Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN EKSPERIMEN FISIKA 2

SERAT OPTIK

Rekan Kerja :

Asisten :

1. Siti Shaina Rahmah


(G74130055)
Farliani Hijriana
(G74120013)

2. Minanti Mella Silvana


(G74130077)
Mutiara Khairunnisa
(G74120016)

Dinda Yuansa Sulaeman


(G74120058)

Rahmat Febriana
(G74120021)

Hisyam

(G74120042)

Dimas Yudha Pratama


(G74120041)

Rizki Kurniawan Hadi

G74130028

DEPARTEMEN FISIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR 2016

Tujuan

Mempelajari karakteristik penjalaran cahaya pada serat optik dan prinsip


komunikasi serat optik.

Dasar Teori

Pada era informasi dak komunikasi saat ini. Infrasturktur jelas bertumpu pada
pembangunan jaringan untuk mempercepat aliran informasi dan mempermudah
untuk bertukar informasi di antara perorang, badan, organisasi, kelompok,
perusahaan, bahkan pemerintahan. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, selama
berpuluh-puluh tahun telah dikembangkan berbagai device jaringan dan media
transmisi. Aliran informasi yang ada di dunia meningkat tiap detiknya, berjuta-juta
website tercipta tiap jam-nya, sehingga apabila hal ini tidak diimbangi dengan
media transmisi yang memadai, maka akan terjadi apa yang disebut dengan bottle
neck dan hal ini sangat merugikan beberapa, bahkan banyak pihak.
Berbicara tentang media transmisi, banyak media-media transmisi yang dapat
digunakan dalam membangun jaringan, secara umum terdapat 2 jenis, yaitu
dengan guided dan unguided. Di dalam guided itu sendiri terdapat banyak jenis
dan masing-masing jenis terdapat kelebihan dan kekurangan tersendiri. Lalu
pertanyaannya, untuk menampung aliran data berjuta-juta tiap detiknya,dengan
jarak yang jauh, adakah solusi pembangunan jaringan dengan guided yang
tangguh ? Jawabnya ada. Oleh karena itu, dalam rangka pengenalan serat optik
ini, diharapkan pembaca dapat mengetahui apa itu serat optik.
Untuk mengalirkan data di dalam jaringan, dibutuhkan media transmisi data.
Media transmisi juga dikenal dengan sebutan media komunikasi, adalah media
yang digunakan sebagai penghubung antara pengirim dan penerima, untuk
melintaskan isyarat, dan isyarat inilah yang akan dimanipulasi dengan berbagai
macam cara dan akan diubah kembali menjadi data. Media transmisi adalah hal
penting di dalam membangun jaringan karena hal inilah yang menjadi acuan

