Anda di halaman 1dari 18

Referat

TRIKOTILOMANIA

Oleh
Cahyu Nency, S.Ked
Muthmainnah, S.Ked
Riyan Darundryo, S.Ked

Pembimbing:
dr. Djusnidar Djafar, SpKJ

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU KEDOKTERAN JIWA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU
RUMAH SAKIT JIWA TAMPAN
PEKANBARU
2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah Subhanahuwataala, karena
atas rahmat dan karunia Nya penulis dapat menyelesaikan referat yang berjudul
Trikotilomania. Penulis menyusun referat ini untuk memahami defenisi,
etiologi, diagnosis, penatalaksanaan dan sebagai salah satu syarat dalam
menempuh ujian Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa Fakultas
Kedokteran Universitas Riau Rumah Sakit Jiwa Tampan Pekanbaru.
Dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih
kepada dokter pembimbing di Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran
Universitas Riau Rumah Sakit Jiwa Tampan Pekanbaru dr. Djusnidar Djafar ,
Sp.KJ atas saran dan bimbingannya dalam menyempurnakan penulisan referat ini.
Penulis sadar pembuatan referat ini memiliki kekurangan. Saran dan kritik
yang membangun sangat penulis harapkan. Akhir kata, penulis mengharapkan
semoga referat ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kita semua.

Pekanbaru, Oktober 2015

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Trikotilomania telah dikenal sejak hampir dua abad yang lalu dan istilah
trikotilomania itu diperkenalkan pertama kali oleh ahli kulit asal Prancis Franois
Henri Hallopeau.1,2 Penyakit ini dapat dikategorikan berdasarkan onset menjadi:
pra-sekolah, pra-remaja, dewasa muda, dewasa.3
Trikotilomania adalah salah satu bentuk gangguan kompulsif yang ditandai
dengan kegiatan menarik-narik rambut berulang (di kepala, alis, bulu mata, ketiak,
pubis) yang didahului dengan ketegangan kemudian diikuti dengan rasa puas atau
lega setelahnya. Kegiatan ini ditandai dengan adanya kerontokan rambut yang
mencolok dan tidak disebabkan oleh kelainan kulit kepala atau rambut lain atau
kegiatan stereotip yang lain.4,5
Penyakit ini dapat dikategorikan berdasarkan onset menjadi: prasekolah,
praremaja, dewasa muda, dan dewasa. Dari klasifikasi tersebut didapatkan
perbedaan gejala dan respon terapi dimana pada pasien prasekolah dan dewasa
muda yang memiliki kebiasaan menarik rambut otomatis dan tanpa disadari
memiliki respon yang baik terhadap pengobatan konservatif. Pada pasien dewasa
biasanya memiliki kecenderungan menarik rambut sebagai bentuk dari fokus
penderita terhadap kebiasaan tersebut, sebagai bagian rutinitas yang disadari
termasuk dalam memilah jenis rambut tertentu untuk dicabuti misalnya yang
memiliki ujung bulat dan pipih, yang kasar atau pun karena letaknya yang salah.
Respon terapi konservatif pada pasien dewasa biasanya lebih buruk mengingat

kebiasaan menarik rambut ini dapat disertai gangguan psikis lain yang
memerlukan tenaga spesialis dalam menanganinya.6
Berdasarkan

data

epidemiologi

didapatkan

bahwa

puncak

onset

trikotilomania ini berkisar antara usia 12-13 tahun. 7 Pada anak-anak tidak ada
perbandingan yang berarti antara populasi laki-laki atau pun perempuan yang
terkena trikotilomania. Pada orang dewasa ditemukan adanya prevalensi sebesar
0.6-3.4% dengan kecenderungan lebih banyak pada perempuan dibandingkan
laki-laki. Namun data ini masih dikacaukan dengan tipikal pencarian pertolongan
yang cenderung dimiliki perempuan dibandingkan laki-laki.8
1.2 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan referat ini adalah:
1. Memahami cara mendiagnosis dan tatalaksana yang harus diberikan pada
pasien dengan trikotilomania.
2. Meningkatkan kemampuan penulisan ilmiah di bidang kedokteran
khususnya di Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa.
3. Memenuhi salah satu syarat ujian kepaniteraan Klinik Senior di Bagian
Ilmu Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Riau Rumah Sakit
Jiwa Tampan Pekanbaru

