Anda di halaman 1dari 27

HUBUNGAN RIWAYAT BBLR DENGAN INSIDENSI PNEUMONIA PADA

BALITA DI BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT


(BPKPM) SURAKARTA

PROPOSAL WORKSHOP SKRIPSI


KELOMPOK WORKSHOP 32
JEA AYU YOGATAMA G0013124
NAILA MAJEDHA DIWANTI G0013170
REZA SATRIA NUGRAHA G0013198
SAFIRA NURULLITA G0013209
WAKHID RYAN CAHYADI G0013232
YASMIN ZAHIRAH G0013238

PEMBIMBING : dr. Muthmainah , M.Neuro.,Sci


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
TAHUN 2016
BAB I
PENDAHULUAN
A Latar Belakang
Menurut WHO angka kematian pada balita per tahun 2015
sebanyak 5.9 juta, 53% lebih rendah bila dibanding tahun 1990 yang
berkisar 12.7 juta jiwa. Namun jumlah ini masih belum cukup untuk
memenuhi target MDG 4 secara global untuk menurunkan dua per tiga

dari angka kematian total terhitung antara tahun 1990 hingga 2015.
Pneumonia, diare, malaria dan malnutrisi adalah 4 penyebab tersering
kematian pada balita (WHO, 2015).
Pneumonia menjadi penyakit infeksi tertinggi yang telah
menyebabkan kematian 922.000 balita pada 2015 dengan jumlah
terbanyak di benua Asia Selatan dan Afrika (WHO, 2015). Di Indonesia,
pneumonia merupakan penyebab kematian 2 juta dari total 9 juta kematian
balita tiap tahun. Penemuan kasus tertinggi terjadi di provinsi Nusa
Tenggara Timur (38,5), Aceh (35,6), Bangka Belitung (34,8),
Sulawesi Barat (34,8), dan Kalimantan Tengah (32,7) (Riskesdas,
2013).
Tingginya kejadian pneumonia pada balita ini terkait berbagai
faktor risikonya. Faktor risiko tersebut diantaranya: tingkat sosial
ekonomi, tingkat pendidikan ibu, jenis kelamin, usia, status gizi, berat
badan lahir rendah (BBLR), pemberian ASI yang kurang adekuat, status
imunisasi dan pemberian vitamin A, faktor lingkungan rumah, kepadatan
dalam kamar tidur, polusi udara. (Depkes RI, 2004)
Pencegahan pneumonia dapat dilakukan dengan menghindari
faktor-faktor risikonya. Salah satu faktor risiko tersebut adalah BBLR.
BBLR masih menjadi masalah hampir di semua negara. Dari seluruh
kelahiran di dunia, diperkirakan 15% bayi lahir memiliki berat lahir
rendah dan 90% diantaranya terjadi di negara berkembang (Kemenkes RI,
2013). Asia Tenggara mempunyai insidensi BBLR paling tinggi yaitu 27%
dari seluruh kelahiran BBLR di dunia (UNICEF, 2011). Menurut Laporan
Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI), insidensi BBLR
secara berturut-turut yaitu 7,3% (1986 - 1991), 7,1% (1989 - 1994), 7,7%
(1992 - 1997), 7,2% (2002 - 2003), dan 6,7% (2007). Kemudian menurut
laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), insidensi BBLR pada tahun
2010 meningkat menjadi 11,1% dan pada tahun 2013 sedikit menurun
menjadi 10,2% (Kemenkes RI, 2013). Namun, angka tersebut masih di

atas angka rata-rata Thailand (6,6%) dan Vietnam (5,3%) pada tahun 2010
(UNICEF, 2011).
Pencegahan kejadian BBLR dapat dilakukan dengan meningkatkan
perawatan kesehatan remaja putri, memperbaiki status gizi ibu hamil,
menghentikan kebiasaan merokok dan mengonsumsi obat-obatan terlarang
pada ibu hamil, meningkatkan pemeriksaan Antenatal Care (ANC), serta
memberikan tablet zat besi pada ibu hamil secara teratur (Proverawati,
2010).
B Rumusan Masalah
Apakah ada hubungan antara riwayat BBLR dengan insidensi
pneumonia pada balita di Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat
(BPKPM) Surakarta?
C Tujuan Penelitian
1

Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara riwayat
BBLR dengan prevalensi terjadinya pneumonia pada balita di Balai
Besar Kesehatan Paru Masyarakat (BPKPM) Surakarta.

Tujuan khusus
a

Mengetahui faktor risiko terjadinya pneumonia

Mengetahui upaya pencegahan BBLR

D Manfaat Penelitian
1

Manfaat teoritis
a

Menjadi bukti empiris adanya hubungan antara riwayat BBLR


dengan insidensi pneumonia pada balita di Balai Besar Kesehatan
Paru Masyarakat (BPKPM) Surakarta.

Menjelaskan tentang mekanisme hubungan antara riwayat BBLR


dengan pneumonia pada balita di Balai Besar Kesehatan Paru
Masyarakat (BPKPM) Surakarta.

Manfaat aplikatif
a

Menjadi masukan untuk pemerintah untuk menggiatkan programprogram kesehatan yang dapat mengurangi angka terjadinya
BBLR.

Memberikan informasi tambahan bagi masyarakat mengenai


pentingnya mencegah terjadinya BBLR.

