Anda di halaman 1dari 30

PROPOSAL RISET KEPERAWATAN

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN MAHASISWA Tk III


TENTANG KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA
TERHADAP RESIKO TERJADINYA PENYAKIT MENULAR SEKSUAL
DI AKPER PEMPROV KALTIM

Untuk Memenuhi Tugas Mata Ajar Riset Keperawatan


DI SUSUN OLEH :
Roby Pandu Pradana
72.20.001.D.13.075
III B

AKADEMI KEPERAWATAN PEMERINTAH PROVINSI


KALIMANTAN TIMUR
2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masalah kenakalan remaja saat ini menjadi topic yang sedang hangat dibicarakan.
Telah banyak artikel dalam media cetak. Ceramah, wawancara baik di radio maupun
televisi serta penyuluhan mengenai bahaya dari pergaulan bebas dan kerugian yang
ditimbulkan akibat kenakalan remaja. Berbagai kebijakan dan aturan yang di buat oleh
institusi pendidikan dan hukum di Indonesia memuat sanksi bagi para remaja yang
bermasalah.
Peningkatan insidens penyakit menular seksual tidak terlepas dari kaitannya
dengan perilaku resiko tinggi. Terdapat beberapa angkap revalensi mengenai penyakit
menular seksual sebagai berikut : China 600.000 orang terkena HIV/AIDS, Thailand
sebanyak 735.000 orang terkena HIV/AIDS, Myanmar sebanyak 530.000 orang terkena
HIV/AIDS, Kamboja sebanyak 220.000 orang, Vietnam sebanyak 100.000 orang,
Indonesia 80.000 - 120.000 dan Laos sebanyak 1.400 orang yang terkena HIV/AIDS.
(Chantavanich, Beeseydan Paul, 2000). Di Samarinda jumlah penderita HIV/AIDS
berjumlah sebanyak 66 orang. (Komisi Penanggulangan AIDS, 2011)
Masa remaja merupakan salah satu periode dari perkembangan manusia. Masa ini
merupakan masa perubahan atau peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa yang
meliputi perubahan biologi, perubahan psikologi, dan perubahan sosial. Di sebagian
masyarakat dan budaya masa remaja pada umumnya di mulai pada usia 10-13 tahun dan
berakhir pada usia 18-22 tahun. World Health Organization (WHO) remaja merupakan
individu yang sedang mengalami masa peralihan yang secara berangsur-angsur mencapai
kematangan seksual, mengalami perubahan jiwa dari jiwa kanak-kanak menjadi dewasa,
dan mengalami perubahan keadaan ekonomi dari ketergantungan menjadi relatif mandiri.

Pada tahun 1981, pangkahila melakuakan penelitian di bali terhadap ABG(anak


baru gede) ternyata pengalaman seksual mereka cukup jauh .terdapat 56,0% dari mereka
pernah melakukan ciuman bibir,31,0% yang pernah dirangsang alat kelaminya,dan
bahkan pernah melakuakan hubungan seksual sebanyak 25,0% satu tahun kemudian
,sarlito (1982) melakukan penelitian di jakarta ternyata hanya 75,0% dari responden
remaja putri yang di teliti masih menjaga ke gadisanya. Artinya 25,0% remaja putri telah
melakukan hungan seks .kemudian penelitian di yogyakarta (1984) terungkap bahwa
13,0% dari 846 pernikahan di dahului oleh kehamilan. Dan pada tahun 1985 hasil
penelitian biran affandi menunjukkan bahwa 80,0% dari remaja yang hamil melakukan
hubungan seksual di rumah mereka sendiri.
Pada tahun 1989 penelitian yang dilakuakan oleh fakultas psikologi UI juga
menunjukkan bahwa ada 61,0% anak usia 16-20 tahun pernah melakuakan seksual
intercourse (sanggama) dengan temanya dan suatu penelitian terhadap siswa SMTP di
bandung ternyata terdapat 10,53% dari mereka pernah melakuakan ciuman bibir,
5,60%pernah melakukan ciuman dalam, dan 3,86% pernah melakuakan hubungan
seksual. Penelitian yang dilakukan oleh sebuah majalah mingguan ibu kota dari
responden 100 orang pelajar dari 26 SMA di Jakarta menunjukkan bahwa 41,0% pelajar
mengaku pernah melakuakan hubungan seks dengan lawan njenis (51.7% pada laki-laki
dan 25,0%pada wanita). Di samping responden yang melakuakan hubungan seks dengan
lawan jenis, ada 42,0% yang pernah berciuaman dengan lawan jenis, 4,0% pernah meraba
alat kelamin alat vital lawan jenis ,dan 12,0% pernah menyenggol, memegang, meraba
,membelai bagian tubuh yang peka milik lawan jenisnya. Hanya 1,0% saja yang tidak
mempunyai pengalaman seks dengan lawan jenis. Walapun masih di perdebatkan
keabsahan hasil penelitian tersebut paling tidak tata diatas mengingatkan kita betapa
besarnya masalah perilaku seks pada remaja kita.
Hasil yang tidak begitu jauh berbeda juga terjadi pada mahasiswa. Penelitian yang
di lakuakan di yogyakarta (Dasakung1984) mengunggkapkan bahwa 62,0% dari
mahasiswa pernah melakukan kumpul kebo. Survei kecil yang pernah dilakuakan oleh
mahasiswa fakultas psikologi UI (1993) terhadap 200 responden menunjukan bahwa
alasan yang di kemukakan oleh sebagian mahasiswa untuk melakukan hubungan seks
adalah sebagai ungakapan kasih sayang(36,20%), terbawa suasana (15,0%), kebutuhan
biologis (14,0%), dan untuk kenikmatan dan kesenagan 10.1%).

Bila kita lihat kecenderungan perilaku seksual remaja pranikah berdasarkan


tempat tinggal mereka, ternyata baik di desa maupun di kota perilaku tersebut juga sangat
memprihatinkan. Penelitian yang dilakukan oleh Faturochman dan soetjipto di bali
(1989) menunjukkan bahwa persentase remaja laki-laki di desa dan di kota yang telah
melakukan hubungan seks masing-masing adalah 23,6% dan33,5%. Sedangkan penelitian
singarimbun (1994) menemukan 1,8% remaja wanita di kota pernah melakuakan
hubungan seks pranikah. Penelitian di lakuakan oleh laboratium antropologi FISIP UI
Hidayana dan Saefuddin, (1997) menunjukan bahwa tidak ada perbedaan perilaku
seksual yang cukup mencolok pada remaja desa dan remaja kota di Sumatra Utara dan
Kalimantan selatan. Di kedua tempat penelitian itu terlihat adanya kecenderungan
perilaku seksual yang permisif baik di desa maupun di desa.
Penyakit Menular Seksual (PMS) dapat terjadi pada semua orang, dimasyarakat
sangat potensial untuk terjadi penyakit menular seksual apabila ada situasi dan perilaku
yang mendukung penularan penyakit menular seksual. Situasi yang beresiko tinggi terjadi
penularan penyakit menular seksual, misalnya kasus praktek prostitusi. Perilaku yang
mendukung terjadinya penyakit menular seksual biasanya dilakukan para pekerja seks
komersial dengan melakukan hubungan seksual yang tidak sehat dan kurang kesadaran
para pekerja seks komersial terhadap pencegahan penyakit menular seksual diantaranya
adalah sering berganti ganti pasangan, masih terus berhubugan seksua lmeskipun
menderita penyakit menular seksual, pengidap penyakit menular seksual tetapi tidak
memberitahu pasangannya untuk mendapatkan pengobatan penyakit menular seksual.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalahnya adalah bagaimana
tingkat pengetahuan mahasiswa Akper Pemprov Kaltim terhadap Kesehatan Reproduksi
Remaja.

