Anda di halaman 1dari 38

BAGIAN ANESTESIOLOGI,TERAPI INTENSIF

LAPORAN KASUS

DAN MANAJEMEN NYERI

FEBRUARI 2016

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN

MANAJEMEN JALAN NAPAS

OLEH :

Latifah Husna Zulkafli


C111 11 871
PEMBIMBING :
dr. Bambang HS. Suikromo
KONSULEN :
dr. Alamsyah A.A Husain, Sp.An
DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN
ANESTESIOLOGI TERAPI INTENSIF DAN MANAJEMEN NYERI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR

DAFTAR ISI
Judul Halaman

Daftar Isi

Halaman Pengesahan

Laporan Kasus
Identitas Pasien

Anamnesis Keluhan

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan Penunjang

Assessment

Planning

Follow Up

Tinjauan Pustaka
I.
II.

Pendahuluan

10

Anatomi dan Fisiologi sistem respirasi.........................................................11

III.

Klasifikasi obstruksi jalan napas

13

IV.

Pengelolaan jalan napas

18

Pengelolaan jalan napas tahap lanjut

22

V.

Pembahasan

36

Daftar Pustaka

38

HALAMAN PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa :


Nama

: LATIFAH HUSNA ZULKAFLI

NIM
Judul

: C 111 11 871
: Manajemen Jalan Napas

Telah menyelesaikan tugas laporan kasus dalam rangka kepaniteraan klinik pada
Bagian Anestesiologi, Terapi Intensif dan Manajemen Nyeri Fakultas Kedokteran
Universitas Hasanuddin.

Makassar,
KONSULEN

dr. Alamsyah Ambo Ala, Sp.An.

Februari 2016

PEMBIMBING

dr. Bambang HS. Suikromo

LAPORAN KASUS
Manajemen Jalan Napas pada Pasien dengan Kesadaran Menurun
Identitas Pasien
Nama

: Muhsin

Umur

: 34 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-Laki

RM

: 730216

BB

: 54 kg

TB

: 160 cm

IMT

: 21.09 m2/kg (gizi cukup)

Anamnesis:
Laki laki 34 tahun dari BTP dengan traumatic brain injury GCS 8 akibat kecelakaan
lalu lintas direncanakan penatalaksanaan manajemen jalan napas. Pasien datang
dibawa oleh keluarga dengan luka pada kepala dialami sejak 4 jam sebelum masuk
rumah sakit akibat terbentur kepala di aspal . Riwayat tidak sadarkan diri ada.
Riwayat muntah

tidak ada. Riwayat operasi sebelumnya tidak ada. Riwayat

hipertensi tidak ada. Riwayat DM tidak ada. Riwayat asma, alergi obat dan makanan
tidak ada. Riwayat kebiasaan merokok, alkohol, herbal, jamu-jamuan tidak ada. Saat
ini pasien tidak batuk, tidak sesak, tidak demam.
Pemeriksaan fisik
B1

Airway paten, napas spontan, bunyi pernapasan

vesikuler kanan = kiri, RR 24 x/mnt, Rh (-/-), Wh(-/-), Struma (-),


Stiffness (-), Buka mulut > 3 jari, Tyromandibula distance 3 jari,
Mallampati score I, pernafasan cuping hidung (-), gigi geligi tidak

tampak kelainan, gerak leher bebas, nyeri telan (-), massa di leher (-),
trakea di tengah.
B2

Nadi 96 x/mnt kuat angkat, TD 100/60 mmHg, Bunyi

Jantung I/II murni regular, gallop (-), murmur(-), suhu: 36,7oC


B3

GCS 8 (E2M4V2), pupil bulat isokor 2,5mm/2,5mm,

Reflek Kornea ( +/+) normal, Reflek Cahaya (+/+) normal,


B4 :

Terpasang kateter, produksi 40-50cc/jam

B5 :

Supel, peristaltik ada kesan normal.

B6 :

Mobilitas (+),edema (-), nyeri tekan (-), massa tumor (-), fraktur (-)

Pemeriksaan Laboratorium (25 Januari 2016)


TEST
WBC
RBC
HGB
HCT
PLT
PT

RESULT
25.2 x 103/uL
3.72 x 106/uL
12.3 g/dL
37 %
392 x 103/uL
11.9 detik

NORMAL VALUE
4.0 10.0 x 103
4.0 6.0 x 106
12 18
37 48
150 400 x 103
10 - 14

INR
APTT
GDS
SGOT
SGPT
Ureum
Kreatinin
Natrium
Kalium
Klorida
HbSAg
CT

1.14
26 detik
76 mg/dL
23u/L
12 u/L
42 mg/dL
1.33 mg/dL
142 mmol/L
3.9 mmol/L
109 mmol/L
Non Reactive
7.00

<1,5
22,0 - 30,0
<140
<38
<41
10-50
0,5-1,2
136 - 145
3,5 - 5,1
97 - 111
Non Reactive

BT

3.00

Pemeriksaan Foto Thorax AP (25 januari 2016):


Tidak tampak kelainan radiologik pada foto thorax ini.

Pemeriksaan CT Scan kepala tanpa kontras iriisan aksial (25 Januari 2016):

Pendarahan epidural regio frontalis kiri dan frontotemporalis kanan

Pendarahan subarachnoid

Multiple pneumocephal regio frontotemporoparietal bilateral dan regio falx


cerebri

Fraktur os frontalis bilateral

Brain swelling

Assessment: kesadaran menurun ec traumatic brain injury GCS8 (E2M4V2)


Planning :
Terapi dari bagian Anestesi:

Pasang IV cath 18G dengan Ringer Laktat 30 tpm

Dilakukan intubasi endotrakeal ETT 7.0 ID dengan prosedur sbb:


o Pasien posisi supine, IV line RL 30tpm, monitor tekanan darah,
denyut nadi, EKG, dan saturasi oksigen
o Pemberian fentanyl 100 mcg/IV
o Preoksigenasi dengan oksigen 100% 8liter per menit via facemask
o Pemberian atracurium 25 mg/IV, identifikasi plica vocalis (+),insersi
ETT, kembangkan cuff, bunyi napas simetris kiri sama kanan, fiksasi
ETT pada sudut kanan mulut

Head up 300

Terapi dari bagian Bedah:

ceftazidime 1 g/8jam/IV

Ketorolac 30mg/8jam/IV

Ranitidin 50mg/8jam/IV

Follow Up
25/01/2016

S: penurunan kesadaran, TBI GCS 8


(E2M4V2)

Dilakukan

intubasi

endotrakeal ETT 7,0ID

B1: RR 20x/i, BP vesikuler, Rh

Berikan O2 via ventilator

-/- ,Wh-/-.

mode TV 400 RR 16 VC

B2: TD 100/60mmHg, HR 96x/m

FiO2 100 SpO2 99%

B3: GCS 6x (E2M4Vx), pupil bulat

26/02/2016

Pasang

IV

cath

18G

isokor 2,5mm ODS, RC +/+

dengan Ringer Laktat 21

B4: urine perkateter 40-50 cc/jam

tpm

B5: supel, peristaltik (+) kesan

Head up 30 0

normal

Maintenance:

fentanyl

B6: edema (-), fraktur (-)

30mcg/jam/SP

A: kesadaran menurun ec TBI GCS

midazolam 1,5mg/jam/SP

6x (E2M4Vx)

Atracurium 2cc/jam/sp

P: rencana intubasi endotrakeal


S: penurunan kesadaran, TBI GCS

O2 via S/da FiO2 80%

6x (E2M4Vx)

SpO2 99%

B1: RR 30x/i, BP vesikuler, Rh

IVFD RL 21 tpm

-/- ,Wh-/-.

