Anda di halaman 1dari 45

PEDOMAN PRAKTIKUM

SENSOR DAN TRANSDUSER

X
Diafragma atau
aktuator

L1 Vo
L2

L3

Core

LABORATORIUM FISIKA LANJUT


DEPARTEMEN FISIKA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012/2013
KATA PENGANTAR

Sensor dan transduser merupakan komponen penting pada suatu sistem


pengukuran. Sensor dan transduser merupakan garda terdepan dari sebuah
instrumen pengukuran. Transduser adalah piranti yang mengkonversi sebuah
sinyal dari salah satu bentuk fisika menjadi sebuah sinyal bersesuaian yang
memiliki bentuk fisika berbeda, dengan kata lain transduser adalah konverter atau
modifier energi. Sedangkan sensor adalah piranti yang menerima dan merespon
sinyal atau stimuli atau measurand.

Buku pedoman praktikum ini berisi beberapa topik percobaan sensor. Buku ini
mencakup teori singkat tentang prinsip dan rangkaian sensor yang sangat
membantu praktikan dalam melaksanakan praktikum.

Buku ini masih memiliki kekurangan, oleh karena itu koreksi dan saran dari
pembaca sangat diharapkan untuk perbaikan isi buku ini. Atas saran dan koreksi
dari pembaca kami mengucapkan terima kasih.

Bogor, September 2013

Tim Pengajar MK Sensor dan Transduser

2
TOPIK PRAKTIKUM

1. SENSOR POSISI & PERPINDAHAN................................................................. 4


2. STRAIN-GAGE .................................................................................................. 6
3. SENSOR SUHU ................................................................................................ 8
4. SENSOR CAHAYA .......................................................................................... 15
5. SENSOR GETARAN DAN PERCEPATAN ...................................................... 22
6. ANALOG-TO-DIGITAL (A/D) CONVERTER (DATA SENSOR SUHU) ............ 29
7. SENSOR TEKANAN ........................................................................................ 33
8. SENSOR GAS ................................................................................................. 37
9. SENSOR MEDAN MAGNET ........................................................................... 42
10. SENSOR KELEMBABAN ................................................................................ 44

3
PRAKTIKUM 1
SENSOR POSISI DAN PERPINDAHAN

TUJUAN
Merancang dan menguji sensor perpindahan resistif menggunakan
pontensiometer linear.

PERALATAN
Potensiometer linear
Voltmeter
Power supply atau Baterai
Penggaris/mistar

TEORI
Pergeseran atau perpindahan dapat diukur dengan beberapa cara,
diantaranya dengan memanfaatkan sifat listrik bahan atau piranti elektronik seperti
resistansi, kapasitansi atau induktansi. Pada modul ini akan dikembangkan sensor
pergeseran berdasarkan perubahan nilai resistansi sebuah potensiometer ketika
tuasnya digeser, disebut sensor pergeseran resistif.
Prinsip sensor pergeseran resistif ditunjukkan pada Gambar 1-1, terdiri dari
sebuah potensiometer liner, power supply dan Voltmeter. Power supply sebagai
sumber tegangan input (Vs) dihubungkan ke ujung-ujung potensiometer,
sementara sebuah voltmeter dihubungkan ke salah satu ujung potensiometer dan
tuas tengah potensiometer (lihat Gambar 1). Ketika tuas tengah potensiometer
digeser, nilai tegangan keluaran pada Voltmeter akan berubah karena nilai
hambatan potensiometer terbagi bergantung posisi tuas. Hubungan antara
tegangan keluaran (Vo) terhadap pergeseran diberikan oleh
X X Min
Vo Vs
X Mzx X Min
Vs adalah tegangan sumber, XMin adalah posisi resistansi mimum potensiometer,
XMaxadalah posisi resistansi maksimum dan X adalah pergeseran terhadap posisi
minimum.

Gambar 1-1 Prinsip sensor pergeseran

4
PROSEDUR
1. Rangkaikan sebuah potensiometer, Power supply dan Voltmeter seperti pada
Gambar 1-1.
2. Catat nilai tegangan sumber (Vs) pada Tabel 1-1.
3. Geser tuas mulai dari posisi minimum hingga maksimum (gunakan skala-
skala penggaris untuk menentukan posisi), catat tegangan keluaran (dengan
Voltmeter) untuk setiap posisi tuas mulai dari posisi resistansi minimum
hingga posisi maksimum. Catat pada Tabel
4. Ulangi percobaan ini sebanyak tiga kali
5. Lakukan percobaan yang sama (point 3-4) tetapi pengukuran di lakukan dari
posisi resistansi maksimum ke minimum
6. Lakukan percobaan ini untuk tiga nilai tegangan sumber.

Tabel 1-1. Data


Tegangan sumber (Vs): .......... Volt
No Posisi (X) Tegangan output (Vo) Vo rata-rata

TUGAS
1. Buat kurva antara tegangan keluaran Vovs.Perpindahan (X) baik dari posisi
minimum ke posisi maksimum dana sebaliknya pada satu grafik.
2. Tentukan linieritas dan sensitivitas sensor
3. Amati histeresis sensor berdasarkan data pengukuran dari minimum
resistansi ke maksimum dan sebaliknya.
4. Bahas hasil pengamatan Anda dan buat laporan dengan format standar
laporan praktikum.

5
PRAKTIKUM 2
STRAIN-GAUGE
TUJUAN
Mendemonstrasikan prinsip kerja dan mengkarakterisasi sebuah strain-gauge

PERALATAN
Strain-gauge
Beban (massa bervariasi)
Multimeter

TEORI
Strain gauge adalah piranti yang berubah resistansi listriknya terhadap
stress (efek piezoresistif). Strain adalah perubahan fraksional (L/L) dalam
dimensi objek sebagai akibat stress mekanik (gaya/luas). Resistansi R material
yang panjangnya L, luas penampang A dan resistivitas adalah R = L/A
Dengan mendeferensiasi, faktor gauge (G) menjadi

dimana v adalah rasio Poisson (v 0.3), yang menentukan strain dalam arah
normal terhadap L. Pada gauge foil logam, suku geometri mendominasi (G2).
Pada gauge semikonduktor, suku piezoresistif mendominasi (G100).
Strain-gauge terdiri dari grid kawat halus atau bahan semikonduktor yang
diikatkan pada material penyangga.Strain gauge dapat dirangkai dalam susunan
Jembatan Wheastone (Gambar 2-1).Ketika beban diberikan pada lengan Strain
Gauge, hambatan rangkaian berubah sehingga tegangan keluaran juga berubah.
Tegangan keluaran sebanding dengan beban (massa) yang diberikan pada Strain-
Gage (SG).

R1 R2

E Eo

SG1 SG1

Gambar 2-1. Sebuah Strain-Gauge dan Rangkaiannya

6
PROSEDUR
1. Hubungkan rangkaian seperti pada Gambar2-2, set coarse control Amplifier
1 pada 100 dan fine control pada 0.5.
2. Saklar ON tanpa beban pada strain gauge, atur offset control Amplifier 1
hingga keluaran tegangan nol.
3. Letakkan koin (massanya terspesifikasi) pada lengan strain gauge dan catat
pembacaan Voltmeter.
4. Tambahkan koin (spesifikasi sama), dan catat pembacaan Voltmeter.
Lakukan hingga beberapa koin (minimal 5 koin). Buat tabel data.
5. Lakukan percobaan yang sama (poin 2-4), tetapi dimulai dari massa beban
paling besar hingga terkecil.

Gambar 2-2. Rangkaian Strain-Gauge

TUGAS
1. Buat kurva antara massa (gram) koin terhadap tegangan (Volt).
2. Tentukan linieritas dan sensitivitas sensor
3. Amati histeresis sensor berdasarkan data pengukuran dari minimum massa ke
maksiumum dan sebaliknya.
4. Jelaskan fungsi coarse controldan fine control dan pengaturan offset control
pada Amplifier 1.
5. Jelaskan tujuan penaturancoarse control Amplifier 1 pada 100 dan fine control
pada 0.5. Jika dirubah pada posisi yang lain akan mempengaruhi apa?.
6. Bahas hasil pengamatan Anda dan buat laporan dengan format standar
laporan praktikum.

