Anda di halaman 1dari 12

KERAGAAN PEMASARAN BERAS DARI WILAYAH PRODUSEN DI KECAMATAN CISAYONG KABUPATEN TASIKMALAYA SAMPAI KE TANGAN KONSUMEN AKHIR DI PASAR

INDIHIANG KOTA TASIKMALAYA Pipit Kurniawati 1) Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi Pipitkurniawati73@gmail.com Dedi Darusman 2) Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi dedidarusman@ymail.com Betty Rofatin 3) Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi bettyrofatin@yahoo.com
ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : a) Saluran pemasaran b) Fungsi masingmasing lembaga pemasaran dan c) Besarnya marjin pemasaran, pada sistem pemasaran beras dari wilayah produsen Kecamatan Cisayong Kabupaten Tasikmalaya sampai ke tangan konsumen akhir di Pasar Indihiang Kota Tasikmalaya. Metode yang digunakan penelitian ini adalah studi kasus. Hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut : a) Saluran pemasaran beras dari wilayah produsen Kecamatan Cisayong Kabupaten Tasikmalaya sampai ke tangan konsumen akhir di Pasar Indihiang Kota Tasikmalaya melalui 4 (empat) lembaga pemasaran, yaitu pedagang pengumpul (Collector), pedagang besar (Wholesaler), pedagang grosir (Grocery) dan pedagang pengecer (Retailer). Keempat lembaga pemasaran tersebut terkoneksi dalam satu saluran pemasaran dua tingkat, dua saluran pemasaran tiga tingkat dan satu saluran pemasaran empat tingkat b) Fungsi pemasaran yang paling menonjol dilakukan pedagang pengumpul adalah fungsi pertukaran dalam proses pengumpulan, fungsi pemasaran yang dijalankan pedagang besar adalah fungsi fisik dalam proses pengolahan, fungsi pemasaran yang dijalankan pedagang grosir meliputi fungsi pertukaran, fungsi fisik dan fungsi fasilitas, fungsi pemasaran yang paling dominan dijalankan oleh pedagang pengecer adalah fungsi pertukaran c) Marjin pemasaran per kilogram beras pada saluran pemasaran yang pertama sebesar Rp 4.600,00, marjin pemasaran saluran pemasaran yang kedua adalah Rp 5.000,00, marjin pemasaran pada saluran pemasaran yang ketiga adalah Rp 4.800,00, dan marjin pemasaran pada saluran yang keempat Rp 5.000,00. Kata Kunci : Saluran, Marjin, Pemasaran.

ABSTRACT

The study objective was to determine: a) the marketing channels b) The function of each marketing agencies and c) The amount of marketing marjin, the marketing system of rice production region Tasikmalaya District Cisayong to consumer end in Market Indihiang Tasikmalaya. The research method used is a case study. The results can be summarized as follows : a) the marketing channels from the point of production of rice

in the subdistrict of Tasikmalaya regency Cisayong up to the point of consumption in Tasikmalaya Indihiang market through four (4) marketing agency, the Collector, Wholesaler, Grocery and Retailer. Fourth marketing agencies are connected in a twotier channel marketing, channel marketing two of the three levels and four levels of channel marketing, b) the most prominent marketing functions performed collector is a exchange function, in the collection process, the marketing function is executed wholesaler physical function but also in the processing, marketing functions include functions that run grocery exchange, physical function and function facilities, the marketing function is the most dominant run by retailers is a function of the exchange, c) marketing margin per kilogram of rice on the first marketing channel is Rp 4.600,00, marketing margin on the second marketing channel of Rp 5.000,00, marketing margin on the third marketing channel of Rp 4.800,00, and marketing margin in the fourth marketing channel is Rp 5.000,00. Key Word : Channels, Margin, Marketing