BAB II
LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
1. Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)
a. Definisi
Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi lahir dengan berat
badan kurang dari 2500 gram tanpa memandang usia gestasi
(Pudjiadi,dkk, 2010). Berat badan lahir biasanya dihitung 1 jam setelah
kelahiran. BBLR meningkatkan angka kesakitan dan kematian bayi,
menghambat pertumbuhan dan perkembangan kognitif, serta berisiko
menderita penyakit kronis dikemudian hari (United Nations Childrens
Fund -World Health Organization, 2004). BBLR merupakan 30,3%
penyebab kematian neonatal di Indonesia (Kementrian Kesehatan
Republik Indonesia, 2010).
b. Klasifikasi bayi berat lahir rendah
Ada beberapa cara dalam mengelompokkan BBLR menurut
Proverawati dan Ismawati, (2010) yaitu :
1) Berdasarkan harapan hidupnya
a) Bayi berat lahir rendah (BBLR) dengan berat lahir 1500-2500
gram.
b) Bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR) dengan berat lahir 10001500 gram.
c) Bayi berat lahir ekstrim rendah (BBLER) dengan berat lahir
kurang dari 1000 gram.
2) Berdasarkan masa gestasinya
a) Prematuritas murni
Bayi lahir dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu dengan
berat badan sesuai usia kehamilan ibu atau biasa disebut sebagai
neonatus kurang bulan sesuai masa kehamilan (NKB-SMK).
b) Dismaturitas yaitu bayi lahir dengan berat badan kurang yang
tidak sesuai dengan berat badan usia kehamilan. Hal ini mungkin
terjadi karena bayi mengalami retardasi pertumbuhan intrauterin
atau sering disebut sebagai bayi kecil masa kehamilan (KMK).
c. Epidemiologi

Dari seluruh kelahiran di dunia, diperkirakan 15% bayi lahir


memiliki berat lahir rendah dan 90% diantaranya terjadi di negara
berkembang. Survei demografi dan kesehatan Indonesia tahun 20002003 mendapatkan data bahwa prevalensi rata-rata BBLR di Indonesia
sebesar 9%. Angka tersebut bervariasi pada masing-masing provinsi.
Laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 menyebutkan
bahwa prevalensi BBLR di Indonesia mengalami penurunan. Pada
tahun 2010 prevalensi BBLR di Indonesia mencapai 11,1% dan pada
tahun 2013 menurun menjadi 10,2% (Kementrian Kesehatan Republik
Indonesia, 2013). Namun, angkatersebutmasih di atasangka rata-rata
Thailand (6,6%) dan Vietnam (5,3%) padatahun 2010 (UNICEF,
2011).
d. Etiologi
BBLR dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan masa gestasi,
yaitu prematuritas dan dismaturitas akibat pertumbuhan bayi
terhambat. Kedua hal tersebut dipengaruhi oleh faktor risiko dibawah
ini (Poevarati dan Ismawati, 2010)
1) Faktor ibu
a)

Selama gestasi, ibu mengalami komplikasi kehamilan, seperti


anemia, eklamsia, perdarahan antepartum.

b)

Ibu menderita penyakit infeksi yang membahayakan, seperti


infeksi

menular

Cytomegalovirus,
Immunodeficiency

seksual,
Herpes

Toxoplasma,
(TORCH),

Virus/Acquired

Immuno

Rubella,
Human
Deficiency

Syndrome (HIV/AIDS).
c)

Penggunaan obat teratogenik,merokok, dan konsumsi alkohol.

d)

Pendeknya jarak kelahiran (kurang dari satu tahun).

e)

Multiparitas.

f)

Usia terlalu muda (<20 tahun)atau terlalu tua (lebih dari 35


tahun)..

g)

Rendahnya sosial ekonomi, aktivitas fisik berlebihan dan


kehamilan yang tidak diinginkan.

2) Faktor janin
a)

Memiliki kelainan genetik dan kromosom

b)

Menderita infeksi janin (Rubella, infeksi sitomegali).

c)

Mengalami gawat janin

d)

Kehamilan kembar (gemeli)

3) Plasenta
a)

Hidroamnion.

b)

Plasenta previa.

c)

Ketuban pecah dini.

4) Lingkungan
a)

Paparan radiasi.

b)

Ibu tinggal di dataran tinggi.

c)

Paparan zat toksik.


Faktor risiko yang telah disebutkan diatas menyebabkan

kurangnya pemenuhan nutrisi pada janin selama masa kehamilan


(Kosim, dkk, 2008). Kurangnya pemenuhan nutrisi inilah yang
menyebabkan bayi lahir dengan berat badan yang rendah.
e. Pencegahan
1)

Pencegahan Primer
Pencegahan primer merupakan pencegahan yang dilakukan
untuk mencegah terjadinya kejadian penyakit. Pencegahan primer
untuk BBLR adalah menunda dan atau mencegah kehamilan ibu
yang memiliki risiko seperti yang telah disebutkan di bagian
etiologi, misalnya menunda kehamilan untuk wanita usia<20 tahun,
menyembuhkan penyakit yang dapat disembuhkan terlebih dahulu,
memperhatikan jarak kehamilan, hati-hati dalam penggunaan obat,
berhenti merokok dan konsumsi alkohol.

2)

Pencegahan Sekunder

Pencegahan sekunder ditujukan untuk deteksi dini gangguan


dalam kehamilan yang berisiko menyebabkan BBLR. Pencegahan
ini dilakukan dengan pemeriksaan antenatal care minimal 4 kali,
yaitu satu kali pada trimester I, satu kali pada trimrster II dan dua
kali pada trimester III. Dengan pemeriksaan antenatal care, ibu juga
bisa

mendapatkan suplemen tambahan dan

edukasi untuk

pemenuhan nutrisi selama kehamilan. Hal ini dapat mengurangi


risiko terjadinya BBLR.
3)

Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier difokuskan dalam upaya rehabilitasi
untuk mencegah kecacatan dan kematian BBLR. Pencegahan ini
dapat dilakukan dengan cara pemantauan berkala tumbuh kembang
bayi dengan BBLR yang telah mendapatkan tatalaksana berupa
pengaturan suhu bayi, intake nutrisi, pengaturan jalan nafas,
pencegahan infeksi, dan penimbangan berat badan.(Hidayah, A,
2011).