7
PRAKTIKUM 3
SENSOR SUHU

TUJUAN
Mengukur dan menganalisa karakteristik sensor suhu (Termokopel, Termistor dan
Semikonduktor)

PERALATAN
Termokopel
Termistor
Multimeter
Termometer digital

TEORI
Suhu dapat diukur dengan berbagai mekanisme dan piranti. Berbagai sensor
suhu (termometer) telah dikenal seperti termometer raksa, termometer inframerah,
termokopel, termistor, dsb. Dalam modul ini akan digunakan termokopel dan
termistor sebagai transduser untuk mengukur suhu.

Termokopel
Termokopel bekerja berdasarkan efek Seebeck yang merupakan salah satu
dari Efek Termolistrik. Skema sebuah termokopel diperlihatkan pada Gambar 3-1.
Termokopel dibuat dari dua logam berbeda yang digabungkan (dikopel) pada
salah satu ujung kedua logam, sementara ujung lainnya dibebaskan. Ketika ada
perbedaan suhu antara ujung-ujung yang bergabung (terkopel) dan ujung-ujung
bebas (terbuka), akan dibangkitkan tegangan listrik (GGL) yang dapat diukur
langsung dengan sebuah Voltmeter. Efek Seebeck diberikan oleh hubungan
dVs = a,b dT;
Vsadalah potensial Seebeck, a,b adalah koefisien Seebeck sistem, dan T adalah
suhu

Gambar 3-1. Rangaian termokopel

Termistor
Konduktivitas bahan semikonduktor berubah signifikan terhadap suhu.
Termistor adalah komponen elektronik yang memiliki resistansi listrik yang
bergantung pada karakteristik konduktivitas versus suhu semikonduktor. Terdapat
dua jenis termistor berbeda yang bergantung pada arah perubahan resitivitasnya,
yaitu NTC (Negative Temperature Coefficient) dan PTC (Positive Temperature
Coefficient). Termistor NTC memiliki resistansi yang menurun terhadap
8
meningkatnya suhu, sebaliknya Termistor PTC meningkat terhadap
menurunannya suhu.
Resistansi piranti NTC sebagai fungsi suhu diekspresikan oleh hubungan
berikut:
B B
R Ro exp( )
T2 T1
dimana
T = suhu mutlak (K)
To = suhu awal (K)
Ro = resistansi pada temperatur T o
B = konstanta suhu

Dari persamaan di atas, koefisien resistansi-suhu didefinisikan sebagai:


1 dR B
2
R dT T
Harus diperhatikan bahwa resistansi berbanding terbalik terhadap kuadrat suhu.
Kurva karakteristik termistor NTC dan PTC ditunjukkan pada Gambar 3-2.
Karena termistor melepaskan panas, rating daya termistor harus dipertimbangkan
ketika memilih termistor. Rating daya tipikal dalam rentang beberapa puluh
miliwatt hingga beberapa watt.

Gambar 3-2. Termistor dan karakteristiknya

Termistor digunakan di dalam rangkaian elektronik sebagai elemen


pengkompensasi suhu. Juga termistor PTC ditemukan di dalam rangkaian kontrol
suhu otomatis sebagai sumber panas terkontrol.

PROSEDUR

Termokopel
1. Siapkan OP Amp. Unit. Jaga saklar power OFF.
2. Buat koneksi antara Sensor Unit dan OP Amp. Unit (Gambar 3-3)
3. Nyalakan power OP Amp., dan hubungkan Digital Multimeter ke terminal
output OP Amp. Set range multimeter pada 200 mV.
9
4. Cek pembacaan Digital Multimeter dan output OP Amp. dalam Volt. (Catatan:
Perhatikan bahwa gain OP Amp. diset pada 10)

Gambar 3-3. Rangkaian sensor dan OP Amp.

5. Gambar 3-4, berikan panas pada termokopel dengan menggunakan hot


soldering iron. Buat grafik yang memperlihatkan hubungan antara suhu
termokopel dan output OP Amp.
6. Untuk mengatur gain, jump pin 6 dan 7 dari OP Amp., dan atur resistor
variable 500 k.

Gambar 3-4. Pemanasan termokopel dan kurva keluaran

7. Set gain OP Amp pada 50, dan hubungkan output OP Amp ke komparator
seperti diperlihatkan pada Gambar 3-5.
8. Terapkan panas pada termokopel hingga LED hijau pada output komparator.
9. Ulangi point 8 pada suhu berbeda

10
Gambar 3-5. Rangkaian penguran karakteristik termokopel

Tugas
1. Buat grafik yang memperlihatkan hubungan antara suhu termokopel dan
output OP Amp
2. Hitung tegangan output termokopel pada suhu ruang dengan menggunakan
nilai yang diperoleh pada Step 4, jika gain dari dua amplifier yang saling
terhubung adalah 100?
3. Berapakah gain yang diperlukan jika output Op Amp 1V?
4. Jelaskan fungsi dari rangkaian komparator pada percobaan ini?
5. Jelaskan kenapa pada langkah 8 nyala LED indikator pada kompartor berubah
warna dari merah ke hijau.
Termistor
Resistansi termistor berubah terhadap suhu. Untuk termistor jenis NTC, resistansi
termistor menjadi lebih rendah jika suhu ditingkatkan. Resistansi termistor di
dalam ED-6800B adalah 2 k pada suhu ruang. Oleh karena itu, ketika resistansi
berubah menjadi 1.9 k akibat perubahan suhu, laju perubahan adalah 5%.
Perubahan tersebut dapat dideteksi menggunakan rangkaian jembatan seperti
pada Gambar 3-6.

11
Gambar 3-6. Rangkaian jembatan pengukuran termistor
Dalam kondisi seimbang dari jembatan (Zero output), berlaku hubungan
RS/RB = RX/RA
RX adalah hambatan sensor termistor dan RS adalah resistor penyeimbang
rangkaian jembatan. Setiap perubahan RX akibat perubahan suhu setelah
seimbang diperoleh muncul pada output jembatan. Sensitivitas detektor jembatan
biasanya sangat bagus.

PROSEDUR
1. Siapkan OP Amp. Unit. Jaga power OFF.
2. Merujuk Gambar 3-7, hubungkan antara OP Amp. Unit (OU-6801), Sensor
Unit (SU-6803) dan multimeter.
3. Ukur resistansi termistor pada suhu ruang menggunakan multimeter. Juga
ukur suhu ambient aktual.
4. Hubungkan sensor termistor ke terminal SENSOR INPUT dari Sensor Unit.
Set rentang volt multimeter yang disisipkan antara output jembatan dan
ground ke 20 V.
5. Hidupkan power pada OP Amp. Unit. Dengan mengatur kontrol BALANCE,
set jembatan untuk ke balance sedemikian sehingga indikasi volt menunjuk
nol.
6. Pegang ujung sensor dengan dua jari selama sekitar 30 detik, dan amati
perubahan pembacaan tegangan. Dalam kasus jarum meter volt menyimpak
ke arah sebaliknya, balikkan/pindahkan koneksi meter. (agar teramati
perubahannya pindahkan set volt multimeter ke rentang 200 mV)
7. Hubungkan antara output jembatan dan input amplifier seperti diindikasikan
oleh garis bertitik 1 di dalam Sensor Unit. Juga hubungkan sebuah Voltmeter
(dalam rentang 3V) pada output amplifier.
8. Tip (kepala) sensor yang dipanaskan oleh jari-jari tadi harus didinginkan ke
suhu ruang. Pastikan meter tegangan menunjukkan nol. Jika tidak, atur ulang
rangkaian jembatan. Sentuh tip (kepala) sensor dengan dua jari lagi, dan
amati indikasi tegangan. Bandingkan pembacaan dengan indikasi arus pada
Step 6. Seharusnya teramati bahwa Step 7, yang menggunakan amplifier,
memberikan resolusi sensing yang lebih baik.
9. Instal probe termistor dan termometer alkohol pada plat panas dari Sensor
Unit seperti diperlihatkan padaGambar 3-8(a). Hidupkan saklar pemanas.
Merujuk Gambar 3-8(b), catat temperatur dan tegangan pada setiap interval
30 atau 60 detik sampai didapatkan 10 data.

