Anda di halaman 1dari 160

ii

DISERTASI
EKSTRAK KULIT BUAH MANGGIS
(Garcinia mangostana L.) DAN PELATIHAN FISIK
MENURUNKAN STRES OKSIDATIF PADA TIKUS
WISTAR (Rattus norvegicus) SELAMA
AKTIVITAS FISIK MAKSIMAL
I NYOMAN ARSANA
NIM: 1090271004
PROGRAMDOKTOR
PROGRAM STUDI ILMU KEDOKTERAN
PROGRAM PASCASARJANA
2014
ix
ABSTRAK
EKSTRAK KULIT BUAH MANGGIS (Garcinia mangostana L.) DAN
PELATIHAN FISIK MENURUNKAN STRES OKSIDATIF PADA TIKUS
WISTAR (Rattus norvegicus) SELAMA AKTIVITAS FISIK MAKSIMAL
Stres oksidatif merupakan suatu kondisi ketidakseimbangan antara produksi
radikal bebas atau Reactive oxygen species (ROS) dengan antioksidan, di mana
kadar radikal bebas lebih tinggi dibandingkan antioksidan. Salah satu penyebab
stres oksidatif adalah aktivitas fisik maksimal. Stres oksidatif dapat dikurangi
dengan pemberian antioksidan. Salah satu sumber antioksidan adalah kulit buah
manggis (Garcinia mangostana L). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
peran ekstrak kulit buah manggis dan pelatihan fisik dalam menurunkan
Malondialdehyde (MDA), meningkatkan Superoxide dismutase (SOD), dan
Glutathione Peroxidase (GPx) pada tikus Wistar (Rattus norvegicus) selama
aktivitas fisik maksimal.
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan perlakuan
Faktorial 6 x 2 dengan empat kali ulangan sehingga terdapat 48 unit penelitian.
Setiap unit terdiri atas satu sampel sehingga diperlukan 48 ekor tikus. Perlakuan
pertama adalah ekstrak kulit buah manggis dengan dosis: 0; 50; 100; 200; 300,
dan 400 mg/kgbb/hari selama empat minggu. Perlakuan kedua adalah pelatihan
fisik yaitu; tanpa pelatihan fisik dan dengan pelatihan fisik. Pada akhir penelitian
dilakukan pengukuran terhadap kadar MDA, SOD dan GPx darah. Data dianalisis
dengan Generalized Linear Model (GLZ), regresi kuadratik, dan analisis jalur.
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Biologi Universitas Hindu Indonesia,
Laboratorium Analisis Hasil Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas
Udayana, dan di Laboratorium Pangan-Gizi Pusat Antar Universitas, UGM.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kadar MDA, SOD, dan GPx
berbeda secara signifikan (p<0,05) setelah pemberian ekstrak maupun setelah
pelatihan fisik. Ekstrak dan pelatihan fisik secara bersama-sama juga
menunjukkan pengaruh yang signifikan (p<0,05). Namun demikian, pada dosis 0
sampai dengan 300 mg/kg bb, MDA tercatat lebih tinggi sementara SOD dan GPx
lebih rendah secara signifikan (p<0,05) pada pelatihan fisik dibandingkan tanpa
pelatihan. Sedangkan pada dosis 400 mg/kg bb MDA tercatat lebih rendah
(p>0,05), sementara SOD dan GPx terdeteksi lebih tinggi secara signifikan
(p<0,05) pada pelatihan fisik dibandingkan tanpa pelatihan.
Secara umum dapat disimpulkan bahwa pelatihan fisik dengan ekstrak kulit
buah manggis dapat menurunkan stres oksidatif melalui penurunan MDA, serta
peningkatan baik SOD dan GPx.
Kata Kunci: Garcinia mangostana L, Pelatihan fisik, Stres oksidatif, MDA,
SOD, dan GPx.
x
ABSTRACTS
MANGOSTEEN (Garcinia mangostana L.) RIND EXTRACT AND
PHYSICAL TRAINING REDUCE OXIDATIVE STRESS IN WISTAR
RATS (Rattus norvegicus) DURING MAXIMUMPHYSICAL ACTIVITY
Oxidative stress is a condition caused by the imbalance between the
production of free radicals or ROS and the antioxidants; the level of free radicals
is higher than the antioxidants. The maximum physical activity is one of the
causes of this oxidative stress. However, it can be reduced by antioxidants found
is mangosteen rind (Garcinia mangostana L). Therefore, due to this concern, this
study aims at investigating the role of the extract of mangosteen rind and the
physical training in reducing MDA, increasing SOD and GPx during a maximum
physical activity.
In this study, a randomized block design was utilized with 6 x 2 factorial
patterns in four times of repetitions, as the result, there were 48 research units.
Every unit consisted of one sample so that overall there were 48 rats as research
subjects. The first experiment was the treatments using the extract of the
mangosteen rind by determining the following dosages; 0, 50, 100; 200; 300, and
400 mg/kg of bodyweight/day for four weeks. The second was the treatments by
the physical training; without and with the physical training. In the end of the
research, the assessment to the contents of MDA, SOD and GPx of blood was
conducted. The data then was analyzed by utilizing the Generalized Linear Model
(GLZ), quadratic regression and path analysis. The experiment was conducted at
the Biology Laboratory of Hindu Indonesia University, the Agricultural Product
Technology Laboratory of Udayana University, and Center of Inter-University
Food-Nutrition Laboratory of UGM.
As a results, it was found that the average level of MDA, SOD and GPx
contents differ significantly (p<0.05) after the extracts has been given as well as
after the physical training. The extracts and the physical training concurrently
showed a significant effect (p<0.05). Nonetheless, from 0 to 300 mg/kg of
bodyweight dosages it was recorded that MDA is in the higher level while SOD
and GPx are in the lower level significantly (p<0.05) if with physical training than
without physical training. However, by giving 400 mg/kg of bodyweight dosages,
it was recorded MDA is lower (p>0.05), while SOD and GPx are higher
significantly (p<0.05) if with physical training than if without physical training.
In general, it could be concluded that the physical training combined with
the extract of mangosteen rind reduce oxidative stress by the reduction of MDA
and the increasing of SOD and GPx.
Keywords: Garcinia mangostana L, Physical Training, Oxidative Stress, MDA,
SOD, and GPx.
RINGKASAN
EKSTRAK KULIT BUAH MANGGIS (Garcinia mangostana L.) DAN
PELATIHAN FISIK MENURUNKAN STRES OKSIDATIF PADA TIKUS
WISTAR (Rattus norvegicus) SELAMA AKTIVITAS FISIK MAKSIMAL
Stres oksidatif merupakan suatu kondisi ketidakseimbangan antara produksi
radikal bebas atau ROS dengan antioksidan, di mana kadar radikal bebas lebih
tinggi dibandingkan antioksidan. Radikal bebas dapat berasal dari luar tubuh,
dapat juga terbentuk di dalam tubuh sebagai bagian integral dari proses fisiologis
seperti saat pembentukan energi dalam mitokondria melalui oksidasi fosforilasi.
Sumber utama ROS dari dalam tubuh adalah oksidasi fosforilasi akibat melakukan
aktivitas fisik maksimal. Selama aktivitas fisik, ROS terbentuk sebagai produk
samping reaksi oksidasi fosforilasi untuk membentuk energi dalam bentuk
Adenosine TriPhosphate (ATP) dalam rantai transport elektron pada mitokondria.
Proses tersebut membutuhkan O
2
, tetapi tidak semua O
2
berikatan dengan
hidrogen untuk membentuk air, sekitar 4% s.d. 5% dari oksigen yang dikonsumsi
berubah menjadi ROS.
Reactive oxygen species dapat diredam dengan pemberian antioksidan,
namun demikian, pemberian antioksidan dalam olah raga masih belum mampu
meningkatkan prestasi atlit. Antioksidan sintetis juga telah diyakini mempunyai
efek yang luas, sehingga saat ini ada kecenderungan masyarakat beralih
menggunakan bahan alami untuk meningkatkan kesehatan dan kebugaran fisiknya
dan akibatnya eksplorasi bahan alami yang mempunyai kemampuan sebagai
antioksidan banyak dilakukan. Salah satu sumber antioksidan adalah kulit buah
manggis (Garcinia mangostana L). Namum demikian, penelitian secara invivo
khususnya penggunaan ekstrak kulit buah manggis dalam olahraga masih relatif
kurang. Kulit buah manggis yang berpotensi sebagai sumber antioksidan alami
belum dimanfaatkan secara optimal tetapi terbuang sebagai limbah pertanian. Jika
limbah tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal maka akan memberikan nilai
tambah produk pertanian tersebut. Oleh karena itu, penggunaan ekstrak kulit buah
manggis sebagai sumber antioksidan dalam olahraga masih perlu diteliti lebih
lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran ekstrak kulit buah
manggis dan pelatihan fisik dalam menurunkan MDA, meningkatkan SOD, dan
GPx pada tikus Wistar selama aktivitas fisik maksimal.
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan perlakuan
Faktorial 6 x 2 dengan empat kali ulangan sehingga terdapat 48 unit penelitian.
Perlakuan pertama berupa ekstrak kulit buah manggis dengan dosis; 0; 50; 100;
200; 300, dan 400 mg/kgbb/hari selama empat minggu. Perlakuan kedua adalah
pelatihan fisik yaitu tanpa pelatihan fisik dan pelatihan fisik berupa renang 30
menit, lima kali per minggu, selama empat minggu. Sampel berupa tikus wistar
jantan umur 12 minggu dengan berat 216g s.d. 258g masing-masing satu ekor
pada setiap unit penelitian. Variabel yang diamati yaitu MDA, SOD, dan GPx
darah yang diambil pada akhir penelitian. Data yang diperoleh dianalisis dengan
analisis GLZ, regresi kuadratik, dan analisis jalur. Penelitian dilaksanakan di
xii
Laboratorium Biologi Universitas Hindu Indonesia, Laboratorium Analisi Hasil
Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Udayana, dan Laboratorium
Pangan-Gizi Pusat Antar Universitas, UGM.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kulit manggis dosis; 0; 50; 100;
200; 300, dan 400 mg/kgbb/hari selama empat minggu menurunkan MDA,
meningkatkan SOD, dan GPx secara signifikan (P<0,05). Rata-rata MDA
berturut-turut 8,500,30; 7,500,26; 4,770,17; 3,910,14; 3,490,12, dan
2,780,10 nmol/ml. Sedangkan, SOD berturut-turut 52,400,39; 57,620,42;
63,900,47; 71,980,53; 75,900,56, dan 81,350,60%. Sementara itu, GPx
berturut-turut 14,620,11; 16,410,12; 25,810,19; 29,100,21; 31,040,23, dan
34,970,25 U/ml. Kondisi tersebut terjadi karena senyawa yang terkandung dalam
ekstrak kulit buah manggis, disamping bekerja sebagai antioksidan dengan cara
mendonorkan elektronnya kepada radikal bebas, juga dapat bekerja sebagai
inducer yang akan memicu ekspresi gen penyandi antioksidan melalui aktivasi
Nrf2. Pelatihan meningkatkan MDA, menurunkan SOD, dan GPx secara
signifikan (P<0,05). MDA meningkat dari 3,850,08 menjadi 5,880,12
nmol/ml, SOD menurun dari 72,090,31 menjadi 61,170,26%, dan GPx
menurun dari 29,870,13 menjadi 19,430,08 U/ml. Ada indikasi bahwa takaran
pelatihan yang tidak tepat, di mana intensitas pelatihan berlebih sementara durasi
kurang sehingga perlakuan tersebut lebih menyerupai olahraga akut yang
meningkatkan produksi radikal bebas. Kondisi tersebut tidak dapat dijadikan
sebagai mekanisme adaptasi untuk memicu ekspresi gen penyandi antioksidan
melalui aktivasi Nrf2. Ekstrak kulit buah manggis dan pelatihan fisik menurunkan
MDA, meningkatkan SOD, dan GPx secara signifikan (P<0,05). Namun
demikian, pada dosis 0 mg/kg bb sampai 300 mg/kg bb, MDA tercatat lebih tinggi
(P<0,05) pada pelatihan fisik dibandingkan dengan tanpa pelatihan fisik,
sedangkan pada dosis 400 mg/kg bb MDA tercatat lebih rendah pada pelatihan
fisik dibandingkan dengan tanpa pelatihan fisik (P>0,05). Sementara itu, ekstrak
dosis 0 mg/kg bb sampai 300 mg/kg bb menyebabkan SOD dan GPx lebih rendah
(P<0,05) pada pelatihan fisik dibandingkan dengan tanpa pelatihan fisik, namun
pada dosis 400 mg/kg bb SOD dan GPx terdeteksi lebih tinggi (P<0,05) pada
pelatihan fisik dibandingkan dengan tanpa pelatihan fisik. Hal ini
mengindikasikan bahwa terjadi interaksi antara pelatihan fisik dengan ekstrak
kulit buah manggis untuk menimbulkan efek bersama yang menguntungkan
yaitu menurunkan stres oksidatif melalui penurunan kadar MDA, peningkatan
baik SOD maupun GPx, di mana peran ekstrak lebih besar dibandingkan
pelatihan fisik.
Secara umum dapat disimpulkan bahwa pelatihan fisik disertai pemberian
ekstrak kulit buah manggis dapat menurunkan stres oksidatif melalui penurunan
MDA, serta peningkatan baik SOD maupun GPx.
xiii
DAFTAR ISI
Halaman
SAMPUL DALAM ii
PRASYARAT GELAR. iii
LEMBAR PENGESAHAN iv
PENETAPAN PANITIA PENGUJI . v
UCAPAN TERIMAKASIH... vii
ABSTRAK.. ix
ABSTRACTx
RINGKASAN. xi
DAFTAR ISI... xiii
DAFTAR TABELxvi
DAFTAR GAMBAR.. xvii
DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG xix
DAFTAR LAMPIRAN.. xxi
BAB I PENDAHULUAN.1
1.1 Latar Belakang.. 1
1.2 Rumusan Masalah.. 9
1.3 Tujuan Penelitian...10
1.3.1 Tujuan umum10
1.3.2 Tujuan khusus... 10
1.4 Manfaat Penelitian......... 11
1.4.1 Manfaat teoritis......... 11
1.4.2 Manfaat praktis......... 11
BAB II KAJIAN PUSTAKA. 12
2.1 Pelatihan Fisik....12
2.1.1 Metabolisme energi dalam olahraga..18
2.1.2 Manfaat olahraga bagi kesehatan ..20
2.2 Stres Oksidatif .. 21
2.2.1 Reactive Oxygen Species (ROS).... 22
2.2.2 Antioksidan27
xiv
2.2.2.1 Superoxide dismutase ... 27
2.2.2.2 Glutathione peroxidase.28
2.3 Tinjauan Buah Manggis (Garcinia mangostana L.).29
2.3.1 Aktivitas antioksidan ekstrak kulit buah manggis.. 35
2.4 Mekanisme Aktivasi Gen Penyandi Antioksidan.. 39
BAB III KERANGKA BERPIKIR, KONSEP, DAN HIPOTESIS
PENELITIAN... 48
3.1 Kerangka Berpikir..48
3.2 Konsep Penelitian ..... 50
3.3 Hipotesis Penelitian... 50
BAB IV METODE PENELITIAN... 52
4.1 Rancangan Penelitian.52
4.2 Populasi, Sampel, dan Unit Penelitian... 52
4.2.1 Populasi.... 52
4.2.2 Kriteria sampel..52
4.2.3 Unit penelitian ..53
4.3 Variabel Penelitian.....54
4.3.1 Variabel bebas ................. 54
4.3.2 Variabel tergantung . 54
4.3.3 Variabel kendali54
4.3.4 Hubungan antar variabel.. 55
4.3.5 Definisi operasional variabel55
4.4 Bahan Penelitian57
4.5 Alat Penelitian57
4.6 Tempat Penelitian.. 57
4.7 Prosedur Penelitian58
4.8 Alur Penelitian... 62
4.9 Analisis Data.. 62
BAB V HASIL PENELITIAN... 65
5.1 Karakteristik Subjek Penelitian. 65
xv
5.2 Kadar MDA, SOD, dan GPx Darah Tikus Wistar Setelah Perlakuan
Ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.). 65
5.3 Kadar MDA, SOD, dan GPx Darah Tikus Wistar
Setelah Pelatihan Fisik. 67
5.4 Kadar MDA, SOD, dan GPx Darah Tikus
Wistar Setelah Perlakuan Ekstrak Kulit buah manggis
(Garcinia mangostana L.) dan Pelatihan Fisik. 67
5.5 Analisis Jalur Kadar MDA, SOD, dan GPx Darah Tikus Wistar
Setelah Perlakuan Ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia
mangostana L.) dan Pelatihan Fisik 72
BAB VI PEMBAHASAN.. 76
6.1 Karakteristik Subjek Penelitian 76
6.2 Kadar MDA, SOD, dan GPx Darah Tikus Wistar
Setelah Perlakuan Ekstrak Kulit Buah Manggis
(Garcinia mangostana L.)... 78
6.3 Kadar MDA, SOD, dan GPx Darah Tikus Wistar
Setelah Pelatihan Fisik. 83
6.4 Kadar MDA, SOD, dan GPx Darah Tikus Wistar
Setelah Perlakuan Ekstrak Kulit Buah Manggis
(Garcinia mangostana L.) dan Pelatihan Fisik. 88
6.5 Analisis Jalur Kadar MDA, SOD, dan GPx Darah Tikus Wistar
Setelah Suplementasi Ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia
mangostana L.) dan Pelatihan Fisik 91
6.6 Kebaharuan Penelitian (Novelty). 93
6.7 Keterbatasan Penelitian 94
BAB VII SIMPULAN DAN SARAN. 95
7.1 Simpulan... 95
7.2 Saran-Saran... 97
DAFTAR PUSTAKA 98
LAMPIRAN107
xvi
DAFTAR TABEL
Halaman
2.1 Xanthon yang Diisolasi dari Kulit Buah Manggis
(Garcinia mangostana L). 34
2.2 Kelompok Inducer dan Mekanisme Kerja ... 41
5.1 Pengaruh Ekstrak Kulit Buah Manggis dan Pelatihan
Fisik Terhadap MDA, SOD, dan GPx Darah Tikus Wistar.............. 66
5.2 Rata-rata Kadar MDA, SOD, dan GPx Darah Tikus Wistar
Setelah Perlakuan Ekstrak Kulit Buah Manggis... 66
5.3 Rata-rata Kadar MDA, SOD, dan GPx Darah Tikus Wistar
Setelah Pelatihan Fisik.. 67
5.4 Rata-rata Kadar MDA, SOD, dan GPx Setelah Perlakuan Ekstrak
Kulit Buah Manggis dan Pelatihan Fisik68
xvii
DAFTAR GAMBAR
Halaman
2.1. Tiga Sistim Pembentukan Energi dalam Otot.. 19
2.2. Oksidasi Fosforilasi.. 24
2.3. Mekanisme Pembentukan ROS dalam Mitokondria 25
2.4. Perubahan Hydrogen Peroxide Menjadi Air yang
Dikatalisis oleh GPx 28
2.5. Inti Xanthone dan Beberapa Golongan Xanthone... 33
2.6. Mekanisme Aktivasi Nrf2/ARE oleh Senyawa Fitokimia.. 43
2.7. Mekanisme Aktivasi Nrf2/ARE oleh ROS.. 43
2.8. Struktur Domain Nrf2 .. 45
2.9. Struktur Domain Keap1.. 46
3.1. Konsep Penelitian... 50
4.1. Rancangan Penelitian53
4.2. Hubungan antar Variabel Penelitian 55
4.3. Alur Penelitian...62
5.1. Perkembangan Berat Badan Subjek Selama Penelitian.. 65
5.2. Garis Regresi Kuadratik Ekstrak Kulit Buah Manggis dalam
Menurunkan Kadar MDA Darah Tikus Wistar dalam Kondisi
Tanpa Pelatihan Fisik 69
5.3. Garis Regresi Kuadratik Ekstrak Kulit Buah Manggis dalam
Meningkatkan Kadar SOD Darah Tikus Wistar dalam Kondisi
Tanpa Pelatihan Fisik . 69
5.4. Garis Regresi Kuadratik Ekstrak Kulit Buah Manggis dalam
Meningkatkan Kadar GPx Darah Tikus Wistar dalam Kondisi
Tanpa Pelatihan Fisik . 70
5.5. Garis Regresi Kuadratik Ekstrak Kulit Buah Manggis
dalam Menurunkan Kadar MDA Darah Tikus Wistar dalam Kondisi
Pelatihan Fisik. 70
xviii
5.6. Garis Regresi Kuadratik Ekstrak Kulit Buah Manggis dalam
Meningkatkan Kadar SOD Darah Tikus Wistar dalam Kondisi
Pelatihan Fisik. 70
5.7. Garis Regresi Kuadratik Ekstrak Kulit Buah Manggis
dalam Meningkatkan Kadar GPx Darah Tikus Wistar dalam Kondisi
Pelatihan Fisik.. 71
5.8. Hasil Analisi Jalur Pengaruh Ekstrak Kulit Buah Manggis dan
Pelatihan Fisik Terhadap Kadar MDA, SOD, dan GPx
Darah Tikus Wistar. 73
5.9. Nilai t
hitung
Hasil Analisi Jalur Pengaruh Ekstrak Kulit Buah Manggis
dan Pelatihan Fisik Terhadap Kadar MDA, SOD, dan GPx
Darah Tikus Wistar...... 74
xix
DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG
ADP : Adenosine Diphosphate
ARE : Antioxidant Response Element
ATP : Adenosine TriPhosphate.
BHA : Butil Hidroksi Anisol
BHT : Butil Hidroksi Toluen
BKM : Batas Kemampuan Maksimal
DNA : Deoxyribo Nucleic Acid
DPPH : 1,1-Diphenyl-2-picrylhydrazyl
ERK : Extracellular Signal-Regulated Protein Kinase
FADH : Reduced Flavine Adenine Dinucleotide
FMN : Flavine Mononucleotide
GAE : Galic Acid Equivalent
GPx : Glutathione Peroxidase
GSSG : Glutathione disulfide (Glutathione teroksidasi)
GSH : Reduced glutathione (Glutathione tereduksi )
HO-1 : Heme Oxygenase-1
IC
50
: Inhibition Concentration 50%
JNK : c-jun N-terminal kinase
Keap1 : Kelch-like ECH-associated protein-1
MAPK : Mitogen-Activated Protein Kinase
MDA : Malondialdehyde
NAD : Nicotinamide Adenine Dinucleotide
NADH : Reduced Nicotinamide Adenine Dinucleotide
Nrf2 : Nuclear factor-erythroid 2-related factor 2.
PI3K : Phosphatidylinositol-3-kinase
PKC : Protein Kinase C
Prx-1 : Peroxyredoxin-1
RNS : Reactive Nitrogen Species
ROS : Reactive Oxygen Species
xx
SOD : Superoxide dismutase
TAC : Total Antioxidant Capacity
TBARS : Thiobarbituric Acid Reactive Substances
TBHQ : Tert-Butil Hidroksi Quinon
Trx-1 : Thioredoxin-1
TOS : Total Oksidative Status
xCT : Cystineglutamate Anionic Amino Acid Transporter
xxi
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1. Karakteritik Berat Badan Tikus Penelitian. 107
2. Data Hasil Tes Pendahuluan Kemampuan Renang Maksimal
Subjek Penelitian 109
3. Data Hasil Pengukuran Kadar MDA Darah Tikus Wistar Setelah
Perlakuan Ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.)
dan Pelatihan Fisik 110
4. Data Hasil Pengukuran Kadar SOD Darah Tikus Wistar Setelah
Perlakuan Ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.)
dan Pelatihan Fisik. 111
5. Data Hasil Pengukuran Kadar GPx Darah Tikus Wistar Setelah
Perlakuan Ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.)
dan Pelatihan Fisik... 112
6. Hasil Analisis Statistik Kadar MDA Darah Tikus Wistar Setelah
Perlakuan Ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.)
dan Pelatihan Fisik.. 113
7. Hasil Analisis Statistik Kadar SOD Darah Tikus Wistar Setelah
Perlakuan Ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.)
dan Pelatihan Fisik.. 120
8. Hasil Analisis Statistik Kadar GPx Darah Tikus Wistar Setelah
Perlakuan Ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.)
dan Pelatihan Fisik.. 127
9. Hasil Analasis Regresi Kuadratik Rata-rata Kadar MDA, SOD,
dan GPx darah Tikus Wistar Setelah Perlakuan Ekstrak Kulit
Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) dalam Kondisi
Tanpa pelatihan Fisik. 134
10. Hasil Analisis Regresi Kuadratik Rata-rata Kadar MDA, SOD,
dan GPx Darah Tikus Wistar Setelah Perlakuan Ekstrak Kulit
Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) dalam Kondisi
Pelatihan Fisik 137
xxii
11. Hasil Analisis Path Kadar MDA, SOD, dan GPx Darah
Tikus Wistar Setelah Perlakuan Ekstrak Kulit Buah
Manggis (Garcinia mangostana L.) dan Pelatihan Fisik 140
12. Dokumentasi Penelitian142
13. Keterangan Kelaikan Etik145
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Stres oksidatif merupakan suatu kondisi ketidakseimbangan antara produksi
radikal bebas atau Reactive oxygen species (ROS) dengan antioksidan, di mana
kadar radikal bebas lebih tinggi dibandingkan antioksidan (Kurkcu et al., 2010).
Radikal bebas telah diyakini menimbulkan terjadinya peroksidasi lipid membran
sel (Ngurah, 2007; Setiawan dan Suhartono, 2007; Golden, 2009; Khotari et al.,
2010), apoptosis, dan kerusakan deoxyribo nucleic acid (DNA) (Khotari et al.,
2010). Kondisi ini pada akhirnya akan berdampak sangat luas pada tubuh seperti
terjadinya kanker dan penyakit-penyakit kronis lainnya (Waris dan Ahsan, 2006).
Radikal bebas dapat berasal dari luar tubuh, dapat juga terbentuk di dalam
tubuh sebagai bagian integral dari proses fisiologis seperti saat pembentukan
energi dalam mitokondria melalui oksidasi fosforilasi. Sumber utama ROS dari
dalam tubuh adalah oksidasi fosforilasi akibat melakukan aktivitas fisik maksimal.
Selama aktivitas fisik, ROS terbentuk sebagai produk samping reaksi oksidasi
fosforilasi untuk membentuk energi (ATP) dalam rantai transport elektron pada
mitokondria. Proses tersebut membutuhkan O
2
, tetapi tidak semua O
2
berikatan
dengan hidrogen untuk membentuk air, sekitar 4% s.d. 5% dari oksigen yang
dikonsumsi berubah menjadi ROS (Ngurah, 2007; Figueiredo et al., 2008;
Marciniak et al., 2009).
Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar radikal bebas meningkat
setelah melakukan aktivitas fisik atau olahraga. Misalnya, pada pegulat muda
tampak terjadi peningkatan radikal bebas yang ditandai dengan terjadinya
2
peningkatan lipid hidroperoksida setelah mengikuti pelatihan (Kurkcu et al.,
2010). Pada olahraga dengan intensitas tinggi (80% s.d. 95% maksmimum
repetisi) terbentuk MDA yang lebih banyak dibandingkan dengan olahraga
intensitas rendah (20% s.d. 35% maksimum repetisi) (Guzel et al., 2007). George
dan Osharechiren (2009) juga melaporkan terjadinya peningkatan stres oksidatif
pada olahraga berat, yang ditandai dengan peningkatan lipid hidroperoksida
secara signifikan. Sementara itu, pada pemain hanball yang dilatih dalam waktu
pendek tampak menunjukan adanya stres oksidatif yang ditandai dengan adanya
peningkatan total oksidative status (TOS) dan penurunan total antioxidant
capacity (TAC) secara nyata (Kurkcu, 2010). Naik sepeda gunung sejauh 171 km
yang ditempuh dalam waktu rata-rata 270 menit telah menyebabkan terjadinya
stres oksidatif yang ditandai dengan peningkatan Glutathione disulfide (GSSG)
darah dan asam urat serum serta pola perubahan antioksidan enzimatis dalam
eritrosit (Aguil et al., 2005). Pinho et al. (2012) juga menunjukan adanya
peningkatan thiobarbituric acid reactive substances (TBARS) dengan semakin
tingginya intensitas olahraga pada tikus wistar.
Pelatihan fisik secara rutin diduga dapat mengurangi terbentuknya radikal
bebas, tetapi hasil penelitian tersebut belum konsisten. Misalnya, pada
olahragawan yang berlatih secara rutin menunjukan kadar MDA lebih rendah dari
pada non olahragawan (Valado et al., 2007). Pelatihan treadmill lima kali per
minggu dengan intensitas 50% s.d. 60% dari kemampuan maksimum selama 13
minggu, mengakibatkan perubahan status oksidatif otot soleus baik pada tikus
muda maupun tikus tua. Pada tikus muda, pelatihan mengakibatkan meningkatkan
3
kadar TBARS 2,9 kali, tetapi kondisi ini diikuti oleh peningkatan aktivitas enzim
catalase dan GPx sebesar 26%, total SOD sebesar 16%, dan Manganese-SOD
(Mn-SOD) sebesar 2,3 kali. Sedangkan pada tikus tua, pelatihan tidak
meningkatkan aktivitas enzim-enzim tersebut, tetapi dapat menurunkan TBARS
sebesar 81%, sehingga disimpulkan bahwa pelatihan dapat menurunkan stres
oksidatif secara signifikan dan mendukung rekomendasi bahwa pelatihan dapat
mencegah sarcopenia dan meningkatkan kualitas hidup pada orang tua
(Lambertucci et al., 2007). Penelitian Silva et al. (2009) juga menunjukkan bahwa
mencit yang dilatih dengan treadmill dengan kecepatan 13 meter per menit selama
45 menit, lima kali per minggu selama delapan minggu menunjukkan adanya
penurunan kadar MDA jaringan otot quadrisep. Namun demikian, penelitian
Morikawa et al. (2004) menunjukkan bahwa, pelatihan yang dilakukan oleh klub
sepakbola sekolah selama tiga bulan (enam hari per minggu, dan dua jam per hari)
tidak menunjukkan perubahan yang signifikan terhadap ekspresi Mn-SOD mRNA
dan Cu/Zn-SOD mRNA. Penelitian Rahnama et al. (2007) juga menunjukkan
bahwa, pelatihan aerobik yang dilakukan oleh pelajar laki-laki usia 23 tahun
dengan intensitas 75% s.d. 80% maximal Heart Rate (HR
max
) tiga hari per minggu
selama delapan minggu tidak menyebabkan perubahan kadar MDA dan carbonyl
protein, yang mengindikasikan tidak ada perubahan pada status stres oksidatif.
Sementara itu, Mallikarjuna et al. (2009) menunjukkan adanya peningkatan kadar
MDA jaringan hati tikus wistar setelah pelatihan treadmill dengan kecepatan 23 m
per menit selama 30 menit, lima kali seminggu, selama dua bulan dibandingkan
kontrol. Namun demikian, penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa pelatihan
4
mampu menurunkan kadar MDA pada tikus yang mengalami stres oksidatif akibat
diinduksi alkohol. Reddy et al. (2009) juga melaporkan terjadinya peningkatan
MDA jaringan otak tikus wistar yang menjalani pelatihan treadmill kecepatan 23
meter per menit selama 30 menit, lima kali seminggu, selama dua bulan.
Tubuh sebenarnya mempunyai kemampuan untuk menetralisir radikal bebas
dengan cara membentuk antioksidan endogen seperti GPx, catalase, dan SOD,
tetapi jika produksi radikal bebas melebihi kemampuan antioksidan untuk
menetralisirnya maka akan terjadi stres oksidatif (Prangdimurti, 2007; Winarsi,
2007). Dengan kata lain bahwa stres oksidatif merupakan suatu kondisi
ketidakseimbangan antara produksi radikal bebas dengan antioksidan (Kurkcu et
al., 2010). Efektivitas sistim antioksidan dalam mengimbangi produksi radikal
bebas mencapai kondisi jenuh pada aktivitas fisik dengan beban 70% dari denyut
jantung maksimal (Castro et al., 2009), karena olahraga dengan intensitas lebih
tinggi (80% s.d. 95% maksmimum repetisi) akan memproduksi radikal bebas
lebih banyak (Gzel et al., 2007).
Radikal bebas juga dapat diredam dengan memberikan tambahan antioksidan
dari luar tubuh. Namun demikian, penggunaan antioksidan dalam olah raga masih
belum mampu meningkatkan prestasi atlit (Harjanto, 2006). Beberapa penelitian
tentang penggunaan antioksidan menunjukkan hasil yang berbeda. Misalnya,
penggunaan vitamin E dengan dosis 450 mg per hari selama delapan minggu tidak
menurunkan radikal bebas secara signifikan yang ditandai dengan tidak ada
perubahan terhadap kadar MDA, carbonyl protein dan creatin kinase (CK), serta
performance selama aktivitas fisik (Gaeini et al., 2006). Sementara itu, hasil
5
penelitian Traber (2006) menunjukkan bahwa pemberian vitamin E 300
mg/hari dan vitamin C 1000 mg/hari selama enam minggu sebelum lomba lari
marathon (50 km) dan selama satu minggu setelah lomba dapat mencegah
peningkatan peroksidasi lipid yang diamati dari F2-isoprostan darah, tetapi tidak
dapat mencegah inflamasi, kerusakan DNA dan kerusakan otot. Sedangkan,
pemberian allopurinol dengan dosis 300 mg dua hari sebelum lomba lari marathon
dapat mencegah peningkatan peroksidasi lipid secara signifikan. Allopurinol
merupakan inhibitor xanthine oxidase yang terlibat dalam pembentukan radikal
bebas selama olahraga (Gomes-Cabrera et al., 2006). Penelitian yang dilakukan
pada tikus dengan pemberian tambahan antioksidan -lipoic acid 100 mg/kg
selama masa pelatihan (lima hari per minggu selama enam minggu) dapat
menurunkan kadar MDA darah dan hati tikus Sprague-Dawley secara signifikan
sehingga disimpulkan bahwa -lipoic acid dapat menurunkan kerusakan jaringan
akibat olahraga (Kim dan Chae, 2006).
Masyarakat saat ini cenderung kembali beralih menggunakan bahan-bahan
alami yang mempunyai kemampuan sebagai antioksidan untuk meningkatkan
kesehatan dan kebugaran fisiknya sehingga eksplorasi bahan alami tersebut
banyak dilakukan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa, peptida yang berasal
dari fermentasi kacang kedelai mampu meredam radikal superoksida dan
hidroperoksida serta mengurangi kelelahan pada mencit (Yu et al., 2008). Ekstrak
biji broccoli yang diberikan pada tikus dapat menginduksi pembentukan
antioksidan dan gen sitoprotektif melalui aktivasi Nuclear factor-erythroid
2-related factor-2 (Nrf2) (McWalter et al., 2004). Senyawa polifenol yang
6
berasal dari teh hijau juga mempunyai kemampuan untuk meredam radikal
hidroksil serta mengatasi kelelahan pada tikus (Liudong et al., 2011). Pemberian
proantosianidin yang diekstrak dari biji anggur pada mencit dengan dosis 200
mg/kg/hari selama dua minggu dapat menurunkan kadar MDA dan meningkatkan
aktivitas SOD dan GPx secara signifikan serta dapat mengurangi kelelahan
setelah melakukan aktivitas fisik (Shan et al., 2010). Belviranli et al. (2012) juga
menggunakan ekstrak biji anggur 100 mg/kg per hari selama enam minggu pada
tikus SpragueDawley yang dilatih dengan treadmill dengan kecepatan
25 m/menit, 45 menit per hari, lima kali seminggu, selama enam minggu mampu
menurunkan kadar MDA, meningkatkan SOD dan GPx secara signifikan.
Penggunaan daging buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) mampu
mengurangi peroksidasi lipid yang diukur dari F2-Isoprostan urin pada tikus
putih jantan setelah aktivitas fisik berlebih (Lainiwati, 2011). Pemberian ekstrak
maupun sirup umbi ubi jalar ungu mampu menurunkan kadar MDA darah dan hati
mencit setelah pemberian beban fisik maksimal (Jawi et al., 2008).
Buah manggis (Garcinia mangostana L.) juga diduga berpotensi sebagai
antioksidan alami. Beberapa penelitian invitro telah menunjukkan bahwa ekstrak
kulit buah manggis mempunyai kemampuan sebagai antioksidan (Jung et al.,
2006; Weecharangsan et al., 2006; Kosem et al., 2007; Zarena dan Sankar, 2009;
Ngawhirunpat et al., 2010; Palakawong et al., 2010). Sifat antioksidan buah
manggis dikaitkan dengan adanya senyawa xanthone. Di antara senyawa
xanthone, -mangostin, dan -mangostin merupakan komponen terbesar serta
memiliki kemampuan sebagai antioksidan kuat (Jung et al., 2006).
7
Beberapa penelitian invitro menunjukkan bahwa ekstrak kulit buah manggis
mampu meredam radikal bebas. Misalnya, penelitian dengan menggunakan
1,1-Diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH) sebagai radikal bebas menunjukkan bahwa
ekstrak kulit buah manggis mampu meredam radikal bebas dengan Inhibition
Concentration 50% (IC
50
) sebesar 5,94 m/ml (Palakawong et al., 2010),
sementara penelitian Zarena dan Sankar (2009) menguji aktivitas ektrak ethyl
asetat dan aseton kulit buah manggis dengan menggunakan DPPH sebagai sumber
radikal bebas didapatkan IC
50
masing-masing sebesar 30,01 g/ml dan
33,32 g/ml, yang mengindikasikan sebagai sumber antioksidan yang baik dengan
cara mendonasikan elektron kepada radikal bebas untuk membentuk produk stabil
sehingga tidak menimbulkan reaksi berantai.
Penelitian secara invivo khususnya penggunaan ekstrak kulit buah manggis
dalam olahraga masih relatif kurang. Kulit buah manggis yang berpotensi sebagai
sumber antioksidan alami belum dimanfaatkan secara optimal dan terbuang
sebagai limbah pertanian, padahal produksi buah manggis Indonesia mencapai
108.675 ton pada tahun 2010 (Dirjen Hortikultura, 2011). Jika limbah tersebut
dapat dimanfaatkan secara optimal maka akan memberikan nilai tambah produk
pertanian tersebut. Oleh karena itu, penggunaan ekstrak kulit buah manggis
(Garcinia mangostana L) sebagai sumber antioksidan dalam olahraga masih perlu
diteliti lebih lanjut.
Senyawa yang terdapat dalam ekstrak kulit buah manggis diduga bekerja
sebagai antioksidan dengan cara mendonorkan elektronnya kepada radikal bebas
sehingga mencegah terjadinya peroksidasi lipid baik pada tahap inisiasi,
8
propagasi, maupun pada tahap terminasi (Middleton Jr. et al., 2000), atau
bekerja sebagai sinyal yang akan mengaktivasi Nrf2 yang terikat pada Kelch-like
ECH-associated protein-1 (Keap1) dalam sitoplasma sehingga mengalami
disosiasi dan translokasi menuju nukleus. Dalam nukleus Nrf2 berasosiasi pada
bagian promoter gen yang disebut Antioxidant Respone Element (ARE) sehingga
memicu ekspresi gen penyandi antioksidan.
Pelatihan fisik yang dirancang dengan intensitas, volume, dan frequensi
sedang juga diduga dapat mengurangi terjadinya stres oksidatif karena olahraga
dengan intensitas sedang akan bertindak sebagai antioksidan
(Gomez-Cabrera et al., 2008), dan olahraga yang dianggap baik jika antara
aktivitas dan waktu pemulihan berjalan seimbang (Nala, 2011). Pelatihan fisik
tampaknya merupakan stres terhadap tubuh dan menjadikannya sebagai sinyal
untuk memunculkan respon berulang sehingga meningkatkan kemampuan
adaptasi, di mana responnya akan menjadi lebih baik apabila sinyal tersebut
muncul kembali. Hal ini terjadi karena radikal bebas dapat berfungsi sebagai
sinyal yang memicu ekspresi gen penyandi antioksidan melalui aktivasi Nrf2.
Pelatihan fisik intensitas sedang dan ekstrak kulit buah manggis (Garcinia
mangostana L.) diduga dapat meningkatkan kemampuan adaptasi tubuh melalui
pembentukan antioksidan endogen sehingga akan mengurangi terjadinya stres
oksidatif. Dengan dasar pemikiran tersebut maka pelatihan fisik yang disertai
pemberian ekstrak kulit buah manggis masih perlu diteliti lebih lanjut.
9
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah penelitian yaitu untuk membuktikan
bahwa ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) dan pelatihan fisik
dapat mengurangi stres oksidatif, maka dapat dirumuskan permasalahan penelitian
sebagai berikut :
1. Apakah ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) dapat
menurunkan kadar MDA darah tikus Wistar (Rattus norvegicus) selama
aktivitas fisik maksimal?
2. Apakah ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) dapat
meningkatkan kadar enzim SOD dan GPx darah tikus Wistar (Rattus
norvegicus) selama aktivitas fisik maksimal?
3. Apakah pelatihan fisik intensitas 70% dari aktivitas fisik maksimal, lima kali
per minggu, selama empat minggu, dapat menurunkan kadar MDA darah tikus
Wistar (Rattus norvegicus) selama aktivitas fisik maksimal?
4. Apakah pelatihan fisik intensitas 70% dari aktivitas fisik maksimal, lima kali
per minggu, selama empat minggu, dapat meningkatkan kadar enzim SOD dan
GPx darah tikus Wistar (Rattus norvegicus) selama aktivitas fisik maksimal?
5. Apakah ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) dan pelatihan
fisik intensitas 70% dari aktivitas fisik maksimal, lima kali per minggu, selama
empat minggu, dapat menurunkan kadar MDA darah tikus Wistar (Rattus
norvegicus) selama aktivitas fisik maksimal?
6. Apakah ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) dan pelatihan
fisik intensitas 70% dari aktivitas fisik maksimal, lima kali per minggu, selama
10
empat minggu, dapat meningkatkan kadar enzim SOD dan GPx darah tikus
Wistar (Rattus norvegicus) selama aktivitas fisik maksimal?
7. Berapakah dosis optimum ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana
L.) dalam menurunkan kadar MDA, serta meningkatkan kadar enzim SOD dan
GPx darah tikus Wistar (Rattus norvegicus) selama aktivitas fisik maksimal?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan umum
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ekstrak kulit buah
manggis (Garcinia mangostana L.) dan pelatihan fisik dalam menurunkan stres
oksidatif pada tikus Wistar (Rattus norvegicus) selama aktivitas fisik maksimal.
1.3.2 Tujuan khusus
Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mengetahui:
1. Ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) dapat menurunkan kadar
MDA darah tikus Wistar (Rattus norvegicus) selama aktivitas fisik maksimal.
2. Ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) dapat meningkatkan
kadar enzim SOD dan GPx darah tikus Wistar (Rattus norvegicus) selama
aktivitas fisik maksimal.
3. Pelatihan fisik intensitas 70% dari aktivitas fisik maksimal, lima kali per
minggu, selama empat minggu, dapat menurunkan kadar MDA darah tikus
Wistar (Rattus norvegicus) selama aktivitas fisik maksimal.
4. Pelatihan fisik intensitas 70% dari aktivitas fisik maksimal, lima kali per
minggu, selama empat minggu, dapat meningkatkan kadar enzim SOD dan
GPx darah tikus Wistar (Rattus norvegicus) selama aktivitas fisik maksimal.
11
5. Ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) dan pelatihan fisik
intensitas 70% dari aktivitas fisik maksimal, lima kali per minggu, selama
empat minggu, dapat menurunkan kadar MDA darah tikus Wistar (Rattus
norvegicus) selama aktivitas fisik maksimal.
6. Ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) dan pelatihan fisik
intensitas 70% dari aktivitas fisik maksimal, lima kali per minggu, selama
empat minggu, dapat meningkatkan kadar enzim SOD dan GPx darah tikus
Wistar (Rattus norvegicus) selama aktivitas fisik maksimal.
7. Dosis optimum ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) dalam
menurunkan kadar MDA, serta meningkatkan kadar enzim SOD dan GPx
darah tikus Wistar (Rattus norvegicus) selama aktivitas fisik maksimal.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat teoritis
Apabila penelitian dapat membuktikan bahwa ekstrak kulit buah manggis
(Garcinia mangostana L.) dan pelatihan fisik dapat menurunkan stres oksidatif,
maka hasil penelitian ini akan memberikan sumbangan pengetahuan tentang
mekanisme dalam menghadapi stres oksidatif.
1.4.2 Manfaat praktis
Hasil penelitian diharapkan dapat dipakai sebagai rujukan dalam
mengembangkan olahraga kesehatan. Olahraga yang hanya memperhatikan aspek
prestasi justru akan merugikan atlit sendiri karena menimbulkan trauma
berkepanjangan pasca pelatihan dan akan memerlukan pemulihan jangka panjang.
12
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Pelatihan Fisik
Pelatihan fisik merupakan suatu gerakan fisik atau aktivitas mental yang
dilakukan secara sistematis dan berulang-ulang (repetitif) dalam jangka waktu
(durasi) lama, dengan pembebanan yang meningkat secara progresif dan
individual, yang bertujuan untuk memperbaiki sistim serta fungsi fisiologis tubuh
agar pada waktu melakukan aktivitas olahraga dapat mencapai penampilan yang
optimal (Nala, 2011).
Aktivitas fisik yang dilakukan mengakibatkan perubahan-perubahan terhadap
karakter anatomi, fisiologi, biokimia dan psikologi atlit. Namun demikian
perubahan-perubahan tersebut sangat tergantung pada komponen pelatihan yakni;
volume, intensitas dan densitas pelatihan yang dilakukan (Bompa, 1994).
Salah satu tujuan pelatihan adalah mengembangkan komponen fisik umum
atau multilateral, dalam hal ini adalah peningkatan kemampuan komponen
biomotorik. Komponen biomotorik merupakan kemampuan dasar gerak fisik atau
aktivitas fisik dari tubuh manusia dan sebagian besar bersifat genetik (Nala, 2011)
yang meliputi:
1. Kekuatan (strength) yaitu kemampuan otot skeletal tubuh untuk melakukan
kontraksi atau tegangan maksimal dalam menerima beban sewaktu
melakukan aktivitas. Kekuatan otot banyak digunakan dalam kehidupan
sehari-hari, terutama untuk tungkai yang harus menahan berat badan.
13
2. Daya tahan (endurance) yaitu kemampuan tubuh dalam melakukan aktivitas
terus-menerus yang berlangsung cukup lama. Daya tahan dibagi atas dua
bagian yaitu:
(1). Daya tahan umum (respiration-cardiovasculer endurance) yaitu kemampuan
tubuh untuk melakukan aktivitas terus menerus dalam jangka waktu yang
lama dan dalam keadaan aerob. Daya tahan ini sering disebut sebagai daya
tahan respiration-cardiovasculer, karena sistem pernapasan, jantung dan
pembuluh darah ditingkatkan kemampuannya untuk memasok oksigen ke
otot untuk menghasilkan tenaga kemudian mengeluarkan sisa metabolisme ke
luar tubuh.
(2). Daya tahan lokal (daya tahan otot) yaitu Kemampuan otot skeletal untuk
melakukan kontraksi atau gerakan berulang-ulang dalam jangka waktu yang
lama dengan beban tertentu.
3. Daya ledak (muscular power atau explosive strength) adalah kemampuan
untuk melakukan aktivitas secara tiba-tiba dan cepat dengan mengerahkan
seluruh kekuatan dalam waktu yang singkat.
4. Kecepatan (speed) adalah kemampuan untuk mengerjakan suatu aktivitas
berulang yang sama serta berkesinambungan dalam waktu yang sesingkat-
singkatnya.
5. Kelentukkan (flexibility) adalah kesanggupan tubuh atau anggota gerak tubuh
untuk melakukan gerakan pada sebuah atau beberapa sendi seluas-luasnya.
6. Kelincahan (agility) adalah kemampuan tubuh atau bagian tubuh untuk
mengubah arah gerakan secara mendadak dengan kecepatan tinggi.
14
7. Ketepatan (Accuracy) adalah kemampuan tubuh untuk mengendalikan
gerakan bebas menuju ke suatu sasaran tertentu.
8. Reaksi (reaction) adalah kemampuan tubuh atau anggota tubuh untuk
bereaksi secepat mungkin ketika ada rangsangan yang diterima oleh reseptor
somatik, kinestik, atau vestibular. Biasanya komponen reaksi ini lebih
dikenal dengan sebutan kecepatan reaksi, waktu reaksi atau reaction time
yakni waktu yang dibutuhkan oleh otot skeletal untuk mengadakan reaksi
akibat adanya rangsangan yang diterima oleh reseptor atau panca indera.
9. Keseimbangan (balance) adalah kemampuan tubuh untuk melakukan reaksi
atas setiap perubahan posisi tubuh sehingga tubuh tetap stabil terkendali.
Komponen keseimbangan ini terdiri atas; keseimbangan statik (tubuh dalam
posisi diam), dan keseimbangan dinamik (tubuh dalam posisi bergerak).
10. Koordinasi (Coordination) adalah kemampuan tubuh untuk mengintegrasikan
berbagai gerakan yang berbeda menjadi gerakan tunggal yang harmonis dan
efektif.
Efektivitas pelatihan untuk mencapai hasil maksimum sesuai sasaran yang
ditetapkan serta tidak menimbulkan dampak negatif perlu dilakukan secara
terencana dan dengan menerapkan tipe dan takaran yang tepat, sebab sesuai
konsep hormesis bahwa dosis rendah mempunyai efek merangsang sementara
dosis tinggi bersifat toksik (Son et al., 2008). Oleh karena itu, pelatihan yang
dilakukan secara berlebihan akan berdampak buruk terhadap tubuh karena
terbentuknya radikal bebas atau ROS. Takaran dalam pengertian sehari-hari
berarti ukuran isi atau alat untuk mengukur isi. Sedangkan dalam olahraga takaran
15
disamakan dengan dosis yakni ukuran atau takaran pemakaian obat, sehingga
dalam hal ini takaran berarti suatu ukuran untuk menentukan isi dari kuantitas dan
kualitas pelatihan (Nala, 2011).
Secara umum tipe dan takaran pelatihan terdiri atas Frekuensi, Intensitas,
Time (waktu), dan Tipe yang sering disingkat dengan FITT (Nala, 2011).
1. Frekuensi
Frekuensi pelatihan menunjukkan kekerapan dari suatu seri rangsangan per
satuan waktu yang terjadi pada atlit ketika sedang berlatih. Frekuensi
menunjukkan hubungan antara fase aktivitas yang dilakukan dengan waktu
istirahat atau fase pemulihan. Dengan kata lain berapa kali aktivitas fisik
dilakukan dalam satu satuan waktu tertentu misalnya tiga s.d. lima kali per
minggu. Suatu pelatihan yang frekuensinya sesuai tidak akan menyebabkan
kelelahan berlebihan, sebaliknya pelatihan yang terlalu padat atau terlalu sering
akan menyebabkan kelelahan. Frekuensi dianggap baik apabila antara aktivitas
dan istirahat berjalan seimbang. Keseimbangan ini bertujuan untuk mencapai
rasio yang optimal antara rangsangan dan pemulihan yang terjadi di dalam
tubuh (Nala, 2011).
Frequensi pelatihan sangat tergantung pada tipe olahraga dan komponen
biomotorik yang akan dikembangkan. Jika ingin mengembangkan kekuatan otot,
frequensi pelatihan dua s.d. tiga kali per minggu dianggap cukup baik. Daya
tahan kardiovaskuler maka frequensi pelatihannya empat s.d. lima kali per
minggu, dengan selingan istirahat maksimal selama 48 jam, atau tidak lebih dari
dua hari berturutan. Untuk mengembangkan kemampuan aerobik atau daya tahan
16
(endurance) maka memerlukan frequensi pelatihan enam s.d. tujuh kali per
minggu. Sedangkan, mengembangkan kemampuan anaerobik memerlukan
pelatihan cukup tiga kali per minggu dengan durasi selama delapan s.d.
sepuluh minggu (Nala, 2011).
2. Intensitas
Intensitas berkaitan dengan beban pelatihan yang akan dilakukan untuk
meningkatkan kemampuan komponen biomotorik. Intensitas ini dapat ditentukan
dengan menghitung persentase dari batas kemampuan maksimal (BKM).
Intensitas yang berkaitan dengan kekuatan atau kecepatan terdiri atas; intensitas
rendah (30% s.d. 50 % BKM), intermediet (50% s.d. 70% BKM), medium (70%
s.d. 80% BKM), submaksimal (80% s.d. 90% BKM), maksimal (90% s.d. 100%
BKM) dan supermaksimal (100%s.d. 105% BKM) (Bompa, 1994).
Batas kemampuan maksimal merupakan batas kemampuan seseorang untuk
menunjukkan kemampuan maksimalnya. Terdiri atas dua yakni batas kemampuan
maksimal psikologi dan fisiologi. Kondisi psikologi atau motivasi seseorang
sangat besar pengaruhnya terhadap kemampuan maksimalnya. Jika motivasi
seseorang tinggi maka akan menunjukkan kemampuannya secara maksimal dan
sebaliknya akan rendah jika motivasinya rendah. Sedangkan, kemampuan
fisiologis merupakan kemampuan sebenarnya yang ditentukan oleh kondisi
fisiologis tubuhnya. Jika seseorang melakukan aktivitas melebihi kemampuan
fisiologinya akan sangat berbahaya karena telah melampaui zone aman
(Giriwijoyo dan Ali, 2005).
17
Sementara intensitas yang berkaitan dengan denyut nadi terdiri atas; rendah
(120 s.d. 150 denyut/menit), medium (150 s.d. 170 denyut/menit), tinggi (170 s.d.
185 denyut/menit), dan maksimal (> 185 denyut/menit) (Nala, 2011). Denyut nadi
maksimal dalam olahraga juga tergantung umur dan dapat dihitung secara
sederhana yaitu 220 - umur (Adiputra, 2010). Jika seorang berumur 70 tahun
maka denyut nadi maksimalnya adalah 220 -70 = 150 denyut/menit. Dengan
demikian maka seseorang yang berumur 70 tahun tidak boleh berolahraga sampai
melewati denyut nadi maksimum yakni 150 per menit.
3. Time (waktu)
Time atau waktu merupakan bagian dari volume pelatihan yang menunjukkan
durasi atau lama waktu pelatihan, bisa dalam detik, menit, jam, hari, minggu,
bulan, atau bahkan tahun. Volume itu sendiri menunjukkan jumlah seluruh
aktivitas yang dilakukan selama pelatihan. Selain time (waktu), volume juga
meliputi; jarak yang dapat ditempuh (meter) atau berat beban (kg) atau jumlah
angkatan yang dapat diangkat dalam satu satuan waktu (kg/menit); dan set, jumlah
repetisi atau ulangan yaitu berapa kali aktivitas yang sama dapat dilakukan dalam
satu satuan waktu (Nala, 2011).
4. Tipe
Sebelum menetapkan takaran pelatihan yang berupa frekuensi, intensitas, dan
time (waktu) terlebih dahulu ditentukan jenis atau tipe pelatihan yang tepat. Tipe
pelatihan akan berbeda tergantung kepada komponen biomotorik yang akan
dikembangkan. Misalnya pelatihan untuk meningkatkan daya tahan umum maka
tipe pelatihannya dapat berupa lari, bersepeda atau berenang (Nala, 2011).
18
2.1.1 Metabolisme energi dalam olahraga
Sumber utama energi untuk berbagai aktivitas tubuh berasal dari karbohidrat
dan lemak, sedangkan protein dan asam amino hanya memasok 5% s.d.10%
energi (Blomstrand dan Saltin, 1999). Energi yang diperlukan selama aktivitas
tersebut dibebaskan melalui proses metabolisme aerob maupun anaerob.
Metabolisme anaerob berasal dari sistem fosfokreatin atau kreatin posfat atau
sistem phospagen dan sistem laktat. Sedangkan metabolisme aerob berasal dari
pembakaran glikogen otot oleh oksigen melalui proses glikogenolisis, glikolisis
dan siklus krebs (Giriwijoyo dan Ali, 2005; Guyton dan Hall, 2007).
Fosfokreatin merupakan senyawa berenergi tinggi yang tersimpan dalam sel
otot. Senyawa ini dapat dipecah menjadi kreatin dan ion fosfat serta
membebaskan energi sebesar 10,3 kkal untuk tiap 1 mol. Ion fosfat (Pi) yang
dihasilkan melalui proses fosforilasi dapat mengikat molekul ADP (adenosine
diphospate) untuk kemudian kembali membentuk molekul ATP. Walaupun
fosfokreatin dalam sel otot lebih banyak dibandingkan ATP tetapi penyediaan
energi melalui fosfokreatin sangat cepat sehingga akan habis dalam waktu delapan
s.d. sepuluh detik. Dengan demikian, sistim fosfokreatin merupakan sistem
penyedian energi untuk aktivitas yang singkat seperti lari 100 meter, yang
memerlukan waktu sekitar 10 detik (Guyton dan Hall, 2007).
Sistim laktat menyediakan energi yang lebih lambat dibandingkan sistim
fosfokreatin tetapi lebih cepat dibandingkan dengan sistim aerob. Dalam sistim ini
sumber energinya berasal dari pemecahan glikogen yang tersimpan dalam otot
menjadi glukosa. Melalui proses glikolisis setiap molekul glukosa akan dipecah
19
menjadi dua molekul asam pivurat dan empat molekul ATP. Asam piruvat
kemudian masuk ke dalam mitokondria dan bereaksi dengan oksigen untuk
membentuk lebih banyak ATP. Akan tetapi, jika tidak tersedia cukup oksigen
maka asam piruvat akan diubah menjadi asam laktat dan ke luar dari sel otot
menuju cairan interstitial dan darah. Asam laktat akan menurunkan pH jaringan
sehingga akan berbahaya (Guyton dan Hall, 2007 ).
Pembebasan energi dalam sistim aerob meliputi beberapa tahap yakni
glikolisis untuk memecah glukosa menjadi asam piruvat, siklus asam sitrat dan
transpor elektron dalam serangkaian reaksi fosfolisasi oksidatif dengan oksigen
sebagai oksidator terakhir sehingga dapat dibebaskan sejumlah besar energi dalam
bentuk ATP. Sistim aerob akan menyedikan energi yang paling lambat di antara
sistim lainnya, tetapi energi akan tersedia secara terus menerus selama oksigen
masih tersedia. Dengan demikian energi yang disediakan oleh sistim ini
diperuntukan pada jenis-jenis olahraga yang bersifat ketahanan (endurance)
seperti lari marathon atau bersepeda jarak jauh (road cycling)
(Guyton dan Hall, 2007). Proses pembebasan energi melalui jalur aerob dan
anaerob secara umum digambarkan pada Gambar 2.1
Gambar 2.1.
Tiga Sistim Pembentukan Energi Dalam Otot (Baker et al., 2010)
20
2.1.2 Manfaat olahraga bagi kesehatan
Penelitian yang dilakukan pada tikus menunjukkan bahwa olahraga teratur
mempunyai efek yang menguntungkan terhadap profil lipid, tetapi olahraga
secara berlebih menimbulkan terjadinya dislipidemi serta meningkatkan
terjadinya stres oksidatif (Burneiko et al., 2004). Sementara itu, penelitian
yang dilakukan terhadap 44 orang laki-laki paruh baya (40 tahun s.d. 45 tahun)
menunjukkan bahwa olahraga teratur yang dilakukan tiga kali perminggu
selama delapan minggu dapat menurunkan serum trigliserid dari 1,54 mmol/l
menjadi 1,27 mmol/l, sementara kolesterol HDL meningkat dari 1,27 mmol/l
menjadi 1,47 mmol/l (Akakoyun, 2010).
Penelitian yang dilakukan oleh Yoshioka et al. (2001) menunjukkan
bahwa pada kelompok yang melakukan olahraga secara teratur tampak
mempunyai prosentase lemak lebih rendah dibandingkan dengan kelompok
yang tidak melakukan olahraga. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa
kemampuan untuk memanfaatkan lemak sebagi sumber energi memberikan
keuntungan yang jauh lebih besar untuk mencegah aterosklerosis dan coronary
artery disease (CAD) (Sharkey, 2003).
Keuntungan lain yang didapatkan dari aktivitas fisik atau olahraga, seperti
menurunkan resiko penyakit jantung, hypertensi, stroke, penyakit kronis (kanker
dan diabetes), penyakit arthritis, osteoporosis, low back pain, serta menunda
proses penuaan. Resiko penyakit jantung berbanding terbalik dengan aktivitas
fisik secara teratur. Hal ini karena aktivitas secara teratur mengurangi beban
kerja jantung akibat adanya perubahan pada otot jantung sehingga denyut
21
jantung menjadi lebih rendah. Volume jantung menjadi lebih besar sehingga
stroke volume menjadi lebih besar. Diameter dari arteri coroner meningkat
sehingga memperkecil peluang terbentuknya plak. Elastisitas pembuluh
darah meningkat sehingga tekanan darah menurun dan mengurangi beban
kerja jantung (Sharkey, 2003).
2.2 Stres Oksidatif
Stres oksidatif merupakan suatu kondisi ketidakseimbangan antara produksi
radikal bebas dengan antioksidan, di mana kadar radikal bebas lebih tinggi
dibandingkan antioksidan (Kurkcu et al., 2010). Kondisi tersebut dipengaruhi oleh
faktor internal seperti genetik, umur, oksidasi fosforilasi, proses patofisiologi, dan
faktor eksternal seperti olahraga berlebih, asupan makanan, patogen, sinar
ultraviolet, dan bahan kimia (Waris dan Ahsan, 2006).
Faktor internatl utama yang menimbulkan stres oksidatif adalah oksidasi
fosforilasi akibat melakukan aktivitas fisik maksimal. Selama akvifitas fisik,
terbentuk radikal bebas bersamaan dengan reaksi oksidasi fosforilasi untuk
membentuk energi (ATP) dalam mitokondria. Dalam reaksi tersebut dibutuhkan
oksigen di mana oksigen akan bereaksi dengan hidrogen untuk membentuk air,
tetapi sejumlah oksigen dapat berubah menjadi radikal bebas. Dengan demikian
maka semakin berat aktivitas fisik maka dibutuhkan semakin banyak ATP, juga
semakin banyak radikal bebas yang dihasilkan sebagai produk samping.
Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa olahraga secara berlebih
menyebabkan terjadinya stres oksidatif. Misalnya, pada olahraga dengan
intensitas tinggi (80% s.d. 95% maksmimum repetisi) terbentuk MDA yang lebih
22
banyak dibandingkan dengan olahraga intensitas rendah (20% s.d. 35%
maksimum repetisi) (Guzel et al., 2007). George dan Osharechiren (2009) juga
melaporkan terjadinya peningkatan stres oksidatif pada olahraga berat, yang
ditandai dengan peningkatan lipid hidroperoksida secara signifikan.
2.2.1 Reactive Oxygen Species (ROS)
Sering kali pengertian radikal bebas disamakan dengan oksidan karena
keduanya memiliki kemiripan sifat yakni agresivitas untuk menarik elektron di
sekelilingnya. Setiap radikal bebas adalah oksidan, tetapi tidak setiap oksidan
adalah radikal bebas. Oksidan adalah senyawa penerima elektron atau suatu
senyawa yang dapat menarik elektron (electron acceptor) seperti ion ferri yang
berubah menjadi ferro (Fe
3+
+ e
-
Fe
2+
) (Winarsi, 2007). Sedangkan, radikal
bebas merupakan atom atau molekul yang mempunyai satu atau lebih elektron
yang tidak berpasangan. Molekul ini sangat reaktif dan akan menyerang molekul
stabil di dekatnya sehingga menjadi radikal bebas (Kothari et al., 2010). Dengan
demikian maka radikal bebas akan memicu terjadinya reaksi berantai.
Ada dua bentuk umum dari radikal bebas yaitu ROS dan reactive nitrogen
species (RNS). Termasuk ROS di antaranya ion superoxide (O
2

