Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN HASIL DISKUSI PROBLEM-BASED LEARNING PBL Blok Komunitas SKENARIO ...anak sekolahku tepat ukur...

Minggu ke-12 Tanggal 06 Desember s.d 12 Desember 2013

Grup G TYSKA AULIA A MUCHAMMAD ILHAM GUMILAR AGNES WIDYASARI AFIFA NUR SALIMA MUSTIKA ARUM H W P J LAILY EKAWATI CANDRA ANA DWI FIBRIYANTI SAFHIRA ROVIDA LUCKY ASTRIDA E. KARINA MUTHIA SHANTI ERIKA DAMAYANTI DIAN NUR ARIANI ADISTI DYAH PERMATANINGTYAS

JURUSAN GIZI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2013

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.................................................................................................................................................. 1 DAFTAR ISI ............................................................................................................................................................ 2 ISI .......................................................................................................................................................................... 3 A. KOMPETENSI YANG AKAN DICAPAI .............................................................................................................. 3 B. SKENARIO ...................................................................................................................................................... 3 C. DAFTAR UNCLEAR TERM............................................................................................................................... 3 D. DAFTAR CUES ................................................................................................................................................ 4 E. DAFTAR LEARNING OBJECTIVE ..................................................................................................................... 4 F. HASIL BRAINSTORMING ................................................................................................................................ 5-7 G. HIPOTESIS...................................................................................................................................................... 8 H. PEMBAHASAN LEARNING OBJECTIVE ........................................................................................................... 10-21 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ....................................................................................................................... 22 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................................................. 23 TIM PENYUSUN ..................................................................................................................................................... 24

ISI

A. KOMPETENSI YANG AKAN DICAPAI CD. 40. Mahasiswa mampu mengawasi screening status gizi suatu populasi atau masyarakat (Supervise screening of the nutritional status of the population and/or community groups) CD. 41.Mahasiswa mengkaji status gizi populasi dan atau kelompok di masyarakat (Conduct assessment of the nutritional status of the population and/or community groups)

B. SKENARIO ...anak sekolahku tepat ukur... Screening status gizi melalui metode langsung pada anak baru masuk sekolah dilakukan dengan menggunakan parameter dan indikator yang tepat untuk dapat mengidentifikasi masalah gizi akut maupun kronis. Persentase anak sekolah dengan tingkat konsumsi kurang dari standar juga diukur dengan metode yang sesuai dengan level of objective yang diinginkan. Calon pengukur diuji intra dan inter-observer variation melalui suatu proses standardisasi untuk mendapatkan data yang presisi dan akurat.

C. DAFTAR UNCLEAR TERM 1. Intra Observer Variation Keragaman antara hasil pengukuran yang dilakukan oleh orang yang sama terhadap subjek yang sama (Harber) 2. Inter Observer Variation Keragaman hasil pengamatan antar pengamat dalam melakukan pengukuran pada objek yang sama (Harber) 3. Presisi Pengukuran apabila dilakukan diwaktu berbeda dengan alat yang sama maka hasilnya sama atau tidak terlalu berbeda jauh (KBBI) 4. Parameter Sesuatu yang bisa memutuskan atau memberi batasan bagaimana suatu hal dapat dilakukan (oxford) 5. Indikator Sesuatu yang dapat dijadikan untuk mengukur sesuatu (KBBI) 6. Standardisasi Membuat sesuatu menjadi sesuai dg peraturan standar (oxford) 3

