Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Skabies adalah penyakit kulit yang mudah menular. Orang jawa sering menyebutnya
gudig. Penyebabnya adalah Sarcoptes scabei. Cara penularan penyakit ini adalah melalui
kontak langsung dengan penderita atau tidak langsung melalui alat-alat yang dipakai
penderita, misal : baju, handuk, dll.Gejala klinis yang sering menyertai penderita adalah :
Gatal yang hebat terutama pada malam hari sebelum tidur, Adanya tanda : papula (bintil),
pustula (bintil bernanah), ekskoriasi (bekas garukan), bekas-bekas lesi yang berwarna hitam,
Dengan bantuan loup (kaca pembesar), bisa dilihat adanya kunikulus atau lorong di atas
papula (vesikel atau plenthing/pustula).
Predileksi atau lokasi tersering adalah pada sela-sela jari tangan, bagian fleksor
pergelangan tangan, siku bagian dalam, lipat ketiak bagian depan, perut bagian bawah, pantat,
paha bagian dalam, daerah mammae/payudara, genital, dan pinggang. Pada pria khas
ditemukan pada penis sedangkan pada wanita di aerola mammae. Pada bayi bisa dijumpai
pada daerah kepala, muka, leher, kaki dan telapaknya. Pemariksaan adanya skabies atau
Sarcoptes scabei dengan cara :Melihat adanya burrow dengan kaca pembesar Papula, vesikel
yang dicurigai diolesi pewarna (tinta) kemudian dicuci dengan pelarutnya sehingga terlihat
alur berisi tinta Melihat adanya sarcoptes dengan cara mikroskopis, yaitu : Atap vesikelnya
diambil lalu diletakkan di atas gelas obyek terus ditetesi KOH 30%, ditutup dengan gelas
penutup dan diamati dengan mikroskop. Papula dikorek dengan skalpel pada ujungnya
kemudian diletakkan pada gelas obyek lalu ditutup dan diamati dengan mikroskop.
Meski sekarang sudah sangat jarang dan sulit ditemukan laporan terbaru tentang kasus
skabies diberbagai media di Indonesia (terlepas dari faktor penyebabnya), namun tak dapat
dipungkiri bahwa penyakit kulit ini masih merupakan salah satu penyakit yang sangat
mengganggu aktivitas hidup dan kerja sehari-hari. Di berbagai belahan dunia, laporan kasus
skabies masih sering ditemukan pada keadaan lingkungan yang padat penduduk, status
ekonomi rendah, tingkat pendidikan yang rendah dan kualitas higienis pribadi yang kurang
baik atau cenderung jelek. Rasa gatal yang ditimbulkannya terutama waktu malam hari,
secara tidak langsung juga ikut mengganggu kelangsungan hidup masyarakat terutama
tersitanya waktu untuk istirahat tidur, sehingga kegiatan yang akan dilakukannya disiang hari
juga ikut terganggu. Jika hal ini dibiarkan berlangsung lama, maka efisiensi dan efektifitas

kerja menjadi menurun yang akhirnya mengakibatkan menurunnya kualitas hidup


masyarakat. (Kenneth, F,1995).
Menurut Departemen Kesehatan RI prevalensi skabies di puskesmas seluruh Indonesia
pada tahun 1986 adalah 4,6 % - 12,95 % dan skabies menduduki urutan ketiga dari 12
penyakit kulit tersering. Di bagian Kulit dan Kelamin FKUI/RSCM pada tahun 1988,
dijumpai 704 kasus skabies yang merupakan 5,77 % dari seluruh kasus baru. Pada tahun 1989
dan 1990 prevalensi skabies adalah 6 % dan 3,9 % (Sungkar,S, 1995).

