Anda di halaman 1dari 77

PEMERINTAH PROPINSI JAWA TIMUR

PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA TIMUR


NOMOR 2 TAHUN 2006
TENTANG
RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROPINSI JAWA TIMUR
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
GUBERNUR JAWA TIMUR,
Menimbang:
a.
bahwa untuk mengarahkan pembangunan di Provinsi Jawa Timur dengan
memanfaatkan ruang wilayah secara berdaya guna, berhasil guna, serasi, selaras,
seimbang, dan berkelanjutan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan
masyarakat dan pertahanan keamanan, perlu disusun Rencana Tata Ruang
Wilayah.
b.
bahwa dalam rangka mewujudkan keterpaduan pembangunan antar sektor,
daerah, dan masyarakat maka rencana tata ruang wilayah merupakan arahan
lokasi investasi pembangunan yang dilaksanakan pemerintah, masyarakat,
dan/atau dunia usaha.
c.
bahwa telah terjadi perubahan struktur dan pola pemanfaatan ruang wilayah yang
tidak sesuai dengan Perda Nomor 4 tahun 1996 tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah Provinsi Jawa Timur.
d.
bahwa sehubungan dengan adanya perubahan sistem pemerintahan yang
berpengaruh terhadap sistem penataan ruang wilayah.
e.
bahwa dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 1997
tentang RTRW Nasional, maka strategi dan arahan kebijaksanaan pemanfaatan
ruang wilayah nasional perlu dijabarkan ke dalam Rencana Tata Ruang Wilayah;
f.
bahwa sehubungan dengan pertimbangan pada huruf a, b, c, d, dan e perlu
menetapkan Rencana Tata Huang Wilayah Provinsi Jawa Timur dengan
Peraturan Daerah.
Mengingat:
1.
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1950 tentang Pembentukan Provinsi Jawa Timur
Juncto Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1950 tentang Mengadakan Perubahan
Dalam Undang-Undang Tahun 1950 Nomor 2 Dari Hal Pembentukan Provinsi
Jawa Timur (Lembaran Negara Tahun 1950 Nomor 32);
2.
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokek Pokok
Agraria (Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 2043);
3.
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok
Peternakan Dan Kesehatan Hewan (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 10,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 2824);
4.
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan Ketentuan Pokok
Pertambangan (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 22, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 2831);
5.
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian (Lembaran Negara
Tahun 1984 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3274);

6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.

Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1985 tentang Ketenagalistrikan (Lembaran


Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 74, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 3317);
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam
Hayati Dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 49, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 3419);
Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan (Lembaran Negara
Tahun 1990 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3427);
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman
(Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Nomor
3469);
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya (Lembaran
Negara Tahun 1992 Nomor 27, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3470);
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman
(Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 46, Tambahan Lembaran Negara Nomor
3478);
Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1992 tentang Perkeretaapian (Lembaran
Nagara Tahun 1992 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3479);
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan
(Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Nomor
3480);
Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1992 tentang Penerbangan (Lembaran Negara
Tahun 1992 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3481);
Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1992 tentang Pelayaran (Lembaran Negara
Tahun 1992 Nomor 98, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3493);
Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran
Negara Tahun 1992 Nomor 115, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3501);
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelelaan Lingkungan Hidup
(Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Nomor
3699);
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi (Lembaran
Negara Tahun 1999 Nomor 129, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3881);
Undang-Undang Nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan (Lembaran Negara
Tahun 1999 Nomor 167 Tambahan Lembaran Negara Nomor 3888);
Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara (Lembaran
Negara Tahun 2003 Nomor 3, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4169);
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan (Lembaran
Negara Tahun 2002 Nomor 94, Tambahan Lembaran Negara Nomor 1226);
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air (Lembaran
Negara Tahun 2004 Nomor 32, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4377);
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-undangan (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 4389);
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional.
Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan (Lembaran Negara
Tahun 2004 Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4433);
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran

27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
41.
42.
43.
44.
45.

Negara Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4437);
Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan (Lembaran Negara Tahun
2004 Nomor 132, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4444);
Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 1982 tentang irigasi (Lembaran Negara
Tahun 1982 Nomor 38, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3226);
Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1985 tentang perlindungan hutan
(Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 39, Tambahan Lembaran Negara 3294);
Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1988 tentang Koordinasi Kegiatan Instansi
Vertikal di Daerah (Lembaran Negara Tahun 1988 Nomor 10, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 3373);
Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2005 tentang Jalan Tol (Tambahan
Lembaran Negara Nomor 4489);
Peraturan Pemerintah Nomor 69 tahun 1996 tentang Pelaksanaan Hak dan
Kewajiban, serta Bentuk dan tata cara Peran serta masyarakat dalam Penataan
Ruang (Lembaran Negara tahun 1996, Nomor 104);
Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 1997 tentang RTRW Nasional (Lembaran
Negara Tahun 1997 Nomor 96, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3721);
Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 1998 tentang Penertiban dan
Pendayagunaan Tanah Terlantar (Lembaran Negara Tahun 1998 Nomor 52,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 3747);
Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan
Kawasan Pelestarian Alam (Lembaran Negara Tahun 1998 Nomor 132,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 3776);
Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisa Dampak Lingkungan
Hidup (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 59 Tambahan Lembaran Negara
Nomor 3838);
Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2000 tentang Tingkat Ketelitian Peta
Untuk Penataan Ruang Wilayah (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 20,
Tambahan Lembaran Negara 3934);
Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah
dan Kewenangan Provinsi Sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Tahun
2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara 3952);
Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 2002 tentang Hutan Kota (Lembaran
Negara Tahun 2002 Nomor 119);
Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2004 tentang Penatagunaan Tanah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 45, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 4385);
Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan
Lindung;
Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah Bagi
Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum;
Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 134 Tahun 1998 tentang Pedoman
Penyusunan Peraturan Daerah tentang RTRW Provinsi dan RTRW
Kabupaten/kota;
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 Tahun 1998 tentang Penyelenggaraan
Penataan Ruang di Daerah;
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun 1998 tentang Tata Cara Peran
serta Masyarakat Dalam Proses Perencanaan Tata Ruang di Daerah;

46.
47.
48.
49.
50.
51.
52.
53.
54.
55.
56.

Peraturan Menteri Negara Agraria Nomor 2 Tahun 1999 tentang Izin Lokasi;
Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 17 Tahun 2001 tentang Jenis
Rencana Usaha dan/atau kegiatan yang wajib di lengkapi dengan analisis
mengenai dampak lingkungan hidup;
Keputusan Menteri Energi Sumber Daya Mineral Nomor 1456.K/20/MEM/2000
tentang Pedoman Pengelolaan Kawasan Karst;
Keputusan Menteri Energi Sumber Daya Mineral Nomor 1457.K/20/MEM/2000
tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Lingkungan di Bidang Pertambangan dan
Energi;
Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor 327 Tahun 2002
tentang Penetapan 6 (enam) Pedoman Bidang Penataan Ruang;
Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 174 Tahun 2004 tentang Pedoman
Koordinasi Penataan Rucing Daerah;
Peraturan Daerah Provinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur Nomor 11 Tahun 1991
tentang Penetapan Kawasan Lindung di Provinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur;
Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 8 Tahun 2002 tentang Pengelolaan
Hutan Raya R Soeryo;
Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 4 Tahun 2003 tentang Pengelolaan
Hutan di Jawa Timur;
Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 6 Tahun 2005 tentang Penertiban
dan Pengendalian Hutan Produksi di Provinsi Jawa Timur;
Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 8 Tahun 2005 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah;
Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR
dan
GUBERNUR JAWA TIMUR

MEMUTUSKAN:
Menetapkan:
PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR TENTANG RENCANA TATA RUANG
WILAYAH PROVINSI JAWA TIMUR
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan :
1.
Pemerintah Provinsi adalah Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
2.
Gubernur adalah Gubernur Jawa Timur.
3.
Kabupaten/Kota adalah Kabupaten/Kota di Jawa Timur.
4.
Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografi beserta segenap unsur
terkait padanya yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek
administratif dan atau aspek fungsional.
5.
Ruang adalah wadah yang meliputi ruang daratan, ruang lautan dan ruang udara
sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lainnya hidup dan

6.
7.
8.
9.
10.
11.

12.
13.

14.

15.

16.
17.
18.

19.

20.

21.

melakukan kegiatannya serta memelihara kelangsungan kehidupannya.


Tata ruang adalah wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang, baik
direncanakan maupun tidak.
Penataan ruang adalah proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan
pengendalian pemanfaatan ruang.
Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi yang selanjutnya disingkat RTRW Provinsi
adalah Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Timur yang mengatur struktur
dan pola tata ruang wilayah provinsi.
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota yang selanjutnya disingkat RTRW
Kabupaten/Kota adalah rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota di Jawa Timur
Kawasan adalah wilayah dengan fungsi utama lindung dan budidaya.
Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama
melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumberdaya alam dan
sumberdaya buatan dan nilai sejarah serta budaya bangsa guna pembangunan
berkelanjutan.
Kawasan budidaya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk
dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumberdaya alam, sumperdaya
manusia dan sumberdaya buatan.
Kawasan Permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup diluar kawasan
lindung baik berupa kawasan perkotaan maupun kawasan perdesaan yang
berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal/lingkungan hunian dan tempat
kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan.
Kawasan perdesaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama pertanian
termasuk pengelolaan sumberdaya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai
tempat permukiman pedesaan, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial
dan kegiatan ekonomi.
Kawasan perkotaan atau perkotaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan
utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat
permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan,
pelayanan sosial dan ekonomi.
Kawasan tertentu adalah kawasan yang ditetapkan secara nasional mempunyai
nilai strategis yang penataan ruangnya termasuk kawasan yang diprioritaskan.
Kawasan Pengembangan Utama Komoditi yang selanjutnya disebut Kapuk adalah
Kawasan ekonomi yang didominasi oleh satu komoditas dalam satu wilayah
kabupaten/kota.
Kawasan Pengembangan Ekonomi Terintegrasi yang selanjutnya disebut Kapeksi
adalah kawasan potensial dengan berbagai macam produktifitas komoditi yang
saling terkait antar wilayah kabupaten/kota dan dapat diolah menjadi suatu
komoditas baru khususnya komoditas olahan yang saling terkait.
Kawasan Pengembangan Utama yang selanjutnya disingkat Kaput adalah
kawasan budidaya yang berperan mendorong pertumbuhan ekonomi bagi suatu
kawasan dan disekitarnya, serta dapat mewujudkan pemerataan pengembangan
wilayah dalam skala regional atau nasional.
Kawasan khusus militer adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama
untuk kegiatan pertahanan dan keamanan yang terdiri dari kawasan latihan militer,
kawasan TNI Angkatan Darat, kawasan Pangkalan TNI AU, kawasan pangkalan
TNt Laut.
Pusat Kegiatan Nasional adalah pusat permukiman yang mempunyai potensi

22.
23.
24.
25.
26.
27.

28.

29.
30.
31.
32.
33.
34.

sebagai pintu gerbang ke kawasan-kawasan internasional dan mempunyai potensi


untuk mendorong daerah sekitarnya serta sebagai pusat jasa, pusat pengolahan,
simpul transportasi yang melayani beberapa provinsi dan nasional.
Pusat Kegiatan Wilayah adalah kota sebagai pusat jasa, pusat pengolahan dan
simpul transportasi yang melayani beberapa kabupaten.
Pusat Kegiatan Lokal adalah pusat permukiman kota sebagai pusat jasa, pusat
pengolahan dan simpul transportasi yang mempunyai pelayanan satu kabupaten
atau beberapa kecamatan.
Kawasan Prioritas adalah kawasan yang dianggap perlu diprioritaskan
penanganannya serta memerlukan dukungan penataan ruang segera dalam kurun
waktu perencanaan.
Kawasan Strategis adalah kawasan yang memiliki lingkup pengaruh yang
berdampak nasional, penguasaan dan pengembangan lahan relatif besar,
mempunyai prospek ekonomi yang relatif baik, serta memiliki daya tarik investasi.
Kawasan Potensial adalah kawasan yang memiliki peran untuk mendorong
pertumbuhan ekonomi bagi kawasan sekitarnya serta dapat mewujudkan
pemerataan pemanfaatan ruang.
Kawasan Pengendalian Ketat adalah kawasan yang memerlukan pengawasan
secara khusus dan dibatasi pemanfaatannya untuk mempertahankan daya
dUkung, mencegah dampak negatif, menjamin proses pembangunan yang
berkelahjutan.
Satuan Wilayah Pengembangan yang selanjutnya disingkat SWP adalah suatu
wilayah dengan satu dan atau semua kabupaten/ kota perkotaan didalamnya
mempunyai hubungan hirarki yang terikat oleh sistem jaringan jalan sebagai
prasarana perhubungan darat, dan atau yang terkait oleh sistem jaringan sungai
atau perairan sebagai prasarana perhubungan air.
Energi baru dan terbarukan adalah bentuk energi yang dihasilkan oleh teknologi
baru.
Energi terbarukan adalah bentuk energi yang dihasilkan dari sumberdaya energi
yang secara alamiah tidak akan habis dan dapat berkelanjutan jika dikelola
dengah baik.
Ekosistem adalah sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara
makhluk hidup dengan lingkungannya.
Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan untuk memenuhi kebutuhan
masa kini tanpa mengorbankan hak pemenuhan kebutuhan generasi mendatang.
Daya dukung lingkungan adalah kemampuan ekosistem untuk mendukung
kehidupan organisme secara sehat sekaligus mempertahankan produktifitas,
kemampuan adaptasi dan kemampuan memperbaruhi diri.
Ramah lingkungan adalah suatu kegiatan industri, jasa dan perdagangan yang
dalam proses produksi atau keluarannya mengutamakan metoda atau teknologi
yang tidak mencemari lingkungan dan tidak berbahaya bagi makhluk hidup.
BAB II
RUANG LINGKUP
Pasal 2

Ruang lingkup Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah

Provinsi Jawa Timur ini mencakup strategi dan struktur pemanfaatan ruang wilayah
provinsi yang meliputi ruang daratan, ruang lautan, dan ruang udara menurut peraturan
perundang- undangan yang berlaku.
Pasal 3
Ruang lingkup RTRW Provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2
meliputi :
a.
tujuan pemanfaatan ruang wilayah untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat
dan pertahanan keamanan yang diwujudkan melalui strategi pemanfaatan ruang
wilayah untuk tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas.
b.
struktur dan pola pemanfaatan ruang wilayah.
c.
pedoman pengendalian pemanfaatan ruang wilayah.
BAB III
ASAS, TUJUAN DAN STRATEGI
Pasal 4
RTRW Provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 disusun berasaskan :
a.
pemanfaatan ruang bagi semua kepentingan secara terpadu, tepat guna, berdaya
guna, berhasil guna, serasi, selaras, seimbang dan berkelanjutan.
b.
keterbukaan, persamaan, keadilan, dan perlindungan hukum.
Pasal 5
Tujuan pemanfaatan ruang wilayah sebagaimana dimaksud dalam Pasal
3 huruf a, adalah:
a.
mengakomodasi kebijakan pembangunan dari pemerintah dan aspirasi
masyarakat dalam dimensi ruang;
b.
mengemban kebijakan pengembangan dan mendorong pertumbuhan wilayah
berdasarkan potensi pembangunan;
c.
mewujudkan tata lingkungan yang serasi antara sumber daya alam, sumber daya
buatan, sumber daya manusia untuk menjamin pembangunan yang berkelanjutan
sehingga terwujudnya kehidupan masyarakat yang sejahtera.
Pasal 6
(1)
(2)

Untuk mewujudkan tujuan pemanfaatan ruang wilayah sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 5 ditetapkan strategi pemanfaatan ruang wilayah.
Strategi pemanfaatan ruang wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
meliputi :
a.
struktur pemanfaatan ruang wilayah;
b.
pola pemanfaatan ruang wilayah
c.
arahan pengelolaan kawasan lindung dan budidaya;
d.
arahan pengelolaan kawasan perdesaan, kawasan perkotaan, dan
kawasan tertentu.
e.
arahan pengelolaan sistem pusat permukiman perdesaan dan perkotaan.

f.
g.
h.
i.
j.

arahan pengembangan sistem prasarana wilayah.


arahan pengembangan kawasan diprioritaskan.
arahan pengembangan kawasan pesisir dan kepulauan.
arahan kebijaksanaan tata guna tanah, tata guna air, dan tata guna udara.
pemanfaatan ruang daerah.
BAB IV
STRUKTUR DAN POLA PEMANFAATAAN RUANG WILAYAH
Bagian Pertama
Struktur Pemanfaatan Ruang Wilayah
Paragraf 1
Umum
Pasal 7

(1)
(2)

Struktur pemanfaataan ruang wilayah diwujudkan berdasarkan arahan


pengembangan sistem pusat permukiman perdesaan dan sistem pusat
permukiman perkotaan serta arahan sistem prasarana wilayah.
Struktur pemanfaatan ruang wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi pusat permukiman perdesaan, pusat permukiman perkotaan, dan
prasarana wilayah.
Paragraf 2
Sistem Pusat Permukiman Perdesaan
Pasal 8

(1)
(2)

(3)

Sistem pusat permukiman perdesaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat


(1) dilakukan dengan membentuk pusat pelayanan desa secara berhirarki.
Pusat permukiman perdesaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun
berdasarkan pelayanan perdesaan secara berhirarki, meliputi:
a.
pusat pelayanan antar desa
b.
pusat pelayanan setiap desa
c.
pusat pelayanan pada setiap dusun atau kelompok permukiman
Pusat pelayanan perdesaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) secara
berhirarki memiliki hubungan dengan pusat kecamatan sebagai kawasan
perkotaan terdekat, dengan perkotaan sebagai pusat Sub SWP dan dengan
ibukota kabupaten masing-masing.
Paragraf 3
Sistem Pusat Permukiman Perkotaan
Pasal 9

Sistem pusat permukiman perkotaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2),
meliputi:
a.
orde perkotaan
b.
hirarkhi perkotaan
c.
perwilayahan

d.

fungsi satuan wilayah pengembangan


Pasal 10

(1)

Orde perkotaan yang dimaksud dalam Pasal 9 huruf a, meliputi:


a.
Orde I
:
Kota Surabaya
b.
Orde IIA
:
Kota Malang
c.
Orde lIB
:
Perkotaan Sidoarjo, Perkotaan Gresik, Perkotaan
Tuban, Perkotaan Lamongan, Perkotaan Jombang,
Kota
Mojokerto,
Kota
Pasuruan,
Perkotaan
Bojonegoro, Perkotaan Bangkalan, Kota Madiun, Kota
Kediri, Perkotaan Jember, Perkotaan Banyuwangi,
Kota Blitar, Kota Probolinggo, Perkotaan Pamekasan,
Kota Batu
d.
Orde III A
:
Perkotaan Ponorogo, Perkotaan Ngawi, Perkotaan
Nganjuk,
Perkotaan
Tulungagung,
Perkotaan
Lumajang, Perkotaan Kepanjen, Perkotaan Sumenep.
e.
Orde III B
:
Perkotaan Magetan, Perkotaan Trenggalek, Perkotaan
Pacitan, Perkotaan Bondowoso, Perkotaan Situbondo,
Perkotaan Sampang, Perkotaan Caruban.

(2)

Hirarki perkotaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf b, meliputi:


a.
Perkotaan Metropolitan meliputi Perkotaan Surabaya Metropolitan Area
yang meliputi Kota Surabaya, Perkotaan Sidoarjo dan sekitarnya,
Perkotaan Gresik dan sekitarnya dan Perkotaan Bangkalan dan sekitarnya;
dan Perkotaan Malang Raya yang meliputi Kota Malang, Kota Batu, serta
Perkotaan Kepanjen dan sekitarnya.
b.
Perkotaan Menengah meliputi Perkotaan Tuban, Perkotaan Lamongan,
Perkotaan Jombang, Kota Mojokerto, Kota Pasuruan, Perkotaan
Bojonegoro, Kota Madiun, Kota Kediri, Perkotaan Jember, Perkotaan
Banyuwangi, Kota Blitar, Kota Probolinggo, Perkotaan Pamekasan dan
Kota Batu.
c.
Perkotaan Kecil meliputi Perkotaan Sampang, perkotaan Sumenep,
Perkotaan Ngawi, Perkotaan Magetan Perkotaan Nganjuk, Perkotaan
Bondowoso, Perkotaan Tulungagung, Perkotaan Trenggalek, Perkotaan
Ponorogo, Perkotaan Situbondo, Perkotaan Pacitan, Perkotaan Lumajang,
Perkotaan Kepanjen dan Perkotaan Caruban.
Perwilayahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf c adalah 9 (sembilan)
SWP:
a.
SWP Gerbang kerto susila Plus meliputi: Kota Surabaya, Kabupaten
Tuban, Kabupaten Lamongan, Kabupaten Bojonegoro, Kabupaten Gresik,
Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten dan Kota Mojokerto, Kabupaten Jombang,
Kabupaten Bangkalan, Kabupaten dan Kota Pasuruan dengan
pusatpelayanan di Kota Surabaya
b.
SWP Malang Raya meliputi: Kota Malang, Kota Batu, dan Kabupaten
Malang, dengan pusat pelayanan di Kota Malang
c.
SWP Madiun dan sekitarnya meliputi: Kota Madiun, Kabupaten Madiun,
Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Magetan, Kabupaten Pacitan, Kabupaten

(3)

(4)

Ngawi, dengan pusat pelayanan di Kota Madiun.


d.
SWP Kediri dan sekitarnya meliputi: Kota Kediri, Kabupaten Kediri,
Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Trenggalek, dan Kabupaten Tulungagung,
dengan pusat pelayanan di Kota Kediri.
e.
SWP Probolinggo-Lumajang meliputi: Kota Probolinggo, Kabupaten
Probolinggo dan Kabupaten Lumajang, dengan pusat pelayanan di Kota
Probolinggo
f.
SWP Blitar meliputi: meliputi Kota Blitar dan Kabupaten Blitar, dengan
pusat pelayanan Kota Blitar
g.
SWP Jember dan sekitarnya meliputi: Kabupaten Jember, Kabupaten
Bondowoso dan Kabupaten Situbondo, dengan pusat pelayanan di
Perkotaan Jember
h.
SWP Banyuwangi meliputi: Kabupaten Banyuwangi, dengan pusat
pelayanan di Perkotaan Banyuwangi
i.
SWP Madura dan Kepulauan meliputi: Kabupaten Sampang, Kabupaten
Pamekasan dan Kabupaten Sumenep dengan pusat pelayanan di
Perkotaan Pamekasan
Setiap SWP diarahkan mempunyai fungsi wilayah sesuai dengan potensi wilayah
masing-masing.
a.
SWP Gerbang kerta susila Plus sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf
a diarahkan mempunyar fungsi wilayah sebagai pengembangan kegiatan
pertanian tanaman pangan, perkebunan, hortikultura, kehutanan perikanan,
peternakan, pertambangan, perdagangan, jasa, pendidikan, kesehatan,
pariwisata, transportasi, industri, dan sumberdaya energi dengan fungsi
pusat SWP sebagai pusat pelayanan wilayah, pemerintahan, perdagangan,
jasa, industri, pendidikan, kesehatan, transportasi, dan prasarana wisata.
b.
SWP Malang Raya sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b
mempunyai fungsi wilayah sebagai pengembangan kegiatan pertanian
tanaman pangan, perkebunan, hortikultura, kehutanan, perikanan,
peternakan, pertambangan, perdagangan, jasa, pendidikan, kesehatan,
pariwisata, industri transportasi, dan sumberdaya energi dengan fungsi
pusat SWP sebagai pusat pelayanan wilayah, pemerintahan, perdagangan,
jasa, industri, pendidikan, kesehatan, dan prasarana wisata.
c.
SWP Madiun sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf c mempunyai
fungsi wilayah sebagai pengembangan kegiatan pertanian tanaman
pangan, perkebunan, hortikultura, kehutanan, peternakan, pertambangan,
pendidikan, kesehatan, pariwisata, dan industri dengan fungsi pusat SWP
sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, jasa, industri, pendidikan, dan
kesehatan.
d.
SWP Kediri dan sekitarnya sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf d
mempunyai fungsi wilayah sebagai pengembangan kegiatan pertanian
tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, kehutanan, peternakan,
pertambangan, pendidikan, kesehatan, pariwisata, perikanan, industri dan
sumberdaya energi dengan fungsi pusat SWP sebagai pusat pemerintahan,
perdagangan, jasa, industri, pendidikan, dan kesehatan
e.
SWP Probolinggo - Lumajang sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf e
mempunyai fungsi wilayah sebagai pengembangan kegiatan pertanian
tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, kehutanan, peternakan,

f.

