0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
178 tayangan16 halaman

Cerita Pagi di Kota Kecil Jawa

Cerita ini menceritakan tentang perjalanan seorang pria di sebuah kota kecil di Jawa. Ia berjalan-jalan di alun-alun kota dan melihat berbagai bangunan bersejarah. Kemudian ia bertemu dengan seorang wanita bernama Nur dan ayahnya. Mereka menikah dan memiliki seorang anak. Suami Nur jatuh sakit dan akhirnya meninggal di desa asalnya setelah memukul beduk terbesar di dunia

Diunggah oleh

Taxin Xien
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
178 tayangan16 halaman

Cerita Pagi di Kota Kecil Jawa

Cerita ini menceritakan tentang perjalanan seorang pria di sebuah kota kecil di Jawa. Ia berjalan-jalan di alun-alun kota dan melihat berbagai bangunan bersejarah. Kemudian ia bertemu dengan seorang wanita bernama Nur dan ayahnya. Mereka menikah dan memiliki seorang anak. Suami Nur jatuh sakit dan akhirnya meninggal di desa asalnya setelah memukul beduk terbesar di dunia

Diunggah oleh

Taxin Xien
Hak Cipta
© Attribution Non-Commercial (BY-NC)
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Cerpen

Nyekar

Minggu, 27 September 2009 | 02:56 WIB

Hamsad Rangkuti

Pagi itu aku keluar dari kamar hotel. Aku menguap. Aku masih setengah mengantuk. Aku jalan
pagi di kota kecil itu. Kutemukan sebuah tata kota lama khas Jawa, sebuah alun-alun di depan
tempat kediaman resmi bupati, masjid tua di baratnya dalam cahaya redup sisa lampu, gereja tua
di timurnya hampir tertutup rimbun pohon. Semua merupakan lambang raja-raja zaman dulu,
kantor pemerintah daerah di selatannya merupakan lambang kompeni yang sekarang digantikan
orang-orang yang pernah dijajahnya. Kurasa bangunan tua di pojok itu peninggalan Belanda
dijadikan gardu listrik masih bangunan asli tulisan huruf Jawa masih tergurat di dindingnya. Aku
menguap lagi. Aku masih setengah mengantuk. Mana rumah Jenderal Ahmad Yani, lalu rumah
Jenderal Oerip Soemohardjo teman seperjuangan Jenderal Soedirman, yang mana rumah
mereka? Untuk apa, hanya untuk tahu dan melihat saja, tak ada yang bisa kutanya. Tak seorang
tampak menyertai jalan pagiku, kecuali kicau burung beterbangan di antara ranting pohon di
sepanjang jalan. Aku masuk ke dalam berjalan di atas rumput. Basah embun kurasakan di telapak
kaki.

Pagar beton mengelilingi dua batang pohon beringin di bagian tengah lapangan luas itu.
Kudapatkan celah dari jeruji besi di atas bangunan tembok beton pagar, kuintip ke dalam ke
batang pohon beringin, ada dua pancang tulisan nama pohon, Ki Soeryo Putro batang pohon di
sebelahnya Ki Dewo Atmodjo. Kau harus masuk ke dalam kalau kau mau melihat namanya.
Kalau kau melihat dari trotoar saja, kau hanya melihat rimbun pohon dan untaian akar udaranya
seperti janggut kakek tua.

Teruslah jalan ke barat, keluar dari alun-alun itu, menyeberang jalan. Masuklah ke pintu gerbang
Masjid Agung Darul Muttaqin di dalamnya kau akan temukan Beduk Pendowo terbesar di dunia
sebagai tanda waktu sholat. Dibuat lebih kurang tahun 1762 Jawa atau tahun 1834 Masehi,
panjang rata-rata 292 cm, bergaris tengah depan 194 cm, garis tengah belakang 180 cm, keliling
bagian depan 601 cm, keliling bagian belakang 564 cm, jumlah paku depan 120 buah, jumlah
paku belakang 98 buah. Bahan pohon jati bercabang lima pendowo didatangkan dari Dukuh
Pendowo Desa Bragolan Purwodadi. Beduk terbesar di dunia itu sebagai peninggalan budaya
yang harus dijaga dan dirawat, kegunaannya dibunyikan setiap hari Jumat dan hari-hari besar.

”“Terima kasih penjelasannya.”

”Ayo shalat subuh.”

”Ayo.”