B. RUMUSAN MASALAH
Kasus 4
Tn.C (40 th) datang kepoliklinik kulit dengan keluhan gatal-gatal hebat, yang biasanya
semakin memburuk pada malam hari. Pada sela jari tangan, pada pergelangan tangan, sikut,
ketiak, terlihat adanya terowongan tungau. Klien mengatakan jarang mandi jika pulang kerja
karena pulang sudah larut malam.
Tentukan:
1. Diagnosa medis kasus tersebut
2. tanda-tanda dan hasil pemeriksaan penunjang yang ditunjukkan pada kasus di atas
mengarahkan penyakit apa?
3. kemungkinan apa yang terjadi jika tidak ditangani dengan baik (komplikasinya)?
4. identifikasi masalah utama pada pasien berdasarkan konsep patofisiologi yang kalian
ketahui?
5. lengkapi data-data klinis dan diagnostik pasien berdasarkan konsep patofiologi yang kalian
ketahui?
6. tentukanlah masalah keperawatan pada pasien tersebut dan penyebabnya
7. buat NCP dengan 3 diagnosa utama?
Dari kasus tersebut, Tn, C diagnosis medis kelainan kulit berupa Skabies

BAB II
PEMBAHASAN

A. DEFINISI
Skabies merupakan infeksi kulit oleh kutu Sarcoptes scabies yang menimbulkan
gatal-gatal.Penyakit ini dapat ditemukan pada orang-orang yang miskin yang hidup ditengah
kondisi hygene yang dibawah standar, meskipun sering juga ditemukan pada orang-orang
yang sangat bersih. Skabies sering dijumpai pada orang-orang yang seksual aktif. Namun
demikian, investasi parasit ini tidak bergantung pada aktivitas seksual karena kutu tersebut
sering menjangkiti jari-jari tangan, dan sentuhan tangan dapat menimbulkan infeksi. Pada
anak-anak, tinggal semalaman dengan teman yang terinfeksi atau saling berganti pakaian
dengannya dapat menjadikan sumber infeksi. Petugas kesehatan yang melakukan kontak fisik
yang lama dengan pasien scabies dapat pula terinfeksi.
Kutu betina yang dewasa akan membuat terowongan pada lapisan superficial kulit
dan berada disana selama sisa hidupnya. Dengan rahang dan pinggir yang tajam dan
persendian kaki depannya, kutu tersebut akan memperluas terowongan dan mengeluarkan
telurnya 2 hingga 3 butir sehari selama 2 bulan. Kemudian kutu betina itu mati. Larva ( telur )
menetas dalam waktu 4 hingga 4 hari dan berlanjut lewat stadium larva serta nimfa menjadi
bentuk kutu dewasa dlam tempo sekitar 10 hari.
Scabies merupakan penyakit kulit menular yang disebabkan oleh seekor tungau
(kutu/mite) yang bernama Sarcoptes scabei, filum Arthopoda , kelas Arachnida, ordo
Ackarina, superfamili Sarcoptes. Pada manusia oleh S. scabiei var homonis, pada babi oleh S.
scabiei var suis, pada kambing oleh S. scabiei var caprae, pada biri-biri oleh S. scabiei var
ovis.
B. ETIOLOGI
Scabies dapat disebabkan oleh kutu atau kuman Sercoptes scabei varian
hominis.Sarcoptes scabieiini termasuk filum Arthopoda, kelas Arachnida, ordo Ackarina,
superfamili Sarcoptes.Pada manusia disebut Sarcoptes scabiei var hominis.Kecuali itu
terdapat S. scabiei yang lainnya pada kambing dan babi.
Secara morfologik merupakan tungau kecil, berbentuk oval, punggungnya cembung
dan bagian perutnya rata.Tungau ini transient, berwarna putih kotor, dan tidak bermata.
Ukurannya yang betina berkisar antara 330-450 mikron x 250-350 mikron, sedangkan yang

