Anda di halaman 1dari 38

VERTIGO

PENDAHULUAN Vertigo merupakan persepsi gerakan yang salah, baik persepsi dalam diri pasien terhadap keadaan sekitarnya, sebagai akibat dari ketidakseimbangan input vestibuler.Pasien mengeluh bahwa dunia sekitar seolah berputar disekeliling mereka, dan disertai dengan mual , muntah, dan hilangnya keseimbangan.Vertigo memiliki banyak istilah awam sebagai pusing, pening, rasa berputar putar, sempoyongan, rasa melayang, atau merasakan badan atau sekelilingnya berputar putar dan jungkir balik.1 ANATOMI Jaringan saraf yang terkait dalam proses timbulnya sindroma vertigo antara lain: 1. Reseptor alat keseimbangan tubuh, berperan dalam proses transduksi, yaitu mengubah rangsangan menjadi bioelektrokimia, terdiri dari: Reseptor mekanis di vestibulum Reseptor cahaya di retina Reseptor mekanis di kulit, otot, dan persendian

2. Saraf aferen, berperan dalam proses transmisi, mengantarkan impuls ke pusat pusat

keseimbangan di otak, terdiri dari:

Saraf vestibularis Saraf optikus Saraf spino vestibuloserebelaris

3. Pusat pusat keseimbangan, berperan dalam proses modulasi, komparasi, integrasi/koordinasi dan persepsi.terdiri dari: Inti vestibularis Serebelum (vestibuloserebeli)

Korteks serebri Hipotalamus Inti okulomotorius Formasio retikularis1

MANIFESTASI KLINIK Vertigo bisa merupakan gejala yang mandiri, namun bisa juga timbul bersama dengan gejala lainnya, misalnya: Peluh dingin, mual, muntah, dan gejala dari jalur vestibulo otonomik yang lain Jalan sempoyongan, jalan membelok, berdiri dan atau duduk tidak bisa tegak, tidak stabil, posisi kepala terfiksasi kearah tertentu, dan gejala lain dari jalur vestibulospinal.

Gerakan mata ulang alik di luar kemauan (nistagmus atau

nystagmoid

jerks).Oscillopsia (keluhan melihat objek yang diam nampak bergoyang), bahkan bisa diplopia (meliaht objek nampak ganda), dan gejala lain dari jalur vestibulovisual.1

Gejala Sifat vertigo Serangan Mual/muntah

Perbedaan Vertigo Vestibular dan Non Vestibular Vertigo Vestibular Vertigo Non Vestibular rasa berputar melayang, hilang keseimbangan episodik + +/gerakan kepala kontinu gerakan obyek visual

Gangguan pendengaran Gerakan pencetus Situasi pencetus

keramaian, lalu lintas Perbedaan Vertigo Perifer dan Sentral Vertigo Perifer Mendadak Berat ++ ++ Vertigo Sentral Lambat Ringan +/+ -

Gejala Bangkitan vertigo Derajat vertigo Pengaruh gerakan kepala Gejala otonom(mual,muntah) Gangguan (tinnitus, tuli) Tanda fokal otak

pendengaran +

ETIOLOGI
I.

Penyakit sistem vestibular perifer: A. Telinga bagian luar : serumen, benda asing B. Telinga bagian tengah: retraksi membran timpani, otitis media purulenta akut, otitis media efusi, labirinitis, kolesteatoma, rudapaksa dengan perdarahan.
C. Telinga bagian dalam : labirinitis toksik akut, trauma, serangan vaskular,

alergi, hidrops labirin (morbus meniere). D. Nervus VIII : infeksi, trauma, dan tumor E. Inti vestibularis : infeksi, trauma, perdarahan, trombosis arteri serebeli posteroinferior, tumor, sklerosis multipleks. II. Penyakit susunan saraf pusat
A. Hipoksia Iskemia otak: hipertensi kronis, arteriosklerosis, anemia, hipertensi

kardiovaskuler, fibrilasi atrium paroksismal, stenosis aorta dan insufisiensi, sindrom sinus karotis, sinkop, hipotensi ortostatik. B. Infeksi : meningitis dan ensefalitis C. Trauma kepala/labirin
D. Tumor

E. Migren F. Epilepsi III. Kelainan endokrin : Hipoglikemi, hipotiroid, hipoparatiroid, tumor medula adrenalis, keadaan menstruasi, hamil, monopause IV. Kelainan psikiatri: Depresi, cemas, sindroma hiperventilasi, fobia V. Kelainan mata : kelainan propioseptik

