Anda di halaman 1dari 28

MODEL BUILDER UNTUK PERMODELAN JALUR EVAKUASI TERDEKAT BENCANA

BANJIR DI KOTA SEMARANG


Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sistem Informasi Geografis
(TKP 350)

Dikerjakan Oleh:
Nafisah Anas

21040113120054

Mazaya Ghaizani N.

21040113140086

Tegar Satriani

210401131

JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2015

0|Page

BAB I
PENDAHULUAN
a.

Latar Belakang
Berdasarkan letak geografisnya, kepulauan Indonesia terletak di antara Benua Asia dan Benua

Australia, serta di antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik dan secara astronomis Indonesia
terletak di garis 6LU- 11LS dan antara 95 BT- 141BT atau berada di garis khatulistiwa sehingga
Indonesia memiliki dua musim, yakni musim kemarau dan musim hujan. Pada saat musim hujan
Indonesia memiliki curah hujan yang tinggi.Curah hujan yang tinggi dapat menjadi potensi dan
masalah tersendiri, salah satu masalah yang dimiliki ialah banjir.
Kota Semarang merupakan salah satu kota yang berada di sebelah utara Provinsi Jawa Tengah,
sebagian besar Kota Semarang dilalui oleh sungai yang bermuara langsung ke Laut Jawa. Keadaan
topografi Kota Semarang bervariasi, mulai dari datar dibagian utara meliputi Kecamatan Tugu,
Kecamatan Semarang Barat, Kecamatan Semarang Utara, Kecamatan Semarang Timur, Kecamatan
Semarang Tengah, Kecamatan Gayamsari, Kecamatan Genuk dan Kecamatan Pedurungan hingga
berbukit di bagian selatan meliputi Kecamatan Tembalang, Kecamatan Banyumanik, Kecamatan
Gununpati dan Kecamatan Mijen. Meningkatnya kegiatan utama di Kota Semarang bagian utara
sebagai kawasan pemerintahan, industri, perdagangan dan jasa membuat kawasan dipinggiran kota
yakni bagian selatan menjadi berkembang sehingga terjadinya konversi lahan.
Bagian Selatan Kota Semarang yang didominasi menjadi kawasan lindung dan penyangga
dimanfaatkan sebagai kawasan budidaya tentu menimbulkan permasalahan yang salah satunya ialah
banjir, hal ini terjadi karena tanah sudah tidak mampu menahan air hujan yang tinggi akibat
penggundulan hutan sebagai konversi lahan sehingga bagian Utara Kota Semarang yang relatif datar
serta beberapa titik yang memiliki ketinggian dibawah permukaan laut memiliki potensi banjir yang
besar. Bencana banjir tidak hanya menimbulkan kerugian fisik tetapi juga materi bahkan nyawa yang
tidak sedikit. Hal ini tentunya mampu menyebabkan kelumpuhan dalam aktivitas perkotaan sehingga
menurunkan pendapatan ekonomi secara keseluruhan. Berdasarkan hal tersebut diperlukan upaya
antisipasi untuk mengurangi korban jiwa yang ditimbulkan. Salah satunya ialah membuat rute
evakuasi terdekat bencana banjir di Kota Semarang.
1.2

Rumusan Permasalahan
1. Bagaimana kondisi eksisting daerah rawan banjir yang ada di Kota Semarang ?
2. Bagaimana kondisi rute terbaik yang akan dibuat menuju titik evakuasi banjir ?
3. Bagaimana SIG dapat membantu dalam memetakan jangkauan pelayanan titik evakuasi
banjir dan membuat permodelan untuk menentukan rute alternatif menuju titik evakuasi
banjir di Kota Semarang ?

1|Page

1.3

Tujuan dan Sasaran

1.3.1 Tujuan
Tujuan dari disusunnya laporan ini ialah:
1.

Mengetahui daerah rawan banjir di Kota Semarang.

2.

Membuat model rute terbaik antar titik evakuasi banjir di Kota Semarang.

3.

Membuat model rute terdekat menuju titik evakuasi banjir di Kota Semarang.

4.

Membuat model jangkauan pelayanan titik evakuasi banjir di Kota Semarangberdasarkan


waktu tempuh.

5.

Membuat model builder untuk permodelan jalur evakuasi terdekat bencana banjir di Kota
Semarang.

1.3.2 Sasaran
Sasaran dari disusunnya laporan ini ialah:
1.

Mengidentifikasi daerah rawan banjir di Kota Semarang.

2.

Mengidentifikasi lokasi evakuasi banjir di Kota Semarang.

3.

Mengidentifikasi jaringan jalan yang digunakan sebagai jalur evakuasi banjir di Kota
Semarang.

4.

Mengidentifikasi hambatan dalam pelayanan evakuasi banjir di Kota Semarang

5.

