Anda di halaman 1dari 19

BAB 1

LAPORAN KASUS

IDENTITAS PASIEN
Nama

: An. M

Jenis

: Perempuan

Usia

: 11 bulan

Nama ayah

: Tn. S

Umur ayah

: 24 tahun

Pendidikan

: SMA

Pekerjaan

: Wiraswasta

Nama ibu

: Ny. S

Umur ayah

: 22 tahun

Pendidikan

:SMA

Alamat

: Jl. Kebon baru 09/01 semper

Masuk RS tanggal

: 10 Juni 2014

ALLOANAMNESIS
Keluhan Utama

: Kejang 1 hari SMRS

Riwayat penyakit sekarang


2 hari sebelum masuk rumah sakit Os demam 39,50C, demam terus menerus. Terdapat
pilek, cairan berwarna putih bening. Tidak terdapat kejang saat demam, batuk tidak ada,
muntah tidak ada, BAB sebanyak 2x perhari dengan tinja cair tidak ada ampas sebanyak
setengah gelas belimbing, tinja tidak berbau, tidak terdapat lendir, dan darah, pada saat BAB
anak tidak menangis, BAK tidak ada keluhan, warna sedikit kuning, banyak. Pasien sudah
berobat ke dokter umum dan sudah diberikan obat. Tetapi ibu lupa nama obat yang diberikan,
setelah minum obat tidak ada perubahan OS masih panas, diare sudah teratasi.

2 jam sebelum masuk rumah sakit OS demam dengan suhu 400C, demam terus
menerus. Setelah 1 jam demam pasien mengalami kejang. Kejang berlangsung selama < 5
menit, kejang seluruh tubuh, kejang hanya 1x tidak berulang. Pasien dibawa kebidan dekat
rumah lalu diberikan stesolid supositoria, setelah kejang pasien langsung menangis. Os masih
terdapat pilek dengan cairan berwarna putih bening, kemudian Os dirujuk ke RSIJ Sukapura

Riwayat penyakit dahulu :

Kejang demam (-)


Trauma kepala (-)
Campak (-)
TB paru (-)
Bronkopneumonia (-)

Riwayat penyakit keluarga

Saat ini tidak ada keluarga dengan riwayat keluhan yang sama dengan Os
Epilepsi (-)
Asma (-)
TB paru (-)

Riwayat psikososial
Os tinggal di daerah semper, dalam satu rumah dihuni oleh 3 orang. Os merupakan anak
pertama, disekitar lingkungan Os baik, ayah Os merokok tetapi tidak pernah di dalam rumah,
Os jarang jajan sembarangan.

Riwayat pengobatan
Os sudah pernah dibawa ke klinik, diberi obat puyer dan sirup, ibu Os lupa nama obatnya.
Ada perubahan pada mencret nya, tetapi demam masih ada.

Riwayat kehamilan ibu

Os merupakan anak tunggal, selama kehamilan ibu sehat, kontrol teratur ke dokter atau bidan
setiap bulan, ibu Os tidak ada riwayat minum jamu, dan merokok selama kehamilan,
mengkonsumsi obat-obatan.
Riwayat kelahiran
Pasien lahir spontan, cukup bulan, ditolong oleh bidan, Os langsung menangi, dengan berat
badan lahir 2800 gram, panjang badan 46 cm, pasien saat lahir tidak terlihat sesak, tidak
terlihat sianosis.
Riwayat makanan

ASI ekslusif sampai sekarang


Mulai diberikan makanan pendamping ASI saat usia 6 bulan, berupa bubur susu
sebanyak 2x dalam 1hari

Riwayat perkembangan

Motorik kasar :

Motorik halus :

Bicara

Sosial

Tengkurep bolak balik usia 6 bulan


Merangkak usia 6,5 bulan
Duduk pada usia 8 bulan
Berdiri 11 bulan
menggenggam mainan usia 5 bulan
Bisa memindahkan benda dari satu tangan ke tangan yang lain
pada usia 6 bulan
mengoceh usia 4 bulan
Mengeluarkan kata tanpa arti usia 6 bulan
Bisa memanggil mama papah usia 9 bulan
senyum sosial 4 bulan
Takut kepada orang asing 8 bulan

Riwayat imunisasi

DASAR
BCG : 1x, saat usia 1 bulan
DPT : 3x, saat usia 2, 4, 6 bulan

POLIO : 4x, saat lahir, usia 2, 4 dan 6 bulan


HEPATITIS B : 3x saat lahir, usia 1 dan 6 bulan
CAMPAK : 1x saat usia 9 bulan

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum

: tampak sakit sedang

Kesadaran

: compos mentis

Vital sign

Nadi : 100 x/ menit, irama nadi teratur.