7. Level of objective Tingkatan tujuan yang akan dicapai untuk menentukan metode yang dicapai 8. Akurat Apabila melakukan pengukuran maka hasilnya sesuai dengan nilai sebenarnya 9. Skrining gizi Kegiatan memilih dan memilah populasi berdasarkan status gizi dengan waktu yang cepat dan proses sederhana 10. Gizi akut Kondisi kurang gizi yang diukur berdasarkan indeks BB/TB (kamus gizi) 11. Gizi kronis Keadaan kurang gizi yang diukur berdasarkan indeks TB/U (kamus gizi) 12. Persentase Angka/jumlah dari sesuatu yang menunjukkan bagian dari total angka maksimal 100 (oxford) 13. Metode langsung Suatu cara yang sistematis untuk melakukan pengukuran pada objek yang dituju tanpa perantara D. DAFTAR CUES 1. AG mampu mengawasi skrining gizi serta mengkaji status gizi dr hasil skrining pd suatu populasi ato masyarakat pada anak baru masuk sekolah menggunakan parameter dan indikator yg tepat utk mengidentifikasi mslh gizi akut dan kronis 2. AG mampu memilih dan melaksanakan metode yg sesuai level of objective yg diinginkan utk mengukur tingkat konsusmsi pd anak sekolah 3. AG mampu menguji calon pengukur scr intra dan inter observer variation melalui suatu proses standardisasi utk mendapatkan data yg presisi dan akurat E. DAFTAR LEARNING OBJECTIVE 1. Apa perbedaan skrining, surveilance dan survey ? 2. Bagaimana waktu, tujuan, manfaat dan langkah-langkah skrining gizi untuk anak baru masuk sekolah ? 3. Apa saja metode langsung yang dapat dilakukan untuk mengidentifikasi masalah gizi akut dan kronis pada anak usia sekolah dan metode apa yg tepat beserta fungsinya ? 4. Tools apa yang digunakan untuk skrining gizi pada anak baru masuk sekolah ? sebutkan kelebihan dan keurangannya ! 5. Apa saja parameter dan indikator yang dibutuhkan untuk identifikasi masalah gizi akut dan kronis pada anak usia sekolah? Bagaimana cut off masalah gizi akut dan kronis untuk anak ? 4

6. Apa saja kendala dalam melakukan skrining gizi pada anak sekolah ? 7. Siapa saja yang berperan dalam skrining gizi sesuai skenariao dan siapa yang bisa menjadi observer? 8. Apa saja macam-macam level of objective pada dietary assessment dan apa saja metode dari masing-masing level of objective? Level dan metode apa yg tepat sesuai kasus ? 9. Bagaimana melakukan proses standardisasi (termasuk cara menguji calon pengukur melalui intra dan inter observer variation) ? 10. Apa saja faktor yang mempengaruhi intra dan inter-observer variation ?

F. HASIL BRAINSTORMING

1. Apa perbedaan skrining, surveilance dan survey ? Surveilance : Kegiatan nanalisis secara sistematis secara terus menerus terhadap penyakit dan kesehatan yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit agar dapat melakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien melaui proses pengumpulan data , pengolahan dan penyebaran informasi epidemiologi kepada penyelenggara progaram kesehatan.

2. Bagaimana waktu, tujuan, manfaat dan langkah-langkah skrining gizi untuk anak baru masuk sekolah ? a. Tujuan : untuk memilah anak yang masuk kategori gizi akut, gizi kronis maupun gizi baik secara dini. Untuk mengetahui tingkat konsumsi pada anak usia sekolah b. Manfaat : sehingga mampu dilakukan penanganan secara dini. supaya anak yang mengalami masalah gizi akut/kronis kondisinya tidak semakin parah dapat mendukung proses belajar dan meningkatkan prestasi siswa. c. Langkah-langkah : 1. menerima laporan 2. mengobservasi tempat kejadian 3. melakukan skrining gizi 4. membandingkan dengan parameter dan indikator 5. mengelompokkan berdasarkan masalah gizi 6. dilakukan tindak lanjut d. Waktu : setiap periode pergantian tahun pembelajaran, ketika ada kejadian gizi buruk dan gizi kurang 5

3. Apa saja metode langsung yang dapat dilakukan untuk mengidentifikasi masalah gizi akut dan kronis pada anak usia sekolah ? dan metode apa yang tepat beserta fungsinya? 1. Antropometri, 2. Biokimia, 3. Klinik, 4. Dietary Metode yang tepat yaitu antropometri, dietary, dan klinik Fungsi dari masing-masing metode : dietary untuk mengetahu tingkat konsumsi anak yang berhubungan dengan asupan protein dan KH antropometri untuk mengetahu status gizi klinis untuk mengetahui penampakan fisik biokimia untuk mengetahui perubahan metabolismen dalam tubuh yg tak tampak secara fisik

4. Tools apa yang digunakan untuk skrining gizi pada anak baru masuk skolah ? sebutkan kelebihan dan keurangannya ! MNA (mini nutritional assessment) dan MUST