Merekomendasikan permodelan jalur evakuasi terdekat bencana banjir di Kota Semarang


agar dapat diimplementasikan.

1.4

Ruang Lingkup
Pada laporan ini ruang lingkup dibagi menjadi dua yaitu ruang lingkup wilayah dan ruang

lingkup materi.
1.4.1 Ruang Lingkup Wilayah
Ruang lingkup wilayah adalah batasan wilayah studi yaitu Kota Semarang dengan wilayah di
sekitarnya. Kota Semarang adalah ibukota Provinsi Jawa Tengah, Indonesia sekaligus kota
metropolitan terbesar kelima di Indonesia sesudah Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Medan. Kota
Semarang memiliki luas wilayah sebesar 373,67 km 2, dengan jumlah penduduk 1.763.370 jiwa (Dinas
Kependudukan dan Catatan Sipil, 2015) dan mempunyai 16 kecamatan. Berikut batas administrasi
dari Kota Semarang:

Timur
Selatan
Barat
Utara

: Kabupaten Demak
: Kabupaten Semarang
: Kabupaten Kendal
: Laut Jawa

2|Page

Sumber: Bappeda Kota Semarang, 2011

Gambar 1. 1
Peta Administrasi Kota Semarang

1.4.2 Ruang Lingkup Materi


Ruang lingkup materi membahas mengenai pemetaan rute alternatif sebagai upaya untuk
menentukan jalur terdekat menuju titik evakuasi dari bencana banjir di Kota Semarang. Hal-hal yang
perlu diperhatikan sebelum melakukan pemetaan adalah dengan cara menganalisis terlebih dahulu
data-data terkait seperti data kondisi eksisting daerah rawan banjir di Kota Semarang, lokasi sungai,
serta kelerengan atau topografi dari titik evakuasi yang akan direncanakan.

3|Page

BAB II
KAJIAN TEORI
b.

Sistem Informasi Geografis

2.1.1 Pengertian SIG


SIG mempunyai kemampuan untuk menghubungkan berbagai data pada suatu titik tertentu di
bumi, menggabungkannya, menganalisa, dan akhirnya memetakan hasilnya. Data yang diolah pada
SIG adalah data spasial yaitu sebuah data yang berorientasi geografis dan merupakan lokasi yang
memiliki sistem koordinat tertentu, sebagai dasar referensinya. Sehingga aplikasi SIG dapat
menjawab beberapa pertanyaan seperti lokasi,kondisi, tren, pola dan pemodelan. Kemampuan inilah
yang membedakan SIG dengan sistem informasi lainnya.
SIG dapat diuraikan menjadi beberapa subsistem sebagai berikut :
a.

Data Input
Subsistem ini bertugas untuk mengumpulkan, mempersiapkan, dan menyimpan data spasial dan

atributnya dari berbagai sumber. Sub-sistem ini pula yang bertanggung jawab dalam mengonversikan
atau mentransformasikan format-format data aslinya ke dalam format yang dapat digunakan oeh
perangkat SIG yang bersangkutan.
b.

Data Output
Sub-sistem ini bertugas untuk menampilkan atau menghasilkan keluaran (termasuk

mengekspornya ke format yang dikehendaki) seluruh atau sebagian basis data (spasial) baik dalam
bentuk softcopy maupun hardcopy seperti halnya tabel, grafik, report, peta, dan lain sebagainya.
c.

Data Management
Sub-sistem ini mengorganisasikan baik data spasial maupun tabel-tabel atribut terkait ke dalam

sebuah sistem basis data sedemikian rupa hingga mudah dipanggil kembali atau di-retrieve, diupdate,
dan diedit.
d.

Data Manipulation & Analysis


Sub-sistem ini menentukan informasi-informasi yang dapat dihasilkan oleh SIG. Selain itu sub-

sistem ini juga melakukan manipulasi (evaluasi dan penggunaan fungsi-fungsi dan operator matematis
& logika) dan pemodelan data untuk menghasilkan informasi yang diharapkan.
Sub-sistem SIG di atas dapat diilustrasikan sebagai berikut :

4|Page

Sumber: doktafia - Sistem Informasi Geografis

Gambar 2.1
Ilustrasi Uraian Sub. Sistem SIG

2.1.2 Tugas Utama dari SIG


Berdasarkan desain awalnya tugas utama SIG adalah untuk melakukan analisis data spasial.
Dilihat dari sudut pemrosesan data geografik, SIG bukanlah penemuan baru. Pemrosesan data
geografik sudah lama dilakukan oleh berbagai macam bidang ilmu, yang membedakannya dengan
pemrosesan lama hanyalah digunakannya data digital. adapun tugas utama dalam SIG adalah sebagai
berikut :
a.

