Anda di halaman 1dari 43

REKL AMASI JAKARTA:

ASPEK LEGAL DAN KADASTER KELAUTAN


G D 5 2 0 2 A S P E K L E G A L S PA S I A L

REFI RIZQI
RAMADIAN
15112056

OUTLINE
Rujukan Legal
Aspek Legal Reklamasi
Reklamasi Jakarta
Kadaster Kelautan
Kewenangan Kadaster Kelautan

7/25/16

REFI RIZQI RAMADIAN-15112056

RUJUKAN LEGAL
UU 27/2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
sebagaimana telah diubah oleh UU 1/2014
Perpres 122/2012 tentang Reklamasi di Wilayah Pesisir dan Pulaupulau Kecil
Keppres 52/1995 tentang Reklamasi Pantai Utara Jakarta
PermenKP 17/2013 tentang Perizinan Reklamasi di Wilayah Pesisir dan
Pulau-Pulau Kecil sebagaimana telah diubah oleh PermenKP 28/2014.
PP 26/2008 tentang Rencana Tata Ruang Nasional
Perpres 54/2008 tentang Penataan Kawasan Jabodetabekpunjur
Perda DKI Jakarta 1/2012 tentang RTRW DKI Jakarta 2030
7/25/16

REFI RIZQI RAMADIAN-15112056

Perda DKI Jakarta 1/2014 tentang RDTR dan Peraturan Zonasi


Perpres 24/2010 tentang Kedudukan, Tugas dan Fungsi Kementrian
Negara serta Susunan Organisasi, Tugas, dan Fungsi Eselon 1
Kementerian Negara
Perpres 63/2015 tentang Kementerian Kelautan dan Perikanan
Perpres 20/2015 tentang Badan Pertanahan Nasional
Perka BPN 3/2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan
Pertanahan Nasional Republik Indonesia

7/25/16

REFI RIZQI RAMADIAN-15112056

ASPEK LEGAL
REKLAMASI
7/25/16

REFI RIZQI RAMADIAN-15112056

REKLAMASI
Menurut Pasal 1 UU 27/2007, Reklamasi adalah kegiatan yang
dilakukan oleh Orang dalam rangka meningkatkan manfaat
sumber daya lahan ditinjau dari sudut lingkungan dan sosial
ekonomi dengan cara pengurugan, pengeringan lahan atau
drainase.
Sementara dalam Pasal 1 Keppres 52/1995, Reklamasi adalah
kegiatan penimbunan dan pengeringan laut di bagian
perairan laut.

7/25/16

REFI RIZQI RAMADIAN-15112056

REKLAMASI
Menurut Pasal 34 UU27/2007,
(1) Reklamasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dilakukan dalam rangka
meningkatkan manfaat dan/atau nilai tambah Wilayah Pesisir dan PulauPulau Kecil ditinjau dari aspek teknis, lingkungan, dan sosial ekonomi.
(2) Pelaksanaan reklamasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib
menjaga dan memperhatikan:
a. keberlanjutan kehidupan dan penghidupan Masyarakat;
b. keseimbangan antara kepentingan pemanfaatan dan kepentingan
pelestarian fungsi lingkungan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil; serta
c. persyaratan teknis pengambilan, pengerukan, dan penimbunan material.
(3) Perencanaan dan pelaksanaan reklamasi diatur lebih lanjut dengan
Peraturan Presiden.
7/25/16

REFI RIZQI RAMADIAN-15112056

REKLAMASI : PERENCANAAN
PENENTUAN LOKASI
Lokasi reklamasi dan okasi material reklamasi dilakukan
berdasarkan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau
Kecil (RZWP3K) daerah dan/atau Rencana Tata Ruang (RTR)
nasional dan daerah dengan memepertimbangan aspek
teknis (hidro-oseanografi, hidrologi, batimetri, topografi,
geomorfologi dan geoteknik), aspek linkungan hidup (kualitas
air laut, air tanah, udara, ekosistem pesisir) dan aspek sosialekonomi (demografi, akses public, dan relokasi)
Pasal 4-10 Perpres 122/2012

