempengaruhi pada Ny. W ?


Jawaban :
Faktor lingkungan berhubungan dengan timbulnya skizofrenia diantaranya
adalah lingkungan tempat tinggal, penggunaan obat dan stres masa
kehamilan. Gaya pengasuhan tampaknya tidak memberikan pengaruh besar,
walaupun penderita yang mendapat dukungan dari orang tua keadaannya
lebih baik daripada penderita dengan orang tua yang suka mengkritik dan
kasar. Tinggal di lingkungan urban pada waktu masa kanak-kanak atau masa
dewasa secara konsisten tampaknya menaikkan risiko skizofrenia dua kali
lipat,bahkan setelah memperhitungkan faktor penggunaan obat, kelompok
etnis, dan ukuran dari kelompok sosial.Faktor lain yang memainkan peranan
penting termasuk isolasi sosial dan imigrasi yang berhubungan dengan
kesulitan sosial, diskriminasi rasial, dssfungsi keluarga, pengangguran, dan
kondisi perumahan yang buruk.

SKIZOFRENIA

10. Bagaimana respon skizoprenia ?


11

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

Jawaban :
RENTANG RESPON SKIZOFRENIA

11. Kenapa perawat mengkaji genogram?


Karena, dari pengkajian genogram dapat mengetahui apakah keluarga ada
yang menderita seperti klien. Dari genetic berpengaruh terhadap penyakit
skizoprenia, Risiko terbesar timbulnya skizofrenia adalah adanya hubungan
saudara tingkat pertama dengan penyakit (risikonya 6.5%); lebih dari 40%
pada kembar monozigotik dari penderita skizofrenia juga terpengaruh.
Tampaknya bahwa banyak gen yang terlibat, setiap bagian kecil memberi
efek

dan

transmisi

serta

ekspresi

yang

tidak

diketahui.

Dengan

mengasumsikan adanya dasar keturunan, suatu pertanyaan dari psikologi


revolusioner adalah mengapa gen yang meningkatkan kemungkinan psikosis
berkembang, dengan asumsi bahwa kondisi ini mungkin disebabkan oleh
adanya
12

ketimpangan

adaptasi

dari

pandangan

evolusi.

Satu

teori

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

mengimplikasikan keterlibatan gen dalam evolusi bahasa dan sifat alami


manusia, tetapi hingga saat ini ide seperti itu tetap menjadi teori secara
alamiah.
12. Diagnosis banding skizofrenia?
Lihat pula: Diagnosis ganda
Gejala psikotik dapat ditemukan pada beberapa gangguan mental lainnya,
termasuk gangguan bipolar, gangguan kepribadian borderline/perbatasan,
intoksikasi obat dan psikosis dipicu obat. Waham ("non-bizarre"/tidak aneh)
juga ditemukan pada gangguan waham, dan menarik diri dari lingkungan
sosial pada gangguan kecemasan sosial, gangguan kecemasan menghindar
dan

gangguan

kepribadian

skizotipik.

Skizofrenia

sering

ditemukan

bersamaan dengan gangguan obsesif-kompusif (OCD) dan cukup bermakna


dibandingkan dengan yang dapat terjadi secara murni kebetulan, meskipun
sulit untuk membedakan antara obsesi yang terjadi pada OCD dengan
waham skizofrenia.
Diperlukan pemeriksaan fisik umum dan neurologis lebih lanjut untuk
menyingkirkan penyakit yang kadang dapat menyebabkan gejala psikotik
mirip skizofrenia, seperti gangguan metabolik, infeksi sistemik, sifilis, infeksi
HIV, epilepsi, dan lesi otak. Kemungkinan delirium perlu disingkirkan, yang
dapat dibedakan melalui halusinasi penglihatan, onset akut, dan tingkat
kesadaran yang naik turun, dan menandakan adanya penyakit medis yang
mendasarinya. Penyelidikan biasanya tidak perlu diulang untuk relaps,
kecuali apabila terdapat indikasi medis yang spesifik atau kemungkinan efek
samping dari obat antipsikotik.
13. Apa saja karakteristik skizofrenia?
Menurut edisi keempat yang direvisi dari Diagnostic and Statistical Manual of
Mental Disorders (DSM-IV-TR), agar bisa didiagnosis menderita skizofrenia,
tiga kriteria diagnostik harus dipenuhi:
a. Gejala karakteristik: Dua atau lebih dari gejala berikut, masing-masing
hadir dengan frekuensi sering selama periode satu bulan (atau
kurang, jika gejala berkurang karena pengobatan).
13

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

Waham

Halusinasi

Bicara tidak teratur, yang merupakan manifestasi gangguan pemikiran


formal

Perilaku yang tidak teratur secara kasar (misalnya berpakaian yang


tidak sesuai, sering menangis) atau perilaku katatonik

Gejala negatif: Tumpulnya emosi (kurang atau menolak memberikan


respons emosional), alogia (kurang atau menolak bicara), atau avolisi
(kurang atau menolak motivasi)
Jika waham dinilai aneh, atau halusinasi meliputi mendengar satu
suara yang berpartisipasi dalam komentar yang terus menerus
terhadap tindakan pasien atau mendengar dua atau lebih suara yang
bercakap-cakap satu sama lain, hanya gejala di atas yang diperlukan.
Kriteria bicara tidak teratur hanya dipenuhi jika cukup parah untuk
mengganggu komunikasi secara substansial.

b. Disfungsi sosial atau okupasional: Selama suatu waktu yang


signifikan sejak mulainya gangguan, satu atau lebih daerah fungsi
seperti kerja, hubungan interpersonal, atau perawatan diri, menjadi
sangat rendah dibandingkan level yang dicapai sebelum gangguan.
c. Durasi yang signifikan: Tanda-tanda gangguan yang kontinu bertahan
selama setidaknya enam bulan. Periode enam bulan ini harus
termasuk setidaknya satu bulan gejala (atau kurang, jika gejala
berkurang karena pengobatan).
Jika tanda-tanda gangguan terlihat selama lebih dari sebulan tetapi kurang
dari enam bulan, diagnosis gangguan skizofreniform diterapkan.[62] Gejala
14

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

psikotik yang berlangsung selama kurang dari sebulan dapat didiagnosis


sebagai

gangguan

psikotik

singkat,

dan

berbagai

kondisi

dapat

diklasifikasikan sebagai gangguan psikotik lainnya yang tidak diklasifikasikan.


Skizofrenia tidak dapat didiagnosis jika gejala gangguan suasana hati hadir
secara substansial (meskipun dapat didiagnosis gangguan skizoafektif ), atau
jika gejala gangguan perkembangan pervasif hadir kecuali waham atau
halusinasi yang menonjol juga hadir, atau jika gejala adalah hasil fisiologis
langsung dari suatu kondisi medis atau zat yang umum, seperti
penyalahgunaan narkoba atau pengobatan.
http://id.wikipedia.org/wiki/Skizofrenia
14. Apakah skizofrenia termasuk penyakit kronis?
Skizofrenia adalah suatu penyakit psikiatrik yang bersifat kronis dan
menimbulkan ketidakmampuan, dengan prevalensi seluruh dunia kira-kira
1% dan perkiraan insiden rata-rata pertahun 1 dalam 10.000 orang.

Sekitar

90 % pasien yang mendapat pengobatan untuk skizofrenia berusia antara


15-55 tahun.
Skizofrenia merupakan suatu gangguan yang harus terjadi sedikitnya selama
6 bulan atau lebih, termasuk sedikitnya selama 1 bulan mengalami waham,
halusinasi, pembicaraan yang kacau, perilaku kacau atau katatonik atau
simtom-simtom negatif.
15. Bagaimana cara mengatasi pada klien Skizofrenia?
a. Menciptakan kontak sosial yang baik.
b. Terapi ECT (electrocompulsive therapy) dan (insulin comma therapy).
c. Menghindarkan dari frustrasi dan kesulitan psikis lainnya.
d. Membiasakan pasien memiliki sikap hidup positif dan mau melihat hari
depan dengan rasa berani.
e. Memberi obat neuroleptik yaitu obat yang dapat mengendalian saraf
delusi, halusinasi dan agitasi, clozapine serta olanzapine.

15

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

16. Apakah Seseorang dengan sejarah skizofrenia dalam keluarga bisa mengalami
skizofrenia ?
Bisa karena Seseorang dengan sejarah skizofrenia dalam keluarga yang
menderita psikosis transien atau pembatasan diri memiliki kemungkinan 20
40% untuk didiagnosis satu tahun kemudian.

17. Apakah bisa penyakit skizofrenia (berat maupun ringan) di sembuhkan? dan
kalau bisa di sembuh kan, apa obat nya?
Skizofrenia adalah gangguan jiwa psikotik paling lazim, dengan ciri hilangnya
perasaan afektif atau respons emosional dan menarik diri dari hubungan
antarpribadi normal. Sering kali diikuti dengan delusi (waham/keyakinan yang
salah) dan halusinasi (persepsi tanpa ada rangsang pancaindra).
Sebagai suatu sindrom, pendekatan skizofrenia harus dilakukan secara
holistik dengan melibatkan aspek psikososial, psikodinamik, genetik,
farmakologi, dan lain-lain.
Terdapat beberapa faktor yang dapat mengambil peran sebagai faktor resiko
penyebab gangguan tersebut muncul,

Riwayat skizofrenia dalam keluarga


Perilaku premorbid yang ditandai dengan kecurigaan, eksentrik,
penarikan diri, dan/atau impulsivitas.

Stress lingkungan

Status sosial ekonomi yang rendah sekurang-kurangnya sebagian


adalah karena dideritanya gangguan ini.

16

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

Namun bukan berarti gangguan ini tidak dapat disembuhkan, ada beberapa
cara untuk menyembuhkan penderita. Pengobatannya terbagi atas
psikofarmaka dan psikososial. Psikofarmaka menggunakan obat-obatan anti
psikotik sedangkan psikososial adalah terapi perilaku.
Jika dibiarkan menahun, efek skizofrenia dapat menyebabkan gangguan
fungsi pekerjaan, fungsi sosial, fungsi penggunaan waktu luang dan fungsi
perawatan diri. Perubahan perubahan ini akan mengganggu individu serta
membuat resah keluarga dan teman

18. Apa Beberapa Gejala yang Ditimbulkan Skizofrenia?


Pada pria, gejala skizofrenia umumnya mulai terlihat di awal usia 20-an.
Sedangkan wanita, gejalanya sering terlihat ketika usianya mencapai 20-an
akhir. Pada beberapa kasus yang jarang terjadi, gejala skizofrenia sudah
terlihat dari usia kanak-kanak atau baru terlihat saat berusia 45 tahun ke
atas.Karena melibatkan aspek yang luas dari kemampuan berpikir (kognitif),
perilaku serta emosi, gejala atau tanda dari skizofrenia bisa bervariasi, yaitu:

Delusi Maksudnya kepercayaan yang dipegang kuat namun tidak


berdasarkan realitas. Sebagai contoh, Anda merasa sedang disakiti
atau dilecehkan, gerakan atau komentar tertentu ditujukan pada
Anda, merasa punya kemampuan khusus, atau merasa bisa
meramalkan suatu kejadian, padahal kenyataannya tidak demikian.
Delusi dialami oleh sekitar 4 dari 5 orang penderita skizofrenia.