5. Apa saja parameter dan indikator yang dibutuhkan untuk identifikasi masalah gizi akut dan kronis pada anak usia sekolah? Bagaimana cut off masalah gizi akut dan kronis untuk anak ? a. Gizi akut Parameter Berat badan Indikator BB/TB BB/U Cut-off < -2 SD : <-3 SD Interpretasi Gizi akut Gizi akut tingkat berat >-2 SD b. Gizi kronis Parameter TB Indikator TB/U Cut-off < -2 SD : <-3 SD >-2 SD Interpretasi Gizi akut Gizi akut tingkat berat Gizi normal Gizi normal

6. Apa saja kendala dalam melakukan skrining gizi pada anak sekolah ? dari segi umur karena belum bisa berkomunikasi dengan baik, jangkauan sekolah (akses) tidak adanya kerja sama yg baik dari pihak sekolah penguji belum terstandardisasi kurangnya jumlah personil dalam melakukan skrining keterbatasan sarana dan prasarana 6

7. Siapa saja yang berperan dalam skrining gizi sesuai skenariao dan siapa yang bisa menjadi observer? Ahli gizi, pihak dari sekolah, observer, siswa, kader, orang tua murid. Sedangkan seorang yg bisa menjadi observer adalah orang yang telah lulus standardisasi, seseorang yang telah ditraining

8. Apa saja macam-macam level of objective pada dietary assessment dan apa saja metode dari masing-masing level of objective? Level dan metode apa yg tepat sesuai skenario ? Ada 4 level yakni : Level 1 : single 24h recall Level 2 : multiple 24h recall, ffq Level 3 : ffq, sq-ffq, dietary history Level 4 : dietary history Dan metode yang tepat adalah level 3

9. Bagaimana melakukan proses standardisasi (termasuk cara menguji calon pengukur melalui intra dan inter observer variation) ? Calon penguji akan melakukan pengukuran dan hasil pengukurannya akan dibandingkan dengan orang yang sudah terstandardisasi

10. Apa saja faktor yang mempengaruhi intra dan inter-observer variation ? intra : dari kondisi pengujinya sedangkan inter dari alatnya inter : dari perbedaan ketrampilan dari observer

G. HIPOTESIS

H. PEMBAHASAN LEARNING OBJECTIVE 1. Apa perbedaan skrining, surveilance dan survey ?

Definisi

Tujuan

Nutrition Screening Proses identifikasi karekteristik yang ada untuk selanjutnya dihubungkan dengan nutrition problemdengan tujuan untuk mengetahui apakah individu tersebut sudah mengalami malnutrisi atau dalam resiko malnutrisi Untuk mengidentifikasi individu yang mengalami malnutrisi yang membutuhkan intervensi

Nutrition Survailence Proses identifikasi perbedaan atau trend dari populasi dari waktu ke waktu

Nutriton Survey Metode pengumpulan data dengan mengambil sebagian objek populasi tetapi dapat mencerminkan kondisi populasi

Sasaran Pelaksanaan

Dilakukan pada individu atau kelompok yang dicurigai beresiko Sederhana dan cepat Dilakukan dalam skala besar

Untuk identifikasi penyebab malnutrisi akut maupun kronis - Untuk monitoring efek kebijakan pemerintah dan program intervensi gizi - Menjadi dasar program terkait gizi dan makanan yang komprehensif Populasi atau sub-grup populasi terpilih (kelompok rawan malnutrisi) - Pengukuran dan pencatatan perkembangan fisik - Monitoring perkembangan - Menawarkan dan mengatur intervensi saat dibutuhkan - Menyediakan informasi untuk orang tua - Dilaksanakan dalam jangka waktu yg lama dan berkelanjutan

Mengumpulkan data gizi suatu populasi Untuk evaluasi intervensi gizi

Sub-grup populasi yang beresiko malnutrisi kronik - Data dikumpulkan satu kali untuk menentukan data dasar melalui status gizi pada suatu populasi - Pelaksanaan secara sistematis dalam metode pelaksanaannya

10

Tindak lanjut

Hasil pengukuran dibandingkan dengan cut off untuk menilai status gizi

Data yang dikumpulkan dianalisis dan digunakan sebagai dasar tindak lanjut program intervensi dan inisisasi gizi

Sebagai upaya intervensi untuk populasi yang mengalami malnutrisi Intervensi hasil survey bertindak sebagai pengambil keputusan apakah surveilance perlu diteruskan atau tidak