PENDAHULUAN Strategi Pembangunan Nasional pada awal era Orde Baru, yang direalisasikan melalui tahapan Pelita, menitik beratkan pembangunan ekonomi pada sektor pertanian. Upaya pemenuhan kebutuhan pangan pokok pada waktu itu menjadi salah satu unsur prioritas. Peningkatan produksi beras nasional menjadi salah satu primadona program pembangunan nasional. Hasilnya cukup signifikan dan dapat dirasakan oleh semua pihak. Samsudin Abbas (2000) menyatakan, melalui upaya intensifikasi dan

ektensifikasi serta rehabilitasi, produktivitas padi nasional yang semula kurang dari 2 ton gabah kering giling (GKG) per hektar per musim, bisa ditingkatkan menjadi 4 sampai 5 ton per hektar per musim. Kabupaten Tasikmalaya, dalam konteks pengadaan pangan nasional, khususnya beras, bukan termasuk daerah sentra produksi. Namun demikian Kabupaten Tasikmalaya termasuk kategori daerah yang surplus. Artinya produksi beras Kabupaten Tasikmalaya disamping dapat mencukupi untuk kebutuhan daerahnya sendiri juga dapat menjual hasil produksi berasnya keluar daerah. Kabupaten Tasikmalaya, telah empat kalinya mendapat penghargaan dari Presiden Republik Indonesia atas prestasinya meningkatkan produksi beras diatas 5 persen per tahun. Penghargaan ini diharapkan menjadi semangat bagi petani untuk terus berinovasi dalam dunia pertanian. Harapan dari semua pihak, prestasi ini harus selalu dipertahankan bahkan dapat ditingkatkan dari tahun ke tahun. Penghargaan ini diberikan terkait juga dengan prestasi Kabupaten Tasikmalaya yang mampu ekspor beras organik.

Penghargaan untuk pertama kali diberikan pada Pemerintah Kabupaten dan Petani Kabupaten Tasikmalaya tahun 2007 dan berturut-turut diperoleh hingga tiga tahun setelahnya. Sebagai informasi, tahun 2006 produksi padi di Kabupaten Tasikmalaya mencapai 569.200 ton dengan luas tanam 49.507 hektar. Setahun kemudian meningkat menjadi 620.277 ton dari luas tanam 49.507 hektar. Peningkatan kembali terjadi tahun 2008 sebanyak 682.299 ton dari luas tanam sebesar 49.507 hektar. Tahun 2009, Kabupaten Tasikmalaya berhasil meningkatkan produktivitas beras menjadi 740.855 ton dari luas tanam 49.568 hektar. Atas kerja keras petani tahun 2010, Tasikmalaya kembali mampu meningkatkan produksi beras menjadi 873.541 ton dari 49.662 hektar. Untuk lebih jelasnya, produksi padi Kabupaten Tasikmalaya selama periode tahun 2008 sampai tahun 2012 dapat dilihat dalam Tabel 1. Tabel 1. Produksi Padi Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2008-2012 Produktivitas Produksi Tahun (Ton/ha) (ton) 2008 2009 2010 2011 2012 61,60 61,61 63,19 62,92 65,29 682.229 740.855 873.541 855.197 766.712

Sumber : Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Tasikmalaya, 2012

Salah satu dari sentra produksi beras di Kabupaten Tasikmalaya adalah Kecamatan Cisayong. Kecamatan ini merupakan salah satu kecamatan yang menjadi andalan sebagai sentra produksi beras di Kabupaten Tasikmalaya. Kecamatan Cisayong bahkan telah mampu melakukan ekspor produksi beras organik ke beberapa negara di Timur Tengah dan Eropa. (Laporan Tahunan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, 2012). Peningkatan produksi yang tidak terkendali akan menjatuhkan harga produk itu sendiri. Sebaliknya, kelangkaan produksi akan meningkatkan harga yang terlalu tinggi hingga tidak akan terjangkau oleh daya beli masyarakat sebagai konsumen. Kuncinya ada di pengelolaan pemasaran yang dapat mengendalikan harga sedemikian rupa, sehingga dapat mengakomodir kepentingan petani produsen dan masyarakat konsumen. Maksud pengendalian harga disini adalah, di satu sisi harga beras dapat terjangkau oleh

daya beli masyarakat, namun juga dapat menguntungkan petani sehingga dapat menutupi semua biaya yang telah dikeluarkan pada saat mengerjakan usahataninya. Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka fokus masalah penelitian ini dapat diidentifikasi sebagai berikut : (1) Bagaimana saluran pemasaran (marketing channel) beras dari wilayah produsen di Kecamatan Cisayong Kabupaten Tasikmalaya sampai ke tangan konsumen akhir di Pasar Indihiang Kota Tasikmalaya? (2) Bagaimana fungsi pemasaran masing-masing lembaga yang terlibat dalam saluran pemasaran beras dari wilayah produsen di Kecamatan Cisayong Kabupaten Tasikmalaya sampai ke tangan konsumen akhir di Pasar Indihiang Kota