1.3 Tujuan Penelitian


Untuk mengetahui tingkat pengetahuan mahasiswa Akper Pemprov Kaltim
tentang kesehatan reproduksi remaja.

1.4 Manfaat Penelitian


1) Bidang akademik
Dapat dijadikan referensi dalam melakukan penelitian selanjutnya, sehingga
menambah kejelasan dan kebenaran dari ilmu pengetahuan yang sudah ada dan dapat
memperjelas data yang masih belum diyakini keabsahannya.
2) Bidang IPTEK
Sebagai pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi keperawatan pada
institusi institusi pendidikan keperawatan dan lahan praktik keperawatan.
3) Masyarakat
Sebagai pengetahuan baru yang dapat dijadikan bahan bacaan dan sumber
informasi tambahan yang diharapkan dapat memberikan sumbangan pada penelitian
selanjutnya.
4) Bidang profesi keperawatan
Sebagai masukan bagi perawat di Unit Pelayanan Keperawatan dalam rangka
mengambil kebijakan untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan khususnya
terhadap pengaruh yang di akibatkan dari kenakalan remaja.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kesehatan Reproduksi Remaja


2.1.1
Pengertian Remaja Dalam Konteks Kesehatan Reproduksi Remaja
Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa
dewasa. Batasan usia remaja berbeda-beda sesuai dengan sosial budaya setempat.
Menurut WHO (badan PBB untuk kesehatan dunia) batasan usia remaja adalah 12
sampai 24 tahun.
Sedangkan dari segi program pelayanan, definisi remaja yang digunakan oleh
Departemen Kesehatan adalah mereka yang berusia 10 sampai 19 tahun dan belum

kawin.Menurut BKKBN (Direktorat Remaja dan Perlindungan Hak Reproduksi) batasan


usia remaja adalah 10 sampai 21 tahun.
Kesehatan Reproduksi (kespro) adalah Keadaan sejahtera fisik, mental dan sosial
yang utuh dalam segala hal yang berkaitan dengan fungsi, peran & sistem reproduksi
(Konferensi International Kependudukan dan Pembangunan, 1994).
Kesehatan Reproduksi Menurut WHO adalah suatu keadaan fisik, mental dan
sosial yang utuh, bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek
yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi serta prosesnya. Atau Suatu keadaan
dimana manusia dapat menikmati kehidupan seksualnya serta mampu menjalankan
fungsi dan proses reproduksinya secara sehat dan aman.
Secara garis besar dapat dikelompokkan empat golongan faktor yang dapat
berdampak buruk bagi kesehatan reproduksi yaitu :
1) Faktor sosial-ekonomi dan demografi (terutama kemiskinan, tingkat pendidikan
yang rendah, dan ketidaktahuan tentang perkembangan seksual dan proses
reproduksi, serta lokasi tempat tinggal yang terpencil).
2) Faktor budaya dan lingkungan (misalnya, praktek tradisional yang berdampak
buruk pada kesehatan reproduksi, kepercayaan banyak anak banyak rejeki,
informasi tentang fungsi reproduksi yang membingungkan anak dan remaja
karena saling berlawanan satu dengan yang lain, dsb).
3) Faktor psikologis (dampak pada keretakan orang tua pada remaja, depresi karena
ketidakseimbangan hormonal, rasa tidak berharga wanita pada pria yang membeli
kebebasannya secara materi, dsb),
4) Faktor biologis (cacat sejak lahir, cacat pada saluran reproduksi pasca penyakit
menular seksual, dsb).
Cakupan pelayanan kesehatan reproduksi:
a. Konseling dan informasi Keluarga Berencana (KB).
b. Pelayanan kehamilan dan persalinan (termasuk: pelayanan aborsi yang aman,
pelayanan bayi baru lahir/neonatal).
c. Pengobatan infeksi saluran reproduksi (ISR) dan penyakit menular seksual
(PMS), termasuk pencegahan kemandulan.
d. Konseling dan pelayanan kesehatan reproduksi remaja (KRR).
e. Konseling, informasi dan edukasi (KIE) mengenai kesproa.
Remaja perlu mengetahui kesehatan reproduksi agar memiliki informasi yang
benar mengenai proses reproduksi serta berbagai faktor yang ada disekitarnya. Dengan
informasi yang benar, diharapkan remaja memiliki sikap dan tingkah laku yang
bertanggung jawab mengenai proses reproduksi.

Pengetahuan Dasar

yang perlu diberikan kepada remaja agar mereka

mempunyai kesehatan reproduksi yang baik, antara lain :


a. Pengenalan mengenai sistem, proses dan fungsi alat reproduksi (aspek tumbuh
kembang remaja).
b. mengapa remaja perlu mendewasakan usia kawin serta bagaimana merencanakan
kehamilan agar sesuai dengan keinginnannya dan pasanganya.
c. Penyakit menular seksual dan HIV/AIDS serta dampaknya terhadap kondisi
d.
e.
f.
g.

kesehatan reproduksi.
Bahaya narkoba dan miras pada kesehatan reproduksi.
Pengaruh sosial dan media terhadap perilaku seksual.
Kekerasan seksual dan bagaimana menghindarinya.
Mengambangkan kemampuan berkomunikasi termasuk memperkuat kepercayaan

diri agar mampu menangkal hal-hal yang bersifat negative.


h. Hak-hak reproduksi
Masalah kesehatan reproduksi remaja di Indonesia kurang mendapat perhatian
yang cukup. Ada beberapa kemungkinan mengapa hal itu terjadi:
1) Banyak kalangan yang berpendapat bahwa masalah kesehatan reproduksi, seperti
juga masalah kesehatan lainnya, semata-mata menjadi urusan kalangan medis,
sementara pemahaman terhadap kesehatan reproduksi (apalagi kesehatan
reproduksi remaja) di kalangan medis sendiri juga masih minimal. Meskipun
sejak konperensi Kairo definisi mengenai kesehatan reproduksi sudah semakin
jelas, diseminasi pengertian tersebut di kalangan medis dan mahasiswa
kedokteran agaknya belum memadai.
2) Banyak kalangan yang beranggapan bahwa masalah kesehatan reproduksi
hanyalah masalah kesehatan sebatas sekitar poses kehamilan dan melahirkan,
sehingga dianggap bukan masalah kaum remaja. Apalagi jika pengertian remaja
adalah sebatas mereka yang belum menikah. Di sini sering terjadi ketidak
konsistensian di antara para pakar sendiri karena di satu sisi mereka menggunakan
istilah remaja dengan batasan usia, tetapi di sisi lain dalam pembicaraan
selanjutnya mereka hanya membatasi pada mereka yang belum menikah.
3) Banyak yang masih mentabukan untuk membahas masalah kesehatan reproduksi
remaja karena membahas masalah tersebut juga akan juga berarti membahas
masalah hubungan seks dan pendidikan seks.

