Anda di halaman 1dari 23

LO No.

1
GAMBARAN RADIOGRAFI
Radiograf merupakan pemeriksaan penunjang yang sangat penting dalam
menegakkan diagnosa penyakit periodontal, tetapi radiograf semata tidak dapat
menentukan diagnosa.
Beberapa persyaratan umum dalam pemeriksaan radiografik yang lengkap,
yaitu:
1. Rangkaian film yang dibuat, meliputi:
a) Rangkaian foto rontgen periapikal seluruh gigi (full-mouth)
b) Empat foto rontgen sayap gigit periodontal
c) Foto panoramik sebagai tambahan
2. Kualitas foto rontgen yang baik, melipuit densitas, kontras dan pengambilan
sudut yang tepat, serta harus mencakup seluruh detail anatomi daerah yang
dimaksud
Keterbatasan radiografi, yaitu :
a. Radiografi konvensional memberikan gambar dua dimensi. Sedangkan
gigi merupakan objek tiga dimensi yang kompleks. Akibat dari gambar yang tumpang
tindih, detail bentuk tulang menjadi tidak terlihat.
b. Radiografi tidak memperlihatkan permulaan dari penyakit periodontal.
Setidaknya 55 60 % demineralisasi terjadi dan tidak terlihat pada gambaran
radiografi.
c. Radiografi tidak memperlihatkan kontur jaringan lunak dan tidak
merekam perubahan jaringan jaringan lunak pada periodontium.
d. Oleh karena itu, pemeriksaan klinis yang teliti dikombinasi dengan
pemeriksaan radiografik yang tepat dapat memberikan data adekuat untuk diagnosa
keberadaan dan penyebaran dari penyakit periodontal.
Baik data klinis maupun radiografik sangatlah penting dalam mendiagnosis
penyakit periodontal.
Data klinis sebagai berikut:
b. Indeks pendarahan;
c. Kedalaman probing;
d. Edema;
e. Erithema; dan

f. Struktur gingiva.
Radiograf tidak dapat memperlihatkan aktivitas penyakit, tetapi dapat
menunjukkan efek penyakit. Hal-hal yang tidak dapat ditunjukan rontgen adalah
1. Ada atau tidaknya poket
2. Morfologi kelainan bentuk tulang yang pasti, khususnya cacat uang berliiku-liku,
dehisensi, dan fenestrasi
3. Kegoyangan gigi
4. Posisi dan kondisi prosesus alveolar di permukaan fasial dan lingual
5. Keterlibatan furkasi tahap awal
6. Tingkat perlekatan jaringan ikat dan epitel jungsional
Radiografi akan sangat membantu dalam evaluasi jumlah tulang yang ada,
kondisi tulang alveolar, kehilangan tulang pada daerah furkasi, lebar dari ruang
ligamen periodontal, dan faktor lokal yang dapat menyebabkan atau memperparah
penyakit periodontal seperti restorasi yang berkontur buruk atau overhanging dan
karies. Perubahan lainnya yang dapat dilihat pada penyakit periodontal, yaitu lesi
inflamasi di tulang marginal, terlihat aktivitas osteoblas dan osteoklas, aktivitas
osteoklas yang menyebabkan perubahan pada tulang krestal dan respon awal dari
kerusakan tulang serta pada lesi kronis dapat terlihat osteosklerosis.

Gambar 1. Radiografi panoramik menunjukkan adanya


kehilangan tulang akibat periodontitis kronis

Peran radiologi dalam mengenali penyakit periodontal:


2. Morfologi dan panjang akar
3. Perbandingan mahkota : akar klinis
4. Perkiraan banyaknya kerusakan tulang
5. Hubungan antara sinus maksillaris dengan kelainan bentuk jaringan periodontal
6. Resorpsi tulang horizontal dan vertikal pada puncak tulang interproksimal. Harus
diingat bahwa tinggi tulang interseptal yang normal biasanya sejajar dan sekitar
1-2 mm lebih ke apikal bila dibandingkan dengan garis khayal yang ditarik
melalui pertemuan sementoemail gigi-gigi.
7. Pelebaran ruang ligamen periodonsium di daerah mesial dan distal akar.
8. Keterlibatan furkasi tingkat lanjut
9. Kelainan periapeks
9. Kalkulus
10. Restorasi yang mengemper (overhang)
11. Fraktur akar
12. Karies
13. Resorpsi akar
Foto Panoramik
Foto panoramik pertama dikembangkan oleh tentara Amerika Serikat
sebagai cara untuk mempercepat mendapatkan gambaran seluruh gigi untuk
mengetahui kesehatan mulut tentaranya. Foto ronsen ini dapat digunakan untuk
mengevaluasi gigi impaksi, pola erupsi, pertumbuhan dan perkembangan gigi
geligi, mendeteksi penyakit dan mengevaluasi trauma.