Head up 30 0

B2: TD 77/45mmHg, HR 104x/m

Fentanyl 30mcg/jam/SP

B3: GCS 6x (E2M4V2), pupil bulat

midazolam 1,5mg/jam/SP

isokor 2,5mm ODS, RC +/+

atracurium 2 cc/jam/sp

B4: urine perkateter 40-50 cc/jam

Ceftazidime 1g/8jam/iv

S: penurunan kesadaran, TBI GCS 6

O2 via ventilator

(E2M4Vx)

IVFD RL 20 tpm

B1: RR 16x/i, BP vesikuler, Rh

Head up 30 0

B5: supel, peristaltik (+) kesan


normal
B6: edema (-), fraktur (-)
A: kesadaran menurun ec TBI GCS
6x (E2M4Vx)
27/01/2016

-/- ,Wh-/-.

B2: TD 90/60mmHg, HR 103x/m

TV 400, RR 20 SpO2
90%, FiO2 60%

B3: GCS 5x E4M1Vx, pupil bulat

Fentanyl 30mcg/jam/IV

isokor 2,5mm ODS, RC +/+

midazolam 2mg/jam/IV

B4: urine perkateter 40-50 cc/jam

atracurium 2 cc/jam/sp

B5: supel, peristaltik (+) kesan

Ceftazidime 1g/8jam/iv

O2 via ventilator FiO2

normal
B6: edema (-), fraktur (-)
A: kesadaran menurun ec TBI GCS
5x (E2M3Vx)

28/01/2016

S: penurunan kesadaran, TBI GCS


5x (E2M3Vx)

100%

B1: RR 30x/i, BP vesikuler, Rh

IVFD RL 20 tpm

-/- ,Wh-/-.

Head up 30 0

B2: TD 130/80mmHg, HR 98x/m,

Fentanyl 30mcg/jam/SP

reguler, kuat angkat.

Ranitidin 50mg/12jam/IV

B3: GCS E1M3Vx, pupil bulat

Ceftazidime 1 gr/8jam/IV

isokor 2,5mm ODS, RC +/+

atracurium 2 cc/jam/sp

O2 via ventilator FiO2

B4: urine perkateter 40-50 cc/jam


B5: supel, peristaltik (+) kesan
normal
B6: edema (-), fraktur (-)
A: kesadaran menurun ec TBI GCS
4x (E1M3Vx)
29/01/2016

S: kesadaran menurun ec TBI GCS


4x (E1M3Vx)

100% SpO2 96 %

B1: RR 30x/i, BP vesikuler, Rh

IVFD RL 20 tpm

-/- ,Wh-/-.

Head up 30 0

B2: TD 110/80mmHg, HR 114x/m,

Fentanyl 30mcg/jam/SP

reguler, kuat angkat.

Ranitidin 50mg/12jam/IV

B3: GCS E1M3Vx, pupil bulat

Ceftazidime 1 gr/8jam/IV

isokor 2,5mm ODS, RC +/+

Atracurium 2cc/jam/SP

B4: urine perkateter 40-50 cc/jam


B5: supel, peristaltik (+) kesan
normal
B6: edema (-), fraktur (-)
A: TBI (E1M3Vx)

TINJAUAN PUSTAKA
MANAJEMEN JALAN NAFAS
I.

PENDAHULUAN

Dalam hal kegawatdaruratan medik kita mengenal trias kedokteran gawat darurat,
yakni resusitasi, kedaruratan medik dan intensive care. Untuk menunjang kehidupan
selama masa kritis, ketiga prinsip di atas bisa dikerjakan di rumah sakit, di tempat
kejadian, selama transportasi dan didalam rumah sakit. Dalam hal tindakan resusitasi
jantung paru, kita membagi menjadi 3 tahap: 1
1. Bantuan hidup dasar (BHD)/ Basic Life Support dengan tujuan untuk
oksigenasi yang adekuat, meliputi:
A. Airway control
B. Breathing support
C. Circulation support
2. Bantuan hidup lanjut/ Advanced Life Support dengan tujuan memulihkan dan
mempertahankan sirkulasi spontan, meliputi:
D. Drug and fluid treatment
E. Electrocardiography
F. Fibrilation treatment
3. Bantuan hidup jangka panjang/ Prolonged Life Support dengan tujuan untuk
pengelolaan intensif mentasi manusia, meliputi:
G. Gauging
H. Human mentation
I. Intensive care
Berdasarkan tahapan tersebut, manajemen jalan napas merupakan salah satu
dari tiga jenis bantuan hidup dasar bersama dengan ventilasi dan manajemen
sirkulasi, yang akan bersifat darurat bila tidak ditangani segera.

10

Gangguan jalan napas dan ventilasi merupakan pembunuh tercepat pada


pasien. Adanya ketidakmampuan untuk mengantar darah yang teroksigenasi ke otak
dan struktur vital lainnya akan menyebabkan hipoksia jaringan. 2
II.

ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM RESPIRASI

Sistem respirasi mencakup saluran napas yang menuju paru, paru itu sendiri, dan
struktur,struktur thoraks (dada) yang berperan menyebabkan aliran udara masuk dan
keluar paru melalui saluran napas. Saluran napas adalah tabung atau pipa yang
mengangkut udara antara atmosfer dan kantung udara (alveolus), alveolus merupakan
satu-sarunya tempat pertukaran gas anrara udara dan darah. Saluran napas berawal
dari saluran nasal (hidung). Saluran hidung membuka ke dalam faring (tenggorokan),
yang berfungsi sebagai saluran bersama untuk sistem pernapasan dan pencernaan.
Terdapat dua saluran yang berasal dari faring trakea, yang dilalui oleh udara untuk
menuju paru, dan esofagus, yang dilalui oleh makanan untuk menuju lambung. 3
Udara dalam keadaan normal masuk ke faring melalui hidung, tetapi udara
juga dapat masuk melalui mulut ketika saluran hidung tersumbat; yaitu, anda dapat
bernapas melalui mulut ketika anda pilek. Karena faring berfungsi sebagai saluran
bersama untuk udara dan makanan maka sewaktu menelan terjadi mekanisme refleks
yang menutup trakea agar makanan masuk ke esofagus dan bukan ke saluran napas.
Esofagus selalu tertutup kecuaii ketika menelan untuk mencegah udara masuk ke
lambung sewaktu bernapas. 3
Laring atau voice box, terlerak di pintu masuk trakea. Tonjolan anterior laring
membentuk jakun ("Adam:s apple"). Pita suara, dua pita jaringan elastik yang
melintang di pintu masuk laring, dapat diregangkan dan diposisikan dalam berbagai
bentuk oleh otot laring. Sewaktu udara dilewatkan melalui pita suara yang kencang,
lipatan tersebut bergetar untuk menghasilkan berbagai suara bicara. Bibir, lidah, dan
palatum mole memodifikasi suara menjadi pola suara yang dapat dikenali. Sewaktu
menelan, pita suara melaksanakan fungsi yang tidak berkaitan dengan bicara;
keduanya saling mendekat untuk menutup pintu masuk ke trakea. 3
11

Gambar 2.1. pita suara dilihat dari pintu atas laring 3


Di belakang laring, trakea terbagi menjadi dua cabang utama, bronkus kanan
dan kiri, yang masing-masing masuk ke paru kanan dan kiri. Di dalam masingmasing paru, bronkus terus bercabang-cabang menjadi saluran napas yang semakin
sempit, pendek, dan banyak, seperti percabangan sebuah pohon. Cabang-cabang yang
lebih kecil dikenal sebagai bronkiolus. Di ujung bronkiolus terminal berkelompok
alveolus, kantung-kantung udara halus tempat pertukaran gas antara udara dan darah.
Agar aliran udara dapat masuk dan keluar bagian paru tempat pertukaran
berlangsung, kontinum saluran napas penghantar dari pintu masuk melalui bronkiolus
terminal hingga alveolus harus tetap terbuka. Trakea dan bronkus besar adalah tabung
yang cukup kaku tak berotot yang dikelilingi oleh serangkaian cincin tulang rawan
yang mencegah saluran ini menyempit. Bronkiolus yang lebih kecil tidak memiliki
tulang rawan untuk menjaganya terap terbuka. Dinding saluran ini mengandung otor
polos yang disarafi oleh sistem saraf otonom dan peka terhadap hormon dan bahan
kimia lokal tertentu. Faktor-faktor ini mengatur jumlah udara yang mengalir dari
atmosfer ke setiap kelompok alveolus, dengan mengubah derajat kontraksi otot polos
bronkiolus sehingga mengubah kaliber saluran napas terminal. 3

III. KLASIFIKASI OBSTRUKSI JALAN NAFAS


Obstruksi jalan napas merupakan salah satu dari penyebab gagal napas akut.
Berdasarkan derajat sumbatan, obstruksi jalan napas dapat terjadi secara: 1
12

Sumbatan parsial jalan napas, ditandai dengan usaha napas masih ada, suara
napas masih terdengar dan desiran udara ekspirasi dari mulut atau hidung
pasien masih terasa, yang dapat diketahui dari desiran udara yang melalui
pemeriksaan dengan punggung tangan atau telinga dekat mulut atau hidung.
Gejala dan tanda lain yang dapat dilihat pada sumbatan jalan napas parsial
adalah:
o Aktivitas otot-otot bantu pernapasan
o Retraksi suprasternal dan interkostal
o Terdengar stridor, snoring, atau gargling
o Terdapat tanda-tanda hipoksia dan hiperkarbia 3

Sumbatan total jalan napas, ditandai dengan tidak terdengarnya suara napas
sama sekali, tidak terasa desiran udara dari mulut atau hidung

pasien, usaha napas pasien lebih meningkat dengan timbulnya gerakan dada
paradoksal dan lebih meningkatnya aktivitas otot bantu napas. Tanda hipoksia
dan hiperkarbia bertambah berat. Bila keadaan ini tidak segera ditanggulangi
akan segera diikuti dengan berhentinya fungsi jantung karena hipoksia berat.

Tabel 3.1. Perbandingan derajat sumbatan jalan napas1

Normal

meningkat

sangat meningkat

tanpa gerak

Berdasarkan lokasi sumbatan, obstruksi jalan napas dapat dibagi menjadi 3 lokasi: 1
1. Sumbatan di atas laring
Terasa

a. Lidah yang
jatuh ke hipofaring.sangat berkurang
berkurang

tak terasa

13

Hal ini bisa terjadi pada pasien tidak sadar, terutama pada pasien
gemuk, leher pendek dan lidah besar, misalnya pada bayi. Pada pasien
tidak sadar, tonus otot penyangga lidah menurun sehingga lidah jatuh ke
arah posterior (terutama pada pasien dengan posisi terlentang) dan
menempel pada dinding posterior faring, sehingga terjadi sumbatan parsial
yang ditandai dengan suara napas ngorok (snoring).
Usaha pertolongan yang dilakukan adalah triple airways manauver dari
Safar, yaitu: 1) ekstensi kepala, 2) dorong mandibula ke depan, dan 3)
angkat dagu. Pada pasien yang menderita patah tulang leher, manuver ini
harus dilakukan dengan hati-hati, tergantung keperluan. Karena patah
tulang servikal tertutup hanya dapat dideteksi melalui perangkat
radiologis, maka untuk penanganan akut kita menganggap ada fraktur
sevikal pada setiap pasien multi trauma, terlebih bila ada gangguan
kesadaran dan atau perlukaan di atas klavikula. 2
Ekstensi kepala dapat dilakukan dengan dengan mudah, yaitu menaruh
bantal atau benda lain di bahu pasien. Bila dengan cara ini sudah dapat
membebaskan jalan napas, posisi ini dipertahankan dan kepala pasien
dimiringkan untuk mencegah sumbatan karena benda cair, atau pasien
dimiringkan dengan posisi miring stabil. Apabila dengan cara ini tidak
berhasil dapat dipasang pipa orofaring.
b. Benda asing
Sangat banyak benda asing yang dapat menyebabkan sumbatan jalan
napas, misalnya lendir, bekuan darah, gigi palsu yang lepas, muntahan
atau makanan lainnya. Biasanya terjadi sumbatan parsial yang ditandai
dengan suara napas gargling (seperti orang berkumur), bila sumbatannya
disebabkan oleh benda cair.
Upaya pertolongannya adalah dengan membuka jalan napas melalui
triple airway manauver, kemudian memiringkan kepala korban sambil
14

mengorek dengan tangan (sapuan) atau mengisap dengan alat isap. Bila
belum berhasil melapangkan jalan napas, dapat dilakukan laringoskopi
dan kemudian mengambil denda yang ada di rongga mulut
c. Penyakit infeksi atau tumor jalan napas bagian atas
Penyakit infeksi atau tumor jalan napas bagian atas yang dapat
menimbulkan sumbatan jalan napas bagian atas adalah pembesaran tonsil,
polip pada rongga hidung dan beberapa tumor lain di rongga mulut dan
dasar lidah.
Usaha pertolongannya adalah dengan cara operatif, yaitu mengangkat
tumor, atau bila tumornya tidak mungkin diangkat dan sumbatannya
bersifat

darurat

dan

mengancam

dapat

dilakukan

tindakan

krikotiroidotomi dilanjutkan dengan treakeostomi.