Tasikmalaya? (3) Berapa besar marjin pemasaran beras dari wilayah produsen di Kecamatan Cisayong Kabupaten Tasikmalaya sampai ke tangan konsumen akhir di Pasar Indihiang Kota Tasikmalaya? Adapun tujuan penelitian ini adalah saluran pemasaran (marketing channel), fungsi pemasaran, dan marjin pemasaran beras dari wilayah produsen di Kecamatan Cisayong Kabupaten Tasikmalaya sampai ke tangan konsumen akhir di Pasar Indihiang Kota Tasikmalaya.

METODOLOGI PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus pada salah satu saluran pemasaran beras yang berbasis produksi di wilayah Kecamatan Cisayong Kabupaten Tasikmalaya sampai ke tangan konsumen akhir di Pasar Indihiang Kota Tasikmalaya. Penentuan lokasi penelitian dilakukan dengan sengaja (purposive). Dasar Pertimbangan penentuan lokasi penelitian tersebut berdasarkan informasi dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Tasikmalaya, bahwa Kecamatan Cisayong merupakan salah satu lumbung padi bagi wilayah Kabupaten Tasikmalaya. Teknik penentuan responden menggunakan pendekatan metode snowball sampling. Responden penelitian ini terdiri dari 3 (tiga) orang pedagang pengumpul (collector), 2 (dua) orang pedagang besar (wholesaler), 1 (satu) orang pedagang grosir (grocery) dan 3 (tiga) orang pedagang pengecer (retailer).

Pendekatan

kerangka analisis yang digunakan meliputi saluran pemasaran,

fungsi pemasaran dan marjin pemasaran. Pendekatan analisis dimaksud, secara singkat diuraikan pada Gambar 1. Saluran Pemasaran Saluran Nol Tingkat Saluran Satu Tingkat Saluran Dua Tingkat Saluran Tiga Tingkat
Gambar 1. Saluran Pemasaran (Kotler, 1990)

Produsen

Konsumen

Produsen

Pengecer

Konsumen

Produsen

Pengumpul
Pedagang Besar

Pengecer

Konsumen

Produsen

Pengumpul

Pengecer

Konsumen

Fungsi Pemasaran Tabel 2. Analisis Fungsi Pemasaran


No Fungsi Pemasaran Fungsi Pertukaran 1.1. Penjualan 1.2. Pembelian II Fungsi Fisik 2.1. Pengangkutan 2.1. Pengolahan 2.3. Penyimpanan III Fungsi Fasilitas 3.1. Standarizaton and grading 3.2. Risk taking 3.3. Financing 3.4. Market information 3.5. Labeling 3.6. Packaging Lembaga Pemasaran Pedagang pengumpul Pedagang besar Pedagang grosir Pedagang pengecer

Marjin Pemasaran M = Hk - Hp Keterangan: M = Marjin pemasaran Hk = Harga yang dibayar konsumen Hp = Harga yang diterima produsen

M mi
Keterangan : M = Marjin pemasaran mi = Marjin pada setiap tingkat pada saluran pemasaran i = 1, 2, 3, ..., n

M Bi Ki
Keterangan: M = Marjin pemasaran Bi = Biaya pemasaran yang dikeluarkan lembaga pemasaran ke-i Ki = Keuntungan yang diperoleh lembaga pemasaran ke-i i = 1, 2, 3, ..., n

HASIL DAN PEMBAHASAN Saluran Pemasaran Alur pemasaran beras dari wilayah produsen di Kecamatan Cisayong Kabupaten Tasikmalaya sampai ke tangan konsumen akhir di Pasar Indihiang Kota Tasikmalaya terdapat empat saluran pemasaran seperti dalam Gambar 2.
PB P Pengecer

P Pengumpul

P Pengumpul

PB

P Grosir

P Pengecer

Keterangan : Saluran dua tingkat Saluran tiga tingkat

Saluran tiga tingkat Saluran empat tingkat

Gambar 2. Pola Umum Saluran Pemasaran Beras dari Wilayah Produsen di Kecamatan Cisayong Sampai ke Tangan Konsumen Akhir di Pasar Indihiang

KONSUMEN

P Pengumpul

P Pengecer

PETANI

Berdasarkan hasil pengamatan dilapangan, terbentuknya saluran pemasaran hingga menjadi empat saluran disebabkan oleh beberapa hal diantaranya adalah :
1)

Faktor kedekatan domisili. Misal dalam kasus petani menjual langsung hasil penennya kepada pedagang besar, disebabkan oleh dekatnya lahan usahatani ke lokasi (domisili) pedagang besar tersebut.