Foto panoramik merupakan foto ronsen ekstra oral yang menghasilkan


gambaran yang memperlihatkan struktur fasial termasuk mandibula dan maksila
beserta struktur pendukungnya. Struktur periodontal yang teridentifikasi dalam
radiografi meliputi lamina dura, tulang alveolar, ligamen periodontal dan
sementum.
Foto panoramik dapat mendiagnosa penyakit periodontal kebanyakan pada kasus
yang sudah parah.
Gambaran panoramik adalah sebuah teknik untuk menghasilkan sebuah
gambaran tomografi yang memperlihatkan struktur fasial mencakup rahang maksila
dan mandibula beserta struktur pendukungnya dengan distorsi dan overlap minimal
dari detail anatomi pada sisi kontralateral, Radiografi panoramik dikenal juga dengan
panorex atau orthopantomogram adalah sebuah teknik dimana gambaran seluruh
jaringan gigi ditemukan dalam satu film.
Keuntungan dari panoramik sebagai berikut.
5. Gambar meliputi tulang wajah dan gigi;
6. Dosis radiasi lebih kecil;
7. Nyaman untuk pasien;
8. Cocok untuk pasien yang susah membuka mulut;
9. Waktu yang digunakan pendek biasanya 3-4 menit;
10. Sangat membantu dalam menerangkan keadaan rongga mulut pada pasien
di klinik;
11. Membantu dalam menegakkan diagnostik yang meliputi tulang rahang
secara umum dan evaluasi terhadap trauma, perkembangan gigi geligi pada fase gigi
bercampur;
12. Evaluasi terhadap lesi, keadaan rahang; dan
13. Evaluasi terhadap gigi terpendam.
Kelemahan panoramik adalah sebagai berikut:
i. Detail gambar yang tampil tidak sebaik radiografi intraoral periapikal;
ii. Tidak dapat digunakan untuk mendeteksi karies kecil; dan
iii. Pergerakan
interpretasi.

pasien

selama

penyinaran

akan

menyulitkan

dalam

LO NO 3PERAWATAN SESUAI SKENARIO


Perawatan periodontitis kronis pada skenario dapat dibagi menjadi 3 fase,
yaitu:
Fase I : Fase etiotropik, merupakan fase dengan cara menghilangkan
beberapa faktor etiologi yang mungkin terjadi tanpa melakukan tindakan
bedah periodontal atau melakukan perawatan restoratif dan prostetik.
Berikut ini adalah beberapa prosedur yang dilakukan pada fase I sesuai
skenario adalah :
1. Memberi pendidikan pada pasien tentang kontrol plak.
2. Scaling dan root planning
3. Menghilangkan restorasi gigi yang permukaannya kasar atau over
kontur
4. Penyesuaian oklusal (occlusal ajustment)
Setelah dilakukan fase I, selanjutkan dilakukan fase evaluasi status
periodontal setelah perawatan tersebut diatas

Fase II : Fase bedah, termasuk koreksi terhadap deformitas anatomikal


seperti poket periodontal, berkembang sebagai suatu hasil dari penyakit
sebelumnya dan menjadi faktor predisposisi atau rekurensi dari penyakit
periodontal. Berikut ini adalah bebertapa prosedur yang dilakukan pada
fase ini sesuai skenario adalah:
1. Bedah periodontal, untuk mengeliminasi poket dengan cara antara lain:
kuretase gingiva, dan prosedur regenerasi periodontal (bone and tissue
graft)

Fase III: fase pemeliharaan, dilakukan untuk mencegah terjadinya


kekambuhan pada penyakit periodontal. Berikut ini adalah beberapa
prosedur yang dilakukan pada fase ini:
1. Reevalusi kesehatan periodontal setiap 6 bulan dengan mencatat skor
plak, ada tidaknya inflamasi gingiva, dan kedalaman poket

2. Melekukan radiografi untuk mengetahui perkembangan periodontal


dan tulang alveolar tiap 3 atau 4 tahun sekali.
3. Scalling dan polishing tiap 6 bulan seksli, tergantung dari evektivitas
kontrol plak pasien dan pada kecenderungan pembentukan kalkulus