2. Bagaimana waktu, tujuan, manfaat dan langkah-langkah skrining gizi untuk anak baru masuk sekolah ? a. Tujuan Skrining Gizi 1. Meningkatkan kewaspadaan gizi pada keluarga, komunitas dan tenaga kesehatan. 2. Mengoptimalkan pertumbuhan anak. 3. Mengidentifikasi kelompok yang berisiko terjadi malnutrisi atau tidak. (Walker, 2003) b. Manfaat skrining Gizi 1. Untuk penanganan secara dini untuk anak gizi buruk dan bersifat komprehensif. 2. Apabila ditemukan kasus gizi buruk dapat langsung diberikan penanganan. 3. Meningkatkan jangkauan atau cakupan pemulihan gizi. (Kemenkes, 2012) 4. Untuk pengambilan kebijakan dan perencanaan program intervensi gizi. 5. Mengurangi jumlah morbiditas dan mortalitas. 6. Meningkatkan derajat kesehatan. (Charney,2008)

11

c. Langkah-langkah skrining gizi 1. Pengukuran antropometri a. Penimbangan berat badan b. Pengukuran tinggi badan Setelah dilakukan pengukuran antropometri oleh petugas gizi atau tenaga kesehatan lainnya bersama guru UKS. Selanjutnya data yang diperoleh dilaporkan ke Puskesmas, untuk ditentukan status gizinya dan untuk dilakukan tindak lanjut. 2. Penentuan status gizi a. Menghitung nilai IMT masing masing anak b. Membandingkan nilai IMT dengan cut off IMT/U c. Menentukan status gizi anak 3. Tindak lanjut a. Jika ditemukan anak sekolah dengan status gizi kurus , maka anak dirujuk ke Puskesmas untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. b. Jika ditemukan anak sekolah dengan status gizi normal, maka dianjurkan untuk melanjutkan pola hidup sehat c. Jika ditemukan anak sekolah dengan status gizi gemuk atau obesitas, amaka anak dirujuk ke Puskesmas untuk pemeriksaan yang lebih lanjut. (KEMENKES RI, 2012) d. Waktu Skrining Gizi Skrining gizi dilakukan ketika adanya prevalensi yang ditunjukkan secara statistikm bahwa ada masalah gizi melalui nutritional survey, serta saat terjadi KLB. (Walker et al, 2003).

3. Apa saja metode langsung yang dapat dilakukan untuk mengidentifikasi masalah gizi akut dan kronis pada anak usia sekolah dan metode apa yg tepat beserta fungsinya ? Menurut Jellife, 1989 (dalam buku supriasa, 2001), ada 2 metode penilaian status gizi yaitu : a. Metode langsung Meliputi : Antropometri, fungsinya secara khusus digunakan untuk melihat keseimbangan asupan protein dan energy, secara umum tujuan antropometri untuk mengetahui dimensi fisik dan komposisi kasar tubuh manusia pada tingkatan usia dan status gizi yang berbeda. Antropometri meliputi berat badan, tinggi badan, LILA, Lingkar Pinggang, dll (Almatsier, 2011) Biokimia, merupakan pemerikasaan specimen yang diuji secara laboratorium yang dilakukan pada berbagai macam jaringan (darah, uri, ginjal, dll), tujuannya untuk mendeteksi kelainan status gizi sebelum terjadi perubahan nilai antropometri serta timbulnya gejala dan tanda tanda klinik (Almatsier, 2011)

12

Klinis, untuk menilai status gizi berdasarkan atas perubahan perubahan yang terjadi dihubungkan dengan ketidak cukupan gizi (rambut, mata, kulit dan mukosa oral atau organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tyroid), tujuannya untuk mendeteksi gejala dan tanda tanda yang dialami sesorang yang mengalami malnutrisi (Fahmida, 2007) (Supariasa, 2001) Biofisik, metode penentuan status gizi dengan melihat kemampuan fungsi dan melihat perubahan struktur dari jaringan (Supariasa, 2001) b. Metode tidak langsung Meliputi : Dietary, Statistik Vital, dan Faktor Ekologi Metode yang tepat untuk digunakana sesuai scenario adalah Antropometri karena : Mudah Tidak berbahaya Skill bisa diterapkan dengan mudah Membantu dalam identifikasi masalah gizi ringan sampai berat (Fahmida, 2007) Meskipun demikian tidak menutup kemungkinan untuk tidak menggunakan metode assessment lain seperti Klinis, Biokimia, dll Prosedur Pengukuran Antropometri 1. Berat Badan Alat : Timbangan injak Berikut ini prosedur kerja timbangan injak : Letakkan timbangan pada permukaan datar keras. Atur skala ke angka nol dan mengkalibrasi dengan berat standar. Subjek naik ke alat timbang dengan posisi kaki tepat di tengah alat timbang tetapi tidak menutupi jendela baca . Perhatikan posisi kaki responden tepat di tengah alat timbang, sikap tenang (Jangan bergerakgerak) Kepala tidak menunduk (memandang lurus kedepan) Baca skala dan catat berat badan subjek Subjek diperkenankan untuk turun dari timbangan injak. Subjek ditimbang untuk kedua kalinya. Apabila hasil pengukuran 1 dan 2 berbeda >0,5 kg, subjek harus ditimbang untuk ketiga kalinya, hingga memang benar-benar mendapatkan hasil yang valid.

