Anda di halaman 1dari 53

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah kami panjatkan puja dan puji syukur kepada Allah SWT Tuhan Yang
MahaEsa, yang telah melimpahkan kasih sayang dan karuniaNya, sehingga kami dapat
menyelesaikan laporan PBL modul 2 sistem kedokteran tropis sebagai salah satu syarat untuk
melengkapi nilai sistem tropis.
Terima Kasih kepada orang tua atas doa dan dukungannya, selalu mendampingi dan
penuh pengertian memberi semangat selama kami mengikuti pendidikan di Program Studi
Pendidikan Dokter, Universitas Muhammadiyah Jakarta.
Terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam
menyelesaikan laporan PBL modul 2 sistem kedokteran tropis. Semoga kebaikan dan bantuan
yang diberikan kepada kami mendapat balasan dari Allah Yang Maha Pemurah. Semoga Allah
SWT Tuhan Yang Maha Esa, Maha Pengasih dan Maha Penyayang selalu melimpahkan rahmat
dan karuniaNya kepada kita semua. Amin.

Jakarta, 5 Januari 2015

Hormat Kami,
Kelompok IV

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.1
DAFTAR ISI..... 2
BAB I PENDAHULUAN...3
1.1 Latar Belakang..3
1.2 Tujuan Instruksional Umum (TIU)..................4
1.3 Tujuan Instruksional Khusus (TIK).................4
1.4 Metode pembelajaran5
BAB II ANALIS MASALAH......6
2.1 skenario..6
2.2 kata/kalimat sulit...6
2.3 kata/kalimat kunci.............6
2.4 Mind Map......7
2.5 pertanyaan......8
BAB III PEMBAHASAN.......9
1. Apakah kasus pada skenario dapat dikatakan wabah,jelaskan definisi wabah, klasifikasi

wabah dan Jelaskan perbedaan wabah !.................................................................................9


2. Jelaskan definisi Attack rate dan berapakah Attack rate dan CFR dari skenario!.......10
3. Jelaskan cara penanggulangan wabah!..............................................................................11
4. Jelaskan program pemerintah yang dilakukan puskesmas untuk mecegah dan menangani
angka kematian pada skenario!...............................................................................................9
Jelaskan aspek klinis ; Etiologi, epidemiologi, gejala, diagnosa, pengobatan pada:
a.Dermatitis...............................................................................................................17
b.ISPA.......................................................................................................................21
c.Muntaber................................................................................................................33
6. Sebutkan alur pelaporan wabah!......................................................................................40
7. Seb-utkan upaya yang dilakukan puskesmas untuk mencapai kecamatan sehat!....42
8. Buatlah POA dalam penangan wabah!.............................................................................44
9.
Bagaimana cara melakukan kerjasama denga RS rujukan dalam pemberantasan

5.

wabah!...........................................................................................................................................46
10.
Apasajakah upaya pemberdayaan masyakat serta bagaimana menggerakan potensi
masyarakat untuk mencapai Revitalisasi posyandu dalam masyarakat sehat?..................47
11. Jelaskan perilaku kesehatan menurut para ahli, Klasifikasi, bentuk perilaku kesehatan,serta
jenisnya!....................................................................................................................................48
2

BAB IV PENUTUP
3.1 Kesimpulan..................................................................................................................................50
DAFTAR PUSTAKA..51

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Wabah penyakit menular adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular
dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi daripada
keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan
malapetaka.
Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian
morbiditas/mortalitas yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam
periode tertentu. Apabila didapatkan penderita atau tersangka penderita Kejadian Luar
Biasa, Kepala Wilayah/Daerah wajib segera melaksanakan tindakan penanggulangan
seperlunya dengan bantuan Unit Kesehatan setempat, agar tidak berkembang menjadi
wabah. Dengan pengertian di atas dikehendaki agar wabah dapat segera ditetapkan
apabila ditemukan suatu penyakit yang dapat menimbulkan wabah, walaupun penyakit
tersebut belum menjalar dan belum menimbulkan malapetaka yang besar dalam
masyarakat.
Adanya satu kasus tunggal penyakit menular ang sudah lama tidak ditemukan
atau adanya penyakit baru yang belum diketahui sebelumnya di suatu daerah memerlukan
laporan secepatnya disertai dengan penyelidikan epidemiologis. Apabila ditemukan
penderita kedua untuk jenis penyakit yang sama dan diperkirakan penyakit ini dapat
menimbulkan malapetaka, keadaan ini sudah cukup merupakan indikasi untuk
menetapkan daerah tersebut sebagai daerah wabah.

1.2

Tujuan Pembelajaran

TUJUAN PEMBELAJARAN
TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM (TIU)

Setelah mempelajari modul ini diharapkan mahasiswa mampu melakukan penanganan wabah
yang terjadi di tengah-tengah masyarakat secara terpadu, dengan menggunakan pendekatan ilmu
kesehatan masyarakat, sehingga penyebar-luasan wabah dapat dicegah.
TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS (TIK)
Setelah mempelajari modul ini, diharapkan mahasiswa mampu :
1. Membuat rumusan masalah yang sedang dihadapi (dengan menghitung attack rate, case
fatality rate)
2. Menjelaskan tentang penyelidikan wabah dan Upaya Penanggulangan Wabah
3. Membuat rencana kerja operasional
4. Menjelaskan tentang aspek klinis dari penyakit yang ada pada skenario : penyebab, gejala
klinis, diagnosis, pengobatan, cara penularan, pencegahan
5. Menjelaskan tentang program pemerintah yang dilakukan di Puskesmas untuk mencegah
terjadinya dan mengurangi angka kematian karena penyakit ini di daerah binaannya.
6. Melakukan koordinasi dengan Kepala Desa, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten,
Bupati/Kepala Daerah Tingkat II, Rumah Sakit, dan Sektor Terkait dengan melibatkan
peran serta masyarakat.
7. Melakukan Upaya Penanggulangan Wabah
8. Melakukan implementasi Rencana Kerja :
a. Melakukan kerjasama dengan semua unit kerja di puskesmas
b. Melakukan kerjasama dengan Rumah Sakit Rujukan
c. Melakukan kerjasama lintas sektoral
d. Melakukan kerjasama dengan masyarakat melalui PKK, dalam melakukan :
i. Pengobatan dan perawatan penderita
ii. Menemukan penderita yang belum terdeteksi
iii. Upaya pencegahan meluasnya wabah dengan melakukan promosi
kesehatan dan perbaikan lingkungan
9. Melakukan monitoring dan evaluasi Program Kerja
10.
Menggerakkan potensi masyarakat untuk revitalisasi posyandu dalam mencapai
Kecamatan Sehat.

1.3

Metode Pembelajaran
Dalam diskusi kelompok dengan menggunakan metode curah pendapat, mahasiswa
diharapkan dapat memecahkan masalah yang ada di dalam skenario, dengan mengikuti 7
langkah penyelesaian di bawah ini :
1. Klarifikasi istilah yang belum jelas dalam skenario, dan tentukan kata / kalimat kunci
2. Identifikasi problem dasar skenario, dengan membuat beberapa pertanyaan penting
3. Analisis problem tersebut dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas
5

4. Klasifikasikan jawaban pertanyaan-pertanyaan di atas


5. Tentukan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai oleh mahasiswa atas kasus di dalam
skenario
6. Cari informasi tambahan tentang kasus di dalam skenario (dilakukan dengan belajar
mandiri)
7. Laporkan hasil diskusi dan sintesis informasi-informasi baru yang ditemukan
Bila dari hasil diskusi kelompok ternyata masih ada informasi yang diperlukan untuk
sampai pada kesimpulan akhir maka langkah 6 dapat diulang dan selanjutnya dilakukan
lagi langkah 7. Kedua langkah di atas dapat di ulang-ulang di luar tutorial. Setelah
informasi yang diperlukan dirasa cukup, maka penyajian laporan dilakukan dalam bentuk
diskusi panel, di mana semua pakar duduk bersama untuk memberikan penjelasan
mengenai hal-hal yang belum jelas.

1.4 Skenario-4
WABAH DI PENGUNGSIAN
Sebagian besar wilayah kerja Puskesmas Barito terletak di tepi sungai, sehingga pada musim
hujan, setiap tahun selalu mengalami banjir. Biasanya penduduk mengungsi ke dataran yang
lebih tinggi dengan membuat tenda-tenda penampungan. Wilayah kerja Puskesmas Barito
meliputi 15 desa dengan jumlah penduduk 1987 orang. Daerah yang selalu dilanda banjir
berpenduduk kira-kira 1465 orang dari 9 desa. Penduduk daerah ini umumnya bekerja dekat
dungai, sehingga mereka tidak mau pindah dari daerah itu. Setiap kali setelah banjir surut,
mereka akan kembali ke rumahnya lagi. Relokasi selalu ditentang keras oleh mereka.
Masalah di pengungsian adalah kekurangan air, baik untuk diminum maupun untuk mandi
6

dan mencuci pakaian. Luas tenda di tempat penampungan jauh lebih kecil dari kebutuhan
ruang untuk semua pengungsi. Karena itulah, banjir selalu menimbulkan wabah muntah
berak, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan dermatitis di lokasi penampungan para
pengungsi. Tahun lalu, terhitung 6 balita meninggal dunia, 4 karena muntah berak dan 2
karena ISPA.Untuk mengantisipasi datangnya banjir pada musim hujan tahun yang akan
datang, Kepala Puskesmas mulai membuat persiapan agar kejadian pada banjir tahun-tahun
yang lalu tidak terulang kembali.
1.5 Kata sulit : 1.6 Kata / Kalimat Kunci
1.
Wilayah puskesmas terletak di tepi sungai.
2.
Setiap tahun mengalami banjir.
3.
Wilayah kerja Puskesmas Barito meliputi 15 desa dgn jum. penduduk 1987 orang.
4.
Daerah yang selalu dilanda banjir berpenduduk kira-kira 1465 orang dari 9 desa.
5.
Relokasi selalu ditentang keras oleh mereka. Masalah di pengungsian adalah
kekurangan air, baik untuk diminum maupun untuk mandi dan mencuci pakaian.
6.
Luas tenda di tempat penampungan jauh lebih kecil dari kebutuhan ruang untuk
semua pengungsi.
7.

Karena itulah, banjir selalu menimbulkan wabah muntah berak, Infeksi Saluran
Pernapasan Akut (ISPA) dan dermatitis di lokasi penampungan para pengungsi.
8.
Tahun lalu, terhitung 6 balita meninggal dunia, 4 karena muntah berak dan 2
karena ISPA.
9. Untuk mengantisipasi datangnya banjir pada musim hujan tahun yang akan datang,
Kepala Puskesmas mulai membuat persiapan agar kejadian pada banjir tahun-tahun yang
lalu tidak terulang kembali.
1.7 Mind Map

1.

1.8 Perta nyaan


Apakah kasus pada skenario dapat dikatakan wabah,jelaskan definisi wabah,klasifikasi

wabah dan Jelaskan perbedaan wabah!


2.
Jelaskan definisi Attack rate dan berapakah Attack rate dan CFR dari skenario!
3.
Jelaskan cara penanggulangan wabah!

4.

Jelaskan program pemerintah yang dilakukan puskesmas untuk mecegah dan menangani

angka kematian pada skenario!


