Anda di halaman 1dari 96

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI

NON PERFORMING LOAN (NPL) PADA BANK BUMN DI INDONESIA


SKRIPSI
Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan
Guna Memperoleh Gelar
Sarjana Ekonomi
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI
NON PERFORMING LOAN (NPL) PADA BANK BUMN DI INDONESIA
SKRIPSI
Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan
Guna Memperoleh Gelar
Sarjana Ekonomi
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI
NON PERFORMING LOAN (NPL) PADA BANK BUMN DI INDONESIA
SKRIPSI
Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan
Guna Memperoleh Gelar
Sarjana Ekonomi
JULIANA
A 211 07 621
FAKULTAS EKONOMI
JURUSAN MANAJEMEN
JULIANA
A 211 07 621
FAKULTAS EKONOMI
JURUSAN MANAJEMEN
JULIANA
A 211 07 621
FAKULTAS EKONOMI
JURUSAN MANAJEMEN
ABSTRAK
JULIANA. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Non Performing Loan (NPL) Pada Bank
BUMN Di Indonesia (dibimbing oleh Dr. Idayanti, SE, M.Si dan Drs. Fauzi R Rahim, M.Si).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jumlah kredit yang diterima oleh bank
(X) dan kredit bermasalah (Y), pada PT Bank BUMN Se- Indonesia. Teknik analisis yang
digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi sederhana, analisis korelasi (r), serta
pengujian hipotesis dengan analisis uji-t.
Dari hasil perhitungan regresi sederhana diperoleh nilai konstanta (a) adalah 0.66846 dan
nilai koefisien regresi (b) adalah 0,279, sehingga diperoleh persamaan regresi sederhana yaitu Y^
= 0.66846 + 0,279X yang berarti koefisien intercept (a) atau nilai konstanta = 0.66846 ini
menunjukkan jika tingkat penyaluran kredit konsumtif Rp 0, maka pendapatan bunga kredit akan
mengalami peningkatan sebesar Rp 668.460. Sedangkan koefisien regresi (b) = 0,279
menunjukkan bahwa setiap terjadi perubahan tingkat kredit konsumtif sebesar Rp 1, maka akan
menyebabkan peningkatan pendapatan bunga kredit sebesar Rp 0,279.
Hasil korelasi (r) antara jumlah kredit yang diterima oleh bank (X) dan kredit bermasalah
(Y) diperoleh r = 0,279 yang menunjukkan terjadi korelasi yang sangat kuat antara kredit
konsumtif dan pendapatan bunga kredit. Hal ini berarti bahwa apabila penyaluran kredit
konsumtif meningkat, maka pendapatan bunga kredit pada PT Bank BUMN Se-Indonesia juga
meningkat.
Sedangkan kontribusi kredit konsumtif terhadap pendapatan bunga kredit dapat dilihat
melalui nilai koefisien determinasi yang diperoleh yaitu r
2
= 0,28, yang berarti bahwa kredit
konsumtif berpengaruh sebesar 28% terhadap pendapatan bunga kredit, sedangkan sisanya yaitu
sebesar 72% dipengaruhi oleh variabel-variabel lainnya yang tidak dibahas dalam penelitian ini.
Dari hasil perhitungan anlisis uji-t, diperoleh t
hitung
= 2.890 dan t
tabel
= 1,860, dengan
signifikansi 0,000 < 0,05. Karena t
hitung
> t
tabel,
maka dapat disimpulkan bahwa H
0
ditolak dan H
a
diterima, yang berarti bahwa terdapat pengaruh dan kontribusi yang signifikan antara jumlah
kredit (X) secara parsial terhadap kredit macet (Y) pada PT Bank BUMN Se-Indonesia. Dengan
demikian, hasil penelitian ini mendukung hipotesis.
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.... i
HALAMAN PERSETUJUAN. ii
HALAMAN PENGESAHAN iii
KATA PENGANTAR.... iv
ABSTRAK. vii
DAFTAR ISI viii
DAFTAR TABEL.. ....... xii
DAFTAR GAMBAR......... xiv
DAFTAR GRAFIK....... xv
BAB I PENDAHULUAN 1
1. Latar Belakang Masalah 1
2. Rumusan Masalah. 5
3. Tujuan dan Manfaat Penelitian. 5
4. Sistematika Penulisan 6
BAB II TINJUAN PUSTAKA 8
1. Bank.. 8
A. Pengertian Bank dan Perbankan.. 9
B. Fungsi dan Tujuan Bank 10
A. Klasifikasi Bank....... 12
B. Jenis-jenis Resiko dalam Perbankan 15
3. Kredit 18
A. Pengertian Kredit.. 18
B. Pengertian Kredit Bermasalah18
C. Penyebab Kredit Macet.. 18
D. Unsur-Unsur Kredit 26
E. Fungsi Kredit.. 27
F. Penilaian Dalam Pemberian Kredit. 28
3. Jenis-Jenis Kredit 29
A. Menurut Jangka Waktu (maturity) 30
B. Menurut Tujuan Kredit.. 31
C. Menurut Penggunaan Kredit.. 31
4. Faktor-Faktor Kredit Macet. 32
A. Pengertian Kredit Macet 32
B. Gejala-Gejala Kredit Macet... 33
C. Non-Performing Loan (NPL). 38
D. Loan to Deposite Ratio (LDR) 40
5. Penelitian Sebelumnya.. 40
6. Kerangka Pemikiran dan Hipotesis 41
A. Kerangka Pemikiran.. 42
B. Hipotesis 43
BAB III METODE PENELITIAN 44
1. Lokasi Penelitian ...... 44
2. Jenis dan Sumber Data ..... 44
A. Jenis Data. 44
B. Sumber Data..... 44
3. Metode Pengumpulan data...... 45
4. Definisi Operational Variabel..... 46
5. Teknik Analisis Data.. 47
A. Ananlisis Deskriptif.. 47
B. Analisis Regresi Sederhana.. 47
6. Rancangan Pengujian Hipotesis............................................................. 48
A. Uji Koefisien Korelasi (r). 48
B. Uji Koefisien Determinasi (r
2
).. 49
C. Uji-t... 50
BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 52
4.1 PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk. 52
A. Sejarah Singkat Perusahaan....... 52
B. Visi dan Misi PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk. 54
4.2 PT Bank Mandiri (Persero), Tb. 55
A. Sejarah Singkat Perusahaan... 55
B. Visi dan Misi PT Bank Mandiri (Persero), Tbk............ 58
4.3 PT Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk. 58
A. Sejarah Singkat Perusahaan...58
4.4 PT Bank Tabungan Negara (Persero), Tbk61
A. Sejarah PT Bank Tabungan Negara (PERSERO), Tbk 61
B. Visi dan Misi PT Bank Tabungan Negara (Persero), Tbk 64
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 65
5.1 Analisis Non Performing Loan (NPL).................. 65
5.3 Analisis Loan to Deposit Ratio (LDR). 67
5.3 Analisis Regresi Sederhana.. 70
A. Uji Heteroskedisitas.. 72
B. Uji Normalitas 77
C. Uji t 77
5.4 Hasil Pengujian Hipotesis..................................................................... 78
A. Analisis korelasi (r)......................................................................... 79
B. Analisis Determinasi (r
2
)................................................................ 80
BAB VI PENUTUP 81
6.1. Kesimpulan.. 81
6.2. Saran 82
DAFTAR PUSTAKA 8
DAFTAR TABEL
Tabel 5.1 Total Non Performing Loan (NPL) Bank BRI (dalam %) Periode 2006
2010 65
Tabel 5.2 Total Non Performing Loan (NPL) Bank BNI (dalam %) Periode 2006-
2010.. 65
Tabel 5.3 Total Non Performing Loan (NPL) Bank BTN (dalam %) Periode 2006-
2010.. 65
Tabel 5.4 Total Non Performing Loan (NPL) Bank Mandiri (dalam %) Periode 2006-
2010.. 66
Tabel 5.5 Total Loan to Deposit Ratio (LDR) Bank BRI (dalam %) Periode 2006-
2007 67
Tabel 5.6 Total Loan to Deposit Ratio (LDR) Bank BNI (dalam %) Periode 2006-
2007 67
Tabel 5.7 Total Loan to Deposit Ratio (LDR) Bank BTN (dalam %) Periode 2006-
2007 67
Tabel 5.8 Total Loan to Deposit Ratio (LDR) Bank Mandiri (dalam %) Periode 2006-
2007 68
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Kerangka Pikir................................................................................. 41
DAFTAR GRAFIK
Grafik 5.8 Scatterplot ............................................................................................ 73
Grafik 5.9 Histogram............................................................................................. 74
Grafik 5.10Normal P-P plot of Regression Standardized Residual ....................... 75
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
Bank adalah lembaga yang menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan
kembali pada masyarakat dalam bentuk kredit. Oleh karena itu, kredit menjadi salah satu
kegiatan operasional utama bank dalam upaya memperoleh laba. Penggunaan dana untuk
kredit perbankan mencapai 70%-80% dari volume usaha bank.
Walaupun kredit dianggap sebagai salah satu sumber utama, namun bukan berarti
perbankan lancar dalam kegiatan penyaluran kreditnnya. Kondisi dimana kredit yang
telah disalurkan bank kepada masyarakat dan ternyata tidak dapat dibayar kembali pada
pihak bank tepat pada waktunya sesuai dengan perjanjanjian kreditnya, yang meliputi
pinjaman pokok dan bunga, menyebabkan kredit dapat digolongkan menjadi kredit
bermasalah atau non performing loan (selanjutnya disingkat NPL).
Jenis resiko ini tampaknya cukup berpotensi menimbulkan tekanan terhadap
stabilitas perbankan atau risiko kredit. Meskipun data yang ada pada PT. Bank BUMN
menunjukkan bahwa risiko ini cukup terkendali di tahun 2009 dan bahkan dari sisi rasio
NPL terdapat penurunan dalam beberapa tahun terakhir, namun kedepan akan mengalami
peningkatan.
Keberadaan kredit macet dalam dunia perbankan merupakan suatu penyakit kronis yang
sangat mengganggu dan mengancam sistem perbankan Indonesia yang harus diantisipasi oleh
semua pihak terlebih lagi keberadaan bank mempunyai peranan strategis dalam kegiatan
perekonomian Indonesia. Kredit yang diberikan oleh bank mempunyai pengaruh yang sangat
penting dalam kehidupan perekonomian suatu negara, karena kredit yang diberikan secara
selektif dan terarah oleh bank kepada nasabah dapat menunjang terlaksananya pembangunan
sehingga bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat. Kredit yang diberikan oleh bank sebagai
sarana untuk mendorong pertumbuhan ekonomi baik secara umum maupun khusus untuk sektor
tertentu. Adapun tujuan utama pemberian suatu kredit antara lain :
1. Mencari Keuntungan
Yaitu bertujuan untuk memperoleh hasil dari pemberian kredit tersebut. Hasil tersebut
terutama dari bentuk bunga yang diterima oleh bank sebagai balas jasa dan biaya
administrasi kredit yang dibebankan kepada nasabah.
2. Membantu Usaha Nasabah
Tujuan lainnya adalah untuk membantu usaha nasabah yang memerlukan dana, baik
dana investasi maupun dana untuk modal kerja, maka pihak debitur akan dapat
mengembangkan dan memperluas usahanya.
3. Membantu Pemerintah
Bagi pemerintah semakin banyak kredit yang disalurkan oleh pihak perbankan maka
semakin baik, semakin banyak kredit berarti adanya peningkatan pembangunan
diberbagai sektor. Bank dalam memberikan kredit, wajib mempunyai kenyakinan atas
kemampuan dan kesanggupan debitur untuk melunasi hutangnya sesuai dengan yang
diperjanjikan, serta harus memperhatikan asas-asas perkreditan yang sehat karena
kredit yang diberikan oleh bank mengandung resiko. Dalam pemberian kredit ini bank
menghendaki adanya jaminan atau agunan yang dapat digunakan sebagai pengganti
pelunasan hutang bilamana dikemudian hari debitur cedera janji atau wanprestasi.
Jaminan kredit merupakan jaminan akan pelunasan kredit
yang diberikan kepada debitur dengan cara mengeksekusi objek jaminan kredit.
Hal-hal yang mendasari perkiraan ini adalah, pertama krisis global belum
sepenuhnya berakhir sehinga masih mungkin menyisakan dampak berupa peningkatan
resiko kredit. Kedua, dengan mulai membaiknya kondisi perekonomian pertumbuhan
kredit biasanya akan meningkat, sehingga kalau terlalu cepat bertumbuh dapat berpotensi
meningkatkan risiko kredit. Ketiga, jumlah kredit dengan kolektibilitas Dalam Perhatian
Khusus (golongan 2) pada PT. Bank BUMN masih cukup besar yaitu Rp. 670.603.710
per desember 2009. Apabila kondisi ekonomi tiba-tiba memburuk sehingga misalnya
25% dari kredit Dalam Perhatian Khusus akan mengalami peningkatan. Untuk
meminimalisir resiko kredit ini, kehati-hatian sangat perlu dijaga oleh bank.
Non Performing loan (NPL) adalah salah satu cara untuk menilai kinerja fungsi
bank dalam mengelola bisnisnya. NPL yang tinggi menyebabkan timbulnya masalah
likuiditas (ketidakmampuan membayar pihak ketiga), rentabilitas (utang tidak bisa
ditagih), ataupun solvabilitas (modal berkurang).
Penyebab terjadinya NPL pada sektor perbankan dapat dikelompokkan menjadi
dua, yaitu: faktor internal bank, yang berhubungan dengan kebijakan dan strategi yang
ditempuh pihak bank, baik manajemen maupun kualitas sumber daya manusia dan faktor
eksternal yang berhubungan dengan perekonomian, persaingan dan kondisi usaha debitur.