f. Tatalaksana Bayi Berat Lahir Rendah


Bayi baru lahir rendah memiliki struktur anatomi dan fisiologi
yang belum cukup sempurna, hal ini yang menyebabkan tingginya
angka morbiditas dan mortalitas bayi sehingga perlu dilakukan
antisipasi dan pengelolaan yang baik pada masa neonatal. Tatalaksana
yang dilakukan bertujuan untuk mengurangi stress fisik maupun
psikologis. Beberapa tatalaksana BBLR meliputi:
1) Mempertahankan Suhu Badan Bayi
Bayi dengan BBLR pusat pengaturan suhu tubuhnya belum
berfungsi dengan baik, sistem metabolisme yang rendah dan luas
permukaan tubuh yang relative luas menyebabkan bayi dengan
BBLR rentan terhadap kehilangan panas badan atau suhu tubuh
dan menjadi hipotermia. Suhu optimal aksilar untuk bayi adalah
36,5C 37,5C (Thomas, 1994) sedangkan menurut Sauer dan
Visser (1984) suhu netral bagi bayi adalah 36,7C 37,3C.

Untuk mencapai suhu optimal bagi bayi dengan BBLR


dapat digunakan berbagai cara sebagai berikut:
a) Inkubator
Suhu inkubator diatur sedemikian rupa sampai sekitar
24,9C untuk bayi dengan berat 1,7 kg dan 32,2C untuk bayi
kurang dari 1,7 kg. Bayi berada dalam inkubator dalam
keadaan telanjang agar mendapat pernapasan yang adekuat,
bayi bebas bergerak tanpa ada hambatan pakaian, dan observasi
pernapasan menjadi lebih mudah. Pemberian oksigen harus
dilakukan secara cermat dan tepat dosis untuk mecegah
terjadinya fibroplasia paru

akibat pemberian oksigen yang

berlebihan (Proverawati, 2010).


b) Perawatan metode kanguru (PMK) atau Kangaroo Method
Care
PMK merupakan suatu metode perawatan untuk bayi
BBLR dengan melalukan kontak kulit secara langsung antara
kulit ibu dan anak. Posisi bayi berada didekapan ibu, sebaiknya
ibu menggunakan pakaian yang longgar sehingga anak berada
dalam satu pakaian dengan ibu. Metode ini sangat efektif untuk
tumbuh kembang bayi (Depkes RI, 2008). Apabila ibu tidak
dapat melakukan PMK dapat digantikan oleh orang lain atau
keluarga bayi (Kosim, 2008)
Berdasarkan Departemen Kesehatan RI (2008) PMK dapat
dilakukan dengan cara:
i.
PMK intermitten: PMK hanya dilakukan ketika ibu
mengunjungi bayinya yang masih berada dalam perawatan
di inkubator dengan durasi minimal satu jam secara terusii.

menerus per hari.


PMK kontinu: perawatan yang diberikan sepanjang waktu
yaitu apabila ibu dan anak berada di unit rawat gabung atau
ruangan yang dipergunakan untuk perawatan metode

kanguru.
2) Pengawasan Intake Nutrisi

Pengawasan intake nutrisi meliputi pengawasan dan


pengaturan dalam memilih susu, cara pemberian dan jadwal
pemberian susu sesuai dengan kebutuhan bayi BBLR. ASI
merupakan makanan pilihan pertama untuk bayi baru lahir. ASI
diberikan pertama kali setiap 2-3 jam untuk bayi BBL< 1500
gramdan ASI lanjutan dengan volume : 10-20 cc/kgbb/hari setiap 3
jam kemudian naikan 10-20 cc/kgbb/hari.Untuk bayi BBL15002500 gramASI / preterm formula diberikan melalui oralgastric
tract/nasogastric tract. Bila kondisi bayi stabil berikan 80
cc/kg/hariASI , naikan 10-20 cc/kg/hari, sedangkan untuk bayi
BBL > 2500 gram atau dengan kondsi stabil ASI/ term formula
dapat diberikan sesuai permintaan bayi (Hidayah, 2016)
3) Penimbangan Berat Badan
Pemantauan dan monitoring harus dilakukan secara ketat
untuk mengetahui kondisi gizi dan ada hubungannya dengan daya
tahan tubuh bayi (Depkes RI, 2005). Pada umumnya berat bayi
akan menurun 7-10 hari pertama dan akan kembali seperti semula
pada usia 14 hari. Setelah berat badan tercapai kembali, dilakukan
pemantauan kenaikan berat badan dalam tiga bulan dengan
a)

perkiraan:
150-200 gram seminggu untuk bayi BBL <1500 gram (20-30

b)

gram per hari)


200-250 gram seminggu untuk bayi BBL 1500-2500 gram (30-

35 gram perhari) (Depkes RI, 2005)


4) Pencegahan Infeksi
Bayi BBLR memiliki kadar immunoglobulin yang masih
rendah, aktifitas bakterisidal neutrofil, efek sitotoksik limfosit
masih rendah dan fungsi imun belum maksimal sehingga bayi
BBLR rentan terhadap infeksi terutama infeksi nosokomial
(Manuaba, 2010).
Oleh sebab itu diperlukan adanya perawatan ekstra terhadap
bayi BBLR. Fungsi perawatan disini untuk memberi perlindungan
terhadap bayi BBLR terhadap infeksi terutama infeksi nosokomial.