7/25/16

REFI RIZQI RAMADIAN-15112056

REKLAMASI : PERENCANAAN
PENYUSUNAN RENCANA INDUK REKLAMASI
Rencana Induk Reklamasi memuat rencana peruntukan lahan,
kebutuhan
fasilitas,
tahapan
pembangunan,
rencana
pengembangan
dan
jangka
waktunya
dengan
mempertimbangkan hasil kajian lingkungan hidup startegis,
kesesuaian dengan RZWP3K atau RTR, sarana/prasarana,
akses public, fasum, kondisi ekosistem, kepemilikan lahan,
pranata social, aktivitas ekonomi, kependudukan, kearifan
lokal dan situs cagar budaya,
Pasal 11-12 Perpres 122/2012

7/25/16

REFI RIZQI RAMADIAN-15112056

REKLAMASI : PERENCANAAN
STUDI KELAYAKAN
Studi kelayakan yang dimaksud meliputi kelayakan teknis
(hidro-oseanografi,
hidrologi,
batimetri,
topografi,
geomorfologi dan geoteknik), kelayakan ekonomi-finansial
(rasio manfaat-biaya, nilai bersih perolehan sekarang, ROI,
RRI, valuasi ekonomi SDA dan LH), dan kelayakan lingkungan
hidup (rekomendasi UKL-UPL)
Pasal 13 Perpres 122/2012
7/25/16

REFI RIZQI RAMADIAN-15112056

REKLAMASI : PERENCANAAN
RANCANGAN DETAIL
Rancangan detail yang disusun berdasarkan rencana induk
dan studi kelayakan setidaknya harus memuat rancangam
penyiapan lahan dan sarana/prasaran penunjang, perataan
tanah, tanggul, pengangkutan material, drainase, mitigasi
bencana, dll.
Pasal 11-12 Perpres 122/2012
7/25/16

REFI RIZQI RAMADIAN-15112056

REKLAMASI
:
PERIZINAN
Pemerintah, pemerintah daerah, dan setiap orang yang akan melaksanakan
reklamasi wajib memiliki izin lokasi dan izin pelaksanaan reklamasi.
Untuk memperoleh izin lokasi dan izin pelaksanaan reklamasi, Pemerintah,
pemerintah daerah dan setiap orang wajib terlebih dahulu mengajukan
permohonan kepada Menteri, gubernur, atau bupati/walikota.
Menteri memberikan izin lokasi dan izin pelaksanaan reklamasi pada Kawasan
Strategis Nasional Tertentu, kegiatan reklamasi lintas provinsi, dan kegiatan
reklamasi di pelabuhan perikanan yang dikelola oleh Pemerintah.
Pemberian izin lokasi dan izin pelaksanaan reklamasi pada Kawasan Strategis
Nasional Tertentu dan kegiatan reklamasi lintas provinsi sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) diberikan setelah mendapat pertimbangan dari
bupati/walikota dan gubernur.
Gubernur dan bupati/walikota memberikan izin lokasi dan izin pelaksanaan
7/25/16
REFI RIZQI RAMADIAN-15112056
reklamasi
dalam wilayah sesuai dengan kewenangannya
dan kegiatan

REKLAMASI : PERIZINAN
Izin lokasi reklamasi berlaku untuk jangka waktu 2 (dua) tahun
dan dapat diperpanjang paling lama 2 (dua) tahun.
Izin pelaksanaan reklamasi berlaku untuk jangka waktu paling
lama 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang paling lama 5
(lima) tahun dengan mempertimbangkan metode dan jadwal
reklamasi.
Izin pelaksanaan reklamasi dapat dicabut apabila:
a. tidak sesuai dengan perencanaan reklamasi; dan/atau
b. izin lingkungan dicabut.
Pasal 19-20 Perpres 122/2012
7/25/16

REFI RIZQI RAMADIAN-15112056

REKLAMASI : PERIZINAN
Kewenangan
Menteri menerbitkan Izin
Menteri berwenang
Lokasi Reklamasi dan Izin Pelaksanaan
Reklamasi pada:

Kewenangan Gubernur

a. Kawasan Strategis Nasional Tertentu;


b. perairan pesisir di dalam
Strategis Nasional;

Gubernur berwenang menerbitkan Izin Lokasi Reklamasi dan Izin Pelaksanaan


Kawasan

c. kegiatan reklamasi lintas provinsi;


d. kegiatan reklamasi di pelabuhan
perikanan yang dikelola oleh
Kementerian;
e. kegiatan
reklamasi untuk Obyek Vital
7/25/16

Reklamasi pada:
a. perairan laut di luar kewenangan kebupaten/kota sampai dengan paling jauh 12
(dua belas) mil laut diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan/atau kearah
perairan kepulauan; dan
b. kegiatan reklamasi di pelabuhan perikanan pemda.

PermenKP 17/2013

REFI RIZQI RAMADIAN-15112056

DISKUSI
Pada Perpres 122/2012, kewenangan Menteri dalam menerbitkan perizinan pada
Kawasan Strategis Nasional Tertentu, kegiatan reklamasi lintas provinsi, dan
kegiatan reklamasi di pelabuhan perikanan yang dikelola oleh Pemerintah.
Semnetara dalam PermenKP 17/2013 sebgaimana telah diubah oleh PermenKP
28/2014, kewenangan Menteri Kawasan Strategis Nasional Tertentu; perairan pesisir
di dalam Kawasan Strategis Nasional; kegiatan reklamasi lintas provinsi; kegiatan
reklamasi di pelabuhan perikanan yang dikelola oleh Kementerian; kegiatan
reklamasi untuk Obyek Vital Nasional sesuai dengan peraturan perundangundangan.
Terdapat perbedaan beberapa poin yangs sensitive seperi perairan pesisir dalam
KSN dan reklamasi objek vital nasional.
7/25/16
Apakah
PermenKP 17/2013 batal demi hukum?

REFI RIZQI RAMADIAN-15112056

REKLAMASI JAKARTA
7/25/16

REFI RIZQI RAMADIAN-15112056

REKLAMASI JAKARTA

7/25/16

REFI RIZQI RAMADIAN-15112056

REKLAMASI JAKARTA :
KRONOLOGI
6 April 2007
Disahkan UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Pasal 6 ayat (5)
UU No. 26 Tahun 2007 menyatakan Ruang laut dan ruang udara,
pengelolaannya diatur dengan undang-undang tersendiri.
17 Juli 2007
Disahkan UU No. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan
Pulau-Pulau Kecil seperti telah diubah dalam UU No. 1 Tahun 2014.
10 Maret 2008
Diterbirkan PP No. 26 Tahun 2008 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Nasional yang di dalamnya mengatur dan menetapkan Kawasan
Perkotaan Jabodetabek-Punjur termasuk Kepulauan Seribu (Provinsi DKI
Jakarta, Banten, dan Jawa Barat) ke dalam Kawasan Strategis Nasional.
12 Agustus 2008
7/25/16
REFI RIZQI
RAMADIAN-15112056
Disahkan
Perpres No.54 Tahun 2008 tentang Penataan
Ruang
Kawasan

24 Maret 2011
Keluar Putusan Peninjauan Kembali No.12 PK/TUN/2011 tentang
Ketidaklayakan Surat Keputusan Menteri No.14 tahun 2003 tentang
Ketidaklayakan Rencana Kegiatan Reklamasi dan Revitalisasi Pantai Utara
Jakarta (Kepmen LH No. 14 Tahun 2003). Dengan demikian, Kepmen LH
tersebut secara hukum tidak berlaku lagi.
12 Januari 2012
Disahkan Perda DKI Jakarta No.1 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah 2030 yang kemudian mengubah pengaturan pulau-pulau
reklamasi yang sebelumnya diatur dalam Perda No. 8 Tahun 1995 tentang
Penyelenggaraan Reklamasi dan Rencana Tata Ruang Kawasan Pantura
Jakarta.
21 September 2012
Terbit empat surat persetujuan prinsip reklamasi oleh Gubernur Fauzi
Bowo, masing-masing:
1. Surat Gubernur No. 1290/-1.794.2 tentang Persetujuan Prinsip Reklamasi
Pulau F Kepada PTJakarta Propertindo;
2. Surat Gubernur No. 1291/-1.794.2 tetang Persetujuan Prinsip Reklamasi
Pulau G atas nama PT Muara Wisesa Samudra;
7/25/16
REFI RIZQI RAMADIAN-15112056
3. Surat
Gubernur No. 1292/-1.794.2 tentang Persetujuan
Prinsip Reklamasi

