Anda di halaman 1dari 7

I;

Tujuan Praktikum
Mempelajari karakteristik kimiawi dan enzimatis saliva manusia melalui
serangkaian pengujian dan secara spektrofotometri.

II;

Tinjauan Pustaka
Saliva adalah cairan pekat licin karena mengandung molekul-molekul
karbohidrat protein yang disebut mucin. Mucin ini memungkinkan saliva
mengikat partikel-partikel kecil makanan bersama menjadi sebuah massa lunak
yang mudah ditelan. Saliva juga mengandung amilase atau enzim pencernaan pati
yang mengkatalisis hidrolisis pati menjadi gula maltosa. Amilase ini disebut
dengan ptialin.
Saliva merupakan sekresi yang pertama dari sejumlah sekresi yang dikeluarkan
kedalam saluran pencernaan. ( D.S. Ernawati, 1997:444-445)
Terdapat variasi yang perlu diperhitungkan dalam komposisi ion saliva antar
spesien dan antar kelenjar. Tapi umumnya, saliva yang disekrsi didalam asini
mungkin isotonik, dengan konsentrasi Na, K, Cl dan HCO3, yang mirip dengan
plasma. Duktus eksretorius dan duktus interkalalus memodifikasi komplikasi
saliva yang melaluinya dengan mengmbil Na dan Cl dan menambahkan K dan
HCO3. Duktus tersebut relatif impermeable terhadap ai, dan saliva menjadi
hipotonik didalam sistem duktus. Akibatnya, meskipun pada manusia tetap
hipotonik,saliva lebih dekat ke isotonik, dengan konsentrasi Na dan Cl yang lebih
tinggi. ( William. Fisiologi Ganong, 1998:476 )
Liur yang disekresikan oleh kelenjar liur, terdiriatas sekitar 99,5%
air.liurmengandung suatu glikoprotein, musin yang bekerja sebagai pelumas pada
waktu mengunyah dan menelan makanan.menambati air pada makanan kering
akan memberi media bagi tempat melarutnya molekul makanan dan tempat
hidrolase dapatmemulai pencernaan. Gerakan mengunyah berfungsi memecah
makanan sehingga terjadi peningkatan kelarutan dan perluasan daerah permukaan
bagi kerja enzim. Nilai PH liur biasanya ada sekitar 6,8. Kendati dapat bervariasi
pada kedua sisi netralis tersebut. ( Robert.K.Murray,2003:632 )
Kelenjar saliva yang utama adalah kelenjar parotis, submandibularis, dan
sublingualis, selain itu juga ada beberapa kelenjar bukalis yang sangat kecil.
Sekresi saliva normal harian berkisar 800-1500 ml, seperti yang ditunjukkan
dengan nilai rata-rata 1000 ml. Saliva mengandung 2 tipe sekresi protein yang
utama antara lain ; (1) sekresi serosa yang mengandung ptialin ( suatu amilase),
yang merupakan enzim untuk mencernakan karbohidrat, dan (2) sekresi mukus
yang mengandung musin untuk tujuan pelumasan dan perlindungan permukaan.
Kelenjar parotis hampir seluruhnya menyekresikan tipe serosa, sementara kelenjar
submandibularis dan sublingualis menyekresi mukus mukus dan serosa. Kelenjar
bukalis hanya menyekresi mukus. Saliva mempunyai pH antara 6,0-7,0 suatu
kisaran yang menguntungkan untuk kerja pencernaan dari ptialin.
(Guyton Hall,2007)
Saliva terutama mengandung sejumlah besar ion kalium dan ion bikarbonat.
Sebaliknya, konsentrasi ion natrium dan klorida umumnya lebih rendah pada
saliva daripada di dalam plasma. Sekresi saliva terjadi melalui 2 taha: tahap
pertama melibatkan asinus dan yang kedua duktus salivatorua. Sel asinus
menyekresi kelenjar primer yang mengandung ptialin dan atau musin dalam
larutan ion dengan konsentrasi yang tidak jauh berbeda dari yang disekresikan
dalam cairan ekstrasel biasa. Sewaktu sekresi primer mengalir melalui duktus,