2.1.2 Perubahan Fisik, Biologis, Psikososial Remaja


1) Tumbuh Kembang Remaja.

Masa remaja dibedakan dalam :


a. Masa remaja awal, 10 13 tahun.
b. Masa remaja tengah, 14 16 tahun.
c. Masa remaja akhir, 17 19 tahun.
2) Pertumbuhan Fisik Pada Remaja Perempuan :
a. Mulai menstruasi.
b. Payudara dan panggul membesar.
c. Indung telur membesar.
d. Kulit dan rambut berminyak dan tumbuh jerawat.
e. Vagina mengeluarkan cairan.
f. Mulai tumbuh bulu di ketiak dan sekitar vagina.
g. Tubuh bertambah tinggi (Lengan dan Tungkai kaki bertambah panjang )
h. Tulang-tulang wajah mulai memanjang dan membesar, sehingga tidak terlihat
seperti anak kecil lagi.
i. Kaki dan tangan bertambah besar
j. Keringat bertambah banyak.
k. Indung telur mulai membesar dan berfungsi sebagai organ reproduksi
3) Perubahan fisik yang terjadi pada remaja laki-laki :
a. Terjadi perubahan suara mejadi besar dan berat.
b. Tumbuh bulu disekitar ketiak dan alat kelamin.
c. Tumbuh kumis.
d. Mengalami mimpi basah.
e. Tumbuh jakun.
f. Pundak dan dada bertambah besar dan bidang.
g. Penis dan buah zakar membesar.
h. Tubuh bertambah berat dan tinggi
i. Keringat bertambah banyak
j. Kulit dan rambut mulai berminyak
k. Lengan dan tungkai kaki bertambah besar
l. Tulang-tulang wajah mulai memanjang dan membesar, sehingga tidak terlihat
seperti anak kecil lagi
Pada Usia Remaja, Tugas-Tugas Perkembangan yang harus dipenuhi adalah
sebagai berikut:
a. Mencapai hubungan yang baru dan lebih masak dengan teman sebaya baik
b.
c.
d.
e.

sesama jenis maupun lawan jenis.


Mencapai peran sosial maskulin dan feminim.
Menerima keadaan fisik dan dapat mempergunakannya secara efektif.
Mencapai kemandiri an secara emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya.
Mencapai kepastian untuk mandiri secara ekonomi.

f. Memilih pekerjaan dan mempersiapkan diri untuk bekerja.


g. Mempersiapkan diri untuk memasuki perkawinan dan kehidupan keluarga.
h. Mengembangkan kemampuan dan konsep-konsep intelektual untuk tercapainya
kompetensi sebagai warga Negara.
i. Menginginkan dan mencapai perilaku yang dapat dipertanggungjawabkan secara
social.
j. Memperoleh rangkaian sistem nilai dan etika sebagai pedoman perilaku
(Havighurst dalam Hurlock, 1973).
Perubahan Psikis juga terjadi baik pada remaja perempuan maupun remaja lakilaki, mengalami perubahan emosi, pikiran, perasaan, lingkungan pergaulan dan tanggung
jawab, yaitu :
a. Remaja lebih senang berkumpul diluar rumah dengan kelompoknya.
b. Remaja lebih sering membantah atau melanggar aturan orang tua.
c. Remaja ingin menonjolkan diri atau bahkan menutup diri.
d. Remaja kurang mempertimbangkan maupun menjadi sangat tergantung pada
kelompoknya.
Hal tersebut diatas menyebabkan remaja menjadi lebih mudah terpengaruh oleh
hal-hal yang negatif dari lingkungan barunya.
Menurut Hurlock (1973) ada beberapa masalah yang dialami remaja dalam
memenuhi tugas-tugas tersebut, yaitu:
a. Masalah pribadi, yaitu masalah-masalah yang berhubungan dengan situasi dan
kondisi di rumah, sekolah, kondisi fisik, penampilan, emosi, penyesuaian sosial,
tugas dan nilai-nilai.
b. Masalah khas remaja, yaitu masalah yang timbul akibat status yang tidak jelas
pada remaja, seperti masalah pencapaian kemandirian, kesalahpahaman atau
penilaian berdasarkan stereotip yang keliru, adanya hak-hak yang lebih besar dan
2.1.3

lebih sedikit kewajiban dibebankan oleh orangtua.


Perilaku seksual remaja dan kesehatan reproduksi
Perilaku seksual remaja terdiri dari tiga buah kata yang memiliki pengertian yang
sangat berbeda satu sama lainya. Perilaku dapat di artikan sebagai respons organisme atau
respons seseorang terhadap stimulus (rangsangan) yang ada (Notoatmojdo,1993).
Sedangakan seksual adalah rangsangan-rangsangan atau dorongan yang timbul
berhubungan dengan seks. Jadi perilaku seksual remaja adalah tindakan yang dilakukan

berhubungan dengan dorongan seksual yang datang baik dari dalam dirinya maupun dari
luar dirinya.
Adanya penurunan usia rata-rata pubertas mendorong remaja untuk aktif secara
seksual lebih dini. Dan adanya presepsi bahwa dirinya memiliki resiko yang lebih rendah
atau tidak beresiko sama sekali yang berhubungan dengan perilaku seksual, semakin
mendorong remaja memenuhi memenuhi dorongan seksualnya pada saat sebelum
menikah. Persepsi seperti ini di sebut youth uulnerability oleh Quadrel et. aL. (1993)
juga menyatakan bahwa remaja cenderung melakuakan underestimate terhadap
uulnerability dirinya. Banyak remaja mengira bahwa kehamilan tidak akan terjadi pada
intercourse (sanggama) yang pertama kali atau dirinya tidak akan pernah terinfeksi
HIV/AIDS karena pertahanan tubuhnya cukup kuat.
Mengenai kesehatan reproduksi, ada beberapa konsep tentang kesehatan
reproduksi, namun dalam tulisan ini hanya akan dikemukakan dua batasan saja. (ICPD)
dan sai dan Nassim). Batasan kesehatan reproduksi menurut International Conference on
Population and Development(ICPD) hampir berdekatan dengan batasan sehat dari
WHO. Kesehatan reproduksi menurut ICPD adalah keadaan sehat jasmani, rohani,dan
buakan hanya terlepas dari ketidak hadiran penyakit atau kecacatan semata, yang
berhubungan sistem fungsi, dan proses reproduksi(ICPD,1994).
Beberapa tahun sebelumnya Rai dan Nassim mengemukakan definisi kesehatan
reproduksi mencakup kondisi di mana wanita dan pria dapat melakukan hubungan seks
secara aman, dengan atau tanpa tujuan terjadinya kehamilan, dan bila kehamilan
diinginkan, wanita di mungkinkan menjalani kehamilan dengan aman, melahirkan anak
yang sehat serta di dalam kondisi siap merawat anak yang dilahirkan (Iskandar, 1995)
Dari kedua definisi kesehatan reproduksi tersebut ada beberapa faktor yang
berhubungan dengan status kesehatan reproduksi seseorang, yaitu faktor sosial
,ekonomi,budaya, perilaku lingkungan yang tidak sehat, dan ada tidaknya fasilitas
pelayanan kesehatan yang mampu mengatasi gangguan jasmani dan rohani. Dan tidak
adanya akses informasi merupakan faktor tersendiri yang juga mempengaruhi kesehatan
reproduksi.
Perilaku seksual merupakan salah satu bentuk perilaku manusia yang sangat
berhubungan dengan kesehatan reproduksi seseorang. Pada pasal 7 rencana kerja ICPD
Kairo dicantumkam definisi kesehatan reproduksi menyebabkan lahirnya hak-hak
reproduksi. Berdasarkan pasal tersebut hak-hak reproduksi di dasarkan pada pengakuan

