Anda di halaman 1dari 9

3.

1 Implementasi Strategi Pembiayaan Kesehatan

Implementasi strategi pembiayaan kesehatan di suatu negara diarahkan kepada beberapa hal
pokok yakni; kesinambungan pembiayaan program kesehatan prioritas, reduksi pembiayaan
kesehatan secara tunai perorangan (out of pocket funding), menghilangkan hambatan biaya
untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, pemerataan dalam akses pelayanan, peningkatan
efisiensi dan efektifitas alokasi sumber daya (resources) serta kualitas pelayanan yang
memadai dan dapat diterima pengguna jasa.

3.1.1 Strategi pembiayaan kesehatan

Identifikasi dan perumusan faktor utama pembiayaan kesehatan mencakup aspek-aspek:

1. Kecukupan/adekuasi dan kesinambungan pembiayaan kesehatan pada tingkat pusat dan


daerah yang dilakukan dalam langkah-langkah:

a. mobilisasi sumber-sumber pembiayaan baik sumber-sumber tradisional maupun non


tradisional,

b. kesinambungan fiscal space dalam anggaran kesehatan nasional,

c. peningkatan kolaborasi intersektoral untuk mendukung pembiayaan kesehatan

2. Pengurangan pembiayaan Out Of Pocket (OOP) dan meniadakan hambatan pembiayaan


untuk mendapatkan pelayanan kesehatan terutama kelompok miskin dan rentan
(pengembangan asuransi kesehatan sosial) yang dilakukan melalui:

a. promosi pemerataan akses dan pemerataan pembiayaan dan utilisasi pelayanan,

b. pencapaian universal coverage dan penguatan jaminan kesehatan masyarakat miskin dan
rentan.

3. Peningkatan efisiensi dan efektifitas pembiayaan kesehatan yang dilakukan melalui:

a. kesesuaian tujuan kesehatan nasional dengan reformasi pembiayaan yang diterjemahkan


dalam instrument anggaran operasional dan rencana pembiayaan,

b. penguatan kapasitas manajemen perencanaan anggaran dan pemberi pelayanan kesehatan


(providers),

c. pengembangan best practices

3.1.2 Pokok utama pembiayaan kesehatan

Pokok utama dalam pembiayaan kesehatan adalah:

1. Mengupayakan kecukupan/adekuasi dan kesinambungan pembiayaan kesehatan pada


tingkat pusat dan daerah .
2. Mengupayakan pengurangan pembiayaan OOP dan meniadakan hambatan pembiayaan
untuk mendapatkan pelayanan kesehatan terutama kelompok miskin dan rentan melalui
pengembangan jaminan.

3. Peningkatan efisiensi dan efektifitas pembiayaan kesehatan. Pengembangan jaminan


kesehatan dilakukan dengan beberapa skema sebagai berikut:

a. Pengembangan jaminan pemeliharaan kesehatan keluarga miskin (JPK-Gakin).

b. Pengembangan Jaminan Kesehatan (JK) sebagai bagian dari Sistem Jaminan Sosial
Nasional (SJSN)

c. Pengembangan jaminan kesehatan berbasis sukarela:

Asuransi kesehatan komersial

Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM) sukarela

4. Pengembangan jaminan kesehatan sektor informal:

a. Jaminan kesehatan mikro (dana sehat)

b. Dana sosial masyarakat

Prioritas pembangunan kesehatan sedapat mungkin lebih diarahkan untuk masyarakat miskin
mereka yang jumlahnya mayoritas dan telah banyak terampas haknya selama ini. Untuk itu,
sasaran dari subsidi pemerintah di bidang kesehatan perlu dipertajam dengan jalan antara
lain:

Pertama, meningkatkan anggaran bagi program-program kesehatan yang banyak berkaitan


dengan penduduk miskin. Misalnya program pemberantasan penyakit menular, pelayanan
kesehatan ibu dan anak, serta peningkatan gizi masyarakat.

Kedua, meningkatkan subsidi bagi sarana pelayanan kesehatan yang banyak melayani
penduduk miskin, yaitu Puskesmas dan Puskesmas Pembantu, ruang rawat inap kelas III di
rumah sakit. Untuk itu, subsidi bantuan biaya operasional rumah sakit perlu ditingkatkan
untuk menghindari praktik eksploitasi dan pemalakan pasien miskin atas nama biaya
perawatan.