Halusinasi Biasanya berhalusinasi melihat atau mendengar sesuatu


yang sebenarnya tidak ada, namun seluruh panca indera juga
mungkin terlibatseperti merasa disentuh sesuatu. Halusinasi yang
dialami pengidap skizofrenia lebih dari apa yang sering dialami orang

17

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

normal. Mereka merasakan pengaruh dan kekuatan yang luar biasa


dari halusinasinya.

Cara Berpikir yang Berantakan Hal ini diperlihatkan dari cara


berbicara dan menjawab pertanyaan. Pasien skizofrenia sering kali
merasa sulit menyampaikan cara berpikirnya melalui kata-kata dan
menjawab pertanyaan dengan jawaban yang tidak berkaitan. Katakata yang diucapkan mungkin diselingi dengan ucapan yang sama
sekali tidak ada artinya, seperti menggumam.

Berperilaku Tidak Teratur atau Abnormal Berkisar dari perilaku


kekanak-kanakan sampai perilaku agresif. Pergerakan yang abnormal
juga mencakup postur yang tidak pantas atau aneh, sangat kurang
dalam merespon instruksi, atau gerakan-gerakan yang berlebihan dan
tidak berguna.

Gejala Negatif Lainyang mengacu pada berkurangnya kemampuan


tubuh untuk berfungsi secara normal. Pengidap skizofrenia dapat
terlihat

kurang emosi, seperti:

menghindari tatap mata saat

berkomunikasi, kurang ekspresi wajah, bicara tanpa nada atau datardatar saja, serta tidak menambahkan gerakan tangan atau kepala
yang umum dilakukan untuk memberi penekanan emosional dalam
pembicaraan.
Pasien skizofrenia mungkin kesulitan membuat rencana atau
beraktivitas normal sehingga membuat kebersihan tubuhnya kurang
terjaga, tidak tertarik untuk melakukan kegiatan sehari-hari dan lebih
banyak diam, atau menarik diri dari pergaulan.
19. Bagaimana efek jangka panjang pada penyakit skizofrenia ?
Jawab :
a. Aktifitas hidup sehari-hari
18

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

Klien tidak mampu melakukan fungsi dasar secara mandiri, misalnya


kebersihan diri, penampila dan sosialisasi.

b. Hubungan interpersonal
Klien digambarkan sebagai individu yang apatis, menarik diri, terisolasi
dari teman-teman dan keluarga. Keadaan ini merupakan proses adaptasi
klien terhadap lingkungan kehidupan yang kaku dan stimulus yang kurang.
c. Sumber koping
Isolasi social, kurangnya system pendukung dan adanya gangguan fungsi
pada klien, menyebabkan kurangnya kesempatan menggunakan koping
untuk menghadapi stress.
d. Harga diri rendah
Klien menganggap dirinya tidak mampu untuk mengatasi kekurangannya,
tidak ingin melakukan sesuatu untuk menghindari kegagalan (takut gagal)
dan tidak berani mencapai sukses.
e. Kekuatan
Kekuatan adalah kemampuan, ketrampilan aatau interes yang dimiliki dan
pernah digunakan klien pada waktu yang lalu.
Motivasi
Klien mempunyai pengalaman gagal yang berulang.
g. Kebutuhan terapi yang lama
Klien disebut gangguan jiwa kronis jika ia dirawat di rumah sakit satu
f.

periode selama 6 bulan terus menerus dalam 5 tahun tau 2 kali lebih
dirawat di rumah sakit dalam 1 tahun.
20. Apa gejala positif dan negative dari skizofrenia ?
Jawab :
a. Gejala Negatif
Gejala negatif skizofrenia menggambarkan

hilangnya

sifat

dan

kemampuan tertentu yang biasanya ada dalam diri orang yang normal.
Sedangkan gejala positif menggambarkan tanda-tanda psikotik yang
muncul dalam diri seseorang akibat menderita skizofrenia.
Gejala negatif skizofrenia biasanya sudah muncul beberapa tahun
sebelum penderitanya mengalami episode akut pertama dari kondisi
tersebut. Gejala negatif berkembang secara bertahap atau perlahan19

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

lahan, hingga akhirnya menjadi semakin memburuk. Gejala negatif bisa


berupa :
Rasa enggan untuk bersosialisasi dan tidak nyaman berada dekat

dengan orang lain sehingga lebih memilih untuk berdiam di rumah.


Kehilangan konsentrasi.
Pola tidur yang berubah.
Kehilangan minat dan motivasi baik dalam menjalin hubungan dengan
orang lain maupun dalam hidup secara keseluruhan.

Ketika penderita sedang mengalami gejala negatif, dia akan terlihat apatis
dan datar secara emosi. Karena tidak sadar atau tidak tahu mengenai
gejala

negatif

skizofrenia

ini,

kadang-kadang

orang

lain

bisa

menyalahartikan itu sebagai sikap malas atau tidak sopan. Mereka juga
menjadi tidak peduli terhadap penampilan dan kebersihan diri mereka
serta semakin menarik diri dari sosial. Karena itu gejala negatif skizofrenia
bisa menjadi pemicu rusaknya hubungan penderita dengan keluarganya
atau pun dengan teman-temannya.
b. Gejala positif
Halusinasi. Terjadi pada saat panca indera seseorang terangsang oleh
sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Fenomena halusinasi terasa

sangat nyata bagi si penderita.


Delusi. Yaitu kepercayaan kuat yang tidak didasari logika atau

kenyataan yang sebenarnya.


Pikiran kacau dan perubahan perilaku. Penderita sulit berkonsentrasi
dan pikirannya seperti melayang-layang tidak tentu arah sehingga katakata mereka menjadi membingungkan. Penderita juga bisa merasa
kehilangan

kendali

atas

pikirannya

sendiri.

Perilaku

penderita

skizofrenia juga menjadi tidak terduga dan bahkan di luar norma.


Misalnya, mereka menjadi sangat gelisah atau mulai berteriak dan
memaki tanpa alasan.
Penting untuk mengenali gejala-gejala skizofrenia seperti di atas. Jika
Anda atau keluarga Anda mengalami gejala-gejala tersebut, segera
20

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

periksakan

ke

dokter.

Makin

dini

skizofrenia

ditangani,

peluang

sembuhnya akan makin besar.


21. Bagaimana mencegah kekambuhan skizoprenia ?
Jawab :
Karena kekambuhan lebih mungkin terjadi jika obat antipsikotik dihentikan
atau tidak digunakan secara rutin, maka sangat penting bagi orang dengan
skizofrenia untuk sepakat dengan dokter mereka dan keluarga mengenai
rencana terapi dan pencegahan kekambuhan yang cocok untuk mereka.
Hal ini penting untuk mendapatkan dukungan supaya individu dapat
meneruskan rencana yang disepakati nantinya. Jika menggunakan obat
minum, penting untuk menggunakan obat yang diresepkan pada dosis yang
tepat dan waktu yang tepat setiap hari, menghadiri pertemuan di klinik dan
mengikuti prosedur perawatan lainnya dengan cermat. Jika menggunakan
suntikan kerja panjang, penting untuk menghadiri pertemuan di klinik
sehingga obat digunakan pada waktu yang tepat setiap bulan.
Meski mungkin hal ini sulit, ada strategi dan terapi yang dapat sangat
meningkatkan hasil untuk menuju kualitas hidup yang lebih baik. Selama
kekambuhan orang suka menyendiri, memiliki perasaan melambung dan
merasa kalau orang di sekitar mereka tidak mampu memahami apa yang
sedang terjadi. Kemampuan seseorang untuk membedakan ide tentang
realitas antara mereka dan orang lain juga mungkin berkurang. Orang
mengetahui ketika mereka menjadi sakit lagi - tapi tidak selalu mampu
berbuat sesuatu. Teman dan kerabat sering dapat membantu dalam
memperhatikan tanda peringatan awal kekambuhan. Beberapa contoh dari
tanda ini mungkin berupa kurang tidur, kurang makan, menjadi lebih gugup,
cemas atau lebih 'waspada', tidak mampu bangun atau tidak mampu
berkonsentrasi sebaik biasanya. Jika gejala ini dapat ditangani dari awal
sangat mungkin bahwa orang tersebut akan membaik lebih cepat dan bisa
melanjutkan hidup mereka.
22. Dapatkah skizofrenia disembuhkan ?
21

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

Jawab :
Saat ini, skizofrenia tidak mungkin untuk disembuhkan secara permanen.
Namun, terapi saat ini memungkinkan pasien untuk dapat mengendalikan
gejala dan membantu pasien untuk memiliki kualitas hidup yang lebih baik.
Terapi skizofrenia mungkin diperlukan untuk jangka panjang dan bahkan
mungkin untuk seumur hidup.
23. Apakah

orang

yang

menderita

skizofrenia

dapat

hidup

normal

di

masyarakat?
Jawab :
Skizofrenia dapat mempengaruhi gaya hidup seseorang. Gejala psikotik dari
skizofrenia dan gangguan yang dapat mereka akibatkan pada kehidupan
sehari-hari individu adalah jelas, tetapi sering kesehatan fisik mereka juga
dapat terpengaruh. Tujuan terapi dan pemulihan adalah untuk mengurangi
atau menghentikan gejala sehingga memungkinkan individu untuk terlibat
dalam kegiatan sehari-hari dan mengurangi jumlah kekambuhan. Dengan
bantuan obat antipsikotik dan terapi lainnya, gejala skizofrenia seringkali
dapat diatasi sedemikian rupa sehingga akan memungkinkan orang dengan
skizofrenia untuk kembali ke aktivitas sehari-hari mereka. Ada banyak
langkah yang bisa diambil oleh orang dengan skizofrenia untuk membantu
meningkatkan kesejahteraan mereka secara keseluruhan.
24. Bagaimana dukungan yang bisa diberikan keluarga kepada klien dengan
skizofrenia ?
Jawab :
Dukungan anggota keluarga sangat penting bagi orang dengan skizofrenia
karena dukungan keuangan, emosional dan sosial yang dapat mereka
berikan. Ini bisa berupa bantuan praktis dalam kegiatan rumah tangga seperti
membersihkan, memasak dan kebersihan pribadi, menemani mereka ke
dokter atau memotivasi mereka untuk melanjutkan terapi mereka sesuai
dengan yang sudah diresepkan. Dengan terus berobat dan mengunjungi

22

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

dokter secara teratur,

pasien dapat mengontrol banyak gejala psikotik

sehingga dapat melanjutkan kehidupan sehari-hari normal mereka.