Kubeli lima ikat rambutan. Kulepas dari ikatannya kuurai dan kubungkus dalam alas taplak meja
rumah kosku. Rambutan dalam bungkusan taplak meja itu kutinting ke rumah Nur.
”Pi ada tamu,” kata Nur.

Adik–adik dan kakaknya muncul dan mengambil bungkusan yang kubawa.

”Apa yang dia bawa?” kata papinya keluar muncul ke ruang tamu. Badannya tegap seperti
pegulat.

Kakak Nur yang gendut meletakkan bungkusan kain taplak meja itu di atas meja ruang tamu.
Rambutan beserta daunnya berserak di atas meja.

”O, baru dipetik.” Diambilnya sebuah dikupasnya dan dimakannya. ”Lekang ya. Ada kebun
rambutanmu?”

”Iya dong. Anak Medan kalau merantau selalu berhasil,” kata istrinya.

”Dia anak Medan. Di mana dia tinggal?”

”Di daerah cagar budaya, Condet.”

”Luas kebunmu?”

”Tak seberapa. Cuma beberapa pohon.”

”Bikinkan dia kopi.”

”Jadi Papi nonton Wayang Wong Sriwedari dari Solo itu?”

”Jadi, terima kasih tiket yang kau berikan itu. Untung tidak hujan. Cerita klasik dibawakan
mereka, bulan muncul di atas panggung. Seakan bulan itu bagian suasana cerita. Betul-betul
nikmat menonton di teater terbuka di Taman Ismail Marzuki itu. Kadang-kadang ibumu tertawa
Nur, kelelawar masuk ke dalam panggung. Kalau ada lagi boleh itu.”

Nur masuk ke dalam dan keluar membawa dua gelas kopi di atas nampan. Diletakkan satu gelas
di depanku. Satu gelas yang lain diletakkan di meja dekat jendela. Kemudian dia masuk.

”Minumlah anak Medan.”

Nur keluar.

”Pi kami boleh pergi malam ini?”

”Ke mana kalian mau pergi?”

”Jalan-jalan dong, kan malam minggu,” kata ibunya.

”Ke mana kalian mau jalan-jalan?”


”Ke Monas. Mau lihat Oma Irama,” kata Nur.

”Bawa adikmu. Jangan malam-malam ya pulangnya.”

”Ya Pi,” kata Nur menyalam dan mencium belakang telapak tangan ayahnya.

“Kalau pulang bawa makanan kesenangan Papi, kerak telor.”

”Itu terus makanan yang Papi pesan,” kata ibu Nur.

”Di mana kita tinggal kita harus larut dengan budaya mereka.”

Kupanggil becak. Kami naik becak di Jalan Thamrin. Adiknya kami dudukkan di tengah-tengah
setelah jok tempat duduk kutarik ke depan. Adiknya duduk di antara kami. Kepala Nur
kubalikkan sehingga mukanya mengarah kepadaku. Kucuri bibirnya dengan bibirku.

”Ah…” katanya menyembunyikan wajahnya sambil menunjuk kepala adiknya.

Tiga bulan kemudian kami menikah dan ketika anak kami yang pertama lahir, papinya masuk
rumah sakit. Lama dia dirawat.

Kami datang menjenguk. Didekapnya cucu pertamanya dari kami.

”Cucuku yang pertama, siapa namamu?”

”Masak Mbah lupa. Yang memberi nama, kan kamu,” kata istrinya.

”Oiya. Sudah ya... Mbah tidak kuat menggendongmu.”

Nur mengambil anaknya dari pangkuan ayahnya.

Kata dokter beberapa hari lagi dia sudah boleh pulang, dia sudah boleh rawat jalan. Tiga hari lagi
sebenarnya dia sudah boleh pulang. Kami senang mendengarnya. Tapi ayahnya dari kampung
datang menjenguk, dia berteriak seperti menemukan masa lalunya. Dia bicara dalam bahasa Jawa
yang tak kumengerti. Tapi akhirnya aku bisa berkesimpulan, dia minta pulang. Kulihat
tangannya seperti memegang kayu pemukul. Mengayun-ayunkan ke depan.

”Aku ingin memukul beduk.” Dia berdiri dari tempat tidur. Dia cabut jarum infus dan dia terus
meminta pulang ke kampungnya.