jantan lebih kecil, yakni 200-240 mikron x 150-200 mikron. Bentuk dewasa mempunyai 4
pasang kaki, 2pasang longlegs di depan sebagai alat alat untuk melekat dan 2pasang longlegs
kedua pada betina berakhir dengan rambut, sedangkan pada yang jantan pasangan longlegs
ketiga berakhir dengan rambut dan keempat berakhir dengan alat perekat.
Siklus hidup tungau ini sebagai berikut. Setelah kopulasi (perkawinan) yang terjadi di
atas kulit, yang jantan akan mati, kadang-kadang masih dapat hidup dalam terowongan yang
digali oleh yang betina. Tungau betina yang telah dibuahi menggali terowongan dalam
stratum korneum, dengan kecepatan 2-3 milimeter sehari dan sambil meletakkan telurnya 2
atau 4 butir sehari sampai mencapai jumlah 40 atau 50. Bentuk betina yang telah dibuahi ini
dapat hidup sebulan lamanya. Telurnya akan menetas, biasanya dalam waktu 3-5 hari, dan
menjadi larva yang mempunyai 3 pasang kaki. Larva ini dapat tinggal dalam terowongan,
tetapi dapat juga keluar. Setelah 2-3 hari larva akan menjadi nimfa yang mempunyai 2
bentuk, jantan dan betina, dengan 4 pasang kaki.
Seluruh siklus hidupnya mulai dari telur sampai bentuk dewasa memerlukan waktu
antara 8-12 hari.Telur menetas menjadi larva dalam waktu 3-4 hari, kemudian larva
meninggalkan terowongan dan masuk ke dalam folikel rambut. Selanjutnya larva berubah
menjadi nimfa yang akan menjadi parasit dewasa. Tungau betina akan mati setelah
meninggalkan telur, sedangkan tungau jantan mati setelah kopulasi. Sarcoptes scabiei betina
dapat hidup diluar pada suhu kamar selama lebih kurang 7-14 hari.Yang diserang adalah
bagian kulit yang tipis dan lembab, contohnya lipatan kulit pada orang dewasa.Pada bayi,
karena seluruh kulitnya masih tipis, maka seluruh badan dapat terserang penyakit skabies ini.
C. PENGKLASIFIKASIAN SKABIES
Terdapat beberapa bentuk skabies atipik yang jarang ditemukan dan sulit dikenal,
sehingga dapat menimbulkan kesalahan diagnosis. Beberapa bentuk tersebut antara lain
(Sungkar, S, 1995):
1.

Skabies pada orang bersih (scabies of cultivated). Bentuk ini ditandai dengan lesi berupa

2.

papul dan terowongan yang sedikit jumlahnya sehingga sangat sukar ditemukan.
Skabies incognito. Bentuk ini timbul pada scabies yang diobati dengan kortikosteroid
sehingga gejala dan tanda klinis membaik, tetapi tungau tetap ada dan penularan masih bisa
terjadi. Skabies incognito sering juga menunjukkan gejala klinis yang tidak biasa, distribusi

3.

atipik, lesi luas dan mirip penyakit lain.


Skabies nodular. Pada bentuk ini lesi berupa nodus coklat kemerahan yang gatal. Nodus
biasanya terdapat didaerah tertutup, terutama pada genitalia laki-laki, inguinal dan aksila.

Nodus ini timbul sebagai reaksi hipersensetivitas terhadap tungau scabies. Pada nodus yang
berumur lebih dari satu bulan tungau jarang ditemukan. Nodus mungkin dapat menetap
selama beberapa bulan sampai satu tahun meskipun telah diberi pengobatan anti scabies dan
kortikosteroid.
4. Skabies yang ditularkan melalui hewan. Di Amerika, sumber utama skabies adalah anjing.
Kelainan ini berbeda dengan skabies manusia yaitu tidak terdapat terowongan, tidak
menyerang sela jari dan genitalia eksterna. Lesi biasanya terdapat pada daerah dimana orang
sering kontak/memeluk binatang kesayangannya yaitu paha,perut, dada dan lengan. Masa
inkubasi lebih pendek dan transmisi lebih mudah. Kelainan ini bersifat sementara (4 8
minggu) dan dapat sembuh sendiri karena S. scabiei var. binatang tidak dapat melanjutkan
siklus hidupnya pada manusia.
5. Skabies Norwegia. Skabies Norwegia atau skabies krustosa ditandai oleh lesi yang luas
dengan krusta, skuama generalisata dan hyperkeratosis yang tebal. Tempat predileksi
biasanya kulit kepala yang berambut, telinga bokong, siku, lutut, telapak tangan dan kaki
yang dapat disertai distrofi kuku. Berbeda dengan scabies biasa, rasa gatal pada penderita
skabies Norwegia tidak menonjol tetapi bentuk ini sangat menular karena jumlah tungau yang
menginfestasi sangat banyak (ribuan). Skabies Norwegia terjadi akibat defisiensi imunologik
sehingga sistem imun tubuh gagal membatasi proliferasi tungau dapat berkembangbiak
dengan mudah.
6. Skabies pada bayi dan anak. Lesi skabies pada anak dapat mengenai seluruh tubuh, termasuk
seluruh kepala, leher, telapak tangan, telapak kaki, dan sering terjadi infeksi sekunder berupa
impetigo, ektima sehingga terowongan jarang ditemukan. Pada bayi, lesi di muka. (Harahap.
M, 2000).
7. Skabies terbaring ditempat tidur (bed ridden). Penderita penyakit kronis dan orang tua yang
terpaksa harus tinggal ditempat tidur dapat menderita skabies yang lesinya terbatas.
(Harahap. M, 2000).
D. MANIFESTASI KLINIS
Diagnosis dibuat dengan menemukan 2 dari 4 tanda cardinal berikut :
1. Gatal-gatal yang hebat akibat reaksi imunologi tipe lambat terhadap kutu atau butiran
fesesnya.
2. Terbentuk terowongan bisa berupa lesi yang multiple, lurus atau bergelombang, berwarna
coklat atau hitam dan menyerupai benang, yang terlihat terutama diantara jari-jari tangan
3.