RR
: 32x/ menit, reguler
Suhu : 380C

Antropometri

Tinggi badan
: 70 cm
Berat badan
: 7 kg
Lingkar kepala
: 46 cam
BB/U = 7/8,6 X 100% = 81% (Gizi baik)
TB/U =70/ 73 X 100% = 95% (tinggi baik)
BB/TB = 7/7 X 100% = 100% (Gizi normal)

Status Generalis
Kulit

: Kulit warna sawo matang, ikterus pada kulit (-),pucat telapak tangan dan kaki (-), sianosis (-)
ruam-ruam kemerahan di kulit (-), edema (-).

Kelenjar limfe:

Tidak ada pembesaran KGB pada daerah axilla, leher, inguinal dan

submandibula, nyeri tekan (-)


Kepala : Normocephal simetris.
Ubun-ubun: Sudah menutup

Rambut : Bewarna hitam,distribusi rata dan tidak mudah dicabut.


Mata

: Konjungtiva anemis (+/+),konjungtiva hiperemis (-/-), sklera ikterik (-), refleks


pupil (+), d 3 mm, isokor kanan-kiri. Eksoftalmos dan enoftalmos (-), edema palpebra (-),
pergerakan mata kesegala arah baik

Hidung : Deviasi septum (-), sekret (-/-), darah (-/-), nyeri tekan (-), hidung bagian luar
tidak ada kelainan, pernapasan cuping hidung (-).
Mulut : Mukosa bibir kering (-), stomatitis (-),coated tongue(-), lidah hiperemis (-)
Gigi

: Gusi berdarah (-), karies gigi (-)

Faring : Faring hiperemis (-), T1/T1


Telinga : Normotia, nyeri tekan (-/-), serumen (+/+), darah (-/-), pendengaran baik
Leher

: Pembesaran KGB (-), massa (-)

Paru
Inspeksi

: simetris dextra-sinistra, tidak ada bagian dada yang tertinggal saat bernapas,
retraksi dinding dada (-), scar (-), otot bantu pernapasan (-)

Palpasi

: simetris, vocal fremitus sama dextra-sinistra, tidak ada bagian dada yang
tertinggal saat bernapas, nyeri tekan (-)

Perkusi

: sonor pada semua lapang paru, batas sonor-pekak setinggi ICS 6 linea
midclavicularis dextra

Auskultasi : suara napas vesikuler (+/+), lendir (-/-), ronkhi (-/-), wheezing(-/-)

Jantung
Inspeksi

: ictus cordis tidak terlihat

Palpasi

: ictus cordis teraba di ICS 4 linea midclavicularis sinistra

Perkusi

: batas jantung relatif dalam batas normal

Auskultasi : bunyi jantung I dan II regular, bising jantung (-)

Abdomen
Inspeksi

: distensi abdomen (-), scar (-), peteki (-)

Palpasi

: hepatomegali (-), splenomegali (-), massa (-), turgor kembali agak lambat.

Perkusi

: timpani pada seluruh kuadran abdomen, shifting dullness (-)

Auskultasi : bising usus normal

Extremitas
Atas

:akral dingin, peteki(-/-), udem (-/-), pucat (-),RCT < 2 detik

Bawah :akral dingin, peteki(-/-), udem (-/-), pucat (-), RCT < 2 detik
Otot

: tidak ada spasme otot

Tulang

: deformitas (-), nyeri tekan (-)

Sendi

: nyeri tekan (-), kemerahan (-)

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboraturium tanggal 10 Juni 2014
Pemeriksaan

