Anda di halaman 1dari 12

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Infertilitas


Infertilitas merupakan kekurangmampuan sepasang suami istri untuk
mendapatkan keturunan walaupun sudah melakukan hubungan seksual secara
teratur, tanpa kontrasepsi dan dalam periode satu tahun.
Infertilitas terbagi menjadi infertilitas primer dan infertilitas sekunder.
1. Infertilitas primer : Jika istri belum pernah hamil sama sekali dan dialami
sejak awal mereka menikah.
2. Infertilitas sekunder : Jika istri pernah hamil tapi tidak mengalami kehamilan
lagi walaupun bersenggama secara teratur maka disebut. Infertilitas sekunder
dialami sepasang suami istri yang pernah mengalami proses pembuahan
setelah menikah.
2.2 Etiologi
Penyebab infertilitas pada perempuan dan laki laki adalah sebagai berikut :
1. Penyebab kemandulan pada perempuan.
Gangguan yang paling sering dialami perempuan mandul adalah
gangguan ovulasi. Bila ovulasi tidak terjadi maka tidak akan ada sel telur yang
bisa dibuahi. Salah satu tanda wanita yang mengalami gangguan ovulasi
adalah haid yang tidak teratur dan haid yang tidak ada sama sekali. Gangguan
lain yang bisa menyebabkan kemandulan pada wanita adalah :
a.

Tertutupnya lubang saluran tuba yang disebabkan oleh karena infeksi,


endometriosis dan operasi pengangkatan kehamilan ektopik.
b.

Gangguan fisik rahim.

c.

Umur.

d.

Stress.

e.

Kurang gizi.

f.

Terlalu gemuk dan terlalu kurus.

g.

Merokok.

h.

Alkohol.

i.

Penyakit menular seksual.

j.

Gangguan kesehatan yang menyebabkan terganggunya keseimbangan


hormon.

2. Penyebab Kemandulan pada Laki Laki


a. Gangguan pada pabrik sperma, sehingga sel sperma yang dihasilkan sedikit
atau tidak sama sekali.
b. Gangguan pada sel sperma untuk mencapai sel telur dan membuahinya.
Masalah ini biasanya disebabkan oleh karena bentuk sperma yang tidak
normal sehingga pergerakannyapun tidak normal. Penyebab

risiko

kemandulan pada laki laki :


a)

Suka minum alkohol.

b)

Suka menggunakan narkoba.

c)

Polusi udara.

d)

Merokok.

e)

Masalah kesehatan lainnya.

f)

Obat obatan yang tidak jelas.

g)

Penggunaan radiasi dan kemoterapi untuk pengobatan kanker.

h)

Umur.

2.3 Pemeriksaan Infertilitas


Syarat pemeriksaan infertilitas adalah setiap pasangan infertile harus
diperlakukan sebagai satu kesatuan. Artinya, jika istri saja sedangkan suaminya
tidak mau diperiksa, maka pasangan tersebut tidak diperiksa.
Menurut, adapun syarat-syarat pemeriksaan pasangan infertile adalah
sebagai berikut:
1.

Istri yang berumur antara 20-30 tahun baru akan diperiksa setelah berusaha
mendapat anak selama 12 bulan. Pemeriksaan dapat dilakukan lebih dini

apabila:
Pernah mengalami keguguran berulang
Diketahui mengidap kelainan endokrin
Pernah mengalami peradangan rongga panggul atau rongga perut, dan
Pernah mengalami bedah ginekologi
2. Istri yang berumur antara 31-35 tahun dapat diperiksa pada kesempatan
a.
b.
c.
d.

pertama pasangan itu datang ke dokter.


3. Istri pasangan infertile yang berumur antara 36-40 tahun hanya dilakukan
pemeriksaan infertilitas jika belum memiliki anak dari perkawinan ini.
2

Pemeriksaan infertilitas tidak dilakukan pada pasangan infertile tidak

4.

dilakukan pada pasangan infertile yang salah satu anggota pasangannya


mengidap penyakit yang dapat membahayakan kesehatn istri atau anaknya.
Menurut, pemeriksaan masalah-masalah infertilitas meliputi:
1.