VI. Intoksikasi1

KLASIFIKASI VERTIGO

1. Vertigo sentral Gangguan di batang otak atau serebelum biasanya merupakan penyebab vertigo jenis sentral, untuk menentukan apakah gangguan di batang otak maka kita selidiki dahulu apakah ada gejala yang khas untuk kelainan batang otak, misalnya diplopia, parestesia, perubahan sensibilitas dan fungsi motorik.Pada penderita gangguan serebelar biasanya memiliki gangguan dalam koordinasi sehingga mungkin tidak lancar dalam melaksanakan gerak supinasi dan pronasi tangannya secara

berturut turut (Disdiadokokinesia), percobaan telunjuk hidung (finger point test) dilakukan dengan buruk.Pada penderita vertigo perifer dapat melakukan dengan normal.2 2. Vertigo perifer Dapat dibedakan menurut lamanya berlangsung: a. Berlangsung beberapa detik Vertigo yang paling sering disebabkan oleh vertigo posisional benigna (serangan vertigo dapat disebabkan karena perubahan posisi kepala).Vertigo posisional benigna paling sering penyebabnya ialah idiopatik (tidak diketahui), namun dapat pula karena trauma di kepala, pembedahan ditelinga, atau neuritis vestibular.Prognosis baik dan gejala akan menghilang spontan. b. Berlangsung bebebrapa menit atu jam Dapat dijumpai pada penyakit meniere atau vestibulopati berulang.Penyakit meniere mempunyai trias, yakni ketajaman pendengaran menurun (tuli), vertigo, dan tinitus.Perjalanan khas dari penyakit meniere ini adalah kelompok serangan serangan vertigo yang diselingi masa remisi. c. Berlangsung beberapa hari sampai beberapa minggu Neuritis vestibular merupakan kelainan yang sering datang ke UGD, pada penyakit ini mulainya vertigo dan nausea (mual) serta muntah yang menyertainya mendadak, dan gejala berlangsung beberapa hari sampai beberapa minggu.Sering penderita merasa lega namun sama sekali tidak bebas dari gejala.Fungsi pendengaran tidak terganggu pada neuronitis vestibular.Penyebab penyakit ini kemungkinan disebabkan oleh virus.Pada pemeriksaan fisik mungkin dijumpai nistagmus, yang menjadi lebih besar amplitudonya bila pandangan dilirikkan menjauhi telinga yang kena.2

DIAGNOSIS 1. Anamnesis Pengungkapan kata kata pasien mengenai vertigo beraneka ragam, sehingga kita harus samakan persepsi terlebih dahulu.Setelah itu perlu ditanyakan intensitas dan interval serangan.Pada penderita vertigo harus ditanyakan juga apakah ada pengaruh sikap atau perubahan posisi.Pada vertigo posisional benigna, vertigo muncul bila penderita berbaring pada satu sisi atau sisi lainnya dan berlangsung singkat.Selain

itu pengaruh terhadap lingkungan psikis, misalnya tempat yang ramai, tempat ketinggian, berkendaraan, stres psikis, dll. Keluhan telinga berpotensi menimbulkan vertigo maka dari itu perlu ditanyakan, antara lain: tinitus (berdenging), tuli, rasa tertutup telinga, ataupun rasa nyeri pada telinga jika mendengar suara keras.Keluhan lainnya yang bersifat umum perlu juga untuk dicari seperti : penurunan kesadaran, kelumpuhan, disfagia, disfonia (pada stroke), drop attack, kejang, osilopsia, ataupun intoksikasi.1 2. Pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik diarahkan ke kemungkinan penyebab sistemik; tekanan darah diukur dalam posisi berbaring,duduk dan berdiri; bising karotis, irama (denyut jantung) dan pulsasi nadi perifer juga perlu diperiksa.2 3. Pemeriksaan Neurologi Fungsi vestibuler/serebelar

a. Uji Romberg: Penderita berdiri dengan kedua kaki dirapatkan, mula-mula dengan kedua mata terbuka kemudian tertutup. Biarkan pada posisi demikian selama 20-30 detik. Harus dipastikan bahwa penderita tidak dapat menentukan posisinya (misalnya dengan bantuan titik cahaya atau suara tertentu). Pada kelainan vestibular hanya pada mata tertutup badan penderita akan bergoyang menjauhi garis tengah kemudian kembali lagi, pada mata terbuka badan penderita tetap tegak. Sedangkan pada kelainan serebelar badan penderita akan bergoyang baik pada mata terbuka maupun pada mata tertutup.4