1.3 Metode Penulisan


Penulisan referat ini menggunakan metode tinjauan pustaka yang mengacu
pada beberapa literatur.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Trikotilomania


Trikotilomania adalah hilangnya rambut sebagai akibat dari dorongan yang
kuat untuk menarik-narik rambut. Hilangnya rambut bisa membentuk suatu
bercak bundar atau tersebar di kulit kepala. Trikotilomania merupakan suatu
perilaku kompulsif, yang mungkin berasal dari adanya stres emosional maupun
stres fisik. Paling sering ditemukan pada anak-anak, tetapi kebiasaan ini bisa
menetap sepanjang hidup penderita.5
Pedoman Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (Edisi 4) dari American
Psychiatric Association, trikotilomania didefinisikan sebagai lima kriteria berikut:
1. Perilaku menarik rambut sendiri secara berulang yang mengakibatkan
hilangnya rambut.
2. Perasaan ketegangan sebelum menarik atau ketika mencoba untuk menolak
perilaku.
3.Kesenangan,

gratifikasi,

yang

terkait

dengan

perilaku.

4. Perilaku tersebut tidak termasuk kondisi medis lain (dermatologis) atau


masalah psikiatri (seperti skizofrenia).
5. Menarik rambut mengarah ke distress atau kerusakan yang signifikan dalam
satu atau lebih bidang kehidupan seseorang (sosial atau pekerjaan).9

2.2 Etiologi Trikotilomania2

Trikotilomania semakin sering dipandang memiliki asal yang ditentukan


secara biologis yang dapat mencerminkan aktivitas motorik yang disalurkan
secara tidak tepat. Teori biologi juga mengacu pada perbedaan metabolik dalam
sistem serotonin dan opioid. Anggota keluarga pasien dengan trikotilomania
sering memiliki riwayat tic, gangguan pengendalian impuls, dan gangguan
obsesif kompulsif, yang menyokong kemungkinan predisposisi genetik.
Depresi sering dinyatakan sebagai faktor predisposisi tetapi tidak ada ciri atau
gangguan kepribadian tertentu atau yang khas pada pasien trikotilomania.
Beberapa ahli melihat stimulasi terhadap diri sendiri merupakan tujuan utama
perilaku mencabut rambut.
Meskipun dianggap ditentukan oleh banyak hal, onsetnya dihubungkan pada
situasi yang penuh stress. Gangguan hubungan ibu dan anak, rasa takut ditinggal
sendirian dan kehilangan objek yang belum lama seringkali dinyatakan sebagai
faktor penting yang berperan dalam gangguan ini. Penyalahgunaan zat mungkin
mendorong perkembangan gangguan.

2.3 Epidemiologi
Prevalensi trikotilomania berkisar antara 0,5-3,5 % dengan onset usia ratarata 10 sampai 13 tahun. Penyakit ini 7 kali lebih sering terjadi pada anak-anak
dibandingkan orang dewasa dan anak perempuan 2,5 kali lebih sering daripada
anak laki-laki.2
Tidak ada informasi mengenai riwayat familial, tetapi satu studi melaporkan
bahwa 5 dari 19 orang anak memiliki riwayat keluarga yang mengalami beberapa

bentuk alopesia. Gangguan yang berhubungan adalah obsesif kompulsif,


kepribadian ambang dan gangguan depresif.2
Jumlah pasien yang mengalami trikotilomania di masyarakat secara relatif
masih sedikit yang diketahui. Secara klinis, mencabut-cabut rambut yang cocok
dengan kriteria trikotilomania ditemukan pada 0.6%-3.9% mahasiswa yang
disurvei. Penelitian lain menunjukkan perbedaan tingkat trikotilomania dalam
pengobatan ditemukan 4.4% pada pasien psikiatri yang rawat inap dan 4.6% pada
pasien gangguan obsesif-kompulsif.1