Input Data
Sebelum data geografis digunakan dalam SIG, data tersebut harus dikonversi terlebih dahulu ke

dalam bentuk digital. Proses konversi data dari peta kertas atau foto ke dalam bentuk digital disebut
dengan digitizing. SIG modern bisa melakukan proses ini secara otomatis menggunakan teknologi
scanning.
b. Pembuatan peta
Proses pembuatan peta dalam SIG lebih fleksibel dibandingkan dengan cara manual atau
pendekatan kartografi otomatis. Prosesnya diawali dengan pembuatan database. Peta kertas dapat
didigitalkan dan informasi digital tersebut dapat diterjemahkan ke dalam SIG. Peta yang dihasilkan
dapat dibuat dengan berbagai skala dan dapat menunjukkan informasi yang dipilih sesuai dengan
karakteristik tertentu.
c. Manipulasi data
Data dalam SIG akan membutuhkan transformasi atau manipulasi untuk membuat data-data
tersebut kompatibel dengan sistem. Teknologi SIG menyediakan berbagai macam alat bantu untuk
memanipulasi data yang ada dan menghilangkan data-data yang tidak dibutuhkan.
d. Manajemen file
Ketika volume data yang ada semakin besar dan jumlah data user semakin banyak, maka hal
terbaik yang harus dilakukan adalah menggunakan database management system (DBMS) untuk
membantu menyimpan, mengatur, dan mengelola data.
e. Analisis query

5|Page

SIG menyediakan kapabilitas untuk menampilkan query dan alat bantu untuk menganalisis
informasi yang ada. Teknologi SIG digunakan untuk menganalisis data geografis untuk melihat pola
dan tren.
f. Memvisualisasikan hasil
Untuk berbagai macam tipe operasi geografis, hasil akhirnya divisualisasikan dalam bentuk
peta atau graf. Peta sangat efisien untuk menyimpan dan mengkomunikasikan informasi geografis.
Namun saat ini SIG juga sudah mengintegrasikan tampilan peta dengan menambahkan laporan,
tampilan tiga dimensi, dan multimedia.
2.2

Analisis Spatial
Secara umum, analisis spasial adalah suatu teknik atau proses yang melibatkan sejumlah

hitungan dan evaluasi logika (matematis) yang dilakukan dalam rangka mencari atau menemukan
potensi hubungan atau pola - pola yang (mungkin) terdapat di antara unsur unsur geografis yang
terkandung dalam data digital dengan batas batas wilayah studi tertentu. Pada laporan ini, analisis
spatial yang digunakan salah satu nya ada buffering. Buffer adalah analisis spasial yang
menghasilkan unsur unsur spasial di

dalam layer lain yang bertipe polygon. Unsur unsur ini

merupakan area atau buffer yang berjarak (yang ditentukan) dari unsur - unsur
menjadi masukannya (ditentukan atau

akan

spasial yang

terpilih sebelumnya melalui salah satu mekanisme query).

Fungsi buffer adalah membuat poligon baru berdasarkan jarak yang telah ditentukan pada data garis
atau titik maupun poligon.
Sebagai contoh, kita akan melakukan buffer terhadap jarak sungai 50 meter, menggunakan
fasilitas buffer yang kita pilih, kemudian komputer akan mengolah sesuai perintah kita. Prinsip proses
buffer dapat kamu lihat pada gambar berikut.

Sumber:

Gambar 2.2
Model Buffering

Dalam proses buffer, software yang digunakan mempunyai kemampuan untuk mengukur jarak. Oleh
karena itu, pada subsistem manipulasi dan analisis data juga dapat dilakukan operasi pengukuran
seperti pengukuran jarak. Dalam spasial analyst ada beberapa fungsi editing guna mempermudah
analisis data spatial (terutama polygon) yang akan dilakukan diantara nya adalah:

a.

Dissolve

6|Page

Proses dissolve akan menggabungkan feature yang berada dalam satu theme berdasarkan nilai
dari attribute yang telah ditentukan. Proses ini akan mengumpulkan beberapa feature yang
mempunyai nilai yang sama pada sebuah attribute yang telah ditentukan. Lihat gambar berikut:

Gambar 2.3
Dissolve

b.

Merge
Merge merupakan suatu proses untuk membuat satu theme yang mengandung feature yang
berasal dari dua atau lebih theme. Dengan kata lain, proses ini akan menambahkan feature dari
dua atau lebih theme ke dalam sebuah theme. Dalam proses ini, attribute yang mempunyai
nama yang sama akan tetap di simpan dan digunakan. Lihat gambar berikut:

Gambar 2.4
Merge

c.