Gambar Uji Romberg b. Tandem Gait: Penderita berjalan lurus dengan tumit kaki kiri/kanan diletakkan pada ujung jari kaki kanan/kiri ganti berganti.Pada kelainan vestibuler perjalanannya akan menyimpang, dan pada kelainan serebeler penderita akan cenderung jatuh.4 c. Uji Unterberger.: Berdiri dengan kedua lengan lurus horisontal ke depan dan jalan di tempat dengan mengangkat lutut setinggi mungkin selama satu menit. Pada kelainan vestibuler posisi penderita akan menyimpang/berputar ke arah lesi dengan gerakan seperti orang melempar cakram; kepala dan badan berputar ke arah lesi, kedua lengan bergerak ke arah lesi dengan lengan pada sisi lesi turun dan yang lainnya naik. Keadaan ini disertai nistagmus dengan fase lambat ke arah lesi.4

d. Past-pointing test (Uji Tunjuk Barany) Dengan jari telunjuk ekstensi dan lengan lurus ke depan, penderita disuruh mengangkat lengannya ke atas, kemudian diturunkan sampai menyentuh telunjuk tangan pemeriksa. Hal ini dilakukan berulang-ulang dengan mata terbuka dan tertutup.Pada kelainan vestibuler akan terlihat penyimpangan lengan penderita ke arah lesi.4

e. Uji Babinsky-Weil Pasien dengan mata tertutup berulang kali berjalan lima langkah ke depan dan lima langkah ke belakang seama setengah menit; jika ada gangguan vestibuler unilateral, pasien akan berjalan dengan arah berbentuk bintang.4

Pemeriksaan Khusus Oto-Neurologis Pemeriksaan ini terutama untuk menentukan apakah letak lesinya di sentral atau perifer.3 a. Uji Dix Hallpike

Dari posisi duduk di atas tempat tidur, penderita dibaring-kan ke belakang dengan cepat, sehingga kepalanya meng-gantung 45 di bawah garis horisontal, kemudian kepalanya dimiringkan 45 ke kanan lalu ke kiri. Perhatikan saat timbul dan

hilangnya vertigo dan nistagmus, dengan uji ini dapat dibedakan apakah lesinya perifer atau sentral Perifer (benign positional vertigo): vertigo dan nistagmus timbul setelah periode laten 2-10 detik, hilang dalam waktu kurang dari 1 menit, akan berkurang atau menghilang bila tes diulang-ulang beberapa kali (fatigue).Sentral: tidak ada periode laten, nistagmus dan vertigo ber-langsung lebih dari 1 menit, bila diulangulang reaksi tetap seperti semula (non-fatigue).3 b. Tes Kalori Penderita berbaring dengan kepala fleksi 30, sehingga kanalis semisirkularis lateralis dalam posisi vertikal. Kedua telinga diirigasi bergantian dengan air dingin (30C) dan air hangat (44C) masing-masing selama 40 detik dan jarak setiap irigasi 5 menit. Nistagmus yang timbul dihitung lamanya sejak permulaan irigasi sampai hilangnya nistagmus tersebut (normal 90-150 detik).3 Dengan tes ini dapat ditentukan adanya canal paresis atau directional preponderance ke kiri atau ke kanan.Canal paresis ialah jika abnormalitas ditemukan di satu telinga, baik setelah rangsang air hangat maupun air dingin, sedangkan directional preponderance ialah jika abnormalitas ditemukan pada arah nistagmus yang sama di masing-masing telinga.Canal paresis menunjukkan lesi perifer di labirin atau n. VIII, sedangkan directional preponderance menunjukkan lesi sentral.3 c. Elektronistagmogram Pemeriksaan ini hanya dilakukan di rumah sakit, dengan tujuan untuk merekam gerakan mata pada nistagmus, dengan demikian nistagmus tersebut dapat dianalisis secara kuantitatif.3

PENATALAKSANAAN Pengobatan vertigo terdiri dari: pengobatan kausal, pengobatan simptomatik dan pengobatan rehabilitatif. Pengobatan kausal merupakan pilihan utama namun kebanyakan kasus vertigo tidak diketahui sebabnya. Pengobatan simtomatik bertujuan untuk menghilangkan dua gejala utama yaitu rasa vertigo (berputar melayang) dan gejala otonom (mual, muntah). Obat yang sering dipakai antara lain golongan calcium entry blocker, antihistamin, antikolinergik, monoaminergik fenotiasin (antidopaminergik) dan histaminik. Dosis pengobatan simtomatik diberikan sebaiknya secara bertahap supaya tidak mendepresi berlebihan proses adaptasi yang dilakukan oleh organ keseimbangan. Pengobatan rehabilitatif bertujuan untuk menimbulkan dan meningkatkan kompensasi sentral, seperti contohnya metoda Brandt-Daroff dan latihan visual vestibular.2

STATUS PASIEN

IDENTITAS PASIEN Nama Jenis Kelamin Umur Kebangsaan Agama Alamat Tanggal masuk Tanggal keluar No Rekam medis : Tn. N : Laki - laki : 64 tahun : Indonesia : Islam : Kebon Pala I : 29 Maret 2011 : 01 Maret 2011 : 65-53-51

ANAMNESIS

Autoanamnesis dan Alloanamnesis tanggal 29 Maret 2011

KELUHAN UTAMA Pusing berputar sejak 1 hari SMRS (Sebelum Masuk Rumah Sakit).

KELUHAN TAMBAHAN Mual dan muntah

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG Pasien datang dengan keluhan pusing berputar sejak 1 hari SMRS.Pusing berputar dirasakan setiap kali berubah posisi.Pasien merasakan gejala pusing berputarnya selama beberapa detik sampai menit, namun setelah diam beberapa saat rasa berputar yang dirasakan berkurang dan menghilang.Pasien awalnya waktu di rumah hendak berbaring ditempat tidur, setelah pasien berbaring dan memiringkan tubuhnya lalu kemudian merasakan mual dan muntah tidak lama setelah itu, serta gejala pusing berputar yang dirasakan mulai timbul.Muntah tidak menyemprot dan isinya berupa makanan.Rasa telinga berdenging disangkal oleh pasien.Keluhan tuli atau rasa tertutup pada telinga disangkal oleh pasien.Riwayat sakit kepala dan kepala terbentur disangkal oleh pasien.Penglihatan ganda, kesemutan disekitar mulut, dan kesulitan saat menelan disangkal oleh pasien.Pasien juga menyangkal tidak terdapat kelemahan baru pada salah satu sisi tubuh pasien setelah sebelumnya pasien pernah mengalami lemah sisi tubuh sebelah kiri.Riwayat demam dan kejang disangkal oleh pasien.

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU Pasien mempunyai riwayat penyakit stroke satu tahun yang lalu dan sempat dirawat di RSUD Budhi Asih.Stroke yang dialami pasien pada waktu itu memberi gejala lemah pada sisi tubuh pasien sebelah kiri,bicara pelo, mulut mencong ke sebelah kiri, sulit menelan, namun pasien tidak menglami penurunan kesadaran.Pasien juga mempunyai riwayat darah tinggi

(Hipertensi).Untuk darah tingginya pasien jarang memeriksakan ke dokter.Pasien selama ini tidak mengkonsumsi obat obat penurun tekanan darah, hanya obat tradisional. Riwayat alergi, kencing manis, asam urat, penyakit jantung dan pembuluh darah semuanya disangkal oleh pasien.Pasien tidak pernah merasakan gejala pusing berputar sebelumnya

RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA Di keluarga pasien tidak ada yang pernah mengalami gejala pusing berputar seperti pasien, ayah pasien menderita hipertensi, penyakit penyakit lain seperti kencing manis, asam urat, alergi/asma, serta jantung dan pembuluh darah, pasien mengaku keluarga pasien tidak ada yang menderitanya.

RIWAYAT KEBIASAAN Pasien sudah tidak bekerja. Di rumah jarang beraktivitas, jarang berolahraga, senang makan makanan pedas dan goreng-gorengan. Pasien sudah berhenti merokok, tetapi sering minum kopi.Konsumsi obat - obatan dan alkohol disangkal oleh pasien.

STATUS GENERALIS Nadi Pernapasan Tensi Suhu : 80x/ menit : 20x/ menit : 140/90 mmHg : 36,7 C

Kepala Bentuk Mata Hidung : Normocephali : Conjunctiva Anemis -/-, Sclera ikterik -/: Simetris, bentuk dalam batas normal, kedua lubang hidung lapang, sekret -/Telinga : Simetris, bentuk dalam batas normal, MAE lapang, sekret -/Tenggorokan Mulut : Faring tidak hiperemis, uvula ditengah, tonsil tenang : Bibir simetris, mukosa lidah tidak hiperemis, tidak kotor, gigi geligi baik. Leher : Trakea ditengah, leher tidak kaku, tidak teraba pembesaran kelenjar, nyeri tekan tiroid -/Thorax

Jantung Paru paru

: Pergerakan dada simetris, sonor, BJ I, II reguler, murmur (-), gallop (-) : Suara nafas vesikuler normal, Ronkhi -/-, Wheezing -/-

Abdomen

: Datar, supel, nyeri tekan (-), bising usus (+) normal, hepar tidak teraba membesar, lien tidak teraba membesar

Ekstremitas

: Akral hangat, tidak ada oedem

STATUS NEUROLOGIS Kesadaran Leher : GCS E4M6V5 (Compos Mentis) : Sikap baik, gerak bebas, vertebra tidak ditemukan kelainan Nyeri tekan ()

RANGSANG MENINGEAL Kaku kuduk Babinski Laseque Kernig (-) (-) > 70/ >70 tidak ada nyeri

>135/ >135 tidak ada nyeri

Brudzinskiy I (-) Brudzinskiy II (-) / (-)

NERVUS KRANIALIS N.I (Olfactorius) : Tidak dilakukan pemeriksaan

N.II (Opticus) Visus

: : Visus kasar baik : Baik : Tidak dilakukan

Lapang pandang Funduskopi

N.III, IV, VI Sikap bola mata Ptosis Strabismus Nistagmus Eksoftalmus Endoftalmus Deviasi konjugae

: Tidak ada : Tidak ada : Positif : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada

Gerak bola mata Pupil Bulat, isokor, diameter 3mm/3mm, ditengah, tepi rata Kanan Reflek cahaya langsung + Kiri + Lateral kanan Lateral kiri Atas Bawah Berputar : Baik : Baik : Baik : Baik : Baik

Reflek cahaya tidak langsung Refleks akomodasi : Baik

N.V Motorik : - Membuka mulut -Gerakan rahang -Menggigit Sensibilitas -Rasa nyeri -Rasa raba -Rasa suhu

: Baik : Baik : Baik

: Simteris : Simetris : Tidak dilakukan

N.VII (Fascialis) Sikap wajah Angkat alis Kerut dahi Lagoftalmos Kembung pipi Menyeringai Rasa kecap

Kanan simetris

Kiri asimetris baik baik tidak ada

: : : : : :

Baik Baik Tidak ada Baik

Lipat nasolabial kiri agak tertinggal Baik

N.VIII (akustikus)

Vestibularis -Nistagmus -Romberg -Tandem gait -Past pointing test Kokhlearis - Gesekan jari - Uji garpu tala Rinne - Uji garpu tala Scwabach - Uji garpu tala Weber : : : : + tidak dilakukan tidak dilakukan tidak dilakukan + tidak dilakukan tidak dilakukan tidak dilakukan : : : : Positif Positif Baik Baik Positif

N.IX ( Glossopharygeus), N.X (vagus) - Disfagia - Disfoni - Disartria - Arcus faring - Posisi uvula : : : : : Simetris Ditengah -

N.XI ( Acesorius) -Menoleh ke kanan, kiri, bawah -Angkat bahu N.XII ( Hypoglosus) Lidah baik baik baik

Tremor Atrofi

Ujung lidah waktu dijulurkan : Deviasi ke kiri

3. Motorik

Tonus Kekuatan Reflex biseps Reflex triseps Reflex lutut (knee patella reflex) Reflex achilles (achilles pees reflex) Reflex patologis

normotoni 5 4 5 4 + + + + babinski (-)

normotoni

+ + + + babinski (-)

4. Sensibilitas Eksteroseptif

Raba Nyeri Suhu

+ + tidak dilakukan

5. Vegetatif -Miksi -Defekasi - Salivasi : baik : baik : baik

PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium (29 Maret 2011) Hb : 14,3 g/dl (12-14g/dl) Leukosit : 10100/mm3 (3.500-10.000 ribu/l)

Ht : 41 % (35-50)

Thrombosit : 320.000/mm (150.000390.000ribu/l)

GDS: 148 mg/dl SGOT/ SGPT : 16 / 11 U/l Na : 148 (135 153 mEq/l)

Ureum

: 36 (10-50) mg/dl

Creatinin : 1,6 (pria 0,7-1,2, wanita 0.5-0,9) mg/dl Cl : 107 (98 - 109 mEq/l) K : 4 (3,5-5,0 mEq/l)

Rontgen thorax (29 Maret 2011) Deskripsi : Infiltrat di perihiler kanan-kiri, hilus melebar, cor melebar Kesan : Oedem pulmo

EKG (29 Maret 2011) Heart rate 100x/menit LVH (+) Infark/iskemi (-)

CT-Scan tanpa kontras (2 Juni 2009) - Sulci sulci tampak prominent - Tampak fluid collections lobus frontal kiri/kanan - Tidak tampak lesi hipo/hiperdens patologis pada parenkim cerebri - Sistem ventrikel tampak simetris - Tak tampak midline shift - Diffrensiasi gray dan white matter tak terganggu - Pons, CPA, dan cerebelum normal

Kesan: Atrofi cerebri ringan

RESUME Pasien datang dengan keluhan pusing berputar sejak 1 hari SMRS.Pusing berputar dirasakan setiap kali berubah posisi.Pasien merasakan gejala pusing berputarnya selama beberapa detik sampai menit, namun setelah diam beberapa saat rasa berputar yang dirasakan berkurang kemudian hilang.Pasien awalnya waktu di rumah hendak berbaring ditempat tidur, setelah pasien berbaring dan memiringkan tubuhnya lalu kemudian merasakan mual dan muntah tidak lama setelah itu, serta gejala pusing berputar yang dirasakan mulai timbul.Muntah yang dialami pasien berupa makanan dan tidak menyemprot. Pasien mempunyai riwayat penyakit stroke satu tahun yang lalu dan sempat dirawat di RSUD Budhi Asih.Stroke yang dialami pasien pada waktu itu memberi gejala lemah pada sisi tubuh pasien sebelah kiri,bicara pelo, mulut mencong ke sebelah kiri, sulit menelan, namun pasien tidak menglami penurunan kesadaran.Pasien juga mempunyai riwayat darah tinggi (Hipertensi).Untuk darah tingginya pasien jarang memeriksakan ke dokter Dari pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran kompos mentis, TD: 140/80mmHg, Status neurologis didapatkan GCS E4M6V5 rangsang meningeal (-), RF +/+, RP -/-, mulut agak mencong ke kiri, lipatan nasolabial kiri agak tertinggal, nistagmus (+), tes romberg (+) , disartria (-), deviasi lidah ke kiri, kekuatan motorik 5 4 tonus kedua ekstremitas baik (normotoni) . 4 4

DIAGNOSIS 1. D/ Klinis 2. D/ Topis : BPPV, hipertensi grade I, hemiparesis sinistra : Sistem Vestibular

3. D/ Patologis : Gangguan Vaskuler 4. D/ Etiologis : Hipertensi

PENATALAKSANAAN IVFD Asering/12 jam Ondancetron inj 2x1 ampul (IV) Betahistin Mesilat tab 3x1 (P.O) Flunarizin 5 mg tab 3x1

PEMERIKSAAN ANJURAN 1. Periksa GDS, cholesterol total, TG, HDL, LDL 2. EKG 3. Darah Lengkap 4. Fungsi Ginjal dan Liver 5. Foto Thorax 6. CT Scan

PROGNOSIS Ad Vitam : Ad bonam

Ad Fungsionam Ad Sanationam

: Ad bonam : Ad bonam

Follow-up 30/3/11 S: Pusing berputar sempoyongan, mual, muntah O: TD:140/80mmHg Compos mentis Pupil bulat isokor 3mm/3mm,RCL +/+, RCTL +/+, nistagmus (+) , angkat dahi simetris, mulut mencong ke kiri, deviasi lidah ke kiri RF +/+, RP -/-, Rs.Meningeal () Motorik 5 4 5 4 A: D/ klinis: BPPV, hipertensi grade I, hemiparesis sinistra D/ topis: Sistem vestibular D/ patologis: Gangguan vaskular D/ etiologis: Hipertensi P: IVFD Asering/12 jam Cedantron inj 2x1 Versilon tab 3x1 Frego tab 3x1

01/4/11 S: Pusing berputar sempoyongan berkurang, mual O: TD:130/80mmHg Compos mentis Pupil bulat isokor 3mm/3mm,RCL +/+, RCTL +/+,

A: D/ klinis: BPPV, hipertensi grade I, hemiparesis sinistra D/ topis: Sistem vestibular

P: IVFD Asering/12 jam Cedantron inj 2x1 Versilon tab 3x1

nistagmus (-), angkat dahi simetris, mulut mencong ke kiri, deviasi lidah ke kiri RF +/+, RP -/-, Rs.Meningeal () Motorik 5 4 5 4

D/ patologis: Gangguan vaskular D/ etiologis: Hipertensi

Frego tab 3x1

02/4/11 S: Pusing berputar sempoyongan berkurang O: TD:140/90mmHg Compos mentis Pupil bulat isokor 3mm/3mm,RCL +/+, RCTL +/+, nistagmus (-), angkat dahi simetris, mulut mencong ke kiri, deviasi lidah ke kiri RF +/+, RP -/-, Rs.Meningeal () Motorik 5 4 5 4

A: D/ klinis: BPPV, hipertensi grade I, hemiparesis sinistra D/ topis: Sistem vestibular D/ patologis: Gangguan vaskular D/ etiologis: Hipertensi

P: IVFD Asering/12 jam Cedantron inj 2x1 Versilon tab 2x1 Frego tab 2x1

ANALISA KASUS

Pada anamnesis pasien datang dengan keluhan pusing berputar sempoyongan.Hal ini menunjukkan adanya gangguan keseimbangan pada pasien, gangguan yang dialami pasien merupakan ciri khas akan gejala dari vertigo, karena adanya rasa berputar yang

dirasakan.Gangguan ini berkaitan dengan sistem vestibulokoklearis yang berfungsi sebagai alat keseimbangan.Vertigo yang dialami pasien merupakan jenis benign paroxysmal potitional vertigo (BPPV) yang erat kaitannya dengan perubahan posisi.Pada pasien ini gejala vertigo timbul ketika pasien berbaring dan memiringkan tubuhnya.Selain itu pasien merasakan gejalanya dalam interval waktu beberapa detik sampai menit.Interval waktu ini makin memperkuat kearah diagnosis BPPV yang merupakan jenis dari vertigo perifer.Hal ini menyingkirkan jenis vertigo sentral lainnya, karena vertigo jenis sentral durasi gejala lebih lama dan terjadi secara mendadak.Selain itu gejala vertigo sentral dapat berupa diplopia, parestesia (rasa baal), perubahan sensibilitas dan fungsi motorik, sedangkan pada pasien ini tidak mengalami gangguan tersebut.1 Gejala post stroke didapatkan pada pasien ini dengan adanya lipatan nasolabial kiri agak tertinggal, deviasi pada lidah ke arah kiri, dan sedikit lemahnya kekuatan tangan dan kaki kiri.Pada keadaan pasien saat ini tidak mengalami defisit neurologi yang baru atau tidak terdapat serangan stroke yang berulang. Pasien mempunyai riwayat hipertensi dan stroke sejak 2 tahun yang lalu.Hipertensi pasien selama ini tidak terkontrol.Pasien tidak sedang mengkonsumsi obat obatan hipertensi, hanya obat obatan tradisional. Pada pemeriksaan fisik, status generalis pasien tidak banyak di jumpai kelainan hanya saja pada pemeriksaan tanda vital didapatkan tekanan darah pasien meningkat.Dalam hal ini dapat diduga sebagai salah satu faktor risiko timbulnya vertigo.Pada status neurologis pada pemeriksaan bola mata ditemukan tanda nistagmus dan pada tes keseimbangan didapatkan tes Romberg(+).Pada penderita gangguan serebelar biasanya memiliki gangguan dalam koordinasi sehingga mungkin tidak lancar dalam melaksanakan gerak supinasi dan pronasi tangannya secara berturut turut (Disdiadokokinesia) dan percobaan telunjuk hidung (finger point test) dilakukan dengan buruk.Pada penderita vertigo perifer (pasien ini) dapat melakukan semua itu dengan normal.2 Dari hasil pemeriksaan penunjang (laboratorium, Ro thorax, EKG, dan CT Scan) tidak didapatkan kelainan yang mengarah ke diagnosis, melainkan kearah kelainan penyakit lain. Hasil pemantauan (follow up) pasien makin hari makin terlihat perbaikan, hal ini terlihat dari gejala pusing berputar pasien berkurang dan rasa mual menghilang setelah

pemberian terapi medikamentosa.Terapi yang diberikan disini berupa betahistine (versilon), flunarizine (frego) yang tujuan diberikan untuk gejala vertigonya, sedangkan antiemetik (ondansentron) untuk gejala mual muntah yang dialami oleh pasien.2 Betahistine bekerja dengan memperlebar spinchter prekapiler sehingga meningkatkan aliran darah pada telinga bagian dalam. Betahistin mengatur permeabilitas kapiler pada telinga bagian dalam, dengan demikain menghilangkan endolymphatic hydrops. Betahistin juga memperbaiki sirkulasi serebral dan meningkatkan aliran darah arteri karotis interna.5

Flunarizine merupakan derivat cinnarizine yang mempunyai efek antihistamin dan penghambat ion kalsium yang bekerja secara selektif, Flunarizine diabsorbsi dengan baik pada saluran cerna dan mencapai kadar puncak plasma dalam waktu 2 - 4 jam setelah pemberian per oral. Flunarizine berikatan dengan protein plasma 90%. Waktu paruh Flunarizine sekitar 18 hari. Setelah menjalani metabolisme ekstensif di hati, Flunarizine dan metabolitnya diekskresi melalui feces.1 Sedangkan untuk ondansentron sendiri merupakan agonis reseptor 5-HT3, obat yang bekerja pada susunan saraf pusat dengan menekan pusat muntah.1

Selain terapi medikamentosa yang diberikan, terapi suportif/rehabilitatif juga telah disarankan kepada pasien, berupa berbagai latihan.Jenis latihan yang diberikan yaitu Canalit Reposition Treatment (CRT) / Epley manouver, Rolling / Barbeque maneuver, Semont Liberatory maneuver dan Brand-Darroff exercise.Dari beberapa latihan ini kadang memerlukan seseorang untuk membantunya tapi ada juga yang dapat dikerjakan sendiri.(2,3) 1. Latihan CRT / Epley manouver :

Keterangan Gambar : Pertama posisi duduk, kepala menoleh ke kiri (1), kemudian langsung tidur sampai kepala menggantung di pinggir tempat tidur (2), tunggu jika terasa berputar / vertigo sampai hilang, kemudian putar kepala ke arah kanan ( sebaliknya ) perlahan sampai muka menghadap ke lantai (3), tunggu sampai hilang rasa vertigo, kemudian duduk dengan kepala tetap pada posisi menoleh ke kanan dan kemudian ke arah lantai (4), masing-masing gerakan ditunggu lebih kurang 30 60 detik. kali sampai terasa vertigo hilang. Untuk Rolling / Barbeque maneuver, dilakukan dengan cara berguling sampai 360, mula-mula posisi tiduran kepala menghadap ke atas, jika vertigo kiri, mulai berguling ke kiri ( kepala dan badan ) secara perlahan-lahan, jika timbul vertigo, berhenti dulu tapi jangan Dapat dilakukan juga untuk sisi yang lain berulang

balik lagi, sampai hilang, setelah hilang berguling diteruskan, sampai akhirnya kembali ke posisi semula.(2,3)

2. Latihan Semont Liberatory :

Keterangan Gambar : Pertama posisi duduk (1), untuk gangguan vertigo telinga kanan, kepala menoleh ke kiri, kemudian langsung bergerak ke kanan sampai menyentuh tempat tidur (2) dengan posisi kepala tetap, tunggu sampai vertigo hilang (30-6- detik), kemudian tanpa merubah posisi kepala berbalik arah ke sisi kiri (3), tunggu 30-60 detik, baru kembali ke posisi semula. Hal ini dapat dilakukan dari arah sebaliknya, berulang kali.(2,3)

3. Latihan Brand-Darroff exercise :

Keterangan Gambar : Hampir sama dengan Semont Liberatory, hanya posisi kepala berbeda, pertama posisi duduk, arahkan kepala ke kiri, jatuhkan badan ke posisi kanan, kemudian balik posisi duduk, arahkan kepala ke kanan lalu jatuhkan badan ke sisi kiri, masing-masing gerakan ditunggu kira-kira 1 menit, dapat dilakukan berulang kali,pertama cukup 1-2 kali kiri kanan, besoknya makin bertambah.(2,3) DAFTAR PUSTAKA

1. PERDOSSI, Vertigo Patofisiologi, Diagnosis, dan Terapi.Janssen Pharmaceutica.Jakarta.1999 2. Lumbantobing.S.M.Vertigo.Fakultas Kedokteran UI.Jakarta.1996 3. Ginsberg.L,Lecture notes neurologi, edition 8 th.Penerbit Erlangga.Jakarta.2005. 4. Mardjono, M.Neurologi klinis dasar.Penerbit Dian Rakyat.Jakarta.1998 5. http://www.mims.com/Page.aspx? menuid=mng&name=Merislon+tab&CTRY=SG&brief=false#Actions

PRESENTASI KASUS

VERTIGO

Pembimbing : Dr.Ananda Setiabudi, SpS

Penyusun : Abdul Aziz Hamid 030.05.001

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT SARAF RSUD BUDHI ASIH 2011 PERIODE 14 MARET 2011 15 APRIL 2011 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI JAKARTA