), hydrogen
peroxide (H
2
O
2
), hydroxyl radical (OH

), dan peroxyl radical (OOH

). Sementara
RNS sering dianggap sebagai subklas dari ROS, di antaranya nitic oxide (NO),
nitrous oxide (N
2
O), peroxynitrite (NO3

), nitroxyl anion (HNO) dan


peroxynitrous acid (HNO3

) (Marciniak et al., 2009; Kothari et al., 2010).


Reactive oxygen species dapat terbentuk sebagai produk samping selama
reaksi oksidasi fosforilasi dalam rantai transpor elektron pada mitokondria.
23
Oksidasi fosforilasi bertujuan untuk membentuk energi dalam bentuk ATP.
Pembentukan ATP tersebut membutuhkan O
2
, tetapi tidak semua O
2
berikatan
dengan hidrogen untuk membentuk air, sekitar 4% s.d. 5% berubah menjadi
radikal bebas (Ngurah, 2007; Figueiredo et al., 2008; Marciniak et al., 2009).
Proses reaksi oksidasi fosforilasi melibatkan sejumlah kompleks enzim.
Kompleks enzim I dikenal dengan reduced nicotinamide adenine dinucleotide
(NADH) dehydrogenase yang mentransfer elektron dari NADH dalam matriks
mitokondria menuju coenzim-Q melalui coenzim riboflavin yaitu flavine
mononucleotide (FMN). Coenzim-Q juga menerima elektron dari kompleks enzim
II melewati coenzim riboflavin yakni reduced flavine adenine dinucleotide
(FADH). Kompleks enzim II terdiri atas tiga jenis enzim, yang semuanya
mengandung FAD sebagai gugus prostetiknya, yaitu; succinate dehydrogenase
yang mentranfer elektron berasal dari siklus asam stitrat, glycerol-3 phosphate
dehydrogenase mentransfer elektorn yang berasal dari glycerol phosphate shuttle,
dan fatty acyl-CoA dehydrogenase mentranfer elektron dari tahap pertama dalam
-oksidasi asam lemak. Dari koenzim Q elektron ditransfer menuju kompleks
enzim III (cytochrome c reductase). Kompleks enzim III terdiri dari dua
komponen protein yakni cytochrome b dan c1. Dari kompleks III elektron
diteruskan menuju cytochrome c untuk selanjutnya menuju kompleks IV
(cytochrome oxidase). Kompleks IV terdiri dari dua komponen protein yakni
cytochrome a dan a3. Dari kompleks IV elektron direaksikan dengan O
2
untuk
membentuk air. Kompleks I, III, dan IV memompa proton ke dalam ruang antar
membran sehingga terjadi gradient muatan listrik antar membran. Adanya
24
gradient ini memungkinkan proton mengalir kembali menuju matrik mitokondria
melalui ATP synthase complex (kompleks V) dan perubahan energi dari proses
ini digunakan untuk membentuk ATP dari adenosine diphosphate (ADP). Dalam
kompleks IV, elektron akan bereaksi dengan oksigen untuk membentuk air
(Pelley, 2007). Skema rangkaian proses tersebut digambarkan dalam Gambar 2.2.
Gambar 2.2.
Oksidasi Fosforilasi. Produksi ROS TerutamaTerjadi pada Kompleks I dan III
(Botjje et al., 2004)
Satu molekul oksigen direduksi menjadi dua molekul air. Reduksi tersebut
dilakukan dengan mentransfer empat elektron. Tetapi transfer elektron tersebut
berlangsung empat tahapan. Hal ini terjadi karena dua elektron yang tidak
berpasangan pada molekul oksigen terletak pada orbit yang berbeda dan
menunjukkan angka putaran quantum yang sama, padahal untuk membentuk
ikatan kovalen, dua elektron harus terletak pada orbit yang sama dan
menunjukkan putaran yang berlawanan. Dengan demikian, maka oksigen hanya
mampu menerima elektron tahap demi tahap dan hanya satu elektron tiap
tahapnya. Pemindahan elektron yang tidak sempurna tersebut mengakibatkan
terbentuknya ROS (Winarsi, 2007). Elektron pertama mereduksi oksigen untuk
membentuk anion superoxide, kemudian reduksi berikutnya membentuk hydrogen
peroxide dan hydroxyl radical, elektron terakhir mereduksi hydroxyl radical
25
menjadi air (O
2
e
O
2
e
H
2
O
2
e
OH
e
H
2
O) (Marciniak et al., 2009).
Di dalam sel sumber utama ROS adalah anion superoxide dan hydrogen yang
terbentuk sebagai produk samping metabolisme seluler seperti oksidasi fosforilasi
dalam mitokondria (Waris dan Ahsan, 2006).
Konversi superoxide menjadi hidrogen peroksida dilakukan olel enzim
SOD, sedangkan hidrogen peroksida menjadi air oleh enzim GPx atau catalase
(CAT). Jika hal ini tidak terjadi, hidrogen peroksida dapat mengalami reaksi
Fentons dengan kehadiran ion besi (Fe
2+
) untuk menghasilkan hydroxyl radical
yang lebih merusak (Figueiredo et al., 2008): H
2
O
2
+ Fe
2+
Fe
3+
+ OH

+ OH

Kompleks I dan III merupakan tempat utama produksi superoxide.


