Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tuberkulosis (TBC atau TB) adalah suatu penyakit infeksi yang
disebabkan oleh bakteri Micobakterium tuberculosis, yang pada umumnya
dimulai dengan membentuk benjolan-benjolan kecil di paru-paru dan
ditularkan lewat organ pernapasan. Kuman TBC pertama kali di temukan
oleh dr.Robert Koch (1982). Bakteri ini merupakanbakteri basil yang sangat
kuat sehingga memerlukan waktu lama untuk mengobatinya. Bakteri ini lebih
sering menginfeksi organ paru-paru dibandingkan bagian lain tubuh manusia.
Bagian tubuh manusia selain paru paru yang dapat terinfeksi Micobakterium
tuberculosis ialah ginjal, tulang dan usus
Konon kusta telah menyerang manusia sejak 300 SM, dan telah dikenal
oleh peradaban Tiongkok Kuna, Mesir Kuna, dan India. Pada 1995,
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan terdapat dua hingga tiga
juta jiwa yang cacat permanen karena kusta. Walaupun pengisolasian atau
pemisahan penderita dengan masyarakat dirasakan kurang perlu dan tidak etis
beberapa kelompok penderita masih dapat ditemukan diberbagai belahan
dunia, seperti di India dan Vietnam.
Era modern terapi tuberculosis mulai dengan diperkenalkannya
streptomisin, isoniazid, dan asam

-aminosalisilat dan sekarang terapi

obat multipel. Jumlah kasus tuberculosis berkurang dan ada harapan untuk
eredikasi tuberculosis. Sesungguhnya, ramalan dibuat bahwa tuberculosis
akan hampir punah di Amerika Serikat pada tahun 2002, tetapi dalam sepuluh
tahun terakhir, kasus-kasus tuberculosis telah meningkat secara bermakna
terutama pada penderita-penderita AIDS dan tunawisma. Saat ini,
tuberculosis masih merupakan penyebab kematian yang utama karena karena
penyakit infeksi di seluruh dunia (Nugroho, 2012).
Pada kasus tuberkulosis maupun leprosis,

penyebabnya

yaitu

mycobakteri (Mycobacterium tuberculosis dan Mycobacterium leprae)


tumbuh atau berkembang secara sangat lambat. Konsekuensinya, terapinya
memerlukan waktu yang sangat lama. Untuk menghindari adanya resistensi
1

sering digunakan kombinasi obat dari dua hingga empat jenis antibiotika
(Nugroho, 2012).
Mikobakteria yang terutama dapat menimbulkan penyakit pada manusia
ada

tiga,

yaitu

Mycoibacteria

tuberculosis

penyebab

tuberkulosis,

Mycoibacteria leprae penyebab lepra, dan Mycoibacteria atipik penyebab


infeksi mikobakteria lainnya. Mikobakteria merupakan kuman tahan asam
yang sifatnya berbeda dengan kuman lain karena tumbuhnya sangat lambat
dan cepat sekali timbul resistensi bila terpajan dengan satu obat. Umumnya
antibiotika bekerja lebih aktif terhadap kuman yang lebih cepat membelah
dibandingkan kuman yang lambat membelah. Sifat lambat membelah yang
dimiliki mikobakteria merupakan salah satu faktor yang menyebabkan
perkembangan penemuan obat antimikobakteria baru jauh lebih sulit dan
lambat dibandingkan antibakteri lain (Gunawan, Sulistia Gan, 2007).

B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi Tuberculostatik?
2. Bagaimana pengggolongan obat tuberculostatik?
3. Bagaimana indikasi, dosis, kontra indikasi,

mekanisme

kerja,

farmakokinetik, dan efek samping obat Tuberculostatik?


4. Apa definisi Leprastatik?
5. Bagaimana mekanisme kerja dan efek samping obat Leprastatik?
6. Berikasn contoh obat tuberculostatik dan leprastatik yang beredar di
pasaran?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi Tuberculostatik
2. Untuk mengetahui pengggolongan obat tuberculostatik
3. Untuk mengetahui indikasi, dosis, kontra indikasi, mekanisme kerja,
farmakokinetik, dan efek samping obat Tuberculostatik
4. Untuk mengetahui definisi Leprastatik
5. Untuk mengetahui mekanisme kerja dan efek samping obat Leprastatik
6. Untuk mengetahui contoh obat tuberculostatik dan leprastatik yang
beredar di pasaran

BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Tuberculostatik
Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh
kuman TB (Mycobacterium Tuberculostatik). Sebagian besar kuman TB
menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya (Depkes,
2011).
Tuberkolosis

(TBC)

disebabkan

oleh

bakteri

tahan

asam

Mycobacterium Tuberculostatik. TBC adalah masalah kesehatan mayor yang


lebih mematikan dibandingkan dengan penyakit menular lainnya. Satu
setengah miliyar orang di dunia menderita TBC. Terdapat 8 juta kasus baru
setiap tahun. Di Amerika Serikat, insiden tersebut sempat mengalami
penurunan akan tetapi kembali meningkat tahun 1980-an. Penyakit ini banyak
menyerang orang dengan AIDS di mana sistem kekebalan tubuhnya
mengganggu (Kamienski dan Keogh, 2015).
Mycobacterium Tuberculosis, salah

satu

mikrobakteri

dapat

menyebabkan infeksi gawat paru-paru, tractus genitourinarius, tulang rangka


dan

meningen.

Mikobakteri

diklasifikasi

berdasarkan

sifat-sifat

pewarnaannya. Seperti pengobatan infeksi-infeksi mikobakterium lainnya.