Masalah air mani


Pemeriksaan yang dilakukan adalah:

a.
1)

Pemeriksaan mikroskopik
Konsetrasi spermatozoa
Menghitung konsentrasi spermatozoa dalam air mani sama caranya dengan
menghitung konsentrasi darah. Ketelitian menghitung akan berkurang
dengan kurangnya konsentrasi spermatozoa. Analisis air mani sebaiknya
dilakukan lebih dari satu kali. Jika konsentrasi spermatozoa kurang dari 10
juta/ml, sungguh jarang tapi tidak mustahil, jika kehamilan masih dapat

2)

terjadi.
Motalitas spermatozoa
Setetes air mani ditempatkan pada gelas obyek, kemudian ditutup dengan
gelas penutup. Presetase spermatozoa motil ditaksir setelah memeriksa 25
lapangan pandangan besar. Jenis motalitas spermatozoa dibagi ke dalam
skala 0 sampai 4. Pada pemeriksaan pasca senggama ternyata spermatozoa
dapat bergerak dapat mencapai lendir serviks daam 1,5 menit setelah
ejakulasi, dan tidak dapat hidup lama dalam secret vagina karena
keasamannya yang tinggi. Dengan demikian, spermatozoa yang membuahi
ovum, harus secepatnya membebaskan diri dari lingkungan plasma mani
dan secret vagina. Oleh karena itu faktor vagina hampir tidak berengaruh.
Motilitas spermatozoa kurang dapat diperoleh dari suami sehat setelah
tidak bersenggama lebih dari 10 hari. Hal ini mungkin karena kerusakan
akibat terlampau lama ditimbun dalam system duktus. Pemeriksaan air
mani berikutnya setelah abstinensi yang singkat akan menimbulkan
motilitas spermatozoa seperti semuala.

3)

Morfologi spermatozoa
Morfologi spermatozoa harus

dianggap sama pentingnya

dengan

konsentrasi spermatozoa. Pemeriksaan ini hanya dapat dilakukan pulasan


sediaan-usap air mani, kemudian menghitung jenis spermatozoanya.

b.

Uji ketidakcocokan imunologik


Uji kontak air mani dengan lendir serviks yang dikembangkan oleh Kremer dan
Jager dapat mempertunjukkan adanya antibody local pada pria atau wanita.

2.

Masalah vagina dan serviks


Uji pascasenggama

a.

Cara pemeriksaan: setelah abstinensi selama 2 hari, pasangan dianjurkan


melakukan senggama 2 jam sebelum waktu yang ditentukan untuk datang ke
dokter. Dengan speculum vagina kering, serviks ditampilakan, kemudian lendir
serviks yag tampak dibersihkan dengan kapas kering pula. Jangan
menggunakan

kapas

basah

oleh

antiseptic

karena

dapat

mematikan

spermatozoa. Lendir serviks diambil dengan semprit tuberculin, kemudian


disemprotkan keluar pada gelas objek, lalu ditutup dengan gelas penutup.
Pemeriksaan mikroskopik dilakukan dengan lapangan pandangan besar.
b.

Uji in vitro
1)Uji gelas

obyek
Caranya dengan menempatkan setetes air mani dan setetes lendir serviks
pada gelas obyek, kemudian kedua bahan itu disinggungkan satu sala lain
dengan meletakkan sebuah gelas penutup diatasnya. Spermatozoa akan
tampak

menyerbu

ke

dalam

lendir

serviks,

didahului

oleh

pembentukkan phalanges air mani kedalam lendir serviks.


2)Uji kontak air mani dengan lendir serviks
Menurut Kremer & Jager, pada ejakulat dengan auto imunisasi, gerakan
maju spermatozoa akan berubah menjadi terhenti, atau gemetar di tempat
kalau bersinggungan dengan lendir serviks. Perangai gemetar di tempat ini
terjadi pula kalau air mani yang normal bersinggungan dengan lendir serviks
dari wanita yang serumnya mengandung antibody terhadap spermatozoa.
3.