Superoxide yang terbentuk di dalam matrik dieliminasi dalam kompartemen
tersebut oleh enzim MnSOD. Sementara itu, sebagian O
2

yang diproduksi dalam


ruang antar membran dibawa ke dalam sitoplasma melalui voltage dependent
anion channel (VDAC), atau dapat juga dieliminasi oleh enzim CuZnSOD
(Figueiredo et al., 2008), seperti digambarkan pada Gambar 2.3.
Gambar 2.3.
Mekanisme Pembentukan ROS dalam Mitokondria (Figueiredo et al., 2008).
Radikal bebas telah diyakini menimbulkan terjadinya peroksidasi lipid
membran sel (Ngurah, 2007; Setiawan dan Suhartono, 2007; Golden, 2009;
26
Khotari et al., 2010), kerusakan DNA dan apoptosis (Khotari et al., 2010).
Peroksidasi lipid dapat dideteksi dari produk yang dihasilkannya di antaranya
MDA, dien terkonjugasi, lipid hidroperoksida, isoprostan (Marciniak et al., 2009).
Malondialdehyde merupakan senyawa dialdehida dengan rumus molekul
C
3
H
4
O
2
, yang dapat dihasilkan dari oksidasi asam lemak tidak jenuh oleh radikal
bebas. Oleh karena itu, konsentrasi MDA yang tinggi menunjukan adanya proses
oksidasi dalam membran sel (Winarsi, 2007). Misalnya, pada olahraga dengan
intensitas tinggi (80% s.d. 95% maksmimum repetisi) terbentuk MDA yang lebih
banyak dibandingkan dengan olahraga intensitas rendah (20% s.d. 35%
maksimum repetisi) (Guzel et al., 2007).
Peroksidasi lipid terjadi melalui beberapa tahapan reaksi yaitu inisiasi,
propagasi dan terminasi :
LH + oksidan L + oksidan-H (inisiasi)
L + O
2
LOO (propagasi)
LOO + LH L + LOOH (propagasi)
L + L produk non radikal (terminasi)
L + LOO produk non radikal (terminasi)
Lipid (LH) penyusun membran sel biasanya berupa asam lemak tak jenuh
ganda. Peroksidasi dimulai (inisiasi) dari abstraksi atom hidrogen pada gugus
metilen oleh ROS membentuk radikal karbon (L). Apabila radikal karbon
bereaksi dengan oksigen maka akan terbentuk radikal peroksil (LOO). Reaksi
berikutnya adalah abstraksi atom hidrogen lipid lain oleh radikal peroksil
membentuk lipid hidroperoksida yang bersifat sitotoksik (LOOH), sehingga
terjadi reaksi berantai. Reaksi akan berakhir (terminasi) jika radikal karbon
yang terbentuk pada tahap inisiasi ataupun radikal lain yang terbentuk pada
27
reaksi propagasi bereaksi dengan radikal lain menjadi produk non radikal
(Setiawan dan Suhartono, 2007).
2.2.2 Antioksidan
Antioksidan merupakan senyawa yang mampu menangkal atau meredam
dampak negatif oksidan dalam tubuh dengan cara mendonorkan satu elektronnya
kepada senyawa yang bersifat oksidan sehingga aktivitasnya bisa dihambat
(Winarsi, 2007). Antioksidan dapat digolongkan menjadi antioksidan enzimatis
dan non enzimatis. Antioksidan enzimatis disebut juga antioksidan primer atau
antioksidan endogen, diantaranya GPx, catalase, dan SOD. Sedangkan,
antioksidan non enzimatis disebut juga antioksidan sekunder atau antioksidan
eksogen, digolongkan sebagai yang larut dalam lemak seperti tokoferol,
karotenoid, flavoniod, quinon, dan bilirubin, sementara yang larut dalam air
seperti asam askorbat, asam urat, protein pengikat logam dan protein pengikat
heme (Winarsi, 2007). Di samping itu, dikenal juga antioksidan sintetik seperti
Butil Hidroksi Anisol (BHA), Butil Hidroksi Toluen (BHT), propil galat, tert-butil
hidroksi quinon (TBHQ) (Prangdimurti, 2007).
2.2.2.1 Superoxide dismutase
Enzim antioksidan SOD merupakan kelompok enzim yang dapat ditemukan
dalam sel (sitosol dan mitokondria) juga dalam plasma. Dalam sitoplasma, SOD
ada dalam bentuk CuZn-SOD (EC 1.15.1.1) mempunyai berat molekul 32.000 Da,
dalam mitokondria ada dalam bentuk Mn-SOD (EC 1.15.1.1) dengan berat
molekul 23.000 Dalton. Sedangkan dalam plasma berupa EC-SOD (EC 1.15.1.1)
dengan berat molekul 135.000 Dalton. Semua bentuk SOD tersebut mengkatalisis
28
perubahan anion superoxide menjadi hydrogen peroxide (Zelko et al., 2002;
Marciniak et al., 2009 ) seperti reaksi: O
2

+ 2H
+ SOD
H
2
O
2
+ O
2
Kelas enzim SOD yang lain di antaranya Fe-SOD dan NiSOD. FeSOD
umumnya ditemukan pada prokaryota, algae dan beberapa tumbuhan tinggi,
sedangkan NiSOD ditemukan dalam Streptomyces (Scandalios, 2005).
2.2.2.2 Glutathione peroxidase
Glutathione peroxidase merupakan enzim scavenger terhadap hydrogen
peroxide, terdapat terutama dalam mitokondria. Glutathione peroxidase
memerlukan glutathione sebagai substrat, terdapat dalam dua bentuk yaitu
glutathione tereduksi (reduced glutathione atau GSH) dan glutathione teroksidasi
(glutathione disulfide atau GSSG). Ketika mengkatalisis perubahan hydrogen
peroxide (H
2
O
2
) menjadi H
2
O, GSH dioksidasi menjadi GSSG, dan GSSG
dapat direduksi kembali oleh NADPH untuk mendapatkan kembali GSH
(Marciniak et al., 2009).
Gambar 2.4.
Perubahan Hydrogen Peroxide Menjadi Air yang Dikatalisis oleh GPx
(Prangdimurti, 2007).
Glutathione peroxidase berpotensi mengubah molekul hidrogen peroksida
dengan cara mengoksidasi GSH menjadi GSSG. Glutathione bentuk tereduksi
mencegah lipid membran dan unsur-unsur sel lainnya dari kerusakan oksidasi
29
dengan cara merusak molekul hydrogen peroksida dan lipid peroksida
(Winarsi, 2007).
2.3 Tinjauan Buah Manggis (Garcinia mangostana L.)
Manggis (Garcinia mangostana L.) termasuk dalam famili Guttiferae. Buah
berwarna merah sampai ungu gelap, bagian yang dapat dimakan berwarna putih
yang disebut aril, lembut dan banyak air (juicy), rasanya manis dengan sedikit
asam serta aroma menyenangkan (Jung et al., 2006). Buah manggis sering
mendapat julukan Queen of Fruit karena dianggap salah satu buah tropis dengan
cita rasa terbaik di dunia (Moongkarndi et al., 2004; Pedraza-Chaverri et al.,
2008). Nama binomial Garcinia mangostana L. diberikan oleh Carolus Linnaeus
berdasarkan specimen yang diterima dari Laurentius Garcin, seorang naturalis
yang bekerja untuk Linnaeus di India-Belanda (Indonesia), dan mendapatkan
specimen buah manggis dari kepulauan Maluku, Indonesia, di mana penduduk
lokal menyebutnya dengan nama mangostan, kemudian oleh Carolus Linnaeus
diberi nama Garcinia mangostana L. (Sobir dan Poerwanto, 2007).
Buah manggis juga mengandung mineral yang bermanfaat bagi tubuh.
Kandungan mineral buah manggis di antaranya adalah; Na 1,1 mg/100 g,
K 101,3 mg/100 g, Mg 13,2 mg/100 g, Ca 12,3 mg/100 g, Fe 512,6 g/100 g,
Mn 112,6 g/100 g, Zn 31,6 g/100 g dan Cu 8.7 g/100 g berat basah
(Haruenkit et al., 2007).
Ekstrak kulit buah manggis juga diketahui relatif aman. Penelitian tentang
toksisitas ekstrak 95% ethanol kulit buah manggis pada tikus Sprague-Dawley,
baik dosis akut (dosis 2; 3, dan 5 g/kg bb) maupun dosis subakut (dosis 0; 50;
30
500, dan 1000 mg/kg bb selama 28 hari) tidak menunjukan mortalitas maupun
tanda-tanda abnormalitas klinis organ paru, jantung, hati, limfa, adrenal, ginjal,
testis dan ovarium, maupun parameter biokimia lainnya (Jujun et al., 2008).
Penelitian toksisitas akut pada tikus Swiss albino (Mus musculus) yang diberikan
ekstrak hydroethanol kulit buah manggis dosis 2g dan 5g/kg bb tidak
menunjukkan tanda-tanda toksisitas selama 14 hari pengamatan. Demikian juga
toksisitas subkronis pada tikus Wistar menunjukan bahwa ekstrak hydroethanol
kulit buah manggis dosis 400; 600, dan 1200 mg/kg bb selama 12 minggu tidak
mempengaruhi perilaku, makan, minum, pertumbuhan, status kesehatan tikus
maupun tanda-tanda abnormalitas dari histopatologi organ-organ internal, tetapi
dari parameter biokimia darah terlihat adanya peningkatan direct bilirubin hanya
pada tikus jantan yang menandakan adanya hepatitis akut dan cholestasis
(Hutadilok-Towatana et al., 2010). Chivapat et al. (2011) meneliti pemberian
ekstrak etanol kulit buah manggis dengan dosis 0 ; 10; 100 ; 500, dan
1000mg/kgbb/hari selama enam bulan pada tikus Wistar menyimpulkan bahwa,
walaupun pemakain dosis sampai 1000mg/kg bb selama enam bulan tidak
menunjukan tanda-tanda farmakotoksik dan abnormalitas yang jelas, namun
demikian pemakaian dosis 500 mg/kg bb dalam waktu lama tidak disarankan
karena menyebabkan peningkatan alanine transminase, blood urea nitrogen dan
creatinin yang merupakan indikasi terjadinya gangguan fungsi hati dan ginjal.
Penelitian juga menyebutkan bahwa ekstrak kulit buah manggis mempunyai
kemampuan sebagai antioksidan (Jung et al., 2006; Weecharangsan et al., 2006;
Kosem et al., 2007; Zarena dan Sankar, 2009; Ngawhirunpat et al., 2010;
31
Palakawong et al., 2010). Di samping itu, juga berperan sebagai antimikroba
(Palakawong et al., 2010), sitoprotektif (Kosem et al., 2007; Ngawhirunpat et al.,
2010), antiinflamasi (Chomnawang et al., 2007), antikanker (Moongkarndi et al.,
2004; Akao et al., 2008), antitumor (Chang et al., 2010), antimalaria
(Mahabusarakam et al., 2006), anti-acne (Pothitirat et al., 2010), antituberculosis
(Suksamrarn et al., 2003), neuroprotektif (Weecharangsan et al., 2006),
antiproliferasi (Matsumoto et al., 2003).
Sifat antioksidan kulit buah manggis dikaitkan dengan adanya bahan aktif
terutama dari kulit buah. Bahan aktif yang telah berhasil diidentifikasi dari kulit
buah manggis berupa sejumlah besar senyawa xanthone, di antaranya adalah
8-hydroxycudraxanthone G, mangostingone [7-methoxy-2-(3-methyl-2-butenyl)-8-
(3-methyl-2-oxo-3-butenyl)-1,3,6-trihydroxyxanthone, cudraxanthone G,
8-deoxygartanin, garcimangosone B, garcinone D, garcinone E, gartanin, 1-
isomangostin, -mangostin, -mangostin, mangostinone, smeathxanthone A, dan
tovophyllin A. Di antara senyawa xanthone, -mangostin dan -mangostin
merupakan komponen terbesar. Uji aktivitas antioksidan dengan menggunakan
peroksinitrit sebagai radikal bebas diketahui bahwa 8-hydroxycudraxanthone G,
gartanin, -mangostin, -mangostin dan smeathxanthone A merupakan komponen
yang memilki aktivitas antioksidan terbesar (Jung et al., 2006).
Kadar xanthone berbeda tergantung pada kualitas buah, di mana kadar
terbesar didapatkan pada buah dengan kulit burik atau kasar yakni sebesar 23,544
g/g ekstrak, sedangkan pada buah besar dengan kulit mulus mengandung kadar
xanthone sebesar 18,502 g/g ekstrak, buah kecil sebesar 20,434 g/g dan buah
32
dengan kulit mengandung getah kuning 15,289 g/g ekstrak. Buah dengan kulit
burik terjadi akibat adanya serangan hama atau akibat kerusakan fisik. Dalam
kondisi tersebut xanthone berperan sebagai mekanisme pertahanan dalam
mencegah terjadinya stres akibat serangan hama tersebut atau kerusakan fisik.
Namun demikian, sifat sebagai antioksidan yang diuji dengan menggunakan
DPPH sebagai sumber radikal bebas, ekstrak methanol kulit buah manggis
tidak menunjukan perbedaan yang signifikan antar kualitas buah
(Kurniawati et al., 2010).
Xanthone termasuk ke dalam golongan senyawa flavonoid. Senyawa ini
memiliki dua cincin benzene dan satu cincin piran. Inti xanthone dikenal sebagai
9-xanthenone atau dibenzo-c-pyrone. Xanthone dapat diklasifikasikan ke dalam
lima kelompok yaitu; oxygenated xanthone, xanthone glycoside, prenylated
xanthone, xanthonolignoid, dan miscellaneous Xanthone. Saat ini sekitar 1000
xanthone berbeda telah diketahui (Pedraza-Chaverri et al., 2008).
Xanthone telah diisolasi dari seluruh bagian tumbuhan manggis (Garcinia
mangostana L), terutama kulit buah, seluruh buah, kulit batang, serta daun. Di
antara senyawa xanthone tersebut, -, -, dan mangostin, garcinone E,
8-deoxygartanin, dan gartanin paling banyak dipelajari. Di samping itu, xanthone
sintetik juga telah digunakan pada beberapa penelitian. Inti xanthone dan
beberapa golongan xanthone lainnya ditampilkan pada Gambar 2.5, sedangkan
xanthone yang diisolasi dari kulit buah manggis ditampilkan pada Tabel 2.1
(Pedraza-Chaverri et al., 2008).
33
Gambar 2.5
Inti Xanthone dan Beberapa Golongan Xanthone (Pedraza-Chaverri et al., 2008).
Ekstrak kulit buah manggis dengan ethanol 95 % dengan cara maserasi,
perkolasi, ultrasonik, dan magnetic stirrer, serta ethanol 50%, 70 %, dan 95 %
dengan menggunakan soxhlet, didapatkan kadar -mangostin lebih besar pada
ekstrak ethanol 95% dengan cara maserasi dan dengan menggunakan soxhlet
masing-masing sebesar 13,32% w/w dan 13,51% w/w (Pothitirat et al., 2010).
Sementara Kosem et al. (207) mendapatkan kadar -mangostin dari ekstrak
methanol kulit buah manggis sebesar 25,19g/100g ekstrak. Ngawhirunpat et al.
(2010) mengekstrak kulit buah manggis dengan air, methanol, serta hexane, dan
didapatkan kadar -mangostin dari ekstrak hexane sebesar 28,7% w/w, dari
ekstrak methanol 15,5% w/w, sedangkan dari ekstrak air tidak terdeteksi adanya
bahan aktif tersebut.
34
Tabel 2.1.
Xanthone yang Diisolasi dari Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L)
(Pedraza-Chaverri et al., 2008).
No Nama Senyawa
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
-Mangostin
-Mangostin
-Mangostin
Mangostanol
Mangostenol
1-Isomangostin
1-Isomangostin hydrate
3-Isomangostin
3-Isomangostin hydrate
1,6-Dihydroxy-7-methoxy-8-isoprenyl-60,60-dimethylpyrano(20,30:3,2)xanthone
Toxyloxanthone A (trapezifolixanthone)
Calabaxanthone
Demethylcalabaxanthone
Caloxanthone A
Macluraxanthone
1,7-dihydroxyxanthone)
Euxanthone
Cudraxanthone
8-hydroxycudraxanthone G
Esmeatxanthone A
BR-xanthone A
BR-xanthone B
Mangostanin
Mangostenone A
Mangostenone B
Mangostinone Asai
Gartanin
8-Deoxygartanin
Garcinone A
Garcinone B
Garcinone C
Garcinone D
Garcinone E
Garcimangosone A
Garcimangosone B
Garcimangosone C
Garcimangosone D
Tovophyllin A
Tovophyllin B
1,5-dihydroxy-2-isoprenyl-3-methoxyxanthone
Mangostingone [7-methoxy-2-(3- isoprenyl)-8-(3-methyl-2-oxo-3-buthenyl)-1,3,6-
trihydroxyxanthone
5,9-Dihydroxy-2,2-dimethyl-8-methoxy-7-isoprenyl-2H,6H-pyrano [3,2-b] xanthen-6-one
2-(,-Dimethylallyl)-1,7-dihydroxy-3-methoxyxanthone
2,8-Bis(c, c-dimethylallyl)-1,3,7-trihydroxyxanthone
1,3,7-Trihydroxy-2,8-di-(3-methylbut-2-enyl) xanthone
1,7-Dihydroxy-2-isoprenyl-3-methoxyxanthone
2,7-Diisoprenyl-1,3,8-trihydroxy 4-methylxanthone
2,8-Diisoprenyl-7-carboxy-1,3 dihydroxyxanthone
2-Isoprenyl-1,7-dihydroxy-3 methoxyxanthone
1,3,6,7-Tetrahydroxy-8-(3 methyl-2-buthenyl)-9H-xanthon-9-one
35
2.3.1 Aktivitas antioksidan ekstrak kulit buah manggis
Aktivitas antioksidan ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana L)
telah diuji menggunakan metode DPPH (Weecharangsan et al., 2006;
Chomnawang et al., 2007; Haruenkit et al., 2007; Kosem et al., 2007; Pothitirat et
al., 2010; Zarena dan Sankar, 2009; Ngawhirunpat et al., 2010; Palakawong et al.,
2010). Metode DPPH pada prinsipnya adalah reaksi penangkapan hidrogen oleh
DPPH dari senyawa antioksidan. Derajat penurunan warna ungu merah DPPH
menjadi DPPH dalam bentuk tereduksi (DPPHH) yang berwarna kuning
mengindikasikan kemampuan peredaman senyawa tersebut sebagai
antiradikal bebas dan dilakukan secara spektrofotometri pada panjang
gelombang 517 nm (Kosem et al., 2007).
Weecharangsan et al. (2006) mempelajari sifat antioksidan dan
neuroprotektif dari empat jenis ekstrak kulit buah manggis (ekstrak air, ethanol
50%, ethanol 95%, dan ethyl acetate). Kapasitas antioksidan tersebut diuji
dengan metode DPPH dengan konsentrasi 1; 10; 50 and 100 g/mL pada masing-
masing ekstrak. Ekstrak air dan ethanol 50% menunjukan kapasitas antioksidan
paling tinggi yaitu dengan IC
50
masing-masing 34,98 dan 30,76 g/mL. Kapasitas
antioksidan ekstrak tersebut kemudian diuji pada sel neuroblastoma (NG108-15)
yang terpapar hidrogen peroksida (H
2
O
2
), kedua ekstrak tersebut (ekstrak air dan
ethanol 50%) menunjukan kemampuan sebagai neuroprotektif pada konsentrasi
50 g/mL, dan ekstrak ethanol 50 % mempunyai kemampuan lebih tinggi
dibandingkan dengan ekstrak air. Penelitian Chomnawang et al. (2007) dengan
menggunakan metode DPPH juga menunjukan bahwa ekstrak ethanol Kulit buah
36
manggis mempunyai kemampuan sebagai antioksidan yang signifikan dengan
IC
50
sebesar 6.13 g/mL. Di samping itu ekstrak tersebut dapat menurunkan
produksi ROS secara signifikan pada sel polymorphonuclear leucocyte (PML)
dengan inhibition ratio 77,8% pada anion superoxide.
Haruenkit et al. (2007) menunjukkan aktivitas antioksidan manggis dengan
metode DPPH and ABTS assays, dan mendapatkan nilai masing-masing sebesar
79,1 dan 1268,6 M trolox equivalent/100 g berat basah. Pada penelitian tersebut,
tikus Wistar betina yang diberi makan standar dan tambahan 1% kolesterol serta
5% ekstrak manggis, menunjukkan mampu menghambat peningkatan lipid plasma
dan penurunan aktivitas antioksidan. Kosem et al. (2007) juga meneliti aktivitas
antioksidan ekstrak methanol kulit buah manggis dengan menggunakan metode
DPPH dan didapatkan nilai IC
50
sebesar 20,50 g/ml. Di samping itu ekstrak
tersebut juga mempunyai kemampuannya meredam ion radikal seperti; Hydroxyl
radical dengan IC
50
sebesar 47 g/ml, superoxide dengan IC
50
25 g/ml, nitric
oxide dengan IC
50
55,61 g/ml, juga menghambat terjadinya peroksidasi lipid
dengan IC
50
9,43 g/ml.
Pothitirat et al. (2010) mengekstrak kulit buah manggis dengan ethanol
95% dengan cara maserasi, perkolasi, ultrasonik, dan magnetic stirrer, serta
ethanol 50%, 70%, dan 95% dengan menggunakan soxhlet. Aktivitas antioksidan
ekstraks tersebut yang diuji dengan menggunakan metode DPPH dan diketahui
bahwa ekstrak ethanol 95% dengan cara maserasi dan soxhlet mempunyai
aktivitas antioksidan yang baik masing masing dengan EC
50
sebesar 14,24 g/ml
dan 14,88 g/ml, namun demikian ekstrak 50% ethanol dengan menggunakan
37
soxhlet menunjukan aktivitas antioksidan yang terbaik yakni dengan EC
50
sebesar
12,84 g/ml dan ekstrak dengan cara ini juga menghasilkan kandungan fenol dan
tannin yang maksimum yakni masing-masing 26,96 gallic acid equivalent/100 g
ekstrak kering dan 46,83 g tannic acid equivalent/100 g ekstrak kering.
Sementara penelitian Zarena dan Sankar (2009) menguji aktivitas
antioksidan ekstrak kulit buah manggis yang diekstrak dengan berbagai macam
pelarut dengan menggunakan metode DPPH. Hasil penelitian tersebut
menunjukan bahwa ekstrak ethyl asetat dan aseton didapatkan IC
50
masing-
masing sebesar 30,01 g/ml dan 33,32 g/ml, yang mengindikasikan sebagai
sumber antioksidan yang baik dengan cara mendonasikan elektron kepada radikal
bebas untuk membentuk produk stabil sehingga tidak menimbulkan reaksi
berantai. Ngawhirunpat et al. (2010) juga menguji aktivitas antioksidan kulit buah
manggis yang diekstrak dengan air, methanol, dan hexane dengan menggunakan
metode DPPH dan diketahui bahwa ekstrak air mempunyai aktivitas yang lebih
baik dibandingkan dengan ekstrak methanol maupun hexane masing-masing
dengan IC
50
11,0 g/ml, 14,7 g/ml, dan 41,2 g/ml. Disamping itu ekstrak
tersebut juga diuji kemampuannya dalam meredam radikal hidroksil dan
peroksidasi lipid, dimana ekstrak air menunjukan kemampuan yang lebih baik
dibanding kedua ekstrak lainnya. Ekstrak tersebut kemudian diuji kemampuannya
melindungi kerusakan sel keratinocyte yang terpapar dengan H
2
O
2
dengan
konsentrasi 200 M, dan diketahui bahwa ekstrak air dapat meningkatkan
viabilitas sel keratinocyte sedangkan ekstrak methanol dan hexane tidak, bahkan
38
pada konsentrasi tinggi ekstrak methanol (50 sd 500 g/ml) dan hexane (100 s.d.
500 g/ml) justru menurunkan viabilitas sel keratinocyte.
Palakawong et al. (2010) menguji aktivitas antioksidan ekstrak kulit buah,
daun, dan kulit batang manggis dengan menggunakan metode DPPH, dan
didapatkan IC
50
masing-masing 5,94 g/ml, 9,44 g/ml, dan 4,46 g/ml.
Sementara Moongkarndi et al. (2004) menunjukkan bahwa ekstrak kulit buah
manggis secara signifikan mampu mengurangi produksi ROS pada human breast
cancer (SKBR3), yang diukur dengan menggunakan metode 2,7-
dichlorofluorescein diacetate (DCFH-DA). Metode yang sama juga digunakan
oleh Kosem et al. (2007) pada human umbilical vein endothelial cell ECV304.
Penelitian aktivitas antioksidan ekstrak manggis maupun bahan aktifnya
secara invivo belum banyak dilakukan. Kondo et al. (2009) melakukan penelitian
tentang pemberian suplemen mangosteen plus, yang kaya xanthone, serta
mengandung aloe vera, teh hijau, dan multivitamin kepada responden sebanyak
59 mL kemudian mengamatinya dalam darah setelah 1; 2; 4, dan 6 jam
pemberian. Ada peningkatan kadar -mangostin yang signifikan dalam plasma.
Kadar maksimum sebesar 3,12 ng/mL terdeteksi setelah 1 jam pemberian,
kemudian menurun sepertiganya empat jam setelah pemberian dan level ini
bertahan sampai enam jam setelah pemberian. Kadar vitamin B2 dan B5 juga
terdeteksi dalam plasma dengan kadar maksimum masing-masing 7,52 dan 48,9
ng/mL tercapai setelah dua jam pemberian. Pengamatan juga dilakukan terhadap
kapasitas antioksidan plasma dan menunjukan bahwa pemberian suplemen
tersebut meningkatkan kapasitas antioksidan plasma lebih dari 16% setelah 1 jam
39
pemberian dan mencapai 18 % setelah dua jam dan level ini bertahan sampai
akhir pengamatan (6 jam). Walaupun penelitian tersebut menyimpulkan bahwa
peningkatan aktivitas antioksidan plasma bukan semata-mata diakibatkan oleh
peningkatan kadar -mangostin, namun pemberian suplemen mangsoteen plus
dengan mineral esensial telah meningkatkan level antioksidan plasma sehingga
akan memberikan perlindungan terhadap penyakit kronis. Penelitian lain
menyebutkan bahwa pemberian 60 mL jus manggis yang mengandung
5,3 mmol/L total xanthone kepada responden dengan sarapan tinggi lemak,
kemudian xanthone diamati dalam serum dan urin selama 24 jam. Konsentrasi
xanthone dalam serum bervariasi antara 762 nmol/L s.d. 4030 nmol/L selama 24
jam pengamatan, di mana konsentrasi sebesar 113 nmol/L tercapai setelah 3,7
jam. Sementara dalam urin, kadar xanthone berkisar antara 0,9 mol s.d.
11,1 mol dan hanya mencapai 2% dari kadar yang diberikan, sehingga
disimpulkan bahwa xanthone yang ada dalam jus manggis diserap bersama-sama
dengan makanan kaya lemak, walaupun pelepasan xanthone dari kulit manggis
selama pencernaan mungkin terbatas, dan tidak ada perbedaan antara laki-laki
dengan perempuan (Chitchumroonchokchai et al., 2012).
2.4 Mekanisme Aktivasi Gen Penyandi Antioksidan
Berbagai macam senyawa kimia baik alami maupun sintetis dapat bertindak
sebagai inducer terhadap ekspresi gen penyandi antioksidan. Inducer dapat
dikelompokkan ke dalam 10 katagori utama yaitu; diphenol, phenylenediamine,
dan quinone; Michael acceptor; isothiocyanate, thiocarbamate, dan senyawa
terkait lainnya yang mengandung sulfur; 1,2-dithiol-3-thiones, oxathiolene oxide,
40
alk(en)yl (poly)sulfide; hydroperoxide; senyawa-senyawa arsenic trivalen; ion-ion
logam berat (Cd, Co, Cu, Au, Hg, Pb); dimercaptan; carotenoid dan senyawa
yang serupa; senyawa-senyawa yang mengandung selenium (terutama diselenide
dan selenol). Kelompok inducer dan mekanisme kerjanya dicantumkan pada
Tabel 2.2 (Tkachev et al., 2011).
Salah satu inducer tersebut adalah golongan fenol. Senyawa fenol merupakan
kelompok zat kimia yang ditemukan sangat luas pada tanaman. Senyawa ini telah
dieksploitasi secara intensif karena berbagai fungsi biologis seperti antimutagenik,
antikarsinogenik, antipenuaan, dan juga antioksidan (Kosem et al., 2007).
Senyawa fenol seperti flavonoid banyak ditemukan dalam buah-buahan, sayuran,
kacang-kacangan, biji, bunga, dan juga teh dan anggur merah (Middleton Jr. et al.,
2000). Beberapa penelitian telah menunjukan bahwa ada korelasi sangat kuat
antara aktivitas antioksidan dengan total fenol dari ekstrak buah-buahan, sehingga
disimpulkan senyawa fenol berperan sebagai antioksidan pada buah-buahan
(Mahattanatawee et al., 2006; Isabelle et al., 2010; Nurliyana et al., 2010).
Inducer lainya adalah ROS seperti H
2
O
2
. Dalam kondisi normal, ROS dihasilkan
sebagai produk samping dari metabolisme aerobik untuk membentk ATP dalam
mitokondria. Dalam reaksi tersebut dibutuhkan oksigen di mana oksigen akan
bereaksi dengan hidrogen untuk membentuk air, tetapi sejumlah kecil oksigen
dapat berubah menjadi radikal bebas.
41
Tabel 2.2.
Kelompok Inducer dan Mekanisme Kerja (Tkachev et al., 2011).
Group of
agents
Members Mechanism of action
Xenobiotics and their
metabolites
Endogenous
compounds
Diphenols,
quinones,
and
phenylene-
diamines
Michael
acceptors
Isothiocya-
nates
1,2-Dithio-
3-thiones
Hydropero-
xides
Compounds
of trivalent
arsenic
Heavy
metal ions
Vicinal
dimercap-
tans
Carotenoids
Selenium-
containing
compounds
tBHQ, BHT, BHA,
curcumin, resveratrol,
quercetin, ethoxyquin,
probucol, epigallocatechin-
3-gallate
EPA, DHA, crotonic
aldehyde,
methyl acrylate, methyl
propionate,
methyl vinyl sulfone
sulforaphane, 3-
morpholinopropyl
isothiocyanate
1,2-dithiolthione, oltipraz,
5-(para-methoxyphenyl)-
1,2-dithiol-3-thione
Tert-butyl hydroperoxide,
cumol
hydroperoxide,
2
O
2
As
2
O
3
, AsO
2
-
, As
3+
,
phenylarsine oxide,
CH
3
As(OH)
2
Cd
2+
, Co
2+
, Cu
2+
, Au
1+
,
Hg
2+
, Pb
2+
()-2,3-dimercapto-1-
propanol,
1,2-ethane dithiol
3-hydroxy--damascone,
lycopene
ebselen, dialkyl diselenides,
seleninic acids, phenyl
selenol
dopamine,
4-hydroxyestrol,
2-hydroxyestradiol,
4-hydroxyestradiol,
estradiol-3,4-quinone
acrolein, 4-hydroxy-
2,3-nonenal, PGA2,
15d-PGJ2,
J2-isoprostane

2
O
2
, lipid
hydroperoxides

oxidize or bind to
SH-groups in Keap1 and
increase of intracellular

2
O
2
production
binding to SH-groups of
Keap1
binding to SH-groups of
Keap1
increase of
2
O
2
intracellular
production
oxidation of SH-groups
in Keap1
binding to SH-groups
of Keap1, increase
of intracellular
2
O
2
production
increase of intracellular

2
O
2
production
not determined
not determined,
preliminary oxidation of
compounds is required
not determined
Keterangan : tBHQ (tert-butylhydroquinone), BHT (butylhydroxytoluene),
BHA (butylhydroxyanisole), EPA (eicosapentaenoic acid), DHA (docosa hexaenoic
acid), PGA2 (prostaglandin A2), 15d-PGJ2 (15-deoxy-prostaglandin J2).
42
Antioksidan dapat mencegah terjadinya peroksidasi lipid baik pada tahap
inisiasi, propagasi maupun pada tahap terminasi. Pada tahap inisiasi, peroksidasi
lipid dapat dicegah oleh peredam radikal bebas. Sementara pada tahap propagasi
diputus oleh peredam radikal peroksi seperti antioksidan flavonoid
(LOO

+ FL-OH LOOH + FL-O

, FL-OH adalah flavonoid). Sedangkan pada


tahap terminasi, radikal lipid (L

), radikal lipid peroksi (LOO

) dan radikal
alkoksil (LO

) diredam oleh antioksidan fenol (seperti -tocopherol, flavonoid)


(LOO

/L

/LO

+ A-OH LOOH/LH/LOH + AO

, A-OH adalah senyawa fenol


seperti -tocopherol, flavonoid, dan AO

adalah radikal fenoksil)