12
Gambar 3-7. Rangkaian pengukuran karakteristik termistor

Gambar 3-8. Instalasi probe termistor dan karakteristiknya

10. Matikan saklar pemanas. Catat pembacaan suhu dan tegangan pada setiap
menit selama kira-kira sepuluh menit. Gambar dua kurva seperti ditunjukkan
pada Gambar 3-8(b).
[Catatan] Bergantung pada konduktivitas termal antara sumber panas dan
objek yang akan dipanaskan, karakteristik pemanasan dan pendinginan tidak

13
perlu sama. Normalnya, pendinginan memerlukan lebih banyak waktu pada
konveksi alami. Pendinginan menggunakan kipas untuk mereduksi waktu
pendinginan.
11. Hubungkan antara point-point seperti diindikasikan oleh garis bertitik 1, 2, 3
dan 4. Set saklar pendingin ke AUTO. Seimbangkan rangkaian jembatan
pada suhu ruang.
12. Dengan sensor suhu (termistor) dan termometer seperti di-set pada Gambar
3-8(a), atur input referensi OP Amp. Comparator ke -0.5V.
[Catatan]Ketika suhu ditingkatkan pada sensor suhu (termistor), output
rangkaian jembatan muncul negatif. Ini karena termistor yang digunakan
adalah NTC. Untuk men-drive LED + pada output komparator, input
referensi (bias) di set di bawah 0 Volt.
13. Hidupkan saklar pemanas. Cari suhu pada mana LED + menyala.
Perhatikan bahwa ketika LED + menyala, menandakan bahwa suhu terlalu
tinggi, kipas hidup secara otomatis. Ini karena sistem dikonfigurasi untuk
mendemonstrasikan konsep kontrol otomatis.
14. Kurangi tegangan referensi secara gradual, dan cari suhu pada mana kipas
mulai beroperasi.
15. Matikan pemanas, dan tingkatkan tegangan referensi secara gradual. Catat
output komparator vs. suhu.

Tugas
1. Jelaskan kenapa dengan merubah pengaturan control BALANCE tegangan
output dari jembatan wheatstone berubah? Dan jelaskan kapan terjadinya
output dari jembatan wheatstone NOL?
2. Jelaskan kenapa pada langkah 6 dan 8 perubahannilai tegangannya berubah?
(Jelaskan apa fungsi dari amplifier?)
3. Jelaskan fungsi dari tegangan referensi pada komparator?
4. Jelaskan proses system otomasi pada langkah 13.

14
PRAKTIKUM 4
SENSOR CAHAYA

TUJUAN
Mengamati dan mengkarakterisasi sensor cahaya (sel fotokonduktif dan
fotovoltaik).

TEORI
Sensor cahaya atau fotosensor merespon energi cahaya yang datang
padanya, dan menghasilkan sinyal listrik. Kuat sinyal keluaran sebanding dengan
intensitas cahaya. Beberapa fotosensor memiliki transmiter dan receiver cahaya
built-in. Fotosensor diklasifikasikan atas sensor fotoemisif, fotoresistor atau
fotokonduktor, fotovoltaik, fotodioda dan fototransistor.
Fotokonduktor atau sel fotokonduktif adalah fotosensor yang didasarkan atas
perubahan nilai konduktivitas material sensor ketika dikenai cahaya dengan
intensitas berbeda. Sel fotokonduktif biasanya dibuat dari lempengan
semikonduktor (CdS) yang diberi kontak logam (emas). Saat tidak ada cahaya
mengenai bahan semikonduktor, resistansinya tinggi. Ketika cahaya mengenai
bahan semikonduktor akan membangkitkan pasangan elektron-hole sehingga
mereduksi nilai resitansinya, sehingga disebut juga sensor fotoresistif.

Gambar 4-1. Sensor fotoresistif (CdS)

Sel fotovoltaik dikonstruksi dari dua lapisan semikonduktor (seperti silikon)


ekstrinsik dengan tipe berbeda, tipe-p dan tipe-n, membentuk persambungan
(junction). Lapisan tipis p-Si dibentuk diatas substrat wafer n-Si, seperti pada
gambar di bawah. Ketika cahaya mengenai sel, elektron-hole dibangkitkan pada
persambungan. Kedua muatan berbeda tersebut dipisahkan oleh medan listrik
internal pada persambungan dan dialirkan menuju rangkaian luar yang
menghasilkan daya listrik pada beban (load).
Tegangan keluaran bergantung pada besarnya cahaya yang tiba pada piranti
(sel) dan maksiumum sebesar 0,6V. Dengan sebuah beban (load) yang
dihubungkan dengan keluaran, arus listrik mengalir. Besarnya arus bergantung
pada besarnya cahaya yang jatuh pada piranti.

15
Gambar 4-2. Sel fotovoltaik

Fototransistor adalah transistor sensitif cahaya, dikonstruksi dari


persambungan semikonduktor tipe-n dan tipe-p, dengan struktur npn atau pnp.
Untuk struktur npn, tipe-p (basis) bertindak sebagai penerima cahaya. Transistor
ini dirangkaikan dengan sebuah penguat atau komponen-komponen elektronik
lainnya.
Ketika transistor disinari, arus mengalir melalui piranti darikolektor ke
emiter, yang besarnya sebanding dengan energi foton (cahaya) datang.Tegangan
keluaran tergantung pada arus dan resistansi di dalam rangkaian.

PROSEDUR
LED dan Fotosensor
(Tujuan: Memahami operasi LED inframerah dan transistor receiver dalam
mendeteksi ojek)
1. Matikan power OP Amp. Unit. Hubungkan unit-unit seperti pada Gambar4-3.
Set BIAS Sensor Unit ke DC.
2. Cantolkan modul LED dan Fototransistor pada suatu jarak dengan mengatur
rel. Set jarak antara dua objek pada 5 mm. Nyalakan saklar power.
3. Set level BIAS pada kira-kira 5 (pertengahan). Dengan menggunakan rentang
Rx100 dari multimeter, ukur konduktansi antara kolektor dan emiter dari
fototransistor.
4. Gerakkan sensor (receiver) menjauh dari modul LED secara gradual, dan pada
setiap 5 mm, ukur konduktansi seperti diindikasikan pada multimeter. Gambar
grafik antara jarak dan konduktansi.
5. Tingkatkan BIAS ke level maksimum (10), dan ulangi Step 4. Bandingkan
sensitivitas antara dua kasus:
1) Untuk jarak tertentu, bias ditingkatkan dengan faktor 2
2) Untuk BIAS tertentu, jarak diturunkan dengan faktor 2.
Mana yang memiliki sensitivitas lebih baik?

16
Gambar 4-3. Rangkaian LED-Fototransistor

6. Hubungkan plug sensor (receiver) ke terminal-R, dan set multimeter analog ke


15 VDC. Hubungkan Voltmeter ke Output Fotosensor dan GND.
7. Set level BIAS ke 5. *ada setiap kenaikan 5 mm, ukur tegangan Output
Fotosensor, dan gambar kurva hubungan jarak terhadap tegangan output. Cari
laju perubahan tegangan output sebagai fungsi jarak
8. Set jarak antara sumber (LED) dan receiver (Fotosensor) pada 10 mm.
Lindungi receiver (Fotosensor) dengan selembar kertas atau tangan
sedemikian sehingga tidak ada cahaya yang mengenai fotosensor, dan
perhatikan jika tegangan output berubah. Dalam kasus output berubah,
jelaskan mengapa!
9. Matikan OP Amp sesaat, dan ubah rangkaian seperti pada Gambar 4-4.
10. Set BIAS T-Device dari Sensor Unit ke 100 Hz AC, dan set level output ke 5.
Atur osiloskop ke display untuk sinyal 100Hz 2V.
11. Set jarak antara sensor LED dan Fototransistor pada 5 mm, dan nyalakan
power OP Amp.
12. Ukur tegangan output puncak-ke-puncak pada osiloskop. Ukur tegangan
output dengan multimeter pada setiap interval 5 mm, dan gambar kurva
hubungan tegangan output terhadap jarak.