Hasil

Nilai Rujukan

Hematologi rutin
Hb

10.9

1
2,0 14,0

Leukosit

14,51
5,00 10,00

Hematokrit

31,6

37,0 43,0
Trombosit

265
1500 - 400

Mcv

77

82-92

Mch

27

27-31

Mchc

35

32 36

Rdw sd

35,6 %

150 400

Na

134,58

13537 145,00

4,00

3,48 -5.50

Cl

99,98

96,00 106,00

Elektrolit

RESUME
Seorang bayi perempuan umur 11 bulan dibawa ke RS dengan keluhan kejang 1x < 15
menit seluruh tubuh bergerak. Demam 2 hari , terus menerus. Diare 2x dalam 1 hari cair,
tidak ada ampas, tidak berbau, tidak ada lendir, tidak ada darah, Warna feses kuning diare
sudah teratasi sebelum ke RS. Os pilek, warna cairan bening Dari hasil pemeriksaan fisik
didapatkan os terlihat sakit sedang, kesadaran compos mentis, nadi 100x/menit, suhu 380C,
pernapasan 32x/menit. Dari hasil laboraturium hemoglobin menurun 10,9, hematokrit
menurun 31,6, leukosit meningkat 14,51.

ASSESSMENT
1. Demam disertai kejang
- Demam
- Pilek
Diferensial Diagnosis : Kejang demam sederhana

ISPA
Working Diagnosis : kejang demam sederhana
Rencana Terapi

IVFD RL 10 tpm makro drip


Diazepam melalui rektal bila kejang beulang dosis 0,5 mg/kgBB
Antipiretik Paracetamol syrup 10-15mg/kgBB/kali diberikan 4 x 0,7 cc
Antibiotik amoksisilin 60-100 mg/kgBB/hr diberikan 3 x 1,5 cth

Follow up
Tangga

S
O
l/jam
11 juni Demam (+), pilek(+) Nadi: 96x/menit
2014

kejang(-)

07.00

07.00

Kejang demam

Suhu: 37,5 C

P
Infus Kaen 3B
Antibiotik

Pernapasan:

28x/menit
12 juni Demam (-), pilek (+), Nadi: 92x/menit
2014

kejang (-)

Suhu: 36,8 C
Pernapasan:
30x/menit

Kejang demam

Infus Kaen 3B
Antibiotik

BAB 1
ANATOMI DAN FISIOLOGI
1.1 Anatomi
Otak adalah suatu alat tubuh yang sangat penting karena merupakan pusat komputer
dan semua alat tubuh, bagian dari saraf sentral yang terletak di dalam rongga tengkorak yang
dibungkus oleh selaput otak yang kuat.
Bagian bagian otak :
1. Hipotalamus merupakan bagian ujung depan diensefalon yang terletak dibawah
sulkus hipotalamik dan di depan nucleus interpundenkuler hipotalamus terbagi dalam
berbagai inti dan daerah inti. Terletak pada anterior dan inferior talamus berfungsi
mengontrol dan mengatur sistem saraf autonom dan juga bekerja dengan hipofisis
untuk mempertahankan keseimbangan cairan, mempertahankan pengaturan suhu
tubuh melalui peningkatan vasokontriksi atau vasodilatasi dan mempengaruhi sekresi
hormonal dengan kelenjarhipofisis, juga sebagai pusat lapar dan mengontrol berat

badan, sebagai pengatur tidur, tekanan darah, perilau agresif, seksual dan pusat respon
emosional.
2. Talamus berada pada salah satu sisi pada sepertiga ventrikel dan aktivitas primernya
sebagai pusat penyambung sensasi bau yang diterima semua implus memori, sensasi
dan nyeri melalui bagian ini
3. Traktus spinotalamus (serabut-serabut segera menyilang kesisi yang berlawanan dan
masuk medula spinalis). Bagian ini bertugas mengirim implus nyeri dan tempratur ke
talamus dan korteks serebri.
4. Kelenjar hipofisis dianggap sebagai masker kelenjar karena sejumlah hormon
hormon dan fungsinya diatur oleh kelenjar ini. Hipofisis merupakan bagian otak yang
tiga kali lebih sering timbul tumor pada orang dewasa.
5. Hipofisis termostatik : memberikan sinyal bahwa suhu tubuh diatas titik tersebut akan
menghambat nafsu makan
6. Mekanisme aferen : empat hipofisis utama tentang mekanisme aferen yang terlibat
dalam pengaturan masukan makanan telah diajukan dan keempat hipotesis itu tidak
ada hubungannya satu dengan yang lain.
1.2 Fisiologi
Hipotalamus

mempunyai

fungsi

sebagai

pengaturan

suhu

tubuh

dan

untuk

mempertahanlam keseimbangan cairan tubuh.