(Middleton Jr. et al., 2000).
Inducer tersebut bekerja melalui mekanisme aktivasi Nrf2. Senyawa
fitokimia seperti epicatechin telah diketahui dapat memicu ekspresi gen penyandi
antioksidan melalui aktivasi Nrf2 (Granado-Serrano et al., 2010; Shah et al.,
2010). Penelitian yang dilakukan pada tikus Wistar menunjukan bahwa Curcumin
dapat mengurangi kerusakan hati melalui aktivasi Nrf2 (Farombi et al., 2008),
juga biji broccoli yang mengandung glucosinolate 40 mmol/kg, dapat
menginduksi pembentukan antioksidan dan protein detoksikasi melalui aktivasi
Nrf2 pada tikus (McWalter et al., 2004). Senyawa fitokimia tersebut mengaktivasi
Nrf2 secara langsung atau melalui serangkaian jalur yang diperantari oleh
interaksi dengan protein spesifik seperti p38, protein kinase C (PKC),
extracellular signal-regulated protein kinase (ERK), c-jun N-terminal kinase
(JNK), dan phosphatidylinositol-3-kinase (PI3K). Dalam kondisi normal, Nrf2
terikat pada Keap1 dan terdapat dalam sitoplasma bersama protein aktin
43
sitoskeleton (Mann et al., 2007). Sebaliknya, dalam kondisi terpapar oleh senyawa
yang bertindak sebagai inducer, maka inducer bereaksi dengan sistein pada Keap1
mengakibatkan pelepasan Nrf2 dari Keap1. Nrf2 kemudian mengalami translokasi
menuju nukleus dan berikatan dengan ARE bersama protein small
musculoaponeurotic fibrosarcoma (sMaf) untuk mengaktivasi ekspresi gen-gen
sitoprotektif seperti Heme Oxygenase-1 (HO-1), Peroxyredoxin-1 (Prx-1),
thioredoxin-1(Trx-1), cystineglutamate anionic amino acid transporter (xCT),
glutathione-S-transferase (GST), dan NAD(P)H:quinone oxidoreductase (NQO-1)
(Son et al., 2008). Mekanisme tersebut digambarkan pada Gambar 2.6 dan 2.7.
Gambar 2.6
Mekanisme Aktivasi Nrf2/ARE oleh Senyawa Fitokimia (Son et al., 2008).
Gambar 2.7.
Mekanisme Aktivasi Nrf2/ARE oleh ROS (Mann et al., 2007).
44
Nuclear factor-erythroid 2-related factor-2 merupakan suatu basic region-
leucine zipper (bZIP) transcription factor dan anggota Cap n Collar (CNC)
family, yang juga termasuk NF-E2, Nrf1, Nrf3, Bach1 dan Bach2. Nrf2
menengahi respon seluler akibat terpapar berbagai macam inducer seperti oksidan
atau xenobiotic dengan cara berikatan pada elemen dari promotor gen
sitoprotektif. Nrf2 diaktivasi oleh perubahan kondisi redoks sel dan berfungsi
memulihkan homeostasis dengan mengontrol antioksidan, xenobiotic, dan enzim
sitoproteksif lainnya (Baird et al., 2011).
Pada manusia, Nrf2 merupakan suatu protein yang terdiri atas 605 asam
amino dengan berat molekul 67,8 kDa, sedangkan pada tikus terdiri atas 597
asam amino dengan berat molekul 66,9 kDa (Tkachev et al., 2011). Protein Nrf2
terdiri atas enam domain fungsional yaitu; Nrf2-epichlorohydrin (ECH)
homology (Neh; Neh1,Neh2, Neh3, Neh4, Neh5, dan Neh6). Domain Neh1 berisi
bZIP DNA binding yang akan berlekatan dengan ARE untuk membentuk sebuah
heterodimer bersama protein lain seperti Maf dan Jun protein. Domain Neh2
menjadi bagian yang akan berlekatan dengan inhibitornya yang ada di sitoplasma
yaitu Keap1. Domain Neh3 terikat pada chromo-ATPase/helicase DNA binding
protein yang berfungsi sebagai co-activator transkripsional untuk meningkatkan
transkripsi gen-gen yang tergantung pada ARE. Domain Neh4 dan Neh5 bertindak
secara sinergi untuk mengikat co-activator transkripsi yang lain. Umpan balik
negatif Nrf2 dilakukan oleh Neh6 (Baird et al., 2011; Tkachev et al., 2011).
Struktur Nrf2 digambarkan secara skematis pada Gambar 2.8.
45
Gambar 2.8.
Struktur Domain Nrf2. Menunjukan Posisi Domain Neh2, Neh4, Neh5, Neh6,
Neh1 dan Neh3, dan Lokasi DLG dan ETGE Motif dalam Neh2 Sebagai Tempat
Perikatan antara Nrf2 dengan Keap1. Neh1 Berisi bZip DNA Binding dan Domain
Heterodimerisasi di mana Nrf2 Berinterakasi dengan Small Maf dan Berikatan
pada DNA Sebagai Heterodimer (Baird et al., 2011).
Kelch-like ECH-associated protein-1 pada tikus tersusun atas 624 asam
amino termasuk 25 sistein residu dengan berat molekul 69,5 kDa, sedangkan pada
manusia tersusun atas 625 asam amino termasuk 27 sistein residu dengan berat
molekul 69,7 kDa. Keap1 berisi lima domain yaitu; N-terminal region (NTR);
Broad-Complex, Tramtrack, dan Bric a` brac (BTB) domain yang
bertanggungjawab terhadap dimerisasi dan interakasi dengan cullin-3-containing
ubiquitinligase E3 complex (Cul3-E3-ligase); Intervening region (IVR) domain
yang berisi sistein residu yang sensitif terhadap oksidasi dan nuclear export signal
(NES) motif; Kelch domain yang berisi enam kelch repeat (KR1, KR2, KR3, KR4,
KR5, dan KR6) dan memiliki struktur 6-bladed -propeller yang menengahi
asosiasi antara Keap1 dengan Nrf2 dan protein aktin atau myosin VIIa
sitoskeleton; dan C-terminal region (CTR) (Tkachev et al., 2011). Struktur Keap1
digambarkan secara skematis pada Gambar 2.9.
46
Gambar 2.9.
Struktur Domain Keap1. Menunjukan Posisi N-terminal Region (NTR), Domain
BTB, Intervening Region (IVR), Kelch (DGR) Domain, dan C-terminal Region
(CTR), Serta Lokasi C151, C273 dan C288. Keap1 Membentuk Dimer Melalui
BTB Domain yang Juga Sebagai Domain di mana Keap1 Berikatan dengan Cullin
3 (Cul3). Kelch domain Membentuk Struktur 6-bladed -propeller di mana Keap1
Berinteraksi dengan Domanin Neh2 dari Nrf2 (Baird et al., 2011).
Kelch-like ECH-associated protein-1 merupakan protein yang kaya sistein.
Dari seluruh sistein, 10 di ataranya diprediksi menjadi reaktif karena adanya asam
amino yang bermuatan positif di dekatnya. Muatan positif ini menurunkan pKa
gugus thiol sistein di sebelahnya, stabilisasi anion, sehingga pada gilirannya akan
mempertahankan sistein dalam keadaan reaktif. Sistein yang reaktif ini akan
mudah diinduksi oleh berbagai macam inducer seperti; dexamethasone 21-
mesylate (Dex-mes) dapat menginduksi sistein yang terdapat pada IVR domain
yakni C257, C273, C288, dan C297, serta sistein yang terdapat pada CTR yakni
C613. Sedangkan sistein yang terdapat pada BTB domain yakni C151 dapat
diinduksi oleh tert-butylhydroquinone (tBHQ). Jadi inducer yang berbeda dapat
dapat bereaksi dengan Keap1 dengan cara yang berbeda (Baird et al., 2011).
Bagian DNA yang berisi urutan nukleotida 5- A/GTGAC/TnnnGCA/G-3
sebagai core dan dikenal dengan ARE. Nrf2 dapat berikatan dengan bagian ini.
47
Analisis lebih lanjut menemukan adanya urutan TA/
C
A yang terletak pada ujung
5 dengan jarak dua pasang basa dari core yang berperan penting dalam induksi
transkripsi gen. Dengan demikian, panjang ARE adalah 16 nukleotida yaitu
5-TA/
C
AnnA/GTGAC/TnnnGCA/G-3, lima di antaranya bervariasi yang
membuat keragaman genom ARE. Beberapa ARE berisi binding site bagi AP-1
transcription factor (5-TGACTCA-3; 12-O-tetradecanoyl-forbol-13-acetate-
responsive element, TRE) sehingga protein-protein yang termasuk dalam AP-1
transcription factor super family seperti protein cap n collar Nrf1, Nrf3, Bach1
dan Bach2; ATF1, ATF2, ATF3, ATF4, JunD, c-Jun, c-Fos dan Fra1 dapat
mengambil bagian dalam transkripsi gen yang dikontrol oleh ARE
(Tkachev et al., 2011).
Antioxidant Respone Element menengahi aktivasi transkripsi gen-gen
seperti HO-1, -glutamylcysteine synthethase, Trx-1, GST dan NQO-1, juga enzim
antioksidan seperti SOD dan catalase yang terlibat dalam meredam ROS. Dalam
kondisi basal Nrf2 terikat pada Keap1 dan terdapat dalam sitoplasma bersama
protein aktin sitoskeleton (Mann et al., 2007). Sebaliknya, dalam kondisi terpapar
oleh senyawa yang bertindak sebagai inducer, maka inducer bereaksi dengan
sistein pada Keap1 mengakibatkan pelepasan Nrf2 dari Keap1. Nrf2 kemudian
mengalami translokasi menuju nukleus dan berikatan dengan ARE bersama
protein sMaf untuk mengaktivasi ekspresi gen-gen sitoprotektif. Mekanisme ini
didukung fakta bahwa inducer sulforaphane dan bis(2-hydroxybenzylidene)
acetone dengan konsentrasi tertentu dapat menyebabkan terjadinya disosiasi
Keap1Neh2 complex (Baird et al., 2011).
48
BAB III
KERANGKA BERPIKIR, KONSEP, DAN HIPOTESIS PENELITIAN
3.1 Kerangka Berpikir
Kerangka berpikir dalam penelitian ini didasarkan atas kajian pustaka bahwa
stres oksidatif merupakan suatu kondisi ketidakseimbangan antara produksi
radikal bebas dengan antioksidan, di mana kadar radikal bebas lebih tinggi
dibandingkan antioksidan. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh faktor internal
seperti genetik, umur, oksidasi fosforilasi, proses patofisiologi, dan faktor
eksternal seperti asupan makanan, patogen, sinar ultra violet dan bahan kimia.
Faktor internal utama yang menimbulkan stres oksidatif adalah oksidasi
fosforilasi akibat melakukan aktivitas fisik maksimal. Selama aktivitas fisik,
terbentuk radikal bebas bersamaan dengan reaksi oksidasi fosforilasi untuk
membentuk energi (ATP) dalam mitokondria. Dalam reaksi tersebut dibutuhkan
oksigen di mana oksigen akan bereaksi dengan hidrogen untuk membentuk air,
tetapi sejumlah oksigen dapat berubah menjadi radikal bebas. Dengan demikian
maka semakin berat aktivitas fisik maka dibutuhkan semakin banyak ATP, juga
semakin banyak radikal bebas yang dihasilkan sebagai produk samping.
Tubuh sebenarnya telah mempunyai kemampuan untuk menetralisir radikal
bebas dengan cara membentuk antioksidan endogen seperti GPx dan SOD.
Mekanisme tersebut terjadi karena aktivitas fisik yang dilakukan dengan
intensitas, durasi dan frequensi sedang (pelatihan fisik), tampaknya merupakan
stres tehadap tubuh dan menjadikannya sebagai sinyal untuk memunculkan respon
berulang sehingga meningkatkan kemampuan adaptasi, di mana responnya akan
49
menjadi lebih baik apabila sinyal tersebut muncul kembali. Hal ini terjadi karena,
radikal bebas dapat berfungsi sebagai sinyal untuk mengaktivasi Nrf2 yang terikat
pada Keap1 dalam sitoplasma sehingga mengalami disosiasi dan translokasi
menuju nukleus. Dalam nukleus Nrf2 akan berasosiasi pada bagian promoter gen
yang disebut ARE, untuk mengaktivasi gen-gen penyandi antioksidan sehingga
berekspresi. Antioksidan tersebut akan menangkal atau meredam dampak negatif
radikal bebas dalam tubuh dengan cara mendonorkan elektronnya kepada radikal
bebas sehingga aktivitasnya bisa dihambat. Akan tetapi jika aktivitas fisik
dilakukan secara maksimal maka dihasilkan radikal bebas yang lebih banyak.
Dalam kondisi demikian antioksidan endogen tidak mampu lagi mengimbangi
pembentukan radikal bebas sehingga akan menyebabkan terjadinya stres oksidatif.
Untuk meningkatkan aktivitas antioksidan dalam mencegah terjadinya stres
oksidatif maka diperlukan antioksidan dari luar tubuh. Antioksidan tersebut akan
meredam radikal bebas dengan cara mendonorkan elektronnya baik pada tahap
inisiasi, propagasi maupun tahap terminasi. Salah satu sumber antioksidan alami
adalah kulit buah manggis (Garcinia mangostana L). Sifat antioksidan buah
manggis dikaitkan dengan adanya senyawa xanthone, di antaranya adalah
-mangostin dan -mangostin yang merupakan komponen terbesar serta memiliki
kemampuan sebagai antioksidan kuat. Senyawa yang terkandung dalam ekstrak
kulit buah manggis juga diduga bekerja sebagai sinyal yang akan memicu ekspresi
gen-gen penyandi antioksidan melalui aktivasi Nrf2.
Pemberian ekstrak kulit buah manggis bersama-sama dengan pelatihan fisik
diduga dapat meningkatkan kemampuan adaptasi tubuh melalui pembentukan
50
antioksidan endogen sehingga akan mengurangi terjadinya stres oksidatif. Dengan
dasar pemikiran tersebut maka pemberian ekstrak kulit buah manggis secara
bersama-sama dengan pelatihan fisik masih perlu diteliti lebih lanjut.
3.2 Konsep Penelitian
Pola hubungan antar konsep dapat disusun seperti berikut :
Gambar 3.1
Konsep Penelitian
3.2 Hipotesis Penelitian
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah:
1. Ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) dapat menurunkan kadar
MDA darah tikus Wistar (Rattus norvegicus) selama aktivitas fisik maksimal.
FAKTOR INTERNAL
Genetik
Umur
Oksidasi fosforilasi
Patofisiologi
PERLAKUAN
Pelatihan fisik
Ekstrak kulit buah manggis
TIKUS WISTAR SELAMA
AKTIVITAS FISIK MAKSIMAL
MDA,
SOD
GPx
FAKTOR EKSTERNAL
Diet
Bahan kimia
Patogen
Sinar ultraviolet
51
2. Ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) dapat meningkatkan
kadar enzim SOD dan GPx darah tikus Wistar (Rattus norvegicus) selama
aktivitas fisik maksimal.
3. Pelatihan fisik intensitas 70% dari aktivitas fisik maksimal, lima kali per
minggu, selama empat minggu, dapat menurunkan kadar MDA darah tikus
Wistar (Rattus norvegicus) selama aktivitas fisik maksimal.
4. Pelatihan fisik intensitas 70% dari aktivitas fisik maksimal, lima kali per
minggu, selama empat minggu, dapat meningkatkan kadar enzim SOD dan
GPx darah tikus Wistar (Rattus norvegicus) selama aktivitas fisik maksimal.
5. Ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) dan pelatihan fisik
intensitas 70% dari aktivitas fisik maksimal, lima kali per minggu, selama
empat minggu, dapat menurunkan kadar MDA darah tikus Wistar (Rattus
norvegicus) selama aktivitas fisik maksimal.
6. Ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) dan pelatihan fisik
intensitas 70% dari aktivitas fisik maksimal, lima kali per minggu, selama
empat minggu, dapat meningkatkan kadar enzim SOD dan GPx darah tikus
Wistar (Rattus norvegicus) selama aktivitas fisik maksimal.
52
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1 Rancangan Penelitian
Penelitian ini termasuk penelitian eksperimental post test only. Penelitian
menggunakan Rancangan Acak Kelompok (Randomized Block Design) dengan
perlakuan Faktorial 6 x 2 (Steel dan Torrie, 1995). Perlakuan pertama adalah
ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) yang terdiri atas lima level
dosis yaitu: dosis 0 mg/kgbb/hari (E
0
), 50 mg/kgbb/hari (E
1
), 100 mg/kgbb/hari
(E
2
), 200 mg/kgbb/hari (E
4
), 300 mg/kgbb/hari (E
6
), dan 400 mg/kgbb/hari (E
8
).
Perlakuan kedua adalah pelatihan fisik yaitu: tanpa pelatihan fisik (P
0
) dan dengan
pelatihan fisik (P
1
), sehingga terdapat 12 kombinasi perlakuan. Rancangan
tersebut digambarkan pada Gambar 4.1.
4.2 Populasi, Sampel, dan Unit Penelitian
4.2.1 Populasi
1. Populasi target dalam penelitian ini adalah seluruh tikus Wistar (Rattus
norvegicus) jantan umur 12 minggu, berat badan 216g s.d. 258g.
2. Populasi terjangkau adalah seluruh tikus Wistar (Rattus norvegicus) jantan
umur 12 minggu, berat badan 216g s.d. 258g yang berada di lokasi penelitian
dan memenuhi kriteria inklusi.
4.2.2 Kriteria sampel
Kriteria inklusi sampel meliputi :
1. Tikus Wistar (Rattus norvegicus) jantan umur 12 minggu.
2. Berat badan berkisar antara 216g s.d. 258g.
Kriteria drop out sampel meliputi :
1. Sampel mati selama penelitian
53
Gambar 4.1
Rancangan Penelitian
Keterangan :
P : Populasi.
S : Sampel.
R : Random.
E
0
P
0
: Perlakuan ekstrak dosis 0 mg/kgbb/hari dan tanpa pelatihan fisik.
E
1
P
0
: Perlakuan ekstrak dosis 50 mg/kgbb/hari dan tanpa pelatihan fisik.
E
2
P
0
: Perlakuan ekstrak dosis 100 mg/kgbb/hari dan tanpa pelatihan fisik.
E
4
P
0
: Perlakuan ekstrak dosis 200 mg/kgbb/hari dan tanpa pelatihan fisik.
E
6
P
0
: Perlakuan ekstrak dosis 300 mg/kgbb/hari dan tanpa pelatihan fisik.
E
8
P
0
: Perlakuan ekstrak dosis 400 mg/kgbb/hari dan tanpa pelatihan fisik.
E
0
P
1
: Perlakuan ekstrak dosis 0 mg/kgbb/hari dan dengan pelatihan fisik.
E
1
P
1
: Perlakuan ekstrak dosis 50 mg/kgbb/hari dan dengan pelatihan fisik.
E
2
P
1
: Perlakuan ekstrak dosis 100 mg/kgbb/hari dan dengan pelatihan fisik.
E
4
P
1
: Perlakuan ekstrak dosis 200 mg/kgbb/hari dan dengan pelatihan fisik.
E
6
P
1
: Perlakuan ekstrak dosis 300 mg/kgbb/hari dan dengan pelatihan fisik.
E
8
P
1
: Perlakuan ekstrak dosis 400 mg/kgbb/hari dan dengan pelatihan fisik.
O.E
0
P
0
: Observasi Perlakuan ekstrak dosis 0 mg/kgbb/hari dan tanpa pelatihan fisik.
O.E
1
P
0
: Observasi Perlakuan ekstrak dosis 50 mg/kgbb/hari dan tanpa pelatihan fisik.
O.E
2
P
0
: Observasi Perlakuan ekstrak dosis 100 mg/kgbb/hari dan tanpa pelatihan fisik.
O.E
4
P
0
: Observasi Perlakuan ekstrak dosis 200 mg/kgbb/hari dan tanpa pelatihan fisik.
O.E
6
P
0
: Observasi Perlakuan ekstrak dosis 300 mg/kgbb/hari dan tanpa pelatihan fisik.
O.E
8
P
0
: Observasi Perlakuan ekstrak dosis 400 mg/kgbb/hari dan tanpa pelatihan fisik.
O.E
0
P
1
: Observasi Perlakuan ekstrak dosis 0 mg/kgbb/hari dan dengan pelatihan fisik.
O.E
1
P
1
: Observasi Perlakuan ekstrak dosis 50 mg/kgbb/hari dan dengan pelatihan fisik.
O.E
2
P
1
: Observasi Perlakuan ekstrak dosis 100 mg/kgbb/hari dan dengan pelatihan fisik.
O.E
4
P
1
: Observasi Perlakuan ekstrak dosis 200 mg/kgbb/hari dan dengan pelatihan fisik.
O.E
6
P
1
: Observasi Perlakuan ekstrak dosis 300 mg/kgbb/hari dan dengan pelatihan fisik.
O.E
8
P
1
: Observasi Perlakuan ekstrak dosis 400 mg/kgbb/hari dan dengan pelatihan fisik.
4.2.3 Unit penelitian
Jumlah unit penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ditentukan
dengan menggunakan persamaan Federer : (t-1) (r - 1) 15), di mana t adalah
banyaknya perlakuan dan r adalah jumlah replikasi (Montgomery, 2001). Dalam
54
penelitian ini t = 12, sehingga (12-1)(r-1) 15. Dengan memakai rumus tersebut
diperoleh jumlah r = 4 yang artinya replikasi dilakukan empat kali, sehingga
jumlah unit penelitian adalah 12 x 4 = 48 unit. Setiap unit terdiri atas satu ekor
tikus sehingga jumlah tikus yang digunakan adalah 48 ekor.
4.3 Variabel Penelitian
4.3.1 Variabel bebas
Variabel bebas berupa dosis ekstrak kulit buah manggis (Garcinia
mangostana L.) dosis 0 mg/kgbb/hari, 50 mg/kgbb/hari, 100 mg/kgbb/hari,
200 mg/kgbb/hari, 300 mg/kgbb/hari, dan 400 mg/kgbb/hari yang diberikan
selama empat minggu dan pelatihan fisik berupa renang dengan intensitas 70%
dari aktivitas fisik maksimal, lima kali per minggu, selama empat minggu.
4.3.2 Variabel tergantung
Variabel tergantung yang diukur dalam penelitian ini meliputi:
1. Kadar MDA darah
2. Kadar SOD darah
3. Kadar GPx darah
4.3.3 Variabel kendali
Variabel kendali dalam penelitian ini berupa:
1. Jenis kelamin sampel
2. Umur sampel
3. Berat sampel
55
4.3.4 Hubungan antar variabel
Hubungan antar variabel digambarkan sebagai berikut:
Gambar 4.2
Hubungan Antar Variabel Penelitian
4.3.5 Definisi operasional variabel
1. Ekstrak kulit buah manggis adalah ekstrak dari seluruh bagian kulit buah
manggis (Garcinia mangostana L.) yang diperoleh dari hasil ekstraksi
dengan pelarut ethanol 96%, yang diberikan pada tikus percobaan dengan
cara disonde dengan dosis 0 mg/kgbb/hari, 50 mg/kgbb/hari, 100
mg/kgbb/hari, 200 mg/kgbb/hari, 300 mg/kgbb/hari, dan 400 mg/kgbb/hari
selama empat minggu.
2. Pelatihan fisik adalah pelatihan renang dengan intensitas 70% dari aktivitas
fisik maksimal (43 menit dari tes pendahuluan sebelum perlakuan dimulai)
yaitu selama 30 menit, lima kali per minggu, selama empat minggu.
3. Aktivitas fisik maksimal adalah kemampuan melakukan renang bebas sekuat-
kuatnya sampai tenggelam yakni kepalanya tetap berada di bawah permukaan
air selama lima detik.
Kadar SOD dan GPx
Pelatihan fisik
Ekstrak kulit buah
manggis
Kadar MDA
56
4. Stres oksidatif adalah suatu kondisi ketidakseimbangan antara produksi
radikal bebas dengan antioksidan, yang ditentukan dengan mengukur kadar
MDA, SOD, dan GPx dari sampel darah tikus setelah perlakuan berakhir.
5. Malondialdehyde adalah hasil perusakan oksidatif oleh radikal bebas yang
ditentukan dari sampel darah tikus setelah perlakuan berakhir, dengan
menggunakan metode spektrofotometri menggunakan TBARS assay dan
dinyatakan dalam nmol/ml.
6. Superoxide dismutase adalah suatu enzim yang berfungsi sebagai antioksidan
endogen yang diukur dari sampel darah tikus setelah perlakuan berakhir,
dengan metode spektrofotometri menggunakan xanthine - xanthine oxidase
dan dinyatakan dalam persen.
7. Glutathione peroxidase adalah suatu enzim yang berfungsi sebagai
antioksidan endogen yang diukur dari sampel darah tikus setelah perlakuan
berakhir dengan menggunakan metode spektrofotometri berdasarkan oksidasi
NADPH dan dinyatakan dalam U/mL.
8. Jenis kelamin adalah tikus dengan jenis kelamin jantan yang terpilih sebagai
sampel penelitian.
9. Umur sampel adalah tikus umur 12 minggu yang dipergunakan sebagai
sampel penelitian yang ditentukan berdasarkan catatan kelahiran dari tempat
pemeliharaan hewan percobaan dan dinyatakan dalam minggu.
10. Berat sampel adalah tikus dengan berat badan 216g s.d. 258g yang
dipergunakan sebagai sampel penelitian yang ditentukan dengan cara
57
melakukan penimbangan dengan menggunakan timbangan elektrik dan
dinyatakan dalam gram.
4.4 Bahan Penelitian
1. Tikus Wistar (Rattus norvegicus) jantan umur 12 minggu, berat badan
216g s.d. 258g.
2. Buah manggis (Garcinia mangostana L.) yang diperoleh dari petani yang ada
di Desa Yehembang, Jembrana, Bali.
3. Reagen Pemeriksaan MDA, SOD, dan GPx , ethanol 96%.
4. Makanan tikus produksi PT Japfa comfeed Indonesia, dengan komposisi
protein 66%, lemak 7 %, serat kasar 6 %, Abu, 7 %, kalsium 1,1 %, phosfor
0,9%, dan air 12%.
4.5 Alat Penelitian
1. Kandang pemeliharaan hewan percobaan yang berukuran 45 x 35 x 20 cm
2. Perangkat untuk aktivitas renang tikus yang berukuran 70 x 60 x 60 cm
dengan ketinggian air 55 cm, dan suhu air 33
o
C.
3. Instrumen pemeriksaan kadar MDA, SOD dan GPx.
4.6 Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan di laboratorium Biologi Universitas Hindu Indonesia
Denpasar, Laboratorium Analisis Hasil Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian
UNUD, dan Laboratorium Pangan-Gizi Pusat Antar Universitas, UGM.
58
4.7 Prosedur Penelitian
1. Tikus diaklimatisasi selama satu minggu untuk menyesuaikan dengan
temperatur dan kelembaban ruangan penelitian.
2. Sampel tikus dibagi menjadi 12 perlakuan yakni; E
0
P
0
(perlakuan ekstrak
dosis 0 mg/kgbb/hari dan tanpa pelatihan fisik), E
1
P
0
(perlakuan ekstrak dosis
50 mg/kgbb/hari dan tanpa pelatihan fisik), E
2
P
0
(perlakuan ekstrak dosis 100
mg/kgbb/hari dan tanpa pelatihan fisik), E
4
P
0
(perlakuan ekstrak dosis 200
mg/kgbb/hari dan tanpa pelatihan fisik), E
6
P
0
(perlakuan ekstrak dosis 300
mg/kgbb/hari dan tanpa pelatihan fisik), E
8
P
0
(perlakuan ekstrak dosis 400
mg/kgbb/hari dan tanpa pelatihan fisik), E
0
P
1
(perlakuan ekstrak dosis 0
mg/kgbb/hari dan dengan pelatihan fisik), E
1
P
1
(perlakuan ekstrak dosis 50
mg/kgbb/hari dan dengan pelatihan fisik, E
2
P
1
(perlakuan ekstrak dosis 100
mg/kgbb/hari dan dengan pelatihan fisik), E
4
P
1
(perlakuan ekstrak dosis 200
mg/kgbb/hari dan dengan pelatihan fisik), E
6
P
1
(perlakuan ekstrak dosis 300
mg/kgbb/hari dan dengan pelatihan fisik), dan E
8
P
1
(perlakuan ekstrak dosis
400 mg/kgbb/hari dan dengan pelatihan fisik).
3. Tikus dipelihara dalam kandang masing-masing empat ekor tikus, diberi
makan dan minum ad libitum.
4. Sebelum diberikan perlakuan, tikus direnangkan secara maksimal untuk
mendapatkan data tentang aktivitas fisik maksimal yang dipakai sebagai dasar
dalam menentukan lama waktu pelatihan renang yaitu 70% dari aktivitas fisik
maksimal.
59
5. Tikus perlakuan dengan ekstrak kulit buah manggis dan tanpa pelatihan fisik
(E
1
P
0,
E
2
P
0,
E
4
P
0,
E
6
P
0,
dan E
8
P
0
) diberikan ekstrak kulit buah manggis dengan
dosis sesuai perlakuan selama empat minggu dengan cara disonde.
6. Ekstrak kulit buah manggis diperoleh dengan cara ekstraksi dengan ethanol
96%. Buah dicuci bersih kemudian dipisahkan antara kulit dan daging
buahnya. Kulit buah dipotong kecil-kecil kemudian diblender, selanjutnya
dikeringanginkan selama satu jam kemudian diblender lagi untuk
mendapatkan bahan dalam bentuk bubuk. Bahan kemudian dikeringanginkan
selama lima hari sehingga mendapatkan bahan dalam bentuk bubuk kering dan
dikemas vakum sebelum dianalisis lebih lanjut. Bubuk tersebut kemudian
dimacerasi dengan ethanol 96% selama 48 jam, dan diremaserasi lagi
sebanyak dua kali. Ekstrak kemudian disaring dengan kertas Whatman No 40.
Filtrat kemudian dipekatkan dalam rotary evapotarator pada temperatur 45
o
C
untuk mendapatkan ekstrak kental, dan selanjutnya dikeringkan dengan
menggunakan freeze dry.
7. Tikus perlakuan dengan ekstrak kulit buah manggis dan dengan pelatihan fisik
(E
0
P
1,
E
1
P
1,
E
2
P
1
, E
4
P
1,
E
6
P
1,
dan E
8
P
1
) diberikan ekstrak kulit buah manggis
dengan dosis sesuai perlakuan selama empat minggu serta direnangkan dalam
ember yang telah berisi air selama 30 menit, lima kali seminggu, selama
empat minggu.
8. Tikus perlakuan dengan ekstrak kulit buah manggis dosis 0 mg/kgbb/hari dan
tanpa pelatihan fisik (E
0
P
0
) diberikan aquades sebanyak 2 ml/kgbb.
60
9. Dua puluh empat jam setelah perlakuan berakhir, semua tikus direnangkan
sampai tenggelam yakni kepalanya tetap berada di bawah permukaan air
selama lima detik, kemudian sampel darah tikus segera diambil dari cantus
sinus orbitalis untuk diperiksa kadar MDA, SOD, dan GPx.
10. Pengukuran kadar MDA dilakukan dengan metode TBARS. Sebanyak 0,75 ml
asam fosfat dimasukan ke dalam tabung polypropylene 13 ml, selanjutnya
0,05 ml sampel plasma darah ditambahkan. Campuran tersebut kemudian
ditambahkan 0,25 ml larutan Thiobarbituric acid (TBA) 40 mM, diikuti
dengan 0,45 ml air kemudian dicampur dengan baik dan ditutup rapat.
Setelah dipanaskan dalam water bath selama 60 menit dengan suhu 100
o
C,
campuran selanjutnya didinginkan sampai mencapai suhu 30
o
C, kemudian
dimasukan ke dalam kolom Sep-Park C
18
. Sebelum digunakan, kolom dicuci
dengan 5 ml methanol dan air kemudian dibuang. Selanjutnya campuran
sampel dimasukan ke dalam kolom dan juga dibuang. TBA kemudian dielusi
dari kolom dengan cara menambahkan 4 ml methanol dan ditampung dalam
cuvet. Kepekatan warna dibaca dengan spektrofotometer pada panjang
gelombang 532 nm. Sebagai standar digunakan 1.1.3.3 tetraetoksipropana
(TEP) (Wuryastiti, 2000).
11. Pengukuran kadar SOD dilakukan dengan cara sebanyak 0,06 ml plasma
direaksikan dengan campuran yang terdiri atas 2,70 ml bufer Natrium-
karbonat yang mengandung 0,1mM EDTA (pH 10), 0,06 ml xantin 10mM,
0,03 ml bovine serum albumin (BSA) 0,5%, 0,03 ml NBT 2,5 mM.
Selanjutnya dilakukan penambahan xantin oksidase (0,04 unit). Absorbansi
61
yang dihasilkan setelah 30 menit diukur pada panjang gelombang 560 nm.
Kadar SOD (%) dihitung dengan menggunakan persamaan: (B-A/B) x 100%,
di mana A adalah absorbansi larutan sampel dan B adalah absorbansi larutan
kontrol (Sun et al., 1988; Kotan et al., 2011, Wrasiati, 2011).
12. Pengukuran kadar GPx dilakukan dengan cara, sebanyak 200 l plasma
ditambahkan 200 l buffer phosphat 0,1 M pH 7.0 yang mengandung 0,1 mM
EDTA, 200 l glutation tereduksi (GSH) 10 mM dan 200 l enzim glutation
reduktase. Kemudian diinkubasi selama 10 menit pada suhu 37
o
C,
ditambahkan 200 l NADPH 1,5 mM dan diinkubasi lagi selama tiga menit
pada suhu yang sama, ditambahkan 200 l H
2
O
2
1,5 mM. Absorbansi diukur
diantara waktu satu sampai dua menit dengan spektrofotometer pada panjang
gelombang 340 nm. Aktivitas enzim ditentukan dengan persamaan
(Kotan et al., 2011; Wrasiati, 2011):
Di mana :
Abs. : perubahan absorbansi
Vt : Volume total
Vs : Volume sampel
6,22 : Koefesien ekstrinsik NADPH
2 : 2 mol GSH setara dengan 1 mol NADPH
62
4.8 Alur Penelitian
Skema alur penelitian digambarkan pada Gambar 4.3.
Gambar 4.3
Alur Penelitian
4.9 Analisis Data
Analisis statistik dilakukan untuk melihat perbedaan antar perlakuan dengan
langkah-langkah sebagai berikut:
1. Uji Normalitas data dengan Shapiro-wilk pada selang kepercayaan 95%
(=0,05), yang bertujuan untuk mengetahui distribusi data. Jika nilai p 0,05
Populasi
Random
E
0
P
0 E
2
P
0
E
8
P
0 E
2
P
1
Analisis data
Sampel
Aklimatisasi satu minggu
Pengukuran Kadar MDA, SOD, dan GPx
Aktivitas Fisik Maksimal
E
4
P
0
E
0
P
1 E
1
P
1 E
1
P
0
Perlakuan
E
6
P
0 E
4
P
1 E
6
P
1
E
8
P
1
63
berarti data dikatakan berdistribusi normal tetapi sebaliknya jika nilai p 0,05
berarti data tidak berdistribusi normal.
2. Uji homogenitas data dengan Levene Test pada selang kepercayaan 95%
(=0,05), yang bertujuan untuk mengetahui varians data. Nilai nilai p0,05
berarti homogen tetapi apabila nilai p0,05 berarti data tidak homogen.
3. Data hasil penelitian yang menyebar normal dan varians sama, dianalisis
dengan Analisis Varians (ANOVA) pada selang kepercayaan 95%. Hasil
analisis varians yang menunjukan perbedaan nyata (p0,05), dilanjutkan
dengan uji Least Significant Difference (LSD) pada selang kepercayaan 95%.
4. Data hasil penelitian yang menyebar tidak normal atau tidak homogen,
dianalisis dengan analisis Generalized Linear Model (GLZ). Analisis ini
merupakan perluasaan dari General Linear Model (GLM) yang mengijinkan
data tidak berdistribusi normal, di mana variabel tergantung dihubungkan
dengan faktor-faktor (variabel bebas) melalui fungsi penghubung (link
function) selain distribusi normal. Sedangkan, GLM (seperti analisis varians
dan regresi linear) variabel tergantung dihubungkan dengan faktor-faktor
(variabel bebas) melalui identitas penghubung (identity link) yaitu distribusi
normal. Dalam analisis GLZ pengujian signifikansi didasarkan atas nilai Wald
Chi-Square dan uji lanjut menggunakan uji LSD pada selang kepercayaan
95%(Sawono, 2013).
5. Untuk menentukan dosis optimum ekstrak kulit buah manggis dalam
menurunkan kadar MDA darah serta meningkatkan kadar SOD dan GPx,
dilakukan dengan menggunakan persamaan regresi kuadratik
64
=
0
+
1
X +
2
X
2
, di mana X adalah dosis ekstrak. Dosis optimum
