Anda di halaman 1dari 16

TUGAS AKHIR

Kasus Suap Hakim Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan


Akuntansi Forensik
Dosen: Prof. Gudono, Ph. D. CMA., CA.

Disusun Oleh:
Fitria Ningrum Sayekti
15/387011/PEK/20561

MAGISTER AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2016

1. Ringkasan kasus
Kejadian itu berawal dari operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan
penyidik KPK terhadap Ketua PTUN Medan Tripeni Iriyanto Putro, Panitera
sekaligus Sekretaris PTUN Medan Syamsir Yusfan, dan Pengacara M. Yagari
Bhastara alias Gerry. Dalam penggerebekan itu, penyidik menemukan uang
pecahan dolar Amerika Serikat di ruangan milik Tripeni dengan jumlah pecahan
itu mencapai USD5.000. Kemudian KPK juga menangkap dua hakim PTUN lain
dari kantor PTUN. Hakim Tripeni juga mengakui adanya sisa uang yang tertinggal
di ruang kerjanya, dan penyidik kemudian menemukan sejumlah uang
USD10.000 dan 5.000 dolar Singapura. Sekitar pukul 20.00 WIB, kelimanya
digiring ke Jakarta untuk melengkapi pemeriksaan selanjutnya. Empat jam
berjalan, kelimanya mendarat di lembaga antikorupsi itu, tepatnya sekitar pukul
24.00 WIB (Sindonews, 2015).
Kasus dugaan korupsi dana Bansos dan BDB Provinsi Sumut ini menjadi
awal mula terjadinya gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan
yang berujung dugaan suap kepada tiga Hakim dan seorang Panitera. Perkara ini
dimulai ketika Kepala Biro Keuangan Pemprov Sumut Ahmad Fuad Lubis dan
Pelaksana Harian Sekretaris Daerah Sumut Sabrina mendapat panggilan Kejati
Sumut. Khawatir adanya pelebaran perkara, Gatot dan Evy pun menemui Kaligis
untuk menjadi kuasa hukum Fuad. OC Kaligis dan timnya pun berupaya untuk
mengajukan permohonan pengujian kewenangan Kejaksaan Tinggi Sumatera
Utara sesuai dengan UU Nomor 30 tahun 2014 tentang Administrasi
Pemerintahan atas Penyelidikan tentang dugaan terjadinya Tindak Pidana Korupsi
agar putusannya mengabulkan permohonan yang diajukan oleh Ahmad Fuad
Lubis ke PTUN Medan.
Pada pertengahan April 2015, Syamsir ditemui Kaligis, Gerry, dan Indah di
ruang kerjanya dan diminta agar dapat mempertemukan mereka dengan Hakim
PTUN Medan Tripeni Irianto Putro. Setelah menemui Tripeni, Kaligis
memberikan uang sebesar SGD5,000. Setelah itu, Kaligis memberikan uang
sebesar US$1,000 kepada Syamsir.
Pada 5 Mei 2015, Syamsir kembali ditemui Kaligis dan Gerry yang
meminta dipertemukan dengan Tripeni. Dalam pertemuan tersebut, Kaligis