Ketiga, mengurangi anggaran bagi program yang secara tidak langsung membantu
masyarakat miskin mengatasi masalah kesehatannya. Contohnya adalah pengadaan alat
kedokteran canggih, program kesehatan olahraga dan lain sebagainya.

Keempat, mengurangi subsidi pemerintah kepada sarana pelayanan kesehatan yang jarang
dimanfaatkan oleh masyarakat miskin, misalnya pembangunan rumah sakit-rumah sakit
stroke.

3.2 Pola Pembayaran serta Cara Pembiayaan Kesehatan

3.2.1 Pola pembiayaan kesehatan


Macam-macam pola pembiayaan kesehatan

1. Penataan Terpadu (managed care)

Merupakan pengurusan pembiayaan kesehatan sekaligus dengan pelayanan kesehatan. Pada


saat ini penataan terpadu telah banyak dilakukan di masyarakat dengan program Jaminan
Pelayanan Kesehatan Masyarakat atau JPKM. Managed care membuat biaya pelayanan
kesehatan yang dikeluarkan bisa lebih efisien. Persyaratan agar pelayanan managed care di
perusahaan dapat berhasil baik, antara lain:

a. Para pekerja dan keluarganya yang ditanggung perusahaan harus sadar bahwa
kesehatannya merupakan tanggung jawab masing-masing atau tanggung jawab individu.
Perusahaan akan membantu upaya untuk mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
Hal ini perlu untuk menghidari bahaya moral hazard.

b. Para pekerja harus menyadari bahwa managed care menganut sistem rujukan.

c. Para pekerja harus menyadari bahwa ada pembatasan fasilitas berobat, misalnya obat yang
digunakan adalah obat generik kecuali bila keadaan tertentu memerlukan life saving.

d. Prinsip kapitasi dan optimalisasi harus dilakukan

2. Sistem reimbursement

Perusahaan membayar biaya pengobatan berdasarkan fee for services. Sistem ini
memungkinkan terjadinya over utilization. Penyelewengan biaya kesehatan yang dikeluarkan
pun dapat terjadi akibat pemalsuan identitas dan jenis layanan oleh karyawan maupun
provider layanan kesehatan.

3. Asuransi

Perusahaan bisa menggunakan modal asuransi kesehatan dalam upaya melaksanakan


pelayanan kesehatan bagi pekerjanya. Dianjurkan agar asuransi yang diambil adalah asuransi
kesehatan yang mencakup seluruh jenis pelayanan kesehatan (comprehensive), yaitu kuratif
dan preventif. Asuransi tersebut menanggung seluruh biaya kesehatan, atau group health
insurance (namun kepada pekerja dianjurkan agar tidak berobat secara berlebihan).

4. Pemberian Tunjangan Kesehatan

Perusahaan yang enggan dengan kesukaran biasanya memberikan tunjangankesehatan atau


memberikan lumpsum biaya kesehatan kepada pegawainya dalam bentuk uang. Sakit maupun
tidak sakit tunjangannya sama. Sebaiknya tunjangan ini digunakan untuk mengikuti asuransi
kesehatan (family health insurance). Tujuannya adalah menghindari pembelanjaan biaya
kesehatan untuk kepentingan lain, misalnya untuk membeli rokok, minuman beralkohol, dan
hal hal lain yang malah merugikan kesehatannya.

5. Rumah Sakit Perusahaan


Perusahaan yang mempunyai pegawai berjumlah besar akan lebih diuntungkan apabila
mengusahakan suatu rumah sakit untuk keperluan pegawainya dan keluarga pegawai yang
ditanggungnya. Dalam praktisnya, rumah sakit ini bisa juga dimanfaatkan oleh masyarakat
bukan pegawai perusahaan tersebut. Menyangkut kesehatanpegawainya, rumah sakit
perusahaan harus menyiapkan rekam medis khusus, yang lebih lengkap, dan perlu dievaluasi
secara periodik. Perlu diingatkan bahwa pelayanan kesehatan yang didapat dari rumah sakit
perusahaan diupayakan bisa lebih baik bila dibandingkan jika dilayani oleh rumah sakit lain.
Dengan demikian, pegawai perusahaan yang dirawat akan merasa puas dan bangga terhadap
fasilitas yang disediakan. Rasa senang menerima fasilitas kesehatan ini akan membuahkan
semangat bekerja untuk membalas jasa perusahaan yang dinikmatinya.