5.
Jelaskan aspek klinis ; Etiologi, epidemiologi, gejala, diagnosa, pengobatan pada:
a.Dermatitis
b.ISPA
c.Muntabe
6.
Sebutkan alur pelaporan wabah!
7.
Sebutkan upaya yang dilakukan puskesmas untuk mencapai kecamatan sehat!
8.
Buatlah POA dalam penangan wabah!
9.
Bagaimana cara melakukan kerjasama denga RS rujukan dalam pemberantasan wabah!
10.
Apasajakah upaya pemberdayaan masyakat serta bagaimana menggerakan potensi
masyarakat untuk mencapai Revitalisasi posyandu dalam masyarakat sehat?
11. Jelaskan perilaku kesehatan menurut para ahli, Klasifikasi, bentuk perilaku kesehatan,serta
jenisnya!

BAB II
PEMBAHASAN
Nama:Surayya Ardillah(2011730163)
1.Apakah kasus pada skenario dapat dikatakan wabah,jelaskan definisi wabah,klasifikasi wabah
dan Jelaskan perbedaan wabah!
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia 1989 :
Wabah berarti penyakit menular yang berjangkit dengan cepat, menyerang sejumlah besar orang
di daerah yang luas.
9

Departemen Kesehatan RI Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan


Lingkungan pemukiman 1981 :
Wabah adalah peningkatan kejadian kesakitan atau kematian yang telah meluas secara cepat,
baik jumlah kasusnya maupun daerah terjangkit.
Undang-undang RI No 4 tahun 1984 tentang wabah penyakit menular :
Wabah adalah kejaian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah
penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari pada keadaan yang lazim pada waktu dan
daerahh tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka.
Benenson (1985) :
Wabah adalah terdapatnya penderita suatu penyakit tertentu pada penduduk suatu daerah, yang
nyata-nyata melebihi jumlah biasa.
Last (1981) :Wabah adalah timbulnya kejadian dalam suatu masyarakat, dapat berupa penderita
penyakit, perilaku yang berhubungan dengan kesehatan, atau kejadian lain yang berhubungan
dengan kesehatan, yang jumlahnya lebih banyak dari keadaan biasa.
Kesimpulannya wabah adalah meningkatnya kasus atau kejadian kesakitan atau kematian yang
melebihi dari biasanya dan bermakna secara epidemiologi serta menimbulkan kepanikan dan
malapetaka pada masyarakat. Selain kata wabah di kenal juga letusan (outbreak,yaitu serangan
penyakit) dan kejadian luar biasa (KLB).lingkup yang lebih luas (epidemis) atau bahkan lingkup
global (pandemi). Apabila peningkatan penderita penyakit memenuhi kriteria definisi wabah di
atas, akan dinyatakan sebagai letusan penyakit bila kejadian tersebut terbatas dan dapat
ditanggulangi sendiri oleh pemerintah daerah dan dinyatakan sebagai KLB bila
penanggulangannya membutuhkan bantuan dari pemerintah pusat. Pernyataan adanya wabah
hanya boleh ditetapkan oleh menteri kesehatan.
II.
Bentuk wabah menurut sifatnya
1. Common Source Epidemic
Keadaan wabah dengan bentuk common source epidemic (CSE) adalah suatu letusan penyakit
yang disebabkan oleh terpaparnya sejumlah orang dalam suatu kelompok secara menyeluruh dan
terjadinya dalam waktu yang relatif singkat ( sangat mendadak ). Jika keterpaparan kelompok
serta penularan penyakit berlangsung sangat cepat waktu yang sangat singkat (point of epidemic
atau poit source of epidemic), maka resultan dari semua kasus atau kejadian berkembang hanya
dalam satu masa tunas saja. Pada dasarnya dijumpai bahwa pada CSE kurva epidemic mengikuti
suatu distribusi normal, sehingga dengan demikian bila proporsi kumulatif kasus digambarkan
menurut lamanya kejadian sakit (onset) akan berbentuk suatu garis lurus. Median dari masa tunas
dapat ditentukan secara mudah dengan membaca waktu dari setengah (50%) yang terjadi pada
grafik. Dalam hal ini, pengetahuan tentang median dari masa tunas dapat menolong kita dalam
mengidentifikasi agent penyebab, mengingat tiap jenis agent mempunyai masa tunas tertentu.
Point source epidemic dapat pula terjadi pada penyakit oleh faktor penyebab bukan infeksi yang
menimbulkan keterpaparan umum seperti adanya zat beracun polusi zat kimia yang beracun di
udara terbuka.
10

2.

Propataged atau Progressive Epidemic


Bentuk epidemic ini terjadi karena adanya penularan dari orang ke orang baik secara langsung
maupun tidak langsung melalui udara, makanan maupun vektor. Kejadian epidemi semacam ini
relatif lebih lama waktunya sesuai dengan sifat penyakit serta lamanya masa tunas. Juga sangat
di pengaruhi oleh kepadatan penduduk serta penyebaran anggota masyarakat yang rentan
terhadap penyakit tersebut. Masa tunas penyakit tersebut di atas adalah sekitar satu bulan
sehingga tampak masa epidemi cukup lama dengan situasi peningkatan jumlah penderita dari
waktu ke waktu sampai pada saat di mana jumlah anggota masyarakat yang rentan mencapai
batas yang minimal. Pada saat sebagian besar anggota masyarakat sudah terserang penyakit
maka jumlah yang rentan mencapai batas kritis, sehingga kurva epidemi mulai menurun sampai
batas minimal.

Nama:Mustika dina Wikantari(2013 730146)


2.Jelaskan definisi Attack rate dan berapakah Attack rate dan CFR dari skenario!
ATTACK RATE
Attack Rate adalah jumlah kasus baru penyakit dalam waktu wabah yang berjangkit dalam
masyarakat di suatu tempat/ wilayah/ negara pada waktu tertentu.
Rumus Attack Rate (AR):
Jumlah penyakit baru
------------------------------------------------------------------------ k
Jumlah populasi berisiko (dalam waktu wabah berlangsung)
11

Pada scenario didapatkan:


AR=

x 100% =

x 100% = 4,09%

CASE FATALITY RATE


CFR adalah persentase angka kematian oleh sebab penyakit tertentu, untuk menentukan
kegawatan/ keganasan penyakit tersebut.
Rumus CFR (Case Fatality Rate):

Jumlah kematian penyakit x


----------------------------------------- x 100%
Jumlah kasus penyakit x

Pada scenario didapatkan:

CFR=

x 100% = 100%

Nama:Harisal Arya Putra(2013730147)


3. Jelaskan cara penanggulangan wabah!
Setelah data mengenai investigasi kasus dan penyebab telah memberikan fakta tentang
penyebab, sumber, dan cara transmisi, maka langkah pengendalian hendaknya segera dilakukan.
Makin cepat respons pengendalian, makin besar peluang keberhasilan pengendalian. Langkah
pertama yang dilakukan adalah menentukan cara penanggulangan yang paling efektif dan
melakukan surveilence terhadap faktor lain yang berhubungan.
Prinsip intervensi untuk menghentikan wabah sebagai berikut:
12

(1) Mengeliminasi sumber patogen


(2) Memblokade proses transmisi
(3) Mengeliminasi erentanan.
Eliminasi sumber patogen mencakup:
(1) Eliminasi atau inaktivasi patogen
(2) Pengendalian dan pengurangan sumber infeksi (source reduction)
(3) Pengurangan kontak antara penjamu rentan dan orang atau binatang terinfeksi (karantina
kontak, isolasi kasus, dan sebagainya)
(4) Perubahan perilaku penjamu dan/ atau sumber (higiene perorangan, memasak daging dengan
benar, dan sebagainya)
(5) Pengobatan kasus.
Blokade proses transmisi mencakup:
(1) Penggunaan peralatan pelindung perseorangan (masker, kacamata, jas, sarung tangan,
respirator)
(2) Disinfeksi/ sinar ultraviolet
(3) Pertukaran udara/ dilusi
(4) Penggunaan filter efektif untuk menyaring partikulat udara
(5) Pengendalian vektor (penyemprotan insektisida nyamuk Anopheles, pengasapan nyamuk
Aedes aegypti, penggunaan kelambu berinsektisida, larvasida, dan sebagainya).
Eliminasi kerentanan penjamu (host susceptibility) mencakup
(1) Vaksinasi
(2) Pengobatan (profilaksis, presumtif)
(3) Isolasi orang-orang atau komunitas tak terpapar (reverse isolation)
(4) Penjagaan jarak sosial (meliburkan sekolah, membatasi kumpulan massa).
Hal terkhir dan merupakan hal terpenting dalam penanganan wabah adalah menentukan cara
pencegahan di masa yang akan datang.

Nama:Ibnu Fajar Sidik(2013730148)


4.Jelaskan program pemerintah yang dilakukan puskesmas untuk mecegah dan menangani angka
kematian pada skenario!
Dalam menanggulangi wabah, pemerintah mempunyai peran penting. Dalam hal ini
menteri kesehatan yang sangat berperan baik dalam pencegahan maupun penanggulangan.
Menteri kesehatan mempunyai wewenang untuk :
13

Penanggulangan wabah dan bencana yang berskala nasional di bidang kesehatan


Surveilans epidemiologi serta pengaturan pemberantasan dan penanggulangan wabah,
penyakit menular dan kejadian luar biasa (KLB)

Pada Undang-Undang Republik Indonesia No 40 Tahun 1991 tentang wabah, Bab II Pasal 2 :
Menteri menetapkan dan mencabut penetapan daerah tertentu dalam wilayah Indonesia
yang terjangkit wabah sebagai daerah wabah.
Penetapan dan pencabutan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) didasarkan atas
pertimbangan epidemiologis dan keadaan masyarakat.
Pada Bab II Pasal 6 Upaya penanggulangan:
Menteri bertanggungjawab atas pelaksanaan teknis upaya penanggulangan wabah
Dalam upaya penanggulangan sebagimana dimaksud dalam ayat (1), menteri
berkoordinasi dengan menteri lain atau pimpinan instansi lain yang terkait
Pasal 10
Upaya penanggulangan wabah meliputi penyelidikan epidemiologis, pemeriksaan,
pengobatan, perawatan dan isolasi penderita termasuk tindakan karantina, pencegahan
dan pengebalan, pemusnahan penyebab penyakit, penanganan jenazah akibat wabah,
penyuluhan kepada masyarakat dan upaya penanggulangan lainnya.
Pemberdayaan Masyarakat
Pada Undang-Undang Republik Indonesia No 40 Tahun 1991 tentang wabah, Bab III pasal 17
Penyuluhan kepada masyarakat mengenai upaya penanggulangan wabah dilakukan oleh
pejabat kesehatan dengan mengikutsertakan pejabat instansi lain, lembaga swadaya
masyarakat, pemuka agama dan pemuka masyarakat
Penyuluhan kepada masyarakat dilakukan dengan mendayagunakan berbgai media
komunikasi massa baik Pemerintah maupun swasta
Bab IV Pasal 21
Setiap orang berperan serta dalam pelaksanaan upaya penanggulangan wabah
Pasal 22
Peranserta sebagaimana dimaksud dalam pasal 21, dilakukan dengan
- Memberikan informal adanya penderita atau tersangka penderita penyakit wabah
- Membantu kelancaaran pelaksanaan upaya penanggulangan wabah
- Menggerkan motivasi masyarakat dalam upaya penanggulangan wabah
- Kegiatan lain
Peranserta sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dapat berupa bantuan tenaga, keahlian,
dan atau bentuk lain.
Dalam pemberdayaan masyarakat terdapat pada Program Nasional Pemberdayaan
Masyarakat Mandiri atau lebih dikenal dengan PNPM Mandiri adalah program nasional
penanggulangan kemiskinan terutama yang berbasis pemberdayaan masyarakat. pada tahun 2006
14