NIAKU TAMBAHIN DI BAWAH YAA SAPA TAU BERGUNA U PILIH AJA


SENDIRI YA YG MAU U AMBIL HEHE MAKAZEH

Secara umum prosedur diagnosa dapat dibagi menjadi empat bagian, antara
lain: (1) melakukan anamnesa dan mencatat riwayat pasien, (2) melakukan
pemeriksaan terhadap pasien (pemeriksaan fisik dan laboratorium), (3) Evaluasi
dari hasil anamnesa dan hasil pemeriksaan fisik serta laboratorium yang akan
menuntun ke arah perumusan suatu diagnosa, (4) Penilaian resiko medis untuk
pasien-pasien gigi. Menurut Carranza (1990), suatu diagnosis penyakit periodontal
dapat ditegakkan melalui diagnosis klinis, radiografi, dan teknik lanjutan.
DIAGNOSIS KLINIS
Kunjungan pertama
Pada saat kunjungan pertama ini, seorang dokter gigi perlu menilai
beberapa hal seperti:
1. Penilaian pasien secara keseluruhan
Seorang operator harus mencoba menilai pasien secara keseluruhan.
Hal-hal yang perlu dipertimbangkan adalah status mental dan emosional
pasien, tabiat, sikap, dan umur fisiologi .
2. Riwayat sistemik
Menurut Carranza (1990), suatu riwayat sistemik akan menolong
operator dalam hal (1) diagnosis manifestasi oral dari penyakit sistemik, (2)
penemuan kondisi sistemik yang dapat mempengaruhi respon jaringan
periodontal terhadap faktor lokal, (3) penemuan kondisi sistemik yang
membutuhkan

suatu

tindakan

pencegahan

dan

modifikasi

dalam

perawatannya. Suatu riwayat sistemik harus mengacu pada hal-hal sebagai


berikut:
e. Apakah pasien sedang dalam perawatan dokter; jika iya, tanyakan asal,
durasi penyakit serta terapinya. Penyidikan dapat dilakukan berdasarkan

dosis dan durasi terapi dengan antikoagulan dan kortikosteroid.


g. Riwayat rheumatic fever, rheumatic atau penyakit jantung kongenital,
hipertensi, angina pectoris, myocardial infarction, nefritis, penyakit ginjal,
diabetes, dan/atau pingsan.
h. Kecendrungan perdarahan yang abnornal seperti hidung yang berdarah,
perdarahan yang lama pada luka kecil, ecchymosis spontan, kecendrungan
terhadap memar yang berlebihan, dan perdarahan menstruasi yang
berlebihan.
i. Penyakit infeksi, termasuk berkontak dengan penyakit infeksi di rumah
atau di kantor, atau baru saja mendapat rontgen di bagian dada.
j. Kemungkinan memiliki penyakit akibat pekerjaannya.
k. Riwayat alegi, termasuk hay fever, asma, sensitif terhadap makanan, atau
sensitif terhadap obat misalnya aspirin, codeine, barbiturat, sulfonamide,
antibiotik, prokain, dan laxatives atau terhadap bahan dental seperti
eugenol atau resin akrilik.
l. Informasi onset pubertas dan menopause dan mengenai kelainan menstrual
atau hysterectomy, kehamilan, atau keguguran.
3. Riwayat kesehatan gigi
Pada saat mencari riwayat kesehatan gigi, praktisi mendapat
kesempatan untuk menulai perilaku pasien, membangun hubungan, dan
mempelajari penyakit gigi yang telah lalu serta responya terhadap perawatan.
Juga penting untuk mengetahui cara pemeliharaan kebersihan mulut yang
selama ini dilakukan oleh pasien di rumah yang mencerminkan pengetahuan
pasien tentang kesehatan gigi (Fedi dkk, 2005). Menurut Carranza (1990), pada
saat pengumpulan riwayat kesehatan gigi, harus ditanyakan pula keluhan
utama pasien. Gejala pasien dengan penyakit gingival dan periodontal
berhubungan dengan perdarahan pada gusi, spacing pada gigi yang
sebelumnya tidak ada, bau mulut, dan rasa gatal pada gusi yang dapat
berkurang melalui pencungkilan dengan tusuk gigi. Selain itu juga terdapat
rasa nyeri dengan variasi tipe dan durasi, misalnya konstan, tumpul, gnawing
3

pain, rasa nyeri yang tumpul setelah makan, rasa nyeri yang dalam rahang,
rasa nyeri akut, sensitif ketika mengunyah, sensitif terhadap panas dan dingin,
sensasi terbakar pada gusi, dan sensitif terhadap udara yang dihirup. Riwayat
dental harus meliputi acuan seperti:
b. Kunjungan ke dokter gigi meliputi frekuensi, tanggal terakhir kunjungan,
dan perawatannya. Profilaksis oral atau pembersihan oleh dokter gigi
frekuensi dan tanggal terakhir dibersihkan.
c. Menyikat gigi frekuensi, sebelum atau sesudah makan, metode, tipe sikat
gigi dan pasta, serta interval waktu digantinya sikat gigi.
d. Perawatan ortodontik durasi dan perkiraan waktu selesai.
e. Rasa nyeri di gigi atau di gusi cara rasa nyeri terpancing, asal dan
durasinya, dan cara menghilangkan rasa nyeri tersebut.
f. Gusi berdarah kapan pertama kali diketahui; terjadi spontan atau tidak,
terjadi saat sikat gigi atau saat makan, terjadi pada malam hari atau pada
periode yang teratur; apakah gusi berdarah berhubungan dengan periode
menstruasi