17
Gambar 4-4. Rangkaian LED-Fototransistor

13. Ubah BIAS pada 1 kHz, dan ulangi step 12. Gambar kurva seperti pada step
12. Ukur tegangan puncak-ke-puncak pada osiloskop dan gambar (sketsa)
bentuk gelombang pada selembar kertas.
14. Set BIAS pada level 10, dan ulangi step 11 dan 12.
15. Set jarak antara sumber (LED) dan receiver (Fotosensor) pada 10 mm.
Lindungi receiver dengan selembar kertas atau tangan, dan perhatikan jika
output berubah. Bandingkan lagi Step 8. Dalam kasus ini hasilnya berbeda,
jelaskan mengapa?

Tugas
1. Gambar grafik antara jarak dan konduktansi pada langkah 4.
2. Berdasarkan data pengamatan yang didapat pada langkah 5, jelaskan
pemahaman anda.
3. Jelaskan fungsi pengaturan BIAS LEVEL.
4. Gambar kurva hubungan jarak terhadap tegangan output dan Cari laju
perubahan tegangan output sebagai fungsi jarak pada langkah ke-7.
5. Tuliskan penjelasan anda berdasarkan hasil pengamatan pada langkah ke-8.
6. Gambar kurva hubungan tegangan output terhadap jarak pada langkah ke-12
7. Kerjakan perintah pada lankah ke-13
8. Jelaskan mengapa terjadi perbedaan data pengamatan ketika menggunakan
sumber bias DC dan AC.

18
CdS dan Fotokopler
(Tujuan: Mempelajari karakteristik sel CdS dan piranti fotokopler)
Output sel CdS bervariasi ketika intensitas cahaya datang berubah. Sifat ini
kadang-kadang membuat sel CdS lebih mudah digunakan daripada fototransistor.
Contoh aplikasi sel CdS seperti saklar otomatis untuk lampu jalan.
Sel CdS esensialnya adalah relay tanpa kontak. Ketika dikombinasikan
dengan fotokopler, sel CdS dapat bertindak sebagai kontrol volume elektronik.
Waktu respon sel CdS ini kira-kira 10 ms, dan sensitivitas maksimum pada 520
nm. Panjang gelombang tersebut berada pada rentang cahaya tampak (visible),
dan oleh kerena itu, sensor dapat digunakan sebagai alat ukur (meter) cahaya.
1. Jaga power OP Amp. Unit OFF, dan rangkai Sensor Unit seperti pada
Gambar 4-5. Set BIAS T-Device Sensor Unit ke DC, dan set level BIAS ke
minimum.

Gambar 4-5. Rangkaian LED-CdS


2. Set jarak antara Lampu dan modul CdS pada sekitar 20 mm, dan hidupkan.
3. Ukur resistansi CdS dengan T-Device Bias di-set pada 0. Tingkatkan level
Bias secara perlahan, dan ukur resistansi pada setting Bias 5 dan 10.
4. Lindungi Lampu dan Sensor CdS dengan kertas hitam dan ulangi Step 2 dan
3.
5. Matikan OP Amp. sementara, dan ubah rangkaian seperti pada Gambar 4-6.
Hubungkan Pin 6 pada OP Amp ke Pin 8. Set BIAS ke DC, dan level Bias
pada 0.

19
Gambar 4-6. Rangkaian LED-CdS
6. Set jarak antara Lampu dan sel CdS pada 5 mm. Lindungi CdS dari semua
cahaya selain cahaya Lampu.
7. Hidupkan power. Atur Offset Bias hingga output 0.
8. Tingkatkan Bias T-Device dari 1 hingga 10, dan ukur output OP Amp. Jika
output bervariasi linear terhadap perubahan Bias, maka fotokopling berfungsi
dengan baik.
9. Pada Gambar 4-5, set kecepatan rotating disk pada kira-kira 30 rpm ( satu
revolusi per 2 detik), dan bawa sensor Cds sedemikian sehingga sensor
dapat menerima cahaya yang berasal dari Lampu di sebelah dalam disk.
Amati perubahan resistansi dengan menggunakan multimeter. Gerakkan
sensor sedemikian sehingga sensor menerima cahaya dari Lampu di luar
disk. Tingkatkan kecepatan motor secara gradual, dan amati bentuk
gelombang pada osiloskop. Diskusikan perbedaan performansi antara sensor
CdS dan fototransistor jika ada.
10. Hubungkan sensor fototransistor seperti pada Gambar 4-4, dan tempatkan
Photo Trainer Sensor dimana terdapat Lampu di sebelah luar disk.
Tingkatkan kecepatan motor, dan amati bentuk gelombang pada osiloskop.
Set time base osiloskop pada CAL, dan ukur perioda sinyal. Ulangi
eksperimen dengan Sensor CdS dan bandingkan hasilnya.

20
Tugas
1. Berikan penjelasan anda bedasarkan data pengamatan pada langkah ke-3.
2. Berikan penjelasan anda bedasarkan data pengamatan pada langkah ke-4.
3. Berikan penjelasan anda bedasarkan data pengamatan pada langkah ke-8.
4. Berikan penjelasan anda bedasarkan data pengamatan pada langkah ke-9.
5. Berikan penjelasan anda bedasarkan data pengamatan pada langkah ke-10

21
PRAKTIKUM 5
SENSOR GETARAN DAN PERCEPATAN
TUJUAN
1. Memahami karakteristik transduser ultrasonik dan sensor ultrasonik.
Mencoba dasar-dasar komunikasi ultrasonik.
2. Mengukur percepatan (aselerasi) sebuah objek jatuh menggunakan sensor
kejut (shock sensor).

TEORI
Sebuah piranti (device) yang merespon getaran dan menghasilkan sinyal
dikenal sebagai sensor getaran (vibrasi). Sebagai contoh, mikrofon dan
transceiver ultrasonik merupakan sensor getaran. Karena telinga manusia tidak
mampu mendengar sinyal ultrasonik, sensor ultrasonik menguntungkan ketika
interferensi dari sinyal-sinyal audible menjadi masalah. Pada sisi lain, sensor
seismik yang merespon frekuensi sangat rendah dari gempa bumi juga
merupakan sensor getaran.

Sensor Ultrasonik
Struktur internal dan rangkaian ekivalen sebuah sensor ultrasonik
diperlihatkan pada Gambar 5-1. Elemen vibrasi dibuat dari dua plat tipis. Plat-palt
ini dapat berupa elemen piezoelektrik atau kombinasi piezoelektrik dan plat logam.
Plat-plat ini mulai bervibrasi ketika sinyal listrik dengan frekuensi sekitar frekuensi
karakteristik elemen piezoelektrik di terapkan kepada plat-plat. Ketika plat-plat
bervibrasi, energi menjalar melelui screen.
Proses receiving berlawanan dengan proses transmitting. Ketika sinyal
bunyi ultrasonik menabrak elemen piezoelektrik, elemen membangkitkan sinyal
listrik yang identik dengan frekuensi sinyal yang diterima. Rentang frekuesni tipikal
operasi ultrasonik adalah 38 kHz 45 kHz.
Sensor ultrasonik digunakan dalam mengidentifikasi objek, dan dalam
piranti-piranti pengukur jarak. Juga, sensor ultrasonik ditemukan pada pengontrol
jarak jauh, dan dalam peralatan medis.

Gambar 5-1. Sensor ultrasonik

22
Sensor Vibrasi-Sensor Kejut
Sensor vibrasi merespon gelombang yang menjalar melalui udara atau
medium lain. Sebagai contoh mikrofon, yang merupakan transduser
elektroakuistik yang mersepon gelombang bunyi dan mengkonversinya menjadi
gelombang listrik. Struktur internal sebuah mikrofon ditunjukkan pada Gambar 5-2.