Perawatan dapat dilakukan dengan menggunakan masker dan baju


khusus dalam merawat bayi BBLR. Selain itu perlu adanya
pembatasan kunjungan terhadap bayi. Perlu adanya tindakan
antiseptik alat-alat yang digunakan dan pemberian antibiotik yang
tepat (Depkes, 2010).
5) Pengawasan Jalan Napas
Bayi BBLR memiliki risiko mengalami serangan apneu dan
defisiensi surfaktan hal ini dapat menyebabkan hipoksia.
Terhambatnya jalan napas akan memperparah kondisi bayi BBLR
sehingga diperlukan pembersihan jalan napas segera setelah lahir
(aspirasi lendir), dibaringkan pada posisi miring, merangsang
pernapasan dengan menekuk atau menjentik tumit. Bila tindakan
ini gagal dilakukan ventilasi, intubasi indotrakeal, pijatan jantung,
pemberian oksigen, dan pencegahan aspirasi selama pemberian
intake makanan. Tindakan tersebut dapat mencegah sekaligus
mengatasi asfiksia sehingga mengurangi angka mortalitas bayi
BBLR (Depkes, 2005)

2. Pneumonia
a. Definisi
Secara umum, pneumonia adalah peradangan parenkim paru
yang disebabkan oleh infeksi mikroorganisme (bakteri, virus, jamur,
parasit) dan dapat terjadi bersamaan dengan infeksi saluran pernapsan
bagian bawah (Djojodibroto, 2009 ; Hueston, 2003). Pneumonia juga
dapat menyebabkan peradangan pada distal bronkiolus terminalis
yang mencakup bronkiolus respiratorius dan alveoli, serta nantinya
dapat menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan
pertukaran udara setempat (Dahlan, 2007).
Menurut Brborowicz dan Wojsyk-Banaszak (2013) tempat
terjadinya pneumonia dibagi menjadi dua yaitu
1) Community Acquired Pneumonia (CAP), yaitu terjadi pada
balita sehat yang tertular pneumonia dari lingkungan.

2) Hospital Acquired Pneumonia (HAP), yaitu pneumonia yang


terjadi saat rawat inap di rumah sakit. Dapat juga didefiniskan
sebagai pneumonia yang terjadi dalam 48 jam atau lebih pada
pasien yang tidak mempunyai gejala pneumonia dan dirawat di
rumah sakit (American Thoracic Society, 2005).
b. Epidemiologi
Insidensi pneumonia pada anak balita di negara berkembang
adalah 15 juta anak/tahun jika dibandingkan dengan negara maju
sebanyak 2,7 juta anak/tahun. Pneumonia menjadi penyumbang
penyebab kematian anak balita di seluruh dunia sebesar 18%, sebagian
besar terjadi pada negara miskin dengan keterbatasan layanan
kesehatan.
Antara tahun 1997

hingga 2006,

Community

Acquired

Pneumonia (CAP) meningkat hampir 77,8% (Grijalva, 2009; Lee et


al., 2010). Sejak adanya vaksin pneumokokus (PCV7) untuk
program imunisasi nasional, insidensi pneumokokus pneumonia
menurun (Harris et al., 2011). Namun, dalam waktu yang bersamaan,
terjadi peningkatan kejadian pneumonia berat yang harus rawat inap
dan pneumonia dengan komplikasi. Hingga saat ini, belum diketahui
secara pasti penyebab terjadinya peningkatan kejadian tersebut
(Grijalva, 2009; Lee et al., 2010)
c. Etiologi
Usia pasien merupakan faktor yang memegang peranan penting
pada perbedaan dan kekhasan pneumonia anak, terutama dalam
spektrum etiologi,

gambaran

klinis

dan

strategi

pengobatan.

Spektrum mokroorganisme penyebab pada neonatus dan bayi kecil


(< 20 hari) meliputi Streptococcus grup B dan bakteri gram
negatif seperti E. coli, Pseudomonas sp, atau Klebsiella sp. Pada
bayi yang lebih besar (3 minggu 3 bulan) dan anak balita (4 bulan
5 tahun), pneumonia sering disebabkan oleh infeksi Streptococcus

pneumoniae, Haemophillus influenza tipe B, dan Staphylococcus


aureus, sedangkan pada anak yang lebih besar dan remaja, selain
bakteri

tersebut,

sering juga ditemukan

infeksi

Mycoplasma

pneumoniae (Said, 2008).

Gambar 1. Etiologi pneumonia pada anak di negara berkembang


(Scott, dkk, 2008).
d. Patogenesis
Umumnya mikroorganisme penyebab terhisap ke paru bagian
perifer melalui

saluran

resporatori.

Ada 3

stadium

dalam

patofisiologi penyakit pneumonia (Said, 2008), yaitu :


1) Stadium hepatisasi merah
Mula-mula terjadi edema akibat reaksi jaringan yang
mempermudah proliferasi dan penyebaran kuman ke jaringan
sekitarnya. Bagian paru yang terkena mengalami konsolidasi,
yaitu terjadi

serbukan

sel

PMN,

fibrin,

edema, dan ditemukannya kuman di alveoli.


2) Stadium hepatisasi kelabu.

eritrosit,

cairan

Selanjutnya, deposisi fibrin semakin bertambah, terdapat


fibrin dan leukosit PMN di alveoli dan terjadi proses fagositosis
yang cepat.
3) Stadium resolusi
Setelah itu, jumlah makrofag meningkat di alveoli, sel
akan mengalami degenerasi, fibrin menipis, kuman dan debris
menghilang. Sistem bronkopulmoner jaringan paru yang tidak
terkena akan tetap normal.
e. Faktor risiko
Faktor risiko intrinsik yang mempengaruhi pneumonia pada
anak balita adalah:
1) Usia balita
Pada anak dibawah 2 tahun lebih rentan terkena
pneumonia dikarenakan sistem pertahanan tubuh yang belum
sempurna dan saluran pernapasan yang masih sempit (Departemen
Kesehatan Republik Indonesia, 2004).
2) Jenis kelamin balita
Anak laki-laki lebih rentan terkena pneumonia karena
diameter

saluran

pernapasan

anak

laki-laki

lebih

kecil

dibandingkan dengan anak perempuan atau adanya perbedaan


dalam

daya tahan tubuh anak laki-laki dan perempuan

(Sunyataningkamto et al., 2004).