memberi uang sebesar US$10,000 dalam amplop yang diselipkan di buku kepada
Tripeni. Sementara Gerry menunggu proses pendaftaran gugatan di ruang kerja
Syamsir. Setelah itu, Syamsir menyerahkan berkas gugatan dan meminta Tripeni
untuk menjadi hakimnya (CNNIndonesia, 2015).
Pada 18 Mei 2015, sidang pertama digelar. Sebelum sidang, Gerry kembali
menemui Tripeni untuk meyakinkan soal gugatan tersebut. Lagi, Kaligis bersama
Gerry dan Indah menemui Syamsir untuk dipertemukan dengan Tripeni. Saat itu,
Kaligis menyuruh Gerry untuk menemui Hakim Dermawan Ginting. Gerry pun
akhirnya bertemu Dermawan atas jasa Syamsir. Gery bertemu dengan Hakim
Dermawan dan Hakim Amir untuk menyerahkan duit dalam amplop putih masingmasing senilai US$5.000. Pada akhirnya, Hakim Tripeni memutuskan untuk
membatalkan surat panggilan Kejaksaan Tinggi untuk memeriksa Fuad. Dan
menyatakan bahwa keputusan termohon (Kejaksaan Tinggi) perihal permohonan
keterangan kepada Bendahara Umum Daerah adalah penyalahgunaan wewenang.
Usai sidang, Gerry memberikan US$1,000 di dalam amplop kepada Syamsir
(CNNIndonesia, 2015).
Kasus bansos yang sedang ditangani Kejaksaan Agung tersebut kemudian
diteliti kembali oleh BPK. Kepala Subbagian Hubungan Masyarakat Badan
Pemeriksa Keuangan Kantor Perwakilan Sumatera Utara, Iskandar Setiawan,
mengatakan hasil audit lembaganya menemukan kejanggalan penggunaan dana
bantuan sosial Pemerintah Provinsi Sumatera Utara tahun 2011 hingga 2013.
Menurut dia, sejumlah kegiatan yang dibiayai tak sesuai dengan proposal, bahkan
beberapa lainnya diduga fiktif. "Terdapat penerima dana hibah dan bansos yang
belum menyampaikan pertanggungjawaban (Tempo, 2015).
Ahmad menggugat Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara karena mengusut
dugaan korupsi dana bansos. Padahal, Kejaksaan Agung sedang menelisik kasus
yang sama. Merujuk pada audit BPK pada 2012, sebanyak 1.631 proposal dana
bansos Pemerintah Provinsi Sumatera Utara tak melalui prosedur yang benar.
Besaran dan pengalokasiannya disinyalir banyak ditentukan oleh Gubernur
Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho yang sebelumnya wakil gubernur
berpasangan dengan Gubernur Syamsul Arifin sejak 2008.

Audit BPK itu sejalan dengan temuan Kejaksaan Agung tentang daftar
lembaga penerima bansos termasuk lembaga bentukan pemerintah seperti Dewan
Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda). Dekranasda disebut dalam temuan
Kejaksaan Agung menerima Rp 3 miliar tahun 2012 dan tahun 2013 bersumber
dari dana bansos. Deskarnas diketuai oleh istri pertama Gatot Pujo Nugroho,
Sutias Handayani (Tempo, 2015).
2. Pelaku
- Yagari Bastara Guntur (Gerry) seorang pengacara dari kantor advokat OC
Kaligis dan berperan sebagai perantara pemberi suap.
- Tripeni Irianto Putro seorang mantan ketua PTUN Medan sebagai penerima
suap dan sebagai hakim yang memutuskan untuk membatalkan surat panggilan
Kejaksaan Tinggi untuk memeriksa Fuad.
- Amir Fauzi mantan anggota majelis hakim PTUN Medan sekaligus penerima
suap.
- Darmawan Ginting mantan anggota majelis hakim PTUN Medan sekaligus
penerima suap.
- Syamsir Yusfan adalah mantan Panitera PTUN Medan dan penerima suap.
- OC Kaligis sebagai pengacara dari Gatot Pujo Nugroho dan berperan sebagai
pemberi ide suap dan juga beberapa kali memberikan uang kepada ketua
PTUN.
- Gatot Pujo Nugroho adalah mantan dan mantan gubernur sumut sebagai
sumber dana pemberian suap.
- Evy Susanti istri Gatot dan pemberi suap.
3. Modus kejahatan: Penyuapan ketiga hakim
- Berawal dari surat panggilan Kepala Biro Keuangan Pemprov Sumut Ahmad
Fuad Lubis dan Pelaksana Harian Sekretaris Daerah Sumut Sabrina mendapat
panggilan Kejati Sumut.,khwatir kasus tersebut akan melibatkan dirinya dan
istri, Gatot, Evy memberikan surat kuasa kepada pengacaranya OC Kaligis
untuk membantu menyelesaikan permasalahan ini.