serta pada pergelangan tangan.


Gatal-gatal pada malam hari ( gejala klasik) yang disebabkan karena peningkatan

kehangatan kulit yang menimbulkan efek stimulasi terhadap parasit tersebut.


4. Lesi sekunder sering di jumpai dan mencakup vesikel, papula, ekskoriasi serta kusta.

5. Superinfeksi bakteri terjadi akibat ekskoriasi yang tetap dari terowongan dan papula.
6. Lokasi yang sering adalah permukaan ekstensor siku, lutut, pinggir kaki, ujung-ujung sendi
siku, daerah sekitar putting susu, lipatan aksila, di bawah payudara yang menggantung, dan
pada atau di dekat lipatan paha atau gluteus, penis atau skrotum.
7. Erupsi yang berwarna merah dan gatal biasanya terdapat pada daerah-daerah kulit di
sekitarnya.
8. Pruritus noktuma (gatal pada malam hari) karena aktivitas tungau lebih tinggi pada
suhu yang lembab dan panas.
9. Umumnya ditemukan pada sekelompok manusia, misalnya mengenai seluruh anggota
keluarga.
10. Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat-tempat predileksi yang berwarna putih atau
keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok, rata-rata panjang 1cm, pada uung menjadi
pimorfi (pustu, ekskoriosi). Tempat predileksi biasanya daerah dengan stratum komeum tpis,
yaitu sela-sela jari tangan, pergelangan tangan bagian volar, siku bagian luar, lipat ketiak
bagian depan, aerola mammae dan lipat glutea, umbilicus, bokong, genitalia eksterna, dan
perut bagian bawah. Pada bayi dapat menyerang bagian telapak tangan dan telapak kaki
bahkan seluruh permukaan ulit. Pada remaja dan orang dewasa dapat timbul pada kulit kepala
dan wajah.
11. Menemukan tungau merupakan hal yang paling diagnostk. Dapat ditemikan satu atau lebih
stadium hidup tungau ini.
12. Pada pasien yang selalu menjaga hygiene, lesi yang timbul hanya sedikit sehingga diagnosis
kadang kala sulit ditegakkan. Jia penyakit berlangsung lama, dapat timbul likenifikasi,
impetigo, dan furunkulsis.
E. Patofisiologi
Kelainan kulit dapat disebabkan tidak hanya dari tungau scabies, akan tetapi juga oleh
penderita sendiri akibat garukan. Dan karena bersalaman atau bergandengan sehingga terjadi
kontak kulit yang kuat,menyebabkan lesi timbul pada pergelangan tangan. Gatal yang terjadi
disebabkan oleh sensitisasi terhadap secret dan ekskret tungau yang memerlukan waktu kirakira sebulan setelah infestasi.Pada saat itu kelainan kulit menyerupai dermatitis dengan
ditemuannya papul, vesikel, dan urtika.Dengan garukan dapat timbul erosi, ekskoriasi, krusta,
dan infeksi sekunder.Kelainan kulit dan gatal yang terjadi dapat lebih luas dari lokasi tungau.
Patoflow
Tungau scabies penderita sendiri dan digaruk

Kontak kulit kuat (Bersalaman, bergandengan)

Timbul lesi (Pergelangan tangan)

Gatal (Sensitivitas terhadap secret)