Pasien dengan skizofrenia yang memiliki dukungan keluarga sering
mendapatkan keterampilan hidup (berfungsi) yang lebih baik dibandingkan
mereka yang terisolasi. Bahkan mereka yang hidup sendiri akan masih perlu
dukungan dari keluarga dan teman. Sebuah lingkungan yang stabil dapat
membantu pasien mempertahankan terapi dan tetap menjaga komunikasi
secara rutin dengan dokter mereka dan tenaga kesehatan.
25. Apa discharge planning untuk kasus seperti ini?
a. Hindari kebiasaan menyendiri
b. Berusaha untuk menceritakan masalah yang ada dengan teman
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

terdekat.
Kenali gejala-gejala penyakit dan konsultasikan dengan dokter.
Konsumsi makanan yang bergizi.
Observasi secara ketat perilaku klien.
Singkirkan semua benda berbahaya.
Berikan obat
Periksa mulut penderita setelah minum obat.
Alihkan jika halusinasi
Focus dan kuatkan realitas

26. Bagaimana peran keluarga pada klien skizoprenia?


Peran serta keluarga dan lingkungan sangat besar, sehingga diperlukan
pngetahuan tentang tata cara perawatan dirumah supaya tidak terjadi
kekambuhan, satu hal yang perlu disadari bahwa pengobatan sakit jiwa ini
tidak hanya dalam hitungan hari atau minggu, bisa bulanan bahkan tahunan,
oleh sebab itu keluarga diharapkan sabar dan telaten dalam merawat
penderita dirumah.
PERAWATAN PENDERITA DIRUMAH
Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh keluarga dan lingkungan dalam
merawat penderita gangguan jiwa dirumah :
1. Memberikan kegiatan/ kesibukan dengan membuatkan jadwal sehari-hari.
2. Berikan tugas yang sesuai kemampuan penderita dan secara bertahap
tingkatkan sesuai perkembangan.
23

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

3. Menemani dan tidak membiarkan penderita sendiri dalam melakukan


kegiatan, misalnya; makan bersama, bekerja bersama, rekreasi bersama,
dll.
4. Minta keluarga atau teman menyapa ketika bertemu dengan penderita,
dan jangan mendiamkan penderita, atau jangan membiarkan penderita
berbicara sendiri.
5. Mengajak/ mengikutsertakan penderita dalam kegiatan bermasyarakat,
misalnya pengajian, kerja bakti dsb.
6. Berikan pujian yang realistis terhadap keberhasilan penderita, atau
dukungan untuk keberhasilan sosial penderita.
7. Hindarkan berbisik-bisik di depan penderita/ ada penderita dalam suatu
ruangan yang sama/ disaksikan oleh penderita.
8. Mengontrol dan mengingatkan dengan cara yang baik dan empati untuk
selalu minum obat dengan prinsip benar nama obat, benar nama pasien,
benar dosis, benar waktu, benar cara pemberian.
9. Mengenali adanya tanda - tanda ke kambuhan seperti; sulit tidur, mimpi
buruk, bicara sendiri, senyum sendiri, marah-marah, sulit makan,
menyendiri, murung, bicara kacau, marah-marah, dll.
10. Kontrol suasana lingkungan yang dapat memancing terjadinya marah.
11. Segera kontrol jika terjadi perubahan perilaku yang menyimpang, atau
obat habis.
27. Bagaimana pendekatan pada klien skizofrenia?
Ada dua pendekatan utama untuk pengobatan gejala skizofrenia, yaitu
pendekatan psikososial dan pendekatan farmakologis (memakai obatobatan). Di antara keduanya, obat-obatan adalah pendekatan yang paling
penting. Sementara itu, pendekatan psikososial melibatkan pelayanan secara
klinis dan dukungan keluarga yang termasuk di dalamnya mendidik keluarga
untuk lebih tahu tentang penyakit yang diderita anggota keluarganya. Meski
demikian, dua hal di atas harus saling mendukung.

24

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

28. Apakah skizop bisa sembuh lagi?


SKIZOFRENIA merupakan salah satu jenis gangguan jiwa yang bisa
disembuhkan, meskipun terkadang mengalami kekambuhan, yang dapat
menyebabkan orang dengan skizofrenia mengalami kekambuhan

adalah

pengobatan putus di tengah jalan. Selain itu, sebab ODS mengalami


kekambuhan adalah mengalami tekanan hidup yang dianggap sangat berat
bagi dirinya. Oleh karenanya, saat hari-hari besar banyak ODS yang
mengalami

kekambuhan

karena

semua

keluarga

besar

berkumpul

menanyakan hal-hal yang bersifat sensitive.


29. Kenapa klien harus mampu menjahit selama diruang rehabilitasi?
Karena salah satu terapi untuk klien dengan skizofreniayaitu terapi latihan
kerja.
Terapi terapi yang disarankan untuk penderita skizofrenia
a. Terapi Kelompok
Terapi kelompok merupakan terapi yang dilakukan terhadap sekelompok
subjek bersama sama dengan jalan berdiskusi satu sama lainyang
diarahkan oleh seorang terapis. Terapi ini bertujuan untuk mengupayakan
peningkatan kemampuan, ekspresi diri, sosialisasi, rasa empati, afektif,
kognitif, dan kemampuan berkomunikasi melalui interaksi kelompok atau
individu sehingga dapat memperkuat mekanisme pertahanan diri yang
positif.
Contohnya : mengadakan sosialisasi antara yang satu dengan yang lain,
kepramukaan, rekreasi, dan lain lain.
b. Terapi Latihan Kerja
Terapi ini bukan hanya bertujuan untuk memberikan kesibukkan melainkan
guna menyalurkan bakat dan emosi subkjek serta meningkatkan inisiatif,
kreatifitas dan produktifitas. Contohnya : Membuat kemoceng, menyulam,
menjahit, membuat boneka dan membuat keset.
c. Somato Terapi
Terapi ini bertujuan untuk sebagai acuan dalam menerapkan langkah
langkah pelaksanaan kegiatan olah ragan dengan maksud membentuk
fisik pasien menjadi sehat. Contohnya : olah raga (sepak bola, badminton
dan tenis meja).
d. Spiritual Terapi
25

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

Terapi ini bertujuan meningkatkan keperayaan diri dan pengharapan lewat


sarana kegiatan religius.
Misalnya : Belajar membaca Al-Quran,, mendengarkan ceramah pemuka
agama, belajar menyanyikan lagu lagu rohani.
30. Ganguan apa yang dialami pada px Skizofrenia ?
Gangguan mental yang ditandai dengan gangguan proses berpikir dan
tanggapan emosi yang lemah. Keadaan ini pada umumnya dimanifestasikan
dalam bentuk halusinasi, paranoid, keyakinan atau pikiran yang salah yang
tidak sesuai dengan dunia nyata serta dibangun atas unsur yang tidak
berdasarkan logika, dan disertai dengan disfungsi sosial dan pekerjaan yang
signifikan. Gejala awal biasanya muncul pada saat dewasa muda, dengan
prevalensi semasa hidup secara global sekitar 0,3% 0,7%. [2] Diagnosis
didasarkan atas pengamatan perilaku dan pengalaman penderita yang
dilaporkan.
31. Apakah terapi penting dilakukan pada px skizofrenia?
Terapi memainkan peranan penting pada sebagian besar orang dengan
skizofrenia. Selain terapi dengan obat, pembelajaran mengenai bagaimana
menghadapi skizofrenia melalui terapi wicara juga dapat membantu dan
kelompok pendukung merupakan sumber informasi berharga yang berguna.

http://www.peduliskizofrenia.org/sumber-daya/tentang-skizofrenia

32. Apakah jenis kelamin mempengaruhi terkena px skizofrenia?


Laki-laki maupun wanita memiliki risiko menderita skizofrenia. Gejala
pada pria cenderung muncul di usia yang lebih muda daripada
wanita.11
Gejala skizofrenia bervariasi dari satu orang ke orang lain, tetapi
secara umum dikategorikan menjadi:5
26

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

Gejala positif (misalnya halusinasi, delusi, pemikiran kacau, dan


gelisah) yang biasanya tidak ada pada orang sehat dan dianggap 'ada'
sebagai akibat dari gangguan tersebut.
Gejala negatif dapat dilihat sebagai perilaku yang 'hilang' (misalnya
kurang: dorongan atau inisiatif, respon emosional, antusiasme,
interaksi sosial).5 Kebanyakan orang memiliki kemampuan psikologis
tersebut tetapi orang dengan skizofrenia mengalami beberapa derajat
penurunan.
Gejala afektif yang dapat mempengaruhi suasana hati seperti pikiran
depresi, kecemasan, kesepian atau ide bunuh diri.
Gejala kognitif meliputi masalah dengan konsentrasi dan memori
misalnya kurangnya perhatian, kelambatan pikiran, kurangnya tilikan
(pemahaman & penerimaan) mengenai penyakit.
http://www.peduliskizofrenia.org/sumber-daya/tentang-skizofrenia
33. TermasukjenisgangguanapakahkeluhanNy. W ?
Gangguandanemosipadaskizofreniaberupaadanyakedangkalanafekdanemosi
(emotional blunting), misalnya : pasienmenjadiacuhtakacuhterhadaphal-hal
yang
pentinguntukdirinyasendirisepertikeadaankeluargadanmasadepannyasertape
rasaanhalussudahhilang,
hilangnyakemampuanuntukmengadakanhubunganemosi
(emotional

rapport),

yang

terpecahbelahnyakepribadianmakahal-hal

baik
yang

berlawananmungkinterdapatbersama-sama,
umpamanyamencintaidanmembencisatu orang yang samaataumenangis,
dantertawatentangsuatuhal

yang

sama

(ambivalensi)(Lumbantobing,

2007).
34. Bagaimanapemilihanpengobatan yang tepatpadapasienskizofrenia ?
Keputusanmengenaipilihanterapibukansajamempertimbangkanefikasidantole
rabilitasterhadapbeberapaantipsikotik yang tersedia, tetapijugakecepatan
onset.Aspekpengobatan
27

yang

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

terpentingdarisuatugangguanadalahpengurangan
gejalapositif,

yang

cepatpadagejala-

negatifdankognitif.Respons

yang

cepatterhadappengobatanadalahpentingdalammengurangipenderitaanpasien
dankeluarganya, sertabiayapengobatan.Responspengobatandalam 1 sampai
2

minggupertamajugadapatberhubungandengankepatuhanpasien

yang

lebihbesardimanapasienmengalamipengurangangejala-gejaladengancepat,
sehinggapasienkemungkinanlebihmematuhipengobatan.Beberapalaporanme
nunjukkanbahwaantipsikotikatipikalmemiliki

onset

of

actionyanglebihcepatdaripadaantipsikotikkonvensional.
35. Apa yang membuatseseorangdapatmengalamikekambuhangangguanjiwa ?
a. Berhentiminumobat. Berhentiminumobatsetelahbeberapa lama
merupakanpemicu yang paling seringterjadinyakambuh.
b. Gantiobatatauberubahnyadosisobat
c. Minumobatlain (obatresepataubelisendiri) yang
d.
e.
f.
g.

bereaksidenganobatgangguanjiwa yang selamainidiminumnya.