Masalah uterus
Pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah:

a.

Biopsy endometrium
Barangkali tidak ada satu alasan penting untuk melakukan biopsi, kecuali untuk
menilai perubahan khas yang terjadi pada alat yang dibiopsi itu. Gambaran
endometrium merupakan bayangan cermin dari pengaruh hormon-hormon
4

ovarium. Akan tetapi, sebagaimana juga berlaku bagi setiap prosedur


kedokteran, keterangan yang ingin diperoleh harus seimbang dengan risiko
melakukan prosedur itu.
b.

Histerosalpingografi
Prinsip pemeriksaannya sama dengan pertubasi, hanya peniupan gas diganti
dengan media kontras yang akan melimpah kedalam kavum peritonei kalau
tubanya paten, dan penilaiannya dilakukan secara radiografik.

c.

Histeroskopi
Peneropongan kavum uteri yang sebelumnya telah digembungkan dengan
media dekstran 32%, glukosa 5%, garam fisiologik, atau gas CO2. Dalam
infertilitas, pemeriksaan histeroskopi dilakukan bila terdapat:
1)
2)
3)
4)
5)

Kelainan pada pemeriksaan histerosalpingografi


Riwayat abortus habitualis
Dugaan adanya mioma ataupolip submukosa
Perdarahan abnormal dari uterus, atau
Sebelum melakukan bedah plastik pada tuba, untuk menempatkan kateter

sebagai splint pada bagian proksimal tuba.


4. Masalah tuba
Pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah pertubasi. Pertubasi bertujuan
memeriksa patensi tuba dengan jalan meniupkan gas CO2 melalui kanula atau
kateter foley yang dipasang pada kanalis servikalis.
Pemeriksaan infertilitas dilakukan dengan beberapa pemeriksaan, yaitu :
1. Uji Pascasenggama
Walaupun uji Sims Huhner atau uji pascasenggama telah lama dikenal
di seluruh dunia, tetapi ternyata nilai kliniknya belum diterima secra seragam.
Salah satu penyebabnya adalah karena belum adanya standarisasi cara
melakukannya.

Kebanyakan peneliti sepakat untuk melakukannya pada

tengah siklus haid, yang berarti 1 - 2 hari sebelum meningkatnya suhu basal
badan yang diperkirakan. Akan tetapi, belum ada kesepakatan berapa hari
abstinensi harus dilakukan sebelumnya, walaupun kebanyakan menganjurkan
2 hari. Demikian pula belum terdapat kesepakatan kapan pemeriksaan itu
dilakukan setelah senggama. Menurut kepustakaan, ada yang melakukannya
setelah 90 detik sampai setelah 8 hari. Sebagaimana telah diuraikan,
spermatozoa sudah dapat dampai pada lendir serviks segera setelah senggama,
5