3) Berat Badan Lahir Balita
Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)
mempunyai kekebalan tubuh yang kurang sempurna. Sehingga,
balita dengan BBLR rentan terhadap penyakit infeksi terutama
pneumonia dan mempunyai risiko kematian lebih tinggi (Hartati et
al., 2012).
4) Riwayat Pemberian ASI Balita

Menurut PP No. 33 Tahun 2012 tentang Pemberian


Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif, ASI eksklusif adalah ASI yang
diberikan kepada bayi sejak dilahirkan selama 6 (enam) bulan,
tanpa menambahkan dan/atau mengganti dengan makanan atau
minuman lain. ASI mengandung komponen protein yang berperan
terutama untuk fungsi kekebalan tubuh (alfa- laktabumin, beta
laktoglobulin, kasein, enzim, faktor pertumbuhan, hormon,
laktoferin, lisozim, sIgA, dan immunoglobulin
non

protein

(alfa

lain),

nitrogen

amino nitrogen, keratin, kreatinin,

glukosamin, asam nukleat, nukleotida, poliamin, urea, asam urat),


karbohidrat (laktosa, oligosakarida, glikopeptida, faktor bifidus
(lemak (vitamin larut dalam lemak -A, D, E, dan K-, karotenoid,
asam lemak, fosfolipid, sterol dan hidrokarbon, trigliserida),
vitamin yang larut dalam air (biotin, kolin, folat, inositol,
niasin,

asam pantotenat, riboflavin, thiamin, vitamin B12,

vitamin B6, dan vitamin C), mineral dan ion (bikarbonat,


kalsium,

khlorida, sitrat, magnesium, fosfat, kalium, natrium,

sulfat), trace mineral (kromium, kobalt, copper, fluorida, iodium,


mangaan, molybdenum, nickel, selenium, dan seng), serta
sel

(sel epithelial, leukosit, limfosit, makrofag, dan neutrofil)

(Wapner R, 1999). Sehingga, ASI dapat mencegah berbagai


penyakit seperti radang paru-paru, radang telinga, diare, dan risiko
alergi (Mexitalia, 2011).
5) Status gizi balita
Status gizi mempengaruhi sistem kekebalan tubuh untuk
merespon infeksi. Jika balita mengalami defisiensi nutrisi, maka
akan terjadi penurunan fungsi komplemen, gangguan fungsi
granulosit, dan menyebabkan kekurangan mikronutrien yang
berperan dalam kekebalan tubuh (Sunyataningkamto et al., 2004).
6) Riwayat mendapatkan vitamin A

Pemberian vitamin A yang bersamaan dengan imunisasi


dapat meningkatkan titer antibodi yang spesifik (Hartati et al.,
2012).
7) Riwayat imunisasi campak dan DPT
Pneumonia merupakan salah satu komplikasi penyakit
campak dan pertusis. Sehingga, imunisasi campak dan DPT
dapat mencegah terjadinya penyakit pneumonia (Black et al.,
2006).
Faktor

risiko

ekstrinsik

yang

mempengaruhi

kejadian

pneumonia pada anak balita yaitu:


1) Tipe rumah
Menurut penelitian Nurjazuli dan Widyaningtyas (2009)
jenis rumah tidak permanen merupakan faktor risiko terjadinya
pneumonia. Karena rumah yang tidak permanen, lantainya terbuat
dari tanah, sehingga dapat menimbulkan debu yang dapat
menimbulkan polusi udara dalam rumah (indoor air pollution).
Akumulasi partikel debu tersebut dapat memicu adanya iritasi
pada saluran napas yang kemudian menjadi media tumbuhnya
berbagai patogen penyebab pneumonia.
2) Ventilasi rumah
Ventilasi rumah berperan dalam terjadinya sirkulasi udara
segar masuk ke dalam rumah dan udara kotor keluar rumah.
Rumah dengan ventilasi cukup, akan mendapatkan suplai udara
segar yang cukup pula. Apabila rumah tidak mempunyai
ventilasi

yang

cukup,

maka

dapat

mengakibatkan

ketidakcukupan suplai udara segar yang akan mengganggu


proses fisiologis bernapas.
3) Kepadatan hunian
Kepadatan hunian menjadi faktor yang penting untuk
diperhatikan, karena semakin padat orang yang menghuni dalam
suatu rumah atau suatu daerah, maka transmisi penyakit menular

akan semakin cepat terjadi. Sehingga, kepadatan hunian ini


termasuk dalam faktor risiko pneumonia.
4) Pengetahuan ibu
Pengetahuan ibu tentang pneumonia menjadi faktor risiko
terjadinya pneumonia. Sehingga apabila ibu tidak dapat mengenali
tanda atau gejala serta pencegahan pada pneumonia, maka balita
bisa