Pengobatan tuberculosis memberikan masalah terapeutik. Organisme tumbuh
secara lambat, dan karena penyakit tersebut mungkin harus diobati sampai
dua tahun, khususnya jika disebabkan oleh organisme yang resisten
(Nugroho, 2012).
Berdasarkan

tempat/organ

yang

diserang

oleh

kuman,

maka

tuberkulosis dibedakan menjadi Tuberkulosis Paru, Tuberkulosis Ekstra Paru


(Depkes RI, 2005):
1. Tuberkulosis paru

adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan

parenchym paru, tidak termasuk pleura (selaput paru). Berdasarkan hasil


pemeriksaan dahak, TB Paru dibagi dalam:
a. Tuberkulosis Paru BTA Positif.
Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA
positif.

1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto rontgen dada
menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif.
b. Tuberkulosis Paru BTA Negatif
Pemeriksaan 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif dan foto
rontgen dada menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif. TB Paru BTA
Negatif Rontgen Positif dibagi berdasarkan tingkat keparahan
penyakitnya, yaitu bentuk berat dan ringan. Bentuk berat bila
gambaran foto rontgen dada memperlihatkan gambaran kerusakan
paru yang luas (misalnya proses "far advanced" atau millier), dan/atau
keadaan umum penderita buruk.
2. Tuberkulosis Ekstra Paru adalah tuberkulosis yang menyerang organ tubuh
lain selain paru, misalnya pleura, selaput otak, selaput jantung
(pericardium), kelenjar lymfe, tulang, persendian, kulit, usus, ginjal,
saluran kencing, alat kelamin, dan lain-lain. TB ekstra-paru dibagi
berdasarkan pada tingkat keparahan penyakitnya, yaitu:
a. TB Ekstra Paru Ringan
Misalnya: TB kelenjar limphe, pleuritis eksudativa unilateral, tulang
(kecuali tulang belakang), sendi, dan kelenjar adrenal.
b. TB Ekstra-Paru Berat
Misalnya: meningitis, millier, perikarditis, peritonitis, pleuritis
eksudativa duplex, TB tulang belakang, TB usus, TB saluran kencing
dan alat kelamin
Tanda-tanda dan gejala klinis tuberculosis (Depkes RI, 2005):
1. Pada orang Dewasa
Gejala TB pada orang dewasa umumnya penderita mengalami batuk
dan berdahak terus-menerus selama 3 minggu atau lebih, batuk darah atau
pernah batuk darah. Adapun gejala-gejala lain dari TB pada orang dewasa
adalah sesak nafas dan nyeri dada, badan lemah, nafsu makan dan berat
badan menurun, rasa kurang enak badan (malaise), berkeringat malam,
walaupun tanpa kegiatan, demam meriang lebih dari sebulan
2. Pada anak-anak
Gejala umum, meliputi :

a. Berat badan turun selama 3 bulan berturut-turut tanpa sebab yang jelas
dan tidak naik dalam 1 bulan meskipun sudah dengan penanganan gizi
yang baik.
b. Demam lama atau berulang tanpa sebab yang jelas (bukan tifus,
malaria atauinfeksi saluran nafas akut) dapat disertai dengan keringat
malam.
c. Pembesaran kelenjar limfe superfisialis yang tidak sakit, paling sering
didaerah leher, ketiak dan lipatan paha.
d. Gejala dari saluran nafasi, misalnya batuka lebih dari 30 hati
(setelahdisingkirkan sebab lain dari batuk), tanda cairan di dada dan
nyeri dada
e. Gejala dari saluran cernam, misalnya diare berulang yang tidak
sembuhdengan pengobatan diare, benjolan (massa) di abdomen, dan
tanda-tanda cairan dalam abdomen
Cara penularan tuberculosis (Depkes RI, 2014):
1. Sumber penularan adalah pasien TB BTA (Basil Tahan Asam) positif.
2. Pada waktu batuk atau bersin, pasien menyebarkan kuman ke udara
dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei). Sekali batuk dapat
menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak.
3. Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak
berada dalam waktu yang lama. Ventilasi dapat mengurangi jumlah
percikan, sementara sinar matahari langsung dapat membunuh kuman.
Percikan dapat bertahan selama beberapa jam dalam keadaan yang gelap
dan lembab.
4. Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya kuman yang
dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat kepositifan hasil
pemeriksaan dahak, makin menular pasien tersebut.
5. Faktor yang memungkinkan seseorang terpajan kuman TB ditentukan
oleh konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya menghirup udara
tersebut.
B. Golongan Obat Tuberculostatik
Obat yang digunakan untuk tuberculosis digolongkan atas dua
kelompok yaitu kelompok obat lini pertama dan obat lini kedua. Kelompok
obat lini pertama yaitu isoniazid, rifampisin, etambutol, streptomisin, dan

pirazinamid memperlihatkan efektivitas yang tinggi dengan toksisitas yang


dapat diterima. Sebagian besar pasien dapat disembuhkan dengan obat-obat
ini. Walaupun demikian kadang digunakan obat yang lain yang kurang efektif
karena

pertimbangan

resistensi

atau

kontra

indikasi

pada

pasien.

Antituberkulosis lini kedua adalah antibiotik golongan fluorokuinolon


(siprofloksasin, ofloksasin, levofloksasin), sikloserin, etionamid, amikasin,
kanamisin, kapreomisin, dan paraaminosalisilat (Gunawan, Sulistia Gan,
2007).
Obat umumnya dibagi dalam obat-obat primer dan obat-obat sekunder
(Tjay dan Rahardja, 2007):
1. Obat primer
INH, rifampisin, pirazinamid, dan etambutol. Obat-obat ini paling
efektif dan paling rendah efek toksisitasnya, tetapi menimbulkan
resistensi dengan cepat bila digunakan sebagai obat tunggal. Maka terapi
selalu dilakukan dengan kombinasi dari 3-4 obat. Suku-suku yang
sekaligus kebal terhadap dua atau lebih jenis obat sangat jarang terjadi.
Yang paling banyak digunakan adalah kombinasi INH, rifampisin, dan
pirazinamida.
2. Obat sekunder
Streptomisin, klofazimin, fluorkinolon, dan sikloserin. Obat ini
memiliki kegiatan yang lebih lemah dan bersifat lebih toksis, maka hanya
digunakan bila terdapat resistensi atau intoleransi terhadap obat primer,
juga terhadap infeksi MAI pada pasien HIV.
Panduan penggunaan yang digunakan oleh Program Nasional
Penanggulangan TB oleh pemerintah Indonesia (Depkes RI, 2005):
Kategori 1