Waktu 1 bulan setelah infestasi

Timbul papul,vesikel,urtika timbul erosi,eks koriosi, krusta

Digaruk infeksi sekunder

Kelainan kulit dermatitis menyebar luas


F. KOMPLIKASI
Bila skabies tidak diobati selama beberapa minggu atau bulan, dapat timbul dermatitis
akibat garukan.Erupsi dapat berbentuk impetigo, ektima, sellulitis, limfangitis, dan
furunkel.Infeksi bakteri pada bayi dan anak kecil yang diserang scabies dapat menimbulkan
komplikasi pada ginjal.Dermatitis iritan dapat timbul karena penggunaan preparat anti
skabies yang berlebihan, baik pada terapi awal ataupun pemakaian yang terlalu sering.
Urtikaria
Urtikaria adalah reaksi dari pembuluh darah berupa erupsi pada kulit yang berbatas
tegas dan menimbul (bentol), berwarna merah, memutih bila ditekan, dan disertai rasa
gatal.Urtikaria dapat berlangsung secara akut, kronik, atau berulang. Urtikaria akut umumnya
berlangsung 20 menit sampai 3 jam, menghilang dan mungkin muncul di bagian kulit lain.

Infeksi sekunder
Folikulitis
Folikulitis adalah peradangan pada selubung akar rambut (folikel). Pada kulit yang
terkena akan timbul ruam, kemerahan dan rasa gatal. Di sekitar folikel rambut tampak
beruntus-beruntus kecil berisi cairan yang bisa pecah lalu mengering dan membentuk
keropeng.
Furunkel
Furunkel (bisul) adalah infeksi kulit yang meliputi seluruh folikel rambut dan jaringan
subkutaneus di sekitarnya.Paling sering ditemukan di daerah leher, payudara, wajah dan
bokong.Akan terasa sangat nyeri jika timbul di sekitar hidung atau telinga atau pada jari-jari
tangan.Furunkel berawal sebagai benjolan keras bewarna merah yang mengandung nanah.
Lalu benjolan ini akan berfluktasi dan ditengahnya menjadi putih atau kuning (membentuk
pustula). Bisul bisa pecah spontan atau mengeluarkan nanahnya, kadang mengandung sedikit
darah.
Infiltrat
Eksema infantum
Eksema atau Dermatitis atopik atau peradangan kronik kulit yang kering dan gatal
yang umumnya dimulai pada awal masa kanak-kanak.Eksema dapat menyebabkan gatal yang
tidak tertahankan, peradangan, dan gangguan tidur.
G. Pemeriksaan Fisik :
Pengkajian kulit melibatkan seluruh area kulit, termasuk membrane mukosa, kulit
kepala dan kuku. Prosedur Utama :
Inpeksi dan palpasi

Memerlukan ruangan yang terang dan hangat

Penlight dapat digunakan untuk menyinari lesi

Pasien dapat melepaskan seluruh pakaianya dan diselimuti dengan benar

Sarunga tangan harus selalu dipakai ketika melakkan pemeriksaan kulit


Tampilan umum dikaji :

Warna

Suhu

Kelembaban

Kekeringan

Tekstur kulit (kasar atau halus)

Lesi

Vaskularitas

Mobilitas

Kondisi kuku dan rambut

Turgor kulit

Edema

Elastisitas kulit

1. Pengkajian dan pemeriksaan fisik Scabies


Pengkajian dilaksanakan di bangsal bedah :

a.

Biodata
Identitas pasien
Nama : Tn. K
TTL : Umur : Jenis kelamin : laki-laki
Alamat : Agama : Suku : Pendidikan : Diagnosa medis : Skabies

b. Identitas penanggungjawab
Nama : Ny. S
TTL : Umur : Jenis kelamin : perempuan
Alamat : Agama : Suku : Pendidikan : Hub.dengan pasien : istri

a.

Riwyat kesehatan
Keluhan utama

Pada pasien scabies terdapat lesi dikulit bagian punggung dan merasakan gatal terutama pada
malam hari.
b. Riwayat kesehatan sekarang
Pasien mulai merasakan gatal yang memanas dan kemudian menjadi edema karena garukan
akibat rasa gatal yang sangat hebat.
c.

Riwayat kesehatan dahulu


Pasien pernah masuk Rs karena alergi

d. Riwayat kesehatan keluarga


Dalam keluarga pasien ada yang menderita penyakit seperti yang klien alami yaitu kurap,
kudis.

a.