2)

Terikat dengan permodalan. Dalam kasus ini ditemukan pedagang pengumpul padi dan pedagang besar memberi pinjaman sarana produksi kepada petani, dengan harapan petani tidak menjual hasil panen kepada pihak lain. Hal yang sama juga terjadi ada pedagang pengumpul yang diberi bantuan pinjaman permodalan oleh pedagang besar atau pedagang grosir, sehingga pedagang pengumpul terikat tidak menjual padi kepada pihak lain.

3)

Kedekatan emosional. Dalam hal ini pelaku pemasaran melakukan transaksi dengan mitra usahanya karena ada keterikatan persaudaraan, atau ikatan lain yang tidak terkait secara langsung dengan usaha yang dijalankan oleh masing-masing.

Fungsi Pemasaran
Fungsi pemasaran ialah semua aktivitas yang dilakukan oleh para pelaku pemasaran (market participants) dalam proses pengaliran barang/jasa mulai dari tangan produsen sampai ketangan konsumen. Terdapat tiga kategori fungsi pemasaran dalam proses pengaliran barang/jasa mulai dari tangan produsen untuk sampai ketangan konsumen, yaitu : Fungsi pertukaran (exchange function), Fungsi Fisik (physical function), dan Fungsi fasilitas (facilitating function).

Berdasarkan hasil penelitian di lapangan, ternyata semua lembaga pemasaran melakukan fungsi pertukaran, yaitu melakukan aktivitas yang bertujuan mendorong lancarnya proses pembelian dan penjualan. Namun demikian terdapat satu catatan, diantara lembaga pemasaran beras tersebut tidak satu pun yang melakukan pengikatan dengan perjanjian kontrak satu sama lainya. Mereka bekerja menjalankan fungsi masing-masing dalam suatu sistem pemasaran berlandaskan saling percaya. Selain fungsi pertukaran tersebut, fungsi fisik merupakan fungsi pemasaran yang paling banyak dijalankan dalam sistem pemasaran beras dari wilayah produsen di Kecamatan Cisayong sampai ke tangan konsumen akhir di Pasar Indihiang Kota Tasikmalaya. Fungsi-fungsi pemasaran yang dilakukan oleh kelembagaan pemasaran beras dari wilayah produsen di Kecamatan Cisayong disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3. Fungsi Pemasaran Kelembagaan Pemasaran Beras dari Wilayah Produsen di Kecamatan Cisayong Sampai ke Tangan Konsumen Akhir di Pasar Indihiang
LEMBAGA PEMASARAN FUNGSI
NO

PEMASARAN

PEDAGANG PENGUMPUL

PEDAGANG BESAR

PEDAGANG GROSIR

PEDAGANG PENGECER

I 1.1. 1.2. 1.3. 1.4 1.5 II 2.1. 2.2. 2.3. III 3.1. 3.2. 3.3. 3.4. 3.5. 3.6.

FUNGSI PERTUKARAN (Penjualan/Pembelian) Perencanaan pemilihan barang Kontaktual Pengumpulan Negosiasi Kontrak FUNGSI FISIK Transportasi/Pengangkutan Pengolahan Penyimpanan FUNGSI FASILITAS Standardization and grading Risk taking Financing Market information Labeling Packaging X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X

Keterangan : X = Tidak dilakukan


= Dilakukan

Sumber : Data primer setelah diolah (2013)

Marjin Pemasaran Marjin pemasaran didefinisikan sebagai selisih harga yang dibayar oleh konsumen akhir dengan harga yang diterima oleh produsen. Marjin pemasaran juga didefinisikan sebagai jumlah dari marjin-marjin pemasaran pada setiap tingkat dalam saluran pemasaran, yaitu marjin pemasaran ditingkat pedagang pengumpul, dtambah marjin pemasaran ditingkat pedagang besar, pedagang grosir dan pedagang pengecer.