Sore itu aku disuruh membeli beberapa tiket kereta api Senja Utama di Gambir. Dia dipapah
ayahnya keluar sembunyi-sembunyi meninggalkan rumah sakit. Di jendela kereta senja utama itu
dia tak membalas lambaian tangan kami. Rombongan itu berangkat ke tempat dia dilahirkan.
Kabar yang kami terima dia tiga kali pingsan di kereta. Di stasiun Kutoarjo, kereta Senja Utama
itu menurunkan mereka dan pindah naik delman ke Purworejo. Sampai di alun-alun dia minta
berhenti dan turun dari kereta kuda itu melepas sepatunya dibimbing ayahnya jalan di tengah
lapangan luas itu. Sepatu yang dilepas itu dijinjing istrinya turun dari kereta kuda berlari kecil
mengejar langkah suaminya di rumput basah embun pagi. Mereka mengikutinya sampai ke
pohon beringin kembar itu, kemudian mereka keluar dari alun-alun dan menyeberang jalan,
masuk ke halaman masjid. Entah pertimbangan apa penjaga masjid membimbingnya ke bawah
beduk terbesar di dunia itu dan menyerahkan pemukul beduk. Dia memukulnya seperti yang
diinginkannya. Hanya beberapa pukulan saja yang dapat dia lakukan. Ayahnya membujuknya
kembali ke delman membawanya ke kampung halamannya, Desa Seren. Hanya tiga hari dia
nikmati halaman rumah masa lalunya, kemudian wafat.

Telepon sakuku berdering menerima pesan.

”Ayah di mana? Ibu sudah mau keluar dari hotel, mau beli kembang,” kata Nur.

”Oke aku pulang. Baru jalan pagi di alun-alun.”

”Kok curang nggak ngajak-ngajak.”

”Sudahlah, nanti kita bicara di hotel.”

Aku masuk ke kamar mandi hotel. Bergegas keluar hotel. Kami panggil becak. Kutarik jok
tempat duduknya.

”Untuk siapa?”

”Ibu.”

”Dua becak Mas.”

”Mengapa dua?”

”Aku ingin duduk lapang di becak bersamamu.”

”Kita cari sarapan pagi dulu, Mas.”

Kami dibawa berputar-putar mencari makanan yang khas kota kecil ini. Dibawanya kami ke
warung dekat tepi sungai. Kupesan kopi panas. Pelayan warung itu menyuguhkan tiga piring
suguhan makanan ringan, satu piring Clorot yang dibuat dari jalinan janur, anyaman daun kelapa
muda, membentuk bungkus makanan itu seperti terompet. Kubuka lilitan janur itu yang lama-
kelamaan terjurai seperti pita memunculkan isinya yang dibuat dari tepung ketan dicampur gula
merah lembek kenyal-kenyal seperti jenang. Tapi Nur memanggil pelayan warung tepi sungai
itu, dia tidak mau tangannya dikotori daun kelapa muda yang melilitnya dia minta dibukakan
dari anyaman daun janur pembungkusnya. Pelayan warung itu meletakkan piring kosong di
depan meja tempat duduk Nur. Memencet ujung anyaman seperti kerucut itu dan pelan-pelan
isinya muncul dari bulatan bungkus depan. Pelayan warung itu jadi tahu kalau kami tidak pernah
makan makanan itu. Kopi panas menyertai Clorot yang mereka suguhkan.
Diparutnya kelapa, ditaburkannya ke atas makanan berbentuk gelang yang baru disenduk dari
kukusan anyaman bambu. Dihidangkan di depan kami. Gebleg itu dibuat dari tepung ketela
berbentuk gelang yang satu sama lain bersambung seperti rantai ditabur kelapa parut bercampur
gula.

”Bawa makanan ini untuk oleh-oleh,” kataku karena sedap. Krimpying bahan tepung ketela
berbentuk gelang digoreng kering keras tapi renyah itu dibungkusnya dalam kantong plastik.
”Enak, buatan sendiri?”

”Tidak, buatan penduduk Bruno, kami tidak tahu ada campuran khusus, pembeli-pembeli kami
sangat menyukainya, rasanya paling khas kata mereka, kami tidak tahu apa itu khas?”

”Ayo kita ke pasar,” kata ibu Nur, ”kami mau beli kembang, untuk nyekar.”

Kami tinggalkan warung di tepi sungai itu. Becak membawa kami ke pasar. Ibunya Nur membeli
dua keranjang bunga rampai dan kami terus ke makam.