- OC Kaligis dan timnya pun berupaya untuk mengajukan permohonan


pengujian kewenangan Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara sesuai dengan UU
No 30 tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan atas Penyelidikan
tentang

dugaan

terjadinya

Tindak

Pidana

Korupsi

agar

putusannya

mengabulkan permohonan yang diajukan oleh Ahmad Fuad Lubis ke PTUN


Medan.
- Kemudian suap dari gatot dan evy diberikan bertahap melalui oc kaligis dan
beberapa kali diwakilkan oleh anak buahnya berrnama gerry. Tujuan pemberian
suap adalah untuk mempengaruhi putusan permohonan pengujian kewenangan
Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara sesuai dengan Undang-Undang Nomor 30
Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan Atas Penyelidikan tentang
dugaan terjadinya Tindak Pidana Korupsi Dana Bantuan Sosial (BANSOS),
Bantuan Daerah Bawahan (BDB), Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan
Penahanan Pencairan Dana Bagi Hasil (DBH).
- Pada 5 Mei 2015, Syamsir kembali ditemui Kaligis dan Gery yang meminta
dipertemukan dengan Tripeni. Dalam pertemuan tersebut, Kaligis memberi
uang dalam amplop yang diselipkan di buku kepada Tripeni. Sementara Gerry
menunggu proses pendaftaran gugatan di ruang kerja Syamsir. Setelah itu,
Syamsir menyerahkan berkas gugatan dan meminta Tripeni untuk menjadi
hakimnya. Jumlah yang yang diterima Tripeni sebesar 5.000 dolar Singapura
dan US$10.000, Amir Fauzi dan Darmawan Ginting masing-masing menerima
US$5.000. dan Syamsir Yusfan menerima US$2.000.
- Akhirnya, Hakim Tripeni memutuskan untuk membatalkan surat panggilan
Kejaksaan Tinggi untuk memeriksa Fuad. "Menyatakan keputusan termohon
(Kejaksaan Tinggi) perihal permohonan keterangan kepada Bendahara Umum
Daerah adalah penyalahgunaan wewenang.
4. Flowchart Kronologi kasus
1) Berawal dari surat panggilan Kepala Biro Keuangan Pemprov Sumut Ahmad
Fuad Lubis dan Pelaksana Harian Sekretaris Daerah Sumut Sabrina mendapat
panggilan Kejati Sumut. Khwatir kasus tersebut akan melibatkan dirinya dan
istri,

Gatot (mantan gubernur Sumatera Utara) dan Evy (Istri Gatot)

memberikan surat kuasa kepada pengacaranya OC Kaligis untuk membantu


menyelesaikan permasalahan ini.
2) OC Kaligis dan timnya pun berupaya untuk mengajukan permohonan
pengujian kewenangan Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara sesuai dengan UU
No 30 tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan atas Penyelidikan
tentang dugaan terjadinya Tindak Pidana Korupsi agar putusannya
mengabulkan permohonan yang diajukan oleh Ahmad Fuad Lubis ke PTUN
Medan.
3) OC Kaligis kemudian bertemu Tripeni (Ketua PTUN Medan) di ruangannya
dan memberikan uang sebesar SGD5.000 untuk menerima pengajuan
permohonan pengujian tersebut.
4) Setelah itu, Kaligis memberikan uang sebesar US$1,000 kepada Syamsir
(mantan Panitera PTUN Medan).
5) Sekitar awal Mei 2015, Syamsir menanyakan rencana gugatan Kaligis kepada
Tripeni

yang

ternyata

telah

didaftarkan.

Hal

tersebut

langsung

diberitahukannya kepada Gerry.