Clip
Clip merupakan suatu proses untuk membuat sebuah theme baru dengan meng-overlay-kan
feature dari dua buah theme. Salah satu dari dua theme tersebut haruslah merupakan poligon
theme yang disebut overlay theme. Proses clip menggunakan sebuah clip theme yang
berfungsi sebaga cookie cutter untuk mengclip sebuah input theme, namun dalam prosesnya
tidak mengubah attribute theme tersebut. Lihat gambar berikut:

Gambar 2.5
Clip

d.

Intersect
Proses Intersect digunakan untuk mengintegrasikan dua buah spasial data. Dalam prosesnya,
sebuah input theme akan integrasikan dengan sebuah overlay theme untuk menghasilkan
sebuah output theme. Output theme mengandung feature dari overlay theme dan hanya feature
dari input theme yang overlaid dengan feature dari overlay theme. Feature lainnya akan
dihilangkan. Lihat gambar berikut.

7|Page

Gambar 2.6
Intersect

e.

Union
Proses Union akan menghasilkan sebuah theme baru dengan meng-overlay-kan dua buah
poligon theme yang mengandung seluruh feature dan attribute (full extent) dari dua buah
polygon theme tersebut. Lihat gambar berikut.

Gambar 2.7
Union

f.

Assign Data by Location


Proses Assing Data by Location akan melakukan sebuah spasial join dari dua buah theme yang
ditentukan berdasarkan hubungan spasial (spatial relationship) antara feature dari kedua buah
theme tersebut. Lihat gambar berikut.

Gambar 2.8
Assign Data by Location

2.3

Network Analyst
Network Analyst merupakan salah satu extention yang disediakan pada software ArcGis yang

memiliki kemampuan untuk melakukan analisa jaringan, dimana dalam melakukan analisa jaringan
Network Analyst akan menemukan jalur yang paling kecil impedansinya. Network Analyst memiliki
kemampuan untuk membuat network dataset dan melakukan analisa pada jaringan tersebut. Extention
ini dibuat dengan menggunakan beberapa bagian aplikasi dari ArcGis yaitu ArcCatalog untuk
membuat network dataset, ArcMap untuk melakukan analisis dan ArcToolbox untuk melakukan
proses geoprosesing. Network dataset wizard di dalam ArcCatalog akan memudahkan untuk membuat
sebuah dataset dari sebuat geodatabase atau shapefile, wizard ini akan membantu untuk
mengidentifikasi feature class yang akan digunakan, menetapkan aturan di dalam jaringan dan
mengidentifikasi atribut di dalam jaringan (ESRI, 1998). Network Analyst dapat menemukan jalan
terbaik dari satu lokasi ke lokasi lain atau menemukan jalan terbaik untuk mengunjungi beberapa
lokasi. Lokasi dapat ditentukan secara interaktif dengan menempatkan titik-titik pada layer, dengan
memasukkan alamat atau dengan menggunakan titik dalam fitur yang ada pada fitur kelas.
ESRI (2012) mengelompokkan layer Network Analyst menjadi lima jenis, yaitu:
a.

Route

8|Page

Ekstensi ini digunakan untuk menemukan rute terbaik untuk bergerak dari suatu lokasi ke
lokasi lain. Rute terbaik dapat memiliki beragam arti. Rute terbaik dapat berarti terdekat, tercepat
atau terindah tergantung pada impedansi yang dipakai. Bila impedansi yang dipakai adalah waktu,
maka rute terbaik adalah rute yang tercepat.
b.

Closest Facility
Closest facility merupakan ekstensi yang digunakan untuk menemukan fasilitas mana yang

paling dekat, seperti rumah sakit yang terdekat dari sekian banyak rumah sakit, sekolah mana yang
terdekat dengan rumah dan lain-lain. Setelah menemukan fasilitas terdekat, maka ekstensi ini juga
dapat menampilkan rute yang terbaik untuk menuju fasilitas tersebut.
c. Service Areas
Service areas digunakan untuk menemukan area yang dapat diakses dari suatu titik yang ada
pada suatu jaringan. Sebagai contoh, service area 10 menit dari suatu fasilitas akan menunjukkan
seluruh jalan yang dapat mencapai fasilitas tersebut dalam waktu 10 menit.
d. OD cost matrix
OD (Origin-Destination) cost matrix adalah suatu tabel yang berisi impedansi jaringan dari
berbagai titik asal ke berbagai titik tujuan. Sebagai tambahan, ekstensi ini dapat membuat peringkat
setiap tujuan yang terhubung dengan berbagai titik asal berdasarkan impedansi minimum yang
diperlukan untuk berjalan dari titik asal tersebut ke berbagai tujuan.
e. Vehicle routing problem
Tool ini berfungsi untuk menyediakan pelayanan level tinggi terhadap pelanggan dengan
memperhatikan waktu operasi secara keseluruhan dan biaya yang harus dikeluarkan untuk setiap
rute sekecil mungkin. Konstrain dari tool ini adalah menyelesaikan sutu rute dengan sumber daya
yang tersedia dan batas waktu yang dipengaruhi oleh shift bekerja supir, kecepatan mengemudi dan
komitmen dari para pelanggan.
2.4