dan dapat hidup di dalamnya sampai 8 hari. Menurut Denezis uji


pascasenggama baru dapat dipercaya kalau dilakukan dalam 8 jam setelah
senggama. Perloff melakukan penelitian pada golongan fertil dan infertil, dan
berkesimpulan tidak ada perbedaan hasil yang antara kedua golongan itu kalau
pemeriksaannya dilakukan lebih dari 2 jam setelah senggama. Jika kesimpulan
ini benar, maka uji pascasenggama dilakukan secepatnya setelah senggama.
Davajan menganjurkan 2 jam setelah senggama, walaupun penilaian secepat
itu tidak akan sempat menilai ketahanan hidup spermatozoa dalam lendir
serviks.
2. Histeroskopi
Histeroskopi adalah peneropongan kavum uteri yang sebelumnya telah
digelembungkan dengan media dekstran 32%, glukosa 5%, garam fisiologik,
atau gas CO2.
Dalam infertilitas, pemeriksaan histeroskopi dilakukan apabila terdapat :
a. Kelainan pada pemeriksaan histerosalpingografi.
b. Riwayat abortus habitualis.
c. Duaan adanya mioma atau polip submukosa.
d. Perdarahan abnormal dari uterus.
e. Sebelum dilakukan bedah plastik tuba, untuk menempatkan kateter sebagai
splint pada bagian proksirnal tuba.
3. Pemeriksaan Hormonal
Hasil pemeriksaan hormonal dengan RIA harus selalu dibandingkan
dengan nilai normal masing masing laboratorium.
Pemeriksaan FSH berturut turut untuk memeriksa kenaikan FSH tidak selalu
mudah, karena perbedaan kenaikannya tidak sangat nyata, kecuali pada tengah
tengah siklus haid ( walaupun masih kurang nyata dibandingkan dengan
puncak LH ). Pada fungsi ovarium tidak aktif, nilai FSH yang rendah sampai
normal menunjukkan kelainan pada tingkat hipotalamus atau hipofisis.
Sedangkan nilai yang tinggi menunjukkan kelainan primernya pada ovarium.
4. Sitologi Vaginal Hormonal
Sitologi vagina hormonal menyelidiki sel sel yang terlepas dari selaput
lendir vagina, sebagai pengaruh hormon hormon ovarium (estrogen dan
progesteron).

Pemeriksaan

ini

sangat

sederhana,

mudah

dan

tidak
6

menimbulkan nyeri, sehingga dapat dilakukan secara berkala pada seluruh


siklus haid.
Tujuan pemeriksaan sitologi vagina hormonal ialah :
a.Memeriksa pengaruh estrogen dengan mengenal perubahan sitologik yang
khas pada fase proliferasi.
b.Memeriksa adanya ovulasi dengan mengenal gambaran sistologik pada fase
luteal lanjut.
c.Menentukan saat ovulasi dengan mengenal gambaran sitologik ovulasi yang
khas.
d.Memeriksa kelainan fungsi ovarium pada siklus haid yang tidak berovulasi.
2.4 Faktor Faktor yang Mempengaruhi Infertil
1. Pada Perempuan
a. Hormonal
Gangguan glandula pituitaria, thyroidea, adrenalis atau ovarium yang
menyebabkan :
1.

Kegagalan ovulasi.

2.

Kegagalan endometrium uterus untuk berproliferasi dan sekresi.

3.

Sekresi vagina dan cervix yang tidak menguntungkan bagi sperma.

4.

Kegagalan gerakan ( motilitas ) tuba falopii yang menghalangi


spermatozoa mencapai uterus.

b. Sumbatan
Tuba falopii yang tersumbat bertanggung jawab untuk kira kira sepertiga
dari penyebab infertilitas. Sumbatan tersebut dapat disebabkan :
1.

Kelainan kongenital.

2.

Penyakit radang pelvis umum, misalnya apendisitis dan


peritonitis.

3.

Infeksi tractus genitalis yang naik, misalnya gonore.

c. Faktor Lokal
Keadaan keadaan seperti :
1.

Fibroid uterus, yang menghambat implantasi ovum.

2.

Erosi cervix yang mempengaruhi pH sekresi sehingga merusak


sperma.
7

3. Kelainan kongenital vagina, cervix atau uterus yang menghalangi


pertemuan sperma atau ovum.
2. Pada Laki Laki
a. Gangguan Spermatogenesis
Analisis cairan seminal dapat mengungkapkan :
1. Jumlah spermatozoa kurang dari 20 juta per mililiter cairan seminel.
2. Jumlah spermatozoa yang abnormal lebih dari 40% yang berupa defek
kepala ( caput ) atau ekor ( cauda ) yang spesifik. Keadaan ini mungkin
karena adanya aplasia sel germinal, pengelupasan, atau suatu defek
kongenital, atau beberapa penyebab yang tidak dapat ditetapkan.
3. Cairan seminal yang diejakulasikan kurang dr 2 ml.
4. Kandungan kimia cairan seminal tidak memuaskan, misalnya kadar
glukosa, kolesterol, atau enzim hialuronidase abnormal dan pH nya
terlalu tinggi atau terlalu rendah.
b. Obstruksi
1.