Faktor-faktor internal bank merupakan faktor yang dapat dikendalikan dan
dikelola secara langsung oleh bank. Oleh kerena itu, Dalam penelitian ini penulis
menggunakan variable-variabel perhitungan rasio perbankan sebagai faktor-faktor
internal bank, yaitu Loan to Deposite Ratio (LDR) terhadap kredit macet Non Performing
Loan (NPL) pada Bank BUMN untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi
tingkat NPL.
Kondisi tersebut menarik perhatian peneliti untuk menyusun Tugas Akhir dengan
judul ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI NON
PERFORMING LOAN (NPL) PADA BANK BUMN.
2. Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka yang menjadi rumusan
masalah adalah :
1. Apakah Non Performing Loan (NPL) berpengaruh positif dan signfikan terhadap
profitabilitas (LDR) PT Bank BUMN di Indonesia?
2. Tujuan dan Manfaat Penelitian
` A. Tujuan penelitian
Sesuai dengan permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini, maka tujuan
penelitian adalah untuk menunjukkan:
1. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh Non Performing Loan (NPL) terhadap
(LDR) pada PT Bank BUMN Di Indonesia.
B. Manfaat Bagi penulis
Manfaat yang diharapkan dari kajian penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Sebagai literature tambahan bagi mahasiswa/i fakultas ekonomi yang ingin
melakukan penelitian selanjutnya.
2. Sebagai sumbangan informasi mengenai beberapa faktor yang memengaruhi non
performing loan untuk semua pihak yang membutuhkan
3. Untuk menambah pengetahuan penulis mengenai perbankan.
4. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan yang dimaksudkan untuk memberikan gambaran secara
keseluruhan mengenai hal-halyang akan diuraikan dalam proposal ini. Secara garis besar
proposal ini terdiri dari tiga bab, yaitu :
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini berisi tentang : latar belakang masalah yang merupakan uraian
tentang aspek-aspek yang diungkapkan berupa fenomena-fenomena yang menjadi
masalah penelitian, perumusan masalah yang merupakan pertanyaan penelitian yang
didasarkan pada ruang lingkup permasalahan yang diteliti, pembatasan masalah yang
diperlukan agar permasalahan yang ada tidak akan meluas, tujuan penelitian dan manfaat
penelitian merupakan jawaban terhadap rancangan yang akan dikaji dalam penelitian,
metode penelitian menjelaskan mengenai cara yang digunakan dalam melakukan
penelitian, dan yang terakhir sistematika skripsi yang berisi garis besar skripsi ini.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Dalam bab ini diuraikan tentang : tinjauan pustaka yang berhubungan dengan objek
penelitian. Dalam menganalisis permasalahan yang akan diulas yaitu Loan to Deposite
Ratio (LDR) terhadap Non Performing Loan (NPL). Secara keseluruhan terdiri dari :
tinjauan umum tentang bank, dana bank, biaya dana bank, suku bunga, dan pendapatan
bunga bank, hasil penelitian sebelumnya, kerangka pikir, hipotesis, serta model
penelitian.
BAB III METODE PENELITIAN
Dalam bab ini diuraikan tentang : metode yang digunakan, jenis dan sumber data,
teknik dan metode pengumpulan data, metode analisis data, operasionalisasi variabel,
serta teknik pengolahan data.
BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
Dalam bab ini diuraikan tentang : gambaran umum perusahaan yang diteliti dalam
hal ini bank persero yang ada di Indonesia.
BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
Dalam bab ini diuraikan tentang : Loan to Deposite Ratio (LDR) terhadap Non
Performing Loan (NPL) dan pengujian hipotesis.
BAB VI PENUTUP
Dalam bab ini diuraikan tentang : simpulan yang berisi kesimpulan yang telah teruji
dalam penelitian dan saran.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Bank
A. Pengertian Bank dan Perbankan
Undang-undang RI nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah
diubah dengan undang-undang nomor 10 Tahun 1998 menyatakan Bank adalah badan
usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan menyalurkan
kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka
meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.
Hasibuan (2007) bahwa bank adalah lembaga keuangan berarti bank adalah badan
usaha yang kekayaannya terutama dalam bentuk aset keuangan (financial asset) serta
bermotifkan profit dan juga sosial, jadi bukan hanya mencari keuntungan saja.
Dahlan Siamat (2001) menjelaskan bahwa bank dalam melakukan usahanya
dalam menghimpun dana dalam bentuk simpanan yang merupakan sumber dana bank.
B. Fungsi dan Tujuan Bank
Undang-undang RI nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah
diubah dengan undang-undang nomor 10 Tahun 1998, menjelaskan bahwa fungsi
utama perbankan Indonesia adalah sebagai penghimpun dan penyalur dana
masyarakat. Tujuan Perbankan Indonesia menunjang pelaksanaan pembangunan
nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan, pertumbuhan ekonomi, stabilitas
ekonomi kearah peningkatan kesejahteraan rakyat banyak.
Sigit Triandaru dan Totok Budisantoso (2006 menyatakan bahwa fungsi bank
secara umum adalah menghimpun dana dari masyarakat untuk berbagai tujuan atau
sebagai financial intermediary. Secara lebih spesifik bank dapat berfungsi sebagai
agent of trust, agen of development, dan agen of service.
1. Agent of trust
Dasar utama kegiatan perbankan adalah kepercayaan (trust), baik dalam
penghimpunan dana maupun penyaluran dana. Masyarakat akan mau menitipkan
dananya di bank apabila dilandasi adanya unsur kepercayaan. Masyarakat percaya
bahwa dananya tidak disalahgunakan oleh bank, uangnya akan dikelola dengan
baik, bank tidak akan bangkrut, dan pada saat yang ditentukan simpanan tersebut
dapat ditarik kembali dari bank. Pihak bank sendiri akan menempatkan atau
menyalurkan dananya pada debitur atau masyarakat apabila dilandasi adanya
unsur kepercayaan.
2. Agen of development
Kegiatan bank berupa penghimpunan dan penyaluran dana sangat diperlukan bagi
lancarnya kegiatan perekonomian disektor riil. Kegiatan bank tersebut
memungkinkan masyarakat melakukan kegiatan investasi, distribusi, serta
kegiatan konsumsi barang dan jasa, mengingat bahwa investasi, distribusi,
konsumsi tidak dapat dilepaskan dari adanya penggunaan uang. Kelancaran
investasi-distribusi-konsumsi ini adalah kegiatan pembangunan perekonomian
masyarakat.
3. Agen of service.
Disamping melakukan kegiatan menghimpun dan menyalurkan dana, bank juga
melakukan penawaran jasa perbankan yang lain kepada masyarakat. Jasa yang
ditawarkan bank ini erat kaitannya dengan kegiatan perekonomian masyarakat
secara umum. Jasa ini antara lain dapat berupa jasa pengiriman uang, penitipan
barang berharga, bagian jaminan bank, dan penyelesaian tagihan.
C. Klasifikasi Bank
Berdasarkan fungsi dan tujuan operasional, bank dapat dibagi menjadi:
1. Bank Sentral
Bank sentral memiliki tujuan untuk menjaga stabilitas perekonomian makro. Bank
sentral melakukan fungsinya dengan melakukan pengaturan, pengawasan, dan
pembinaan terhadap sektor perbankan. Bank yang menjalankan fungsinya sebagai
bank sentral di Indonesia adalah Bank Indonesia.
2. Bank Komersial
Bank komersial memiliki tujuan untuk menghasilkan keuntungan. Keuntungan
bank komersial diperoleh dari selisih antar suku bunga pinjaman dan suku bunga
penempatan dana pihak ketiga.
Bank komersial di Indonesia berdasarkan cakupan kegiatan operasionalnya dapat
dibagi menjadi :
1. Bank Umum
Bank umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau
berdasarkan prinsip syariah yang ada dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu
lintas pembayaran. Para ahli mendefinisikan bank umum sebagai institusi keuangan
berorientasi laba.
2. Bank Perkreditan Rakyat (BPR)
BPR adalah bank yang dalam kegiatannya jasa lalu lintas pembayaran dimana
kegiatan BPR hanya dibatasi pada intermediasi pada keuangan saja. Oleh karena itu,
biasanya BPR hanya beroperasi pada wilayah terbatas dan memiliki jumlah aset yang
lebih kecil dibandingkan bank umum.
Berdasarkan tata cara pengelolaan kegiatan operasionalnya, bank terbagi atas:
1. Bank Konvensioanal
Bank konvensional adalah bank yang menjalankan kegiatan usahanya secara
konvensional.
2. Bank Syariah
Bank syariah adalah bank yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip
syariah.
Perbedaan mendasar antara kedua jenis bank ini salah satunya adalah dengan
tidak menerapkan sistem bunga, namun bedasarkan bagi hasil sesuai dengan ajaran
agama islam yang mengharamkan hukum riba (bunga).
Berdasarkan status kepemilikannya, bank di Indonesia dibedakan menjadi :
1. Bank Persero/ Bank BUMN (Badan Usaha Milik Negara)
Bank persero atau juga sering disebut BUMN adalah bank yang seluruh atau sebagian
besar sahamnya dimiliki oleh pemerintah pusat.
2. Bank Pemerintah Daerah
Bank pemerintah daerah adalah bank yang seluruh atau sebagian besar sahamnya
dimiliki oleh daerah.
3. Bank Swasta Nasional
Bank swasta nasional adalah bank yang seluruh atau sebagian besar sahamnya
dimiliki oleh pihak swasta nasional.
4. Bank Asing
Bank asing adalah bank yang seluruh atau sebagian besar sahamnya dimiliki oleh
pihak asing, yang membuka kantor cabangnya di Indonesia, dimana kantor pusatnya
berada diluar negeri.
5. Bank Campuran
Bank campuran adalah bank yang seluruh atau sebagian besar sahamnya dimiliki
pihak asing dan pihak swasta nasional.
Bedasarkan perizinan untuk melakukan transaksi dalam mata uang asing, bank
dapat dibedakan menjadi :
1. Bank Devisa
Bank devisa adalah bank yang memiliki perizinan untuk dapat melakukan transaksi
dalam mata uang asing.
2. Bank non Devisa
Bank non devisa adalah bank yang tidak memiliki perizinan untuk dapat melakukan
transaksi dalam mata uang asing dan hanya menggunakan satu jenis mata uang
(rupiah) dalam transaksi perbankan.
C. Jenis-jenis Resiko dalam Perbankan
Resiko dalam konteks perbankan merupakan suatu kejadian potensial, baik yang
dapat diperkirakan (anticipated) maupun yang tidak dapat diperkirakan (unantisipated)
yang berdampak negatif terhadap pendapatan dan permodalan bank. Untuk dapat
menerapkan proses manajemen resiko, maka pada tahap awal bank harus secara tepat
mengidentifikasi resiko dengan cara mengenal dan memahami seluruh resiko yang sudah
ada (inherent risks) maupun yang mungkin timbul dari suatu bisnis baru bank, termasuk
risiko yang bersumber dari perusahaan terkait dan afiliasi lainnya.
Sesuai dengan surat edaran Bank Indonesia Nomor 5/21/DPNP/2003 tentang
Pedoman Standar Penerapan Manajemen Risiko bagi Bank Umum, maka proses
identifikasi, pengukuran, pemantauan, dan sistem informasi risiko Bank Umum dilakukan
terhadap jenis-jenis risiko tersebut:
1. Risiko Kredit
Risiko kredit adalah risiko yang terjadi akibat kegagalan pihak lawan (counterparty)
memenuhi kewajibannya. Risiko kredit dapat bersumber dari berbagai aktivitas
fungsional bank seperti perkreditan (penyediaan dana), treasuri dan investasi, dan
pembiayaan perdagangan, yang tercatat dalam banking book maupun trading book.
2. Risiko Pasar
Risiko pasar adalah risiko yang timbul karena adanya pergerakan variabel pasar dari
portofolio yang dimilki oleh bank, yang dapat merugikan bank (adverse movement).
Yang dimaksud dengan variabel pasar adalah suku bunga dan nilai tukar.
3. Risiko Likuiditas
Risiko likuiditas adalah risiko yang antara lain disebabkan bank tidak mampu
memenuhi kewajiban yang telah jatuh waktu. Risiko likuiditas dapat melekat pada
aktivitas fungsional perkreditan (penyediaan dana), treasuri dan investasi, kegiatan
pendanaan dan instrumen utang.
4. Risiko Operasional
Risiko operasional adalah risiko yang antara lain disebabkan oleh ketidakcukupan
atau tidak berfungsinya proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem atau
adanya problem eksternal yang memengaruhi operasional bank. Risiko operasional
dapat melekat pada setiap aktivitas fungsional bank, seperti kegiatan perkreditan
(penyediaan dana), treasuri dan investasi, operasional dan jasa, pembiayaan
perdagangan, pendanaan dan instrumen utang, teknologi dan sistem informasi
manajemen, dan pengelolaan sumber daya manusia.
5. Risiko Hukum
Risiko hukum adalah risiko yang disebabkan oleh adanya kelemahan aspek yuridis,
yang antara lain disebabkan adanya tuntutan hukum, ketiadaan peraturan perundang-
undangan yang mendukung, atau kelemahan perikatan seperti tidak dipenuhi syarat
sahnya kontrak dan pengikat agunan yang tidak sempurna.
6. Risiko Reputasi
Risiko reputasi adalah risiko yang antara lain disebabkan oleh adanya publikasi
negatif yang terkait dengan kegiatan usaha bank atau persepsi negatif terhadap bank.