3.2.2 Cara Pembiayaan Kesehatan

Uang yang dibayarkan untuk pelayanan kesehatan dapat dibayarkan dalam empat cara:

1. Out of Pocket (OOP)

Pada umumnya ketika melakukan pembayaran untuk layanan kesehatan di rumah sakit, hanya
ada dua pihak yang dilibatkan, yaitu pasien atau keluarga sebagai penerima layanan dan
rumah sakit sebagai pemberi layanan. Yang mana pihak penerima layanan (pasien) akan
membayar langsung kepada pemberi layanan (rumah sakit).

Dengan cara ini pasien membayar langsung kepada dokter atau pembeli pelayanan kesehatan
lainnya untuk pelayanan kesehatan yang sudah diterima. Aspek positif metoda ini, pasien
menjadi lebihmenghargai nilai ekonomi dari pelayanan kesehatan yang diteima sehingga
menghindari penggunaan pelayanan kesehatan secara berlebihan. Aspek negatif nya pasien
dan keluarga akan sangat rentan untuk mengalami pengeluaran bencana (catastrophic
expenditure), karena harus membayar biaya kesehatan yang mahal pada suatu saat ketika
sakit, sehingga bisa menyebabkan pasien dan keluarganya jatuh miskin.

2. Asuransi atau pihak lain

Terdapat pihak lain yang campur tangan dalam pembayaran pelayanan kesehatan pasien,
yaitu perusahaan asuransiatau pihak lainya.

Pembayaran oleh pihak ketiga bisa melalui cara:

Pasien membayar dahulu ke rumah sakit, lalu tagihan akan diklaim ke perusahaan asuransi
sehingga biaya yang ikeluarkan pasien akan diganti.

Rumah sakit langsung menagih biaya pelayanan yang diberikan pada pasien kepada
perusahaan asuransi.

3. Pajak atau taxation


Pemerintah Indonesia telah menarik pajak umum, Pemerintah membayar sebagian darai biaya
pelayanan kesehatan pasien yang diberikan pada fasilitas kesehatan pemerintah, misalnya
Puskesmas dan Rumah Sakit Pemerintah Pusat maupun Daerah. Pasien harus membayar
sebagian dari pelayanan kesehatan yang digunakan, disebut User fee (user charge). Di
Indonesia terdapat skema Jamkesmas yang membebaskan semua biaya pelayanan kesehatan
di tingkat primer maupun sekunder yang disediakan oleh fasilitas pelayanan kesehatan
Pemerintah

4. Medical Saving Account (MSA, personal saving account ) Mengharuskan warga


menabung uang untuk membiayai pelayanan kesehatan sendiri. Sejauh ini hanya Singapore
yang menggunakan sistem ini. Sistem ini memproteksi generasi berikutnya dari biaya-biaya
akibat generasi kini.

3.2.5 Sumber dana

Sumber dana biaya kesehatan berbeda pada beberapa negara, namun secara garis besar
berasal dari:

1. Bersumber dari anggaran pemerintah

Pada sistem ini, biaya dan penyelenggaraan pelayanan kesehatan sepenuhnya ditanggung
oleh pemerintah. Pelayanannya diberikan secara cuma-cuma oleh pemerintah sehingga sangat
jarang penyelenggaraan pelayanan kesehatandisediakan oleh pihak swasta. Untuk negara
yang kondisi keuangannya belum baik, sistem ini sulit dilaksanakan karena memerlukan dana
yang sangat besar.

2. Bersumber dari anggaran masyarakat

Dapat berasal dari individual ataupun perusahaan. Sistem ini mengharapkan agar masyarakat
(swasta) berperan aktif secara mandiri dalam penyelenggaraan maupun pemanfaatannya. Hal
ini memberikan dampak adanya pelayanan-pelayanankesehatan yang dilakukan oleh pihak
swasta, dengan fasilitas dan penggunaan alat-alat berteknologi tinggi disertai peningkatan
biaya pemanfaatan atau penggunaannya oleh pihak pemakai jasa layanan kesehatan tersebut.