Gambar 5-2. Sensor vibrasi

Piranti (device) yang mirip dengan mikrofon tetapi beroperasi pada


frekuensi sangat rendah (rentang beberapa Hz) juga merupakan jenis sensor
vibrasi. Ketika piranti tersebut dikenai gelombang kejut (shock), koil bergerak yang
ditempatkan di dalam medan magnet menghasilkan gaya elektromotif (EMF).
Piranti ini digunakan dalam survey bawah permukaan.
Sensor kejut (shock sensor) dikonstruksi berdasarkan efek piezoelektrik,
yang sebanding dengan kuat gelombang kejut yang datang, dihasilkan pada
frekuensi karakteristik sensor.
Frekuensi output sensor kejut berbasis piezoelektrik merupakan frekuensi
karakteristik elemen piezoelektrik sendiri. Kuat sinyal bervariasi bergantung pada
kuat gelombang kejut yang datang. Detektor kejut memerlukan detektor puncak,
karena menemukan puncak kejut merupakan tujuan utama. Respon frekuensi
tipikal sebuah elemen sensor mulai dari beberapa ratus Hz hingga bberapa kHz,
dan besarnya dapat beberapa ratus mV pada level kejut 40 G.

PERCOBAAN
Transmisi dan Resepsi Gelombang Ultrasonik
Pada Gambar 5-3 diperlihatkan sebuah rangkaian ekivalen dan
karakteristik reaktansi transduser ultrasonik.
Output generator dari Sensor Unit, yang digunakan sebagai input untuk
transduser, berupa sinyal kotak. Namun demikian, bentuk output gelombang
adalah sinusoidal. Dengan men-tanah-kan input kontrol akan menghentikan
pembangkitkan gelombang kotak. Ketika sinyal gelombang kotak, seperti
diperlihatkan pada Gambar 5-4(a), dari function generator diterapkan ke input
kontrol, sinyal ultrasonik seperti diperlihatkan pada Gambar 5-4(b) dapat
diperoleh. Sinyal tersebut digunakan untuk unit-unit kontrol jarak jauh dalam
aplikasi komersial.

23
Gambar 5-3. Rangkaian ekivalen dan karakter transduser ultrasonik

Gambar 5-4. Sinyal gelombang kotak dan sinyal ultrasonik


Peralatan
OP Amp Unit (OU-6801)
Tracking Power Supply (0~20V)
Sensor Unit (SU-6806B)
Oscilloscope, dual trace
Function Generator
Frequency Counter
24
Prosedur
1. Jaga power supply OFF. Hubungkan peralatan seperti pada Gambar 5-5. Set
osiloskop untuk 40 kHz, 0.1V/div.
2. Set generator pada 40 kHz, dan hidupkan saklar toggle dari Sensor Amp.

Gambar 5-3. Rangkaian sensor getaran

3. Hidupkan power, dan bawah modul transmisi mendekati Sensor Unit, dan
cek osiloskop untuk sinyal yang diterima. Variasikan jarak antara pemancar
(transmitter) dan penerima (receiver) dan ukur tegangan puncak-puncak
yang diamati pada osiloskop. Catat nilai-nilai ini di dalam Tabel (Gambar 5-6)
pada kolom 40 kHz.

Frekuensi 20 25 30 40 50 60 70 80
Jarak kHz kHz kHz kHz kHz kHz kHz kHz

cm
cm
cm
cm
Gambar 5-6. Data kuat sinyal (Volt) vs. jarak transmitter-receiver
4. Tetapkan jarak antara transmitter dan receiver. Variasikan frekuensi
generator seperti dicatat pada Tabel (Gambar 5-6), dan ukur tegangan
puncak-puncak. Catat nilai-nilai tersebut di dalam Tabel.

25
5. Untuk jarak yang diberikan, transmisikan sinyal menuju sebuah objek logam
ataupun kayu, dan amati perbedaan sinyal yang diterima. Pastikan objek
disusun sedemikian sehingga receiver menerima sebanyak mungkin
gelombang yang dipantulkan.
6. Matikan saklar power, dan hubungkan function generator dengan impedansi
output 50 ke Control Input dari rangkaian generator seperti diperlihatkan
pada Gambar 5-7.

Gambar 5-7.
7. Set function generator untuk output gelombang kotak 100 Hz pada 15Vp-p.
Set CH-1 osiloskop untuk 100 Hz, 0.1 Vp-p dan CH-2 untuk 100 Hz, 0.2 Vp-
p.
8. Nyalakan power dan juga saklar toggle pada Sensor Amp. Bawa modul
transmitter mendekati Sensor, dan amati bentuk gelombang pada osiloskop.
Bandingkan perbedaan antara bentuk gelombang CH-1 dan CH-2.

Tugas
1. Jelaskan hubungan antara kuat sinyal dan jarak berdasarkan data langkah 3.
2. Jelaskan pengaruh frekuensi sinyal yang diberikan terhadap nilai tegangan
yang teramati.
3. Jelaskan mengapa ada perbedaan sinyal yang diterima antara logam dan kayu
pada langkah 5.
4. Jelaskan fungsi dari Rangkaian Sensor AMP dan rangkaian Rectifier pada
sensor UNIT.
5. Jelaskan kenapa terjadi perbedaan bentuk gelombang pada CH-1 dan CH-2
26
Pengukuran Aselerasi dengan Sensor Kejut (Shock Sensor)
Dua jenis Sohock Sensor diperlihatkan pada Gambar 5-8. Dari kedua jenis
ini, aselerometer piezoelektrik digunakan dalam percobaan ini. Karena aselerasi
akibat kejutan yang hanya pada basis transient, maka perlu menangkap tegangan
puncak yang dihasilkan oleh elemen piezoelektrik. Rangkaian detektor puncak
yang diperlihatkan pada Gambar 5-9 digunakan untuk tujuan ini.

Gambar 5-8. Sensor kejut (aselerometer)

Gambar 5-9. Rangkaian detektor puncak

PERALATAN
OP Amp. Unit (OU-6801)
Tracking power supply (0 ~ 20V)
Sensor Unit (SU-6806B)
Oscilloscope
Multimeter

Prosedur
1. Jaga power supply OFF, dan hubungkan perlatan-peralatan seperti Gambar
5-10. Hubungkan Shock Sensor ke External Input dari Sensor Unit. Jaga
saklar Toggle Sensor pada kondisi OFF.
2. Set osiloskop pada 0.2V/Div dan 10mS/Div.
3. Hidupkan power. Posisi aselerometer sedemikian sehingga panah menunjuk
ke bawah. Berikan kejutan menengah dengan menjatuhkannya ke meja.
Jatuhkan sensor pada sekitar ketinggian 5 cm, dan amati bentuk
gelombangCH-1 pada osiloskop.
27
4. Atur rentang input dari osiloskop sedemikian sehingga bentuk gelombang
kejut adalah sekitar 2 ~ 3 cm pada osiloskop.
5. Set multimeter yang dihubungkan pada output detektor puncak ke rentang
10V DC. Tekan Reset untuk men-discharge C1.
6. Tempelkan Shock Sensor pada Accessory 6800-10 dengan arah panah yang
benar. Jatuhkan sensor pada beberapa ketinggian seperti diindikasikan di
dalam Tabel berikut ke permukaan keras, dan catat tegangan puncak di
dalam Tabel. Uji hasilnya. Apakah tegangan puncak proporsional dengan
ketinggian. Buat kurva antara tegangan output puncak dan ketinggian.

Ketinggian 2 cm 4 cm 6 cm 8 cm
Tegangan output puncak

Gambar 5-10. Rangkaian pengukuran aselerasi


Tugas
1. Jelaskan fungsi tombol riset pada langkah ke-5.
2. Buat kurva antara tegangan output puncak dan ketinggian pada langkah ke-6.
3. Jelaskan fungsi dan cara kerja rangkaian Peak Detector.