Di pemakaman itu kami sulit mencari dua makam ayah dan anaknya, suami dan mertuanya.
Kucabut rimbunan semak menyiangi makam. Akhirnya kutemukan makam yang kami cari, R.
Soedjatmiko, wafat 31 Agustus 1973. Kutabur bunga rampai. Kusentuh nisan yang bertulis
namanya dan kupegang erat pusaranya.

”Maafkan aku Papi… Kutanggalkan ikatan lima ikat rambutan itu, kucampur dengan daun
segarnya, kubungkus dengan taplak meja rumah tempat aku kos. Aku tak punya kebun dan
pohon rembutan Papi... Maafkan aku membohongimu,” bisikku pelan supaya tidak didengar
yang lain.

Wangi bunga rampai semerbak diterbangkan angin mengiring kami keluar dari pemakaman itu
meninggalkannya…***

[ Minggu, 27 September 2009 ]


Maling
Di jalanan yang sudah bertahun-tahun saya lalui, ada rumah orang kaya. Depan rumahnya ada
sebatang pohon kelapa gading. Buahnya terus berlimpahan seperti mau tumpah. Kalau lewat di
situ, saya selalu kagum. Tapi juga tak habis pikir. Mengapa kelapa itu tak pernah dijamah.
Mungkin pemiliknya terlalu kaya sehingga sudah tidak doyan lagi minum air kelapa. Padahal
kalau saya yang punya, tiap hari tidak akan pernah saya biarkan lewat tanpa rujak kelapa muda.

Perasaan saya sama dengan orang-orang lain. Mereka juga heran. Karena mereka pun tahu, se-
tiap bulan puasa, kelapa muda di mana-mana laris. Hanya dengan gula merah dan jeruk nipis,
buah itu mengantar ke surga di saat buka. Diteguk langsung juga sedapnya bukan main. Semua
minuman keluaran pabrik yang digondeli seabrek bahan pengawet dan zat warna, lewat. Kelapa
memang nomor satu.

***
Setelah berhasil membeli rumah yang saya kontrak, yang pertama saya lakukan adalah menanam
pohon kelapa gading. Tidak perlu diurus, tak peduli bagaimana curah hujan, kemarau
kepanjangan sekalipun, pohon kelapa itu terus tumbuh. Dalam waktu 5 tahun mulai berbuah.
Lebatnya juga tidak ketulungan.

Tapi aneh. Setelah punya pohon kelapa sendiri yang ngamuk berbuah seperti milik orang kaya
itu, selera saya menenggak kelapa muda, berhenti. Buah kelapa saya biarkan saja tergantung di
pohonnya sampai tua. Baru kalau ada bahaya bisa menjatuhi kepala orang lewat, atau menghajar
kap mobil, saya suruh sopir menurunkannya.

Ketika satpam di kompleks dengan malu-malu datang minta satu dua kelapa muda untuk buka
puasa, dengan tangan terbuka saya persilakan.

''Silakan-silakan, ambil saja. Sepuluh juga boleh!''

Satpam itu nampak segan.

''Dua saja cukup, Pak,'' katanya malu-malu.

Tapi belakangan pembantu saya mengadu.

''Bukan dua, bukan tiga, bukan lima, tapi sepuluh butir kelapa yang dipetik si Rakus itu, Pak!''

Saya sabarkan dia. Saya bilang, pohon kelapa itu justru akan semakin rajin berbuah kalau
buahnya dipetik. Pembantu saya tidak berani menjawab. Tapi dia ngedumel terus. Mungkin dia
marah karena tidak diberi. Saya biarkan saja itu jadi urusannya.

Bulan puasa berikutnya, satpam itu tidak minta izin lagi. Dia selalu memetik kelapa kalau mau
buka. Kembali pembantu saya marah. Saya hanya ketawa.

''Kalau kamu mau, ambil sendiri dong, jangan marah doang,'' kata saya .

''Bukan begitu, Pak.''

''Minta tolong sopir biar kamu dipetikin!''

''Terima kasih, Pak. Memangnya saya tupai, saya tidak doyan kelapa!''

Saya ketawa. Kalau pembantu berani ngumpat-umpat di muka majikan seperti itu, bagi saya
tanda hubungan kemanusiaan di antara kami masih sehat. Saya tidak pernah menganggap
pembantu itu manusia yang lebih rendah dari majikan. Itu soal pembagian tugas dan nasib saja.
Itu karena ibu saya sendiri dulu adalah bekas pembantu.