atau

faktor

spesifik;

durasi

perdarahan

dan

cara

menghentikannya.
g. Bau mulut dan daerah impaksi makanan
h. Kegohayan gigi apakah terasa hilang atau tidak nyaman pada gigi?
Apakah terdapat kesulitan pada saat mengunyah?
i. Riwayat masalah gusi sebelumnya
j. Kebiasaan grinding teeth atau clenching teeth pada malam hari atau
setiap waktu. Apakah otot gigi terasa sakit pada pagi hari? Kebiasaan
lainnya seperti merokok, menggigit kuku, dan menggigit benda asing.
4. Survey radiografi intraoral
Survey radiografi minimum terdiri dari 14 film intraoral dan 4
bitewing posterior. Survey lengkung gigi dan struktur sekitarnya dapat dilihat
dengan

mudah

melalui

radiograf

panoramik.

Radiograf

panoramik

menyediakan gambar radiografi keseluruhan yang informatif untuk melihat


distribusi dan keparahan kerusakan tulang pada penyakit periodontal, namun
4

film intraoral yang lengkap dibutuhkan untuk diagnosis periodontal dan


rencana perawatan.
14. Cetakan rahang
Cetakan rahang berguna sebagai bantuan visual dalam diskusi dengan pasien
dan berguna untuk perbandingan antara sebelum dan sesudah perawatan
maupun untuk acuan pada kunjungan check-up .
15. Foto klinis
Foto tidaklah begitu penting, namun foto berguna untuk merekam tampilan
jaringan sebelum dan setelah perawatan .
16. Peninjauan kembali pemeriksaan awal
Kunjungan kedua
1. Pemeriksaan rongga mulut
Menurut Carranza (1990), pemeriksaan rongga mulut meliputi oral hygiene,
bau mulut, pemeriksaan rongga mulut, dan pemeriksaan kelenjar getah
bening.
Oral hygiene
Oral hygiene atau kebersihan rongga mulut dinilai dari tingkat
akumulasi debris makanan, plak, material alba, dan stain permukaan gigi.
Pemeriksaan jumlah kualitatif plak dapat membantu menegakkan diagnosis.
Bau Mulut
Halitosis atau fetor ex ore atau fetor oris, adalah bau atau aroma
menyengat yang berasal dari rongga mulut. Adanya halitosis dapat membantu
dalam menegakkan diagnosa. Halitosis berhubungan dengan penyakitpenyakit tertentu, dan dapat berasal dari faktor lokal maupun ekstraoral.
Sumber lokal penyebab halitosis dapat berasal dari impaksi makanan diantara
gigi, coated tongue, acute necrotizing ulcerative gingivitis (ANUG), dehidrasi,
karies, gigi palsu, nafas perokok, dan penyembuhan pasca operasi atau
pencabutan gigi. Karakteristik bau busuk dari ANUG sangat mudah
diidentifikasi.
5

Ekstraoral atau sumber bau mulut yang jauh berasal dari penyakit atau
struktur yang berdekatan berhubungan dengan rhinitis, sinusitis, atau
tonsillitis; penyakit pada paru-paru dan bronkus; dan bau yang dikeluarkan
melalui paru-paru dari substansi aromatik dalam aliran darah seperti metabolit
dari infus makanan atau produk eksretori dari metabolisme sel.
Pemeriksaan Rongga Mulut
Pemeriksaan rongga mulut meliputi bibir, dasar mulut, lidah, palatum,
dan daerah oropharyngeal, serta kualitas dan kuantitas saliva. Walaupun hasil
pemeriksaan tidak berhubungan dengan penyakit peridontal, seorang dokter
gigi harus mendeteksi perubahan patologis yang terjadi.
Pemeriksaan Kelenjar Getah Bening
Kelenjar getah bening dapat membesar dan/atau mengeras sebagai
respon episode infeksi, metastase malignant, atau perubahan residual fibrotik.
Kelenjar yang inflamasi menjadi membesar, terpalpasi, empuk, dan tidak
bergerak. Acute herpetic gingivostomatitis, ANUG, dan abses periodontal akut
menghasilkan pembesaran kelenjar getah bening.
2. Pemeriksaan gigi
Menurut Carranza (1990), aspek-aspek pada gigi yang diperiksa adalah
kariesnya,

perkembangan

kecacatan,

anomali

bentuk

gigi,

wasting,

hipersensitifitas, dan hubungan kontak proksimal.