2.4 Patofisiologi
Hingga saat ini penyebab trikotilomania itu sendiri masih belum jelas.
Menurut teori neuro-kognitif, gangguan ini disebabkan oleh adanya kelainan pada
ganglia basalis pasien. Sebagaimana diketahui bahwa ganglia basalis memiliki
peran dalam membentuk kebiasaan. Kegagalan lobus frontal dalam menghambat
kebiasaan tertentu juga diperkirakan bagian dari patofisiologi gangguan ini.8
Sebuah studi pencitraan menggunaan Magnetic Resonance Image (MRI) juga
menyatakan bahwa substansi grisea (gray matter) pasien dengan trikotilomania
lebih meningkat kapasitasnya dibandingkan yang tidak memiliki penyakit ini.
Peranan genetik terhadap penyakit ini pun tidak luput dari perhatian peneliti.
Pada suatu penelitian ditemukan adanya mutasi pada gen SLITRK1
sedangkan pada penelitian lainnya mendapatkan adanya perbedaan pada reseptor
gen serotonin 2A. Mutasi gen HOXB8 juga menunjukkan perubahan kebiasaan
pada tikus dalam menarik-narik rambut. Pendekatan ilmiah terhadap gen ini

merupakan fenomena baru namun masih belum dapat ditentukan apakah memang
ada hubungan genetik dalam menyebabkan penyakit ini.2,8

2.5 Manifestasi Klinis Trikotilomania


Menurut The American Psychiatric Associations Diagnostic and Statistical
Manual of Mental Disorders, Fifth Edition (DSM-5), trikotilomania termasuk
dalam kategori gangguan obsesif kompulsif dan gangguan terkait. Gangguan ini
ditandai dengan suatu tindakan khusus berupa kebiasaan menarik rambut.
Kebiasaan ini terjadi baik dalam keadaan santai maupun keadaan yang penuh
tekanan.
Kriteria diagnosis menurut DSM V, antara lain:

Mencabut rambut sendiri secara rekuren yang menyebabkan kebotakan

yang jelas.
Peningkatan perasaan tegang segera sebelum mencabut rambut atau

jika berusaha untuk menahan perilaku tersebut.


Rasa senang, puas atau reda jika mencabut rambut.
Gangguan yang tidak dapat diterangkan baik oleh gangguan mental lain dan

bukan karena kondisi medis umum (misalnya, kondisi dermatologis).


Gangguan menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau
gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan atau fungsi penting lainnya.
Gambaran yang esensial dari gangguan ini adalah5:

1. Kerontokan rambut kepala yang tampak jelas (noticeable) disebabkan oleh


berulangkali gagal menahan diri terhadap impuls untuk mencabut rambut.
2. Pencabutan rambut biasanya didahului oleh ketegangan yang meningkat dan
setelahnya diikuti dengan rasa lega atau puas.

Diagnosis jangan dibuat apabila sebelumnya ada inflamasi kulit atau


apabila pencabutan rambut dilakukan akibat suatu waham atau halusinasi. Periode
transien menarik rambut pada anak usia dini dapat dianggap suatu "kebiasaan"
ringan dengan jangka waktu terbatas.5
Individu dengan trikotilomania kronis di masa dewasa sering melaporkan
onset masa remaja awal. Beberapa individu memiliki gejala terus menerus selama
beberapa dekade. Bagi yang lain, gangguan tersebut dapat datang dan pergi dalam
minggu, bulan atau tahunan. Tempat-tempat menarik rambut dapat bervariasi dari
waktu ke waktu.5
Banyak individu dengan trikotilomania mencabut rambut dari kepala mereka,
bulu mata, alis, kaki, lengan, wajah, dan daerah kemaluan. Mereka menarik helai
rambut dengan jumlah yang yang cukup banyak, menjadikan kerontokan rambut
menjadi terlihat. Hal ini menyebabkan banyak ketidaknyamanan, terutama dalam
situasi sosial, dimana mereka akan dapat diamati. Akibatnya, individu dengan
masalah ini berusaha keras untuk menyembunyikan kehilangan rambut ini dengan
memakai topi, wig, kemeja lengan panjang, atau dengan menutup area kebotakan
dengan make up.
Individu trikotilomania bahkan mungkin tidak menyadari bahwa mereka
menarik rambut mereka dan kebanyakan mengatakan bahwa mereka merasa bosan
atau gugup sebelum mencabut rambut mereka, tapi setelah menariknya keluar,
mereka merasa bersalah, sedih atau marah. Ada juga yang melaporkan bahwa
mereka mencabut rambut mereka ketika sedang menonton televisi, membaca,
berbicara di telepon atau membawa kendaraan.8