3. Bantuan biaya dari dalam dan luar negeri

Sumber pembiayaan kesehatan, khususnya untuk penatalaksanaan penyakit penyakit


tertentu cukup sering diperoleh dari bantuan biaya pihak lain, misalnya oleh organisasi sosial
ataupun pemerintah negara lain. Misalnya bantuan dana dari luar negeri untuk penanganan
HIV dan virus H5N1 .

4. Gabungan anggaran pemerintah dan masyarakat


Sistem ini banyak diadopsi oleh negara-negara di dunia karena dapat mengakomodasi
kelemahan kelemahan yang timbul pada sumber pembiayaan kesehatan sebelumnya.
Tingginya biaya kesehatan yang dibutuhkan ditanggung sebagian oleh pemerintah dengan
menyediakan layanan kesehatan bersubsidi. Sistem ini juga menuntut peran serta masyarakat
dalam memenuhi biaya kesehatan yang dibutuhkan dengan mengeluarkan biaya tambahan. 21

3.3 Hambatan Pembiayaan Kesehatan

Kecenderungan meningkatnya biaya pemeliharaan kesehatan menyulitkan akses masyarakat


terhadap pelayanan kesehatan yang dibutuhkannya. Keadaan ini terjadi terutama pada
keadaan dimana pembiayaannya harus ditanggung sendiri ("out of pocket") dalam sistim
tunai ("fee for service").

Kenaikan biaya kesehatan terjadi akibat penerapan teknologi canggih, karakter supply
induced demand dalam pelayanan kesehatan, pola pembayaran tunai langsung ke pemberi
pelayanan kesehatan, pola penyakit kronik dan degeneratif, serta inflasi. Kenaikan biaya
pemeliharaan kesehatan itu semakin sulit diatasi oleh kemampuan penyediaan dana
pemerintah maupun masyarakat. Peningkatan biaya itu mengancam akses dan mutu
pelayanan kesehatan dan karenanya harus dicari solusi untuk mengatasi masalah pembiayaan
kesehatan ini.

Masalah-masalah dalam pembiayaan kesehatan:

1. Kurangnya dana yang tersedia

2. Penyebaran dana yang tidak sesuai dengan kebutuhan (equity - fairness).

3. Pemanfaatan yang tidak tepat

4. Pengelolaan dana yang belum sempurna

5. Biaya kesehatan yang makin meningkat

Inflasi

Demand yang meningkat

6. Kemajuan IPTEK

7. Perubahan pola penyakit (triple burden)

8. Perubahan pola pelayanan kesehatan (fragmented health services)

9. Perubahan pola hubungan dokter pasien

10. Lemahnya mekanisme pengendalian biaya

11. Penyalahgunaan asuransi kesehatan


3.4 Tujuan Pembiayaan Kesehatan

Tujuan dari pembiayaan kesehatan adalah tersedianya pembiayaan kesehatan dengan jumlah
yang mencukupi, terlokasi secara adil dan termanfaatkan secara berhasil-guna dan berdaya-
guna, untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan guna meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.

Tujuan subsistem pembiayaan kesehatan:

1. Tersedianya pembiayaan kesehatan dengan jumlah yang mencukupi.

2. Teralokasi secara adil dan termanfaatkan secara berhasil-guna dan berdaya-guna.

3. Untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan guna meningkatkan derajat


kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.

Organisasi kesehatan dunia (WHO) sendiri member fokus strategi pembiayaan kesehatan
yang memuat isu-isu pokok, tantangan, tujuan utama, kebijakan dan program aksi itu pada
umumnya adalah dalam area sebagai berikut:

1. meningkatkan investasi dan pembelanjaan publik dalam bidang kesehatan.