kurang

mendapat

penanganan

yang

baik

karena

ketidaktahuan ibu. Selain itu, dapat meningkatkan morbiditas


dan mortalitas balita yang menderita pneumonia (Nurjazuli dan
Widyaningtyas, 2009).
Namun, dari faktor risiko pneumonia pada anak balita yang paling
berpengaruh adalah usia, riwayat pemberian ASI dan status gizi
(Hartati et al., 2012).
f. Diagnosis
Ditegakkan berdasarkan riwayat penyakit dan pemeriksaan fisis
yang sesuai dengan gejala dan tanda yang diuraikan sebelumnya,
disertai pemeriksaan penunjang. Diagnosis etiologi dibuat berdasarkan
pemeriksaan mikrobiologi dan atau serologi (Mansjoer, dkk, 2008).
Berdasarkan pedoman diagnosis dan tatalaksana pneumonia
yang diajukan oleh WHO di dalam buku Mansjoer, dkk (2008),
pneumonia dibedakan atas :
1) Pneumonia sangat berat : bia ada sianosis sentral dan tidak
senggup minum, harus dirawat di RS dan diberi antibiotik.
2) Pneumonia berat : bila ada retraksi, tanpa sianosis, dan masih
sanggup minum, harus dirawat di RS dan diberi antibiotik.
3) Pneumonia : bila tidak ada retraksi tapi napas cepat :
a) > 60x/menit pada bayi < 2 bulan
b) > 50x/menit pada anak 2 bulan 1 tahun
c) > 40x/menit pada anak 1 5 tahun
Tidak perlu dirawat cukup diberi antibiotik oral.
4) Bukan pneumonia : hanya batuk tanpa tanda dan gejala seperti di
atas, tidak perlu dirawat, tidak perlu antibiotik.
B. Kerangka Pemikiran

Balita RIWAYAT
BBLR

Keterangan :
: diteliti
: Tidak
diteliti

Kadar immunoglobulin
rendah

Sistem kekebalan
kurang sempurna
Agen Infeksi:
Bakteri
Virus
Jamur

Meningkatkan morbiditas
& mortalitas penyakit infeksi
Salah satunya pneumonia

Faktor risiko Intrinsik


Status gizi kurang/buruk
Umur
BBLR
Status Imunisasi ( DPT, Campak )
Jenis Kelamin
Pemberian Vitamin A
Pemberian ASI

Pneumonia
Anak Bawah
Lima Tahun

Faktor risiko Ekstrinsik


Kepadatan hunian
Polusi Udara
Tipe rumah
Ventilasi
Pengetahuan ibu

C. Hipotesis
Ada hubungan antara balita riwayat BBLR dengan kejadian
pneumonia pada balita di Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM)
Surakarta.

BAB III
METODE PENELITIAN
A Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional analitik karena
hanya mengukur variabel-variabel yang diteliti, tanpa memberikan intervensi
kepada subjek penelitian dan bertujuan untuk mencari hubungan antara faktor
risiko dan efeknya, yaitu riwayat BBLR terhadap insidensi pneumonia pada
balita. Studi observational analitik ini dilakukan dengan studi cross-sectional.
(Murti, 2003).
B Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat
(BPKPM) Surakarta dan di posyandu wilayah Surakarta.
C Subjek Penelitian
Populasi
sumber
6-59balita
bulan)
Populasi sumber
penelitian
ini (balita
adalah anak
berusia 6-59 bulan.
Sampel yang digunakan terdiri atas kelompok kasus dan kelompok kontrol.
Kelompok
kasus yaitu anak
balita
yang terdiagnosis
pneumonia
BBKPM
Subjek penelitian
sesuai
dengan
kriteria inklusi
dan di
eksklusi
Surakarta. Sedangkan kelompok kontrol adalah anak balita sehat di posyandu
wilayah Surakarta. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive
sampling di mana sampel diambil berdasarkan kriteria restriksi yang terdiri
dari kriteria inklusi dan eksklusi (Murti, 2010).
Kriteria inklusi yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Anak balita usia 6 59 bulan
Balita tanpa Pneumonia
Balita
Pneumonia
2. dengan
Orangtua anak
bersedia menjadi subjek penelitian (informed consent)
Kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah
1.
2.
3.
4.
5.

Pasien dengan HIV positif


Alloanamnesi orangtua
Pasien dengan keganasan
Pasien menderita penyakit paru yang lain
Pasien mengonsumsi obat-obatan imunosupresif
Orangtua tidak bersedia anaknya menjadi subjek penelitian

D Rancangan Penelitian
Balita dengan riwayatBalita
BBLRtanpa riwayat BBLR
Balita dengan riwayat
Balita
BBLR
tanpa riwayat BBLR

Analisis data:
Chi Square dan Odds Ratio

Alloanamnesi orangtua

E Identifikasi Variabel
Variabel adalah entitas, atau karakteristik dari individu, kasus, atau
subjek penelitian yang memiliki variasi nilai kuantitatif atau kategori
kualitatif, baik variasi antar waktu atau antar individu (Vogt, 1993; Streiner
dan Norman, 2000 dalam Murti 2015).
Variabel independen atau disebut juga variabel bebas/vaiabel pengaruh
adalah variabel yang dihipotesiskan mempengaruhi variabel lainnya (variable
terikat). Dalam studi observasional, variabel independen adalah paparan
(exposure), disebut juga faktor penelitian. (Murti, 2015). Dalam penelitian ini,
variabel independen adalah Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR). BBLR
dihipotesiskan mempengaruhi/menjadi faktor penyebab terjadinya Pneumonia.
Variabel dependen atau disebut juga variabel hasil (outcome variable)
adalah variabel yang dihipotesiskan dipengaruhi atau tergantung oleh variabel
lain. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah pneumonia. Kejadian
pneumonia dihipotesiskan dipengaruhi oleh riwayat BBLR.
Variabel luar adalah variabel selain variabel independen yang dapat
mempengaruhi variabel dependen dan perlu dikendalikan agar tidak menjadi
faktor perancu. Variabel luar dalam penelitian ini diantaranya adalah

pemberian ASI, asupan nutrisi, pemberian vitamin A dan status imunisasi


campak.
F Besar Sampel
Sampel penelitian dihitung dengan menggunakan rumus pengujian hipotesis
dua proporsi (Lemeshow, 1977), yaitu :
2

n=

z 1 P2 ( 1P1 ) + P2 (1P2 ) )
P)+
( z1 /2 2 P(1

( P 1P2 )

