Anda di halaman 1dari 21

Definisi, Klasifikasi, Etiologi dan Epidemiologi Diabetes Melitus

Definisi
Diabetes Melitus merupakan suatu penyakit multisistem dengan ciri hiperglikemia akibat
kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau kedua-duanya. Kelainan pada sekresi/kerja insulin
tersebut menyebabkan abnormalitas dalam metabolisme karbohidrat, lemak dan protein.
Hiperglikemia kronik pada diabetes berhubungan dengan kerusakan jangka panjang, disfungsi
atau kegagalan beberapa organ tubuh, terutama mata, ginjal, saraf, jantung dan pembuluh darah.
World Health Organization (WHO) sebelumnya telah merumuskan bahwa DM merupakan
sesuatu yang tidak dapat dituangkan dalam satu jawaban yang jelas dan singkat, tetapi secara
umum dapat dikatakan sebagai suatu kumpulan problema anatomik dan kimiawi akibat dari
sejumlah faktor di mana didapat defisiensi insulin absolut atau relatif dan gangguan fungsi
insulin.
Klasifikasi dan etiologi
Menurut American Diabetes Association (ADA) tahun 2009, klasifikasi Diabetes Melitus adalah
sbb:
1. Diabetes Melitus tipe 1
DM tipe 1 sering dikatakan sebagai diabetes Juvenile onset atau Insulin dependent atau
Ketosis prone, karena tanpa insulin dapat terjadi kematian dalam beberapa hari yang
disebabkan ketoasidosis. Istilah juvenile onset sendiri diberikan karena onset DM tipe 1 dapat
terjadi mulai dari usia 4 tahun dan memuncak pada usia 11-13 tahun, selain itu dapat juga terjadi
pada akhir usia 30 atau menjelang 40.
Karakteristik dari DM tipe 1 adalah insulin yang beredar di sirkulasi sangat rendah, kadar
glukagon plasma yang meningkat, dan sel beta pankreas gagal berespons terhadap stimulus yang
semestinya meningkatkan sekresi insulin.
DM tipe 1 sekarang banyak dianggap sebagai penyakit autoimun. Pemeriksaan histopatologi
pankreas menunjukkan adanya infiltrasi leukosit dan destruksi sel Langerhans. Pada 85% pasien
ditemukan antibodi sirkulasi yang menyerang glutamic-acid decarboxylase (GAD) di sel beta
pankreas tersebut. Prevalensi DM tipe 1 meningkat pada pasien dengan penyakit autoimun lain,
seperti penyakit Grave, tiroiditis Hashimoto atau myasthenia gravis. Sekitar 95% pasien
memiliki Human Leukocyte Antigen(HLA) DR3 atau HLA DR4.

Kelainan autoimun ini diduga ada kaitannya dengan agen infeksius/lingkungan, di mana sistem
imun pada orang dengan kecenderungan genetik tertentu, menyerang molekul sel beta pankreas
yang menyerupai protein virus sehingga terjadi destruksi sel beta dan defisiensi insulin. Faktorfaktor yang diduga berperan memicu serangan terhadap sel beta, antara lain virus (mumps,
rubella, coxsackie), toksin kimia, sitotoksin, dan konsumsi susu sapi pada masa bayi.
Selain akibat autoimun, sebagaian kecil DM tipe 1 terjadi akibat proses yang idiopatik. Tidak
ditemukan antibodi sel beta atau aktivitas HLA. DM tipe 1 yang bersifat idiopatik ini, sering
terjadi akibat faktor keturunan, misalnya pada ras tertentu Afrika dan Asia.

2. Diabetes Melitus tipe 2


Tidak seperti pada DM tipe 1, DM tipe 2 tidak memiliki hubungan dengan aktivitas HLA, virus
atau autoimunitas dan biasanya pasien mempunyai sel beta yang masih berfungsi (walau
terkadang memerlukan insulin eksogen tetapi tidak bergantung seumur hidup). DM tipe 2 ini
bervariasi mulai dari yang predominan resistensi insulin disertai defisiensi insulin relatif, sampai
yang predominan gangguan sekresi insulin bersama resistensi insulin. Pada DM tipe 2 resistensi
insulin terjadi pada otot, lemak dan hati serta terdapat respons yang inadekuat pada sel beta
pankreas. Terjadi peningkatan kadar asam lemak bebas di plasma, penurunan transpor glukosa di
otot, peningkatan produksi glukosa hati dan peningkatan lipolisis.
Defek yang terjadi pada DM tipe 2 disebabkan oleh gaya hidup yang diabetogenik (asupan
kalori yang berlebihan, aktivitas fisik yang rendah, obesitas) ditambah kecenderungan secara
genetik. Nilai BMI yang dapat memicu terjadinya DM tipe 2 adalah berbeda-beda untuk setiap
ras.
3. Diabetes Melitus tipe lain
- Defek genetik fungsi sel beta
Beberapa bentuk diabetes dihubungkan dengan defek monogen pada fungsi sel beta, dicirikan
dengan onset hiperglikemia pada usia yang relatif muda (<25 tahun) atau disebut maturity-onset
diabetes of the young (MODY). Terjadi gangguan sekresi insulin namun kerja insulin di jaringan
tetap normal. Saat ini telah diketahui abnormalitas pada 6 lokus di beberapa kromosom, yang
paling sering adalah mutasi kromosom 12, juga mutasi di kromosom 7p yang mengkode

glukokinase. Selain itu juga telah diidentifikasi kelaian genetik

yang mengakibatkan

ketidakmampuan mengubah proinsulin menjadi insulin.


