Anda di halaman 1dari 4

TUGAS FARMAKOLOGI

Selasa, 24 November 2015

Berikan komentar anda terhadap artikel di bawah ini !

Salah Kaprah Suntik Vitamin C


JAKARTA, KOMPAS.com Hampir setiap kaum hawa pasti mengidamkan kulit
yang mulus, putih, dan bersih. Selain dapat mempercantik diri, memiliki kulit putih
diyakini dapat menumbuhkan kepercayaan diri.
Alhasil, situasi ini membuat banyak perempuan melakukan berbagai cara untuk
mendapatkan hasil maksimal, termasuk dengan cara instan. Salah satunya
adalah dengan melakukan suntik putih atau injeksi menggunakan laroscorbine.
Ini adalah obat yang berisi vitamin C dosis tinggi berupa asam askorbat dan
ekstrak kolagen.
Penggunaan laroscorbine yang disinyalir untuk memutihkan kulit, menurut
dr Ferdinand, Spesialis Bedah Plastik dari Eka Hospital, pada praktiknya banyak
yang salah kaprah.
Pada banyak kasus, lanjut Ferdinand, demi cepat memperoleh hasil maksimal,
pratik suntik putih tidak dilakukan sesuai dengan indikasi medis. Tidak jarang
pasien yang beranggapan, semakin banyak disuntik, makin cepat memutih
kulitnya.
Padahal, menurut Ferdinand, itu adalah salah satu bentuk penyalahgunaan.
Apabila diteruskan, hal itu bisa berdampak buruk pada organ tubuh yang lain.
"Efeknya apa? Ginjalnya yang jebol. Akhirnya bermasalah lagi. Jadi, akhirnya jadi
lingkaran setan," ungkapnya di Jakarta, Kamis, (19/5/2011) kemarin.
Ferdinand menjelaskan, laroscorbine adalah vitamin yang mempunyai efek
terapeutik. "Vitamin C itu hanya membantu supaya sel melanin tidak terlalu
agresif membelah diri," kata Ferdinand.

Perlu diketahui, melanin merupakan butir-butir pigmen yang menentukan warna


kulit (putih, coke-lat, atau hitam). Pada kulit gelap, kadar melanin lebih banyak
dibandingkan dengan kulit kuning kecoklatan. Proses pembuatan melanin yang
terbentuk dari tirosin dipengaruhi oleh enzim, vitamin, mineral, dan sebagainya.
Ferdinand menambahkan, ada batas-batas tertentu pemutihan tidak bisa
berjalan lebih lanjut. Tingkat putih maksimal kulit seseorang biasanya bisa dilihat
pada lengan atas bagian dalam.
"Dia maksimal putihnya segitu. Jadi, sangat konyol kalau ada yang berpikir
suntik laroscorbine orang kulit sawo matang, hitam, mau jadi putih kaya putih
cina. Enggak mungkin," katanya.
Praktik ilegal
Ferdinand juga membeberkan bahwa selama ini banyak pihak yang secara tidak
bertanggung jawab mengambil untung dari ketidaktahuan masyarakat.
"Larascorbine dan kawan-kawan itu harganya sangat murah. Anda bisa dapat
dengan harga Rp 10.000. Tapi dijual sekali suntik itu harganya Rp 600.000.
Bahkan, ada beberapa center itu harganya Rp 1 juta," ujarnya.
Lantaran dapat dijadikan lahan bisnis yang menguntungkan, tak
jaranglaroscorbine disalahgunakan oleh oknum, baik dari masyarakat maupun
dari tenaga medis, yang tergiur pada pemikiran praktis ekonomis. Mereka
berpraktik bukan lagi berdasarkan indikasi kedokteran.
Oleh karena itu, Ferdinand menganjurkan kepada masyarakat yang
berkepentingan dengan masalah pada kulit untuk berkonsultasi kepada orang
yang berkompeten, dalam hal ini dokter spesialis kulit.
"Mereka yang punya kompetensi untuk menjelaskan secara detail. Bukan orang
yang ngaku-ngaku. Sekarang banyak orang yang ngaku-ngaku karena ini bisnis
besar. Jadi, tolonglah bawa ke dokter yang kompeten," pungkasnya.