28
PRAKTIKUM 6
Analog-to-Digital (A/D) converter (Data Sensor Suhu)

Output listrik dari kebanyakan sensor adalah sinyal analog.Agar sinyal analog
dapat diterima oleh system digital atau controller microprosesor, sinyal analog
tersebut harus dikonversi ke sinyal digital.Untuk keperluan tersebut digunakan A/D
converter.

Metode Conversi A/D (Perbandingan Paralel)


Tipe perbandingan parallel A/D converter ditunjukkan Gambar 6-1.Tipe ini
merupakan tipe yang biasa digunakan yang sering juga disebut flash
conversion.Teknik ini merupakan teknik conversi yang paling cepat, teori
operasionalnya sangat sederhana dan mudah untuk dipahami.

Gambar 6-1Metode Conversi A/D (Perbandingan Paralel)

Pembagi tegangan memberikan tegangan referensi untuk satu inputan dari


masing-masing tegangan comparator. Nilai referensi total dari masing-masing
comparator adalah total tegangan antara +Ref dan Ref dibagi dengan jumlah
komparator (n komparator). Nilai disetiap titik pembagi tegangan merupakan range
dari total tegangan yang diberikan. Semua resistor R o sampai Rn harus memiliki
nilai yang sama. Pergantian inputan diatur untuk memberikan kecepatan system
perwaktuan.
Tegangan input analog datang melalui switch input yang diberikan oleh kapasitor
Sample-and-Hold (S/H) pertama. Tegangan S/H dibandingkan dengan nilai
referensi pada masing-masing komparator. Output dari komparator yang nilai
referensinya lebih rendah daripada input analog akan menjadi high. Input hasil
komparator dimasukkan ke dalam encoder (rangkaian logika) untuk mendapatkan
sinyal digital yang sesuai. Perbandingan antara inputan analog dan bentuk
gelombang Sample-and-Hold dapat dilihat pada Gambar 6-2.

29
Gambar 6-2 inputan analog (a) dan bentuk gelombang Sample-and-Hold (b)

Data digital lebih disukai daripada data analog karena beberapa alasan:
1. Mudah menyimpan data digital dan dapat dengan mudah dimanipulasi
menggunakan computer
2. Sebuah sistem operasi dapat digunakan untuk melakukan control presisi
numerik menggunakan data digital
3. Karena sinyal data digital hanya 1 atau 0, sehingga dapat mengurangi
noise
Resolusi ADC pada percobaan ini adalah 8-bit.Resoluasi memiliki rentang
skala 1/256 (atau 1/28). Nilai maksimum input analog adalah 5 V. Akan tetapi,
attenuator dapat menerima sinyal analog 10 V. Referensi input dirubah untuk
mendapatkan variable output digital.

Peralatan:
1. Sinyal converter unit CU-6802
2. Sensor unit SU-68-03
3. Multimeter analog
4. Thermistor Temp. Sensor 6800-2
5. Alcohol thermometer

Prosedur percobaan:
1. Jaga power signal converter OFF dan DATA HOLD pada posisi OFF.
2. Hubungkan kabel signal converter dan sensor unit seperti pada Gambar 4-
3:
3. Jaga switch HEATER on dan sensor unit OFF (AUTO). Tempatkan sensor
temperature dan thermometer secara vertikal diatas heat plate.
4. Set V-Referensi A/D dan D/A ke CAL. Hidupkan power, cek analog meter
dan LED (Do ~ D7) indicator digital input/output dengan input terminal
dihubungkan singkat. Dengan tidak adanya inputan analog, semua bit (8)
output digital akan low (mati).
5. Setelah mencoba step 4, lepas hubung singkat input analog. Ukur input
analog dan cocokkan dengan output digital pada temperature ruang.

30
Gambar 6-3 Setup alat yang digunakan

6. Hidupkan heater (ON) pada sensor unit. Setiap 10 atau 20 detik ukur suhu,
input analog dan input digital dan isikan pada tabel di bawah ini:

Suhu Analog Digital (8 bits)


o Keterangan
C Volt D7 D6 D5 D4 D3 D2 D1 D0

31
7. Matikan heater (posisi AUTO) dan hidupkan COOLER (posisi ON). Ulangi
langkah 6 untuk mendapatkan karakteristik saat penurunan suhu. Ukur
temperature, input analog, dan output digital.
8. Hubungkan output A/D dan input D/A seperti pada Gambar 3-9.
Bandingkan nilai analog dan digital dari A/D converter dengan nilai D/A
converter. Seharusnya nilai data analog dan data digital sama. Percobaan
ini dilakukan dengan posisi input referensi pada posisi CAL.

Tugas
1. Jelaskan proses konversi data dari annalog ke digital menggunakan metode
perbandingan parallel?
2. Jelaskan fungsi dari tegangan referensi pada rangkaian komparator
perbandingan parallel?
3. Cari resolusi perubahan data digitalnya untuk setiap perubahan nilai data
analognya.
4. Buat grafik hubungan antara tegangan vs decimal data digital saat suhu naik
dan turun
5. Buat grafik hubungan antara suhu vs tegangan analog saat suhu naik dan
turun
6. Buat grafik hubungan antara suhu vs desimal data digital saat suhu naik dan
turun
7. Jelaskan kelebihan dan kekurangan data digital dibandingkan data analog.

32
PRAKTIKUM 7
SENSOR TEKANAN

TUJUAN
Mempelajari karakteristik sensor tekanan tipe semikonduktor dan rangkaian saklar
tekanan elektronik.

TEORI
Saat ini tersedia dua jenis sensor tekanan: jenis pertama adalah Load Cell
yang umum digunakan di dalam skala elektronik. Jenis lainnya adalah sensor
berbasis teknologi zat padat yang digunakan dalam mengukur tekanan gas dalam
larutan. Sensor jenis semikonduktor zat padat dicakup dalam bagian ini.
Sensor tekanan berbasis semikonduktor dibuat menggunakan efek
piezoresistansi dari material semikonduktor yang memperlihatkan resistansi
bervariasi terhadap tekanan yang diterapkan. Gambar 7-1 memperlihatkan salah
satu jenis sensor tekanan semikonduktor dimana diafragma baja mentransmisikan
tekanan ke chip semikonduktor pada ujungnya. Gambar 7-2, memperlihatkan
rangkaian yang digunakan dengan sensor untuk membangkitkan sinyal terdeteksi.

Gambar 7-1. Sensor tekanan jenis semikonduktor zat padat

Gambar 7-2. Rangkaian deteksi output sensor tekanan

33
Sensor ini secara mekanik kompak, dan memiliki rentang aplikasi yang
lebar. Secara khusus, sensor ini bekerja baik dalam mendeteksi tekanan yang
dikerahkan dari suatu gas atau larutan. Sensor ini memiliki waktu respon
(response time) yang cepat, khususnya dalam rentang 1 sampai 10 millidetik.