- Defek genetik kerja insulin
Terdapat mutasi pada reseptor insulin, yang mengakibatkan hiperinsulinemia, hiperglikemia dan
diabetes. Beberapa individu dengan kelainan ini juga dapat mengalami akantosis nigricans, pada
wanita mengalami virilisasi dan pembesaran ovarium.
- Penyakit eksokrin pankreas
Meliputi pankreasitis, trauma, pankreatektomi, dan carcinoma pankreas.
- Endokrinopati
Beberapa hormon seperti GH, kortisol, glukagon dan epinefrin bekerja mengantagonis aktivitas
insulin. Kelebihan hormon-hormon ini, seperti

pada sindroma Cushing, glukagonoma,

feokromositoma dapat menyebabkan diabetes. Umumnya terjadi pada orang yang sebelumnya
mengalami defek sekresi insulin, dan hiperglikemia dapat diperbaiki bila kelebihan hormonhormon tersebut dikurangi.
- Karena obat/zat kimia
Beberapa obat dapat mengganggu sekresi dan kerja insulin. Vacor (racun tikus) dan pentamidin
dapat merusak sel beta. Asam nikotinat dan glukokortikoid mengganggu kerja insulin.
- Infeksi
Virus tertentu dihubungkan dengan kerusakan sel beta, seperti rubella, coxsackievirus B, CMV,
adenovirus, dan mumps.
- Imunologi
Ada dua kelainan imunologi yang diketahui, yaitu sindrom stiffman dan antibodi antiinsulin
reseptor. Pada sindrom stiffman terjadi peninggian kadar autoantibodi GAD di sel beta pankreas.
- Sindroma genetik lain
Downs syndrome, Klinefelter syndrome, Turner syndrome, dll.
4. Diabetes Kehamilan/gestasional
Diabetes kehamilan didefinisikan sebagai intoleransi glukosa dengan onset pada waktu
kehamilan. Diabetes jenis ini merupakan komplikasi pada sekitar 1-14% kehamilan. Biasanya
toleransi glukosa akan kembali normal pada trimester ketiga.

Epidemiologi
Pada tahun 2000 menurut WHO diperkirakan sedikitnya 171 juta orang di seluruh dunia
menderita Diabetes Mellitus, atau sekitar 2,8% dari total populasi. Insidensnya terus meningkat
dengan cepat, dan diperkirakan pada tahun 2030, angka ini akan bertambah menjadi 366 juta
atau sekitar 4,4% dari populasi dunia. DM terdapat di seluruh dunia, namun lebih sering
(terutama tipe 2) terjadi di negara berkembang. Peningkatan prevalens terbesar terjadi di Asia
dan Afrika, sebagai akibat dari tren urbanisasi dan perubahan gaya hidup, seperti pola makan
Western-style yang tidak sehat.
Di Indonesia sendiri, berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, dari
24417 responden berusia >15 tahun, 10,2% mengalami Toleransi Glukosa Terganggu (kadar
glukosa 140-200 mg/dl setelah puasa selama 14 jam dan diberi glukosa oral 75 gram). Sebanyak
1,5% mengalami Diabetes Melitus yang terdiagnosis dan 4,2% mengalami Diabetes Melitus
yang tidak terdiagnosis. Baik DM maupun TGT lebih banyak ditemukan pada wanita
dibandingkan pria, dan lebih sering pada golongan dengan tingkat pendidikan dan status sosial
rendah. Daerah dengan angka penderita DM paling tinggi yaitu Kalimantan Barat dan Maluku
Utara yaitu 11,1 %, sedangkan kelompok usia penderita DM terbanyak adalah 55-64 tahun yaitu
13,5%. Beberapa hal yang dihubungkan dengan risiko terkena DM adalah obesitas (sentral),
hipertensi, kurangnya aktivitas fisik dan konsumsi sayur-buah kurang dari 5 porsi perhari.

Patofisiologi
Pancreas yang disebut kelenjar ludah perut, adalah kelenjar penghasil insulin yang terletak di
belakang lambung. Di dalamnya terdapat kumpulan sel yang berbentuk seperti pulau pada peta,
karena itu disebut pulau-pulau Langerhans yang berisi sel beta yang mengeluarkan hormone
insulin yang sangt berperan dalam mengatur kadar glukosa darah.
Insulin yang dikeluarkan oleh sel beta tadi dapat diibaratkan sebagai anak kunci yang dapat
membuka pintu masuknya glukosa ke dalam sel, untuk kemudian di dalam sel glukosa tersebut
dimetabolisasikan menjadi tenaga. Bila isulin tidak ada, maka glukosa dalam darah tidak dapat
masuk ke dalam sel dengan akibat kadar glukosa dalam darah tidak dapat masuk ke dalams el

