Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Kimia (dari bahasa Arab: , transliterasi: kimiya = perubahan
benda/zat atau bahasa Yunani: , transliterasi: khemeia) adalah ilmu yang
mempelajari mengenai komposisi, struktur, dan sifat zat atau materi dari skala
atom hingga molekul serta perubahan atau transformasi serta interaksi mereka
untuk membentuk materi yang ditemukan sehari-hari. Kimia juga mempelajari
pemahaman sifat dan interaksi atom individu dengan tujuan untuk menerapkan
pengetahuan tersebut pada tingkat makroskopik. Menurut kimia modern, sifat
fisik materi umumnya ditentukan oleh struktur pada tingkat atom yang pada
gilirannya ditentukan oleh gaya antaratom dan ikatan kimia.

1.2.

Maksud dan Tujuan


Maksud dari ditulisnya laporan akhir ini adalah untuk merangkum
seluruh ilmu yang didapat selama praktikum pada satu semester ini.
Adapun tujuannya adalah untuk
1.
2.
3.

1.3.

Melampirkan seluruh hasil kegiatan praktikum


Memberikan ringkasan materi praktikum
Memenuhi tugas akhir praktikum Kimia Dasar

Waktu dan Tempat Pelaksanaan


Waktu kegiatan praktikum ini pada hari Rabu, dari pukul 15.00-17.00
WITA, Tempat kegiatan pembelajaran praktikum dilakukan dalam ruang
Laboratorium Fakultas Teknik Unikarta Tenggarong

BAB II
STUDI PUSTAKA

2.1. Percobaan Pemisahan Campuran


Landasan Teori

Campuran terdiri atas dua atau lebih senyawa. Campuran dapat dibagi
menjadi tiga yaitu larutan,koloid dan suspensi.Terdapat berbagai macam teknik
pemisahan dari campuran. Diantaranya adalah pemanasan, kromatografi,
kristalisasi,penyaringan,destilasi,penguapan dan sebagainya.Teknik pemisahan
yang digunakan atau yang dipilih,disesuaikan dengan bentuk dan sifat dari
campuran yang akan dipisahkan.
Pemisahan secara destilasi adalah pemisahan campuran dua atau lebih zat
cair berdasarkan titik didihnya.Titik didih adalah temperature dimana suatu zat
mulai mendidih.Setiap senyawa memiliki titik didih yang berbeda sehingga bisa
dipisahkan.Sehingga ketika hasil destilat pertama kali menetes,kita harus melihat
temperaturnya karena pada saat itulah titik didih suatu senyawa telah tercapai.
Metode pemisahan merupakan suatu cara yang digunakan untuk
memisahkan atau memurnikan suatu senyawa atau sekelompok senyawa yang
mempunyai susunan kimia yang berkaitan dari suatu bahan.Metode pemisahan
bertujuan untuk mendapatkan zat murni atau beberapa zat murni dari suatu
campuran, sering disebut sebagai pemurnian dan juga untuk mengetahui
keberadaan suatu zat dalam suatu sampel (analisis laboratorium).
Jenis-Jenis Metode Pemisahan
1.

Filtrasi

Merupakan metode pemisahan untuk memisahkan zat padat dari cairannya


dengan menggunakan alat berpori (penyaring). Dasar pemisahan metode ini
adalah perbedaan ukuran partikel antara pelarut dan zat terlarutnya. Penyaring
akan menahan zat padat yang mempunyai ukuran partikel lebih besar dari pori
saringan dan meneruskan pelarut.
Proses filtrasi yang dilakukan adalah bahan harus dibuat dalam bentuk
larutan atau berwujud cair kemudian disaring. Hasil penyaringan disebut filtrate,
sedangkan sisa yang tertinggal dipenyaring disebut residu (ampas).

2.

Sublimasi

Sublimasi merupakan metode pemisahan campuran dengan menguapkan zat padat


tanpa melalui fasa cair terlebih dahulu sehingga kotoran yang tidak menyublim
akan tertinggal. bahan-bahan yang menggunakan metode ini adalah bahan yang
mudah menyublim, seperti kamfer dan iod.
3.

Kristalisasi

Kristalisasi merupakan metode pemisahan untuk memperoleh zat padat


yang terlarut dalam suatu larutan. Dasar metode ini adalah kelarutan bahan dalam
suatu pelarut dan perbedaan titik beku. Kristalisasi ada dua cara yaitu kristalisasi
penguapan dan kristalisasi pendinginan.
4.

Destilasi

Destilasi merupakan metode pemisahan untuk memperoleh suatu bahan


yang berwujud cair yang terkotori oleh zat padat atau bahan lain yang mempunyai
titik didih yang berbeda. Dasar pemisahan adalah titik didih yang berbeda. Bahan
yang dipisahkan dengan metode ini adalah bentuk larutan atau cair, tahan terhadap
pemanasan,dan

perbedaan

titik

didihnya

tidak

terlalu

dekat.