g.

h.

i.

perikanan, pendidikan, kesehatan, pariwisata, industri, dan sumberdaya


energi, dan dengan fungsi pusat SWP sebagai pusat pemerintahan,
industri, perdagangan, jasa, kesehatan, pariwisata.
SWP Blitar sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf f mempunyai fungsi
wilayah sebagai pengembangan kegiatan pertanian tanaman pangan
hortikultura, perkebunan, peternakan, kehutanan, perikanan, pendidikan.
kesehatan, pariwisata sumberdaya energi dengan fungsi pusat SWP
sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, jasa, pendidikan, kesehatan,
dan pariwisata.
SWP Jember dan sekitarnya sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf 9
mempunyai fungsi wilayah sebagai pengembangan kegiatan pertanian
tanaman pangan. hortikultura, perkebunan, peternakan, kehutanan,
perikanan, pertambangan. pendidikan. kesehatan dan pariwisata dengan
fungsi pusat SWP sebagai pusat pemerintahan perdagangan, jasa,
pendidikan, kesehatan, dan transportasi.
SWP Banyuwangi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf h
mempunyai fungsi wilayah sebagai pengembangan kegiatan pertanian
tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, kehutanan,
pertambangan, perikanan, industri, pendidikan, kesehatan, dan pariwisata
dengan fungsi pusat SWP sebagai pusat pelayanan pemerintahan
perdagangan, jasa, pendidikan, kesehatan, transportasi, dan pariwisata.
SWP Madura dan Kepulauan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf i
mempunyai fungsi sebagai pengembangan kegiatan pertanian tanaman
pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, kehutanan, pertambangan,
perikanan, industri, pendidikan, kesehatan, dan pariwisata dengan fungsi
pusat SWP sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, jasa, pendidikan,
kesehatan, pariwisata.
Paragraf 4
Sistem Prasarana Wilayah
Pasal 11

Sistem prasarana wilayah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) huruf e,
meliputi :
a.
sistem prasarana transportasi meliputi: jalan, kereta api, penyeberangan, laut,
udara dan angkutan massal cepat perkotaan
b.
sistem prasarana telematika
c.
sistem prasarana sumberdaya energi
d.
sistem prasarana sumberdaya air
e.
sistem prasarana gas
f.
sistem prasarana lingkungan
Bagian Kedua
Pola Pemanfaatan Ruang Wilayah
Pasal 12

Pola pemanfaatan ruang wilayah menggambarkan reneana sebaran kawasan lindung


dan kawasan budidaya.
Paragraf 1
Pola Pemanfaatan Kawasan Lindung
Pasal 13
Pola pemanfaatan kawasan lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal
12, meliputi:
a.
kawasan suaka alam
b.
kawasan pelestarian alam
c.
kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan
d.
kawasan perlindungan bawahan
e.
kawasan perlindungan setempat
f.
kawasan rawan beneana alam
Pasal 14
(1)
(2)

(3)

Kawasan suaka alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf a, meliputi :


a.
cagar alam
b.
suaka marga satwa.
Cagar alam meliputi :
a.
Besowo Gadungan di Kabupaten Kediri
b.
Cagar Alam Ceding, di Kabupaten Bondowoso
c.
Cagar Alam Watangan Puger I, di Kabupaten Jember
d.
Cagar Alam Sungai Kolbu di Kabupatem Probolinggo
e.
Curah Manis I - VIII di Kabupaten Jember
f.
Gunung Abang, di Kabupaten Pasuruan.
g.
Guwo Lowo/Nglirip, di Kabupaten Tuban
h.
Gunung Picis di Kabupaten Ponorogo
i.
Gunung Sigogor di Kabupaten Ponorogo
j.
Kawah Ijen Merapi Ungup-Ungup di Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten
Banyuwangi
k.
Manggis Gadungan di Kabupaten Kediri
l.
Nusa Barong di Kabupaten Jember
m.
Pulau Bawean, Pulau Noko dan Pulau Nusa di Kabupaten Gresik
n.
Pulau Saobi, di Kepulauan Kangean Kabupaten Sumenep
o.
Pulau Sempu, di Kabupaten Malang
p.
Rogojampi di Kabupaten Banyuwangi
q.
Pancuran Ijen I dan II di Kabupaten Bondowoso.
Suaka marga satwa meliputi Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang, berlokasi di
Kabupaten Bondowoso, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Jember, serta Pulau
Bawean di Kabupaten Gresik.
Pasal 15

(1)

Kawasan pelestarian alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf b,

(2)

(3)
(4)

meliputi :
a.
taman nasional
b.
taman hutan raya
c.
taman wisata alam
Kawasan taman nasional meliputi:
a.
Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di Kabupaten Malang, Kabupaten
Pasuruan, Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Probolinggo
b.
Taman Nasional Baluran di Kabupaten Situbondo
c.
Taman Nasional Meru Betiri di Kabupaten Jember dan Kabupaten
Banyuwangi
d.
Taman Nasional Alas Purwo di Kabupaten Banyuwangi.
e.
Taman Nasionallaut Sepanjang dan Saobi di Kepulauan Kangean
Kabupaten Sumenep
Kawasan hutan raya yaitu Taman Hutan Raya R Soeryo di Kabupaten Malang,
Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Jombang dan Kota Batu.
Taman wisata alam, meliputi:
a.
Taman Wisata Kawah Ijen, di Kabupaten Banyuwangi, dan Kabupaten
Bondowoso
b.
Taman Wisata Tretes, Gunung Baung, di Kabupaten Pasuruan.
Pasal 16

(1)

(2)

(3)

Kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 13 huruf e, meliputi :
a.
lingkungan non bangunan
b.
lingkungan bangunan non gedung
c.
lingkungan bangunan gedung dan halamannya
d.
kebun raya.
Lingkungan non bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, meliputi:
a.
Monumen Keganasan PKI, di Kabupaten Madiun.
b.
Monumen Trisula, di Kabupaten Blitar.
c.
Petilasan Sri Aji Joyoboyo, di Kabupaten Kediri.
d.
Gunung Kawi, di Kabupaten Malang.
e.
Situs Purbakala TrinH, di Kabupaten Ngawi.
Lingkungan bangunan non gedung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b
meliputi:
a.
Asta Tenggi di Kabupaten Sumenep
b.
Area Totok Kerot di Kabupaten Kediri
c.
Candi Penataran dan Candi Simping di Kabupaten Blitar
d.
Candi Singosari, Candi Jago, Candi Kidal, Candi Badut di Kabupaten
Malang
e.
Candi Jawi di Kabupaten Pasuruan
f.
Candi Cungkup, Candi Dadi dan Makam Gayatri di Kabupaten
Tulungagung
g.
Candi Jolotundo di Kabupaten Mojokerto
h.
Makam Sunan Ampel di Kota Surabaya
i.
Makam KH. Hasyim Asy'ari, KH. Wachid Hasyim dan Makam Sayyid
Sulaiman di Kabupaten Jombang

j.
k.
l.

(4)

(5)

Makam Batu Ampar di Kabupaten Pameksan


Makam Syaikhul Khalil dan Pesarean Air mata Ibu Kabupaten Bangkalan
Makam Maulana Malik Ibrahim, Makam Sunan Giri (Giri Kedaton), Makam
Fatimah Binti Maimun, Makam Kanjeng Sepuh dan Kawasan Gunung
Surowiti di Kabupaten Gresik
m.
Makam Sunan Drajat di Kabupaten Lamongan
n.
Makam Batoro Katong di Kabupaten Ponorogo
o.
Makam Sunan Bonang di Kabupaten Tuban
p.
Recolanang di Kabupaten Mojokerto
q.
Situs Sarchopagus di Kabupaten Bondowoso
r.
Kawasan Trowulan di Kabupaten Mojokerto
Lingkungan bangunan gedung dan halamannya sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) huruf c meliputi :
a.
Pelestarian bangunan gedung dan/atau lingkungan cagar budaya di Kota
Surabaya
b.
Benteng Pendem Van den Bosch di Kabupaten Ngawi
c.
Pelestarian bangunan Pabrik Gula di Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten
Madiun, Kabupaten Magetan, Kabupaten Bondowoso, Kabupaten Kediri
dan Kabupaten Malang.
d.
Makam Proklamator, Museum Bung Kamo dan Petilasan Aryo Blitar di Kota
Blitar.
e.
Monumen PETA (Suprijadi) di Kota Blitar.
Kebun Raya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d adalah Kebun Raya
Purwodadi di Kabupaten Pasuruan
Pasal 17

(1)

(2)

Perlindungan bawahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf d, meliputi :


a.
kawasan hutan lindung
b.
kawasan resapan air.
c.
kawasan kars kelas I
Kawasan hutan lindung, meliputi:
a.
Kota Batu
b.
Kabupaten Blitar
c.
Kabupaten Bangkalan
d.
Kabupaten Banyuwangi
e.
Kabupaten Bojonegoro
f.
Kabupaten Bondowoso
g.
Kabupaten Jember
h.
Kabupaten Jombang
i.
Kabupaten Kediri
j.
Kabupaten Lamongan
k.
Kabupaten Lumajang
l.
Kabupaten Mojokerto
m.
Kabupaten Magetan
n.
Kabupaten Malang
o.
Kabupaten Madiun
p.
Kabupaten Nganjuk

(3)
(4)

q.
Kabupaten Ngawi
r.
Kabupaten Pacitan
s.
Kabupaten Pasuruan
t.
Kabupaten Probolinggo
u.
Kabupaten Ponorogo
v.
Kabupaten Pamekasan
w.
Kabupaten Situbondo
x.
Kabupaten Sampang
y.
Kabupaten Sumenep
z.
Kabupaten Tuban
aa.
Kabupaten Trenggalek
bb.
Kabupaten Tulungagung
Kawasan resapan air terdapat di seluruh wilayah kabupaten/ kota.
Kawasan kars kelas I yang berfungsi sebagai perlindungan hidrologi dan ekologi,
meliputi:
a.
Kabupaten Slitar
b.
Kabupaten Sangkalan
c.
Kabupaten Tulungagung
d.
Kabupaten Trenggalek
e.
Kabupaten Malang
f.
Kabupaten Ngawi
g
Kabupaten Ponorogo
h.
Kabupaten Pacitan
i.
Kabupaten Sampang
j.
Kabupaten Tuban
Pasal 18

Kawasan perlindungan setempat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13


huruf e, meliputi :
a.
kawasan sekitar mata air
b.
kawasansekitar waduk/danau
c.
kawasan sempadan sungai
d.
kawasan sempadan pantai
e.
kawasan sempadan sungai di kawasan permukiman
f.
kawasan pantai berhutan bakau/mangrove
g.
kawasan terbuka hijau kota
Pasal 19
(1)

(2)

Kawasan rawan bencana alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 huruf f,


meliputi :
a.
rawan letusan gunung api.
b.
rawan banjir.
c.
rawan gempa, gerakan tanah, longsor, dan banjir bandang.
d.
rawan tsunami.
Kawasan rawan letusan gunung api sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a,
meliputi :

a.
b.

(3)

(4)

Gunung Lawu, di Kabupaten Ngawi dan Kabupaten Magetan


Gunung Liman dan Gunung Wilis, di Kabupaten Madiun, Kabupaten
Ponorogo, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Tulungagung, Kabupaten
Kediri dan Kabupaten Nganjuk
c.
Gunung Kelud, di Kabupaten Kediri, Kabupaten Slitar dan Kabupaten
Malang:
d.
Gunung Butak, di Kabupaten Blitar dan Kabupaten Malang.
e.
Gunung Bromo di Kabupaten Malang, Kabupaten Lumajang, Kabupaten
Probolinggo dan Kabupaten Pasuruan.
f.
Gunung Semeru, di Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang.
g.
Gunung Lamongan, di Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Probolinggo.
h.
Gunung Merapi di Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Bondowoso,
Kabupaten Situbondo.
i.
Gunung Raung di Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Bondowoso,
Kabupaten Jember.
j.
Gunung Welirang di Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Mojokerto.
k.
Gunung Ijen di Kabupaten Bondowoso, Banyuwangi.
l.
Gunung Argopuro di Kabupaten Probolinggo dan Kabupaten Jember.
Kawasan rawan banjir, gempa, gerakan tanah dan longsor sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf b, meliputi :
a.
Kabupaten Blitar
b.
Kabupaten Bondowoso
c.
Kabupaten Sanyuwangi
d.
Kabupaten Jember
e.
Kabupaten Jombang
f.
Kabupaten Lumajang
g.
Kabupaten Malang
h.
Kabupaten Mojokerto
i.
Kabupaten Magetan
j.
Kabupaten Ngawi
k.
Kabupaten Pacitan
l.
Kabupaten Pasuruan
m.
Kabupaten Probolinggo
n.
Kabupaten Ponorogo
o.
Kabupaten Sampang
p.
Kabupaten Situbondo
q.
Kabupaten Sampang
r.
Kabupaten Trenggalek
s.
Kabupaten Tulungagung
Kawasan rawan tsunami sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf C, terdapat di
Pantai Selatan, yang meliputi:
a.
Kabupaten Pacitan
b.
Kabupaten Trenggalek
c.
Kabupaten Tulungagung
d.
Kabupaten Blitar
e.
Kabupaten Malang
f.
Kabupaten Lumajang
g.
Kabupaten Jember

h.

Kabupaten Banyuwangi
Paragraf 2
Pola Pemanfaatan Kawasan Budidaya
Pasal 20

Pola pemanfaatan kawasan budidaya sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 12, meliputi :
a.
kawasan hutan produksi
b.
kawasan pertanian
c.
kawasan perikanan
d.
kawasan perkebunan
e.
kawasan peternakan
f.
kawasan pariwisata
g.
kawasan permukiman
h.
kawasan industri
i.
kawasan pertambangan
j.
kawasan perdagangan.
Pasal 21
Kawasan hutan produksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 huruf a, terbagi
berdasarkan KPH (Kesatuan Pemangkuan Hutan), meliputi:
a.
Kabupaten Bojonegoro
b.
Kota Batu
c.
Kabupaten Blitar
d.
Kabupaten Bangkalan
e.
Kabupaten Bondowoso
f.
Kabupaten Banyuwangi
g.
Kabupaten Gresik
h.
Kabupaten Jombang
i.
Kabupaten Jember
j.
Kota Kediri
k.
Kabupaten Kediri
l.
Kabupaten Lamongan
m.
Kabupaten Tuban
n.
Kabupaten Lumajang
o.
Kabupaten Madiun
p.
Kabupaten Magetan
q.
Kabupaten Ngawi
r.
Kabupaten Malang
s.
Kabupaten Mojokerto
t.
Kabupaten Nganjuk
u.
Kabupaten Ponorogo
v.
Kabupaten Pasuruan
w.
Kabupaten Probolinggo
x.
Kabupaten Pacitan

y.
z.
aa.
bb.
cc.
dd.

Kabupaten Pamekasan
Kabupaten Sampang
Kabupaten Sumenep
Kabupaten Situbondo
Kabupaten Trenggalek
Kabupaten Tulungagung
Pasal 22

(1)
(2)
(3)
(4)

Kawasan pertanian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 huruf b meliputi


sawah beririgasi, sawah tadah hujan, dan pertanian lahan kering.
Kawasan sawah beririgasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan
sawah dengan sistem irigasi teknis maupun irigasi sederhana terdapat diseluruh
kabupaten/kota.
Kawasan sawah tadah hujan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tersebar di
semua kabupaten/kota.
Kawasan pertanian lahan kering sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tersebar di
sernua kabupaten/kota.
Pasal 23

(1)

(2)

(3)

Kawasan perikanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 huruf e, meliputi :


a.perikanan tangkap
b.perikanan budidaya air payau
c.perikanan budidaya air tawar
d.perikanan budidaya laut
Kawasan perikanan tangkap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a,
meliputi :
a.
rencana, pengembangan fisheries town di Kabupaten Banyuwangi dan
pengembangan outer ring fishing port, coldstorage dan industri perikanan di
Sendangbiru Kabupaten Malang.
b.
kawasan pengembangan utama komoditi perikanan di pantai selatan
meliputi Kabupaten Pacitan, Prigi Kabupaten Trenggalek, Sendang biru
Kabupaten Malang dan Puger Kabupaten Jember dan kawasan potensial
lainnya meliputi:
Ujungpangkah Kabupaten Gresik, Brondong Kabupaten Lamongan,
Pondokmimbo Kabupaten Situbondo, Bulu Kabupaten Tuban dan
pasongsongan Kabupaten Sumenep.
c.
pengembangan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) meliputi Prigi di
Kabupaten Trenggalek, Sendang biru Kabupaten Malang dan Brondong di
Kabupaten Lamongan
d.
pengembangan Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) di Muncar Kabupaten
Banyuwangi, Puger Kabupaten Jember, Mayangan Kota Probolinggo,
Paiton Kabupaten Probolinggo dan Lekok Kabupaten Pasuruan.
e.pengembangan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) di Sipelot Kabupaten Malang,
Pancer Kabupaten Banyuwangi, Bulu Kabupaten Tuban, Pasongsongan
Kabupaten Sumenep dan Tamperan Kabupaten Pacitan.
Pemanfaaatan kawasan budidaya perikanan air payau sebagaimana dimaksud

(4)
(5)

pada ayat (1) huruf b, meliputi :


a.
Kabupaten Blitar
b.
Kabupaten Bangkalan
c.
Kabupaten Banyuwangi
d.
Kabupaten Gresik
e.
Kabupaten Jember
f.
Kabupaten Lumajang
g.
Kabupaten Malang
h.
Kabupaten Pasuruan
i.
Kota Pasuruan
j.
Kabupaten Probolinggo
k.
Kota Probolinggo
l.
Kabupaten Pamekasan
m.
Kabupaten Pacitan
n.
Kabupaten Sidoarjo
o.
Kabupaten Sampang
p.
Kabupaten Situbondo
q.
Kabupaten Tuban
r.
Kabupaten Trenggalek
s.
Kabupaten Tulungagung
t.
Kota Surabaya .
Pengembangan kawasan perikahan budidaya air tawar tersebar di
kabupaten/kota.
Pengembangan kawasan perikanan budidaya laut sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf d, meliputi:
a.
Kabupaten Blitar
b.
Kabupaten Sangkalan
c.
Kabupaten Sanyuwangi
d.
Kabupaten Lamongan
e.
Kabupaten Malang
f.
Kabupaten Pamekasan
g.
Kabupaten Probolinggo
h.
Kabupaten Sampang
i.
Kabupaten Sumenep
j.
Kabupaten Situbondo
k.
Kabupaten Tuban
l.
Kabupaten Trenggalek
m.
Kabupaten Tulungagung
Pasal 24

(1)

(2)

Pemanfaatan kawasan perkebunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 huruf


d, diarahkan untuk meningkatkan peran serta, efisiensi, produktivitas dan
keberlajutan, dengan mengembangkan kawasan industri masyarakat perkebunan
yang selanjutnya disebut kimbun.
Kimbun dimaksud pada ayat (1) dikembangkan di setiap lokasi pengembangan
dan sentra produksi yang diselenggarakan dengan kebersamaan ekonomi dan
berwawasan lingkungan.