dengan akibat kadar glukosa dalam darah meningkat. Keadaan inilah yang terjadi pada diabetes
mellitus tipe 1.
Pada keadaan diabetes mellitus tipe 2, jumlah insulin bisa normal, bahkan lebih banyak, tetapi
jumlah reseptor (penangkap) insulin di permukaan sel kurang. Reseptor insulin ini dapat
diibaratkan sebagai lubang kunci pintu masuk ke dalam sel. Pada keadaan DM tipe 2, jumlah
lubang kuncinya kurang, sehingga meskipun anak kuncinya (insulin) banyak, tetapi karena
lubang kuncinya (reseptor) kurang, maka glukosa yang masuk ke dalam sel sedikit, sehingga sel
kekurangan bahan bakar (glukosa) dan kadar glukosa dalam darah meningkat. Dengan demikian
keadaan ini sama dengan keadaan DM tipe 1, bdanya adalah pada DM tipe 2 disamping kadar
glukosa tinggi, kadar insulin juga tinggi atau normal. Pada DM tipe 2 juga bisa ditemukan
jumlah insulin cukup atau lebih tetapi kualitasnya kurang baik, sehingga gagal membawa
glukosa masuk ke dalam sel. Di samping penyebab di atas, DM juga bisa terjadi akibat gangguan
transport glukosa di dalam sel sehingga gagal digunakan sebagai bahan bakar untuk metabolism
energy.

Tanda penyakit DM diantaranya yaitu bila seseorang seringkali mengalami akan hal seperti
berikut :

1. Poliuria (Sering Buang Air Kencing). Mengapa poliuria ini sering terjadi pada penderita
diabetes karena adanya gangguan dalam produksi insulin tentunya. Karena titik berat
gangguan pada pasien kencing manis adalah gangguan insulin ini. Jika insulin (insulin
adalah hormon yang mengendalikan gula darah) tidak ada atau sedikit maka ginjal tidak
dapat menyaring glukosa untuk kembali ke dalam darah. Kemudian hal ini akan
menyebabkan ginjal menarik tambahan air dari darah untuk menghancurkan glukosa. Hal
ini membuat kandung kemih cepat penuh dan hal ini otomatis akan membuat para
penderita DM akan sering kencing buang air kecil.
2. Polidipsia (Sering Merasa Haus). Keinginan untuk sering minum karena adanya rasa haus
banyak terjadi pada pasien dengan diabetes melitus ini. Karena memang adanya juga

gangguan hormon serta juga efek dari banyak kencing diatas, maka penderita akan sering
merasakan haus dan ingin untuk sering minum.
3. Poliphagia (Kelelahan Kelemahan). Para penderita penyakit diabetes mellitus akan juga
merasakan bahwasannya tubuhnya akan sering dan sepat merasa lemah. Hal ini salah satu
penyebabnya adalah produksi glukosa terhambat sehingga sel-sel makanan dari glukosa
yang harusnya didistribusikan ke semua sel tubuh untuk membuat energi jadi tidak
berjalan dengan semestinya dan juga optimal. Karena sel energi tidak mendapat asupan
sehingga orang dengan kencing manis akan merasa cepat lelah.
4. Berat Badan Akan Cepat Menurun. Tanda DM ini terutama akan dirasakan oleh para
penderita diabetes tipe 1 ( yang disebabkan karena faktor genetik). Pankreas pada
penderita diabates berhenti membuat insulin akibat serangan virus pada sel-sel pankreas
atau respons autoimun yang membuat tubuh menyerang sel-sel yang memproduksi
insulin. Akibatnya tubuh akan kesulitan mencari sumber energi karena sel-sel tidak
memperoleh glukosa. Kemudian tubuh mengadakan adaptasi dengan cara mulai
memecah jaringan otot dan lemak untuk energi sehingga berat badan terus
menyusut.Pada penderita diabetes tipe 2 (faktor perubahan gaya hidup), penurunan berat
badan terjadi secara bertahap dengan peningkatan resistensi insulin sehingga penurunan
berat badan tidak begitu terlihat
5. Tanda-tanda Neuropati. Tanda-tanda neropati pada pasien dengan DM yang seringkali
dirasakan adalah kesemutan di kaki dan tangan. Hal tersebut terjadi secara bertahap dari
waktu ke waktu karena glukosa dalam darah tinggi akan merusak sistem saraf. Pada
penderita diabetes tipe 2 kejadiannya secara bertahap, dan orang-orang sering tidak
menyadari bahwa itu salah satu pertanda. Kondisi gula darah tinggi kemungkinan telah
terjadi beberapa tahun sebelum seseorang itu mengetahui bahwa dirinya telah terkena
DM. Kerusakan saraf dapat menyebar tanpa pengetahuan para penderita kencing manis
ini.
6. Kulit Kering dan bila terjadi luka akan lama proses penyembuhannya. Bila diperhatikan
maka para pasien dengan DM mempunyai ciri khas yang ada pada kulitnya yaitu kulitnya

akan cenderung kering dan bila sering menjumpai pasien DM hal ini akan mudah
dikenali akan tanda DM ini. Satu lagi bila pada tingkat lanjut para penderita DM akan
diberikan pengetahuan dan juga pendidikan kesehatan agar mengurangi kemungkinan
terjadinya luka pada bagian tubuh. Karena bila telah terjadi luka, maka penyembuhan
luka lama dan juga kerapkali bisa menyebabkan organ yang luka bisa diamputasi pada
keadaan dan situasi tertentu. Untuk itu pendidikan kesehatan bagi penderita DM juga
penting dalam hal mencegah dan juga mengatur kadar gula darahnya.
Bagaimana pula kita bisa mendeteksi dini penyakit DM ini. Hal yang bisa kita lakukan adalah
dengan mengetahui kadar gula darah kita. Kadar gula dalam darah ada yang normal dan juga ada
yang tinggi bahkan bisa rendah pula. Kadar gula darah tinggi pada DM sering disebut
denganhiperglikemia.