PERALATAN
OP Amp Unit OU-6801
Sensor Unit SU-6809
Analog multimeter
Handy Compressor

Karakteristik utama sensor tekanan ini:


Rentang tekanan yang diukur: 0 ~ 1kg/cm2
Tekanan maksimum: Dua kali rentang tekanan maksimum yang terukur
Output: 1 ~ 5 V (output analog)
Gas yang terdeteksi: Gas-gas non-korosif
Akurasi deteksi: Lebih kecil dari 3% skala penuh
Karakteristik histeresis: Lebih kecil dari 2% (output ON/OFF)

Yang perlu diperhatikan dalam penggunaan sensor tekanan:


Jangan menerapkan tekanan melebihi spesifikasi sensor. Output ON/OFF di
set pada 1kg/cm2, yaitu tekanan maksimum sensor. Oleh karena itu, ketika
Det LED indikator menyala, jangan terapkan tekanan lebih. Juga jangan
merubah setting tekanan maksimum.
Output sensor berupa sinyal analog. Output ON/OFF digunakan untuk men-
drive Det LED
Pastikan tidak ada objek lain selain udara pada input tekanan
Hanya boleh menggunakan Handy Compressor (bawaan kit ini) untuk
membangkitkan tekanan. Jangan menggunakan kompresor lain
Tutup bukaan sensor ketika tidak digunakan

Gambar 7-4. Konstruksi sensor tekanan

34
PROSEDUR
1. Dengan OP Amp Unit dalam keadaan OFF, set up peralatan seperti
ditunjukkan pada Gambar 7-5. Pindahkan tutup pada input tekanan dari
sensor dan hubungkan kompresor tangan.
2. Jaga tiga saklar sensor begitupun saklar motor dalam keadaan OFF, dan set
multimeter pada 15V DC. Nyalakan OP Amp Unit. Set DC OFFSET BIAS
pada posisi 0.
3. Putar inlet udara dari sensor tekanan sedemikian sehingga tidak ada tekanan
di dalam kompresor tangan (Handy Compressor).Nyalakan sensor tekanan.
4. Tekan udara menggunakan kompresor tangan hingga 3V output sensor
analog terbaca pada multimeter.
5. Cek LED + output komparator. LED seharusnya menyala. Putar bias ke
+15V untuk menyalakan LED -.
6. Tingkatkan tekanan dengan kompresor tangan. Ketika tekanan ditingkatkan,
indikator LED akan kembali ke +.
Catatan: Perhatikan bahwa input yang diterapkan ke input non-inverting, dan
referensi diterapkan ke input inverting dari komparator. Oleh karena itu, LED
+ akan menyalan hanya ketika input lebih tinggi daripada referensi.
Sebaliknya, LED - akan menyala.
7. Kurangi tekanan dengan memutar inlet udara. Tingkatkan tekanan hingga
LED Det pada sensor menyala. Dengan menjaga tekanan tidak berubah,
atur bias komparator hingga LED + menyala. Catat tekanan pada point ini
sebagai 1kg/cm2. Lengkapi Gambar 6-6.

TUGAS
1. Jelaskan fungsi dari pengaturan DC OFFSET BIASpada posisi 0? dan
jelaskan apa yang akan terjadi jika DC OFFSET BIAS diatur pada posisi
tegangan negative atau positip.
2. Jelaskan mekanisme perubahan nyala warna LED pada rangkaian komparator
ketika tekanan pada kompresor dinaikkan dan diturunkan.
Jelaskan karakteristik (sensitivitas, lineritas, dan waktu respon) sensor tekanan
berdasarkan hasil pengamatan Anda.

35
Gambar 7-5. Rangkaian pengukuran sensor tekanan
Tegangan output sensor, V

Gambar 7-6 Tekanan Udara, kg/cm2

36
PRAKTIKUM 8
SENSOR GAS

TUJUAN
Mengukur dan memahami prinsip kerja dan karakteristik sensor (alarm) gas

TEORI
Terdapat sejumlah sensor gas berbeda tersedia di pasaran. Metode deteksi
bervariasi bergantung pada jenis sensor yang digunakan. Pada bagian ini, sensor
gas berbasis semikonduktor akan dijelaskan. Sensor gas berbasis semikonduktor
merupakan sensor gas paling populer. Sensor ini digunakan untuk mendeteksi
gas LPG, LNG dan metana.
Prinsip kerja sensor semikonduktor (TGS-813) didasarkan pada sifat-sifat
unsur Iridium (Ir), Paladium (pd) dan semikonduktor SnO 2. Gambar 1(a)
memperlihatkan konstruksi sensor gas berbasis bahan SnO 2 yang dilengkapi
dengan koil pemanas (heater coil) yang terbuat dari Iridium dan Paladium. Ketika
arus arus mengalir di dalam koil pemanas pada temperatur tentu, oksigen menarik
elektron-elektron dari donor pada permukaan semikonduktor, yang menciptakan
sebuah potensial penghalang (barrier potential). Karena potensial penghalang
mengakibatkan pergerakan elektron bebas menjadi lebih sulit, akibatnya resistansi
listrik elemen semikonduktor meningkat. Gambar 8(b) memperlihkan kurva
penurunan resistansi sensor terhadap konsentrasi beberapa gas yang diuji.
Sensor gas menghadirkan resistansi listrik pada jumlah gas uji di dalam udara.
Sensitivitas sensor dapat dipengaruhi oleh temperatur ambient dan kelembaban
relatif. Oleh karena itu, diperlukan kompensasi ketika diinginkan deteksi yang
presisi.

Gambar 8-1. Konstruksi sensor gas dan karakteristiknya

37
A. Deteksi Gas
(Tujuan: Memahami karakteristik sensor gas dan aplikasinya)

PERALATAN
OP Amp Unit OU-6801
Tracking Power Supply (0 ~ 20V)
Sensor Unit SU-6807B
Analog Multimeter
Gas Lighter (without battery or flint)

PROSEDUR
1. Siapkan Power Supply (15V) dan jaga power OFF. Rangkai seperti pada
Gambar 8-2.
2. Ukur resistansi yang melintasi pin 6 dan pin 8, atau pin 4 dan pin 7, dari
sensor gas di dalam Sensor Unit dan catat nilainya pada Tabel 1.
3. Hubungkan pin 1 ke pin 2 sedemikian sehingga tegangan pemanas dapat
diterapkan ke pemanas. Juga hubungkan sebuah multimeter (Rx10 k)
melintasi pin 6 dan pin 8.
4. Hidupkan Power Supply. Segera baca nilai resistansi, dan catat pada Tabel
1. Lanjutkan ukur resistansi pada setiap menit dan catat nilai-nilai yang
diperoleh pada Tabel 1. Dalam kasus resistansi berubah terhadap waktu,
jelaskan mengapa!
5. Matikan power, dan susun kembali set-up seperti pada Gambar 8. Set
rantang pengukuran multimeter pada 10 ~ 15 VDC.

Gambar 8-2. Rangkaian respon sensor gas

Tabel 1. Nilai resistansi sensor pada kondisi berbeda


Resistansi Resistansi Sensor Resistansi Sensor setelah dihidupkan
Sensor sesaat setelah Setelah Setelah Setelah Setelah
pada OFF dihidupkan (ON) 1/2 mnt 1 mnt 2 mnt 3 mnt
....... ....... ....... ....... ....... .......
....... ....... ....... ....... ....... .......
....... ....... ....... ....... ....... .......

38
6. Hidupkan saklar power kembali. Ambil pembacaan multimeter setelah
setengan menit, satu, dua dan tiga menit dan catat pada Tabel 2. di dalam
kolom Clean air

Gambar 8-3. Rangkaian deteksi gas LPG atau LNG

Tabel 2. Data respon sensor gas


Setelah Setelah Setelah Setelah
1/2 menit 1 menit 2 menit 3 menit
Clean air
LPG (or LNG)
Recover

7. Dengan menggunakan korek gas tanpa flint atau baterai, keluarkan gas
menuju sensor gas. Ambil pembacaan multimeter lagi, dan catat nilainya
pada Tabel 2 dalam kolom LPG (atau LNG)
8. Hentikan mengeluarkan gas, bebaskan gas sekitar sensor paling tidak
sekitar 10 detik. Catat nilai pembacaan multimeter pada Tabel 2 dalam
kolom Recover.

Tugas
1. Berikan penjelasan terhadap data pengamatan pada tabel 1. Jelaskan kenapa
terjadi perubahan nilai resistansi sensor?
2. Berikan penjelasan terhadap data pengamatan pada tabel 2.
3. Apakah nilai tegangan ketika recover sama pada saat clean air untuk menit
yang sama? Jika tidak berikan penjelasan anda.
B. Alarm Gas
Gambar 8-4(a) memperlihatkan tipe sensor gas berbeda. Gambar 8-4(b)
memperlihatkan rangkaian sensor menggunakan rangkaian jembatan dengan dua
koil. Koil C tidak diekspose langsung dengan sampel gas, sementara koil D
dibuat kontak langsung dengan gas uji. Oleh karena itu, ketika terdapat gas,
resistansi koil D berubah, mengakibatkan situasi ketidak setimbangan dalam
rangkaian jembatan.
39
Sinyal yang dideteksi diumpankan ke Differential Amplifier untuk
pengolahan. Sumber DC dicatu pada sensor. Daya pemanas (TGS-813) adalah
5V dari sumber supply +15V. Level deteksi dapat dipreset dengan mengatur nilai
resistor pada input berbeda.