Model Builder
Model Builder secara umum pada perangkat lunak ArcGIS bisa disebut sebagai sebuah aplikasi

atau modul tambahan yang dapat memfasilitasikan cara untuk mengotomasikan (batch) sejumlah
urutan proses rutin mengenai pembuatan data spasial agar kemudian dapat diulangi secara presisi
kapan saja dan oleh siapa saja tanpa kesalah yang berarti.
Aplikasi tambahan ini digunakan untuk menentukan proses-proses serta urutan kerja sejumlah
tools dan sript terkait yang dimilikinya khususnya yang terdapat di dalam panel ArcToolbox. Selain
itu di dalam aplikasi tersebut setiap pengguna akan menyusun (menyisipkan atau drag and drop )
diagram-diagram model simbol atau objek data dan proses (tool) yang diperlukan untuk melakukan
analisis spasial yang biasa disebut aliran kerja Model Builder mempunyai beberapa komponen utama
yaitu:
a.

Elements

9|Page

Element dalam Model Builder terbagi menjadi 2 jenis yaitu tools dan variables. Tool elements
digambarkan dalam bentuk persegi, biasanya tool elements diambil dari ArcToolbox. Variables
digambarkan dalam bentuk oval. Variables terbagi menjadi 2 tipe: data dan values.
b.

Data variables
Data variables merupakan data yang tersimpan dalam disk atau layer yang tampak pada table of

contents ArcMap. Values variables (nilai variabel) adalah angka, teks, referensi spasial dan
geographic extents. Ada 2 tipe Values variables yaitu: input dan derived.
c.

Connectors
Connectors model builder terdiri dari empat tipe: Data, Environment, Precondition, and

Feedback. Connector arrows menunjukkan arah dari proses.


d.

Text labels
Text labels dalam model builder digunakan sebagai keterangan tambahan pada variable, tool,

maupun connector model element. Text labels tidak termasuk sebagai bagian urutan proses. Text
labels dapat diikatkan kepada element model dan dapat juga berdiri sendiri di dalam diagram
model.
Model Builder mempunyai beberapa keunggulan sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.

Memproses sebuah model secara sekaligus tidak satu persatu.


Dapat membantu mengeksplorasi suatu tool yang digunakan dalam proses membuat model.
Sangat mudah digunakan dengan menggunakan logika dan lain-lain.
Keunggulan paling utama model builder adalah dapat memproses model yang sederhana
sampai paling rumit.

BAB III
STUDI KASUS

10 | P a g e

c.

Studi Kasus
Kota Semarang merupakan salah satu kota yang berada di sebelah utara Provinsi Jawa Tengah,

sebagian besar Kota Semarang dilalui oleh sungai yang bermuara langsung ke Laut Jawa. Kondisi
topografi di Kota Semarang pun sangat beragam mulai dari datar hingga sangat curam. Mengingat
pada tahun 1990, Kota Semarang pernah dilanda oleh bencana banjir bandang yang cukup besar.
Menurut masyarakat yang tinggal di kawasan Sungai Banjir Kanal, banjir tersebut dikarenakan oleh
hujan deras selama tiga hari berturut - turut. Akibatnya itu tanggul sungai Banjir Kanal Barat yang
alirannya berasal dari Kali Kreo dan Kali Krepik tidak mampu menahan limpasan air hujan daerah
Semarang bagian selatan atau lebih tepatnya dari Gunung Pati dan Ungaran, sehingga air sungai pun
meluap dan menyebabkan banjir bandang yang cukup besar dan cukup banyak menelan korban jiwa
terutama di daerah Sampangan, Kecamatan Gajahmungkur dan buruh pabrik di pabrik garmen
Kelurahan Bongsari.
Berdasarkan kasus tersebut untuk mengantisipasi jika terjadi bencana banjir bandang lagi, perlu
dibangun suatu tempat yang dapat dijadikan sebagai pos evakuasi bencana banjir dari bantaran Sungai
Banjir Kanal Barat. Dalam penentuan titik evakuasi mitigasi bencana banjir ini, diperlukan data
mengenai kawasan rawan banjir di sekitar kawasan sungai Banjir Kanal Barat, lalu data mengenai
topografi kawasan rawan banjir dan topografi dari kawasan titik evakuasi yang direcanakan, serta data
jenis tanah guna mengetahui tanah tersebut sukar meloloskan air atau memiliki tingkat infiltrasi
rendah atau tidak. Dari data tersebut juga akan dibuat suatu rute alternatif yang dapat dilalui para
pengungsi menuju pos evakuasi bencana banjir. Seluruh proses pengolahan data tersebut akan dibuat
dengan software ArcGIS.
3.2

Penentuan Kriteria Kawasan Rawan Banjir


Beberapa kriteria wilayah yang berpotensi mengalami dampak dari bencana banjir di kawasan

sungai Banjir Kanal Barat adalah :


a.
b.
c.