Mendengarberitaataukejadian yang menakutkan
Merasatertekan
Adanyakonflikatauketegangandidalamkeluarga
Terlalu lama menyendiri, menarikdiridaripergaulandanmenyendiri di

h.
i.
j.
k.
l.
m.
n.
o.
p.
q.

kamardalamwaktu lama
Diejek, disalah-salahkan, dihinaataudiganggu
Mengalamimasalahkeuangan
Dimaki-maki, dibentakbentak
Mengalamisesuatu yang tidakmenyenangkan
Sedangmempunyaimasalah yang tidakbisadiatasisendiri
Bersamadenganseseorang yang memperlakukandirinyadenganburuk
Bekerjaterlalukerasataubelajarterlaluberlebihan
Minumalkoholatauobat-obatanterlarang (narkoba)
Sedangmenghadapimasalahhukum
Ulangtahunpadaharidiakehilangansesuatuygbesarataumengalami

trauma.
r. Menetapkansasaran yang tidakrealistik (terlalutinggi)
s. Mengubahkebiasaansehari-hari
t. Melakukankegiatanber-resiko (misalnyaminumminum di bar
bersamateman)
u. Tidakcukuptidur
v. Mengacuhkantandatandaawalkambuh
28

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

http://tirtojiwo.org/?route=product%2Fmanufacturer
%2Fproduct&manufacturer_id=9&paged=22

Kaplan

&Sadock,

1997,

SinopsisPsikiatri,

IlmuPengetahuanPerilakuPsikiatriKlinisEdisi 7 Jilid 2, BinarupaAksara. Jakarta


36. untuk menangani penyakit skizofrenia antara lain ?
Jawab :
1. Psikoterapi suportif
Bentuk terapi yang bertujuan memberikan dorongan semangat dan motivasi
agar penderita tidak merasa putus asadan semangat juangnya (fighting spirit)
dalam menghadapi hidup.
2. Psikoterapi re edukatif
Bentuk terapi yang dimaksudkan member pendidikan ulang untuk merubah
pola pendidikan lama dengan yang baru sehingga penderita lebih adaptif
terhadap dunia luar.
3. Psikoterapi rekonstruksi
Terapi yang dimaksudkan untuk memperbaiki kembali kepribadian yang
mengalami keresahan.
4. Terapi tingkah laku
Adalah terapi yang bersumber dari teori psikologi tingkah laku (behavior
psichology) yang mempergunakan stimulasi dan respon modus operandi
dengan pemberian stimulasi yang positif akan timbul proses positif.
5. Terapi keluarga
Bentuk terapi yang menggunakan media sebagai titik tolak terapi karena
keluarga selain sebagai sumber terjadinya gangguan tingkah laku juga
sekaligus sarana terapi yang dapat mengembalikan fungsi psikis dan sosial
melalui komunikasi timbal balik.
6. Psikoterapi kognitif
Memulihkan kembali fungsi kognitif sehingga mampu membedakan nilai
nilai sosial dan etika.
37. Hal yang dapat diketahui sebagai faktor presipitasi dan predisposisi
terjadinya schizophrenia antara lain ?
Jawab :
1.
Faktor Predisposisi
a.
Herediter
Adanya faktor genetik dapat berisiko terjadinya penyakit schizophrenia,
dimana risiko bagi masyarakat umum 1 % pada orang tua risiko
29

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

schizophrenia 5 % pada saudara kandung 8 % dan anak-anak 10 %.


Gambaran terakhir ini menetap walaupun anak telah dipisahkan dengan
orang tua kandung sejak lahir, pada kembar monozigote 30 - 40%.
b.

Pola Asuh Keluarga


Banyak penelitian terhadap pengaruh masa kanak-kanak khususnya atas

personalitas orang tua tetapi belum ada hasil.


2.
a.

Faktor Presipitasi
Lingkungan
Faktor lingkungan cukup berperan dalam menampilkan penyakit pada

individu yang memiliki predisposisi. Beberapa penelitian mengungkapkan


bahwa schizophrenia bukan suatu penyakit, tetapi suatu respon terhadap
tekanan emosi yang dapat ditoleransi dalam keluarga dan masyarakat.
b.

Ekspresi Emosi Keluarga yang Berlebihan


Jika keluarga schizophrenia memperlihatkan emosi yang berlebihan

seperti pasien dihina atau terlalu banyak dikekang dengan aturan- aturan
yang berlebihan, maka kemungkinan kambuh lebih besar. Juga jika pasien
tidak mendapatkan obat neuroleptik, angka kekambuhan di rumah dengan
ekspresi emosi rendah dan pasien minum obat teratur sebesar 12 % dengan
ekspresi emosi rendah dan tanpa obat 42 %, ekspresik emosi tinggi dengan
tanpa obat angka kekambuhan 92 %.

30

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

D. JUMP 4 : KERANGKA KONSEP


DEFINISI :
ETIOLOGI :

MENIFESTASI KLINIS :
SKIZOPRENIA

PENATALAKSANAAN

KEPERAWATAN

PENGOBATAN

PEMERIKSAAN PENUNJANG :
PENCEGAHAN :

MEDIS :

KOMPLIKASI :
ASKEP,NIC,NOC
FARMAKOLOGI

PATOFISIOLOGI

31

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

E. JUMP 5 : TUJUAN MINIMAL


Secara umum tujuan yang diharapkan adalah mahasiswa mampu menjelaskan
asuhan

keperawatan

neurobehavior.

Sedangkan

tujuan

khusus

yang

diharapkan mahasiswa mampu :


1. Mengindentifikasikan pengertian penyakit atau gangguan kesehatan pada
jiwa dan fungsi saraf.
2. Menjelaskan clinical pathway dari manifestasi klinis yang ada pada
gangguan kesehatan jiwa dan fungsi saraf.
3. Mengidentifikasi proses timbulnya komplikasi yang dapat terjadi pada
gangguan kesehatan jiwa dan fungsi saraf.
4. Menjelaskan berbagai pemeriksaan fisik dan penunjang yang diperlukan.
5. Menjelaskan pengakajian keperawatan yang spesifik dan diperlukan pada
6.
7.
8.
9.

klien.
Menyebutkan diagnosis keperawatan yang mungkin dialami klien.
Menjelaskan perencanaan keperawatan untuk mengatasi masalah klien.
Menjelaskan tindakan keperawatan yang harus dilakukan.
Merumuskan berbagai pendidikan kesehatan pada klien dan keluarga untuk
mencapai kesehatan yang optimal.

32

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

F. JUMP 6 : PERTANYAAN TEORITIS


1. ANATOMI DAN FISIOLOGI
ANATOMI & FISIOLOGI SUSUNAN SARAF PUSAT

ANATOMI SUSUNAN SARAF PUSAT


Susunan saraf terdiri dari: Susunan Saraf Pusat (SSP) dan Susunan
Saraf Tepi (Nn. Craniales + Nn. Spinales). Susunan Saraf Pusat terdiri
Encephalon

dan

Medulla

Spinalis.

Otak,

atau

ensefalon

secara

konvensional dibagi dalam 5 bagian utama : telensefalon atau otak besar,


diensefalon atau otak antara, mesensefalon atau otak tengah, metensefalon
atau otak belakang, dan mielensefalon atau medulla oblongata (sambungan
sumsum tulang). Telensefalon dan diensefalon membentuk prosensefalon
atau

otak

depan.

Metensefalon

dan

mielensefalon

membentuk

rombensefalon atau otak belah ketupat. Metttensefalon terdiri dari pons


danserebelum. Serebrum mencakup telensefalon, diensefalon dan otak
tengah bagian atas.
Serebrum sebagiannya terbagi dalam dua belahan hemisfer oleh
suatu fisura longitudinal vertical yang dalam. Sebuah hemisfer serebrum
adalah setengah bagian otak depan. Hemisfer serebrum meliputi struktur
telensefalon seperti korteks serebrum, zat putih yang dalam terhadap
korteks, ganglia basal, dan korpus kalosum. Sistem ventrikulus ialah ronggarongga di dalam otak yang berisi cairan serebrospinal. Sistem itu dibagi
sebagai berikut : ventrikel lateral ialah rongga di dalam hemisfer serebrum,
ventrikel ketiga ialah rongga di dalam diensefalon, akuaduktus serebrum
(akuaduktus sylvii) ialah rongga di dalam mesensefalon dan ventrikel
keempat ialah rongga rombensefalon. Serebelum (otak kecil) ialah
bagiandorsal metensefalon yang mengembang.

33

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

Batang otak ialah istilah kolektif untuk diensefalon, mesensefalon dan


rombensefalon

tanpa

serebelum.

(Diensefalon

kadang-kadang

tidak

dimasukkan ke dalam batang otak). Batang otak dibagi menurut hubungan


topografiknya

dengan

tentorium

dalam

bagian

supratentorium

dan

infratentorium.
Diensefalon ialah bagian bagian supratentorium dan otak tengah,
pons dan sambungan sumsum tulang belakang merupakan bagian
infratentorium. Semua saraf otak kecuali saraf penghidu dan saraf optik,
muncul dari batang otak bagian infratentorium.
FISIOLOGI SUSUNAN SARAF PUSAT
Sistem saraf terdiri dari:
1.Reseptor sensoris reaksi segera memori pada otak
2.Informasi ( medulla spinalis, substansia retikularis)
3.Efektor ke otot & kelenjar
Fungsi sistem saraf adalah:
1. Menghantarkan informasi dari satu tempat ke tempat yang lain
2. Mengelola informasi sehingga dapat digunakan atau dapat menjadi jelas
artinya pada pikiran.
Tingkatan sistem saraf :
1. Tingkat medulla spinalis, sinyal sensoris dihantarkan melalui saraf-saraf
spinal menuju ke setiap segment Medulla Spinalis dan menyebabkan
respons motorik lokal.
2. Tingkat Otak Bagian.Bawah (Medulla Oblongata, pons, mesensephalon,
hipotalamus, talamus, serebellum, dan ganglia basalis) mengatur aktivitas
tubuh yang terjadi di bawah kesadaran.
3.
Tingkat otak bagian atas atau tingkat kortikal, daerah tempat
penyimpanan informasi dan proses berpikir.
Patokan anatomis yag digunakan dlm pemetaan korteks serebri terdiri dari
4 lobus yaitu :
1. Lobus oksipitalis, untuk pengelolaan awal masukan penglihatan
2. Lobus Temporalis, untuk sensasi suara (Pendengaran).
34

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

3. Lobus parietalis, untuk menerima & mengolah masukan sensorik


seperti sentuhan, panas, tekanan, dingin dan nyeri dari permukaan tubuh.
4. Lobus Frontalis, berfungsi :
a. aktifitas motorik volunter
b. Kemampuan berbicara
c. Elaborasi pikiran.
Fungsi korteks serebri :
1. Persepsi sensorik
2. Kontrol gerakan volunter
3. Bahasa
4. Sifat pribadi
5. Proses berpikir, mengingat,kre-atifitas
6. Fungsi Talamus :
1.Menerima impuls eksteroseptif dan proprioseptif
2.Stasiun penyambung yang mengirim impuls ke korteks serebri
3.Beberapa tingkat kesadaran
4.Pusat koordinasi timbulnya gerakan afektif,ekspresif yang terjadi
sebagai rangsangan emosional
5. Kontrol motorik yang termodifikasi
6.Bagian penting darir sistem aktivasi retikular ascedens
Fungsi Hipotalamus :
1. Mengatur fungsi homeostatik seperti kontrol suhu,rasa haus, pengeluaran
urin dan asupan makanan
35

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

2. Pusat primer dari sistem saraf otonom perifer.


3. Mengontrol emosi dan pola perilaku.
Fungsi Batang Otak :
Dibentuk oleh medulla oblongata,pons,dan mesencephalon.
1.

Penyalur asenden dan desendens yang menghubungkan medulla spinalis

dengan pusat yang lebih tinggi.