apakah jaringan yang dibangun baik atau tidak,sudah memenuhi standar atau
tidak. Media ini di kelompokkan menjadi dua yaitu : berkabel dan tidak
berkabel[1].
Dalam media berkabel, media itu sendiri adalah hal yang terpenting. Media
berkabel adalah media transmini yang menghubungkan penerima dan pengirim
yang secara fisik dengan menggunakan kabel sebagai penghubung, yang termasuk
transmisi ini adalah : Kabel Pasangan Terpilin, Kabel Koaksial dan Kabel Serat
Optik. Kabel serat optik ini berbeda dengan yang lain, karena kabel serat optik
membawa isyarat data dalam bentuk berkas cahaya, kabel ini biasa digunakan
pada LAN berkecepatan gigabite per detik. Perlu diketahui cahaya mempunyai
kecepatan 300.000 km/detik dalam ruang hampa. Kecepatan cahaya dalam media
transmisi tergantung pada kepadatan media , semakin padat maka semakin
lambat[2].
Serat optik adalah saluran transmisi yang terbuat dari kaca atau plastik yang
digunakan untuk mentransmisikan sinyal cahaya dari suatu tempat ke tempat lain.
Cahaya yang ada di dalam serat optik sulit keluar karena indeks bias dari kaca
lebih besar daripada indeks bias dari udara. Sumber cahaya yang digunakan
adalah laser karena laser mempunyai spektrum yang sangat sempit. Kecepatan
transmisi serat optik sangat tinggi sehingga sangat bagus digunakan sebagai
saluran komunikasi. Serat optik umumnya digunakan dalam sistem
telekomunikasi serta dalam pencahayaan, sensor, dan optik pencitraan. Efisiensi
dari serat optik ditentukan oleh kemurnian dari bahan penyusun gelas. Semakin
murni bahan gelas, semakin sedikit cahaya yang diserap oleh serat optik[3].
Penerobosan besar yang membawa pada teknologi komunikasi serat optik dengan
kapasitas tinggi adalah penemuan Laser pada tahun 1960, namun pada tahun
tersebut kunci utama di dalam sistem serat praktis belum ditemukan yaitu serat
yang efisien. Baru pada tahun 1970 serat dengan loss yang rendah dikembangkan
dan komunikasi serat optik menjadi praktis (Serat optik yang digunakan berbentuk
silinder seperti kawat pada umumnya, terdiri dari inti serat (core) yang dibungkus
oleh kulit (cladding) dan keduanya dilindungi oleh jaket pelindung (buffer
coating)). Ini terjadi hanya 100 tahun setelah John Tyndall, seorang fisikawan
Inggris, mendemonstrasikan kepada Royal Society bahwa cahaya dapat dipandu
sepanjang kurva aliran air. Dipandunya cahaya oleh sebuah serat optik dan oleh
aliran air adalah peristiwa dari fenomena yang sama yaitu total internal reflection.
Teknologi serat optik selalu berhadapan dengan masalah bagaimana caranya agar
lebih banyak informasi yang dapat dibawa, lebih cepat dan lebih jauh
penyampaiannya dengan tingkat kesalahan yang sekecil-kecilnya. Informasi yang
dibawa berupa sinyal digital, digunakan besaran kapasitas transmisi diukur dalam
1 Gb.km/s yang artinya 1 milyar bit dapat disampaikan tiap detik melalui jarak 1
km[4].
Struktur dasar dari sebuah serat optik yang terdiri dari 3 bagian : core (inti) ,
cladding (kulit), dan coating (mantel) atau buffer (pelindung). Inti adalah sebuah
batang silinder terbuat dari bahan dielektrik (bahan silika (SiO2), biasanya diberi

doping dengan germanium oksida (GeO2) atau fosfor penta oksida (P2O5) untuk
menaikan indeks biasnya) yang tidak menghantarkan listrik, inti ini memiliki jarijari a, besarnya sekitar 8 200 m dan indeks bias n1, besarnya sekitar 1,5. Inti di
selubungi oleh lapisan material, disebut kulit, yang terbuat dari bahan dielektrik
(silika tanpa atau sedikit doping), kulit memiliki jari-jari sekitar 125 400 m
indeks bias-nya n2, besarnya sedikit lebih rendah dari n1. Walaupun cahaya
merambat sepanjang inti serat tanpa lapisan material kulit, namun kulit memiliki
beberapa fungsi : mengurangi loss hamburan pada permukaan inti, melindungi
serat dari kontaminasi penyerapan permukaan, mengurangi cahaya yang loss dari
inti ke udara sekitar dan menambah kekuatan mekanis[5].

Seiring dengan berjalannya waktu dan berkembangnya ilmu pengetahuan, serat


optik tidak hanya digunakan sebagai penghubung dalam sistem telekomunikasi,
tetapi juga telah berkembang menjadi sistem sensor yang dikenal dengan Fiber
Optic Sensor (sensor serat optik). Sensor serat optik dibagi atas tiga tipe, yaitu
sensor serat optik ekstrinsik, sensor serat optik intrinsik dan sensor evanescent.
Salah satu bentuk sensor serat optik yang banyak dikembangkan adalah sensor
evanescent dimana prinsip kerja sensor berdasarkan efek gelombang evanescent.
Sensor evanescent dibuat dengan mengupas cladding asli serat optik dan diganti
[6]

dengan material yang lain sehingga nilai indeks biasnya berubah .