Menteri Kesehatan dan jajarannya mencanangkan upaya pemberdayaan masyarakat di bidang


kesehatan melalui DESA SIAGA. Desa siaga adalah desa yang memiliki kesiapan sumber daya
dan kemampuan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan secara mandiri.
Adapun tujuan umum desa siaga adalah terwujudnya masyarakat desa yang sehat, peduli dan
tanggap terhadap permasalahan kesehatan di wilayahnya. Sedangkan tujuan khusus desa siaga
adalah:
Meningkatya pengetahuan dan kesadaran masyarakat desa tentang pentingnya kesehatan
Meningkatnya kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat desa terhadap risiko dan
bahaya yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan (bencana, wabah, darurat dan
sebagainya)
Meningkatnya keluarga sadar gizi
Meningkatnya masyarakat yang berPerilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
Meningkatnya kesehatan lingkungan desa
Meningkatnya kemampuan dan kemauan masyarakat desa untuk menolong dirinya
sendiri di bidang kesehatan
Untuk mencegah dan menangani angka kematian pada scenario
1. Pemerintah bisa melakukan relokasi agar tidak ada wabah pengungsian lagi jika musim
hujan, jika penduduk tetap bersikeras menolak karena alasan tidak bisa meninggalkan
tempat tinggalnya atas alasan tidak mau kehilangan pekerjaannya yang umumnya bekerja
dekat sungai, pemerintah bisa menjanjikan suatu lapangan pekerjaan baru yang lebih
menjanjikan bagi para penduduk
2. Jika penduduk masih tetap tidak mau atas program pemerintah yang menjanjikan suatu
lapangan pekerjaan yang baru maka barulah pemerintah bekerja sama dengan puskesmas
dalam upaya pencegahan dan menangani angka kematian jika terjadi wabah pengungsian
contonya pemerintah bisa membuat program imunisasi.

Wabah pada
scenario
ISPA

Pencegahan

Pengobatan

Penanganan

Penyediaan air yang saniter untuk


keperluan sanitasi (mandi, cuci)

Pengobatan segera
penyakit flu/batuk

Perbaikan ventilasi
Kontrol kepadatan

15

Penyediaan fasilitas sanitasi


(air untuk mencuci tangan dan
sabun)
Pencegahan malnutrisi untuk
mempertahankan kekebalan alami
tubuh
Jauhkan asap hasil pemasakan
dapur umum terhadap
pengungsian

(parasetamol dan obat


flu)
Pengobatan
komplikasi pneumonia
(contoh: trimochazole,
penicillin, dan
amphicillin)

pengungsian
Kontrol asap hasil
pemasakan

5.Jelaskan aspek klinis ; Etiologi, epidemiologi, gejala, diagnosa, pengobatan pada:


a.Dermatitis
b.ISPA
c.Muntaber
5a. Dias Rahmawati Wijaya(2013730134)
16

Dermatitis
Definisi
Dermatitis adalah peradangan kulit ( epidermis dan dermis ) sebagai respon terhadap
pengaruh faktor eksogen atau pengaruh faktor endogen, menimbulkan kelainan klinis berupa
efloresensi polimorfik ( eritema, edema, papul, vesikel, skuama) dan keluhan gatal (Djuanda,
Adhi, 2007).
Dermatitis adalah peradangan pada kulit ( inflamasi pada kulit ) yang disertai dengan
pengelupasan kulit ari dan pembentukkan sisik ( Arief Mansoer, 2000).
Jadi dermatitis adalah peradangan kulit yang ditandai oleh rasa gatal.
Klasifikasi
1. Dermatitis kontak
Dermatitis kontak adalah respon peradangan kulit akut atau kronik terhadap paparan bahan iritan
eksternal yang mengenai kulit.
Dermatitis kontaki terbagi 2 yaitu :

Dermatitis kontak iritan (mekanisme non imunologik)

Dermatitis kontak alergik (mekanisme imunologik spesifik)


Perbedaan Dermatitis kontak iritan dan kontak alergik
No.
1.
2.
3.
4.

Penyebab
Permulaan
Penderita
Lesi

5.

Uji Tempel

Dermatitis kontak iritan


Iritan primer
Pada kontak pertama
Semua orang
Batas lebih jelas
Eritema sangat jelas
Sesudah ditempel 24 jam,

Dermatitis kontak alergik


Alergen kontak S.sensitizer
Pada kontak ulang
Hanya orang yang alergik
Batas tidak begitu jelas
Eritema kurang jelas
Bila sesudah 24 jam bahan allergen di

bila iritan di angkat reaksi

angkat, reaksi menetap atau meluas

akan segera

berhenti.

2. Dermatitis atopik
Dermatitis atopik adalah keadaan peradangan kulit kronis dan residif, disertai gatal dan
umumnya sering terjadi selama masa bayi dan anak-anak, sering berhubungan dengan
peningkatan kadar IgE dalam serum dan riwayat atopi pada keluarga atau penderita. Kelainan

17

kulit berupa papul gatal, yang kemudian mengalami ekskoriasi dan likenifikasi, tempatnya
dilipatan atau fleksural.
3. Dermatitis numularis
Merupakan dermatitis yang bersifat kronik residif dengan lesi berukuran sebesar uang logam dan
umumnya berlokasi pada sisi ekstensor ekstremitas.
4. Dermatitis seboroik
Merupakan golongan kelainan kulit yang didasari oleh factor konstitusi, hormon, kebiasaan
buruk dan bila dijumpai pada muka dan aksila akan sulit dibedakan. Pada muka terdapat di
sekitar leher, alis mata dan di belakang telinga.
Etiologi
Penyebab dermatitis belum diketahui secara pasti. Sebagian besar merupakan respon kulit
terhadap agen-agen misal nya zat kimia, bakteri dan fungi selain itu alergi makanan juga bisa
menyebabkan dermatitis. Respon tersebut dapat berhubungan dengan alergi (Arief Mansoer,
2000).
Penyebab Dermatitis secara umum dapat dibedakan menjadi 2 yaitu
1.

Luar ( eksogen ) misalnya bahan kimia ( deterjen, oli, semen, asam, basa ), fisik
( sinar matahari, suhu ), mikroorganisme ( mikroorganisme, jamur).

2.

Dalam ( endogen ) dermatitis ini terjadi bendungan ditungkai yang diakibatkan


katup atou tromboplebitis, varises dan pengaruh herediter, misalnya dermatitis
atopik.

Patofisiologi
Secara umum patofisiologi dari dermatitis dimulai dengan eritema yang didasari oleh
dilatasi pembuluh darah perifer dan selanjutnya terjadi edema, karena terjadi intraseluler maka
terbentuklah vesikel, pecah timbul erosi dan eksoriasi serta eksudasi. Pengering eksudat
membentuk krusta yang berwarna kekuningan atou kehitaman , vesikel yang mengerig dapat
menimbulkan skuama. Bila tidak diobati dan akibat garukan yang terus menerus yang terjadi
penebalan kulit dengan gambaran kulit yang makin jelas dan hiperpigmentasi
18

Manifestasi klinis
Pada umumnya manifestasi klinis dermatitis adanya tanda-tanda radang akut terutama
pruritus ( gatal ), kenaikan suhu tubuh, kemerahan, edema misalnya pada muka ( terutama
palpebra dan bibir ), gangguan fungsi kulit dan genitalia eksterna.
a)

Stadium akut : kelainan kulit berupa eritema, edema, vesikel atau bula, erosi dan eksudasi
sehingga tampak basah.

b)

Stadium subakut : eritema, dan edema berkurang, eksudat mengering menjadi kusta.

c)

Stadium kronis : lesi tampak kering, skuama, hiperpigmentasi, papul dan likenefikasi.
19

Stadium tersebut tidak selalu berurutan, bisa saja sejak awal suatu dermatitis sejak awal memberi
gambaran klinis berupa kelainan kulit stadium kronis.
Pemeriksaan penunjang dan diagnostik
a.

Dermatitis kontak pacth test


Dilakukan dibagian fleksor lengan bawah atou punggung zat yang tersangka sebagi kontaktan
diletakan diatas kulit, kemudian ditutup dengan kain kasa dan bahan impremabel, kemudian
ditutup dengan plester. Sesudah 24-48 jam, hasilnya disebut 1 hingga plus 5, bila ada eritema,
edema, papel, vesikel ( dapat berkonfluesi ) dan nekrosis.

b.

Dermatitis atopik
Dapat dilakukan beberapa test untuk menyokong diagnosa seperti white demographis dan test
asitkolin pada kulit normal bila digores benda tajam akan terjadi tripel respon yang berturutturut .

Pertama timbul garis merah pda tempat digores selama 15 menit

Timbul kemerahan disekitarnya beberapa detik

Akhirnya timbul edema setelah beberapa menit


Pada seorang penderita dermatitis atopik garis merah selama 2-5 menit, sedangkan edema tidak
timbul. Peristiwa tersebut dikenal sebagai white dermographisme . test asitikolin . Bila
kulit nortmal disuntik asetikolin intrakutan ( larutan 1 : 5000 ) akan timbul hiperemer. Sedangkan
pada penderita dermatitis atopik malah timbul warna pucat selama lebih kurang 1 jam akibat
terjadinya vaskontraksi.

Penatalaksanaan
Pengobatan dermatitis dapat dilakukan dua cara:
a.

Pengobatan sistemik

1)

Kortikosteroid, digunakan pada keadaan yang berat sebagai anti inflamasi dan anti alergi.

2)

Antibiotik, bila terdapat infeksi sekunder

3)

Sedatif dan tranquilizer, untuk menghilangkan atau mengurangi rasa gelisah dan gatal.

20

b.

Pengobatan topical

1)

Pada keadaan akut, dilakukan kompres terbuka

2)

Sedangkan pada keadaan sub akut diberikan krim

3)

Bila kering dapat diberikan bedak

4)

Pada keadaan yang menahun dapat diberikan salep

e.

Ajarkan pada pasien menempelkan cara-cara untuk mengghindari dermatitis.

Pencegahan
Dermatitis atopik

Jaga kelembaban kulit.

Hindari perubahan suhu dan kelembaban yang mendadak.

Hindari berkeringat terlalu banyak atau kepanasan.

Kurangi Stress.

Hindari pakaian yang menggunakan bahan yang menggaruk seperti wool dan lain lain.

Hindari sabun dengan bahan yang terlalu keras, deterjen dan larutan lainnya.

Hindari faktor lingkungan lain yang dapat mencetuskan alergi seperti serbuk bunga, debu,
bulu binatang dan lain lain.

Hati hati dalam memilih makanan yang bisa menyebabkan alergi.

Dermatitis kontak, berarti menghindari kontak dengan zat seperti poison ivy atau sabun keras
yang dapat menyebabkan hal itu. Strategi pencegahan meliputi:
a.