Wasting disease of the teeth
Wasting

diartikan sebagai pengurangan substansi gigi secara

berangsur-angsur yang terkarakteristik oleh pembentukan permukaan yang


halus, dan mengkilat. Bentuk dari wasting adalah erosi, abrasi, dan atrisi.
Erosi adalah depresi berbentuk baji pada daerah servik permukaan fasial gigi.
Abrasi adalah hilangnya substansi gigi yang disebabkan oleh penggunaan
mekanis mastikasi. Atrisi adalah terkikisnya permukaan oklusal akibat kontak
fungsional dengan gigi antagonis.
Dental Stains
Dental stains adalah deposit yang terpigmentasi pada gigi. Dental
6

stain harus diperiksa dengan teliti untuk menentukan penyebabnya.


Hipersensitifitas
Akar gigi yang terbuka akibat resesi gingiva menjadi sensitif terhadap
perubahan suhu atau stimulasi taktil. Pasien sering menunjuk langsung lokasi
yang sensitif. Hipersensitifitas dapat diketahui melalui eksplorasi dengan
probe atau udara dingin.
Hubungan kontak proksimal
Terbukanya kontak yang tipis menyebabkan impaksi makanan. Hal ini
dapat dicek melalui obeservasi klinis dan dengan dental floss.
Kegoyahan gigi
Kegoyahan gigi terjadi dalam dua tahapan:
iv. Inisial atau tahap intrasoket, yakni pergerakan gigi yang masih dalam
batas

ligamen

periodontal.

Hal

ini

berbungan

dengan

distorsi

viskoelastisitas ligamen periodontal dan redistribusi cairan peridontal, isi


interbundle, dan fiber. Pergerakan inisial ini terjadi dengan tekanan sekitar
100 pon dan pergerakan yang terjadi sebesar 0.05 sampai 0.1 mm (50
hingga 100 mikro)
v. Tahapan kedua, terjadi secara bertahap dan memerlukan deformasi elastik
tulang alveolar sebagai respon terhadap meningkatnya tekanan horizontal.
Ketika mahkota diberi tekanan sebesar 500 pon maka pemindahan yang
terjadi sebesar 100-200 mikro untuk incisivus, 50-90 mikro untuk caninus,
8-10 mikro untuk premolar dan 40-80 mikro untuk molar.
Kegoyahan gigi dapat diperiksa secara klinis dengan cara: gigi
dipegang dengan kuat diantara dua instrumen atau dengan satu instrumen dan
satu jari, dan diberikan sebuah usaha untuk menggerakkannya ke segala arah .
Pada gambar dibawah ini, peningkatan kegoyangan gigi ditentukan dengan
memberikan gaya 500 g pada permukaan labiolingual dengan menggunakan
dua instrumen dental .

Gambar 1. Pemeriksaan Kegoyangan Gigi

Menurut Fedi dkk (2004), kegoyahan gigi dibedakan menjadi :


i. Derajat 1 kegoyangan gigi yang sedikit lebih besar dari normal
ii. Derajat 2 kegoyangan gigi sekitar 1 mm
iii. Derajat 3 kegoyangan gigi lebih dari 1 mm pada segala arah atau gigi
dapat ditekan ke arah apikal.
Kegoyangan gigi yang patologis terutama disebabkan oleh (1) infamasi
gingiva dan jaringan periodontal, (2) kebiasaan parafungsi oklusal, (3) oklusi
prematur, (4) kehilangan tulang pendukung, (5) gaya torsi yang menyebabkan
trauma pada gigi yang dijadikan pegangan cengkraman gigi, (6) terapi
periodontal, terapi endodontik, dan trauma dapat menyebabkan kegoyahan
gigi sementara (Fedi dkk, 2004).
Trauma dari oklusi
Trauma dari oklusi mengacu pada luka jaringan yang diakibatkan
tekanan oklusal. Tanda pada jaringan periodontal yang dicurigai sebagai akibat
adanya trauma dari oklusi antara lain: kegoyangan gigi yang berlebihan; pada
gambar radiografi terlihat jarak periodontal yang melebar; kerusakan tulang
vertikal atau angular; poket infraboni; dan migrasi patologis, terutama pada
gigi anterior. Tanda lainnya yang dicurigai adanya hubungan oklusal yang
abnormal adalah migrasi gigi anterior yang patologis .