Serat optik saat ini dikembangkan menjadi sebuah sistem sensor yang dapat
mengukur berbagai besaran fisis seperti sensor getaran sensor suhu, sensor
tekanan dan sebagainya. Keunggulan serat optik sebagai sensor antara lain adalah
tidak kontak langsung dengan obyek pengukuran, tidak menggunakan listrik
sebagai isyarat, akurasi pengukuran yang tinggi, dan ukurannya yang kecil

[7]

Kemampuan serat optik untuk menangkap pantulan cahaya dengan sudut tertentu
disebut dengan numerical apperture (NA). NA merupakan besaran fisis yang
dimiliki oleh setiap serat optik. NA dapat dinyatakan dengan persamaan (1).

dimana 1 = indeks bias inti serat optik dan 2 = indeks bias cladding serat optik.

Prosedur

A. Pelemahan (Attenuation) dalam Serat Optik

1.Sisipkan modul Analog Transmitter (ANAL.TX) ke Slot-3 dan modul


Potentiometer ke Slot-2 pada panel Transmitter (TX Board)

2.Hubungkan panel Transmitter (TX Board) ke panel Receiver (RX Board)


dengan serat optik (masukkan melalui konektor yang tersedia).

3.Sisipkan modul Analog Receiver ke dalam Slot-3 pada panel Receiver (RX
Board).

4.Hubungkan Multimeter ke panel Receiver, plug ke Ground (GND) dan MP2.

5.Hubungkan panel Transmitter dan panel Receiver ke sumber listrik PLN


(gunakan adaptor yang tersedia).

6.Ukur daya cahaya (dalam Volt) langsung dari sumber (tanpa serat optik, Po). Set
Voltmeter dengan potensiometer, misalnya 1 Volt.

7.Ukur daya cahaya yang ditransmisikan (P) melewati serat optik dengan
panjang(z), serat optik tidak melengkung (tanpa lilitan).

8.Ulangi poin 7. Daya yang terukur merupakan daya referensi (Po) bagi daya
transmisi serat optik dengan lilitan.

9.Lilitkan serat optik satu lilitan pada silinder (tersedia) dengan diameter 1cm,
1.5cm, 2cm dan 2.5 cm. Ukur daya (Pz) yang ditransmisikan untuk setiap
diameter lilitan.

10.Ulangi point 9 untuk dua hingga 8 lilitan. Serat optik harus melilit pada
silinder. Catat data Anda dalam Tabel.

Gambar 1. Set-up pengukuran atenuasi dalam serat optik.

Data dan Pengolahan data

Data

Panjang serat optik (z): ...... z

Daya cahaya input (Po): 0,016


volt

Daya cahaya output tanpa lengkungan (Pz): 0,025


volt

Lilitan
Daya output (Pz)
Atenuasi

diameter kecil)


diameter kecil)

diameter kecil)

diameter besar)

diameter besar)

diameter besar)


Grafik

-200
1
2
3

(10)
-400

-600

-800

Atenuasi

-1000

-1200

-1400

-1600

-1800

Jumlah lilitan

Lilitan (D besar)
Lilitan (D kecil)

Grafik 1. Hubungan Pelemahan (Atenuasi) terhadap jumlah lilitan.

Pembahasan

Karakteristik bahan serat optik sangat berpengaruh dalam transmisi sinyal pada
serat optik tersebut. Pemantulan dan pembiasan sinyal di dalam serat optik
tergantung pada indeks bias bahan yang dipakai dalam serat optik tersebut.
Attenuasi (redaman) juga menjadi masalah tersendiri dalam penyaluran sinyal.
Bentuk redaman yang sering terjadi ketika proses instalasi kabel adalah bending
(pembengkokan). Serat optik mengalami redaman/rugi-rugi sinyal ketika
dibengkokan pada jari-jari tertentu. Sinyal yang teredam di tengah perjalanan
menuju receiver menyebabkan penurunan kualitas sinyal yang diterima oleh
[8]

konsumen ketika menggunakan jasa .