2.6 Diagnosis
Kriteria Diagnosis menurut PPDGJ-III5:
1. Mencabut rambut sendiri secara rekuren yang menyebabkan kebotakan yang
jelas.
2. Peningkatan perasaan tegang segera sebelum mencabut rambut atau jika
berusaha untuk menahan perilaku tersebut.
3. Rasa senang, puas atau lega jika mencabut rambut
4. Gangguan yang tidak dapat diterangkan baik oleh gangguan mental lain dan
bukan karena kondisi medis umum (misalnya, kondisi dermatologis).
5. Gangguan menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau
gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan atau fungsi penting lainnya.
Diagnosis ini jangan dibuat apabila sebelumnya sudah ada peradangan kulit,
atau apabila pencabutan rambut adalah respons terhadap waham atau halusinasi.

2.7 Diagnosis Banding2


Perilaku mencabut rambut mungkin suatu keadaan yang sepenuhnya ringan
atau dapat terjadi di dalam konteks beberapa gangguan jiwa berat. Fenomenologi
trikotilomania dan gangguan obsesif kompulsif bertumpang-tindih. Seperti
gangguan obsesif-kompulsif, trikotilomania sering bersifat kronis dan dikenali
oleh pasien sebagai sesuatu yang tidak diinginkan. Tidak seperti pasien dengan
gangguan obsesif-kompulsif, pasien dengan trikotilomania tidak mengalmai
pikiran obsesif dan aktifitas kompulsif terbatas pada satu tindakan, yaitu
mencabut rambut.
10

Pasien yang memilki gangguan buatan dengan tanda fisik serta gejala yang
dominan secara aktif mencari bantuan medis dan pasien memerankan serta
memalsukan penyakit secara sengaja untuk tujuan ini.
Pasien dengan malingering atau dengan gangguan buatan dapat melukai diri
sendiri untuk mendapatkan perhatian medis, tanpa memahami dampak lesi yang
mereka ciptakan.
Pasien dengan gangguan buatan streotipik memilki gerakan ritmik dan
sterotipik, dan mereka biasanya tidak tampak menderita karena perilakunya.
Biopsi mungkin penting untuk membedakan trikotilomania dengan alopesia areata
dan tinea kapitis.

2.8 Komorbiditas
Individu dengan trikotilomania mempunyai prevalensi gangguan mood yang
meningkat (gangguan depresi mayor, gangguan dysthymic) dan gejala anxietas
(gangguan obsesif kompulsif, gangguan anxietas menyeluruh dan fobia social),
gangguan penggunaan zat, gangguan makan, gangguan kepribadian (gangguan
ambang dan obsesif-kompulsif) serta retardasi mental. 1,2

2.9

Tatalaksana

Penelitian tentang pengobatan untuk gangguan kebiasaan dan impuls


sebagian besar berfokus pada penggunaan terapi perilaku kognitif dan obatobatan.

Terapi

perilaku

kognitif

(Cognitif

Behaviour

Therapy,

CBT)

menggabungkan unsur-unsur dari kedua terapi kognitif dan terapi perilaku. Terapi
kognitif meneliti cara pikiran orang tentang diri mereka sendiri, orang lain dan