Dan

bila

kadar

gula

darah

rendah

disebut hipoglikemia.

Pemeriksaan kadar gula darah pasien DM disebut dengan pemeriksaan gula darah puasa dan gula
darah 2 jam setelah makan (Gula darah I/II). Berikut adalah daftar kadar nilai gula darah yang
normalyang bisa dijadikan acuan untuk menentukan DM :

Kadar Gula Darah Puasa :

Normal : Dibawah 100mg/dl


Pradiabetes : 100-126mg/dl
Diabetes M : Diatas 126mg/dl

Kadar Gula Darah 2 Jam Setelah Makan (Post Prandial) :

Normal : Dibawah 140mg/dl


Pradiabetes : 140-200mg/dl
Diabetes M : Diatas 200mg/dl

Gejala-Gejala Diabetes Tahap Lanjut Diabetes tipe 1 umumnya terjadi pada anak-anak dan
remaja meskipun pada dasarnya dapat terjadi pada usia berapapun. Diabetes tipe 2 yang
merupakan tipe yang paling umum dapat terjadi pada usia berapapun dan sering dapat dicegah. 1.
Berat badan turun dengan cepat Buat penderita diabetes, jangan senang dulu jika berat badan
Anda turun dengan cepat. Ini bukan diakibatkan karena diet yang sukses, namun lebih
disebabkan karena pankreas mulai rusak. Pankreas memiliki tugas memproduksi insulin yang
digunakan mengolah glukosa menjadi sumber energi. Karena pankreas pada penderita diabetes
gagal mengolah gula menjadi energi, maka terjadilah resistensi insulin. Tubuh kemudian akan
mencari sumber energi alternatif dengan membakar cadangan lemak dalam tubuh. Jika cadangan
lemak habis, maka sasaran selanjutnya adalah otot. Akibatnya bobot tubuh akan terus menyusut.
2. Sering Kesemutan gejala ini terjadi karena pembuluh darah yang rusak, sehingga darah yang
mengalir di ujungujung saraf pun berkurang. 3. Luka yang sulit sembuh Ini adalah efek lain dari
kerusakan pembuluh darah dan saraf selain kesemutan. Kerusakan ini mengakibatkan penderita
diabetes tidak merasakan sakit jika mengalami luka. Mereka bahkan kadang tidak sadar telah
terluka. Gabungan kadar gula darah yang tinggi dan tidak adanya rasa nyeri, maka luka yang
awalnya kecil dapat membesar menjadi borok dan bahkan membusuk. Jika sudah sampai tahap
ini, amputasi merupakan satu-satunya jalan keluar atau solusi untuk menyembuhkannya. Gejala
Diabetes Pada Wanita Sementara itu, sayangnya dari beberapa gejala khusus yang sering dialami
wanita namun tidak disadari mereka. Lantas, gejala-gejala apa saja itu biasanya hadir itu? Di
bawah ini ada beberapa gejala yang dapat Anda harus waspadai dan segera konsultasi ke dokter,
menurut Imam, di antaranya sebagai berikut: Infeksi vagina yang ditandai dengan munculnya
keputihan secara berulang, meskipun telah mendapatkan pengobatan. Wanita yang mempunyai
penyakit diabetes lebih mudah terkena infeksi jamur di daerah organ intim karena daerah tersebut

mengalami kelambaban cukup tinggi. Mengalami gangguan fungsi hormonal karena aliran darah
tidak lancar. Cenderung mengalami polycystic ovarian syndrome. Keseimbangan hormon
terganggu yang akan menganggu sistem reproduksi. Pemicu diabetes juga, biasanya ditemukan
pada wanita yang mengalami depresi. Memiliki kadar kolesterol yang tinggi dibanding pria