2. mengupayakan pencapaian kepesertaan semesta dan penguatan pemeliharaan kesehatan


masyarakat miskin

3. pengembangan skema pembiayaan praupaya termasuk didalamnya asuransi kesehatan


social (SHI)

4. penggalian dukungan nasional dan internasional

5. penguatan kerangka regulasi dan intervensi fungsional

6. pengembangan kebijakan pembiayaan kesehatan yang didasarkan pada data dan fakta
ilmiah

7. pemantauan dan evaluasi

3.5 Maksud dari Pembiayaan yang Kuat dan Stabil dan Berkesinambungan dalam
Pembiayaan Kesehatan

Pembiayaan kesehatan yang kuat, stabil dan berkesinambungan memegang peranan yang
amat vital untuk penyelenggaraan pelayanan kesehatan dalam rangka mencapai berbagai
tujuan penting dari pembangunan kesehatan di suatu negara diantaranya adalah pemerataan
pelayanankesehatan dan akses (equitable access to health care) dan pelayanan yang
berkualitas (assured quality).
Kuat : sumber dana yang diperoleh baik dari pemerintah atau swasta harus dapat mencukupi
kebutuhan pembiayaan kesehatan negara.

Sumber dana kesehatan:

1. Pemerintah

Dana pemerintah pusat, propinsi, kabupaten kota, saham pemerintah dalam BUMN, premi
bagi jamkesmas miskin yg dibayarkan oleh pemerintah.

2. Swasta atau masyarakat

CSR (Corporate Social Responsibility), pengeluaran rumah tangga baik yg dibayarkan tunai
atau lewat sistem asuransi, bantuan dari luar negeri, hibah atau donor dari LSM.

Stabil : diharapkan kenaikan pembiayaan kesehatan dapat terkontrol dan tidak ada kenaikan
secara signifikan. Hal ini dapat dipengaruhi oleh adanya sumber pembiayaan kesehatan
berdasarkan ideology suatu negara.

Beberapa sumber pendanaan yang dipengaruhi oleh ideologi negara adalah:

1. Sosialis (welfare state).

Negara bertanggung jawab dan memberikan kebebasan biaya pada seluruh masyarakat.
Aspek kesehatan warga ditanggung penuh oleh negara dan hal tersebut tidak untuk mencari
keuntungan. Hal ini tidak melihat kelas ekonomi warga, masyarakat dari kalangan 24

ekonomi rendah sampai dengan kalangan ekonomi tinggi dapat merasakannya. Tetapi hal
tersebut memberi konsekuensi bahwa biaya kesehatan negara tersebut menjadi tinggi.

2. Liberal-kapitalis

Negara tidak bertanggung jawab sepenuhnya dalam pendanaan kesehatan. Negara


menyerahkan harga pembiayaan kesehatan tergantung pasar sehingga bisa disebut juga profit-
oriented, dimana pembiayaan tidak dilihat dari status ekonomi masyarakat sehingga penyedia
pelayanan kesehatan dapat mengambil untung sebesar-besarnya.

3. Kombinasi
Kombinasi yang berarti perpaduan antara pendanaan dari pemerintah, swasta dan masyarakat.
Hal ini dimaksudnya jika ketika pemerintah tidak mampu ikut andil dalam pembiayaan
kesehatan, maka dapat dibantu oleh biaya dari masyarakat atau swasta.

Berkesinambungan : pembiayaan kesehatan dapat dilakukan secara berkelanjutan. Dengan


sumber dana yang kuat dan kebijakan pemerintah yang dikeluarkan pemerintah diharapkan
pembiayaan kesehatan dapat berkelanjutan.

DAFTAR PUSTAKA

Astiena, Dr. Adila Kasni, MARS. 2009. Materi Kuliah Pembiayaan Pelayanan

Kesehatan. Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas

Brotowasisto. 1990. Pembangunan Kesehatan di Indonesia. Prisma, vol. 19,

No. 6.

Depkes RI. Sistem Kesehatan Nasional. 2009. Jakarta: Depkes RI.

Lubis, Ade Fatma. 2009. Ekonomi Kesehatan. Medan: USU Press.

Mukti A G. 2000. Berbagai Model Alternatif Sistem Penyelenggaraan

Asuransi Kesehatan di Indonesia. JMPK 03:01

Pohan, Imbalo. S. 2007. Jaminan Mutu Layanan Kesehatan: Dasar-dasar

Pengertian dan Penerapan. Jakarta: EGC

Sulastomo. 2000. Manajemen Kesehatan. Jakarta: Gramedia Pustaka.