akan hak-hak asasi semua pasangan dan pribadi untuk menentukan secara bebas dan
bertangung jawab mengenai jumlah anak , penjarangan anak (birth spacing ), dan
menentukan waktu kelahiran anak-anak mereka dan mempunyai informasi dan cara untuk
memperolehnya, serta hak untuk menentukan standar tertinggi kesehatan seksual dan
reproduksi. Dalam pengertian ini ada jaminan individu untuk memperoleh seks yang
sehat di samping reproduksinya yang sehat (ICPD, 1994). Sudah barang tentu saja kedua
faktor itu akan sangat mempengaruhi tercapai atau tidak kesehatan reproduksi
seseorang ,termasuk kesehatan reproduksi remaja.
2.1.4

Resiko perilaku seksual berisiko remaja saat ini


berikut ini akan di bahas mengenai beberapa dampak perilaku seksual remaja

pranikah terhadap kesehatan reproduksi.


1) Hamil yang tidak dikehendaki (unwanted pregnancy)
Unwanted pregnancy (kehamilan yang tidak di kehendaki) merupakan salah satu
akibat dari perilaku seksual remaja. Anggapan-anggapan yang keliru seperti: melakuakan
hubungan seks pertama kali, atau hubungan seks jarang dilakuakan,atau perempuan
masih muda usianya, atau bila hubungan seks dilakuan sebelum atau sesudah menstruasi,
atau bila mengunakan teknik coitus interuptus (sanggama terputus), kehamilan tidak akan
terjadi merupakan pencetus semakin banyaknya kasus unwanted pregnancy. Seperti salah
satu kasus pada penelitian khisbiyah (1995) ada responden mengatakan, untuk
menghindari kehamilan maka hubungan seks dilakuakan di antara dua waktu menstruasi.
Informasi itu tentu saja bertentangan dengan kenyataan bahwa sebenarnya masa antara
dua siklus menstruasi itu merupakan masa subur bagi seorang wanita.
Unwanted pregnancy membawa remaja pada dunia pilihan, melanjutkan
kehamilan atau mengugurkanya. Menurut Khisbiyah (1995) secara umum ada dua faktor
yang mempengaruhi pengambilan keputusan itu, yakni faktor intrnal dan faktor eksternal.
a. Faktor intrnal meliputi, intensitas hubungan dan komit-men pasangan remaja
untuk menjalin hubungan jangka panjang dalam perkawinan, sikap dan persepsi
terhadap janin yang di kandung, seperti persepsi subjektif mengenai kesiapan
psikologis dan ekonomi untuk memasuki kehidupan perkawinan.
b. Faktor eksternal meliputi sikap dan penerimaan orng tua kedua belah pihak,
penilaian masyarakat, nilai-nilai normatif dan etis dari lembaga keagamaan, dan

kemingkinan-kemungkinan perubahan hidup di masa depan yang mengikuti


pelaksanaan keputusa yang akan dipilih.
Terlepas dari alasan di atas, yang pasti melahirkan dalam usia remaja (early
chilbearing) dan melakuakan aborsi merupakan pilihan yang harus mereka jalani. Banyak
remaja putri yang mengalami unwanted pregnancy terus melanjutkan kehamilanya.
Kosenkuensi dari keputusan yang mereka ambil itu adalah melahirkan anak yang
dikandungnya dalam usia yang relatif muda.
2) Penyakit menular seksual (PMS) HIV/AIDS
Dampak lain dari perilaku seksual remaja terhadap kesehatan reproduksi adalah
tertular PMS termasuk HIV/AIDS. Sering kali remaja melakukan hubungan seks yang
tidak aman. Adanya kebiasaan berganti-ganti pasangan dan melakuakan anal seks
menyebabkan remaja semakin rentan untuk tertular PMS/HIV, seperti sifilis
,gonore,herpes, klamidia dan AIDS . dari data yang ada menukjukan bahwa diantara
penderita atau kasus HIV/AIDS, 53,0% berusia antara 15-29 tahun. Tidak terbatasnya
cara melakuakan hubungan kelamin pada genital-genital saja(bisa juga oragenital)
menyebabkan penyakit kelamin tidak saja terbatas pada daerah genital, tetapi dapat juga
pada daerah-daerah ektra genital.
3) Psikologis
Dampak lain dari perilaku seksual remaja yang sangat berhubungan dengan
kesehatan reproduksi adalah konsekuensi psikologis. Setelah kehamilan terjadi ,pihak
perempuan atau tepatnya korban utama dalam masalah ini. Kodrat untuk hamil dan
melahirkan menempatkan remaja perempuan dalam posisi terpojok yang sangat
delimatis. Dalam pandangan masyarakat ,remaja putri yang hamil merupakan aib
keluarga, yang secara telak mencoreng nama baik keluarga dan ia adalah si pendosa yang
melangar norma-norma sosial dan agama. Penghakiman sosial ini tidak jarang meresap
dan terus tersosialisasi dalam diri remaja putri tersebut. Perasaan binggung, cemas, malu,
dan bersalah yang dialami remaja setelah mengetahui kehamilanya bercampur dengan
perasaan depresi, pesimis terhadap masa depan, dan kadang disertai rasa benci dan marah
baik kepada diri sendiri maupun kepada pasangan, dan kepada nasib membuat kondisi