MANIFESTASI DIABETES MELITUS PADA RONGGA MULUT


1. Xerostomia (Mulut Kering)
Diabetes yang tidak terkontrol menyebabkan penurunan aliran saliva (air liur), sehingga mulut
terasa kering. Saliva memiliki efek self-cleansing, di mana alirannya dapat berfungsi sebagai
pembilas sisa-sisa makanan dan kotoran dari dalam mulut. Jadi bila aliran saliva menurun maka
akan menyebabkan timbulnya rasa tak nyaman, lebih rentan untuk terjadinya ulserasi (luka),
lubang gigi, dan bisa menjadi ladang subur bagi bakteri untuk tumbuh dan berkembang.
Berdasarkan literatur yang saya dapatkan bahwa pada penderita diabetes salah satu tandanya
adalah Poliuria, dimana penderita banyak buang air kecil sehingga cairan di dalam tubuh
berkurang yang dapat mengakibatkan jumlah saliva berkurang dan mulut terasa kering, sehingga
disarankan pada penderita untuk mengkonsumsi buah yang asam sehingga dapat merangsang
kelenjar air liur untuk mengeluarkan air liur.
2. Gingivitis dan Periodontitis
Periodontitis ialah radang pada jaringan pendukung gigi (gusi dan tulang). Selain merusak sel
darah putih, komplikasi lain dari diabetes adalah menebalnya pembuluh darah sehingga
memperlambat aliran nutrisi dan produk sisa dari tubuh. Lambatnya aliran darah ini menurunkan
kemampuan tubuh untuk memerangi infeksi, Sedangkan periodontitis adalah 4penyakit yang
disebabkan oleh infeksi bakteri. Dan hal ini menjadi lebih berat dikarenakan\infeksi bakteri pada

penderita Diabetes lebih berat.Ada banyak faktor yang menjadi pencetus atau yang memperberat
periodontitis, di antaranya akumulasi plak, kalkulus (karang gigi), dan faktor sistemik atau
kondisi tubuh secara umum.
Rusaknya jaringan Periodontal membuat gusi tidak lagi melekat ke gigi, tulang menjadi rusak,
dan lama kelamaan gigi menjadi goyang. Angka kasus penyakit periodontal di masyarakat cukup
tinggi meski banyak yang tidak menyadarinya, dan penyakit ini merupakan penyebab utama
hilangnya gigi pada orang dewasa. Dari seluruh komplikasi Diabetes Melitus, Periodontitis
merupakan komplikasi nomor enam terbesar di antara berbagai macam penyakit dan Diabetes
Melitus adalah komplikasi nomor satu terbesar khusus di rongga mulut. Hampir sekitar 80%
pasien

Diabetes Melitus gusinya bermasalah. Tanda-tanda periodontitis antara lain pasien

mengeluh gusinya mudah berdarah, warna gusi menjadi mengkilat, tekstur kulit jeruknya
(stippling) hilang, kantong gusi menjadi dalam, dan ada kerusakan tulang di sekitar gigi, pasien
mengeluh giginya goyah sehingga mudah lepas.
Menurut teori yang saya dapatkan hal tersebut diakibatkan berkurangnya jumlah air liur,sehingga
terjadi penumpukan sisa makanan yang melekat pada permukaan gigi danmengakibatkan gusi
menjadi infeksi dan mudah berdarah.
3. Stomatitis Apthosa (Sariawan)
Meski sariawan biasa dialami oleh banyak orang, namun penyakit ini bisa menyebabkan
komplikasi parah jika dialami oleh penderita diabetes. Penderita Diabetes sangat rentan terkena
infeksi jamur dalam mulut dan lidah yang kemudian menimbulkan penyakit sejenis sariawan.
Sariawan ini disebabkan oleh jamur yang berkembang seiring naiknya tingkat gula dalam
darahdan air liur penderita diabetes.
4. Rasa mulut terbakar
Penderita diabetes biasanya mengeluh tentang terasa terbakar atau mati rasa pada mulutnya.
Biasanya, penderita diabetes juga dapat mengalami mati rasa pada bagian wajah.5
5. Oral thrush
Penderita diabetes yang sering mengkonsumsi antibiotik untuk memerangi infeksi sangat rentan
mengalami infeksi jamur pada mulut dan lidah. Apalagi penderita diabetes yang merokok, risiko
terjadinya infeksi jamur jauh lebih besar.Oral thrush atau oral candida adalah infeksi di dalam
mulut yang disebabkan oleh jamur, sejumlah kecil jamur candida ada di dalam mulut. Pada
penderita Diabetes Melites