didapatkan dari Y = 0 (Prajitno, 1981), sehingga dari persamaan tersebut
didapatkan:
=
0
+
1
X +
2
X
2
y=
1
+ 2
2
X
y'= 0 = X
opt.
0 =
1
+ 2
2
X
-
1
X
opt
. =
2
2
6. Analisis statistik dilakukan menggunakan perangkat lunak SPSS.
7. Untuk mengetahui pengaruh langsung dan tidak langsung variabel bebas
terhadap variabel terikat maka dianalisis menggunakan analisis path dan
dikerjakan dengan bantuan program Smart Partial Least Square (SmartPLS).
65
BAB V
HASIL PENELITIAN
5.1 Karakteristik Subjek Penelitian
Hasil penelitian menunjukkan bahwa berat badan tikus Wistar yang
digunakan dalam penelitian ini memperlihatkan adanya peningkatan selama
penelitian berlangsung, seperti disajikan pada Gambar 5.1.
Gambar 5.1
Perkembangan Berat Badan Subjek Penelitian
5.2 Kadar MDA, SOD, dan GPx Darah Tikus Wistar Setelah Perlakuan
Ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.)
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak kulit buah manggis
(Garcinia mangostana L.) berpengaruh signifikan (p<0,05) terhadap kadar MDA,
SOD, dan GPx darah tikus Wistar, seperti disajikan pada Tabel 5.1.
66
Tabel 5.1
Pengaruh Ekstrak Kulit Buah Manggis dan Pelatihan Fisik Terhadap
MDA, SOD, dan GPx Darah Tikus Wistar
Variabel Sumber keragaman Wald chi-square Sig.
MDA
DOSIS 800,068 0,000
PELATIHAN 224,664 0,000
Blok 4,714 0,194
DOSIS * PELATIHAN 82,185 0,000
SOD
DOSIS 2641,834 0,000
PELATIHAN 746,362 0,000
Blok 4,112 0,250
DOSIS * PELATIHAN 403,502 0,000
GPx
DOSIS 12159,287 0,000
PELATIHAN 5263,397 0,000
Blok 5,962 0,113
DOSIS * PELATIHAN 5323,118 0,000
Rata-rata kadar MDA, SOD, dan GPx menunjukkan perbedaan secara
signifikan (p<0,05) antar dosis perlakuan. Kadar MDA semakin menurun,
sementara SOD dan GPx semakin meningkat dengan meningkatnya dosis ekstrak
yang diberikan, seperti disajikan pada Tabel 5.2.
Tabel 5.2
Rata-rata (SE) Kadar MDA, SOD, dan GPx Darah Tikus Wistar Setelah
Perlakuan Ekstrak Kulit Buah Manggis
DOSIS
(mg/kg bb)
MDA
(nmol/ml)
SOD
(%)
GPx
(U/ml)
0 8,500,30
a
52,400,39
a
14,620,11
a
50 7,500,26
b
57,620,42
b
16,410,12
b
100 4,770,17
c
63,900,47
c
25,810,19
c
200 3,910,14
d
71,980,53
d
29,100,21
d
300 3,490,12
e
75,900,56
e
31,040,23
e
400 2,780,10
f
81,350,60
f
34,970,25
f
Keterangan : Nilai rata-rata pada kolom yang sama dengan huruf berbeda, menunjukkan
perbedaan secara signifikan (p<0,05).
67
5.3 Kadar MDA, SOD, dan GPx Darah Tikus Wistar Setelah Pelatihan Fisik
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan fisik berpengaruh
signifikan (p<0,05) terhadap kadar MDA, SOD, dan GPx darah tikus Wistar
seperti disajikan pada Tabel 5.1. Rata-rata kadar MDA, SOD, dan GPx berbeda
secara signifikan antar perlakuan. Kadar MDA lebih tinggi pada perlakuan dengan
pelatihan fisik dibandingkan dengan tanpa pelatihan fisik, sementara SOD dan
GPx sebaliknya, seperti disajikan pada Tabel 5.3.
Tabel 5.3.
Rata-rata (SE) Kadar MDA, SOD, dan GPx Darah
Tikus Wistar Setelah Pelatihan Fisik
Perlakuan MDA
(nmol/ml)
SOD
(%)
GPx
(U/ml)
Tanpa pelatihan fisik 3,850,08
a
72,090,31
a
29,870,13
a
Dengan pelatihan fisik 5,880,12
b
61,170,26
b
19,430,08
b
Keterangan : Nilai rata-rata pada kolom yang sama dengan huruf berbeda, menunjukkan
perbedaan secara signifikan (p<0,05).
5.4 Kadar MDA, SOD, dan GPx Darah Tikus Wistar Setelah
Perlakuan Ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) dan
Pelatihan Fisik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kulit buah manggis dan
pelatihan fisik berpengaruh signifikan (p<0,05) terhadap kadar MDA, SOD, dan
GPx darah tikus Wistar seperti disajikan pada Tabel 5.1. Rata-rata kadar MDA
memperlihatkan adanya penurunan, sementara SOD dan GPx meningkat dengan
meningkatnya dosis ekstrak yang diberikan secara bersama-sama dengan
pelatihan fisik, seperti disajikan pada Tabel 5.4.
68
Tabel 5.4
Rata-rata (SE) Kadar MDA, SOD, dan GPx Setelah Perlakuan
Ekstrak Kulit Buah Manggis dan Pelatihan Fisik
Variabel Dosis
(mg/kg bb)
Pelatihan fisik
Tanpa pelatihan Dengan pelatihan
MDA
(nmol/ml)
0 6,420,32
aA
11,250,55
aB
50 5,860,29
aA
9,600,47
bB
100 3,390,17
bA
6,730,33
cB
200 2,890,14
cA
5,300,26
dB
300 3,040,15
bcA
4,020,20
eB
400 2,890,14
cA
2,680,13
fA
SOD
(%)
0 62,110,65
aA
44,200,46
aB
50 64,700,67
bA
51,310,53
bB
100 71,620,75
cA
57,000,59
cB
200 77,590,81
dA
66,780,70
dB
300 78,450,82
deA
73,440,76
eB
400 80,100,83
eA
82,610,86
fB
GPx
(U/ml)
0 24,790,25
aA
8,620,09
aB
50 26,640,27
bA
10,110,10
bB
100 30,750,32
cA
21,670,22
cB
200 31,920,33
dA
26,530,27
dB
300 32,700,34
deA
29,460,30
eB
400 33,510,34
eA
36,500,37
fB
Keterangan: 1. Nilai rata-rata dengan huruf berbeda menunjukkan perbedaan signifikan (p<0,05).
2. Huruf besar menunjukkan signifikansi ke arah baris, huruf kecil ke arah kolom.
Dari Tabel 5.4 terlihat bahwa ekstrak dosis 0 mg/kg bb sampai dengan 300
mg/kg bb mengakibatkan rata-rata kadar MDA lebih tinggi secara signifikan
(p<0,05) pada perlakuan dengan pelatihan fisik jika dibandingkan dengan tanpa
pelatihan fisik, sementara SOD dan GPx sebaliknya Namun demikian, ekstrak
dosis 400 mg/kg bb mengakibatkan rata-rata kadar MDA pada perlakuan
pelatihan fisik lebih rendah jika dibandingkan dengan perlakuan tanpa
pelatihan, tetapi perbedaan tersebut tidak sigifikan (p>0,05). Sementara itu
ekstrak dosis 400 mg/kg bb mengakibatkan kadar SOD dan GPx lebih tinggi
69
secara signifikan (p<0,05) pada perlakuan dengan pelatihan fisik jika
dibandingkan dengan tanpa pelatihan fisik.
Dosis optimum ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) dalam
menurunkan kadar MDA, serta meningkatkan kadar SOD dan GPx diperoleh dari
persamaan regresi kuadratik dan dihitung pada saat y= 0. Dalam kondisi tanpa
pelatihan fisik dosis optimum tersebut disajikan pada Gambar 5.2; 5.3, dan
Gambar 5.4. Sedangkan dalam kondisi pelatihan fisik disajikan pada Gambar 5.5;
5.6, dan Gambar 5.7
Gambar 5.2.
Garis Regresi Kuadratik Ekstrak Kulit Buah Manggis Dalam Menurunkan
Kadar MDA Darah Tikus Wistar Dalam Kondisi Tanpa Pelatihan Fisik.
Gambar 5.3.
Garis Regresi Kuadratik Ekstrak Kulit Buah Manggis Dalam Meningkatkan
Kadar SOD Darah Tikus Wistar Dalam Kondisi Tanpa Pelatihan Fisik
X
opt
.= 319,83 mg/kg bb
X
opt
.= 361,84 mg/kgbb
70
Gambar 5.4.
Garis Regresi Kuadratik Ekstrak Kulit Buah Manggis Dalam Meningkatkan
Kadar GPx Darah Tikus Wistar Dalam Kondisi Tanpa Pelatihan Fisik
Gambar 5.5
Garis Regresi Kuadratik Ekstrak Kulit Buah Manggis Dalam Menurunkan
Kadar MDA Darah Tikus Wistar dalam Kondisi Pelatihan Fisik.
Gambar 5.6.
Garis Regresi Kuadratik Ekstrak Kulit Buah Manggis Dalam Menurunkan
Kadar SOD Darah Tikus Wistar dalam Kondisi Pelatihan Fisik
X
opt
.=323,00 mg/kg bb
X
opt
.= 424,63 mg/kgbb
X
opt
.= 817,44 mg/kgbb
71
Gambar 5.7.
Garis Regresi Kuadratik Ekstrak Kulit Buah Manggis Dalam Menurunkan
Kadar GPx Darah Tikus Wistar dalam kondisi Pelatihan Fisik
Dari Gambar 5.2 terlihat bahwa dosis optimum ekstrak kulit buah manggis
(Garcinia mangostana L.) dalam menurunkan kadar MDA diperoleh dari
persamaan regresi kuadratik y'=6,470,03X
1
+0,0000469X
2
2
,
di mana X
1
dan X
2
adalah dosis ekstrak, dengan koefesien determinasi (R
2
) sebesar 0,803. Dosis
optimum dihitung pada saat y'=0 sehingga didapatkan dosis optimum sebesar
319,83 mg/kg bb.
Gambar 5.3 memperlihatkan persamaan regresi kuadratik
y'=61,509+0,11X
1
-0,000152X
2
2
dengan koefesien determinasi (R
2
) sebesar 0,958.
Dari persamaan tersebut dapat dihitung dosis optimum ekstrak kulit buah manggis
(Garcinia mangostana L.) dalam meningkatkan kadar SOD pada saat y'=0 yaitu
sebesar 361,84 mg/kg bb.
Dari Gambar 5.4 terlihat persamaan regresi kuadratik
y'=24,96+0,05X
1
-0,0000774X
2
2
dengan koefesien determinasi (R
2
) sebesar
0,898. Dari persamaan tersebut dapat dihitung dosis optimum ekstrak kulit buah
X
opt
.= 523 mg/kgbb
72
manggis (Garcinia mangostana L.) dalam meningkatkan kadar GPx yaitu pada
saat y'=0, sehingga didapatkan dosis optimum sebesar 323,00 mg/kg bb.
Dari Gambar 5.5 diketahui bahwa ekstrak kulit buah manggis (Garcinia
mangostana L.) dalam menurunkan kadar MDA darah tikus Wistar
dalam kondisi pelatihan fisik, diperoleh dari persamaan regresi kuadratik
y'=11,08-0,04X
1
+0,0000471X
2
2
dengan koefesien determinasi (R
2
) sebesar 0,964.
Dari persamaan tersebut dosis optimum dihitung pada saat y' = 0, sehingga dari
hasil perhitungan didapatkan dosis sebesar 424,63 mg/kgbb.
Gambar 5.6 memperlihatkan persamaan regresi kuadratik
y'=44,92+0,12X
1
-0,0000734X
2
2
dengan koefesien determinasi (R
2
) sebesar 0,981.
Dari persamaan tersebut dapat dihitung dosis optimum ekstrak kulit buah manggis
(Garcinia mangostana L.) dalam meningkatkan kadar SOD darah tikus Wistar
dalam kondisi pelatihan fisik adalah sebesar 817,44 mg/kgbb.
Dari Gambar 5.7 diketahui bahwa dosis optimum ekstrak kulit buah
manggis (Garcinia mangostana L.) dalam meningkatkan kadar GPx darah tikus
Wistar dalam kondisi pelatihan fisik dapat dihitung dari persamaan regresi
kuadratik y'=8,11+0,11X
1
-0,000105X
2
2
dengan koefesien determinasi (R
2
)
sebesar 0,949. Dari persamaan tersebut didapatkan dosis optimum sebesar
523 mg/kgbb.
5.5 Analisis Jalur Kadar MDA, SOD, dan GPx Darah Tikus Wistar Setelah
Perlakuan Ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) dan
Pelatihan Fisik.
Hasil analisis jalur menunjukkan bahwa kadar MDA darah tikus Wistar
dipengaruhi oleh ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) dan
73
pelatihan fisik dengan koefesien determinasi (R
2
) sebesar 0,779 atau 77,9%,
selebihnya yakni 22,1% dipengaruhi oleh faktor lainnya. Sedangkan kadar SOD
darah tikus Wistar 95,9% dipengaruhi oleh ekstrak kulit buah manggis (Garcinia
mangostana L.), pelatihan fisik, dan kadar MDA, selebihnya yakni 4,1%
dipengaruhi oleh faktor lain. Kadar GPx darah tikus Wistar 94,2% dipengaruhi
oleh ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.), pelatihan fisik, dan
kadar MDA, selebihnya yakni 5,8% dipengaruhi oleh faktor lain (Gambar 5.8).
Gambar 5.8.
Hasil Analisi Jalur Pengaruh Ekstrak Kulit Buah Manggis dan
Pelatihan Fisik Terhadap Kadar MDA, SOD dan GPx Darah Tikus Wistar
Ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) secara langsung
berpengaruh positif terhadap kadar SOD yakni sebesar 0,376, sedangkan
pengaruh tidak langsungnya yaitu melalui MDA adalah sebesar 0,459, sehingga
pengaruh totalnya menjadi 0,835. Pengaruh langsung maupun pengaruh total
tersebut signifikan (t
hitung
>t
tabel
; t
tabel (=0,05;df;47)
= 1,6779; t
hitung
pengaruh langsung
74
5,309; t
hitung
pengaruh total 14,05). Sementara itu pelatihan fisik secara langsung
berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kadar SOD yakni sebesar -0,140
(t
hitung
=2,425). Secara tidak langsung yakni melalui kadar MDA, pelatihan fisik
juga berpengaruh negatif terhadap kadar SOD yakni sebesar -0,283, sehingga
secara total berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kadar SOD yakni sebesar
-0,423 (t
hitung =
7,278). Sedangkan MDA berpengaruh negatif terhadap SOD
dengan nilai sebesar -0,611 dan signifikan (t
hitung
= 8,877) (Gambar 5.8, dan 5.9).
Gambar 5.9.
Nilai t
hitung
Hasil Analisi Jalur Pengaruh Ekstrak Kulit Buah Manggis
dan Pelatihan Fisik Terhadap Kadar MDA, SOD dan GPx Darah Tikus Wistar.
Ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) secara langsung
berpengaruh negatif terhadap kadar MDA darah tikus Wistar yakni sebesar -0,751
dan signifikan (t
hitung
= 11,426). Sedangkan pelatihan fisik secara langsung
75
berpengaruh positif terhadap kadar MDA yaitu sebesar 0,463 dan signifikan
(t
hitung
8,109) (Gambar 5.8, dan 5.9).
Ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) secara langsung
berpengaruh positif terhadap kadar GPx yakni sebesar 0,078, tetapi tidak
signifikan (t
hitung
<t
tabel
; t
tabel (=0,05;df;47)
= 1,6779; t
hitung
=1,164), sedangkan
pengaruh tidak langsungnya yaitu melalui MDA adalah sebesar 0,664, sehingga
pengaruh totalnya menjadi 0,742 dan signifikan (t
hitung
=11,235). Sementara itu
pelatihan fisik secara langsung berpengaruh negatif terhadap kadar GPx yakni
sebesar -0,058, tetapi tidak signifikan (t
hitung
=1,010). Secara tidak langsung yakni
melalui kadar MDA, pelatihan fisik juga berpengaruh negatif terhadap kadar GPx
yakni sebesar -0,409, sehingga secara total berpengaruh negatif terhadap kadar
GPx yakni sebesar -0,467 dan signifikan (t
hitung
= 7,195). Sedangkan MDA
berpengaruh negatif terhadap GPx dengan nilai sebesar -0,884 dan signifikan
(t
hitung
=13,015) (Gambar 5.8, dan 5.9).
76
BAB VI
PEMBAHASAN
6.1 Karakteristik Subjek Penelitian
Penelitian-penelitian biomedis umumnya dimulai dari penelitian secara
invitro. Jika hasil penelitian akan dimanfaatkan untuk kepentingan umat manusia,
diperlukan penelitian lanjutan secara invivo seperti menggunakan kultur sel atau
jaringan. Namun demikian, untuk mengamati, mempelajari, dan menyimpulkan
seluruh kejadian pada mahluk hidup secara utuh diperlukan hewan model. Sebelum
dimanfaatkan untuk kepentingan umat manusia, perlu diteliti dengan menyertakan
subjek manusia sebagai final test tube, tetapi relawan manusia secara etis hanya
boleh diikutsertakan jika hasil penelitian tersebut telah lolos uji laboratorium secara
tuntas, dilanjutkan dengan menggunakan hewan model untuk kelayakan dan
keamanannya (Ridwan, 2013).
Species hewan yang banyak dipilih di antaranya tikus, mencit, kelinci, anjing,
babi, kera. Namun demikian, penggunaan hewan model mempunyai keterbatasan
di antaranya pertama, adanya perbedaan anatomi maupun fisiologi akibat adanya
variasi genetik. Keterbatasan lain dari penggunaan hewan dalam penelitian adalah
kondisi yang terjadi pada manusia akan berbeda polanya jika kondisi tersebut
dibuat pada hewan model. Dengan demikian, jika hasil penelitian yang diperoleh
dari hewan model diterapkan pada manusia akan sedikit berbeda sehingga
memerlukan prinsip kehati-hatian dan adanya penelitian lebih lanjut (Gill, 2009).
Pada penelitian ini digunakan tikus wistar (Rattus norvegicus) jantan sebagai
hewan model dengan dasar pertimbangan bahwa hewan diberikan perlakuan
77
berupa ekstrak etanol kulit buah manggis (Garcinia magostana L.) yang masih
memerlukan penelitian lebih lanjut sampai diketahui tingkat keamanannya. Di
samping itu perlakuan juga berupa aktivitas fisik maksimal yaitu renang sampai
lelah sehingga secara etika tidak dapat dilakukan pada subjek manusia. Beberapa
penelitian tentang olahraga juga menggunakan tikus sebagai hewan model, seperti
penelitian Arslan et al. (20010, Senturk et al. (2001), Oztasan et al. (2004),
Ogonovszky et al. (2005), Mallikarjuna et al. (2009), Reddy et al. (2009), Pinho
et al. (2012), dan Lima et al. (2013). Sementara Silva et al. (2009) dan Barreto et
al. (2012) menggunakan mencit sebagai hewan model.
Penggunaan hewan dalam penelitian ini juga telah memenuhi standar etik
tentang kesejahteraan hewan, di antaranya prinsip 3 R yaitu; Replacement,
Reduction, dan Refinement. Replacement dalam hal ini adalah keperluan
memanfaatkan hewan percobaan sudah diperhitungkan secara seksama yaitu
didasarkan atas kajian pustaka yang relevan untuk menjawab pertanyaan
penelitian dan tidak dapat digantikan oleh mahluk hidup lain seperti sel atau biakan
jaringan. Reduction dalam hal ini adalah pemanfaatan hewan dalam penelitian
sesedikit mungkin, tetapi tetap mendapatkan hasil yang optimal. Pada penelitian ini
jumlah minimum telah dihitung menggunakan rumus Frederer yaitu (n-1) (t-1) >15,
dengan n adalah jumlah hewan yang diperlukan dan t adalah jumlah perlakuan
(Montgomery, 2001). Pada penelitian ini jumlah hewan yang digunakan sebagai
subjek sebanyak 48 ekor. Refinement adalah memperlakukan hewan percobaan
secara manusiawi dalam hal ini menerapkan lima prinsip kebebasan yaitu; pertama,
bebas dari rasa lapar dan haus; kedua, bebas dari ketidak-nyamanan; ketiga, bebas
78
dari rasa sakit, cedera, dan penyakit; keempat, bebas mengekspresikan perilaku
normal; dan kelima, bebas dari rasa takut dan tertekan (Ridwan, 2013).
Penggunaan hewan dalam penelitian ini telah pendapat persetujuan dari
Komite Etik Fakultas Kedokteran Universitas Udayana dengan nomor
943/UN.14.2/Litbang/2012.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa berat badan subjek penelitian meningkat
selama penelitian berlangsung. Rata-rata berat badan tikus pada masing-masing
blok penelitian sejak awal penelitian sampai penelitian berakhir menunjukkan pola
distribusi normal (p>0,05). Hal ini kemungkinan terjadi karena diterapkannya lima
prinsip kebebasan bagi hewan yang digunakan dalam penelitian sehingga
menciptakan suatu kondisi optimum bagi pertumbuhan dan perkembangannya.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penggunaan tikus dalam penelitian ini
layak secara etik karena tidak menimbulkan gangguan terhadap perkembangan berat
badan hewan tersebut.
6.2 Kadar MDA, SOD, dan GPx Darah Tikus Wistar Setelah Perlakuan
Ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.)
MDA merupakan senyawa dialdehida dengan rumus molekul C
3
H
4
O
2
, yang
dapat dihasilkan dari proses oksidasi asam lemak tidak jenuh oleh radikal bebas,
dan perubahan kadar MDA dapat digunakan sebagai biomarker kerusakan
membran sel. Membran sel terutama tersusun atas asam lemak tidak jenuh ganda.
Asam lemak tidak jenuh ganda tersebut lebih rentan terhadap radikal bebas
dibandingkan dengan asam lemak jenuh. Oksidasi asam lemak tidak jenuh ganda
akan menghasilkan sekitar 82% MDA sehingga MDA digunakan secara luas
sebagai biomarker kerusakan membran sel (Marciniak et al., 2009). Hasil
79
penelitian ini menunjukkan bahwa setelah perlakuan ekstrak kulit buah manggis
(Garcinia mangostana L.) dengan dosis 50 mg/kgbb, 100mg/kgbb, 200 mg/kgbb,
300 mg/kgbb dan 400 mg/kgbb per hari selama empat minggu, mengakibatkan
terjadinya penurunan kadar MDA darah tikus wistar secara signifikan (p<0,05)
(Tabel 5.2). Hal ini kemungkinan disebabkan oleh senyawa yang terkandung
dalam ekstrak kulit buah manggis bekerja sebagai antioksidan dengan cara
mendonorkan elektronnya kepada radikal bebas. Hasil penelitian ini didukung
oleh beberapa hasil penelitian invitro sebelumya yang menyebutkan bahwa
ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) mempunyai kemampuan
sebagai antioksidan (Jung et al., 2006; Weecharangsan et al., 2006; Chomnawang
et al., 2007; Haruenkit et al., 2007; Kosem et al., 2007; Zarena dan Sankar, 2009;
Ngawhirunpat et al., 2010; Palakawong et al., 2010; Pothitirat et al., 2010).
Dengan demikian hasil penelitian ini menegaskan bahwa ekstrak kulit buah
manggis mampu meredam terjadinya stres oksidatif yang terbentuk selama
aktivitas fisik maksimal.
Sifat antioksidan buah manggis dikaitkan dengan adanya bahan aktif terutama
dari kulit buah. Bahan aktif yang telah berhasil diidentifikasi dari kulit buah
manggis berupa sejumlah besar senyawa xanthone, di antaranya
8-hydroxycudraxanthone G, mangostingone [7-methoxy-2-(3-methyl-2-butenyl)-8-
(3-methyl-2-oxo-3-butenyl)-1,3,6-trihydroxyxanthone, cudraxanthone G,
8-deoxygartanin, garcimangosone B, garcinone D, garcinone E, gartanin,
1-isomangostin, -mangostin, -mangostin, mangostinone, smeathxanthone A,
dan tovophyllin A. Di antara senyawa xanthone, -mangostin dan -mangostin
80
merupakan komponen terbesar (Jung et al., 2006). Adanya gugus hidoksil (OH)
memungkinkan senyawa tersebut bekerja sebagai antioksidan dengan cara
mendonorkan elektronnya kepada radikal bebas untuk membentuk produk akhir
yang stabil sehingga tidak terjadi reaksi inisiasi atau propagasi lebih lanjut
(Middleton Jr. et al., 2000; Zarena dan Sankar, 2009).
Pada penelitian ini sampel buah manggis didapatkan dari sumber yang sama
sehingga kualitasnya relatif sama. Kualitas buah yang digunakan dalam penelitian
ini adalah buah dengan kulit mulus, indek kematangan empat yaitu kulit buah
berwarna merah keunguan dan indek kematangan lima yaitu kulit buah berwarna
ungu kemerahan (Setyabudi, 2009). Hal ini karena buah dengan kulit mulus lebih
disukai konsumen dan termasuk dalam kualitas ekspor. Hal ini didukung
oleh penelitian Kurniawati et al. (2010) bahwa walaupun kadar xanthone
berbeda dan tergantung pada kualitas buah, tetapi aktivitas antioksidan tidak
menunjukan perbedaan yang signifikan antar kualitas buah. Kadar xanthone
terbesar didapatkan pada buah dengan kulit burik atau kasar yakni sebesar
23,544 g/g ekstrak, sedangkan buah besar dengan kulit mulus mengandung
kadar xanthone sebesar 18,502 g/g ekstrak, buah kecil sebesar 20,434 g/g dan
buah dengan kulit yang mengandung getah kuning mempunyai kadar xanthone
sebesar 15,289 g/g ekstrak.
Pada penelitian ini ekstrak kulit buah manggis diperoleh melalui maserasi
dengan pelarut etanol 96%. Hal ini karena sesuai prinsip like dissolve like artinya
kelarutan akan terjadi apabila senyawa yang akan dilarutkan memiliki kepolaran
81
yang sama dengan pelarutnya. Senyawa xanthone yang terdapat dalam kulit buah
manggis termasuk senyawa golongan flavonoid yang bersifat polar sehingga akan
lebih mudah diperoleh dengan pelarut polar seperti etanol. Pelarut etanol memiliki
titik didih yang relatif rendah yakni 78,4
o
C sehingga mudah diuapkan dengan
rotary evaporator untuk mendapatkan ekstrak kental, dan pengeringan dengan
Freeze dry dapat menghilangkan residu etanol dalam ekstrak sehingga efek yang
ditimbulkannya bukan berasal dari residu pelarut tetapi dari senyawa yang
terkandung dalam ekstrak tersebut.
Beberapa penelitian lain yang menggunakan ekstrak dari tumbuhan juga
menunjukkan hasil yang serupa, di antaranya penggunaan ekstrak ataupun sirup
umbi ubi jalar ungu mampu menurunkan kadar MDA darah dan hati mencit
setelah pemberian beban fisik maksimal (Jawi et al., 2008), juga suplementasi
ekstrak biji anggur mampu menurunkan kadar MDA pada mencit (Shan et al.,
2010). Penelitian Mansouri et al. (2011) yang juga menggunakan ekstrak biji
anggur mampu menurunkan kadar MDA pada tikus Sprague-Dawley jantan
yang menderita diabetes mellitus. Chattopadhyay et al. (2011) menggunakan
ekstrak biji kelor (Moringa oleifera L.) untuk menurunkan kadar MDA tikus
wistar yang diinduksi logam Arsenic. Penelitian-penelitian tersebut menyebutkan
peranan dari senyawa yang terkandung dalam bahan tersebut mempunyai
kemampuan untuk meningkatkan aktivitas enzim antioksidan sehingga dapat
meredam radikal bebas.
Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa setelah perlakuan ekstrak kulit
buah manggis (Garcinia mangostana L.) dengan dosis 50 mg/kgbb, 100 mg/kgbb,
82
200 mg/kgbb, 300 mg/kgbb dan 400 mg/kgbb per hari selama empat minggu,
mengakibatkan terjadinya peningkatan kadar enzim SOD dan GPx darah tikus
Wistar secara signifikan (p<0,05) (Tabel 5.2). Hal ini kemungkinan dapat terjadi
karena senyawa yang terkandung dalam ekstrak kulit buah manggis (Garcinia
mangostana L.), di samping bekerja sebagai antioksidan dengan cara
mendonorkan elektronnya kepada radikal bebas (Zarena dan Sankar, 2009), juga
dapat bekerja sebagai inducer yang akan memicu ekspresi gen penyandi
antioksidan melalui aktivasi Nrf2 (Son et al., 2008). Senyawa tersebut
mengaktivasi Nrf2 secara langsung atau melalui serangkaian jalur yang
diperantari oleh interaksi dengan protein spesifik seperti PKC, p38, ERK, JNK,
dan PI3K. Dalam kondisi normal, Nrf2 terikat pada Keap1 dan terdapat dalam
sitoplasma bersama protein aktin sitoskeleton (Mann et al., 2007). Sebaliknya,
dalam kondisi terpapar oleh senyawa yang bertindak sebagai inducer, inducer
tersebut kemudian bereaksi dengan sistein pada Keap1 mengakibatkan pelepasan
Nrf2 dari Keap1. Nrf2 kemudian mengalami translokasi menuju nukleus dan
berikatan dengan ARE bersama protein sMaf untuk mengaktivasi ekspresi gen-
gen sitoprotektif seperti HO-1, Prx-1, Trx-1, xCT, GST, dan NQO-1 (Son et al.,
2008). Dengan demikian, hasil penelitian ini telah menunjukkan bahwa
peningkatan kadar enzim antioksidan SOD dan GPx adalah efek dari senyawa
yang terkadung dalam ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) dan
bekerja melalui mekanisme aktivasi Nrf2.
Hasil penelitian ini didukung oleh beberapa penelitian serupa yang
menunjukkan bahwa senyawa seperti epicatechin telah diketahui dapat memicu
83
ekspresi gen penyandi antioksidan melalui aktivasi Nrf2 (Granado-Serrano et al.,
2010; Shah et al., 2010), juga Curcumin dapat mengurangi kerusakan hati melalui
aktivasi Nrf2 (Farombi et al., 2008), biji broccoli yang mengandung glucosinolate
dapat menginduksi pembentukkan antioksidan dan protein detoksikasi melalui
aktivasi Nrf2 pada tikus (McWalter et al., 2004). Hasil serupa juga ditunjukkan
oleh beberapa penelitian lain di antaranya; penelitian yang menggunakan ekstrak
biji anggur untuk meningkatkan kadar SOD dan GPx, serta mampu mencegah
kelelahan pada mencit selama aktivitas fisik (Shan et al., 2010), juga mampu
meningkatkan aktivitas enzim SOD dan GPx pada tikus Sprague-Dawley jantan
yang menderita diabetes mellitus (Mansouri et al., 2011), curcumin juga mampu
meningkatkan aktivitas enzim SOD dan GPx tikus yang menderita kerusakan
hati akibat Aflatoxin B1 (El-Agamy, 2010), juga ekstrak biji kelor (Moringa
oleifera L.) mampu meningkatkan aktivitas enzim SOD tikus wistar yang
diinduksi logam Arsenic (Chattopadhyay et al., 2011). Sementara Kim et al.
(2005) menggunakan ekstrak ginseng (Panax ginseng) dengan dosis 2 g, tiga kali
sehari selama delapan minggu telah mampu meningkatkan kadar SOD darah pada
laki-laki sehat.
6.3 Kadar MDA, SOD, dan GPx Darah Tikus Wistar Setelah Pelatihan Fisik
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan fisik yang berupa renang 30
menit, lima kali per minggu selama empat minggu mengakibatkan terjadinya
peningkatan kadar MDA darah secara signifikan (p<0,05) dari 3,850,08 nmol/ml
menjadi 5,880,12 nmol/ml (Tabel 5.3). Hal ini kemungkinan disebabkan karena
takaran pelatihan yang tidak tepat, di mana intensitas pelatihan berlebih sementara
84
durasi kurang sehingga perlakuan tersebut lebih menyerupai olahraga akut.
Olahraga akut yaitu olahraga yang hanya dilakukan secara insidental, dengan kata
lain tidak dilaksanakan secara reguler atau terjadwal secara periodik. Menurut
Bompa (1994), intensitas 70% dari kemampuan maksimal tergolong ke dalam
intensitas intemediet sampai medium, dan sesuai konsep hormesis bahwa dosis
rendah akan mempunyai efek merangsang sementara dosis berlebih akan bersifat
toksik (Son et al., 2008). Namun demikian, intensitas 70% dari aktivitas maksimal
tampaknya terlalu tinggi sehingga menyebabkan produksi radikal bebas lebih
banyak. Hal ini didukung oleh penelitian Marini et al (2007) yang menemukan
adanya peningkatan kadar MDA pada tikus Sprague-Dawley yang dilatih
treadmill dengan intensitas ringan (55% VO
2max,
1 jam/hari, 3 kali/minggu, 14
minggu). Lambertucci et al. (2007) juga menyebutkan bahwa tikus wistar umur 2
bulan yang dilatih treadmill lima kali per minggu dengan intensitas 50% s.d. 60%
dari kemampuan maksimum selama 13 minggu telah menyebabkan peningkatan
kadar TBARS otot soleus secara signifikan. Castro et al. (2009) menyebutkan
bahwa efektivitas sistim antioksidan dalam mengimbangi produksi radikal bebas
mencapai kondisi jenuh pada aktivitas fisik dengan intensitas 70% dari denyut
jantung maksimal. Sementara itu durasi yang pendek tidak cukup untuk
menurunkan kadar MDA dan pelatihan tersebut menyerupai olahraga akut. Hal ini
didukung oleh penelitian Senturk et al. (2001) yang menemukan terjadinya
peningkatan peroksidasi lipid yang diukur dari TBARS eritrosit pada tikus wistar
setelah diberikan test sampai lelah, baik pada tikus yang tidak diberikan pelatihan
maupun yang diberikan pelatihan treadmill lima kali seminggu selama empat
85
minggu. Oztasan et al. (2004) menyebutkan bahwa kadar TBARS yang tinggi
tersebut diakibatkan karena durasi pelatihan yang lebih pendek, karena dari hasil
penelitiannya tidak ditemukan ada peningkatan kadar MDA eritrosit pada tikus
yang diberikan pelatihan treadmill lima kali seminggu selama delapan minggu
sedangkan tikus yang tidak diberikan pelatihan terjadi peningkatan kadar MDA
secara signifikan.
Kadar MDA yang lebih tinggi pada perlakuan dengan pelatihan fisik
dibandingkan tanpa pelatihan kemungkinan juga terjadi karena pelatihan yang
diberikan lebih menyerupai kondisi olahraga akut yang menyebabkan terjadinya
stres oksidatif. Hasil penelitian ini didukung oleh hasil penelitian Arslan et al.
(2001) yang menemukan adanya peningkatan kadar TBARS otot gastrocnemius
tikus Wistar secara signifikan setelah olahraga. Dengan demikian, dari hasil
penelitian ini dapat dikatakan bahwa kadar MDA yang lebih tinggi pada
perlakuan berupa pelatihan renang 30 menit, lima kali per minggu selama empat
minggu, mengindikasikan terjadinya peningkatan konsumsi oksigen yang pada
gilirannya memicu produksi radikal bebas. Hal ini terjadi karena radikal bebas
dapat terbentuk sebagai bagian integral dari proses oksidasi fosforilasi dalam
mitokondria. Oksidasi fosforilasi bertujuan membentuk energi (ATP) yang akan
digunakan untuk aktivitas fisik, sehingga semakin berat aktivitas fisik maka
semakin banyak ATP yang dibutuhkan dan pada gilirannya akan terbentuk
radikal bebas yang semakin banyak pula. Hal ini didukung oleh penelitian
Pinho et al. (2012) yang menunjukkan adanya peningkatan produksi radikal
superoxide (O
2