2.

Pusat-pusat refleks penting yang mengatur sistem respirasi, kardiovaskuler dan

kendali tingkat kesadaran.


3.

Mengandung nuclei saraf kranial III sampai XII.

4.

Memodulasi rasa nyeri

5.

Pusat yg bertanggungjawab untuk tidur

6.

Mengatur refleks-refleks otot yang terlibat dlm keseimbangan dan postur.

Medulla Spinalis
Berjalan melalui kanalis vertebralis dan dihubungkan dengan saraf spinalis.
Terdiri dari :
1.

Substansia Grisea berbentuk seperti kupu-kupu(H) terdiri dari badan sel saraf

dan dendritnya, antarneuron pendek dan sel-sel glia


2.

Substansia Alba tersusun menjadi traktus (jaras) yaitu :

1.

Traktus Asendens (dari Medulla Spinalis ke Otak), menyalurkan sinyal dari

aferen ke otak.
2.

Traktus Desendens (dari Otak ke Medulla Spinalis), menyampaikan pesan -

pesan dari otak ke neuron eferen.


Medulla Spinalis bertanggung jawab untuk integrasi banyak refleks dasar,
mempunyai 2 fungsi utama :
1.

Sebagai penghubung untuk menyalurkan informasi

antara otak dan

bagian tubuh lainnya.


2.

Mengintegrasikan aktifitas refleks antara masukan aferen dan keluaran eferen

tanpa melibatkan otak, jenis aktifitas refleks ini dikenal sbg refleks spinal.
Serebelum
36

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

Serebelum penting dalam keseimbangan serta merencanakan dan


melaksanakan gerakan volunter. Terdiri dari :
1.

Vestibuloserebellum, mempertahankan keseimbangan dan mengontrol gerakan.

2.

Spinoserebellum, mengatur tonus otot dan gerakan volunter yang terampil dan

terkoordinasi.
3.

Serebroserebellum, dalam perencanaan dan inisiasi gerakan volunter dengan

memberikan masukan ke daerah motorik korteks.


Bentuk gangguan diskoordinasi gerakan otot akibat gangguan pd serebellum
1. Asinergia : hilangnya kerjasama antar kelompok otot.
2. Disdiadokokinesis: ketidakmampuan untuk

melakukan gerakan yang

berganti-ganti dgn cepat.


3. Dismetria : Gangguan kecepatan untuk memulai dan menghentikan
gerakan
4.

Ataksia : gangguan dalam kecepatan, kekuatan dan jurusan dari gerakan.

5.

Tremor : sangat irreguler.

6. Nistagmus : Gangguan pergerakan bola mata


7. Disartria : Gangguan akibat diskoordinasi gerakan otot-otot pernapasan,
otot pita suara & lidah.
Ganglia Basalis
Termasuk Ganglia basalis : nukleus kaudatus, putamen, & globus pallidus.
(substansia nigra, korpus subtalamikus dan nukleus ruber).
Fungsi motorik ganglia basalis:
1.

mengatur aktifitas motorik yang kompleks bersama dengan korteks serebri dan

traktus kortikospinalis
2.

Pengaturan kognitif dari aktifitas motorik (nukleus kaudatus)

3.

Menentukan kecepatan gerakan yang harus dilakukan

4.

Mengatur berapa besar gerakan tersebut harus dilakukan (Bersama korteks

serebri terutama daerah parietal)


Kelainan akibat kerusakan ganglia basalis:
1.

Chorea disebabkan degenerasi nukleus

kaudatus. Gerakan seperti menari

involunter (involuntery dancing movement).


37
Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia
Kelompok II PSIK VI B

2.

Athetosis disebabkan kerusakan nukleus lentikularis ditandai gerakan lambat

dan menggeliat.
3.

Ballismus terjadi kerusakan nuclei subthalamic ditandai pergerakan tiba-tiba

pada salah satu sisi tubuh.


4.

Parkinson (paralisis agitans) terjadi degenerasi neuron dopaminergik


dari system nigrostriatal, gejalanya berupa akinesia, bradikinesia, rigidity,
dan tremor.

2. DEFINISI
Parkinson merupakan suatu gangguan neurologis progresif yang
mengenai pusat otak yang bertanggung jawab untuk mengontrol dan
mengatur gerakan (Muttaqin, 2011).
Parkinson (paralis agitans) merupakan penyakit sindrome pergerakan
yang disebabkan oleh gangguan pada basalis dan subtansia nigra
dalam menghasilkan dopamin, di tandai dengan adanya tremor ritmik,
bradikinesia, kekakuan otot dan hilangnya refleks-refleks postural.
Basal ganglia adalah bagian sari sistem ekstrapiramidal dan
berpengaruh untuk mengawali, modulasi dan mengakhiri pergerakan
serta pengaturan gerakan-gerakan otomatis (Tarwoto dkk, 2007).
Penyakit Parkinson (paralysis agitans) atau sindrom Parkinson
(Parkinsonismus)

merupakan

suatu

penyakit/sindrom

karena

gangguan pada ganglia basalis akibat penurunan atau tidak adanya


pengiriman dopamine dari substansia nigra ke globus palidus/
neostriatum (striatal dopamine deficiency) (Harsono, 2009).
Penyakit Parkinson adalah penyakit saraf yang progresif yang
berdampak terhadap respon mesenfalon atau pergerakan regulasi.
Penyakit ini bersifat lambat yang menyerang usia pertengahan atau
lanjut, dengan onset 50-60 tahun.
Jadi,

Parkinson

adalah

penyakit

degenerasi

atau

gangguan

neurologis progresif yang menyerang otak yang menyebabkan


38

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

penipisan dopamin dalam substansi nigra dan korpus striatum yang


ditandai dengan kondisi bradikinestisia (melambatnya gerakan),
tremor (bergetar), dan rigiditas (kekakuan otot).

3. KLASIFIKASI
Parkinson dapat di klasifikasikan menjadi enam kategori berdasarkan
proses terjadinya(Wahyu Dkk. 2008) yaitu:
a. Parkinson primer(idiopatik), dimana penyebabnya tidak diketahui.
b. Parkinson postencephalitis, penyebab Parkinson karena
encephalitis.
c. Parkinson latrogenik, Parkinson karena obat obatan seperti obat
psikotropik dan antipsikotik.
d. Parkinson juvenile, Parkinson yang terjadi usia di bawah 40 tahun.
e. Parkinson sekunder di sebabkan karena kerusakan substansia
f.

nigra akibat trauma iskhemik.


Pseudoperkinson (Parkinson semu), merupakan gabungan dari
beberapa penyebab Parkinson seperti pada hipotiroid.

Berdasarkan gejala dan tingkatan Parkinson di bagi menjadi


(Tarwoto.2007), yaitu :
a. Tingkat awal/ dini : pada tingkat ini pasien masih dapat melakukan
tugas sehari-hari tanpa gangguan, terjadi kerusakan pada sebelah
tungkai dan lengan, kelemahan sedikit, dan kaki gemetar.
b. Tingkat ringan sedang : pada tingkat ini terjadi kerusakan pada
kedua tungkai dan lengan, wajah seperti bertopeng, gaya jalan
diseret dan pelan. Pada keadaan ini pasien sudah terasa terganggu
dan sukar dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
c.Tingkat berat : pasien terjadi akinesia (melambatnya gerakan),
rigiditas (kekakuan otot), dimana pasien tidak mampu melakukan
aktivitas sehari-hari sehingga pasien mengalami ketergantungan
penuh.

39

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

4. ETIOLOGI
. Etiologi Skizofrenia
Terdapat

beberapa

teori

yang

dikemukakan

para

ahli

yang

menyebabkan terjadinya skizofrenia. Teori teori tersebut antara lain:


1.

Endokrin

Teori

ini

dikemukakan

berhubung

dengan

sering

timbulnya

Skizofrenia pada waktu pubertas, waktu kehamilan atau puerperium


dan waktu klimakterium, tetapi teori ini tidak dapat dibuktikan.
2.

Metabolisme

Teori ini mengemukakan bahwa skizofrenia disebabkan karena


gangguan metabolisme karena penderita tampak pucat, tidak sehat,
ujung extremitas agak sianosis, nafsu makan berkurang dan berat
badan menurun serta pada penderita dengan stupor katatonik
konsumsi zat asam menurun.Hipotesa ini masih dalam pembuktian
dengan pemberian obat halusinogenik seperti meskalin dan asam
lisergik diethylamide (LSD-25).Obat-obat tersebut dapat menimbulkan
gejala-gejala yang mirip dengan gejala-gejala skizofrenia, tetapi
reversible.
3.

Teori Adolf Meyer

Skizofrenia tidak disebabkan oleh penyakit badaniah sebab hingga


sekarang tidak dapat ditemukan kelainan patologis anatomis atau
fisiologis yang khas pada susunan saraf tetapi Meyer mengakui
bahwa suatu konstitusi yang inferior atau penyakit badaniah dapat
mempengaruhi timbulnya Skizofrenia.Menurut Meyer Skizofrenia
merupakan suatu reaksi yang salah, suatu maladaptasi, sehingga
timbul disorganisasi kepribadian dan lama kelamaan orang tersebut
40

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

menjauhkan diri dari kenyataan (otisme).


4.

Teori Sigmund Freud

Teori Sigmund freud juga termasuk teori psikogenik. Menurut freud,


skizofrenia terdapat:
1)

Kelemahan ego, yang dapat timbul karena penyebab

psikogenik ataupun somatik


2)

Superego dikesampingkan sehingga tidak bertenaga lagi

dan Id yamg berkuasa serta terjadi suatu regresi ke fase narsisisme


3)

Kehilangaan kapasitas untuk pemindahan (transference)

sehingga terapi psikoanalitik tidak mungkin.


5.

Eugen Bleuler
Penggunaan istilah Skizofrenia menonjolkan gejala utama
penyakit ini yaitu jiwa yang terpecah belah, adanya keretakan
atau disharmoni antara proses berfikir, perasaan dan perbuatan.
Bleuler membagi gejala Skizofrenia menjadi 2 kelompok yaitu
gejala primer (gangguan proses pikiran, gangguan emosi,
gangguan kemauan dan otisme) gejala sekunder (waham,
halusinasi dan gejala katatonik atau gangguan psikomotorik yang
lain).
Teori tentang skizofrenia yang saat ini banyak dianut adalah

sebagai berikut:
1.