Tapi kemarin, pembantu saya mengetuk pintu kamar. Saya agak marah, karena saya sedang tidur
enak.
''Kan sudah aku bilang aku mau tidur, jangan diganggu!''

''Tapi ini gawat, Pak.''

''Gawat apa?''

''Memangnya Bapak sudah ngijinin?''

''Ngijinin apa?''

''Itu ada dua orang yang lagi ngambil kelapa, Pak!''

''Biarin aja. Apa salahnya satpam buka dengan air kelapa muda? Satpam juga manusia. Kamu
saja terlalu sensitif!''

''Tapi itu bukan si Rakus itu, Pak!''

''Bukan?''

''Bukan sekali!''

''Siapa?''

''Coba Bapak lihat sendiri. Nyebelin sekali, Pak. Sudah tidak pakai permisi, main ambil tangga
aja. Apa dia pikir itu punya moyangnya, pakai golok di dapur segala, nyuruh bikin kopi lagi,
Pak!''

Saya tertegun. Sambil membetulkan resluiting celana, saya keluar rumah.

Di atas pohon kelapa nampak seorang lelaki sedang mengebul-ngebulkan asap rokok. Ada tali
yang terentang ke bawah dari dahan kelapa, untuk mengirim kelapa yang tangkainya sudah di
kapak. Di dekat bak sampah, temannya sedang memasukkan kelapa yang sudah dipetik ke dalam
karung. Saya hitung sudah dua karung. Rupanya kelapa saya mau disikat habis.

''Heee, lagi ngapain?'' teriak saya terkejut.

Lelaki yang di bawah menoleh. Dia tersenyum sopan.

''Selamat sore, Pak.''

''Kamu lagi ngapain?''

''Lagi metikin kelapa, Pak.''

''Lho, ini kan kelapa saya?''


''Betul, Pak.''

''Kenapa dipetik?''

''Nanti ketuaan, Pak?''

"Lho apa urusan kamu? Ini kan pohon kelapa saya?''

Orang itu berteriak kepada temannya yang di atas.

''Jo, Bapaknya nanyain ini!''

Orang yang di atas menoleh ke bawah, ke arah saya.

''Kenapa Pak?''

''Emang kamu mau ngabisin kelapa saya?''

''Ya sekalian, Pak. Besok saya mudik.''

''Terserah. Tapi ini kelapa saya!''

''Ya, Pak!''

''Ya apa?! Kenapa kamu ambilin kelapa saya?''

Orang itu tertegun heran.

''Emang kenapa Pak?''

Saya mulai marah.

''Jangan ngomong dari atas. Ayo turun kamu!''

''Tinggal dikit lagi, Pak. Nanggung.''

Saya tambah keki.

''Turunnn!''

Suara saya menggelegar. Saya sendiri terkejut. Tetangga depan rumah sampai melonggokkan
kepalanya di jendela. Lelaki di atas pohon itu tiba-tiba menjatuhkan kapak dari atas pohon.
Menancap ke atas rumput depan pagar. Darah saya tersirap, seakan kapak mengiris leher saya.
Terus terang saya ngeper. Meskipun kelapa itu milik saya, saya tidak mau mati konyol hanya
karena soal kelapa.
''Kenapa Pak?'' tanya lelaki itu setelah dengan sigapnya turun.

''Saya cuma mau tanya. Kenapa kalian memetik kelapa saya?''

''Tapi kan saya sudah saya bayar, Pak.''

''Apa?''

''Sudah saya bayar, Pak.''

''Bayar apa?''

''Harganya. Kan sudah saya naikkan seperti yang diminta.''

''Harga apa?''

''Harga kelapanya semua, Pak.''

''Kamu beli kelapa saya?''

''Ya Pak.''

''Tapi ini kelapa saya, tahu!''

''Betul Pak!''

''Kelapa ini tidak dijual!''

Lelaki itu bingung. Dia menoleh temannya. Lalu temannya menghampiri. Dia berusaha menjadi
penengah. Dengan suara yang sejuk, dia menyapa.

''Kami sudah bayar lunas, Pak.''

''Bayar lunas apa?''

''Kelapanya. Semua. Kami borong, Pak.''

''Aku tidak jual kelapa!''

Ganti orang itu nampak heran. Dia balik menoleh temannya. Lalu temannya mengambil kapak.
Dada saya berdetak. Semangat saya amblas. Saya betul-betul tidak ingin berkelahi soal kelapa.
Itu terlalu sembrono.