2HRZE/4H3R3
2HRZE/4HR

Kategori 2

2HRZE/6HE
2HRZES/HRZE/5H3R3E3

Kategori 3

2HRZES/HRZE/5HRE
2HRZ/4H3R3
2HRZ/4HR
2HRZ/6HE

Tabel 1. Panduan Pengobatan standar yang direkomendasikan oleh WHO dan IUATLD

Kode huruf tersebut adalah akronim dari nama obat yang dipakai, yakni
(Depkes RI, 2005):
H = Isoniazid
R = Rifampisin
Z = Pirazinamid
E = Etambutol
S = Streptomisin
Sedangkan angka yang ada dalam kode menunjukkan waktu atau
frekuensi. Angka 2 didepan seperti pada 2HRZE artinya digunakan selama 2
bulan, tiap hari satu kombinasi tersebut, sedangkan untuk angka dibelakang
huruf, seperti pada 4H3R3 artinya dipakai 3 kali seminggu (selama 4 bulan).
a. Kategori 1 (2HRZE/4H3R3)
Tahap intensif terdiri dari HRZE diberikan setiap hari selama 2
bulan. Kemudian diteruskan dengan tahap lanjutan yang terdiri dari HR
diberikan tiga kali dalam seminggu selama 4 bulan
Obat ini diberikan untuk:
1. Penderita baru TB Paru BTA positif
2. Penderita baru TB Paru BTA negatif Rontgen Positif yang sakit berat
3. Penderita TB Ekstra Paru berat
Tahap

Lama

pengobatan

pengobatan

Dosis per hari/kali

Jumlah
blister
harian
*)

Tablet

Tablet

Tablet

Tablet

isoniazid

rifampisin

pirazinamid

etambutol

@300

@450 mg

@500 mg

@250 mg

mg
Tahap intensif
(dosis harian)
Tahap lanjutan
(dosis 3x

2 bulan

56

4 bulan

48

seminggu)
Tabel 2. Panduan OAT kategori 1 dalam paket komblpak untuk penderita dengan berat
badan antara 33-50 kg

b. Kategori 2
Tahap intensif diberikan selama 3 bulan yang terdiri dari 2 bulan
dengan HRZES setiap hari. Dilanjutkan 1 bulan dengan HRZE setiap
hari. Setelah itu diteruskan dengan tahap lanjutan selama 5 bulan dengan
HRE yang diberikan tiga kali dalam seminggu.
Obat ini diberikan untuk penderita TB paru BTA (+) yang
sebelumnya pernah diobati, yaitu:
1. Penderita kambuh
2. Penderita gagal
3. Penderita dengan pengobatan setelah lalai
Dosis per hari/kali
Tahap

Lama

pengobatan

pengobatan

Tablet
isoniazi
d @300
mg

Kaplet

Tablet

Tablet

rifampisin

pirazinamid

etambutol

@450 mg

@500 mg

@ 250 mg

Tablet
etambuto
l @ 500
mg

Vial
streptomisin
@ 1,5 gr

Tahap
intensif
(dosis
harian)
Dilanjutkan
Tahap
lanjutan
(dosis 3 x

2 bulan

0,75 gram

1 bulan

5 bulan

seminggu)
Tabel 3. Panduan OAT Kategori 2 dalam paket komblpak untuk penderita berat badan 3350 kg

c. Kategori 3
Tahap intensif terdiri dari HRZ diberikan setiap hari selama 2 bulan
(2HRZ). Diteruskan dengan tahap lanjutan terdiri dari HR selama 4 bulan
diberikan 3 kali seminggu.
Obat ini diberikan untuk:
1. Penderita baru BTA negatif dan rontgen positif sakit ringan
2. Penderita TB ekstra paru ringan
Tahap

Lama

pengobatan

pengobatan

Tahap intensif
(dosis harian)

2 bulan

Tablet

Tablet

Tablet

Jumlah

isoniazid

rifampisin

pirazinami

blister

@300 mg

@450 mg

d @500 mg

harian

56

Tahap lanjutan
(dosis 3x

4 bulan

50

seminggu)
Tabel 4. Panduan OAT Kategori 3 dalam paket komblpak untuk penderita dengan berat
badan antara 33-55 kg

C. Mekanisme

Kerja,

Farmakokinetik,

dan

Efek

Samping

Obat

Tuberculostatik
1. Isoniazid
Isoniazid dari asam isonikotinat, adalah suatu analog sintesis
piridoksin. Isoniazid adalah obat anti tuberculosis yang paling poten,
tetapi tidak pernah diberikan sebagai obat tunggal dalam pengobatan
tuberculosis aktif. Penemuannya membuat revolusi dalam pengobatan
tuberculosis Mycek, Mary J., dkk. 2001).
a. Indikasi
Obat ini diindikasikan untuk terapi semua bentuk tuberkulosis
aktif, disebabkan kuman yang peka dan untuk profilaksis orang
berisiko tinggi mendapatkan infeksi. Dapat digunakan tunggal atau
bersama-sama dengan antituberkulosis lain (Depkes RI, 2005).
b. Dosis
Untuk pencegahan, dewasa 300 mg satu kali sehari, anak anak
10 mg per berat badan sampai 300 mg, satu kali sehari. Untuk
pengobatan TB bagi orang dewasa sesuai dengan petunjuk dokter/
petugas kesehatan lainnya. Umumnya dipakai bersama dengan obat
anti tuberkulosis lainnya. Dalam kombinasi biasa dipakai 300 mg
satu kali sehari, atau 15 mg per kg berat badan sampai dengan 900
mg, kadang kadang 2 kali atau 3 kali seminggu. Untuk anak dengan
dosis 10 20 mg per kg berat badan. Atau 20 40 mg per kg berat
badan sampai 900 mg, 2 atau 3 kali seminggu (Depkes RI, 2005).
c. Kontra indikasi
Kontra indikasinya adalah riwayat hipersensistifitas atau
reaksi adversus, termasuk demam, artritis, cedera hati, kerusakan
hati akut, tiap etiologi (Depkes RI, 2005).
d. Mekanisme Kerja
Isoniazid sering disebut dengan INH, dipercaya bekerja pada
enzim yang berperan untuk penyusunan asam mikoleat ke dalam