sehat secara fisik ,sosial dan mental yang berhubungan dengan sistem ,fungsi,dan proses
reproduksi remaja tidak terpenuhi.
Namun ada hal yang perlu pula untuk diketahui bahwa dampak yang terjadi pada
remaja bukan hanya pada saat pranikah,namun dapat pula memberikan dampak negatif
saat menikah dan hamil muda.Hal-hal yang mungkin terjadi saat menikah dan hamil di
usia sangat muda (dibawah 20 tahun).
Tetap perlu diingat bahwa perempuan yang belum mencapai usia 20 tahun sedang
berada di dalam proses pertumbuhan dan perkembangan fisik. Karena tubuhnya belum
berkembang secara maksimal, maka perlu dipertimbangkan hambatan/ kerugian antara
lain :
a. Ibu muda pada waktu hamil kurang memperhatikan kehailannya termasuk control
kehamilan. Hal ini berdampak pada meningkatnya berbagai resiko kehamilan.
b. Ibu muda pada waktu hamil sering mengalami ketidakteraturan tekanan darah
yang dapat berdampak pada keracunan kehamilan serta kejang yang berakibat
pada kematian.
c. Penelitian juga memperlihatkan bahwa kehamilan usia muda (di bawah 20tahun)
sering kali berkaitan dengan munculnya kanker rahim. Ini erat kaitannya dengan
belum sempurnanya perkembangan dinding rahim.
d. Dari sisi pertimbangan psikologis, remaja masih merupakan kepanjangan dari
masa kanak-kanak. Kebutuhan untuk bermain dengan teman sebaya, kebutuhan
untuk diperhatikan, disayang dan diberi dorongan, masih begitu besar sebelum ia
benar-benar siap untuk mandiri.
e. Wawasan berpikirnya belum luas dan cukup matang untuk bisa menghadapi
kesulitan, pertengkaran yang ditimbulkan oleh pasangan hidup dan lingkungan
rumah tangganya.
2.1.5

Strategi Meningkatkan Kesehatan Anak Remaja


1) Pendidikan Seks
Strategi pendidikan seks di masa lalu berfokus pada anatomi fisiologi reproduksi
dan penyuluhan perilaku yang khas kehidupan keluarga Amerika kelas menengah.
Baru baru ini pendidikan seks mulai membahas masalah seksualitas manusia yang
dihadapi remaja. Misalnya, program program yang sekarang berfokus pada upaya
remaja untuk mengatakan tidak.

Orang tua mungkin tidak terlibat dalam pendidikan seks anak anaknya karena
beberapa alasan, seperti :
a. Orang tua tidak memiliki informasi yang tidak adekuat.
b. Orang tua tidak merasa nyaman dengan topik seks.
c. Para remaja tidak merasa nyaman bila orang tua mereka membahas seks.
Beberapa orang tua mendapat kesulitan untuk mengakui anaknya adalah
individu seksual yang memiliki perasaan dan perilaku seksual. Penolakan orang tua
untuk membahas perilaku seksual dengan putri mereka bisa menyebabkan putrinya
merahasiakan aktivitas seksnya dan dapat menghambat upaya untuk mendapat
bantuan.
2) Fungsi Penting Program Promosi Kesehatan Remaja
a. Meningkatkan penerimaan pengetahuan dan keterampilan untuk perawatan diri
yang kompeten dan menginformasikan pembuatan keputusan tentang kesehatan.
b. Memberikan pengkuatan positif terhadap perilaku sehat.
c. Pengaruh struktur lingkungan dan sosial untuk mendukung perilaku peningkatan
kesehatan.
d. Memfasilitasi pertumbuhan dan aktualisasi diri.
e. Menyadarkan remaja terhadap aspek lingkungan dan budaya barat yang merusak
2.1.6

kesehatan dan kesejahteraan


Hubungan Tingkat Pengetahuan Tentang Kesehatan Reproduksi Remaja Dengan
Resiko Terjadinya Penyakit Menular Seksual
Menurut Dr. Boy Abidin data kehamilan remaja di Indonesia tahun 2007 yaitu
hamil di luar nikah karena diperkosa sebanyak 3,2%, karena sama-sama mau sebanyak
12,9% dan tidak terduga sebanyak 45%. Seks bebas sendiri mencapai 22,6% hal itu
terjadi karena minimnya pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi. (Anton,
2007).
Menurut survey Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) tahun 2010
tentang pengetahuan kesehatan reproduksi menunjukkan 43,22% pengetahuannya rendah,
37,28% pengetahuan cukup, sedangkan 19,50% pengetahuannya memadai. Menurut
survey Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) tentang perilaku remaja saat
berpacaran menunjukkan saling mengobrol 100%, berpegangan tangan 93,3%, mencium
pipi/kening 84,6%, berciuman bibir 60,9%, mencium leher 36,1%, saling meraba
(payudara dan kelamin) 25%, dan melakuan hubungan seks 7,6% (Farid, 2005)

Menurut Ditjen PPM & PLP (1997), perempuan lebih rentan berisiko tertular
penyakit menular seksual dibandingkan laki-laki karena :
1) Saat berhubungan seks, dinding vagina dan leher rahim langsung terpapar oleh
cairan sperma. Jika sperma terinfeksi penyakit menular seksual, maka perempuan
tersebut bisa terinfeksi.
2) Jika perempuan terinfeksi penyakit menular seksual, dia tidak selalu menunjukkan
gejala. Tidak munculnya gejala dapat menyebabkan infeksi meluas dan
menimbulkan komplikasi.
3) Banyak orang khususnya perempuan dan remaja enggan untuk mencari
pengobatan karena mereka tidak ingin keluarga atau masyarakat tahu mereka
menderita penyakit menular seksual.

2.2
2.2.1

Pengetahuan
Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan
penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui pancaindera
manusia, yakni indera penglihatan,pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian
besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau
kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang

2.2.2

(Overt Behaivour).
Tingkatan Pengetahuan
Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 (enam)
tingkatan. (Notoatmodjo, 2003)
1. Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.
Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall)
sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah
diterima. Oleh sebab itu, tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.

Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain
menyebutkan, menguraikan, mendefenisikan, menyatakan, dan sebagainya. Contoh :
Seorang mahasiswa mengetahui apa arti dari kesehatan reproduksi remaja.
2. Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan sebagai suatu
kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat
menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang telah paham terhadap objek
atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan,
meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari. Contohnya : Mahasiswa
memahami resiko resiko perilaku seksual yang akan di alami.
3. Aplikasi (aplication)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah
dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Contohnya : seorang pekerja
seks komersial menggetahui apa yang dimaksud dengan penyakit menular seksual itu
dan mampu menjelaskan dan melaksanakan bagaimana cara mencegah tidak terkena
penyakit menular seksual.
4. Analisis (analysis)
Analisis adalah kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam
komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu struktur organisasi, dan masih ada
kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata
kerja, seperti dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan,
mengelompokkan dan sebagainya. Contohnya : pekerja seks komersial tahu jika
melakukan pekerjaan tanpa alat pelindung yaitu kondom, dapat terkena penyakit
menular seksual.
5. Sintesis (synthesis)
Sintetis menunjukkan kepada sesuatu kemampuan untuk menghubungkan bagianbagian kedalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah
kemampuan untuk menyusun, merencanakan, meningkatkan, menyesuaikan dan
sebagainya terhadap sesuatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada. Contohnya :
Seorang pekerja seks komersial mampu menjelaskan bahwa penyakit menular seksual
itu dapat dicegah dengan menggunakan kondom karena penyakit menular seksual
dapat menimbulkan kematian.

6. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini dikaitkan dengan kemampuan-kemampuan untuk melakukan
identifikasi atau penilaian terhadap sesuatu materi atau objek, penilaian-penilaian ini
berdasarkan kriteria yang telah ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria yang
sudah ada. Contohnya : Mampu menilai atau akibat apabila seorang pekerja seks
komersial terjangkit penyakit menular seksual. Pengukuran pengetahuan dapat
dilakukan dengan wawancara yang menanyakan tentang materi yang ingin di ukur
dari subyek penelitian atau responden kedalam hubungan pengetahuan yang ingin kita
ketahui.
Pendidikan kesehatan adalah suatu upaya atau kegiatan untuk menciptakan
perilaku masyarakat yang kondusif untuk kesehatan. Artinya, pendidikan kesehatan
berupaya agar masyarakat menyadari atau mengetahui bagaimana cara memelihara
kesehatanmereka, bagaimana menghindari atau mencegah hal-hal yang merugikan
kesehatan mereka dan orang lain, kemana harus mencari pengobatan bilamana sakit
dan sebagainya. (Notoatmodjo, 2003)
Indikator-indikator yang dapat

digunakan

untuk

mengetahui

tingkatan

pengetahuan atau kesadaran terhadap kesehatan, dapat dikelompokkan menjadi :


a. Pengetahuan tentang sakit dan penyakit.
b. Pengetahuan tentang cara pemeliharaan kesehatan dan cara hidup sehat.
c. Pengetahuan tentang kesehatan lingkungan
(Notoatmodjo, 2003)
2.3
2.3.1

Penyakit Menular Seksual (PMS)


Pengertian Penyakit Menular Seksual
Infeksi menular seksual (IMS) disebut juga penyakit menular seksual (PMS) atau
dalam bahasa Inggrisnya Sexually Transmitted Disease (STDs), Sexually Transmitted
Infection (STI), Venereal Disease (VD). Dimana pengertian infeksi menular seksual ini
adalah infeksi yang sebagian besar menular lewat hubungan seksual dengan pasangan
yang sudah tertular. (Ditjen PPM & PL, 1997).
Penyakit menular seksual atau Sexually Transmitted Disease adalah suatu
gangguan atau penyakit yang ditularkan dari satu orang ke orang lain melalui kontak
hubungan seksual. Penyakit menular seksual yang sering terjadi adalah Gonorrhoe,
Sifilis, Herpes, namun yang paling besar diantaranya adalah AIDS karena mengakibatkan
sepenuhnya pada kematian pada penderitanya. AIDS tidak bias diobati dengan antibiotik.
(Zohra dan Raharjo, 1999).

Penyakit menular seksual didefinisikan sebagai penyakit yang disebabkan karena


adanya invasi organisme virus, bakteri, parasite dan kutu kelamin yang sebagian besar
melalui hubungan seksual, baik yang berlainan jenis ataupun sesame jenis.
(Aprilianingrum, 2002)

2.3.2

Jenis-jenis Penyakit Menular Seksual


Beberapa penyakit menular seksual yang sering terjadi pada pekerja seks
komersial menurut Fahmi (2008) adalah :
1. Gonorrhoe (kencing nanah)
Penyakit ini ditularkan melalui hubungan seksual. Penyakit ini menyerang organ
reproduksi dan menyerang selaput lender, mukosa, mata, anus dan beberapa organ
tubuh lainnya. Bakteri yang membawa penyakit ini adalah Neisseria Gonorrhoeae.
Gejala akibat penyakit ini pada wanita antara lain :
a. Keputihan kental berwarna kekuningan
b. Rasa nyeri dirongga panggul.
c. Dapat juga tanpa gejala
Sedangkan gejala pada laki-laki antara lain :
a. Rasa nyeri saat kencing
b. Keluarnya nanah kental berwarna kuning kehijauan
c. Ujung penis agak merah dan bengkak
2. Sifilis
Penyakit ini disebut juga raja singa dan ditularkan melalui hubungan seksual atau
penggunaan barang-barang dari seseorang yang tertular (misalnya: baju, handuk, dan
jarum suntik). Penyebab timbulnya penyakit ini adanya kuman Treponema pallidum ,
kuman ini menyerang organ penting lainnya seperti selaput lendir, anus, bibir, lidah
dan mulut.
Penularan biasanya melalui kontak seksual, tetapi ada bebrapa contoh lain seperti
kontak langsung dan kongenital sifilis ( penularan melalui ibu ke anak dalam uterus).
Dengan gejala klinis : luka atau koreng, jumlah biasanya satu, bulat atau lonjong,
dasar bersih, dengan perabaan kenyal sampai keras, tidak ada rasa nyeri pada
penekanan.
3. Chlamydia Trachomatis
Chlamydia trachomatis adalah agen chlamydial pertama yang ditemukan dalam
tubuh manusia. Bakteri ini pertama kali diidentifikasi pada tahun 1907. Infeksi ini

sering tidak menimbulkan gejala dan sangat beresiko bila terjadi pada ibu-ibu karena
dapat menyebabkan kehamilan ektopik, infertilitas dan abortus. Dengan gejala klinis :
a Pada pria duh (secret/cairan) tubuh uretra dapat disertai eritema meatus.
b Pada wanita duh tubuh serviks seropurulen, serviks mudah berdarah.
4. Herpes Genitali
Saat ini dikenal dua herpes yaitu herpes zoster yang disebabkan oleh virus
Varicella Zoster dan herpes simpleks yang disebabkan oleh herpes simplex Virus
(HSV). Gejala klinis yang disebabkan oleh Virus Herpes Simplex sebagai berikut.
1) Herpes genital pertama : diawali dengan bintil lentingan dan luka/erosi
berkelompok, diatas dasar kemerahan, sangat nyeri, pembesaran kelenjar lipat
paha dan disertai gejala sistemik.
2) Herpes genital kambuhan : timbul bila ada dua factor pencetus yaitu daya tahan
tubuh menurun, stress pikiran, senggama berlebihan, kelelahan.
5. Kondiloma akuminata
Kutil genitalis (kondiloma akuminata) merupakan kutil di dalam atau di sekeliling
vagina, penis atau dubur yang ditularkan melalui hubungan seksual. Kutil genitalis
sering ditemukan dan menyebabkan kecemasan karena tidak enak dilihat, bias
terinfeksi bakteri, bias merupakan petunjuk adanya gangguan system kekebalan. Pada
wanita, virus papilloma 16 dan 18 yang menyerang leher Rahim tetapi tidak
menyebabkan kutil pada alat kelamin luar dan bias menyebabkan kanker leher Rahim.
Virus tipe ini dan virus papilloma lainnya bias menyebabkan tumor intra-epitel pada
Rahim (ditunjukkan dengan hasil pap smear yang abnormal) atau kanker pada vagina,
vulva, dubur, penis, mulut, tenggorokan atau kerongkongan.
6. HIV/AIDS
HIV (Human Immuno Deficiency Virus) yaitu sejenis virus yang
menyebabakan AIDS. HIV ini menyerang sel darah putih dalam tubuh sehingga
jumlah sel darah putih semakin berkurang dan menyebabkan system kekebalan tubuh
menjadi lemah. AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) merupakan dampak
atau efek dari perkembang biakan HIV dalam tubuh makhluk hidup. AIDS timbul
akibat melemah atau menghilangnya system kekebalan tubuh karena sel CD4 pada sel
darah putih yang banyak dirusak oleh HIV.
7. Ulkus mole