''Begini, Pak,'' kata lelaki yang membawa kapak itu, ''Memang belum lunas semua, tapi se-
perempatnya lagi akan dibayar setelah kami rampung.''
Lelaki itu lalu merogoh saku mengeluarkan dompet.

''Mana duitnya?!''

Temannya ikut merogoh saku dan mengeluarkan amplop.

''Nih lunasi sekarang!''

Lelaki itu memasukkan isi dompetnya ke dalam amplop.

''Sana kasih sekarang!''

''Tapi itu kelapanya masih ada?''

''Udah cukup. Bapak ini kali mau minta yang kecil-kecil itu jangan diambil dulu,'' katanya sambil
menoleh saya dengan tersenyum. ''Ya kami juga tidak akan ngambil itu, Pak. Ini saja sudah
cukup. Cepetan sana bayar!''

Orang yang membawa amplop itu bergerak pergi menuju ke pos satpam.

''Begitu, Pak. Kami tidak pernah nakal.''

''Jadi kamu beli kelapa saya?''

''Ya Pak.''

''Beli dari siapa?''

''Pak satpam, Pak.''

Saya terhenyak. Marah saya meledak lagi. Tapi kapak di tangan lelaki itu terlalu menakutkan.
Saya terpaksa menelan perasaan saya. Lelaki itu tidak bicara lagi. Ia memasukkan semua kelapa
yang dia anggap sudah dibelinya ke dalam karung. Waktu itu tetangga saya keluar dari rumah
dan menyapa.

''Dijual berapa?''

Saya hanya menggeleng. Tapi lelaki yang membawa kapak itu menyahut.

''Seratus ribu, Pak.''

''Wah lumayan! Boleh juga!''

Saya tak menjawab. Sayup-sayup saya dengar suara satpam di pos. Entah apa yang mereka bi-
carakan.
Tak sanggup melihat buah yang selalu saya pandangi sebagai keindahan itu, sekarang berserakan
di jalan, diam-diam saya masuk ke rumah. Korden jendela saya tutup. Saya tidak mau atau
katakan saja takut melihat kenyataan itu.

Di luar saya dengar suara entakan sepatu satpam datang. Saya tak percaya dia akan masuk, lalu
menyerahkan hasil penjualannya. Itu hanya harapan saya. Dan saya jadi benci sekali karena
semuanya itu tetap hanya harapan.

Semalaman saya tak bisa tidur. Istri saya menyarankan agar menegur satpam yang kurang ajar
itu. Tapi saya punya rencana yang lain. Orang itu tidak cukup ditegur. Dia harus diberi pelajaran
biar tahu rasa.

Pagi-pagi, saya berunding dengan sopir yang antar-jemput saya ke kantor.

''Kamu mau berbuat baik, Jon?''

''Apa itu, Pak, boleh.''

''Kamu tahu tukang sayur yang selalu lewat dengan gerobaknya pagi-pagi itu?''

''Tahu, Pak.''

''Cantik kan?''

''Ah Bapak, sudah peot begitu, masak cantik.''

''Jangan begitu. Dulu dia cantik. Sekarang karena kurang terurus dan kerja keras, anaknya juga
sudah dua, jadi layu begitu.''

''Ya Pak. Dia suka mengeluh, suaminya mau kawin lagi. Tidak pernah ngurus anak bininya se-
karang. Pulang juga jarang.''

''Coba hibur dia.''

''Hibur bagaimana, Pak?''

''Kembalikan kepercayaan dirinya!''

''Bagaimana itu Pak?''

''Kamu katakan kepada dia, dia itu sebenarnya cantik, asal mau mengurus badannya lagi.''

Sopir ketawa.

''Ah Bapak bisa aja!''


''Lho ya nggak? Jujur saja! Kalau dia mau nguruskan badan lagi, dengan gampang dia bisa dapat
suami baru. Ya tidak?!''

Sopir saya ketawa. Dia melirik saya dengan mata curiga.

''Aku serius!''

Sopir itu tak menjawab. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Di kantor saya intip dia
bisik-bisik dengan sopir lain. Pasti sedang menebar gosip. Saya pura-pura tidak tahu. Tetapi
kemudian apa yang saya rencanakan terjadi.

Sehari kemudian, sore menjelang saat buka, terjadi kegegeran. Satpam sudah menunggu saya di
teras. Mukanya nampak terlipat oleh kemarahan.