10

lapisan luar mikrobakteri suatu struktur yang unik untuk


mikroorganisme yang unik. Asam mikoleat ini penting untuk sifat
tahan asam (acid-fastness) dari mikrobakteri tersebut: sifattahan
asam ini hilang setelah tercampur dengan isoniazid (Mycek, Mary J.,
dkk. 2001)
Efek utamanya ialah menghambat biosintesis asam mikolat
(mycolic acid) yang merupakan unsur penting dinding sel
mikrobakterium. Isoniazid kadar rendah mencegah perpanjangan
rantai asam lemak yang sangat panjang yang merupakan bentuk awal
molekul asam mikolat. Isoniazid menghilangkan sifat tahan asam
dan menurunkan jumlah lemak yang terekstraksi oleh metanol dari
mikrobakterium. Hanya kuman peka yang menyerap obat ke dalam
selnya, dan ambilan ini merupakan proses aktif (Gunawan, Sulistia
Gan, 2007).
e. Spektrum anti bakteri
Untuk basil-basil yang berada dalam fase stationary. Obat
isoniazid bersifat bakteriostatik, tetapi untuk organisme yang sedang
membelah diri secara cepat, isoniazid bersifat bakterisidal. INH
efektif terhadap bakteri intraseluler. Isoniazid khusus untuk
pengobatan Mycobacterium tuberculosis, walaupun mycobaterium
kansasii resistensi pada kadar obat yanglebih tinggi. Bila digunakan
tersendiri, organisme yang resisten akan timbul dengan cepat
(Mycek, Mary J., dkk. 2001).
f. Farmakokinetik
Isoniazid diabsorbsi dengan mudah per-oral. Absorbsi
terganggu jika diminum bersama makanan, terutama karbohidrat,
atau antasida yang mengandung aluminium. INH berdifusi ke
saluran cairan tubuh, sel-sel tubuh dan bahan kaseosa (jaringan
nekrotik seperti keju): kadarnya dalam cairan kira-kira sama dengan
kadar serum. Jaringan yang terinfeksi cenderung menahan obat
tersebut lebih lama. Obat tersebut mudah menembus sel-sel pejamu
dan efektif terhadap basil-basil yang sedang tumbuh dalam sel. INH
mengalami N-asetilasi dan hidrolisis, yang menghasilkan produk11

produk tidak aktif. Asetilasi diatur secara genetika: trait asetilator


cepat bersifat autosomal dominan. Terdapat distribusi bimodal dari
asetilator cepat dan asetilator lambat (Mycek, Mary J., dkk. 2001).
g. Efek samping
Pada dosis normal (200-300 mg) jarang dan ringan (gatal-gatal,
ikterus), tetapi lebih sering terjadi bila dosis melebihi 400 mg. Yang
terpenting adalah polineuritis, yakni radang saraf dengan gejala
kejang dengan gangguan pengelihatan (Tjay dan Rahardja, 2007).
2. Rifampisin
Rifampisin berasal dai jamur Streptomices, mempunyai aktivitas
antimikroba yang lebih luas dari pada isoniazid dan telah ditemukan
penggunaannya pada infeksi-infeksi bakteri. Karena strain-strain yang
resisten timbul dengan cepat selama terapi, rifampisin tidak pernah
diberikan sebagai obat tuberculosis aktif (Mycek, Mary J., dkk. 2001).
a. Indikasi
Diindikasikan untuk obat antituberkulosis yang dikombinasikan
dengan antituberkulosis lain untuk terapi awal maupun ulang (Depkes
RI, 2005)
b. Dosis
Untuk dewasa dan anak yang beranjak dewasa 600 mg satu kali
sehari, atau 600 mg 2 3 kali seminggu. Rifampisin harus diberikan
bersama dengan obat anti tuberkulosis lain. Bayi dan anak anak, dosis
diberikan dokter / tenaga kesehatan lain berdasarkan atas berat badan
yang diberikan satu kali sehari maupun 2-3 kali seminggu. Biasanya
diberikan 7,5 15 mg per kg berat badan. Anjuran Ikatan Dokter
Anak Indonesia adalah 75 mg untuk anak < 10 kg, 150 mg untuk 10
20 kg, dan 300 mg untuk 20 -33 kg (Depkes RI, 2005).
c. Mekanisme kerja
Rifampisin menghambat transkripsi dengan cara berinteraksi
dengan