) berkaitan dengan peningkatan aktivitas kompleks enzim I, II,


86
III, dan IV setelah melakukan tes olahraga pada tikus yang tidak terlatih.
Kompleks enzim tersebut (terutama kompleks I dan III) dalam rantai transport
elektron merupakan tempat utama produksi radikal superoxide (O
2

) (Figueiredo
et al., 2008). Rantai transpor elektron mengkonsumsi lebih dari 90% dari oksigen
yang diambil oleh sel, dan sekitar 5% dari oksigen tersebut dikonversi menjadi
radikal bebas (Ngurah, 2007; Figueiredo et al., 2008; Marciniak et al., 2009).
Sebenarnya tubuh telah mempunyai kemampuan untuk menetralisir radikal
bebas dengan cara membentuk antioksidan endogen seperti SOD dan GPx.
Superoxide dismutase merupakan kelompok enzim yang dapat ditemukan dalam
sel (sitosol dan mitokondria) maupun dalam plasma yang berfungsi untuk
mengkatalisis perubahan anion superoxide (O
2

) menjadi hydrogen peroxide


(H
2
O
2
) (Zelko et al., 2002; Marciniak et al., 2009). Sedangkan GPx mengkatalisis
perubahan hydrogen peroxide (H
2
O
2
) menjadi H
2
O (Marciniak et al., 2009). Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa pelatihan renang yang diberikan pada tikus
wistar selama 30 menit, lima kali per minggu selama empat minggu
mengakibatkan terjadinya penurunan kadar SOD darah secara signifikan (p<0,05)
dari 72,090,31% menjadi 61,170,26%, sedangkan GPx turun dari 29,870,13
U/ml menjadi 19,430,08 U/ml (Tabel 5.3). Oztasan et al. (2004) juga
mendapatkan kadar SOD yang lebih rendah pada tikus Sprague-Dawley setelah
pelatihan treadmill 1,5 jam per hari, lima kali seminggu, selama delapan minggu,
tetapi GPx justru meningkat setelah pelatihan. Sedangkan Barreto et al. (2012)
menemukan peningkatan kadar SOD tetapi GPx tidak mengalami perubahan pada
mencit yang dilatih berenang dua kali sehari masing-masing selama 90 menit,
87
lima kali seminggu, selama lima minggu. Sementara itu Senturk et al. (2001)
tidak menemukan adanya perubahan kadar SOD eritrocyte pada tikus wistar
setelah pelatihan treadmill dengan kecepatan 25 meter per menit, 60 menit per
hari, lima kali seminggu, selama empat minggu.
Konsep hormesis bahwa dosis rendah akan mempunyai efek merangsang
sementara dosis berlebih akan bersifat toksik (Son et al., 2008), tampaknya dapat
menjelaskan kadar SOD dan GPx yang lebih rendah serta kadar MDA yang lebih
tinggi pada perlakuan dengan pelatihan fisik dibandingkan tanpa pelatihan. Ada
indikasi bahwa takaran pelatihan yang tidak tepat, di mana intensitas pelatihan
berlebih sementara durasi kurang sehingga perlakuan tersebut lebih menyerupai
olahraga akut. Kondisi ini mengakibatkan pelatihan tidak dapat dijadikan sebagai
mekanisme adaptasi untuk memicu ekspresi gen penyandi antioksidan melalui
aktivasi Nrf2 (Mann et al., 2007), sehingga enzim antioksidan tidak cukup untuk
meredam radikal bebas dengan cara mengkatalisis menjadi produk yang lebih
stabil. Dengan kata lain bahwa efek pelatihan tidak dapat melindungi ketika
diberikan aktivitas fisik maksimal. Hal ini didukung oleh hasil penelitian
Barreto et al. (2012) bahwa walaupun pelatihan dapat meningkatkan aktivitas
enzim antioksidan, tetapi tidak cukup untuk melindungi dari kerusakan oksidatif
ketika melakukan olahraga maksimal karena ketidakseimbangan respon enzim
SOD/CAT/GPx. Dengan demikian. dari hasil penelitian ini dapat dikatakan bahwa
pelatihan tidak mampu menurunkan terjadinya stres oksidatif.
88
6.4 Kadar MDA, SOD, dan GPx Darah Tikus Wistar Setelah Perlakuan
Ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) dan
Pelatihan Fisik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa walaupun pelatihan fisik meningkatkan
kadar MDA secara signifikan (p<0,05) (Tabel 5.3), tetapi pemberian ekstrak kulit
buah manggis (Garcinia mangostana L.) bersama-sama dengan pelatihan fisik
ternyata mampu menurunkan kadar MDA darah tikus Wistar secara signifikan
(p<0,05), bahkan pada dosis 400 mg/kgbb, kadar MDA tercatat lebih rendah pada
perlakuan dengan pelatihan fisik dibandingkan tanpa pelatihan fisik, walaupun
tidak signifikan (p>0,05) (Tabel 5.4). Hal ini berarti bahwa ekstrak kulit buah
manggis (Garcinia mangostana L.) yang diberikan secara bersamaan dengan
pelatihan fisik mempunyai peran besar dalam meredam radikal bebas yang
terbentuk selama pelatihan tersebut. Hal ini kemungkinan terjadi karena senyawa
yang terdapat dalam ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.)
bekerja sebagai antioksidan dengan cara mendonorkan elektronnya kepada radikal
bebas sehingga tidak terjadi reaksi inisiasi atau propagasi lebih lanjut dan
terbentuk produk akhir yang stabil (Middleton Jr. et al., 2000; Zarena dan Sankar,
2009). Hasil penelitian ini didukung oleh beberapa hasil penelitian invitro
sebelumnya yang menyebutkan bahwa ekstrak kulit buah manggis (Garcinia
mangostana L.) mempunyai kemampuan sebagai antioksidan (Jung et al., 2006;
Weecharangsan et al., 2006; Chomnawang et al., 2007; Haruenkit et al.,2007;
Kosem et al., 2007; Zarena dan Sankar, 2009; Ngawhirunpat et al., 2010;
Palakawong et al., 2010; Pothitirat et al., 2010). Hasil analisis jalur juga
menunjukan bahwa peran ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.)
89
dalam menurunkan kadar MDA lebih besar jika dibandingkan peran pelatihan
fisik dalam meningkatkan MDA, yakni 0,751 dibandingkan 0,463 (Gambar 5.8).
Kekuatan peredaman radikal bebas meningkat dengan meningkatnya dosis
ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) yang diberikan pada tikus
Wistar dan ditunjukkan dengan semakin menurunnya kadar MDA secara
signifikan (p<0,05) (Tabel 5.2, dan 5.4), namun demikian dosis optimum dalam
menurunkan kadar MDA dalam kondisi tanpa disertai pelatihan fisik tercapai pada
dosis 319,83 mg/kgbb (Gambar 5.2), sementara itu jika dipergunakan secara
bersama-sama dengan pelatihan fisik sebesar 424,63 mg/kgbb (Gambar 5.5). Hal
ini kemungkinan karena ekstrak dengan dosis tinggi akan bekerja sebagai
prooksidan, sehingga justru akan meningkatkan kadar MDA darah. Aktivitas
prooksidan dapat terjadi akibat kemampuan senyawa polyphenol mereduksi
ion ferri (Fe
+3
) menjadi ion ferro (Fe
+2
) yang berperan dalam pembentukan
radikal hidroksil (OH

) melalui reaksi fenton (Perron dan Brumaghim, 2009).