''Kenapa Min?''

''Ada masalah, Pak!''

''Masalah apa lagi? Ada bom?''

''Bukan ini pribadi, Pak!''

''O, kamu mau kawin lagi?''

''Ah itu gosip, Pak!''

''Atau sudah kawin?''

''Sumpah, Pak, mana mungkin saya kawin lagi... Yang satu saja tidak sanggup saya urus, sampai
dia terpaksa jualan sayur dengan gerobak.''

''Ya, kamu kok sampai hati membiarkan istri kamu dorong gerobak, padahal dia asma kan?''

''Itulah, Pak!''

''Makanya jangan kawin melulu!''

''Sumpah, Pak, tidak. Malah saya yang kena batunya sekarang!''

''Kena batunya gimana?''

''Istri saya ada yang godaan, Pak!''

''O ya?''

''Betul, Pak! Istri saya digoda!''


''Digoda bagaimana?''

''Masak istri saya dibilang cantik, Pak!''

''Lho istri kamu kan memang dulu cantik? Kalau tidak, mana mau kamu!''

''Memang. Tapi itu kan dulu, Pak. Sekarang anaknya sudah dua, asma lagi, mana ada cantiknya.
Nggak ada orang yang akan melirik dia, kecuali kalau ada niat jahat.''

''Maksudmu apa?''

Satpam itu pindah kursi, mendekat, lalu bicara dengan berbisik.

''Ini menyangkut sopir Bapak.''

''Si Jon?''

''Betul, Pak.''

''Kenapa dia?''

''Masak dia merayu istri saya, Pak!''

''Merayu bagaimana?''

''Katanya, istri saya itu sebenarnya cantik, asal saja mau dandan lagi. Kalau sudah dandan dia
nanti gampang cari suami baru! Begitu Pak!''

''Terus?''

''Ya kalau si Jon itu tidak ada maksud apa-apa, dia tidak akan bilang begitu. Saya tahu persis apa
maunya kalau laki-laki sudah ngomong memuji-muji begitu. Perempuan kan lemah hatinya, Pak.
Kalau sudah dipuji, apa saja dia kasih.''

''O ya?''

''Betul, Pak.''

''Jadi sekarang maksudmu apa?''

''Ya, Bapak tolong kasih tahu, janganlah si Jon itu coba-coba dengan istri saya!''

''Tapi kamu kan sudah tidak memperhatikan istri kamu lagi.''

''Bukan tidak memperhatikan, Pak.''


''Terus apa?''

''Nggak punya duit saja, Pak. Bagaimana saya memperhatikan kalau tidak ada duit yang bisa
saya kasihkan?''

''Memperhatikan itu tidak harus dengan duit. Istri kamu kan sudah kerja sendiri. Katanya malah
kamu yang sering minta duit dari dia? Betul?''

''Betul, Pak.''

''Kenapa?''

''Kan dia itu istri saya!''

''Jadi, meskipun tidak kamu perhatikan, dia itu tetap istri kamu kan?!!''

''Betul, Pak. Makanya saya marah. Hanya karena saya ini satpam, saya jadi serbasalah. Saya
tidak berani melakukan kekerasan, masak satpam yang harusnya menjaga keamanan melakukan
kekerasan. Tidak betul kan, Pak!''

''Jadi maksud kamu apa?''

''Saya minta Bapak ngasih tahu si Jon, janganlah ganggu istri saya. Meskipun tidak saya
perhatikan, tapi dia tetap istri saya. Orang tidak boleh mengganggu perempuan yang masih
berstatus istri orang lain. Ya kan Pak?!''

Di situ saya tertegun. Jadi dia bukan tidak mengerti. Dia tahu. Meskipun tidak ditunjuk-tun-
jukkan, hak itu tetap hak. Kenapa dia sangat mengerti dan menuntut haknya agar dihormati
sebagai suami oleh orang lain, tapi pada saat yang sama dia dengan seenaknya saja melangkahi
hak saya terhadap pohon kelapa. Apa karena tidak saya petik, berarti kelapa itu boleh dia jual?

Lamunan saya terganggu, karena tiba-tiba istri satpam, tukang sayur itu, muncul.