Bilas kulit dengan air dan gunakan sabun ringan jika dermatitis karena kontak dengan suatu

zat. Usahakan mencuci untuk menghapus banyak iritan atau alergen dari kulit Anda. Pastikan
untuk membilas sabun sepenuhnya dari tubuh Anda.
b.

Kenakan kapas atau sarung tangan plastik ketika melakukan pekerjaan rumah tangga untuk

menghindari kontak dengan pembersih atau larutan.


c.

Jika di tempat kerja, memakai pakaian pelindung atau sarung tangan untuk melindungi kulit

Anda terhadap senyawa berbahaya.


d.

Oleskan krim atau gel penghalang untuk kulit Anda untuk memberikan lapisan pelindung.

Juga, gunakan pelembab untuk mengembalikan lapisan terluar kulit dan untuk mencegah
21

penguapan kelembaban.
e.

Gunakan deterjen ringan, tanpa wewangian saat mencuci pakaian, handuk dan selimut. Coba

lakukan siklus bilas tambahan pada mesin cuci


Komplikasi
a.

Infeksi saluran nafas atas

b.

Bronkitis

c.

Infeksi kulit

Nama:Dinda Meladya(2013730137)
5.B. Jelaskan mengenai ISPA !
DEFINISI
Infeksi akut yang menyerang salah satu bagian/lebih dari saluran napas
mulai hidung sampai alveoli termasuk adneksanya (sinus, rongga telinga
tengah, pleura).
22

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan penyakit yang sering


terjadi pada anak.Insidens menurut kelompok umur Balita diperkirakan 0,29
episode per anak/tahun di negara berkembang dan 0,05 episode per
anak/tahun di negara maju. Ini menunjukkan bahwa terdapat 56 juta episode
baru di dunia per tahun dimana 151 juta episode (96,7%) terjadi di negara
berkembang.
Kasus terbanyak terjadi di India (43 juta), China (21 juta) dan Pakistan
(10juta) dan Bangladesh, Indonesia, Nigeria masing-masing 6 juta episode.
Dari semua kasus yang terjadi di masyarakat, 7-13% kasus berat dan
memerlukan perawatan rumah sakit. Episode batuk-pilek pada Balita di
Indonesia diperkirakan 2-3 kali per tahun (Rudan et al Bulletin WHO 2008).
ISPA merupakan salah satu penyebab utama kunjungan pasien di Puskesmas
(40%-60%) dan rumah sakit (15%-30%).
FAKTOR RESIKO ISPA
Beberapa wilayah di Indonesia mempunyai potensi kebakaran hutan dan
telah mengalami beberapa kali kebakaran hutan terutama pada musim
kemarau. Asap dari kebakaran hutan dapat menimbulkan penyakit ISPA dan
memperberat kondisi seseorang yang sudah menderita pneumonia
khususnya Balita. Disamping itu asap rumah tangga yang masih
menggunakan kayu bakar juga menjadi salah satu faktor risiko pneumonia.
Hal ini dapat diperburuk apabila ventilasi rumah kurang baik dan dapur
menyatu dengan ruang keluarga atau kamar.Indonesia juga merupakan
negara rawan bencana seperti banjir, gempa, gunung meletus, tsunami, dll.
Kondisi bencana tersebut menyebabkan kondisi lingkungan menjadi buruk,
sarana dan prasarana umum dan kesehatan terbatas. Penularan kasus ISPA
akan lebih cepat apabila terjadi pengumpulan massa (penampungan
pengungsi). Pada situasi bencana jumlah kasus ISPA sangat besar dan
menduduki peringkat teratas.
Status gizi seseorang dapat mempengaruhi kerentanan terhadap infeksi,
demikian juga sebaliknya. Balita merupakan kelompok rentan terhadap
berbagai masalah kesehatan sehingga apabila kekurangan gizi maka akan
sangat mudah terserang infeksi salah satunya pneumonia.
Penanggulangan faktor risiko di atas dilaksanakan oleh unit lain yang terkait
baik pusat maupun daerah sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya.
Namun disadari bahwa data mengenai hubungan antara faktor risiko dengan
kejadian kasus pneumonia belum tersedia, sehingga pengendalian ISPA
23

belum dilaksanakan lebih komprehensif. pedoman pengendalian infeksi


saluran pernafasan akut.
KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENGENDALIAN ISPA
1. Pengendalian Pneumonia Balita
Pneumonia masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia
terutama
pada Balita. Menurut hasil Riskesdas 2007, pneumonia merupakan
pembunuh nomor
dua pada Balita (13,2%) setelah diare (17,2%).
Hasil survei morbiditas yang dilaksanakan oleh subdit ISPA dan Balitbangkes
menunjukkan angka kesakitan 5,12%, namun karena jumlah sampel dinilai
tidak
representatif maka subdit ISPA tetap menggunakan angka WHO yaitu 10%
dari
jumlah Balita. Angka WHO ini mendekati angka SDKI 2007 yaitu 11,2%. Jika
dibandingkan dengan hasil penelitian oleh Rudan,et al (2004) di negara
berkembang
termasuk Indonesia insidens pneumonia sekitar 36% dari jumlah Balita.
Faktor risiko
yang berkontribusi terhadap insidens pneumonia tersebut antara lain gizi
kurang, ASI
ekslusif rendah, polusi udara dalam ruangan, kepadatan, cakupan imunisasi
campak
rendah dan BBLR.
Sejak tahun 2000, angka cakupan penemuan pneumonia Balita berkisar
antara 20%36%. Angka cakupan tersebut masih jauh dari target nasional yaitu periode
20002004 adalah 86%, sedangkan periode 2005-2009 adalah 46%-86%.
Rendahnya angka cakupan penemuan pneumonia Balita tersebut disebabkan
antara
lain:
Sumber pelaporan rutin terutama berasal dari Puskesmas, hanya beberapa
provinsi dan kabupaten/kota yang mencakup rumah sakit dan sarana
pelayanan
kesehatan lainnya.
Deteksi kasus di puskesmas masih rendahnya karena sebagian besar
tenaga
belum terlatih.
24

Kelengkapan pelaporan masih rendah terutama pelaporan dari


kabupaten/kota
ke provinsi.
2. Kesiapsiagaan dan Respon terhadap Pandemi Influenza serta
penyakit saluran pernapasan lain yang berpotensi wabah
Kasus flu burung (FB) pada manusia di Indonesia pertama kali ditemukan
pada Juni
2005. Kasus FB pada manusia kumulatif sudah tersebar di 13 propinsi
(Sumut,Sumsel, Sumbar, Lampung, Riau, Banten, DKI Jakarta, Jabar, Jateng,
Jatim, DI Yogyakarta, Sulsel dan Bali) dan 53 kabupaten/kota. Klaster
terbesar ditemukan di Kabupaten Karo, Sumut dimana 6 orang meninggal
dari 7 kasus positif (confirmed).
Pada tahun 2011, kasus FB masih ditemukan di 4 provinsi yaitu DKI Jakarta,
Jabar, DI Yogyakarta dan Bali. Indonesia masih pada fase 3 pandemi
(penularan dari hewan ke manusia), belum ada bukti penularan antar
manusia yang efisien. Indonesia adalah yang terbanyak kasus FB di dunia
dengan kematian 149 orang dari 181 kasus positif
(CFR 82,3%) dan 15 klaster (Oktober 2011).
Walaupun kasus FB di Indonesia tetap ditemukan, namun jumlah kumulatif
kasus pertahun sudah menunjukkan penurunan. Disaat Indonesia sedang
berupaya menanggulangi kasus flu burung, dunia dikejutkan dengan
munculnya virus Influenza
A Baru (H1N1) di San Diego, Amerika Serikat dan menyebar ke Mexico pada
April
2009, yang menyebar dengan cepat ke berbagai negara di dunia.
Sampai dengan Februari 2010, sudah menyebar lebih dari 211 negara dan
menyebabkan kematian sekitar 15.000 orang. Sedangkan di Indonesia
ditemukan 1.097 kasus positif dan 10 orang (CFR 0.9%) diantaranya
meninggal (10 Februari 2010).
Melihat kejadian pandemi sebelumnya, ada kekhawatiran bahwa
kemungkinan akan
terjadi mutasi virus flu burung atau reassortment ( pencampuran genetik 2
virus influenza atau lebih) yang akan menyebabkan timbulnya virus baru
yang patogenitasnya
tinggi dan menular antar manusia secara efisien.
Oleh karena itu semua negara di dunia tetap mewaspadai kemungkinan
tersebut dengan penguatan kesiapsiagaan dan respon (core capability)
sesuai situasi negara masing-masing.
Indonesia telah menyusun Rencana Strategi Penanggulangan Flu Burung dan
25

Kesiapsiagaan Pandemi Influenza tahun 2005. Berbagai upaya pengendalian


telah
dilakukan oleh Kemenkes antara lain penyiapan rumah sakit
rujukan,penguatan
surveilans, laboratorium virologi dan BSL-3, KIE, aspek hukum, logistik,
koordinasi
LP/LS, kerjasama internasional dan simulasi.
Subdit ISPA bekerjasama dengan LP/LS telah melaksanakan simulasi
penanggulangan
episenter pandemi influenza di Bali (April 2008) dan Makassar (April 2009),
Tabletop
Exercise di 6 propinsi (Jabar, Sumut, Jambi, Bengkulu, Sulut dan Sulteng),
penyusunan rencana kontijensi penanggulangan episenter di 11 propinsi
(Sumut,
Sumsel, Sumbar, Lampung, Riau, Banten, Jakarta, Jabar, Jateng, Jatim dan
Sulsel) dan
80 kabupaten/kota, penyusunan pedoman dan modul, sosialisasi H1N1 ke 33
propinsi dengan melibatkan LP/LS, dll.
Melihat data diatas masih banyak propinsi dan kabupaten/kota yang
diharapkan dapat
mengadopsi atau mereplikasi sesuai dengan kondisi wilayah masing-masing.
3. Pengendalian ISPA umur 5 tahun
Sejak pertengahan tahun 2007 Pengendalian ISPA telah mengembangkan
Surveilans
Sentinel Pneumonia di 10 provinsi masing-masing 1 kabupaten/kota (10
Puskesmas,
10 RS). Pada tahun 2010 telah dikembangkan menjadi 20 provinsi masingmasing
2 kabupaten/kota (40 RS, 40 Puskesmas terlampir). Secara bertahap akan
dikembangkan di semua provinsi, sehingga pada 2014 lokasi sentinel
menjadi 132
lokasi (66 RS dan 66 Puskesmas). Biaya operasional sentinel ini dibebankan
pada
anggaran rutin ISPA.
pedoman pengendalian infeksi saluran pernafasan akut
Tujuan dibangunnya sistem surveilans sentinel pneumonia ini adalah:
Mengetahui gambaran kejadian pneumonia dalam distribusi epidemiologi
menurut waktu, tempat dan orang di wilayah sentinel
Mengetahui jumlah kematian, angka fatalitas kasus (CFR) pneumonia usia
0 59 bulan (Balita) dan 5 tahun
26

Tersedianya data dan informasi faktor risiko untuk kewaspadaan adanya


sinyal
epidemiologi episenter pandemi influenza
Terpantaunya pelaksanaan program ISPA
Dalam pelaksanaannya, kendala utama yang dihadapi adalah ketepatan dan
kelengkapan laporan. Disamping itu, pengiriman laporan masih bulanan dan
hanya beberapa lokasi sentinel yang menggunakan fasilitas internet dan fax
sehingga berdampak pada kelambatan deteksi dini, analisis data dan umpan
balik.
4. Strategi Pengendalian ISPA
Strategi Pengendalian ISPA di Indonesia adalah sebagai berikut :
1. Membangun komitmen dengan pengambil kebijakan di semua tingkat
dengan
melaksanakan advokasi dan sosialisasi pengendalian ISPA dalam rangka
pencapaian
tujuan nasional dan global.
2. Penguatan jejaring internal dan eksternal (LP/LS, profesi, perguruan tinggi,
LSM,
ormas, swasta, lembaga internasional, dll).
3. Penemuan kasus pneumonia dilakukan secara aktif dan pasif.
4. Peningkatan mutu pelayanan melalui ketersediaan tenaga terlatih dan
logistik.
5. Peningkatan peran serta masyarakat dalam rangka deteksi dini
pneumonia Balita dan
pencarian pengobatan ke fasilitas pelayanan kesehatan.
6. Pelaksanaan Autopsi Verbal Balita di masyarakat.
7. Penguatan kesiapsiagaan dan respon pandemi influenza melalui
penyusunan rencana kontinjensi di semua jenjang, latihan (exercise),
penguatan surveilans dan penyiapan sarana prasana.
8. Pencatatan dan pelaporan dikembangkan secara bertahap dengan sistem
komputerisasi berbasis web.