Memiliki topografi rendah (kelerengan 0-2%)


Berada di kawasan sempadan sungai Banjir Kanal Barat (500 meter dari garis sungai)
Merupakan kawasan perumahan atau permukiman (wilayah yang memiliki fungsi tata guna

d.

lahan sebagai hunian)


Memiliki jenis tanah yang sukar meloloskan air atau memiliki tingkat infiltrasi rendah (tanah
liat)

3.3

Penentuan Kriteria Titik Pos Evakuasi


Beberapa kriteria wilayah yang menjadi tujuan mitigasi bencana sebagai lokasi pengungsian

bagi korban bencana banjir adalah :


a. Merupakan wilayah yang memiliki fungsi tata guna lahan sebagai pelayanan sosial
b. Memiliki topografi yang cukup tinggi (kelerengan > 2%)

11 | P a g e

BAB IV
PEMBAHASAN

12 | P a g e

d.

Model Builded

Sumber : Hasil Pengolahan ArcGis, 2015

Gambar 4.1
Bagan Hasil Builded Analysts

Bagan di atas menunjukkan hasil proses penentuan jalur terpendek untuk evakuasi bencana
banjir dari lokasi rawan banjir di sekitar Sungai Banjir Kanal Barat menuju lokasi pengungsian.
Terdapat beberapa proses pengolahan dengan aplikasi ArcGis, yaitu clip variabel-variabel penentu
lokasi rawan banjir dan pengungsian, union atau penggabungan beberapa variabel menjadi satu
shapefile, buffer atau pelebaran wilayah yang terpengaruh oleh sempadan sungai Banjir Kanal Barat,
dan New Route atau menentukan jalur terpendek dengan menggunakan Network Analysts.

4.2

Analisis Peta Rawan Banjir dan Peta Jalur Alternatif menuju pos evakuasi

13 | P a g e

Sumber : Hasil Pengolahan ArcGis, 2015

Gambar 4.2
Peta Wilayah Rawan Banjir dan Lokasi Pengungsian di Kota Semarang

Peta di atas menunjukkan lokasi rawan banjir dan lokasi yang berpotensi menjadi tempat
pengungsian bencana banjir. Warna kuning menunjukkan lokasi rawan banjir yang berada di
Kecamatan Semarang Barat sebelah utara. Daerah permukiman ini berada di kelerengan yang rendah
(0-2%), merupakan kawasan sempadan sungai Banjir Kanal Barat dan memiliki jenis tanah yang liat
sehingga dapat menimbulkan genangan. Sedangkan wilayah yang berpotensi menjadi lokasi
pengungsian ditandai dengan warna biru yang berada di Kecamatan Candisari. Daerah ini merupakan
kawasan yang diperuntukkan bagi jasa pelayanan sosial dan memiliki kelerengan yang cukup tinggi
(> 2%) sehingga sesuai untuk tempat pengungsian.

14 | P a g e

Sumber : Hasil Pengolahan ArcGis, 2015

Gambar 4.2
Peta Jalur Pengungsian Bencana Banjir di Kota Semarang

Peta di atas menunjukkan jalur pengungsian bagi bencana banjir di sekitar sungai Banjir Kanal
Barat di Kota Semarang yang ditandai dengan garis biru. Jalur yang digunakan merupakan jalur
terpendek yang menghubungkan antara lokasi rawan banjir ke tempat pengungsian sehingga dapat
menghemat biaya dan waktu untuk lebih menjamin keselamatan korban bencana banjir. Kecamatan
Candisari sebagai kawasan yang ditetapkan untuk pembangunan pos evakuasi juga dekat dengan
pusat pelayanan sosial.