-subunit RNA polimerase bakterial tergantung DNA,

sehingga mengahambat sintesis RNA dengan menekan langkah

12

permulaan. Obat tersebut spesifik untuk prokariot (Mycek, Mary J.,


dkk. 2001).
d. Spektrum antimikroba
Rifampisin bersifat

bakterisidal

terhadap

mikobakterium

intraseluler dan ektraseluler, termasuk Mycobacterium teberculosis,


mikobakteri atipik dan Mycobacterium leprae. Rifampisin efektif
terhadap banyak organisme Gram (+) dan gram (-) dan sering
digunakan secara profilaksis untuk anggota rumah tangga yang
terpapar dengan meningitis yang disebabkan oleh meningokokus atau
Haemophylus influenzae (Mycek, Mary J., dkk. 2001).
e. Farmakokinetik
Absorbsi cukup setelah pemberian oral. Distribusi rifampisin
terjadi keseluruh organ tubuh. Kadar yang cukup dicapai dalam
serebrospinalis bahkan walaupun tidak ada. Radang obat tersebut
diambil oleh hati dan mengalami siklus enterohepatik. Rifampisin
sendiri dapat menginduksi oksidase fungi campuran dalam hati,
menyebabkan pemendekan waktu-paruh. Eliminasi melalui empedu
ke dalam tinja dan melalui urine sebagai metabolit dan obat induk.
Urine dan fases serta sekresi lainnya mempunyai warna merah-oranye
(Mycek, Mary J., dkk. 2001).
f. Efek samping
Efek samping adalah suatu masalah ringan dengan rifampisin,
tetapi dapat meliputi mual, muntah, ruam dan demam. Obat tersebut
harus digunakan secara hati-hati pada penderita dengan kegagalan hati
sebab ikterus yang terjadi pada penderita penyakit hati kronik,
peminum alkohol, atau pada pemula (Mycek, Mary J., dkk. 2001).
3. Pirazinamid
Pirazinamid adalah suatu obat antituberkulosis sintetik peroral yang
efektif dan bersifat bakterisidal yang digunakan bersama-sama dengan
isoniazid dan rifamisin. Pirazinamid bersifat bakterisidal terhadap
organisme yang aktif membelah diri. Pirizinamid harus dihidrolisis secara
enzimatik menjadi asam pirazinoat yang merupakan bentuk aktif dari
pirazinamid. Pirazinamid aktif terhadap basil tuberculosis dalam

13

lingkungan asam lisosme dan dalam makrofag (Mycek, Mary J., dkk.
2001).
a. Indikasi
Digunakan untuk terapi tuberkulosis dalam kombinasi dengan
anti tuberkulosis lain (Depkes RI, 2005).
b. Dosis
Dewasa dan anak sebanyak 15 30 mg per kg berat badan, satu
kali sehari. Atau 50 70 mg per kg berat badan 2 3 kali seminggu.
Obat ini dipakai bersamaan dengan obat anti tuberkulosis lainnya
(Depkes RI, 2005).
c. Kontra indikasi
Terhadap gangguan fungsi hati parah, porfiria, hipersensitivitas
(Depkes RI, 2005).
d. Mekanisme kerja
Bersifat bakterisid, dapat membunuh kuman yang berada dalam
sel

dengan

suasana

asam.

Mekanisme

kerja,

berdasarkan

pengubahannya menjadi asam pyrazinamidase yang berasal dari basil


tuberkulosa (Depkes RI, 2005).
e. Farmakokinetik
Pirazinamid cepat terserap dari saluran cerna. Kadar plasma
puncak dalam darah lebih kurang 2 jam, kemudian menurun. Waktu
paro kira-kira 9 jam. Dimetabolisme di hati. Diekskresikan lambat
dalam kemih, 30% dikeluarkan sebagai metabolit dan 4% tak berubah
dalam 24 jam (Depkes RI, 2005).
f. Efek samping
Hepatotoksisitas, termasuk demam anoreksia, hepatomegali,
ikterus; gagal hati; mual, muntah, artralgia, anemia sideroblastik,
urtikaria (Depkes RI, 2005).

4. Etambutol

14

Etambutol bersifat bakteriostatik dan spesifik untuk sebagian besar


strain

Mycobacterium

tuberculosis

dan

Mycobacterium

kansasii.

Resistensi bukanlah merupakan masalah yang serius jika obat diberikan


bersamaan dengan obat-obat anti tuberculosis lainya. Etambutol dapat
digunakan dalam kombinasi dengan pirazinamid, isoniazid, rifampisin
untuk mengobati tuberculosis (Mycek, Mary J., dkk. 2001).
a. Indikasi
Etambutol digunakan sebagai terapi kombinasi tuberkulosis
dengan obat lain, sesuai regimen pengobatan jika diduga ada
resistensi. Jika risiko resistensi rendah, obat ni dapat ditinggalkan.
Obat ini tidak dianjurkan untuk anak-anak usia kurang 6 tahun,
neuritis optik, gangguan visual (Depkes RI, 2005).
b. Dosis
Untuk dewasa dan anak berumur diatas 13 tahun, 15 -25 mg mg
per kg berat badan, satu kali sehari. Untuk pengobatan awal diberikan
15 mg / kg berat badan, dan pengobatan lanjutan 25 mg per kg berat
badan. Kadang kadang dokter juga memberikan 50 mg per kg berat
badan sampai total 2,5 gram dua kali seminggu. Obat ini harus
diberikan bersama dengan obat anti tuberkulosis lainnya. Tidak
diberikan untuk anak dibawah 13 tahun dan bayi (Depkes RI, 2005).
c. Kontra indikasi
Hipersensitivitas terhadap etambutol seperti neuritis optik
(Depkes RI, 2005).
d. Mekanisme kerja
Bersifat bakteriostatik, dengan menekan pertumbuhan kuman
TB yang telah resisten terhadap Isoniazid dan streptomisin.
Mekanisme kerja, berdasarkan penghambatan sintesa RNA pada
kuman yang sedang membelah, juga menghindarkan terbentuknya
mycolic acid pada dinding sel (Depkes RI, 2005).
e. Farmakokinetik