27

9. Monitoring dan pembinaan teknis dilakukan secara berjenjang, terstandar


dan berkala.
10. Evaluasi program dilaksanakan secara berkala.
TUJUAN PENGENDALIAN ISPA
1. Tujuan Umum
Menurunkan angka kesakitan dan kematian karena pneumonia
2. Tujuan Khusus
a. Pengendalian Pneumonia Balita.
Tercapainya cakupan penemuan pneumonia Balita sebagai berikut (tahun
2010: 60%, tahun 2011: 70%, tahun 2012: 80%, tahun 2013: 90%, tahun
2014: 100%)
Menurunkan angka kematian pneumonia Balita sebagai kontribusi
penurunan angka kematian Bayi dan Balita, sesuai dengan tujuan MDGs (44
menjadi 32 per 1.000 kelahiran hidup) dan Indikator Nasional Angka
Kematian Bayi (34 menjadi 23 per 1.000 kelahiran hidup).
b. Kesiapsiagaan dan Respon terhadap Pandemi Influenza serta penyakit
saluran
pernapasan lain yang berpotensi wabah.
Tersusunnya dokumen Rencana Kontijensi Kesiapsiagaan dan Respon
terhadap
Pandemi Influenza di 33 provinsi pada akhir tahun 2014.
Tersusunnya Pedoman dan Petunjuk Pelaksanaan Penanggulangan Pandemi
Influenza pada akhir tahun 2014.
Tersosialisasinya pedoman-pedoman yang terkait dengan Kesiapsiagaan
dan
Respon Pandemi Influenza pada akhir tahun 2014.
Tersusunnya Pedoman Latihan (Exercise) dalam Kesiapsiagaan dan Respon
Pandemi Influenza pada akhir tahun 2014.
c. Pengendalian ISPA umur 5 tahun
Terlaksananya kegiatan Surveilans Sentinel Pneumonia di Rumah Sakit dan
Puskesmas dari 10 provinsi pada tahun 2007 menjadi 33 provinsi pada akhir
tahun 2014.
28

d. Faktor risiko ISPA


Terjalinnya kerjasama/ kemitraan dengan unit program atau institusi yang
kompeten
dalam pengendalian faktor risiko ISPA khususnya Pneumonia.

KEGIATAN POKOK PENGENDALIAN ISPA


Advokasi dan sosialisasi merupakan kegiatan yang penting dalam upaya
untuk mendapatkan komitmen politis dan kesadaran dari semua pihak
pengambil keputusan dan seluruh masyarakat dalam upaya pengendalian
ISPA dalam hal ini Pneumonia sebagai penyebab utama kematian bayi dan
Balita.
1. Advokasi
Dapat dilakukan melalui pertemuan dalam rangka mendapatkan komitmen
dari semua
pengambil kebijakan.
2. Sosialisasi
Tujuannya adalah untuk meningkatkan pemahaman, kesadaran, kemandirian
dan
menjalin kerjasama bagi pemangku kepentingan di semua jenjang melalui
pertemuan
berkala, penyuluhan/KIE.

PENEMUAN dan TATALAKSANA PNEUMONIA BALITA


1. Penemuan penderita pneumonia
Penemuan dan tatalaksana Pneumonia merupakan kegiatan inti dalam
pengendalian
Pneumonia Balita.
a. Penemuan penderita secara pasif
Dalam hal ini penderita yang datang ke fasilitas pelayanan kesehatanseperti
Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Rumah Sakit dan Rumah sakit swasta.
b. Penemuan penderita secara aktif
Petugas kesehatan bersama kader secara aktif menemukan penderita baru
dan
penderita pneumonia yang seharusnya datang untuk kunjungan ulang 2 hari
setelah berobat.
29

Penemuan penderita pasif dan aktif melalui proses sebagai berikut:


a. Menanyakan Balita yang batuk dan atau kesukaran bernapas
b. Melakukan pemeriksaan dengan melihat tarikan dinding dada bagian
bawah ke
dalam (TDDK) dan hitung napas.
c. Melakukan penentuan tanda bahaya sesuai golongan umur <2 bulan dan 2
bulan
- <5 tahun
d. Melakukan klasifikasi Balita batuk dan atau kesukaran bernapas;
Pneumonia
berat, pneumonia dan batuk bukan pneumonia.

Tatalaksana pneumonia Balita


Pola tatalaksana penderita yang dipakai dalam pelaksanaan Pengendalian
ISPA untuk
penanggulangan pneumonia pada Balita didasarkan pada pola tatalaksana
penderita
ISPA yang diterbitkan WHO tahun 1988 yang telah mengalami adaptasi
sesuai kondisi
Indonesia.

30

Setelah penderita pneumonia Balita ditemukan dilakukan tatalaksana


sebagai
berikut:
a. Pengobatan dengan menggunakan antibiotik: kotrimoksazol, amoksisilin
selama 3
hari dan obat simptomatis yang diperlukan seperti parasetamol, salbutamol
(dosis
dapat dilihat pada bagan terlampir).
b. Tindak lanjut bagi penderita yang kunjungan ulang yaitu penderita 2 hari
setelah
mendapat antibiotik di fasilitas pelayanan kesehatan.
c. Rujukan bagi penderita pneumonia berat atau penyakit sangat berat.
KETERSEDIAAN LOGISTIK
Dukungan logistik sangat diperlukan dalam menunjang pelaksanaan
pengendalian ISPA.Penyediaan logistik dilakukan sesuai dengan peraturan
perundangan yang berlaku dan menjaditanggung jawab pemerintah pusat
dan daerah. Sesuai dengan pembagian kewenangan antarapusat dan daerah
maka pusat akan menyediakan prototipe atau contoh logistik yang
sesuaistandard (spesifikasi) untuk pelayanan kesehatan. Selanjutnya
pemerintah daerah berkewajibanmemenuhi kebutuhan logistik sesuai
kebutuhan.Logistik yang dibutuhkan antara lain:
1. Obat
Tablet Kotrimoksazol 480 mg
Sirup Kotrimoksazol 240 mg/5 ml
Sirup kering Amoksisilin 125 mg/5 ml
Tablet Parasetamol 500 mg
Sirup Parasetamol 120 mg/5 ml.
Pola penghitungan jumlah obat yang diperlukan dalam satu tahun di suatu
daerah

31

didasarkan pada rumus berikut :

Obat-obat tersebut di atas merupakan obat yang umum digunakan di


Puskesmas untuk
berbagai penyakit sehingga dalam penyediaannya dilakukan secara terpadu
dengan
program lain dan proporsi sesuai kebutuhan. Jika memungkinkan dapat
disediakan
antibiotik intramuskular: Ampisilin dan Gentamisin.
Untuk menghindari kelebihan obat maka perhitungan kebutuhan obat
berdasarkan
hasil cakupan tahun sebelumnya dengan tambahan 10% sebagai buffer
stock.
Contoh penghitungan kebutuhan obat :
Target cakupan tahun 2011 = 70%
Pencapaian cakupan tahun 2010 = 30%
Perkiraan jumlah penderita pneumonia Balita = 300 Balita/tahun
Kebutuhan tablet Kotrimoksazol 480 mg setahun
= hasil cakupan tahun sebelumnya x perkiraan pneumonia balita x 6 tablet
+
10% bufferstock
= (30% x 300 x 6 tablet ) + 10% (30% x 300 x 6 tablet )
= 540 tablet + 54 tablet = 594 tablet
2. Alat
a. Acute Respiratory Infection Soundtimer
Digunakan untuk menghitung frekuensi napas dalam 1 menit. Alat ini
memiliki
32

masa pakai maksimal 2 tahun (10.000 kali pemakaian).


Jumlah yang diperlukan minimal:
i.

Puskesmas
3 buah di tiap Puskesmas
1 buah di tiap Pustu
1 buah di tiap bidan desa, Poskesdes, Polindes, Ponkesdes

ii. Kabupaten
1 buah di dinas kesehatan kabupaten/kota
1 buah di rumah sakit umum di ibukota kabupaten/kota
iii. Provinsi
1 buah di dinas kesehatan provinsi
1 buah di rumah sakit umum di ibukota provinsi.
b. Oksigen konsentrator
Untuk memproduksi oksigen dari udara bebas. Alat ini diperuntukkan
khususnya
bagi fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan rawat inap dan
unit
gawat darurat yang mempunyai sumber daya energi (listrik/ generator).
c. Oksimeter denyut (Pulseoxymetry)
Sebagai alat pengukur saturasi oksigen dalam darah diperuntukan bagi
fasilitas
pelayanan kesehatan yang memiliki oksigen konsentrator.
Nama:Sari Azzahro Said(2013730176)
5C. Jelaskan aspek klinis (etiologi, epidemiologi, gejala, diagnosa, pengobatan dan pencegahan)
dari muntaber!
Muntaber berasal dari dua kata yaitu muntah dan buang air besar (berak) secara
bersamaan dengan frekuensi lebih dari tiga kali dalam sehari. Muntaber sendiri merupakan gejala
dari suatu penyakit diare.
Muntah berarti dikeluarkannya isi lambung secara ekspulsif melalui mulut dengan
kontraksi otot dinding perut. Proses muntah dikendalikan oleh pusat muntah di sistem saraf pusat
dengan aktivasi impuls dari chemoreceptor trigger zone (CTZ) lewat nervus vagus. Proses
muntah terjadi dalam tiga tahap: nausea, retching, dan emesis. Nausea adalah sensasi ingin
muntah akibat berbagai stimulus, ditandai rasa mual. Lalu pada fase retching terjadi inspirasi
dalam dengan gerakan otot napas spasmodik diikuti kontraksi otot perut dan diafragma, serta

33

relaksasi sfingter esofagus bawah. Kemudian pada fase emesis, perubahan tekanan intrathorax
menjadi positif dan stringer esofagus akan relaksasi sehingga isi lambung keluar dari mulut.
Buang air besar secara terus menerus (diare) adalah meningkatnya frekuensi buang air
besar dan konsistensi feses menjadi cair. Diare dapat digolongkan menjadi dua, yaitu diare akut
dan kronik.
Pada kasus muntaber terjadi perubahan bentuk dan konsistensi dari tinja, tinja dapat
menjadi lebih lembek atau cair dari biasanya bahkan terkadang dapat mengandung darah atau
lendir. Muntaber dapat terjadi akibat dari peradangan usus ya

ng disebabkan oleh bakteri,

virus, parasit lain (jamur, cacing, protozoa).