Salah Kaprah Pilih Suplemen

KOMPAS.com - Tergiur dengan beragam khasiat yang dijanjikan, konsumsi


suplemen seringkali tak sesuai peruntukkan bahkan tak sedikit yang sekadar
ingin coba-coba. Salah kaprah penggunaan suplemen seperti ini bisa
mencelakakan tubuh bahkan berisiko kematian jika konsumsinya berlebihan.
"Penggunaan suplemen sebenarnya diizinkan hanya banyak orang yang terpicu
suplemen sebagai booster sehingga salah pemakaian. Pemakaian berlebihan
bisa berisiko kematian, namun memang hal seperti ini tidak dilaporkan.
Sebaiknya konsumsi suplemen harus atas saran dokter, dokter umum pun bisa
menyarankan konsumsi suplemen sesuai tujuannya," ungkap Ketua Departemen
Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
(FK-USU), Aznan Lelo, saat dihubungi Kompas Health, Minggu, (2/2/2014).
Menurut Aznan, konsumsi suplemen sebaiknya memerhatikan tujuan dan
penggunanya memahami kandungan suplemen yang tertera di label kemasan.
Namun sayangnya yang kerap terjadi adalah penggunaan suplemen tak sesuai
tujuan.
Aznan mencontohkan, jika tujuan mengonsumsi suplemen adalah untuk
meningkatkan kebugaran, sebaiknya pilih suplemen bentuk kapsul atau tablet
dengan kandungan vitamin saja bukan yang lainnya. Meski begitu, menurutnya,
untuk meningkatkan kebugaran tubuh, suplemen tak selalu dibutuhkan.
"Cukup makan sayur dan buah setiap hari jika ingin meningkatkan kebugaran,"
sarannya.
Salah kaprah yang kerap terjadi, lanjut Aznan, dengan tujuan meningkatkan
kebugaran agar lebih fit saat bekerja, kandungan suplemen bukan hanya vitamin
tapi mengandung ginseng misalnya. Padahal suplemen mengandung ginseng
peruntukkannya lebih kepada seks bukan kebugaran tubuh.
"Mereka yang bekerja di kantor, atau pabrik, yang banyak menghabiskan tenaga,
jika memang butuh suplemen, kandungan dalam suplemen cukup vitamin C dan
vitamin B kompleks," terangnya.

Menurutnya, konsumsi suplemen pada orang yang bekerja berlebihan


didasarkan atas kekhawatiran terbentuknya radikal bebas. Radikal bebas
berlebihan akibat kebiasaan bekerja yang menghabiskan banyak energi,
memang bisa mencelakakan badan. Selain meningkatkan risiko
penyakit jantung juga diabetes.
Salah kaprah lain dalam pemilihan suplemen juga kerap ditemui pada suplemen
dengan kandungan anti-oksidan. Menurut Aznan, suplemen mengandung satu
jenis anti-oksidan tidak akan memberikan manfaat ke tubuh. Kalaupun ingin
mendapatkan manfaat dari suplemen mengandung anti-oksidan, penggunanya
harus mengonsumsi dengan dosis tinggi. Namun, konsumsi suplemen antioksidan berdosis tinggi bisa mencelakakan badan.
Sebaliknya, suplemen anti-oksidan bisa memberi manfaat pada tubuh hanya jika
mengandung gabungan anti-oksidan. Campuran beberapa jenis anti-oksidan
inilah yang lebih efektif memberikan efek kesehatan.
"Campuran anti-oksidan ini bisa didapatkan dari produk lebah yang mengandung
ribuan anti-oksidan. Sementara produk manggis hanya mengandung satu
macam anti-oksidan yang kurang bermanfaat untuk tubuh," ungkapnya.

Kembali menyoal suplemen, Aznan menyarankan penggunaan suplemen


sebaiknya tak asal pilih dan kembali perhatikan tujuan serta kandungannya.
Selain suplemen untuk kebugaran, seks, tujuan lain mengonsumsi suplemen di
antaranya untuk mengurangi kecemasan, juga suplemen untuk tujuan kecantikan
seperti membuat kulit mulus, tubuh langsing, dan lainnya.
Untuk beberapa tujuan tersebut, Aznan menegaskan agar konsumen lebih
berhati-hati memilih suplemen. Sebagai contoh, lanjutnya, jika ingin mengatasi
kecemasan, sebaiknya gunakan suplemen mengandung ekstrak buah pala yang
bisa mengurangi rasa cemas. Pemahaman tepat mengenai suplemen dengan
memerhatikan tujuan dan kandungannya akan mencegah penggunaan suplemen
secara asal yang berisiko terhadap kesehatan.