Anda di halaman 1dari 19

TUGAS

JENIS-JENIS ANESTESI

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Perioperatif


Semester VII

Disusun Oleh :
1; Alfika Dewi W

P07120213001

2; Arsinda Prastiwi

P07120213007

3; Distia Taravella
4; Intan Mirantia

P07120213013
P07120213022

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES YOGYAKARTA
JURUSAN KEPERAWATAN
2016

Jenis-Jenis Anestesi
Anestesi menurut arti kata adalah hilangnya kesadaran rasa sakit, namun
obat anestasi umum tidak hanya menghilangkan rasa sakit akan tetapi juga
menghilangkan kesadaran. Pada operasi-operasi daerah tertentu seperti perut,
maka selain hilangnya rasa sakit dan kesadaran, dibutuhkan juga relaksasi otot
yang optimal agar operasi dapat berjalan dengan lancar (Ibrahim, 2000).
Anestesi memang diciptakan dalam berbagai sediaan dan cara kerja.
Namun, secara umum anestesi ini dibedakan menjadi tiga golongan yaitu anestesi
lokal, regional, dan umum.
A; Anestesi Lokal
1; Definisi

Anestesi lokal didefinisikan sebagai kehilangan sensasi pada area


tertentu dan terbatas yang dipersarafi oleh nervus tertentu pada tubuh akibat
depresi eksitasi ujung serabut saraf ataupun karena inhibisi pada proses
konduksi pada nervus perifer.Anestesi lokal ini bersifat ringan dan biasanya
digunakan untuk tindakan yang hanya perlu waktu singkat. Oleh karena efek
mati rasa yang didapat hanya mampu dipertahankan selama kurun waktu
sekitar 30 menit seusai injeksi, bila lebih dari itu, maka akan diperlukan
injeksi tambahan untuk melanjutkan tindakan tanpa rasa nyeri.
2; Struktur Anestesi Lokal
Struktur dasar dari anastesi lokal terdiri dari tiga bagian, yakni suatu
gugus amino hidrofil ( sekunder atau tersiaer ) yang dihubungkan oleh suatu
ikatan ester ( alcohol ) atau amaida dengan gugus aromatis lipofil. Semakin
panjang gugus alkoholnya maka semakin besar daya anastesinya, tetapi
toksisitasnya juga meningkat.
Anastesi lokal dapat digolongkan secara kelompok sebagai berikut :
a; Senyawa ester : kokain dan ester PABA (tetrakain, benzokain, kokain,
prokain)
b; Senyawa amida : dibukain, lidokain, prilokain, mepivakain
c; Lainnya : fenol, benzialkohol, etilklorida
d; Semua obat tersebut diatas adalah sintetis kecuali kokain yang alami.
Syarat ideal anestesi local :
a; Tidak merusak jaringan secara permanen
b; Batas keamanan lebar
c; Onset cepat

d; Durasi lambat
e; Lart air
f; Stabil dalam bentuk larutan
g; Tidak rusak karena proses penyaringan
3; Cara Pemberian Anestesi Lokal

Anestesi lokal umumnya digunakan secara parental misalnya pada


waktu pembedahan kecil dimana pemakaian anestesi umum tidak
diperlukan. Beberapa cara pemberian anestesi lokal adalah:
a; Anestesi Infiltrasi, suntikan diberikan di tempat yang dibius ujung-ujung

syarafnya. Misal pada daerah kecil kulit atau pada gusi untuk pencabutan
gigi.
b; Anestesi Penyaluran Saraf, penyuntikan dilakukan pada tempat banyak
saraf berkumpul, hingga tercapai anestesi pada bagian yang lebih luas.
Misal pada lengan atau kaki
c; Anestesi Permukaan, biasanya digunakan untuk menghilangkan rasa
nyeri atau gatal. Misalnya dalam bentuk suppositoria untuk penyakit
ambein.
Pada obat anestesi lokal, biasanya yang digunakan adalah garamgaram kloridanya yang mudah larut dalam air. Untuk memperpanjang daya
kerjanya, maka sering ditambahkan obat lain untuk menciutkan pembuluh
darah (vasokonstriktor) misalnya larutan adrenalin. Selain itu absorpsi akan
diperlambat dan toksisitasnya akan berkurang, mulai kerja akan lebih cepat
dengan khasiat yang lebih bagus, serta lokasi pembedahaan tidak berdarah
namun larutan yang mengandung vasokonstriktor sebaiknya jangan
digunakan pada jari-jari tangan karena resiko gangrene.

4; Indikasi Anestesi Lokal atau Regional

Indikasi anestesi lokal atau regional menurut Thomas B. Boulton dan Colin
E. Blogg.
a; Jika nyawa penderita dalam bahaya karena kehilangan kesadarannya,
sebagai contoh sumbatan pernapasan atau infeksi paru.
b; Kedaruratan karena tidak ada waktu untuk mengurangi bahaya anestesi
umum.Hal ini dapat terjadi pada beberapa kasus, seperti lambung penuh
dan partus obstetrik operatif dan pada kasus-kasus diabetes, miastenia
gravis, penyakit sel darah bulan sabit, usia lanjut, atau debil serta
pembedahan yang lama pada reimplantasi jari-jari yang cidera.
c; Menghindari bahaya pemberian obat anestesi umum.Sebagai contoh pada
porfiria intermiten akut, anestesi dengan halotan berulang, miotonia dan
gagal ginjal atau hepar
d; Prosedur yang membutuhkan kerjasama dengan penderita seperti pada

perbaikan tendo, pembedahan mata, serta pemeriksaan gerakan faring


e; Lesi superfisialis minor dan permukaan tubuh, seperti ekstraksi gigi
tanpa penyulit, lesi kulit, laserasi minor dan revisi jaringan parut
f; Pemberian anelgesi pasca bedah.Contohnya adalah sirkumsisi
torakotomi, herniorafi, tempat donor cangkok kulitserta pembedahan
abdomen
g; Untuk menimbulkan hambatan simpatik seperti pada free flap atau
pembedahan reimplantasi atau iskhemia ekstermitas.
h; Jika penderita atau ahli bedah atau ahli anestesi lebih menyukai anestesi
lokal serta dapat meyakinkan para pihak lainnya bahwa anestesi lokal
saja sudah cukup.
5; Kontra Indikasi Terhadap Penggunaan Anestesi Lokal
Kontra indikasi terhadap penggunaan anestesi lokal menurut Thomas B.
Boulton dan Colin E. Blogg.
a; Alergi atau hipersensitivitas terhadap obat anestesi tertentu yang telah
diketahui, kejadian seperti ini jarang ditemukan, sebagian besar reaksi
alergi atau hipersensitivitas disebabkan baik oleh kelebihan dosis atau
suntikan intravaskuler
b; Kurangnya tenaga terampil yang mampu mengatasi dan atau mendukung
teknik tertentu.Terdapat beberapa teknik anestesi yang harus dipelajari
dengan baik dan dilakukan berulangkali dengan tingkat keberhasilan

c;
d;
e;

f;
g;

yang tinggi, contohnya penarikan darah pada anestesi intravena regional


atau cairan cerebrospinalis pada anestesi spinal.
Kurangnya prasarana resusitasi.
Infeksi lokal atau iskhemia pada tempat suntikan.Asidosis lokal dapat
mengurangi pengaruh agen anestesi lokal.
Pembedahan luas yang membutuhkan dosis toksis anestesi
lokal.Kadarnya dalam darah pada blok lapangan abdomen bisa tidak
berbahaya pada penderita yang sehat tetapi dapat menyebabkan reduksi
jantung yang berbahaya pada penderita yang lanjut usia dengan keadaan
otot jantung yang tidak baik.
Distorsi anatomik atau pembentukan sikatriks
Resiko hematoma pada tempat-tempat tertentu

h; Kurang kerja sama atau tidak adanya persetujuan dari pihak penderita.
6; Efek Samping Anestesi Lokal

Pemberian obat anestesi lokal memiliki efek samping yang potensial


sama tanpa bergantung pada cara pemberian. Bidan harus memehami efek
samping samping obat anestesi lokal ketika obat in diberikan lewat jalur
epidural atau spinal.
a; Efek samping obat anestesi lokal berhubungan dengan kerjanya,

khususnya kemampuannya untuk menghambat hantaran implus dalam


jaringan yang dapat tereksitasi. Obat obatan anestesi lokal akan
menyekat saluran cepat ion natrium padasemua jaringan penghantar
implus, yaitu :
1; Sistem saraf pusat
Sistem saraf pusat sangat rentan terhadap toksisitas anastesi
lokal dan merupakan tempat tanda tanda pertanda dari overdosis
ada pasien terjaga. Gejala awal adalah mati rasa circumoral,
paresthesia lidah, dan pusing. Keluhan sensory mungkin termasuk
tinnitus

dan

penglihatan

kabur.

Tanda

tanda

rangsang

( kegelisahan, agitasi, paranoia) sering mendahului depresi system


saraf pusat ( bebicara cadel, mengantuk, pingsan) berkedut otot
pembawa timbulnya kejang tonik klonik. Dengan penurunan aliran

darah otak dan paparan obat, benzodiazepines dan hiperventilasi


meningkatkan ambang kejang yang disebabkan anastesi lokal.
2;

System pernafasan
Lidokain menekan drive hipoksia ( respon ventilasi untuk
PaO2 rendah ). Apne dapat hasil dari kelumpuhan saraf frenik dan
interkostal atau depresi pusat pernafasan medural berikut kontak
lansung dengan agen anestesi lokal ( sindrom apne postretrobulbar).
Anastesi lokal rilrks otot polos bronchial, lidokain intravena ( 1.5
mg/kg ) dapat memblokir refleks bronkokonstriksi kadang kadang
dikaitkan dengan intubasi. Lidokain diberikan sebagai aerosol suatu
dapat menyebabkan bronkospasme pada beberapa pasien dengan
penyakit saluran napas reaktif.

3;

Jantung dan System kardiovaskuler


Secara umum, semua bius lokal menekan otomatisitas
miokard ( fase depolarisasi IV spontan ) dan mengurangi durasi
periode refraktori. Kontraktilitas miokard dan kecepatan konduksi
juga tertekan pada kontrasi yang lebih tinggi. Hasil ini efek dari
peubahan langsung membrane otot jantung ( natrium blockade
saluran jantung ) dan penghambat system saraf otonom. Semua
anatesi lokal kecuali kokain menghasilkan relaksasi otot polos, yang
menyebabkan beberapa derajat vasodilatasi arteriol. Kombinasi
berikutnya dari bradikardi, blok jantung, dan hipotensi dapat
berujung pada serangan jantung. Mayor toksisitas kardiovaskuler
biasanya membutuhkan sekitar tiga kali konsentrasi darah yang
menghasilkan kejang.

4;

Imunologi
Golongan ester menyebabkan reaksi alergi lebih sering,
karena merupakan derifat para amnino benzoic acids ( PABA ) yang
dikenal sebaga allergen. PABA ini dapat menediakan efek anti
bakteri dari sulfonamide yang berdasarkan antagonism persaingan

dengan PABA, oleh karena itu terapi dengan sulfa tidak boleh
dikombinasikan dengan penggunaan ester ester tersebut.
Toksisitas sangat bergantung pada :
Jumlah larutan yang disuntukan
b; Kosentrasi obat
c; Ada tidaknya adrenalin
d; Vaskularisasi tempat suntik
e; Absorpsi obat
f; Laju destruksi obat
g; Hipersensitivitas
h; Usia
i; Keadaan umum
j; Berat badan
Depresi Otot polos
a;

5;

Kontrasi uterus, usus dan kandung kemih akan tertekan oleh


kerja obat obat anastesi lokal. Inhibisi kandung kemih biasanya
menimbulkan restensi urin, tetapi sebaliknya inkontinensia urine da
fases mungkin saja terjadi. Analgesia epidural akan disertai dengan
peningkatan resiko retensi urin postpartum. Masalah yang potensial
dlam jangka pendek dan jangka panjang yang timbul akibat
kateterisasi urine yang berkali kali.
B; Anestesi Regional
1; Definisi

Anestesi regional adalah anestesi lokal dengan menyuntikan obat


anestesi disekitar syaraf sehingga area yang di syarafi teranestesi. Anestesi
regional dibagi menjadi epidural, spinal dan kombinasi spinal epidural,
spinal anestesi adalah suntikan obat anestesi kedalam ruang subarahnoid
dan ekstradural epidural di lakukan suntikan kedalam ekstradural.( Brunner
& suddarth, 2002 ).
Spinal anestesi atau Subarachniod Blok (SAB) adalah salah satu
teknik anestesi regional yang dilakukan dengan cara menyuntikkan obat
anestesi lokal ke dalam ruang subarachnoid untuk mendapatkan analgesi
setinggi dermatom tertentu dan relaksasi otot rangka.
2; Metode Pemberian Anestesi Regional

Metode pemberian Anestesi regional dibagi menjadi dua, yaitu


secara blok sentral dan blok perifer (Latief, 2001).
1; Blok Sentral (Blok Neuroaksial)
Blok sentral dibagi menjadi tiga bagian yaitu anestesi Spinal, Epidural
dan Kaudal (Latief, 2001).
a. Anestesi Spinal
Anestesi spinal merupakan tindakan pemberian anestesi
regional ke dalam ruang subaraknoid. Hal-hal yang mempengaruhi
anestesi spinal antara lain jenis obat, dosis obat yang digunakan, efek
vasokonstriksi, berat jenis obat, posisi tubuh, tekanan intra abdomen,
lengkung tulang belakang, usia pasien, obesitas, kehamilan, dan
penyebaran obat.
b. Anestesi Epidural
Anestesi epidural ialah blokade saraf dengan menempatkan
obat pada ruang epidural (peridural, ekstradural) di dalam kanalis
vertebralis pada ketinggian tertentu, sehingga daerah setinggi
pernapasan yang bersangkutan dan di bawahnya teranestesi sesuai
dengan teori dermatom kulit (Bachsinar, 1992). Ruang epidural
berada di antara durameter dan ligamentun flavum. Bagian atas
berbatasan dengan foramen magnum dan dibawah dengan selaput
sakrogliseal. Anestesi epidural sering dikerjakan untuk pembedahan
dan penanggulangan nyeri pasca bedah, tatalaksana nyeri saat
persalinan, penurunan tekanan darah saat pembedahan supaya tidak
banyak perdarahan, dan tambahan pada anestesia umum ringan
karena penyakit tertentu pasien (Latief, 2001).
c. Anestesi Kaudal
Anestesi kaudal sebenarnya sama dengan anestesi epidural,
karena ruang kaudal adalah kepanjangan dari ruang epidural dan
obat ditempatkan di ruang kaudal melalui hiatus sakralis. Hiatus
sakralis ditutupi oleh ligamentum sakrogsigeal tanpa tulang yang
analog

dengan

ligamentum

supraspinosum

dan

ligamentum

interspinosum. Ruang kaudal berisi saraf sacral, pleksus venosus,


felum terminale dan kantong dura (Latief, 2001).
3; Persiapan spinal Anestesi

Pada dasarnya persiapan anestesi spinal seperti persiapan anestesi


umum, daerah

sekitar tusukan

diteliti apakah akan menimbulkan

kesulitan,misalnya kelainan anatomis tulang punggung atau pasien gemuk


sehingga tidak teraba tonjolan prosesus spinosus. ( Latief, 2001) Selain itu
perlu di perhatikan hal-hal dibawah ini :
a; Izin dari pasien (Informed consent)
b; Pemeriksaan fisik
b; Tidak dijumpai kelainan spesifik seperti kelainan tulang punggung
c; Pemeriksaan Laboratorium anjuran HB, HT, PT (Protombin Time)

dan

PTT (Partial Thromboplastine Time).


d; Obat-obat Lokal Anesthesi.
Salah satu faktor yang mempengaruhi spinal anestesi blok adalah
barisitas (Barik Grafity) yaitu rasio densitas obat spinal anestesi yang
dibandingkan dengan densitas cairan spinal pada suhu 370C. Barisitas
penting diketahui karena menentukan penyebaran obat anestesi lokal dan
ketinggian blok karena grafitasi bumi akan menyebabkan cairan hiperbarik
akan cendrung ke bawah. Densitas dapat diartikan sebagai berat dalam gram
dari 1ml cairan (gr/ml) pada suhu tertentu. Densitas berbanding terbalik
dengan suhu (Gwinnutt, 2011).
Obat-obat lokal anestesi berdasarkan barisitas dan densitas dapat di
golongkan menjadi tiga golongan yaitu:

a; Hiperbarik

Merupakan sediaan obat lokal anestesi dengan berat jenis obat


lebih besar dari pada berat jenis cairan serebrospinal, sehingga dapat
terjadi perpindahan obat ke dasar akibat gaya gravitasi. Agar obat
anestesi lokal benarbenar hiperbarik pada semua pasien maka baritas

paling rendah harus 1,0015gr/ml pada suhu 37C. contoh: Bupivakain


0,5% (Gwinnutt, 2011).
b; Hipobarik

Merupakan sediaan obat lokal anestesi dengan berat jenis obat


lebih rendah dari berat jenis cairan serebrospinal. Densitas cairan
serebrospinal pada suhu 370C adalah 1,003gr/ml. Perlu diketahui variasi
normal cairan serebrospinal sehingga obat yang sedikit hipobarik belum
tentu menjadi hipobarik bagi pasien yang lainnya. contoh: tetrakain,
dibukain. (Gwinnutt, 2011).
c; Isobarik

Secara definisi obat anestesi lokal dikatakan isobarik bila


densitasnya sama dengan densitas cairan serebrospinalis pada suhu 370C.
Tetapi karena terdapat variasi densitas cairan serebrospinal, maka obat
akan menjadi isobarik untuk semua pasien jika densitasnya berada pada
rentang standar deviasi 0,999-1,001gr/ml. contoh: levobupikain 0,5%
(Viscomi 2004).
Spinal anestesi blok mempunyai beberapa keuntungan antara lain:
perubahan metabolik dan respon endokrin akibat stres dapat dihambat,
komplikasi terhadap jantung, paru, otak dapat di minimal, tromboemboli
berkurang, relaksasi otot dapat maksimal pada daerah yang terblok sedang
pasien masih dalam keadaan sadar. (Kleinman et al,2006).
Persiapan Alat Anestesi Spinal ( Latief, 2001)
a.
b.
c.
d.

Peralatan monitor
Tekanan darah, nadi, oksimetri denyut (pulse oximeter) dan EKG.
Peralatan resusitasi / anestesi umum.
Jarum spinal

4; Prosudur spinal anestesi

Anestesi spinal dan epidural dapat dilakukan jika peralatan monitor


yang sesuai dan pada tempat dimana peralatan untuk manajemen jalan nafas
dan resusitasi telah tersedia. Sebelum memosisikan pasien, seluruh peralatan
untuk blok spinal harus siap untuk digunakan, sebagai contoh, anestesi lokal

telah dicampur dan siap digunakan, jarum dalam keadaan terbka, cairan
preloading sudah disiapkan. Persiapan alat akan meminimalisir waktu yang
dibutuhkan untuk anestesi blok dan kemudian meningkatkan kenyamanan
pasien.
Adapun prosedur dari anestesi spinal adalah sebagai berikut
(Morgan, 2006):
a; Inspeksi dan palpasi daerah lumbal yang akan ditusuk (dilakukan ketika

kita visite pre-operatif), sebab bila ada infeksi atau terdapat tanda
kemungkinan adanya kesulitan dalam penusukan, maka pasien tidak
perlu dipersiapkan untuk spinal anestesi.
b; Posisi pasien :
1; Posisi Lateral. Pada umumnya kepala diberi bantal setebal 7,510cm, lutut dan paha fleksi mendekati perut, kepala ke arah dada.
2; Posisi duduk. Dengan posisi ini lebih mudah melihat columna
vertebralis, tetapi pada pasien-pasien yang telah mendapat
premedikasi mungkin akan pusing dan diperlukan seorang asisten
untuk memegang pasien supaya tidak jatuh. Posisi ini digunakan
terutama bila diinginkan sadle block.
3; Posisi Prone. Jarang dilakukan, hanya digunakan bila dokter bedah
menginginkan posisi Jack Knife atau prone.
4; Kulit dipersiapkan dengan larutan antiseptik seperti betadine,
alkohol, kemudian kulit ditutupi dengan doek bolong steril.
5; Cara penusukan.
Pakailah jarum yang kecil (no. 25, 27 atau 29). Makin besar nomor
jarum, semakin kecil diameter jarum tersebut, sehingga untuk
mengurangi komplikasi sakit kepala (PDPH=post duran puncture
headache), dianjurkan dipakai jarum kecil. Penarikan stylet dari
jarum spinal akan menyebabkan keluarnya likuor bila ujung jarum
ada di ruangan subarachnoid. Bila likuor keruh, likuor harus
diperiksa dan spinal analgesi dibatalkan. Bila keluar darah, tarik
jarum beberapa mili meter sampai yang keluar adalah likuor yang
jernih. Bila masih merah, masukkan lagi stylet-nya, lalu ditunggu 1
menit, bila jernih, masukkan obat anestesi lokal, tetapi bila masih

merah, pindahkan tempat tusukan. Darah yang mewarnai likuor


harus dikeluarkan sebelum menyuntik obat anestesi lokal karena
dapat menimbulkan reaksi benda asing (Meningismus).
5; Indikasi Spinal Anestesi (Yuswana, 2005)
a; Operasi ektrimitas bawah, meliputi jaringan lemak, pembuluh darah dan

tulang.
b; Operasi daerah perineum termasuk anal, rectum bawah dan dindingnya
atau pembedahan saluran kemih.
c; Operasi abdomen bagian bawah dan dindingnya atau operasi peritoneal.
d; Operasi obstetrik vaginal deliveri dan section caesaria.
e; Diagnosa dan terapi
6; Kontra indikasi Spinal Anestesi (Latief, 2001)
a. Absolut
1) Pasien menolak
2) Infeksi tempat suntikan
3) Hipovolemik berat, syok
4) Gangguan pembekuan darah, mendapat terapi antikoagulan
5) Tekanan intracranial yang meninggi
6) Hipotensi, blok simpatik menghilangkan mekanisme kompensasi
7) Fasilitas resusitasi minimal atau tidak memadai
b. Relatif
1) Infeksi sistemik (sepsis atau bakterimia)
2) Kelainan neurologis
3) Kelainan psikis
4) Pembedahan dengan waktu lama
5) Penyakit jantung
6) Nyeri punggung
7) Anak-anak karena kurang kooperatif dan takut rasa baal.
7; Komplikasi spinal anestesi

Komplikasi anestesi spinal adalah hipotensi, hipoksia, kesulitan


bicara, batuk kering yang persisten, mual muntah, nyeri kepala setelah
operasi, retansi urine dan kerusakan saraf permanen (Bunner dan Suddart,
2002 ; Kristanto 1999).
Komplikasi anestesi adalah penyulit yang terjadi pada periode
perioperatif dapat dicetuskan oleh tindakan anestesi sendiri dan atau
kondisi pasien. Penyulit dapat ditimbulkan belakangan setelah
pembedahan. Komplikasi anestesi dapat berakibat dengan kematian atau
cacat menetap jika todak terdeteksi dan ditolong segera dengan tepat.

Kompliaksi kadang-kadang datangnya tidak diduga kendatipun anestesi


sudah dilaksanakan dengan baik. Keberhasilan dalam mengatasi
komplikasi anestesi tergantung dari deteksi gejala dini dan kecepatan
dilakukan tindakan koreksi untuk mencegah keadaan yang lebih buruk.
C; Anestesi Umum
2; Definisi
Anestesi umum atau pembiusan artinya hilang rasa sakit di sertai
hilang kesadaran. Ada juga mengatakan anestesi umum adalah keadaan
tidak terdapatnya sensasi yang berhubungan dengan hilangnya kesdaran
yang reversibel (Neal, 2006).
Anestesi Umum adalah obat yang dapat menimbulkan anestesi yaitu
suatu keadaan depresi umum dari berbagai pusat di sistem saraf pusat yang
bersifat reversibel, dimana seluruh perasaan dan kesadaran ditiadakan
sehingga lebih mirip dengan keadaan pinsan. Anestesi digunakan pada
pembedahan dengan maksud mencapai keadaan pingsan, merintangi
rangsangan nyeri (analgesia), memblokir reaksi refleks terhadap manipulasi
pembedahan serta menimbulkan pelemasan otot (relaksasi). Anestesi umum
yang kini tersedia tidak dapat memenuhi tujuan ini secara keseluruhan,
maka pada anestesi untuk pembedahan umumnya digunakan kombinasi
hipnotika, analgetika, dan relaksasi otot.
3; Klasifikasi Obat Anestesi Umum
a; Obat Anestesik Gas (Inhalasi)
Pada umumnya anestetik gas berpotensi rendah, sehingga hanya
digunakan untuk induksi dan operasi ringan. Anestetik gas tidak mudah
larut dalam darah sehingga tekanan parsial dalam darah cepat meningkat.
Batas keamanan antara efek anestesi dan efek letal cukup lebar. Obat
anestesi inhalasi ini dihirup bersama udara pernafasan ke dalam paru-paru,
masuk ke darah dan sampai di jaringan otak mengakibatkan narkose.
Contoh obat anestesik inhalasi yaitu :
1; Dinitrogen Monoksida (N2O atau gas tertawa)
Dinitrogen Monoksida merupakan gas yang tidak berwarna, tidak
berbau, tidak berasa dan lebih berat daripada udara. N2O biasanya
tersimpan dalam bentuk cairan bertekanan tinggi dalam baja, tekanan
penguapan pada suhu kamar 50 atmosfir.
2; Siklopropan

Siklopropan merupakan anestetik gas yang kuat, berbau spesifik, tidak


berwarna, lebih berat daripada udara dan disimpan dalam bentuk cairan
bertekanan tinggi. Gas ini mudah terbakar dan meledak karena itu
hanya digunakan dengan close method. Siklopropan relative tidak larut
dalam darah sehingga menginduksi dengan cepat (2-3 menit).
b; Obat Anestesi yang Menguap
Anestetik yang menguap (volatile anesthetic) mempunyai 3 sifat
dasar yang sama yaitu berbentuk cairan pada suhu kamar, mempunyai sfat
anestetik kuat pada kadar rendah dan relatif mudah larut dalam lemak,
darah dan jaringan. Kelarutan yang baik dalam darah dan jaringan dapat
memperlambat terjadinya keseimbangan dan terlawatinya induksi, untuk
mengatasi hal ini diberikan kadar lebih tinggi dari kadar yang dibutuhkan.
Bila stadium yang diinginkan sudah tercapai kadar disesuaikan untuk
mempertahankan stadium tersebut. Untuk mempercepat induksi dapat
diberika zat anestetik lain yang kerjanya cepat kemudian baru diberikan
anestetik yang menguap.
Umumnya anestetik yang menguap dibagi menjadi dua golongan
yaitu golongan eter misalnya eter (dietileter) dan golongan hidrokarbon
halogen misalnya halotan, metoksifluran, etil klorida, dan trikloretilen.
contoh obat anestesik yang menguap yaitu :
1; Eter
Eter merupakan cairan tidak berwarna, mudah menguap, berbau mudah
terbakar, mengiritasi saluran nafas dan mudah meledak. Sifat analgesik
kuat sekali, dengan kadar dalam darah arteri 10-15 mg % sudah terjadi
analgesik tetapi penderita masih sadar.
2; Halotan
Merupakan cairan tidak berwarna, berbau enak, tidak mudah terbakar
dan tidak mudah meledak meskipun dicampur dengan oksigen. Halotan
bereaksi dengan perak, tembaga, baja, magnesium, aluminium, brom,
karet dan plastik. Karet larut dalam halotan, sedangkan nikel, titanium
dan polietilen tidak sehingga pemberian obat ini harus dengan alat
khusus yang disebut fluotec.
3; Metoksifluran

Merupakan cairan jernih, tidak berwarna, bau manis seperti buah, tidak
mudah meledak, tidak mudah terbakar di udara atau dalam oksigen.
Pada kadar anestetik, metoksifluran mudah larut dalam darah.
c; Obat Anestesi Intravena (Anestetik Parenteral)
Obat ini biasa digunakan sendiri untuk prosedur pembedahan
singkat dan kebanyakan obat anestetik intravena dipergunakan untuk
induksi. Kombinasi beberapa obat mungkin akan saling berpotensi atau
efek salah satu obat dapat menutupi pengaruh obat yang lain. Termasuk
golongan obat ini adalah:

1; Barbiturat

Barbiturat menghilangkan kesadaran dengan blockade system sirkulasi


(perangsangan) di formasio retikularis. Pada pemberian barbiturate
dosis kecil terjadi penghambatan sistem penghambat ekstra lemnikus,
tetapi bila dosis ditingkatkan sistem perangsang juga dihambat sehingga
respons korteks menurun. Pada penyuntikan thiopental, Barbiturat
menghambat pusat pernafasan di medulla oblongata. Tidal volume
menurun dan kecepatan nafas meninggi dihambat oleh barbiturate tetapi
tonus vascular meninggi dan kebutuhan oksigen badan berkurang, curah
jantung sedikit menurun. Barbiturat tidak menimbulkan sensitisasi
jantung terhadap katekolamin.
2; Ketamin
Merupakan larutan larutan yang tidak berwarna, stabil pada suhu kamar
dan relatif aman. Ketamin mempunyai sifat analgesik, anestetik dan
kataleptik dengan kerja singkat. Sifat analgesiknya sangat kuat untuk
system somatik, tetapi lemah untuk sistem visceral.
3; Droperidol dan fentanil
Tersedia dalam kombinasi tetap, dan tidak diperguna-kan untuk
menimbulkan analgesia neuroleptik.
4; Diazepam
Menyebabkan tidur dan penurunan kesadaran yang disertai nistagmus
dan bicara lambat, tetapi tidak berefek analgesik. Juga tidak
menimbulkan potensiasi terhadap efek penghambat neuromuscular dan
efek analgesik obat narkotik. Diazepam digunakan untuk menimbulkan

sedasi basal pada anesthesia regional, endoskopi dan prosedur dental,


juga untuk induksi anestesia terutama pada penderita dengan penyakit
kardiovascular.
5; Etomidat
Merupakan anestetik non barbiturat yang digunakan untuk induksi
anestesi. Obat ini tidak berefek analgesic tetapi dapat digunakan untuk
anestesi dengan teknik infuse terus menerus bersama fentanil atau
secara intermiten.
6; Propofol
Secara kimia tak ada hubungannya dengan anestetik intravena lain. Zat
ini berupa minyak pada suhu kamar dan disediakan sebagai emulsi 1%.
Efek pemberian anestesi umum intravena propofol (2 mg/kg)
menginduksi secara cepat.
D; Indikasi Anestesi Umum
a; Infant dan anak usia muda
b; Dewasa yang memilih anestesi umum
c; Pembedahannya luas / eskstensif
d; Penderita sakit mental
e; Pembedahan lama
f; Pembedahan dimana anestesi lokal tidak praktis atau tidak memuaskan
g; Riwayat penderita tksik / alergi obat anestesi lokal
h; Penderita dengan pengobatan antikoagulantia
E; Kontra Indikasi Anastesi Umum
Kontra indikasi anestesi umum tergantung efek farmakologi pada organ yang
mengalami kelainan dan harus hindarkan pemakaian obat pada:
1; Hepar yaitu obat hepatotoksik, dosis dikurangi atau obat yang toksis
terhadap hepar atau dosis obat diturunkan
2; Jantung yaitu obat-obat yang mendespresi miokardium atau menurunkan
aliran darah koroner
3; Ginjal yaitu obat yg diekskresi di ginjal
4; Paru-paru yaitu obat yg merangsang sekresi Paru
5; Endokrin yaitu hindari obat yg meningkatkan kadar gula darah/ hindarkan
pemakaian obat yang merangsang susunan saraf simpatis pada diabetes
karena bisa menyebabkan peninggian gula darah.

F; Efek Samping Obat Anestesi Umum

Obat bius/anestesi umum/total pasti memiliki efek samping di antaranya:


1; Mengiritasi aliran udara, menyebabkan batuk dan spasme laring (golongan
halogen).
2; Menimbulkan stadium kataleptik yang menyebabkan pasien sulit tidur
karena mata terus terbuka (golonganKetamin).
3; Depresi pada susunan saraf pusat.
4; Nyeri tenggorokan.
5; Sakit kepala.
6; Perasaan lelah dan bingung selama beberapa hari.
7; Menekan pernapasan yang pada anestesi dalam terutama ditimbulkan oleh
halotan, enfluran dan isofluran. Efek ini paling ringan pada N2O dan eter.
8; Menekan system kardiovaskuler, terutama oleh halotan, enfluran dan
isofluran. Efek ini juga ditimbulkan oleh eter, tetapi karena eter juga
merangsang sistem saraf simpatis, maka efek keseluruhannya menjadi
ringan.
9; Merusak hati dan ginjal, terutama senyawa klor, misalnya kloroform.
10;Oliguri (reversibel) karena berkurangnya pengaliran darah di ginjal,
sehingga pasien perlu dihidratasi secukupnya.
11; Menekan sistem regulasi suhu, sehingga timbul perasaan kedinginan
(menggigil) pasca-bedah.

DAFTAR PUSTAKA
Boulton, Thomas B., Colin E. Block.2016.Anestesiologi.Jakarta:EGC
Erlangga. pp. 85.
Gwinnutt, Carl. L. 2011. Catatan Kuliah Anestesi Klinis ed.3; alih bahas: Susanto,
Diana; editor Bahasa Indonesia; Wisurya, K., Surya, N., Hippy, Indah.
Jakarta: EGC
Ibrahim, Muhsin dkk. (2000). Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: University
Press.
Kleinman, Wayne.2006.Spinal, Epidural, and Caudal Blocks.dalam: Morgan,
G.E., Mikhail, M.S., Murray, M.J. Clinical Anesthesiology 4thedition.
USA: Lange Medical Book
Latief, S.A., Suryadi, KA. Dachlan, MR. ed. Petunjuk Praktis Anestesiologi. Edisi
2. Jakarta : Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran
UI.
Morgan, GE., Mikhail, M.S., Murray, M.J. 2006. Clinical Anesthesiology 4th
edition. USA: Lange Medical Books
Neal, M.J. 2006. At a Glance Farmakologi Medis Edisi Kelima. Jakarta : Penerbit
Smeltzer, S., C., Bare, B., G. Brunner & Suddarth. (2002). Buku ajar keperawatan
medikal bedah. Volume 1. Edisi 8. Jakarta: EGC.