x Deff

Keterangan :
n = ukuran masing-masing sampel dari kedua kelompok sampel
P2 = perkiraan proporsi sakit pada populasi terpapar = 0,15 (Hanafi, 2015)
P1 P2 = 0,3 (ditetapkan oleh peneliti)
P1 = 0,15 + 0,3 = 0,45
P = (P1 + P2) / 2 = 0,3
Z1-a/2 = 1,96 ; dengan menggunakan a = 0,05
Z1-b = 0,84; dengan menggunakan b = 0,20
Kemudian setelah dihitung berdasarkan rumus di atas, didapatkan n = 36 pada
masing-masing kelompok kasus maupun kontrol. Sehingga ditetapkan bahwa
jumlah sampel pada penelitian ini yaitu 36 sampel pada masing-masing
kelompok.
G Definisi Operasional
1 Variabel bebas: BBLR
Bayi BBLR adalah bayi yang dilakukan penimbangan dalam waktu
kurang dari 24 jam setelah lahir dengan berat badan <2500 gram. Data
2

tersebut diperoleh dari kuisioner dengan orangtua balita.


Variabel terikat: Pneumonia pada balita
Pneumonia pada balita adalah seorang anak yang telah terdiagnosis
menderita pneumonia berdasarkan data pada rekam medik tahun
2015.Manifestasi klinis dalam menegakkan diagnosis antara lain : ada
tarikan dinding dada sebelah bawah ke dalam, ada peningkatan frekuensi
nafas yaitu umur < 2 bulan 60 kali, umur 2 bulan - 1 tahun 50 kali,
umur 1 tahun - 5 tahun 40 kali. Data diperoleh dari diagnosis dokter
selama waktu penelitian yaitu 1 bulan.

Variabel luar
a Variabel luar terkendali: Umur
Umur adalah jumlah tahun yang dihitung sejak kelahiran sampai ulang
tahun terakhir saat penelitian dilakukan. Umur sampel yang digunakan
a

pada penelitian adalah 6 bulan sampai 5 tahun.


Variabel luar tidak terkendali:
1). Jenis Kelamin
Anak laki-laki lebih rentan terkena pneumonia karena diameter
saluran pernapasan anak laki-laki lebih kecil dibandingkan dengan
anak perempuan atau adanya perbedaan dalam daya tahan tubuh
anak laki-laki dan perempuan (Sunyataningkamto, 2004).
2). Riwayat pemberian ASI Balita
Pemberian
Air Susu Ibu (ASI) Ekslusif mengandung
komponen protein yang berperan terutama untuk fungsi kekebalan
tubuh (alfa- laktabumin, beta laktoglobulin, kasein, enzim, faktor
pertumbuhan,

hormon,

laktoferin,

lisozim,

sIgA,

dan

immunoglobulin lain) sehingga berpengaruh pada kekebalan balita


terhadap pneumonia.
3). Status gizi balita
Status gizi mempengaruhi sistem kekebalan tubuh untuk
merespon infeksi. Jika balita mengalami defisiensi nutrisi, maka
akan terjadi penurunan fungsi komplemen, gangguan fungsi
granulosit, dan menyebabkan kekurangan mikronutrien yang
berperan dalam kekebalan tubuh (Sunyataningkamto et al.,
2004)
4). Riwayat imunisasi campak dan DPT
Pneumonia merupakan salah satu komplikasi penyakit campak
dan pertusis. Sehingga, imunisasi campak dan DPT dapat
mencegah terjadinya penyakit pneumonia (Black et al., 2006).
5). Riwayat mendapatkan vitamin A
Pemberian vitamin A yang bersamaan dengan imunisasi dapat
meningkatkan titer antibodi yang spesifik (Hartati et al., 2012).
6). Lingkungan rumah
Keadaan lingkungan rumah menjadi faktor risiko kejadian
pneumonia . Hal hal yang berpengaruh terkait lingkungan rumah
diantaranya jenis lantai rumah, ventilasi, suhu ruangan, tingkat

kepadatan hunian, bahan bakar memasak, serta ada tidaknya


kebiasaan merokok anggota keluarga.
7). Pengetahuan ibu
Pengetahuan ibu tentang pneumonia menjadi faktor risiko
terjadinya pneumonia. Sehingga apabila ibu tidak dapat mengenali
tanda atau gejala serta pencegahan pada pneumonia, maka balita
bisa kurang mendapat penanganan yang baik karena ketidaktahuan
ibu. Selain itu, dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas
balita yang menderita pneumonia (Nurjazuli dan Widyaningtyas,
2009).
H Instrumen Penelitian
Instrumen peneitian yang digunakan berupa informed consent,
rekam medis dan daftar pertanyaan untuk wawancara subjek penelitian.
I

Cara Kerja
1 Peneliti datang ke lokasi penelitian yaitu di Balai Besar Kesehatan Paru
Masyarakat (BBKPM) Surakarta dan Posyandu Ngoresan untuk
2

mengurus perizinan penelitian.


Peneliti mengambil data berupa daftar balita yang memenuhi kriteria
inklusi dan eklslusi penelitian di BBKPM Surakarta dan Posyandu

3
4

Ngoresan.
Peneliti menentukan subjek dari sampling.
Sampel yang telah terpilih kemudian dijelaskan garis besar, tujuan,
manfaat, prosedur penelitian dan jaminan kerahasiaan indentitas

sampel.
Sampel yang telah menandatangani persetujuaan (informed consent)

kemudian dilakukan wawancara untuk menggali riwayat BBLR.


Peneliti mengklasifikasi kejadian pneumonia dengan riwayat BBLR

atau tidak dan kejadian balita sehat dengan riwayat BBLR atau tidak.
Peneliti selanjutnya mengolah data yang diperoleh dengan
menggunakan aplikasi SPSS.

Teknik Analisis
Teknik analisis yang digunakan untuk mengolah data adalah:

Menggunakan uji Chi Square dengan bantuan program Statistical


Program for Social Science (SPSS) bertujuan untuk mengetahui

hubungan antara kedua variable.