Proses pemisahan yang dilakukan adalah bahan campuran dipanaskan pada suhu
diantara titik didih bahan yang diinginkan. Pelarut bahan yang diinginkan akan
menguap, uap dilewatkan pada tabung pengembun (kondensor). Uap yang
mencair ditampung dalam wadah. Bahan hasil pada proses ini disebut destilat,
sedangkan sisanya disebut residu.
5.

Ekstraksi

Ekstraksi merupakan metode pemisahan dengan melarutkan bahan


campuran dalam pelarut yang sesuai. Dasar metode pemisahan ini adalah
kelarutan bahan dalam pelarut tertentu.

6. Adsorbsi

Adsorbsi merupakan metode pemisahan untuk membersihkan suatu bahan


dari pengotornya dengan cara penarikan bahan pengadsorbsi secara kuat sehingga
menempel pada permukaan bahan pengadsorbsi.
7. Kromatografi
Kromatografi adalah cara pemisahan berdasarkan perbedaan kecepatan
perambatan pelarut pada suatu lapisan zat tertentu. Dasar pemisahan metode ini
adalah kelarutan dalam pelarut tertentu, daya absorbsi oleh bahan penyerap, dan
volatilitas (daya penguapan).
Suatu zat dapat dipisahkan dari campurannya karena mempunyai
perbedaan sifat. Hal ini dinamakan dasr pemisahan. Beberapa dasar pemisahan
campuran antara lain sebagai berikut:
1. Ukuran partikel
Bila ukuran partikel zat yang diinginkan berbeda dengan zat yang
tidak diinginkan (zat pencmpur) dapat dipisahkan dengan metode filtrasi
(penyaringan),

jika

partikel

zat

hasil

lebih

kecil

daripada

zat

pencampurnya, maka dapat dipilih penyring atau media berpori yang


sesuai dengan ukuran partikel zat yang diinginkan.
2. Titik didih
Bila antara zat hasil dan zat pencampur memiliki titik didih yang jauh
berbeda dapat dipisahkan dengan metode destilasi. Apabila titik didih zat
hasil lebih rendah daripada zat pencampur, maka bahan dipanaskan antara
suhu didih zat hasil dan di bawah suhu didih zat pencampur. Zat hasil akan
lebih cepat menguap, sedangkan zat pencampur tetap dalam keadaan cair
dan sedikit menguap ketika titik didihnya terlewati. Proses pemisahan
dengan dasar perbedaan titik didih ini bila dilakukan dengan kontrol suhu
yang ketat akan dapat memisahkan suatu zat dari campuranya dengan baik,
karena suhu selalu dikontrol untuk tidak melewati titik didih campuran.

3. Kelarutan

Suatu zat selalu memiliki spesifikasi kelarutan yang berbeda, artinya


suatu zat selalu memiliki spesifikasi kelarutan yang berbeda, artinya suatu
zat mungkin larut dalam pelarut A tetapi tidak larut dalam pelarut B, atau
sebaliknya.
4. Pengendapan
Suatu zat akan memiliki kecepatan mengendap yang berbeda dalam
suatu campuran atau larutan tertentu. Zat-zat dengan berat jenis yng lebih
besar daripada pelarutnya akan segera mengendap. Jika dalam suatu
campuran mengandung satu atau beberapa zat dengan kecepatan
pengendapan yang berbeda dan kita hanya menginginkan salah satu zat,
maka dapat dipisahkan dengan metode sedimentsi tau sentrifugsi.
5. Difusi
Dua macam zat berwujud cair atau gas bila dicampur dapat berdifusi
(bergerak mengalir dan bercampur) satu sama lain. Gerak partikel dapat
dipengaruhi oleh muatan listrik. Listrik yang diatur sedemikian rupa (baik
besarnya tegangan maupun kuat arusnya) akan menarik partikel zat hasil
ke arah tertentu sehingga diperoleh zat yang murni.
6. Adsorbsi
Adsorbsi merupakan penarikan suatu zat oleh bahan pengadsorbsi
secara kuat sehingga menempel pada permukaan dari bahan pengadsorbsi.
Penggunaan metode ini diterapkan pada pemurnian air dan kotoran renik
atau organisme

Alat alat Dan Bahan :

Alat :

Gelas kimia 100 ml


: 1 buah
Gelas Erlenmayer 100 ml
: 2 buah
Gelas Ukur 100 ml
: 1 buah
Corong
: 1 buah
Kertas saring
: 1 buah
Kaki tiga dan pembakar
: 1 buah
Batang pengaduk
: 2 buah
Cawan porselin ( pinggan penguap ):1 buah

Bahan :
Garam dapur kotor
Pasir
Air

Cara kerja :
1) Campurkan kira kira 2 gram garam dapur kotor dengan 1 gram pasir
dalam gelas kimia kemudian di tambahkan air 10 ml, aduk hingga garam
terlarut .
2) Lipat kertas saring masukkan ke dalam corong.
3) Saringlah campuran pada langkah (1) dan tampung filternya dalam gelas
erlemanyer .Perhatikan filtrate yang di peroleh, jernih atau keruh (catat).
Amatilah residu yang telah didapat pada kertas saring, zat apakah itu
(catat).
4) Tuangkan kira kira 5 ml filtrate yang di dapat pada langkah (3) ke dalam
pinggan penguapan kemudian panaskan dengan spiritus hingga hamper
kering, kemudian biarkan dan di angin - anginkan. Apakah yang diperoleh
dari percobaan tadi (catat).