Pada praktikum kali ini kami melakukan pelemahan (Attenuation) dalam serat
optik. Praktikan sebelum memulai percobaan melakukan kalibrasi terlebih dahulu
dengan mengatur transmitter dan receiver agar menempel satu sama lain,
kemudian melihat nilai tegangan yang terbaca pada multimeter. Dalam pembacaan
DMM Tegangan awal yang terbaca sekitar 0.005V. Kemudian praktikan
melakukan percobaan dengan menghubungkan antara transmitter dan receiver
dengan media serat optik tanpa hambatan (lurus tidak di tekuk). Setelah itu
praktikan mencatat hasil pengukuran pada DMM yaitu senilai 0.025.

Percobaan kedua yaitu dengan memvariasikan serat optik dengan banyak lilitan
pada pena dengan lilitan 1,2 hingga 3. Percobaan ketiga praktikan menggunakan
diamter gelas piala dengan lilitan 1,2 hingga .

Data yang diperoleh percobaan terlihat penurunan tegangan seiring dengan jumlah
lilitan yang meningkat menyebabkan nilai atenuasi semakin besar. Namun hasil
juga menunjukkan terjadinya peningkatan nilai tegangan pada diameter lilitan
yang lebih besar yaitu pada gelas piala. Hal ini menunjukkan bahwa semakin
banyak lilitan pada serat optik semakin besar nilai pelemahannya (Atenuasi) dan
semakin besar sudut maka semakin besar tegangannya. Data tersebut sesuai
dengan teorinya seiring banyaknya lilitan maka akan mengganggu pengiriman
sinyal sehingga serat optik tidak bekerja dengan optimal.

Simpulan

Serat optik terdiri dari suatu core, cladding dan coanting. Untuk menjelaskan
bagaimana cahaya merambat sepanjang serat optik digunakan dua
pendekatan/teori, yaitu pendekatan cahaya sebagai sinar (optik geometrik) dan
cahaya sebagai gelombang elektro-magnetik (optik fisis) / teori mode. Dari
percobaan yang dilakukan dapat dismpulkan bahwa adanya lilitan pada serat optik
maka semakin besar nilai pelemahannya.

Daftar Pustaka

[1]

Yayasan Sandhykara Putra Telkom. 2006.Modul : Dasar-Dasar Fiber


Optik.Purwokerto.

[2]

Fatoni, Ishakul.undate publication. Modul : Proses Kerja Teknologi

Informasi dan Komunikasi. Sekolah Tinggi Teknologi Nurul Jadid.

[3]Frederick, C.A., 1990, Fiber Optics Handbook For Engineers and


Scientists, McGraw-Hill, Inc.,New York.

[4]

Bolton, W. Sistem Instrumentasi dan Sistem Kontrol, 2006, Jakarta : Erlangga.

[5]

Efendioglu, H. S., T. Yildirim, and K.Fidanboyl. 2010. Use of Artificial Neura


Networks for Improving Fiber Optic Microbend Sensor Performance.IEEE

[6]

Frederick, C.A., 1990, Fiber Optics Handbook For Engineers and Scientists,
McGraw-Hill, Inc.,New York.

[7]

Saputro, Bayu H. 2014. Aplikasi sistem sensor serat optik untuk pengukuran
frekuensi getaran akustik. Unand: Padang.
[8]

Dewi, M. S., 2010. Kajian Karakteristik Rugi-Rugi pada Serat Optik Telkom
karena Pembengkokan Makro, Skripsi, FMIPA, Universitas Sebelas Maret,
Surakarta.