6) Pada 5 Mei 2015, Syamsir kembali ditemui Kaligis dan Gerry yang meminta
dipertemukan dengan Tripeni. Dalam pertemuan tersebut, Kaligis memberi
uang dalam amplop yang diselipkan di buku kepada Tripeni sebesar
US$10,000.
7) Syamsir menyerahkan berkas gugatan dan meminta Tripeni untuk menjadi
hakimnya.
8) Pada 18 Mei 2015, sidang pertama digelar. Sebelum sidang, Gerry kembali
menemui Tripeni untuk meyakinkan soal gugatan tersebut.
9) Kemudian Kaligis bersama Gerry dan Indah menemui Syamsir untuk
dipertemukan dengan Tripeni. Saat itu, Kaligis menyuruh Gerry untuk
menemui Hakim Dermawan Ginting. Gerry pun akhirnya bertemu Dermawan
atas jasa Syamsir. Gerry bertemu dengan Hakim Dermawan dan Hakim Amir
untuk menyerahkan duit dalam amplop putih masing-masing senilai
US$5.000.
10) Pada Tanggal 7 Juli 2015, Hakim Tripeni memutuskan untuk membatalkan
surat panggilan Kejaksaan Tinggi untuk memeriksa Fuad. "Menyatakan

keputusan termohon (Kejaksaan Tinggi) perihal permohonan keterangan


kepada Bendahara Umum Daerah adalah penyalahgunaan wewenang.
11) Usai sidang, Gerry memberikan US$1,000 di dalam amplop kepada Syamsir.

5. Pasal yang dilanggar


Nama pelaku
Yagari Bastara

Pasal yg dilanggar
Pasal 6 ayat 1 huruf a Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah

Guntur (Gerry)

dengan

Undang-Undang

Nomor

20 Tahun 2001

tentang

Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1


Tripeni

KUHP juncto Pasal 65 ayat 1 KUHP.


Irianto Pasal 12 huruf c UU Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan

Putro

Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20


Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 juncto Pasal 64 ayat 1

Amir Fauzi

KUH Pidana.
Pasal 12 huruf a atau huruf b atau huruf c atau Pasal 6 Ayat 2 atau
Pasal 5 Ayat 2 atau Pasal 11 UU Nomor 31/1999 sebagaimana

Darmawan

diubah dengan UU Nomor 20/2001 jo Pasal 55 Ayat 1 ke-1.


Pasal 12 huruf a atau huruf b atau huruf c atau Pasal 6 Ayat 2 atau

Ginting

Pasal 5 Ayat 2 atau Pasal 11 UU Nomor 31/1999 sebagaimana

Syamsir Yusfan

diubah dengan UU Nomor 20/2001 jo Pasal 55 Ayat 1 ke-1.


Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 UU Nomor 31 Tahun1999
sebagaimana diubah 20 Tahun 2001 jo Pasal 64 Ayat 1 jo Pasal 55

OC Kaligis

Ayat 1 ke-1 KUHP.


Pasal 6 ayat 1 huruf a atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31
sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun
2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal

Gatot Pujo

55 ayat 1 ke-1 KUHP juncto Pasal 64 ayat 1 KUHP.


Pasal 6 ayat 1 huruf a dan Pasal 13 Undang-Undang (UU) Nomor

Nugroho

31 Tahun 1999 sebagaimana diubah UU Nomor 20 Tahun 2001


tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55

Evy Susanti

Ayat 1 ke-1 juncto Pasal 64 Ayat 1 KUHP.


Pasal 6 ayat 1 huruf a dan Pasal 13 Undang-Undang (UU) Nomor
31 Tahun 1999 sebagaimana diubah UU Nomor 20 Tahun 2001
tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55
Ayat 1 ke-1 juncto Pasal 64 Ayat 1 KUHP.

6. Hipotesis Pemeriksaan
Nama pelaku
Yagari Bastara

Hipotesis Pemeriksaan
Berdasarkan hasil operasi tangkap tangan KPK, Gerry menjadi
8

Guntur (Gerry)
Tripeni Irianto

tersangka pemberi suap tiga hakim PTUN Medan.


Berdasarkan hasil operasi tangkap tangan KPK, Tripeni menerima

Putro

suap sebesar 5.000 dolar Singapura dan US$ 10.000 untuk


memenangkan perkara yang ditangani tim pengacara OC Kaligis.
Dan diduga melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-

Amir Fauzi

sama.
Berdasarkan hasil operasi tangkap tangan KPK, Amir menerima
suap sebesar US$ 5.000 untuk memenangkan perkara yang
ditangani tim pengacara OC Kaligis. Dan diduga melakukan

Darmawan

tindak pidana korupsi secara bersama-sama.