Sumbatan ( oklusi ) kongenital duktus atau tubulus.


2. Sumbatan duktus atau tubulus yang disebabkan oleh penyakit
peradangan ( inflamasi ) akut atau kronis yang mengenai membran
basalais atau dinding otot tubulus seminiferus, misalnya orkitis, infeksi
prostat, infeksi gognokokus. Penyakit ini merupakan penyebab yang
paling umum pada infertilitas pria.
c. Ketidakmampuan Koitus atau Ejakulasi
1. Faktor faktor fisik, misalnya hipospadia, epispadia, deviasi penis sperti
pada priapismus atau penyakit Peyronie.
2. Faktor faktor psikologis yang menyebabkan ketidakmampuan untuk
mencapai atau mempertahankan ereksi.
3. Alkoholisme kronik.
d. Faktor Sederhana
Kadang kadang faktor faktor sederhana seperti memakai celana jeans
ketat, mandi dengan air terlalu panas, atau berganti lingkungan ke iklim
tropis dapat menyebabkan keadaan luar ( panas ) yang tidak
menguntungkan untuk produksi sperma yang sehat.

2.5 Masalah yang Timbul pada Infertilitas


1. Masalah air mani pada laki laki
Air mani ditampung dengan jalan masturbasi langsung ke dalam tabung
gelas bersih yang bermulut lebar ( atau gelas minum ), setelah abstinensi 3 5
hari. Sebaiknya penampungan air mani itu dilakukan di rumah pasien sendiri,
kemudian dibawa ke laboratorium dalam 2 jam setelah dikeluarkan. Air mani
yang dimasukkan ke dalam kondom dahulu, yang biasanya mengandung zat
spermatisid, akan mengelirukan penilaian motilitas spermatozoa.
Karakteristik air mani :
a. Koagulasi dan likuefaksi.
b. Viskositas.
c. Rupa dan bau.
d. Volume.
e. PH.
f. Fruktosa.
2. Masalah Serviks pada Perempuan
Walaupun serviks merupakan sebagian dari uterus, namun artinya dalam
reproduksi manusia harus diakui pada abad kesembilan belas. Sims pada tahun
1868 adalah orang pertama yang menghubungkan serviks dengan infertilitas,
melakukan pemeriksaan lendir serviks pascasenggama, dan melakukan
inseminasi buatan. Baru beberapa lama kemudian Huhrer memperkenalkan uji
pasca senggama yang dilakukan pada pertengahan siklus haid.
Serviks biasanya mengarah ke bawah belakang, sehingga berhadapan
langsung dengan dinding belakang vagina. Kedudukannya yang demikian itu
memungkinkannya tergenang dalam air mani yang disampaikan pada forniks
posterior.
Kanalis servikaslis yang dilapisi lekukan lekukan seperti kelenjar yang
mengeluarkan lendir, sebagian dari sel sel epitelnya mempunyai silia yang
mengalirkan lendir serviks ke vagina. Bentuk servikalis seperti itu
memungkinkan

ditimbun

dan

dipeliharanya

spermatozoa

motil

dari

kemungkinan fagositosis, dan juga erjaminnya penyampaian spermatozoa ke


dalam kanalis servikalis secara terus menerus dalam jangka waktu lama.
9

2.6 Manajemen Kebidanan pada Infertil


1. Air Mani yang Abnormal
Air mani disebut abnormal kalau pada tiga kali pemeriksaan berturut
turut hasilnya tetap abnormal. Nasihat terbaik bagi pasangan dengan air mani
abnormal adalah melakukan senggama berencana pada saat saat subur istri.
Adapun air mani abnormal yang masih dapat diperbaiki itu kalau disebabkan
oleh

varikokel,

sumbatan,

infeksi,

defisiensi

gonadotropin

atau

hiperprolaktinemia.
2. Verikokel
Motilitas spermatozoa yang kurang hampir selalu terdapat pada pria
dengan varikokel. Menurut McLeod, motilitas spermatozoa yang kurang itu
dapat ditemukan pada 90% pria dengan verikokel, sekalipun hormon gonad
dan varikokelektomi tidak berhubungan dengan besar kecilnya varikokel.
Adanya varikokel disertai motilitas spermatozoa yang kurang hampir selalu
dianjurkan untuk dioperasi. Kira kira dua pertiga pria dengan varikokel yang
dioperasi akan mengalami perbaikan dlaam motilitas spermatozoanya.
3. Sumbatan Vasdifferen
Pria yang tersumbat vasnya akan mempertunjukkan azoospermia, dengan
besar testikel dan kadar FSH yang normal. Dua tanda terakhir ini sangat
konsisten untuk spermatogenesis yang normal. Operasi vasoepididimostomi
belum memuaskan hasilnya. Walaupun 90% dari ejakulasinya mengandung
spermatozoa, akan tetapi angka kehamilannya berkisar 5 30%.
4. Infeksi
Infeksi akut traktus genitalis dapat menyumbat vas atau merusak jaringan
testis, sehingga pria yang bersangkutan menjadi steril. Akan tetapi infeksi
yang menahun mungkin hanya menurunkan kualitas spermatozoa \, dan masih
dapat diperbaiki menjadi seperti semula dengan pengobatan. Air mani yang
selalu mengandung banyak lekosit, apalgi kalau disertai gejala disuria, nyeri
pada waktu ejakulasi, nyeri punggung bagian bawah, patut diduga karena
infeksi menahun traktus genitalis.
Asuhan infertilitas dibagi menjadi dua, yaitu:
10

1.

Kolaborasi
Tujuan dari evaluasi infertilitas adalah menentukan penyebab dari
infertilitas, menentukan pilihan pengobatan baik tindakan medis atau tindakan
bedah. Proses pemeriksaan dan pengobatan bisa menimbulkan stress fisik,
emosi, dan financial pada suami/istri.
Apabila masalah infertilitas adalah dari suami, pengobatan yang disebut
inseminasi artificial bisa dilakukan. Prosedur ni adalah sederhana dan aman,
dan suksesnya tinggi. Semen dari suami dimasukan secara intraserviks atau
intrauterine. Beberapa tetes semen dimasukkan apabila ovulasi dari istri sudah
dekat.

2.

Mandiri
Masalah infertilitas dapat mengakibatkan stress psikologis yang sangat
bagi suami/istri. perawat/bidan mempunyai peranan penting dalam membantu
suami/istri untuk aktif dalam semua tahap pengobatan, mulai dari tahap
pengkajian, macam-macam pemeriksaan, rencana pengobatan, pelaksanaaan
rencana, dan seterusnya. Perawat/bidan harus mampu membangun hubungan
terapeutis agar suami/istri merasa aman mengungkapkan perasaan tentang
masalah infertilitas, pemeriksaan, pengobatan, harapan, dan ketidakberdayaan
yang mereka alami.
Seringkali suami/istri bisa mengalami disfungsi seksual. Dulu, kegiatan
yang sangat intim dilakukan spontan dan membawa kebahagian yang yang
sangat dalam. Sekarang kegiatan yang sangat intim menjadi bahan diskusi,
dan pemeriksaan oleh tim ahli yang mengobati mereka. Mereka juga merasa
bahwa kegiatan seksual sebagai ukuran keberhasilan atau kegagalan untuk
menjadi hamil.

DAFTAR PUSTAKA

1. Sarwono Prawirohardjo.2011. Ilmu Kandungan. Jakarta : PT Bina pustaka


Sarwono Prawirohardjo.
2. Intan Kumalasari.2012. Kesehatan Reproduksi. Jakarta : Salemba Medika.

11

3. Manuaba, Ida Bagus Gede.2001.Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri


Ginekologi dan KB. Jakarta : EGC.
4. Manuaba. 2010. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana
Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC.

12