Aktivitas prooksidan juga terlihat pada penggunaan quercetin dosis tinggi
(Meng et al., 2013).
Radikal bebas juga dapat diredam oleh antioksidan endogen seperti SOD dan
GPx. Hasil penelitian menunjukkan bahwa walaupun pelatihan fisik menurunkan
kadar enzim SOD dan GPx (Tabel 5.3), tetapi pemberian ekstrak kulit buah
manggis (Garcinia mangostana L.) yang diberikan secara bersamaan dengan
pelatihan fisik mampu meningkatkan aktivitas enzim SOD dan GPx secara
signifikan (p<0,05), bahkan pada dosis 400 mg/kgbb kadar enzim SOD dan GPx
tercatat secara signifikan (p<0,05) lebih tinggi pada perlakuan dengan pelatihan
90
fisik dibandingkan tanpa pelatihan fisik (Tabel 5.4). Hal ini kemungkinan karena
senyawa yang terkandung dalam ekstrak kulit buah manggis (Garcinia
mangostana L), disamping bekerja sebagai antioksidan dengan cara mendonorkan
elektronnya kepada radikal bebas, juga dapat bekerja sebagai inducer yang akan
memicu ekspresi gen penyandi antioksidan melalui aktivasi Nrf2 (Son et al.,
2008). Beberapa penelitian serupa sebelumnya juga menunjukan hasil yang sama,
misalnya penelitian Belviranli et al. (2012) yang menggunakan ekstrak biji anggur
100 mg/kg per hari selama enam minggu pada tikus SpragueDawley yang dilatih
dengan treadmill dengan kecepatan 25 m per menit, 45 menit per hari, lima kali
seminggu, selama 6 enam minggu mampu menurunkan MDA, meningkatkan
SOD dan GPx. Sementara pada olahraga akut, pemberian proantosianidin yang di
ekstrak dari biji anggur pada mencit dengan dosis 200 mg/kg/hari selama dua
minggu juga dapat menurunkan kadar MDA meningkatkan SOD dan GPx secara
signifikan (Shan et al., 2010), juga ekstrak umbi ubi jalar ungu atau sirup umbi
ubi jalar ungu dapat menurunkan kadar MDA (Jawi et al., 2008).
Ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) yang diberikan secara
bersamaan dengan pelatihan fisik sampai dengan dosis 300 mg/kgbb,
menunjukkan bahwa perlakuan dengan pelatihan fisik masih memiliki kadar
MDA yang lebih tinggi serta SOD dan GPx yang lebih rendah secara signifikan
(p<0,05) dibandingkan dengan tanpa pelatihan, tetapi pada dosis 400 mg/kgbb
terjadi hal yang sebaliknya yakni perlakuan dengan pelatihan fisik tercatat
memiliki kadar enzim SOD dan GPx lebih tinggi secara signifikan (p<0,05)
dibandingkan dengan tanpa pelatihan, demikian juga kadar MDA, walaupun
91
secara statistik tidak signifikan (p>0,05) (Tabel 5.4). Hal ini berarti bahwa pada
dosis 400 mg/kgbb penggunaan ekstrak kulit buah manggis (Garcinia
mangostana L.) secara bersama-sama dengan pelatihan fisik memperlihatkan
hasil yang lebih baik jika dibandingkan dengan penggunaan ekstrak tanpa
pelatihan. Dengan kata lain, jika ekstrak diberikan secara bersama-sama dengan
pelatihan fisik maka efek lebih baik terlihat pada dosis 400 mg/kg bb.
Secara umum dapat dikatakan bahwa walaupun penggunaan antioksidan
dalam olahraga masih belum mampu meningkatkan prestasi atlit (Harjanto, 2006),
tetapi hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian ekstrak kulit buah
manggis (Garcinia mangostana L.) secara bersama-sama dengan pelatihan fisik
mempunyai efek yang menguntungkan karena dapat meredam radikal bebas
dengan cara mendonorkan elektronnya kepada radikal bebas serta meningkatkan
aktivitas enzim antioksidan melalui mekanisme aktivasi Nrf2, dan efek
menguntungkan tersebut terlihat pada pemberian dosis 400 mg/kgbb.
6.5 Analisis Jalur Kadar MDA, SOD, dan GPx Darah Tikus Wistar Setelah
Perlakuan Ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) dan
Pelatihan Fisik
Hasil analisis jalur menunjukkan bahwa ekstrak kulit buah manggis
(Garcinia mangostana L.) dan pelatihan fisik mempengaruhi kadar SOD dan
GPx, di mana pengaruh tersebut sebagian besar terjadi secara tidak langsung
yakni melalui MDA (Gambar 5.8). Pengaruh tidak langsung tersebut telah
mengindikasikan adanya peranan radikal bebas dalam pembentukan enzim
antioksidan melalui mekanisme aktivasi Nrf2 (Mann et al., 2007). Namun
92
demikian, radikal bebas ini ada di bawah kendali ekstrak kulit buah manggis agar
tidak melebihi batas yang dapat ditolerir tubuh sehingga dapat dijadikan sebagai
mekanisme adaptasi untuk memicu ekspresi gen penyandi antioksidan melalui
mekanisme aktivasi NRf2, karena sesuai konsep hormesis bahwa dosis rendah
akan mempunyai efek merangsang sementara dosis berlebih akan bersifat toksik
(Son et al., 2008). Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian bahwa dalam situasi
tanpa pemberian ekstrak kulit buah manggis, pelatihan telah meningkatkan kadar
MDA serta menurunkan SOD dan GPx secara signifikan (p<0,05) (Tabel 5.3).
Sedangkan, pelatihan fisik yang disertai pemberian ekstrak kulit buah manggis
telah menurunkan kadar MDA, serta meningkatkan SOD dan GPx secara
signifikan (p<0,05) (Tabel 5.4). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa
pemberian ekstrak kulit buah manggis bersama-sama dengan pelatihan fisik
berguna untuk meredam radikal bebas sehingga mencapai dosis yang dapat
bertindak sebagai inducer untuk memicu ekspresi gen penyandi antioksidan
melalui mekanisme aktivasi Nrf2, sementara pelatihan fisik tanpa disertai
pemberian ekstrak kulit buah manggis menyebabkan terjadinya stres oksidatif.
Kadar SOD darah tikus Wistar 95,9% dipengaruhi oleh ekstrak kulit buah
manggis (Garcinia mangostana L.), pelatihan fisik, dan kadar MDA, selebihnya
yakni 4,1% dipengaruhi oleh faktor lain. Sementara itu, kadar GPx 94,2%
dipengaruhi oleh ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.), pelatihan
fisik, dan kadar MDA, selebihnya yakni 5,8% dipengaruhi oleh faktor lain. Hal ini
mengindikasikan bahwa terjadi interaksi antara pelatihan fisik dengan ekstrak
kulit buah manggis untuk menimbulkan efek bersama yakni menurunkan stres
93
oksidatif melalui penurunan MDA serta peningkatan baik SOD maupun GPx, di
mana peran ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) lebih besar
dibandingkan pelatihan.
Secara langsung ekstrak kulit buah manggis dan pelatihan fisik
mempengaruhi kadar enzim SOD dan GPx di mana peran pelatihan lebih kecil
bahkan tidak signifikan (T
hitung
< T
tabel
) terhadap GPx, jika dibandingkan dengan
ekstrak kulit buah manggis yakni 0,140 dibandingkan 0,376 pada pembentukan
SOD, dan 0,058 dibandingkan 0,078 pada pembentukan GPx (Gambar 5.8).
Secara tidak langsung yakni melalui MDA, ekstrak kulit buah manggis dan
pelatihan fisik juga mempengaruhi SOD dan GPx di mana pengaruh ekstrak lebih
besar jika dibandingkan pelatihan fisik yakni 0,459 dibandingkan 0,283 pada
pembentukan SOD, dan 0,664 dibandingkan 0,409 pada pembentukan GPx. Hal
ini berarti bahwa pemberian ekstrak kulit buah manggis selama masa pelatihan
fisik mempunyai efek yang menguntungkan karena secara langsung mampu
meredam radikal bebas dengan cara mendonorkan elektronnya kepada radikal
bebas (Zarena dan Sankar, 2009), serta membentuk enzim SOD dan GPx dengan
cara memicu ekspresi gen penyandi antioksidan melalui aktivasi Nrf2 (Son et al,
2008), sedangkan secara tidak langsung yakni melalui MDA juga mampu
membentuk SOD dan GPx dengan mekanisme yang serupa yakni melalui aktivasi
Nrf2 (Mann et al., 2007).
6.6 Kebaharuan Penelitian (Novelty)
Temuan baru penelitian ini adalah ekstrak kulit buah manggis (Garcinia
mangostana L.) dapat menurunkan stres oksidatif. Mekanisme patologisnya
94
adalah secara langsung meredam radikal bebas serta meningkatkan enzim SOD
maupun GPx. Disamping itu mekanisme patologisnya juga sebagai akibat dari
peningkatan aktivitas enzim SOD dan GPx secara tidak langsung melalui
hambatan pembentukan MDA.
Pada penelitian ini ditemukan bahwa ekstrak dosis 400 mg/kgbb memberikan
peran penurunan stres oksidatif yang terbaik pada tikus wistar yang diberikan
aktivitas fisik maksimal.
6.7 Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini mempunyai keterbatasan di antaranya :
1. Penelitian telah berhasil membuktikan bahwa ekstrak kulit buah manggis
mempunyai kemampuan sebagai antioksidan secara invivo, tetapi senyawa
aktif yang berperan belum dapat diketahui secara pasti.
2. Penelitian telah berhasil membuktikan bahwa ekstrak kulit buah manggis
mampu menurunkan stres oksidatif pada tikus wistar jantan umur 12 minggu,
tetapi belum dapat melihat pengaruh yang sama pada tikus wistar dengan jenis
kelamin dan umur yang berbeda.
95
BAB VII
SIMPULAN DAN SARAN
7.1 Simpulan
Dari hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan hal sebagai berikut:
1. Ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) dapat menurunkan
kadar MDA darah tikus Wistar dari 8,500,30 nmol/ml dalam kondisi tanpa
pemberian ekstrak sampai menjadi 2,780,10 nmol/ml pada pemberian
ekstrak dosis 400 mg/kg bb.
2. Ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) dapat meningkatkan
kadar enzim SOD dan GPx darah tikus Wistar. SOD meningkat dari
52,400,39% dalam kondisi tanpa pemberian ekstrak sampai menjadi
81,350,60% pada pemberian ekstrak dosis 400 mg/kg bb, sedangkan GPx
meningkat dari 14,620,11 U/ml dalam kondisi tanpa pemberian ekstrak
sampai menjadi 34,970,25 U/ml pada pemberian ekstrak dosis 400 mg/kg bb.
3. Pelatihan fisik intensitas 70% dari aktivitas fisik maksimal, lima kali per
minggu, selama empat minggu, tidak dapat menurunkan kadar MDA darah
tikus Wistar. MDA meningkat dari 3,850,08 nmol/ml menjadi 5,880,12
nmol/ml.
4. Pelatihan fisik intensitas 70% dari aktivitas fisik maksimal, lima kali per
minggu, selama empat minggu, tidak dapat meningkatkan kadar enzim SOD
dan GPx darah tikus Wistar. SOD menurun dari 72,090,31% menjadi
61,170,26%, sedangkan GPx menurun dari 29,870,13 U/ml menjadi
19,430,08 U/ml
96
5. Ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) dan pelatihan fisik
intensitas 70% dari aktivitas fisik maksimal, lima kali per minggu, selama
empat minggu, dapat menurunkan kadar MDA darah tikus Wistar dari
11,250,55 nmol/ml dalam kondisi pelatihan fisik tanpa pemberian ekstrak
sampai menjadi 2,680,13 nmol/ml pada pelatihan fisik disertai pemberian
ekstrak dosis 400 mg/kg bb.
6. Ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) dan pelatihan fisik
intensitas 70% dari aktivitas fisik maksimal, lima kali per minggu, selama
empat minggu, dapat meningkatkan kadar enzim SOD dan GPx darah tikus
Wistar. SOD meningkat dari 44,200,46% dalam kondisi pelatihan fisik tanpa
pemberian ekstrak sampai menjadi 82,610,86% pada pelatihan fisik disertai
pemberian ekstrak dosis 400 mg/kg bb, sedangkan GPx meningkat dari
8,620,09 U/ml dalam kondisi pelatihan fisik tanpa pemberian ekstrak sampai
menjadi 36,500,37 U/ml pada pelatihan fisik disertai pemberian ekstrak dosis
400 mg/kg bb.
7. Dosis optimum ekstrak kulit buah manggis dalam menurunkan kadar MDA
darah tikus Wistar dalam kondisi tanpa pelatihan fisik adalah 319,83 mg/kgbb,
sedangkan dalam kondisi pelatihan fisik adalah 424,63 mg/kgbb. Dosis
optimum ekstrak kulit buah manggis dalam meningkatkan kadar enzim SOD
dan GPx dalam kondisi tanpa pelatihan fisik masing-masing adalah 361,84
mg/kgbb dan 323,00 mg/kgbb, sedangkan dalam kondisi pelatihan fisik
masing-masing adalah 817,44 mg/kgbb dan 523 mg/kgbb.
97
7.2 Saran-Saran
Beberapa penelitian lanjutan yang dapat dilakukan diantaranya adalah:
1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang kandungan bahan aktif kulit
buah manggis (Garcinia mangostana L.) yang berasal dari berbagai daerah
sehingga didapatkan informasi lengkap tentang khasiatnya sebagai bahan obat.
2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang manfaat kulit buah manggis
(Garcinia mangostana L.) yang dipersiapkan secara tradisional (dalam bentuk
jus kulit buah manggis) sehingga dapat meyakinkan masyarakat luas.
98
DAFTAR PUSTAKA
Adiputra, N. 2010. Kesehatan dan Kebugaran Pekerja/Calon Pekerja: Focus pada
Low Back Pain dan Pencegahannya serta Peranan Dokter Umum. Seminar
Continuing Professional Development (CPD) Kesehatan dan Kebugaran
Seksual serta General Imaging Check up Terkini pada Pekerja/Calon
Pekerja Tanggal 28 Agustus 2010. Universitas Udayana. Denpasar
Aguil, A., Tauler, P., Fuentespina, E., Tur, J. A., Cordova, A., dan Pons, A.
2005. Antioxidant Respon to Oxidative Stress Induced by Exhaustive
Exercise. Physiology & Behaviour. 84: 1-7.
Akao, Y., Nakagawa, Y., Iinuma, M., dan Nozawa, Y. 2008. Anti-Cancer Effects
of Xanthones from Pericarps of Mangosteen Int. J. Mol. Sci. 9: 355-70
Akakoyun, F. 2010. Changes in Serum Lipid Profile Following Moderate
Exercise. African Journal of Pharmacy and Pharmacology. 4(11) : 829-33
Arslan, S., Erdem, S. Kilinc, K., Sivri, A., Tan, E., dan Hascelik, H. Z. 2001.
Free radical Change in rat Muscle Tissue after Exercise. Rheumatol Int.
20: 109 - 12.
Baird, L., Albena, T., dan Dinkova-Kostova. 2011. The Cytoprotective Role of the
Keap1Nrf2 Pathway. Arch Toxicol. 85:24172
Baker, J. S., McCormick, M. C., dan Robergs, R. A. 2010. Interaction Among
Skeletal Muscle Metabolic Energy Systems During Intense Exercise. Journal
of Nutrition and Metabolism. 2010: 1-13.
Barreto, T. O., Cleto, L. S., Gioda, C. R, Silva, R. S., Azevedo, A. C. C., Franco,
J. d. S., Magalhaes, J. C. d., Penaforte, C. L., Pinto, K. M. d. C., Cruz, J. d.
S., dan Vieira, E. R. 2012. Swim Training does not Protect Mice from
Skeletal Muscle Oxidative Damage Following a Maximum Exercise Test.
Eur J Appl Physiol 112: 252330.
Belviranli, M., Gokbel, H., Okudan, N., dan Basarali, K. 2012. Effects of Grape
Seed Extract Supplementation on Exercise-Induced Oxidative Stress in Rats.
British Journal of Nutrition. 108: 24956
Blomstrand, E., dan Saltin, B. 1999. Effect of Muscle Glycogen on Glucose,
Lactate and Amino Acid Metabolism During Exercise and Recovery in
Human Subjects. Journal of Physiology. 154 (1): 293-302
Bompa, T. O. 1994. Theory and Methodology of Training:The Key to Athletic
Performance. 3
rd
. ed. Iowa: Kendall/Hunt Publishing Company. p: 57-70.
Botjje, W. G., Iqbal, M., Pumford, N. R., Ojano-Dirain, C., dan Lassiter, K. 2004.
Role of Mitochondria in The Phenotypic Expression of Feed Efficiency.
Journal of Applied Poultry Research. 13 (1): 94-105
Burneiko, R. C., Diniz, Y. S. A., Faine. L. A., Galhardi, C. M., Padovani, C. R.,
Novelli, E. L. B., dan Cicogna, A. C. 2004. Impact of The Training Program
on Lipid Profil and Cardiac Health. Biol. Res. 37: 53-9.
99
Castro, M. A. C. de., Neto, F. F. C., Lima, L. M. C., Silva, F.M. da., Oleiveira, R.
J. de., dan Zanesco. 2009. Production of Free Radical and Catalase
Activity During Acute Exercise Training in Young Men. Biology of Sport.
26 (2): 113-8.
Chang, H. F., Huang, W. T., Chen, H. J., dan Yang, L. L. 2010. Apoptotic Effects
of -Mangostin from The Fruit Hull of Garcinia mangostana on Human
Malignant Glioma Cells. Molecules. 15: 8953-66.
Chattopadhyay, S., Maiti, S., Maji, G., Deb, B., Pan, B., dan Ghosh, D. 2011.
Protective Role of Moringa Oleifera (Sajina) Seed on Arsenic-Induced
Hepatocellular Degeneration in Female Albino Rats. Biol. Trace. Elem Res.
142: 20012
Chitchumroonchokchai, C., Riedl, K. M., Suksumrarn, S., Clinton, S. K.,
Kinghorn, A. D., dan Failla, M. L. 2012. Xanthones in Mangosteen Juice are
Absorbed and Partially Conjugated by Healthy Adults. The Journal of
Nutrition. 142: 67580
Chivapat, S., Chavalittumrong, P., Wongsinkongman, P., Phisalpong, C., dan
Rungsipipat, A. 2011. Chronic Toxicity Study of Garcinia mangostana Linn.
Pericarp Extract. Thai. J. Vet. Med. 41(1): 45-53
Chomnawang, M. T., Surassmo, S., Nukoolkarn, V. S., dan Gritsanapan, W.,
2007. Effect of Garcinia mangostana on Inflammation Caused by
Propionibacterium acnes. Fitoterapia. 78 : 4018
Dirjen Hortikultura. 2011. Strategi Peningkatan Kualitas dan Kuantitas
Hortikultura untuk Ekspor. Kementerian Pertanian RI. Jakarta.
El-Agamy, D. S. 2010. Comparative Efects of Curcumin and Resveratrol on
Aflatoxin B1-Induced Liver Injury in Rats. Arch Toxicol. 84:38996
Farombi, E. O., Shrotriya, S., Na, H. K., Kim, S. H., dan Surh, Y. J. 2008.
Curcumin Attenuates Dimethylnitrosamine-Induced Liver Injury in Rats
Through Nrf2-Mediated Induction of Heme Oxygenase-1. Food and
Chemical Toxicology. 46: 127987
Figueiredo, P. A., Mota, M.P., Appell, H.J., dan Duarte, J. A. 2008. The Role of
Mitochondria in Aging of Skeletal Muscle. Biogerontology. 9: 6784
Gaeini, A. A., Rahnama, N., dan Hamedinia, M. R. 2006. Effect of Vitamin E
Supplementation on Oxidative Stress at Rest and After Exercise to
Exhaustion in Athletic Students. J. Sports Med. Phys. Fitness. 46: 458-61.
George, B. O., dan Osharechiren, O. I. 2009. Oxidative Stress and Antioxidant
Status in Sportsmen Two Hours after Strenuous Exercise and in Sedentary
Control Subjects. African Journal of Biotechnology. 8 (3): 480-3
Gill, L. 2009. The Validity of Animal Experiments in Medical Research.
RSDA 1:161-8
100
Giriwijoyo, H .Y. S. S., dan Ali. H. M. M. 2005. Ilmu Faal Olahraga.Fungsi
Tubuh Manusia pada Olahraga. Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung.
Golden, N. 2009. Peroksidasi Lipid Membran Sel Pascainjeksi FeCl3
Intrakortikal Meningkatkan Kejadian Kejang pada Tikus Wistar Muda.
Disertasi. Universitas Udayana. Denpasar.
Gomez-Cabrera, M. C., Martnez, A., Santangelo, G., Pallardo, F. V., Sastre, J.,
dan Vin, J. 2006. Oxidative Stress in Marathon Runner. Interest of
Antioxidant Supplementation. British Journal of Nutrition. 96 (Suppl. 1): 3-3
Gomez-Cabrera, M. C., Domenech, E., dan Via, J. 2008. Moderate Exercise is
An Antioxidant: Upregulation of Antioxidant Genes by Training. Free
Radical Biology & Medicine. 44: 126 - 31
Granado-Serrano, A. B., Martn, M. A., Haegeman, G., Goya, L., Bravo, L., dan
Ramos, S. 2010. Epicatechin Induces NF-kB, Activator Protein-1 (AP-1) and
Nuclear Transcription Factor Erythroid 2p45-related factor-2 (Nrf2) via
Phosphatidylinositol-3-Kinase/Protein Kinase B (PI3K/AKT) and
Extracellular Regulated Kinase (ERK) Signalling in HepG2 cells. British
Journal of Nutrition. 103: 168-79
Guyton, A. C., dan Hall, J.E. 2007. Fisiologi Kedokteran. (Terjemahan). Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Guzel, N. A., Hazard, S., dan Erbas, D. 2007. Effect of Difference Resistance
Exercise Protocols on Nitric Oxide, Lipid Peroxidation and Creatine
Kinase Activity in Sedentary Males. Journal of Sports Science and
Medicine. 6: 417-22
Harjanto. 2006. Antioksidan dan Latihan Olahraga. Jurnal Kedokteran Yarsi.
14 (1): 070-7.
Haruenkit, R., Poovarodom, S., Leontowicz, H., Leontowicz, M., Sajewcz, M.,
Kowalska, T., Delgado-Licon, E., Rocha-Guzmaan, N. E., Gallegos-Infante,
J. A., Trakhtenberg, S., dan Gorinstein, S. 2007. Comparative Study of
Health Properties and Nutritional Value of Durian, Mangosteen, and Snake
Fruit: Experiments In vitro and In vivo. Journal of Agricultural and Food
Chemistry. 55: 5842-9.
Hutadilok-Towatana, N., Reanmongkol, W., Wattanapiromsakul, C., dan
Bunkrongcheap, R.2010. Acute and Subchronic Toxicity Evaluation of the
Hydroethanolic Extract of Mangosteen Pericarp. Journal of Medicinal Plants
Research. 4 (10) : 969-74.
Isabelle, M., Lee, B. L., Lim, M.T., Koh, W. P., Huang, D., dan Ong, C.N., 2010.
Antioxidant Activity and Profiles of Common Fruits in Singapore. Food
Chemistry. 123: 7784.
Jawi,I. M., Suprapta, D.N., dan Subawa, A. A. N. 2008. Ubi Jalar Ungu
Menurunkan Kadar MDA dalam Darah dan Hati Mencit Setelah Aktivitas
Fisik Maksimal. Jurnal Veteriner. 9 (2): 65-72
101
Jujun, P., Pootakham, K., Pongpaibul, Y., Duangrat, C., dan Tharavichitkul, P.,
2008. Acute and Repeated Dose 28-Day Oral Toxicity Study of Garcinia
mangostana Linn. Rind Extract. CMU. J. Nat. Sci. 7 (2):199-208
Jung, H. A., Su, B. N., Keller, W. J., Metha, R. G., dan Kinghorn, A. D. 2006.
Antioxidant Xanthones from The Pericarp of Garcinia mangostana
(Mangosteen). J. Agric. Food Chem. 54: 2077-82
Kim, S. H., Park, K. S., Chang, M. J., dan Sung, J. H. 2005. Effects of Panax
Ginseng Extract on Exercise-Induced Oxidative Stress. Journal of Sports
Medicine and Physical Fitness.45: 178-82
Kim, H. T., dan Chae, C.H., 2006. Effect of Exercise and -Lipoic Acid
Supplementation on Oxidative Stress in Rats. Biology of Sport. 23(2):114-53
Kondo, M., Zhang, L., Ji, H., Kou, Y., dan Ou, B. 2009. Bioavailability and
Antioxidant Effects of a Xanthone-Rich Mangosteen (Garcinia mangostana)
Product in Humans. J. Agric. Food Chem. 57: 878892
Kosem, N., Han, Y. H., dan Moongkarndi, P. 2007. Antioxidant and
Cytoprotective Activities of Methanolic Extract from Garcinia mangostana
Hulls. Science Asia. 33: 283-92.
Kotan, E., Alpsoy, L., Anar, M., Aslan, A., dan Agar, G., 2011. Protective Role of
Methanol Extract of Cetraria Islandica (L.) Against Oxidative Stress and
Genotoxic Effects of AFB in Human Lymphocytes In Nitro. Toxicology and
Industrial Health 27(7): 599 605
Kothari, S., Thompson, A., Agarwal, A., dan Plessis, S. S. du., 2010. Free
Radical: Their Beneficial and Detrimental Effects on Sperm Function. Indian
Journal of Experimental Biology. 48: 425 35
Krk, R. 2010. The Effects of Short-Term Exercise on The Parameters of
Oxidant and Antioxidant System in Handball Players. African Journal of
Pharmacy and Pharmacology. 4 (7) : 448-52
Krk, R., Tekin, A., zda, S., dan Akakoyun, F., 2010. The Effects of Regular
Exercse on Oxdatve and Antoxdatve Parameters n Young Wrestlers.
African Journal of Pharmacy and Pharmacology. 4(5): 244-51.
Kurniawati, A., Poerwanto, R., Sobir, Effendi, D., dan Cahyana, H. 2010.
Evaluation of Fruit Characters, Xanthones Content, and Antioxidant
Properties of Various Qualities of Mangosteens (Garcinia mangostana L.) J.
Agron. Indonesia. 38 (3): 232 -7
Lambertucci, R. H., Levada-Pires, A. C., Rossoni, L. V., Curi, R., dan Curi, T. C.
P. 2007. Effects of Aerobic Exercise Training on Antioxidant Enzyme
Activities and mRNA Levels in Soleus Muscle from Young and Aged Rats.
Mechanisms of Ageing and Development. 128 : 26775
Lianiwati, M. M. V. 2011. Pemberian Ekstrak Buah Naga Merah (Hylocereus
polyrhizus) Menurunkan Kadar F2 Isoprostan pada Tikus Putih Jantan
102
(Albino rat) yang Diberi Aktivitas Fisik Berlebih. Tesis. Program
Pascasarjana UNUD. Denpasar.
Lima, F. D., Stamm, D. N., Pace, I. D. D., Dobrachinski, F., Carvalho, N. R. De.,
Royes, L. F. F., Soares, F. A., Rocha, J. B., Gallego, J. G., dan Bresciani, G.
2013. Swimming Training Induces Liver Mitochondrial Adaptations to
Oxidative Stress in Rats Submitted to Repeated Exhaustive Swimming Bouts.
PLOS ONE, 8 (2): 1-9
Luidong, F., Feng, Z., Daoxing, S., Xiufang, Q., Xiaolong, F., dan Haipeng, L.
2011. Evaluation of Antioxidant Properties and Anti-Fatigue Effect of Green
Tea Polyphenols. Scientific Research and Essays. 6 (13): 2624-29.
Mahabusarakam, W., Kuaha, K., Wilairat, P., dan Taylor, W. C., 2006. Prenylated
Xanthone as Potential Antiplsamodial Subtance. Planta Medica. 72: 912-6.
Mahattanawee, K., Manthey, J. A., Luzio, G., Talcott, S. T., Goodner, K., dan
Baldwin, E. A. 2006. Total Antioxidant Activity and Fiber Content of Select
Florida-Grown Tropical Fruits. J. Agric. Food Chem. 54: 7355-63
Mallikarjuna, K., Nishanth, K., Hou, C. W., Kuo, C. H., dan Reddy, K. S., 2009.
Effect of Exercise Training on Ethanol-Induced Oxidative Damage in Aged
Rats. Alcohol 43: 59 64
Mann, G. E., Niehueser-Saran, J., Watson, A., Gao, L., Ishii, T., Winter, P. de.,
dan Siow, R. C. M. 2007. Nrf2/ARE Regulated Antioxidant Gene Expression
in Endothelial and Smooth Muscle Cells in Oxidative Stress: Implications for
Atherosclerosis and Preeclampsia. Acta Physiologica Sinica. 59 (2):117-27.
Mansouri, E., Panahi, M., Ghaffari, M. A., dan Ghorbani, A. 2011. Effects of
Grape Seed Proanthocyanidin Extract on Oxidative Stress Induced by
Diabetes in Rat Kidney. Iranian Biomedical Journal 15 (3): 100-6
Marciniak, A., Brzeszczyska, J., Gwodziski, K., dan Jegier, A., 2009.
Antioxidant Capacity and Physical Exercise. Biology of Sport. 26 (3):197-213
Marini, M., Lapalombella, R., Margonato, V., Ronchi, R., Samaja, M., Scapin, C.,
Gorza, L., Maraldi, T., Carinci, P., Ventura, C., dan Veicsteinas, A. 2007.
Mild Exercise Training, Cardioprotection and Stress Genes Profile. Eur J
Appl Physiol 99: 503-10.
Matsumoto, K., Akao, Y., Kobayashi, E., Ohguchi, K., Ito, T., Tanaka, T., Iinuma,
M., dan Nozawa, Y. 2003. Induction of Apoptosis by Xanthones from
Mangosteen in Human Leukemia Cell Lines. J. Nat. Prod. 66: 1124-27.
McWalter, G. K., Higgins, L. G., McLellan, L. I., Henderson, C. J., Song, L.,
Thornalley, P. J., Itoh, K., Yamamoto, M., dan Hayes, J. D. 2004.
Transcription Factor Nrf2 is Essential for Induction of NAD(P)H:Quinone
Oxidoreductase1, Glutathione S-Transferase, and Glutamate Cysteine
Ligase by Broccoli Seed and Isothiocyanates. The Journal of
Nutrition.134(Supl.): 3499-506
103
Meng, B., Gao, W., Wei, J., Yang, J., Wu, J., Pu, L., dan Guo, C. 2013. Quercetin
reduces serum homocysteine level in rats fed a methionine-enriched Diet.
Nutrition 29: 6616
Middleton Jr, E., Kandaswami, C., dan Theoharides, T. C. 2000. The Effects of
Plant Flavonoids on Mammalian Cells: Implications for Inflammation, Heart
Disease, and Cancer. Pharmacological Review. 52: 673751.
Montgomery, D. C. 2001. Design and Analysis of Experiments (5
th
ed.). John
Wiley and Sons Inc. New York
Moongkarndi, P., Kosem, N., Kaslungka, S., Luanratana, O., Pongpan, N., dan
Neungton, N. 2004. Antiproliferation, Antioxidation and Induction of
Apoptosis by Garcinia mangostana (Mangosteen) on SKBR3 Human Breast
Cancer Cell Line. Journal of Ethnopharmacology. 90: 1616
Morikawa, A, Inamizu, T., Han, Y., dan Nagata, M., 2004. Effect of Exercise
Training on Superoxide Dismutase Gene Expression in Human Lymphocytes.
International Journal of Sport and Health Science. 2 : 187-94.
Nala, I. G. N. 2011. Prinsip Pelatihan Olah Raga. Udayana University Press.
Denpasar.
Ngawhirunpat, T., Opanasopi, P., Sukma, M., Sittisombut, C., AtsushiKat, dan
Adachi, I. 2010. Antioxidant, Free Radical-Scavenging Activity and
Cytotoxicity of Different Solvent Extracts and Their Phenolic Constituents
from The Fruit Hull of Mangosteen (Garcinia mangostana). Pharmaceutical
Biology. 48 (1): 5562
Ngurah, I. B. 2007. Peranan Antioksidan pada olah raga. Medicina. 38 (1): 3-6
Nurliyana, R., Zahir, I. S., Suleiman, K. M., Aisyah, M. R., dan Rahim, K. K.
2010. Antioxidant Study of Pulps and Peels of Dragon Fruits: A Comparative
Study. International Food Research Journal. 17: 367-75
Ogonovszky, H., Berkes, I., Kumagai, S., Kaneko, T., Tahara, S., Goto, S., dan
Radak, Z. 2005. The Effects of Moderate-, Strenuous- and Over-Training on
Oxidative Stress Markers, DNA Repair, and Memory, in Rat Brain.
Neurochemistry International 46 : 63540
Oztasan, N., Taysi, S., Altinkaynak, K. G. K., Aktas, O., Siktar, H. T. E., Keles,
S., Akar, S., Dane, F. A. S., dan Gul, M. 2004. Endurance Training
Attenuates Exercise-Induced Oxidative Stress in Erythrocytes in Rat. Eur J
Appl Physiol 91: 6227.
Palakawong, C., Sophanodora, P., Pisuchpen, S., dan Phongpaichit. 2010.
Antioxidant and Antimicrobial Activities of Crude Extracts from Mangosteen
(Garcinia mangostana L.) Parts and Some Essential Oils. International Food
Research Journal. 17: 583-9
Pedraza-Chaverri, J., Crdenas-Rodrguez, N., Orozco-Ibarra, M., dan Prez-
Rojas, J. M. 2008. Medicinal Properties of Mangosteen (Garcinia
mangostana L.). Food and Chemical Toxicology. 46: 3227-39
104
Pelley, J. W. 2007. Biochemistry. Mosby Inc. Pennsylvania. p. 55-7
Perron, N. R. dan Brumaghim, J. L. 2009. A Review of the Antioxidant
Mechanisms of Polyphenol Compounds Related to Iron Binding. Cell
Biochem Biophys 53:75100
Pinho, R.A., Silva , L. D., Pinho, C. A., Daufenbach, J. F., Rezin, G. T., Silva, L.
A. d., Streck, E. L., dan Souza, C. T. 2012. Alterations in Muscular Oxidative
Metabolism Parameters in Incremental Treadmill Exercise Test in Untrained
Rats. Eur J Appl Physiol 112: 387-96.
Pothitirat, W., Chomnawang, M. T., dan Grtsanapan, W. 2010. Free Radical and
Anti-Acne Activities of Mangosteen Fruit Rind Extracts Prepared by
Different Extraction Methods. Pharmaceutical Biology. 48 (2): 182- 6.
Prajitno, D. 1981. Analisis Regresi-Korelasi. Labororium Statistika Pertanian.
Fakultas Pertanian UGM. Yogyakarta.
Prangdimurti, E. 2007. Metode Evaluasi Antioksidan Secara In Vitro dan In Vivo.
Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Fak. Teknologi Pertanian. IPB.
Available at. http://xa.yimg.com/kq/groups/20875559/1368419127/name/
Topik9.pdf. akses: 20/11/2010
Rahnama, N., Gaeni, A. A., dan Hamedinia, M. R. 2007. Oxidative Stress
Responses in Physical Education Student During 8 Weeks Aerobic Training.
Journal of Sports Medicine and Physical Fitness. 47 (1) : 119-23
Reddy, N. S., Shanmugam, K. R., Mallikarjuna, K., dan Reddy, K. S. 2009.
Exercise Training Modulates The Antioxidant Enzymes in Brain Tissue: a
Study With Reference to Ageing. J. Ecophysiol. Occup. Hlth. 9: 5-10.
Ridwan, E. 2013. Etika Pemanfaatan Hewan Percobaan dalam Penelitian
Kesehatan. J Indon Med Assoc. 63 (3):112-6
Sawono, J. 2013. Model-Model Linier dan Non Linier dalam IBM SPSS 21. PT.
Elex Media Komputindo. Jakarta.
Scandalios, J. G. 2005. Oxidative Stress: Molecular Perception and Transduction
of Signals Triggering Antioxidant Gene Defenses. Brazilian Journal of
Medicaland Biological Research. 38: 995-014
Senturk, U. K., Gunduz, F., Kuru, O., Aktekin, M. R., Kipmen, D., Yalcin, O.,
Borkucukatay, M., Yesilkaya, A. dan. Baskurt, O. K. 2001. Exercise-Induced
Oxidative Stress Affects Erythrocytes in Sedentary Rats but not Exercise-
Trained Rats. J Appl Physiol 91: 19992004
Setiawan, B. dan Suhartono E. 2007. Peroksidasi Lipid dan Penyakit Terkait Stres
Oksidatif pada Bayi Prematur. Majalah Kedokteran Indonesia 57 (1):10-14
Setyabudi, D. A. 2009. Bangsal Penanganan Pascapanen Buah. Dalam. W. Broto
(ed.). Teknologi Penanganan Pascapanen Buah untuk Pasar. Balai Besar
Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian. Badan Penelitian dan
105
Pengembangan Pertanian. Bogor. Available at. http://pascapanen.litbang.
deptan.go.id/assets/media/publikasi/juknis_buah.pdf. akses: 15 Maret 2012.
Shah, Z. A., Li, R. C., Ahmad, A. S., Kensler, T. W., Yamamoto, M., Biswal, S.,
dan Dore. S., 2010. The Flavanol (-)-Epicatechin Prevents Stroke Damage
Through The Nrf2/HO1 Pathway. Journal of Cerebral Blood Flow &
Metabolism. 30: 1951-61
Shan,Y., Ye, X. H. dan Xin, H. 2010. Effect of Grape Seed Proanthocyanidin
Extract on The Free Radical and Energy Metabolism Indicators During The
Movement. Scientific Research and Essay. 5 (2): 148-53.
Sharkey, B. J. 2003. Kebugaran dan Kesehatan. PT. Raja Grafindo. Jakarta.
Silva, L. A., Pinho, C. A., Scarabelot, K. S., Fraga, D. B., Volpato, A. M. J.,
Boeck, C. R., Souza, C. T. D., Streck, E. L., dan Pinho. R. A., 2009. Physical
Exercise Increases Mitochondrial Function and Reduces Oxidative Damage
in Skeletal Muscle. Eur J Appl Physiol 105:861-7.
Sobir dan Poerwanto. 2007. Mangosteen Genetics and Improvement.
International Journal of Plant Breeding. 1(2): 105-11
Son, T. G., Camandola, S. dan Mattson, M. P. 2008. Hormetic Dietary
Phytochemicals. Neuromol Med. 10: 236-46
Steel, R. G. D. dan Torrie, J.H., 1995. Prinsip dan Prosedur Statistika. Suatu
Pendekatan Biometrik. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Suksamrarn, S., Suwannapoch, N., Phakhodee, W., Thanuhiranlert, J.,
Ratananukul, P., Chimnoi, N., dan Suksamrarn, A. 2003. Antimycobacterial
Activity of Prenylated Xanthones from the Fruits of Garcinia mangostana.
Chem. Pharm. Bull. 51 (7): 857-9.
Sun, Y., Oberley, L. W., dan Li, Y. 1988. A Simple Methode for Clinical Assay of
Superoxide Dismutase. Clin.Chem 34 (3): 497-500
Tkachev, V. O., Menshchikova, E. B., dan Zenkov, N. K. 2011. Mechanism of the
Nrf2/Keap1/ARE Signaling System. Biochemistry (Moscow). 76 (4): 407-22
Traber, M. G. 2006. Relationship of Vitamin E Metabolism and Oxidation in
Exercising Human Subjects. British Journal of Nutrition. 96 (Suppl. 1): 34-7
Valado, A., Pereira, L., Tavares, P. C., dan Ribeiro. C. F., 2007. Effect of The
Intense Anaerobic Exercise on Nitric Oxide and Malondialdehyde in Studies
of Oxidative Stress. International Journal of Biology and Biomedical
Engineering. 1 (1): 32-26
Waris, G. dan Ahsan, H. 2006. Reactive Oxygen Species: Role in The
Development of Cancer and Various Chronic Condition. Journal of
Carcinogenesis. 5 (14): 1-8
Weecharangsan, W., Opanasopit, P., Sukma, M., Ngawhirunpat, T., Sotanaphun,
U., dan Siripong, P. 2006. Antioxidative and Neuroprotective Activities of
106
Extracts from the Fruit Hull of Mangosteen (Garcinia mangostana Linn.).
Med. Princ. Pract.15: 2817
Winarsi, H. 2007. Antioksidan Alami dan Radikal Bebas. Potensi dan Aplikasinya
dalam Kesehatan. Kanisius. Yogyakarta.
Wrasiati, L. P. 2011. Karakteristik dan Toksisitas Ekstrak Bubuk Simplisia Bunga
kamboja Cendana (Plumeria alba) dan Peranannya dalam Meningkatkan
Aktivitas Antioksidan Enzimatis pada Tikus Sparague Dawley. Disertasi.
Program Pascasarjana.Universitas Udayana. Denpasar
Wuryastuti, H. 2000. The Influence of Dietary Protein and Fats on Plasma Lipids
in Sprague-Dawley Rats. Indonesian Food and Nutrition Progress 7(2):37-41
Yoshioka, M., Doucet, E., St-Pierre, S., Almeras, N., Richard, D., Labrie, A.,
Despres, J. P., Bouchard, C., dan Tremblay, A., 2001. Impact of High-
Intensity Exercise on Energy Expenditure, Lipid Oxidation and Body
Fatness. International Journal of Obesity. 25: 332-39
Yu, B., Lu, Z. X., Bie, X. M., Lu, F. X., dan Huang, X. Q. 2008. Scavenging and
Anti-Fatigue Activity of Fermented Defatted Soybean Peptides. Eur. Food
Res. Technol. 226: 41521
Zarena, A. S., dan Sankar, K.U. 2009. Study of Antioxidant Properties from
Garcinia mangostana L. Pericarp Extract. Acta Sci. Pol.Technol. Aliment.
8 (1): 23-34
Zelko, I. N., Mariani, T.J. dan Folz, R. J. 2002. Superoxide Dismutase Multigene
Family: A Comparison of The CuZn-SOD (SOD1), Mn-SOD (SOD2), and
EC-SOD (SOD3) Gene Structure, Evolution, and Expression. Free Radical
Biology & Medicine. 33 (3): 337- 49.
107
Lampiran 1. Karakteristik Berat Badan Tikus Penelitian
Minggu 0
Perlakuan
Blok
I II III IV
E
0
P
0
229 243 248 255
E
1
P
0
216 237 249 254
E
2
P
0
226 232 247 252
E
4
P
0
228 239 249 254
E
6
P
0
225 244 250 256
E
8
P
0
217 232 251 258
E
0
P
1
220 236 246 254
E
1
P
1
229 236 248 255
E
2
P
1
230 240 251 256
E
4
P
1
219 240 251 256
E
6
P
1
225 241 252 253
E
8
P
1
222 243 250 255
Total 2686 2863 2992 3058
Rata-Rata 223,83 238,58 249,33 254,83
Minggu I
Perlakuan
Blok
I II III IV
E
0
P
0
237 255 256 264
E
1
P
0
224 246 259 262
E
2
P
0
235 240 255 261
E
4
P
0
236 247 257 263
E
6
P
0
233 258 261 267
E
8
P
0
226 240 260 268
E
0
P
1
229 237 259 266
E
1
P
1
235 240 250 265
E
2
P
1
240 250 254 274
E
4
P
1
226 246 260 259
E
6
P
1
235 257 258 255
E
8
P
1
235 258 253 266
Total 2791 2974 3082 3170
Rata-
rata 232,58 247,83 256,83 264,17
Minggu II
Perlakuan Blok
I II III IV
E
0
P
0
245 264 268 275
E
1
P
0
234 255 270 272
E
2
P
0
246 251 267 271
E
4
P
0
243 254 266 270
E
6
P
0
240 268 270 276
E
8
P
0
233 251 267 275
E
0
P
1
234 246 268 274
E
1
P
1
242 248 265 273
E
2
P
1
247 258 263 282
E
4
P
1
230 251 269 267
E
6
P
1
242 266 265 262
E
8
P
1
243 266 260 273
Total 2879 3078 3198 3270
Rata-rata 239,92 256,5 266,5 272,5
Minggu III
Perlakuan Blok
I II III IV
E
0
P
0
251 274 276 284
E
1
P
0
249 270 284 286
E
2
P
0
254 261 277 279
E
4
P
0
248 260 273 276
E
6
P
0
245 274 280 283
E
8
P
0
239 262 274 282
E
0
P
1
240 254 274 280
E
1
P
1
255 263 265 287
E
2
P
1
253 266 273 291
E
4
P
1
238 260 284 272
E
6
P
1
247 273 270 267
E
8
P
1
250 273 265 280
Total 2969 3190 3295 3367
Rata-
rata 247,42 265,83 274,58 280,58
108
Lampiran 1. Lanjutan
Minggu IV
Perlakuan
Blok
I II III IV
E
0
P
0
258 287 286 295
E
1
P
0
264 284 299 292
E
2
P
0
265 274 288 289
E
4
P
0
253 268 284 285
E
6
P
0
253 287 289 293
E
8
P
0
247 272 282 291
E
0
P
1
245 265 281 290
E
1
P
1
270 276 276 301
E
2
P
1
265 276 282 301
E
4
P
1
242 272 295 282
E
6
P
1
253 280 278 273
E
8
P
1
255 280 275 286
Total 3070 3321 3415 3478
Rata-rata 255,83 276,75 284,58 289,83
Normalitas berat badan Tikus penelitian
Tests of Normality
Minggu Ke Blok Kolmogorov-Smirnov
a
Shapiro-Wilk
Statistic df Sig. Statistic df Sig.
0
I .177 12 .200
*
.921 12 .293
II .137 12 .200
*
.930 12 .380
III .153 12 .200
*
.955 12 .713
IV .148 12 .200
*
.963 12 .825
I
I .266 12 .018 .894 12 .131
II .178 12 .200
*
.897 12 .145
III .159 12 .200
*
.941 12 .512
IV .129 12 .200
*
.977 12 .970
II
I .226 12 .091 .899 12 .156
II .179 12 .200
*
.904 12 .176
III .151 12 .200
*
.930 12 .385
IV .155 12 .200
*
.951 12 .652
III
I .148 12 .200
*
.923 12 .314
II .188 12 .200
*
.901 12 .165
III .149 12 .200
*
.939 12 .489
IV .155 12 .200
*
.971 12 .917
IV
I .157 12 .200
*
.952 12 .664
II .125 12 .200
*
.958 12 .756
III .138 12 .200
*
.951 12 .645
IV .124 12 .200
*
.956 12 .722
*. This is a lower bound of the true significance.
a. Lilliefors Significance Correction
109
Lampiran 2. Data Hasil Tes Pendahuluan Kemampuan Renang Maksimal Subjek
Penelitian (menit)
Perlakuan
Blok
Total Rata-rata
I II III IV
E
0
P
0
43 45 42 40 170 42,5
E
1
P
0
45 43 42 43 173 43,25
E
2
P
0
44 40 43 42 169 42,25
E
4
P
0
42 42 42 43 169 42,25
E
6
P
0
45 42 44 40 171 42,75
E
8
P
0
44 44 43 44 175 43,75
E
0
P
1
45 45 45 43 178 44,5
E
1
P
1
45 43 44 40 172 43
E
2
P
1
44 45 43 41 173 43,25
E
4
P
1
43 45 40 42 170 42,5
E
6
P
1
45 50 45 43 183 45,75
E
8
P
1
42 45 44 43 174 43,5
Total 527 529 517 504 2077 519,25
Rata-rata 43,92 44,08 43,08 42,00 173,08 43,27
70% 30,29
110
Lampiran 3. Data Hasil Pengukuran Kadar MDA Darah Tikus Wistar Setelah
Perlakuan Ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.)
dan Pelatihan Fisik.
Perlakuan
Blok
I II III IV
E
0
P
0
5,76 6,58 6,17 7,19
E
1
P
0
6,99 5,55 5,14 5,76
E
2
P
0
3,71 2,68 3,3 3,91
E
4
P
0
2,48 3,09 2,68 3,3
E
6
P
0
3,71 2,48 2,89 3,09
E
8
P
0
2,27 3,09 3,5 2,68
E
0
P
1
11,7 11,09 11,5 10,68
E
1
P
1
10,06 9,04 9,45 9,86
E
2
P
1
6,58 6,17 6,99 7,19
E
4
P
1
4,94 5,14 5,76 5,35
E
6
P
1
3,71 4,12 4,32 3,91
E
8
P
1
2,89 2,48 2,27 3,09
111
Lampiran 4. Data Hasil Pengukuran Kadar SOD Darah Tikus Wistar Setelah
Perlakuan Ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.)
dan Pelatihan Fisik.
Perlakuan Blok
I II III IV
E
0
P
0
61,94 60,9 62,63 62,98
E
1
P
0
64,71 65,74 63,32 65,05
E
2
P
0
71,97 70,59 70,93 73,01
E
4
P
0
78,55 77,16 76,47 78,2
E
6
P
0
7958 77,51 76,82 79,93
E
8
P
0
80,97 79,58 79,24 80,62
E
0
P
1
44,98 45,33 43,94 42,56
E
1
P
1
52,25 51,56 53,98 47,4
E
2
P
1
58,13 56,06 55,36 58,48
E
4
P
1
67,13 68,17 66,09 65,74
E
6
P
1
74,74 72,32 71,63 75,09
E
8
P
1
80,62 83,04 80,97 85,81
112
Lampiran 5. Data Hasil Pengukuran Kadar GPx Darah Tikus Wistar Setelah
Perlakuan Ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.)
dan Pelatihan Fisik.
Perlakuan Blok
I II III IV
E
0
P
0
24,77 25,47 24,62 24,31
E
1
P
0
26,01 26,62 27,16 26,78
E
2
P
0
30,1 31,02 31,33 30,56
E
4
P
0
32,49 31,64 31,49 32,03
E
6
P
0
32,41 31,72 33,8 32,87
E
8
P
0
31,64 34,57 35,27 32,57
E
0
P
1
8,64 8,41 8,87 8,57
E
1
P
1
10,19 10,57 9,95 9,72
E
2
P
1
22,15 21,68 21,22 21,61
E
4
P
1
27,4 26,16 26,62 25,93
E
6
P
1
30,02 29,02 29,48 29,32
E
8
P
1
36,04 36,42 37,27 36,27
113
Lampiran 6. Hasil Analisis Statistik Kadar MDA Darah Tikus Wistar Setelah
Perlakuan Ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.)
dan Pelatihan Fisik.
Explore
DOSIS
PELATIHAN
Blok
DOSIS
114
Lampiran 6. Lanjutan
PELATIHAN
Blok
Generalized Linear Models
Estimated Marginal Means : DOSIS
115
Lampiran 6. Lanjutan
116
Lampiran 6. Lanjutan
Estimated Marginal Means : PELATIHAN
Estimated Marginal Means : DOSIS* PELATIHAN
117
Lampiran 6. Lanjutan
Pairwise Comparisons
(I)
DOSIS*PE
LATIHAN
(J) DOSIS*PELATIHAN Mean
Differen
ce (I-J)
Std.
Error
df Sig. 95% Wald
Confidence
Interval for
Difference
Lower Upper
[DOSIS=0]*
[PELATIHA
N=0]
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=1] -4.8295
a
.63648 1 .000 -6.0770 -3.5820
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=0] .5637 .42723 1 .187 -.2736 1.4011
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=1] -3.1752
a
.56729 1 .000 -4.2870 -2.0633
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=0] 3.0345
a
.35679 1 .000 2.3352 3.7338
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=1] -.3027 .45680 1 .508 -1.1980 .5926
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=0] 3.5352
a
.34586 1 .000 2.8573 4.2130
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=1] 1.1238
a
.40901 1 .006 .3221 1.9254
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=0] 3.3860
a
.34913 1 .000 2.7017 4.0702
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=1] 2.4025
a
.37220 1 .000 1.6730 3.1320
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=0] 3.5302
a
.34605 1 .000 2.8520 4.2085
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=1] 3.7456
a
.34182 1 .000 3.0756 4.4156
[DOSIS=0]*
[PELATIHA
N=1]
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=0] 4.8295
a
.63648 1 .000 3.5820 6.0770
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=0] 5.3933
a
.62316 1 .000 4.1719 6.6146
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=1] 1.6544
a
.72643 1 .023 .2306 3.0781
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=0] 7.8640
a
.57728 1 .000 6.7326 8.9955
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=1] 4.5268
a
.64392 1 .000 3.2647 5.7889
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=0] 8.3647
a
.57067 1 .000 7.2462 9.4832
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=1] 5.9533
a
.61092 1 .000 4.7559 7.1507
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=0] 8.2155
a
.57250 1 .000 7.0934 9.3376
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=1] 7.2320
a
.58691 1 .000 6.0817 8.3823
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=0] 8.3597
a
.57069 1 .000 7.2412 9.4783
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=1] 8.5751
a
.56818 1 .000 7.4615 9.6887
[DOSIS=1]*
[PELATIHA
N=0]
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=0] -.5637 .42723 1 .187 -1.4011 .2736
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=1] -5.3933
a
.62316 1 .000 -6.6146 -4.1719
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=1] -3.7389
a
.55232 1 .000 -4.8214 -2.6564
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=0] 2.4707
a
.33253 1 .000 1.8190 3.1225