Bank harus melaksanakan prosedur untuk mengendalikan risiko reputasi secara
material memengaruhi kondisi usaha bank.
7. Risiko Strategik
Risiko strategik adalah risiko yang antara lain disebabkan oleh adanya penetapan dan
pelaksanaan strategi bank yang tidak tepat, pengambilan keputusan bisnis yang tidak
tepat atau kurang responsifnya bank terhadap perubahan eksternal. Bank harus
menetapkan rencana strategik (corporate plan) dan rencana bisnis (business plan)
yang berjangka waktu sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun secara tertulis dan
melaksanakan kebijakan tersebut.
8. Risiko Kepatuhan
Risiko kepatuhan merupakan risiko yang disebabkan bank tidak mematuhi atau tidak
melaksanakan peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku.
2. Kredit
A. Pengertian Kredit
Berdasarkan Undang Undang No. 10 Tahun 1998 tentang perubahan atas UU
No. 7 tahun 1992 tentang perbankan, yang dimaksud dengan kredit adalah
penyediaan uang atau tagihan yang dapat disamakan, berdasarkan persetujuan atau
kesepakatan pinjam meminjam antar bank dengan pihak lain yaitu mewajibkan pihak
peminjaman untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan
pemberian bunga.
B. Pengertian Kredit Bermasalah
Kredit bermasalah adalah suatu keadaan dimana nasabah sudah tidak sanggup
membayar sebagian atau seluruh kewajibannya kepada bank seperti yang telah
diperjanjikan.
C. Penyebab kredit macet
a. Error Omission (EO)
Timbulnya kredit macet yang ditimbulkan oleh adanya unsur kesengajaan
untuk melanggar kebijakan dan prosedur yang telah ditetapkan.
b. Error Commusion
Timbulnya kredit macet karena memanfaatkan lemahnya peraturan atau
ketentuan yaitu memang belum ada atau sudah ada, tetapi tidak jelas.
Kredit-kredit yang disalurkannya jika banyak yang macet akan menimbulkan
kerugian yang besar. Kerugian yang besar ini akan menghambat operasi perusahaan. Dan
supaya kegiatan perbankan tidak terganggu, maka nanti Pemerintah juga yang harus
memberi injeksi modal. Pemerintah hingga kini masih dominan dalam jumlah asset
terhadap keseluruhan aset perbankan nasional. Biasanya di saat kredit macet terjadi dan
dilakukan pemeriksaan, maka persoalannya tidak akan lepas dari EO dan EC atau bahkan
karena dua-duanya.
Berdasarkan pengalaman kasus-kasus perbankan nasional yang berkaitan dengan
kredit macet menimbulkan semacam persepsi yang cenderung menjadi suatu mitos
yang masih dianut, antara lain adalah :
1). Bahwa bank tidak mengalami kerugian akibat resiko kredit. Atas pemahaman
ini, maka merupakan kesalahan sekaligus kejahatan besar apabila pada
sebuah bank tercatat adanya kredit macet. Padahal risiko kredit jelas
merupakan risiko yang selalu ada dan tidak bisa dihindari.
2). Dalam setiap kasus kredit macet selalu diartikan itu karena terjadi kolusi dan
atau korupsi apakah oleh pihak oknum bankir ataupun oknum nasabahnya.
Hal tersebut bisa saja terjadi, tetapi tidak semua kredit macet karena kolusi
dan korupsi.
3). Dalam setiap penanganan kredit macet selalu mengutamakan pendekatan
sapu jagat di mana going concern baik bank dan perusahaannya menjadi
diabaikan. Kalau kredit macet itu karena ulah oknumnya, maka bukan berarti
bank ataupun perusahaannya harus dimatikan.
4). Ada kecenderungan kajian atas kredit macet mengabaikan term of reference
masa lalu. Kredit yang diputus tahun 2000, misalnya, dan kemudian macet
pada tahun 2004, maka berusaha dikaji atas dasar term of reference pada
tahun 2000. Misalnya, hal-hal yang berkaitan dengan asumsi.
Dengan pedekatan term of reference, biasanya akan diketahui apakah kredit macet
itu karena error omission atau error commission. Jadi kesalahannya bisa saja bukan pada
dasar keputusannya, tetapi karena masalah monitoring dan pembinaan bank terhadap
nasabahnya. Sama-sama salah, tetapi esensinya menjadi lebih jelas dan memudahkan
menemukan siapa yang bertanggung jawab, bukan siapa yang dipersalahkan.
Harusnya kalau kredit macet itu terbukti memang karena oknumnya yang salah,
maka segera saja proses secara hukum terhadap oknumnnya. Itu pun dengan tetap
menjaga asa praduga tak bersalah. Adalah sangat bijak kalau bank dan perusahaannya
bisa dibiarkan berjalan terus apakah oleh manajemen baru atau kalau perlu ditunjuk dari
kalangan professional atas dasar penugasan dari negara. Sebab sangatlah tidak tepat dan
bijaksana kalau perusahaannya harus ditutup dimana para pekerjanya yang sama sekali
tidak bersalah akan ikut menjadi korbannya.
4. Penyelamatan dan penyelesaian kredit macet
Apabila sampai terjadi kredit bermasalah, maka harus melakukan upaya-upaya
dalam mengatasi kredit bermasalah sampai tidak ada alternative lainnya, serta
melakukan penghapusan kredit dan pengelolaan kredit yaitu telah dihapus bukukan.
Penyelamatan kredit bermasalah tersebut dilakukan dengan cara (Recedulling,
Reconditioning, Retructurng).
a. Penjadwalan kembali (Rescheduling), yaitu perubahan syarat kredit yang hanya
menyangkut jadwal pembayaran dan atau jangka waktunya.
b. Persyaratan kembali (Reconditioning), yaitu perubahan sebagian atau seluruh
syarat-syarat kredit yang tidak terbatas pada perubahan jadwal pembayaran,
jangka waktu dan atau persyaratan lainnya, sepanjang tidak menyangkut
maksimum saldo kredit.
c. Penataan kembali (Restructuring), yaitu perubahan syarat-syarat kredit yang
meliputi reschedulling, reconditioning.
5. Mencegah terjadinya kredit macet
Untuk mencegah terjadinya kredit macet pihak bank harus melakukan analisis
sebagai berikut kepada calon krediturnya. Analisis ini dapat dilakukan dengan
menggunakan kerangka 5C, 3R dan analisis Rasio.
a. Kerangka 5C
Character
Pihak bank harus mengenali sifat dan watak calon kreditur. Apakah ia mau
memenuhi kewajibannya untuk melunasi kredit? Hal ini penting untuk diketahui,
karena dapat memengerahui keputusan untuk dapat memberikan kredit atau tidak.
Pihak bank harus memahami karakter calon kreditur menyangkut apakah kreditur
seseorang yang dapat dipercaya. Pihak bank dapat mengetahui dengan melihat
latar belakang calon kreditur baik itu pekerjaan, sifat pribadi, cara hidup, gaya
hidup, keadaan keluarga, hobi dan jiwa sosial.
Capacity
Pihak bank harus mengukur kemampuan nasabah untuk melunasi kewajiban
hutangnya, melalui pengelolaan perusahaannya secara efektif dan efisien. Jika
nasabah dapat menegelola perusahaannya dengan baik, maka perusahaan bisa
memperoleh keuntungan dan memungkinkan untuk dapat mengembalikan
pinjaman. Capacity dapat dilihat dari data-data masa lalu (track record)
perusahaan.
Capital
Pihak bank dapat melihat kondisi keuangan nasabah melalui analisis keuangan,
seperti analisis rasio. Pihak bank sebaiknya melihat komposisi hutang dan modal
sendiri. Jika hutang terlalu besar, maka kemungkinan perusahaan akan mengalami
kesulitan keuangan juga akan semaikn besar. Selain itu untuk melihat penggunaan
modal apakah efektif atau tidak, dapat dilihat dari laporan keuangan yang
disajikan dengan pengukuran atas rasio-rasio keuangan. Analisis capital juga
harus menganalisis dari sumber mana saja modal yang ada sekarang ini, termasuk
persentase modal yang digunakan untuk membiayai proyek yang akan dijalankan
(Capital Structure).
Collateral
Collateral adalah aset yang dijaminkan untuk suatu pinjaman. Jika karena sesuatu
hal, pinjaman tidak bisa dikembalikan, maka pihak bank berhak untuk meminta
jaminan tersebut.
Conditions
Pihak bank sebaiknya mempertimbangkan kondisi perekonomian, sosial, dan
politik yang dapat memengaruhi kemampuan nasabah untuk mengembalikan
pinjaman. Jika kondisi perekonomian memburuk, maka kemungkinan nasabah
mengalami kesulitan keuangan dapat semakin tinggi, yang membuat kemampuan
perusahaan mengalami kesulitan melunasi pinjaman.
b. Kerangka 3R
a. Returns
Pihak bank harus dapat memperkirakan bahwa kredit yang diberikan kepada
nasabah dapat menghasilkan return (pendapatan) yang memadai.
b. Repayment capacity
Pihak bank harus dapat memastikan bahwa nasabah mampu untuk melunasi
pinjamam dan bunganya pada saat pembayaran tersebut jatuh tempo.
c. Risk-bearing ability
Pihak bank perlu mempertimbangkan jaminan yang dimiliki oleh nasabah.
Jaminan tersebut dapat digunakan apabila nasabah menghadapi risiko
kegagalan atau ketidakpastian yang berkaitan dengan
D. Unsur-Unsur Kredit
Pengertian tersebut bahwa pemberian kredit adalah pemberian kepercayaan. Hal
ini berarti bahwa prestasi yang diberikan benar-benar diyakini dapat dikembalikan oleh
penerima kredit sesuai dengan waktu dan syarat-syarat yang disetujui bersama,
berdasarkan hal-hal tersebut, maka unsur-unsur dalam kredit (Sinungan, 1993 : 3 - 4)
adalah sebagai berikut :
1. Kepercayaan
Kepercayaan adalah suatu keyakinan pemberi kredit bahwa prestasi (uang, jasa atau
barang) yang diberikannya akan benar-benar diterimanya kembali dimasa tertentu
yang akan datang.
2. Waktu
Waktu adalah bahwa antara pemberi prestasi dan pengembaliannya dibatasi oleh suatu
masa atau waktu tertentu. Dalam unsur waktu ini terkandung pengertian tentang nilai
agio uang bahwa uang sekarang lebih bernilai dari uang dimasa yang akan datang.
3. Degree of Risk
Degree of Risk adalah pemberian kredit menimbulkan suatu tingkat resiko, dimasa-
masa tenggang adalah masa yang abstrak. Resiko timbul bagi pemberi karena
uang/jasa/barang, jasa atau prestasi telah lepas kepada orang lain.
4. Prestasi
Prestasi adalah yang diberikan merupakan suatu prestasi yang dapat berupa barang,
jasa atau uang. Perkembangan pengkreditan di alam modern ini maka yang
dimaksudkan dengan prestasi dalam pemberian kredit adalah uang.
E. Fungsi Kredit
Fungsi kredit (Sinungan, 1993 : 5-10) dalam kehidupan perekonomian,
perdagangan dan keuangan, pada garis besarnya meliputi hal yang utama sebagai berikut
:
1. Kredit dapat meningkatkan Utility dari modal atau uang
2. Kredit dapat meningkatkan peredaran dan lalu lintas uang.
3. Kredit dapat meningkatkan daya guna (utility) dan peredaran barang.
4. Kredit sebagai alat untuk stabilitas ekonomi
5. Kredit menimbulkan kegairahan berusaha pegawai (masyarakat).
6. Kredit sebagai jembatan untuk meningkatkan pemerataan pendapatan.
7. Kredit sebagai alat untuk meningkatkan hubungan ekonomi internasional.
F. Penilaian Dalam Pemberian Kredit
Calon nasabah yang mengajukan permohonan kredit diharuskan memenuhi
persyaratan yang telah dipenuhi tersebut, bank akan memberikan penilaian apakah calon
nasabah tersebut layak atau tidak untuk mendapatkan kredit. Penilaian permohonan kredit
(Suyatno, 1997 :51-52) tersebut, terdapat lima faktor yang perlu diperhatikan oleh bank
antara lain :
1. Character (Kepribadian atau watak).
Character adalah penilaian kepada calon debitur tentang kebiasaankebiasaan, sifat
pribadi, cara hidup, keadaan keluarga, hobi dan keadaan sosial. Penilaian karakter
memang cukup sulit, karena masing-masing individu memiliki watak dan sifat yang
berbeda-beda. Oleh karena itu para pengelola harus mempunyai keahlian dan
keterampilan serta pengetahuan psikologis untuk dapat menganalisa watak calon
nasabah. Penilaian karakter ini bermanfaat untuk mengetahui sejauh mana tingkat
kejujuran serta itikad baik nasabah untuk memenuhi kewajibannya.
2. Capacity (kemampuan atau kesanggupan).
Capacity adalah suatu penilaian kepada calon debitur mengenai kemampuan melunasi
kewajiban-kewajibanya dari kegiatan usaha yang dilakukanya yang akan di biayai
dengan kredit dari lembaga pemberi kredit, kemampuan calon debitur ini dapat dilihat
dari maju mundurnya usaha serta manajemennya.
3. Capital (modal atau kekayaan).
Capital adalah jumlah dana sendiri yang dimiliki oleh calon debitur, yang
diikutsertakan dalam kegiatan usahanya. Penyelidikan terhadap capital pemohon tidak
hanya dilihat dari besar kecilnya gaji setiap bulannya, tetapi bagaimana distribusi gaji
bulananya ditempatkan oleh calon debitur.