15

Pada pemberian oral, etambutol didistribusikan dengan baik ke


seluruh tubuh. Penetrasi ke susunan saraf pusat cukup untuk terapi
pada meningitis tuberculosis. Obat induk dan metabolitnya di ekskresi
oleh filtrasi glomeruli dan sekresi tubuli (Mycek, Mary J., dkk. 2001).
Obat ini diserap dari saluran cerna. Kadar plasma puncak 2-4
jam; ketersediaan hayati 77+ 8%. Lebih kurang 40% terikat protein
plasma. Diekskresikan terutama dalam kemih. Hanya 10% berubah
menjadi metabolit tak aktif. Klearaesi 8,6% + 0,8 % ml/menit/kg BB
dan waktu paro eliminasi 3.1 + 0,4 jam. Tidak penetrasi meninge
secara utuh, tetapi dapat dideteksi dalam cairan serebrospina pada
penderita dengan meningetis tuberkulosa (Depkes RI, 2005).
f. Efek samping
Efek samping yang paling penting adalah neuritis optikus yang
menyebabkan berkurangnya ketajaman pengelihatan dan hilangnya
kemampuan untuk membedakan warna antar merah dan hijau.
Ketajaman pengelihatan harus dieriksa secara bekala. Penghentian
obat menghasilkan perbaikan gejala-gejala toksik. Selain itu, ekskresi
asam urat berkurang oleh etambutol, sehingga dapat menyebabkan
kekambuhan penyakit (Mycek, Mary J., dkk. 2001).
Efek samping yang muncul antara lain gangguan penglihatan
dengan penurunan visual, buta warna dan penyempitan lapangan
pandang. Gangguan awal penglihatan bersifat subjektif; bila hal ini
terjadi maka etambutol harus segera dihentikan. Bila segera
dihentikan, biasanya fungsi penglihatan akan pulih. Reaksi adversus
berupa sakit kepala, disorientasi, mual, muntah dan sakit perut
(Depkes RI, 2005).
5. Streptomisin
a. Indikasi
Sebagai kombinasi pada pengobatan TB bersama isoniazid,
Rifampisin, dan pirazinamid, atau untuk penderita yang dikontra

16

indikasi dengan 2 atau lebih obat kombinasi tersebut (Depkes RI,


2005).
b. Dosis
Obat ini hanya digunakan melalui suntikan intra muskular,
setelah dilakukan uji sensitifitas.Dosis yang direkomendasikan untuk
dewasa adalah 15 mg per kg berat badan maksimum 1 gram setiap
hari, atau 25 30 mg per kg berat badan, maksimum 1,5 gram 2 3
kali seminggu. Untuk anak 20 40 mg per kg berat badan maksimum
1 gram satu kali sehari, atau 25 30 mg per kg berat badan 2 3 kali
seminggu. Jumlah total pengobatan tidak lebih dari 120 gram (Depkes
RI, 2005).
c. Kontra indikasi
Hipersensitifitas

terhadap

streptomisin

sulfat

atau

aminoglikosida lainnya (Depkes RI, 2005).


d. Mekanisme kerja
Bersifat bakterisid, dapat membunuh kuman yang sedang
membelah. Mekanisme kerja berdasarkan penghambatan sintesa
protein kuman dengan jalan pengikatan pada RNA ribosomal (Depkes
RI, 2005).
e. Farmakokinetik
Absorpsi dan nasib Streptomisn adalah kadar plasma dicapai
sesudah suntikan im 1 2 jam, sebanyak 5 20 mcg/ml pada dosis
tunggal 500 mg, dan 25 50 mcg/ml pada dosis 1. Didistribusikan
kedalam jaringan tubuh dan cairan otak, dan akan dieliminasi dengan
waktu paruh 2 3 jam kalau ginjal normal, namun 110 jam jika ada
gangguan ginjal (Depkes RI, 2005).
f. Efek samping
Efek samping akan meningkat setelah dosis kumulatif 100 g,
yang hanya boleh dilampaui dalam keadaan yang sangat khusus
(Depkes RI, 2005).

17

D. Definisi Leprostatik
Lepra atau kusta (bahasa sansekerta) adalah suatu penyakit infeksi
kronis yang merusak terutama jaringan saraf dan kulit. Penyebabnya
Mycobacterium leprae ditemukan oleh dokter Norwegia Hansen, maka lepra
juga disebut penyakit hansen. Basil lepra mirip sifatnya dengan basil TBC,
yakni sangat ulet karena mengandung banyak lilin (wax) yang sukar ditembus
obat, tahan-asam dan pertumbuhannya sangat lambat sekali (Tjay dan
Rahardja, 2007).
Lepra (penyakit Hansen) disebabkan Mycobacterium leprae. Basil-basil
dari lesi kulit atau sekret hidung seseorang penderita lepra masuk ke individu
yang peka melalui kulit atau saluran napas. WHO menganjurkan regimen tiga
macam obat yaitu dapson, slofamizin, dan rifampisin selama 6 sampai 24
bulan (Nugroho, 2012).
Penyakit lepra di Indonesia cukup banyak dan memerlukan perhatian
yang serius. Antilepra golongan sulfon, rifampisin, klofazimin, amitiozon dan
obat-obat lain serta pengobatan lepra. WHO menganjurkan pnggunaan
kombinasi 3 obat sekaligus yaitu dapson, rifampisin dan klofamizin untuk
pemberantasan global penyakit lepra (Gunawan, Sulistia Gan, 2007).
Lazimnya kusta dibagi dalam 3 bentuk klinis dengan sifat-sifat khusus,
yakni (Tjay dan Rahardja, 2007):
a. Lepra tuberkuloid juga disebut lepra paucibacillair adalah bentuk
terlokalisasi dengan 1-5 luka. Bentuk ini paling sering terjadi, tidak
bersifat menulardan agak mudah disembuhkan.
b. Lepra lepromateus juga disebut lepra multibacillair adalah bentuk
tersebar yang bersifat sangat menular, lebih sukar dan lebih lama
disembuhkan.
c. Lepra borderline adalah kombinasi Lepra tuberkuloid dan Lepra
lepromateus.
Reaksi lepra adalah reaksi imunologi serius terhadap Mycobacterium
leprae yangterjadi selama pengobatan. Reaksi lepra dibagi menjadi dua tipe,
yaitu (Tjay dan Rahardja, 2007):
a. Tipe I, menimbulkan exacerbasi mendadak dari luka-luka kulit dan saraf
yang meradang dan membengkak.