(3)

Pemanfatan Kimbun di bagi menjadi 7 (tujuh) wilayah :


a.
Kimbun Ijen - Argopuro - Raung di Kabupaten Bondowoso, Kabupaten
Jember, Kabupater Banyuwangi, Kabupaten Situbondo dengan komoditi
yang dikembangkan antara lain kopi, tembakau dan tebu
b.
Kimbun Bromo - Tengger - Semeru di Kabupaten Malang, Kabupaten
Pasuruan, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Probolinggo dengan komoditi
yang dikembangkan antara lain kopi, tebu, kelapa dan cengkeh.
c.Kimbun Kelud di Kabupaten Blitar, Kabupaten Jombang, Kabupaten Kediri,
Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Malang dengan komoditi yang
dikembangkan antara lain kopi, tebu, kakao dan cengkeh
d.Kimbun Wilis di Kabupaten Madiun, Kabupaten Kediri, Kabupaten Tulungagung,
Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Nganjuk dengan
komoditi yang dikembangkan antara lain kopi, tebu, kakao dan kelapa
e.Kimbun Lawu di Kabupaten Magetan, Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Pacitan,
Kabupaten Ngawi dengan komoditiyang dikembangkan antara lain kopi,
tebu, kakao, kelapa dan cengkeh
f.Kimbun Pantura meliputi Kabupaten Situbondo, Kabupaten Probolinggo,
Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Tuban, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten
Gresik, Kabupaten Lamongan, Kabupaten Bojonegoro dengan komoditi
yang dikembangkan antara lain kelapa, tembakau, tebu, jambu mente dan
kapas
g.Kimbun Kepulauan Madura meliputi Kabupaten Bangkalan, Kabupaten
Sampang, Kabupaten Pamekasan dan Kabupaten Sumenep dengan
komoditi yang dikembangkan antara lain kelapa, tembakau dan jambu
mente
Pasal 25

(1)
(2)

Pemanfaatan kawasan peternakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 huruf


e meliputi peternakan ternak besar, peternakan ternak kedl, peternakan unggas.
Sentra peternakan ternak besar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a.Kabupaten Blitar
b.Kabupaten Bojonegoro
c.Kabupaten Bondowoso
d.Kabupaten Banyuwangi
e.Kabupaten Jember
f.Kabupaten Kediri
g.Kabupaten Lumajang
h.Kabupaten Malang
i.Kabupaten Magetan
j.Kabupaten Nganjuk
k.Kabupaten Pasuruan
l.Kabupaten Probolinggo
m.Kabupaten Sumenep
n.Kabupaten Situbondo
o.Kabupaten Trenggalek
p.Kabupaten Tulungagung
q.Kabupaten Tuban

(3)
(4)

Sentra peternakan ternak kecil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdapat di
seluruh Kabupaten.
Kawasan peternakan unggas terkonsentrasi di wilayah
a.Kabupaten Blitar
b.Kabupaten Jombang
c.Kabupaten Kediri
d.Kabupaten Mojokerto
e.Kabupaten Pasuruan
f.Kabupaten Sidoarjo
g.Kabupaten Tulungagung
Pasal 26

(1)Pola pemanfaatan kawasan pariwisata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 huruf f


meliputi kawasan yang terbentang di sepanjang koridor pariwisata dan kawasan
kepulauan yang dapat memenuhi kebutuhan wisatawan.
(2)Pemanfaatan kawasan pariwisata sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi:
a.kawasan pengembangan pariwisata koridor utara, meliputi: Kabupaten Tuban,
Kabupaten Bojonegoro, Kabupaten Lamongan, Kabupaten Gresik dan Kota
Surabaya.
b.kawasan pengembangan pariwisata koridor tengah, meliputi: Kabupaten
Magetan, Kabupaten Ngawi, Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Madiun,
Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Kediri, Kabupaten Jombang, Kabupaten
Mojokerto, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten
Probolinggo, Kabupaten Situbondo dan Kabupaten Bondowoso.
c.kawasan pengembangan pariwisata koridor selatan, meliputi:
Kabupaten Pacitan, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Tulungagung, Kabupaten
Blitar, Kabupaten Malang, Kota Batu, Kabupaten Lumajang, Kabupaten
Jember dan Kabupaten Banyuwangi.
d.kawasan pengembangan pariwisata kepulauan, meliputi: Kabupaten Bangkalan,
Kabupaten Sampang, Kabupaten Pamekasan, Kabupaten Sumenep dan
pulau-pulau kecil lainnya.
(3)Kawasan pariwisata yang dapat dikembangkan berdasarkan koridor sebagaimana
pada ayat (2) Pasal 26 meliputi :
a.kawasan pengembangan pariwisata koridor utara meliputi potensi wisata alam,
minat khusus dan budaya antara lain : pantai, telaga, sumber api alam, goa,
berbagai peninggalan sejarah seperti makam, gedung-gedung tua, situs
sejarah, berbagai sarana wisata buatan, kerajinan cinderamata, dll serta
berbagai kegiatan wisata minat khusus.
b.kawasan pengembangan pariwisata koridor tengah meliputi potensi wisata alam,
minat khusus dan budaya antara lain : pantai, telaga, sumber api alam, goa,
berbagai peninggalan sejarah seperti makam, gedung-gedung tua, situs
sejarah, berbagai sarana wisata buatan, kerajinan cinderamata, dll serta
berbagai kegiatan wisata minat khusus
c.kawasan pengembangan pariwisata koridor selatan meliputi potensi wisata alam,
minat khusus dan budaya antara lain : pantai, air terjun, obyek wisata
buatan, makam, candi serta berbagai kegiatan wisata minat khusus seperti
ziarah, berbagai kegiatan penelitian, kegiatan wisata petualangan dan

lain-lain.
d.kawasan pengembangan pariwisata kepulauan meliputi potensi wisata alam,
minat khusus dan budaya antara lain: pantai, taman laut, api alam, karapan
sapi, makam, peninggalan kraton serta berbagai kegiatan wisata minat
khusus seperti kegiatan penyelaman, memaneing, berlayar dan lain-lain.
(4)Agar arah pengembangan pariwisata dapat lebih terfokus dan efisien maka disusun
prioritas pengembangan, meliputi:
a.kawasan prioritas utama adalah kawasan yang memiliki nilai daya saing serta
menjadi primadona pengembangan pariwisata di Jawa Timur, antara lain
Kawasan Bromo- Tengger-Semeru di Kabupaten Malang, Kabupaten
Lumajang, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Probolinggo, Ijen di Kabupaten
Bondowoso dan Kabupaten Banyuwangi;
Plengkung di Kabupaten Banyuwangi; Desa Wisata Trowulan Kabupaten
Mojokerto serta potensi unggulan lainnya.
b.kawasan pendukung yang merupakan penyangga dari kawasan prioritas utama
yang meliputi wisata budaya reog di Kabupaten Ponorogo; karapan sapi di
Kabupaten Madura dan berbagai sentra kerajinan rakyat di Jawa Timur.
c.kawasan potensial yang meliputi: Kawasan segitiga emas Ijen yang berada di
Kabupaten Banyuwangi dari Bondowoso; taman laut di Pulau Saor, Saobi
dan Mamburit di Kabupaten Sumenep; Kawasan Wisata Bentar di
Kabupaten Probolinggo; Wisata Pelabuhan Rest Area Suramadu, Wisata
Bahari di Kabupaten Lamongan, Pulau Bawean, Kawasan Prigi di
Kabupaten Trenggalek, serta kawasan-kawasan lain yang potensial.
Pasal 27
(1)Pemanfaatan kawasan permukiman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 huruf g,
meliputi permukiman perdesaan, perkotaan, dan khusus.
(2)Permukiman perdesaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi:
a.permukiman pusat perdesaan
b.permukiman desa
c.permukiman pada pusat perdusunan
(3)Permukiman perkotaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi :
a.permukiman perkotaan metropolitan
b.permukiman perkotaan menengah
c.permukiman perkotaan kecil
(4)Permukiman perkotaan metropolitan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a,
merupakan permukiman di perkotaan yang memiliki fungsi sebagai:
a.kota Inti sebagai pusat pelayanan
b.perkotaan penyangga atau satelit
c.perkotaan baru mandiri
d.perumahan baru skala besar
(5)Permukiman perkotaan menengah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b,
merupakan permukiman di perkotaan yang memiliki fungsi sebagai:
a.pusat pelayanan SWP.
b.pusat pertumbuhan skala wilayah.
c.pusat pelayanan perkotaan antara metropolitan dan perkotaan kecil.
(6)Permukiman perkotaan kecil sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf e, merupakan

permukiman di perkotaan yang memiliki fungsi sebagai:


a.pusat pelayanan kabupaten.
b.pusat pertumbuhan skala kabupaten.
c.pusat pelayanan perkotaan keeamatan.
(7)Permukiman pada kawasan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi:
a.sebagai tempat peristirahatan pada kawasan pariwisata.
b.kawasan permukiman yang timbul akibat perkembangan infrastruktur.
c.permukiman yang timbul akibat kegiatan sentra ekonomi.
d.permukiman di sekitar kawasan industri.
(8)Dalam kawasan permukiman perkotaan, Kabupaten/Kota harus menyediakan
peruntukan lahan perumahan untuk masyarakat berpenghasilan rendah seluas
areal berdasarkan kebutuhan dan atau sesuai ketentuan dalam pembangunan
perumahan dan permukiman dengan lingkungan yang berimbang.
Pasal 28
(1)Pemanfaatan kawasan industri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 huruf h,
meliputi:
a.kawasan industri estate.
b.sentra industri keci!.
c.zona industri.
(2)Kawasan industri estate sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, meliputi :
a.Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER) di Kota Surabaya.
b.Pasuruan Industrial Estate Rembang (PIER) di Kabupaten Pasuruan.
c.Ngoro Industrial Park (NIP) di Kabupaten Mojokerto.
d.Kawasan industri Jabon di Kabupaten Sidoarjo.
e.Lamongan Integreted Shorebase (LIS) di Kabupaten Lamongan.
f.Kawasan industri di Kabupaten Gresik.
g.Kawasan industri di Kabupaten Tuban.
h.Kawasan industri di Kabupaten Bojonegoro.
i.Kawasan industri di Sumbermanjing Wetan Kabupaten Malang.
j.Kawasan Industri Gerbang Mas di Kabupaten Probolinggo.
k.Kawasan industri Paiton di Kabupaten Probolinggo
l.Kawasan industri di Kabupaten Bangkalan.
(3)Sentra industri kecil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, terdapat diseluruh
kabupaten/kota.
(4)Zona industri sebagaimana dimaksud sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c,
meliputi :
a.koridor Taman - Sepanjang - Krian dan koridor Waru di Kabupaten Sidoarjo
b.koridor Osowilangon - Romokalisari di Kota Surabaya
c.koridor Driyorejo - Bambe, dan koridor Gresik - Manyar di Kabupaten Gresik
d.koridor Mojoagung - Jombang di Kabupaten Jombang
e.zona industri Wongsorejo di Kabupaten Banyuwangi
f.zona industriJetis di Kabupaten Mojokerto
g.koridor Tuban - Bojonegoro di Kabupaten Tuban
Pasal 29

(1)Pemanfaatan kawasan pertambangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 huruf i,


meliputi pertambangan Bahan Galian Golongan C dan golongan A dan B
(2)Pertambangan galian C sebagaimana dimaksud pada ayat 1 meliputi :
a.Kabupaten Blitar
b.Kabupaten Bojonegoro
c.Kabupaten Bondowoso
d.Kabupaten Banyuwangi
e.Kabupaten Gresik
f.Kabupaten Jember
g.Kabupaten Jombang
h.Kabupaten Kediri
i.Kabupaten Lumajang
j.Kabupaten Malang
k.Kabupaten Mojokerto
l.Kabupaten Madiun
m.Kabupaten Magetan
n.Kabupaten Nganjuk
o.Kabupaten Ngawi
p.Kabupaten Pacitan
q.Kabupaten Ponorogo
r.Kabupaten Pasuruan
s.Kabupaten Probolinggo
t.Kabupaten Situbondo
u.Kabupaten Sidoarjo
v.Kabupaten Sumenep
w.Kabupaten Trenggalek
x.Kabupaten Tulungagung
y.Kabupaten Tuban
(3)Penambangan Bahan Galian Golongan A dan B sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), meliputi :
a.Kabupaten Blitar
b.Kabupaten Banyuwangi
c.Kabupaten Bondowoso
d.Kabupaten Bojonegoro
e.Kabupaten Gresik
f.Kabupaten Jember
g.Kabupaten Jombang
h.Kabupaten Lumajang
i.Kabupaten Malang
j.Kabupaten Mojokerto
k.Kabupaten Magetan
l.Kabupaten Nganjuk
m.Kabupaten Ngawi
n.Kabupaten Pacitan
o.Kabupaten Ponorogo
p.Kabupaten Sumenep
q.Kabupaten Trenggalek
r.Kabupaten Tulungagung

s.Kabupaten Sidoarjo
Pasal 30
(1)Pemanfaatan kawasan perdagangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 huruf j
meliputi perdagangan skala wilayah, skala kota dan perdagangan sektor informal.
(2)Perdagangan skala wilayah yang dimaksud pada ayat (1) adalah wilayah yang
memiliki fasilitas perdagangan seperti pasar induk, grosir diarahkan di tiap pusat
SWP.
(3)Perdagangan skala kota meliputi perdagangan jenis pertokoan dan perdagangan
pasar yang diarahkan di setiap wilayah kabupaten/kota.
(4)Perdagangan sektor informal yang berkembang di setiap wilayah perkotaan dan
perdesaan, diatur dan/atau disediakan ruangnya oleh pemerintah kabupaten/kota.
Bagian Ketiga
Arahan Pengelolaan kawasan lindung dan budidaya
Pasal 31
(1)Arahan pengelolaan pengawasan lindung meliputi semua upaya perlindungan,
pengawetan, konservasi dan pelestarian fungsi sumber daya alam dan
lingkungannya guna mendukung kehidupan secara serasi dan berkelanjutan dan
tidak dapat dialihfungsikan menjadi kawasan budidaya.
(2)Arahan konservasi kawasan lindung meliputi kawasan cagar alam, suaka alam,
kawasan pelestarian alam, dan kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan.
(3)Arahan pengelolaan kawasan lindung tidak dapat dialihfungsikan.
(4)Arahan pengelolaan kawasan lindung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara
lain:
a.pelestarian keanekaragaman hayati dan ekosistemnya.
b.mempertahankan fungsi ekologis kawasan alami
c.pengawasan dan pemantauan untuk pelestarian kawasan konservasi dan hutan
lindung.
d.penambahan luasan kawasan lindung, yang merupakan hasil alih fungsi hutan
produksi menjadi hutan lindung.
e.pengembangan kerjasama antar wilayah dalam pengelolaan kawasan lindung.
f.percepatan rehabilitasi lahan milik masyarakat yang termasuk di dalam kriteria
kawasan lindung dengan melakukan penanaman pohon lindung yang dapat
di gunakan sebagai perlindungan kawasan bawahannya yang dapat diambil
hasil hutan non-kayu.
g.membuka jalur wisata jelajah/pendakian untuk menanamkan rasa
memiliki/mencintai alam.
h.pemanfaatan kawasan lindung untuk sarana pendidikan penelitian dan
pengembangan kecintaan terhadap alam.
i.percepatan rehabilitasi hutan/reboisasi hutan lindung dengan tanaman yang
sesuai dengan fungsi lindung.
j.menindak tegas prilaku vandalisme terhadap obyek wisata.
Pasal 32

(1)Arahan pengelolaan kawasan budidaya meliputi segala usaha untuk meningkatkan


pendayagunaan lahan yang diJakukan di luar kawasan lindung, yang kondisi fisik
dan sumber daya alamnya dianggap potensial untuk dimanfaatkan, tanpa
mengganggu keseimbangan dan kelestarian ekosistem.
(2)Arahan pengelolaan kawasan hutan produksi antara lain:
a.kawasan hutan produksi yang mempunyai tingkat kerapatan tegakan rendah
harus dilakukan percepatan reboisasi, serta percepatan pembangunan
hutan rakyat
b.mengarahkan di setiap wilayah kabupaten/kota mewujudkan hutan kota
(3)Arahan pengelolaan kawasan pertanian antara lain:
a.pengembangan sawah irigasi teknis dilakukan dengan memprioritaskan
perubahan dari sawah tadah hujan menjadi sawah irigasi sejalan dengan
perJuasan jaringan irigasi dan pengembangan waduk/embung.
b.perubahan kawasan pertanian harus tetap memperhatikan luas kawasan yang
dipertahankan sehingga perlu adanya ketentuan tentang pengganti Jahan
pertanian.
c.pemanfaatan kawasan pertanian diarahkan untuk meningkatkan produksi dan
produktifitas tanaman pangan dengan mengembangkan kawasan
cooperative farming dan holtikultura dengan mengembangkan kawasan
good agriculture practices.
(4)Arahan pengelolaan kawasan perikanan antara lain:
a.mempertahankan, merehabilitasi dan merevitalisasi tanaman bakau/mangrove.
b.pengembangan budidaya perikanan tangkap dan budidaya perikanan laut.
c.menjaga kelestarian sumber daya air terhadap pencemaran limbah industri
maupun limbah lainnya.
d.pengendalian melalui sarana kualitas air dan mempertahankan habitat alami
ikan.
e.peningkatan produksi dengan memperbaiki sarana dan prasarana perikanan.
(5)Arahan pengelolaan kawasan perkebunan antara lain:
a.pengembangan kawasan perkebunan hanya di kawasan yang dinyatakan
memenuhi syarat, dan diluar area rawan banjir serta longsor.
b.dalam penetapan komoditi tanaman tahunan, selain mempertimbangkan
kesesuaian lahan, konservasi tanah dan air juga perlu mempertimbangkan
aspek sosial ekonomi dan keindahan/estetika.
c.peningkatan pemanfaatan kawasan perkebunan dilakukan memalui peningkatan
peran serta masyarakat yang tergabung dalam kawasan Kimbun
masing-masing.
(6)Arahan pengelolaan kawasan peternakan, antara lain:
a.meningkatkan kegiatan peternakan secara alami dengan mengembangkan
padang penggembalaan.
b.kawasan peternakan diarahkan mempunyai keterkaitan dengan pusat distribusi
pakan ternak.
c.mempertahankan ternak plasma utfah sebagai potensi daerah.
d.pengembangan kawasan peternakan diarahkan kepada pengembangan
komoditas ternak unggulan yang dimiliki oleh daerah yaitu komoditas ternak
yang memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif.
e.kawasan budidaya ternak yang berpotensi untuk dapat menularkan penyakit dari

hewan ke manusia atau sebaliknya pada permukiman padat penduduk,


akan dipisahkan sesuai standart teknis kawasan usaha peternakan, dengan
memperhatikan kesempatan berusaha dan melindungi daerah permukiman
penduduk dari penularan penyakit hewan menular.
f.pengaturan pemeliharaan hewan yang diternakkan serta tata niaga hewan dan
produk bahan asal hewan dikawasan perkotaan dengan tingkat kepadatan
lebih dari 300.000 jiwa akan diatur lebih lanjut secara teknis dengan
Peraturan Gubernur.
g.peningkatan nilai ekonomi ternak dengan mengelola dan mengolah hasil ternak,
seperti pembuatan industri pengolah hasil ternak, mengolah kulit, dan
sebagainya.
(7)Arahan pengelolaan kawasan pariwisata antara lain:
a.tetap melestarikan alam sekitar untuk mehjaga keindahan obyek wisata.
b.tidak melakukan pengerusakan terhadap obyek wisata alam seperti menebang
pohon.
c.melestarikan perairan pantai, dengan memperkaya tanaman mangrove untuk
mengembangkan ekosistem bawah laut termasuk terumbu karang dan biota
laut yang dapat di jadikan obyek wisata taman laut.
d.tetap melestarikan tradisi petik lautllarung sesaji sebagai daya tarik wisata.
e.menjaga dan melestarikan peninggalan bersejarah.
f.meningkatkan pencarian/penelusuran terhadap benda bersejarah untuk
menambah koleksi budaya.
g.pada obyek yang tidak memiliki akses yang cukup, perlu ditingkatkan
pembangunan dan pengendalian pembangunan sarana dan prasarana
transportasi ke obyek-obyek wisata alam budaya dan minat khusus.
h.merencanakan kawasan wisata sebagai bagian dari urban/regional desain untuk
keserasian lingkungan.
i.meningkatkan daya tarik wisata melalui penetapan jalur wisata, kalender wisata,
informasi dan promosi wisata.
j.menjaga keserasian Iingkungan alam dan buatan sehingga kualitas visual
kawasan wisata tidak terganggu.
k.meningkatkan peranserta masyarakat dalam menjaga kelestarian obyek wisata,
dan daya jual/saing
(8)Arahan pengelolaan kawasan permukiman antara lain:
a.pengembangan kawasan budidaya yang secara teknis dapat digunakan untuk
permukiman harus aman dari bahaya bencana alam, sehat, mempunyai
akses untuk kesempatan berusaha dan dapat memberikan manfaat bagi
peningkatan ketersediaan permukiman, mendayagunakan fasilitas dan
utilitas disekitarnya serta meningkatkan sarana dan prasarana
perkembangan kegiatan sektor ekonomi yang ada.
b.pengembangan permukiman perdesaan dilakukan dengan menyediakan fasilitas
dan infrastruktur secara berhirarki sesuai dengan fungsinya sebagai: pusat
pelayanan antar desa, pusat pelayanan setiap desa, dan pusat pelayanan
pada setiap dusun atau kelompok permukiman
c.menjaga kelestarian permukiman perdesan khususnya kawasan pertanian.
d.pengembangan permukiman perkotaan dilakukan dengan tetap menjaga fungsi
dan hirarki kawasan perkotaan.
e.membentuk cluster-cluster permukiman untuk menghindari penumpukan dan

penyatuan antar kawasan permukiman, dan diantara cluster permukiman


disediakan ruang terbuka hijau
f.pembentukan perkotaan metropolitan, Surabaya dan Malang dihubungkan
dengan sistem transportasi yang memadai diantaranya mass rapid
transport.
g.pengembangan perkotaan baru mandiri dan perumahan baru skala besar di
sekitar Surabaya, yaitu Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Gresik, Kabupaten
Pasuruan, dan Kabupaten Bangkalan.
h.pengembangan kawasan sekitar kaki jembatan Suramadu untuk kegiatan yang
memiliki nilai ekonomi tinggi
i.perkembangan perkotaan menengah dilakukan dengan membentuk pelayanan
wilayah yang mampu mendorong pertumbuhan wilayah sekitarnya.
j.permukiman perkotaan kecil dilakukan melalui pembenfukan pusat pelayanan
skala kabupaten dan perkotaan kecamatan yang ada di kabupaten.
k.permukiman kawasan khusus seperti penyediaan tempat peristirahatan pada
kawasan pariwisata, kawasan permukiman baru sebagai akibat
perkembangan infrastruktur, kegiatan sentra ekonomi, sekitar kawasan
industri, dilakukan dengan tetap memegang kaidah lingkungan hidup dan
bersesuaian dengan RTRW masing-masing kabupaten/kota.
(9)Arahan pengelolaan kawasan industri antara lain:
a.pengembangan kawasan industri dilakukan dengan mempertimbangkan aspek
ekologis.
b.pengembangan kawasan industri harus didukung oleh adanya jalur hijau sebagai
penyangga antar fungsi kawasan.
c.pengembangan zona industri pada daerah aliran sungai harus didasari dengan
perhitungan kemampuan daya dukung sungai.
d.pengembangan kegiatan industri harus didukung oleh sarana dan prasarana
industri.
e.pengelolaan kegiatan industri dilakukan dengan mempertimbangkan keterkaitan
proses produksi mulai dari industri dasar/hulu dan industri hilir serta industri
antara, yang dibentuk berdasarkan pertimbangan efisiensi biaya produksi,
biaya keseimbangan Iingkungan dan biaya aktifitas sosial.
f.setiap kegiatan industri sejauh mungkin menggunakan metoda atau teknologi
ramah Iingkungan dan harus dilengkapi dengan upaya pengelolaan
terhadap kemungkinan adanya bencana industri.
(10)Arahan pengelolaan kawasan pertambangan antara lain:
a.pengembangan kawasan pertambangan dilakukan dengan mempertimbangkan
potensi bahan galian, kondisi geologi dan geohidrologi dalam kaitannya
dengan kelestarian lingkungan.
b.pengelolaan kawasan bekas penambangan harus direhabilitasi/reklamasi sesuai
dengan zona peruntukan yang ditetapkan ditetapkan dengan melakukan
penimbunan tanah subur dan/atau bahan-bahan lainnya sehingga menjadi
lahan yang dapat digunakan kembali sebagai kawasan hijau, ataupun
kegiatan budidaya lainnya dengan tetap memperhatikan aspek kelestarian
Iingkungan hidup.
c.setiap kegiatan usaha pertambangan harus menyimpan dan mengamankan
tanah atas (top soil) untuk keperluan rehabilitasi/reklamasi lahan bekas
penambangan.