kronis dimana tubuh rentan terhadap infeksi sehingga sering

menggunakan antibiotik dapat mengganggu keseimbangan kuman di dalam mulut yang


mengakibatkan jamur candida berkembang tidak terkontrol sehingga menyebabkant thrush. Dari
hasil pengamatan saya selama berpraktik sebagai dokter gigi yang ditandai dengan adanya
lapisan putih kekuningan pada lidah, tonsil maupun kerongkongan.
6. Dental Caries (Karies Gigi)
Diabetes Mellitus bisa merupakan faktor predisposisi bagi kenaikan terjadinya dan jumlah dari
karies. Keadaan tersebut diperkirakan karena pada diabetes aliran cairan darahmengandung
banyak glukosa yang berperan sebagai substrat kariogenikKaries gigi dapat terjadi karena
interaksi dari 4 faktor yaitu gigi, substrat , kuman dan waktu. Pada penderita Diabetes Melitus
telah diketahui bahwa jumlah air liur berkurang sehingga makanan melekat pada permukaan
gigi, dan bila yang melekat adalah makanan dari golongan karbohidrat bercampur dengan
kuman yang ada pada permukaan gigi dan tidak langsung dibersihkan dapat mengakibatkan
keasaman didalam mulut menurun, sehingga dapat mengakibatkan terjadinya lubang atau caries
gigi.
MENGAPA TERJADI PENURUNAN STATUS KESEHATAN GIGI PADAPENDERITA
DIABETES MELITUS?
Pada Diabetes Melitus dengan kondisi kebersihan mulut yang jelek dan adanya angiopati
diabetik menyebabkan suplai oksigen berkurang sehingga bakteri anaerob mudah berkembang.
Karies gigi terjadi oleh karena bakteri-bakteri tertentu yang mempunyai sifat membentuk asam,
sehingga pH rendah dapat menyebabkan pelarutan progresif mineral enamel secara perlahan dan
membentuk fokus perlubangan.
Pasien dengan Diabetes Mellitus lama yang tidak terkontrol akan berpengaruh pada karies gigi,
karena bertambahnya karbohidrat yang dapat difermentasikan di dalam saliva penderita dan
merupakan medium yang sesuai untuk pembentukan asam sehingga memudahkan terjadinya
karies. Karena di mulut ada jutaan bakteri yang dibutuhkan (flora normal). Tetapi ada
bakteribakteri tertentu yang disebut bakteri periodonpatik, karena bakteri ini khas terdapat pada
jaringan periodontal atau disebut bakteri gram negatif yang anaerob (bakteri yang mampu hidup
tanpa
oksigen).
Penderita Diabetes Melitus bila mengalami periodontitis lebih parah daripada orang yang

sehat, dikarenakan Pertama, daya tahan tubuh penderita Diabetes Melitus rendah dibandingkan
orang sehat. Sel-sel pertahanan tubuh (monocyt, neutrophil, dan makrofag) juga lemah
fungsinya.
Pada saat mulut mengalami periodontitis sel-sel pertahanan tubuh akan mengeluarkan TNF-alfa
(Tumor Necrosis Factor). Menurut lembaga kesehatan AS, Mayo Clinic, protein ini berfungsi
memobilisasi sel darah putih untuk melawan infeksi dan antigen lainnya. Sayangnya, hal ini
mengakibatkan terjadinya resistensi insulin. Karena tubuh jadi tidak mampu memanfaatkan
insulin yang diproduksi pankreas.
BAGAIMANA CARA PENCEGAHAN DAN PENINGKATKAN KESEHATAN
RONGGA MULUT PADA PENDERITA DIABETES MELITUS?
Berikut hal-hal yang perlu dilakukan oleh penderita Diabetes Mellitus agar dapat menjaga atau
mengupayakan supaya kesehatan rongga mulut tetap terjaga dengan baik :
Pertama dan yang terpenting adalah mengontrol kadar gula darah.
Kemudian rawat gigi dan gusi, serta ke dokter gigi untuk pemeriksaan rutin setiap enam
bulan.
Untuk mengontrol sariawan dan infeksi jamur, serta hindari merokok.
Kontrol gula darah yang baik juga dapat membantu mencegah atau meringankan mulut
kering yang disebabkan oleh diabetes.
Menggunakan dental floss paling tidak sekali sehari untuk mencegah plak muncul di gigi.7
Menggunakan pembersih mulut anti bakteri untuk mengurangi jumlah bakteri penyebab sakit
gigi pada mulut.
Menggosok gigi, terutama setelah makan. Gunakan sikat gigi dengan bulu yang lembut.
Perbaiki pola hidup, jauhkan dari penyebab stres.
Bila ada gigi yang tanggal harus segera ''diganti''.
Jangan lupa informasikan mengenai kondisi diabetes bila berkunjung ke dokter gigi, terutama
bila hendak mencabut gigi.
Kecuali sangat mendesak, sebaiknya hindari perawatan gigi bila kadar gula darah sedang
tinggi. Turunkan dahulu kadar gula darah, baru kunjungi dokter gigi kembali.
Pemakaian alat-alat seperti gigi tiruan atau kawat orthodontik perlu mendapat perhatian
khusus. Pemakai gigi tiruan harus melepas gigi tiruan sebelum tidur dan dibersihkan dengan
seksama agar meminimalkan kemungkinan terjadinya infeksi jamur karena kebersihan yang

tidak terjaga.
KESIMPULAN
Jadi faktor fakrot yang harus diperhatikan mengenai kesehatan gigi dan mulut pada penderita
diabetes adalah :
1. Jaga kadar gula darah sedekat mungkin dengan kadar gula darah normal, terutama dengan cara
menerapkan gaya hidup sehat.
2. Jaga kebersihan gigi dan mulut sebaik mungkin, agar memperkecil resiko terjadinya karies,
gingivitis, ataupun periodontitis.Masalah yang terjadi di rongga mulut penderita diabetes dapat
mengarah ke penyakit lain.
3. Jangan lupa informasikan mengenai kondisi diabetes bila berkunjung ke dokter gigi, terutama
bila hendak mencabut gigi. Seperti yang telah dijelaskan di atas, luka pada penderita diabetes
sukar sembuh. Ini termasuk juga luka setelah pencabutan gigi. Selain itu juga ada resiko
terjadinya infeksi sekunder dan pendarahan yang cukup banyak setelah tindakan oleh dokter
gigi.Oleh karena itu dokter gigi akan memberikan tindakan pramedikasi bila dipandang perlu,
sebelum melakukan tindakan perawatan pada penderita diabetes.
4. Kecuali sangat mendesak, sebaiknya hindari perawatan gigi bila kadar gula darah sedang
tinggi. Normalkan dahulu kadar gula darah, baru kunjungi dokter gigi kembali.8
5. Pemakaian alat-alat seperti gigi tiruan atau kawat orthodontic perlu mendapat perhatian
khusus. Pemakai gigi tiruan harus melepas gigi tiruan sebelum tidur dan dibersihkan dengan
seksama agar meminimalkan kemungkinan terjadinya infeksi jamur karena kebersihan yang
tidak terjaga.
Manifestasi oral pada penyakit Thyroid :
*HIPERTHYROIDISM
Mudah terjadi karies
Penyakit periodontal
Terjadi pembesaran jaringan glandula thyroid (struma ovarii- di bagian lateral posterior
lidah)
Percepatan erupsi gigi
Gejala mulut serasa terbakar
*HIPOTHYROIDSM