Pola fungsi kesehatan


Pola persepsi terhadap kesehatan
Apabila sakit, klien biasa membeliobat di tko obat terdeat atauapabila tidak terjadi perubahan
pasien memaksakan diri ke puskesmas atau RS terdekat.

b. Pola aktivitas latihan


Aktivitas latihan selama sakit :Aktivitas 0 1 2 3 4, Makan, Mandi, Berpakaian, Eliminasi,
Mobilisasi di tempat tidur
Keterangan :
0 : Mandiri
1 : Dengan menggunakan alat bantu
2 : Dengan menggunakan bantuan dari orang lain
3 : Dengan bantuan orang lain dan alat bantu
4 : Tergantung total, tidak berpartisipasi dalam beraktivitas
c.

Pola istirahat tidur


Pada pasien scabies terjadi gangguan pola tidur akibat gatal yang hebat pada malam hari.

d. Pola nutrisi metabolik


Tidak ada gangguan dalam nutrisi metaboliknya.
e.

Pola elimnesi
Klien BAB 1x sehari, dengan konsitensi lembek, wrna kuning bau khas dan BAK 4-5x
sehari, dengan bau khas warna kuning jernih.

f.

Pola kognitif perceptual


Saat pengkajian kien dalam keadaan sadar, bicara jelas, pendengaran dan penglihatan normal.

g. Pola peran hubungan


1. status perkawinan : menikah

2. Pekerjaan : petani
3. kualitas aktivitas :sebelum sakit klien rajin ke sawah untuk menggarap sawahnya
4. Sistem dukungan : istri dan anaknya
h. Pola nilai dan kepercayaan
Klien beragama islam, ibadah dilakukan secara rutin.
i.

Pola konep diri

1. Harga diri : tidak terganggu


2. Ideal diri : tidak terganggu
3. Identitas diri : terganggu, karena merasa malu akibat penyakit yang dideritanya
4. Gambaran diri : tidak terganggu
5. Peran diri : tidak terganggu
j.

Pola seksual reproduksi


Pada klien scabies mengalami gangguan pada seksual reproduksinya.

k. Pola koping
1. Masalah utama yang terjadi selama klien sakit, klien selalu merasa gatal, dan pasien menjadi
malas untuk bekerja.
2. Kehilangan atau perubahan yang terjadiperubahan yang terjadi klien malas untuk melakukan
aktivitas sehari-hari.
3. Takut terhadap kekerasan : tidak
4. Pandangan terhadap masa depanklien optimis untuk sembuh

a.

Pemeriksaan fisik
Tanda-tanda vital
Suhu : ? 36C
Nadi : ? 70 x/menit
TD : systole ? 110mmHg, diastole ? 60 mmHg
RR : ? 16 x/menit

b. Keadaan umum
Keadaan umum tergantung pada berat ringannya penyakit yang dialami oleh klien dari
kmposmentis apatis, samnolen, delirium, spoor, dan koma.
c. Pemeriksaan Head to Toe
1. Kulit dan rambut
- Inspeksi :
Warna kulit : normal, ada lesi
Jumlah rambut : lebat, tidak rontok

Warna rambut : hitam


Kebersihan rambut : krang bersih, ada ketombe
- Palpasi :
Suhu ? 36C
Warna kulit sawo matang, turgor kuit baik, kulit lembab, ada edema, ada lesi.
2. Kepala
- Inspeksi :
Bentuk simetris antara kanan dan kiri
Bentuk kepala lonjong, tidak ada lesi
- Palpasi :
Tidak ada nyeri tekan
3. Mata
- Inspeksi : bentuk bola mata bulat, simetris antara kanan dan kiri, sklera berwarna putih,
kkonjungtiva merah muda.
4. Telinga
- Inspeksi : ukuran sedang, simetris antara kanan dan kiri, tidak ada serumen pada lubang
telinga
- Palpasi : tidak ada benjolan
5. Hidung
- Inspeksi : simetris, tidak ada secret, tidak ada lesi
- Palpasi : tidak ada benjolan
6. Mulut
- Inspeksi : bentuk mulut simetris, lidah bersih gigi bersih
7. Leher
- Inspeksi : bentuk leher nrmal, tidak ada pembesaran kelenar tiroid
- Palpasi : suara jelas, tidak sesak
8. Paru
- Inspeksi : simetris antara kanan dan kiri
- Palpasi : getaran rocal femitus sama antara kanan dan kiri
- Perusi : resonan
- Auskultasi : normal
9. Abdomen
- Inspeksi : perut datar, simetris
- Palpasi : getaran rocal femitus sama antara kanan dan kiri