(11)Arahan pengelolaan kawasan perdagangan antara lain:


a.pengembangan kawasan perdagangan dilakukan dengan berhirarki sesuai skala
ruang dan fungsi wilayah.
b.pengembangan kawasan perdagangan dan kegiatan komersial lain yang
berpengaruh bagi pertumbuhan skala wilayah dan atau berpengaruh pada
tata ruang dalam lingkup wilayah perlu memperhatikan kebijakan tata ruang
wilayah Pemerintah Provinsi.
c.pengembangan kawasan perdagangan dilakukan secara bersinergi dengan
perdagangan informal sebagai sebuah aktivitas perdagangan yang saling
melengkapi.
d.pengembangan kawasan dan atau lokasi perdagangan yang terkait dengan
sarana dan prasarana yang di kelola provinsi memperhatikan rekomendasi
provinsi.
Bagian Keempat
Arahan Pengelolaan Kawasan Perdesaan, Kawasan Perkotaan dan
Kawasan Tertentu
Pasal 33
Arahan pengelolaan kawasan perdesaan, kawasan perkotaan, dan kawasan tertentu
merupakan arahan pengembangan perkotaan dengan kawasan yang bersifat pedesaan,
serta kawasan tertentu sehingga tercipta tata ruang yang berkelanjutan.
Pasal 34
Arahan pengelolaan kawasan perdesaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33,
meliputi:
a.fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa pemerintahan,
pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.
b.pengembangan kawasan agropolitan merupakan alternatif pembangunan perdesaan
melalui keterkaitan kawasan perkotaan perdesaan untuk meningkatkan peran
perkembangan kawasan perdesaan.
Pasal 35
Arahan pengelolaan kawasan perkotaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33,
meliputi:
a.fungsi kawasan perkotaan sebagai pusat kegiatan ekonomi wilayah, pusat pengolahan
dan distribusi hail pertanian, perdagangan, jasa, pemerintahan, pendidikan,
kesehatan, serta transportasi, pergudangan dan sebagainya.
b.fungsi perkotaan sedang dan kecil sebagai pemasok kebutuhan dan lokasi pengolahan
agroindustri dan berbagai kegiatan agrobisnis.
c.kota sebagai pusat pelayanan, pusat prasarana dan sarana sosial ekonomi
mempengaruhi pedesaan dalam peningkatan produktifitasnya.
d.menjaga pembangunan perkotaan yang berkelanjutan melalui upaya menjaga
keseimbangan wilayah terbangun dan tidak terbangun, mengembangkan hutan

kota dan menjaga eksistensi wilayah yang bersifat perdesaan di sekitar kawasan
perkotaan.
Pasal 36
(1)Arahan pengelolaan kawasan tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33,
merupakan kawasan yang ditetapkan secara nasional mempunyai nilai strategis
yang penataan ruangnya diprioritaskan, yakni Gerbangkertosusila Plus.
(2)Arahan pengembangan kawasan tertentu Gerbang keftosusila Plus sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), meliputi:
a.penataan ruang di bagi dalam cluster untuk memfokuskan pada penciptaan
kawasanyang dapat bersinergi dengan wilayah lainnya.
b.pengendalian secara garis besar mengarah pada upaya mengendalikan laju
perkembangan kota yang monosentris sehingga tidak terjadi penumpukan
beban transportasi yang cenderung berorientasi memusat.
c.meningkatkan fungsi wilayah sesuai dengan daya dukung kawasan.
d.membentuk kawasan perkotaan baru mandiri dan perumahan skala besar di
kawasan sekitar Surabaya, khususnya di Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten
Gresik, Kabupaten Pasuruan, dan Kabupaten Bangkalan.
e.meningkatkan transportasi umum masal antara Surabaya sebagai kota inti
dengan perkotaan disekitarnya.
f.menjaga pembangunan yang berkelanjutan melalui upaya menjaga
keseimbangan wilayah terbangun dan tidak terbangun termasuk
mengembangkan hutan kota dan menjaga eksistensi wilayah yang bersifat
rural di sekitar kawasan perkotaan.
Bagian Kelima
Arahan Pengelolaan Sistem Permukiman Perdesaan dan Perkotaan
Pasal 37
Arahan terhadap sistem pusat permukiman dibedakan atas pengembangan pusat
permukiman perdesaan dan permukiman perkotaan.
Pasal 38
(1)Arahan pengembangan pusat permukiman perdesaan adalah penataan struktur ruang
pedesaan sebagai sistem pusat permukiman di pedesaan yang berpotensi menjadi
pusat pertumbuhan di perdesaan.
(2)Arahan pengembangan struktur ruang pedesaan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) melalui:
a.pembentukan Desa Pusat Pertumbuhan (DPP)
b.pembentukan Pusat Desa
c.pembentukan Pusat Permukiman Perdusunan
(3)Pengelolaan struktur ruang perdesaan merupakan upaya untuk mempercepat efek
pertumbuhan di kawasan perdesaan.
(4)Setiap pusat pelayanan dikembangkan melalui penyediaan berbagai fasilitas
sosial-ekonomi yang mampu mendorong perkembangan kawasan perdesaan.

Pasal 39
(1)Arahan pengembangan sistem pusat permukiman perkotaan meliputi arahan terhadap
fungsi pusat kegiatan dan arahan terhadap penataan struktur ruang pusat-pusat
permukiman perkotaan
(2)Pengelolaan pusat permukiman perkotaan terkait dengan fungsi pusat kegiatan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi pusat kegiatan nasional, wilayah
dan lokal, meliputi:
a.Pusat Kegiatan Nasional adalah Gerbangkerto susila Plus
b.Pusat Kegiatan Wilayah adalah Malang Raya, Perkotaan Jember, Kota Kediri,
Kota Madiun, Kota Blitar, Kota Probolinggo, Perkotaan, Banyuwangi,
Perkotaan Pamekasan.
c.Pusat Kegiatan Lokal, adalah Perkotaan Pacitan, Perkotaan Trenggalek,
Perkotaan Tulungagung, Perkotaan Ponorogo, Perkotaan Magetan,
Perkotaan Ngawi, Perkotaan Nganjuk, Perkotaan Bondowoso, Perkotaan
Situbondo, Perkotaan Lumajang, Perkotaan Sampang, Perkotaan
Sumenep, Perkotaan Caruban.
Bagian Keenam
Arahan Pengembangan Sistem Prasarana Wilayah
Paragraf 1
Arahan Pengembangan Prasarana Transportasi Jalan
Pasal 40
(1)Arahan pengembangan sistem prasarana transportasi jalan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 11 huruf a, terdiri dari prasarana jalan umum yang dinyatakan dalam
status dan fungsi jalan, serta prasarana terminal penumpang jalan.
(2)Pengelompokan jalan berdasarkan status dapat dibagi menjadi jalan nasional, jalan
provinsi, dan jalan kabupaten/kota.
(3)Pengelompokan jalan berdasarkan fungsi jalan dibagi kedalam jalan arteri, jalan
kolektor, jalan lokal dan jalan lingkungan
(4)Pengelompokan jalan berdasarkan sistem jaringan jalan terdiri dari sistem jaringan
jalan primer dan sistem jaringan jalan sekunder
(5)Arahan pengembangan prasarana jalan meliputi arahan pengembangan bagi jalan
nasional jalan tol, jalan nasional bukan jalan tol, jalan provinsi, jalan Iintas selatan,
jalan lintas/tembus kabupaten dan jalan lingkar kota dan perkotaan.
(6)Pengembangan prasarana jalan meliputi pengembangan jalan baru dan
pengembangan jalan yang sudah ada.
Pasal 41
(1)Jaringan jalan tol yang sudah dikembangkan di Jawa Timur, sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 40 ayat (5), meliputi jalan tol Surabaya - Gempol, dan jalan tol
Surabaya - Manyar.
(2)Arahan pengembangan jalan tol sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi ruas:
a.Jalan Tol Surabaya - Gresik - Lamongan - Bojonegoro

b.Jalan Tol Manyar - Paciran - Tuban


c.Jalan Tol Krian - Legundi - Bunder
d.Jalan Tol Gempol- Pandaan - Malang - Kepanjen
e.Jalan Tol Surabaya - Mojokerto - Jombang - Kertosono - Caruban - Ngawi Mantingan
f.Jalan Tol Madiun - Caruban
g.Jalan Tol Gempol - Pasuruan - Probolinggo - Situbondo - Banyuwangi
h.Jalan Tol Waru - Juanda - Suramadu - Perak (Tol Lingkar Timur)
i.Jalan Tol Aloha - Wonokromo - Perak (ToI tengah kota)
(3)Jalan nasional sebagai jalan arteri primer yang sudah dikembangkan di Jawa Timur
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (5), meliputi:
a.Surabaya - Malang
b.Surabaya - Mojokerto - Jombang - Kertosono - Nganjuk - Caruban - Ngawi Mantingan
c.Caruban - Karangjati - Padas - Ngawi
d.Surabaya - Gresik - Lamongan - Tuban - Bulu (Batas Jawa Tengah)
e.Surabaya - Sidoarjo - Gempol - Pasuruan - Probolinggo - Situbondo Banyuwangi
f.Kamal - Bangkalan - Sampang - Pamekasan - Sumenep - Kalianget
(4)Arahan pengembangan jalan nasional sebagai jalan arteri primer sebagaimana
dimaksud pada ayat (3), meliputi ruas:
a.Gresik - Sadang - Tuban
b.Mojokerto - Mojosari - Gempol
c.Babat - Bojonegoro - Padangan - Ngawi
(5)Jalan nasional sebagai jalan kolektor primer sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40
ayat (5) yang sudah dikembangkan, meliputi:
a.Ngawi - Maospati - Madiun - Caruban
b.Tuban - Sadang- Gresik
c.Tulungagung - Kediri - Kertosono
d.Malang - Kepanjen
e.Wonorejo - Probolinggo
f.Mojokerto - Mojosari - Gempol
g.Donorejo - Pacitan - Panggul - Trenggalek - Tulungagung - Blitar - Kepanjen Turen - Lumajang - Wonorejo - Jember - Rogojampi - Banyuwangi
(6)Jalan provinsi sebagai jalan kolektor primer sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40
ayat (5), meliputi ruas:
a.Pacitan - Ponorogo- Madiun
b.Maospati - Magetan - Cemorosewu
c.Nganjuk - Bojonegoro - Ponca - Jatirogo
d.Bojonegoro - Ponco - Pakah
e.Pantai Serang - Blitar - Srengat - Kediri - Nganjuk
f.Karanglo - Pendem
g.Malang - Pendem - Batu - Pujon - Kandangan - Pare - Kediri
h.Kandangan - Pulorejo - Jombang - Ploso - Babat
i.Batu - Pacet - Mojosari - Krian
j.Purwosari - Kejayan - Pasuruan
k.Sidoarjo - Krian - Gresik
l.Mojokerto - Gedek - Lamongan

m.Jember - Bondowoso - Situbondo


n.Bangkalan - Ketapang - Sotabar - Pasongsongan - Sumenep - Pantai Lumbang
o.Sampang - Ketapang
p.Pamekasan - Sotabar
q.Malang - Turen - Talok - Druju - Sendangbiru
r.Ponorogo - Trenggalek
s.Pilang - Sukapura
t.Pasuruan - Kejayan - Tosari
u.Purwodadi - Nongkojajar
v.Lumajang - Kencong - Kasiyan - Puger
w. Rogojampi - Srono - Muncar
x.Padangan - Cepu
y.Ponorogo - Biting
(7)Arahan pengembangan jalan provinsi sebagai jalan kolektor primer sebagaimana
dimaksud pada ayat (6), meliputi ruas Bondowoso - Sukasari -Ijen - Banyuwangi
dan Karanglo - Batu.
(8)Arahan pengembangan Jalan Lintas Selatan meliputi dua kelompok jaringan jalan
lintas selatan dan ruas jalan sirip jalan lintas selatan, Status penyelenggaraan ruas
jalan Iintas selatan akan ditetapkan kemudian sesuai dengan ketentuan yang
berlaku.
(9)Arahan pengembangan Jalan Lintas Selatan sebagaimana dimaksud pada ayat (8),
meliputi:
a.Mukus - Wareng - Pacitan - Kayen - Sudimoro di Kabupaten Pacitan
b.Panggul - Jarakan - Durenan di Kabupaten Trenggalek
c.Bandung - Gambiran - Sine - Molang di Kabupaten Tulungagung
d.Ringin Bandulan - Jolosutro di Kabupaten Blitar
e.Panggung - Waru - Sendang Biru - Talok - Dampit di Kabupaten Malang
f.Pronojiwo - Jarid - Bagu - Wot G,alih di Kabupaten Lumajang
g.Puger - Sumberrejo - Tangkinol di Kabupaten Jember
h.Glenmore - Rogojampi di Kabupaten Banyuwangi.
(10)Arahan pengembangan jalan sirip jalan lintas selatan sebagaimana dimaksud pada
ayat (8), meliputi:
a.Punung - Kalak - Batas Jawa Tengah, Kayen - Jetak - Hadiwarno, Bangunsari Ngadirejan di Kabupaten Pacitan
b.Panggul - Munjungan - Prigi - Karanggongso - Batas Tulungagung di Kabupaten
Trenggalek
c.Trenggalek - Popoh di KabupatenTulungagung
d.Bence - Kanigoro - Pantai Serang - Kesamben - Binangun - Wates - Pantai
Jolosutro di Kabupaten Blitar
e.Kedung Banteng - Taman Asri di Kabupaten Malang
f.Pronojiwo - Tempusari - Bagu - Tempeh - Pandanwangi di Kabupaten Lumajang
g.Ambulu - Watu Ulo dan Kraton - Paseban di Kabupaten Jember
h.Kendeng Lembu - Sumber Jambe - Pesanggaran - Kutorejo - Muncar - Srono Rogojampi di Kabupaten Banyuwangi
(11)Arahan jalan tembus antar wilayah kabupaten/kota yang sudah dikembangkan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (5), meliputi ruas:
a.Pasrepan -Puspo - Wonokitri - Bromo
b.Telaga Sarangan (Magetan) - Karanganyar (Jawa Tengah)

c.Magetan - Jogorogo - Mantingan


d.Banyuwangi - ljen; Bondowoso - Sukasari
e.Pacitan - Ponorogo - Purwantoro - Wonogiri - Solo
f.Sudimoro - Ngrayun - Ponorogo
g.Bandar - Ponorogo
h.Ngoro - Krembung -Sidoarjo
(12)Arahan pengembangan jalan tembus antar wilayah kabupaten/kota, meliputi ruas:
a.Papar - Pare
b.Malang - Ngadas - Jemplang - Bromo
c.Situbondo - Arjasa - Kayumas - Ijen
d.Nganjuk - Sawahan - Ngebel - ponorogo
e.Kediri - Pulung - Ponorogo
f.Padangan - Dander - Babat - Lamongan
g.Sumberejo - Kanor - Rengel
h.Tulungagung - Bendungan Wonorejo - Pagerwojo - Bendungan Trenggalek Bendungan Sawo - Ponorogo Ngebel - Nganjuk
i.Ponorogo - Babadan - Lembeyan - Gorang gareng - Magetan
j.Ngawi - Dungus - Madiun
(13)Arahan pengembangan jalan lingkar kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40
ayat (4), meliputi jalan lingkar kota dan perkotaan.
(14)Arahan pengembangan terminal jalan berupa pengembangan terminal penumpang
jalan berskala regional di setiap kabupaten/kota.
Paragraf 2
Arahan Pengembangan Prasarana Transportasi
Perkeretaapian
Pasal 42
(1)Arahan pengembangan prasarana transportasi perkeretaapian sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 11 huruf a meliputi arahan pengembangan jalur perkeretaapian,
pengembangan prasarana transportasi kereta api untuk keperluan
penyelenggaraan perkeretaapian komuter, dry port, terminal barang, serta
konservasi rel mati.
(2)Arahan pengembangan jalur perkeretaapian meliputi arahan pengembangan jalur
kereta api ganda, dan penataan jalur perkeretaapian di wilayah Gerbang
kertosusila Plus Jalur Kereta Api yang beroperasi saat ini :
a.Jalur Utara : Surabaya (Pasar Turi) - Lamongan - Babat - Bojonegoro - Cepu
b.Jalur Tengah : Surabaya (Semut) - Surabaya (Gubeng) - Wonokromo - Jombang
- Kertosono - Madiun - Solo
c.Jalur Timur : Surabaya (Semut) - Surabaya (Gubeng) - Wonokromo - Sidoarjo Bangil - Pasuruan - Probolinggo - Jember - Banyuwangi
d.Jalur Lingkar : Surabaya (Semut) - Surabaya (Gubeng) - Wonokromo - Sidoarjo Bangil - Lawang - Malang - Blitar - Kediri - Kertosono - Surabaya
(3)Arahan pengembangan jalur perkeretaapian ganda ditujukan pada jalur jalur sebagai
berikut:
a.Surabaya - Lamongan - Sabat - Sojonegoro - Cepu
b.Surabaya - Mojokerto - Jombang - Kertosono - Nganjuk - Madiun - Sragen

c.Surabaya - Bangil - Lawang - Singosari - Malang


d.Bangil - Pasuruan - Probolinggo - Jember - Banyuwangi
e.Malang - Kepanjen - Blitar - Tulungagung - Kertosono
(4)Arahan pengembangan prasarana perkeretaapian untuk keperluan penyelenggaraan
kereta api komuter seperti yang sudah diselenggarakan pada lintas Surabaya Porong ditujukan pada koridor-koridor, meliputi:
a.Surabaya - Lamongan - Babat
b.Surabaya - Mojokerto - Jombang
c.Surabaya - Porong - Sangil
d.Surabaya - Gresik
e.Pasar Turi - Stasiun Gubeng
f.Lawang - Malang - Kepanjen
g.Madiun - Ponorogo - Siahung
(5)Arahan pengembangan prasarana jalur perkeretaapian di Gerbang kertosusila Plus
berupa penataan jalur yang terdiri dari tindakan pemasangan jalur ganda, tindakan
pemasangan jalur melayang, serta pemindahan lintasan perkeretaapian regional,
bila diperlukan.
(6)Arahan pengembangan dry port meliputi pengembangan dry port yang sudah ada di
Rambi puji Kab. Lipaten Jember serta pembangunan dry port di Kota Malang, Kota
Kediri dan Kabupaten Jombang.
(7)Arahan pengembangan terminal barang perkeretaapian, meliputi:
a.pengembangan fasilitas terminal peti kemas Pasar Turi, terminal barang Kali
Mas Kota Surabaya.
b.pengembangan terminal barang di Babat Kabupaten Lamongan.
(8)Arahan konservasi rei mati ditujukan pada ruas-ruas potensial, sebagai berikut:
a.Bojonegoro - Jatirogo
b.Madiun - Ponorogo - Slahung
c.Mojokerto - Mojosari - Porong
d.Ploso - Mojokerto - Krian
e.Malang - Turen - Dampit
f.Malang - Pakis - Tumpang
g.Babat - Jombang
h.Babat - Tuban
i.Kamal - Sangkalan - Sampang - Pamekasan
j.Jati - Probolinggo - Paiton
k.Klakah - Lumajang - Pasirian
l.Lumajang - Gumukmas - Balung - Rambipuji
m.Panarukan - Situbondo - Bondowoso - Kalisat
n.Rogojampi - Blambangan
(9)Arahan pengembangan jalur perkeretaapian di Pulau Madura meliputi Kamal Sangkalan - Sampang - Pamekasan - Sumenep dan penyambungan ke jaringan
kereta api di Surabaya.
Paragraf 3
Arahan Pengembangan Prasarana Transportasi Penyeberangan
Pasal 43

Arahan pengembangan prasarana transportasi penyeberangan meliputi


arahan pengembangan pelabuhan penyeberangan, sebagai berikut:
a.pembangunan Pelabuhan penyeberangan Bawean di Kabupaten Gresik.
b.pembangunan Pelabuhan penyeberangan Paciran di Kabupaten Lamongan.
c.pembangunan Pelabuhan penyeberangan Kalianget di Kabupatan Sumenep.
d.pengembangan Pelabuhan penyeberangan Ketapang di Kabupaten Banyuwangi.
e.pengembangan Pelabuhan penyeberangan Jangkar di Kabupaten Situbondo.
Paragraf 4
Arahan Pengembangan Prasarana Transportasi Laut
Pasal 44
(1)Arahan pengembangan prasarana transportasi laut sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 11 huruf a, meliputi pengembangan pelabuhan umum, dan pelabuhan
khusus.
(2)Pelabuhan umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang sudah dikembangkan,
meliputi:
a.Pelabuhan Internasional Hub Tanjung Perak
b.Pelabuhan Nasional merupakan Pelabuhan utama tersier di Pelabuhan Gresik di
Kabupaten Gresik, Tanjung Wangi di Kabupaten Banyuwangi, Tanjung
Tembaga di Kota Probolinggo, Pasuruan di Kota Pasuruan, Sapudi di
Kabupaten Sumenep, Kalbut di Kabupaten Situbondo, Sapeken di
Kabupaten Sumenep, Paiton di Kabupaten Probolinggo, Bawean di
Kabupaten Gresik, Kangean di Kabupaten Sumenep.
c.Pelabuhan Regional merupakan Pelabuhan pengumpan primer yang berfungsi
khusus untuk melayani kegiatan dan alih moda angkutan laut di Pelabuhan
Kalianget di Kabupaten Sumenep, Panarukan di Kabupaten Situbondo,
Brondong di Kabupaten Lamongan, Branta di Kabupaten Pamekasan,
Telaga Biru di Kabupaten Bangkalan, Tuban di Kabupaten Tuban, Boom
Banyuwangi.
d.Pelabuhan Lokal merupakan Pelabuhan pengumpan sekunder di Pelabuhan
Masalembu di Kabupaten Sumenep, Sampang, Besuki di Kabupaten
Situbondo, Gayam di Kabupaten Sumenep, Raas di Kabupaten Sumenep,
Sepulu di Kabupaten Bangkalan, Pantai utara, Pantai selatan, Pasean dan
Gili Mandangin di Kabupaten Pamekasan.
(3)Arahan pengembangan Pelabuhan umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
meliputi:
a.pengembangan Pelabuhan Internasional Hub untuk jangka pendek-menengah,
di wilayah antara Teluk Lamong sampai Pelabuhan Gresik dengan
kapasitas terbatas, dan untuk jangka menengah-panjang di wilayah
Kabupaten Bangkalan bagian utara.
b.pengembangan Pelabuhan berskala layanan nasional dan internasional di
pantai utara Kabupaten Lamongan dan Kabupaten Tuban untuk
mendukung perkembangan industri dan pariwisata di pantai utara, serta
Pelabuhan Sendangbiru di Kabupaten Malang di pantai Selatan.
c.pengembangan Pelabuhan umum nasional di pantai selatan untuk mendukung
potensi industri, pariwisata, pertanian dan pertambangan di Kabupaten

Pacitan, dan Kabupaten Trenggalek.