Berdasarkan hasil penelitian di lapangan, rincian marjin pemasaran pada setiap tingkat kelembagaan dan saluran yang telah diuraikan, disajikan pada Tabel 4. Tabel 4. Perhitungan Marjin Pemasaran pada Setiap Lembaga dan Saluran Pemasaran
No I 1.1. 1.2. 1.3. Uraian PEDAGANG PENGUMPUL Penjualan Pembelian Marjin Pedagang pengumpul 1.3.1. Biaya Pedagang pengumpul 1.3.2. Keuntungan Pedagang pengumpul II 2.1. 2.2. 2.3. PEDAGANG BESAR Penjualan Pembelian Marjin Pedagang besar 2.3.1. Biaya Pedagang besar 2.3.2. Keuntungan Pedagang besar III 3.1. 3.2. 3.3. PEDAGANG GROSIR Penjualan Pembelian Marjin Pedagang grosir 3.3.1. Biaya Pedagang grosir 3.3.2. Keuntungan Pedagang grosir IV 4.1. 4.2. 4.3. PEDAGANG PENGECER Penjualan Pembelian Marjin Pedagang pengecer 4.3.1. Biaya Pedagang pengecer 4.3.2. Keuntungan Pedagang pengecer Sumber : Data primer setelah diolah (2013) 8.000,00 7.400,00 600,00 100,00 500,00 8.200,00 7.600,00 600,00 100,00 500,00 8.200,00 7.600,00 600,00 100,00 500,00 7.600,00 4.500,00 3.100,00 2.388,00 712,00 8.000,00 6.800,00 1.200,00 300,00 900,00 7.600,00 6.800,00 800,00 288,00 512,00 7.400,00 3.400,00 4.000,00 3.420,00 580,00 6.800,00 4.500,00 2.300,00 1.960,00 340,00 6.800,00 4.500,00 2.300,00 1.960,00 340,00 4.500,00 3.200,00 1.300,00 935,00 365,00 4.500,00 3.200,00 1.300,00 935,00 365,00 4.500,00 3.200,00 1.300,00 935,00 365,00 Saluran Pemasaran Pertama Kedua Ketiga Keempat

Marjin Pemasaran Total Berdasarkan pada perhitungan marjin pemasaran pada setiap kelembagaan pemasaran tersebut di atas, dapat dihitung marjin pemasaran total pada setiap saluran pemasaran. Marjin pemasaran pada saluran pemasaran yang pertama adalah sebesar Rp 4.600,00, marjin pemasaran saluran pemasaran yang kedua sebesar Rp 5.000,00, marjin pemasaran saluran pemasaran yang ketiga sebesar Rp 4.800,00, dan marjin

pemasaran pada saluran pemasaran yang keempat adalah Rp 5.000,00. Rekapitulasi perhitungan marjin pemasaran pada setiap saluran pemasaran dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. Rekapitulasi Perhitungan Total Marjin Setiap Saluran Pemasaran
No 1 2 3 Uraian Marjin Pemasaran Keuntungan Biaya Pemasaran Saluran Pemasaran Pertama 4.600,00 1.080,00 3.520,00 Kedua 5.000,00 1.577,00 3.423,00 Ketiga 4.800,00 1.605,00 3.195,00 Keempat 5.000,00 1.717,00 3.283,00

Sumber : Data primer setelah diolah (2013)