15 | P a g e

BAB V
KESIMPULAN
Dalam penentuan pos evakuasi bencana banjir serta rute alternatif menuju pos evakuasi bencana
banjir di Kota Semarang, terdapat empat proses yang dilakukan menggunakan software AcGIS yaitu
melakukan union antara jenis tanah dan kelerengan <2% guna mengetahui daerah mana yang
merupakan daerah rawan banjir di sekitar kawasan sungai Banjir Kanal Barat, lalu melakukan
buffering daerah bantaran Sungai Banjir Kanal Barat guna mengetahui daerah pemukiman mana saja
yang akan terkena dampak banjir, selanjutnya melakukan union antara kelerengan >2% dan kawasan
yang memiliki tata guna lahan sebagai pusat pelayanan sosial di Kota Semarang, dan terakhir
melakukan analisis network analyst yaitu rute alternatif guna menentukan rute terdekat mana yang
cocok dilalui untuk menuju pos evakuasi yang telah ditentukan.
Dari hasil analisis tersebut, didapat Kecamatan Candisari sebagai kawasan yang cocok dijadikan
sebagai tempat pembangunan pos evakuasi bencana banjir karena merupakan kawasan pelayanan
sosial dan memilik kelerengan diatas 2% sehingga terhindar dari banjir. Rute terdekat menuju pos
evakuasi pun dapat ditempuh kurang lebih dalam waktu 10 menit yang tentu saja sangat efektif
apabila dijadikan sebagai rute alternatif sehingga masyarakat pun tidak perlu melakukan perjalanan
jauh menuju pos evakuasi dan dapat dengan cepat terhindar dari bencana banjir.

16 | P a g e

DAFTAR PUSTAKA
BAPPEDA Kota Semarang Tahun 2011
BPS Kota Semarang 2014
Indrayanti, Meylia Ayu. 2013. Modul Praktikum Sistem Informasi Geografis Terapan Vektor
Analisis. Surabaya: Jurusan Teknik Geomatika Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya.
Mulyanto, Argo. 2008. Pengembangan Model SIG untuk Menentukan Rute Evakuasi Bencana
Banjir: Studi Kasus di Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang. Skripsi S-1 Jurusan
Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang.
Prahasta, Eddy. 2009. Sistem Informasi Geografis : Konsep-konsep Dasar (Perspektif Geodesi &
Geomatika). Penerbit Informatika, Bandung.
Undang-Undang No. 32 Tahun 2004
Rifwan, Fitra. 2012. Studi Evaluasi Efektifitas Penggunaan Jalur Evakuasi pada Zona Berpotensial
Terkena Bencana Tsunami di Kota Padang. Kota Padang: Magister Teknik Sipil Universitas
Andalas

17 | P a g e

LAMPIRAN
Proses Pengolahan Menggunakan Aplikasi ArGis
Langkah penentuan jalur baru mitigasi bencana dari kawasan rawan banjir di sungai Banjir Kanal
Barat menggunakan model builded adalah sebagai berikut :
a. Pertama, buka aplikasi argGis

b. Aktifkan Art Toolbox baru dengan mengklik kanan menu Art Toolbox

c. Ubah nama Toolbox baru dengan nama yang diinginkan, kemudian aktifkan builded model
dengan klik kanan pada Toolbox baru => model

d. Masukkan shapefile jenis tanah Kota Semarang pada layer

18 | P a g e

e. Untuk memotong bagian jenis tanah yang liat, pilih menu Selection => Select By Attributes
=> masukkan shapefile jenis tanah pada kolom layer => pilih jenis tanah endapan liat
sungai pada kotak get unique values => klik OK

f.

Maka bagian endapan liat sungai akan tertandai pada shapefile jenis tanah. Untuk mengubah
bagian tersebut menjdi format .shp, klik kanan pada shp jenis tanah => export data => simpan
pada folder. Ulangi langkah yang sama untuk memotong bagian jenis tanah endapan liat

marine.
g. Kemudian terdapat 2 shapefile jenis tanah, yaitu endapan liat sungai dan endapan liat marine.
Untuk menggabungkan 2 shapefile tersebut, gunakan proses union pada overlay, sebelumnya
drag menu union ke kolom builded model.

19 | P a g e

h. Klik 2x pada kotak Union, masukkan shapefile tanah liat sungai dan tanah liat marine,
kemudian masukkan nama output sebagai hasil penggabungan 2 shp. Klik OK. Maka akan
terlihat bagan pada model builded seperti berikut

i.

Add shapefile Tata Guna Lahan Kota Semarang, potong bagian permukiman & perumahan

j.

menggunakan Select By Attributes.


Digitasi alur sungai Banjir Kanal Barat di Kota Semarang berdasarkan alur sungai pada
shapfile Sungai di Kota Semarang

k. Proses selanjutnya adalah dengan mendrag menu buffer pada kotak model, masukkan shp
Banjir Kanal Barat pada kotak Buffer. Masukkan angka 500 dan satuan meter pada linear unit.
Ubah nama Shapefile hasil buffer pada folder yang diinginkan. Klik OK.

20 | P a g e

l.