18

b. Tipe II, terjadi hanya pada Lepra lepromateus sebagai reaksi imun
humoral terhadap antigen basil lepra.
Pengobatan Lepra
1. Lepra tipe PB
Jenis dan obat untuk orang dewasa
Pengobatan bulanan : Hari pertama (diminum didepan petugas)
a. 2 kapsul Rifampisin 300 mg (600 mg)
b. 1 tablet Dapsone (DDS 100 mg)
Pengobatan hari ke 2-28 (dibawa pulang)
a. 1 tablet dapson (DDS 100 mg) 1 Blister untuk 1 bulan
Lama pengobatan : 6 Blister diminum selama 6-9 bulan
2. Lepra tipe MB
Jenis dan dosis untuk orang dewasa :
Pengobatan Bulanan : Hari pertama (Dosis diminum di depan petugas)
a. 2 kapsul Rifampisin 300 mg (600 mg)
b. 3 kapsul Lampren 100 mg (300 mg)
c. 1 tablet Dapsone (DDS 100 mg)
Pengobatan Bulanan : Hari ke 2-28
a. 1 tablet Lampren 50 mg
b. 1 tablet Dapsone (DDS 100 mg) 1 blister untuk 1 bulan
Lama Pengobatan : 12 Blister diminum selama 12-18 bulan
E. Dosis, Mekanisme Kerja dan Efek Samping Obat Leprostatik
1. Dapson
Secara struktural dapson berhubungan dengan sulfonamid. Dapson
bersifat bakteriostatik terhadap Mycobacterium leprae (Depkes RI, 2005).
a. Dosis
Bersama obat-obat lain permulaan 1 dd 50 mg, kemudian 1 dd
100 mg, maksimal 200 mg, anak-anak 1x sehari 1-1,5 mg/kg. Pada
dermatitis herp. 3-4 dd 50 mg, maksimal 300mg/hari (Tjay dan
Rahardja, 2007).
b. Farmakodinamik

19

Resorpsi dari usus hampir legkap dengan kadar darah puncak

dalam 1-3 jam. PPnya 70%, plasma-

1
2 -nya rata-rata 28 jam (10-

50) jam. Didalam hati zat ini mengalami siklus enterohepatik dan
terjadi asetilasi menjadi metabolik inaktif. Ekskresi berlangsung 20%
melalui kemih dan sebagian kecil lewat tinja (Tjay dan Rahardja,
2007).
c. Mekanisme Kerja
Dapson mempunyai aksi menghambat pembentukan asam folat
pada Mycobacterium leprae karena struktur kimianya mirip dengan
PABA (Nugroho, 2012)
d. Efek samping
Jarang terjadi pada dosis biasa, antara lain sakit kepala, mual,
muntah, sukar tidur, dan tachycardia. Pada dosis lebih tinggi dapat
terjadi kelainan darah. Dengan sulfonamida dapat terjadi resistensi
silang (Tjay dan Rahardja, 2007).

2. Klofazimin
Klofazimin adalah suatu pewarna fenazin yang mengikat DNA dan
menghambat fungi template. Sifat-sifat reduksi-oksidasi klofazimin dapat
menyebabkan terbentuknya radikal oksigen yang sitotoksik yang juga
dapat toksik terhadap bakteri. Klofazimin bersifat bakterisidal terhadap
bakteri Mycobacterium leprae dan memiliki aktivitas tertentu terhadap
kompleksi Mycobacterium avium intracellulare. Pada absorpsi peroral,
klofazimin berakumulasi dalam jaringan-jarigan, memungkinkan untuk
terpi itermiten, tetapi klofazimin tidak masuk ke susunan saraf pusat.
Penderita-penderita dapat mengalami perubahan warna kulit merah-coklat.
a. Dosis
Lepra lepramoteus bersama dapson dan rifampisin 3x seminggu
100 mg + 1x sebulan 300 mg selama minimal 2 tahun atau sampai
pembiakan apus kulit menjadi negatif (Tjay dan Rahardja, 2007)..
b. Farmakodinamik

20

Dari usus lambat dan kurang baik (50%), kadar puncak darah
baru dicapai setelah 8-12 jam. Zat ini bersifat lipofil kuat, ditimbun
dalam jaringan lemak dan makrofag dari sistem tangkis untuk

kemudian dilepaskan lagi sacara berangsur-angsur Plasma-

1
2 -nya

lama sekali 70 hari, maka dapat ditakarkan secara intermiten.


Ekskresinya terutama lewat tinja (Tjay dan Rahardja, 2007)..
c. Efek samping
Efek samping terpenting berupa pewarnaan merah yang
reversibel dari kemih, keringat, air mata dan selaput mata, ludah dan
tinja. Gangguan lambung dan usus biasanya terjadi sesudah 6 bulan.
Lebih serius adalah pengendapan kristal pada dinding usus dan cairan
mata (Tjay dan Rahardja, 2007).
3. Rifampisin
Antibiotik dan kelompok rifampisin ini berkhasiat leprosid
berdasarkan oenghambatan enzim kuman RNA-polymerase. Kerjanya
lebih cepat dan efektif dari pada Dapson (Tjay dan Rahardja, 2007).
a. Dosis
Umumnya 1 dd 600 mg, atau menurut WHO 1 kali sebulan
(Tjay dan Rahardja, 2007).
b. Mekanisme kerja
Rifampisin menghambat transkripsi dengan cara berinteraksi
dengan

-subunit RNA polimerase bakterial tergantung DNA,

sehingga mengahambat sintesis RNA dengan menekan langkah


permulaan. Obat tersebut spesifik untuk prokariot.
c. Farmakokinetik
Absorbsi cukup setelah pemberian oral. Distribusi rifampisin
terjadi keseluruh organ tubuh. Kadar yang cukup dicapai dalam
serebrospinalis bahkan walaupun tidak ada. Radang obat tersebut
diambil oleh hati dan mengalami siklus enterohepatik. Rifampisin
sendiri dapat menginduksi oksidase fungi campuran dalam hati,
menyebabkan pemendekan waktu-paruh. Eliminasi melalui empedu
ke dalam tinja dan melalui urine sebagai metabolit dan obat induk.