terjadi dua proses transport aktif utama yang memodifikasi komposisi ion pada
cairan saliva secara nyata. .
(Guyton Hall,2007)
Saliva mengandung beberapa komponen yang mampu mengaglutinasi bekteri
mulut. Akibatnya interaksi komponen tersebut dengan bakteri menghasilkan
agregasi bakteri yang mudah dibersihkan oleh saliva dan kemudian tertelan.
Saliva mengandung 4 macam protein anionik yang dapat menghambat
pertumbuhan S. Mutans. Berat molekul protein ini adalah 14-17 kilodalton. Pada
orang yang bebas karies protein ini dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Pada
penderita karies, justru merupakan penyumbang nitrogen bagi pertumbuhan
s.mutan. Saliva mengandungsubstansi yang mampu meningkatkan Ph yaitu sialin.
Sialin merupakan tetrapeptida yaituglisinglisin-L-lisin-L-arginin. Sialin berfungsi
pula untuk mendorong glikolisis, karena peningkatan Ph diikuti dengan glikolisis.
Sialin hanya aktif untuk meningkatkan pH yang rendah. Selain sialin saliva juga
mengandung urea yang juga berfungsi sebagai sialin. Urea akan dipecah menjadi
enzim urease menjadi ammonia dan karbondioksida. Peningkatan Ph pada
lingkungan asam terutama dilakukan oleh karbondioksida. Saliva dari glandula
salivarius submandibularis dan parotid yang mengkontribusikan 90 % total saliva,
yang mengandung 8-10 mg lipid/100 ml saliva. Lipid saliva terdiri dari lipidetral,
yang terdiri dari glikolipid, glikoseroglukolipid,gliserospingolipid yang sederhana.
Sedangkan fosfolipid terdiri dari fosfatidilkolin. Peranan hormon saliva dalam esis
penyakit mulut belum diketahui dengan pasti. Namun pengukuran level hormon
saliva memperlihatkan proses metabolisme hormon dalam tubuh yaitu hormon
plasma serum, konsentrasi hormon saliva memperlihatkan fraksi bebas di dalam
saliva. Hormon-hormon tersebut yaitu:
1; Hormon steroid yaitu estrogen, progestin, androgen, kortikosteroid
2; Hormon non steroid yaitu khoriongonadotropin (-HCG) karsino
embriogenik (CEA), gonadotropin dan prolaktin serta thirosin
( Biologi mulut I kedokteran gigi: 70-72)
Produk sekresi pada berbagai sel sering ditimbun pada granula. Karena tiaptiap sel (serus, mukus) membuat produk sekresi spesifik dan ini bahkan untuk tiap
kelenjar masih dapat lain lagi, maka tiap kelenjar akan menghasilkan ludah
dengan susunan spesifik. Sumbangan relatif kelenjar bahkan masih tergantung
dari sejumlah faktor lain seperti stimulus ( kolinergik atau adrenergik), irama
siang dan malam dan ukuran resorpsi di dalam saluran pembuangan. Kecepatan
aliran ludah melalui saluran pembuangan juga sangat berpengaruh pada
konsentrasi akhir komponen ludah.
(Houwink dkk, 1993)
Saliva mengandung sejumlah komponen, yaitu memiliki aktivitas
antibakterial. Di sini antara lain dapat diperhitungkan : lisozim, imunoglobulin
saliva, sistem laktoperoksidaseisotiosianat dan laktoferin. Sistem imunoglobulin
total terutama terdiri dari sekresi IgA, disamping sejumlah kecil IgG dan IgM.
Pada IgA saliva terikat pada suatu secretory peace. Ini merupakan suatu
glikoprotein yang dihubungkan dengan IgA dam melindungi IgA terhadap
kerusakan. Dalam saliva bercampur dijumpai sejumlah kecil IgG, IgM, IgA, yang

