Anda di halaman 1dari 5

Menyibak Peran Perda AIDS Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan

Oleh Syaiful W. Harahap*

Perda Kab. Luwu Timur No 7/2009 tanggal 10/08/2009 tentang Pencegahan dan
Penanggulangan HIV dan AIDS merupakan perda ke-33 dari 38 perda penanggulangan
AIDS di Nusantara. Di wilayah Prov. Sulawesi Selatan (Sulsel) perda pertama ditelurkan
oleh Pemkab. Bulukumba (2008), disusul oleh Pemkab. Luwu Timur, kemudian diikuti
oleh Pemprov. Sulsel yang menerbitkan Perda No. 4/2010 tanggal 13/4/2010. Apakah
perda ini bisa bekerja efektif menanggulangi AIDS?

‘Birahi’ menerbitkan perda penanggulangan AIDS di Indonesia muncul setelah Thailand


mengumbar keberhasilan mereka dalam menurunkan kasus baru infeksi HIV di kalangan
dewasa melalui hubungan seks. Di mulai di Kab. Nabire, Papua, tahun 2003 sampai
sekarang sudah ada 37 daerah mulai dari tingkat provinsi, kabupaten dan kota yang
menelurkan perda AIDS.

Keberhasilan Thailand dilakukan melalui program ‘wajib kondom 100 persen’ pada
hubungan seks di lokalisasi pelacuran dan rumah bordir. Di beberapa perda ada pasal
yang mewajibkan pemakaian kondom. Tapi, pasal ini tidak akan bisa diterapkan karena
beberapa faktor, al. di Indonesia tidak ada lokalisasi pelacuran dan rumajh bordir yang
‘resmi’ sehingga program itu tidak bisa diterapkan.

Karena tidak ada lokalisasi dan rumah bordir maka upaya untuk memantau program itu
tidak bisa dilakukan. Thailand memantau program melalui survailans terhadap pekerja
seks yang ada di lokalisasi dan rumah bordir. Jika ada pekerja seks yang terdeteksi
mengidap IMS (infeksi menular seksual, seperti GO, sifilis, hepatitis B, klamidia, dll.)
maka ini bukti bahwa ada pekerja seks yang meladeni pelanggan yang tidak memakai
kondom ketika sanggama. Germo atau pengelola rumah bordir diberikan sanksi secara
bertingkat sampai pada penutupan usahanya.
Di Indonesia pemantauan tidak bisa dilakukan sehingga pasal yang mewajibkan
pemakaian kondom pada hubungan seks yang berisiko tidak efektif. Selain itu gelombang
penolakan cari berbagai kalangan terhadap kondom sangat kuat sehingga sosialisasi
kondom terhambat.

Pada pasal 4 ayat b perda ini misalnya disebutkan: Upaya pencegahan HIV dan AIDS
dilakukan melalui: peningkatan penggunaan kondom pada setiap hubungan Sex berisiko.
Tidak ada penjelasan yang rinci tentang hubungan seks berisiko. Yang mendukung pasal
ini ada pasal 1 ayat 20 disebutkan: Perilaku pasangan sexsual beresiko adalah perilaku
berganti-ganti pasangan sexsual tanpa menggunakan kondom. Tapi, tetap saja tidak jelas
sasarannya.

Dalam epidemi HIV yang dimaksud dengan perilaku seks yang berisiko tertular dan
menularkan HIV adalah: (a) melakukan hubungan seks penetrasi (penis masuk ke dalam
vagina) tanpa kondom pada heteroseks (laki-laki dengan perempuan), biseks (laki-laki
dengan perempuan dan dengan laki-laki), seks anal dan seks oral di dalam atau di luar
nikah, serta homoseks (laki-laki dengan laki-laki), dengan pasangan yang berganti-ganti;
(b) melakukan hubungan seks penetrasi (penis masuk ke dalam vagina) tanpa kondom
pada heteroseks (laki-laki dengan perempuan), biseks (laki-laki dengan perempuan dan
dengan laki-laki), seks anal dan seks oral di dalam atau di luar nikah, serta homoseks
(laki-laki dengan laki-laki), dengan orang yang sering berganti-ganti pasangan, seperti
PSK.

Persoalannya kemudian adalah banyak daerah yang menepuk dada karena di daerahnya
tidak ada lokalisasi pelacuran. Bahkan, ada daerah yang membuat perda anti maksiat atau
perda anti pelacuran yang mereka jadikan sebagai pembenaran bahwa di daerahnya tidak
ada pelacuran. Padahal, praktek pelacuran terjadi di mana saja dan kapan saja di setiap
daerah. Praktek pelacuran yang tidak bisa dikontrol ini justru salah satu ladang
persemaian epidemi HIV.
Salah satu persoalan besar dalam epidemi HIV adalah kita tidak bisa mengenal orang-
orang yang sudah tertular melalui penampilan fisiknya. Soalnya, tidak ada tanda-tanda
yang khas AIDS pada fisik orang-orang yang sudah tertular HIV sebelum mencapai masa
AIDS (antara 5 – 15 tahun setelah tertular HIV). Pada rentang waktu inilah terjadi
penyebaran HIV tanpa disadari.