a. Pirogen endogen
Demam yang ditimbulkan oleh sitokin mungkin disebabkan oleh pelepasan
prostaglandin lokal di hipotalamu. Penyuntikan prostaglandin kedalam hipotalamus
menyebabkan demam. Selain itu efek antipiretik aspirin bekerja langsung pada
hipotalamus, dan aspirin menghambat sintesis prostaglandin.
b. Pengaturan Suhu
Dalam tubuh, panas dihasilkan oleh gerakan otot, asimilasi makanan dan oleh
semua proses vital yang berperan dalam metabolisme basal. Panas dikeluarkan dari
tubuh melalui radiasi, konduksi dan penguapan air disaluran nafas dan kulit.
Keseimbangan pembentukan pengeluaran panas menentukan suhu tubuh, karena

kecepatan reaksi - reaksi kimia bervariasi sesuai dengan suhu dan arena didtem
enzim dalam tubuh memiliki rentang suhu normal yang sempit, agar berfungsi
optimal, fungsi suhu tubuh normal bergantung pada suhu yang relatif konstan
(Sylvia A. Price, Latraine M. Wikson)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Kejang demam adalah kejang yang disebabkan kenaikan suhu tubuh lebih dari 38,4 oC
tanpa adanya infeksi susunan saraf pusat atau gangguan elektrolit akut pada nak berusia
diatas 1 bulan tanpa riwayat kejang sebelumnya. (IDAI, 2009)
2.2 Etiologi
Semua jenis infeksi yang bersumber di luar susunan saraf pusat yang menimbulkan
demam dapat menyebabkan kejang demam. Penyakit yang paling sering menimbulkan kejang
demam adalah infeksi saluran pernapasan atas, otitis media akut, pneumonia, gastroenteritis
akut, bronchitis dan infeksi saluran kemih (Soetomengolo,2000)
2.3 Faktor resiko
Faktor resiko berulangnya kejang demam adalah : riwayat kejang demam dalam
keluarga, usia kurang dari 18 bulan, tempratur tubuh saat kejang, makin rendah tempratur
tubuh saat kejang makin sering berulang dan lamanya demam . adapun faktor terjadinya
epilepsi dikemudian hari adalah adanya gangguan perkembangan neurologis, kejang demam
kompleks, riwayat epilepsi dalam keluarga, dan lamanya demam. (IDAI,2009)
2.4 Klasifikasi kejang demam

Penggolongan kejang demam menurut kriteria Nationall Collaborative Perinatal


Project adalah kejang demam sederhana dan kejang demam kompleks. Kejang demam
sederhana adalah kejang demam yang lama kejangnya kurang dari 15 menit, umum dan
tidakberulang pada satu episode demam. Kejang demam kompleks adalah kejang demam
yang lebih lama dari 15 menit baik bersifat fokal atau multipel. Kejang demam berulang
adalah kejang demam yang timbul pada lebih dari satu episode demam. (Sari Pediatri Vol. 4,
2002)
2.5 Klasifikasi kejang
Kejang yang merupakan pergerakann abnormal atau perubahan tonus badan dan
tungkai dapat di klasifikasikan menjadi 3 bagian yaitu : kejang klonik, kejang tonik, dan
kejang mioklonik.
a. Kejang tonik
Bentuk klinis kejang ini berupa pergerakan tonik satu ekstremitas atau pergerakan tonik
umum dengan ekstensi lengan dan tungkai yang menyerupai deserebrasi atau ekstensi tugkai
dan fleksi lengan bawah dengan bentuk dekortikasi. Bentuk kejang tonik menyerupai
deserebrasi harus dibedakan dengan sikap epistotonus yang disebabka oleh rangsang
meningkat karena infeksi selapur otak atau kernikterus
b. Kejang klonik
Dapat berbentuk fokal, unilateral, bilateral, dengan permulaan fokal dan multifokal
yang berpindah- pindah. Bentuk klinis kejang klonik fokal berlangsung 1 3 detik ,
terlokalisasi dengan baik tidak disertai ganguan kesadaran dan biasanya tidak diikuti oleh
pasien tonik.
c. Kejang Mioklonik.gambaran klinis yang terlihat adalah gerakan ekstensi dan lengan
2.6 Epidemiologi
Pendapat para ahli tentang usia penderita saat terjadi bangkitan kejang demam tidak
sama. Pendapat para ahli terbanyak kejang demam terjadi pada waktu anak berusia antara 3