11

dunia yang mempengaruhi kesehatan mental mereka. Terapi perilaku menyelidiki


cara tindakan masyarakat mempengaruhi kehidupan mereka sendiri dan interaksi
mereka dengan orang lain. Dengan menggabungkan kedua terapi tersebut, CBT
meneliti cara orang agar dapat mengubah pikiran mereka dan perilaku dalam
rangka meningkatkan kehidupan mereka. Terapi perilaku kognitif dapat
membantu seseorang belajar untuk rileks, mengatasi stres, memerangi pikiran
negatif dan mencegah perilaku merusak. Dalam penelitian kecil, jenis pengobatan
ini telah terbukti efektif untuk kleptomania, judi patologis, trikotilomania dan isuisu seksualitas kompulsif.8
Terapi perilaku yang berhasil, seperti biofeedback, pengawasan diri sendiri,
desensitisasi sendiri dan pembalikan kebiasaan telah dilaporkan, tetapi sebagian
besar laporan adalah kasus individual atau sejumlah kecil penelitian dengan
periode follow up yang relative singkat.5
Trikotilomania kronis yang berhasil diterapi adalah dengan psikoterapi
berorientasi pada tilikan. Hipnoterapi dan terapi perilaku telah dinyatakan
berpotensi efektif dalam terapi gangguan dermatologis dengan keterlibatan faktor
psikologis karena kulit telah terbukti rentan terhadap saran hipnotik.
Berdasarkan

saran

Trichotillomania

Impact

Project,

penggunaan

farmakoterapi dengan SSRI (Serotonin-selective reuptake inhibitors) merupakan


terapi yang paling sering digunakan bahkan lebih dianjurkan penggunaannya
dibandingkan Clomiperamine. Namun bila pasien dengan respon buruk dengan
SSRI dapat membaik dengan tambahan pimozide (Orap), suatu antagonis reseptor
dopamine. SSRI berperan sebagai antidepresan yang akan meningkatkan

12

neurotransmisi serotonin dalam otak dengan cara menghambat reuptake serotonin


pada membran presinaptik.10
Selain itu psikofarmakologi yang telah digunakan adalah steroid topikal dan
hydroxinehydrochloride, suatu ansiolitik dengan sifat antihistamin, antidepresan,
obat serotonergik dan antipsikotik.2
Bila terdapat depresi, agen anti depresan dapat memberikan perbaikan
dermatologis. Antidepresan, seperti fluoxetine (Prozac), fluvoxamine (Luvox),
sertraline (Zoloft) dan venlafaxine (Effexor), sering digunakan untuk mengobati
trikotilomania, kleptomania dan judi patologis. Obat antipsikotik olanzapine,
(Zyprexa) juga telah menunjukkan efektivitas dalam mengobati trikotilomania.8
Selain itu, ada beberapa teknik perawatan yang terbukti ampuh. Perawatan
dengan terapi perilaku pada banyak kasus bisa mengenali dorongan mencabut
rambut sebelum nantinya dorongan tersebut sangat susah dilawan. Penderita bisa
belajar untuk melawan dorongan tersebut seperti mengupayakan agar tangan
selalu sibuk dengan aktivitas (meremas-remas, merajut sambil menonton televisi
dan sebagainya) pada saat dorongan untuk menarik rambut semakin kuat. Dengan
demikian dorongan tersebut semakin melemah dan tidak tertutup kemungkinan
hilang sama sekali (Videbeck, 2008).

2.10

Prognosis2

Trikotilomania merupakan penyakit kronik. Terapi farmakologi maupun


pendekatan psikoterapi sampai saat ini belum menunjukkan bukti yang nyata,
meskipun beberapa diantaranya menunjukkan perbaikan.3

13

Onset rata-rata munculnya trikotilomania adalah pada masa remaja awal dan
sering ditemukan pada usia sebelum 17 tahun namun onset pada usia lebih lanjut
pun dapat terjadi. Perjalanan gangguan tidak diketahui dengan baik, bentuk kronis
maupun remiten sama-sama dapat terjadi.
Pada onset dini (kurang dari usia 6 tahun) cenderung lebih mudah sembuh,
dan lebih berespons pada saran, dukungan, dan strategi perilaku. Onset lanjut
(setelah usia 13 tahun) dikaitkan dengan meningkatnya kemungkinan terjadinya
kekronisan dan prognosis yang lebih buruk daripada onset dini.
Kurang lebih sepertiga orang yang datang untuk terapi melaporkan durasi
selama 1 tahun atau kurang, sedangkan pada beberapa kasus gangguan ini
berlangsung selama lebih dari dua dekade.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
Trikotilomania adalah salah satu bentuk gangguan kompulsif yang ditandai
dengan kegiatan menarik-narik rambut berulang (di kepala, alis, bulu mata, ketiak,
pubis) yang didahului dengan ketegangan kemudian diikuti dengan rasa puas atau