Berdasarkan hasil operasi tangkap tangan KPK, Darmawan

Ginting

menerima suap sebesar US$ 5.000 untuk memenangkan perkara


yang ditangani tim pengacara OC Kaligis. Dan diduga melakukan

Syamsir Yusfan

tindak pidana korupsi secara bersama-sama.


Diduga menerima suap sebesar US$ 2.000 dari Gerry untuk
memenangkan perkara yang ditangani tim pengacara OC Kaligis.
Dan diduga melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-

OC Kaligis
Gatot Pujo

sama.
Diduga menjadi tersangka pemberi suap tiga hakim PTUN Medan.
Diduga menyuap tiga hakim serta satu panitera Pengadilan Tata

Nugroho

Usaha Negara (PTUN) Medan dan eks Sekjen NasDem Patrice


Rio Capella. Dan memberikan suap sebesar US$ 27.000 dan 5.000
dollar Singapur. Diduga melakukan tindak pidana korupsi secara

Evy Susanti

bersama-sama.
Diduga menyuap tiga hakim serta satu panitera Pengadilan Tata
Usaha Negara (PTUN) Medan dan eks Sekjen NasDem Patrice
Rio Capella. Dan memberikan suap sebesar US$ 27.000 dan 5.000
dollar Singapur. Diduga melakukan tindak pidana korupsi secara
bersama-sama.

7. Data yang dikumpulkan


- Keterangan Saksi
17 saksi dihadirkan dipersidangan yang terkait dengan tersangka Gatot.
-

Bukti Digital
Bukti berupa rekaman suara dari komunikasi antar para tersangka dan bukti lain adalah
rekaman

isi pesan singkat/SMS (Short Message Service). Rekaman SMS ini dapat
9

diperoleh melalui penyadapan atau meminta dari operator yang bersangkutan, mengingat
bahwa KPK diperbolehkan untuk melakukan penyadapan. Rekaman CCTV dibeberapa
tempat yang digunakan sebagai tempat transaksi.
-

Bukti fisik
Uang sejumlah USD5.000 yang ditemukan pada saat operasi tangkap tangan (OTT).

Bukti dokumen
Surat kuasa untuk OC kaligis untuk menyelesaikan kasus, hasil audit BPK tahun 2011,
2012 dan 2013. Surat pencairan dan SPM (surat perintah membayar) serta dokumen terkait
alat bukti untuk putusan pengadilan.

8. Vonis hakim
Nama pelaku
Yagari Bastara

Hukuman
Tanggal putusan: 17 Februari 2016

Guntur (Gerry)

Putusan: Divonis hukuman penjara selama 2 tahun dan denda


sebanyak Rp150 juta subsider 6 bulan.
Gerry menjadi justice collaborator Komisi Pemberantasan Korupsi
pada 4 Agustus 2015. Pertimbangan penyidik KPK memberikan
status tersebut karena dia kooperatif selama pemeriksaan. Dia juga

Tripeni Irianto

membuka kasus penyuapan tersebut (Tempo, 2016).


Tanggal putusan: 17 Desember 2015

Putro

Putusan: Divonis hukuman pidana dua tahun penjara dan diminta


membayar

Amir Fauzi

denda

Rp200

juta

dengan

subsider

dua

bulan

(CNNIndonesia, 2015).
Tanggal putusan: 27 Januari 2016
Putusan: Divonis penjara 2 tahun dan dikenakan hukuman membayar
denda sebesar Rp200 juta subsidair 2 bulan kurungan.

Darmawan

Tanggal putusan: 27 Januari 2016

Ginting

Putusan: Divonis penjara 2 tahun dan dikenakan hukuman membayar

Syamsir Yusfan

denda sebesar Rp200 juta subsidair 2 bulan kurungan.