19 September 2012
Terbit Pergub DKI Jakarta No.121 Tahun 2012 tentang Penataan Ruang
Kawasan Reklamasi Pantura Jakarta.
10 Juni 2014
Terbit empat surat perpanjangan persetujuan prinsip reklamasi yang
ditandatangani oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama atau
Ahok yang sempat menjabat Plt. Gubernur dari 1 Juni 2014 hingga 23 Juli
2014, masing-masing:
1. Surat Gubernur No. 544/-1.794.2 tentang Perpanjangan Persetujuan
Prinsip Reklamasi Pulau F kepada PT. Jakarta Propertindo;
2. Surat Gubernur No. 541/-1.794.2 tentang Perpanjangan Persetujuan
Prinsip Reklamasi Pulau I kepada PT Jaladri Kartika Pakci;
3. Surat Gubernur Nomor 540/-1.794.2 tentang Persetujuan Prinsip
Reklamasi Pulau K kepada PT. Pembangunan Jaya Ancol, Tbk
4. Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta No. 542/-1.794.2tentang
Perpanjangan Izin Prinsip Reklamasi Pulau G yang diterbitkan oleh Basuki
TjahayaPurnama;
3 Juli 2013
Terbit
Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik
Indonesia
7/25/16
REFI RIZQI RAMADIAN-15112056

3 Desember 2014
Gubernur Ahok menerbitkan Izin Pelaksanaan Reklamasi Pulau G
Kepada PT. Muara Wisesa Samudra.
2 Maret 2015
Pemprov DKI Jakarta mengajukan Raperda Rencana Zonasi Wilayah
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dan Raperda tentang Rencana Tata Ruang
Kawasan Strategis Pantai Utara Jakarta. Menandai bahwa Raperda
tersebut merupakan usulan insiatif Pemerintah Gubernur Provinsi DKI
Jakarta.
15 September 2015
Koalisi Selamatkan Teluk Jakarta mengajukan gugatan terhadap Izin
Pelaksanaan Reklamasi Pulau G.
2 Oktober 2015
Gubernur Ahok menerbitkan Izin Pelaksanaan Reklamasi Pulau F dan
Pulau I.
17 November 2015
Gubernur Ahok menerbitkan Izin Pelaksanaan Reklamasi Pulau K.
21 Januari 2016
7/25/16Selamatkan Teluk Jakarta kembali mengajukan
REFI
RIZQI RAMADIAN-15112056
Koalisi
gugatan
terhadap

5 Februari 2016
Koalisi Selamatkan Teluk Jakarta melakukan aksi penolakan terhadap
Ranperda Zonasi Pesisir yang akan disahkan oleh Rapat Paripurna DPRD
Jakarta. Namun tertunda karena tidak mencapai kuorum.
1 Maret 2016
Koalisi Selamatkan Teluk Jakarta melakukan aksi penolakan terhadap
Ranperda Zonasi Pesisir yang akan disahkan oleh Rapat Paripurna DPRD
Jakarta. Namun tertunda karena tidak mencapai kuorum.
17 Maret 2016
Rapat paripurna pengesahan Ranperda Zonasi Pesisir kembali ditunda
karena tidak mencapai kuorum.
31 Maret 2016
Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh KPK terhadap M.Sanusi (angoota
DPRD DKI Jakarta) disusul penetapan tersangka terhadap Presiden
Drektur Agung Podomoro Land selaku holding grup PT.Muara Wisesa
pemegang Izin Reklamasi Pulau G.

