Anda di halaman 1dari 10

Program Magister Teknik Geodesi dan Geomatika

GD5201 Metodologi Pemetaan

Teknologi LIDAR (Light Detection and Ranging)


Wachid Nuraziz Musthafa, Refi Rizqi Ramadian
15112043, 15112056
Teknik Geodesi dan Geomatika, Institut Teknologi Bandung
wachidmusthafa@gmail.com, refi.rizqi@gmail.com

Abstrak. Paper ini bertujuan untuk menjelaskan teknologi LIDAR yang mencakup definisi,
komponen, cara kerja, keandalan, dan aplikasi. LIDAR merupakan teknologi pengindraan
jauh aktif yang mengaplikasikan pemancaran pulsa sebagai indicator untuk melakukan
pengukuran karakteristik permukaan bumi. Teknologi LIDAR tersusun atas beberapa
komponen seperti laser scanner, IMU/INS, dan GPS. Teknologi LIDAR dijalankan dengan
menggunakan wahana sebagai alat bantu untuk membawa komponen-komponen tersebut
untuk melakukan scanning pada daerah yang akan dilakukan pengukuran. Keandalan
teknologi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor dengan tingkat akurasi posisi vertikal yang
lebih baik dari posisi horisontalnya. Aplikasi teknologi LIDAR dapat mencakup pengukuran
batimetri, bidang kehutanan, dan arkeologi.
Keyword: LIDAR, akurasi, aplikasi LIDAR

A. Apa itu LIDAR?


LIDAR (Light Detection and Ranging) merupakan sebuah teknologi pengindraan jauh aktif
yang mengukur karakteristik dari gelombang yang dipancarkan untuk mengestimasi jarak
dengan mengukur waktu saat gelombang dipancarkan ke permukaan bumi hingga
dipantulkan kembali dan diterima oleh sensor (Carter & Schmid, 2012). Sistem ini bekerja
dengan menggunakan gelombang laser yang biasanya terdiri dari spektrum gelombang
optik (cahaya tampak dan near infrared) dengan panjang gelombang sekitar 1 m.
Dalam hal ini LIDAR dikembangkan sebagai sebuah metode untuk mendapatkan informasi
spasial tentang bentuk dan karakteristik permukaan bumi yang akurat dan tergeoreferensi

Program Magister Teknik Geodesi dan Geomatika


GD5201 Metodologi Pemetaan

secara langsung. Informasi yang bisa didapatkan dari teknologi ini dapat dibedakan menjadi
3 tipe yaitu jarak terhadap target, karakteristik kimia dari target, dan kecepatan dari target.
Secara umum teknologi LIDAR tersusun atas 3 komponen utama yaitu Laser Scanning
System, Inertial Measurenment Unit (IMU) dan GPS seperti ditunjukan pada Gambar 1.

Gambar 1. Komponen utama penyusun sistem LIDAR. (USGS,2007)


Laser scanning system digunakan untuk mendapatkan ketinggian dari target secara akurat
dengan memancarkan pulsa setiap 1000 kali per detik (10 KHz) dan mengukur waktu yang
ditempuh oleh gelombang laser tersebut saat dipancarkan hingga diterima kembali oleh
sensor. Kekuatan sensor LIDAR sangat erat kaitannya dengan kekuatan sinar laser yang
dihasilkan, cakupan dari pancaran sinar gelombang laser serta jumlah sinar laser yang
dihasilkan tiap detik (Marcoe, 2007).
Komponen Inertial Measurenment Unit (IMU) digunakan untuk mengamati pergerakan
dari sensor laser dalam bentuk sudut pitch, roll, dan yaw. IMU juga dapat berfungsi untuk
menentukan arah dari pancaran gelombang dengan menggunakan Inertial Navigation
System (INS) yang mengukur orientasi pesawat serta orientasi dari cermin pengamat
(Nayegandhi, 2007).
Komponen terakhir yaitu GPS digunakan untuk menentukan koordinat X,Y,Z dari setiap
pantulan kembali dari gelombang laser. Metode yang biasa digunakan adalah DGPS dengan

Program Magister Teknik Geodesi dan Geomatika


GD5201 Metodologi Pemetaan

akurasi posisi sebesar 5-10 meter. Komponen GPS ini juga akan menentukan referensi
sistem tinggi dari koordinat yang didapatkan yaitu ellipsoid.
Secara umum sistem LIDAR dapat digunakan dengan dua tipe wahana yaitu pesawat
terbang dan satelit. Wahana pesawat lebih banyak digunakan karena lebih efektif untuk
menjangkau daerah yang luas secara kontinyu. Penggunaan pesawat dalam sistem LIDAR
dilakukan dnegan menyusun komponen pada wahana kemudian terbang di atas daerah yang
akan dilakukan pengukuran. Wahana ini juga dimanfaatkan untuk pengukuran data
batimetri untuk daerah yang relatif dangkal (Liadsky, 2007).
Wahana satelit untuk sistem LIDAR baru dikembangkan oleh NASA dengan meluncurkan
2 misi satelit altimetri yaitu Vegetation Canopy LIDAR (VCL) dan Geosciences Laser
Altimeter System (GLAS). GLAS merupakan sebuah misi yang diluncurkan dengan tujuan
mengukur kedalaman dari lautan serta kedalaman lautan dengan akurasi yang tinggi dan
cakupan daerah secara global.
Sistem LIDAR berkembang karena memiliki beberapa keuntungan diantaranya data titik
yang sangat banyak sehingga dapat merepresentasikan permukaan secara baik, dapat
menembus kanopi pohon, dapat memberikan informasi distribusi vertikal dari kanopi
pohon, serta memberikan data ketinggian topografi serta kedalaman batimetri dangkal
dengan resolusi tinggi. Akan tetapi sistem LIDAR juga masih memiliki beberapa
kekurangan diantaranya masih cukup terpengaruh oleh cuaca, hasil pantulan gelombang
dari objek menjadi buruk ketika menyentuh permukaan yang basah, dan ketelitian data
yang dihasilkan masih bervariatif karena masih sangat bergantung dengan kondisi
permukaan objek (Vincent, 2010).
B. Bagaimana LIDAR bekerja?
Prinsip kerja LIDAR secara umum adalah sensor memancarkan sinar laser pada target
kemudian sinar tersebut dipantulkan kembali ke sensor. Berkas sinar yang ditangkap
kemudian dianalisis oleh peralatan detektor. Perubahan komposisi cahaya yang diterima

Program Magister Teknik Geodesi dan Geomatika


GD5201 Metodologi Pemetaan

dari sebuah target ditetapkan sebagai sebuah karakter objek. Waktu perjalanan sinar saat
dipancarkan dan diterima kembali diperlukan sebagai variabel penentu perhitungan jarak
dari benda ke sensor.
Penentuan posisi dengan teknologi LIDAR diilustrasikan pada Gambar 2 yang secara
matematis ditunjukkan oleh Persamaan 1. Posisi target diestimasi sebagai jumlahan dari
vektor posisi IMU dalam ruang, vektor offset posisi laser scanner terhadap IMU, dan
vektor pancaran sinar hingga target (Habib et al, 2008).

Gambar 2. Konsep penentuan posisi dengan LIDAR

(1)
Menurut karakteristik perekaman pantulannya, terdapat 3 tipe LIDAR: single return,
multiple return, dan waveform LIDAR. Karakteristik dan ilustrasi dari ketiga tipe ini
ditampilkan pada Tabel 1.

Program Magister Teknik Geodesi dan Geomatika


GD5201 Metodologi Pemetaan

Tabel 1. Matriks tipe LIDAR


Tipe LIDAR
Karakteristik

Single Return
Merekam pantulan

Multiple Return
Merekam banyak

Waveform
Merekam deret

pertama dari setiap

pantulan dari setiap pulsa

waktu intensitas

pulsa

pantulan secara
kontinyu.

Ilustrasi

Untuk mendapatkan gambar, dilakukan scanning pada lokasi yang ditentukan. Scanning
dilakukan dengan memasang laser scanner, GPS, dan INS/IMU pada wahana yang dipilih.
Pada saat laser scanner melakukan scanning sepanjang jalur terbang, pada setiap interval
waktu tertentu direkam posisinya dengan menggunakan GPS dan orientasinya dengan
menggunakan INS. Proses ini dilakukan sampai jalur yang dilakukan scanning selesai.
Proses akusisi data dilakukan dengan menerapkan mekanisme untuk memancarkan pulsa
sepanjang jalur terbang. Pemancaran pulsa ini biasanya akan membentuk pola scanning
yang merukapan susunan spasial dari balikan pulsa daru permukaan objek. Pola scanning
ini juga sangat bergantung pada jenis sensor yang digunakan dan biasanya didasarkan pada
kebutuhan data yang ingin didapatkan. Beberapa jenis pola scanning yang biasa digunakan
adalah eleptical spiral, swing mode, dan Z shaped (Gatziolis & Andersen, 2008).
Akurasi dalam proses akuisisi data dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya error
budget yang merupakan efek kesalahan dari komponen-komponen penyusun sistem
LIDAR, ground control point (GCP), tutupan lahan, kalibrasi alat, waktu akuisisi data, dan
multipath. Akurasi data yang dihasilkan dari sistem LIDAR untuk posisi vertikal kurang

Program Magister Teknik Geodesi dan Geomatika


GD5201 Metodologi Pemetaan

lebih 30 cm sedangkan untuk posisi horisontal kurang lebih 2-5 kali akurasi vertikalnya
atau sekitar 50 cm. Hal ini dapat terjadi karena pengaruh dari pergerakan wahana yang
bergerak dalam bidang horisontal sedangkan untuk bidang vertikalnya cenderung lebih
stabil (Nayegandhi, 2007).
Produk yang dihasilkan dari proses akuisisi data sistem LIDAR berupa point cloud yang
didapatkan berdasarkan balikan dari pulsa baik balikan pertama maupun terakhir dari
objek-objek yang dilalui gelombang. Kerapatan dari point cloud untuk wilayah pengukuran
2 km x 2 km bisa mencapai 3-4 titik setiap m2. Selain itu masih terdapat produk data
lainnya seperti TIN, bare earth model, dan image drop (Nayegandhi, 2007).
Pengolahan data LIDAR dilakukan terhadap data point clouds yang didapat saat proses
akuisisi data. Data yang akan diolah tersebut biasanya melalui proses filtering untuk
mendapatkan informasi spasial dari objek-objek permukaan bumi yang diinginkan.
Biasanya hal tersebut dilakukan untuk mengetahui jenis objek yang didasarkan pada
karakter pantulan pulsa yang ditangkap oleh sensor (Nayegandhi, 2007). Secara umum
pengolahan data LIDAR ditunjukkan pada Gambar 3.
M a jo r L I D A R D a t a P r o c e s s in g S t e p s
D a ta P r o c e s s in g F r o n t E n d
S c a n n e r D a ta
(R a n g e / A n g le )

P O S D a ta
( D G P S , IM U )

C a lib r a tio n &


M o u n t in g P a r a m e t e r s

G eoR ef
S o ftw a re
X, Y, Z
T r ip le ts
M a p P r o je c t io n
C u s t o m iz a t io n
B a re E a rth M o d e l

D a t a T h in n in g

R a s te r iz in g

S o ftw a re F o rm a t

C la s s if ic a t io n

A d v a n c e d P ro d u c ts

S m a ll F ile s , L o w R e s

Im a g e r y P r o d u c ts

A d v a n c e d A p p lic a t io n s

C u s t o m e r A p p lic a t io n s

Program Magister Teknik Geodesi dan Geomatika


GD5201 Metodologi Pemetaan

Gambar 3. Pengolahan data LIDAR secara umum. (USGS, 2007)


C. Aplikasi LIDAR
Teknologi LIDAR dapat diaplikasikan dan berguna untuk berbagai keperluan sebagai
berikut:
1. Pengukuran Batimetri
Teknologi LIDAR dapat digunakan utnuk pengukuran batimetri dengan karakteristik
tertentu. Karena gelombang elektromagnetik tidak dapat berpenetrasi secara baik dalam
kolom air, maka hanya untuk batimetri dangkal saja teknologi LIDAR dapat
diaplikasikan. Untuk pengukuran batimetri, biasanya digunakan laser dengan dua
panjang gelombang yang berbeda, gelombang inframerah (1064 nm) untuk mendeteksi
muka air dan gelombang hijau (532 nm) untuk mendeteksi dasar air (Quadros et al.
2008). Kedalaman dihitung dari perbedaan waktu dari dua pantulan gelombang tersebut.
2. Kehutanan
Dalam Pascual et al (2010), Peterson et al (2005), dan Carson et al (2004) disebutkan
beberapa aplikasi LIDAR untuk bidang kehutanan, misalnya estimasi volume pohon,
estimasi biomassa, tinggi rata-rata pohon, dan model permukaan digital hutan. Misalnya
untuk menghitung tinggi kanopi dapat memanfaatkan karakteristik dari multiple return
LIDAR yang mana pantulan pertama dianggap berasal dari puncak pohon sementara
pantulan berikutnya berasal dari tanah. Dengan menghitung beda waktu antara pantulan
tersebut, tinggi kanopi pohon dapat diestimasi.
3. Arkeologi

Program Magister Teknik Geodesi dan Geomatika


GD5201 Metodologi Pemetaan

LIDAR juga dapat membantu arkeolog untuk membuat model elevasi digital (DEM)
resolusi tinggi dari situs-situs arkeologi, yang dapat mengungkapkan mikro-topografi
yang tersembunyi oleh vegetasi. Fitur yang tidak bisa dibedakan di lapangan atau
melalui fotografi udara diidentifikasi dengan overlay hillshades dari DEM dibuat dengan
pencahayaan dari berbagai sudut. Dengan LIDAR, kemampuan untuk menghasilkan
resolusi tinggi dataset cepat dan relatif murah. Selain efisiensi, kemampuannya untuk
menembus kanopi hutan telah memberikan penemuan fitur yang tidak dapat dibedakan
melalui metode geospasial tradisional dan sulit dijangkau melalui survei lapangan.

Program Magister Teknik Geodesi dan Geomatika


GD5201 Metodologi Pemetaan

Daftar Pustaka
Carson WW, Andersen HE, Reutebuch, SE, McGaughey RJ. 2004. LIDAR Application in
Forestry An Overview. ASPRS Annual Conference Proceedings.
Carter, J., & Schmid, K. (2012). An Introduction to LIDAR Technology, Data, and
Applications. Charleston: NOAA Coastal Service Center.
Gatziolis, D., & Andersen, H. E. (2008). A Guide to LIDAR Data Acquisition and
Processing for the Forest of the Pacific Northwest. Portland: USDA.
Habib AF, Al-Durgham M, Kersting AP, Quackenbush P. 2008. Error Budget of LIDAR
System and Quality Control of the Derived Point Cloud. The International Archives of The
Photogrammetry, Remote Sensing and Spatial Information Sciences Vol. XXXVII.
Liadsky, J. (2007). Introduction to LIDAR. NPS Lidar Workshop.
Marcoe, K. (2007). LIDAR an Introduction and Overview. GEOG581.
Nayegandhi, A. (2007). Lidar Technology Overvuew. Airborne Lidar Technology and
Applications.
Pascual C, Garcia-Abril A, Cohen, WB, Martin-Fernandez S. 2010. Relationship between
LIDAR-derived forest canopy height and Landsat images. International Journal of Remote
Sensing Vol 31.
Peterson B, Dubayah R, Hyde P, Hofton M, Blair JB, Fites-Kaufman J. 2005. Use of
LIDAR for Forest Inventory and Forest Management Application. Proceeding of the
Seventh Annual Forest Inventory and Analysis Symposium.
Quadros ND, Collier PA, Fraser CS. 2008. Integration of Bathymetric and Topographic
LIDAR: A Preliminary Investigation. The International Archives of The Photogrammetry,
Remote Sensing and Spatial Information Science Vol XXXVII. Beijing

Program Magister Teknik Geodesi dan Geomatika


GD5201 Metodologi Pemetaan

Vincent, R. A. (2010). Light Detection and Ranging (LiDAR) Technology Evaluation.


Missouri: Sanborn Map Company.