13

Sebelum melakukan pengukuran kepada subjek selanjutnya, alat timbang harus menunjukkan angka nol (Almatsier, 2011) 2. Tinggi Badan Alat :Microtoise Persiapan alat ( cara memasang microtoise ) 1. Gantungkan bandul benang untuk membantu memasang microtoise di dinding agar tegak lurus. 2. Letakan alat pengukur di lantai yang datar tidak jauh dari bandul tersebut dan menempel pada dinding. Usahakan dinding tidak ada lekukan atau tonjolan (rata). 3. Tarik papan penggeser tegak lurus ke atas, sejajar dengan benang berbandul yang tergantung dan tarik sampai angka pada jendela baca menunjukkan angka 0 (NOL). Kemudian dipaku atau direkat dengan lakban pada bagian atas microtoise. 4. Untuk menghindari terjadi perubahan posisi pita, beri lagi perekat pada posisi sekitar 10 cm dari bagian atas microtoise.

Pada lantai yang datar dan rata gantungkan gandul benang untuk membantu agar posisi microtoise tegak lurus.

Letakkan microtoise tidak jauh dari bandul (skala 0)

Tarik papan penggeser tegak lurus keatas, sejajar dengan benang berbandul. Paku atau selotip pd dua bagian dengan jarak 10 cm

14

Prosedur pengukuran Tinggi Badan 1. Minta responden melepaskan alas kaki (sandal/sepatu), topi (penutup kepala). 2. Pastikan alat geser berada diposisi atas. 3. Reponden diminta berdiri tegak, persis di bawah alat geser. 4. Posisi kepala dan bahu bagian belakang, lengan, pantat dan tumit menempel pada dinding tempat microtoise di pasang. 5. Pandangan lurus ke depan, dan tangan dalam posisi tergantung bebas. 6. Gerakan alat geser sampai menyentuh bagian atas kepala responden. Pastikan alat geser berada tepat di tengah kepala responden. Dalam keadaan ini bagian belakang alat geser harus tetap menempel pada dinding. 7. Baca angka tinggi badan pada jendela baca ke arah angka yang lebih besar (ke bawah). Pembacaan dilakukan tepat di depan angka (skala) pada garis merah, sejajar dengan mata petugas. 8. Apabila pengukur lebih rendah dari yang diukur, pengukur harus berdiri di atas bangku agar hasil pembacaannya benar. 9. Pencatatan dilakukan dengan ketelitian sampai satu angka dibelakang koma (0,1 cm). Contoh 157,3 cm; 160,0 cm; 163,9 cm (Almatsier, 2011)

Posisi tumit yang tidak benar

Posisi tumit yang benar

Posisi tangan yang benar ketika menarik papan penggeser

Posisi membaca skala yang benar

15

Hasil pengukuran kearah angka yang lebih besar : 146,5 cm

Posisi kepala, punggung, pantat, betis dan tumit yang benar. Pandangan lurus kedepan.

4. Tools apa yang digunakan untuk skrining gizi pada anak baru masuk sekolah ? sebutkan kelebihan dan keurangannya ! Skrining tools yang digunakan untuk anak baru masuk sekolah adalah NUTRISTEP (Nutrition Screening Tool For Every Preschooler). Nutrition screening tools ini bisa digunakan untuk mengetahui kebiasaan makan dan mengidentifikasi masalah gizi pada anak. NUTRISTEP ini berisi 17 pertanyaan. (Nutristep, 2011) Namun untuk di Indonesia langsung digunakan parameter umur, berat bdan, tinggi badan, lingkar lengan atas (LILA), karena parameter ini dianggap sensitif untuk malnutrisi pada anak. (Samour, 2004). Berikut ini form yang digunakan untuk penjaringan kasus gizi buruk.