Migrasi gigi yang patologis


Kontak prematur pada gigi posterior yang membelokkan mandibula ke
arah anterior ikut berperan serta terhadap rusaknya periodonsium gigi maksila
bagian anterior dan terhadap migrasi patologis. Migrasi patologis gigi anterior
pada orang muda mungkin sebagai tanda adanya localized juvenile
periodontitis .
Sensitifitas terhadap perkusi
Sensitifitas terhadap perkusi merupakan ciri adanya inflamasi akut
pada ligamen periodontal. Perkusi yang keras pada gigi dengan sudut yang
berbeda terhadap aksis gigi membantu menentukan lokasi yang terlibat
inflamasi .
Kedaan gigi pada saat rahang tertutup
Pemeriksaan keadaan gigi pada saat rahang tertutup tidak memberikan
informansi seperti saat pemeriksaan rahang ketika berfungsi, namun
pemeriksaan ini dapat menunjukkan kondisi peridontal. Gigi yang tersusun
secara ireguler, gigi yang ekstrusi, kontak proksimal yang tidak tepat, dan
daerah impaksi makanan merupakan faktor yang mendukung akumulasi
bakteri plak. Misalnya pada kasus hubungan open bite, dimana terdapat celah
yang abnormal antara maksila dan mandibula. Kurangnya pembersihan
mekanis oleh jalan lintas makanan, dapat menyebabkan akumulasi debris,
pembentukan kalkulus, dan ekstrusi gigi .
3. Pemeriksaan periodonsium
Pemeriksaan periodonsium harus sistematik, dimulai dari regio molar
baik pada maksilla maupun mandibula kemudian diteruskan ke seluruh
rahang. Semua temuan pada pemeriksaan periodonsium ini dicatat pada
periodontal chart sehingga berguna sebagai catatan kondisi pasien dan untuk
evaluasi respon pasien terhadap perawatan. Hal-hal yang perlu dilakukan pada
tahap ini adalah pemeriksaan plak dan kalkulus, gingiva, poket periodontal,
penentuan aktivitas penyakit, jumlah gingiva cekat, alveolar bone loss,
palpasi, supurasi, dan abses peridontal .
9

Plak dan Kalkulus


Pemeriksaan jumlah plak dan kalkulus dapat dilakukan melalui
berbagai macam metode. Pemeriksaan plak dapat menggunakan plak indeks.
Jaringan yang mengelilingi gigi dibagi menjadi 4 bagian, yaitu papilla
distofasial, margin fasial, papilla mesiofasial, dan bagian lingual . Visualisasi
plak dapat dilakukan dengan mengeringkan gigi dengan udara. Plak adalah
bagian yang tidak memiliki stain

Gambar 2. Pemeriksaan plak

Adanya kalkulus supragingiva dapat terlihat melalui observasi


langsung, dan jumlahnya dapat diukur dengan probe yang terkalibrasi. Untuk
mendeteksi kalkulus subgingiva, setiap permukaan gigi diperiksa hingga batas
perlekatan gingiva dengan menggunakan eksplorer no.17 atau no.3A. Udara
yang hangat dapat digunakan untuk sedikit membuka gingiva sehingga
visualisasi terhadap kalkulus lebih jelas .

10

Gambar 3. Deteksi kehalusan (atas kanan) atau iregularitas


pada permukaan akar dengan pergerakan probe atau eksplorer
di luar. Kalkulus (atas tengah), karies (atas kiri), margin
restorasi yang irregular (bawah kanan dan kiri)
Gingiva
Gingiva harus dikeringkan terlebih dahulu untuk mendapatkan
observasi yang akurat. Selain melalui pemeriksaan secara visual dan
eksplorasi dengan instrumen, pemeriksaan dilakukan dengan palpasi yang erat
namun halus. Hal ini dilakukan untuk mendeteksi kelainan patologis pada
kelentingan normal dan mengetahui lokasi pembentukan pus. Beberapa hal
yang perlu dipertimbangkan pada saat pemeriksaan gingiva antara lain: warna,
ukuran, kontur, konsistensi, tekstur permukaan, posisi, kemudahan untuk
berdarah, dan rasa nyeri.
Dari pemeriksaan klinis, inflamasi gingiva menghasilkan dua respon
dasar jaringan, yaitu edematous dan fibrotik. Respon jaringan yang edematous
memiliki karakteristik halus, glossy, halus dan gingiva berwarna merah.
Respon jaringan yang fibrotik memiliki karakteristik seerti gingiva normal
namun lebih kuat, berstippling, dan opaque, walaupun terkadang lebih tebal
dan marginnya terlihat membulat.

11

Penggunaan Indeks Klinis


Dari semua indeks yang ada, Gingival Index dan Sulcus Bleeding
Index merupakan dua indeks yang paling berguna dan mudah pada
penggunaan di klinik.
1. Gingival index (Loe dan Silness)
Gingival index menyediakan penilaian status inflamasi gingiva yang
digunakan dalam praktek untuk membandingkan kesehatan gingiva
sebelum dan setelah terapi fase I atau sebelum dan setelah operasi;
gingival index juga untuk membandingkan status gingiva pada kunjungan
rutin.