asalnya cairan krevikular dan kemungkinannya terutama mempunyai suatu fungsi


lokal di dalam gingiva
Mekanisme imunitas adalah
1; IgA sektretori adalah imunoglobulin yang paling penting dalam saliva dan

akan berperan dalam mencegah infeksi mikroba pada mukosa


2; Sekresi terseleksi dari IgA sekretori tergantung dari komponen sekretori

yang bersatu dengan dimmer IgA oleh rantai JigA dan rantai J disekresi
oleh sel plasma kelenjar saliva. IgA dimmer kemudian bergantung dengan
komponen sekretori, disintesa oleh sel epitel kelenjar asini dan terbentuk
SigA yang kemudian dibawa ke lumen duktus dan di keluarkan ke dalam
rongga mulut. Keuntungan IgA sekretori adalah lebih tahan terhadap
pemecahan proleolitik daripada imunoglobulin lainnya
3; Mekanisme utama dari aksi SigA adalah antibodi yang didapat dengan
jasad renik dan mencegah perlekatannya pada permukaan mukosa
Secara garis besar, fungsi saliva sebagai sistem pertahanan tubuh dapat :
1; Mencegah pembentukan kompleks bakteri yang spesifik
2; Menekan pertumbuhan mikroorganisme
3; Mencegah penyebaran mikroorganisme di dalam hospes dan membuat

lingkungan yang tidak menyenangkan bagi mikroorganisme


(Houwink dkk, 1993)
Kira-kira 1500 ml saliva dieksersi per hari. Ph saliva pada kelenjar istirahat
sedikit lebih rendah dari 7,0 tapi selama sekresi aktif, ph mencapai 8,0.saliva
mengandung 2 enzim pencernaan: lipase lingual, disekresi oleh kelenjar pada
lidah, dan ptialin disekresi oleh kelenjar saliva. Saliva juga mengandung
musin, yaitu glikoprotein yang membasahi makanan dan melindungi mukosa
mulut. Saliva juga mengandund IgA sebagai pertahanan imunologik petama
terhadap kuman dan virus. ( willim, fisiologi Ganong, 1998:476 )

III;

Metodologi Percobaan
Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan adalah
- Tabung reaksi/test tube + rak
- Pipet tetes/pasteur
- Pipet ukur/Mohrl
- Pipet volume+ball pipet
- Beaker glass
- Pengaduk gelas
- Pengatur waktu
- Erlenmeyer
- Spektrofotometer visible + kuvet
- Water bath
- Botol semprot

III.1;

Bahan / reagent yang digunakan


- Sampel saliva
- Sodium hidroksida NaOH 5% dan 10 %
- Tembaga (II) sulfat CuSO4
- Asam asetat CH3COOH 5 %
- Asam nitrat HNO3 5%
- Perak nitrat KI-KIO3
- Kalium iodida KI
- Amilum 1%
- Barium klorida BaCl2
- Ammonium molibdat (NH4)6Mo7O24
- Asam sulfat H2SO4 5%
- Ferri klorida FeCl3 2%
- Aguades
- Indikator-indikator ( phenolphthalein PP, Methyl orange MO, Methyl red
MM, Methyl Blue MB)
- Kapas steril
- Label kertas
- Tissue
III.2;
Skema Kerja
Preparasi sampel saliva
Saliva diambil dari masing-masing
praktikan

- praktikan harus berkumur dahulu untuk membuang sisa


makanan
- dikunyah kapas steril
- di kumpulkan saliva hingga mencapai 20 ml

HASIL
Pengukuran karakteristik kimiawi
1; Pengukuran Sifat Keasaman atau pH Saliva
1 ml saliva dalam 4 tabung reaksi