4. Collateral (Jaminan)
Collateral (Jaminan) adalah barang jaminan yang diserahkan oleh calon debitur
sebagai agunan (jaminan) kredit yang diterimanya. Jaminan yang dimaksud meliputi
jaminan yang berupa benda bergerak dan tidak bergerak.
5. Condition of Economy
Condition of Economy adalah kondisi politik, ekonomi, sosial, dan budaya yang dapat
memengaruhi perekonomian pada kurun waktu tertentu yang secara langsung atau
tidak langsung memengaruhi kegiatan usahannya.
4. Jenis-Jenis Kredit
Kredit (Siamat, 2001: 165-166) dapat dibedakan menjadi beberapa jenis yaitu :
A. Menurut Jangka Waktu (maturity)
1. Kredit jangka pendek (short term-loan)
Kredit jangka pendek adalah kredit yang jangka waktu pengembaliannya kurang dari
satu tahun. Misal kredit untuk membiayai kelancaran operasi perusahaan termasuk
kredit modal kerja.
2. Kredit Jangka menengah (medium-term loan)
Kredit Jangka menengah adalah kredit yang jangka waktu pengembaliannya 1 s/d 3
tahun. Biasanya kredit ini untuk menambah modal kerja misal untuk membiayai
pengadaan bahan baku. Kredit jangka menengah dapat pula dalam bentuk kredit
investasi.
3. Kredit jangka Panjang (long-term loan)
Kredit jangka Panjang adalah kredit yang jangka waktu pengembaliannya atau jatuh
temponya melebihi 3 tahun
B. Menurut Tujuan Kredit
Menurut Tujuan Kredit di bagi atas :
1. Kredit konsumtif (consumer loan).
Kredit konsumtif adalah kredit yang diberikan oleh bank untuk memenuhi kebutuhan
debitur yang bersifat konsumtif misalnya, untuk membeli kendaraan, rumah, dan
sebagainya.
2. Kredit Produktif
Kredit Produktif adalah kredit yang diberikan oleh bank dalam rangka membiayai
kebutuhan modal kerja debitur sehingga dapat mempelancar produksi. Misalnya :
kredit untuk pembelian bahan mentah biaya pemasaran dan sebagainya.
3. Kredit komersil (commercial loan)
Kredit komersil adalah kredit yang diberikan memperlancar kegiatan usaha nasabah di
bidang perdagangan. Kredit komersil ini meliputi antara lain : kredit untuk usaha
tokoan, kredit ekspor dan sebagainya.
C. Menurut Penggunaan Kredit
Berdasarkan penggunaanya, kredit dapat dibedakan menjadi 2 yaitu :
1. Kredit modal kerja
Kredit modal kerja adalah kredit yang diberikan oleh bank untuk menambah modal
kerja debitur. Kredit modal kerja ini pada prinsipnya meliputi modal kerja kerja untuk
tujuan komersil, industri, kontraktor bangunan dan sebagainya.
2. Kredit investasi
Kredit investasi merupakan kredit yang diberikan oleh bank kepada perusahaan untuk
digunakan melakukan investasi dengan membeli barang-barang modal. Seperti untuk
membiayai pengadaan barang-barang modal atau jasa yang diperlukan dalam rangka
rehabilitasi, modernisasi, ekspansi, relokasi dan sebagainya.
5. Faktor-Faktor Kredit Macet
E. Pengertian Kredit Macet
Kredit macet menurut (Sinungan, 1993 : 57) adalah kredit yang tidak lancar dan
telah sampai pada jatuh temponya belum dapat juga diselesaikan oleh nasabah
bersangkutan, sedangkan menurut (Djumhana, 1996 : 267) kredit macet yaitu apabila
tidak memenuhi kriteria lancar, kurang lancar, dan diragukan atau memenuhi kriteria
diragukan, tetapi dalam jangka waktu 21 bulan sejak digolongkan diragukan belum ada
pelunasan atau usaha penyelamatan kredit atau kredit tersebut penyelesaiannya telah
diserahkan kepada Pengadilan Negeri atau Badan Urusan Piutang Negara (BUPN), atau
telah diajukan penggantian ganti rugi kepada perusahaan asuransi kredit.
Kredit macet menurut (Sukardji, 1984 :115) adalah piutang tak tertagih, Piutang
tak tertagih adalah jumlah klaim perusahaan yang ada pada pelanggan yang tidak dapat
ditagih karena suatu alasan tertentu, sedangkan menurut (Siamat, 1993 : 201) Kredit
Macet atau Problem Loan adalah kredit yang mengalami kesulitan pelunasan akibat
adanya faktor-faktor atau unsur-unsur kesengajaan atau karena kondisi diluar
kemampuan debitur. Pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa kredit macet adalah
Piutang yang tak tertagih atau kredit yang mempunyai kriteria kurang lancar, diragukan
karena mengalami kesulitan pelunasan akibat adanya faktor-faktor tertentu.
B. Gejala-Gejala Kredit Macet
Gejala kredit macet (Mahmoedin 1995 : 134-135). antara lain disebabkan oleh :
1. Menurunnya pendapatan bersih
Turunnya pendapatan bersih dapat disebabkan oleh menurunnya penerimaan atau
naiknya biaya.
2. Menurunnya Penjualan Secara tajam
Turunnya penjualan secara tajam adalah wajar dalam siklus hidup perusahaan, tetapi
jika penurunan penjualan secara sangat tajam merupakan tanda perusahaan akan
menemui titik kritis.
3. Menurunnya perputaran persediaan
Perputaran persediaan yang cepat akan memberikan kelancaran bagi perusahaan.
Tetapi jika perputaran tersebut kecepatannya menurun berarti banyak barang yang
tidak laku, berarti perusahaan diambang kesulitan.
4. Meningkatnya penjualan secara tajam
Naiknya penjualan secara tajam disebabkan perusahaan ingin mempunyai uang secara
cepat guna melakukan penjualan sehingga harga jual dibawah harga pokok.
5. Menurunnya perputaran piutang
Perputaran piutang yang cepat juga akan memberikan bagi perusahaan untuk segera
melikuiditas. Tetapi jika piutang sulit ditagih akan menimbulkan bagi perusahaan
dalam melanjutkan operasionalnya.
6. Menurunnya Modal lancar
Turunnya modal lancar dapat disebabkan karena melakukan pembelian, membekaknya
hutang kepada pihak ketiga dan mungkin karena pemborosan.
7. Nasabah mulai ingkar janji
8. Nasabah membuat laporan fiktif
9. Nasabah tidak terbuka, yaitu dengan mengrahasiakan sesuatu hal yang erat kaitannya
dengan penggunaan kredit.
Apabila dilihat dari segi pelaku kredit, maka faktor-faktor kredit macet dari nasabah
adalah :
1. Kelemahan nasabah
a. Manajemen kurang (kurang menguasai manajemen kredit).
b. Tidak memiliki perencanaan yang baik
c. Produk ketinggalan jaman
d. Kalah bersaing
e. Lokasi usaha yang tidak tepat
f. Adminitrasi yang kacau
2. Kenakalan nasabah
a. Tidak jujur dan sukar ingkar janji
b. Melakukan penyimpangan penggunaan
c. Pola hidup yang boros atau mewah
d. Suka berbuat skandal
e. Suka berjudi dan berspekulasi.
Sinungan (1993 : 58-59) menyatakan bahwa penyebab kredit macet adalah kesulitan
keuangan yang dialami oleh debitur. Penyebab kesulitan keuangan dapat dikategorikan
menjadi 2 yaitu :
1. Faktor-faktor Intern (managerial Factor).
Faktor-faktor Intern adalah faktor-faktor yang ada dalam diri perusahaan sendiri.
Dari segi managerial factor terjadinya kredit macet disebabkan oleh :
a. Kelemahan dalam kebijaksanaan pembelian dan penjualan
b. Tidak efektifnya kontrol atas biaya dan pengeluaran.
c. Kebijaksanaan tentang kebijaksanaan piutang yang tidak efektif
d. Penempatan yang berlebihan pada aktiva tetap
e. Permodalan yang tidak cukup.
2. Faktor-faktor ekstern
Faktor-faktor ekstern adalah faktor-faktor yang berasal dari luar perusahaan.
Faktor-faktor ekstern meliputi :
a. Bencana Alam
Bencana alam adalah sesuatu yang tidak kita inginkan. Misalnya kebakaran, gempa
bumi, gunung meletus, angina topan, banjir, dan sebagainya.
b. Peperangan
Perang merupakan pengrusakan dan akibat dari peperangan ini merupakan bencana
yang diperbuat manusia, misal demontrasi, penjarahan, pembakaran dan lain-lain.
c. Perubahan kondisi perekonomian
Misal peraturan pemerintah terhadap suatu jenis barang,keadaan kritis misalnya
demontrasi, penjarahan, pembakaran dan lain-lain.
d. Perubahan teknologi
Semakin majunya teknologi maka semakin efisien barang yang diproduksi sehingga
perusahaan yang tidak menggunakan modern akan kalah bersaing.
Berbagai pendapat tersebut maka faktor-faktor yang menyebabkan kredit macet adalah :
1. Faktor Intern
a. Kelemahan bank dalam melakukan analisis, sehingga terjadi kesalahan dalam
pengambilan keputusan.
b. Kelemahan nasabah
1. Perencanaan
Perencanaan adalah gambaran sebelum sesuatu dilaksanakan. Untuk memulai usaha
tentunya harus ada rencana tentang pinjaman yang diambil untuk memperlancar
usaha atau memulai usaha agar usaha dapat berjalan dengan baik. Tanpa adanya
perencanaan maka pinjaman yang diperoleh tidak akan dapat dimanfaatkan untuk
menjalankan usaha secara lancar dan tidak terarah pada pencapaian tujuan usaha.
2. Pendapatan yang relatif rendah
Jika pendapatan yang diperoleh relatif rendah, nasabah sulit untuk mengembalikan
pinjaman, karena pendapatan yang diperoleh hanya cukup untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari.
3. Administrasi
Administrasi merupakan pengaturan suatu kegiatan secara teratur. Berjalannya
usaha harus dapat diatur administrasinya dan dikendalikan tentang pemasukan dan
pengeluaran keuangan agar jalannya usaha dapat teratur.
c. Kenakalan nasabah
1. Pengambilan kredit diharapkan dapat digunakan sepenuhnya untuk menambah
modal, tetapi belum tentu hal itu dilakukan semua para pengusaha karena ada yang
menggunakan pinjaman tersebut untuk keperluan sehari-hari atau melunasi hutang
pada pihak lain sehingga pinjaman tersebut tidak optimal penggunaannya.
2. Itikad nasabah
Itkikad nasabah adalah niat atau keinginan untuk membayar pinjaman yang ada pada
diri responden.
Berdasarkan uraian tersebut telah dijelaskan beberapa faktor yang menyebabkan
timbulnya kredit macet tetapi dalam penelitian ini hanya dibatasi pada beberapa faktor
saja, seperti faktor Character, Capacity, Capital, Collateral dan Condition yang
kesemuanya itu dapat memberikan sebagai dasar penilaian kepada seseorang debitur
apakah layak untuk diberikan kredit atau tidak.
6. Non Performing Loan (NPL)
Salah satu resiko yang dihadapi oleh suatu bank adalah risiko tidak terbayarnya
kredit yang telah diberikan atau sering disebut dengan risiko kredit. Risiko kredit umumnya
timbulnya dari berbagai kredit bermsalah. Oleh sebab itu bank dituntut untuk selalu menjaga
kreditnya agar tidak berada dalam kategori kredit bermasalah.
Pengertian non performing loan menurut As. Mahmoeddin (2001), yaitu bahwa non
performing loan adalah kredit menepati jadwal angsuran sehigga terjadi tunggakan.
Menurut Rivai (2007), ada beberapa pengertian kredit bermasalah atau non
performing loan, yaitu:
1. Kredit yang di dalam pelaksanaannya belum mencapai/memenuhi target yang
diinginkan oleh pihak bank.
2. Kredit yang memiliki kemungkinan timbulnya risiko di kemudian hari bagi bank dalam
arti luas.
3. Kredit yang mengalami kesulitan di dalam penyelesaian kewajibannya terhadap bank,
baik dalam bentuk pembayaran kembali pokoknya dan atau pembayaran bunga, enda
keterlambatan, serta ongkos-ongkos bank yang berangkutan.
4. Kredit di mana terjadi cedera janji dalam pembayaran kembali sesuai perjanjian
sehingga terdapat tunggakan karena ada potensi kerugian di perusahaan debitur.
Non performing loan merupakan salah satu pengukuran risiko bank yang
menunjukkan besarnya risiko kredit bermasalah yang ada pada suatu bank. Ukuran terbaik
NPL sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia untuk NPL gross adalah dibawah 5%. Semakin
besar rasio NPL, semakin besar pula risiko kredit yang ditanggung pihak bank dan juga
mengindikasikan bahwa bank tersebut dapat mengalami masalah profitabilitas, karena
seharusnya bank memperoleh profit dari kegitan pemberian kredit, tetapi karena banyaknya
kredit bermasalah menimbulkan potensi kerugian kerugian bagi bank.
Sesuai dengan Surat Ederan Bank Indonesia Nomor 3/30/DPNP tanggal 14 Desember
2001 tentang Laporan Keuangan Publikasi Triwulan dan Bulanan Bank Umum serta Laporan
tertentu yang disampaikan kepada Bank Indonesia, NPL dirumuskan sebagai berikut:
Total Kredit Bermasalah
NPL = x 100% ( I )
Total Kredit
Keterangan:
1. Kredit bermasalah adalah kredit dengan kualitas kurang lancar, diragukan dan macet.
2. Kredit merupakan kredit yang diberikan kepada pihak ketiga (tidak termasuk kredit
kepada bank lain).