Diare yang berkepanjangan akan menimbulkan masalah yang serius diberbagai daerah
dibelahan dunia khususnya apabila disertai dengan malnutrisi. Diare dapat berakibat
berkurangnya kadar air dan elektrolit, khususnya sodium dan pottasium didalam tubuh.
Hypotermia juga dapat terjadi apabila kadar elektrolit dalam tubuh rendah atau bahkan berkurang
yang dapat berakibat dehydration hypernatremic.
Penyebaran Muntaber
Penyebaran muntaber berasal dari air yang terkontaminasi dan sanitasi yang tidak baik.
Sayangnya, sekitar 75% orang yang terinfeksi tidak menunjukkan berbagai gejala.
Bagaimanapun, patogen yang ada didalam feses akan menetap selama 7-14 hari dan sangat
mungkin untuk menginfeksi orang lain. Muntaber dapat menyerang anak-anak maupun orang
dewasa. Seseorang dengan imunitas yang rendah misalnya malnutrisi pada anak-anak atau
ODHA memiliki resiko kematian yang cukup tinggi.
Berdasarkan data Riskesdas 2013 didapatkan sebagai berikut:
Kesehatan lingkungan
Air minum
Proporsi RT yang memiliki akses terhadap sumber air minum improved di Indonesia
adalah sebesar 66,8 persen (perkotaan: 64,3%; perdesaan: 69,4%). Lima provinsi dengan
proporsi tertinggi untuk RT yang memiliki akses terhadap air minum improved adalah Bali
34

(82,0%), DI Yogyakarta (81,7%), Jawa Timur (77,9%), Jawa Tengah (77,8%), dan Maluku Utara
(75,3%); sedangkan lima provinsi terendah adalah Kepulauan Riau (24,0%), Kalimantan Timur
(35,2%), Bangka Belitung (44,3), Riau (45,5%), dan Papua (45,7%).
Berdasarkan gender, ART yang biasa mengambil air di Indonesia pada umumnya adalah
laki-laki dewasa dan perempuan dewasa (masing-masing 59,5% dan 38,4%). Masih terdapat
anak laki-laki (1,0%) dan anak perempuan (1,1%) berumur di bawah 12 tahun yang biasa
mengambil air untuk kebutuhan minum RT.
Secara kualitas fisik, masih terdapat RT dengan kualitas air minum keruh (3,3%),
berwarna (1,6%), berasa (2,6%), berbusa (0,5%), dan berbau (1,4%). Berdasarkan provinsi,
proporsi RT tertinggi dengan air minum keruh adalah di Papua (15,7%), berwarna juga di Papua
(6,6%), berasa adalah di Kalimantan Selatan (9,1%), berbusa dan berbau adalah di Aceh (1,2%,
dan 3,8%).
Proporsi RT yang mengolah air sebelum diminum di Indonesia adalah sebesar 70,1
persen. Dari 70,1 persen RT yang melakukan pengolahan air sebelum diminum, 96,5 persennya
melakukan pengolahan dengan cara dimasak. Cara pengolahan lainnya adalah dengan dijemur di
bawah sinar matahari/solar disinfection (2,3%), menambahkan larutan tawas (0,2%), disaring
dan ditambah larutan tawas (0,2%) dan disaring saja (0,8%).
Sanitasi
Proporsi RT di Indonesia menggunakan fasilitas BAB milik sendiri adalah 76,2 persen,
milik bersama sebanyak 6,7 persen, dan fasilitas umum adalah 4,2 persen. Masih terdapat RT
yang tidak memiliki fasiltas BAB/BAB sembarangan, yaitu sebesar 12,9 persen. Lima provinsi
tertinggi RT yang tidak memiliki fasilitas BAB/BAB sembarangan adalah Sulawesi Barat
(34,4%), NTB (29,3%), Sulawesi Tengah (28,2%), Papua (27,9%), dan Gorontalo (24,1%).
Proporsi RT yang memiliki akses terhadap fasilitas sanitasi improved (kriteria JMP
WHOUnicef) di Indonesia adalah sebesar 58,9 persen. Lima provinsi tertinggi proporsi RT
yang memiliki akses terhadap fasilitas sanitasi improved adalah DKI Jakarta (78,2%), Kepulauan
Riau (74,8%), Kalimantan Timur (74,1%), Bangka Belitung (73,9%), dan Bali (75,5%).

35

Untuk penampungan air limbah RT di Indonesia umumnya dibuang langsung ke got


(46,7%). Hanya 15,5 persen yang menggunakan penampungan tertutup di pekarangan dengan
dilengkapi SPAL, dan 13,2 persen menggunakan penampungan terbuka di pekarangan, dan 7,4%
ditampung di luar pekarangan. Sedangkan dalam hal pengelolaan sampah RT umumnya
dilakukan dengan cara dibakar (50,1%) dan hanya 24.9 persen yang diangkut oleh petugas. Cara
lainnya dengan cara ditimbun dalam tanah, dibuat kompos, dibuang ke kali/parit/laut dan
dibuang sembarangan. Lima provinsi dengan proporsi RT yang mengelola sampah dengan cara
dibakar tertinggi adalah Gorontalo (79,5%), Aceh (70,6%), Lampung (69,9%), Riau (66,4%),
dan Kalimantan Barat (64,3%).
Table 1.1.

Percentage of the population without adequate sanitation


(WHO, 1990)

Source: http://www.who.int/water_sanitation_health/hygiene/envsan/onsitesan.pdf
Selama tahun 1970-1988 masyarakat pedesaan di Asia memiliki persentase populasi tanpa
sanitasi yang adekuat terbanyak.
Data Riskesdas 2013 mengenai prevalensi penyakit menular diare (ditularkan melalui
makanan, air dan lainnya)
Insiden dan period prevalence diare untuk seluruh kelompok umur di Indonesia adalah
3,5 persen dan 7,0 persen. Lima provinsi dengan insiden maupun period prevalen diare tertinggi
adalah Papua, Sulawesi Selatan, Aceh, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tengah. Insiden diare pada
kelompok usia balita di Indonesia adalah 10,2 persen. Lima provinsi dengan insiden diare
tertinggi adalah Aceh, Papua, DKI Jakarta, Sulawesi Selatan, dan Banten.
36

Salah satu penyakit dengan gejala muntaber adalah kolera.


Menurut WHO, Pada tahun 2013, 47 negara dilaporkan terdapat 129.064 kasus kolera
dengan 2.102 kematian yang memberikan angka kasus fatal (CFR) sebesar 1,63%. Kasus kolera
yang dilaporkan meliputi beberapa bagian didunia, termasuk 22 negara di Afrika, 14 negara di
Asia, 2 negara di Eropa, 8 negara di Amerika dan 1 negara di Oceania (Lihat Peta 1).

Source: World Health Organization/ Department of Control of Epidemic Disease.


Prevalensi data angka kematian yang paling sering berwarna hitam terdapat pada negara Afrika
dengan data jumlah kematian sebesar 100-900.
Afrika
37

Pada tahun 2012, Afrika memiliki persentase kasus kolera sebesar 52%.
Amerika
Pada tahun 2013, terdapat 5 negara yang dilaporkan terkena kasus kolera, yaitu: Cuba, Republik
Dominika, Haiti, Meksiko dan USA.
Cuba pada Juli 2012-2013 dilaporkan sebanyak 181 kasus kolera tanpa kematian di Provinsi La
Havana, Santiago del Cuba dan Camaguey.
Republik Dominika dilaporkan ada 1954 kasus sepanjang 2013, dimana angka ini menurun dari
tahun 2012 yang dilaporkan sebanyak 7.919 kasus kolera.
Di Haiti, sejak menjadi kawasan endemik (Oktober 2010) sampai Desember 2013, terdapat
696.794 kasus kolera dimana 389.903 berada dirumah sakit (56%) dan 8.531 meninggal dunia
(CFR, 1.22%).
Sejak awal September sampai akhir Desember 2013, Meksiko melaporkan 187 kasus yang telah
dikonfirmasi terkena infeksi Kolera, dengan 1 kasus kematian (CFR, 0.53%)
Asia
Sepanjang 2013 total kasus kolera sebanyak 11.576 kasus termasuk 100 kasus kematian yang
dilaporkan dari 14 negara (CFR, 0.86%). Kasus ini mengalami peningkatan sebesar 57% dari
kasus yang telah dilaporkan pada tahun 2012.
Eropa
Kasus kolera dilaporkan dari 2 negara di Eropa yaitu Italia dan 6 kasus di UK.
Oceania
Australia melaporkan 3 kasus kolera.

38

Source: http://www.who.int/wer/2014/wer8931.pdf?ua=1

Gejala dari penyakit muntaber, yaitu:


Bakteri yang masuk ke dalam saluran cerna lewat makanan yang telah tercemar akan
menimbulkan radang pada saluran cerna sehingga muncul gejala seperti sakit perut, kembung,
mual dan muntah-muntah. Muntaber juga dapat disertai dengan gejala demam tinggi, kepala
pusing, tidak nafsu makan, dan lemas. Pada pasien muntaber, tanda-tanda dehidrasi juga
terlihat.
Alur Diagnosis
1. Anamnesis : ditemukannya manifestasi klinik
2. Pemeriksaan Fisik : ditemukannya manifestasi klinik
3. Pemeriksaan Penunjang : Diagnosis laboratorium

Diagnosis Laboratorium
Bahan Pemeriksaan
Perbenihan
Tes fermentasi

Keterangan
Tinja dan atau muntahan
Agar pepton
Agar darah dengan pH 9
TCBS
Tes aglutinasi
Rx. Merah kolera

39

Slide aglutination test

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada penderita muntaber adalah:
1. Terapi rehidrasi
Dehidrasi, asidosis, dan deplesi kalium merupakan gejala khas akibat kehilangan air dan
garam melalui diare dan muntah. Terapi rehidrasi terdiri atas tindakan penggantian air
dan garam sesuai dengan proporsi yang hilang atau yang dikeluarkan. Karena sejumlah
besar cairan dapat hilang dengan cepat, penting dilakukan penilaian berkala selama
beberapa kali selama dan setelah rehidrasi sampai diare berhenti. Dapat diberikan oralit.
2. Pemberian Makanan
Makanan sebaiknya diberikan 3-4 jam setelah pengobatan, saat rehidrasi telah sempurna.
Untuk bayi atau anak-anak pemberian susu atau tindakan menyusui harus dilanjutkan.
Mencegah penyebaran wabah
Untuk mencegah penyebaran wabah dapat dilakukan sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Konsumsi makanan bergizi seimbang dalam jumlah yang cukup