Tanggal putusan: 3 Desember 2015
Putusan: Divonis penjara 4 tahun 6 bulan dan denda Rp200 juta dan
apabila tidak dibayar, diganti dengan kurungan selama enam bulan

OC Kaligis

(CNNIndonesia, 2015).
Tanggal putusan pertama: 17 Desember 2015
10

Putusan: Divonis penjara 5 tahun dan 6 bulan dan denda Rp300 juta
dan apabila tidak dibayar, diganti dengan kurungan selama empat
bulan.
Mengajukan banding dan Tanggal putusan kedua: 3 Juni 2016
Putusan: diperberat menjadi 7 tahun penjara.
Gatot Pujo

(CNNIndonesia, 2016).
Tanggal putusan pertama: 14 Maret 2016

Nugroho

Putusan: Divonis penjara 3 tahun dan denda masing-masing Rp100


juta yang apabila tidak dibayar diganti dengan kurungan tiga bulan.

Evy Susanti

(Kompas, 2016)
Tanggal putusan pertama: 14 Maret 2016
Putusan: Divonis penjara 2 tahun dan enam bulan dan denda masingmasing Rp100 juta yang apabila tidak dibayar diganti dengan
kurungan tiga bulan. (Kompas, 2016)

9. Kesimpulan analisis
Kasus ini memiliki dua sudut pandang, yaitu berkaitan dengan kasus suap dan kasus
bansos yang menjadi awal penyebabnya. Sehingga terdapat dua motif yang menyebabkan
terjadinya kedua kasus tersebut. Motif awal dari adanya kasus bansos berdasarkan fraud
triangle adalah rasionalisasi. Mantan Gubernur Sumatera utara mengakui bahwa adanya
uang ketok yang sudah tradisi selama ia menjabat di Sumatera Utara sejak 2011. Makna
uang ketok sendiri adalah dana pemulus pengesahan anggaran pendapatan dan belanja
daerah (Tempo, 2016). Dana tersebut dibagikan ke seluruh anggota DPRD Sumatera Utara
untuk tahun anggaran 2012 hingga 2015. Hal ini yang menjadi alasan mengapa Gatot
menganggap uang ketok tersebut menjadi wajar. Motif kedua, pemberian suap karena
adanya pressure (tekanan) yang diterima oleh Gatot dan Evy. Surat panggilan untuk Ahmad
Fuad Lubis dan Sabrina dari Kejati Sumut memunculkan kekhawatiran akan melibatkan
dirinya dan istri dalam kasus dana bansos. Motif inilah yang kemudian mendorong Gatot
untuk meminta bantuan kuasa hukumnya, yaitu OC Kaligis untuk menyelesaikan
permasalahan tersebut.
Jenis fraud untuk kasus ini adalah penyuapan (bribery) yang dilakukan oleh Gatot dan
Evy melalui kuasa hukumnya OC Kaligis dan Gerry kepada mantan hakim, mantan anggota
majelis hakim, dan mantan Panitera PTUN Medan. Selain itu, terjadi pengambilan aset secara
ilegal (asset misappropriation) berupa dana uang ketok yang digunakan untuk menyuap