Gambar 8-4. Tipe sensor (a) dan rangkaian detektor jembatan

PERALATAN
OP Amp Unit OU-6801
Tracking Power Supply (0 ~ 20V)
Sensor Unit SU-6807B
Gas Lighter (without battery or flint)

PROSEDUR
1. Jaga saklar Power Supply OFF. Rangkaikan Sensor Unit seperti pada
Gambar 8-5. Perhatikan koneksi-koneksi pada Diffrential Amp., komparator
dan rangkaian alarm.
2. Set Alarm Level ke maksimum (10), dan nyalakan Power Supply. Cek Level
Indicator. Indikator LED harus tidak menyala jika udara bersih (tidak ada gas
uji).
3. Biarkan sekitar dua menit. Kosongkan (disharge) sejumlah kecil gas dari
pemantik (korek) gas ke sensor gas beberapa kali, dan amati Level Indicator.
Cek jika indikasi Level Indicator berubah terhadap kenaikan jumlah gas.
4. Hentikan pengosongan gas. Tunggu hingga Level Indicator mengindikasikan
0. Ubah Alarm Level ke nilai-nilai diantara 3 ke 5. Ulangi langkah #3. Ketika
alarm mati, meningkatkan Alarm Level atau tekan tombol Repeat untk
mematikan alarm.
5. Atur offset DC pada Comparator dan amati output Comparator. Sebagai
fungsi kerapatan (jumlah) gas.

40
Gambar 8-5. Rangkaian sensor gas

Tugas
1. Jelaskan fungsi dari tegangan offset pada rangkaian komparator.
2. Jelaskan proses menyalanya LED indikator ketika konsentrasi gas terus
ditambahkan dan jelaskan pula kenapa LED indikator akan mati ketika
konsentrasi gas berkurang pada level tertentu.
3. Jelaskan fungsi dari pengaturan Alarm Level.

41
PRAKTIKUM 9
SENSOR MEDAN MAGNET

TUJUAN
Memahami prinsip kerja dan aplikasi Sensor Hall

TEORI
Jika sebuah spesimen (logam atau semikonduktor) membawa arus listrik I
ditempatkan tegak lurus medan magnet B, medan listrik atau tegangan listrik
(Tegangan Hall), diinduksi melintasi sisi a dan b, pada (Gambar 10-1). Medan
listrik ini tegak lurus arah arus I dan medan B. Fenomena ini disebut effek Hall.

Gambar 10-1. Sensor Hall dan Efek Hall

Elemen resistansi magnetik (magneto-resistance) berupa semikonduktor


yang membawa arus ditempatkan di dalam medan magnet. Sebuah gaya akan
dikerahkan pada pembawa-pembawa arus dengan megabaikan apakah pembawa
arus tersebut elektron bebas arau hole. Gaya ini akan memodifikasi lintasan
pembawa arus sepanjang lintasan yang dikerahakan. Karena pembawa arus
harus melintasi jarak yang lebih panjang, spesimen akan memperlihatkan
resistansi yang meningkat.
Piranti efek Hall digunakan dalam konfigurasi 4-terminal yang
diseimbangkan, atau dengan rangkaian kompensasi, seperti pada Gambar 10-2.

Gambar 10-2. Piranti Hall 4-terminal dan resistor magnetik 2-terminal


42
PERALATAN
Sensor Unit SU-6809
OU-6801
Tracking Power Supply (0~20V)
Digital multimeter
Bar magnet

PROSEDUR
1. Dengan power OU-6801 dan Power Supply OFF, hubungkan peralatan
seperti pada Gambar 10-2. Set Digital Multimeter pada rentang 20VDC. Jaga
semua saklar, saklar Motor dan tiga saklar sensor, pada posisi OFF.
2. Hidupkan power OU-6801 dan Power Supply.
3. Set saklar Motor ke minimum (0), dan hidupkan hanya saklar power pada
sensor Hall.
4. Tempatkan objek yang akan dideteksi pada tepi rotating disk dan hidupkan
Motor. Putar tombol Speed secara perlahan searah jarum jam, dan amati
saat LED menyala.
5. Stop disk ketika LED menyala, dan ukur tegangan output.

Gambar 10-2. Rangkaian sensor medan magnet

6. Arahkan sebuah magnet ke sensor Hall. Ubah jarak antara magnet dan
sensor, dan ukur tegangan output pada setiap jarak, catat pada Tabel di
bawah.
Jarak (mm) 3 6 9 12 15
Output (V)

7. Ulangi Step 6 dengan sebuah Magnet batang. Balik polaritas magnet relatf
terhadap sensor, dan amati perubahan output.

Tugas
1. Tuliskan jenis material yang menyebabkan LED menyala dan jelaskan kenapa.
2. Berikan penjelasan anda berdasarkan data pengamatan langkah ke-6 dan ke-
7.

43
PRAKTIKUM 10
SENSOR KELEMBABAN
TUJUAN
Mengukur karakteristik sensor kelembaban dan aplikasinya

PERALATAN
- Termokopel
- Termistor
- Multimeter
- Termometer digital

TEORI
Konstruksi sebuah sensor kelembaban populer diperlihatkan pada Gambar
9-1. Di pusat adalah elemen sensor yang dikonstruksi di dalam lubang
mikroskopik. Lubang-lubang ini dibuat dari oksida-oksida logam MgCr2O4 dan
TiO2. Elemen sensor diapit oleh dua elektroda yang dibuat dari RuO 2. Akhirnya,
elemen pemanas mengelilingi struktur sebelah dalam.

Gambar 10-1.Konstruksi sensor kelembaban (a) dan Hubungan RH vs.


Resistansi (b)
PERALATAN
OP Amp Unit OU-6801
Tracking Power Supply (0 ~ 20V)
Analog Multimeter
Thermometer
Standar (STD) humidity meter

PROSEDUR
1. Jaga catu daya (power supply) OFF. Rangkaikan Sensor Unit seperti pada
Gambar 9-2.Set multimeter pada 10 VDC.
2. Hidupkan Power, dan biarkan sekitar 1 menit untuk warm-up. Bandingkan
pembacaan kelembaban relatif dari Sensor Unit dengan Meter Kelembaban
Standar (STD). Dalam kasus Sensor Unit tidak cocok (match) dengan Meter
Standar, atur CAL untuk mengkoreksi.

44
Gambar 10-1. Rangkaian sensor kelembaban

3. Ambil pembacaan multimeter, temperatur dan kelembaban, dan catat nilai-


nilai tersebut untuk keadaan alami di dalam Tabel 1.
4. Bawa Meter Kelembaban STD ke Sensor Unit, dan semprotkan uap air hingga
Meter STD mengindiksikan kira-kira kelembaban 50%. Ambil pembacaan-
pembacaan seperti pada Step 3, dan catat nilai-nilai tersebut untuk kolom
kelembaban relatif (RH) 50%.
5. Ulangi Step 4 pada kelembaban (R) 80%.
6. Dari data yang diperoleh, diskusikan penyebab dari kesalahan (error) yang
terjadi pada Sensor Unit.

Tabel 1. Data sensor kelembaban


Natural state Humidity 50% Humidity 80%
Ambient Temp.
Multimeter Indication
SU-6808
Humidity Indication
Humidity Indication by a
STD meter

7. Dari data pada Tabel 1, jelaskan mengapa laju perubahan pembacaan meter
berbeda antara multimeter dan sensor kelembaban.

Tugas
1. Jelaskan fungsi dari langkah ke-2.
2. Jelaskan kenapa ketika sensor diberikan uap air maka pembacaan
kelembaban akan berubah.
3. Dari data pada Tabel 1, jelaskan mengapa laju perubahan pembacaan meter
berbeda antara multimeter dan sensor kelembaban

45