21

Urine dan fases serta sekresi lainnya mempunyai warna merah-oranye.


(Depker RI, 2005).
d. Efek samping
Efek samping adalah suatu masalah ringan dengan rifampisin,
tetapi dapat meliputi mual, muntah, ruam dan demam. Obat tersebut
harus digunakan secara hati-hati pada penderita dengan kegagalan hati
sebab ikterus yang terjadi pada penderita penyakit hati kronik,
peminum alkohol, atau pada pemula (Depkes RI, 2005)
F. Contoh Obat yang Beredar di Pasaran
a. Obat-obat Tuberkulosis
1. INH CIBA
Kandungan
: Isoniazid 400 mg, vitamin B6 10 mg
Indikasi
: Anti tuberkulosis
Kontra indikasi : Pasien gangguan hati, gangguan ginjal yang parah
Efek samping
: Mual,muntah, tegang bagian perut, reaksi hepatitis
Dosis
: Dewasa sehari 1 tablet

2. Rifampicin
Kandungan
Indikasi
Dosis

: Rifampicin
: Anti tuberkulosis
: Dewasa dan anak-anak > 50 kg sehari 450 mg

3. Pyrazinamide
Kandungan
Indikasi
Dosis

: Pirazinamid 500 mg
: Terapi tuberkulosis sekunder
: 20-30 mg/kgBB dosis tunggal atau terbagi

4. Bacbutol
Kandungan

: Etambutol 500 mg

22

Indikasi
Dosis

5. Rifamtibi
Kandungan
Indikasi
Kontra indikasi
Dosis

: Anti tuberkulosis paru


: Dewasa lazim 15-25 mg/kgBB/hari sebagai dosis
tunggal

: Rifampisin 450 mg
: Anti tuberkulosis
: Hipersensitif, ikterus, bayi prematur
: Sebaiknya dikombinasi dengan INH atau
etambutol, rifamtibi diberikan 1 jam sebelum
makan atau 2 jam setelah makan

6. Sanazet
Kandungan
Indikasi
Kontra indikasi
Efek samping
Dosis

: Pirazinamid 500 mg
: Anti tuberkulosis kombinasi (iso-niazida.
Rifampisina)
: Kerusakan hati. hiperurikemia
: mata atau kulit berwarna kuning
: Dewasa 20-35 mg/kbBB/hari, maksimum 3 gram,
terbagi dakam 3-4 dosis, anak-anak 20 mg/kgBB/
hari

b. Obat-obat Lepra
1. Merimac
Kandungan
Indikasi
Kontra indikasi

: Rifampicin 450 mg
: Lepra
: Hipersensitif

23

Efek samping
Dosis

: Menyebabkan warna kemerahan dari cairan tubuh


: Dewasa Rifampisin 600 mg sebulan 1x + Dapson
a sehari 1x + Klofasimin sebulan 1x300 mg + sehari
a 1x 50 mg

2. Rifampicin
Kandungan
Indikasi
Dosis

: Rifampicin 300 mg
: Lepra
: 10-20 mg/kgBB

3. Rimactane
Kandungan
Indikasi
Kontra indikasi
Efek samping
Dosis

: Rifampisin 450 mg
: Anti tuberkulosis dan lepra
: Ikterus, hipersensitivitas
: Urin berwarna kemerahan, gangguan GI
: Dewasa 600 mg 1x sebulan

4. Rimactane
Kandungan
Indikasi
Kontra indikasi
Efek samping
Dosis

: Rifampisin 300 mg
: Anti tuberkulosis dan lepra
: Ikterus, hipersensitivitas
: Urin berwarna kemerahan, gangguan GI
: Dewasa 600 mg 1x sebulan: anak sebulan 1x10
mg/kgBB

24

25

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh
kuman TB (Mycobacterium Tuberculostatik). Sebagian besar kuman TB
menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya.
2. Lepra atau kusta (bahasa sansekerta) adalah suatu penyakit infeksi kronis
yang merusak terutama jaringan saraf dan kulit. Penyebabnya
Mycobacterium leprae.
B. Saran
Saran yang paling tepat untuk mencegah penyakit tuberkulosis dan
lepra adalah meningkatkan daya tahan tubuh dengan makanan bergizi, serta
penderita dituntut untuk minum obat secara benar sesuai yang dianjurkan oleh
dokter serta teratur untuk memeriksakan diri ke klinik/puskesmas.

26

DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI. 2005. Pharmaceutical care untuk penyakit Tuberkulosis. Jakarta:
Depkes RI
Depkes RI. 2014. Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis. Jakarta: Depkes
RI
Gunawan, Sulistia Gan. 2007. Farmakologi dan Terapi Edisi V. Jakarta:
Universitas Indonesia
Kamienski dan Keogh. 2015. Farmakologi. Yogyakarta: Rapha Publishing
Mycek, Mary J., dkk. 2001. Farmakologi Ulasan Bergambar Edisi: 2. Jakarta :
Widya Medika
Nugroho. 2012. Farmakologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Tjay dan Rahardja. 2007. Obat-obat Penting Edisi Keenam. Jakarta: PT.
Gramedia

27