d. Trauma daerah wajah
Trauma kepala yang mengenai daerah maksilofasial dapat merusak
struktur anatomi regio ini, sehingga akan mengganggu pasase udara
melalui jalan napas atas.
Usaha membebaskan jalan napas pada korban seperti ini adalah
berusaha secepat mungkin melakukan rekonstruksi jalan napas bagian
atas. Sementara hal ini belum bisa dikerjakan, usaha melapangkan jalan
napas dilakukan dengan memasang pipa endotrakeal atau melakukan
trakeostomi bila gagal melakukan pemasangan pipa endotrekeal.
2. Sumbatan pada laring1
a. Benda asing
Benda asing dapat menyumbat rima glotis sehingga terjadi
sumbatan total jalan napas atas. Gejala yang timbul adalah korban akan
segera memegang leher, tidak bisa bicara, tidak bisa bernapas, dan tidak
bisa batuk. Beberapa saat kemudian diikuti dengan sianosis dan penurunan
kesadaran.
15

Usaha pertolongan yang dilakukan adalah bila pasien masih sadar,


penolong berdiri membelakangi korban, kedua tangan disilangkan di
uluhati kemudian lakukan hentakan 4 kali dengan kuat atau bisa juga
dengan memukul punggung di antara skapula. Bila pasien tidak sadar,
ditidurkan telentang dan dilakukan hentakan pada uluhati atau pasien
dimiringkan dan dilakukan pukulan pada punggung seperti tersebut di
atas. Bila tinfakan ini belum menolong segera dilakukan laringoskopi.
b. Penyakit infeksi
Laringitis akut difteri dan non-difteri yang sering menyerang anakanak, dapat menimbulkan penyulit sumbatan jalan napas. Pasien akan
mengalami

sumbatan

jalan

napas

parsial

sampai

total.

Usaha

pertolongannya adalah untuk sementara dapat dilakukan krikotirotomi,


kemudian segera dilanjutkan dengan trakeostomi.
c. Reaksi alergi (anafilaktik)
Angioneuritik edema pada daerah laring merupakan salah satu
gambaran dari suatu reaksi alergi. Keadaan ini dapat menimbulkan
sumbatan jalan napas parsial sampai total.
Usaha pertolongannya adalah apabila sumbatannya total segera
melakukan tindakan krikotirotomi dilanjutkan trakeostomi. Tindakan
pemberian

medikamentosa

dapat

diberikan

akan

tetapi

selalu

memperhatikan keadaan pasien, bila keadaan pasien bertambah buruk


segera lakukan krikotirotomi dan trakeostomi.

d. Tumor laring
Polip pada laring dan pita suara, dan tumor lain yang terdapat pada
laring, secara langsung akan menutup jalan napas secara parsial atau total
tergantung besar dan lokasi tumor.

16

Usaha pertolongannya adalah segera mengangkat tumor tersebut bila


keadaan memungkinkan. Akan tetapi bila keadaan tidak memungkinkan
sementara dapat dikerjakan trakeostomi.
e. Trauma laring
Beberapa jenis trauma di daerah leher dapat menimbulkan sumbatan
jalan napas, antara lain: cekikan/ jeratan pada leher dan trauma langsung
pada leher. Sumbatan jalan napas yang terjadi bisa parsial sampai total.
Usaha

perolongannya

tergantung

penyebabnya,

bila

karena

cekikan/jeratan, segera lepaskan cekikan/jeratan tersebut. Bila karena


sebab lain, trakeostomi dapat digunakan sebagai pilihan.
f. Paralisis pita suara
Paralisis pita suara paling sering disebabkan oleh karena lesi pada nervus
laringeus rekuren akibat manipulasi pada proses operasi di daerah leher,
misalnya operasi tiroidektomi. Usaha pertolongannya segera dilakukan
trakeostomi.
g. Spasme laring
Spasme laring disebabkan akibat perangsangan nervus vagus (refleks
vagal). Ambang vagal akan menurun pada hipoksia, asidosis, penderita
kesadaran menurun dan lain-lain. Suara napas seperti botol ditiup
(crowing) adalah merupakan tanda yang khas. Usaha pertolongannya
adalah dengan memberikan obat pelumpuh otot.
3. Sumbatan di bawah laring1
a. Trakea
Sumbatan yang terjadi pada trakea dapat disebabkan oleh tumor yang
mendesak trakea, trauma akibat operasi yang dapat menimbulkan
trakeomalasea dan trauma langsung akibat kecelakaan yang lain. Gejala
klinis dapat berupa sumbatan parsial maupun sumbatan total.
Usaha pertolongannya adalah segera dilakukan pemasangan pipa
endotrakea kemudian dilanjutkan dengan trakeostomi.
17

b. Bronkus
Sumbatan pada bronkus dapat disebabkan oleh benda asing, spasme
bronkus, dan tumor. Bila sumbatannya disebabkan oleh aspirasi benda
asing padat dan pada saat kejadian pasien berdiri, maka benda asing ini
akan cenderung masuk ke bronkus kanan. Hal ini disebabkan karena
anatomi bronkus kanan lebih vertikal. Gejala yang dapat dijumpai pada
pasien tergantung dari derajat sumbatan, bisa parsial, atau total pada satu
paru.
Usaha pertolongannya adalah melihat langsung bronkus dengan osteaosteanya menggunakan bronkoskopi, selanjutnya menghisapnya atau
menjepit benda asing yang masuk dengan alat penjepit khusus.
Bila sumbatannya oleh karena spasme bronkus, akan terdengar suara
napas wheezing dan adanya tanda-tanda hipoksia atau hiperkarbia. Usaha
pertolongannya adalah segera memberikan bronkodilator.
IV.

