Anda di halaman 1dari 3

1.

Cabai merah
Cabai merah Besar (Capsicum annuum L.) merupakan salah satu jenis sayuran yang
memilki nilai ekonomi yang tinggi. Cabai mengandung berbagai macam senyawa yang
berguna bagi kesehatan manusia. Sun et al. (2007) melaporkan cabai mengandung
antioksidan yang berfungsi untuk menjaga tubuh dari serangan radikal bebas. Kandungan
terbesar antioksidan ini adalah pada cabai hijau. Cabai juga mengandung Lasparaginase dan
Capsaicin yang berperan sebagai zat anti kanker. Anggota genus Capsicum itu mengandung
zat bernama kapsaisin. Zat itu merampok atom hidrogen dari jaringan makhluk hidup.
Jaringan bereaksi dengan mengeluarkan air agar tidak rusak karena dehidrasi. Hal sama
dirasakan hama yang terkena atau memakan tanaman yang terkena semprotan air cabai. Ia
kepedasan hebat sampai mati mengering dengan membran sel rusak kehabisan cairan. Karena
itulah cabai menjadi pestisida nabati yang ampuh menghalau kutu, tungau, ulat, sampai
cacing perusak akar. Bahan golongan fenilpropanoid itu juga merusak system metabolisme
dan koordinasi serangga. Zat itu terdapat dalam semua jenis cabai, mulai dari cabai merah,
keriting, rawit, sampai paprika.
Buahnya mengandung kapsaisin, karotenoid, alkaloid asiri, resin, minyak
menguap, vitamin A dan C. Kapsaisin memberikan rasa pedas pada cabai,
Proses pengolahan pestisida nabati yang penulis lakukan adalah sebagai berikut ;
penumbukan, pemanasan, pendiaman, penyaringan, dan penyemprotan. Cara pembuatannya
dengan mengeringkan cabai yang basah dulu. Kemudian giling sampai menjadi tepung.
Tepung cabai tersebut kalau dicampur dengan air dapat digunakan untuk membasmi hama
tanaman.
Pestisida yang alami yang berasal dari senyawa tumbuhan bisa digunakan untuk
mengendalikan organisme pengganggu tanaman (OPT). Pestisida nabati lebih ramah
lingkungan dan lebih mudah didapatkan daripada pestisida kimia serta pengolahannya yang
tidak terlalu rumit.
Kapsaisin
Tahukah kalian darimana asal rasa panas ketika kalian memakan makanan pedas?

Kapsaisin (8-metil-N-vanilil-6-nonenamida) adalah suatu senyawa kimia yang dapat
menyebabkan iritasi pada lidah berupa rasa panas. Inilah apa yang kita sebut sebagai "rasa"
pedas. Kapsaisin (8-metil-N-vanilil-6-nonenamida) termasuk di dalam Kapsaisinoid, yaitu
zat kimia yang menimbulkan rasa pedas yang ada dalam tumbuh-tumbuhan, seperti cabai.

2. Cengkeh
Larutan jahe dan cengkeh
- Untuk mengatasi hama Plutella xylostella pada kubis.
Minyak daun cengkeh dapat digunakan untuk mengendalikan serangga hama, termasuk
kutu putih. Planococcus minor merupakan kutu putih yang berperan sebagai serangga
vektor penyakit kerdil pada tanaman lada. Tanaman cengkeh merupakan salah satu
tanaman rempah yang dimanfaatkan terutama dalam industri rokok. Selain itu cengkeh
dimanfaatkan dalam industri makanan, obat-obatan. Sejak tahun 1990-an bagian-bagian
dari tanaman cengkeh, yaitu daun, bunga dan gagangnya telah dimanfaatkan pula sebagai
bahan baku pestisida nabati untuk pengendalian hama dan penyakit tanaman. Berdasarkan
uji laboratorium menunjukkan bahwa produk cengkeh (tepung dan minyak) dapat
menghambat pertumbuhan Phytophthora capsici, P. palmivora, Rigidoporus lignosus dan
bakteri Pseudomonas solanacearum.
Tanaman cengkeh telah lama dikenal masyarakat, baik sebagai bumbu dapur maupun
bahan baku industri (rokok, kosmetik, obat). Tanaman ini dapat digunakan sebagai pestisida
nabati karena dapat digunakan sebagai insektisida, fungisida, bakterisida, dan nematisida.
ekstrak metanol bunga cengkeh dapat mengendalikan serangga secara kontak, oral dan
repelen. Ho et al. (1994) mengemukakan adanya efek racun dari cengkeh terhadap
serangga. Selain itu telah dilaporkan bahwa minyak bunga cengkeh mempunyai efek
fumigan terhadap tungau Dermanyssus gallinae. lus similis, Nematoda (Meloidogyne
incognita) Senyawa aktif yang dikandung oleh tanaman ini dapat menghambat/menekan
pertumbuhan/perkembangan cendawan penyebab penyakit, hama, nematoda dan bakteri.
OPT yang dapat dikendalikan antara lain : Jamur (Fusarium sp.; Phytophthora sp.;) Lalat
buah (Dacus sp.); Pseudomonas solanacearum, Radopho
Cara Pembuatan :
- Daun, bunga atau tangkai bunga ditumbuk hingga menjadi tepung, dapat juga diekstak
(laboratorium),
- Sebarkan tepung/minyak tersebut pada tanaman atau sekitar perakaran yang terserang
dengan dosis 50 gram/pohon, jika menggunakan serasah daun cengkeh dosis yang digunakan
100 gram/pohon.
- Pada tanaman dengan serangan ringan dapat dilakukan penyayatan pada akar kemudian
diolesi dengan tepung/ minyak cengkeh.
Potensi lain adalah bahwa suatu senyawa yang terdapat dalam ekstrak tanaman ini
yaitu eugenol dan eugenol asetat ternyata dapat bersifat anti fungal terhadap pathogen
penyakit yang sering menyerang tanaman antara lain, Fusarium, Phytopthora, Sclerotium,
Jamur akar putih, Gadoderma, Phytium. Sebagai fungisida jamur tanaman sayur. Tanaman
lain yang termasuk tanaman aromatik dan mengandung minyak atsiri adalah tanaman
cengkeh (Syzygium aromaticum). Tanaman cengkeh diketahui mengandung minyak
atsiri jenis eugenol yang aromanya diduga tidak disenangi lalat. Produk cengkeh bisa
digunakan sebagai fungisida, bakterisida, nematisida, dan insektisida.
Eugenol merupakan salah satu komponen kimia dalam minyak cengkeh yang
memberikan bau dan aroma yang khas pada minyak cengkeh. Eugenol merupakan komponen
kimia utama dalam minyak daun cengkeh, yaitu 79- 90% volume. rumus molekul C
10
H
12
0
2