Anda di halaman 1dari 12

Tugas Mata Kuliah

TOERI PERENCANAAN DAN PEMBANGUNAN


REVIEW ARTICLE
LEARNING RADICAL PLANNING: THE POWER OF
COLLECTIVE ACTION

Disusun oleh

Oleh :
SATRIA UTAMA, ST

: 21040115410020

Magister Pembangunan Wilayah dan Kota


Fakultas Teknik
Universitas Diponegoro
Semarang
2016

Pengantar
Perencanaan Radikal dalam konteks otoriter yang ada saat ini dapat
dikatakan tidak mampu menggambarkan proses transformasi sosial.

Ketidakmampuan ini disebabkan oleh tidak menggambarkan secara jelas


mengenai bagaimana warga memperoleh keterampilan, pengalaman, dan
kesadaran politik sebagai alat untuk menuju perubahan sosial dan politik.
Berdasarkan hal diatas, teori perencanaan khususnya teori perencanaan radiakal
tidak sepenuhnya dapat digunakan dalam proses transformasi sosial, terutama
pada daerah yang aktivitas sosialnya disertai dengan rasa takut akibat adanya
kekrasan yang akan mereka alami.
Artikel ini mencoba untuk menjelaskan bagaiman proses penanaman pola
pikir mengenai perencanaan radikal. Perencanaan ini menyampaikan bahwa
pada konteks daerah otoriter, masyarakat wajib mempelajari keterampilan yang
diperlukan dan ikut berpartisipasi dalam program yang disponsori oleh negara.
Tujuannya untuk mendorong masyarakat menjadi inovatif dalam perencanaan
berbasis masyarakat.
Hal pertama yang coba dibahas pada artikel ini adalah bagaimana konsep
perencanaan radikal dan kesenjangan yang ada pada perencanaan tersebut.
Dalam menjelaskannya, artikel ini membandingkan dengan artikel dari studi
longitudinal aksi kolektif yang ada di Indonesia. Secara khusus, ada tiga contoh
yang diberikan sebagai dasar bagaimana perencanaan radikal berkembang.
Contoh pertama menjelaskan bagaimana pergeseran dari partisipasi masyarakat
didoronguntuk menjadi terpusat oleh negara, sehingga mengarah pada suatu
perencanaan berbasis masyarakat. Contoh kedua, menjelaskan pergeseran
perencanaan berbasis masyarakat ke arah perencanaan tersembunyi. Masyarakt
memobilisasi serangkaian tindakan dalam mengubah fisik permukiman
informal. Ketika pergeseran ini mengalami pertentangan, perencanaan ini
berubah bentuk menjadi perencanaan yang bersifat tersembunyi atau diamdiam. Contoh ketiga menjelaskan bagaimana perencanaan diam-diam menjadi
perencanaan radikal. Misalnya ada sekelompok pemuda yang membentuk suatu
komunitas di perpustakaan. Kemudian terjadi pelemahan ekonomi dan politik di
indonesia, komunitas perpustakaan tersebut berubah menjadi komunitas yang
beraktiftias sebagai forum yang menuntut reformasi politik. Tiga contoh
tersebut menunjukkan bagaimana kaum marginal dalam konteks politik otoriter
bergeser. Mulai dari partisipasi masyarakat dalam payung perencanaan berbasis
masyarakat dengan tujuan untuk mengejar kekurangan yang ada pada
lingkungan mereka, kemudian berubah menjadi perencanaan yang bersifat
tersembunyi atau diam-diam dan bertujuan untuk transformasi sosial, dan
berubah menuju kepada kegiatan radikal ketika berada pada kondisi krisis pada
lingkungannya.

Perencanaan sebagai Trasnformasi Sosial


Dalam bukunya Planing in the Public Domain, John Friedman
mengungkapkan bahwa tujuan utama dari teori perencanaan adalah bagaimana
mengaitkan pengetahuan teknis (technical knowledge) untuk diterjemahkan
dalam public actions. Friedmann (1987) menjelaskan teori perencanaan dalam
empat tradisi yang luas yaitu reformasi sosial, analisis kebijakan, pembelajaran
sosial dan mobilisasi sosial.
1. Reformasi Sosial
Teori ini memandang bahwa negara adalah sarana untuk aksi sosial.
Perencanaan dipandang sebagai upaya ilmiah untuk menciptakan usahausaha pemerintahan yang lebih efektif. Di Indonesia pada awal-awal
kemerdekaan, pasca liberalisme klasik dianggap gagal, maka lahirlah
gagasan neo-liberalisme dengan gagasan negara kesejahteraan (welfare
state) dimana negara mempunyai peran yang strategis dalam mengatur
dan mengendalikan pertumbuhan ekonomi untuk menciptakan
kesejahteraan (welfare). Untuk melaksanakan pembangunan dan
percepatan pertumbuhan ekonomi, maka pemerintah bekerjasama dengan
pihak swasta (industri) untuk melakukan eksploitasi sumber daya alam.
Dengan demikian tujuan dari rencana pembangunan yang ingin dicapai
adalah pertumbuhan ekonomi (GNP).
2. Analisis Kebijakan
Teori ini sangat berorientasi teknis dan rasional dimana perencanaan
adalah proses yang mencakup pengambilan keputusan melalui beberapa
tahapan yang dimulai dari identifikasi tujuan dan diakhiri dengan analisis
program yang mengevaluasi kinerja dari keputusan. Teori ini adalah
model rasional yang disusun perencana teknis yang memandang dirinya
sebagai social engginer yang melayani penguasa dan lebih beriorientasi
pada pertumbuhan ekonomi.
Perencanaan dengan teori ini umumnya digunakan oleh pemerintahan
dengan model top-down. Sebagai contoh adalah perumusan Rencana Tata
Ruang yang dalam perumusannya, hanya dilakukan oleh para konsultan
dan Tim ahli yang dianggap mumpuni dan mampu melakukan prediksi
secara matematis terhadap situasi ekonomi, serta dampak sosial dan
lingkungannya. Prinsip yang digunakan pun adalah prinsip
utilitarianisme, dimana kebijakan yang diambil berdasakan pertimbangan
kemanfaatan bagi masyarakat secara luas. Sementara hak hak kelompok

minoritas
akan cenderung terabaikan. Pendekatan ini sangat
mengutamakan penilaian secara teknis dan kauntitatif.
3. Pembelajaran sosial
Teori ini mencoba mengeliminasi kontradiksi antara apa yang kita ketahui
dan apa yang harus kita lakukan. Perencanaan melalui eksperimen sosial,
mencoba untuk merubah perilaku sosial. Hal ini dicapai dengan
menterjemahkan pengetahuan kedalam dunia praktis, dan teori diperkaya
dari pelajaran-pelajaran yang didapat di lapangan. Para perencana dan
klien akan terlibat dalam interaksi yang non formal.
Teori ini mempunyai fokus yang eksplisit karena mempertimbangkan
umpan balik yang terjadi ketika suatu perencanaan didiskusikan dengan
masyarakat, sehingga ada proses transfer pengetahuan. Dalam proses
pembelajaran sosial, tidak menekankan pada pencapaian tujuan, namun
pada pelaksanaan prosesnya yang partisipatif. Sehingga mungkin saja
tujuan tujuan yang baru lahir dari proses interaksi sosial tersebut.
4. Mobilisasi sosial
Teori ini mengupayakan sebuah gerakan/tindakan yang tumbuh dari
bawah (masyarakat). Perencanaan dipandang sebagai aktifitas politik
yang mencoba untuk merubah kondisi status quo. Teori ini menekankan
pada politik konfrontasi. Peran perencana dapat berupa organisator
masyarakat, advokat, dan penerjemah data. Teori ini banyak diaplikasikan
oleh LSM untuk memberi kesadaran dan kekuatan pada masyarakat untuk
memperjuangkan hak-haknya yang cenderung diabaikan pada berbagai
kasus pembangunan terutama bagi pembangunan yang hanya berorientasi
pada pertumbuhan ekonomi.
Dalam prakteknya, perencanaan sebagai pedoman masyarakat atau
perencanaan konvensional dilakukan oleh praktisi yang sudah profesional.
Sedangkan pada perencanaan sebagai transformasi sosial dilakukan sepenuhnya
berdasarkan pada keempat tradisi yang telah disebutkan sebelumnya.
Perencanaan sebagai transformasi sosial ini menurut Friedmann merupakan
bentuk dari perencanaan radikal. Perencanaan ini berupaya untuk mengubah
struktur sosial, politik, dan ekonomi yang membentuk dan memproteksi status
quo.
Perspektif Perencanaan Radikal
Pembentukan Tradisi mobilisasi sosial dalam pemikiran perencanaan
radikal bertujuan untuk membangun karakter emasipasi manusia dari

penindasan sosial. Sebagai contohnya ketimpangan yang disebabkan oleh


negara dan pasar. Perencanaan radikal dalam istilah sederhana dapat dikatakan
sebagai kritik dari situasi yang ada saat ini dan respon masyarakat terhadap
kritik tersebut. (Friedmann, 1987). Dalam model ini, perencana membantu
masyarakat menemukan solusi praktis, memahami kendala kelembagaan, dan
memberikan kemampuan berpikir yang diperlukan untuk mengembangkan
strategi mencapai kesuksesan (Friedmann, 1987). Pengetahuan diperoleh dari
proses tumpang tindih dan proses saling mengkaitkan teori, strategi, visi, dan
tindakan dalam mentransfer informasi anatara satu sama lain pembelajaran
sosial (Friedmann, 1987). Friedmann memperingatkan bahwa perencana radikal
harus waspada terhadap kecenderungan para elit pengambil keputusan untuk
mengkonsolidasi kekuasaan dan informasi. Kewaspadaan tersebut dapat dengan
memastikan partisipasi dari masyarakat luas.
Agar hubungan antara perencana radikal dan masyarakat dapat terjalin dengan
baik, perencana harus dekat dengan masyarakat dan perilakunnya.
Menurut Friedmann, perencana adalah mediator praktek radikal. Dengan
demikian perencana harus berkomitmen untuk terlibat dalam peningkatan
emansipasi masyarakat. Pada saat yang sama, perencana radikal tetap memantau
sisi kritis dari masyarakat tersebut (Friedmann, 1987). Secara sederhana,
perencana radikal harus dekat terhadap masyarakat, namun tetap waspada
terhadap sisi kritis mereka.
Metode dalam Penerapan Perencanaan Radikal
Levitt (1994), mengungkapkan bahwa perencanaan radikal haruslah
melalui pendekatan dari kebutuhan sehari-hari dari masyarakat. Metode levitt
memposisikan perencana sebagai bagian dari kelompok lokal yang tertindas.
Namun,metode ini secara tidak langsung menggambarkan bahw masyarakt
lokal tersebut tidak memiliki keterampilan, sumberdaya, atau kesadaran politik.
Lain halnya dengan metode yang ditemukan oleh levitt yang pendekatannya
berfokus pada kebutuhan sehari-hari. Metode Sandercock lebih berfokus pada
bentuk penindasan dan kritik yang menyertai penindasan tersebut. Dapat
dikatakan, fokus pendekatan dai perencanaan radikal menurut Sandercock
(1998) adalah berdasarkan pada adanya ketidakadilan terkait dengan perbedaan.
Sandercock berpendapat bahwa perencanaan radikal tidak selalu dimulai dengan
kehormatan dan tindakan nyata, melainkan dengan tindakan yang lebih kecil
atau apa yang dia sebut 'seribu pemberdayaan kecil'.

Kekurangan Analisis Dan Pertanyaan yang Belum Terjawab


Ikhtisar kritis dari literatur perencanaan radikal ini mengidentifikasi
beberapa kekurangan analitis yang signifikan dan pertanyaan yang belum
terjawab, terutama dalam kaitannya dengan bagaimana warga belajar untuk
terlibat dalam perencanaan radikal. Di bawah ini, kesenjangan dalam literatur
dirangkum untuk menunjukkan bagaimana analisis data empiris dapat
berkontribusi untuk pemahaman lebih terkait perencanaan radikal:
1. penjelasan Sebelumnya perencanaan radikal tidak memberikan wawasan
tentang bagaimana jenis latihan dimulai. Bagaimana kelompok tertindas
secara politik mempelajari keterampilan dan mendapatkan pengalaman
dan kepercayaan diri untuk mengatur melawan kekuatan represif yang
lebih kuat?
2. Bagaimana masyarakat terlibat dalam perencanaan radikal dalam
lingkungan sosial-politik yang sangat ketat? Misalnya, banyak negara
memiliki hukum yang melarang pertemuan yang tidak sah, pernyataan
publik yang kritis, dan tindakan kolektif. Bagaimana warga mengatasi
ketakutan mereka retribusi kekerasan untuk datang bersama-sama dan
mengambil bagian dalam perencanaan radikal?
3. Secara umum, perspektif sebelumnya gagal untuk mengartikulasikan
model teoritis yang koheren peletakan perencanaan radikal vis-a-vis
modus lain dari perencanaan. Apa hubungan antara perencanaan radikal
dan mode lain dari perencanaan (mis rasional-komprehensif, berbasis
komunitas, dan perencanaan kolaboratif)?
Dalam apa yang berikut, sebuah studi longitudinal digunakan sebagai
perangkat heuristik untuk menjawab pertanyaan tersebut dan mengembangkan
secara lengkap pemahaman secara lebih koheren dari perencanaan radikal dan
hubungannya dengan modus lain dari praktek perencanaan.
Studi Kasus Partisipasi Perencanaan Radikal
Review ini mencoba mengambil salah satu dari tiga contoh tindakan
kolektif di tingkat masyarakat. studi ini ditinjau berdasarkan permukiman
informal perkotaan di Indonesia. Komunitas Studi kasus terletak di sepanjang
tepi sungai. Generasi yang menghuni kawasan tersebut adalah generasi dari para
kaum migran miskin yang telah menetap sejak lama di kawasan tersebut.
Mereka memilih kawasan tersebut karena akses ke lahan kosong murah dan
dekat dengan pusat ekonomi kota. permasalahannya adalah masyarakat ini
berkembang di luar dari perencanaan formal dan kerangka kebijakan
pemerintah
indonesia,
tingginya
kepadatan
permukiman
mereka,

dikombinasikan dengan tidak adanya status kepemilikan lahan secara resmi, dan
banjir periodik.
Penting untuk dicatat bahwa ketika peneliti mulai studi ini dia berangkat
untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan kapasitas
organisasi berbasis masyarakat untuk mengurangi kemiskinan dan pertanyaan
tentang bagaimana warga belajar perencanaan radikal dalam konteks otoriter.
Penelitian ini dilakukan pada du kondisi periode, yaitu periode kemakmuran
ekonomi dan periode krisis. Pada saat kedua periode itu pula terjadi perubahan
sosial dan politik yang luar biasa di Indonesia.
Perencanaan di Tingkat Masyarakat di Indonesia
Struktur adminstrasi-politik perkotaan di Indonesia menciptakan
seperangkat unik hubungan organisasi dan ruang yang menentukan bagaimana
penduduk lokal terlibat dalam perencanaan dan tindakan kolektif di tingkat
masyarakat. Beberapa pengetahuan tentang struktur ini penting untuk
memahami kemungkinan kelembagaan dan kendala yang dihadapi oleh
organisasi berbasis masyarakat. Untuk tujuan administratif, kota dibagi lagi
menjadi kabupaten dan kecamatan kecil, di mana walikota biasanya menunjuk
kabupaten dan kecamatan pemimpin, yang PNS. Setiap kecamatan dibagi lagi
menjadi dua kelompok yang lebih kecil dari rumah tangga. Yang lebih besar
dari dua unit disebut sebagai Rukun Warga (RW) dan unit yang lebih kecil
disebut sebagai Rukun Tetangga (RT) dan warga setempat mengatur kedua unit
tersebut. Banyak masyarakat memilih pemimpin RW dan RT mereka secara
relawan dan tidak dibayar. Contoh tindakan kolektif yang diuraikan dalam
artikel ini didasarkan pada studi kasus dari RW tunggal.
Di RW dan RT, pria dan wanita biasanya melakukan pertemuan bulanan
yang terpisah, di mana mereka memilih pemimpin mereka, melakukan dialog
rutin, dan mengidentifikasi masalah tingkat masyarakat serta strategi untuk
melakukan suatu tindakan. Pada kegiatan ini sudah ada potensi transformatif
dan organisasi yang tersusun secara vertikal, namun kegiatan ini terbatasi oleh
aliran top-down pemertintah yang ada. Selama masa Orde Baru struktur
administrasi vertikal ini disajikan dalam sejumlah fungsi penting. Secara
khusus, itu sangat efektif dalam membentuk tenaga kerja sukarela untuk
melaksanakan program-program pembangunan Negara, memberikan
pengawasan kegiatan di tingkat masyarakat, dan mencegah masyarakat
geografis yang berdekatan dari memobilisasi dukungan dari tuntutan kolektif
Negara. Studi ini akan menunjukkan bagaimana warga belajar untuk
memanipulasi struktur negara dan bagaimana mereka akhirnya menggunakan

ruang terbatas yang diizinkan untuk dialog publik dan tindakan kolektif, untuk
menyusun tindakan yang bertujuan untuk transformasi ke arah radikal.
Dari partisipasi perencanaan berbasis masyarakat: mengembangkan klinik
perawatan kesehatan
Contoh ini menggambarkan transformasi halus di kalangan aktivis
perempuan lokal dan anggota masyarakat yang diamati usaha mereka.
Transformasi ini dimulai dengan partisipasi perempuan dalam pelaksanaan Ibu
dan Klinik Kesehatan Anak yang akhirnya menyebabkan mereka untuk
mengembangkan klinik perawatan kesehatan untuk orang tua. Proses ini penting
karena menunjukkan bagaimana perempuan ini pindah dari hanya berpartisipasi
dalam pelaksanaan program-program negara untuk proses perencanaan berbasis
masyarakat, mengejar agenda mereka sendiri. Namun, keberhasilan pelaksanaan
program mereka Negara adalah elemen kunci dalam transisi itu, karena
Pengalaman yang dihasilkan, keterampilan, dan dasar yang kuat dari dukungan
masyarakat kondisi penting bagi perempuan untuk bergerak dari partisipasi
perencanaan berbasis masyarakat. Selama masa Orde Baru, banyak perempuan
di seluruh Indonesia berpartisipasi dalam perencanaan berbasis masyarakat di
bawah program nasional yang dikenal sebagai Woman Familys Welfare
Organisation (WFWO). Organisasi ini meliputi, pemberdayaan relawan wanita
lokal, kredit mikro, bimbingan literasi, dan KB untuk masyarakat
berpenghasilan rendah. Pada saat yang sama, WFWO dibentuk secara formal,
sah, dan sebagai wadah di mana wanita bertemu, membahas isu-isu yang
menjadi perhatian bersama, dan wadah untuk melakukan tindakan kolektif.
Dari Berbasis Masyarakat untuk Perencanaan Tersembunyi: Upaya
Repaving
Contoh ini menggambarkan bagaimana upaya masyarakat untuk
meningkatkan jalan setapak yang berkembang dari waktu ke waktu menjadi
sebuah strategi sadar untuk memberikan masyarakat setidaknya penampilan luar
pemukiman perumahan hukum dan halus menegaskan klaim kepemilikan lahan
kolektif. keputusan sadar masyarakat untuk menyembunyikan oposisi dan
respon taktis untuk penolakan Negara permintaan untuk kepemilikan lahan
melambangkan pergeseran dari perencanaan berbasis masyarakat untuk
perencanaan rahasia. Upaya repaving perlu dipahami dalam hal sejumlah faktor
kontekstual penting, beberapa di antaranya termasuk: status sosial-ekonomi,
sejarah perumahan, dan hubungan antara negara dan masyarakat terletak di

sepanjang sungai. Pertama, masyarakat terletak di sepanjang sungai terdiri dari


rumah tangga miskin dan tidak memiliki kepemilikan tanah yang sah. Di daerah
penelitian, misalnya, sekitar 80 persen penduduk tidak memiliki kepemilikan
lahan hukum. Namun, masyarakat relatif stabil: sebagian besar rumah tangga
telah tinggal di daerah untuk rata-rata 22 tahun. Faktor kontekstual terkait
adalah hubungan antara negara dan masyarakat. Negara itu telah lama
ambivalen dalam tekad untuk memaksa warga untuk pindah menjauh dari
sungai. Misalnya, negara telah secara konsisten menekan kurang terorganisir,
masyarakat miskin untuk pindah sementara itu disubsidi pembangunan
infrastruktur di masyarakat tampaknya lebih terorganisir dan makmur. Dalam
komunitas studi kasus ambivalensi kebijakan Negara diperparah dengan
pemberian sesekali kepemilikan tanah yang sah untuk beberapa rumah tangga
sementara mayoritas permintaan ditolak dengan opsi untuk mengajukan
permohonan kembali.
Kebijakan Negara pemberian sejumlah rumah tangga dengan kepemilikan
lahan sementara menyangkal rumah tangga yang tampaknya serupa di sama
masyarakat, memberikan beberapa komunitas dengan kepemilikan lahan tacit
melalui perbaikan fisik sementara menekan orang lain untuk pindah,
membuatnya sulit warga untuk bersatu di belakang tantangan radikal untuk
kepemilikan lahan Negara policies. Namun, dua organisasi berbasis masyarakat,
salah satu adat dan lainnya didirikan oleh Negara, secara bertahap menyadari
bahwa upaya mereka untuk secara fisik meningkatkan masyarakat juga bisa
berfungsi sebagai upaya kolektifdalam mengklaim kepemilikan lahan.
Perencanaan Berbasis Masyarakat: Upaya Repaving Jumat Kliwon
Jumat Kliwon adalah sebuah organisasi adat, berbasis masyarakat yang
ada di luar RW struktur administrasi / RT politik; itu merupakan anggota
termiskin dari masyarakat yang tinggal paling dekat dengan sungai. Kelompok
ini dimulai pada tahun 1960-an, ketika banjir merusak rumah di dua RT yang
paling dekat dengan sungai dan penduduk mengerahkan sumber daya mereka
secara kolektif untuk melakukan perbaikan. Pada tahun-tahun berikutnya
kelompok itu terus bertambah, sebagian sebagai organisasi sosial dansebagian
lagi memberikan layanan bagi anggotanya. Banyak dari layanan kelompok
menyediakan bantuan, seperti pengaspalan dan perlindungan banjir, biasanya
dibantu juga oleh negara. Namun, disisi lain rumah tangga yang ada di kawasan
tersebut tidak dapat menuntut pelayanan publik karena status kepemilikan lahan
mereka.

Upaya repaving dimulai pada tahun 1995 pada pertemuan Jumat Kliwon
di mana warga membahas kebutuhan untuk melapisi jalan setapak dengan bahan
penyerap yang akan mengurangi banjir dan sekaligus mengisi pasokan air tanah
untuk sumur yang sebagian besar rumah tangga bergantung air. Dalam diskusi
ini kelompok tersebut memutuskan untuk membeli alat-alat untuk mencetak
batu bata sendiri dan mulai repaving jaringan jalan setapak di dua RT tersebut.
Ini akan menjadi proyek panjang. Mereka juga memutuskan bahwa setiap
rumah tangga akan memberikan kontribusi biaya bulanan yang kecil untuk
membeli bahan dan minuman untuk para relawan sampai proyek itu selesai.
Komitmen oleh penduduk RT rendah untuk membayar biaya bulanan dan
relawan tenaga kerja mereka dimulai sebagai upaya berbahaya untuk
memperbaiki lingkungan fisik mereka; Namun, selama dua tahun usaha ini terus
itu berkembang menjadi tantangan rahasia penolakan Negara dari permintaan
ulang untuk kepemilikan lahan hukum.
Perencanaan Tersembunyi: Upaya Repaving RW
Setelah proyek Jumat Kliwon telah berkembang, pemimpin resmi RW
masyarakat memutuskan untuk memperluas usaha repaving ke arteri utama
masyarakat di luar medan dari dua RT diwakili oleh kelompok Jumat Kliwon.
Berbeda dengan pendekatan Jumat Kliwon berdasarkan tenaga kerja sukarela,
para pemimpin RW di daerah ini memutuskan untuk membeli batu bata semen
dan membayar buruh harian dari luar masyarakat untuk melakukan pekerjaan
fisik. Untuk meningkatkan dana yang diperlukan, para pemimpin formal
mengumumkan bahwa warga akan membayar biaya sesuai dengan berapa
banyak anggota berada di setiap rumah tangga, dan sejumlah tambahan jika
sebuah rumah tangga yang dimiliki sepeda motor.
Dalam rencana RW ini, warga dari RT rendah, yang sudah repaving jalan
setapak mereka sendiri, masih harus berkontribusi untuk membuka arteri utama
masyarakat. Warga terbukti tahan terhadap rencana RW. Sebagian dari masalah
adalah bahwa para pemimpin RW, meskipun mereka mewakili warga setempat,
menyelesaikan rencana tanpa meminta masukan atau dukungan pada pertemuan
RT-tingkat. Kepemimpinan RW tidak menyadari ketidakpuasan warga sampai
setelah mereka telah menggunakan dana masyarakat untuk membeli bahan, dan
usaha yang telah berlangsung selama beberapa bulan. Akhirnya, proyek RW
rusak saat warga menolak untuk memberikan kontribusi dana tambahan untuk
membeli bahan-bahan baru. Banyak rumah tangga hanya tidak memiliki uang
ekstra untuk berkontribusi pada proyek kelanjutan. Memang, banyak lebih suka

rencana yang lebih murah dan yang mengandalkan relawan untuk tenaga kerja.
Setelah upaya repaving telah terhenti selama beberapa bulan, kelompok
memilih tokoh masyarakat, aktivis, dan orang tua untuk melakukan pertemuan
malam dengan tujuan eksplisit menemukan solusi. Berikut diskusi beralih ke
penolakan berulang Negara atas kepemilikan tanah yang sah. Kelompok ini juga
membahas bagaimana proyek kelompok Jumat Kliwon telah mengubah
penampilan segmen termiskin dari masyarakat dengan sebuah penyelesaian
formal. Hal itu akhirnya memutuskan bahwa upaya komunitas ini terlalu
penting untuk ditinggalkan. Rencana paving itu diturunkan, dan strategi halus
menuju memperoleh kepemilikan lahan resmi diselamatkan.
Contoh dari kelompok RW dan Jumat Kliwon menggambarkan
bagaimana warga pindah, dari waktu ke waktu, dari perencanaan berbasis
masyarakat untuk perencanaan rahasia. Proyek pengaspalan dapat dipahami
sebagai contoh perencanaan tersembunyi karena tidak masuk ke dalam agenda
pembangunan Negara. Untuk saat ini, masyarakat berhasil menciptakan hukum
dan mengurangi kecenderungan negara untuk memaksa relokasi. Selain itu,
melalui upaya bersama mereka, warga telah menjadi semakin bersatu dalam
tekad mereka untuk tetap bersama-sama, sehingga membuat politik relokasi
tidka berdaya. Dalam konteks otoriter, perencanaan tersembunyi merupakan
langkah perantara yang penting antara memobilisasi tanggapan kebutuhan
masyarakat yang kompatibel dengan agenda negara dan perencanaan radikal
untuk tujuan yang lebih transformatif. perencanaan tersebut ada sengaja di luar
wilayah negara, namun memberikan pengalaman warga dalam pengorganisasian
masyarakat dan tindakan kolektif, kemampuan memecahkan masalah, dan rasa
kolektif yang dapat digunakan untuk tindakan yang lebih terang-terangan
radikal di masa depan.

DAFTAR PUSTAKA
Beard, Victorian A. 2003. Learning Radical Planning: The Power Of Collective Action.
London: SAGE Publications Vol 2(1): 1335
Friedmann, J. 1987. Planning in the Public Domain: From Knowledge to Action. Princeton,
NJ: Princeton University Press.
Leavitt, J. 1994. Planning in the Age of Rebellion: Guidelines to Activist Research and
Applied Planning. Planning Theory 1011, 11129.
Sandercock, L. 1998. Towards Cosmopolis: Planning for Multicultural Cities. Chichester:
Wiley.