bulan sampai dengan 5 tahun. Menurut The American Academy of Pediatrics (AAP) usia
termuda bangkitan kejang demam 6 bulan.
Kejang demam merupakan salah satu kelainan saraf tersering pada anak. Berkisar 2%-5%
anak di bawah 5 tahun pernah mengalami bangkitan kejang demam. Lebih dari 90%
penderita kejang demam terjadi pada anak berusia di bawah 5 tahun. Terbanyak bangkitan
kejang demam terjadi pada anak berusia antara usia 6 bulan sampai dengan 22 bulan. Insiden
bangkitan kejang demam tertinggi terjadi pada usia 18 bulan. Di berbagai negara insiden dan
prevalensi kejang demam berbeda. Di Amerika Serikat dan Eropa prevalensi kejang demam
berkisar 2-5%. Di Asia prevalensi kejang demam meningkat dua kali lipat bila dibandingkan
di Eropa dan di Amerika. Di Jepang kejadian kejang demam berkisar 8,3% - 9,9% Bahkan di
kepulauan Mariana (Guam), telah dilaporkan insidensi kejang demam yang lebih besar,
mencapai 14%Prognosis kejang demam baik, kejang demam bersifat benigna. Angka
kernatian hanya 0,64 % - 0,75 %. Sebagian besar penderita kejang demam sembuh sempurna,
sebagian kecil berkembang menjadi epilepsi sebanyak 2-7% Empat persen penderita kejang
demam secara bermakna mengalami gangguan tingkah laku dan penurunan tingkat
intelegensi. (Sari Pediatri Vol. 4, 2002)
2.7 Patofisiologi
Proses Perjalanan Penyakit infeksi yang terjadi pada jaringan di luar kranial seperti
tonsilitis, otitis media akut, bronkitis penyebab terbanyaknya adalah bakteri yang bersifat
toksik. Toksis yang di hasilkan oleh mikro organisme dapat menyebar ke seluruh tubuh
melalui hematogen maupun limfogen. Penyebaran toksis ke seluruh tubuh akan direspon oleh
hipotalamus dengan menaikkan pengaturan suhu di hipotalamus sebagai tanda tubuh dalam
bahaya secara sistemik. Naiknya pengaturan suhu di hipotalamus akan merangsang kenaikan
suhu di bagian tubuh yang lain seperti otot, kulit sehingga terjadi peningkatan kontraksi otot.
Naiknya suhu dihipotalamus, otot, kulit, dan jaringan tubuh yang lain akan di sertai

pengeluaran mediator kimia sepeti epinefrin dan prostagladin. Pengeluaran mediator kimia
ini dapat merangsang peningkatan potensial aksi pada neuron. Peningkatan potensial inilah
yang merangsang perpindahan ion Natrium, ion Kalium dengan cepat dari luar sel menuju ke
dalam sel. peristiwa inilah yang diduga dapat menaikan fase depolarisasi neuron dengan
cepat sehingga timbul kejang.
Serangan yang cepat itulah yang dapat menjadikan anak mengalami penurunan respon
kesadaran, otot ekstremitas maupun bronkus juga dapat mengalami spasme sehingga anak
beresiko terhadap injuri dan kelangsungan jalan nafas oleh penutupan lidah dan spasme
bronkus. (Riyadi dan sujono, 2009).
2.8 Manifestasi klinik
Kejang yang terkait dengan kenaikan suhu yang cepat dan biasanya berkembang bila
suhu tubuh (dalam) mencapai 30oC atau lebih. Kejang khas menyeluruh, tonik-tonik lama
beberapa detik sampai 10 menit, diikuti dengan periode mengantuk singkat pascakejang.
Kejang demam yang menetap lebih lama 15 menit menunjukkan penyebab organik seperti
proses infeksi atau toksik dan memerlukan pengamatan menyeluruh. Jika mengarah
kemungkinan meningitis, pungsi lumbal dengan pemeriksaan cairan serebrospinalis
(CSS) terindikasi. Infeksi virus saluran pernapasan atas, roseola dan otitis media akut
adalah penyebab kejang demam yang paling sering. Umumnya kejang berhenti sendiri.
Begitu kejang berhenti untuk sesaat anak tidak memberikan reaksi apapun, tetapi setelah
beberapa detik atau menit anak akan terbangun dan sadar kembali tanpa ada kelainan
neurologi.
2.9 Diagnosis
Anamnesis
1. Adanya kejang, jenis kejang, kesadaran, lama kejang
2. Suhu sebelum / saat kejang, frekuensi dalam 24 jam, interval, keadaan anak pasca
kejang. Penyebab demam diluar susunan saraf pusat (ISPA, OMA, ISK)
3. Riwayat perkembangan, riwayat kejang demam, dan epilepsi dalam keluarga,