Genetik
Teori ini telah dibuktikan dengan penelitian tentang keluarga-

keluarga penderita skizofrenia terutama anak-anak kembar satu telur


sehingga dapat dipastikan factor genetik turut menentukan timbulnya
skizofrenia. Angka kesakitan bagi saudara tiri 0,9-1,8 %,

bagi

saudara kandung 7-15 %, bagi anak dengan salah satu orang tua
yang menderita Skizofrenia 40-68 %, kembar 2 telur 2-15 % dan
kembar satu telur 61-86 % (Maramis, 2009). Pengaruh genetik ini
tidak sederhana seperti hokum Mendel, tetapi yang diturunkan adalah
41

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

potensi untuk skizofrenia (bukan penyakit itu sendiri).


2.

Neurokimia
Hipotesis dopaminmenyatakan bahwa skizofrenia disebabkan

overaktivitas pada jaras dopamine mesolimbik.Hal ini didukung


dengan temuan bahwa amfetamin yang kerjanya meningkatkan
pelepasan dopamine, dapat menginduksi psikosis yang mirip
skizofrenia dan obat anti psikotik bekerja dengan mengeblok reseptor
dopamine, terutama reseptor D2.
3.

Hipotesis Perkembangan Saraf


Studi autopsi dan studi pencitraan otak memperlihatkan

abnormalitas struktur dan morfologi otak penderita skizofrenia antara


lain berupa berat orak rata-rata lebih kecil 6% dari normal dan ukuran
anterior-anterior yang 4% lebih pendek, pembesaran ventrikel otak
yang nonspesifik, gangguan metabolisme di daerah frontal dan
temporal serta kelainan susunan seluler pada struktur saraf di
beberapa

korteks

dan

subkortek.

Studi

neuropsikologis

mengungkapkan deficit di bidang atensi, pemilihan konseptual, fungsi


eksekutif dan memori pada penderita skizofrenia.
.

EPIDEMIOLOGI SKIZOFRENIA
a.Umur

dan

Jenis

K e l a m i n Prevalensi

penderita

skizofrenia antara laki-laki dan perempuan adalah sama,


namunkedua jenis kelamin tersebut berbeda awitan dan perjalanan
penyakitnya.

Awitan

pada

laki-lakilebih

awal

dari

pada

wanita.Usia puncak awitan untuk laki-laki adalah 15-25


tahun sedangkan pada wanita adalah pada usia 25-35 tahun.
Awitan Skizofrenia pada usia dibawah 10 tahun ataudiatas 60 tahun
adalah sangat jarang.
b.Bulan kelahiranPenderita skizofrenia kebanyakan dilahirkan
pada musim dingin dan permulaan musim s e m i , d i b e l a h a n
Bumi

Utara,

termasuk

Am er ika

Serikat,

penderita

s k i z o f r e n i a l e b i h s e r i n g dilahirkan pada bulan Januari hingga


42

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

April. Di belahan Bumi selatan, penderita skizofrenia lebihsering lahir


pada bulan Juli hingga September.
c.Distribusi
tidak

tersebar

g e o g r a f i s Skizofrenia secara geografis


secara

merata

diseluruh

dunia.

Prevalensiskizofrenia di bagian timur laut dan bagian barat Amerika


Serikat lebih tinggi dari pada didaerahlainnya.Sejumlah regio
geografis Bumi, seperti Irlandia, memiliki prevalensi skizofrenia
yangtinggi.
d.Faktor

R e p r o d u k t i f Penggunaan

obat-obat

psikoterapeutik, penekanan pada rehabilitasi, kebijakan terbuka


dir u m a h

sakit,

dan

perawatan

berbasis

masyarakat

pada penderita skizofrenia secara umum

5. MANIFESTASI KLINIS
Gambaran gangguan jiwa skizofrenia beraneka ragam mulai dari
gangguan pada alam pikir, perasaan, dan perilaku yang mencolok
sampai yang tersamar. Gejala skizofrenia dapat dibagi menjadi 2
kelompok yaitugejala positif dan negatif.
Gejala Positif
1. De lusi / Waham . Adal ah suat u ke yak inan yan g t idak
r a s i o n a l ( t i d a k m a s u k a k a l ) . M e s k i p u n telah dibuktikan
secara obyektif bahwa keyakinannya itu tidak rasional, namun
penderita tetapmeyakini kebenarannya.
2.Halusinasi. Adalah pengalaman panca indra tanpa adanya
rangsangan atau stimulus. Misalnya penderita mendengar suarasuara / bisikan di telinganya padahal tidak ada sumber dari
suara bisikan itu.
3 . K e k a c a u a n a la m p ik ir, ya n g d a p a t d i lih a t d a r i is i
pembicaraannya.

Misalnya

bicaranya

k a c a u , sehingga

tidak dapat diikuti alur pikirannya.

43

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

4.Gaduh, gelisah, tidak dapat diam, mondar-mandir, agresif,


bicara dengan semangat dan gembira berlebihan.
5.Merasa dirinya orang besar, serba mampu, serba hebat,
dll.
6.Pikirannya penuh dengan kecurigaan atau seakan-akan
ada ancaman terhadap dirinya.
7.Menyimpan rasa permusuhan.
Gejala Negatif
1.Alam perasaan ( afek ) tumpul
Gambaran

alam

perasaan

ini

atau

m e n d a t a r.

dapat

terlihat

d a r i wajahnya yang tidak menunjukan ekspresi.


2.Menarik diri atau mengasingkan diri, tidak mau bergaul,
suka melamun.
3.Kontak emosional

amat

miskin,

sukar

diajak

bicara,

pendiam.
4.Pasif, apatis, menarik diri dari pergaulan sosial.
5.Sulit dalam berpikir abstrak.
6.Pola pikir stereotip.
7.Tidak ada atau kehilangan dorongan Manifestasi Kllinis
kehendak dan tidak ada inisiatif, tidak ada upaya dan
usaha,tidak ada spontanitas, monoton, serta tidak ingin apa-apa dan
serba malas ( kehilangan nafsu )
6. FAKTOR RESIKO
Faktor resiko skizofrenia adalah sebagai berikut:
1. Riwayat skizofrenia dalam keluarga
2. Kembar identik : Kembar identik memiliki risiko skizofrenia 50%,
walaupun gen mereka identik 100% (Videbeck, 2008).
3. Struktur otak abnormal : Dengan perkembangan teknik pencitraan
teknik noninvasif, seperti CT scan, Magnetic Resonance Imaging
(MRI), dan Positron Emission Tomography (PET) dalam 25 tahun
terakhir, para ilmuwan meneliti struktur otak dan aktivitas otak
individu penderita skizofrenia. Penelitian menunjukkan bahwa
44

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

individu penderita skizofrenia memiliki jaringan otak yang relatif


lebih sedikit (Carpenter, 2000).
4. Sosiokultural
Lingkungan sosial individu dengan skizofrenia di negaranegara

berkembang

mungkin

menfasilitasi

dan

memulihkan

(recovery) dengan lebih baik daripada di negara maju (Jenkins,


2003). Di negara berkembang, terdapat jaringan keluarga yang lebih
luas dan lebih dekat disekeliling orang-orang dengan skizofrenia dan
menyediakan lebih banyak kepedulian terhadap penderita. Keluargakeluarga di beberapa negara berkembang lebih sedikit melakukan
tindakan

permusuhan,

mengkritik,

dan

sangat

terlibat

jika

dibandingkan dengan keluarga-keluarga di beberapa negara-negara


maju. Hal ini mungkin membantu jumlah atau tingkat kekambuhan
dari anggota-anggota keluarga penderita skizofrenia.
5. Tampilan emosi
Sejumlah penelitian menunjukkan orang-orang dengan skizofrenia
yang keluarganya tinggi dalam mengekspresikan emosi, lebih besar
kemungkinannya untuk menderita kekambuhan psikosis daripada
mereka yang keluarganya sedikit atau kurang mengekspresikan
emosi (Hooley, 2000).

7. PATOFISIOLOGI
Patofisiologi skizofrenia melibatkan sistem dopamineregik dan
serotoneregik. Skizofrenia terjadi akibat dari peningkatan
aktivitas neurotransmitter dopamineregik. Peningkatan ini
merupakan akibat dari meningkatnya pelepasan dopamine,
45

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

terlalu banyaknya reseptor dompamine, turunnya nilai ambang


atau hipersensitivitas reseptor dompamine atau kombinasi dari
faktor-faktor tersebut.

8. PATHWAY

9. KOMPLIKASI
Komplikasi yang disebabkan oleh skizofrenia paranoid, meliputi:
Bunuh diri (pikiran dan perilaku)

46

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

Perilaku merusak diri sendiri

depresi

Penyalahgunaan alkohol, obat-obatan atau obat resep

kemiskinan

tunawisma

dipenjara

konflik keluarga

Ketidakmampuan untuk bekerja atau bersekolah

Gangguan kesehatan akibat obat antipsikotik

Menjadi korban atau pelaku kejahatan kekerasan


Jantung dan penyakit paru-paru yang berhubungan

dengan merokok

10. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Multiaksial :
Aksis I : gangguan klinis
Aksis II : gangguan keperibadian khas dan retardasi mental
Aksis III : KONDISI MEDIC UMUM
Aksis IV : masalah psikiologis dan lingkungan
Aksis V : penilain fungsi secara global
11. PENCEGAHAN
terdapat tiga bentuk pencegahan primer. Pertama, pencegahan
universal, ditujukan kepada populasi umum agar tidak terjadi faktor
risiko.

Caranya

adalah

mencegah

komplikasi

kehamilan

dan

persalinan. Kedua, pencegahan selektif, ditujukan kepada kelompok


yang mempunyai risiko tinggi dengan cara, orang tua menciptakan
keluarga yang harmonis, hangat, dan stabil. Ketiga, pencegahan
terindikasi, yaitu mencegah mereka yang baru memperlihatkan tandatanda fase prodromal tidak menjadi skizofrenia yang nyata, dengan
cara memberikan obat antipsikotik dan suasana keluarga yang
kondusif
47

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

12. PENATALAKSANAAN
1.

Terapi Somatik (Medikamentosa)


Obat-obatan yang digunakan untuk mengobati Skizofrenia
disebut antipsikotik. Antipsikotik bekerja mengontrol halusinasi, delusi
dan perubahan pola fikir yang terjadi pada Skizofrenia. Pasien mungkin
dapat mencoba beberapa jenis antipsikotik sebelum mendapatkan obat
atau kombinasi obat antipsikotik yang benar-benar cocok bagi pasien.
Antipsikotik pertama diperkenalkan 50 tahun yang lalu dan merupakan
terapi obat-obatan pertama yang efekitif untuk mengobati Skizofrenia.
Terdapat 3 kategori obat antipsikotik yang dikenal saat ini, yaitu
antipsikotik konvensional, newer atypical antipsycotics, dan Clozaril
(Clozapine)
a.

Antipsikotik Konvensional
Obat antipsikotik yang paling lama penggunannya disebut antipsikotik

konvensional. Walaupun sangat efektif, antipsikotik konvensional sering


menimbulkan efek samping yang serius. Contoh obat antipsikotik
konvensional antara lain :
Haldol (haloperidol) 5. Stelazine ( trifluoperazine)
Mellaril (thioridazine) 6. Thorazine ( chlorpromazine)
Navane (thiothixene) 7. Trilafon (perphenazine)
Prolixin (fluphenazine)
Akibat

berbagai

antipsikotik

efek

konvensional,

samping
banyak

yang
ahli

dapat
lebih

ditimbulkan

oleh

merekomendasikan

penggunaan newer atypical antipsycotic.


