Anda di halaman 1dari 9

ACARA I

MENGENAL MORFOLOGI DAUN DAN SIFAT-SIFAT PESTISIDA



I. TUJUAN
Tujuan praktikum Pestisida dan Biopestisida Pertanian acara Mengenal
Morfologi Daun dan Sifat sifat Pestisida adalah dapat memahami sifat-sifat
morfologi daun dan sifat-sifat fisik pestisida.

II. LANDASAN TEORI
Pestisida adalah bahan yang digunakan untuk mengendalikan,
menolak, memikat, atau membasmi organisme pengganggu. Nama ini berasal
dari pest (hama) yang diberi akhiran -cide (pembasmi). Sasarannya
bermacam-macam, seperti serangga, tikus, gulma, burung, mamalia, ikan, atau
mikrobia yang dianggap mengganggu. Pestisida biasanya, tapi tak selalu,
beracun. dalam bahasa sehari-hari, pestisida seringkali disebut sebagai racun
(Anonim, 2010).
Pestisida adalah substansi kimia dan bahan lain serta jasad renik dan
virus yang digunakan untuk mengendalikan berbagai hama. Yang dimaksud
hama di sini adalah sangat luas, yaitu serangga, tungau, tumbuhan
pengganggu, penyakit tanaman yang disebabkan oleh fungi (jamur), bakteria
dan virus, kemudian nematoda (bentuknya seperti cacing dengan ukuran
mikroskopis), siput, tikus, burung dan hewan lain yang dianggap merugikan
(Chada, 1995).
Daun tanaman memiliki sifat morfologi yang beragam diantaranya
lapisan lilin (tebal), berambut (trichoma), dan permukaan (bergelombang).
Lapisan lilin pada daun mengurangi daya pelekatan dari pestisida. Rambut
yang ada pada permukaan daun menghalangi kontak dan penyebaran
pestisidasehingga menghambat peresapannya pada daun. Demikian juga
permukaan daunyang tidak rata(bergelombang) dapat mengurangi perataan
sebaran pestisida. Sifat-sifat daun tersebut menurunkan efektivitas pestisida
utama racun kontak dan perut (Wurdianto, 1997).
Menurut PP no.7 tahun 1973 adalah semua zat kimi dan bahan lain
serta jasad renik dan virus yang digunakan:
1. Memberantas atau mencegah hama dan penyakit yang merusak
tanaman,bagian-bagian tanaman atau hasil-hasil pertanian.
2. Memberantas rerumputan
3. Mematikan daun dan mencegah pertumbuhan yang tidak diingikan
4. Mengatur atau merangsang pertumbuhan tanaman atau bagian-bagian
tanaman (tidak termasuk pupuk)
5. Memberantas atau mencegah binatang-binatang atau jasad-jasad renik
dalam rumah tangga, bangunan dan dalam alat-alat pengangkutan
6. Memberantas atau mencegah binatang-binatang yang dapat menyebabkan
penyakit pada manusia atau binatang yang perlu dilindungi dengan
penggunaan pada tanaman, tanah atau air.

III. BAHAN DAN ALAT
A. Bahan
Bahan yang dipakai pada praktikum ini adalah Daun tanaman
(padi, jagung, kacang panjang, talas, ketela rambat), insektisida
berformulasi WP, SP, WSC, SC, dan sticker.

B. Alat
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah timbangan, becker
glass, pipet, pengaduk, mikroskop, dan hand sprayer.

IV. PROSEDUR KERJA
1. Kecepatan dan kstabilan larutan pestisida
a. Pestisida dituangkan ke dalam 100 ml air pada becker glas untuk
masing-masing formulasi (EC, WSC, WP, SP).
b. Kecepatan pelarutan formulasi pestisida tersebut diamati
(dibandingkan).
c. Setelah terdata kecepatan pelarutan, larutan pestisida tersebut diaduk.
d. Kestabilan larutan pestisida diamati (dibandingkan).
2. Pengamatan morfologi permukaan daun
a. Bentuk morfologi daun (padi, jagung, kacang panjang, talas, ketela
rambat) diamati khususnya mengenai kepadatan trachoma
(jumlah/2cm), kandungan lilin (kualitatif), dan kerataan permukaan
daun.
b. Permukaan daun-daun tersebut ditetesi dengan air biasa.
c. Cara yang sama (seperti 2b) dilakukan dengan menggunakan larutan
pestisida.
d. Sifat-sifat pelekatan dan sebaran pestisidanya diamati (dibandingkan
antara 2b dan 2c).
3. Peningkatan pelekatan pestisida
a. 2 larutan pestisida dibuat sesuai dengan konsentrasi anjuran masing-
masing dalam 100 ml (pada becker glass A dan B).
b. Sticker (sesuai konsentrasi anjuran) ditambahkan pada becker glass A,
sedangkan pada becker glass B tanpa bahan sticker.
c. Daun dicelupkan pada larutan pestisida becker glass A dan B.
d. Daun yang telah diperlakukan dengan dan tanpa pestisida bersticker
dikeringanginkan.
e. Pada perlakuan 3d disemprotkan air (sebagai simulasi pencuci air
hujan) sebanyak 0, 10, 20,30 kali semprot.
f. Daun yang telah disimulasi air hujan dikeringanginkan.
g. Kemudian daun perlakuan tersebut diumpankan pada 10 serangga uji.
h. Mortalitas serangga uji diamati setiap 24 jam selama 2 hari.


V. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
(Terlampir)

B. Pembahasan
Setiap pestisida mempunyai sifat yang berbeda. Sifat pestisida yang
sering ditemukan adalah daya, toksisitas, rumus empiris, rumus bangun,
formulasi, berat molekul dan titik didih. Pengetahuan pestisida juga
meliputi struktur dan cara pemberian nama atau dikenal dengan tata nama.
Pestisida sebelum digunakan harus diformulasi terlebih dahulu.
Pestisida dalam bentuk murni biasanya diproduksi oleh pabrik bahan dasar,
kemudian dapat diformulasi sendiri atau dikirim ke formulator lain. Oleh
formulator baru diberi nama. Berikut ini beberapa formulasi pestisida yang
sering dijumpai:
1. Cairan emulsi ( emulsifiable concentrates / emulsible concentrates )
Pestisida yang berformulasi cairan emulsi meliputi pestisida yang di
belakang nama dagang diikuti oleb singkatan ES (emulsifiable solution),
WSC (water soluble concentrate). B (emulsifiable) dan S (solution).
Biasanya di muka singkatan tersebut tercantum angka yang
menunjukkan besarnya persentase bahan aktif. Bila angka tersebut lebih
dari 90 persen berarti pestisida tersebut tergolong murni. Komposisi
pestisida cair biasanya terdiri dari tiga komponen, yaitu bahan aktif,
pelarut serta bahan perata. Pestisida golongan ini disebut bentuk cairan
emulsi karena berupa cairan pekat yang dapat dicampur dengan air dan
akan membentuk emulsi.
2. Butiran (granulars)
Formulasi butiran biasanya hanya digunakan pada bidang pertanian
sebagai insektisida sistemik. Dapat digunakan bersamaan waktu tanam
untuk melindungi tanaman pada umur awal. Komposisi pestisida butiran
biasanya terdiri atas bahan aktif, bahan pembawa yang terdiri atas talek
dan kuarsa serta bahan perekat. Komposisi bahan aktif biasanya berkisar
2-25 persen, dengan ukuran butiran 20-80 mesh. Aplikasi pestisida
butiran lebih mudah bila dibanding dengan formulasi lain. Pestisida
formulasi butiran di belakang nama dagang biasanya tercantum
singkatan G atau WDG (water dispersible granule).
3. Debu(dust)
Komposisi pestisida formulasi debu ini biasanya terdiri atas bahan aktif
dan zat pembawa seperti talek. Dalam bidang pertanian pestisida
formulasi debu ini kurang banyak digunakan, karena kurang efisien.
Hanya berkisar 10-40 persen saja apabila pestisida formulasi debu ini
diaplikasikan dapat mengenai sasaran (tanaman).
4. Tepung(powder)
Komposisi pestisida formulasi tepung pada umumnya terdiri atas bahan
aktif dan bahan pembawa seperti tanah hat atau talek (biasanya 50-75
persen). Untuk mengenal pestisida formulasi tepung, biasanya di
belakang nama dagang tercantum singkatan WP (wettable powder) atau
WSP (water soluble powder).
5. Oli(oil)
Pestisida formulasi oli biasanya dapat dikenal dengan singkatan SCO
(solluble concentrate in oil). Biasanya dicampur dengan larutan minyak
seperti xilen, karosen atau aminoester. Dapat digunakan seperti
penyemprotan ULV (ultra low volume) dengan menggunakan atomizer.
Formulasi ini sering digunakan pada tanaman kapas.
6. Fumigansia(fumigant),
Pestisida ini berupa zat kimia yang dapat menghasilkan uap, gas, bau,
asap yang berfungsi untuk membunuh hama. Biasanya digunakan di
gudang penyimpanan.