Penggunaan air bersih untuk minum dan beraktifitas
Mencuci tangan sesudah buang air besar dan sebelum makan
Membuang tinja, termasuk tinja bayi pada tempatnya
Menjaga kebersihan jamban keluarga
Menjaga kebersihan rumah terutama WC, kamar mandi dan dapur
Menjaga kebersihan peralatan makan
Mencuci sayuran, buah dan bahan makanan sebelum dimasak
Memisahkan perangkat anggota keluarga yang terkena muntaber agar tidak menular ke
yang lain

40

Nama:Rr. Yunisa putri ryanti (2011730161)


6.Sebutkan alur pelaporan wabah!
ALUR PELAPORAN
Masyarakat Puskesmas Dinas Kesehatan Kabupaten Dinas Kesehatan
Propinsi Departemen Kesehatan
LAPORAN MASYARAKAT KE PUSKESMAS
Yang boleh melapor, semua masyarakat dewasa yang sehat, nama laporan: Laporan
kewaspadaan.
Isi Laporan : Penderita/tersangka penderita; waktu kejadiannya; gejala/tanda-tanda penyakit
tersebut.
Pembuatan/penyampaian laporan : dalam jangka waktu 24 jam setelah mengetahui adanya
penderita/ tersangka penderita KLB.
Sarana pelaporan: formulir bebas (tidak ditentukan bentuknya), telepon, telegram, radio, kurir,
lisan.
Pembuat laporan: perorangan, pamong desa/polisi, dokter praktek swasta, Puskesmas Pembantu,
Pemerintah/swasta, instansi, pemerintah/ swasta, kader, LSM, dll.
LAPORAN PUSKESMAS KE DINAS KESEHATAN
Nama Laporan: W1(Laporan Wabah)
Isi Laporan: Tempat KLB, Jumlah P/M, Gejala/tanda-tanda.
Pembuatan/Penyampaian laporan: dalam jangka waktu 24 jam setelah mengetahui kepastian
(hasil pengecekan lapangan) adanya tersangka KLB.
Selain melalui pos, penyampaian isi laporan dapat dilakukan dengan sarana komunikasi cepat
lainnya, sesuai situasi dan kondisi yang ada.
Pembuat laporan: Kepala Puskesmas.
Laporan mingguan KLB.
Nama laporan: W2 (laporan mingguan KLB).
Isi laporan : jumlah penderita dan kematian PMTKLB selama satu minggu yang tercatat di
Puskesmas.
Pembuatan laporan setiap minggu.
Pengiriman laporan : setiap Senin/Selasa.
Sarana pelaporan : Formulir W2

41

Pembuat laporan : Kepala Puskesmas.


Masyarakat segera (maksimum 24 jam) melapor kepada Ketua RT/RW/Kepala
Dusun dan atau Petugas kesehatan/Putu, apabila di sekitarnya ada kasus
penyakit (penderita/ tersangka), secara lisan atau tertulis2. Petugas
Kesehatan/Pustu/Ketua RT/RW/Kepala Dusun segera (maksimum 24 jam)
melaporkan kepada Kepala Puskesmas dan Kepala Desa/Lurah3. Kepala
Puskesmas segera (maksimum 24 jam) melakukan penyelidikan epidemiologi
dan melaporkan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota4. Isi laporan :
Nama-nama penderita yang meninggal, golongan umur, tempat dan alamat
kejadian, waktu kejadian, jumlah penderita meninggal. Puskesmas segera
( maksimum 24 jam), melaporkan KLB kepada Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota.2. Kabupaten/Kota segera ( maksimum 24 jam), melaporkan
KLB kepada Bupati/Walikota dan Dinas Kesehatan Propinsi3. Dinas
Kesehatan Propinsi segera ( maksimum 24 jam), melaporkan KLB kepada
Gubernur dan Departemen Kesehatan.

Nama
: Sally Novrani Puteri( 2013730174)
7. Sebutkan upaya yang dilakukan puskesmas untuk mencapai kecamatan sehat!
42

Jawab:
Pusat Kesehatan Masyarakat yang selanjutnya disebut Puskesmas adalah fasilitas
pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakatdan upaya kesehatan
perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk
mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya.
Puskesmas mempunyai tugas melaksanakan kebijakan kesehatan untuk mencapai tujuan
pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya dalam rangka mendukung terwujudnya kecamatan
sehat. Kecamatan Sehat adalah gambaran masyarakat kecamatan masa depan yang ingin dicapai
melalui pembangunan kesehatan, yakni masyarakat yang hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku
sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil
dan merata serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
Puskesmas menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat (UKM) tingkat pertama dan
upaya kesehatan perseorangan (UKP) tingkat pertama. Upaya kesehatan dilaksanakan secara
terintegrasi dan berkesinambungan. Upaya kesehatan masyarakat tingkat pertama meliputi upaya
kesehatan masyarakat esensial dan upaya kesehatan masyarakat pengembangan.
Upaya kesehatan masyarakat esensial meliputi:
a) Pelayanan promosi kesehatan; Posyandu
b) Pelayanan kesehatan lingkungan; lingkungan kelompok pemakai air (Pokmair), Desa
Percontohan Kesehatan Lingkungan (DPKL)
c) Pelayanan kesehatan ibu, anak, dan keluarga berencana: Posyandu, Polindes, Bina
keluarga balita (BKB)
d) Pelayanan gizi; Posyandu, Panti Pemulihan Gizi, Keluarga Sadar Gizi ( Kadarzi)
e) Pelayanan pencegahan dan pengendalian penyakit; Pos Obat Desa(POD)
Upaya kesehatan masyarakat esensial harus diselenggarakan oleh setiap Puskesmas untuk
mendukung pencapaian standar pelayanan minimal kabupaten/kota bidang kesehatan.
Upaya kesehatan masyarakat pengembangan merupakan upaya kesehatan masyarakat
yang kegiatannya memerlukan upaya yang sifatnya inovatif dan/atau bersifat ekstensifikasi dan
intensifikasi pelayanan, disesuaikan dengan prioritas masalah kesehatan, kekhususan wilayah
kerja dan potensi sumber daya yang tersedia di masing-masing Puskesmas. Berikut adalah upaya
kesehatan masyarakat pengembangan ;
a) Pelayanan kesehatan jiwa; Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM)
b) Upaya kesehatan gigi masyarakat;
c) Pengobatan tradisional,komplementer dan alternative; Tam a n Obat Keluarga (TOGA),
pembinaan pengobat tradisional (BATTRA)
d) Upaya kesehatan sekolah; Dokter Kecil, Saka Bakti Husada (SBH), Pos Kesehatan
Pesantren
e) Kesehatan indera;
f) Kesehatan lansia; Posyandu usila, Panti wreda
g) Kesehatan kerja dan olahraga: Pos Upaya Kes. Kerja (Pos UKK)
a)
b)
c)
d)

Upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama dilaksanakan dalam bentuk:


Rawat jalan;
Pelayanan gawat darurat;
Pelayanan satu hari (one day care);
Home care; dan/atau
43

e) Rawat inap berdasarkan pertimbangan kebutuhan pelayanan kesehatan.


Upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama dilaksanakan sesuai dengan standar prosedur
operasional dan standar pelayanan.
Untuk melaksanakan upaya kesehatan sebagaimana yang telah dijelaskan diatas,
Puskesmas harus menyelenggarakan:
1. Manajemen Puskesmas
2. Pelayanan kefarmasian;
3. Pelayanan keperawatan, kesehatan masyarakat; dan
4. Pelayanan laboratorium.

Nama: Fikri Akbar Alfarizi(2013730143)


8.Buatlah POA dalam penangan wabah
Tujuh penanggulangan wabah :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Penyelidikan.
Pemeriksaan, pengobatan, perawatan dan isolasi penderitan termasuk tindakan karantina.
Pencegahan dan pengebalan
Pemusnahan penyebab penyakit.
Penganan jenazah akibat wabah.
Penyuluhan kepada masyarakat.
Upaya penanggulangan lainnya.
44

Upaya penanggulangan wabah

Dilakukan dengan mengikut sertakan masyarakat secara aktif (Pasal UU RI No 4 tahun


1984)
Dua tujuan pokok :
1. Memperkecil angka kematian akibat wabah dengan pengobatan dokter.
2. Membatasi penularan dan penyebaran penyakit agar penderita tidak bertambah
banyak, dan wabah tidak meluas ke daerah lain.

Harus mempertimbangkat keadaan masyarakat setempat (agama, adat kebiasaan, tingkat


pendidikan, social ekonomi) agar upaya penanggulangan wabah tidak mendapat hambatan
masyarakat. Penyuluhan yang intensif dan pendekatan persuasive edukatif agar masyarakat mau
ikut serta secara aktif.
Penyelidikan Epidemiologis.
Yaitu penyelidikan untuk mengenal sifat sifat penyebabnya, serta factor faktor yang dapat
mempengaruhi timbulnya wabah, agar dapat dilakukan tindakan penanggulangan wabah yang
paling berdaya guna dan berhasil guna oleh pihak ynag berwenang wabah dapat ditanggulangi
secepatnhya.
Upaya yang dilakukan dalam penaganan wabah :
Untuk penderita yang telah ditemukan :
Pemeriksaan, pengobatan, perawatan, dan isolasi penderita, termasuk karantina.
1. Untuk penderita yang belum ditemukan :
Penyelidikan epidemiologi.
2. Untuk masyarakat yang belum sakit :
Pencegahan dan pengebalan, penyuluhan kepada masyarakat, penaganan jenazah.
3. Perumusan sumber penyakit :
Pemberantasan tempat perindukan dan memusnahkan makanan sumber keracunan.
Pemusnahan penyabab penyakit :
Dalam pencegahan harus dilakukan pemusnahan terhadap benda benda, tempat tempat dan lainlain yang mengandung kehidupan penyabab penyakit tersebut, misalnya :
1. Pemberantasan tempat perindukan (sarang nyamuk).
2. Memusnakan makanan sumber penyakit.

Penanganan jenazah
45

Apabila kematiannya disebabkan oleh penyakit yang menimbulkan wabah, atau jenazah tersebut
merupakan sumber penyakit yang dapat menimbulkan wabah. Harus dilakuka secara khusus
menurut jenis penyakitnya, tanpa meninggalkan norma agama serta hakikatnya sebagai manusia.
Penyuluhan kepada masyarakat
Kegiatan komunikasi yang bersifat persuasive edukatif tentang penyakit ynag dapat
menimbulkan wabah agar mereka :

Mengerti sifat sifat penyakit untuk dapat melindungi dirinya sendiri dan apabila terkena

tidak menularkan kepada orang lain.


Mau berperan serta secara aktif dalam penanggulangan wabah.