(4)Arahan pengembangan Pelabuhan khusus dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan
dengan mengikuti peraturan perundangan yang berlaku.
Paragraf 5
Arahan Pengembangan Prasarana Transportasi Udara
Pasal 45
(1)Prasarana transportasi udara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 huruf a meliputi
bandara umum dan bandara khusus.
(2)Prasarana transportasi udara yang sudah dikembangkan meliputi:
a.bandara umum meliputi Bandara Juanda di Kabupaten Sidoarjo, Bandara Abdul
Rahman Saleh di Kabupaten Malang, Bandara Noto Hadinegoro di
Kabupaten Jember, Bandara di Kabupaten Banyuwangi, Bandara
Trunojoyo di Kabupaten Sumenep.
b.bandara khusus di Pagerungan Kabupaten Sumenep.
(3)Arahan pengembangan bandara umum, meliputi:
a.pengembangan bandara Internasional di kawasan Pantura.
b.pengembangan bandara umum domestik regional di Banyuwangi.
c.pengembangan bandara umum domestik regional Bawean di Kabupaten Gresik.
d.pengembangan bandara umum domestik lokal di Kabupaten Jember.
(4)Arahan pembangunan bandara khusus di Kabupaten Blitar dan Kabupaten Bojonegoro
sesuai dengan kebutuhan dan mengikuti peraturan, perundang-undangan yang
berlaku.
Paragraf 6
Arahan Pengembangan Angkutan Massal Cepat Perkotaan
Pasal 46
(1)Arahan pengembangan angkutan massal cepat diwilayah perkotaan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 11 huruf a, adalah pengembangan angkutan masal cepat di
wilayah Gerbangkertasusila Plus dan wilayah Malang Raya.
(2)Penentuan teknologi angkutan masal cepat yang akan diterapkan harus dilakukan
melalui kajian teknis berdasarkan penetapan trayek, kondisi medan, prakiraan
permintaan dan kemampuan pendanaan.
(3)Layanan angkutan umum masal perkotaan merupakan sebuah Public Service
Obligation (PSO) yang menjadi kewenangan dan tanggungjawab pemerintah.
(4)Penyelenggaraan angkutan umum masal perkotaan dapat dilakukan oleh pemerintah
swasta, atau kerjasama antara pemerintah dan swasta.
Paragraf 7
Arahan Pengembangan Sistem Prasarana Telematika
Pasal 47
(1)Prasarana telematika adalah perangkat komunikasi dan pertukaran informasi yang

dikembangkan untuk tujuan-tujuan pengambilan keputusan di ranah publik


ataupun privat.
(2)Prasarana telematika yang dikembangan, meliputi:
a.sistem kabel
b.sistem seluler
c.sistem satelit
(3)Arahan pengembangan prasarana telematika sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
terus ditingkatkan perkembangannya hingga mencapai pelosok wilayah yang
belum terjangkau sarana prasarana telematika mendorong kualitas perencanaan
dan pelaksanaan pembangunan.
(4)Untuk meningkatkan pelayanan di wilayah terpencil, pemerintah memberi dukungan
dalam pengembangan kemudahan jaringan telematika.
(5)Pengelolaan ada di bawah otorita tersendiri sesuai dengan peraturan perundangan
yang berlaku.
(6)Pengaturan lebih lanjut tentang pemanfaatan teknologi telematika akan diatur oleh
Peraturan Gubernur.
Paragraf 8
Arahan Pengembangan Sistem Prasarana Sumberdaya Energi
Pasal 48
(1)Sumberdaya energi adalah sebagian dari sumberdaya alam yang dapat dimanfaatkan
sebagai sumber energi dan atau energi baik secara langsung maupun dengan
proses konservasi atau transportasi.
(2)Pengembangan sumberdaya energi dimaksudkan untuk menunjang penyediaan
jaringan energi Iistrik dan pemenuhan energi lainnya.
(3)Pengembangan sarana untuk pengembangan Iistrik meliputi:
a.Pengembangan pembangkit, PLTU Jawa Timur Selatan, PLTU Grati, PLTU
Paiton III - IV, PL TU Madura, PLTU Pasuruan, akan memberikan
peningkatan supply energi Iistrik ke sistem Jawa Bali (termasuk Wilayah
Madura) dengan pengendali sistem operasi di JawaTimur di Waru
Kabupaten Sidoarjo.
b.Pengembangan jaringan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi 500 KV dan
Saluran Udara dan atau Kabel Tegangan Tinggi 150 KV diperlukan untuk
menyalurkan energi listrik yang dibangkitkan oleh pembangkit baru, yaitu
SUTET 500 KV Paiton - Banyuwangi, serta transmisi 150 KV, Kediri,
Gresik, Sidoarjo, Nganjuk, Tulungagung, Madiun, Mojokerto, Kota Surabaya
dan Kabupaten Bangkalan.
c.Pengembangan sistem distribisi 20 KV diperlukan untuk menyalurkan energi ke
kawasan yang Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota serta
daerah yang belum berlistrik dan bergantung pada dana yang ada.
(4)Pengembangan energi baru dan terbarukan oleh pemerintah provinsi maupun
kabupaten/kota yang meliputi:
a.energi mikrohidro di wilayah Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Situbondo,
Kabupaten Bondowoso, Kabupaten Jember, Kabupaten Lumajang,
Kabupaten Malang, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Blitar, Kabupaten
Tulungagung, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Pacitan, Kabupaten

Madiun, Kabupaten Magetan, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Mojokerto


dan Kota Batu.
b.energi angin di wilayah kepulauan dan pesisir
c.energi surya di wilayah perdesaan dan terpencil
d.energi panasbumi di Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten
Madiun, Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Mojokerto dan Kota Batu.
e.energi gelombang di wilayah pesisir
(5)Arahan pengelolaan sumberdaya energi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), untuk
memenuhi kebutuhan listrik dan energi sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
Paragraf 9
Arahan Pengembangan Prasarana Sumberdaya Air
Pasal 49
(1)Prasarana sumberdaya air adalah prasarana pengembangan sumberdaya air untuk
memenuhi berbagai kepentingan.
(2)Pengembangan prasarana sumberdaya air untuk air bersih diarahkan untuk
mengoptimalkan pemanfaatan sumber air permukaan dan sumber air tanah.
(3)Rencana pengembangan prasarana sumber air permukaan untuk air bersih
sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dikembangkan di lokasi:
a.Bendungan karet Kali Lamong untuk memenuhi kebutuhan air bersih khususnya
di daerah Gresik.
b.Bengawan Jero di Kabupaten Lamongan.
c.Dam Sine di Kabupaten Ngawi.
d.Jabung retarding basin - Sembayat barrage dan Flood way Sedayu Lawas di
Kabupaten Lamongan.
e.Pemenuhan air baku Floodway Sedayu Lawas - Babat Barrage - Jabung
retarding basin, Sembayat Barrage Bojonegoro Barrage, Waduk Tawun di
Kabupaten Bojonegoro
f.Pelayaran di Kabupaten Sidoarjo
g.Penjernihan air Jagir di Wonokromo
h.Singoladri, Lider dan Kedawung di Kabupaten Banyuwangi
i.Telaga Ngebel di Kabupaten Ponorogo
j.Umbulan di Kabupaten Pasuruan
(4)Pengembangan prasarana sumber air tanah untuk air, bersih dengan melakukan
penurapan mata air dan membangun sumur bor, pencegahan pencemaran pada
Cekungan Air Tanah (CAT), meliputi:
a.CAT Brantas;
b.CAT Bulukawang;
c.CAT Besuki;
d.CAT Bondowoso-Situbondo;
e.CAT Banyuwangi;
f.CAT Blambangan;
g.CAT Bangkalan;
h.CAT Jember-Lumajang;
i.CAT Ketapang;

j.CAT Lasem;
k.CAT Ngawi-Ponorogo;
l.CAT Panceng;
m.CAT Pasuruan;
n.CAT Probolinggo;
o.CAT Randublatung;
p.CAT Surabaya-Lamongan;
q.CAT Sumberbening;
r.CAT Sampang-Pamekasan;
s.CAT Sumenep;
t.CAT Tuban;
u.CAT Toranggo.
v.CAT Wonosari;
w.CAT Wonorejo;
x.Selain itu dapat dikembangkan di waduk dan embung
(5)Arahan pengelolaan sumberdaya air sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi:
a.pembangunan prasarana sumber daya air.
b.semua sumber air baku dari dam, embung, waduk, telaga, bendungan serta
sungai - sungai klasifikasi I - IV yang airnya dapat dimanfaatkan secara
langsung dan dikembangkan untuk berbagai kepentingan.
c.zona pemanfaatan DAS dilakukan dengan membagi tipologi DAS berdasarkan
tipologinya.
d.Penetapan zona pengelolaan sumber daya air sesuai dengan keberadaan
wilayah sungai tersebut pada zona kawasan lindung tidak diijinkan
pemanfaatan sumber daya air untuk fungsi budidaya, termasuk juga untuk
penambangan.
e.prasarana sumberdaya air yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan lintas
wilayah administratif kabupaten/kota, dikoordinasikan oleh Pemerintah
Provinsi.
Pasal 50
(1)Prasarana pengairan direncanakan sesuai dengan kebutuhan peningkatan sawah
irigasi teknis dan non teknis baik untuk irigasi air permukaan maupun air tanah.
(2)Rencana pengembangan pengairan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun
berdasarkan wilayah sungai.
(3)Pengembangan waduk, dam dan embung serta pompanisasi terkait dengan
pengelolaan sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dengan
mempertimbangkan :
a.daya dukung sumber daya air
b.kekhasan dan aspirasi daerah serta masyarakat setempat
c.kemampuan pembiayaan
d.kelestarian keanekaragaman hayati dalam sumber air
e.posisi Jawa Timur sebagai lumbung nasional
(4)Dengan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), maka pengembangan
waduk, dam dan embung serta pompanisasi ditetapkan meliputi :
a.Dam Genting I di Kabupaten Blitar
b.Dam Babadan di Kabupaten Nganjuk

c.Dam Tugu di Kabupaten Trenggalek


d.Dam Wonosalam di Kabupaten Jombang
e.Dam Karangnongko di Kabupaten Bojonegoro
f.Embung Dempobarat, Jarin, Bujur Timur dan Embung Sumberwaru di Kabupaten
Pamekasan
g.Embung Pangolangan, Tambak Poncok, Sangkiyah, Dupok, Paselaju,
Pangolangari 2, Maneron, Pakis 3, Manuan, Kombangan 1, Kombangan 2,
Kombangan 3 dan Kampak di Kabupaten Bangkalan
h.Embung Cepret, Wakah II di Kabupaten Ngawi
i.Embung Pacin di Kabupaten Madiun
j.Embung Kertosari di Kabupaten Pasuruan
k.Embung Mojoroto di Kabupaten Mojokerto
l.Embung Dermo, Kabluk di Kabupaten Lamongan
m.Waduk penampung banjir Jabung/Jabung retarding basin di Kali Lamongan
n.Waduk Beng di Kabupaten Jombang
o.Waduk Genting di Kabupaten Malang
p.Waduk Bajulmati di Kabupaten Banyuwangi
q.Waduk Nipah di Kabupaten Sampang
r.Waduk Blega di Kabupaten Bangkalan
s.Waduk Kedung Brubus di Kabupaten Madiun
t.Waduk Gonggang di Kabupaten Magetan
u.Waduk Bendo di Kabupaten Ponorogo
v.Waduk Banjaranyar di Kabupaten Gresik
w.Waduk Tawun, Pejok di Kabupaten Bojonegoro
x.Waduk Antrogan di Kabupaten Jember
(5)Area lahan beririgasi teknis harus dipertahankan agar tidak berubah fungsi menjadi
peruntukan yang lain, jika areal tersebut terpaksa harus berubah fungsi maka
disediakan lahan areal baru yang menggantikannya dengan luasan minimal sama
ditambah dengan biaya investasi yang telah ditanamkan di lokasi tersebut.
Paragraf 10
Arahan Pengelolaan Sistem Prasarana Migas
Pasal 51
(1)Prasaranamigas adalah jaringan/distribusi minyak dan gas bumi melalui pipa di darat
dan laut, kereta api dan angkutan jalan raya.
(2)Rencana pengembangan sumber dan prasarana migas, meliputi :
a.Kabupaten Bojonegoro
b.Kabupaten Bangkalan
c.Kabupaten Gresik
d.Kabupaten Lamongan
e.Kabupaten Pemekasan
f.Kabupaten Sidoarjo
g.Kabupaten Sampang
h.Kabupaten Sumenep
i.Kabupaten Tuban
j.Kabupaten/kota lain berdasarkan hasil eksplorasi.

(3)Rencana pengembangan sumber dan prasarana migas pada wilayah darat dan
wilayah laut sepanjang 4 sampai dengan 12 mil laut.
(4)Arahan prasarana migas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pengelolaanya ada
dibawah
instansi/badan/lembaga
sesuai
ketentuan
peraturan
perundang-undangan yang berlaku
Paragraf 11
Arahan Pengembangan Sistem Prasarana lingkungan
Pasal 52
(1)Prasarana lingkungan merupakan arahan pengelolaan prasarana yang digunakan
lintas wilayah administratif.
(2)Prasarana yang digunakan lintas wilayah secara administratif sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) meliputi:
a.tempat pembuangan akhir (TPA) terpadu yang dikelola bersama untuk
kepentingan antar wilayah.
b.tempat pengelolaan limbah industri 83 dan non 83.
(3)Arahan pengembangan sistem prasarana lingkungan yang digunakan lintas wilayah
secara administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2), adalah :
a.kerjasama antar wilayah dalam hal pengelolaan dan penanggulangan masalah
sampah terutama di wilayah perkotaan.
b.pengalokasian tempat pembuangan akhir sesuai dengan persyaratan teknis.
c.pengolahan dilaksanakan dengan teknologi ramah lingkungan sesuai dengan
kaidah teknis.
d.pemilihan lokasi untuk prasarana lingkungan harus sesuai dengan daya dukung
lingkungan.
e.setiap kabupaten/kota diwajibkan menyediakan ruang untuk TPA dan/atau TPA
terpadu.
Bagian Ketujuh
Arahan Pengembangan Kawasan Diprioritaskan
Pasal 53
(1)Arahan pengembangan kawasan yang diprioritaskan merupakan kawasan yang
mempunyai karakter khusus dan perlu ditangani secara tersendiri.
(2)Kawasan diprioritaskan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a.Kawasan Ekonomi Potensial
b.Kawasan Strategis
c.Kawasan Tertinggal
d.Kawasan Rawan Bencana
e.Kawasan Khusus Militer
f.Kawasan Perbatasan
g.Kawasan Pengendalian Ketat (High Control Zone)
(3)Arahan pengembangan kawasan diprioritaskan sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
meliputi :
a.pengelolaan kawasan yang berpotensi mendorong perkembangan kawasan

sekitar dan atau berpengaruh terhadap perkembangan wilayah secara


umum.
b.pengelolaan kawasan perbatasan dalam satu kesatuan arahan dan kebijakan
yang saling bersinergi.
c.mendorong perkembangan/revitalisasi potensi wilayah yang belum berkembang.
d.penempatan pengelolaan kawasan diprioritaskan dalam kebijakan utama
pembangunan daerah.
e.mendorong tercapainya tujuan dan sasaran pengelolaan kawasan.
f.peningkatan kontrol terhadap kawasan yang diprioritaskan mendorong
terbentuknya badan pengelolan kawasan yang diprioritaskan.
Pasal 54
(1)Kawasan ekonomi potensial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (2) huruf a
dijabarkan dalam sentra ekonomi yakni Kawasan Pengembangan Utama Komoditi,
Kawasan Pengembangan Terintegrasi dan Kawasan Pengembangan Utama.
(2)Kawasan Pengembangan Utama Komoditi dan Kawasan Pengembangan Terintegrasi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tersebar di berbagai wilayah
kabupaten/kota.
(3)Kawasan Pengembangan Utama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi
wilayah:
a.Tuban, Lamongan dan sekitarnya.
b.Surabaya dan sekitarnya.
c.Kediri, Blitar dan sekitarnya.
d.Malang dan sekitarnya.
e.Probolinggo dan sekitarnya
f.Jember dan sekitarnya.
g.Madiun dan sekitarnya.
h.Banyuwangi dan sekitarnya.
i.Madura
Pasal 55
(1)Kawasan strategis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (2) huruf b,
merupakan suatu daerah yang mempunyai potensi potensi sosial ekonomi untuk
dikembangkan yang berbasis pada sumber daya alam serta melalui pusat-pusat
pengembangan penduduk, dengan diterapkan teknologi dan modal maka daerah
tersebut akan menjadi fungsi dan peran khusus bagi daerah sekitarnya
(hinterland) guna mencapai tujuan pengembangan wilayah.
(2)Kawasan strategis yang dikembangkan adalah Kawasan East Java Industrial
Integreted Zone (EJIIZ) sebagai kawasan yang memiliki sistem legal, administrasi
dan jaringan jalan, pelabuhan internasional laut dan udara, kawasan berikat,
ekspor prosesing zone, kawasan industri serta cargo yang dikelola secara
terintegrasi.
Pasal 56
Kawasan tertinggal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (2)

huruf c, banyak terdapat di kawasan pesisir selatan Jawa Timur dan Madura dengan
arahan meliputi:
a.peningkatan pemenuhan kebutuhan dasar.
b.penyediaan kesempatan dalam pendayagunaan lahan dan sumberdaya alam setempat.
c.pembentukan organisasi perwilayahan perbaikan struktur penggunaan dan pengelolaan
sumber daya alam dan manusia.
d.peningkatan
kesempatan
kerja
melalui
penanggulangan
pengangguran,
pengembangan sektor pertanian yang berdaya serap tinggi terhadap tenaga kerja.
e.peningkatan pemanfaatan sumber daya alam.
f.peningkatan sumber daya manusia.
g.pelestarian lingkungan hidup.
h.pengembangan keuntungan komparatif antar wilayah dan tidak terjadi tumpang tindih
peran dan fungsi wilayah satu dengan lainnya.
i.peningkatan daya saing sektor ekonomi potensial.
j.peningkatan daya tarik kawasan dengan cara menyediakan prasarana dan sarana
penunjang.
k.perbaikan sistem pemasaran produk yang dihasilkan kawasan.
Pasal 57
Kawasan rawan bencana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (2) huruf d
merupakan kawasan yang rentan terhadap bencana alam terutama untuk bencana alam
yang terjadinya seperti rawan letusan gunung api, rawan banjir, rawan gempa, gerakan
tanah, longsor, banjir bandang dan rawan tsunami atau yang merupakan fenomena alam
lainnya, dengan arahan meliputi:
a.menciptakan infrastruktur yang khusus didaerah rawan bencana sehingga nilai
investasi yang ditanamkan tidak terlalu sia-sia dan daerah tersebut dapat
berkembang sesuai dengan sumber daya yang dimiliki.
b.menciptakan peraturan bangunan, membatasi keleluasaan membangun pada
daerah-daerah yang dianggap rawan bencana secara optimal sebagaimana
dilakukan pada daerah-daerah lainnya.
c.mempertimbangkan kestabilan lereng dalam perencanaan, perancangan, dan
pengembangan lokasi bangunan.
d.pengendalian atas garapan lahan pada daerah perbukitan dan pegunungan
e.mempertahankan dan merevitalisasi kawasan mangrove/bakau sebagai barier area
untuk mitigasi bencana (tsunami).
f.menyediakan ruang untuk evakuasi yang dapat berupa ruang terbuka hijau
g.tidak mencetak sawah lahan basah pada kawasan terjal.
Pasal 58
(1)Kawasan khusus militer sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 ayat (2) huruf e
merupakan kawasan yang lokasinya jauh dari kegiatan umum perkotaan, dimana
masyarakat umum tidak diijinkan memakai atau menempati lahan yang ada dan
telah ditetapkan sebagai kawasan khusus.
(2)Kawasan khusus militer digunakan sebagai kepentingan pertahanan keamanan
nasional (TNI), dan kawasan yang digunakan dengan fungsi kegiatan militer
dikategorikan sebagai kawasan khusus mencakup daerah pangRalan, lokasi

latihan, obyek vital, basis dan daerah demobilisasi, yang berlokasi di :


a.Bandara Iswahyudi di Kabupaten Magetan
b.Bandara Abdurahman Saleh Kabupaten Malang
c.Bumi Marinir di Karangpilang Kota Surabaya
d.Daerah latihan Gunung Bancak di Kabupaten Magetan
e.Daerah latihan Gunung Majang Komplek di Kabupaten Jember
f.Daerah Basis Armada Timur di Tanjung Perak Kota Surabaya
g.Daerah latihan di Teleng Gesingan Kabupaten Pacitan
h.Gudang senjata dan pabrik pembuatan senjata di Turen Kabupaten Malang
i.Gudang Amunisi di Batu Poron Kabupaten Bangkalan Madura
j.Gudang mesiu Curah Daru di Kabupaten Bondowoso
k.Gudang senjata dan amunisi Angkatan Darat di Saradan Kabupaten Madiun
l.Kawasan Air Weapon Range TNI AU di Pantai Pasirian Kabupaten Lumajang
m.Kawasan KODAM V Brawijaya di Surabaya
n.Kawasan KOSTRAD di Singosari Kabupaten Malang
o.Kawasan KOSTRAD dl Kraton Kabupaten Pasuruan
p.Kawasan latihan Gunung Grati di Kabupaten Pacitan
q.Kawasan TNI AU di Raci Kabupaten Pasuruan
r.Kawasan TNI AU dan daerah latihan di Punung Kabupaten Pacitan
s.Tempat latihan gabungan tempur di Asembagus Kabupaten Situbondo
(3)Kawasan khusus diarahkan dengan :
a.membatasi antara lahan terbangun disekitar kawasan khusus dengan kawasan
lainnya yang belum terbangun sehingga diperoleh batas yang jelas dalam
pengelolaannya.
b.pemberian hak pengelolaan kepada masyarakat atau pemerintah, harus
berdasarkan kerjasama berdasarkan ketentuan yang telah disepakati
sehingga akan menguntungkan kedua belah pihak.
Pasal 59
(1)Kawasan perbatasan sebagaimana dimaksud pada Pasal 53 ayat (2) huruf f
merupakan kawasan antar provinsi dan kabupaten/ kota dan kegiatan yang perlu
adanya pengawasan dan pengendalian terhadap kegiatan industri, kegiatan
domestik, kegiatan pertanian, kegiatan peternakan dan kegiatan perikanan
budidaya.
(2)Kawasan perbatasan antar provinsi dan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 53 ayat (2) huruf f merupakan kawasan yang mempunyai kontribusi
terhadap pencapaian sasaran secara nasional dan atau regional, dalam
pemanfaatan lahan dan pemanfaatan ruang di daerah perbatasan.
(3)Kawasan yang memiliki interaksi secara langsung dalam pemanfaatan ruang di sekitar
wilayah perbatasan Provinsi Jawa Timur yang meliputi :
a.Kawasan RATUBANGNEGORO (Blora, Tuban, Rembang, dan Bojonegoro)
merupakan wilayah perbatasan Jawa Timur dengan Jawa Tengah di bagian
utara.
b.Kawasan KAWISMAWIROGO (Karanganyar, Wonogiri, Sragen, Magetan,
Ngawi, Ponorogo) merupakan wilayah perbatasan Jawa Timur dengan
Jawa Tengah di bagian Tengah.
c.Kawasan PAWONSARI (Pacitan, Wonogiri, Wonosari) merupakan wilayah

perbatasan Jawa Timur, Jawa Tengah dan Daerah lstimewa Yogyakarta di


bagian selatan.
d.Kawasan perbatasan di bagian timur dengan Provinsi Bali dan di bagian utara
dengan Kalimantan Selatan.
(4)Arahan pengelolaan kawasan perbatasan antar kota dengan kabupaten dan atau antar
kabupaten untuk mencapai kesesuaian fungsi antar wilayah dan kerjasama
infrastruktur dan pemanfaatan ruang antar wilayah, didasarkan pada :
a.prinsip saling menguntungkan
b.penciptaan efisiensi dalam proses pembangunan dengan memperhatikan
efisiensi dan efektifitas dalam memanfaatkan sumber daya.
c.tetap memelihara kualitas lingkungan hidup
d.tetap mempertahankan fungsi dasar kawasan, terutama kawasan lindung
Pasal 60
(1)Kawasan pengendalian ketat (High Control Zone) sebagaimana dimaksud dalam Pasal
53 ayat (2) huruf 9 merupakan kawasan yang memerlukan pengawasan secara
khusus dan dibatasi pemanfaatannya untuk mempertahankan daya dukung,
mencegah dampak negatif, menjamin proses pembangunan yang berkelanjutan.
(2)Kawasan pengendalian ketat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah
pemanfaatan ruang di sekitar:
a.kawasan perdagangan regional.
b.kawasan kaki jembatan Suramadu di Kota Surabaya dan Kabupaten Bangkalan
yang meliputi kawasan tertentu/fair ground, interchange jalan akses
dan/atau rencana reklamasi pantai.
c.wilayah aliran sungai, sumber air dan stren kali dengan sempadannya.
d.kawasan yang berhubungan dengan aspek pelestarian lingkungan hidup
meliputi kawasan resapan air atau sumber daya air, kawasan konservasi
hutan bakau/mangrove.
e.transportasi terkait kawasan jaringan jalan, perkeretaapian, areal lingkup
kepentingan pelabuhan, kawasan sekitar bandara, kawasan di sekitar jalan
arteri/tol.
f.prasarana wilayah dalam skala regional lainnya seperti area disekitar jaringan
pipa gas, jaringan SUTET, dan TPA terpadu.
g.kawasan rawan bencana.
h.kawasan lindung prioritas dan pertambangan skala regional.
i.kawasan konservasi alami, budaya, dan yang bersifat unik dan khas.
Bagian Kedelapan
Arahan Pengembangan Kawasan Pesisir Dan Kepulauan
Pasal 61
Arahan pengembangan kawasan pesisir, meliputi:
a.menjaga dan memelihara keseimbangan ekosistem pesisir dan pulau-pulau kecil.
b.mengembangkan pola spatial pantai berdasar sumber daya yang ada.
c.menjaga fungsi tumbuhan pantai/mangrove, terumbu karang dan ekosistem pantai
secara lestari dan alami.