''Jangan didengar omongannya, Pak!'' katanya dengan berani. ''Dia ngaku-ngaku saya istrinya
lagi, karena ada maunya! Baru dengar saya dapat warisan dari nenek saya di kampung, langsung
dia ngaku bapaknya anak-anak lagi. Tapi kemaren-kemaren apaan, anak-anaknya sendiri
digebukin, kepala saya dikencingin!''

Saya takjub. Satpam itu kelihatan pucat. Tapi tiba-tiba dia membentak.

''Ngapain lu ikut-ikutan kemari? Pulang!''

Istrinya sama sekali tidak takut. Ia balas menggertak.

''Lu kagak usah nyuruh-nyuruh gua pulang, gua memang mau balik kampung sekarang. Gua
cuma mau pamitan sama Bapak! Pak, saya pamit pulang, Pak. Maapin kalau saya ada salah.''

Perempuan itu mengulurkan tangan minta bersalaman. Saya terpaksa menyambutnya. Ia men-
cium tangan saya sambil menangis.

''Maapin kesalahan-kesalahan saya, Pak, saya terpaksa pulang. Saya tidak kuat lagi di sini.''

Satpam mula-mula hanya memandang, tetapi kemudian berdiri, lalu menarik istrinya untuk
dibawa pulang. Yang ditarik melawan. Saya terpukau menonton. Untung istri saya muncul dan
menarik istri satpam itu, langsung diselamatkan masuk.

Satpam tidak berani bertindak lebih jauh. Seperti orang tolol dia berdiri di depan saya. Saya siap
mencegah, kalau dia mencoba mau menyusul masuk. Tapi itu tidak terjadi. Malah kemudian dia
menangis.

Saya tunggu saja sampai tangisnya reda. Rasanya agak aneh melihat satpam mewek seperti itu.

''Saya memang salah, Pak.'' katanya kemudian, ''Saya baru ingat istri, kalau sudah ada yang
menggoda. Hari-hari saya sia-siakan. Anak tidak pernah saya urusin. Giliran mereka mau pulang
kampung, baru saya sadar. Untung dia bilang, jadi saya bisa nyegah. Untung dia mau pulang,
kalau tidak, saya pasti terus lupa saya sudah punya istri, punya dua anak. Saya sudah lupa
daratan, Pak Saya menyesal, Pak.''

Saya tidak menjawab. Saya menunggu dia bergerak satu langkah lagi. Minta maaf sebab dia
sudah dengan seenak perutnya menjual kelapa saya tanpa persetujuan. Tapi penantian itu
nampaknya akan sia-sia. Satpam itu lebih sibuk memikirkan istrinya yang baru dapat warisan itu
tapi akan meninggalkannya. Saya jadi geram. Akhirnya saya terpaksa ngomong juga.

''Jadi sekarang kamu sadar! Memang kita baru ingat milik kita kalau sudah diambil orang. Itu
biasa. Semua orang juga begitu! Tapi meskipun maling itu ada gunanya, tetap saja namanya
maling!! Kudu dihukum!''

Satpam terkejut. Mukanya merah padam. Tiba-tiba ia berhenti menangis lalu berkata geram.

''Kurangaajar! Pasti si Jon tahu istri saya dapat warisan! Malingggg!'' teriaknya ganas sambil
mencabut pisau lalu kabur ke garasi tempat sopir saya membersihkan mobil.

''Malingggg!''

Saya jatuh bangun mengejar. Tapi terlambat. Dia sudah membacok tengkuk sopir saya.

Untung si Jon seorang pendekar. Dengan refleknya yang luar biasa dia menepis serangan satpam
itu. Pisau satpam terlempar ke tembok. Lalu tangan si Jon terangkat. Tangan yang bisa
membelah tumpukan bata itu akan meretakkan muka satpam. Saya berteriak.

''Jangan!!!!!''
Sekarang saya menyesal.

''Mengapa Bapak teriak jangan? Maling apa pun alasannya, perlu mendapat pelajaran, biar ka-
pok!'' kata istri saya mencak-mencak, sesudah peristiwa itu berlalu.

Sebenarnya saya tidak bermaksud mencegah. Hanya sopir saya tidak mengerti, dengan berteriak
''jangan'' maksud saya ''hajar''. Masak saya harus bilang pukul. Nanti saya disalahkan menzalimi
orang lemah. Saya kan ketua RT. ***

Jakarta, 4 September 09 (setelah berita tentang Pulau Jemur)

---

*) Putu Wijaya, cerpenis, dramawan, pendiri Teater Mandiri

Anda mungkin juga menyukai