11

anggota DPRD. Dana tersebut diperoleh melalui uang yang dikumpulkan dari seluruh SKPD
di Provinsi Sumatera Utara.
Hal yang menarik adalah mengapa kasus bansos ini baru diketahui melibatkan mantan
Gubernur Sumatera Utara setelah adanya Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK. Salah satu
penyebabnya karena kasus korupsi sulit untuk dideteksi dengan proses audit BPK.
Kecurangan dengan penyalahgunaan aset dan manipulasi laporan keuangan bisa terdeteksi
dengan proses audit. Kasus ini menggunakan dana yang berasal dari tabungan Gatot sendiri
sehingga semakin sulit dideteksi. Hal lainnya adalah gatot menggunakan perantara kuasa
hukumnya sebagai eksekutor untuk memberikan suap kepada hakim.
Motif rasionalisasi dan tekanan menjadi pendorong dari munculnya kedua kasus
tersebut. Hal yang menarik lainnya bahwa tindakan Gatot dengan memberikan suap menjadi
bukti bahwa kasus korupsi ditutupi dengan kasus suap. Berarti bahwa tindakan kejahatan
yang pertama akan coba ditutupi dengan tindakan kejahatan kedua atau bahkan selanjutnya.
Kecurangan pertama berupa penyalahgunaan aset kemudian ditutupi dengan manipulasi
laporan keuangan bahkan laporan pertanggungjawaban gubernur tahun 2011 hingga 2013.
Dan selanjutnya ditutup dengan korupsi pemberian suap kepada anggota DPRD dan Hakim
PTUN Medan. Kasus Gatot ini sudah mencerminkan fraud tree berdasarkan ACFE 2008
(Tuanakotta, 2010).
Kasus bansos masih ditangani Kejaksaan Agung Medan. Tetapi untuk kasus suap telah
diputuskan melalui pengadilan tipikor yang ditangani KPK. Terdapat kesulitan yang
menghambat pihak kejaksaan untuk menyelesaikan kasus bansos tersebut, mengingat kasus
ini melibatkan banyak pihak. Kurang lebih ada 1.000 saksi yang perlu dihadirkan untuk
memperoleh keterangan mengenai kasus ini. Tidak hanya pihak DPRD yang seluruhnya
menerima suap, tetapi juga pihak-pihak yang benar menerima bantuan sosial tersebut.
Referensi
Adzkia, Aghnia. 2015. Ketua PTUN Medan Jadi Pembocor Kasus Suap Bansos Sumut.
http://www.cnnindonesia.com. Diakses pada 5 Juni 2016.
_____________. 2015. Jaksa Tuntut Panitera PTUN Medan Hukuman 4,5 Tahun Bui.
http://www.cnnindonesia.com. Diakses pada 5 Juni 2016.
Adyatama, Egi. 2016. Jadi Justice Collaborator, Gary Divonis 2 Tahun Penjara.
https://nasional.tempo.co. Diakses pada Juni 2016
12

Andinni, Alfani Roosy. 2016. Hukuman Bertambah Jadi Tujuh Tahun, OC Kaligis Ajukan
Kasasi. http://www.cnnindonesia.com. Diakses pada 5 Juni 2016.
Gabrillin, Abba. 2016. Terima Putusan Hakim Gatot Pujo Minta Maaf kepada Warga Sumut.
http://nasional.kompas.com. Diakses pada 5 Juni 2016.
Gumilang, Prima. 2015. Hakim PTUN Medan Penerima Suap OC Kaligis Divonis Dua
Tahun. http://www.cnnindonesia.com. Diakses pada Juni 2016
Hidayat, Arief. 2016. Gatot Sebut Pemberian Uang Ketok Ke DPRD Sudah Tradisi.
https://nasional.tempo.co. Diakses pada 5 Juni 2016.
Pramesti, Siwi. 2015. Kronologi Penangkapan Lima Tersangka Suap di PTUN Medan.
http://nasional.Sindonews.com. Diakses pada 5 Juni 2016.
Siswono, Eko. 2015. Eksklusif BPK Temukan Penyimpangan Bansos Gubernur Gatot.
https://m.tempo.co. Diakses pada 5 Juni 2016.
Tuanakotta, Theodorus. M. 2010. Akuntansi Forensik dan Auditor Investigatif. Lembaga
Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LPFE UI). Edisi ke 2: Jakarta.

________________. 1999. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan


Tindak Pidana Korupsi.
________________. 2001. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan
Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

13

Argumen:
TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho mengakui ada uang
pemulus untuk pengesahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi
Sumatera Utara tahun anggaran 2012. "Dulu saya waktu masih jadi Gubenrur pernah
memberikan 'uang ketok' untuk pemulus APBD 2012," ujar Gatot saat menjadi saksi dalam
sidang terdakwa Kamaluddin Harahap di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Rabu,
2 Maret 2016.
Gatot menjelaskan tiap anggota DPRD biasanya menerima Rp 10 juta tiap kali rapat
pengesahan APBD. "Uang ketok di DPRD Sumatera Utara adalah tradisi selama 2012-2015,"
ujar Gatot. Dia menambahkan bahwa tradisi ini sudah berlangsung sejak ia menjadi
pelaksana tugas Gubernur Sumatera pada 2011.
KPK telah menetapkan Gatot Pujo Nugroho sebagai tersangka pemberi suap kepada DPRD
Sumatera Utara periode 2009-2014 dan 2014-2019 pada 3 November lalu. Selain Gatot,
komisi antirasuah menetapkan lima anggota DPRD sebagai tersangka penerima suap. Mereka
adalah Ketua DPRD 2014-2019 dari Fraksi Golkar Ajib Shah, Ketua DPRD 2009-2014 dari
14

Fraksi Demokrat Saleh Bangun.