16

Contoh Formulir Pencatatan Kartu Status (Kemenkes, 2011)

5. Apa saja parameter dan indikator yang dibutuhkan untuk identifikasi masalah gizi akut dan kronis pada anak usia sekolah? Bagaimana cut off masalah gizi akut dan kronis untuk anak ? Public Health Indicators Gizi Akut : Parameter Berat badan Indikator IMT/U Cut-off <-3 SD -3SD sd -2SD -2SD sd -1SD 1 sd 2 SD >2 SD Interpretasi Sangat kurus Kurus Normal Gemuk Obesitas

17

Gizi kronis Parameter TB Indikator TB/U Cut-off <-3 SD -3SD sd -2SD -2SD sd 2SD >2 SD Interpretasi Sangat pendek Pendek Normal Tinggi

Cut-off values for public health significance Indicator Underweight Prevalence cut-off values for public health significance < 10%: Low prevalence 10-19%: Medium prevalence 20-29%: High prevalence 30%: Very high prevalence < 20%: Low prevalence 20-29%: Medium prevalence 30-39%: High prevalence 40%: Very high prevalence < 5%: Acceptable 5-9%: Poor 10-14%: Serious 15%: Critical

Stunting

Wasting

6. Apa saja kendala dalam melakukan skrining gizi pada anak sekolah ? Perbedaan etnis dan budaya pada komunitas Validitas umur anak yang dinyatakan ibu sangat rendah sehingga mempengaruhi prevalensi status gizi Kesalahan pembuatan parameter Masalah teknis dan Human error

7. Siapa saja yang berperan dalam skrining gizi sesuai skenariao dan siapa yang bisa menjadi observer ? Pihak-pihak yang terlibat dalam skrining gizi antara lain : orang tua murid/pengasuh, guru, dan tenaga kesehatan seperti ahli gizi maupun perawat, serta kader-kader yang sudah terlatih. (USC UAP)

8. Apa saja macam-macam level of objective pada dietary assessment dan apa saja metode dari masingmasing level of objective? Level dan metode apa yg tepat sesuai kasus ? a. Level 1: Mean intake of a group a) Mengukur food intake dari setiap subjek hanya satu hari b) Memastikan semua hari dari satu minggu dapat terwakilkan pada sampel c) Menggunakan single 24-hour recall/ food record/ weighed diet record 18

b. Level 2: Proportion at risk to inadequate intakes a) Mengukur food intake sedikitnya 2 hari dari sub-sample (30-40 subjek) b) Untuk pengukuran sebaiknya dilakukan pada hari yang tidak berurutan, apabila dilakukan pada hari yang berurutan maka dibutuhkan pengukuran ketiga c) Menggunakan multiple 24-hour recalls/ food records/ weighed diet records c. Level 3: Rank intakes of subjects within the distributions a) Pengulangan secara multiple dari 24-hour recalls/ diet records/ diet history b) Semi-quantitative FFQ dapat dipilih sebagai alternative d. Level 4: Usual intakes for correlations or counseling a) Dibutuhkan pengulangan dalam jumlah yang besar b) Semi-quantitative FFQ/ diet history dapat dipilih sebagai alternative NOTE: untuk level 3 dan level 4, jumlah pengulangan bergantung pada variasi subjek. Semakin tinggi yang terjadi pada subjek semakin sering pengulangan dilakukan. LEVEL 1 Mean nutrient intake of group LEVEL 2 Proportion of population at risk LEVEL 3 Usual intake of nutrients in individuals for ranking within a group Replicates in all LEVEL 4 Usual intakes of foods/ nutrients in individuals for counseling/ for correlation/ regression analysis Replicates in all

All days of the week equally represented

At least 2 replicates in subsample

SINGLE 24-hour recall/ food record/ weighed diet record

MULTIPLE 24-hour recalls/ food records/ weighed diet records

Semi QuantitativeFFQ

Diet History

The four levels of objectives in measuring nutrient intakes and methods which can be used to meet the objectives Level of objectives dan metode yang paling tepat digunakan sesuai skenario yaitu Level 2 dengan menggunakan multiple 24-hour recalls.