Dikutip dari Tempo 3 April 2016


7/25/16

REFI RIZQI RAMADIAN-15112056

DISKUSI
Apakah reklamasi Jakarta sesuai dengan tata ruang?
Dalam Perpres 122/2012, reklamasi dilakukan harus berdasarkan
Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (RZWP3K)
daerah dan/atau Rencana Tata Ruang (RTR) nasional dan daerah.
Saat ini, RZWP3K Provinsi DKI Jakarta bahkan masih dalam proses,
belum ada fisiknya. Sementara dalam RTRW Provinsi DKI Jakarta
yang diatur dalam Perda 1/2012, rencana reklamasi pantai utara
Jakarta sudah disebutkan. Namun karena klausul syaratnya
dan/atau sehingga tidak perlu ada RZWP3K dan RTRW sekaligus,
maka reklamasi Jakarta sesuai dengan tata ruang.
7/25/16

REFI RIZQI RAMADIAN-15112056

DISKUSI
Pada siapa kewenangan pemberian izin reklamasi Jakarta? Menteri KKP
atau Gubernur DKI?
Pemprov DKI Jakarta bersikeras bahwa kewenangan pemberian izin
reklamasi berada pada Gubernur DKI karena Kepres 52/1995 menyatakan
demikian. Tetapi banyak yang beranggapan bahwa Kepres 52/1995 sudah
tidak berlaku lagi.
Kawasan Jabodetabek-Punjur telah ditetapkan sebagai Kawasan Strategis
Nasional (bukan KSN tertentu) seusai dengan PP 26/2008 tentang RTR
Nasional. Jika mengacu pada Perpres 122/2012, kewenangan pemeberian
izin reklamasi berada pada Gubernur karena Jabodetabek-Punjur bukan
Kawasan Strategis Nasional TERTENTU. Perdebatan mengenai status
kestrategisan kawasan Jabodetabek-Punjur masih berlangsung.
7/25/16

REFI RIZQI RAMADIAN-15112056

ANALISIS
Jika dianggap bahwa Keppres 52/1995 sudah tidak berlaku lagi
karena telah digantikan oleh peraturan diatasnya, dalam hal ini
Perpres 122/2012. Maka argument Pemda DKI Jakarta untuk
menerbitkan izin Reklamasi Jakarta berdasarkan Keppres 52/1995
menjadi cacat hukum dan harus batal demi hukum.
Jika ditinjau dari Perpres 122/2012, Gubernur DKI berhak memberi
izin karena Pantai Utara Jakarta bukan merupakan Kawasan
Strategis Nasional Tertentu sehingga kewenangannya bukan
menjadi domain Menteri KKP. Oleh karena itu, Gubernur berhak
memberi izin atas dasar klausul pada Perpres 122/2012.
7/25/16

REFI RIZQI RAMADIAN-15112056

KADASTER KELAUTAN
7/25/16

REFI RIZQI RAMADIAN-15112056

KADASTER KELAUTAN
Menurut United Nations-Permanent Committee for GIS
Infrastructure for Asia and the Pacific (UN-PCGIAP), definisi kadaster
kelautan adalah
Sistem yang memungkinkan adanya pencatatan batas-batas dan
kepentingan di laut, yang diatur secara spasial dan didefinisikan
secara fisik, terkait juga dengan batas-batas hak dan kepentingan
lain
yang
bertampalan/bersebelahan,
bukan
bertujuan
mendefinisikan batas-batas internasional tetapi lebih ke arah
bagaimana mengadministrasikan sumber daya kelautan sebuah
Negara dalam konteks UNCLOS 1982.
7/25/16

REFI RIZQI RAMADIAN-15112056

7/25/16

REFI RIZQI RAMADIAN-15112056

KADASTER KELAUTAN :
REVIEW UUPA
Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) secara legal telah
memberikan kekuasaan kepada negara dalam bidang
penguasaan ruang perairan laut sebagaimana tercantum
dalam pasal 4 ayat 3. Hak-hak yang dapat diberikan oleh
Negara dalam penguasaan ruang perairan adalah hak guna
air, pemeliharaan dan penangkapan ikan.