Dengan penghitungan Odds Ratio (OR) bertujuan mengetahui
bagaimana hubungan antara kejadian pneumonia pada balita dengan
riwayat BBLR. Taraf signifikansi yang diterapkan adalah 5% atau
dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil OR kemudian dihitung
menggunakan tabel 2x2 (Murti, 2010).

Uji Chi Square


2
N ( ad bc )
x 2=
( a+b ) (c+ d)(a+ c)( b+d )
Keterangan:
N = jumlah sampel
a = pasien pneumonia dengan riwayat BBLR
b = pasien tidak pneumonia dengan riwayat BBLR
c = pasien pneumonia tanpa riwayat BBLR
d = pasien tidak pneumonia dan tidak ada riwayat BBLR
Jika hasil penelitian tidak memenuhi kriteria untuk dilakukan
uji Chi Square, maka dapat dilakukan uji alternatif untuk tabel 2x2
yaitu dengan menggunakan uji Fisher.
Odds Ratio (OR)
Odds ratio adalah membandingkan antara kejadian pneumonia pada
balita riwayat BBLR dengan balita yang tidak memiliki riwayat
BBLR.
Keterangan:
OR= Odds Ratio
a = pasien pneumonia dengan riwayat BBLR
b = pasien tidak pneumonia dengan riwayat BBLR
c = pasien pneumonia tanpa riwayat BBLR
d = pasien tidak pneumonia dan tidak ada riwayat BBLR

DAFTAR PUSTAKA
DahlanZ.2007.Pneumonia.In: Sudoyo A.W.,SetiyohadiB., AlwiI., Simadibrata
M.,SetiatiS.(eds).BukuAjarIlmuPenyakitDalam,JilidII

EdisiIV.

Jakarta:

Pusat Penerbitan DepartemenIlmu PenyakitDalam FKUI, pp 964-965.


Departemen

Kesehatan

Republik

Indonesia.

(2005).

BBLR

dan

Penatalaksanaannya. Jakarta: Depkes RI


Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2008). Perawatan Bayi Lahir
Rendah (BBLR) dengan Metode Kanguru. Jakarta: Depkes RI
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2010). Buku Saku Pelayanan
Kesehatan Neonatal Essential. Jakarta: Depkes RI
Depkes RI, 2004. Angka Kematian Bayi Masih Tinggi. ISPA PembunuhUtama.
Dirjen PPM & PL, Jakarta.
Djojodibroto D. 2009. Respirologi (Respiratory Medicine). Penerbit Buku.
Kedokteran EGC. Jakarta.
Hanafi DA. 2015. Hubungan Pemberian Asi Eksklusif dengan Kasus Pneumonia
Anak Usia 6 Bulan 5 Tahun. Skripsi. Surakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Sebelas Maret.
Hartati, S., 2011. Analisis Faktor Risiko Terjadinya Pneumonia pada Anak
Balitadi RSUD Pasar Rebo Jakarta. Tesis. Fakultas Keperawatan,
UniversitasIndonesia, Depok.
Hidayah Dwi. (2016). Managemen Nutrisi BBLR. Slide Kuliah Pediatri FK UNS.
Surakarta.
Hidayah, Arinil. (2011). Karakteristik Kematian Bayi Berat Badan Lahir Rendah
(BBLR) di RSU Dr. Pirngadi Medan Tahun 2005-2009. Medan: Sumatra
Utara.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2010). Survei Demografi dan
Kesehatan Indonesia 2007. Jakarta: Kemenkes RI
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2013). Riset Kesehatan Dasar
Riskesdas 2013. Jakarta: Kemenkes RI
Kosim M. Sholeh. (2008). Buku Ajar Neonatologi Edisi I. Jakarta: IDAI
Mansjoer A., Suprohaita, Wadhani W.I., Setiowulan W. 2008. Kapita
SelektaKedokteran, Jilid 2 Edisi III. Jakarta : Media Aesculapius FKUI

Manuaba, Ida Bagus. (2010). Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan KB untuk
Bidan. Jakarta: ECG
Nurjazuli, Widyaningtyas R. 2009. Faktor Risiko Dominan Kejadian Pneumonia
Pada Balita. J Respir Indones, 29(2).
Proverawati A, Ismawati Cahyo S. (2010). BBLR (Berat Badan Lahir Rendah).
Yogjakarta: Nuha Medika
Pudjiati Antonius, H., Hegar Badriul, dkk. (2010). Pedoman Pelayanan Medis
Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta: IDAI.
Said, Mardjanis. 2008. Pneumonia. Dalam: Rahajoe, N.N., Supriyatno, B., dan
Setyanto, D.B. (editor). Buku Ajar Respirologi Anak, edisi I. Badan
Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta. halaman 350-364
Sauer PJ, Visser HK. (1984). The Neutral Temperature of very low birth weight
infant. Pediatrics Aug;74(2)
ScottJ.A.,BrooksW.A.,PeirisJ.S.,Holtzman

D.,MulhollandE.K.2008.Review

series:Pneumoniaresearch toreducechildhooldmortality inthedeveloping


world.JClinInvest. 118 : 1291-1300.
Sunyataningkamto et.al., 2004. The role of indoor air pollution and other
factorsin

the

incidence

of

pneumonia

in

under-five

children.

PaediatricaIndonesiana:44(1-2);25-29
Thomas K. (1994). Thermoregulation in Neonates. Neonatal network: NN 13(2),
pp 15-22
United Nations Childrens Fund and World Health Organization. (2004). Low
Birth Weight: Country, Regional, and Global Estimates. New York:
Unicef-WHO.
Wojsyk-banaszak I, Brborowicz A. Pneumonia in Children. INTECH.2013;6.
Dikutip dari: http;//dx.doi.org/10.5772/54052.