Anda di halaman 1dari 2

HARUSKAH SUBSIDI BBM DICABUT?

Oleh: Indra Maipita Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan satu dari berbagai komoditi yang sangat berpengaruh terhadap komoditi lainnya. Perubahan harga BBM memiliki dampak berantai (baik langsung maupun tidak langsung) terhadap hampir seluruh harga komoditi lainnya termasuk komoditi pokok seperti sandang, pangan dan papan. Tentusaja perubahan ini juga akan berdampak pada tingkat pendapatan dan kemiskinan. Inilah satu dari banyak alasan mengapa setiap pengurangan subsidi BBM selalu menjadi topik perbincangan yang ramai dibahas oleh setiap lapisan masyarakat. Secara teori, subsidi merupakan pembayaran yang dilakukan pemerintah kepada perusahaan atau rumah tangga untuk mencapai tujuan tertentu yang membuat mereka dapat memproduksi atau mengkonsumsi suatu produk dalam jumlah yang lebih besar atau pada harga yang lebih murah. Secara ekonomi, subsidi bertujuan untuk mengurangi harga atau menambah produksi. Subsidi dalam belanja negara dialokasikan dalam rangka meringankan beban masyarakat untuk memperoleh kebutuhan dasarnya, sekaligus untuk menjaga agar produsen mampu menghasilkan produk, khususnya yang merupakan kebutuhan dasar masyarakat dengan harga terjangkau. Dengan kata lain, pemberian subsidi ditujukan untuk menjaga stabilitas perekonomian, khususnya stabilitas harga. Dengan subsidi diharapkan bahan kebutuhan pokok masyarakat tersedia dalam jumlah yang mencukupi dengan harga yang stabil serta terjangkau oleh daya beli masyarakat. Mengingat dampak BBM yang begitu besar, setiap tahun pemerintah mengeluarkan dana untuk subsidi ini. Selain jumlahnya yang cukup besar, porsinya terhadap APBN juga semakin meningkat bila dibanding dengan porsi komponen lainnya. Namun, mengingat fungsi dari subsidi itu sendiri sebaiknya diperuntukkan bagi masyarakat tidak mampu, maka subsidi BBM ini menjadi ramai diperbincangkan. Menurut data Susenas, sebesar 70 persen BBM dinikmati oleh 40 persen kelompok masyarakat golongan atas. Kajian Bank Dunia menyatakan bahwa sekitar 45% dari total subsidi BBM dinikmati oleh 10% kelompok terkaya dan hanya sekitar 1% dinikmati oleh 10% kelompok masyarakat termiskin. Apabila subsidi BBM mencapai Rp 150 triliun, berarti sekitar Rp 98 triliun dari subsidi itu dinikmati oleh masyarakat kelompok ekonomi atas dan hanya sekitar Rp15 triliun yang dinikmati oleh 10% kelompok masyarakat termiskin. Lantas adilkah ini? Bila analisisnya sampai disini, tentu saja tidak adil. Sebahagian pihak beranggapan bahwa ketidak adilan ini harus dihentikan, oleh karenanya subsidi BBM mesti diakhiri karena selain tidak adil, tidak tepat sasaran dan memberatkan APBN, akan lebih baik bila subsidi tersebut dialihkan ke sektor lain yang lebih tetap sasaran. Logika ini tentu sah-sah saja, namun penghapusan subsidi BBM tidak boleh dilihat hanya secara parsial. Kita setuju dengan hasil kajian yang menyatakan bahwa subsidi BBM lebih banyak dinikmati oleh kalangan mampu (sungguh tidak adil), namun kita juga harus melihat bahwa penghapusan subsidi BBM akan menaikkan harga BBM, kenaikan harga ini memiliki dampak berantai terhadap seluruh sektor kehidupan. Dengan kata lain kondisi ini akan memicu kenaikan harga barang lain, baik yang berdampak secara langsung maupun tidak (terjadi inflasi yang disebabkan oleh kenaikan biaya produksi, cost push inflation). Bahkan barang-barang seperti cabe dan baksopun akan bisa naik. Biaya produksi pupuk akan naik bila BBM naik, demikian juga biaya transportasinya, sementara petani memerlukan pupuk untuk memproduksi cabe. Bagi kalangan menengah ke atas hal ini tentu tidak menjadi masalah krusial karena mereka hanya perlu penyesuaian terhadap pendapatan dan pengeluaran mereka. Tetapi bagaimana

dengan masyarakat miskin? dengan pendapatan yang relatif tetap, sementara harga-harga relatif meningkat. Mereka yang sedikit berada di atas garis kemiskinan tentu akan dapat turun ke bawah garis kemiskinan (menambah tingkat kemiskinan) sementara yang telah berada sedikit di bawah garis kemiskinan akan semakin jauh dari garis tersebut. Akhirnya, penghapusan subsidi BBM ini bisa juga menjadi cenderung tidak adil karena cenderung menambah ketimpangan pendapatan. Oleh karena itu, kehati- hatian dalam mengurangi subsidi BBM juga perlu. Jangan sampai karena alasan tidak tepat sasaran dan ketidak adilan lantas subsidi BBM dihapus begitu saja. Bila itu terjadi masyarakat miskin tetap akan turut menanggung dampaknya. Lantas apa solusinya? Berbagai solusi alternatif dapat dikaji dan ditempuh oleh pemerintah. Misalnya pemerintah boleh saja menghapus subsidi BBM (kita sepakat akan hal itu), namun sebaiknya secara gradual (bertahap) dan harus diumumkan secara jelas. Katakan pemerintah melalui kajiannya menetapkan penghapusan subsidi BBM akan dilakukan secara bertahap selama 5 tahun. Dengan jelas harus diumumkan berapa persen subsidi dikurangi tahun ini, berapa tahun kedua, ketiga, hingga kelima. Selanjutnya berapa rupiah kenaikan BBM tahun ini dan jadi berapa kisaran harganya, berapa tahun kedua dan seterusnya hingga tahun kelima. Bila ini diumumkan dan disosialisasikan di awal, maka ada kemungkinan masyarakat dan pelaku ekonomi akan bersiap dan berusaha menyesuaikan diri. Contohnya bila kita tahu bahwa tahun depan akan terjadi kenaikan BBM sekian persen, maka pelaku ekonomi akan dapat menghitung biaya produksi dan menetapkan harga produknya untuk tahun depan serta membuat perencanaan yang lebih pasti untuk setiap tahunnya. Demikian juga dengan tingkat upah minimum dapat ditetapkan lebih tepat tanpa merugikan para pekerja. Tidak seperti saat ini, ketika tingkat upah disebahagian besar provinsi telah ditetapkan, lantas pemerintah berencana untuk menaikkan harga BBM. Dari sisi teori, penghapusan subsidi secara bertahap, akan memiliki dampak goncangan yang lebih kecil terhadap perekonomian dan prosesnya akan lebih mulus menuju titik keseimbangan. Selain itu, pemerintah juga perlu melakukan kajian berapa besar dampak pengurangan subsidi tersebut terhadap ketimpangan distribusi pendapatan dan kemiskinan? bila ternyata signifikan, maka kebijakan pengurangan subsidi BBM tersebut perlu diiringi dengan kebijakan lain yang benar-benar dapat mengurangi dampak tersebut. Andai ini dilakukan pemerintah maka kebijakan menaikkan harga BBM (mengurangi subsidi) akan bersifat progresif, cenderung mengurangi ketimpangan, bersifat adil dan tepat sasaran. Penulis adalah Dosen Fakultas Ekonomi Unimed
(telah dimuat di kolom opini harian waspada, jumat 17 Februari 2012)