4. Singkirkan

penyebab

kejang

yang

lain,

misalnya

diare/muntah

yang

mengakibatkan gangguan elektrolit, sesak yang mengakibatkan hipoksemia,


asupan kurang yang menyebabkan hipoglikemi.
Pemeriksaan fisik
1. kesadaran apakah terdapat penurunan kesadaran, suhu tubuh apakah terdapat
demam,
2. tanda rangsang meningeal : kaku kuduk,brudzinski 1 dan 2, kernique, laseque
3. pemeriksaan nervus kranial
4. tanda peningkatan tekanna intrakranial : ubun-ubun besar membonjol, papil
edema
5. tanda infeksi di luar SSP : ISPA, OMA, ISK
6. Pemeriksaan neurologis tonus, motorik, refleks fisiologis, refleks patologis
2.10 Mencari dan Mengobati Penyebab
Kejang dengan suhu badan yang tinggi dapat terjadi karena faktor lain, seperti
meningitis atau ensefalitis. Oleh sebab itu pemeriksaan cairan serebrospinal diindikasikan
pada anak pasien kejang demam berusia kurang dari 2 tahun, karena gejala rangsang selaput
otak lebih sulit ditemukan pada kelompok umur tersebut. Pada saat melakukan pungsi lumbal
harus
diperhatikan pula kontra indikasinya. Pemeriksaan laboratorium lain dilakukan atas indikasi
untuk mencari penyebab, seperti pemeriksaan darah rutin, kadar gula darah dan elektrolit.
Pemeriksaan CT-Scan dilakukan pada anak dengan kejang yang tidak diprovokasi oleh
demam dan pertama kali terjadi, terutama jika kejang

atau pemeriksaan post iktal

menunjukkan abnormalitas fokal.

2.11 Komplikasi
Walaupun kejang demam menyebabkan rasa cemas yang amat sangat pada orangtua,
sebagian kejang demam yang mempengaruhi keehatan jangka panjang, kejang demam tiak
mengakibatkan kerusakan otak, keterbelakangan mental atau keulitan belajar atau pun epiksi.

Epilepsi pada anak diartikan sebagai kejang berulang tanpa adanya demam kecil
kemungkinan epilepsi timbulsetelah kejang demam . sekitar 2-4 anak kejang demam dapat
menimbulkan epilepsi, tetapi bukan karena kejang demam itu sendiri kejang pertama kadang
dialami oleh anak dengan epilepsi pada saat mereka mengalami demam. Namun begitu antara
95-98% anak yang mengalami kejang demam tidak menimbulkan epilepsi.
Komplikasi yang paling umum dari kejang demam adalah adanya kejang demam
berulang, sekitar 33% anak akan mengalami kejang demam berulang semua, jika mereka
demam kembali.
2.12 Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan dilakukan sesuai indikasi untuk mencari penyebab demam atau kejang.
Pemeriksaan dapat meliputi darah perifer lengkap, gula darah, elektrolit, urinalisis dan

biakan darah, urin, feses.


Pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan untuk menegakan/ menyingkirkan
kemungkinan meningitis, pada bayi sulit untuk menegakan, karena klinis nya tidak

jelas. Bila yakin bukan meningitis, tidak perlu di periksa fungsi lumbal
Pemeriksaan EEG tidak direkomendasikan, EEG masih dapat dilakukan pada kejang
demam yang tidak khas misalnya : kejang demam kompleks, pada anak berusia > 6

tahun atau kejang demam fokal.


Pencitraan CT scan atau MRI kepala dilakukan bila ada indikasi:
1. Kelainan neurologis fokal yang menetap, atau kemungkinan adanya lesi struktural
di otak
2. Terdapat tanda peningkatan tekanan intrakranial

2.13 Tata Laksana


Tujuan pengobatan kejang demam pada anak adalah untuk :
Mencegah kejang demam berulang
Mencegah status epilepsi
Mencegah epilepsi dan / atau mental retardasi
Normalisasi kehidupan anak dan keluarga.