Gambar 4. Penilaian gingival index

12

2. Sulcus bleeding index (Muhlemann dan Son)


Indeks ini berguna untuk mendeteksi perubahan awal inflamasi dan
adanya lesi inflamasi pada dasar poket peridontal, sebuah area yang tidak
terjangkau dengan pemeriksaan visual . Sulcus bleeding index
mempertimbangkan perdarahan dari sulkus setelah probing, seperti pada
erythema, pembengkakan, dan edema. Penilaian dilakukan terpisah pada
bagian papilla dan margin gingiva

Gambar 5. Penilaian Sulcus Bleeding Index


(Rateitschak dkk, 1985)
Poket Periodontal
Pemeriksaan poket periodontal harus mempertimbangkan: keberadaan
dan distribusi pada semua permukaan gigi, kedalaman poket, batas perlekatan
pada akar gigi, dan tipe poket (supraboni atau infaboni; simple, compound atau
kompleks). Metode satu-satunya yang paling akurat untuk mendeteksi poket
peridontal adalah eksplorasi menggunakan probe peridontal. Poket tidak
terdeteksi oleh pemeriksaan radiografi. Periodontal poket adalah perubahan
jaringan lunak. Radiografi menunjukkan area yang kehilangan tulang dimana
dicurigai adanya poket. Radiografi tidak menunjukkan kedalaman poket
sehingga radiografi tidak menunjukkan perbedaan antara sebelum dan sesudah
penyisihan poket kecuali kalau tulangnya sudah diperbaiki. Ujung gutta percha
atau ujung perak yang terkalibrasi dapat digunakan dengan radiografi
13

untuk menentukan tingkat perlekatan poket peridontal.


Menurut Carranza (1990), kedalaman poket dibedakan menjadi dua
jenis, antara lain:
1. Kedalaman biologis
Kedalaman biologis adalah jarak antara margin gingiva dengan dasar
poket (ujung koronal dari junctional epithelium).
2. Kedalaman klinis atau kedalaman probing
Kedalaman klinis adalah jarak dimana sebuah instrumen ad hoc (probe)
masuk kedalam poket. Kedalaman penetrasi probe tergantung pada
ukurang probe, gaya yang diberikan, arah penetrasi, resistansi jaringan,
dan kecembungan mahkota.
Kedalaman penetrasi probe dari apeks jaringan ikat ke junctional
epithelium adalah 0.3 mm. Gaya tekan pada probe yang dapat ditoleransi dan
akurat adalah 0.75 N. Teknik probing yang benar adalah probe dimasukkan
pararel dengan aksis vertikal gigi dan berjalan secara sirkumferensial
mengelilingi permukaan setiap gigi untuk mendeteksi daerah dengan penetrasi
terdalam . Jika terdapat banyak kalkulus, biasanya sulit untuk mengukur
kedalaman

poket

karena

kalkulus

menghalangi

masuknya

probe.

Maka,dilakukan pembuangan kalkulus terlebih dahulu secara kasar (gross


scaling) sebelum dilakukan pengukuran poket

Gambar 6. Probe berjalan untuk mengetahui poket dan perluasannya


14

Untuk mendeteksi adanya interdental craters, maka probe diletakkan


secara oblique baik dari permukaan fasial dan lingual sehingga dapat
mengekplorasi titik terdalam pada poket yang terletak dibawah titik kontak .

Gambar 6. Insersi probe secara vertikal (kiri) tidak


mendeteksi interdental crater; probe dengan posisi oblique
(kanan) mencapai titik terdalam crater.

Pada gigi berakar jamak harus diperiksa dengan teliti adanya


keterlibatan furkasi. Probe dengan desain khusus (Nabers probe) memudahkan
dan lebih akurat untuk mengekplorasi komponen horizontal pada lesi furkasi .

Gambar 7. Eksplorasi dengan probe peridontal (kiri);


Nabers probe (kanan)

15

Selain kedalaman poket, hal lain yang penting dalam diagnostik adalah
penentuan tingkat perlekatan (level of attachment). Kedalaman poket adalah
jarak antara dasar poket dan margin gingiva. Kedalaman poket dapat berubah
dari waktu ke waktu walaupun pada kasus yang tidak dirawat sehingga posisi
margin gingiva pun berubah. Poket yang dangkal pada 1/3 apikal akar
memiliki kerusakan yang lebih parah dibandingkan dengan poket dalam yang
melekat pada 1/3 koronal akar. Cara untuk menentukan tingkat perlekatan
adalah pada saat margin gingiva berada pada mahkota anatomis, tingkat
perlekatan ditentukan dengan mengurangi kedalaman poket dengan jarak
antara margin gingiva hingga cemento-enamel junction .
Insersi probe pada dasar poket akan mengeluarkan darah apabila
gingiva mengalami inflamasi dan epithelium poket atrofi atau terulserasi.
Untuk

mengecek

perdarahan

setelah

probing,

probe

perlahan-lahan

dumasukkan ke dasar poket dan dengan berpindah sepanjang dinding poket.