Tdk terjadi pembesaran glandula saliva


makroglosia
Glossitis
Penundaan erupsi gigi
resorbsi tulang
Dysgeusia
Gejala Hipertiroid
1.

Sering merasa gelisah atau agitasi.

2.

Emosi yang kurang stabil.

3.

Mengalami susah tidur atau insomnia

4.

Jantung yang sering berdebar cepat tidak seperti biasanya.

5.

Merasa gugup dan lebih cepat lelah.

6.

Rambut rontok.

7.

Sering mengeluarkan keringat.

8.

Berat badan turun meskipun Anda makan dengan porsi yang tetap bahkan lebih

banyak.
9.

Buang air besar lebih banyak atau diare.

10.

Bola mata menonjol seperti mata membengkak ataupun kelopak mata turun.

11.

Pada wanita, haid tidak teratur.

Ada pilihan terapi yang biasanya cocok diberikan untuk penderita hipertiroid yaitu,
yodium radioaktif, obat antitiroid, dan pembedahan. Yodium radioaktif dan obat antitiroid
adalah yang paling sering umum untuk digunakan. Pengobatan terbaik yang cocok untuk
Anda akan tergantung pada sejumlah hal, termasuk faktor usia Anda.
Beberapa orang mungkin saja membutuhkan lebih dari satu jenis perawatan. Jika tidak
melakukan pengobatan, hipertiroid bisa menyebabkan masalah yang cuk upserius seperti
masalah jantung, masalah tulang, dan thyroid storm (badai tiroid). Apabila gejalanya sudah
tidak mengganggu, anda masih perlu melakukan perawatan atau terapi dari dokter.

Apa yang Dimaksud Dengan Hipertiroid?


Kelenjar tiroid (kelenjar gondok) adalah kelenjar berbentuk seperti kupu-kupu yang
terletak di leher bagian depan. Kelenjar ini menghasilkan hormon tiroid (T4 dan T3) yang
berperan dalam memicu metabolisme sel di seluruh tubuh. Bila produksi hormon tiroid
meningkat dan berlangsung lama maka akan timbul gejala-gejala yang disebut hipertiroid.
Apa Gejala dan Keluhan Penderita Hipertiroid?
Karena hipertiroid sering berlangsung bertahap maka tidak semua penderita hipertiroid
merasakan keluhan dan gejala. Gejala hipertiroid juga bervariasi dan dapat berupa :
1.

Banyak berkeringat,

2.

Tremor / gemetar, biasanya di jari tangan,

3.

Jantung berdebar/palpitasi,

4.

Badan lemas, kurang bertenaga dan cepat lelah,

5.

Tidak tahan panas,

6.

Berat badan cenderung menurun walaupun banyak makan,

7.

Gelisah,

8.

Sering buang air besar,

9.

Gangguan siklus haid,

10.

Sesak nafas,

11.

Menurunnya libido,

12.

Susah tidur/insomnia.
Apa Tanda Fisik Penderita Hipertiroid?
Hasil pemeriksaan fisik juga bervariasi, dokter akan menemukan tanda-tanda sebagai
berikut :

1.

Pembesaran/benjolan (goiter) dan bising di kelenjar tiroid,

2.

Bola mata menonjol (eksoptalmus), kelopak mata tertarik ke atas (retraksi),

3.

Tremor,

4.

Kulit cenderung basah dan hangat,

5.

Denyut jantung meningkat (tachycardia) dan tidak teratur (aritmia),

6.

Hipertensi,

7.

Kelemahan otot, terutama tungkai.


Apa Penyebab Hipertiroid?
Penyebab hipertiroid ialah :

1.

Penyakit Grave (Basedow), akibat gangguan sistim imunitas.

2.

Tiroiditis Hasimoto, akibat peradangan sehingga terjadi kebocoran pelepasan


tiroksin.

3.

Sruma nodosa toksik, akibat benjolan dalam tiroid yang hiperaktif.

4.

Iatrogenik, akibat konsumsi obat thyroid yang berlebih atau obat anti-aritmia
(Amiodaron).

5.

Keganasan kelenjar tiroid.


Apa Faktor Risiko Terjadinya Hipertiroid?
Faktor risiko terjadinya hipertiroid ialah :

1.