7/25/16

REFI RIZQI RAMADIAN-15112056

KADASTER KELAUTAN :
REVIEW UU 27/2007
UU 27/2007 tentang Pengelolaan wilayah Pesisir dan Pulau-pulau
Kecil menyebutkan bahwa setap orang (perseorangan, badan
hukum dan masyarakat adat) memiliki hak untuk mendapatkan
hak pengusahaan perairan pesisir (HP3).
Hak Pengusahaan Perairan Pesisir, selanjutnya disebut HP-3,
adalah hak atas bagian-bagian tertentu dari perairan pesisir untuk
usaha kelautan dan perikanan, serta usaha lain yang terkait
dengan pemanfaatan Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
yang mencakup atas permukaan laut dan kolom air sampai
dengan permukaan dasar laut pada batas keluasan tertentu.
7/25/16

REFI RIZQI RAMADIAN-15112056

STATUS HP3
Mahkamah Konstitusi RI pada tanggal 16 Juni 2011 telah
membatalkan HP3 sesuai dengan nomor putusan
3/PUU/VIII/2010, dimana dalam putusan tersebut telah
membatalkan Pasal 1 angka 18, Pasal 16, Pasal 17, Pasal 23
ayat 4 & 5, Pasal 50, Pasal 51, Pasal 61 ayat 1, Pasal 71 dan
Pasal 75 dalam UU 27/2007.

7/25/16

REFI RIZQI RAMADIAN-15112056

ANALISIS
Dengan dibatalkannya HP3 oleh Mahkamah Konstitusi, maka
hingga saat ini belum ada payung hukum yang secara jelas
mengatur kadaster kelautan di Indonesia.
Perlu segera dibuat payung hukum mengenai kadaster
kelautan di Indonesia mengingat pemanfaatan ruang pesisir
dan laut semakin beragam, misalnya Reklamasai.

7/25/16

REFI RIZQI RAMADIAN-15112056

KADASTER KELAUTAN :
REKLAMASI JAKARTA
Reklamasi Jakarta ditinjau dari definisinya merupakan kegiatan
pemanfaatan ruang laut dengan mengeringkan/mengurug ruang
laut tersebut menjadi daratan. Oleh karena itu, kegiatan
reklamasi termasuk hasilnya (pulau buatan) merupakan objek
dari kadaster kelautan itu sendiri.
Aturan yang belum jelas terkait kadaster kelautan, menjadikan
reklamasi Jakarta dipandang sebagai penggunaan ruang laut
secara parsial saja, bukan holistik terintegrasi sebagaimana
penggunaan lahan di darat. Tidak ada hak yang diberikan negara
kepada pelaksana reklamasi, yang ada hanya izin pelaksanaan.
7/25/16

REFI RIZQI RAMADIAN-15112056

KEMANA MENTERI FERRY?


Polemik soal reklamasi di Indonesia, terutama Teluk Jakarta,
seharusnya menjadi domain Kementerian Agraria dan Tata
Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN).
Jika selama ini persoalan reklamasi melebar ke mana-mana
dan tidak terlokalisasi dengan baik, hal itu semata karena
absennya peran Menteri ATR/BPN Ferry Mursyidan Baldan.
Padahal, reklamasi adalah masalah tata ruang, yang
seharusnya cukup satu kementerian, yakni Kementerian
ATR/BPN yang mengurusnya.
7/25/16