3. Kredit bermasalah dihitung secara gross (tidak dikurangi Penyisihan Penghapusa Aktiva
Produktif).
7. Loan to Deposite Ratio (LDR)
Adalah rasio antara seluruh jumlah kredit yang diberikan bank dengan dana yang
diterima oleh bank. Rasio ini menunjukkan salah satu penilaian likuiditas bank
(Teguh,1995).
Total Kredit
LDR = x 100% ( II )
Total Dana Pihak Ketiga
8. Penelitian Sebelumnya
Penelitian yang dilakukan oleh Yuliana Theodora (2011) menunjukkan bahwa
dari hasil uji statistic faktor-faktor yang menyebabkan peningkatan non performing
loan, maka variabel Loan to Deposit Ratio (LDR) berpengaruh secara tidak signifikan
terhadap NPL. Koefisien LDR bertanda negatif, menunjukkan antara NPL dan LDR
yang berlawanan. Hal ini berarti bahwa semakin tinggi nilai LDR, maka nilai NPL
akan cenderung turun. Sedangkan variabel suku bunga kredit mempengaruhi nilai
NPL dengan tidak signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat suku bunga kredit
ternyata tidak berpengaruh secara teoristis langsung terhadap tingkat NPL. Meskipun
efek kenaikan suku bunga secara teoristis langsung berpengaruh pada kemampuan
membayar kembali debitur dan berpotensi langsung berpengaruh pada kemampuan
membayar kembali debitur dan berpotensi meningkatkan kredit bermasalah (NPL).
Penelitian yang dilakukan oleh Suryanti Lubis (2006) dengan mengambil sampel
pada perbankan di Sumatra Utara tentang faktor-faktor yang mempengaruhi non
performing loan, menunjukkan bahwa hasil regresi hubungan antara variabel suku
bungan SBI mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan NPL
perbankan di Sumatra Utara.
Penelitian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi terjadi non performing
loan juga dilakukan oleh Hermawan Soebagio (2005). Penelitian tersebut dilakukan
terhadap bank umun komersial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kualitas Aktiva
Produktif (KAP) mempunyai pengaruh paling kuat. Kondisi ini menunjukkan bahwa
baik buruknya kualitas kredit sangat kuat pengaruhnya terhadap terjadinya NPL.
Sedangkan variabel lainnya, yaitu Capital Adequacy Ratio (CAR), tingkat suku bunga
Pinjaman Bank dan Loan to Deposit Ratio (LDR), ketiganya relatif lebih lemah,
namun ketiganya secara signifikan mempunyai andil dalam mempengaruhi terjadinya
NPL.
6. Kerangka Pemikiran dan Hipotesis
Atas dasar pemikiran teoritis dan beberapa hasil penelitian terdahulu,
sebagaimana dijelaskan diatas, maka faktor-faktor yang memengaruhi terjadinya non
performing loan dapat digambarkan sebagai berikut :
Pengelolaan Keuangan
- Tingkat Kesehatan Bank
- Pemberian Kredit Nasabah
Kesimpulan
Rekomendasi
NPL
LDR
Kerangka Pikir :
Skema 1
BUMN
Sumber : Peneliti ( 2011)
Bank BUMN bergerak sebagai pengelolaan keuangan pada Bank BUMN Di Indonesia.
Dari pengeloalan keuangan dapat dilihat tingkat kesehatan bank dan pemberian kredti yang
diberikan oleh bank kepada masyaratkat. Pemberian kredit dapat dilihat menggunakan LDR atau
total kredit, untuk menentukan kredit tersebut bermasalah atau tidak dapat diukur menggunakan
NPL.
Hipotesis :
Dari pokok permasalahan yang telah diuraikan dan kerangka pemikiran teoritis, maka
hipotesis yang dapat dikemukakan pada penelitian ini yaitu diduga bahwa Non Performing
Loan (NPL) pada PT Bank BUMN di Indonesia berpengaruh positif dan signifikan terhadap
Loan to Deposite Ratio (LDR).
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di PT Bank BUMN se Indonesia.
3.2. Jenis dan Sumber Data
3.2.1. Jenis Data
Jenis data yang digunakan:
1. Data Kuantitatif, yaitu data yang dapat dihitung atau data yang berupa angka-angka,
dalam hal ini data yang merupakan laporan keuangan PT Bank BUMN Se-Indonesia.
3.2.2. Sumber Data
Sumber data yang digunakan yaitu:
1. Data Sekunder yaitu data yang diperoleh dari luar perusahaan berupa buku-buku,
majalah, dan literatur yang berkaitan erat dengan masalah yang dibahas.
3.3. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan ini adalah sebagai berikut:
1. Penelitian Pustaka (Library Research) adalah suatu metode pengumpulan data dengan
cara melakukan peninjauan pustaka dari berbagai literartur karya ilmiah, majalah dan
buku-buku yang menyangkut teori-teori yang relevan dengan masalah yang dibahas.
2. Dokumentasi adalah metode yang dilakukan dari internet.
3.4. Identifikasi Variabel Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian untuk mengetahui ada pengaruh loan to deposit
ratio terhadap pendapatan non performing loan. Adapun variabel yang terkait dalam
penelitian ini adalah :
1. Variabel bebas (Independent Variable) adalah variabel yang mempengaruhi variabel
tidak bebas/terikat. Dalam penelitian ini variabel bebasnya adalah loan to deposit.
Variabel ini diberi simbol X.
2. Variabel terikat (Dependent Variable) adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel
bebas. Dalam penelitian ini variabel terikatnya adalah non performing loan. Variabel ini
diberi simbol Y.
Atas dasar variabel di atas, maka desain penelitian yang digunakan dalam penelitian,
yaitu:
Dimana: X = Loan to Deposit Ratio
Y = Non Performing Loan
3.5. Definisi Operasional Variabel
Tabel berikut ini menggambarkan penjabaran dari variabel-variabel penelitian dalam
konsep dan indikator-indikator yaitu:
X Y
Tabel 3.1
Definisi Operasional Variabel
Jenis Variabel Sub.
Variabel
Konsep Indikator Skala
Kebijakan
Pemberian
Kredit
(X)
Loan to
Deposit Ratio
Loan to Deposit Ratio
merupakan rasio untuk
mengukur komposisi
jumlah kredit yang
diberikan dibandingkan
dengan jumlah dana yang
masyarakat yang
digunakan.
LDR =
Persentase
Loan to
Deposit Ratio
Rasio
Non
Performing
Loan
(Y)
Non
Performing
Loan
Non Performing Loan
merupakan persentase
kredit bermasalah dengan
kriteria kurang lancar,
diragukan dan macet
terhadap total kredit yang
disalurkan (SK Dir BI
Nomor 31/147/KEP/DIR
tahun 1998).
NPL =
Persentase
Non
Performing
Loan
Rasio
Sumber: Peneliti 2011
3.6. Teknik Analisis Data
Data dan informasi yang diperoleh dari perusahaan yang berhubungan dengan penelitian
ini dianalisis agar dapat memecahkan masalah dan membuktikan kebenaran hipotesis yang telah
diajukan sebelumnya dengan menggunakan teknik analisis sebagai berikut :
A. Ananlisis Deskriptif
Analisis deskriptif digunakan untuk menganalisis kebijakan pemberian kredit pada PT
Bank BUMN Se-Indonesia. Analisis deskriptif adalah analisis yang mengacu pada deskripsi
kondisi perusahaan yang di lakukan dan kemudian dari analisis yang dilakukan ditarik sebuah
kesimpulan.
B. Analisis Regresi Sederhana
Penelitian ini bertujuan melihat pengaruh hubungan antara variabel independen
Kebijakan pemberian kredit (Loan to Deposit Ratio) terhadap variabel dependen (Non
Performing Loan) dengan menggunakan analisis regresi linear sederhana dengan rumus :
Y^ = a + bx (III)
Untuk mendapatkan nilai a dan b digunakan rumus sebagai berikut:
b =
( )
( )
(IV)
a =
( )


( )
atau a =

-

(V)
Dimana :
X = Loan to Deposit Ratio dalam persentase
Y = Non Performing Loan dalam persentase
a = penduga bagi intercept ()
b = penduga bagi koefisien regresi ()
n = jumlah periode sampel (laporan keuangan)
3.5 Rancangan Pengujian Hipotesis
Untuk menguji hipotesis yang diajukan kebijakan pemberian kredit (LDR) berpengaruh
signifikan terhadap Non Performing Loan pada PT Bank BUMN Se-Indonesia, maka digunakan
pengujian sebagai berikut :
a. Uji Koefisien Korelasi (r)
Antara Kebijakan pemberian kredit (LDR) dan Non Performing Loan dapat dihitung
korelasinya (r) dengan rumus :
r
xy
=
( )
( ( )

( ) )
(VI)
Dimana:
n = jumlah periode sampel (laporan keuangan)
r = koefisien korelasi
Untuk mengetahui besarnya hubungan dengan koefisien korelasi antara kedua variabel,
maka digunakan patokan interpretasi nilai r dari Sugiyono (2008:124) sebagai berikut :
Tabel 3.2
Interpretasi Nilai r
Interval Koefisien Tingkat Hubungan
0,00 0,199
0,20 0,399
0,40 0,599
0,60 0,799
0,80 1,000
Sangat rendah
Rendah
Sedang
Kuat
Sangat Kuat
Sumber : Sugiyono (2008:124)
b. Uji Koefisien Determinasi (r
2
)
Digunakan untuk mengetahui keeratan hubungan antara variabel bebas
dengan variabel terikat. Nilai r
2
terletak antara 0 sampai dengan 1 (0 r
2
1). Tujuan
menghitung koefisien determinasi adalah untuk mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap
variabel terikat.
Perhitungan nilai koefisien deteminasi ini diformulasikan sebagai berikut :
Kd = r
2
x 100% (VII)
Dimana :
Kd = koefisien determinasi
r
2
= jumlah kuadrat dari koefisien korelasi
c. Uji-t
Uji-t dilakukan untuk mengetahui pengaruh variabel independen (Loan to Deposit
Ratio) terhadap variabel dependen (Non Performing Loan). Adapun langkah-langkah yang harus
dilakukan dalam uji-t ini yaitu :
1) Merumuskan hipotesis
H
0
: Tidak terdapat pengaruh dan kontribusi yang signifikan antara Loan to Deposit
Ratio terhadap Non Performing Loan pada PT Bank BUMN Se-Indonesia.
H
a
: Terdapat pengaruh dan kontribusi yang signifikan antara Loan to Deposit Ratio
terhadap Non Performing Loan pada PT Bank BUMN Se-Indonesia.
2) Menentukan tingkat signifikasi () dengan degree of freedom (df) dengan rumus
n k 1 dengan tujuan untuk menentukan t
tabel
.
3) Menentukan t
hitung
dengan rumus :
t =

(VIII)
Dimana :
t = nilai t
hitung
r = nilai koefisien korelasi
r
2
= jumlah kuadrat dari koefisien korelasi
n = jumlah periode sampel (laporan keuangan)
4) Membandingkan hasil t
hitung
dengan t
tabel
dengan kriteria sebagai berikut :
H
0
ditolak, H
a
diterima jika t
hitung
> dari t
tabel
H
0
diterima, H
a
ditolak jika t
hitung
dari t
tabel
BAB IV
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
4.1 PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk
a. Sejarah Singkat Perusahaan
Berdiri sejak 1946, BNI yang dahulu dikenal sebagai Bank Negara Indonesia,
merupakan bank pertama yang didirikan dan dimiliki oleh Pemerintah Indonesia. Bank
Negara Indonesia mulai mengedarkan alat pembayaran resmi pertama yang dikeluarkan
Pemerintah Indonesia, yakni ORI atau Oeang Republik Indonesia, pada malam menjelang
tanggal 30 Oktober 1946, hanya beberapa bulan sejak pembentukannya. Hingga kini,
tanggal tersebut diperingati sebagai Hari Keuangan Nasional, sementara hari
pendiriannya yang jatuh pada tanggal 5 Juli ditetapkan sebagai Hari Bank Nasional.
Menyusul penunjukan De Javsche Bank yang merupakan warisan dari Pemerintah
Belanda sebagai Bank Sentral pada tahun 1949, Pemerintah membatasi peranan Bank
Negara Indonesia sebagai bank sirkulasi atau bank sentral. Bank Negara Indonesia lalu
ditetapkan sebagai bank pembangunan, dan kemudian diberikan hak untuk bertindak
sebagai bank devisa, dengan akses langsung untuk transaksi luar negeri.
Sehubungan dengan penambahan modal pada tahun 1955, status Bank Negara
Indonesia diubah menjadi bank komersial milik pemerintah. Perubahan ini melandasi
pelayanan yang lebih baik dan tuas bagi sektor usaha nasional.
Sejalan dengan keputusan penggunaan tahun pendirian sebagai bagian dari
identitas perusahaan, nama Bank Negara Indonesia 1946 resmi digunakan mulai akhir
tahun 1968. Perubahan ini menjadikan Bank Negara Indonesia lebih dikenal sebagai
'BNI 46'. Penggunaan nama panggilan yang lebih mudah diingat - 'Bank BNI' -
ditetapkan bersamaan dengan perubahaan identitas perusahaan tahun 1988.
Tahun 1992, status hukum dan nama BNI berubah menjadi PT Bank Negara
Indonesia (Persero), sementara keputusan untuk menjadi perusahaan publik diwujudkan
melalui penawaran saham perdana di pasar modal pada tahun 1996.
Kemampuan BNI untuk beradaptasi terhadap perubahan dan kemajuan
lingkungan, sosial-budaya serta teknologi dicerminkan melalui penyempurnaan identitas
perusahaan yang berkelanjutan dari masa ke masa. Hal ini juga menegaskan dedikasi
dan komitmen BNI terhadap perbaikan kualitas kinerja secara terus-menerus.