Berdasarkan data pada tabel tersebut diatas, dapat dinyatakan bahwa besarnya marjin pemasaran memiliki relevansi dengan panjang pendeknya saluran pemasaran. Saluran pemasaran yang panjang cenderung memiliki marjin pemasaran yang relatif lebih besar dibandingkan dengan saluran pemasaran yang lebih pendek. Dalam kasus ini dapat dilihat saluran pemasaran empat tingkat memiliki marjin pemasaran sebesar Rp 5.000,00, nilai yang relatif lebih besar apabila dibandingkan dengan saluran pemasaran dua tingkat yang hanya Rp 4.600,00. Setiap saluran pemasaran memberikan harga yang relatif sama kepada konsumen akhir, dengan kisaran antara Rp 8.000,00 Rp 8.200,00. Saluran pemasaran yang pertama dan ketiga dapat memberikan harga yang relatif rendah kepada konsumen yaitu sebesar Rp 8.000,00. Hal ini disebabkan pada saluran pemasaran pertama pedagang pengecer langsung membeli beras dari pedagang besar sedangkan saluran pemasaran yang ketiga disebabkan oleh fungsi pedagang pengecer yang ditangani langsung oleh pedagang grosir. Pada saluran pemasaran yang pendek maupun yang panjang memberikan harga yang sama kepada petani yaitu sebesar Rp 3.200,00. Namun pada saluran yang pertama dapat memberikan harga relatif tinggi yaitu Rp 3.400,00, karena fungsi pedagang pengumpul yang diambil alih oleh pedagang besar. Kisaran harga padi di tingkat petani pada setiap saluran pemasaran sudah mendekati ketentuan harga pembelian pemerintah (HPP). Berdasarkan Inpres No 3 Tahun 2012, harga pembelian pemerintah (HPP) untuk gabah kering panen di tingkat petani sebesar Rp 3.300,00 per kilogram, sedangkan untuk gabah kering giling di tingkat penggilingan, ditetapkan sebesar Rp 3.350,00 per kilogram.

Simpulan 1) Saluran pemasaran beras dari wilayah produsen di Kecamatan Cisayong Kabupaten Tasikmalaya sampai ke tangan konsumen akhir di Pasar Indihiang Kota Tasikmalaya melalui 4 (empat) lembaga pemasaran, yaitu pedagang pengumpul (Collector), pedagang besar (Wholesaler), pedagang grosir (Grocery) dan pedagang pengecer (Retailer). Keempat lembaga pemasaran tersebut terkoneksi dalam satu saluran pemasaran dua tingkat, dua saluran pemasaran tiga tingkat dan satu saluran pemasaran empat tingkat. 2) Fungsi pemasaran yang paling menonjol dilakukan pedagang pengumpul adalah fungsi pertukaran dalam proses pengumpulan, fungsi pemasaran yang dijalankan pedagang besar adalah fungsi fisik dalam proses pengolahan. Fungsi pemasaran yang dijalankan pedagang grosir meliputi fungsi pertukaran, fungsi fisik dan fungsi fasilitas, fungsi pemasaran yang paling dominan dijalankan oleh pedagang pengecer adalah fungsi pertukaran. 3) Marjin pemasaran per kilogram beras pada saluran pemasaran yang pertama sebesar Rp 4.600,00, marjin pemasaran pada saluran pemasaran yang kedua dan keempat adalah Rp 5.000,00, dan marjin pemasaran pada saluran pemasaran yang ketiga adalah Rp 4.800,00.

Saran Berdasarkan hasil pembahasan dan simpulan tersebut diatas, maka dapat disampaikan saran perbaikan untuk sistem pemasaran beras dari wilayah produsen di Kecamatan Cisayong Kabupaten Tasikmalaya sampai ke tangan konsumen akhir di Pasar Indihiang Kota Tasikmalaya sebagai berikut : 1) Faktor-faktor yang menyebabkan kualitas beras Banjar kurang baik dibandingkan dengan kualitas beras Cisayong, merupakan fenomena yang perlu mendapat perhatian untuk diteliti lebih lanjut karena potensi sekecil apapun, potensi sumber penghasil beras memiliki kedudukan yang strategis dalam rangka ketahanan pangan nasional. 2) Penelitian ini hanya meneliti keragaan pemasaran beras dari wilayah produsen di Kecamatan Cisayong Kabupaten Tasikmalaya sampai ke tangan konsumen akhir di Pasar Indihiang Kota Tasikmalaya. Maka keragaan pemasaran beras yang menuju

konsumen akhir di lain tempat merupakan bahan kajian yang dapat diteliti lebih lanjut.

DAFTAR PUSTAKA Dinas Pertanian. 2012. Laporan Tahunan. Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura. Dinas Pertanian. 2012. Produksi Padi di Kabupaten Tasikmalaya. Dinas Pertanian Kabupaten Tasikmalaya. Kotler, Philip. 1990. Manajemen Pemasaran, Analisis, Pengendalian. Edisi Kelima. Penerbit Erlangga. Jakarta. Perencanaan, dan

Syamsudin Abbas. 2000. Revolusi Hijau dengan Swasembada Beras dan Jagung. Badan Pengendalian Bimas. Dirjen Tanaman Pangan dan Hortikultura. Departemen Pertanian. Jakarta.