9. Bagaimana melakukan proses standardisasi (termasuk cara menguji calon pengukur melalui intra dan inter observer variation) ?

19

Proses Standardisasi 1) Menyiapkan subjek yang akan diukur, biasanya pada proses standardisasi terdapat 10 subjek 2) Setiap observer/pengukur mengukur setiap subjek secara independen sebanyak dua kali, untuk menghindari adanya pengaruh pengukuran pertama terhadap pengukuran kedua 3) Mencatat hasil pengukuran pertama pada form, kemudian lakukan pengukuran kedua dan dicatat pula pada form 4) Supervisor juga melakukan pengukuran kepada seluruh subyek sebanyak dua kali, kemudian hasil pengukuran supervisor digunakan sebagai referensi 5) Memindahkan seluruh data ke format tabulasi 6) Mengukur akurasi dan presisi setiap subjek melalui tabel berikut: subjek a supervisor b d d2 a observer b d d2 tanda s S D D2 tanda

7) Mengisi kolom a untuk pengukuran pertama dan kolom b untuk hasil pengukuran kedua, baik pada kolom supervisor maupun observer 8) Mengisi kolom d untuk nilai selisih pengukuran pertama dan kedua, ditulis pula hasil nilainya positif (+) atau negatif (-) d = (a-b) 9) Mengisi kolom d2 dengan mengkuadratkan nilai kolom d d2 = (a-b) 2 10) Mengisi kolom tanda yang pertama dengan tanda (+) atau (-) sesuai nilai dari kolom d observer. Apabila nilainya nol (0), maka tidak perlu diisi 11) Menjumlahkan total nilai kolom d2 baik pada kolom supervisor maupun observer 12) Mengisi kolom s dengan penjumlahan hasil pengukuran pertama dan kedua observer s = (a+b) 20

13) Mengisi kolom S dengan penjumlahan hasil pengukuran pertama dan kedua supervisor S2 = (a+b) 2 14) Mengisi kolom D dengan nilai pengurangan antara nilai kolom s dan kolom S 15) Mengisi kolom D2 dengan mengkuadratkan nilai kolom D 16) Mengisi kolom tanda yang terakhir dengan tanda (+) atau (-) sesuai nilai kolom D. Apabila nilai kolom D nol (0) maka tidak perlu diisi 17) Jumlahkan total nilai pada kolom D dan kolom D2 18) Menarik kesimpulan: a. Presisi jika nilai total d2 observerkurang dari dua kali total d2 supervisor d2 observer < 2* d2 supervisor presisi b. Akurat jika nilai total D2 dari observer kurang dari tiga kali total d2 supervisor D2 < 2* d2 supervisor akurat

19) Jika ditemukan akurasi dan/atau presisi yang masih kurang, dapat ditelusuri penyebabnya dan kemudian dikoreksi (Fahmida dan Dillon, 2007)

10. Apa saja faktor yang mempengaruhi intra dan inter-observer variation ? a. Intra-observer variation Perbedaan hasil pengukuran pada observer yang sama, menunjukkan kurangnya presisi data, disebutkan dengan random error. - Individual biological variation: keragaman dalam subjek yang diukur itu sendiri, terutama berkaitan dengan data biokimia. - Kesalahan dalam proses pengukuran dan perekaman data: kesalahan pengukur, seperti kesalahan mengasumsikan berat makanan pada 24 hours recall b. Inter-observer variation Perbedaan hasil pengukuran pada observer yang berbeda, menunjukkan kurangnya akurasi data, disebut dengan systematic error/bias. - Bias pada alat, misal perbedaan derajat kompresi pada pengukuran LILA. - Bias dalam mengasumsikan berat makanan pada dietary assessment. - Perbedaan dalam merekam dan menginterpretasikan informasi. (Gibson, 2005)