Formulasi pestisida :
a. Pestisida dalam bentuk teknis (technical grade) sebelum digunakan
perlu diformulasikan dahulu. Formulasi pestisida merupakan
pengolahan (processing) yang ditujukan untuk meningkatkan sifat-sifat
yang berhubungan dengan keamanan, penyimpanan, penanganan
(handling), penggunaan, dan keefektifan pestisida. Pestisida yang dijual
telah diformulasikan sehingga untuk penggunaannya pemakai tinggal
mengikuti petunjuk-petunjuk yang diberikan dalam manual.
b. Formulasi insektisida yang digunakan dalam pengawetan kayu dan
pengendalian hama hasil hutan pada umumnya adalah dalam bentuk:
- Untuk Penyemprotan (sprays) dan pencelupan (dipping)
- Emulsifiable / emulsible concentrates (EC)
- Water miscible liquids (S)
- Water soluble concentrates (WSC)
- Soluble concentrates (SC)
- Wettable powder (WP)
- Flowable suspension (F)
- Water soluble powders (SP)
- Ultra Low Volume Concentrates (ULV).
Pada praktikum kali ini berdasarkan pengamatan morfologi daun
dapat diketahui bahwa daun jagung mempunyai trikoma yang banyak, hal
ini berarti peresapan pestisida pada daun akan terhambat, sedangkan
lapisan lilin pada daun jagung sedikit, hal ini berarti daya pelekatan
pestisida besar. Bentuk permukaan pada daun jagung bergelombang hal ini
dapat mengurangi prataan persebaran pestisida. Sedangkan pada daun talas
tidak mempuyai trikoma, berarti peresapan pestisida pada daun
lancar,untuk lapisan lilin daun talas mempunyai lapisan lilin yang banyak
(tebal),hal ini daya pelekatan pestisida kecil bahan sangat kecil. Untuk
bentuk permukaan daun, talas memiliki permukaan daun yang rata, hal ini
memperlancar persebaran pestisida pada daun kacang panjang tidak
mempunyai trikoma lapisan lilinnya agak banyak dan bentuk
permukaannya bergelombang, daun padi mempunyaijumlah trikoma yang
sangat banyak, lapisan lilin sedikit dan bentuk permukaan bergelombang
sedangkan untuk daun ketela rambat tidak mempunyai trikoma dengan
lapisan lilin agak banyak dan bentuk daun bergelombang.
Pada praktikum mortalitas hama dengan perlakuan pestisida +
striker dan pestisida tanpa striker didapatkan hasil bahwa pestisida + striker
lebih efektif dalam membunuh hama.
Untuk kemantapan larutan terdapat beberapa jenis pestisida
diantaranya EC (emulsible concentrates), pestisida ini mudah larut karna
formulasinya berasal dari bahan cair, kemudian WP (Wettable powder),
pestisida ini sangat larut, bahan formulasinya berasal dari bahan tepung,
sedangkan pestisida S (Water miscible liquids) lambat larut.
Uji kemantapana larutan yang telah dilakukan pada saat praktikum
diketahui bahwa jenis pestisida yang mempunyai kecepatan pelarutan
paling tinggi adalah WP dan yang paling rendah adalah S sedangkan untuk
kestabilan larutan jenis pestisida EC dan S mempunyai kestabilan sangat
stabil sedangkan untuk jenis pestisida WP agak stabil.

VI. KESIMPULAN
1. Daun tanaman memiliki sifat morfologi yang beragam seperti lapisan lilin,
berambut dan bentuk permukaan.
2. Sifat pestisida yang sering ditemukan adalah daya, toksisitas, rumus
empiris, rumus bangun, formulasi, berat molekul dan titik didih.
3. Setiap pestisida mempunyai sifat fisik yang berbeda-beda diantaranya cair,
butiran, tepung, debu, minyak dan fumigansia.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2010.Pengenalan fungisida.
http://anekaplanta.wordpress.com/2010/01/19/pengenalan-fungisida/. Diakses
pada tanggal 15 april 2011.
Chada, P.V. 1995. Ilmu Forensik dan Toksikologi. Widya Medika : Jakarta
Wudianto, R. 1997. Petunjuk Penggunaan Pestisida. Penebar Swadaya. Jakarta