Perdarahan seringkali muncul segera setelah penarikan probe, namun
perdarahan juga sering tertunda hingga 30-60 detik setelah probing .
Penentuan aktivitas penyakit
Penentuan kedalaman poket dan tingkat perlekatan tidak memberikan
informasi apakah lesi tersebut berada dalam kondisi aktif atau inaktif. Suatu
lesi inaktif menunjukkan tidak sama sekali atau sedikit perdarahan pada
probing dan jumlah cairan gingiva yang minimal; flora bakteri didominasi oleh
bentuk sel coccoid. Lesi yang aktif berdarah lebih cepat saat probing dan
memiliki sejumlah cairan dan eksudat; bakteri yang dominan adalah
spirochetes dan motile. Pada kasus localized juvenile periodontitis, baik
progressing dan nonprogressing, tidak memiliki perbedaan tempat saat
bleeding on probing. Penentuan aktivitas yang cermat akan langsung
mempengaruhi dignosis, prognosis, dan terapi .

16

Jumlah Gingiva Cekat


Menurut Carranza (1990), lebar gingiva cekat adalah jarak antara
mucogingival junction dan proyeksi pada permukaan eksternal dari dasar
sulkus gingiva atau poket peridontal. Lebar gingiva cekat ditentukan dengan
mengurangi kedalaman sulkus atau poket dari kedalaman total gingiva (margin
gingiva hingga garis mucogingival).
Alveolar Bone Loss
Menurut Carranza (1990), alveolar bone loss dievaluasi melalui
pemeriksaan klinis dan radiografi. Probing berguna untuk menentukan tinggi
dan kontur tulang bagian fasial dan lingual yang kabur pada radiograf akibat
kepadatan akar dan untuk menentukan arsitektur tulang interdental. Pada
daerah yang teranestesi, informasi arsitektur tulang dapat diperoleh dengan
melakukan transgingival probing.
Palpasi
Palpasi mukosa oral pada daerah lateral dan apikal gigi dapat
membantu untuk menunjuk tempat asal rasa nyeri yang tidak dapat
ditunjukkan oleh pasien. Palpasi juga dapat mendeteksi infeksi jauh didalam
jaringan peridontal dan tahap awal abses peridontal .
Abses Periodontal
Abses peridontal adalah akumulasi pus yang terlokalisasi dalam
dinding gingiva pada poket peridontal. Abses periodontal dapat akut dan
kronis. Peridontal abses akut terlihat sebagai peninggian ovoid pada gingiva
sepanjang aspek lateral akar. Gingiva terlihat edematous dan merah, dengan
permukaan yang halus dan mengkilat. Bentuk dan konsistensi pada area yang
meninggi bervariasi; bisa berbentuk seperti kubah, agak keras, dan halus.
Seringkali pasien memiliki gejala peridontal abses akut tanpa tanda klinis dan
radiografi yang terlihat. Peridontal abses akut memiliki gejala seperti rasa
nyeri

berdenyut,

sensitif

terhadap

palpasi

gigi,

kegoyangan

gigi,

lymphadenitis, dan sedikit tanda sistematik seperti demam, leukositosis, dan


malaise. Abses peridontal kronis terlihat sebagai sinus yang membuka ke arah
17

mukosa gingiva sepanjang akar gigi. Abses peridontal kronis biasanya asimptomatik.
Pasien seringkali mengeluhkan rasa nyeri yang tumpul, sedikit peninggian pada gigi, dan
keinginan untuk menggigit dan menggesekkan gigi .
Carranza, F.A., 1990, Glickman's clinical Periodontology, 7th Ed, W.B Saunders Company,
Philadelphia, h.476Fedi, F.J., Vernino, A.R., Gray, J.L., 2004, Silabus Periodonti, Edisi 4, EGC, Jakarta, h.46-61
Harty, F.J., dan Ogston, R., 1995, Kamus Kedokteran Gigi, EGC, Jakarta
Lynch, M.A., Brightman, V.J., Greenberg, M.A., 1992, Ilmu Penyakit Mulut: Diagnosis dan
Terapi, Edisi 8, Binarupa Aksara, Jakarta
Rateitschak, K.H, Rateitschak., E.M, Wolf, H.F., Hassell, T.M., 1985, Color Atlas of
Periodontology, Georg Thieme Verlag Sturrgart, New York
Rose, L.F., Mealy, B.L., Genco, R.J., Cohen., D.W., 2004, Periodontics: Medicine, Surgery,
and Implants, Mobsy, St.Louis
Suproyo, H., 2007, Bahan Ajar Penatalaksanaan Penyakit Jaringan Periodontal,
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta