Anda di halaman 1dari 18

Kematian Akibat Keracunan CO Siti Nurjawahir Bt Rosli NIM: 10.2009.323 Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana, Jl.

Arjuna Utara No.6, Jakarta 11510 Email: purple_lilac90@yahoo.com

BAB I PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Ilmu kedokteran forensik disebut juga ilmu kedokteran kehakiman, merupakan salah satu mata ajaran wajib dalam rangkaian pendidikan kedokteran di Indonesia, dimana peraturan perundangan mewajibkan setiap dokter baik dokter, dokter spesialis kedokteran forensik, spesialis klinik untuk membantu melaksanakan pemeriksaan kedokteran forensik bagi kepentingan peradilan bilamana diminta oleh polisi penyidik. Dengan demikian, dalam penegakan keadilan yang menyangkut tubuh, kesehatan dan nyawa manusia, bantuan dokter dengan pengetahuan Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal yang dimilikinya amat diperlukan. Cabang toksikologi dalam ilmu forensic adalah untuk mempelajari sumber,sifat serta khasiat racun,gejala-gejala dan pengobatan pada keracunan serta kelainan yang didapatkan pada korban yang meninggal saat dilakukan autopsi. Racun adalah zat yang bekerja pada tubuh secara kimiawi dan fisiologik tetapi dalam dosis toksik akan menyebabkan gangguan kesehatan bahkan menyebabkan kematian. 1-3

TUJUAN
Penulisan makalah ini bertujuan untuk mempelajari mengenai ilmu kedokteran forensic dari aspek hokum dan prosedur medikolegal melibatkan profesi kedokteran. Selain itu, mempelajari mengenai ilmu toksikologi meliputi sifat racun,patofisiologi racun pada sistem tubuh dan kelainan yang ditemukan pada korban meninggal.

SKENARIO
Suatu hari anda didatangi penyidik dan diminta untuk membantu mereka dalam memeriksa suatu tempat kejadian perkara (TKP). Menurut penyidik, TKP adalah sebuah rumah yang cukup besarmilik seorang pengusaha dan istrinya ditemukan meninggal dunia di dalam kamarnya yang terkunci dari dalam. Anaknya yang pertama kali mencurigai hal itu (pukul 8.00) karena si ayah yang biasanya bangun untuk lari pagi,hari ini belum keluar dari kamarnya. Ia bersama dengan pak ketua RT melaporkannya ke polisi. Penyidik telah membuka kamar tersebut dan menemukan kedua orang tersebut tiduran di tempat tidurnya dan dalam keadaan mati. Tidak ada tanda-tanda perkelahian di ruang tersebut,segalanya masih tertata rapi sebagaimana biasa, tutur anaknya. Dari pengamatan sementara tidak ditemukan luka-luka pada kedua mayat dan tidak ada barang yang hilang. Salah seorang penyidik ditelpon seorang petugas asuransi bahwa dia telah dihubungi oleh anak si pengusaha berkaitan dengan kemungkinan klaim asuransi jiwa pengusaha tersebut.

BAB II PEMBAHASAN
i. Prosedur Medikolegal Prosedur medikolegal adalah tata-cara atau prosedur penatalaksanaan dan berbagai aspek yang berkaitan pelayanan kedokteran untuk kepentingan hukum. Secara garis besar prosedur medikolegal mengacu kepada peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia, dan pada beberapa bidang juga mengacu kepada sumpah dokter dan etika kedokteran. 1,4 Dasar hukum dan undang-undang bidang kesehatan yang mengatur identifikasi jenasah adalah : A. Berkaitan dengan kewajiban dokter dalam membantu peradilan diatur dalam KUHP pasal 133: 1.Dalam hal penyidik untuk membantu kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya. 2.Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat. 3.Mayat yang dikirimkan kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut dan diberi label yang memuatkan identitas mayat, dilak dengan diberi cap jabatan yang diilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat. B. Undang-undang Kesehatan Pasal 79 1.Selain penyidik pejabat polisi Negara Republik Indonesia juga kepada pejabat pegawai negeri sipil tertentu di Departemen Kesehatan diberi wewenang khusus sebagai penyidik

sebagaimana dimaksud dalam UU No 8 tahun 1981 tentang HukumAcara Pidana, untuk melakukan penyidikan tindak pidana sebagaimana diatur dalam undang-undang ini. 2. Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berwenang : a.Melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan serta keterangan. b.Melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga melakukan. c.Meminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau badan usaha. d.Melakukan pemeriksaan atas surat atau dokumen lain. e.Melakukan pemeriksaan atau penyitaan bahan atau barang bukti. f.Meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan. g.Menghentikan penyidikan apabila tidak terdapat cukup bukti sehubungan dengantindak pidana di bidang kesehatan. 3.Kewenangan penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilaksanakan menurut UU No .8 tahun 1981 tentang HAP. Kewajiban dokter membantu peradilan 4 Pasal 133 KUHAP Pasal 179 KUHAP 1) Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan. 2) Semua ketentuan tersebut di atas untuk saksi berlaku juga bagi mereka yang memberikan keterangan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan sumpah atau janji akan memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan sebenarbenarnya menurut pengetahuan dalam bidang keahliannya.

Bentuk bantuan dokter bagi peradilan dan manfaatnya 4 Pasal 183 KUHAP o Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannnya.1,2,3 Pasal 184 KUHAP 1) Alat bukti yang sah adalah: - Keterangan saksi - Keterangan ahli - Surat - Pertunjuk - Keterangan terdakwa 2) Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan. Pasal 186 KUHAP o Keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan.

Pasal 180 KUHAP 1) Dalam hal diperlukan untuk menjernihkan duduknya persoalan yang timbul di sidang pengadilan, Hakim ketua sidang dapat minta keterangan ahli dan dapat pula minta agar diajukan bahan baru oleh yang berkepentingan. 2) Dalam hal timbul keberatan yang beralasan dari terdakwa atau penasihat hukum terhadap hasil keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Hakim memerintahkan agar hal itu dilakukan penelitian ulang. 3) Hakim karena jabatannya dapat memerintahkan untuk dilakukan penelitian ulang sebagaimana tersebut pada ayat (2)

Sangsi bagi pelanggar kewajiban dokter 4 Pasal 216 KUHP 1) Barangsiapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh pejabat berdasarkan tugasnya. Demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau memeriksa tindak pidana; demikian pula barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan guna menjalankan ketentuan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau denda paling banyak sembilan ribu rupiah. 2) Disamakan dengan pejabat tersebut di atas, setiap orang yang menurut ketentuan undang-undang terus-menerus atau untuk sementara waktu diserahi tugas menjalankan jabatan umum. 3) Jika pada waktu melakukan kejahatan belum lewat dua tahun sejak adanya pemidanaan yang menjadi tetap karena kejahatan semacam itu juga, maka pidanya dapat ditambah sepertiga. Pasal 222 KUHP o Barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan pemeriksaan mayat untuk pengadilan, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. Pasal 224 KUHP o Barangsiapa yang dipanggil menurut undang-undang untuk menjadi saksi, ahli atau jurubahasa, dengan sengaja tidak melakukan suatu kewajiban yang menurut undang-undang ia harus melakukannnya: 1. Dalam perkara pidana dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 9 bulan. 2. Dalam perkara lain, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 6 bulan. Pasal 522 KUHP o Barangsiapa menurut undang-undang dipanggil sebagai saksi, ahli atau jurubahasa, tidak datang secara melawan hukum, diancam dengan pidana denda paling banyak sembilan ratus rupiah.

Bedah Mayat Klinis 4 Peraturan Pemerintah No 18 tahun 1981 tentang Bedah Mayat Klinis dan Bedah Mayat Anatomis serta Transplantasi Alat dan atau Jaringan Tubuh Manusia. Pasal 2 PP No 18/1981

Bedah mayat klinis hanya boleh dilakukan dalam keadaan sebagai berikut: Dengan persetujuan tertulis penderita dan atau keluarganya yang terdekat setelah penderita meninggal dunia, apabila sebab kematiannya belum dapat ditentukan dengan pasti; o Tanpa persetujuan penderita atau keluarganya yang terdekat, apabila diduga penderita menderita penyakit yang dapat membahayakan orang lain atau masyarakat sekitarnya. o Tanpa persetujuan penderita atau keluarganya terdekat, apabila dalam jangka waktu 2 x 24 (dua kali dua puluh empat) jam tidak ada keluarga terdekat dari yang meninggal dunia datang ke rumah sakit. Pasal 70 UU Kesehatan (2) Bedah mayat hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu dan dengan memperhatikan norma yang berlaku dalam masyarakat.2 o

ii. Aspek hukum Undang-udang yang berkaitan dengan tindak kekerasan atau penganiayaan sehingga menyebabkan kematian : 4 Pasal 338 KUHP o Barang siapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan pidana penjara paling lama 15 tahun Pasal 339 KUHP o Pembunuhan yang diikuti,disertai atau didahului oleh sesuatu perbuatan pidana,yang dilakukan dengan maksud untuk mempersiapkan atau mempermudahkan pelaksanaannya,atau untuk melepaskan diri sendiri maupun peserta lainnya dari pidana dalam hal tertangkap tangan ataupun untuk memastikan penguasaan barangyang diperolehnya secara melawan hukum diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu paling lama 20 tahun. Pasal 340 KUHP o Barang siapa dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam,karena pembunuhan dengan rencana(moord), dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu paling lama 25 tahun.

Hak dan kewajiban untuk melapor disebut dalam Pasal 108 KUHP yaitu:

Setiap orang yang mengalami,melihat,menyaksikan dan atau menjadi korban peristiwa yang merupakan tindak pidana berhak untuk mengajukan laporan atau pengaduan kepada penyelidik dan atau penyidik baik lisan maupun tertulis. Setiap orang yang mengetahui permuafakatan jahat untuk melakukan tindak pidana terhadap ketenteraman dan keamanan umum atau terhadap jiwa atau terhadap hak milik wajib seketika itu juga melaporkan hal tersebut kepada penyelidik atau penyidik. Setiap pegawai negeri dalam rangka melaksanakan tugasnya yang mengetahui tentang terjadinya peristiwa yang merupakan tindak pidana wajib segera melaporkan hal tersebut kepada penyelidik atau penyidik. Laporan atau pengaduan yang diajukan secara tertulis harus ditandatangani oleh pelapor atau pengadu. Laporan pengaduan yang diajukan secra lisan harus dicatat oleh penyidik dan ditandatangani oleh pelapor atau pengadu dan penyidik. Setelah menerima laporan atau pengaduan,penyidik atau penyelidik harus memberikan surat tanda penerimaan laporan atau pengaduan kepada yang bersangkutan.

iii. Identifikasi Personal 1,2 Identifikasi adalah penentuan atau pemastian identitas orang yang hidup maupun mati, berdasarkan ciri khas yang terdapat pada orang tersebut. Identifikasi forensik merupakan usaha untuk mengetahui identitas seseorang yang ditujukan untuk kepentingan forensik, yaitu kepentingan proses peradilan. Tujuan dari identifikasi forensik adalah: Kebutuhan etis dan kemanusiaan. Pemastian kematian seseorang secara resmi dan yuridis. Pencatatan identitas untuk keperluan administratif dan pemakaman. Pengurusan klaim di bidang hukum publik dan perdata. Pembuktian klaim asuransi, pensiun dan lain-lain. Upaya awal dalam suatu penyelidikan kriminal.

Peran identifikasi forensik adalah: Pada orang hidup : - Semua kasus medikolegal. - Orang yang didakwa pelaku pembunuhan. - Orang yang didakwa pelaku pemerkosaan. - Identitas bayi baru lahir yang tertukar, untuk menentukan siapa orang tuanya. - Anak hilang. Pada jenazah, dilakukan pada keadaan: - Kasus peledakan. - Kasus kebakaran. - Kecelakaan kereta api atau pesawat terbang.

Banjir. Kasus kematian yang dicurigai melanggar hukum. Pada kasus ini,korban pengusaha dan istri yang meninggal ini telah dikenali oleh si anak dan pak ketua RT yang melaporkan ke polisi. Tetapi identifikasi forensic tetap harus dilakukan pada jenazah karena kasus kematian mereka dicurigai melanggar hukum karena si anak dikatakan telah menelpon pihak asuransi beberapa hari sebelum kejadian bertanyakan mengenai klaim asuransi bapanya. Terdapat kemungkinan mereka diracun karena tiada unsur-unsur perkelahian di TKP. iv. Pemeriksaan di TKP 1,5,6 Pemeriksaan di TKP penting untuk menentukan penyebab kematian dan cara kematian. Yang diperhatikan di TKP adalah seperti berikut : Apakah ada sisa obat/sisa bubuk/pembungkus obat/alat suntik? Apakah ada sisa muntahan? Bagaimana dengan bau,sifat dan warnanya? Apakah ada gelas/alat minum yang lain/surat? Mengumpul keterangan o Kapan kali terakhir orang bertemu dengan korban? o Apakah korban ada penyakit semasa hidupnya? o Apakah korban mengambil obat tertentu? o Sisa obat dihitung Mengumpul barang bukti o Kumpul obat dan pembungkusnya o Ambil sampel sisa muntahan o Periksa tempat sampah sekiranya ada benda yang mencurigakan

v. Pemeriksaan Luar & Dalam Pada Mayat Pemeriksaan luar 1-3,5,6 1. Pakaian : perhatikan adanya bercak ,bau,dan distribusi a. pembunuhan (bercak tidak beraturan /disiram ) b. bunuh diri (bercak beraturan pada tangan dari atas keatas kebawah ) c. kecelakaan (tidak khas) 2. Lebam mayat : perhatikan warna a. merah terang (keracunan sianida kontak dengan benda suhu dingin ) b. Cherry pink (CO) c. coklat kebiruan (anilin,nitrobenzena,kina,potassium-chiorate dan acetanilide ) d. hijau (H2S) 3. Bercak ,warna dan distribusi sekitar mulut : a. yodium (kulit menjadi hitam) b. nitrat (kulit menjadi kuning ) c. zat korosif (luka bakar merah-coklat) d. distribusi menginformasikan cara kematian.

4. Bau dari mulut dan hidung : a. sianida bau (amandel) b. insektisida (bau minyak tanah ) c. bau malation (bau kutu busuk ) d. amonia ,alkohol,lisol,eter,klorofom, dan asam karbolat (bau khas ) 5. Perubahan kulit a. Keracunan arsen kronis hiperpigmentasi/melanosis dan keratosis pada telapak tangan dan kaki b. Keracunan perak(Ag) kulit abu-abu kebiruan c. Keracunan tembaga dan fosfor kulit kekuningan karena hemolisis 6. Kelainan lain : a. bekas suntikan ( keracunan narkotika ,barbiturate) b. keluarnya busa dari hidung dan mulut (keracuanan morfin) Pemeriksaan dalam 1-3,5,6 Bila pada pemeriksaan luar tidak tercium bau racun,maka rongga tengkorak dibuka dahulu untuk mengelakkan bau viscera dari rongga perut menyelubungi bau racun. Bau sianida,alkohol,kloroform dan eter tercium paling kuat di rongga tengkorak. 1. 2. 3. Pembukaan rongga tengkorak : perhatikan bau dan warna jaringan otak cherry red : CO coklat akibat terbentuknya metHb Pembukaan rongga dada perhatikan warna dan bau Pembukaan rongga perut ,perhatikan warna dan bau serta kelainan pada lambung untuk racun yang ditelan ,seperti : Hiperemi o keracunan zat korosif : hiperemi di kurvatura mayor o tembaga : hiperemi dan warna biru kehijauan o asam sulfat : hiperemi dan warna kehitaman Perlunakan o keracunan zat korosif : ulkus rapuh ,tipis,dikelilingi tanda peradangan Perforasi o hanya pada keracunan asam sulfat pekat Kelainan pada lambung akibat zat korosif dibedakan : o Korosif anorganik asam mukosa lambung mengkerut ,coklat hitam,kesan kering dan hangus terbakar o Korosif anorganik basa mukosa lambung lunak ,sembab ,basah,merah / coklat,kesan pada perabaan licin seperti sabun o Korosif organik golongan fenol pseudomembran warna abu-abu kebiruan o Korosif organik golongan formaldehidmukosa membran mengkerut ,mengeras ,warna kelabu Pada keracunan bentuk gas akan timbul perubahan pada saluran napas : o sembab ,hiperemi,iritasi ,kongesti

Pada keracunan racun yang berkerja pada SSP o tanda asfiksia o ciri khusus seperti pada keracunan strikinin tubuh korban melengkung 4. Pemeriksaan urin akan timbul perubahan warna keracunan asam pikrat pekat (urin hijau kecoklatan ) sulfat kronis dan barbital (urin merah anggur) fenol atau salisilat (urin hijau kecoklatan/hijau gelap ) keracunan zat yang membentuk metHb (urin merah-coklat /coklat kehitaman ) Kriteria diagnosis 1. 2. 3. 4. Adanya kontak antara korban dengan racun Adanya tanda-tanda dan gejala yang sesuai dengan akibat dari racun yang diduga Harus dapat dibuktikan bahwa sisa benda bukti adalah racun yang dimaksud Dari bedah mayat harus dapat disingkirkan sebab kematian lain dan kelainan harus sesuai dengan kelainan akibat racun yang diduga 5. Dibuktikan adanya racun dan metabolitnya dari analisis toksikologik pada darah dan urin atau cairan dan jaringan tubuh lain. vi. Visum et Repertum (VeR) 1,8 Visum et Repertum adalah keterangan tertulis yang dibuat oleh dokter,berisi temuan dan pendapat berdasarkan keilmuannya tentang hasil pemeriksaan medis terhadap manusia atau bagian dan tubuh manusia baik hidup maupun mati, atas permintaan tertulis(rasmi) dari penyidik yang berwenang (atau hakim untuk visum et repertum psikiatrik) yang dibuat atas sumpah atau dikuatkan dengan sumpah demi kepentingan peradilan. Visum et repertum adalah salah satu alat bukti yang sah sebagaimana tertulis dalam pasal 184 KUHP. Visum et Repertum turut berperan dalam proses pembuktian suatu perkara pidana terhadap kesehatan dan jiwa manusia, dimana ia menguraikan segala sesuatu tentang hasil pemeriksaan medik yang tertuang di dalam bagian pemberitaan, yang karenanya dapat dianggap sebagai pengganti barang bukti. Visum et repertum juga memuat keterangan atau pendapat dokter mengenai hasil pemeriksaan medik tersebut yang tertuang di dalam bagian kesimpulan. Dengan demikian visum et repertum secara utuh telah menjembatani ilmu kedokteran dengan ilmu hukum sehingga dengan membaca visum et repertum, dapat diketahui dengan jelas apa yang telah terjadi pada seseorang, dan para praktisi hukum dapat menerapkan norma-norma hukum pada perkara pidana yang menyangkut tubuh dan jiwa manusia. 10 Ketentuan umum pembuatan visum et repertum adalah: Diketik di atas kertas berkepala surat instansi pemeriksa. Bernomor, bertanggal dan bagian kiri atasnya dicantumkan kata Pro Justitia. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, tanpa singkatan dan tidak menggunakan istilah asing.

Ditandatangani dan diberi nama jelas pembuatannya serta dibubuhi stempel instansi tersebut. vii. Aspek asuransi jiwa 9 Asuransi adalah suatu sistem perlindungan terhadap suatu risiko kerugian pada individu dengan cara mendistribusikan atau membagi beban kerugian tersebut kepada individu-individu lain dalam jumlah besar sesuai dengan law of averages. Peserta asuransi tersebut berkewajiban membayar sejumlah premi dan konsekuensinya ia berhak memperoleh kompensasi sejumlah tertentu yang diperjanjikan dalam polis apabila ia terkena risiko yang dipertanggungkan. Klaim asuransi, baik asuransi jiwa ataupun asuransi kerugian, dapat saja merupakan hasil dari fraud ataupun abuse, sedemikian rupa sehingga memerlukan penyelidikan forensik terlebih dahulu sebelum ditentukan claimabilitynya. Fraud dalam asuransi adalah klaim asuransi dengan niat untuk menipu atau mengambil keuntungan dari perusahaan asuransi. Pada asuransi kematian, calon peserta diminta untuk memasukkan data kesehatannya, dengan atau tanpa pemeriksaan kesehatan sebelumnya, yang akan dijadikan data awal kesehatan peserta. Polis suatu asuransi jiwa umumnya memberlakukan ketentuan tertentu sebagai persyaratan, pembatasan dan pengecualian pertanggungan. Peserta asuransi kematian yang memiliki data kesehatan yang normal atau memiliki jumlah pertanggungan yang besar dan kemudian mendadak meninggal dunia tidak lama setelah penutupan asuransi biasanya merupakan kasus yang layak diteliti (suspicious death or contestable death claim). Kecurigaan adanya fraud atau abuse semakin menguat apabila sebab kematiannya ternyata adalah penyakit fatal yang telah menahun atau sebab kematiannya menjurus ke arah kesengajaan. Kedokteran forensik harus dilibatkan dalam kasus yang meragukan seperti kematian yang dicurigai akibat unsur kesengajaan meskipun ditutupi seolah suatu kecelakaan, identitas korban yang meragukan, jumlah pertanggungan yang sangat besar, hubungan yang tidak jelas antara peserta asuransi dengan pembayar premi, dan kejanggalan lainnya. Kejahatan di bidang asuransi kematian dapat saja dibarengi dengan kejahatan lain, seperti pemalsuan identitas, pembunuhan atau bunuh diri. Dalam penyelesaian klaim asuransi kematian terdapat 3 hal penting yang harus diperhatikan, yaitu : (1) adanya penutupan polis asuransi kematian bagi tertanggung (2) meninggalnya si tertanggung (3) bukti bahwa benar tertanggung telah meninggal. Umumnya isu utama yang muncul adalah identitas jenasah serta sebab kematian dan cara kematiannya. Fakta menunjukkan bahwa sertifikat kematian cukup mudah diperoleh oleh karena tidak adanya ketentuan di Indonesia yang mengatur tentang kewajiban pemeriksaan jenasah untuk kepentingan sertifikasi kematian dan tidak adanya lembaga khusus yang berwenang menerbitkan sertifikat kematian. Dengan demikian, sertifikat kematian dapat diperoleh tanpa harus melalui pemeriksaan jenasah, bahkan tanpa harus diketahui penyebab kematiannya ataupun pemastian

identitas si mati. Peraturan hanya mengatur tentang formalitas sertifikasi kematian yang memiliki banyak celah untuk dilanggar. Pemeriksaan autopsi forensik harus dilakukan untuk memperoleh sebab kematian yang pasti, yang kemudian dapat membawa ke kesimpulan tentang cara kematiannya apakah terdapat unsur kesengajaan. Pemeriksaan forensik juga dapat digunakan untuk memastikan identitas korban apabila identitas korban memang menjadi isu utama. Pemeriksaan autopsi dan identifikasi seringkali masih dapat dilakukan dan memberikan hasil meskipun peristiwa telah lama terjadi atau korban telah dimakamkan. Pemeriksaan forensik terhadap tempat kejadian perkara juga dapat membantu mengungkap peristiwa yang melatar-belakangi kematian seseorang. viii. Tinjauan kasus Bentuk Keracunan Berdasarkan Motif 5,6 Salah satu tujuan pelayanan forensik klinik adalah memberikan informasi atau fakta-fakta yang membuat terang kasus keracunan yang mencurigakan termasuk motif yang melatarbelakangi kasus tersebut. Dalam kasus tindak pidana harus dibuktikan adanya perbuatan yang salah (actua rheus) dan situasi batin yang melatarbelakangi tindakan tersebut (men rhea). Motif keracunan harus ditentukan sebagai unsur men rhea, apakah timbul akibat kecerobohan (recklessness), kealpaan (negligence) atau kesengajaan (intentional). Secara umum, motif keracunan dapat dibedakan menjadi dua bentuk (tipe) berdasarkan korban keracunan, yaitu: 1. Tipe S (spesific target) Menunjukkan bahwa korban keracunan hanya orang tertentu dan biasanya antara pelaku dan korban sudah saling kenal. Motivasi yang biasanya melatarbelakangi, antara lain: uang, membunuh, pembunuhan lawan politik dan balas dendam. Keracunan tipe S berdasarkan terjadinya dibagi ke dalam dua sub grup yaitu: a. Sub grup S tipe S/S (spesific/slow) dimana keracunan terjadi secara perlahan dan direncanakan oleh pelaku. b. Sub grup Q tipe S/Q (spesific/quick) dimana keracunan terjadi secara mendadak dan tanpa perencanaan sebelumnya. Pemeriksaan terhadap korban keracunan tipe S/S perlu mendapat perhatian lebih sebab kegagalan pembuktian tanda-tanda keracunan oleh dokter sangat sering membuat kasus tersebut menjadi kasus tersebut menjadi kasus pembunuhan yang sempurna (the perfect murder). Pembunuhan yang sempurna adalah kematian korban yang sesungguhnya akibat tindaan pidana tetapi dokter menyatakan sebagai kematian wajar karena faktor penyakit. Kasus pembunuhan yang sempurna terjadi bukan karena keahlian si pembunuh, tetapi akibat kegagalan dokter mengenali tanda-tanda keracunan pada korban. 2. Tipe R (random target) Terjadi pada korban yang acak. Motivasi bentuk keracunan ini biasanya ego, sadistik, dan teror. Berdasarkan kejadiannya keracunan tipe R dibagi:

a. Sub grup S tipe R/S (random/slow), terorisme merupakan salah satu benuk keracunan tipe ini bila racun yang dipakai sebagai alat untuk menjalankan teror. b. Sub tipe Q tipe R/Q (random/quick) Faktor yang mempengaruhi keracunan 1 Berbagai faktor mempengaruhi terjadinya keracunan : 1. Cara masuk. Keracunan paling cepat terjadi jika masuknya racun secara inhalasi. Cara masuk lain, berturut-turut ialah intravena, intramuskular, intraperitoneal, subkutan, peroral dan paling lambat ialah bila melalui kulit yang sehat. Umur. Kecuali untuk beberapa jenis racun tertentu, orang tua dan anak-anak lebih sensitif misalnya pada barbiturat. Bayi prematur lebih rentan terhadap obat karena eksresi melalui ginjal belum cukup. Kondisi tubuh. Penderita penyakit ginjal umumnya lebih mudah mengalami keracunan. Pada penderita demam dan penyakit lambung, absorpsi dapat terjadi dengan lambat. Bentuk fisik dan kondisi fisik, misalnya lambung berisi atau kosong.

2.

3.

4.

Kebiasaan. Sangat berpengaruh pada racun golongan alkohol dan morfin, sebab dapat terjadi toleransi, tetapi toleransi tidak dapat menetap, jika pada suatu ketika dihentikan, maka toleransi akan menurun lagi. 5. Waktu pemberian. Untuk racun yang ditelan, jika ditelan sebelum makan maka absorbs terjadi lebih baik sehingga efek akan timbul lebih cepat. 6. Kuantitas (dosis) racun. Pada umumnya dosis racun yang besar akan menyebabkan kematian yang lebih cepat. Tetapi pada beberapa kasus, misalnya racun tembaga sulfat dalam dosis besar akan merangsang muntah sehingga racun keluar dari tubuh

Keracunan Karbon Monoksida 1-3 Karbon monoksida (CO), merupakan gas yang tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa dan mempunyai afinitas terhadap haemoglobin 210-300 kali besar bila di bandingkan afinitas oksigen terhadap haemoglobin. CO berikatan dengan Hb secara reversible membentuk karboksi-Hb,dengan ini menyebabkan tubuh kekurangan oksigen lalu timbul keadaan anemic anoksia. CO juga adalah gas yang tidak merangsang selaput lendir dan lebih ringan jisimnya dibanding oksigen hingga lebih mudah menyebar.

Gas CO terhasil dari pembakaran yang tidak sempurna dari karbon dan bahan-bahan organic yang mengandung karbon. Tabel 1 : Saturasi CO dalam darah dan gejala yang timbul 1 Tanda dan Gejala Tidak ada Rasa kencang pada dahi, mungkin sakit kepala yng ringan, pelebaran pembuluh darah perifer Sakit kepala, berdenyut pada pelipis Sakit kepala hebat, penglihatan kabur, lemah, pusing, mual, muntah, kolaps. s.d.a dengan kemungkinan lebih besar untuk terjadi kolaps atau sinkop, nadi dan pernafasan cepat. Sinkop, pernafasan cepat, nadi cepat, koma-dengan serangan konvulsi intermiten, pernafasan chyne stoke Koma dan konvulsi intermiten, kerja jantung tertekan, pernafasan tertekan dan mungkin terjadi kematian. Nadi lemah, pernafasan dangkal, kegagalan pernafasan dan kematian. Saturasi COHb 0-10 10-20 20-30 30-40 40-50 50-60 60-70 70-80

Faktor yang mempengaruhi toksisitas CO Konsentrasi CO dalam udara Lama inhalasi/terpapar Ventilasi paru Kadar COHb sebelum terpapar Aktifitas fisik Penyakit yang menganggu oksigenasi jaringan Obatan tertentu,alcohol,morfin dan lain-lain yang menyebabkan depresi SSP

Pemeriksaan Forensik 1-3 a.Lebam mayat b. Otak Ptekiae di substansia alba jika korban masih hidup setelah jam Pemeriksaan mikroskopik o Pembuluh darah kecil mengandungi trombi hialin Cherry pink lebih jelas bila kadar COHb >30% Jaringan otot,visera dan darah berwarna cherry pink,dibedakan dengan keracunan akibat sianida atau mayat yang didinginkan

o o o c. Miokardium d. Paru

Ring haemorrhage Ball haemorrhage Nekrosis kecil dikelilingi pembuluh darah yang mengandung thrombus

Perdarahan dan nekrosis pada m.papillaris ventrikel kiri Pemeriksaan mikroskopik sesuai dengan infark miokard akut

Pneumonia hipostatik Thrombosis a.pulmonalis

e. Ginjal f. Kulit Eritema/vesikel/bullae dapat ditemukan pada kulit dada,perut, muka atau bagian tubuh lain karena hipoksia pada kapiler di bawah kulit. Nekrosis tubuli ginjal

Pemeriksaan Laboratorium 1-3 Secara kualitatif o Uji dilusi alkali o Uji formalin (Eachlolz-Liebmann) Secara kuantitatif o Cara Gettler-Freimuth o Spektrofotometrik dipakai bila korban masih hidup o Kromatografi gas dipakai pada mayat,darah tidak segar

Contoh VeR 8 INSTALASI KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKO LEGAL RUMAH SAKIT XX -----------------------------------------------------------------------------------------------VISUM ET REPERTUM ( JENAZAH ) Th.2008 No. KF. 05. 333. PRO JUSTITIA. Berhubung dengan surat Saudara.-------------------------------------------------------------Nama : _______________, -Pangkat : AIPTU. Nrp. 030610088.------------------------------Alamat : Kepolisian Sektor Kota Kediri,Jl.Raya Made No.50 Kediri 64219.---------------------Jabatan : An. Kepala.Kepolisian Sektor kota Kediri.--------------------------------------------Tertanggal : 2 Agustus 2008, -No.Pol:224/01/10/2008.---------------------------------------Yang kami terima pada tanggal ; 2 Agustus 2008, maka kami, Dr. __________ SpF. Dokter Spesialis Forensik, Dokter pemerintah pada Instalasi Kedokteran Forensik dan Mediko Legal RS XXXX, telah melakukan pemeriksaan luar pada tanggal: 2 Agustus 2008, pukul: 16.00 WIB dan pemeriksaan dalam pada tanggal: 2 Agustus 2008, pukul: 16.30 WIB di rumah sakit tersebut di atas, atas jenazah yang menurut surat Saudara tersebut,---------------------------------------------------------------------------------------Bernama: Supadno, -Jenis kelamin: Laki-laki, -Umur: 50 Tahun.-------------------------------Alamat : Jalan Adityawarman 50 Kediri,-------------------------------------------------------Bangsa : Indonesia ---------------------------------------------------------------------------Dengan dugaan meninggal karena : Pembunuhan. ---------------------------------------------Korban ditemukan/ meninggal : di kamar tidur rumahnya dalam keadaan tidur-------------------------------------------------------------------------- Pada tanggal : 2 Agustus 2008, - Pukul : 07.00 WIB.-----------------------------------------Korban dibawa ke kamar jenazah RS XXXX,-----------------------------------Oleh : ____________, -Pangkat : AIPTU. Nrp. 030610088 , Dengan kendaraan No.Pol.: AG 1234 UA ----------------------------------------------------------------------------------Pada tanggal: 2 Agustus 2008,----------------------------Pukul : 11-30----------------------HASIL PEMERIKSAAN-----------------------------------------------------------------------PEMERIKSAAN LUAR :-----------------------------------------------------------------------1. Korban seorang Laki-laki, Usia Lima puluh tahun , Tinggi badan kurang lebih seratus enam puluh lima centimeter, Berat badan lima puluh kilogram, keadaan gizi baik, warna kulit sawo matang. --------------------------------------------------------------------------------------

2. Lebam mayat dan kaku mayat negatif. -----------------------------------------------------3. Korban berlabel dan tidak bersegel, keadaan gizi baik. ---------------------------------------4. Pakaian sarung, celana dalam putih dan memakai kaos singlet. --------------------------5. Kepala / leher : baik rambut hitam lurus.----------------------------------------------------- di samping bibir masih terdapat sedikit busa putih------------------------------------------ kedua pupil mata melebar -------------------------------------------------------------------- bibir atas dan bawah membiru --------------------------------------------------------------- mulut berisi busa warna putih. ---------------------------------------------------------------- di bawah leher ada bekas cengkeraman kuku------------------------------------------------6. Dada : -tidak ditemukan tanda kekerasan tumpul maupun tajam.---------------------------7. Perut : -tidak ditemukan tanda kekerasan tumpul maupun tajam.---------------------------8. Punggung : -tidak ditemukan tanda kekerasan tumpul maupun tajam.----------------------9. Alat kelamin luar : --------------- ---------------------------------------------------------- dari lubang alat kelamin keluar cairan putih-------------------------------------------------10. Anggota gerak atas : --tidak ditemukan tanda kekerasan tumpul maupun tajam-------11. Anggota gerak bawah : -tidak ditemukan tanda kekerasan tumpul maupun tajam----PEMERIKSAAN DALAM :--------------------------------------------------------------------1. Kepala / leher : ----------------------------------------------------------------------------- saluran kerongkongan tampak merah dan berlendir. --------------------------------------2. Dada : --------------------------------------------------------------------------------------- paru dan jantung tidak ditemukan kelainan. ------------------------------------------------- perut : jaringan hati, limpa, kelenjar ludah perut, kandung empedu, usus dan ginjal, kandung seni, ditemukan kelainan, --------------------------------------------------------------------PEMERIKSAAN TAMBAHAN :---------------------------------------------------------------Ditemukan racun pada hati, usus, limpa, jantung korban--------------------------------------KESIMPULAN :------------------------------------------------------------------------------1. Korban seorang Laki-laki, Usia Lima puluh tahun , Tinggi badan kurang lebih seratus enam puluh lima centimeter, Berat badan lima puluh kilogram, keadaan gizi baik, warna kulit sawo matang, rambut lurus hitam, panjang kurang lebih lima centimeter. -----------------------------------------------------------------------------------------------------2. Pemeriksaan Luar : -------------------------------------------------------tidak ditemukan luka memar, luka lubang, luka robek di sekitar mulut, serta mulut berbusa--------------------3. Pemeriksaan Dalam: ----------------------------------------------------- tidak ditemukan memar di bawah kulit kepala, memar di bawah kulit leher dan memar di bawah kulit dada serta ditemukan cairan warna merah di rongga dada. -----------------------------------------4. Pada alat kelamin ditemukan keluar cairan warna putih dari lubang kelamin. ----------------5. Jadi korban meninggal dunia oleh karena keracunan. ----------------------------------------

Demikian Visum Et Repertum ini kami buat dengan mengingat sumpah waktu menerima jabatan. Tanda tangan,

( Dr. XXX, SpF. ) NIP. 0306XXXXX

KESIMPULAN
Ilmu kedokteran forensic dapat membantu pihak polisi dan asuransi pada kasus kematian yang mencurigakan yang mungkin didasari dengan pembunuhan demi klaim asuransi. Pembunuhan yang menggunakan cara meracuni dengan gas toksik tanpa ada tanda-tanda kekerasan maupun perkelahian bisa menyebabkan penyidik tersalah menyimpulkan sebab kematian. Maka itu diperlukan Visum et Repertum agar mayat dapat di autopsi untuk pemeriksaan dan hasil yang akurat. Dokter forensic seharusnya melawat ke TKP untuk mendapat gambaran yang lebih jelas dan mengumpul bahan bukti yang mungkin dianggap kurang penting oleh penyidik.

DAFTAR PUSTAKA 1. Ilmu Kedokteran Forensik, Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Hal : 71-94.
2. Yandi, Fahriza,Riana,Elly. Buku roman forensic,Identifikasi Forensik, Bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal FK Universitas Lambung Mangkurat ; Juli-Agustus 2009. Syaulia Andirezek. Romans forensic, Edisi 20. Peraturan perundang-undangan bidang kedokteran, Bagian Kedokteran Forensik FKUI ;1994; hal. 1-25.

3. 4.

5. Prof. Dr. Amri Amir, Sp.F, DFM, SH : Ilmu Kedokteran Forensik, Edisi Kedua, Bagian Ilmu Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran USU, Medan, 2005, Hal : 24. 6. M. Husni Gani : Ilmu Kedokteran Forensik, Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Padang, Hal : 111-122.

7. Teknik autopsi forensic, Bagian Kedokteran Forensik FKUI, 2000; hal.12-44 8. Afandi D. Visum et repertum perlukaan :aspek medikolegal dan penentuan derajat luka, Bagian Kedokteran Forensik FK Universitas Riau, Maj Kedokt Indon, Volum: 60, Nomor: 4 April 2010. 9. Budi Sampurna, Peran Ilmu Forensik dalam kasus-kasus Asuransi, Indonesian Journal of Legal and Forensic Sciences 2008; 1(1):17-20, Jakarta