Pada tahun 2004, identitas perusahaan yang diperbaharui mulai digunakan untuk
menggambarkan prospek masa depan yang lebih baik, setelah keberhasilan mengarungi
masa-masa yang sulit. Sebutan 'Bank BNI' dipersingkat menjadi 'BNI', sedangkan tahun
pendirian - '46' - digunakan dalam logo perusahaan untuk meneguhkan kebanggaan
sebagai bank nasional pertama yang lahir pada era Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
Berangkat dari semangat perjuangan yang berakar pada sejarahnya, BNI
bertekad untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi negeri, serta senantiasa
menjadi kebanggaan negara.
b. Visi dan Misi PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk
Visi BNI
Menjadi Bank kebanggaan nasional yang Unggul, Terkemuka dan Terdepan
dalam Layanan dan Kinerja.
Pernyataan Visi
Menjadi Bank kebanggaan nasional, yang menawarkan layanan terbaik dengan
harga kompetitif kepada segmen pasar korporasi, komersial dan konsumer.
Misi BNI
1. Memberikan layanan prima dan solusi yang bernilai tambah kepada seluruh
nasabah, dan selaku mitra pillihan utama (the bank choice).
2. Meningkatkan nilai investasi yang unggul bagi investor.
3. Menciptakan kondisi terbaik sebagai tempat kebanggaan untuk berkarya dan
berprestasi.
4. Meningkatkan kepedulian dan tanggung jawab terhadap lingkungan sosial.
5. Menjadi acuan pelaksanaan kepatuhan dan tata kelola perusahaan yang baik.
4.2 PT Bank Mandiri (Persero), Tbk
a. Sejarah Singkat Perusahaan
PT Bank Mandiri (Persero), Tbk berdiri tanggal 2 Oktober 1998 sebagai bagian
dari program restrukturisasi perbankan yang dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia.
Pada bulan Juli 1999, empat bank milik pemerintah yaitu Bank Bumi Daya (BBD), Bank
dagang Negara, Bank Ekspor Impor (Exim), dan Bank Pembangunan Indonesia
(Bapindo) bergabung menjadi Bank Mandiri. Sejarah keempat bank tersebut dapat
ditelusuri lebih dari 140 tahun yang lalu. Keempat bank tersebut telah turut membantu
riwayat perkembangan dunia perbankan di Indonesia.
Bank Dagang Negara (BDN) merupakan salah satu bank tertua di Indonesia.
Sebelumnya, BDN dikenal sebagai Nederlandsch Indische Escompto Maatschappij yang
didirikan di Batavia (Jakarta) pada tahun 1875. Pada tahun 1949, namanya berubah
menjadi Escompto Bank NV. Selanjutnya pada tahun 1960, Escompto Bank
dinasionalisasi dan berubah nama menjadi Bank Dagang Negara, sebuah bank
pemerintah yang membiayai sektor industri dan pertambangan.
Bank Bumi Daya (BBD) didirikan melalui proses panjang yang bermula dari
nasionalisasi sebuah perusahaan Belanda De Nationale Handlesbank NV menjadi Bank
Umum Negara pada tahun 1959. Pada tahun 1964, Chartered Bank (sebelumnya
merupakan bank milik Inggris) juga dinasionalisasi, dan Bank Umum Negara diberi hak
untuk melanjutkan operasi bank tersebut pada tahun 1965. Bank Umum Negara
digabungkan kedalam Bank Negara Indonesia dan berganti nama Bank Negara Indonesia
Unit IV beralih menjadi Bank Bumi Daya .
Sejarah Bank Ekspor Impor (Exim) Indonesia berawal dari perusahaan dagang
Belanda NV Nederlandsche Handles Maatschappijin, pada tahun 1870 pemerintah
Indonesia menasionalisasi perusahaan ini pada tahun 1960 dan selanjutnya pada tahun
1965 perusahaan ini digabung dengan Bank Negara Indonesia Unit II. Pada tahun1968
Bank Negara Indonesia dipecah menjadi dua unit, salah satunya adalah Bank Negara
Indonesia Unit II divisi Ekspor Impor, yang pada akhirnya Bank Exim, Bank Pemerintah
yang membiayai kegiatan ekspor impor.
Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) berasal dari Bank Industri Negara (BIN)
sebuah bank industri yang didirikan pada tahun 1951. Misi Bank Industri Negara adalah
mendukung pengembangan sektor-sektor ekonomi tertentu, khususnya perkebunan,
industri, dan pertambangan. Bapindo dibentuk sebagai Bank Milik Negara pada tahun
1970, Bapindo ditugaskan untuk membantu pembangunan nasional melalui pembiayaan
jangka menengah dan jangka panjang pada sektor manufaktur, transportasi, dan
pariwisata. Kini, Bank Mandiri menjadi penerus suatu tradisi layanan jasa perbankan dan
keuangan yang telah berpengalaman selama 140 tahun. Masing-masing dari empat bank
bergabung memainkan peranan yang penting dalam pembangunan ekonomi.
Setelah melalui proses panjang dan persiapan yang sangat berat, pada tanggal 14
Juli 2003 akhirnya Bank Mandiri melaksanakan pencatatan saham perdana dengan kode
saham BMRI di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya. Pada penawaran saham
perdana tersebut, saham Bank Mandiri mengalami oversubscribed sebesar lebih dari 7
kali. Proses diinvestasi saham pemerintah pada Bank Mandiri tersebut didasarkan pada
Peraturan pemerintah No.27 tahun 2003 tentang penjualan saham Negara RI pada Bank
Mandiri. Dalam peraturan pemerintah tersebut dijelaskan bahwa penjualan saham Bank
Mandiri akan dilakukan melalui pasar modal dan atau kepada mitra strategis dengan
jumlah maksimal 3% dari jumlah saham yang telah dikeluarkan dan disetor.
Dengan kinerja yang semakin membaik dan keberhasilan program transformasi
bisnis dalam beberapa tahun terakhir, Bank Mandiri bertekad memasuki tahapan strategis
yaitu menjadi salah satu bank terkemuka di kawasan Regional Asia Tenggara. Visi
strategis tersebut diawali dengan tahapan mengembangkan kekuatan di semua segmen
nasabah untuk menjadi universal bank yang mendominasi pasar perbankan domestik,
dengan fokus pada pertumbuhan segmen consumer dan commercial. Dengan menguasai
pasar Indonesia sebagai Fastest Growing Market di Asia Tenggara. Bank Mandiri berada
dalam posisi lebih menguntungkan dibandingkan pesaing-pesaing regional.
b. Visi dan Misi PT Bank Mandiri (Persero), Tbk
Visi Bank Mandiri yaitu : Bank Terpercaya Pilihan Anda.
Misi Bank Mandiri yaitu :
1. Berorientasi pemenuhan pasar.
2. Mengembangkan sumber daya manusia profesional.
3. Memberi keuntungan yang maksimal bagi stakeholder.
4. Melaksanakan manajemen terbuka.
4.3 PT Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk
a. Sejarah Singkat Perusahaan
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI, Bank, atau Perseroan)
merupakan salah satu bank terbesar dan tertua di Indonesia yang berdiri sejak 16
Desember 1895. Saat ini, BRI berkantor pusat di Gedung BRI I, Jl. Jenderal Sudirman
Kav. 44-46, Jakarta 10210, Indonesia. Pada awalnya, Perseroan adalah sebuah
badanpengelola dana masjid yang bertugas untuk mengelola dan menyalurkan dana
kepada masyarakat dengan skema yang sangat sederhana. Seiring perjalanan waktu, De
Poerwokertosche Hulp en Spaarbank der Inlandsche Hoofden lahir pada tanggal 16
Desember 1895 di Purwokerto, Jawa Tengah. Lembaga yang didirikan oleh Raden Aria
Wiriatmaja ini semakin berkembang dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Setelah
mengalami beberapa kali perubahan nama, seperti Hulp-en Spaarbank der Inlandshe
Bestuurs Ambtenareen, De Poerwokertosche Hulp Spaar-en Landbouw Credietbank atau
Volksbank, pada tahun 1912 berubah menjadi Centrale Kas Voor Volkscredietwezen
Algemene, dan Algemene Volkscredietbank (AVB) tahun 1934.
Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, AVB diubah menjadi Syomin Ginko.
Pada 22 Februari 1946, Pemerintah Indonesia mengubah lembaga ini menjadi Bank
Rakyat Indonesia (BRI) dengan Peraturan Pemerintah No. 1 tahun 1946, dan BRI
menjadi bank pertama yang dimiliki Pemerintah Republik Indonesia. Sebagai bank
pemerintah, BRI banyak berperan sebagai ujung tombak Pemerintah dalam pembangunan
perekonomian nasional. Pemerintah kemudian mengubah nama BRI menjadi Bank
Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN) pada 1960. Berdasarkan Undang-undang No. 21
tahun 1968, Pemerintah menetapkan kembali nama Bank Rakyat Indonesia sebagai bank
umum, kemudian berdasarkan Undangundang Perbankan No. 7 tahun 1992, BRI berubah
nama dan status badan hukumnya menjadi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero).
Perseroan hingga kini tetap fokus pada bisnis di segmen Usaha Mikro, Kecil, dan
Menengah (UMKM) dan member inspirasi berbagai pihak untuk mendayagunakan sektor
UMKM sebagai tulang punggung perekonomian nasional.
BRI menjadi Perseroan Terbuka pada 10 November 2003 dan mencatatkan 30%
sahamnya di Bursa Efek Jakarta, kini Bursa Efek Indonesia (BEI), dengan kode saham
BBRI. Saat ini saham Perseroan tergabung dalam indeks saham LQ45 dan termasuk salah
satu saham blue chip di BEI. BRI tumbuh pesat baik dari segi aset, jumlah kredit yang
dikucurkan, dana pihak ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun, laba yang dihasilkan, dan
kualitas aset yang terjaga. Sampai dengan 31 Desember 2009, BRI memiliki lebih dari 32
juta rekening yang terdiri dari nasabah perorangan, pelaku usaha mikro dan kecil,
perusahaan menengah dan besar, baik lembaga swasta maupun pemerintahan.
Pertumbuhan kredit mencapai 27,62% pada tahun 2009, sedangkan pertumbuhan DPK
mencapai 26,12%. Hingga akhir tahun 2009, BRI memiliki lebih dari 6.300 unit kerja
yang terdiri dari Kantor Wilayah, Kantor Cabang, Kantor Cabang Pembantu, Kantor Kas,
BRI Unit maupun Teras BRI. Selain memiliki jaringan kerja yang luas BRI juga
memberikan layanan BRI Prioritas bagi nasabah pilihan di beberapa Kantor Cabang.
Sedangkan untuk mendekatkan diri dengan nasabah, hingga 31 Desember 2009 BRI
memiliki 3.778 Anjungan Tunai Mandiri (ATM), 60 kiosk, 20 Cash Deposit Machine
(CDM), 6.398 Electronic Data Capture (EDC) dan terintegrasi ke lebih dari 25.000
jaringan ATM Link, ATM Bersama, dan ATM Prima. Selain jaringan ATM, layanan
elektronik BRI juga dilengkapi oleh fasilitas phone banking 24-jam, SMS Banking dan
Internet Banking. Pada penghujung 2009, Pemerintah Republik Indonesia memiliki
56,77% saham dan sisanya dimiliki oleh masyarakat pemodal. Nilai kapitalisasi pasar
saham BRI pada akhir tahun 2009 mencapai Rp94,37 triliun atau sekitar 4,82% dari total
kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia.
4.4 PT Bank Tabungan Negara (Persero), Tbk
a. Sejarah PT Bank Tabungan Negara (PERSERO), Tbk
Awal sejarah berdirinya BTN dimulai sejak Belanda menginjakkan kakinya
pertama kali di Indonesia. Puncak dari perjuangan BTN dalam memperjuangkan
keberadaannya itu pada tahun 1897. Para pelaku dalam pengembangan BTN pada saat itu
yakin bahwa tahun itulah sebagai puncak dari cikal bakal berdirinya BTN. Hal ini
didasari oleh adanya Koninklijk Besluit No. 27 di Hindia Belanda yang menyatakan
adanya pendirian Postpaarbank ini berkedudukan di Batavia. Pendirian Postpaarbank
tersebut mempunyai tujuan antara lain untuk mendidik masyarakat pada saat itu agar
gemar menabung.
Pada tahun 1942, Jepang memasuki Indonesia dan secara resmi mengambil alih
kekuasaan Belanda di Indonesia dan Postpaarbank yang merupakan bank karya kolonial
Belanda dibekukan. Sebagai gantinya pemerintah Jepang mendirikan Tyokin Kyoku.
Setelah kemerdekaan diproklamasikan, maka Tyokin Kyoku diambil alih oleh
pemerintah Indonesia dan namanya diubah menjadi Kantor Tabungan Pos atau disingkat
KTP. Pembentukan KTP pada saat iti diprakarsai oleh Bapak Darmoesoesanto selaku
direktur pertama KTP.
Pada tahun 1946 terjadi Agresi Militer Belanda dan berhasil menduduki kantor-
kantor cabang KTP yang tersebar di Indonesia. Namun Agresi Belanda tidak berlangsung
lama dan pada tahun 1949 pemerintah RI membuka kembali KTP sekaligus mengganti
nama KTP menjadi Bank Tabungan Pos Republik Indonesia. Usai dikukuhkannya Bank
Tabungan Pos RI sebagai satu-satunya lembaga tabungan di Indonesia, pada tahun 1950
kemudian pemerintah mengganti namanya menjadi Bank Tabungan Pos.
