Anda di halaman 1dari 3

Latar Belakang

Jurnal 1

Krisis moneter yang sempat melanda Indonesia pada tahun 1998


merupakan pelajaran berharga bagi dunia perekonomian nasional
terutama industri perbankan, dimana saat itu ketahanan bank masih
sangat lemah sehingga menyebabkan kondisi perekonomian saat itu
menjadi sangat labil.Dampak lainnya adalah turunnya jumlah kredit
yang disalurkan sektor perbankan kepada sektor riil. Selain itu,
beberapa

bank

juga

mengalami

kesulitan

likuiditas

serta

meningkatnya risiko kredit macet yang ada pada sektor perbankan.


Penyebab krisis keuangan yang melanda beberapa negara,
terutama di negara Asia pada 1997, adalah buruknya pelaksanaan
tata kelola perusahaan (Simanjuntak, 2010). Krisis finansial yang
menyebabkan

banyak

bank-bank

di

Indonesia

dilikuidasi,

meningkatnya suku bunga, dan turunnya nilai tukar rupiah terhadap


mata uang asing telah membuka mata dan menarik perhatian untuk
mengembangkan ekonomi di negara-negara Asia khususnya dalam
sektor perbankan.
Identifikasi masalah
Bagaimana pengaruh resiko kredit, risiko pasar dan risiko operasional
terhadap pengukuran tingkat efisiensi perbankan ynag listing di BEI
periode 2007-2011
a. Tujuan penelitian

Untuk melihat hubungan antara risiko kredit, risiko pasar, dan


risiko operasional terhadap pengukuran tingkat efisiensi perbankan.
Hubungan antara masing-masing risiko dengan pengukuran tingkat
efisiensi dilakukan dengan menggunakan variabel determinan yang
berbeda-beda.

Literature
A. Tingkat efesiensi

Dalam beberapa literatur, terminologi efisiensi maupun produktivitas


dianggap tidak memiliki perbedaan, karena keduanya menunjukkan
perbandingan antara input dan output. Efisiensi lebih berkaitan dengan
pola atau cara pemanfaatan input untuk menghasilkan output, sementara
produktivitas lebih banyak berhubungan dengan rasio atau hubungan
antara input dan output
B. Teori resiko
Pengertian risiko adalah kemungkinan dalam investasi dimana suatu pihak
akan menerima return yang berbeda dari return yang diharapkan
(Damodaran, 2002).
1. Risiko pasar
Menurut Saunders dan Cornett (2002: 233), risiko pasar diartikan
sebagai risiko yang berkaitan dengan ketidakpastian pendapatan suatu
institusi finansial yang diakibatkan perubahan kondisi pasar seperti
harga aset, nilai tukar, fluktuasi pasar, dan likuiditas pasar.
Risiko pasar dapat muncul mengambil dua bentuk: risiko absolut, yang
diukur dalam mata uang suatu negara, dan risiko relatif, yang diukur
relatif terhadap suatu indeks acuan. Risiko absolut terfokus pada
volatilitas dari total return sedangkan risiko relatif mengukur risiko
dalam hal melacak penyimpangan dari indeks yang dijadikan acuan.
2. Risiko Oprasional
Definisi risiko operasional menurut Laycock (1998) adalah segala risiko
yang terkait dengan pergerakan atau dinamisme suatu hasil usaha
akibat pengaruh dari hal-hal yang terkait dengan kegagalan sebuah
sistem pengawasan dan peristiwa yang tidak dapat dikontrol oleh
perusahaan.
Risiko operasional merupakan salah satu risiko finansial yang menjadi
perhatian banyak manajer perusahaan setelah Bassel Capital Accord
meminta

bank

merestrukturisasi

komersial

untuk

manajemen

mengalokasikan

bank

agar

modal

terhindar

dari

untuk
potensi

kerugian. Risiko operasional dapat menimbulkan kerugian keuangan


secara langsung maupun tidak langsung dan kerugian potensial atas
kehilangan meraih kesempatan memperoleh keuntungan yang lebih
besar.
3. Risiko Kredit
Crouchy

(2001)

berpendapat

bahwa

risiko

kredit

adalah

risiko

terjadinya perubahan dalam kualitas kredit debitur yang dapat


mempengaruhi

nilai

dari

suatu

bank.

Risiko

kredit

menjadi

pertimbangan utama bila berkaitan dengan nilai aset suatu bank, atau

memiliki replacement value yang positif. Risiko kredit berkaitan dengan


pihak peminjam tidak dapat atau tidak mau memenuhi kewajiban
untuk membayar kembali dana yang dipinjamnya secara penuh pada
saat jatuh tempo atau sesudahnya.