PENGELOLAAN JALAN NAPAS


Membuka jalan napas tanpa alat 2
Teknik ini digunakan pada penderita sumbatan jalan napas akibat lidah yang
jatuh ke belakang. Manauver-manauver yang dilakukan dapat berupa:
o Head-tilt
Cara: letakkan satu telapak tangan di dahi pasien dan tekan ke bawah,
sehingga kepala menjadi tengadah sehingga penyangga lidah terangkat ke
depan.
o Chin-lift
Cara: gunakan jari tengah dan jari telunjuk untuk memegang tulang
dagu pasien, kemudian angkat dan dorong tulangnya ke depan.
o Jaw-thrust

18

Cara: dorong sudut rahang kiri dan kanan ke arah depan sehingga
barisan gigi bawah berada di depan barisan gigi atas. Atau gunakan
ibujari ke dalam mulut bersama dengan jari-jari lain tarik dagu ke
depan.

Membuka jalan napas dengan alat


o Pipa orofaring
1) Pakai sarung tangan
2) Buka mulut pasien dengan cara chin-lift atau gunakan ibu jari dan
telunjuk
3) Siapkan pipa orofaring yang tepat ukurannya
4) Bersihkan dan basahi pipa orofaring agar licin dan mudah
dimasukkan.
5) Arahkan lengkungan menghadap ke langit-langit (ke palatal)
6) Masukkan separuh, putar lengkungan mengarah ke bawah lidah
7) Dorong pelan-pelan sampai posisi tepat
8) Yakinkan lidah sudah tertopang dengan pipa orofaring dengan melihat
pola napas, rasakan dan dengarkan ssuara napas pasca pemasangan.
o Pipa nasofaring
1) Pakai sarung tangan
2) Nilai besarnya lubang hidung dengan besarnya pipa nasofaring yang
akan dimasukkan
3) Nilai adakah kelainan cavum nasi
4) Pipa nasofaring diolesi dengan jeli, demikian juga lubang hidung yang
akan dimasukkan. Bila perlu dapat diberikan vasokonstriksi hidung
5) Pegang pipa nasofaring sedemikian rupa sehingga ujungnya
menghadap ke telinga.
6) Dorong pelan-pelan hingga seluruhnya masuk, sambil menilai adakah
aliran udara di dalam pipa.

19

7) Fiksasi dengan plester.

Gambar 3.1. (a) oropharyngeal airway tube, (b) nasopharyngeal airway tube

Membersihkan jalan napas akibat sumbatan benda asing cair


o Sapuan jari
1) Pasang sarung tangan
2) Buka mulut pasien dengan jaw-thrust dan tekan dagu ke bawah
3) Gunakan 2 jari (jari telunjuk dan jari tengah) yang bersih atau
dibungkus dengan sarung tangan/ kasa untuk membersihkan dan
mengorek semua benda asing dalam mulut
o Dengan alat suction

20

Gambar 4.1. alat suction

Pengelolaan jalan napas akibat sumbatan benda asing padat 7


o Back blow/back slap dilakukan pada korban dewasa sadar
1) Bila korban masih sempoyongan, rangkul dari belakang
2) Lengan menahan tubuh, lengan yang lain melakukan back blow.
Pertahankan korban jangan sampai tersungkur.
3) Berikan pukulan/hentakan keras 5 kali, dengan kepalan tangan pada
titik silang garis imajinasi tulang belakang dan garis antar belikat.
Bila belum berhasil secara pelan segera baringkan korban pada
posisi telentang dan lakukan abdominal thrust
o Abdominal thrust yang dilakukan pada korban dewasa sadar:
1) Rangkul korban yang sedang sempoyongan dengan kedua
lengan dari belakang.
2) Lakukan hentakan tarikan sebanyak 5 kali dengan menarik
kedua lengan penolong bertumpuk pada kepalan kedua
tangannya tepat di titik hentak yang terletak pada pertengahan
pusat dan titik uluhati korban. Bila belum berhasil secara pelan
segera baringkan korban pada posisi telentang dan lakukan
abdominal thrust.
o Abdominal thrust yang dilakukan pada korban dewasa tidak sadar:
1) Bila korban jatuh tidak sadar, segera bringkan telentang
2) Penolong mengambil posisi seperti naik kuda di atas tubuh korban
atau disamping korban sebatas pinggul korban.
3) Lakukan hentakan mendorong 5 kali dengan menggunakan kedua
lengan penolong bertumpu tepat di atas titik hentakan (daerah
epigastrium).
4) Yakinkan benda asing sudah bergeser atau keluar dengan cara:

Lihat ke dalam mulut korban, bila terlihat diambil

21

Bila tidak terlihat, tiupkan napas mulut ke mulut, sambil


memerhatikan bila tiupan dapat masuk paru-paru, dada
mengembang artinya, jalan napas telah terbuka.

Sebaliknya bila tiupan tidak masuk, artinya jalan napas masih


tersumbat, segera lakukan abdominal thrust lagi dan seterusnya

5) Bila tidak berhasil pikirkan krikotiroidotomi kemudian disusul


trakeostomi.
V.

PENGELOLAAN JALAN NAPAS TAHAP LANJUT


a. INTUBASI ENDOTRAKEAL 7
Tujuan dilakukannya intubasi endotrakeal adalah untuk mempertahankan

jalan nafas agar tetap paten, mencegah aspirasi serta mempermudah pemberian
ventilasi dan oksigenasi bagi pasien operasi. Pada dasarnya, tujuan intubasi
endotrakeal adalah :
a. Mempermudah pemberian anesthesia.
b. Mempertahankan jalan nafas agar tetap bebas serta mempertahankan
kelancaran pernapasan.
c. Mencegah kemungkinan terjadinya aspirasi lambung ( pada keadaan tidak
sadar, lambung penuh dan tidak ada reflex batuk ).
d. Mempermudah pengisapan sekret trakeobronkial.
e. Pemakaian ventilasi mekanis yang lama.
f. Mengatasi obstruksi laring akut
Indikasi bagi pelaksanaan intubasi endotrakeal menurut Gisele tahun 2002 1
antara lain :
a. Keadaan oksigenasi yang tidak adekuat yang tidak dapat dikoreksi
dengan pemberian suplai oksigen melalui masker nasal.
b. Keadaan ventilasi yang tidak adekuat karena meningkatnya tekanan
karbondioksida di arteri.