14

lega setelahnya. Kegiatan ini ditandai dengan adanya kerontokan rambut yang
mencolok dan tidak disebabkan oleh kelainan kulit kepala atau rambut lain atau
kegiatan stereotip yang lain.
Berdasarkan data epidemiologi

didapatkan

bahwa

puncak

onset

trikotilomania ini berkisar antara usia 12-13 tahun. Pada anak-anak tidak ada
perbandingan yang berarti antara populasi laki-laki atau pun perempuan yang
terkena trikotilomania. Pada orang dewasa ditemukan adanya prevalensi sebesar
0.6-3.4% dengan kecenderungan lebih banyak pada perempuan dibandingkan
laki-laki. Namun data ini masih dikacaukan dengan tipikal pencarian pertolongan
yang cenderung dimiliki perempuan dibandingkan laki-laki.
Kriteria Diagnosis Trikotilomania dapat dilihat pada PPDGJ-III. Diagnosis
banding trikotilomania antara lain obsesif kompulsif, pasien dengan gangguan
buatan, pasien dengan malingering, dan Alopesia areata dan tinea kapitis.
Saran Trichotillomania Impact Project, penggunaan farmakoterapi dengan
SSRI merupakan terapi yang paling sering digunakan bahkan lebih dianjurkan
penggunaannya dibandingkan Clomiperamine. Namun pasien dengan respon
buruk terhadap SSRI dapat membaik dengan tambahan pimozide (Orap), suatu
antagonis reseptor dopamine. SSRI berperan sebagai antidepresan yang akan
meningkatkan neurotransmisi serotonin dalam otak dengan cara menghambat
reuptake serotonin pada membran presinaptik.
3.2 Saran
1. Perlunya pemahaman untuk membedakan Trikotilomania dengan
gangguan kulit, gangguan buatan dan gangguan lainnya.
2. Perlunya pengetahuan untuk mendiagnosis Trikotilomania.

15

DAFTAR PUSTAKA

1.

Nejatisafa

AA,

Sharifi

V.

Cognitive

Behavior

Therapy

for

Trichotillomania: Report of Case Resistant to Pharmacological Treatment.


2.

Iran J Psychiatry. 2006; 1: 42-44.


Sadock, James Benjamin, Sadock, Alcott Virgina. 2007. Kaplan &
Sadocks Synopsis Of Pcyshiatry Behavioral Science/Clinical Psychiatry.

3.

Tenth edition. Lippincott Williams & Wilkins.


First, Michael B. Tasman, Allan. Clinical Guide To The Diagnosis And
Treatment of Mental Disorders. John Wiley & Sons, ISBN. 2010. 558.

16

4.

Chayavichitsilp P, Barrio V, Johnson B. Interdisciplinary Insight


Management of Trichotillomania. Practical Dermaology for Paediatric.

5.

2010; 24-26.
Maslim, Rusdi Dr. Pedoman Diagnostik dari PPDGJ III. Buku Saku
Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III. 2003. Jakarta

6.

: PT. Nuh Jaya


Dewi W, Ratep N, Westa W. NAcetylcysteine Sebagai Farmakoterapi
Trikotilomania. Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran

7.

Universitas Undayana/Rumah Sakit Umum Pusat Senaglah Denpasar.


Diagnostic And Statistical Manual Of Mental Disorders, Text Revision

8.

(DSM V-TR) Fifth Edition. American Psychiatric Association. 2013


Ebert, H. Michael. Loosen, T. Peter. Nurcombe, Barry. 2008. Current
Diagnosis & Treatment in Psychology. Lange Medical Books / McGraw

9.

Hill.
Expert Consensus Treatment Guidlines For Trichotilomania, Skin Picking
and Other Body-Focused Repetitive Behaviors. A publication of the
Scientific Advisory Board of the Trichotillomania Learning Center
bringing hope and healing since 1991. Expert Consensus. Dapat diakses

10.

pada : www.trich.org/dnld/ExpertGuidelines_000.pdf
Flessner CA, Penzel F, Keuthen NJ. Current Treatment Practice for
Children and Adults With Trichotillomania: Consensus Among Experts.
Cognitive and Behavioral Practice. 2010; 17: 290-300.

17

18