Dua pasal tadi tidak bisa dipakai sebagai alat untuk mencegah penularan dan penyebaran
HIV di Kab. Luwu Timur karena tidak jelas objeknya.

Pada bab kewajiban di pasal 8 ayat 5 disebuktan: Setiap orang yang telah mengetahui
dirinya terinfeksi HIV dan AIDS wajib melindungi orang lain dengan melakukan upaya
pencegahan. Pada ayat 6: Setiap orang yang bersetubuh dengan seseorang padahal
diketahui atau patut diduga bahwa dirinya dan/atau pasangannya mengidap HIV dan
AIDS wajib melindungi pasangannya dengan menggunakan kondom. Sedangkan pada
bab larangn di pasal 9 ayat 1 disebutkan: Setiap orang yang telah mengetahui dirinya
terinfeksi HIV dan AIDS dilarang mendonorkan darah, produk darah, cairan mani,
organ dan jaringan tubuhnya kepada orang lain.

Orang-orang yang sudah tertular HIV tidak bisa dikenal secara kasat mata. Kita pun tidak
bisa menduga-duga siapa saja yang sudah tertular HIV. Pasal ini mubazir karena tidak
akurat. Jika ingin menanggulangi penyebaran HIV secara komprehensif maka harus ada
pasal yang berbunyi: Setiap orang, laki-laki dan perempuan, wajib memakai kondom jika
melakukan hubungan seks, di dalam atau di luar nikah, dengan pasangan yang berganti-
ganti atau dengan orang yang sering berganti-ganti pasangan. Kemudian ada pula pasal
yang berbunyi: Setiap orang, laki-laki dan perempuan, yang pernah atau sering
melakukan hubungan seks tanpa kondom, di dalam atau di luar nikah, dengan pasangan
yang berganti-ganti atau dengan orang yang sering berganti-ganti pasangan diwajibkan
menjalani tes HIV.

Upaya penanggulangan HIV/AIDS dalam perda ini pada pasal 3 ayat a disebutkan:
Pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS bertujuan untuk melindungi masyarakat
dari bahaya HIV dan AIDS dengan cara: meningkatkan promosi perilaku hidup bersih
dan sehat. Tidak ada kaitan langsung antara perilaku hidup bersih dan sehat dengan
penularan HIV. Orang yang sehat walafiat pun bisa tertular HIV kalau dia terpapar
dengan cairan-cairan yang mengandung HIV, seperti air mani, cairan vagina, darah, dan
air susu ibu (ASI). Lagu pual pasal ini mendorong masyarakat melakukan stigma
(pemberian cap buruk) dan diskriminasi (perlakuan yang berbeda) terhadap orang-orang
yang terdeteksi HIV-positif karena dianggap tidak hidup bersih dan sehat.

Penanggulangan yang ditawarkan dalam perda ini lagi-lagi tidak komprehensif. Pada
pasal 9 ayat 1 disebutkan: Setiap orang yang telah mengetahui dirinya terinfeksi HIV dan
AIDS dilarang mendonorkan darah, produk darah, cairan mani, organ dan jaringan
tubuhnya kepada orang lain. Fakta menunjukkan lebih dari 90 persen kasus penularan
HIV terjadi tanpa disadari karena orang-orang yang sudah tertular HIV tidak menyadari
dirinya sudah mengidap HIV karena tidak ada gejala yang khas pada tubuhnya. Darah
yang mengadung HIV bisa diseleksi di unit-unit transfusi darah PMI. Darah donor
diskrining terhadap HIV dan penyakit lain. Yang bisa didonorkan bukan cairan mani, tapi
sperma. Dalam sperma tidak ada HIV.

Pencegahan dan penanggulangan epidemi HIV bisa dilakukan dengan cara-cara yang
realistis karena HIV/AIDS adalah fakta medis. Tapi, dalam perda ini yang ditawarkan
lagi-lagi tidak faktual terkait langsung dengan epidemi HIV.

Pada pasal 11 disebutkan: Masyarakat bertanggungjawab untuk berperan serta dalam


kegiatan pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS serta perlindungan terhadap
ODHA dan OHIDHA dengan cara: a. berperilaku hidup sehat; dan b. meningkatkan
ketahanan keluarga. Seperti apa, sih, perilaku hidup sehat yang terkait dengan penularan
HIV? Begitu pula dengan ketahanan keluarga, seperti apa konkretnya ketahanan keluarga
yang bisa mencegah penularan HIV?
Dari aspek medis tidak ada kaitan langsung antara penularan HIV dengan perilaku hidup
sehat dan tingkat ketahanan keluarga. Ya, lagi-lagi upaya penanggulangan epidemi HIV
dengan perda yang tidak realistif. ***

* Penulis pemerhati masalah HIV/AIDS melalui LSM (media watch) ”InfoKespro”


Jakarta (E-mail: infokespro@yahoo.com).