Nama: Ghaisani Zatadini (2013730146)


9.Bagaimana cara melakukan kerjasama denga RS rujukan dalam pemberantasan wabah!
Cara untuk memberantas wabah :
-Meningkatkan mutu layanan di Rumah sakit,dalam menampung rujukan dari posyandu dan
puskesmas.
-Meningkatkan sarana komunikasi antara rumah sakit dan puskesmas.
-Meningkatkan upaya dana sehatuntuk menunjang upaya rumah sakit rujukan memberantas
wabah
-Memberantas sumber dan memutuskan rantai penularan
-mencegah pemakaian air yang tercemar atau air disterilkan dulu sebelum dipakai, memusnahkan
makanan yang tercemar, dan juga tempat perbiakan vector. Pendidikan kesehatan berperan
penting dalam kegiatan ini dan mungkin perlu juga didukung dengan undang-undang.
-Mengobati dan mengisolasi semua kasus,jenis pengobatan yang diberikan bergantung pada
penyakit dan juga sarana, serta perlengkapan yang tersedia.
-Meningkatkan daya tahan penduduk setempat, beberapa jenis penyakit menular dapat dicegah
dengan obat (misalnya penyakit malaria) atau imunisasi (misalnya polio dan campak). Perlu
diingat, bahwa untuk wabah beberapa penyakit, seperti tifoid dan kolera, pemberian vaksin boleh
dikatakan tidak efektif.
-Survei yang berkelanjutan, selama fase akut suatu wabah, perlu tetap diawasi orang-orang yang
dicurigai memiliki risiko penyakit. Segera setelah wabah berhasil diatasi, perlu dijalankan
surveilans untuk menemukan kasus baru, supaya efektif. Karena system pelaporan rutin mungkin
tidak memadai untuk hal tersebut, maka surveilans di masyarakat merupakan alat penting untuk
mengenal dan melaporkan setiap kasus baru.

46

Nama : Tasya Sabrina Chairunnisa (2013730183)


10.Apasajakah upaya pemberdayaan masyakat serta bagaimana menggerakan potensi masyarakat
untuk mencapai Revitalisasi posyandu dalam masyarakat sehat?

POSYANDU
POS :
POS :
Tempat
Tempat

YAN :
YAN :
Peyalanan
Peyalanan

DU :
DU :
Terpadu
Terpadu

Posyandu adalah kegiatan yang dilaksanakan oleh, dari dan untuk masyarakat yang bertujuan
untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat pada umumnya serta kesehatan Ibu,Bayi dan
Balita pada khususnya. Posyandu dilaksanakan oleh keluarga bersama dengan masyarakat
dibawah bimbingan petugas kesehatan dari puskesmas setempat. Posyandu juga berupaya untuk
pemberdayaan masyarakat dan Revitalisasi Posyandu, antara lain :
1. Meningkatkan kemampuan pengetahuan dan keterampilan teknis, serta dedikasi kader di
Posyandu.
2. Memperluas system posyandu dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan di
hari buka dan kunjungan rumah.

47

3. Menciptakan iklim kondusif untuk pelayanan dengan pemenuhan saran dan prasarana
kerja Posyandu.
4. Meningkatkan peran serta masyarakat dan kemitraan dalam penyelanggaraan dan
pembiayaan kegiatan Posyandu.
5. Menyediakan system pilihan jenis dalam pelayanan (paket minimal dan tambahan) sesuai
perkembangan kebutuhan masyarakat.
6. Menggunakan azas kecukupan dan urgensi dalam penetapn sasaran pelayanan dengan
perhatian khusus pada Baduta untuk mencapai cakupan keseluruhan.
7. Memperkuat dukungan pembinaan dan pendampingan teknis dari tenaga professional dan
tokoh masyarakat, termasuk unsur LSM.
Dimana tujuan penyelenggara posyandu adalah;
1. Menurunkan angka kematian bayi (AKB), angka kematiaan ibu (ibu hamil, melahirkan,
dan nifas)
2. Membudayakan norma keluarga kecil bahagia sejahtera (NKKBS)
3. Meningkatkan peran serta dan kemampuan masyarakat untuk mengembangkan kesehatan
dan KB.

Nama:Yudha Daud Pratama (2011730168)


11.Jelaskan perilaku kesehatan menurut para ahli, Klasifikasi, bentuk perilaku kesehatan,serta
jenisnya!
A. Perilaku kesehatan menurut para ahli
Menurut Gochman :
Perilaku kesehatan adalah suatu respons tindakan yang berkaitan dengan atribut-atribut
seperti keyakinan, pengharapan, motif, nilai, persepsi dan elemen-elemen kognitif lainnya,
karakteristik pribadi, termasuk afektif dan state dan trait emosional, dan pola perilaku
terbuka, perbuatan dan kebiasaaan yang berkaitan dengan pemeliharaan, perbaikan, dan
pengembangan kesehatan.

Menurut Notoatmodjo :
Perilaku kesehatan adalah respon organisme terhadap stimulus (obyek) yang berkaitan
dengan sakit/penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan serta lingkungan.

B. Klasifikasi Perilaku Kesehatan


Menurut Becker ( 1979) dibagi menjadi tiga bagian, yaitu :
a. Healthy life behavior ( perilaku hidup sehat ) yang mencakup makanan gizi
seimbang, olahraga teratur, tidak merokok, tidak mengkonsumsi minuman keras
(alkohol), istirahat cukup, mengendalikan stress, tidak berganti ganti pasangan.

48

b. Illness behavior ( perilaku saat sakit ) yang mencakup respon saat sakit dan terhadap
penyakit, pengetahuan tentang penyakit, gejala, penularan, dan pengobatan penyakit.
c. The sick role behavior (perilaku peran sakit ) yang mencakup tindakan untuk
memperoleh kesembuhan, mengetahui fasilitas kesehatan yang tersedia, mengeahui
hak dan kewajiban orang sakit.
Menurut Notoatmodjo klasifikasi perilaku kesehatan yaitu :
a. Perilaku pemeliharaan kesehatan meliputi peningkatan kesehatan, pencegahan
penyakit, penyembuhan, pemulihan kesehatan, asupan gizi, dsb.
b. Perilaku pencarian dan pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan dimulai dari self
treatmen sampai dengan usaha pengobatan di dalam dan di luar negeri.
c. Perilaku kesehatan lingkungan seperti penyediaan air minum sehat, Pengadaan SPAL,
pembuangan dan pengelolaan sampah.

C. Bentuk bentuk perilaku kesehatan


Perliaku meningkatkan kesehatan dan mencegah penyakit diantaranya :
Menjaga/ mencapai BB ideal
Berhenti/ tidak memulai merokok
Berhenti/ tdk memulai miras
Makan dg gizi seimbang
Melakukan 3 M
Menghindari stress
Menjaga kebugaran
Pelayanan dan pengobatan penyakit diantaranya :
Minum obat sesuai resep dokter
Memeriksakan kesehatan
Persalinan di Nakes
Mengurangi BB
Pengelolaan gizi terhadap penyakit
Immunisasi
D. Jenis jenis perilaku kesehatan
Ideal behavior : Tindakan yang bisa diamati yg perlu dilakukan individu atau masy untuk
mengurangi atau membantu memecahkan masalah kesehatan.
Contoh : Membuang limbah di pembuangan limbah, memasang kawat nyamuk, melakukan
immunisasi, menggunakan helm saat berkendara roda dua.

Current behavior : perilaku yang dilaksanakan saat ini, dapat diidentifikasi dengan observasi
dan wawancara di lapangan: (perilaku yang terdapat kesenjangan antara perilaku ideal
dengan tindakan yang dilakukan dikaitkan dengan epdemiologi dan masalah kesehatan yang
diakibatkan dari perilaku tersebut).

49

Contoh : Membuang sampah sembarangan, makan tidak mencuci tangan, MCK di sungai,
tidak menggosok gigi dengan rutin, merokok, mengkonsumsi makanan siap saji, dll.

Expected/feasible behavior : perilaku yang diharapkan bisa dilaksanakan oleh suatu individu
atau kelompok masyarakat :
Contoh : Membuat tempat pembuangan sampah, membuat sumur air bersih, membuat
Jamban sesuai standar, membuat sumur resapan, membuat kawasan bebas asap rokok, dll.

BAB III
PENUTUP
3.1

Kesimpulan
Dari hasil diskusi yang sudah dilaksanakan, dapat di ambil kesimpulan bahwa skenario 1
yang ada pada modul Ilmu Kesehatan Masyarakat ini adalah termasuk wabah. Dapat
dikatakan wabah karena sesuai dengan kriteria dari wabah itu sendiri serta dilakukan
langkah-langkah dari upaya penyelidikan wabah. Dalam menentukan sebuah kasus bisa
dikatakan wabah diperlukan data-data dan informasi yang lengkap. Wabah itu sendiri
adalah keadaan berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat, yang jumlah
penderitanya meningkat secara nyata, melebihi keadaan yang lazim, pada waktu dan
daerah tertentu, serta dapat menimbulkan malapetaka.

3.2

Saran
Sebaiknya apabila ditemukan tanda-tanda yang mengarah ke wabah segera dilaporkan
dan pihak yang bersangkutan harus segera mengambil tindakan yang tepat untuk
50

mengatasi wabah. Apabila penanganan wabah ini terlambat maka akan timbul korban
yang lebih banyak lagi.

DAFTAR PUSTAKA
Aesculapius FK UI.
Depkes. 2013.
Djuanda, Adhi. 2005. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta. Penerbit : Balai Penerbit FK UI.
FKUI. Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta: Bina Rupa Aksara.
Heru S. Adi.1995.KADER KESEHATAN MASYARAKAT Ed.2.EGC;Jakarta.
Mansoer, Arif, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran jilid 2. Edisi 3. Jakarta. Penerbit
Mboi, Nafsiah. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2014. 1
Januari 2015
Morrow, RH & Vaughan.1993.Panduan Epidemiologi bagi Pengelolaan Kesehatan
Kabupaten.Penerbit ITB.Bandung
Philadelphia: Elsevier Saunders.
Rajab,Wahyudin. 2009. Buku Ajar Epidemiologi untuk Mahasiswa Kebidanan. Jakarta: EGC.

51

Rianti,Emy,DKK. 2009. Buku Ajar Epidemiologi dalam Kebidanan. Jakarta: Trans Info Media.
referensi
.
http://www.depkes.go.id/resources/download/peraturan/PMK-No-75-Th-2014-ttgPuskesmas.pdf
http://medicastore.com/penyakit/74/Dermatitis_Kontak.html
http://www.depkes.go.id/
http://www.depkes.go.id/resources/download/general/Hasil%20Riskesdas%202013.pdf
WHO. 2013
. http://www.who.int/wer/2014/wer8931.pdf?ua=1
WHO. A Guide to the Development of on-Site Sanitation, WHO, 1992. Dalam
http://www.who.int/water_sanitation_health/hygiene/envsan/onsitesan.pdf
Wyllie R. 2011. Nelsons texbook of pediatrics. Edisi ke-19.
http://posyandu.org
http://Scribd.com/posyandu/Oktavianus

KEDOKTERAN TROPIS
LAPORAN DISKUSI TUTORIAL
KECACINGAN

Tutor : dr. Fachri Spp.


KELOMPOK 4 :

Ketua :

Ibnu Fajar Sidik

(2013730148)
52

Sekertaris:
Anggota :

Ghaisani Zatadini
1.Surayya Ardillah

(2013730146)
(2011730163)

2.Yudha Daud Pratama

(2011730168)

3. Rr. Yunisa putri ryanti

(2011730161)

4.Harishal Aryaputra

(2013730147)

5. Dias Rahmawati Wijaya

(2013730134)

6. Dinda Meladya

(2013730137)

7. Fikri Akrbar Alfarizi


8. Mustika Dinna Wikantari
9. Sally Novrani Putri

(2013730143)
(2013730156)
(2013730174)

10.Sarri Azzahro Said

(2013730176)

11.Tasya Sabrina Chaiunnisa

(2013730178)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
TAHUN AJARAN 2015/2016

53