Berikutnya Wakil Ketua DPRD 2009-2014 dari Fraksi Golkar Chaidir Ritonga, Wakil Ketua
DPRD 2009-2014 dari Fraksi PAN Kamaluddin Harahap, dan Wakil Ketua DPRD 2009-2014
dari Fraksi PKS Sigit Pramono Asri.
Modus suap adalah untuk meloloskan anggaran pendapatan dan belanja daerah atau laporan
pertanggungjawaban pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Misalnya, pemberian suap saat
ada pengajuan laporan pertanggungjawaban pemerintah. Pemberian itu dilakukan beberapa
kali.
https://nasional.tempo.co/read/news/2016/03/02/063750079/gatot-sebut-pemberian-uangketok-ke-dprd-sudah-tradisi

Kepala Biro Kuangan Ahmad Fuad Lubis atas perintah Gubernur Sumatera
Utara, Gatot Pujo Nugroho. Disinyalir gugatan itu untuk menyelamatkan nasib
Gatot yang diduga tersangkut kasus dugaan korupsi APBD Sumut, tahun 2011,
2012, dan 2013. Sejumlah pejabat Pemprov Sumut pun disebut-sebut ikut terlibat
dalam dugaan korupsi tersebut.
Sehingga, Gatot dan koleganya menyewa jasa Otto Cornelis Kaligis sebagai
pengacara untuk menangani perkara tersebut. Dalam proses gugatan ?itu,
Pemprov Sumut kabarnya membutuhkan dana yang cukup banyak. Termasuk
dana yang dimaksudkan untuk mengkondisikan Hakim PTUN agar mengabulkan
gugatan Pemprov Sumut.
Untuk memenuhi kebutuhan itu, dana dikumpulkan dari sejumlah Kepala SKPD
yang dikoordinir oleh Tim TAPD Pemprov Sumut. Sampai akhirnya gugatan
Pemprov Sumut dikabulkan Hakim PTUN Medan dengan Nomor:
25/G/2015/PTUN-Medan, yang diberikan kepada Kuasa Penggugat (Pemprov
Sumut) OC Kaligis, Rico Pandeirot, Julius Irwansyah, Yagari Bhastara, Guntur,
Anis Rifal, dan R Andika.

15

Sehingga, Gatot dan koleganya menyewa jasa OC Kaligis sebagai pengacara


untuk menangani perkara tersebut. OC Kaligis yang pernah diundang dalam
acara seminar pemberantasan korupsi di Aula Bappeda Sumut menyebut kasus
dugaan korupsi APBD Pemprov Sumut merupakan kesalahan administrasi bukan
kesalahan tindak pidana korupsi.
Dalam proses gugatan itu, Pemprov Sumut kabarnya membutuhkan dana yang
cukup banyak. Termasuk dana yang dimaksudkan untuk mengkondisikan Hakim
PTUN agar mengabulkan gugatan Pemprov Sumut.
Untuk memenuhi kebutuhan itu, dana dikumpulkan dari sejumlah Kepala SKPD
yang dikoordinir oleh Tim TAPD Pemprov Sumut. Sampai akhirnya gugatan
Pemprov Sumut dikabulkan Hakim PTUN Medan dengan Nomor:
25/G/2015/PTUN-Medan, yang diberikan kepada Kuasa Penggugat (Pemprov
Sumut) OC Kaligis, Rico Pandeirot, Julius Irwansyah, Yagari Bhastara, Guntur,
Anis Rifal, dan R Andika.

16