22

c. Kebutuhan untuk mengontrol dan mengeluarkan sekret pulmonal atau


sebagai bronchial toilet.
d. Menyelenggarakan proteksi terhadap pasien dengan keadaan yang
gawat atau pasien dengan refleks akibat sumbatan yang terjadi.
e. Pada pasien yang mudah timbul laringospasme.
f. Pada pasien dengan fiksasi vocal cord.
Resiko tindakan intubasi endotrakeal:
Hipoksia, spasme pita suara
Tek darah naik, bradikardia / asistole
Tekanan Intra Kranial naik
Gerak leher memperberat cedera cervical
Idealnya, intubasi dibantu obat anestesia dan obat pelumpuh otot (harus
tenaga ahli)

Gambar 5.1. Sniffing position. leher dalam keadaan fleksi ringan, sedangkan kepala
dalam keadaan ekstensi. Ini disebut sebagai Sniffing in the air position. Kesalahan
yang umum adalah mengekstensikan kepala dan leher. 7

23

Gambar 5.2. Pipa endotrakeal 7


Tabel. Panduan Ukuran Pipa endotrakeal7
Usia
Bayi
Anak
Dewasa
Perempuan
Laki-laki

Diameter dalam (mm)


3,5
4+ usia/4

Panjang (cm)
12
14 + usia/2

7,0-7,5
7,5-9,0

24
24

Cara Intubasi Endotrakeal 7


Persiapan:

Pasien dibaringkan telentang/ posisi supine di meja operasi

Gunakan bantal kepala dengan ketebalan 10-15cm/ bantal donat

Lakukan pemasangan infus bila belum terpasang

Pasang monitor takaran darah (NIBP), irama jantung (EKG) dan saturasi
oksigen (pulse oxymeter)

Lakukan pre-oksigenasi menggunakan masker dan O2 dengan flow >6


liter/menit selama 3-5 menit

Berikan obat-obat premedikasi IV:


o Midazolam 0,05-0,1 mg/kgBB atau
o Fentanyl 1-2 mcg/kgBB atau
o Pethidine 1-2 mg/kgBB

24

Jika menggunakan succinylcholine dapat diberikan pre-kurarisasi dengan


atracurium 0,05 mg/kgBB

Berikan obat-obatan induksi IV:


o Pentothal 4-6 mg/kgBB atau
o Propofol 2-4 mg/kgBB atau
o Ketamine 1-2mg/kgBB

Pastikan dapat dilakukan ventilasi dan oksigenasi

Berikan pelemas otot IV:


o Succinylcholine 1-1,5mg/kgBB atau
o Atracurium 0,4-0,5mg/kgBB atau
o Veruconium 0,08-0,1mg/kgBB atau
o Pancuronium 0,08-0,1mg/kgBB

Intubasi:
Mulut pasien dibuka dengan tangan kanan dan gagang laringoskop dipegang
dengan tangan kiri. Daun laringoskop dimasukkan dari sudut kanan dan lapangan
pandang akan terbuka. Daun laringoskop didorong ke dalam rongga mulut. Gagang
diangkat ke atas dengan lengan kiri dan akan terlihat uvula, faring serta epiglotis.
Ekstensi kepala dipertahankan dengan tangan kanan. Epiglotis diangkat
sehingga tampak aritenoid dan pita suara yang tampak keputihan berbentuk huruf V.
Jeratan bibir antara gigi dan blade laringoskop sebaiknya dicegah. Tracheal tube
diambil dengan tangan kanan dan ujungnya dimasukkan melewati pita suara sampai
balon pipa tepat melewati pita suara. Bila perlu, sebelum memasukkan pipa asisten
diminta untuk menekan laring ke posterior sehingga pita suara akan dapat tampak
dengan jelas. Bila mengganggu, stylet dapat dicabut. Ventilasi atau oksigenasi
diberikan dengan tangan kanan memompa balon dan tangan kiri memfiksasi. Balon
pipa dikembangkan dan daun laringoskop dikeluarkan selanjutnya pipa difiksasi
dengan plester.
Dada dipastikan mengembang saat diberikan ventilasi. Sewaktu ventilasi,
25

dilakukan auskultasi dada dengan steteskop, diharapkan suara nafas kanan dan kiri
sama. Bila dada ditekan terasa ada aliran udara di pipa endotrakeal. Bila terjadi
intubasi endotrakeal yang terlalu dalam akan terdapat tandatanda berupa suara nafas
kanan berbeda dengan suara nafas kiri, kadangkadang timbul suara wheezing, sekret
lebih banyak dan tahanan jalan nafas terasa lebih berat. Jika ada
ventilasi ke satu sisi seperti ini, pipa ditarik sedikit sampai ventilasi kedua paru sama.
Sedangkan bila terjadi intubasi ke daerah esofagus maka daerah epigastrium atau
gaster akan mengembang, terdengar suara saat ventilasi (dengan stetoskop), kadang
kadang keluar cairan lambung, dan makin lama pasien akan nampak semakin
membiru. Untuk hal tersebut pipa dicabut dan intubasi dilakukan kembali setelah
diberikan oksigenasi yang cukup.

KRITERIA INTUBASI
Pernafasan Ireguler
Frekwensi Nafas < 10 atau > 40 kali / menit
Volume Tidal < 3,5 ml / KgBB
Vital Capacity < 15 ml / KgBB
PaO2

< 70 mmHg

Pa CO2 > 50 mmHg


GCS < 8
Tatang Bisri :Dasar dasar Neuroanestesi :2008; 10

26

KRITERIA EKSTUBASI
NIF > - 20 cm H2O

Resting min Vent < 10 l/menit

RR

< 30 kali / menit

LOC stable or improving

TV

> 5 ml / KgBB

TV / RR

VC > 10 ml / Kg BB
PaO2

Qs / Qt

>65 75 mm (FiO2 < 40%) Pmep

PaC02 <50 mmHg

> 10
< 20 %
> + 40 cm H2O

Vd / Vt < 0.6

Mark R Ezekiel :HandBook of Anesthesiology :2003; 105

Komplikasi Intubasi Endotrakeal 1


a. Selama laringoskopi dan intubasi
Malposisi
Intubas iesofagus
Intubasi endotrakheal
Posisi laringeal cuff
Trauma jalan nafas
Kerusakan gigi
Laserasi bibir, lidah, mukosa
Sakit pada tenggorokan
Dislokasi mandibula
Diseksi retrofaring
Refleks fisiologis
Hipertensi, takikardi
Hipertensii intrakranial
Hipertensi intraokuler
Laringospasme
Malfungsi tube

27

Perforasi cuff
b. Pada saat tube diposisikan
Malposisi
Ekstubasi yang tidak disengaja
Intubasi endobronkial
Posisi laringeal cuff
Trauma jalan nafas
Inflamasi dan ulserasi mukosa
Ekskoriasi hidung
Malfungsi tube
Ignition
Obstruksi
c. Mengikuti Ekstubasi
Trauma jalan nafas
Edema dan stenosis (glottik, sub glottik, trakhea)
Parau (granuloma atau paralisis pita suara)
Malfungsi dan aspirasilaring
Refleks fisiologis
Laringospasme.
b. KRIKOTIROIDOTOMI-TRAKEOSTOMI 2
Krikotiroidotomi adalah melakukan penusukan pada membrana krikotiroid
dengan jarum berukuran besar sebagai jalan pintas untuk melakukan oksigenasi dan
ventilasi

padapenderita

gagal

napas

akibat

sumbatan

jalan

napas

atas.