10. Ekstermitas
- Atas : lengkap, tidak ada kelainan
- Bawah : lengap normal
H. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Pemeriksaan kerokan kulit secara mikroskopis positif adanya kutu, telur, nimfaatau
skibala (butiran feses) scabies
Cara menemukan tungau :
1. Carilah mula-mula terowongan, kemudian pada ujung dapat terlihat papul atau vesiel.
Congkel dengan jarum dan letakkan diatas kaca obyek, lalu tutup dengan aca penutup dan
2.

lhat dengan mikroskop cahaya.


Dengan cara menyikat dengan siat dan ditampung diatas selembar kertas putih dan dilihat

3.

dengan kaca pembesar.


Dengan membuat bipsi irisan, caranya ; jepit lesidengan 2 jari kemudian buat irisa tipis

dengan pisau dan periksa dengan miroskop cahaya.


4. Dengan biopsy eksisional dan diperiska dengan pewarnaan HE.
I.

PENATALAKSANAAN
Farmakologis
Pengobatan penyakit ini menggunakan obat-obatan berbentuk krim atau salepyang
dioleskan pada bagian kulit yang terinfeksi.Banyak sekali obat-obatan yangtersedia di
pasaran. Namun, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi antara lain :tidak berbau, efektif
terhadap semua stadium kutu (telur, larva maupun kutudewasa), tidak menimbulkan iritasi

kulit, juga mudah diperoleh dan murah harganya.


Sistemik
Antihistamin klasik sedatif ringan untuk mengurangi gatal, misalnyaklorfeniramin maleat

0.34 mg/kg BB 3 x sehari.


Antibiotik bila ditemukan infeksi sekunder misalnya ampisilin, amoksisilin,eritromisin.
Topikal
Obatan-obatan yang dapat digunakan antara lain:
1. Salep, biasanya dalam bentuk salep atau krim.Kekurangannya, obat ini menimbulkan bau tak
sedap (belerang), mengotoripakaian, tidak efektif membunuh stadium telur, dan
penggunaannya haruslebih dari 3 hari berturut-turut.
2. Emulsi benzil-benzoas 20 ? 25%, efektif terhadap semua stadium, diberikansetiap malam
3.

selama 3 hari berturut-turut. Kekurangannya, dapatmenimbulkan iritasi kulit.


Gamexan 1%, termasuk obat pilihan karena efektif terhadap semuastadium kutu, mudah
digunakan, serta jarang menimbulkan iritasi kulit.Namun obat ini tidak dianjurkan bagi
wanita hamil, maupun anakdibawah usia 6 tahun, karena bersifat toksik terhadap susunan

sarafpusat. Pemakaiannya cukup satu kali dioleskan seluruh tubuh. Dapatdiulang satu minggu
kemudian bila belum sembuh.
4. Krotamiton 10%, termasuk obat pilihan karena selain memiliki efek antiskabies,juga bersifat
anti gatal.
5.
Permetrin HCl 5%, efektifitasnya seperti Gamexan, namun tidak terlalutoksik.
Penggunaannya cukup sekali, namun harganya relatif mahal.
Setelah pengobatan skabies benar-benar tuntas, rasa gatal masih dapat berlangsung
sampai sekitar 4 minggu lamanya.Pasien dapat diberikan steroid topikal/ sistemik atau pun

antihistamin untuk mengatasinya.


Non-farmakologis (+Pencegahan)
Selain menggunakan obat-obatan, yang tidak kalah penting untuk diperhatikanadalah upaya

peningkatan kebersihan diri dan lingkungan. Hal ini dapatdilakukan dengan cara:
1. Mencuci bersih atau merebusdengan air panas handuk, seprai maupun baju penderita skabies
(yg dipakai dalam 5 hari terakhir), kemudian menjemurnya hingga kering.Menghilangkan
faktor predisposisi, antara lain dengan penyluhanmengenai higiene perorangan dan
lingkungan.
2. Menghindari pemakaian baju, handuk, seprai secara bersama-sama.
3. Mengobati seluruh anggota keluarga, atau masyarakat yang terinfeksiuntuk memutuskan
rantai penularan. Hewan peliharaan tidak perlu diobati karena kutu skabies tidak hidup
disana.
J.