21

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

KESIMPULAN Screening, surveilance dan survey merupakan suatu system dalam Nutritional Assessment. Skrining gizi merupakan identifikasi pada suatu individu maupun kelompok untuk mengetahui apakah berisiko malnutrisi atau tidak. Langkah-langkah dalam skrining gizi yaitu pengukuran antropometri, Penentuan status gizi, Tindak lanjut. Dalam melakukan skrining gizi dapat dilakukan melalui metode langsung (antropometri, biokimia, klinis) dan metode tak langsung (dietary). Tool yang digunakan untuk skrining gizi pada anak baru masuk sekolah adalah NUTRISTEP untuk mengetahui kebiasaan makan dan mengidentifikasi masalah gizi pada anak, parameternya adalah berat badan untuk masalah gizi akut dan tinggi badan untuk masalah gizi kronis dengan indikator IMT/U dan TB/U. Level of objective dalam dietary assessment terbagi menjadi empat level yaitu level 1, level 2, level 3 dan level 4. Seseorang yang akan melakukan pengukuran pada skrining gizi harus melalui proses standardisasi supaya data yang diperoleh akurat dan valid. REKOMENDASI Skrining gizi merupakan suatu upaya untuk menangani pencegahan terhadap kejadian malnutrisi. Oleh karena itu perlu diberikan suatu materi khusus tentang skrining gizi termasuk dengan praktikum melakukan skrining gizi di lingkungan masyarakat.

22

DAFTAR PUSTAKA

Almatsier,Sunita et al.2011.Gizi Seimbang Dalam Daur Kehidupan.Jakarta:Kompas Gramedia Charney, Pamela et al. 2008. Nutrition Screening and Nutrition Assessment. ADA Pocket Guide to Nutrition Assessment Fahmida,Umi.Dillon,Drupadi HS.2007.Handbook Nutritional Assessment.Jakarta:Universitas Indonesia Gibson, Rosalind S. 2005. Principles of Nutritional Assessment 2nd Edition : Google book. Kemenkes RI. 2011. Pedoman Pelayanan Anak Gizi Buruk. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia KEMENKES RI. 2012. Pedoman Pencegahan dan Penanggulangan Kegemukan dan Obesitas pada Anak Sekolah. Nutrition Resources Centre. 2008. Nutrstep USC UAP. Nutrition Strategies For Children With Special Needs. Children Hospital Los Angeles. Walker, Allan et al. 2003. Third Edition : Nutrition in Pediatrics. World Health Organization. 2010. Nutrition Landscape Information System (NLIS) : Country Profile Indicators.

23

TIM PENYUSUN

A. KETUA DIAN NUR ARIANI 115070300111025

B. SEKRETARIS 1. MUCHAMMAD ILHAM GUMILAR 2. ADISTI DYAH PERMATANINGTYAS 115070307111006 115070301111012

C. ANGGOTA 1. TYSKA AULIA A 2. AGNES WIDYASARI 3. AFIFA NUR SALIMA 4. MUSTIKA ARUM H W P J 5. ANA DWI FIBRIYANTI 6. SAFHIRA ROVIDA 7. KARINA MUTHIA SHANTI 8. ERIKA DAMAYANTI 9. LAILY EKAWATI CANDRA 10. LUCKY ASTRIDA E 115070300111019 115070307111015 115070301111013 115070300111038 115070301111008 115070300111043 115070301111007 115070300111039 115070301111024 115070313111005

D. FASILITATOR IZZA AZIZY

E. PROSES DISKUSI 1. KEMAMPUAN FASILITATOR DALAM MEMFASILITASI Fasilitator dapat mengarahkan diskusi dengan baik. Ketika diskusi mulai keluar dari tujuan diskusi, fasil dapat mengarahkan kembali pada tujuan yang sesuai.

2. KOMPETENSI / HASIL BELAJAR YANG DICAPAI OLEH ANGGOTA DISKUSI Hasil belajar yang diperoleh anggota diskusi pada saat DK (Diskusi Kelompok) 1 hampir mencapai 100% dari Problem Identification (PI) yang sudah dirumuskan oleh tim dosen Problem Based Learning (PBL). Kemudian, setelah melakukan self study yang dituliskan pada logbook mahasiswa dapat meningkatkan pengetahuan terkait skenario yang diberikan. Hal ini dapat ditunjukkan dari DK (Diskusi Kelompok) 2 yang sudah mencapai 100% sehingga dapat merumuskan hipotesis yang tepat. Dengan ini, dapat disimpulkan bahwa kelompok G mencapai CADE 40 yaitu Mahasiswa mampu mengawasi screening 24

status gizi suatu populasi atau masyarakat (Supervise screening of the nutritional status of the population and/or community groups) dan CADE 41 yaitu Mahasiswa mengkaji status gizi populasi dan atau kelompok di masyarakat (Conduct assessment of the nutritional status of the population and/or community groups)

25