Krikotiroidotomi dipertimbangkan pada pasien dengan gagal intubasi namun masih


dibutuhkan upaya oksigenasi. Pengguanaan krikotiroidotomi tunggal hanya bertahan
selama 10 menit pertama pada obstruksi jalan napas total, oleh karena teknik ini tidak
dapat mengeluarkan gas CO2.
Komplikasi yang dapat terjadi berupa:
28

Perdarahan

Parese nervus laryngeus atau nervus reccurens

Emfisema subkutis ditandai adanya perabaan seperti kertas dibawah kulit

Jangka panjang dapat memnyebabkan pneumothorax

Teknik Krikotiroidotomi

Persiapan awal pra-pemasangan


1) Periksa semua kelengkapan alat. Hubungkan selang oksigen dengan
salah satu lubang pipa Y dan pastikan oksigen mengalir dengan lancar
melalui selangnya
2) Pasang kateter IV ukuran 14 pada spoit 12 cc

Tindakan Krikotiroidotomi
1) Desinfeksi daerah leher dengan antiseptik
2) Palapasi membrana krikotiroidea, sebelah anterior antara kartilago
tiroid dan krikoid. Pegang trakea dengan ibu jari dan telunjuk dengan
tangan kiri agar trakea tidak bergerak ke lateral pada waktu prosedur.
3) Dengan tangan kanan tusuk kulit pada garis tengah (midline) di atas
membrana krikotiroidea dengan jarum besar ukuran 12-14 yang telah
dipasang pada semprit. Untuk memudahkan masuknya jarum maka
dapat dilakukan insisi kecil ditempat yang akan ditusuk dengan pisau
ukuran 11.
4) Arahkan jarum dengan sudut 450 ke arah kaudal, kemudian dengan
hati-hati tusukkan jarum sambil mengisap semprit. Bila teraspirasi
udara atau tampak gelembung udara pada semprit yang terisi akuades
menunjukkan masuknya jarum ke dalam lumen trakea.
5) Lepas semprit dengan kateter IV, kemudian tarik madrin sambil
dengan lembut mendorong kateter ke bawah.
6) Sambungkan ujung kateter dengan salah satu ujung selang oksigen
berbentuk Y.
29

7) Ventilasi berkala dapat dilakukan dengan menutup salah satu lubang


selang oksigen berbentuk Y terbuka dengan ibu jari selama 1 detik dan
membukanya selama 4 detik. Tindakan seperti ini dapat bertahan
selama 30-45 menit.
c. LARYNGEAL MASK AIRWAY (LMA)
Laryngeal Mask Airway adalah sebuah alat untuk mempertahankan jalan
napas paten tanpa intubasi trakea, yang terdiri dari tabung terhubung ke cuff oval
yang berfungsi untuk mengunci laring. 1
LMA mengisi cekungan antara Face Mask (FM) dan Trakeal Tube (TT) baik
dari segi posisi anatomis dan tingkat invasi. Dibuat dari kelas silikon karet medis dan
dapat digunakan kembali. 4
LMA ini terdiri dari 3 komponen utama:
1.

Tabung jalan napas (airway tube)

2.

Masker karet dan

3.

Garis inflasi.

Indikasi : 5
1)

Sebagai alternatif dari ventilasi face mask atau intubasi ET untuk airway

management. LMA bukanlah suatu penggantian ET, ketika pemakaian ET menjadi


suatu indikasi.
2)

Pada

penatalaksanaan dificult

airway yang

diketahui

atau

yang

tidak

diperkirakan.

30

3)

Pada airway management selama resusitasi pada pasien yang tidak sadarkan

diri.
4)

Pasien-pasien dengan reflex jalan nafas atas yang intack karena insersi dapat

memicu terjadinya laryngospasme.


Kontraindikasi : 7,5
1)

Pasien-pasien dengan resiko aspirasi isi lambung ( penggunaan pada emergency

adalah pengecualian ).
2)

Pasien-pasien

dengan

penurunan

compliance

sistem

pernafasan,

karena seal yang bertekanan rendah pada cuff LMA akan mengalami kebocoran
pada tekanan

inspirasi

Tekanan inspirasi

tinggi

puncak

dan

harus

akan

dijaga

terjadi

kurang

pengembangan

dari

20

cm

lambung.

H2O

untuk

meminimalisir kebocoron cuff dan pengembangan lambung.


3)

Pasien-pasien yang membutuhkan dukungan ventilasi mekanik jangka waktu

lama
Keuntungan LMA :
Kurang invansif (trauma laringoskopi berkurang), pemasangan mudah, berguna pada
pasien dengan kesulitan intubasi dan ventilasi, tidak memerlukan relaxan,
mengurangi penggunaan obat analgetik
Macam-Macam Laryngeal Mask Berdasarkan Perbedaan Volume Cuff Untuk
Beragam Pasien 7
Mask Size

Patient Size

Weight (kg)

Cuff Volume (mL)

Infant

<6.5

24

31

Mask Size

Patient Size

Weight (kg)

Cuff Volume (mL)

Child

6.520

Up to 10

21/2

Child

2030

Up to 15

Small adult

>30

Up to 20

Normal adult

60-70

Up to 30

Larger adult

>70-80

Up to 30

Efek Samping
Efek samping yang paling sering ditemukan adalah nyeri tenggorok, dengan insidensi
10 % dan sering berhubungan dengan over inflasi cuff LMA. Efek samping yang
utama adalah aspirasi.
Teknik Induksi dan Insersi 7
Untuk melakukan insersi cLMA membutuhkan kedalaman anestesi yang lebih besar.
Kedalaman anestesi merupakan suatu hal yang penting untuk keberhasilan selama
pergerakan insersi cLMA dimana jika kurang dalam sering membuat posisi mask
yang tidak sempurna. Sebelum insersi, kondisi pasien harus sudah tidak ber respon
dengan mandibula yang relaksasi dan tidak ber-respon terhadap tindakan jaw thrust.
Tetapi, insersi cLMA tidak membutuhkan pelumpuh otot. Hal lain yang dapat
mengurangi tahanan yaitu pemakaian pelumpuh otot. Meskipun pemakaian pelumpuh
otot bukan standar praktek di klinik, dan pemakaian pelumpuh otot akan mengurangi
trauma oleh karena reflex proteksi yang ditumpulkan, atau mungkin malah akan
meningkatkan trauma yang berhubungan dengan jalan nafas yang relax/menyempit
jika manuver jaw thrust tidak dilakukan.