ASUHAN KEPERAWATAN
Data subjektif:
Klien mengeluh gatal-gatal hebat yang biasanya semakin memburuk pada malam hari
Klien mengatakan jarang mandi jika pulang kerja karena pulang sudah larut malam
Data objektif:
Pada sela jari tangan, pada pergelangan tangan, sikut, ketiak terlihat adanya terowongan
tungau
Diagnosa Keperawatan1:
Gangguan pola tidur berhubungan dengan rasa gatal yang hebat khususnya pada malam hari.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan diharapkan tidur klien tidak
terganggu.
KH :
1. Klien tidak sering terbangun di malam hari.
2. Klien tidak pucat.
Intervensi
Kaji tidur klien

Rasional

Berikan kenyamanan pada klien (kebersihan


tempat tidur klien
Kolaborasi dengan dokter pemberian
analgetic.
Catat banyaknya klien terbangun dimalam
hari.
Berikan lingkungan yang nyaman dan kurangi
kebisingan.
Berikan minum hangat (susu) jika perlu.
Berikan musik klasik sebagai pengantar tidur

1).
2).
3).
4).
5).
6).

Diagnsa keperawatan 2 :
rasa gatal berhubungan dengan lesi kulit.
Tujuan :
KH :
Mencapai peredaan gangguan rasa nyaman: nyeri/gatal.
Mengutarakan dengan kata-kata bahwa gatal telah reda.
Memperllihatkan tidak adanya gejala ekskoriasi kulit karena garukan.
Mematuhi terapi yang diprogramkan.
Pertahankan keadekuatan hidrasi dan lubrikasi kulit.
Menunjukkan kulit utuh dan penampilan kulit yang sehat.

1.

Intervensi
Temukan penyebab nyeri/gatal

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.

13.

Rasional
Membantu mengidentifikasi tindakan yang
tepat untuk memberikan kenyamanan
Catat hasil observasi secara rinci.
Deskripsi yang akurat tentang erupsi kulit
Antisipasi reaksi alergi (dapatkan riwayat
diperlukan untuk diagnosis dan pengobatan.
obat).
Ruam menyeluruh terutama dengan awaitan
Pertahankan kelembaban (+/- 60%), gunakan
yang mendadak dapat menunjukkan reaksi
alat pelembab.
alergi obat.
Pertahankan lingkungan dingin.
Kelembaban yang rendah, kulit akan
Gunakan sabun ringan (dove)/sabun yang
kehilangan air.
dibuat untuk kulit yang sensitif
Kesejukan mengurangi gatal.
Lepaskan kelebihan pakaian/peralatan di
Upaya ini mencakup tidak adanya detergen,
tempat tidur
zat pewarna.
Cuci linen tempat tidur dan pakaian dengan
Meningkatkan lingkungan yang sejuk.
sabun.
Sabun yang keras dapat menimbulkan
Hentikan pemajanan berulang terhadap
iritasi.
detergen, pembersih dan pelarut.
Setiap subtansi yang menghilangkan air, lipid,
Kompres hangat/dingin.
protein dari epidermis akan mengubah fungsi
Mengatasi kekeringan (serosis).
barier kulit.
Mengoleskan lotion dan krim kulit segera 10. Pengisatan air yang bertahap dari kasa akan
setelah mandi.
menyejukkan kulit dan meredakan pruritus.
Rasional: Hidrasi yang cukup pada stratum 11. Kulit yang kering meimbulkan dermatitis:
korneum mencegah gangguan lapisan barier
redish, gatal.lepuh, eksudat.
kulit.
Menjaga agar kuku selalu terpangkas
(pendek).

Rasional: Mengurangi kerusakan kulit akibat


garukan
14. Menggunakan terapi topikal.
Rasional: Membantu meredakan gejala.
15. Membantu klien menerima terapi yang lama.
Rasional: Koping biasanya meningkatkan
kenyamanan.
16. Nasihati klien untuk menghindari pemakaian
salep /lotion yang dibeli tanpa resep Dokter.
Rasional: Masalah klien dapat disebabkan oleh
iritasi/sensitif karena pengobatan sendiri