Disebabkan oleh Haemophillus Ducreyi, dengan gejala klinis seperti koreng


jumlahnya banyak, bentuk tidak teratur, dasar kotor, tepi bergaung, sekitar koreng
merah, edema dan sangat nyeri.
2.3.3

Tanda dan gejala penyakit menular seksual


Menurut Kusuma (2009), tanda dan gejala penyakit menular seksual pada lakilaki dan perempuan berbeda. Karena bentuk dan letak alat kelamin laki-laki berada di
luar tubuh, gejala penyakit menular seksual lebih mudah dikenali, dilihat dan dirasakan.
Tanda-tanda penyakit menular seksual pada laki-laki antara lain sebagai berikut.
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)
9)

Berupa bintil-bintil berisi cairan.


Lecet atau borok pada penis/alat kelamin.
Luka tidak sakit.
Keras dan berwarna merah pada alat kelamin.
Adanya kutil atau tumbuh daging seperti jengger ayam pada alat kelamin.
Rasa gatal yang hebat sepanjang alat kelamin.
Rasa sakit yang hebat pada saat kencing.
Kencing nanah atau darah yang berbau busuk.
Bengkak, panas dan nyeri pada pangkal paha yang kemudian berubah menjadi
borok.
Pada perempuan, sebagian besar tanpa gejala sehingga sering kali tidak disadari.

Jika ada gejala biasanya berupa antara lain :

2.3.4

1)
2)
3)
4)

Rasa sakit atau nyeri saat kencing atau berhubungan seksual.


Rasa nyeri pada perut bagian bawah.
Pengeluaran lendir pada vagina / alat kelamin.
Keputihan berwarna putih susu, bergumpal dan disertai rasa gatal dan kemerahan

5)
6)
7)
8)

pada alat kelamin atau sekitarnya.


Keputihan yang berbusa, kehijauan, berbau busuk dan gatal.
Timbul bercak-bercak darah setelah berhubungan seksual.
Bintil-bintil berisi cairan.
Lecet atau borok pada alat kelamin.

Bahaya penyakit menular seksual

Berdasarkan UNAIDS (Joints United Nations Programme on HIV/AIDS) dan


WHO (1998) ada beberapa bahaya yang dapat ditimbulkan jika seseorang terdeteksi
mengidap penyakit menular seksual, yaitu sebagai berikut.
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)
9)
2.3.5

Kebanyakan penyakit menular seksual dapat menyebabkan sakit.


Dapat menyebabkan kemandulan.
Dapat menyebabkan keguguran.
Dapat menyebabkan kanker leher rahim.
Dapat merusak penglihatan, otak dan hati.
Dapat menular pada bayi.
Dapat menyebabkan rentan terhadap HIV/AIDS.
Ada yang tidak bisa disembuhkan.
Dapat menyebabkan kematian seperti HIV/AIDS.

Penularan penyakit menular seksual


Menurut Ditjen PPM & PLP (1997), beberapa cara penularan penyakit menular
seksual yaitu melalui :
1) Hubungan seks lewat liang senggama tanpa kondom.
2) Hubungan seks lewat dubur tanpa kondom.
3) Hubungan seks oral tanpa menggunakan kondom.

2.3.6

Hal-hal yang tidak dapat menularkan penyakit menular seksual


Menurut Sofianty (2009), penyakit menular seksual tidak dapat menular melalui :
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)

2.3.7

Duduk disamping orang yang terkena penyakit menular seksual.


Menggunakan WC umum.
Menggunakan kolam renang umum.
Memegang gagang pintu.
Salaman
Bersin-bersin
Keringat

Cara mencegah penyakit menular seksual


Menurut Depkes RI (2006), langkah terbaik untuk mencegah penyakit menular
seksual adalah sebagai berikut.
1) Menunda kegiatan seks bagi remaja (abstinensi).
2) Menghindari berganti-ganti pasangan seksual.
3) Memakai kondom dengan benar dan konsisten.

2.3.8

Pengobatan penyakit menular seksual

Berdasarkan Ditjen PPM & PLP (1997), yang harus dilakukan seseorang jika
terkena atau curiga terkena penyakit menular seksual setelah dilakukan laboratorium
adalah sebagai berikut.
1) Setiap penyakit menular seksual obatnya berbeda. Jadi periksakan diri ke dokter
untuk mengetahui jenis penyakit dan pengobatannya karena tidak sembarangan
obat yang bisa dipakai untuk mengobati semuanya.
2) Selalu minum obat yang diberikan dokter sesuai dengan aturan yang diberikan.
Habiskan obat yang sudah diberikan walaupun sakitnya sudah berkurang. Karena
hal tersebut dapat berbahaya, sering bibit penyakit belum mati sehingga dapat
menyebabkan bibit penyakit tersebut kebal terhadap obat yang diberikan.
3) Selama pengobatan jangan melakukan hubungan seks agar luka-luka penyakit
seks menular dapat sembuh. Kalaupun berhubungan seks sebaiknya menggunakan
kondom.
4) Periksakan diri ke dokter jika obat sudah habis untuk memastikan penyakit seks
menular yang diderita benar-benar sudah sembuh. Dan memeriksakan pasangan
seksual agar tidak tertular ulang.

2.4

Kerangka Teori

Kesehatan Reproduksi Remaja

Tingkat Pengetahuan

( Menurut WHO )

( Notoatmodjo, 2003 )

Etiologi Penyakit Menular


Seksual
( Aprilianingrum, 2002 )

Resiko Terjadinya Penyakit


Menular Seksual
( Ditjen PPM & PLP, 1997 )

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1

Desain Penelitian
Desain penelitian merupakan bentuk rancangan yang digunakan dalam melakukan
prosedur penelitian (A. Aziz Alimul).
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain cross
sectional untuk mencari hubungan variabel bebas dengan variabel tergantung. Variabel
bebas dalam penelitian ini adalah Kesehatan Reproduksi Remaja dan variabel
tergantungnya yaitu Penyakit Menular Seksual. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini

termasuk dalam kategori penelitian kolerasional dengan pendekatan kuantitatif dan data
3.2
3.2.1

yang diperoleh lapangan


Tempat Dan Waktu Penelitian
Tempat penelitian
Tempat yang digunakan lahan penelitian adalah Akper Pemprov Kaltim Di Kota