Turunan/genetik,

2.

Gender. perempuan lebih berisiko terkena hipertiroid daripada laki-laki (8 : 1).


Bagaimana Mendiagnosis Penyakit Hipertiroid?
Untuk memastikan apakah seseorang menderita hipertiroid serta untuk mengetahui
penyebab, selain melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik, dokter akan menganjurkan
beberpa pemeriksaan penunjang antar lain :

1.

Pemeriksaan laboratorium : T4, T3, FT4, FT3 dan TSHs. Pada hipertiroid
T4, T3, FT4, FT3 akan meningkat dan TSHs akan menurun.

2.

Radioactive iodine uptake test. Tingginya uptake menandakan ada


hipertiroid.

3.

Radioscan tiroid.
Bagaimana Pengelolaan Hipertiroid?
Pengelolaan hipertroid meliputi :
1. Perubahan pola hidup.

Hindari rokok, kopi, alkohol,

Konsumsi kalsium dan vitamin yang cukup

2. Obat-obatan / medikamentosa.

Obat anti-tiroid yang menghambat produksi hormon tiroid, a.l. :

Propyl tiourasil (PTU)

Karbimazole

Metimazole

Propanolol, obat antihipertensi yang sekaligus untuk mengendalikan frekuensi


denyut jantung.
3. Terapi radioisotop. Merusak jaringan tiroid yang hiperaktif dengan Iodium
radioaktif.

4. Operasi, baik total (tiroidektomi) maupun partial (lobekstomi).


Pada eksoptahlmus yang hebat mungkin diperlukan tindakan operasi khusus untuk
mengkoreksi posisi bola mata
Apakah Komplikasi Hipertiroid?
Komplikasi hipertiroid yang perlu dicermati ialah :
1.

Krisis hipertiroid/Thyroid storm. Situasi urgent yang ditandai demam


tinggi, denyut jantung sangat cepat dan tidak teratur (fibrillasi atrial), tak sadar sampai
meninggal. Kondisi ini dapat terjadi akibat minum obat yang tidak disiplin.

2.

Kelainan pada mata berupa mata kering, gangguan penglihatan, mudah infeksi, luka
sampai buta.

3.

Hipertensi, gangguan irama jantung sampai gagal jantung.

4.

Osteoporosis (tulang kropos).

Bagaimana Prognosis Penderita Hipertiroid?


Prognosis hipertiroid sangat tergantung pada penyebab. Dengan penanganan dan
pemantauan yang disiplin, umumnya gejala hipertiroid akan terkendali dan teratasi. Dosis
obat perlu disesuaikan secara berkala sampai kondisi telah normal (euthyroid).
Pengobatan perlu dilanjutkan minimal 18 24 bulan, bila tetap terkendali dan stabil, obat
dapat

dihentikan.

Umumnya pendeita hipertiroid memberi respons yang baik dengan pengobatan, walaupun
ada kemungkinan terjadi kekambuhan.
Hipotiroid adalah suatu kondisi di mana kelenjar tiroid tidak memproduksi hormon tiroid
dalam jumlah yang cukup. Pada orang dewasa, hormon tiroid sangat dibutuhkan dalam
metabolisme tubuh. Apabila hipotiroid tidak tertangani dengan baik dapat menyebabkan
sejumlah masalah kesehatan seperti obesitas, nyeri sendi, infertilitas, dan penyakit
jantung.

Apa penyebabnya ?
Hipotiroid dapat disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya:
- Penyakit autoimun
- Pengobatan hipertiroid
- Operasi pada kelenjar tiroid
- Terapi radiasi

Hipotiroid juga dapat terjadi karena penyakit bawaan, atau pada kondisi tertentu seperti
gangguan hipofisis, kehamilan, dan kekurangan yodium.

Apa gejalanya ?
Gejala hipotiroid bervariasi, bergantung pada tingkat kekurangan hormon dan pada
awalnya hampir tidak menunjukkan gejala. Gejala yang mungkin muncul, antara lain:
- Kelelahan
- Peningkatan sensitivitas terhadap dingin
- Sembelit
- Kulit kering
- Peningkatan berat badan
- Suara serak
- Kelemahan otot
- Peningkatan kadar kolesterol darah
- Nyeri, kekakuan dan pembengkakan pada sendi
- Periode menstruasi tidak teratir
- Penipisan rambut
- Denyut jantung lambat
- Gangguan memori
- Depresi

Bagaimana cara mendiagnosisnya ?


Selain dari pemeriksaan fisik dokter, untuk mendiagnosis hipotiroid diperlukan
pemeriksaan darah untuk mengukur kadar TSH (thyroid stimulating hormone).

Bagaimana pengobatannya ?
Penanganan yang biasanya dilakukan pada pasien hipotiroid adalah dengan pemberian
obat untuk meningkatkan hormon tiroid dan menghilangkan gejala hipotiroid.

Apa saja dampak buruknya ?


Hipotiroid yang tidak tertangani dengan baik dapat menyebabkan masalah kesehatan
seperti :
- Gondok
- Gangguan jantung
- Gangguan kesehatan mental
- Kerusakan saraf perifer
- Myxedema
- Infertilitas
- Bayi lahir cacat