-ditambahkan masing-masing 5 tetes PP,MO,MM, dan MB


- dicatat perubahan warna pada masing-masing indikator

HASIL
2; Sifat saliva sebagai protein Uji Biuret
1 ml aquades dan 1 ml saliva

-masing-masing ditambahkan 5 tetes NaOH 5%


- ditambah 3 tetes CuSO4
- dicatat perubahan warnanya

HASIL
3. Pengujian kandungan Mucin
2 ml saliva dalam tabung I dan II

-tabung I ditambah 1 tetes CH3COOH 5%


- tabung II ditambah 5 tetes aquades
- tabung I dan II ditambah 2 tetes NaOH 10%
- dicatat perubahan yang terjadi

HASIL
4. Pengujian kandungan klorida
1 ml saliva dalam tabung reaksi

- ditambah 3 tetes HNO3 5%


- ditambah 2 tetes AgNO3

- dicatat perubahan warna yang terjadi


HASIL
5. Pengujian kandungan Sulfat
1 ml saliva dalam tabung reaksi

- ditambah 3 tetes HNO3 5%


- ditambah 2 tetes BaCl2
- dicatat perubahan kekeruhan saliva
HASIL

6. Pengujian kandungan Fosfat


1 ml saliva dalam tabung reaksi

-ditambah 1 tetes HNO3 5%


- ditambah 1ml (NH4)6Mo7O24
- dipanaskan pada 65 C
- dicatat perubahan kekeruhan saliva
HASIL

7. Pengujian kandungan Kalsium


1 ml saliva dalam tabung reaksi

-ditambah 1 tetes CH3COOH


- dicatat perubahan kekeruhan saliva
HASIL
8. Pengujian kandungan Nitrat
1 ml saliva dalam tabung reaksi

-ditambah 3 tetes H2SO4 5 %


- ditambah 2 tetes KI
- di tambah 1 tetes amilum
- dicatat perubahan kekeruhan saliva
HASIL
9. Pengujian kandungan Thiosianat
1 ml saliva dalam tabung reaksi

-ditambahkan 1 tetes FeCl3 2%


-ditambahkan 3 tetes HCl 5%
- dicatat perubahan yang terjadi, jika berwarna merah
Menunjukkan adanya garamthiosinat yang membentuk
Komplek ion dengan ferrifosfat
-ditambahkan 1 ml HgCl2
- dicatat warna yang timbul karena merkuri rhodamida
HASIL
Pengujian Karakteristik Enzimatis-Aktivitas Amilase dalam air liur
5 ml aquades dalam erlenmeyer

-ditambah 1 ml substrat amilum 1 %


- dikocok dengan shaker agar larutan tercampur
- disiapkan 2 tabung reaksi
- diberi tanda 0 dan 20

- diisi tiap tabung dengan reaksi dengan 10 ml HCl 0,05 N


- dimasukkan larutan 1 ml larutan substrat point a kedalam
tabung reaksi bertanda 0
-dikocok sebentar. Larutan ini berfungsi sebagai blanko
-dimasukkan 1 ml saliva kedalam cairan sisa point a
-dicampur dengan cepat
-dicatat waktu tepat pada saat penambahan enzim
- diinkubasi sambil sekali waktu digoyang agar tercampur
-mendekati 20 menit enzim dimasukkan 1 ml larutan dari
erlenmeyer dimasukkan kedalam tabung reaksi bertanda 20
tepat setelah 20 menit
-dikocok sebentar
- setiap tabung reaksi di tambahkan 1 ml larutan KI-KIO3
- dicampur hingga merata
- ditunggu 5-10 menit
- ditentukan intensitas warna yang timbul dengan
spektrofotometer pada panjang gelombang 660
- ditentukan prosentase substrat yang dicerna oleh amilase
saliva melalui persamaan
Substrat yang di cerna (%)= 100% HASIL

Absorbansi 20
Absorbansi 0

X 100%