Selanjutnya dalam perjalanannya BTN merupakan sebuah unit dari Bank Negara
Indonesia, dimana saat itu BTN masuk ke dalam Unit V. Karena sebagai sebuah unit dari
Bank Negara Indonesia, maka pada saat itu BTN sempat kehilangan kekuasaan dan
wewenang. Hal ini patut dimaklumi karena BTN langsung ditempatkan di bawah
kekuasaan urusan Bank Sentral masa itu, sementara BTN hanya dipimpin oleh seorang
Direktur Koordinator yang sangat sulit dalam pengembangannya.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 4 tahun 1963
Lembaran Negara Republik Indonesia No. 62 tahun 1963 tanggal 22 Juni 1963, maka
resmi sudah nama Bank Tabungan Pos diganti namanya menjadi Bank Tabungan Negara.
Kemudian berdasarkan Penetapan Presiden No. 17 tahun 1965, seluruh Bank
Umum Milik Negara termasuk Bank Tabungan Negara beralih statusnya menjadi Bank
Tunggal Milik Negara, yang pada akhirnya berdasarkan Undang-Undang No 20 tahun
1998 yang sebelumnya diprakarsai dengan Undang-Undang Darurat No. 50 tahun 1950
tanggal 9 Februari 1950 resmi sudah status Bank Tabungan Negara sebagai salah satu
bank milik negara dengan tugas utama saat itu untuk memperbaiki perekonomian rakyat
melalui penghimpunan dana masyarakat terutama dalam bentuk tabungan. Kemudian
sejarah BTN mulai diukir kembali dengan ditunjuknya oleh Pemerintah Indonesia pada
tanggal 29 Januari 1974 melalui Surat Menteri Keuangan RI No. B-49/MK/I/1974
sebagai wadah pembiayaan proyek perumahan rakyat.
Pada tahun 1989 Bank BTN beroperasi sebagai bank umum dan mulai
menerbitkan obligasi. Pada tahun 1992 status hukum Bank BTN berubah menjadi
perusahaan perseroan. Bank BTN selanjutnya mendapat ijin sebagai Bank Devisa pada
tahun 1994. Kemudian sekuritisasi aset Bank BTN menjadi bank pertama di Indonesia
yang melakukan pendaftaran transaksi Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset
(KIK EBA) di Bapepam yang kemudian dilakukan dengan pencatatan perdana dan listing
transaksi tersebut di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2009.
b. Visi dan Misi PT Bank Tabungan Negara (Persero), Tbk
Sebagai pedoman dalam mengelola usahanya, Direksi Bank BTN telah
menetapkan Visi dan Misi Bank BTN yang wajib diketahui, dihayati, dan diamalkan oleh
setiap pegawai. Adapun visi dan misi Bank BTN ialah sebagai berikut :
Visi
Menjadi bank yang terkemuka dalam pembiayaan perumahan.
Misi
1. Memberikan pelayanan unggul dalam pembiayaan perumahan dan industri
terkait, pembiayaan konsumsi dan usaha kecil menengah.
2. Meningkatkan keunggulan kompetitif melalui inovasi pengembangan
produk, jasa dan jaringan strategis berbasis teknologi terkini.
3. Menyiapkan dan mengembangkan Human Capital yang berkualitas,
profesional dan memiliki integritas tinggi.
4. Melaksanakan manajemen perbankan yang sesuai dengan prinsip kehati-
hatian dan good corporate governance untuk meningkatkan Shareholder
Value.
5. Mempedulikan kepentingan masyarakat dan lingkungannya.
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1 Analisis Non Performing Loan (NPL)
Data mengenai NPL diperoleh dari laporan keuangan dalam bentuk perhitungan rasio
keuangan masing-masing bank pada tahun 2006-2010. Berdasarkan ketentuan yang telah
ditetapkan oleh Bank Indonesia, perhitungan NPL adalah dengan cara membandingkan jumlah
kredit bermasalah yang disalurkan oleh bank dengan penjumlahan total kredit tidak dikurangi
Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif. Perhitungan dilakukan oleh bank yang bersangkutan
kemudian laporannya dipublikasikan di Bank Indonesia selaku Bank Sentral. Perhitungan Non
Performing Loan (NPL) seperti yang disajikan seperti di bawah ini :
Total Kredit Bermasalah
NPL = x 100% (IX)
Total Kredit
Berikut ini disajikan besarnya Total Non Performing Loan (NPL), dan Loan to Deposit
Ratio (LDR) Tahun 2006-2010.
Tabel 5.1
Total Non Performing Loan (NPL)
Tahun 2006-2010
(dalam %)
No. Tahun Non Performing Loan (NPL)
1. 2006 75.69
2. 2007 69.80
3. 2008 79.93
4. 2009 72.88
5. 2010 88.98
Sumber : Laporan Keuangan PT. BRI, 2011
Tabel 5.2
Total Non Performing Loan (NPL)
Tahun 2006-2010
(dalam %)
No. Tahun Non Performing Loan (NPL)
1. 2006 49.20
2. 2007 60.60
3. 2008 68.60
4. 2009 70.46
5. 2010 70.55
Sumber : Laporan Keuangan PT. BNI, 2011
Tabel 5.3
Total Non Performing Loan (NPL)
Tahun 2006-2010
(dalam jutaan rupiah)
No. Tahun Non Performing Loan (NPL)
1. 2006 78.93
2. 2007 83.75
3. 2008 92.38
4. 2009 101.83
5. 2010 108.42
Sumber : Laporan Keuangan PT. BTN, 2011
Tabel 5.4
Total Non Performing Loan (NPL)
Tahun 2006-2010
(dalam %)
No. Tahun Non Performing Loan (NPL)
1. 2006 57.70
2. 2007 57.20
3. 2008 54.30
4. 2009 56.64
5. 2010 61.32
Sumber : Laporan Keuangan PT. Mandiri, 2011
5.2 Analisis Loan to Deposit Ratio (LDR)
Data mengenai LDR diperoleh dari laporan keuangan dalam bentuk perhitungan rasio
keuangan masing-masing bank pada tahun 2006-2010. Berdasarkan ketentuan yang telah
ditetapkan oleh Bank Indonesia, perhitungan LDR adalah dengan cara membandingkan jumlah
kredit yang disalurkan oleh bank dengan penjumlahan total dana pihak ketiga ditambah dengan
modal sendiri. Perhitungan dilakukan oleh bank yang bersangkutan kemudian laporannya
dipublikasikan di Bank Indonesia selaku Bank Sentral. Perhitungan Loan to Deposit Ratio
(LDR) seperti yang disajikan seperti di bawah ini :
LDR =


100 %
Berikut ini disajikan besarnya Rasio LDR tahun 2006-2010.
Tabel 5.5
Total Loan to Deposit Ratio (LDR)
Tahun 2006-2010
(dalam %)
No. Tahun Loan to Deposit Ratio (LDR)
1. 2006 3.05
2. 2007 2.05
3. 2008 3.75
4. 2009 3.52
5. 2010 2.28
Sumber : Laporan Keuangan PT. BRI, 2011
Tabel 5.6
Total Loan to Deposit Ratio (LDR)
Tahun 2006-2010
(dalam %)
No. Tahun Loan to Deposit Ratio (LDR)
1. 2006 1.66
2. 2007 2.80
3. 2008 3.21
4. 2009 2.90
5. 2010 3.17
Sumber: Laporan Keuangan PT. BNI, 2011
Tabel 5.7
Total Loan to Deposit Ratio (LDR)
Tahun 2006-2010
(dalam %)
No. Tahun Loan to Deposit Ratio (LDR)
1. 2006 2.46
2. 2007 2.65
3. 2008 2.98
4. 2009 2.66
5. 2010 2.89
Sumber: Laporan Keuangan PT. BTN, 2011
Tabel 5.8
Total Loan to Deposit Ratio (LDR)
Tahun 2006-2010
(dalam %)
No. Tahun Loan to Deposit Ratio (LDR)
1. 2006 1.55
2. 2007 1.35
3. 2008 1.16
4. 2009 1.40
5. 2010 1.45
Sumber: Laporan Keuangan PT. Mandiri, 2011
Dari hasil perhitungan di atas dapat diketahui tingkat Loan to Deposite Ratio (LDR) yang
dimiliki oleh PT. BRI selama lima tahun terakhir adalah sebagai berikut : pada tahun 2006
tingkat NPL nya adalah sebesar 3.05% dimana nilai ini dapat diinterpretasikan bahwa 3.05% dari
total kredit bermasalah yang berhasil dihimpun dan total pinjaman, disalurkan dalam bentuk
kredit.
Pada tahun 2007 mengalami penurun sebesar 1% dari tahun sebelumnya menjadi 2.05% yang
dapat diinterpretasikan bahwa 2.05% total kredit bermasalah yang berhasil dihimpun dan total
pinjaman, disalurkan dalam bentuk kredit.
Pada tahun 2008 mengalami kenaikan menjadi 3.75% yang berarti bahwa dari total total
kredit bermasalah yang berhasil dihimpun dan total pinjaman, 3.75% disalurkan dalam bentuk
kredit.
Pada tahun selanjutnya 2009 kembali mengalami penurunan sebesar 0.23% menjadi
3.52%, yang berarti 3.52% dari total kredit bermasalah yang berhasil dihimpun dan dari total
pinjaman, disalurkan dalam bentuk kredit.
Sementara pada tahun 2010 tingkat NPL yang dimiliki menurun jika dibandingkan tahun
2008 yaitu sebesar 2.28% yang berarti dari total total kredit bermasalah yang berhasil dihimpun
dan total pinjaman, 2.28% disalurkan dalam bentuk kredit.
Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa tingkat Non Performing Loan (NPL) yang
dimiliki PT. Bank BUMN se-Indonesia selama lima tahun terakhir (2006-2010) memenuhi syarat
penilaian tingkat kesehatan bank yang telah ditetapkan yaitu sebesar 5%, dimana pada tahun
2006-2010 dibawah 5% menunjukkan bahwa bank yang bersangkutan berada dalam kondisi
yang sehat jika berdasarkan teori, kondisi ini akan berdampak menurunnya kredit bermasalah
yang diperoleh oleh Bank BUMN.
5.3 Analisis Regresi Sederhana
Dari data yang telah diperoleh dari PT bank Tabungan Negara (Persero), penulis
dapat melakukan pembahasan tentang pengaruh loan to deposit ratio terhadap non performing
loan selama periode 2006-2010.
Selanjutnya untuk membuktikan hipotesa pada poin dua yang diajukan dalam penulisan
ini maka dalam pengujian empiris penulis menggunakan metode regresi linier sederhana. Untuk
mempermudah perhitungan regresi, maka dalam penelitian ini diselesaikan dengan bantuan
perangkat lunak komputer program SPSS 16.0. Dari output Variables Entered/Removed,
diperoleh bahwa variabel independen (X) yang dimasukkan ke dalam model adalah loan to
deposit ratio dan variabel dependennya (Y) adalah non performing loan dan tidak ada variabel
yang dikeluarkan (removed). Pembuatan persamaan regresi sederhana dapat dilakukan dengan
menginterpretasikan angka-angka yang ada di dalam unstandardized coefficient beta.
Tabel 5.9
Hasil Analisis Regresi Sederhana antara Non Performing Loan (NPL) dan Loan to Deposit
Ratio (LDR) Se- Indonesia
Periode Tahun 2006-2010
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized
Coefficients
t Sig. B Std. Error Beta
1 (Constant) .438 .711 .617 .545
LDR .028 .010 .563 2.890 .010
a. Dependent Variable: NPL
Sumber ; hasil SPSS (Lampiran)
Sumber : Data Statistik yang Diolah, 2011
Pada penelitian ini menggunakan model persamaan regresi linear sederhana sebagai
berikut:
Y^ = a + bX (X)
Dari tabel di atas tersebut dengan memerhatikan angka yang berada pada kolom
Unstandardized Coefficients Beta, maka dapat dibentuk persamaan regresi sederhana sebagai
berikut :
Y^ = 0.428 0.028X (XI)
Angka-angka dalam persamaan di atas dapat diinterpretasikan sebagai berikut:
1. Nilai koefisien intercept (a) adalah 0.438
Nilai koefisien intercept (a) sebesar 0.438 mengandung pengertian bahwa pada saat tingkat
loan to deposit ratio 0%, maka tingkat pendapatan non performing loan (Y) adalah sebesar
0.438
2. Nilai koefisien regresi (b) adalah 0.028
Nilai koefisien regresi (b) sebesar 0.028 mengandung pengertian bahwa setiap terjadi
perubahan tingkat loan to deposit ratio (X) sebesar 1 %, maka akan menyebabkan penurunan
tingkat non performing loan (Y) sebesar 0.028%.
A. Uji Heteroskedisitas
Uji heteroskedasitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi
ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Model regresi
yang baik adalah yang tidak terjadi heteroskedasitas. Metode yang dapat dipakai untuk
mendeteksi gejala heterokedasitas antara lain: metode grafik, park glejser, rank spearman dan
barlett.
Dalam penelitian ini metode yang digunakan untuk mendeteksi gejala heteroskedasitas
dengan melihat grafik plot antara nilai prediksi varabel terikat (ZPRED) dengan residualnya
(SRESID). Deteksi ada tidaknya heteroskedasitas dapat dilakukan dengan melihat ada tidaknya
pola tertentu pada grafik scatterplot antara ZPRED dan SPRESID dimana sumbu Y adalah Y
yang telah diprediksi, dan sumbu X adalah residual (Y prediksi Y sesungguhnya) yang terletak
di Studentized.
1) Jika ada titik-titik yang membentuk pola tertentu yang teratur maka
mengidentifikasikan telah terjadi heterokedasitas.
2) Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan dibawah angka 0
pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedasitas. Jika ada titik-titik yang
membentuk pola tertentu yang teratur maka mengidentifikasi telah terjadi
heterokedasitas.
Grafik 5.1
Sumber ; hasil
SPSS (Lampiran)
Berdasarkan plot di atas bahwa tidak ada plot yang jelas dan titik-titik menyebar di atas
dan di bawah sumbu y sehingga bisa disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedisitas.
Grafik 5.2
Sumber ; hasil SPSS (Lampiran)
Berdasarkan dari histogram di atas, menunjukkan pola regresi normal yang
memenuhi asumsi normalitas karena histogram yang ada menyerupai lonceng
(mendekati pola distribusi normal)
Grafik 5.3
Data Sumber:Data Statistik yang Diolah
Selain melihat histogram, normalitas bisa diuji dengan melihat analisis grafik.
Berdasarkan grafik di atas dapat disimpulkan bahwa model regresi memenuhi asumsi
normalitas data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti garis diagonal
tersebut.
B. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi, variabel terikat dan
variabel bebas keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik
adalah memiliki distribusi data normal atau mendekati normal. Metode yang dapat dipakai untuk
normalitas antara lain : analisis grafik dan analisis statistik.
Uji normalitas dalam penelitian ini dilakukan dengan cara analisis grafik. Normalitas
dapat dideteksi dengan melihat penyebaran data (titik) pada sumbu diagonal dari grafik atau
dengan melihat histogram dari residualnya :
2) Jika data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti garis diagonal atau grafik
histogramnya menunjukkan pola distribusi normal regresi memenuhi asumsi
normalitas.
3) Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan atau tidak mengikuti arah garis
diagonal atau grafik histogram tidak menunjukkan pola distribusi normal, maka
model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.
C. Uji t
Untuk menguji hipotesis yang diajukan apakah hipotesis null (H
0
) dan hipotesis
alternatif (H
a
) diterima atau ditolak, maka dilakukan uji statistik t (uji-t) dengan tingkat
signifikansi 5% ( = 0,05). Uji-t ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh
variabel independen (loan to deposit ratio) terhadap variabel dependen (non performing loan).
Pada tabel berikut dapat kita lihat hasil uji-t yaitu :
Coefficients
a
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized
Coefficients
t Sig. B Std. Error Beta
1 (Constant) .438 .711 .617 .545
LDR .028 .010 .563 2.890 .010
b. Dependent Variable: NPL
Sumber ; hasil SPSS (Lampiran)
Nilai statistik uji t yang diperoleh dari hasil perhitungan SPSS adalah sebesar 2.890
dengan signifikansi 0.010. Hal ini berarti telah memenuhi syarat t
hitung
> t
tabel
yakni 2.890 > 2.88
dan signifikansi kurang dari 5% pada taraf kepercayaan 61.7%. Dapat disimpulkan bahwa H
0
ditolak dan H
a
diterima.
5.4 Hasil Pengujian Hipotesis
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh dan kontribusi loan to
deposit ratio (X) terhadap non performing loan (Y), maka dilakukan pengujian hipotesis, untuk
menjawab hipotesis yang dikemukakan sebelumnya melalui analisis berikut ini :
A. Analisis korelasi (r)
Analisis korelasi (r) dilakukan untuk mengetahui sejauh mana korelasi atau hubungan
antara kredit konsumtif dan pendapatan bunga kredit. Dari data yang telah diolah, maka
diperoleh hasil :
Model Summary
Model R R Square
Adjusted R
Square Std. Error of the Estimate
1 .563 .317 .279 .66846
a. Predictors: (Constant), LDR
b. Dependent Variabel: NPL
Sumber ; hasil SPSS (Lampiran)
Nilai r menunjukkan korelasi antara variabel independen dengan variabel dependen.
Nilai r berkisar antara 0 sampai 1. Jika nilainya mendekati 1, maka hubungan akan semakin erat.
Sebaliknya, jika mendekati 0, maka hubungan semakin lemah. Nilai r pada tabel di atas yaitu
0.563, artinya korelasi antara variabel loan to deposit ratio dengan variabel non performing loan
sebesar 0,563. Hal ini menunjukkan terjadi hubungan yang tidak erat antara loan to deposit ratio
dengan non performing loan karena nilai r tidak mendekati 1.
B. Analisis Determinasi (r
2
)
Koefisien determinasi (r
2
) digunakan untuk mengetahui keeratan hubungan antara
variabel independen dengan variabel dependen. Nilai r
2
yang semakin mendekati satu maka
variabel independen yang ada dapat memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan
untuk memprediksi variabel dependen, dan begitu juga sebaliknya. Besarnya koefisien
determinasi (r
2
) antara 0 sampai dengan 1. Dari analisis data, diperoleh hasil :
Tabel
Koefisien Determinasi (r
2
)
Model Summary
b
Model R R Square
Adjusted R
Square Std. Error of the Estimate
1 .563 .317 .279 .66846
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa nilai R Square atau koefisien determinasi (r
2
)
adalah 0.563. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan lon to deposit ratio dalam mempengaruhi
tingkat non performing loan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk sebesar 56.3% atau
dengan kata lain loan to deposit ratio berpengaruh sebesar 56.3% terhadap tingkat non
performing loan bank. Sedangkan sisanya yaitu sebesar 43.7% dipengaruhi oleh variabel-
variabel lainnya yang tidak dibahas dalam penelitian ini.
BAB VI
PENUTUP
6.1. Kesimpulan
Berdasarkan uraian-uraian yang telah peneliti paparkan terhadap data penelitian yang
telah tekumpul yang kemudian di olah, mengenai pengaruh dari tingkat Non Performing Loan
(NPL) terhadap Loan to Deposit Ratio (LDR) bank pada PT Bank BUMN di Indonesia yang
menjadi objek penelitian, maka peneliti dapat mengambil beberapa kesimpulan sebagai jawaban
atas pertanyaan-pertanyaan yang terdapat pada identifikasi masalah yang menjadi acuan dasar
dari maksud dan tujuan penelitian ini, antara lain sebagai berikut :
Non Performing Loan (NPL) tidak mempunyai hubungan yang sangat kuat terhadap
Loan to Deposite Ratio (LDR). Hal ini dapat dilihat dari hasil perhitungan koefisien korelasi
dengan menggunakan analisis korelasi. Dari hasil perhitungan tersebut diperoleh nilai koefisien
korelasi yang tidak positif. Nilai korelasi tidak positif berarti bahwa apabila Non Performing
Loan (NPL) bank tidak meningkat.
Tingkat Loan to Deposite Ratio (LDR) berpengaruh lemah terhadap Non Performing
Loan (NPL) pada PT. Bank BUMN di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari hasil koefisiensi
kolerasi.
Kontribusi loan to deposit ratio terhadap non performing loan pada PT Bank BUMN
(Persero) dapat dilihat dari nilai koefisien determinasinya. Hal ini berarti kontribusi loan to
deposit ratio berpengaruh terhadap non performing loan. Dan sisanya sebesar di penegaruhi oleh
variabel lainnya.
Hasil estimasi dari model regresi dalam penelitian ini menunjukkan bahwa variabel
independen menjelaskan jumlah LDR, sedangkan sisanya dijelaskan oleh faktor lain di luar
model penelitian ini.
6.2. Saran
Setelah melakukan penelitian, pembahasan, dan merumuskan kesimpulan dari
hasil penelitian, maka penulis memberikan beberapa saran yang berkaitan dengan
penelitian yang telah dilakukan untuk dijadikan masukan dan pertimbangan yang berguna
bagi pihak-pihak yang berkepentingan, antara lain :
1. Bagi Pihak Perbankan
Setelah mengamati dan menganalisa hasil penelitian, penulis melihat terdapat beberapa
hal yang dapat dijadikan masukan bagi praktisi dan pengguna jasa industri perbankan.
Peneliti menyarankan agar bank lebih meningkatkan lagi kualitas penyaluran
kreditnya agar tidak terjadi kredit bermasalah, dan lebih aktif menyalurkan dana
kepada masyarakat sampai pada batas yang diterapkan oleh Bank Indonesia yaitu
sebesar 85%-110%. Hal ini disarankan karena hasil persentase Non Performing
Loan (NPL) yang dicapai oleh Bank BUMN di Indonesia selama lima tahun
terakhir masih di bawah standar tersebut. Beberapa cara yang dapat dilakukan
adalah antara lain dengan mempermudah syarat pengajuan kredit dan memberi
tingkat suku bunga yang relatif rendah.
2. Bagi Peneliti Selanjutnya
Diharapkan pada peneliti selanjutnya untuk meneliti lebih lanjut mengenai masalah ini
secara mendalam. Pendalaman pada penelitian ini akan lebih akurat dan maksimal
apabila sampel yang diambil diperluas, baik dari jenis-jenis bank maupun periode tahun-
tahun yang diteliti.
L A M P I R A N
REGRESSION
/DESCRIPTIVES MEAN STDDEV CORR SIG N
/MISSING LISTWISE
/STATISTICS COEFF OUTS CI BCOV R ANOVA COLLIN TOL CHANGE ZPP
/CRITERIA=PIN(.05) POUT(.10)
/NOORIGIN
/DEPENDENT Y
/METHOD=ENTER X
/SCATTERPLOT=(*SRESID ,*ZPRED)
/RESIDUALS DURBIN HIST(ZRESID) NORM(ZRESID)
/CASEWISE PLOT(ZRESID) OUTLIERS(3).
Regression
Notes
Output Created 08-May-2011 17:11:03
Comments
Input Active Dataset DataSet0
Filter <none>
Weight <none>
Split File <none>
N of Rows in Working Data File 35
Missing Value Handling Definition of Missing User-defined missing values are treated as missing.
Cases Used Statistics are based on cases with no missing values for any
variable used.
Syntax REGRESSION
/DESCRIPTIVES MEAN STDDEV CORR SIG N
/MISSING LISTWISE
/STATISTICS COEFF OUTS CI BCOV R ANOVA COLLIN
TOL CHANGE ZPP
/CRITERIA=PIN(.05) POUT(.10)
/NOORIGIN
/DEPENDENT Y
/METHOD=ENTER X
/SCATTERPLOT=(*SRESID ,*ZPRED)
/RESIDUALS DURBIN HIST(ZRESID) NORM(ZRESID)
/CASEWISE PLOT(ZRESID) OUTLIERS(3).
Resources Processor Time 00:00:03.978
Elapsed Time 00:00:03.528
Memory Required 1348 bytes
Additional Memory Required for Residual
Plots
912 bytes
[DataSet0]
Descriptive Statistics
Mean Std. Deviation N
NPL 2.4470 .78720 20
LDR 72.9580 16.09577 20
Correlations
NPL LDR
Pearson Correlation NPL 1.000 .563
LDR .563 1.000
Sig. (1-tailed) NPL . .005
LDR .005 .
N NPL 20 20
LDR 20 20
Variables Entered/Removed
b
Model Variables Entered
Variables
Removed Method
1 LDR
a
. Enter
a. All requested variables entered.
b. Dependent Variable: NPL
Model Summary
b
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate
1 .563
a
.317 .279 .66846
Model Summary
b
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate
1 .563
a
.317 .279 .66846
a. Predictors: (Constant), LDR
b. Dependent Variable: NPL
Model Summary
b
Change Statistics
Durbin-Watson R Square Change F Change df1 df2 Sig. F Change
.317 8.349 1 18 .010 .998
a. Predictors: (Constant), LDR
b. Dependent Variable: NPL
ANOVA
b
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 3.731 1 3.731 8.349 .010
a
Residual 8.043 18 .447
Total 11.774 19
a. Predictors: (Constant), LDR
b. Dependent Variable: NPL
Coefficients
a
Model
Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients
t Sig. B Std. Error Beta
1 (Constant) .438 .711 .617 .545
LDR .028 .010 .563 2.890 .010
Coefficients
a
Model
Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients
t Sig. B Std. Error Beta
1 (Constant) .438 .711 .617 .545
LDR .028 .010 .563 2.890 .010
a. Dependent Variable: NPL
Coefficients
a
95% Confidence Interval for B Correlations Collinearity Statistics
Lower Bound Upper Bound Zero-order Partial Part Tolerance VIF
-1.055 1.932
.008 .048 .563 .563 .563 1.000 1.000
a. Predictors: (Constant), LDR
b. Dependent Variable: NPL
Coefficient Correlations
a
Model LDR
1 Correlations LDR 1.000
Covariances LDR 9.078E-5
a. Dependent Variable: NPL
Collinearity Diagnostics
a
Model
Dimensi
on Eigenvalue Condition Index
Variance Proportions
(Constant) LDR
1 1 1.978 1.000 .01 .01
2 .022 9.407 .99 .99
a. Dependent Variable: NPL
Residuals Statistics
a
Minimum Maximum Mean Std. Deviation N
Predicted Value 1.7929 3.4233 2.4470 .44313 20
Std. Predicted Value -1.476 2.203 .000 1.000 20
Standard Error of Predicted
Value
.149 .369 .203 .059 20
Adjusted Predicted Value 1.8191 3.6579 2.4744 .47655 20
Residual -.77333 1.11106 .00000 .65063 20
Std. Residual -1.157 1.662 .000 .973 20
Stud. Residual -1.234 1.714 -.019 1.020 20
Deleted Residual -.87951 1.18182 -.02736 .71665 20
Stud. Deleted Residual -1.253 1.821 -.006 1.042 20
Mahal. Distance .000 4.854 .950 1.239 20
Cook's Distance .000 .202 .052 .051 20
Centered Leverage Value .000 .255 .050 .065 20
a. Dependent Variable: NPL
Charts