REFI RIZQI RAMADIAN-15112056

KEWENANGAN
KADASTER KELAUTAN
7/25/16

REFI RIZQI RAMADIAN-15112056

KEPENTINGAN K/L DALAM


KADASTER KELAUTAN

7/25/16

REFI RIZQI RAMADIAN-15112056

7/25/16

REFI RIZQI RAMADIAN-15112056

7/25/16

REFI RIZQI RAMADIAN-15112056

KKP
Peraturan
Perundang-undangan
yang
mengatur
mengenai
Kementerian Kelautan dan Perikanan tercantum dalam Peraturan
Presidan Nomor 63 Tahun 2015 tentang Kementerian Kelautan dan
Perikanan yang dapat disingkat KKP. Sebagaimana disebutkan
dalam pasal 2 dan pasal 3 bahwa KKP mempunyai tugas
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kelautan dan
perikanan khususnya dalam konteks objek ruang perairan yaitu di
bidang pengelolaan ruang laut, pengelolaan konservasi dan
keanekaragaman hayati laut, pengelolaan pesisir dan pulau-pulau
kecil, pengelolaan perikanan tangkap, pengelolaan perikanan
budidaya, penguatan daya saing dan sistem logistik produk
kelautan dan perikanan, peningkatan keberlanjutan usaha kelautan
dan perikanan, serta pengawasan pengelolaan REFI
sumber
daya
7/25/16
RIZQI RAMADIAN-15112056

KEMENTERIAN ATR-BPN
BPN-RI merupakan satu-satunya lembaga di Indonesia yang
melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pertanahan secara
nasional, regional dan sektoral sebagaimana tercantum dalam
Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia
Nomor 3 Tahun 2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan
Pertanahan Nasional Republik Indonesia. Oleh karena itu, objekobjek perairan yang terkait dengan BPN-RI diantaranya adalah
objek-objek yang berkaitan dengan pemberian izin lokasi yaitu
bangunan atas air, konservasi, reklamasi, kultur adat, pariwisata
laut, dan sumber daya MIGAS maupun terbarukan.

7/25/16

REFI RIZQI RAMADIAN-15112056

ANALISIS
Landasan hukum terkait penyelenggaraan kadaster kelautan
sebagai payung hukum yang memberikan kepastian dan
perlindungan hukum atas penyelenggaraan konsep kadaster
kelautan adalah langkah awal untuk mengadakan pengaturan
ulang aspek kelembagaan di bidang kelautan.
Yang perlu diperhatikan, konsep kadaster kelautan merupakan
kelanjutan dari konsep kadaster di darat (seamless cadastre)
sehingga prinsip-prinsip dalam penyelenggaraan kadaster kelautan
tidak bisa dipisahkan dengan kadaster darat. Oleh karena itu,
lembaga khusus yang menyelenggarakan kadaster kelautan
sebaiknya memiliki jalur koordinasi dengan BPN-RI sehingga
tercipta tertib administrasi pemanfaatan ruang laut dan
7/25/16
REFI RIZQI RAMADIAN-15112056
pemanfaatan ruang darat secara utuh.

KESIMPULAN
Aspek legal Reklamasi di Indonesia masih belum diatur secara jelas dan ada
peraturan yang melanggar peraturan di atasnya sedemikian sehingga
menimbulkan banyak masalah seperti kasus Reklamasi Jakarta. Reklamasi
Jakarta, di samping aspek social dan lingkungan yang bermasalah, aspek
legalnya pun ternyata carut-marut. Pemberian izin reklamasi masih
diperebutkan antara Kementerian Kelautan dan Perikanan dan Pemda DKI
Jakarta.
Belum jelasnya legalitas kadaster kelautan di Indonesia sebenarnya adalah
akar masalah dari buruknya tata kelola kelautan di Indonesia. Kegiatan
reklamasi sebagai objek kadaster kelautan seharusnya dipandang sebagai
penggunaan ruang perairan yang mana hak pengelolaannya diberikan oleh
lembaga yang menangani kadaster, Kemennterian ATR/BPN.
7/25/16

REFI RIZQI RAMADIAN-15112056

REFERENSI
https://www.tempo.co/topik/masalah/520/reklamasi-pantai
http://properti.kompas.com/read/2016/04/25/113930521/Gonjang-ga
njing.Reklamasi.Ke.Mana.Menteri.Ferry
.
Handayani, Mei. 2016. Kajian Aspek Kelembagaan Objek Ruang
Perairan. Skripsi: Institut Teknologi Bandung

7/25/16

REFI RIZQI RAMADIAN-15112056