Ada 2 pengecualian (harus dengan antipsikotok konvensional).
Pertama, pada pasien yang sudah mengalami perbaikan (kemajuan)
yang pesat menggunakan antipsikotik konvensional tanpa efek
samping yang berarti. Biasanya para ahli merekomendasikan untuk
meneruskan pemakaian antipskotik konvensional. Kedua, bila pasien
mengalami kesulitan minum pil secara reguler. Prolixin dan Haldol
48

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

dapat diberikan dalam jangka waktu yang lama (long acting) dengan
interval 2-4 minggu (disebut juga depot formulations). Dengan depot
formulation, obat dapat disimpan terlebih dahulu di dalam tubuh lalu
dilepaskan secara perlahan-lahan. Sistem depot formulation ini tidak
dapat digunakan pada newer atypic antipsychotic.
b. Newer Atypcal Antipsycotic
Obat-obat yang tergolong kelompok ini disebut atipikal karena prinsip
kerjanya berbda, serta sedikit menimbulkan efek samping bila dibandingkan
dengan antipsikotik konvensional. Beberapa contoh newer atypical
antipsycotic yang tersedia, antara lain :

Risperdal (risperidone)

Seroquel (quetiapine)

Zyprexa (olanzopine)
c. Clozaril
Clozaril mulai diperkenalkan tahun 1990, merupakan antipsikotik atipikal
yang pertama. Clozaril dapat membantu 25-50% pasien yang tidak
merespon

(berhasil)

dengan

antipsikotik

konvensional.

Sangat

disayangkan, Clozaril memiliki efek samping yang jarang tapi sangat serius
dimana pada kasus-kasus yang jarang (1%), Clozaril dapat menurunkan
jumlah sel darah putih yang berguna untuk melawan infeksi. Ini artinya,
pasien yang mendapat Clozaril harus memeriksakan kadar sel darah
putihnya secara reguler. Para ahli merekomendaskan penggunaan. Clozaril
bila paling sedikit 2 dari obat antipsikotik yang lebih aman tidak berhasil.

Sediaan Obat Anti Psikosis dan Dosis Anjuran


No.
1

Nama Generik
Klorpromazin

Sediaan
Tablet, 25 dan 100 mg,

Dosis
150 - 600 mg/hari

Injeksi 25 mg/ml
49

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

Haloperidol

Tablet, 0,5 mg, 1,5 mg, 5 mg

5 - 15 mg/hari

3
4
5
6

Perfenazin
Flufenazin
Flufenazin dekanoat
Levomeprazin

Injeksi 5 mg/ml
Tablet 2, 4, 8 mg
Tablet 2,5 mg, 5 mg
Inj 25 mg/ml
Tablet 25 mg,

12 - 24 mg/hari
10 - 15 mg/hari
25 mg/2-4 minggu
25 - 50 mg/hari

7
8
9

Trifluperazin
Tioridazin
Sulpirid

Injeksi 25 mg/ml
Tablet 1 mg dan 5 mg
Tablet 50 dan 100 mg
Tablet 200 mg

10 - 15 mg/hari
150 - 600 mg/hari
300 - 600 mg/hari

10
11

Pimozid
Risperidon

Injeksi 50 mg/ml
Tablet 1 dan 4 mg
Tablet 1, 2, 3 mg

1 - 4 mg/hari
1 - 4 mg/hari
2 - 6 mg/hari

Pemilihan Obat untuk Episode (Serangan) Pertama


Newer atypical antipsycoic merupakn terapi pilihan untuk penderita
Skizofrenia episode pertama karena efek samping yang ditimbulkan minimal
dan resiko untuk terkena tardive dyskinesia lebih rendah. Biasanya obat
antipsikotik membutuhkan waktu beberapa saat untuk mulai bekerja.
Sebelum diputuskan pemberian salah satu obat gagal dan diganti dengan
obat lain, para ahli biasanya akan mencoba memberikan obat selama 6
minggu (2 kali lebih lama pada Clozaril)
Pemilihan Obat untuk keadaan relaps (kambuh)
Biasanya timbul bila pendrita berhenti minum obat, untuk itu, sangat penting
untuk mengetahui alasan mengapa penderita berhenti minum obat.
Terkadang penderita berhenti minum obat karena efek samping yang
ditimbulkan oleh obat tersebut. Apabila hal ini terjadi, dokter dapat
menurunkan dosis menambah obat untuk efek sampingnya, atau mengganti
dengan obat lain yang efek sampingnya lebih rendah. Apabila penderita
berhenti minum obat karena alasan lain, dokter dapat mengganti obat oral
dengan injeksi yang bersifat long acting, diberikan tiap 2- 4 minggu.
Pemberian obat dengan injeksi lebih simpel dalam penerapannya. Terkadang
50

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

pasien dapat kambuh walaupun sudah mengkonsumsi obat sesuai anjuran.


Hal ini merupakan alasan yang tepat untuk menggantinya dengan obat
obatan yang lain, misalnya antipsikotik konvensonal dapat diganti dengan
newer atipycal antipsycotic atau newer atipycal antipsycotic diganti dengan
antipsikotik atipikal lainnya. Clozapine dapat menjadi cadangan yang dapat
bekerja bila terapi dengan obat-obatan diatas gagal.

Pengobatan Selama fase Penyembuhan


Sangat penting bagi pasien untuk tetap mendapat pengobatan walaupun
setelah sembuh. Penelitian terbaru menunjukkan 4 dari 5 pasien yang
behenti minum obat setelah episode petama Skizofrenia dapat kambuh. Para
ahli merekomendasikan pasien-pasien Skizofrenia episode pertama tetap
mendapat

obat

antipskotik

selama

12-24

bulan

sebelum

mencoba

menurunkan dosisnya. Pasien yang mendertia Skizofrenia lebih dari satu


episode, atau balum sembuh total pada episode pertama membutuhkan
pengobatan yang lebih lama. Perlu diingat, bahwa penghentian pengobatan
merupakan penyebab tersering kekambuhan dan makin beratnya penyakit.
Efek Samping Obat-obat Antipsikotik
Karena penderita Skizofrenia memakan obat dalam jangka waktu yang lama,
sangat penting untuk menghindari dan mengatur efek samping yang timbul.
Mungkin masalah terbesar dan tersering bagi penderita yang menggunakan
antipsikotik konvensional gangguan (kekakuan) pergerakan otot-otot yang
disebut juga Efek samping Ekstra Piramidal (EEP). Dalam hal ini pergerakan
menjadi lebih lambat dan kaku, sehingga agar tidak kaku penderita harus
bergerak (berjalan) setiap waktu, dan akhirnya mereka tidak dapat
beristirahat. Efek samping lain yang dapat timbul adalah tremor pada tangan
dan kaki. Kadang-kadang dokter dapat memberikan obat antikolinergik
(biasanya benztropine) bersamaan dengan obat antipsikotik untuk mencegah
51

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

atau mengobati efek samping ini. Efek samping lain yang dapat timbul adalah
tardive dyskinesia dimana terjadi pergerakan mulut yang tidak dapat
dikontrol, protruding tongue, dan facial grimace. Kemungkinan terjadinya efek
samping ini dapat dikurangi dengan menggunakan dosis efektif terendah dari
obat

antipsikotik.

Apabila

penderita

yang

menggunakan

antipsikotik

konvensional mengalami tardive dyskinesia, dokter biasanya akan mengganti


antipsikotik konvensional dengan antipsikotik atipikal.
Obat-obat untuk Skizofrenia juga dapat menyebabkan gangguan fungsi
seksual, sehingga banyak penderita yang menghentikan sendiri pemakaian
obat-obatan

tersebut.

Untuk

mengatasinya

biasanya

dokter

akan

menggunakan dosis efektif terendah atau mengganti dengan newer atypical


antipsycotic yang efek sampingnya lebih sedikit. Peningkatan berat badan
juga sering terjadi pada penderita Sikzofrenia yang memakan obat. Hal ini
sering terjadi pada penderita yang menggunakan antipsikotik atipikal. Diet
dan olah raga dapat membantu mengatasi masalah ini. Efek samping lain
yang jarang terjadi adalah neuroleptic malignant syndrome, dimana timbul
derajat kaku dan termor yang sangat berat yang juga dapat menimbulkan
komplikasi

berupa

demam

penyakit-penyakit

lain.

Gejala-gejala

ini

membutuhkan penanganan yang segera.


2.

Terapi Psikososial

a. Terapi perilaku
Teknik perilaku menggunakan hadiah ekonomi dan latihan
ketrampilan

sosial

untuk

meningkatkan

kemampuan

sosial,

kemampuan memenuhi diri sendiri, latihan praktis, dan komunikasi


interpersonal. Perilaku adaptif adalah didorong dengan pujian atau
hadiah yang dapat ditebus untuk hal-hal yang diharapkan, seperti hak
istimewa dan pas jalan di rumah sakit. Dengan demikian, frekuensi
perilaku maladaptif atau menyimpang seperti berbicara lantang,
52

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

berbicara sendirian di masyarakat, dan postur tubuh aneh dapat


diturunkan.
b. Terapi berorintasi-keluarga
Terapi ini sangat berguna karena pasien skizofrenia seringkali
dipulangkan dalam keadaan remisi parsial, keluraga dimana pasien
skizofrenia kembali seringkali mendapatkan manfaat dari terapi
keluarga yang singkat namun intensif (setiap hari). Setelah periode
pemulangan segera, topik penting yang dibahas didalam terapi
keluarga

adalah

proses

pemulihan,

khususnya

lama

dan

kecepatannya. Seringkali, anggota keluarga, didalam cara yang jelas


mendorong sanak saudaranya yang terkena skizofrenia untuk
melakukan aktivitas teratur terlalu cepat. Rencana yang terlalu
optimistik

tersebut

berasal

dari

ketidaktahuan

tentang

sifat

skizofreniadan dari penyangkalan tentang keparahan penyakitnya.