2.14 medika mentosa

Antipiretik
Parasetamol 10- 15 mg/kgBB/kali diberikan 4 kali sehari dan tidak lebih dari 5 kali
Ibuprofen 5 10 mg/kgBB/kali, 3 4 x sehari
Antikejang
Diazepam oral dosis 0,3 mg/kgBB setiap 8 jam atau diazepam rektal 0,5 mg/kgBB
setiap 8 jam pada saat suhu tubuh > 38,5oC

2.15 Pengobatan Profilaksis Terhadap Kejang Demam Berulang


Pencegahan kejang demam berulang perlu dilakukan, karena menakutkan keluarga
dan bila berlangsung terus dapat menyebabkan kerusakan otak yang menetap. Terdapat 2 cara
profilaksis, yaitu (Sari Pediatri Vol. 4, 2002) :
2.15.1 Profilaksis intermittent pada waktu demam
Pengobatan profilaksis intermittent dengan anti konvulsan segera diberikan pada waktu
pasien demam (suhu rektal lebih dari 38C). Pilihan obat harus dapat cepat masuk dan bekerja
ke otak. Antipiretik saja dan fenobarbital tidak mencegah timbulnya kejang berulang.
Diazepam oral efektif untuk mencegah kejang demam berulang dan bila diberikan
intermittent hasilnya lebih baik karena penyerapannya lebih cepat. Diazepam diberikan
melalui oral atau rektal. Dosis per rektal tiap 8 jam adalah 5 mg untuk pasien dengan berat
badan kurang dari 10 kg dan 10 mg untuk pasien dengan berat badan lebih dari 10 kg. Dosis
oral diberikan 0,5 mg/kg BB perhari dibagi dalam 3 dosis, diberikan bila pasien menunjukkan
suhu 38,5 C atau lebih. Efek samping diazepam adalah ataksia, mengantuk dan hipotoni.
2.15.2Profilaksis terus menerus dengan antikonvulsan tiap hari.
Indikasi pemberian profilaksis terus menerus pada saat ini adalah:
Sebelum kejang demam yang pertama sudah ada kelainan atau gangguan perkembangan
neurologis.

Terdapat riwayat kejang tanpa demam yang bersifat genetik pada orang tua atau saudara
kandung.
Kejang demam lebih lama dari 15 menit, fokal atau diikuti kelainan neurologis sementara
atau menetap.
Kejang demam terjadi pada bayi berumur kurang dari 12 bulan atau terjadi kejang multipel
dalam satu episode demam.
Antikonvulsan profilaksis terus menerus diberikan selama 1 2 tahun setelah kejang
terakhir, kemudian dihentikan secara bertahap selama 1 2 bulan. Pemberian profilaksis
terus menerus hanya berguna untuk mencegah berulangnya kejang demam berat, tetapi tidak
dapat mencegah timbulnya epilepsi di kemudian hari Pemberian fenobarbital 4 5 mg/kg BB
perhari dengan kadar sebesar 16 mg/mL dalam darah menunjukkan hasil yang bermakna
untuk mencegah berulangnya kejang demam.
2.16 Mencegah dan menghadapi kejang demam.
Orang tua atau pengasuh anak harus diberi cukup informasi mengenai penanganan demam
dan kejang.
Profilaksis intermittent dilakukan dengan memberikan diazepam dosis 0,5 mg/kg BB
perhari, per oral pada saat anak menderita demam. Sebagai alternatif dapat diberikan
profilaksis terus menerus dengan fenobarbital.
Memberikan diazepam per rektal bila terjadi kejang.
Pemberian fenobarbital profilaksis dilakukan atas indikasi, pemberian sebaiknya dibatasi
sampai 6 12 bulan kejang tidak berulang lagi dan kadar fenoborbital dalam darah dipantau
tiap 6 minggu 3 bulan, juga dipantau keadaan tingkah laku dan psikologis anak.

DAFTAR PUSTAKA
Deliana, Melda. 2002. Tatalaksana Kejang Demam pada Anak. Sari Pediatri Vol. 4, No. 02.
59-62
Sylvia A.prince, dkk, Anatomi dan fisiologi otak Edisi 4, EGC, jakarta
Pedoman pelayanan medis, IDAI 2010
Konsesus penatalaksanaan kejang demam UKK, Neurologi IDAI 2006.