3.2.2
3.3
3.3.1

Samarinda.
Waktu Penelitian
Populasi dan Sample Penelitian
Populasi
Populasi penelitian adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti.
Populasi dibedakan menjadi dua kategori, populasi target dan populasi survei. Populasi
target yaitu seluruh unit populasi dimana disini adalah semua Mahasiswa Akper Pemprov
Kaltim Di Kota Samarinda. Dan populasi survei yaitu sub unit dari populasi target di
mana sub populasi yang diambil adalah Mahasiswa Tk III A, B, C Dan populasi yang
digunakan dari peneliti adalah populasi survei (sudarwan, 2003) .

dengan rincian mahasiswa aktif setiap kelas yaitu :

3.3.2

1) Tk III A : 39 Mahasiswa
2) Tk III B : 37 Mahasiswa
3) Tk III C : 37 Mahasiswa
Total
: 113 Mahasiswa
( Sumber : Absensi Daftar Hadir Mahasiswa Tk III Akper Pemprov )
Jadi, Populasi yang di ambil adalah 113 Mahasiswa Tk III Akper Pemprov Kaltim.
Sampel dan Sampling
Sampel adalah bagian dari populasi yang dipilih dengan sampling tertentu
untuk bisa memenuhi / mewakili populasi (Nursalam, 2001). Sampel ditentukan oleh
peneliti berdasarkan pertimbangan masalah, tujuan, metode, dan instrumen penelitian,
sehingga peneliti memperoleh sampel yang representatif.
Teknik sampling ini adalah salah satu cara yang ditempuh dalam pengambilan
sampel yang benar- benar sesuai keseluruhan objek penelitian (Nursalam, 2001).
Rumus Slovin untuk menentukan besarnya sample :
N = 113

S=

N
N + 1 ( 0,05 )2

113
113 + 1 ( 0,05 )2

= 88,1 di bulatkan menjadi 88 Mahasiswa.

3.4

Kerangka Konsep Penelitian


Input
A

Mahasiswa Akper Pemprov


Kaltim Tk III

Independent
Menilai Tingkat
Pengetahuan
Mahasiswa Tentang
Kesehatan Reproduksi
Remaja

Dependen

Variabel Confinding
1. Perilaku
Pergaulan
Bebas.
2. Melakukan Hubungan
Intim Berganti ganti
Pasangan.

Terjadi PMS Pada


Mahasiswa
yang
tingkat
pengetahuannya
Baik
tentang
Kesehatan
Reproduksi Remaja.
Terjadi PMS Pada
Mahasiswa
yang
tingkat
pengetahuannya
kurang
tentang
Kesehatan
Reproduksi Remaja.

3.5

Hipotesis
Hipotesis adalah Jawaban yang masih bersifat sementara dan bersifat teoritis
( Sukardi, 2008 ).
Hipotesis adalah dugaan sementara tentang ada tidaknya hubungan atau korelasi
dalam suatu penelitian (Notoatmodjo, 2010). Hipotesis dalam penelitian ini yaitu :
a. Ho : ada hubungan Tingkat Pengetahuan mahasiswa Tk III tentang
Kesehatan Reproduksi Remaja terhadap terjadinya Resiko Penyakit
Menular Seksual di Akper Pemprov Kaltim.
b. Ha : Tidak ada hubungan Tingkat Pengetahuan mahasiswa Tk III tentang
Kesehatan Reproduksi Remaja terhadap terjadinya Resiko Penyakit

3.6
No
1.

Menular Seksual di Akper Pemprov Kaltim.


Definisi Operasional ( Arikunto, 2006 )
Variabel
Independent
Tingkat Pengetahuan
Tentang Kesehatan
Reproduksi Remaja

Definisi Operasional Alat Ukur


Tingkat Pengetahuan
Mahasiswa Tingkat III
Akprov Tentang
KRR, meliputi :
1) Pengertian
Kuisoner
KRR.
2) Resiko perilaku
seksual berisiko

Hasil Ukur
Tk
Pengetahuan
Tinggi. >60
Tk
Pengetahuan
Rendah <60
( Arikunto, 2006 )

Skala

Ordinal

remaja saat ini


3) Anatomi
Fisiologi
Sistem
Reproduksi
4) Perilaku
seksual remaja
dan kesehatan
reproduksi.

Di dapatkan dengan
cara
menyebar
kuisoner
30
item,
dengan
Tk Pengetahuan
Tinggi > 60

2.

Dependen Resiko
Terjadi Penyakit
Menular Seksual

Tk Pengetahuan
Rendah <60.
Resiko
Terjadi
Penyakit
Menular
Seksual
Tk
III
Mahasiswa
akprov
Kaltim meliputi :
Resiko Tinggi
Kesehatan
Reproduksi
Remaja.
Resiko Sedang
Kesehatan
Reproduksi
Remaja
Resiko Rendah
Kesehatan
Reproduksi
Remaja.
Di dapatkan

dengan

Kuisoner

Resiko
Tinggi
Kesehatan
Reproduksi Ordinal
Remaja <60.
Resiko
Rendah
Kesehatan
Reproduksi
Remaja >60.

cara
menyebar
kuisoner
30
item,
dengan
Resiko Tinggi
Kesehatan
Reproduksi
Remaja >60.
Resiko Rendah
Kesehatan
Reproduksi
Remaja <60.

3.7

Alat Pengumpul Data / Instrumen Penelitian


Instrumen penelitian merupakan alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh
peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan data (Arikunta, 2005).
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa sejumlah Kuisoner
pertanyaan yang disusun peneliti berdasarkan literatur kerangka konsep penelitian.
Pertanyaan dibagi menjadi 2 bagian yaitu pertanyaan untuk mengukur tingkat
pengetahuan tentang kesehatan reproduksi remaja yang terdiri dari 20 pernyataan dengan
memberi tanda centang ( V ) terhadap jawaban benar atau salah. Dan yang kedua
pertanyaan yang untuk menilai apakah seseorang tersebut beresiko terkena Penyakit
Menular Seksual yang terdiri dari 10 Pernyataan dengan memberi tanda centang ( V )

3.8
3.9

terhadap jawaban setuju atau tidak


Prosedur Pengumpulan Data
Rencana Analisa Data
Analisa Data yang di pakai oleh peneliti adalah Analisa Bivariat karena jenis
penelitian yang diteliti adalah korelasi dan karena 2 variabel peneliti bersifat Data
katagorik maka peneliti menggunakan Rumus Uji Chi Square :

Resiko Terjadi

Tingkat Pengetahuan KRR

PMS
Resiko Rendah

Tinggi
27 ( a )

Rendah
14 ( b )

Resiko Tinggi

15 ( c )

32 ( d )

Total

42
(a+c)

46
(b+d)

n ad bc
2

X2
a b c d a c b d

X2 = 88[ {(27.32 ) ( 14.15 )}-88/2 ]2


( 47 ) . ( 41 ) . ( 42 ) . ( 46 )

X2 =

88[ {864 210}- 44 ]2


( 47 ) . ( 41 ) . ( 42 ) . ( 46 )

X2= 88[372100 ]
3722964
X2= 32744800
3722964
X2= 8,79

Jumlah
47
(a+b)
41
(c+d)
88
(a+b+c+d)

3.10 Etika Penelitian