d.menjaga fungsi biodegradasi di pesisir akibat perencanaan dari daratan.


e.memelihara fasilitas publik dan kemudahan akses di wilayah pesisir.
f.memelihara muara sungai yang alami maupun pelabuhan disekitar muara.
g.Mengembangkan masyarakat pesisir melalui program ekonomi, pendidikan dan sosial.
h.pemberdayaan masyarakat dan aparat pemerintah untuk melindungi ekosistem dan
sumber daya pesisir, untuk pemanfaatan yang berkelanjutan.
i.mengendalikan pemanfaatan ruang pesisir untuk kegiatan yang berpotensi memberikan
dampak Iingkungan yang besar dan luas.
j.mengkhususkan pengelolaan lokasi di wilayah pesisir yang digunakan untuk
kepentingan militer keamanan dan kepentingan strategis negara.
Pasal 62
(1)Arahan pengelolaan sumberdaya kelautan pada kepulauan untuk pelestarian fungsi
alami dan pemanfaatan secara ekonomi maupun sumber daya terbarukan lainnya
wajib didasarkan pada azas kecocokan dan keterlajutan daya dukung lingkungan
alam.
(2)Setiap upaya eksplorasi dan eksploitasi sumber daya laut dan pulau mengikuti
peraturan dan perundangan yang berlaku.
Bagian Kesembilan
Arahan Pengelolaan Tata Guna Tanah, Tata Guna Air,
Tata Guna Udara, dan Tata Guna Sumber Daya alam Lainnya
Pasal 63
Arahan pengelolaan tata guna tanah, tata guna air, tata guna
a.udara dan tata guna sumberdaya alam lainnya, yaitu:
b.tata guna tanah meliputi kebijakan penatagunaan tanah dan penyelenggaraan
pehatagunaan tanah
c.tata guna air meliputi kebijakan penatagunaan dan penyelenggaraan air permukaan
dan air tanah
d.tata guna udara meliputi kebijakan penatagunaan dan penyelenggaraan ketinggian
bangunan, lintasan pesawat, saluran udara tegangan tinggi dan saluran udara
tegangan ekstra tinggi.
e.tata guna sumber daya alam lainnya diarahkan pada pemanfaatan sumber daya alam
dengan tetap memperhatikan fungsi kelestarian kemampuan Iingkungan hidup
untuk mendukung kehidupan secara berkelanjutan.
Pasal 64
(1)Arahan tataguna tanah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63 huruf a, dilakukan
melalui
upaya
perlindungan
tanah
dan
perlindungan/pengawetan
keseimbangaannya terhadap kelestarian lingkungan hidup, meliputi :
a.pengaturan peruntukan dan penggunaan tanah yang memperhatikan daya
dukung dan daya tampung lingkungan hidup
b.penggunaan tanah yang mengacu pada fungsi (zona) yang telah ditetapkan
untuk kawasan lindung dengan pemanfaatan sebagai kawasan konservasi.

c.lahan yang berperan strategis bagi kelestarian lingkungan seperti


pengembangan tanaman lindung pada kawasan konservasi.
d.penggunaan tanah yang tidak sesuai rencana tata ruang tidak dapat diperluas
atau dikembangkan penggunaannya.
e.pola penyesuaian penggunaan/pemanfaatan tanah dilakukan melalui penataan
kembali (konsolidasi tanah), upaya kemitraan dan penyerahan/pelepasan
hak atas tanah pada negara atau pihak lain dengan penggantian sesuai
peraturan perundang-undangan.
f.menunjang keseimbangan pembangunan dengan penyediaan tanah disetiap
tingkatan pemerintahan baik provinsi maupun kabupaten/kota yang selaras
dengan rencana tata ruang
(2)Arahan pengelolaan tata guna air sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63 huruf b,
dilakukan melalui upaya kelestarian sumberdaya air terdiri dari:
a.penyediaan dan pengaturan air untuk menunjang pertanian baik air permukaan
dan/atau air tanah.
b.pengembangan daerah rawa, untuk pertanian dan/atau untuk budidaya
perikanan.
c.pengendalian dan pengaturan banjir serta usaha untuk perbaikan sungai, waduk
dan sebagainya serta pengaturan prasarana dan sarana sanitasi.
d.pengaturan dan penyediaan air minum, air perkotaan, air industri dan
pencegahan terhadap pencemaran atau pengotoran air.
e.pemeliharaan ketersediaan kuantitas dan kualitas air yang berkelanjutan, melalui
pemeliharaan kelangsungan fungsi resapan air dan daerah tangkapan air;
pengisian air pada sumber air; pengendalian pengoJahan tanah di daerah
hulu; pengaturan daerah sempadan sumber air; rehabilitasi hutan dan
lahan dan/atau pelestarian hutan lindung, kawasan suaka alam, dan
pelestarian alam.
(3)Arahan pengelolaan tata guna udara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63 huruf c,
meliputi:
a.menjaga kelestarian kualitas udara terhadap pencemaran
b.lingkungan
c.pengaturan jalur SUTT dan SUTET
d.pengaturan frekuensi radio dan jalur transmisi lainnya
e.pemantauan pola cuaca/iklim tropika dan aspek
f.metereologi lainnya
g.pengaturan jalur penerbangan umum dan khusus
h.pengaturan ruang udara untuk keperluan militer
(4)pengaturan ketinggian bangunan
(5)pengaturan ruang kawasan keselamatan operasional
(6)penerbangan di bandara
Bagian Kesepuluh
Pemanfaatan Ruang Daerah
Pasal 65
(1)Pemanfaatan ruang di daerah bertujuan untuk meningkatkan kegiatan pembangunan,
kesejahteraan masyarakat investasi dan memelihara serta mencegah terjadinya

kerusakan lingkungan hidup.


(2)RTRW Provinsi merupakan acuan untuk sinkronisasi dan keterpaduan dalam
penyusunan dan revisi RTRW Kabupaten/Kota.
(3)Dalam rangka mewujudkan pemanfatan ruang yang sesuai dengan rencana tata ruang
wilayah provinsi, Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota menyediakan
pencadangan lahan dimasing-masing wilayah disetiap tahun anggaran.
(4)Untuk mewujudkan pola pemanfaatan ruang daerah, disusun prioritas dan tahapan
pembangunan
(5)Prioritas sebagaimana dimaksud pada ayat (4) meliputi prioritas sektor dan wilayah di
Jawa Timur
(6)Tahapan pembangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) meliputi tahapan 5
(lima) tahun pertama sampai ke tiga
(7)Syarat zoning pemanfaatan ruang yang lebih detail akan diatur oleh Peraturan
Gubernur.
Pasal 66
(1)Langkah-langkah pengelolaan kawasan lindung meliputi:
a.percepatan rehabilitasi kawasan lindung yang telah mengalami penurunan
kwalitas tegakan serta degradasi lahannya.
b.penambahan kawasan lindung baru yang termasuk dalam kawasan
perlindungan bawahan yakni kawasan resapan air mempunyai fungsi
sebagai kawasan yang dapat menampung genangan air serta curah hujan
dan mempunyai jenis tanah yang dapat menyerap air tinggi (porous).
c.pada kawasan dengan fungsi perlindungan bawahan rnengendalikan jenis
tegakan disesuaikan dengan karakter tanah dan analisa potensi ekonomi di
masing-masing wilayah.
d.penambahan hutan lindung yang merupakan hasil alih fungsi hutan produksi
yang mempunyai kriteria kawasan lindung menjadi hutan lindung.
e.alih fungsi hutan mangrove didalam dan diluar kawasan hutan menjadi kawasan
lindung.
f.pengamanan hutan lindung dari gangguan hutan dan okupansi lahan hutan.
(2)Langkah-Iangkah pengelolaan kawasan budidaya meliputi:
a.arahan pemanfaatan ruang kawasan budaya secara optimal, berdayaguna
serasi, seimbang, dan berkelanjutan.
b.arahan untuk menentukan prioritas pemanfaatan ruang antar kegiatan budidaya
yang berbeda.
c.arahan bagiperubahan jenis pemanfaatan ruang dari jenis kegiatan budidaya
tertentu ke jenisnya.
d.percepatan rehabilitasi hutan produksi yang telah mengalami penurunan kualitas
tegakannya, perluasan hutan rakyat serta pembangunan hutan kota.
e.pengamanan hutan produksi dari gangguan illegal loging.
f.penggunaan tanah dikawasan budidaya tidak boleh diterlantarkan, harus
dipelihara pemanfaatannya dan mencegah kerusakan.
g.perubahan/alih fungsi penggunaan tanah sawah yang tidak produktif dan bukan
beririgasi teknis dapat dilakukan untuk kegiatan yang sesuai dengan
rencana tata ruang sehingga meningkatkan fungsi wilayah dengan tidak
meninggalkan kaidah ekologis, sedangkan sawah subur dan beririgasi

teknis dipertahankan untuk menunjang swasembada pangan.


h.arahan neraca penggunaan tanah tentang perimbangan antara ketersediaan
dan kebutuhan penggunaan tanah menurut fungsi kawasan.
Pasal 67
(1)Langkah-Iangkah pengelolaan meliputi:
a.pemantapan dan pengembangan kawasan agropolitan yang strategis dan
potensial.
b.pemantapan kelembagaan masyarakat dan pemerintahan perdesaan dalam
pengelolaan kegiatan pertanian, kelautan, penkanan, peternakan,
perkebunan, kehutanan, agrobisnis, dan agroindustri.
c.membangun kawasan perdesaan melalui peningkatan produktivitas dan
pemberdayaan masyarakat di kawasan perdesaan.
d.kawasan perdesaan meningkatkan keterkaitan aksesibilitas antara kawasan
perdesaan dan perkotaan.
e.mengelola dan mengendalikan pemanfaatan sumber daya alam di perdesaan
sesuai dengan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan.
f.membangun sistem jaringan pelayanan inter dan intra sektor dan wilayah untuk
mendukung keunggulan potensi kawasan/daerah, berupa antara lain
pendidikan formal dan informal, pemasaran, kelembagaan, teknologi
informasi.
g.meningkatkan daya tarik wilayah untuk mengurangi tingkat migrasi,
hyperurbanisasi diwilayah Surabaya Metropolitan Area (mendukung
langkah-Iangkah pengelolaan kawasan perkotaan).
h.menjadikan pengembangan kawasan perdesaan sebagai buffer yang
mempunyai nilai ekonomis, untuk menjaga pengembangan kawasan
perkotaan yang tidak terkendali.
(2)Langkah-Iangkah pengelolaan kawasan perkotaan meliputi:
a.mengendalikan hyperurbanisasi khususnya di wilayah Surabaya Metropolitan
Area (SMA).
b.mengalihkan penumpukan beban transportasi yang cenderung berorientasi ke
arah Surabaya.
c.menjaga keseimbangan keberlanjutan lingkungan dengan keseimbangan
wilayah terbangun dan tidak terbangun termasuk juga menjaga eksistensi
wilayah yang bersifat rural di sekitar kawasan perkotaan.
d.menyediakan ruang terbuka hijau minimal 20 % dimana 10% berupa hutan kota
di kawasan kota/perkotaan
e.mendorong persebaran pembangunan infrastruktur perkotaan
f.membangun infrastruktur yang dapat mengendalikan pekembangan yang
monosentris
g.menyerasikan perkembangan fisik perkotaan yang dapat menimbulkan disparitas
perkembangan kawasan perkotaan dengan kawasan perdesaan
h.mendorong terbentuknya sistem cluster dengan pusat - pusat pelayanan
Pasal 68
Langkah-Iangkah pengelolaan kawasan tertentu Gerbangkertosusila

Plus adalah sebagai berikut :


a.dipertahankan untuk berfungsi sebagai pusat pertumbuhan wilayah nasional yang
mendukung pelayanan pengembangan wilayah disekitarnya dan Indonesia bagian
Timur.
b.mencegah pertumbuhan kawasan terbangun bagian barat - Selatan Surabaya ke
kawasan pertanian tanaman pangan dan lindung di wilayah Mojokerto - Sidoarjo Malang.
c.diarahkan untuk meningkatkan spesialisasi fungsi jasa keuangan, teknologi sistem
informasi, pendidikan dan pengangkutan laut
d.meningkatkan kapasitas dan kualitas pelayanan sistem perangkutan massal intra urban
(Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya dan Lamongan).
e.meningkatkan kapasitas dan kualitas pelayanan utilitas kota yang memenuhi standar
internasional.
f.meningkatkan kualitas pelayanan pemerintahan yang mendukung terjaganya minat
investasi pasar modal
g.memantapkan aksesibilitas metropolitan Gerbangkertosusila Plus ke kota-kota Pusat
Kegiatan Nasional lainnya di Pulau Jawa dan wilayah nasional lainnya, melalui
peningkatan kualitas sistem jaringan transportasi darat, laut dan udara.
h.meningkatkan kualitas lingkungan hidup yang menjamin kesejahteraan dan kreativitas
masyarakat Surabaya dan sekitarnya.
i.meningkatkan kemampuan kerjasama pembangunan antar kota dan pengendalian
pemanfaatan ruang dan sumberdaya di wilayah Gerbang kertosusila Plus.
j.meningkatkan aksesibilitas Kota Surabaya ke kota-kota hiterland.
Pasal 69
Pokok-pokok kebijaksanaan sumber daya tanah, sumber daya air,
sumber daya udara dan tata guna sumber daya lainnya, meliputi:
a.kebijakan menjaga keseimbangan daya dukung air terhadap kebutuhan perkembangan
penduduk dan kegiatannya.
b.kebijakan menjaga keseimbangan daya dukung pangan khususnya beras terhadap
kebutuhan perkembangan penduduk.
c.kebijakan peningkatan pertumbuhan dan pengembangan ekonomi wilayah terhadap
pembangunan ekonomi nasional yang bertumpu pada ekonomi lokal, mengikuti
dan menyesuaikan perkembangan ekonomi dunia.
d.kebijakan peningkatan pertumbuhan ekonomi dalam rangka menciptakan pemerataan
pembangunan wilayah.
e.kebijakan pemanfaatan ruang wilayah secara optimal yang mencerminkan keterkaitan
antar sumber daya manusia, sumber daya alam dan sumber daya buatan.
f.kebijakan pelaksanaan rencana tata ruang melalui upaya pemanfaatan dan
pengendalian secara terbuka, berkeadilan menjunjung tinggi hukum, persamaan
serta berorientasi pada pelayanan umum pada semua lapisan masyarakat.
Pasal 70
(1)Untuk mewujudkan keserasian pemanfaatan ruang ldaerah, sumber daya air dan
udara di Provinsi Jawa Timur, maka diperlukan koordinasi dan kerjasama
pemanfaatan ruang antar kabupaten/kota sesuai ketentuan peraturan

perundang-undangan yang berlaku.


(2)Untuk menjamin terwujudnya keseraian pemanfaatan ruang daerah maka diperlukan
kerjasama dalam pemanfaatan ruang antar kabupaten/kota, yang mengacu pada
peta potensi wilayah berdasarkan hasil pemetaan yang terkoordinasi antara
provinsi dan seluruh kabupaten/kota.
BAB V
PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG
Pasal 71
(1)Pengendalian pemanfaatan ruang diselenggarakan melalui kegiatan pengawasan dan
penertiban terhadap pemanfaatan ruang.
(2)Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah usaha untuk menjaga
kesesuaian pemanfaatan ruang dengan fungsi ruang yang ditetapkan dalam
rancarigan tata ruang.
(3)Dalam pengawasan akan mencakup kegiatan :
a.meningkatkan dan memantapkan fungsi kelembagaan Badan Koordinasi
Penataan Ruang Daerah (BKPRD) baik tingkat provinsi maupun
kabupaten/kota dalam melaksanakan pengawasan.
b.pemantauan, usaha atau perbuatan mengamati,
c.mengawasi dan memeriksa dengan cermat perubahan kualitas tata ruang dan
lingkungan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang.
d.evaluasi, usaha untuk menilai kemajuan pemanfaatan ruang dan kesesuaiannya
dengan rencana tata ruang baik dampak positif maupun dampak negatif
yang ditimbulkan.
(4)Penertiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah usaha untuk mengambil
tindakan agar pemanfaatan ruang yang direncanakan dapat terwujud.
Pasal 72
Pengendalian pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud, dalam Pasal
71, meliputi :
a.pengendalianpemanfaatan ruang di kawasan lindung
b.pengendalian pemanfaatan ruang di kawasan budidaya
c.pengendalian pemanfaatan ruang di kawasan perdesaan
d.pengendalian pemanfaatanruang di kawasan perkotaan
e.pengendalian pemanfaatan ruang di kawasan diprioritaskan
Pasal 73
(1)Pengendalian pemanfaatan ruang di kawasan lindung sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 72 huruf a adalah upaya pengawasan dan penertiban terhadap
kawasan-kawasan yang telah ditetapkan sebagai kawasan lindung (kawasan
suaka alam, kawasan pelestarian alam, dan kawasan perlindungan bawahan)
sesuai dengan arahan pengelolaan kegiatan untuk masing-masing kategori
kawasan lindung yang ada.
(2)Pengendalian pemanfaatan ruang di kawasan budidaya sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 72 huruf b adalah upaya pengawasan dan penertiban terhadap kawasan

budidaya tidak terbangun (Kawasan hutan produksi, kawasan pertanian lahan


kering, kawasan pertanian lahan basah, kawasan perkebunan, kawasan
perikanan, dsb) maupun kawasan budidaya terbangun (kawasan perumahan,
kawasan perdagangan, kawasan industri, dsb) sesuai dengan arahan
pengembangan kegiatan dan pemanfaatan ruang untuk tiap jenis kawasan
budidaya yang ada, antar kawasan budidaya, maupun adanya perubahan jenis
pemanfaatan ruang dari jenis kegiatan budidaya tertentu ke jenisnya.
(3)Pengendalian pemanfaatan ruang di kawasan perdesaan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 72 huruf c adalah upaya pengawasan dan penertiban terhadap
pemanfaatan ruang di kawasan perdesaan sesuai dengan rencana tata ruang.
(4)Pengendalian pemanfaatan ruang di kawasan perkotaan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 72 huruf d adalah upaya pengawasan dan penertiban terhadap
pemanfaatan ruang di kawasan perkotaan sesuai dengan rencana tata ruang.
(5)Pengendalian pemanfaatan ruang di kawasan diprioritaskan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 72 huruf e adalah upaya pengawasan dan penertiban terhadap
pemanfaatan ruang di kawasan-kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan
diprioritaskan yang telah ditentukan sebelumnya sesuai dengan rencana tata
ruang.
Pasal 74
(1)Jenis kegiatan penertiban pemanfaatan ruang termasuk tata guna tanah, tata guna air,
tata guna udara dan tata guna sumber daya alam lainnya, meliputi:
a.pada kawasan lindung:
i.diterapkan ketentuan-ketentuan yang berlaku tentang analisis mengenai
dampak Iingkungan hidup bagi berbagai usaha dan/atau
kegiatanyang sudah ada di kawasan lindung dan/atau berhimpit
dengan kawasan lindung yang mempunyai dampak besar dan
penting terhadap lingkungan hidup.
ii.diterapkan ketentuan-ketentuan untuk mengembalikan fungsi lindung
kawasan yang telah terganggu kepada fungsi lindung yang
dilakukan secara bertahap.
iii.diterapkan peraturan yang mewajibkan dilaksanakannya kegiatan
perlindungan terhadap lingkungan hidup dan rehabilitasi daerah
bekas penambangan pada kawasan lindung.
b.pada kawasan budidaya, kawasan perdesaan, kawasan perkotaan dan kawasan
diprioritaskan dengan menegakkan prosedur perijinan dalam mendirikan
bangunan di kabupaten/kota untuk menjamin pelaksanaan kegiatan sesuai
dengan peruntukan ruang dan kegiatan yang direncanakan.
(2)Terhadap pemanfaatan ruang di kawasan pengendalian ketat sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 60 harus mendapat izin dari Gubernur.
Pasal 75
(1)Pendayagunaan mekanisme perijinan pemanfaatan ruang dan lokasi pembangunan
merupakan bagian dari pengendalian terhadap pemanfaatan ruang wilayah agar
pemanfaatan ruang atau pembangunan sesuai dengan RTRW Provinsi.
(2)Pendayagunaan mekanisme perijinan pemanfaatan ruang dan lokasi pembangunan

dilakukan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut :


a.tahap gagasan/ide
b.tahap pemberian ijin lokasi
c.tahap kegiatan pembangunan
d.tahap kegiatan berusaha
e.tahap perubahan pembangunan
f.tahap evaluasi kesesuaian pemanfaatan ruang dengan Rencana Tata Ruang
Wilayah
(3)Tahap gagasan/ide sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a yaitu
investor/masyarakat/pemerintah memberi suatu studi kelayakan seperti prastudi
kelayakan, studi kelayakan, kelayakan ekonomi dan lihgkungan.
(4)Tahap pemberian ijin lokasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b meliputi :
a.persetujuan prinsip percadangan tanah.
b.persetujuan penguasaan peruntukan ruang.
c.persetujuan pembebasan peruntukan ruang.
d.persetujuan ruang.
e.persetujuan tetangga sekitar.
f.penyelesaian administrasi pertanahan.
(5)Tahap kegiatan pembangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c yaitu
pengaturan dan pengendalian proses fisik pembangunan kawasan lindung,
kawasan budidaya dan kawasan tertentu yang terdapat pada wilayah
perencanaan.
(6)Tahap kegiatan berusaha sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d yaitu
mengontrol kegiatan-kegiatan berusahal usaha yang diisyaratkan sehingga
tercapai pertumbuhan ekonomi wilayah yang diharapkan.
(7)Tahap perubahan pembangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf e yaitu
upaya penyesuaian fungsi-fungsi kawasan sesuai dengan perkembangan yang
terjadi serta dampak-dampak yang ditimbulkannya.
(8)Penataan yang dilakukan oleh seluruh pihak terkait dengan pelaksanaan RTRW
Provinsi sebagai kebijakan matra ruang akan diberikan insentif atau disinsentif
yang akan diatur dengan Peraturan Gubernur
Pasal 76
Aparatur pemerintah dalam kegiatan penataan ruang wilayah Provinsi Jawa Timur sesuai
dengan kewenangannya wajib berlaku tertib dalam keikutsertaannya dalam proses
penataan ruang.
Pasal 77
(1)Terhadap aparatur pemerintah yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 76 dikenakan sanksi administratif sesuai ketentuan
perundang-undangan yang berlaku
(2)Mekanisme pemanggilan, pemeriksaan dan penjatuhan sanksi administratif dilakukan
sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku
BAB VI
HAK, KEWAJIBAN, DAN PERAN SERTA MASYARAKAT

Pasal 78
Dalam kegiatan mewujudkan pemanfaatan ruang wilayah, masyarakat
berhak :
a.berperan serta dalam proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan
pengendalian pemanfaatan ruang.
b.mengetahui secara terbuka RTRW Provinsi, rencana tata ruang kawasan, rencana rinci
tata ruang kawasan.
c.menikmati menata ruang dan/atau pertambahan nilai ruang sebagai akibat dari
penataan ruang.
d.memperoleh penggantian yang layak atas kondisi yang dialaminya sebagai akibat
pelaksanaan kegiatan pembangunan yang sesuai dengan rencana tata ruang.
Pasal 79
(1)Untuk mengetahui rencana tata ruang, selain dari Lembaran Daerah masyarakat dapat
mengetahui rencana tata ruang yang telah ditetapkan melalui pengumuman atau
penyebarluasan oleh Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota.
(2)Kewajiban untuk menyediakan media pengumuman atau penyebarluasan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui penempelan/pemasangan
peta rencana tata ruang yang bersangkutan pada tempat-tempat umum dan juga
pada media massa, serta melalui pembangunan sistem intormasi tata ruang.
Pasal 80
(1)Dalam menikmati manfaat ruang dan/atau pertambahan nilai ruang sebagai akibal
penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 78 hurut c, pelaksanaannya
dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundan-undangan atau kaidah
yang berlaku.
(2)Untuk menikmati dan memanfaatkan ruang beserta sumberdaya alam yang
terkandung didalamnya, menikmati manfaat ruang sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) yang dapat berupa manfaat ekonomi, sosial, dan Iingkungan dilaksanakan
atas dasar pemilikan, penguasaan, atau pemberian hak tertentu berdasarkan
ketentuan peraturan perundang-undangan ataupun atas hukum adat dan
kebiasaan yang berlaku atas ruang pada masyarakat setempat.
Pasal 81
(1)Hak memperoleh penggantian yang layak atas kerugian terhadap perubahan status
semula yang dimiliki oleh masyarakat sebagai akibat pelaksanaan RTRW Provinsi
diselenggarakan dengan cara musyawarah antara pihak yang berkepentingan.
(2)Dalam hal tidak tercapai kesepakatan mengenai penggantian yang layak sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) maka penyelesaiannya dilakukan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 82
(1)...

(2)...
a.menerima, mencari, mengumpulkan dan meneliti keterangan atau laporan
berkenaan dengan tindak pidana di bidang penataan ruang agar
keterangan atau laporan tersebut menjadi lengkap dan jelas;
b.meneliti, mencari dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi atau
badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan di bidang
penataan ruang;
c.meminta keterangan dan bahan bukti dari pribadi atau badan sehubungan
dengan tindak pidana di bidang penataan ruang;
d.memeriksa buku-buku catatan-catatan dan dokumen-dokumen lain berkenaan
tindak pidana di bidang penataan ruang
e.melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan,
pencatatan dan dokumen-dokumen lain serta melakukan penyitaan
terhadap bahan bukti tersebut
f.meminta bantuantenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak
pidana di bidang penataan ruang
g.menyuruh berhenti dan atau melarang seseorang meninggalkan ruangan atau
tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa
identitas orang dan atau dokumen yang dibawa sebagaimana dimaksud
pada huruf e
h.memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana di bidang penataan
ruang
i.memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa sebagai
tersangka atau saksi
j.menghentikan penyidikan
k.melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana
di
bidang
penataan
ruang
menurut
hukum
yang
dapat
dipertanggungjawabkan.
(3)Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahukan dimulainya
penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada penuntut umum
sesuai dengan ketentuan perundang- undangan yang berlaku.
BAB IX
KETENTUAN LAIN-LAIN
Pasal 90
(1)RTRW Provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dilengkapi dengan lampiran
berupa buku Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Timur 2005 - 2020 dan
album peta.
(2)Buku rencana sebagaimana dimaksud pada ayat (1), terdiri dari:
Bab I :Pendahuluan
Bab II :Potensi, Masalah dan Prospek Pengembangan Wilayah
Bab III :Strategi Pemanfaatan Ruang Wilayah Jawa Timur
Bab IV:Arahan Pengelolaan Pemanfaatan Ruang Wilayah Jawa Timur
Bab V :Pengendalian Pemanfaatan Ruang
Bab VI:Hak, kewajiban dan peranserta masyarakat
Bab VII
:
Penutup

(3)Buku RTRW Provinsi dan album peta sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
merupakan bagian tidak terpisahkan dari peraturan daerah ini.
Pasal 91
RTRW Provinsi berfungsi sebagai kebijakan matra ruang dari RPJP untuk penyusunan
RPJMD pada periode berikutnya.
Pasal 92
RTRW Provinsi digunakan sebagai pedoman bagi :
a.perumusan kebijaksanaan pokok pemanfaatan ruang di wilayah.
b.Mewujudkan keterpaduan, keterkaitan, dan keseimbangan perkembangan antar
wilayah Provinsi serta keserasian antar sektor.
c.pengarahan lokasi investasi yang dilaksanakan Pemerintah
d.dan atau masyarakat.
e.penataan ruang wilayah Kabupaten/Kota yang merupakan dasar dalam pengawasan
terhadap perijinan lokasi pembangunan.
Pasal 93
Terhadap RTRW Provinsi dapat dilakukan peninjauan kembali 5 (lima) tahun sekali.
BAB X
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 94
Pada saat mulai berlakunya peraturan daerah ini, maka semua RTRW Kabupaten/Kota
dali sektoral yang berkaitan dengan penataan ruang di daerah tetap berlaku sepanjang
tidak bertentangan dengan RTRW Provinsi.
BAB XI
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 95
Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini, maka Peraturan Daerah Provinsi Daerah
Tingkat I Jawa Timur Nomor 4 Tahun 1996 Tentang RTRW Provinsi Jawa Timur Tahun
1997/1998 - 2011/2012 dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
Pasal 96
Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini sepanjang mengenai
pelaksanaannya akan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Gubernur.
Pasal 97

Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.


Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini
dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Provinsi Jawa Timur.
Ditetapkan di Surabaya
pada tanggal 7 Juli 2006
GUBERNUR JAWA TIMUR
ttd
H. IMAM UTOMO. S
Diundangkan di Surabaya
Pada tanggal 7 Juli 2006
SEKRETARIS DAERAH
PROVINSI JAWA TIMUR
ttd.
Dr. H. SOEKARWO, SH, M.Hum
LEMBARAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2006 NOMOR 2 TAHUN 2006
SERI E.
PENJELASAN ATAS
PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR
NOMOR 2 TAHUN 2006
TENTANG
RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI JAWA TIMUR
I.PENJELASAN UMUM
Perkembangan pembangunan di wilayah Provinsi Jawa Timur sepuluh tahun terakhir
nampak terlihat adanya ketimpangan pertumbuhan ekonomi di masing-masing
wilayah yang berdampak tidak seimbangnya berkembang wilayah kabupaten/kota.
Ketimpangan tersebut terlihat semakin lebarnya disparitas antara wilayah permukiman
perdesaan dengan perkembangan permukiman, perkotaan. Yang nampak terjadi
adalah suatu supremasi wilayah perkotaan tertentu yang menimbulkan urbanisasi
ke wilayah perkotaan semakin tinggi. Akibatnya sangat dirasakan, wilayah
tersebut, yaitu semakin padatnya wilayah perkbtaan karena melebihi daya
tampungnya. Selain itu kerusakan kawasan hutan lindung dan kerusakan
lingkungan lainnya yang dengan sengaja dirusak oleh sekelompok masyarakat
secara sporadis serta lemahnya fungsi kontrol dari aparat pemerintah baik tingkat
provinsi maupun kabupaten/kota dalam pengelolaan hutan dan lingkungan
lainnya. Dampak dari kerusakan hutan dan lingkungan nyata-nyata merugikan
masyarakat.
Pembangunan wilayah sangat erat kaitannya dengan pengembangan wilayah yang

berdampak pada pemanfaatan lahan. Namun apabila pengembangan wilayah


tanpa memperhatikan daya dukung lahan, dipastikan akan menimbulkan
kegagalan dalam pembangunan. Dengan demikian, maka dalam pelakssanaan
pembangunan yang berwawasan tataruang harus mengedepankan aspek
keberlanjutan pembangunan. Hal-hal berkait dengan pelestarian alam, upaya
mempertahankan keanekaragaman hayati, keseimbangan ekosistem harus
menjadi pertimbangan utama.
Berlakunya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang pemerintahan daerah
diartikan sebagai masa kebebasan kabupaten/kota sebagai daerah dalam
melakukan percepatan pertumbuhan wilayahnya tanpa memperhatikan
kepentingan wilayah lain yang mempunyai ikatan erat antar wilayah yang
bersebelahan. Undang-Undang tersebut memang menyebutkan bahwa wilayah
kabupaten/kota mempunyai kewenangan yang sebesar-besarnya dalam
pengembangan wilayahnya. Kondisi inilah pada akhirnya yang menimbulkan
masalah pengendalian pemanfaatan lahan yang bersifat regional maupun nasional
terabaikan.
Pemberlakuan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah
menyebutkan adanya kewenangan provinsi sebagai daerah otonom dimana dalam
hal penyusunan tata ruang wilayah provinsi harus berdasarkan keserasian antar
wilayah kabupaten/kota.
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) pada dasarnya ,merupakan kebijakan
perencanaan pembangunan daerah untuk digunakan sebagai pedoman dalam
pemanfaatan dan pengendalian ruang.
Berbagai program pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah, swasta maupun
masyarakat harus mengacu pada arahan perencanaan tata ruang, sehingga ruang
yang terbatas dapat dimanfaatkan secara optimum, dengan tetap
mempertahankan prinsip-prinsip: daya dukung kingkungan, keseimbangan alam
dan keberlanjutan dalam jangka panjang.
Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi mempunyai fungsi sebagai pengendali
pemanfaatan ruang wilayah kabupaten/kota dan menyelaraskan keseimbangan
perkembangan antar wilayah, sehingga pertumbuhan wilayah di Provinsi Jawa
Timur bisa tumbuh bersama-sama antar wilayah sesuai dengan potensi
sumberdaya alam yang dimilikinya.
Berdasarkan Undang-Undang 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang menyebutkan
bahwa penyusunan rencana tata ruang harus sesuai hierakinya, sedangkan
menurut Undang-Undang 32 Tahun 2004 rencana tata ruang disusun berdasarkan
kesepakatan antar wilayah. Dengan demikian penyusunan Rencana Tata Ruang
Wilayah Provinsi harus disusun berdasarkan konsep Top Down dan Bottom Up
Planning meliputi tata ruang daratan, lautan dan udara beserta sumber daya alam
yang terkandung didalamnya sebagai satu kesatuan, yang dapat dimanfaatkan
berdasar wawasan lingkungan.
Seluruh kajian analisa teknis pemanfaatan lahan yang meliputi kawasan lindung dan
budidaya harus dituangkan dalam peraturan daerah Provinsi Jawa Timur, yang
harus dipatuhi oleh semua elemen stakeholder mulaipemerintah, swasta dan
masyarakat sebagai suatu ketentuan hukum yang dijadikan pedoman untuk
pemanfaatan lahan.
Peraturan Daerah Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Timur disusun
berdasarkan pada Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 134 tahun 1998

tentang Pedoman Penyusunan Peraturan Daerah Tentang Tata Ruang di Daerah.


Peraturan Daerah Tentang Tata Ruang Wilayah Provinsi ini memberi kewenangan
kepada Gubernur untuk mengendalikan pemanfaatan lahan yang bersifat lintas
batas dan regional seperti apa yang termuat dalam Undang-Undang Nomor 32
Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah. Secara umum peraturan daerah
tentang rencana tata ruang wilayah provinsi ini berisikan tentang arahan
pemanfaatan dan pengendalian penggunaan lahan sesuai substansi yang telah
diatur dalam Undang-Undang 24 Tahun 1992.
II.PENJELASAN PASAL DEMI PASAL
Pasal 1 :Cukup jelas.
Pasal 2 :Pengertian ruang yang diatur dalam peraturan ini dititik beratkan pada
ruang daratan yaitu ruang yang terletak diatas dan dibawah
permukaan bumi daratan sejauh terkait langsung dengan
penggunaan diatasnya, termasuk permukaan permukaan perairan
darat dan sisi darat dari garis laut atau surut terendah.
Ketentuan mengenai penataan ruang lautan dan ruang udara akan diatur'
lebih lanjut sesuai peraturan yang berlaku
Pasal 3 :Cukup jelas.
Pasal 4 :Yang dimaksud dengan semua kepentingan adalah bahwa penataan
ruang dapat menjamin seluruh kepentingan, yakni kepentingan
pemerintah dan masyarakat secara adil dengan memperhatikan
golongan ekonomi lemah. Yang dimaksud dengan terpadu adalah
bahwa penataan ruang dianalisis dan dirumuskan menjadi satu
kesatuan dari berbagai kegiatan pemanfaatan ruang baik oleh
pemerintah maupun masyarakat. Penataan ruang dilakukan secara
terpadu dan menyeluruh mencakup antara lain pertimbangan aspek
waktu, modal, optimasi, daya dukung dan daya dukung lingkungan
hidup dan geopolitik. Dalam mempertimbangkan aspek waktu, suatu
perencanaan tata ruang memperhatikan adanya aspek prakiraan,
ruang lingkup wilayah yang direncanakan, persepsi yang
mengungkapkan berbagai keinginan serta kebutuhan dan tujuan
pemanfaatan ruang. Penataan ruang diselenggarakan secara tertib
sehingga memenuhi proses dan prosedur yang berlaku serta
konsisten.
Yang dimaksud dengan berdaya guna dan berhasil guna adalah bahwa
penataan ruang dapat mewujudkan kualitas ruang yang sesuai
dengan potensi dan fungsi ruang. Yang dimaksud dengan serasi,
selaras, dan seimbang adalah bahwa penataan ruang dapat
menjamin terwujudnya keserasian, keselarasan, dan keseimbangan
struktur dan pola pemanfaatan ruang bagi persebaran penduduk
antar wilayah, pertumbuhan dan perkembangan antar sektor, antar
daerah serta antara sektor dalam satu kesatuan Wawasan
Nusantara. Yang dimaksud dengan berkelanjutan adalah bahwa
penataan ruang menjamin kelestarian kemampuan daya dukung
sumber daya alam dengan memperhatikan kepentingan antar
generasi. Serta memiliki makna mengedepankan keseimbangan

ekosistem wilayah, dan keanekaragaman hayati.


Pasal 5 : Cukupjelas.
Pasal 6
ayat (1) : Cukupjelas.
ayat (2)
huruf a :Arahan Struktur Pemanfaatan Ruang merupakan kebijakan
penyusunan unsur-unsur pembentuk rona lingkungan
alam, lingkungan sosial, dan lingkungan buatan yang
digambarkan secara hirarkis dan berhubungan satu
dengan yang lainnya membentuk struktur ruang
provinsi. Isi arahan struktur pemanfaatan Ruang
diantaranya. meliputi hirarki pusat-pusat permukiman
perkotaan dan perdesaan, hirarkhi sarana dan
prasarana, sistem jaringan transportasi seperti sistem
jalan arteri, jalan kolektor, dan kelas terminal.
Sedangkan Pola Pemanfaatan Ruang menggambarkan
kebijakan letak, ukuran, fungsi dari kegiatan-kegiatan
budidaya dan lindung.
huruf b : Cukup jelas.
huruf c :Arahan pengelolaan kawaan lindung dan budidaya
merupakan arahan yang ditekankan pada kawasan
konservasi dan kawasan yang dapat dikembangkan
sebagai kawasan budidaya.
huruf d :Arahan pengelolaan kawasan perdesaan, perkotaan, dan
tertentu mencakup. strategi yang ditempuh untuk lebih
meningkatkan hubungan/keterkaitan fungsi antar
kawasan serta keterkaitannya dengan sistem jaringan
prasarana transportasi dan sistem prasarana lainnya.
Dalam hal ini perlu ditentukan bagaimana kota dikembangkan
agar dapat memicu pertumbuhan dan pemerataan,
bagaimana desa dikembangkan sesuai dengan
strategi pengembangan kawasan produksi, serta
bagaimana kawasan tertentu dikembangkan sesuai
dengan strategi pengembangan sektor produksi.
huruf e :Arahan ini mencakup penentuan pusat-pusat permukiman
perdesaan, permukiman perkotaan dan keterkaitan di
antara pusat-pusat permukiman perdesaan dan
perkotaan, serta kebijakan pengembangannya dengan
melihat struktur kotakota di wilayah provinsi.
huruf f :Arahan pengembangan sistem prasarana wilayah meliputi
prasarana transportasi darat, laut, dan udara yang
terkait sehingga dapat menghubungkan atau terjadi
interkoneksitas antara wilayah.
huruf g :Arahan pengembangan kawasan diprioritaskan meliputi dua
kawasan prioritas, antara lain :
Kawasan yang relatif cepat pertumbuhan/ perkembangan

kegiatannya serta Kawasan yang di dalamnya


dimungkinkan bagi perkembangan sektor-sektor
strategis
dan
memberikan
sumbangan
bagi
perkembangan wilayah.
huruf h :Arahan pengembangan pesisir sumberdaya kelautan pada
pulau-pulau
kecil
didasarkan
potensi
keaneka-ragaman hayati yang bernilai ekonomi tinggi
serta upaya pelestarian Iingkungan.
huruf i :Arahan kebijaksanaan tata guna tanah, tata guna air dan tata
guna udara, berisi arahan mengenai penguasaan,
penggunaan, dan pemanfaatan sumber daya alam
yang dijabarkan dalam mekanisme penguasaan,
penggunaan,
dan
pemanfaatan
serta
pengendaliannya.
huruf j :Cukup jelas
Pasal 7 :Arahan pengelolaan struktur ruang meliputi:
a.pembentukah pusat permukiman perdesaan dah perkotaan secara
berhirarkidan saling berhubungan mulai dari tingkat dusun desa - kota sampai ibukota provinsi sebagai satu sistem.
b.setiap pusat pengembangan perlu didorong pertumbuhannya
sehingga akan tercipta keseimbangan perkembangan antar
wilayah.
c.setiap pusat pelayanan memiliki jangkauan sesuai dengan
tingkatan pelayanan masing-masing yang sesuai dengan
kelengkapan fasilitas yang dimiliki serta hubungan antar
wilayah yang ada.
d.struktur pemanfaatan ruang perdesaan dan perkotaan secaara
keseluruhan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari
struktur tata ruang nasional, provinsi dan kota/ kabupaten.
e.memantapkan fungsi wilayah melalui penetapan fungsi dan peran
wilayah dalam konteks lokal, regional dan nasional.
f.untuk mewujudkan struktur ruang yang mantap dan berhirarki,
maka antara pusat pelayanan perdesaan dan perkotaan
dikembangkan sebagai satu kesatuan mulai dari pusat satuan
wilayah pengembangan, sub pusat satuan wilayah
pengembangan, Ibukota Kecamatan, Pusat Antar Desa, Pusat
Desa, sampai Pusat Perdusunan.
Pasal 8 ayat (1) :Cukup jelas
ayat (2)
huruf a :Pusat pelayanan yang melingkupi beberapa desa dalam
satu kecamatan
huruf b :Pusat pelayanan yang diperlukan pada setiap desa sesuai
dengan besaran dan ukuran desa masing-masing
huruf c :Setiap desa pada dasarnya terdiri dari tiap dusun dan tiap
dusun mempunyai pusat pelayanan sendiri

Pasal 9 : Cukup jelas


Pasal 10:
ayat (1) :Tingkat perkembangan antar wilayah kota dan perkotaan di
Provinsi Jawa Timur yang secara keseluruhan memiliki
tata jenjang sesuai dengan tingkat perkembangan tiap
kota dan perkotaan masing-masing.
ayat (2) :Menggambarkan ukuran besaran perkotaan yang diindikasikan
dengan adanya berbagai kelengkapan fasilitas
penunjang.
ayat (3) :Menggambarkan skala pelayanan serta adanya interaksi
perkotaan dengan area disekitarnya, sehingga dalam
satu
wilayah
pelayanan
memiliki
pusat
pengembangan.
ayat (4) :Dalam satuan wilayah pengembangan, terdapat fungsi wilayah dan
pusat pengembangan dengan potensi sesuai
karakeristik wilayah.
Pasal 11:Cukup jelas.
Pasal 12:Cukup jelas.
Pasal 13
huruf a:
Kawasan suaka alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu baik
didarat maupun di perairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai
kawasan pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa
beserta ekosistemnya.
huruf b:
Kawasan pelestarian alam adalah kawasan yang mempunyai fungsi
perlindungan, sistem penyangga, pengewetan keaneka ragaman
jenis tumbuhan dan satwa.
huruf c:
Kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan adalah tempat serta ruang
disekitar bangunan bernilai tinggi, situs purbakala.
huruf d:
Kawasan perlindungan bawahan adalah kawasan yang digunakan sebagai
zona penyangga untuk melindungi kawasan disekitarnya.
huruf e:
Kawasan perlindungan setempat merupakan kawasan yang digunakan
untuk melindungi sumber daya alam seperti sempadan pantai,
sungai danau, mata air.
huruf f:
Kawasan rawan beneana alam adalah area yang diidentifikasi sebagai

daerah dengan rawan tanah longsor, banjir, gempa dsb.


Pasal 14
ayat (1) huruf a:
Cagar alam merupakan kawasan perlindungan mutlak, yang memiliki luas
areal 10.947,90 ha maka kawasan tersebut harus tetap
dipertahankan dan diupayakan untuk tidak terjadi alih fungsi lahan.
huruf b:
Suaka margasatwa di Provinsi Jawa Timur memiliki luas 18.008,6 ha
merupakan areal dimana masih banyak flora fauna yang dilestarikan
sehingga kawasan tersebut dapat di kembangkan sebagai obyek
wisata alam dengan tetap memperhatikan fungsi lindung dan
diupayakan tidak di alih fungsi.
ayat (2) : Cukup jelas
ayat (3) : Cukup jelas
Pasal 15 ayat (1)
huruf a :
Taman nasional di Provinsi Jawa Timur seluas 178.291,30 ha dan terdapat
di empat lokasi, dimana kawasan tersebut merupakan wilayah
dengan fungsi lindung disamping sebagai pengembangan obyek
wisata dan diupayakan untuk tidak terjadi alih fungsi lahan.
huruf b :
Taman hutan raya R Soeryo terdapat di tiga wilayah dengan luas areal
27.868,30 ha, kawasan tersebut memiliki fungsi sebagai kawasan
lindung dimana air dapat langsung berintrusi ketanah dan
diupayakan untuk tidak terjadi alih fungsi lahan.
huruf c:
Kawasan taman wisata alam merupakan kawasan yang dilestarikan dan
digunakan sebagai tempat wisata, adapun luas taman wisata alam di
Provinsi Jawa Timur 297,5 ha dan diupayakan untuk tidak terjadi alih
fungsi lahan.
ayat (2) s/d (4) : Cukup jelas
Pasal 16 ayat (1)
huruf a :
Kawasan lingkungan non bangunan adalah kawasan eagar budaya yang
dikembangkan sebagai tempat pengembangan ilmu pengetahuan
seperti adanya situs peningalan bersejarah yang dapat di
kembangkan sebagai taman wisata pendidikan.
huruf b :
Kawasan lingkungan bangunan non gedung yang dimaksud adalah suatu
tempat yang dapat di peruntukan sebagai cagar budaya bersejarah
dengan bentuk bangunan non gedung yang harus dilestarikan.
huruf c :

Kawasan lingkungan bangunan gedung dan halamannya merupakan cagar


budaya yang bersifat pelestarian terhadap bangunan kona
peninggalan bersejarah yang harus dilestarikan sebagai ciri cagar
budaya setempat.
huruf d :
Kebun raya merupakan tempat pelestarian flora dan jenis tumbuhan lainnya
yang sekaligus dapat berfungsi sebagai taman rekreasi/tempat
wisata.
ayat (2) s/d (5) : Cukup jelas
Pasal 17 ayat (1)
huruf a :
Hutan Lindung, kawasan dengan sifat khas yang mampu memberikan
perlindungan kawasan sekitarnya dan bawahannya sebagai
pengatur tata air, pencegaherosi dan banjir yang mutlak fungsinya
sebagai penyangga kehidupan tidak dapat dialihkan peruntukannya.
huruf b :
kawasan perlindungan setempat (KPS) sekitar wadukldanau ditetapkan
dalam RTRW kabupaten/kota, yang lebarnya antara 50 - 100 meter
dari titik pasang tertinggi kearah darat.
huruf c :
kawasan perlindungan setempat (KPS) sempadan sungai terdiri atas
sungai di kawasan bukan permukiman sekurang-kurangnya 100
meter dan anak sungai sekurang - kurangnya 50 meter, dan
direncanakan secara merata di seluruh wilayah Jawa Timur.
huruf d :
kawasan perlindungan setempat (KPS) sempadan pantai secara umum
ditetapkan sekurang - kurangnya 100 meter dari titik pasang tertinggi
untuk kawasan pesisir, Sedangkan sekurang - kurangnya 130 x
rata-rata perbedaan pasang tertinggi dan surut air terendah, untuk
pesisir pulau-pulau kecil.
huruf e :
kawasan perlindungan setempat sempadan sungai di kawasan permukiman
berupa sempadan sungai ditetapkan sekurang-kurangnya 10 meter
huruf f :
kawasan perlindungan mangrove adalah kawasan tempat tumbuhnya
tanaman mangrove di wilayah pesisir/laut yang berfungsi untuk
melindungi habitat, ekosistem, dan aneka biota laut, melindungi
pantai dari sedimentasi, abrasi dan proses akresi (pertambahan
pantai) dan mencegah terjadinya pencemaran pantai.
Kawasan Perlindungan Setempat (KPS) sempadan pantai berhutan bakau
minimal 130 kali rata rata perbedaan air pasang tertinggi dan
terendah tahunan diukur dari garis air surut terendah kearah darat
yang merupakan habitat hutan bakau/mangrove.
Adapun kawasan perlindungan mangrove meliputi sepanjang pantau utara
dan pantai selatan Jawa Timur
huruf g :

Kawasan lindung untuk kawasan terbuka hijau kota adalah termasuk


didalamnya hutan kota, meliputi kawasan permukiman industri, tepi
sungai, pantai dan jalan dikawasan perkotaan.
Pasal 19 ayat (1)
huruf a :
Kawasan rawan letusan gunung berapi di Jawa Timur berada pada lereng
gunung berapi yang masih aktif. Terdapat 12 gunung berapi aktif di
Jawa Timur serta lokasi yang merupakan wilayah rawan bencana
letusan.
huruf b :
Kawasan rawan banjir, rawan gempa, gerakan tanah dan longsor di
Provinsi Jawa Timur terletak pada bagian selatan, namun yang perlu
di waspadai adalah gerakan tanah yang berada di bagian laut
selatan yang dapat menimbulkan bahaya tsunami bila terjadi gempa
Wilayah rawan bencana terutama tanah longsor, banjir lumpur, erosi,
dan wilayah aliran lahar gunung berapi terutama yang mempunyai
tektur tanah halus dan ketebalan soil melebihi 90 cm.
huruf c :
Penetapan wilayah rawan tsunami didasarkan pada angka kejadian di masa
lalu serta keberadaan lempeng tektonik. Berdasarkan Kondisi
geologi, selain kaya akan sumberdaya alam wilayah selatan Jawa
juga merupakan daerah dengan tingkat kerawanan yang tinggi
terhadap bencana alam, seperti rawan gempa tektonik dan vulkanik
disepanjang "ring of fire" dari Sumatra - Jawa - Bali.
Ayat (2) s/d (4) : Cukup jelas
Pasal 20
huruf a :
Kawasan hutan produksi merupakan kawasan hutan yang digunakan untuk
keperluan budidaya.
huruf b :
Kawasan pertanian merupakan lahan yang digunakan untuk tanaman
pangan dan hortikultura sesuai dengan pola tanamnya yang
perairannya dapat diperoleh seeara alamiah maupun teknis.
huruf c :
Kawasan yang digunakan sebagai perikanan budidaya berupa
pertambakan, budidaya rumput laut, budidaya ikan air tawar dan
tangkap.
huruf d :
Kawasan perkebunan merupakan lahan yang digunakan bagi tanaman
perkebunan tahunan yang menghasilkan bahan pangan dan bahan
baku industri.
huruf e :
Kawasan yang diperuntukan bagi ternak besar, kecil dan unggas.
huruf f :
Kawasan pariwisata merupakan kawasan dengan luasan tertentu yang
dibangun atau disediakan untuk memenuhi kebutuhan pariwisata.

huruf g :
Kawasan permukiman merupakan kawasan yang diperuntukan sebagai
perkembangan lahan permukiman dan tidak berlokasi pada area
konservasi.
huruf h :
Kawasan industri merupakan kawasan yang diperuntukan bagi industri
yang berupa tempat pemusatan kegiatan industri yang dikelola oleh
satu manajemen perusahaan industri.
huruf i :
Kawasan yang digunakan dikarenakan terdapat sumber daya tambang
yang potensial untuk diolah guna menunjang pembangunan.
huruf j :
Kawasan perdagangan merupakan kawasan yang diperuntukan bagi
perdagangan yang berupa
tempat pemusatan kegiatan
perdagangan.
Pasal 21 : Cukup jelas.
Pasal 22
ayat (1 ) :
Rencana penggunaan tanah untuk persawahan dan pertanian tanaman
kering dengan memperhatikan daya dukung lahan rencana
pengembangan jaringan irigasi di Provinsi Jawa Timur, dan proyeksi
kebutuhan pang an serta potensi ekonomi maka sawah Irigasi
dipertahankan sebesar 991.678 ha, dengan peningkatan jaringan
irigasi semi teknis atau sederhana menjadi irigasi teknis seluas
101.725 ha yang tersebar di masing-masing wilayah sungai.
ayat (2) dan (3) : Cukup jelas
Pasal 23 : Cukup jelas
Pasal 24 : Cukup jelas
Pasal 25 :
penentuan pengembangan kawasan ternak dengan memperhatikan aspek :
a.potensi ternak yang dimiliki dalam suatu wilayah.
b.faktor daya dukung lingkungan antara lain ketersediaan sarana prasarana
produksi, potensi wilayah dan agroklimat yang mendukung untuk
pengembangan ternak
c.mempertahankan alih fungsi padang penggembalaan dan kebun hijauan
pakan ternak.
d.peningkatan produksi dengan menggunakan teknologi tepat guna, ramah
Iingkungan dangan memperhatikan produksi dan orientasi agribisnis
e.faktor keamanan dan kesehatan lingkungan
f.perlindungan masyarakat dari penyakit hewan menular.
Pasal 26 :
Cukup jelas.

Pasal 27 :
Pengembangan kawasan permukiman, harus berdasar pada peraturan daerah
dengan kriteria dasar, meliputi :
a.Perlu adanya pengaturan terhadap luas lahan terbangun dengan tak
terbangun pada kawasan pengembangan permukiman.
b.Perlu adanya penegasan batas kawasan terhadap kawasan non
permukiman.
c.Perlu adanya penetapan tinggi bangunan pada kawasan pengembangan
permukiman.
ayat (1) s/d (7) :
Cukup jelas
ayat (8) :
Kawasan perumahan adalah kawasan yang pemanfaatannya untuk peru
mahan dan berfungsi sebagai tempat tinggal atau lingkungan hunian
yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan.
Terkait dalam pemenuhan kebutuhan rumah bagi masyarakat
berpenghasilan rendah yang menjadi kewajiban Pemerintah untuk
merealisasikannya, dapat dibangun sendiri oleh pemerintah atau
dengan bantuan swasta sebagai pelaksana. Maka Pemerintah
Kabupaten/Kota menyediakan lahan untuk perumahan bagi
masyarakat berpenghasilan rendah di kawasan permukiman dengan
perbandingan 1 : 3 : 6 sesuai ketentuan dalam Keputusan Menteri
Perumahan Rakyat No.04/KPTS/BK 4 N/1995.
Pasal 28 :
Pasal 29 :
Pasal 30 :
Pasal 31 :
Pasal 32 :
Pasal 33 :
Pasal 34 :
Huruf b :
Istilah keterkaitan kawasan. Perkotaan - perdesaan merupakan penjabaran
dari istilah urban - rural linkages.
Pasal 35 :
Cukup jelas.
Pasal 36 :
Cukup jelas.

Pasal 37 :
Cukup jelas.
Pasal 38 :
Cukup jelas.
Pasal 39 :
Cukup jelas.
Pasal 40 :
Cukup jelas.
Pasal 41 :
Cukup jelas.
Pasal 42 ayat (1)
s/d (7) :
Cukup jelas.
ayat 8 :
Konservasi disini diartikan sebagai menjaga dan memanfaatkan kembali
prasarana transportasi.
Pasal 43 :
Cukup jelas.
Pasal 44 :
Cukup jelas.
Pasal 45 :
Penyediaan transportasi udara di Jawa Timur untuk dibedakan Bandara Udara
Umum dan Bandara Udara Khusus.
Terkait dengan tidak dikembangkannya Bandara Iswahyudi sebagai bandara
komersial dikarenakan bandara tersebut merupakan pusat pertahanan
skwadron tempur TNI - AU yang memiliki batas ruang udara tertentu.
Pasal 46 :
Cukup jelas.
Pasal 47 :
Cukup jelas.
Pasal 48 :
Pengembangan energi alternatif yang dapat dikembangkan antara lain tenaga
surya, kincir angin, microhydro, dan sebagainya.
Pasal 49 :
Prasarana sumber daya air direncanakan sesuai dengan kebutuhan peningkatan

sawah irigasi teknis, peningkatan pengairan dari irigasi non teknis atau
setengah teknis menjadi irigasi teknis.
Pasal 50 ayat (1)
s/d (4) :
Cukup jelas
ayat (5) :
Tipologi DAS dibagi menjadi daerah hulu sungai, daerah sepanjang aliran
sungai, daerah irigasi, daerah perkotaan dan industri, serta daerah
muara sungai.
Pasal 51 :
Cukup jelas
Pasal 52 :
Cukup jelas
Pasal 53
ayat (1 ) :
Cukup jelas
ayat (2)
huruf a :
Kawasan ekonomi potensial tersebut berperan mendorong
pertumbuhan ekonomi bagi kawasan disekitarnya, selain itu
dapat:
a. ...
b. ...
c. ...
d.Melakukan pembinaan kepada masyarakat melalui
pengembangan keanekaragaman pengolahan hasil
panen, pengenalan ilmu pengetahuan dan teknologi
secara inovatif dan sasaran pemasaran yang
dilakukan sehubungan dengan produksi yang
diciptakan.
e.Melakukan pendekatan dilakukan secara personal kepada
swasta agar dapat menarik semaksimal mungkin
kesempatan guna menunjang peningkatan pemasaran
yang secara langsung akan mempengaruhi tingkat
produktif dari hasil produksi.
huruf c :
Kawasan tertinggal merupakan wilayah kurang dalam hal perekonomian,
infrastruktur atau prasarana penunjang
huruf d :
Kawasan yang ditetapkan sebagai wilayah rawan terhadap bahaya gempa,
longsor, tsunami.
huruf e :
Kawasan khusus militer merupakan kawasan yang digunakan untuk

kepentingan pertahanan - keamanan nasional dan untuk


kepentingan militer.
huruf f :
Kawasan perbatasan merupakan kawasan yang terdapat di area
perbatasan antara provinsi, kabupaten dan kota.
huruf g :
Kawasan pengendalian ketat merupakan kawasan yang memerlukan
pengawasan secara khusus dan dibatasi pemanfaatannya untuk
mempertahankan daya dukung, mencegah dampak negatif,
menjamin proses pembangunan yang berkelanjutan.
Pasal 54 :
Kawasan pengembangan utama merupakan kawasan yang memiliki pendekatan
seperti kawasan andalan, dimana berfungsi mendorong pertumbuhan
ekonomi bagi kawasan tersebut dan kawasan sekitarnya. Karakteristik
kawasan pengembangan utama adalah :
-Terdapat dikawasan budidaya (kawasan pertanian, industri, pariwisata,
pertambangan dan permukiman).
-Memiliki potensi ekonomi atau sumber daya alam atau sektor-sektor
unggulan.
-Memiliki aglomerasi pusat-pusat permukiman perkotaan dan kegiatan
produksi.
-Mempertimbangkan perkembangan daerah sekitar.
Pasal 55
ayat (1) :
Cukup jelas.
ayat (2) :
EJIIZ berlokasi antara lain di wilayah Kabupaten Tuban, Lamongan, Gresik,
Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, dan Bangkalan.
Pasal 56 :
Cukup jelas.
Pasal 57 :
Cukup jelas.
Pasal 58 :
Cukup jelas.
Pasal 59 :
Cukup jelas.
Pasal 60
ayat (1) :
Kawasan yang memerlukan pengawasan secara khusus dan dibatasi
pemanfaatannya, Pengendalian terhadap kawasan-kawasan yang
dianggap mempunyai kecenderungan perkembangan kegiatan

budidaya yang sangat tinggi, pengendalian tersebut digunakan


untuk menghindari terjadinya konflik dengan kawasan konservasi
yang lokasinya berdekatan dengan kawasan pengendalian ketat,
maka proses perijinan harus di konsultasikan ke pemerintahan
provinsi.
ayat (2)
huruf a :
Cukup jelas
huruf b :
Kawasan disekitar kaki jembatan Suramadu di Kabupaten Bangkalan
termasuk didalamnya terhadap penyediaan kawasan khusus
yang diarahkan pada berbagai kegiatan ekonomi tinggi, yang
dilengkapi dengan penyediaan peru mahan bagi karyawan
industri serta pendukung rencana pengembangan pelabuhan.
huruf c :
Cukup jelas
huruf d :
Cukup jelas
huruf e :
Cukup jelas
huruf f :
Cukup jelas
huruf g :
Cukup jelas
huruf h :
Cukup jelas
Pasal 61 :
Dalam Iingkup perencanaan tata ruang wilayah provinsi ini wilayah pesisir memiliki
wilayah daratan dan wilayah laut sejauh dua belas mil laut diukur dari garis
pantai ke arah laut lepas dan atau ke arah perairan kepulauan untuk
provinsi dan sepertiga dari wilayah kewenangan provinsi untuk
kabupaten/kota.
Pengelolaan wilayah pesisir dilaksanakan dengan tujuan:
a.Melindungi, konservasi, merehabilitasi, memanfaatkan dan memperkaya
sumberdaya pesisir serta sistem ekologisnya secara berkelanjutan.
b.Menciptakan keharmonisan dan sinergi antara pemerintah, pemerintah
provinsi dan pemerintah kabupaten/kota dalam pengelolaan
sumberdaya pesisir.
c.Memperkuat peranserta masyarakat dan lembaga pemerintah serta
mendorong inisiatif masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya
pesisir agar tercapai keadilan, keseimbangan, dan keberkelanjutan.
d.Meningkatkan kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat pesisir
melalui peranserta masyarakat dalam pemanfaatan sumberdaya
pesisir.
Sumberdaya pesisir dan kelautan merupakan kawasan dengan potensi ikan
petualang serta terdapat pulau-pulau kecil yang diduga memiliki
kandungan sumberdaya yang memadai serta tersebarnya ekosistem

terumbu karang, hutan mangrove dan padang lamun yang


merupakan kekayaan alam yang bernilai tinggi karena disamping
sebagai obyek wisata bahari yang eksotis dan langkah juga
merupakan habitat bagi ikan-ikan karang yang mempunyai nilai
ekonomis tinggi yang berpotensi untuk komoditi ekspor. Selain itu
hutan mangrove juga dapat memberikan kemampuan dalam
menyerap bahan pencemar atau polutan yang berasal dari kegiatan
darat (pesisir) terutama untuk kegiatan budidaya air payau (tambak)
serta pertanian.
Pasal 62 :
Wilayah pesisir dan perairan pesisir juga merupakan ruang wilayah ekoton yang
perlu penataan yang terkait dengan aktivitas budidaya terdekat, serta area
pesisir yang perlu preserfasi untuk kepentingan kelestarian fungsi sumber
daya alam.
Pasal 63 :
Penataan ruang selayaknya bertumpu pada paradigma dasar lingkungan hidup
bahwa alam semesta ini diciptakan untuk dapat dimanfaatkan secara
berkelanjutan guna mencapai kesejahteraan manusia.
Prinsip berkelanjutan sangat penting agar tidak ada eksploitasi berlebihan untuk
kepentingan jangka pendek tetapi mempunyai dampak jangka panjang.
Semua bentuk kehidupan yang mengambil atau menggunakan sumber daya alam
dan lingkungan hidup didasarkan atas keseimbangan ekosistem, artinya
eksploitasi bahan alam untuk pembangunan harus seimbang dengan
pembuangan limbah ke lingkungan baik kuantitas maupun kualitas.
Pasal 64 :
Cukup jelas.
Pasal 65 :
Cukup jelas.
Pasal 66 :
Cukup jelas.
Pasal 67
ayat (1) :
Cukup jelas.
ayat (2)
huruf a :
Cukup jelas.
huruf b :
Cukup jelas.
huruf c :
Cukup jelas.
huruf d :
-Hutan kota merupakan bagian dari program ruang terbuka

hijau. Ruang terbuka hijau dinyatakan sebagai


ruang-ruang dalam kota atau wilayah yang lebih luas,
baik dalam bentuk membulat maupun dalam bentuk
memanjang alur di mana dalam penggunaannya lebih
bersifat terbuka yang pada dasarnya tanpa bangunan.
Pengembangan ruang terbuka hijau dilakukan dengan
pengisian hijau tumbuhan secara alamiah ataupun
tanaman budidaya seperti pertanian, pertamanan,
perkebunan dan sebagainya.
-Hutan kota dibangun pada lokasi-Iokasi tertentu saja,
dengan pendekatan hutan kota merupakan bagian dari
suatu kota. Penentuan luasannya berdasarkan:
Prosentase. yaitu luasan hutan kota ditentukan dengan
menghitungnya dari luasan kota.
-Perhitungan per kapita, yaitu luasan hutan kota ditentukan
berdasarkan jumlah penduduknya.
-Berdasarkan isu utama yang muncul.
-Hutan kota dapat diarahkan untuk pengelolaan sampah
dalam hal:
-Sebagai penyekat bau.
-Sebagai pelindung tanah hasil bentukan dekomposisi
dari sampah.
-Sebagai penyekat zat berbahaya yang mungkin
terkandung dalam sampah seperti logam berat,
pestisida, serta bahan beracun lainnya.
huruf e :
Cukup jelas.
huruf f :
Cukup jelas.
huruf g :
Cukup jelas.
huruf h :
Cukup jelas.
Pasal 68 :
Cukup jelas.
Pasal 69
huruf a :
Cukup jelas.
huruf b :
Cukup jelas.
huruf c :
Cukup jelas.
huruf d :
Perkembangan wilayah kawasan perkotaan selalu menjadi magnet besar
dalam tarikan penduduk untuk hidup dan beraktifitas dalam rangka
upayanya memenuhi kebutuhan kehidupan.

Pembangunan yang berlangsung di wilayah perkotaan memiliki andil besar


dalam pola migrasi penduduk, yang menyebabkan timbulnya
kesenjangan yang cukup besar untuk kawasan perkotaan dan
perdesaan.
Dalam pemetaan wilayah di Jawa Timur untuk menilai karakteristik tingkat
kesejahteraan kabupaten/kota dilakukan berdasarkan dua indikator,
yaitu pertumbuhan ekonomi serta PDRB perkapita.
huruf e :
Cukup jelas.
huruf f :
Cukup jelas.
Pasal 70 :
Cukup jelas.
Pasal 71 :
Cukup jelas.
Pasal 72 :
Cukup jelas.
Pasal 73 :
Cukup jelas.
Pasal 74 :
Cukup jelas.
Pasal 75 :
Penyelenggaraan pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang
dilakukan melalui kegiatan perijinan pemanfaatan ruang dan pelayanan
umum pemanfaatan ruang. Pelaksanaan perijinan pemanfaatan ruang dititik
beratkan dilakukan di wilayah kabupaten/kota.
Ijin pemanfaatan ruang terus dikembangkan, yang meliputi Ijin lokasi/letak tepat
penguasaan lahan untuk bangunan.
a.Ijin tapak lingkungan.
b.IMB.
c.Ijin merubah bangunan.
d.Ijin merobohkan bangunan.
e.Ijin menghapus bangunan.
f.Ijin pembuan limbah cair
g.Ijin AMDAL
Selanjutnya ijin-ijin yang lain agar didasarkan atas Undang-undang No. 24 Tahun
1992 ayat (8) : Untuk memnjaga konsistensi pelaksanaan pembangunan
berwawasan tata ruang, maka terhadap kesesuaian pelaksanaan yang
mendukung dan sesuai dengan tata ruang perlu diberikan penghargaan
(reward), misalnya pemberian infrastruktur, kemudahan perijinan, dukungan
penyediaan tanah dsb; ataupun denda karena adanya ketidaksesuaian
dengan penataan ruang, misalnya peningkatan pajak, pembatalan ijin lokasi

dsb
Pasal 76
huruf a :
Cukup jelas.
huruf b :
Informasi tata ruang tersebut meliputi kriteria:
-Benar, akurat dan tepat waktu.
-Terbuka untuk diakses baik diminta atau tidak diminta.
-Mencerminkan
sikap
keterlibatan
masyarakat
penyelenggaraan keterbukaan pemerintah.
huruf c :
Cukup jelas.
huruf d :
Cukup jelas.
Pasal 77 :
Cukup jelas.
Pasal 78 :
Cukup jelas.
Pasal 79 :
Cukup jelas.
Pasal 80 :
Cukup jelas.
Pasal 81 :
Cukup jelas.
Pasal 82 :
Cukup jelas.
Pasal 83 :
Cukup jelas.
Pasal 84 :
Cukup jelas.
Pasal 85 :
Cukup jelas.
Pasal 85 :
Cukup jelas.
Pasal 86 :
Cukup jelas.

dalam

Pasal 87 :
Cukup jelas.
Pasal 88 :
Cukup jelas.
Pasal 89 :
Cukup jelas.
Pasal 90 :
Cukup jelas.
Pasal 91 :
Cukup jelas.
Pasal 92 :
Cukup jelas.
Pasal 93 :
Cukup jelas.
Pasal 94 :
Cukup jelas.
Pasal 95 :
Cukup jelas.
Pasal 96 :
Cukup jelas.