Maka akan terlihat bagan pada model builded seperti berikut :

m. Add shapefile topografi Kota Semarang. Potong bagian yang memiliki kelerengan 0-2 %
dengan menggunakan Select By Attributes.

n. Karena terdapat 4 shapefile polygon yang dijadikan pertimbangan wilayah yang termasuk
berpotensi bajir, untuk melakukan clip, terdapat 2 kali proses clip dengan masing-masing
melibatkan 2 shapefile. Proses yang pertama adalah clip antara shp kelerengan 0-2 % dan
tanah liat. Drag menu clip pada Extract dari Analysis Tools. Klik 2 kali pada kotak clip,
masukkan shp kelerengan 0-2 % dan tanah liat. Pilih nama shapefile hasil clip dan folder
tempat keluaran. Klik OK. Maka akan muncul shp baru pada layer dan bagan builded analysts
sebagai berikut :

21 | P a g e

o. Kemudian proses yang kedua adalah clip antara shp Buffer Banjir Kanal Barat dengan shp
Perumahan dan Permukiman. Lakukan hal yang sama dengan langkah di atas

p. Kemudian adalah dengan melakukan clip antara 2 hasil clip di atas untuk menentukan
wilayah yang berpotensi mengalami dampak banjir.

q. Lakukan proses tersebut di aplikasi ArcGis, maka akan didapat wilayah yang berpotensi
mengalami banjir di sekitar sungai Banjir Kanal Barat di Kota Semarang (ditandai dengan
warna merah).

22 | P a g e

r.

Kemudian adalah menentukan wilayah yang akan menjadi lokasi tujuan pengungsian. Lokasi
yang akan dituju adalah wilayah yang memiliki fungsi tata guna lahan sebagai pelayanan
sosial yang memiliki kelerengan > 2%. Pertama, pilih kawasan jasa pelayanan umum pada
shp Tata Guna Lahan dengan menggunakan Select By Attributes

s. Untuk memilih daerah yang memiliki kelerengan > 2%, terdapat 3 kategori yaitu kelerengan
t.

2-15%, 15-25%, 25-40% dan >40%


Gabungkan keempat kategori kelerengan yang memiliki tingkat >2% dengan menggunakan
union. Maka akan didapat wilayah yang memiliki kelerengan >2%.

23 | P a g e

u. Kemudian clip shp kelerengan >2% dengan shp jasa pelayanan umum. Maka didapat wilayah
yng menjadi tujuan pengungsian (ditandai dengan warna biru).

v. Langkah selanjutnya adalah membuat jalur terpendek antara lokasi yang berpotensi banjir
menuju tempat pengungsian. Klik Arc Catalog. Buka Folder dimana format .shp yang akan
digunakan sebagai bahan analisis disimpan.

24 | P a g e

w. Kemudian klik Tools pada Arc Catalog. Pilih Extensions, aktifkan Network Analysist.
Kemudian klik Close. Langkah tersebut digunakan untuk mengaktifkan Network Analyst.

x. Kemudian, untuk membuat layer objek yang akan digunakan dalam Network Analyst, klik
kanan pada layer yang digunakan, kemudian pilih Network Analyst. Kemudian akan muncul
jendela baru New Network Analyst. Kemudian input nama yang akan digunakan pada layer
yang baru kemudian pilih Next. kemudian klik next untuk tampilan berikutnya, karena tidak
dibutuhkan Connectivity. Kemudian pilih No klik Next untuk langkah selanjutnya. Kemudian
klik No, klik Next. Kemudian klik Next lagi untuk spesifikasi dari attribut nantinya.
Kemudian klik No, klik Next. kemudian klik Finish.

y. Sehingga terbentuk layer baru dengan format nd. Kemudian klik Add Data untuk
memasukkan layer dengan format .nd yang merupakan hasil dari proses yang telah dilakukan
sebelumnya.

25 | P a g e

z. Kemudian dapat langsung memulai analisis. Namun, bila pada menu toolbar belum terantum
menu Network analysist, dapat dimunculkan dengan klik kanan pada bagian atas jendela.
Kemudian aktifkan Network Analysist, sehingga muncul toolbar yang akan digunakan.

aa. Untuk membuat jalur baru antara lokasi yang berpotensi banjir menuju tempat pengungsian,
pilih Network Analysist, klik New Route. Kemudian akan muncul layer baru yaitu Route
dan Toolbox Route yang berisis Stops, Routes dan Barriers.

bb. Kemudian pilih icon New Network Analysist Tool pada menu Network Analysists dan pilih
lokasi acak yang terletak pada wilayah yang dipilih. Titik yang ditentukan adalah lokasi
rawan bencana banjir dan lokasi pengungsian.

cc. Kemudian klik icon Solve untuk menentukan rute mana saja yang akan dilalui dari titik
tersebut. Kemudian akan keluar rute perjalanannya.

26 | P a g e

dd. Drag analisis Make Route pada Network Analysis Tools. Masukkan rute terpendek ke dalam
proses

27 | P a g e