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=1] -.8665
a
.43824 1 .048 -1.7254 -.0075
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=0] 2.9714
a
.32104 1 .000 2.3422 3.6007
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=1] .5600 .38822 1 .149 -.2009 1.3209
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=0] 2.8222
a
.32416 1 .000 2.1869 3.4576
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=1] 1.8387
a
.34921 1 .000 1.1543 2.5232
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=0] 2.9665
a
.32129 1 .000 2.3368 3.5962
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=1] 3.1819
a
.31646 1 .000 2.5616 3.8021
[DOSIS=1]*
[PELATIHA
N=1]
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=0] 3.1752
a
.56729 1 .000 2.0633 4.2870
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=1] -1.6544
a
.72643 1 .023 -3.0781 -.2306
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=0] 3.7389
a
.55232 1 .000 2.6564 4.8214
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=0] 6.2097
a
.49992 1 .000 5.2298 7.1895
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=1] 2.8724
a
.57563 1 .000 1.7442 4.0007
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=0] 6.7104
a
.49232 1 .000 5.7454 7.6753
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=1] 4.2989
a
.53851 1 .000 3.2435 5.3544
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=0] 6.5611
a
.49443 1 .000 5.5921 7.5302
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=1] 5.5776
a
.51112 1 .000 4.5759 6.5794
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=0] 6.7054
a
.49243 1 .000 5.7403 7.6705
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=1] 6.9208
a
.48940 1 .000 5.9616 7.8800
118
Lampiran 6. Lanjutan
[DOSIS=2]*
[PELATIHA
N=0]
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=0] -3.0345
a
.35679 1 .000 -3.7338 -2.3352
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=1] -7.8640
a
.57728 1 .000 -8.9955 -6.7326
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=0] -2.4707
a
.33253 1 .000 -3.1225 -1.8190
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=1] -6.2097
a
.49992 1 .000 -7.1895 -5.2298
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=1] -3.3372
a
.36989 1 .000 -4.0622 -2.6122
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=0] .5007
a
.21879 1 .022 .0719 .9295
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=1] -1.9107
a
.30902 1 .000 -2.5164 -1.3051
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=0] .3515 .22348 1 .116 -.0865 .7895
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=1] -.6320
a
.25837 1 .014 -1.1384 -.1256
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=0] .4957
a
.21909 1 .024 .0663 .9251
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=1] .7111
a
.21211 1 .001 .2954 1.1268
[DOSIS=2]*
[PELATIHA
N=1]
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=0] .3027 .45680 1 .508 -.5926 1.1980
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=1] -4.5268
a
.64392 1 .000 -5.7889 -3.2647
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=0] .8665
a
.43824 1 .048 .0075 1.7254
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=1] -2.8724
a
.57563 1 .000 -4.0007 -1.7442
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=0] 3.3372
a
.36989 1 .000 2.6122 4.0622
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=0] 3.8379
a
.35951 1 .000 3.1333 4.5425
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=1] 1.4265
a
.42053 1 .001 .6023 2.2507
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=0] 3.6887
a
.36248 1 .000 2.9782 4.3991
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=1] 2.7052
a
.38485 1 .000 1.9509 3.4595
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=0] 3.8329
a
.35962 1 .000 3.1281 4.5378
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=1] 4.0483
a
.35556 1 .000 3.3515 4.7452
[DOSIS=4]*
[PELATIHA
N=0]
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=0] -3.5352
a
.34586 1 .000 -4.2130 -2.8573
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=1] -8.3647
a
.57067 1 .000 -9.4832 -7.2462
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=0] -2.9714
a
.32104 1 .000 -3.6007 -2.3422
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=1] -6.7104
a
.49232 1 .000 -7.6753 -5.7454
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=0] -.5007
a
.21879 1 .022 -.9295 -.0719
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=1] -3.8379
a
.35951 1 .000 -4.5425 -3.1333
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=1] -2.4114
a
.29643 1 .000 -2.9924 -1.8304
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=0] -.1492 .20602 1 .469 -.5530 .2546
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=1] -1.1327
a
.24314 1 .000 -1.6093 -.6562
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=0] -.0050 .20085 1 .980 -.3986 .3887
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=1] .2104 .19345 1 .277 -.1687 .5896
[DOSIS=4]*
[PELATIHA
N=1]
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=0] -1.1238
a
.40901 1 .006 -1.9254 -.3221
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=1] -5.9533
a
.61092 1 .000 -7.1507 -4.7559
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=0] -.5600 .38822 1 .149 -1.3209 .2009
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=1] -4.2989
a
.53851 1 .000 -5.3544 -3.2435
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=0] 1.9107
a
.30902 1 .000 1.3051 2.5164
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=1] -1.4265
a
.42053 1 .001 -2.2507 -.6023
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=0] 2.4114
a
.29643 1 .000 1.8304 2.9924
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=0] 2.2622
a
.30009 1 .000 1.6740 2.8504
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=1] 1.2787
a
.32667 1 .000 .6384 1.9190
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=0] 2.4065
a
.29650 1 .000 1.8253 2.9876
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=1] 2.6219
a
.29168 1 .000 2.0502 3.1935
[DOSIS=6]*
[PELATIHA
N=0]
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=0] -3.3860
a
.34913 1 .000 -4.0702 -2.7017
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=1] -8.2155
a
.57250 1 .000 -9.3376 -7.0934
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=0] -2.8222
a
.32416 1 .000 -3.4576 -2.1869
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=1] -6.5611
a
.49443 1 .000 -7.5302 -5.5921
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=0] -.3515 .22348 1 .116 -.7895 .0865
119
Lampiran 6. Lanjutan
[DOSIS=6]*[
PELATIHAN
=0]
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=1] -3.6887
a
.36248 1 .000 -4.3991 -2.9782
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=0] .1492 .20602 1 .469 -.2546 .5530
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=1] -2.2622
a
.30009 1 .000 -2.8504 -1.6740
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=1] -.9835
a
.24761 1 .000 -1.4688 -.4982
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=0] .1443 .20631 1 .484 -.2601 .5486
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=1] .3596 .19888 1 .071 -.0301 .7494
[DOSIS=6]*
[PELATIHA
N=1]
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=0] -2.4025
a
.37220 1 .000 -3.1320 -1.6730
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=1] -7.2320
a
.58691 1 .000 -8.3823 -6.0817
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=0] -1.8387
a
.34921 1 .000 -2.5232 -1.1543
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=1] -5.5776
a
.51112 1 .000 -6.5794 -4.5759
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=0] .6320
a
.25837 1 .014 .1256 1.1384
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=1] -2.7052
a
.38485 1 .000 -3.4595 -1.9509
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=0] 1.1327
a
.24314 1 .000 .6562 1.6093
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=1] -1.2787
a
.32667 1 .000 -1.9190 -.6384
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=0] .9835
a
.24761 1 .000 .4982 1.4688
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=0] 1.1278
a
.24325 1 .000 .6510 1.6045
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=1] 1.3431
a
.23734 1 .000 .8780 1.8083
[DOSIS=8]*
[PELATIHA
N=0]
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=0] -3.5302
a
.34605 1 .000 -4.2085 -2.8520
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=1] -8.3597
a
.57069 1 .000 -9.4783 -7.2412
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=0] -2.9665
a
.32129 1 .000 -3.5962 -2.3368
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=1] -6.7054
a
.49243 1 .000 -7.6705 -5.7403
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=0] -.4957
a
.21909 1 .024 -.9251 -.0663
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=1] -3.8329
a
.35962 1 .000 -4.5378 -3.1281
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=0] .0050 .20085 1 .980 -.3887 .3986
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=1] -2.4065
a
.29650 1 .000 -2.9876 -1.8253
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=0] -.1443 .20631 1 .484 -.5486 .2601
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=1] -1.1278
a
.24325 1 .000 -1.6045 -.6510
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=1] .2154 .19385 1 .267 -.1645 .5953
[DOSIS=8]*
[PELATIHA
N=1]
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=0] -3.7456
a
.34182 1 .000 -4.4156 -3.0756
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=1] -8.5751
a
.56818 1 .000 -9.6887 -7.4615
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=0] -3.1819
a
.31646 1 .000 -3.8021 -2.5616
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=1] -6.9208
a
.48940 1 .000 -7.8800 -5.9616
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=0] -.7111
a
.21211 1 .001 -1.1268 -.2954
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=1] -4.0483
a
.35556 1 .000 -4.7452 -3.3515
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=0] -.2104 .19345 1 .277 -.5896 .1687
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=1] -2.6219
a
.29168 1 .000 -3.1935 -2.0502
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=0] -.3596 .19888 1 .071 -.7494 .0301
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=1] -1.3431
a
.23734 1 .000 -1.8083 -.8780
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=0] -.2154 .19385 1 .267 -.5953 .1645
Pairwise comparisons of estimated marginal means based on the original scale of
dependent variable MDA
a. The mean difference is significant at the .05 level.
120
Lampiran 7. Hasil Analisis Statistik Kadar SOD Darah Tikus Wistar Setelah
Perlakuan Ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.)
dan Pelatihan Fisik.
Explore
Dosis
Pelatihan
Blok
Dosis
Pelatihan
121
Lampiran 7. Lanjutan
Blok
Generalized Linear Models
Estimated Marginal Means : DOSIS
122
Lampiran 7. Lanjutan
123
Lampiran 7. Lanjutan
Estimated Marginal Means : PELATIHAN
Estimated Marginal Means : DOSIS* PELATIHAN
124
Lampiran 7. Lanjutan
Pairwise Comparisons
(I)
DOSIS*P
ELATIHA
N
(J) DOSIS*PELATIHAN Mean
Difference
(I-J)
Std.
Error
df Sig. 95% Wald
Confidence Interval
for Difference
Lower Upper
[DOSIS=
0]*[PELA
TIHAN=0
]
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=1] 17.9115
a
.79411 1 .000 16.3551 19.4679
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=0] -2.5891
a
.93426 1 .006 -4.4202 -.7580
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=1] 10.8090
a
.83920 1 .000 9.1643 12.4538
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=0] -9.5087
a
.98750 1 .000 -11.4442 -7.5732
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=1] 5.1127
a
.87814 1 .000 3.3916 6.8339
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=0] -15.4774
a
1.03528 1 .000 -17.5065 -13.4483
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=1] -4.6685
a
.95000 1 .000 -6.5305 -2.8065
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=0] -16.3402
a
1.04231 1 .000 -18.3831 -14.2973
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=1] -11.3242
a
1.00187 1 .000 -13.2878 -9.3605
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=0] -17.9857
a
1.05580 1 .000 -20.0550 -15.9164
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=1] -20.4957
a
1.07659 1 .000 -22.6058 -18.3857
[DOSIS=
0]*[PELA
TIHAN=1
]
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=0] -17.9115
a
.79411 1 .000 -19.4679 -16.3551
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=0] -20.5006
a
.81622 1 .000 -22.1004 -18.9008
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=1] -7.1025
a
.70541 1 .000 -8.4850 -5.7199
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=0] -27.4202
a
.87669 1 .000 -29.1385 -25.7019
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=1] -12.7988
a
.75136 1 .000 -14.2714 -11.3261
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=0] -33.3889
a
.93016 1 .000 -35.2120 -31.5658
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=1] -22.5800
a
.83419 1 .000 -24.2150 -20.9450
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=0] -34.2517
a
.93799 1 .000 -36.0901 -32.4133
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=1] -29.2357
a
.89284 1 .000 -30.9856 -27.4858
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=0] -35.8972
a
.95295 1 .000 -37.7650 -34.0295
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=1] -38.4073
a
.97595 1 .000 -40.3201 -36.4944
[DOSIS=
1]*[PELA
TIHAN=0
]
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=0] 2.5891
a
.93426 1 .006 .7580 4.4202
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=1] 20.5006
a
.81622 1 .000 18.9008 22.1004
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=1] 13.3981
a
.86016 1 .000 11.7123 15.0840
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=0] -6.9196
a
1.00539 1 .000 -8.8901 -4.9491
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=1] 7.7018
a
.89820 1 .000 5.9414 9.4623
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=0] -12.8883
a
1.05234 1 .000 -14.9508 -10.8257
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=1] -2.0794
a
.96856 1 .032 -3.9778 -.1811
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=0] -13.7511
a
1.05926 1 .000 -15.8272 -11.6750
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=1] -8.7351
a
1.01950 1 .000 -10.7333 -6.7369
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=0] -15.3966
a
1.07254 1 .000 -17.4987 -13.2945
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=1] -17.9067
a
1.09301 1 .000 -20.0489 -15.7644
[DOSIS=
1]*[PELA
TIHAN=1
]
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=0] -10.8090
a
.83920 1 .000 -12.4538 -9.1643
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=1] 7.1025
a
.70541 1 .000 5.7199 8.4850
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=0] -13.3981
a
.86016 1 .000 -15.0840 -11.7123
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=0] -20.3178
a
.91774 1 .000 -22.1165 -18.5190
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=1] -5.6963
a
.79888 1 .000 -7.2621 -4.1305
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=0] -26.2864
a
.96894 1 .000 -28.1855 -24.3873
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=1] -15.4776
a
.87722 1 .000 -17.1969 -13.7582
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=0] -27.1492
a
.97647 1 .000 -29.0631 -25.2354
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=1] -22.1332
a
.93319 1 .000 -23.9622 -20.3042
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=0] -28.7947
a
.99084 1 .000 -30.7368 -26.8527
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=1] -31.3048
a
1.01300 1 .000 -33.2902 -29.3193
125
Lampiran 7. Lanjutan
[DOSIS=
2]*[PELA
TIHAN=0
]
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=0] 9.5087
a
.98750 1 .000 7.5732 11.4442
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=1] 27.4202
a
.87669 1 .000 25.7019 29.1385
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=0] 6.9196
a
1.00539 1 .000 4.9491 8.8901
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=1] 20.3178
a
.91774 1 .000 18.5190 22.1165
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=1] 14.6214
a
.95346 1 .000 12.7527 16.4902
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=0] -5.9687
a
1.09989 1 .000 -8.1244 -3.8129
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=1] 4.8402
a
1.02004 1 .000 2.8410 6.8394
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=0] -6.8315
a
1.10651 1 .000 -9.0002 -4.6628
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=1] -1.8155 1.06851 1 .089 -3.9097 .2788
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=0] -8.4770
a
1.11923 1 .000 -10.6706 -6.2833
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=1] -10.9870
a
1.13886 1 .000 -13.2192 -8.7549
[DOSIS=
2]*[PELA
TIHAN=1
]
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=0] -5.1127
a
.87814 1 .000 -6.8339 -3.3916
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=1] 12.7988
a
.75136 1 .000 11.3261 14.2714
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=0] -7.7018
a
.89820 1 .000 -9.4623 -5.9414
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=1] 5.6963
a
.79888 1 .000 4.1305 7.2621
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=0] -14.6214
a
.95346 1 .000 -16.4902 -12.7527
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=0] -20.5901
a
1.00286 1 .000 -22.5557 -18.6245
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=1] -9.7812
a
.91457 1 .000 -11.5738 -7.9887
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=0] -21.4529
a
1.01011 1 .000 -23.4327 -19.4731
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=1] -16.4369
a
.96833 1 .000 -18.3348 -14.5390
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=0] -23.0984
a
1.02403 1 .000 -25.1055 -21.0914
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=1] -25.6085
a
1.04545 1 .000 -27.6575 -23.5594
[DOSIS=
4]*[PELA
TIHAN=0
]
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=0] 15.4774
a
1.03528 1 .000 13.4483 17.5065
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=1] 33.3889
a
.93016 1 .000 31.5658 35.2120
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=0] 12.8883
a
1.05234 1 .000 10.8257 14.9508
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=1] 26.2864
a
.96894 1 .000 24.3873 28.1855
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=0] 5.9687
a
1.09989 1 .000 3.8129 8.1244
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=1] 20.5901
a
1.00286 1 .000 18.6245 22.5557
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=1] 10.8089
a
1.06635 1 .000 8.7189 12.8989
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=0] -.8628 1.14935 1 .453 -3.1155 1.3899
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=1] 4.1532
a
1.11281 1 .000 1.9721 6.3342
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=0] -2.5083
a
1.16159 1 .031 -4.7850 -.2316
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=1] -5.0184
a
1.18053 1 .000 -7.3322 -2.7046
[DOSIS=
4]*[PELA
TIHAN=1
]
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=0] 4.6685
a
.95000 1 .000 2.8065 6.5305
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=1] 22.5800
a
.83419 1 .000 20.9450 24.2150
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=0] 2.0794
a
.96856 1 .032 .1811 3.9778
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=1] 15.4776
a
.87722 1 .000 13.7582 17.1969
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=0] -4.8402
a
1.02004 1 .000 -6.8394 -2.8410
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=1] 9.7812
a
.91457 1 .000 7.9887 11.5738
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=0] -10.8089
a
1.06635 1 .000 -12.8989 -8.7189
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=0] -11.6717
a
1.07318 1 .000 -13.7751 -9.5683
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=1] -6.6557
a
1.03395 1 .000 -8.6822 -4.6292
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=0] -13.3172
a
1.08628 1 .000 -15.4463 -11.1881
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=1] -15.8272
a
1.10651 1 .000 -17.9960 -13.6585
[DOSIS=
6]*[PELA
TIHAN=0
]
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=0] 16.3402
a
1.04231 1 .000 14.2973 18.3831
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=1] 34.2517
a
.93799 1 .000 32.4133 36.0901
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=0] 13.7511
a
1.05926 1 .000 11.6750 15.8272
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=1] 27.1492
a
.97647 1 .000 25.2354 29.0631
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=0] 6.8315
a
1.10651 1 .000 4.6628 9.0002
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=1] 21.4529
a
1.01011 1 .000 19.4731 23.4327
126
Lampiran 7. Lanjutan
[DOSIS=
6]*[PELA
TIHAN=0
]
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=0] .8628 1.14935 1 .453 -1.3899 3.1155
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=1] 11.6717
a
1.07318 1 .000 9.5683 13.7751
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=1] 5.0160
a
1.11935 1 .000 2.8221 7.2099
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=0] -1.6455 1.16787 1 .159 -3.9345 .6435
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=1] -4.1556
a
1.18670 1 .000 -6.4814 -1.8297
[DOSIS=
6]*[PELA
TIHAN=1
]
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=0] 11.3242
a
1.00187 1 .000 9.3605 13.2878
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=1] 29.2357
a
.89284 1 .000 27.4858 30.9856
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=0] 8.7351
a
1.01950 1 .000 6.7369 10.7333
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=1] 22.1332
a
.93319 1 .000 20.3042 23.9622
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=0] 1.8155 1.06851 1 .089 -.2788 3.9097
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=1] 16.4369
a
.96833 1 .000 14.5390 18.3348
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=0] -4.1532
a
1.11281 1 .000 -6.3342 -1.9721
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=1] 6.6557
a
1.03395 1 .000 4.6292 8.6822
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=0] -5.0160
a
1.11935 1 .000 -7.2099 -2.8221
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=0] -6.6615
a
1.13193 1 .000 -8.8800 -4.4430
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=1] -9.1716
a
1.15134 1 .000 -11.4282 -6.9150
[DOSIS=
8]*[PELA
TIHAN=0
]
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=0] 17.9857
a
1.05580 1 .000 15.9164 20.0550
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=1] 35.8972
a
.95295 1 .000 34.0295 37.7650
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=0] 15.3966
a
1.07254 1 .000 13.2945 17.4987
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=1] 28.7947
a
.99084 1 .000 26.8527 30.7368
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=0] 8.4770
a
1.11923 1 .000 6.2833 10.6706
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=1] 23.0984
a
1.02403 1 .000 21.0914 25.1055
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=0] 2.5083
a
1.16159 1 .031 .2316 4.7850
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=1] 13.3172
a
1.08628 1 .000 11.1881 15.4463
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=0] 1.6455 1.16787 1 .159 -.6435 3.9345
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=1] 6.6615
a
1.13193 1 .000 4.4430 8.8800
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=1] -2.5101
a
1.19857 1 .036 -4.8592 -.1609
[DOSIS=
8]*[PELA
TIHAN=1
]
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=0] 20.4957
a
1.07659 1 .000 18.3857 22.6058
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=1] 38.4073
a
.97595 1 .000 36.4944 40.3201
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=0] 17.9067
a
1.09301 1 .000 15.7644 20.0489
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=1] 31.3048
a
1.01300 1 .000 29.3193 33.2902
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=0] 10.9870
a
1.13886 1 .000 8.7549 13.2192
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=1] 25.6085
a
1.04545 1 .000 23.5594 27.6575
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=0] 5.0184
a
1.18053 1 .000 2.7046 7.3322
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=1] 15.8272
a
1.10651 1 .000 13.6585 17.9960
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=0] 4.1556
a
1.18670 1 .000 1.8297 6.4814
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=1] 9.1716
a
1.15134 1 .000 6.9150 11.4282
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=0] 2.5101
a
1.19857 1 .036 .1609 4.8592
Pairwise comparisons of estimated marginal means based on the original scale of dependent
variable SOD
a. The mean difference is significant at the .05 level.
127
Lampiran 8 Hasil Analisis Statistik Kadar GPx Darah Tikus Wistar Setelah
Perlakuan Ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.)
dan Pelatihan Fisik.
Explore
Dosis
Pelatihan fisik
Blok
Dosis
Pelatihan fisik
128
Lampiran 8. Lanjutan
Blok
Generalized Linear Models
Estimated Marginal Means : DOSIS
129
Lampiran 8. Lanjutan
130
Lampiran 8. Lanjutan
Estimated Marginal Means : PELATIHAN
Estimated Marginal Means : DOSIS* PELATIHAN
131
Lampiran 8. Lanjutan
Pairwise Comparisons
(I)
DOSIS*P
ELATIHA
N
(J) DOSIS*PELATIHAN Mean
Difference
(I-J)
Std.
Error
df Sig. 95% Wald
Confidence Interval
for Difference
Lower Upper
[DOSIS=0
]*[PELATI
HAN=0]
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=1] 16.1700
a
.26938 1 .000 15.6420 16.6980
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=0] -1.8499
a
.37349 1 .000 -2.5819 -1.1179
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=1] 14.6851
a
.27476 1 .000 14.1465 15.2236
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=0] -5.9589
a
.40537 1 .000 -6.7534 -5.1644
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=1] 3.1253
a
.33790 1 .000 2.4631 3.7876
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=0] -7.1230
a
.41474 1 .000 -7.9359 -6.3101
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=1] -1.7349
a
.37262 1 .000 -2.4652 -1.0046
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=0] -7.9067
a
.42113 1 .000 -8.7321 -7.0813
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=1] -4.6687
a
.39516 1 .000 -5.4432 -3.8942
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=0] -8.7133
a
.42776 1 .000 -9.5517 -7.8749
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=1] -11.7062
a
.45281 1 .000 -12.5937 -10.8187
[DOSIS=0
]*[PELATI
HAN=1]
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=0] -16.1700
a
.26938 1 .000 -16.6980 -15.6420
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=0] -18.0199
a
.28738 1 .000 -18.5832 -17.4567
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=1] -1.4850
a
.13634 1 .000 -1.7522 -1.2177
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=0] -22.1289
a
.32775 1 .000 -22.7713 -21.4865
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=1] -13.0447
a
.23932 1 .000 -13.5137 -12.5756
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=0] -23.2930
a
.33927 1 .000 -23.9580 -22.6280
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=1] -17.9049
a
.28626 1 .000 -18.4660 -17.3439
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=0] -24.0767
a
.34704 1 .000 -24.7569 -23.3965
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=1] -20.8387
a
.31503 1 .000 -21.4562 -20.2213
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=0] -24.8833
a
.35507 1 .000 -25.5792 -24.1874
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=1] -27.8762
a
.38487 1 .000 -28.6305 -27.1219
[DOSIS=1
]*[PELATI
HAN=0]
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=0] 1.8499
a
.37349 1 .000 1.1179 2.5819
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=1] 18.0199
a
.28738 1 .000 17.4567 18.5832
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=1] 16.5349
a
.29243 1 .000 15.9618 17.1081
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=0] -4.1090
a
.41755 1 .000 -4.9274 -3.2906
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=1] 4.9752
a
.35242 1 .000 4.2845 5.6660
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=0] -5.2731
a
.42666 1 .000 -6.1093 -4.4368
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=1] .1150 .38584 1 .766 -.6412 .8712
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=0] -6.0568
a
.43286 1 .000 -6.9052 -5.2084
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=1] -2.8188
a
.40764 1 .000 -3.6178 -2.0198
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=0] -6.8634
a
.43931 1 .000 -7.7244 -6.0023
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=1] -9.8563
a
.46374 1 .000 -10.7652 -8.9474
[DOSIS=1
]*[PELATI
HAN=1]
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=0] -14.6851
a
.27476 1 .000 -15.2236 -14.1465
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=1] 1.4850
a
.13634 1 .000 1.2177 1.7522
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=0] -16.5349
a
.29243 1 .000 -17.1081 -15.9618
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=0] -20.6439
a
.33219 1 .000 -21.2950 -19.9929
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=1] -11.5597
a
.24536 1 .000 -12.0406 -11.0788
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=0] -21.8080
a
.34356 1 .000 -22.4814 -21.1346
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=1] -16.4199
a
.29133 1 .000 -16.9909 -15.8489
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=0] -22.5918
a
.35125 1 .000 -23.2802 -21.9033
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=1] -19.3538
a
.31964 1 .000 -19.9802 -18.7273
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=0] -23.3983
a
.35917 1 .000 -24.1023 -22.6943
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=1] -26.3912
a
.38866 1 .000 -27.1530 -25.6295
[DOSIS=2
]*[PELATI
HAN=0]
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=0] 5.9589
a
.40537 1 .000 5.1644 6.7534
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=1] 22.1289
a
.32775 1 .000 21.4865 22.7713
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=0] 4.1090
a
.41755 1 .000 3.2906 4.9274
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=1] 20.6439
a
.33219 1 .000 19.9929 21.2950
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=1] 9.0842
a
.38605 1 .000 8.3276 9.8409
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=0] -1.1641
a
.45483 1 .010 -2.0555 -.2726
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=1] 4.2240
a
.41678 1 .000 3.4071 5.0409
132
Lampiran 8. Lanjutan
[DOSIS=2]*
[PELATIHA
N=0]
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=0] -1.9478
a
.46066 1 .000 -2.8507 -1.0449
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=1] 1.2902
a
.43704 1 .003 .4336 2.1468
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=0] -2.7544
a
.46672 1 .000 -3.6691 -1.8396
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=1] -5.7473
a
.48979 1 .000 -6.7073 -4.7873
[DOSIS=2
]*[PELATI
HAN=1]
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=0] -3.1253
a
.33790 1 .000 -3.7876 -2.4631
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=1] 13.0447
a
.23932 1 .000 12.5756 13.5137
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=0] -4.9752
a
.35242 1 .000 -5.6660 -4.2845
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=1] 11.5597
a
.24536 1 .000 11.0788 12.0406
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=0] -9.0842
a
.38605 1 .000 -9.8409 -8.3276
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=0] -10.2483
a
.39587 1 .000 -11.0242 -9.4724
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=1] -4.8602
a
.35150 1 .000 -5.5492 -4.1713
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=0] -11.0320
a
.40256 1 .000 -11.8210 -10.2430
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=1] -7.7940
a
.37530 1 .000 -8.5296 -7.0585
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=0] -11.8386
a
.40951 1 .000 -12.6412 -11.0360
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=1] -14.8315
a
.43560 1 .000 -15.6853 -13.9778
[DOSIS=4
]*[PELATI
HAN=0]
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=0] 7.1230
a
.41474 1 .000 6.3101 7.9359
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=1] 23.2930
a
.33927 1 .000 22.6280 23.9580
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=0] 5.2731
a
.42666 1 .000 4.4368 6.1093
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=1] 21.8080
a
.34356 1 .000 21.1346 22.4814
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=0] 1.1641
a
.45483 1 .010 .2726 2.0555
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=1] 10.2483
a
.39587 1 .000 9.4724 11.0242
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=1] 5.3881
a
.42590 1 .000 4.5533 6.2228
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=0] -.7837 .46892 1 .095 -1.7028 .1353
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=1] 2.4543
a
.44574 1 .000 1.5806 3.3279
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=0] -1.5903
a
.47491 1 .001 -2.5211 -.6595
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=1] -4.5832
a
.49757 1 .000 -5.5584 -3.6080
[DOSIS=4
]*[PELATI
HAN=1]
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=0] 1.7349
a
.37262 1 .000 1.0046 2.4652
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=1] 17.9049
a
.28626 1 .000 17.3439 18.4660
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=0] -.1150 .38584 1 .766 -.8712 .6412
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=1] 16.4199
a
.29133 1 .000 15.8489 16.9909
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=0] -4.2240
a
.41678 1 .000 -5.0409 -3.4071
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=1] 4.8602
a
.35150 1 .000 4.1713 5.5492
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=0] -5.3881
a
.42590 1 .000 -6.2228 -4.5533
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=0] -6.1718
a
.43212 1 .000 -7.0187 -5.3249
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=1] -2.9338
a
.40684 1 .000 -3.7312 -2.1364
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=0] -6.9784
a
.43860 1 .000 -7.8380 -6.1187
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=1] -9.9713
a
.46305 1 .000 -10.8789 -9.0637
[DOSIS=6
]*[PELATI
HAN=0]
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=0] 7.9067
a
.42113 1 .000 7.0813 8.7321
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=1] 24.0767
a
.34704 1 .000 23.3965 24.7569
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=0] 6.0568
a
.43286 1 .000 5.2084 6.9052
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=1] 22.5918
a
.35125 1 .000 21.9033 23.2802
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=0] 1.9478
a
.46066 1 .000 1.0449 2.8507
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=1] 11.0320
a
.40256 1 .000 10.2430 11.8210
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=0] .7837 .46892 1 .095 -.1353 1.7028
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=1] 6.1718
a
.43212 1 .000 5.3249 7.0187
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=1] 3.2380
a
.45169 1 .000 2.3527 4.1233
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=0] -.8066 .48048 1 .093 -1.7483 .1352
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=1] -3.7995
a
.50290 1 .000 -4.7852 -2.8138
[DOSIS=6
]*[PELATI
HAN=1]
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=0] 4.6687
a
.39516 1 .000 3.8942 5.4432
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=1] 20.8387
a
.31503 1 .000 20.2213 21.4562
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=0] 2.8188
a
.40764 1 .000 2.0198 3.6178
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=1] 19.3538
a
.31964 1 .000 18.7273 19.9802
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=0] -1.2902
a
.43704 1 .003 -2.1468 -.4336
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=1] 7.7940
a
.37530 1 .000 7.0585 8.5296
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=0] -2.4543
a
.44574 1 .000 -3.3279 -1.5806
133
Lampiran 8. Lanjutan
[DOSIS=6]*
[PELATIHA
N=1]
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=1] 2.9338
a
.40684 1 .000 2.1364 3.7312
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=0] -3.2380
a
.45169 1 .000 -4.1233 -2.3527
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=0] -4.0446
a
.45789 1 .000 -4.9420 -3.1471
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=1] -7.0375
a
.48136 1 .000 -7.9809 -6.0940
[DOSIS=8
]*[PELATI
HAN=0]
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=0] 8.7133
a
.42776 1 .000 7.8749 9.5517
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=1] 24.8833
a
.35507 1 .000 24.1874 25.5792
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=0] 6.8634
a
.43931 1 .000 6.0023 7.7244
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=1] 23.3983
a
.35917 1 .000 22.6943 24.1023
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=0] 2.7544
a
.46672 1 .000 1.8396 3.6691
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=1] 11.8386
a
.40951 1 .000 11.0360 12.6412
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=0] 1.5903
a
.47491 1 .001 .6595 2.5211
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=1] 6.9784
a
.43860 1 .000 6.1187 7.8380
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=0] .8066 .48048 1 .093 -.1352 1.7483
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=1] 4.0446
a
.45789 1 .000 3.1471 4.9420
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=1] -2.9929
a
.50847 1 .000 -3.9895 -1.9963
[DOSIS=8
]*[PELATI
HAN=1]
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=0] 11.7062
a
.45281 1 .000 10.8187 12.5937
[DOSIS=0]*[PELATIHAN=1] 27.8762
a
.38487 1 .000 27.1219 28.6305
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=0] 9.8563
a
.46374 1 .000 8.9474 10.7652
[DOSIS=1]*[PELATIHAN=1] 26.3912
a
.38866 1 .000 25.6295 27.1530
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=0] 5.7473
a
.48979 1 .000 4.7873 6.7073
[DOSIS=2]*[PELATIHAN=1] 14.8315
a
.43560 1 .000 13.9778 15.6853
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=0] 4.5832
a
.49757 1 .000 3.6080 5.5584
[DOSIS=4]*[PELATIHAN=1] 9.9713
a
.46305 1 .000 9.0637 10.8789
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=0] 3.7995
a
.50290 1 .000 2.8138 4.7852
[DOSIS=6]*[PELATIHAN=1] 7.0375
a
.48136 1 .000 6.0940 7.9809
[DOSIS=8]*[PELATIHAN=0] 2.9929
a
.50847 1 .000 1.9963 3.9895
Pairwise comparisons of estimated marginal means based on the original scale of dependent
variable GPX
a. The mean difference is significant at the .05 level.
134
Lampiran 9. Hasil Analasis Regresi Kuadratik Rata-rata Kadar MDA, SOD, dan
GPX darah Tikus Wistar Setelah Perlakuan Ekstrak Kulit Buah
Manggis dalam Kondisi Tanpa Pelatihan.
MDA
135
Lampiran 9. Lanjutan
SOD
136
Lampiran 9. Lanjutan
GPX
137
Lampiran 10. Hasil Analasis Regresi Kuadratik Rata-rata Kadar MDA, SOD, dan
GPX darah Tikus Wistar Setelah Perlakuan Ekstrak Kulit Buah
Manggis dalam Kondisi Pelatihan Fisik
MDA
138
Lampiran 10. Lanjutan
SOD
139
Lampiran 10. Lanjutan
GPX
140
Lampiran 11. Hasil Analisis Jalur Kadar MDA, SOD, dan GPx Darah Tikus
Wistar Setelah Perlakuan Ekstrak Kulit Buah Manggis (Garcinia
mangostana L.) dan Pelatihan Fisik.
Overview
AVE
Composite
Reliability
R Square
Cronbachs
Alpha
Communality Redundancy
EKSTRAK 1.000000 1.000000 1.000000 1.000000
KADAR GPX 1.000000 1.000000 0.941539 1.000000 1.000000 0.109496
KADAR MDA 1.000000 1.000000 0.778602 1.000000 1.000000 0.564678
KADAR SOD 1.000000 1.000000 0.958560 1.000000 1.000000 0.486137
PELATIHAN 1.000000 1.000000 1.000000 1.000000
Outer Loadings (Mean, STDEV, T-Values)
Original
Sample (O)
Sample Mean
(M)
Standard
Deviation
(STDEV)
Standard
Error
(STERR)
T Statistics
(|O/STERR|)
DOSIS <- EKSTRAK 1.000000 1.000000 0.000000
GPX <- KADAR GPX 1.000000 1.000000 0.000000
LATIH <- PELATIHAN 1.000000 1.000000 0.000000
MDA <- KADAR MDA 1.000000 1.000000 0.000000
SOD <- KADAR SOD 1.000000 1.000000 0.000000
Cross Loadings
EKSTRAK KADAR GPX KADAR MDA KADAR SOD PELATIHAN
DOSIS 1.000000 0.742126 -0.751450 0.834866 0.000000
GPX 0.742126 1.000000 -0.969227 0.958740 -0.466671
LATIH 0.000000 -0.466671 0.462519 -0.422946 1.000000
MDA -0.751450 -0.969227 1.000000 -0.958274 0.462519
SOD 0.834866 0.958740 -0.958274 1.000000 -0.422946
141
Lampiran 11. Lanjutan
Path Coefficients (Mean, STDEV, T-Values)
Original
Sample (O)
Sample
Mean (M)
Standard
Deviation
(STDEV)
Standard
Error
(STERR)
T Statistics
(|O/STERR|)
EKSTRAK -> KADAR GPX 0.077856 0.086050 0.066869 0.066869 1.164303
EKSTRAK -> KADAR MDA -0.751450 -0.762087 0.065766 0.065766 11.426136
EKSTRAK -> KADAR SOD 0.375666 0.384427 0.070765 0.070765 5.308611
KADAR MDA -> KADAR GPX -0.883984 -0.878113 0.067919 0.067919 13.015175
KADAR MDA -> KADAR SOD -0.611084 -0.604376 0.068841 0.068841 8.876760
PELATIHAN -> KADAR GPX -0.057811 -0.061561 0.057243 0.057243 1.009919
PELATIHAN -> KADAR MDA 0.462519 0.465397 0.057035 0.057035 8.109463
PELATIHAN -> KADAR SOD -0.140308 -0.147902 0.057862 0.057862 2.424877
Total Effects (Mean, STDEV, T-Values)
Original
Sample (O)
Sample
Mean (M)
Standard
Deviation
(STDEV)
Standard
Error
(STERR)
T Statistics
(|O/STERR|)
EKSTRAK -> KADAR GPX 0.742126 0.754157 0.066053 0.066053 11.235280
EKSTRAK -> KADAR MDA -0.751450 -0.762087 0.065766 0.065766 11.426136
EKSTRAK -> KADAR SOD 0.834866 0.843920 0.059416 0.059416 14.051141
KADAR MDA -> KADAR GPX -0.883984 -0.878113 0.067919 0.067919 13.015175
KADAR MDA -> KADAR SOD -0.611084 -0.604376 0.068841 0.068841 8.876760
PELATIHAN -> KADAR GPX -0.466671 -0.469629 0.064865 0.064865 7.194514
PELATIHAN -> KADAR MDA 0.462519 0.465397 0.057035 0.057035 8.109463
PELATIHAN -> KADAR SOD -0.422946 -0.428048 0.058116 0.058116 7.277616
142
Lampiran 12. Dokumentasi Penelitian
Foto 1. Membuat bubuk kulit buah
manggis
Foto 2. Bubuk kulit buah manggis
Foto 3. Maserasi bubuk kulit buah
manggis
Foto 4. Filtrasi hasil maserasi
Foto 5. Proses Evaporasi filtrat
Foto 6. Ekstrak kental kulit buah
manggis
143
Lampiran 12. Lanjutan
Foto 7. Proses Freeze dry ekstrak
kental
Foto 8. Ekstrak kering kulit buah
manggis
Foto 9. Proses menimbang berat
badan tikus.
Foto 10. Pemeliharaan hewan
percobaan.
Foto 11. Larutan ekstrak kulit buah
manggis dalam aquades
Foto 12. Proses Sonde hewan
percobaan
144
Lampiran 12. Lanjutan
Foto 13. Pelatihan Renang
Foto 14. Tes Renang Maksimal
Foto 15. Proses pengambilan darah
tikus percobaan