32

Propofol merupakan agen induksi yang paling tepat karena propofol dapat
menekan refleks jalan nafas dan mampu melakukan insersi cLMA tanpa batuk atau
terjadinya gerakan. Introduksi LMA ke supraglotis dan inflasi the cuff akan
menstimulasi dinding pharing akan menyebabkan peningkatan tekanan darah dan
nadi. Perubahan kardiovaskuler setelah insersi LMA dapat ditumpulkan dengan
menggunakan dosis besar propofol yang berpengaruh pada tonus simpatis jantung.
Insersi dilakukan dengan posisi seperti akan dilakukan laryngoscopy
( Sniffing Position ) dan akan lebih mudah jika dilakukan jaw thrust oleh asisten
selama dilakukan insersi. Cuff cLMA harus secara penuh di deflasi dan permukaan
posterior diberikan lubrikasi dengan lubrikasi berbasis air sebelum dilakukan insersi.
Meskipun metode standar meliputi deflasi total cuff, beberapa klinisi lebih menyukai
insersi LMA dengan cuff setengah mengembang. Tehnik ini akan menurunkan resiko
terjadinya nyeri tenggorokan dan perdarahan mukosa pharing .
Dokter anestesi berdiri dibelakang pasien yang berbaring supine dengan satu
tangan men-stabilisasi kepala dan leher pasien, sementara tangan yang lain
memegang cLMA. Tindakan ini terbaik dilakukan dengan cara menaruh tangan
dibawah occiput pasien dan dilakukan ekstensi ringan pada tulang belakang leher
bagian atas. cLMA dipegang seperti memegang pensil pada perbatasan mask dan
tube. Rute insersi cLMA harus menyerupai rute masuknya makanan. Selama insersi,
cLMA dimajukan ke arah posterior sepanjang palatum durum kemudian dilanjutkan
mengikuti aspek posterior-superior dari jalan nafas. Saat cLMA berhenti selama
insersi, ujungnya telah mencapai cricopharyngeus ( sfingter esofagus bagian atas )
dan harusnya sudah berada pada posisi yang tepat. Insersi harus dilakukan dengan
satu gerakan yang lembut untuk meyakinkan titik akhir ter-identifikasi. 6

33

Gambar 5.1. prosedur pemasangan LMA7

Alur Penanganan Jalan Napas Berdasarkan The American Society Of


Anesthesiologist 7

34

PEMBAHASAN
Laki laki 34 tahun dari BTP dengan traumatic brain injury GCS 8 akibat
kecelakaan lalu lintas direncanakan penatalaksanaan manajemen jalan napas. Pasien

35

datang dibawa oleh keluarga dengan luka pada kepala dialami sejak 4 jam sebelum
masuk rumah sakit akibat terbentur kepala di aspal . Riwayat tidak sadarkan diri ada.
Riwayat muntah

tidak ada. Riwayat operasi sebelumnya tidak ada. Riwayat

hipertensi tidak ada. Riwayat DM tidak ada. Riwayat asma, alergi obat dan makanan
tidak ada. Riwayat kebiasaan merokok, alkohol, herbal, jamu-jamuan tidak ada. Saat
ini pasien tidak batuk, tidak sesak, tidak demam.
B1

Airway paten, napas spontan, bunyi pernapasan

vesikuler kanan = kiri, RR 24 x/mnt, Rh (-/-), Wh(-/-), Struma (-),


Stiffness (-), Buka mulut > 3 jari, Tyromandibula distance 3 jari,
Mallampati score I, pernafasan cuping hidung (-), gigi geligi tidak
tampak kelainan, gerak leher bebas, nyeri telan (-), massa di leher (-),
trakea di tengah.
B2

Nadi 96 x/mnt kuat angkat, TD 100/60 mmHg, Bunyi

Jantung I/II murni regular, gallop (-), murmur(-), suhu: 36,7oC


B3

GCS 8 (E2M4V2), pupil bulat isokor 2,5mm/2,5mm,

Reflek Kornea +/+ normal, Reflek Cahaya +/+ normal,


B4 :

Terpasang kateter, produksi 40-50cc/jam

B5 :

Supel, peristaltik ada kesan normal.

B6 :

Mobilitas (+),edema (-), nyeri tekan (-), massa tumor (-), fraktur (-)

Pasien dikonsul dari bagian Bedah untuk penanganan jalan napas pada pasien
pada tanggal 25/01/2016. Pada hari pertama, pemeriksaan kesadaran pasien yaitu
GCS 8 (E2M4V2) dengan uraian sebagai berikut: pasien nampak sedikit membuka
mata dan mengeluarkan suara tidak jelas mirip mendengkur dengan pemberian
rangsangan nyeri pada sternum, pasien tidak dapat mengangkat tangannya sampai
melewati dada untuk maksud menapis rangsangan nyeri namun pasien memunjukkan
reaksi menghindar saat diberi rangsang nyeri pada kuku jari. Oleh dokter bedah,
pasien diberi antibiotik profilaksis berupa ceftazidime 1g /8jam/IV, ketorolak

36

30mg/8jam/IV, dan ranitidin 50mg/8jam/iv. Pada pasien ditemukan indikasi


pemasangan intubasi endotrakeal berupa kesadaran menurun GCS 8, sehingga
dipasang ETT dengan diameter 7,0 dengan flom O2 8 liter per menit. Pasien juga
mendapat terapi cairan dengan ringer laktat 30 tpm.
Dari hasil laboratorium (25/01//2016 ), terlihat bahwa adanya Lekositosis dan
telah mendapat antibiotik.
Kebutuhan
cairan/hari:
40xBB=
40x54=

37

DAFTAR PUSTAKA
1. Mangku G, Senapahi TGA. Buku Ajar Ilmu Anestesia Dan Reanimasi.
Jakarta. Penerbit Indeks. 2010.
2. Fildes J. Advanced Trauma Life Support Dor Doctors. American College Of
Surgeons Committee On Trauma. 8th Ed. 2008.
3. Ganong WF. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Penerbit Buku Kedokteran
EGC. 22nd Ed. 2010.
4. Vlymen JM, Coloma M, Tongier K, White PF. Use Of The Intubating
Laryngeal Mask Airway; Are Muscle Relaxants Necessary? Lippincot
Williams & Wilkins, Inc. 2000.
5. Timmermann A. Modern Airway Management Using Supraglottic Airways.
Vol 12. AJA-Online.Com. 2011
6. Grady DM, Mchardy F, Wong J, Jin F, Tong D, Chung F. Pharungolaryngeal
Morbidity With The Laryngeal Mask Airway In Spontaneously Breathing
Patients; Does Size Matter? Lippincot Williams & Wilkins, Inc. 2001.
7. Butterworth JF, Mackey DC, Wasnick JD. Morgan & Mikhails Clinical

Anesthesiology 5th Ed. Lange Medical Book. 2013.

38