Ahli terapi harus membantu keluarga dan pasien mengerti skizofrenia
tanpa menjadi terlalu mengecilkan hati. Sejumlah penelitian telah
menemukan bahwa terapi keluarga adalah efektif dalam menurunkan
relaps. Didalam penelitian terkontrol, penurunan angka relaps adalah
dramatik. Angka relaps tahunan tanpa terapi keluarga sebesar 25-50
% dan 5 - 10 % dengan terapi keluarga.
c. Terapi kelompok
Terapi kelompok bagi skizofrenia biasanya memusatkan pada
rencana, masalah, dan hubungan dalam kehidupan nyata. Kelompok
mungkin

terorientasi

secara

perilaku,

terorientasi

secara

psikodinamika atau tilikan, atau suportif. Terapi kelompok efektif


dalam menurunkan isolasi sosial, meningkatkan rasa persatuan, dan
meningkatkan tes realitas bagi pasien skizofrenia. Kelompok yang
memimpin dengan cara suportif, bukannya dalam cara interpretatif,
tampaknya paling membantu bagi pasien skizofrenia.
d. Psikoterapi individual
53

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

Penelitian yang paling baik tentang efek psikoterapi individual


dalam pengobatan skizofrenia telah memberikan data bahwa terapi
alah membantu dan menambah efek terapi farmakologis. Suatu
konsep penting di dalam psikoterapi bagi pasien skizofrenia adalah
perkembangan suatu hubungan terapetik yang dialami pasien
sebagai aman. Pengalaman tersebut dipengaruhi oleh

dapat

dipercayanya ahli terapi, jarak emosional antara ahli terapi dan


pasien, dan keikhlasan ahli terapi seperti yang diinterpretasikan oleh
pasien. Hubungan antara dokter dan pasien adalah berbeda dari
yang

ditemukan

di

dalam

pengobatan

pasien

non-psikotik.

Menegakkan hubungan seringkali sulit dilakukan; pasien skizofrenia


seringkali

kesepian

dan

menolak

terhadap

keakraban

dan

kepercayaan dan kemungkinan sikap curiga, cemas, bermusuhan,


atau teregresi jika seseorang mendekati. Pengamatan yang cermat
dari jauh dan rahasia, perintah sederhana, kesabaran, ketulusan hati,
dan kepekaan terhadap kaidah sosial adalah lebih disukai daripada
informalitas yang prematur dan penggunaan nama pertama yang
merendahkan diri. Kehangatan atau profesi persahabatan yang
berlebihan adalah tidak tepat dan kemungkinan dirasakan sebagai
usaha untuk suapan, manipulasi, atau eksploitasi.
3. Perawatan di Rumah Sakit (Hospitalization)
Indikasi utama perawatan rumah sakit adalah untuk tujuan
diagnostik, menstabilkan medikasi, keamanan pasien karena gagasan
bunuh diri atau membunuh, prilaku yang sangat kacau termasuk
ketidakmampuan

memenuhi

kebutuhan

dasar.

Tujuan

utama

perawatan dirumah sakit yang harus ditegakkan adalah ikatan efektif


antara pasien dan sistem pendukung masyarakat. Rehabilitasi dan
penyesuaian yang dilakukan pada perawatan rumahsakit harus
direncanakan.
54

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

Dokter harus juga mengajarkan pasien dan pengasuh serta


keluarga pasien tentang skizofrenia. Perawatan di rumah sakit
menurunkan stres pada pasien dan membantu mereka menyusun
aktivitas harian mereka. Lamanya perawatan rumah sakit tergantung
dari keparahan penyakit pasien dan tersedianya fasilitas pengobatan
rawat jalan. Rencana pengobatan di rumah sakit harus memiliki
orientasi praktis ke arah masalah kehidupan, perawatan diri, kualitas
hidup, pekerjaan, dan hubungan sosial. Perawatan di rumah sakit
harus diarahkan untuk mengikat pasien dengan fasilitas perawatan
termasuk keluarga pasien. Pusat perawatan dan kunjungan keluarga
pasien kadang membantu pasien dalam memperbaiki kualitas hidup.

13. DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Isolasi sosial b.d harga diri rendah
2. Resiko perubahan persepsi sensori: halusinasi pendengaran b.d
menarik diri
3. Kurang perawatan diri b.d menarik diri

14. NOC NIC STRIKTUR URETRA


1. Gangguan pemenuhan eliminasi urin berhubungan dengan retensi
urin, obstruksi uretra sekunder dari penyempitan lumen uretra.
Kriteria Evaluasi :

Eliminasi urin tanpa ada keluhan subjektif, seperti nyeri dan urgensi.
Eliminasi urin tanpa meggunakan kateter.
Pascabedah tanpa ada komplikasi.
Frekuensi miksi dalam batas 5-8 x/jam.
Intervensi :
1. Kaji pola berkemih dan catat produksi urin tiap 6 jam.

55

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

2. Monitor adanya keluhan subjektif pada saat melakukan eliminasi


urin.
3. Kolaborasi :
Pelebaran

uretra,

baik

secara

uretrotomi

inernal

atau

pemasangan stent uretra.


Bedah rekonstruksi
4. Evaluasi pasca-intervensi pelebaran uretra
2. Risiko tinggi trauma berhubungan dengan kerusakan jaringan pasca
prosedur pembedahan.
Kriteria Evaluasi :

Tidak ada keluhan subjektif, seperti disuria, dan urgensi.


Eliminasi urin tanpa menggunakan kateter.
Pascabedah tanpa ada komplikasi.

Intervensi :
1. Monitor adanya keluhan subjektif pada saat melakukan eliminasi urin.
2. Istirahatkan pasien setelah pembedahan.
3. Lepas kateter pada hari ke 1-3 pascaoperasi
4. Evaluasi pasca-intervensi pelebaran uretra.
5. Kolaborasi :
Antibiotik intravena pascaoperasi
Agen antimuskarinik
3. Nyeri berhubungan dengan peregangan dari terminal saraf, disuria,
resistensi otot prostat, efek mengejan saat miksi sekunder dari
obstruksi uretra, nyeri pascabedah.
Kriteria Evaluasi :

Secara

diadaptasi. Skala nyeri 0-1 (0-4).


Dapat mengidentifikasi aktivitas

menurunkan nyeri.
Ekspresi pasien rileks.

subjektif

melaporkan

nyeri

berkurang

yang

atau

meningkatkan

dapat
atau

Intervensi :
1. Jelaskan dan bantu pasien dengan tindakan pereda nyeri nonfarmakologi dan
56

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

non invasif.
2. Lakukan manajemen nyeri keperawatan :
Istirahatkan pasien
Manajemen lingkungan tenang dan batasi pengunjung.
Ajarkan teknik relaksasi pernafasan dalam
Ajarkan teknik distraksi pada saat nyeri.
3. Tingkatkan pengetahuan tentang : sebab-sebab nyeri.
4. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgetik.
4. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan port de entree luka
pascabedah.
Kriteria hasil :

Suhu tetap dalam rentang normal.


Hitung Sel Darah Putih (SDP) dan hitung diferensial Sel Darah

Putih (SDP) tetap dalam rentang normal.


Pasien mempertahankan kepribadian dan hygiene perorangan

yang baik.
Urin tetap berwarna kuning jernih, tidak berbau, tidak ada endapan.
Luka dan insisi terlihat bersih, merah muda, dan bebas dari

drainase purulen.
Tempat masuk intravena tidak memperlihatkan tanda-tanda

inflamasi.
Pasien tidak memperlihatkan adanya bukti gangguan kulit.
Pasien menyatakan faktor resiko infeksi.
Pasien mengidentifikasi tanda-tanda dan gejala infeksi.
Pasien tetap terbebas dari infeksi.
Intervensi :
1. Mencuci tangan sebelum dan setelah memberikan perawatan.
2. Menggunakan sarung tangan untuk mempertahankan asepsis pada saat
memberikan perawatan langsung.
3. Pantau suhu minimal setiap 4 jam dan catat pada kertas grafik. Laporkan
evaluasi segera.
4. Bantu pasien mencuci tangan sebelum dan sesudah makan dan setelah dari
kamar mandi.
5. Ganti slang IV dan berikan perawatan daerah pemasukan setiap 24 sampai
48 jam atau sesuai kebijakan yang diterapkan di rumah sakit.

57

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

6. Yakinkan asupan nutrisi yang adekuat.


7. Beri pendidikan kepada pasien mengenai :
Teknik mencuci tangan yang baik
Faktor-faktor yang meningkatkan risiko infeksi
Tanda-tanda dan gejala infeksi
5. Kecemasan berhubungan dengan prognosis pembedahan, tindakan
diagnostik invasif.
Kriteria Evaluasi :

Pasien menyatakan kecemasan berkurang


Mengenal perasaannya
Mengidentifikasi penyebab atau faktor yang mempengaruhinya
Kooperatif terhadap tindakan, dan
Wajah rileks.

Intervensi :
1. Bantu pasien mengekspresikan perasaan marah, kehilangan, dan takut
2. Beri dukungan prabedah
3. Hindari konfrontasi
4. Beri lingkungan yang tenang dan suasana penuh istirahat
5. Beri kesempatan kepada pasien untuk mengungkapkan ansietasnya.
6. Berikan privasi untuk pasien dan orang terdekat
7. Kolaborasi :
8. Berikan anticemas sesuai indikasi, contohnya diazepam.
6. Gangguan konsep diri ( gambaran diri ) berhubungan dengan risiko
kerusakan organ seksual.
Kriteria evaluasi :
Pasien kooperatif pada setiap intervensi keperawatan.
Mampu menyatakan atau mengomunikasikan dengan orang

terdekat tentang situasi dan perubahan yang sedang terjadi.


Mampu menyatakan penerimaan diri terhadap situasi
Mengakui dan menggabungkan perubahan ke dalam konsep diri
dengan cara yang akurat tanpa harga diri yang negatif.

Intervensi :
1. Kaji perubahan dari gangguan persepsi dan hubungan dengan derajat
ketidakmampuan.
58

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

2. Identifikasi arti dari kehilangan atau disfungsi pada pasien.


3. Anjurkan pasien untuk mengekspresikan perasaan.
4. Catat ketika pasien menyatakan terpengaruh seperti

sekarat

atau

mengingkari dan menyatakan inilah kematian.


5. Pernyataan pengakuan terhadap penolakan tubuh, mengingatkan kembali
fakta kejadian tentang realitas bahwa masih dapat menggunakan sisi yang
sakit dan belajar mengontrol sisi yang sehat.
6. Bantu dan anjurkan perawatan yang baik dan memperbaiki kebiasaan.
7. Anjurkan orang yang terdekat untuk mengijinkan pasien melakukan
sebanyak-banyaknya hal-hal untuk dirinya.
8. Dukung perilaku atau usaha seperti peningkatan minat atau partisipasi dalam
aktivitas rehabilitasi.
9. Monitor gangguan tidur peningkatan kesulitan konsentrasi, letargi, dan
withdrawl.
10. Kolaborasi: rujuk pada ahli neuropsikologi dan konseling bila ada indikasi.

59

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B

G. JUMP 7 : DAFTAR PUSTAKA


Maramis, Willy F. 2009. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Ed 2. Surabaya.
Airlangga University Press

Maramis, Willy F. 2009. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Ed 2.


Surabaya. Airlangga University Press
Stuart, Gail W. 2006. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Ed 5. Jakarta. EGC
Schizophrenia. www.merck.com diakses tanggal 15 Oktober 2011
Schizophrenia. www.emedicine.com diakses tanggal 15 oktober 2011
http://news.unpad.ac.id/?p=20625
http://www.scribd.com/doc/93395646/Manifestasi-Klinis-Dan-KriteriaDiagnosis-Skizofrenia#scribd
http://news.unpad.ac.id/?p=20625

60

Modul Keperawatan Neurobehavior Lbm 4 Kasus Skizoprenia


Kelompok II PSIK VI B