Gambar 1.1. percobaan pemisahan campuran


Hasil kerja :
1.
Percobaan
1

Penyaringan dan pengkristalan ;

Volume / Berat
Warna
Garam dapur kotor 2 Keruh

Keterangan
Diaduk menghasilkan larutan

gram, Pasir 1 gram, Air Coklat


10 ml

Campuran Garam, Air, Keruh

Penyaringan

dan Pasir 13ml


5ml Filtrat

menghasilkanlarutan garam
Menghasilkan butiran garam

Putih

3
Tabel 1.1. Hasil Percobaan Pemisahan Campuran
Pertanyaan :
a.

Mengapa garam tidak dapat bisa di pisahkan dengan

larutannya dengan cara menyaringan ?


Jawaban :
-

karena garam zat tunggal yang mudah larut.


b.

Apa yang dapat anda simpulkan dari percobaan ini ?


Jawaban :

Pasir tidak akan larut dalam air, karena bersifat pekat,

sedangkan larut dalam air dan ikut bersama air meskipun air itu telah
disaring dan setelah dilakukanpembakaran air akan menguap dan hanya
tertinggal garam.

2.2. Percobaan Pelarutan Materi

Larutan adalah campuran homogen, maksudnya adalah campuran yang


membentuksatu fasa, yaitu yang mempunyai sifat dan komposisi yang sama
antara satu bagian dengan bagian lain didekatnya, atau singkatnya adalah
campuran yang tidak memiliki bidang batas sehingga tidak terbedakan lagi
walaupun menggunakan mikroskop ultra. Kebanyakan larutan mempunyai salah
satu komponen yang besar jumlahnya, komponen yang besar itu disebut pelarut
(solvent) dan yang lain disebut zat terlarut (solute).
Gula adalah suatu zat padat yang mudah sekali larut dalam zat cair.Banyak
faktor yang dapat mempercepat maupun memperlambat pelarutan gula tersebut.
Salah satunya yang akan kita bahas disini adalah :
1.
2.

Suhu
Ukuran zat terlarut

Faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan gula


Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kecepatan suatu zat melarut
dalam air. Faktor ini berlaku pada larutan dengan zat terlarut padat dan pelarut
cair.
Faktor- faktor tersebut diantaranya:

Suhu

Pemanasan pelarut dapat mempercepat larutnya zat terlarut. Pelarut


dengan suhu yang lebih tinggi akan lebih cepat melarutkan zat terlarut
dibandingkan pelarut dengan suhu lebih rendah.
Ketika pemanasan dilakukan, partikel pada suhu tinggi bergerak lebih
cepat dibandingkan pada suhu rendah. Akibatnya, kontak antara zat terlarut
dengan zat pelarut menjadi lebih efektif. Hal ini menyebabkan zat terlarut menjadi
lebih mudah larut pada suhu tinggi.
Kebanyakan benda padat sulit larut bila suhu pelarutnya rendah.
Sebaliknya, benda padat lebih mudah larut bila suhu pelarutnya tinggi. Sifat ini
membantu kita ketika membuat minuman. Bila ingin membuat minuman dingin,
kita harus melarutkan gula pasir terlebih dahulu kedalam air panas, baru kemudian
ditambahkan air dingin.

Ukuran zat terlarut

Zat terlarut dengan ukuran kecil (serbuk) lebih mudah melarut


dibandingkan dengan zat terlarut yang berukuran besar.
Pada zat terlarut berbentuk serbuk, permukaan sentuh antara zat terlarut
dengan pelarut semakin banyak. Akibatnya, zat terlarut berbentuk serbuk lebih
cepat larut daripada zat telarut berukuran besar.

Volume pelarut

Voleme pelarut yang besar akan lebih mudah melarutkan zat terlarut.

Pengadukan (Mekanis)

Pengadukan menyebabkan partikel-partikel antara zat terlarut dengan


pelarut akan semakin sering untuk bertabrakan. Hal ini menyebabkan proses
pelarutan menjadi semakin cepat.
Dalam larutan cair, antara partikel komponen larutan terdapat interaksi
yang relative kuat. Partikel zat terlarut bergerak bersama pelarut ke segala arah
dalam bejana. Oleh sebab itu, dua jenis zat terlarut dapat bertabrakan dan
menimbulkan reaksi
Alat Dan Bahan
o Alat
Gelas kimia 100 ml

: 1 buah

Gelas ukur 50 ml

: 1 buah

Gelas ukur 100 ml

: 1 buah

Lumpang dan alu

: 1 set

Thermometer

: 1 buah

Sendok kecil

: 1 buah

Lilin

: 1 buah

Tungku

: 1 buah

Kasa

: 1 buah

Stopwatch

: 1 buah

o Bahan
10

Air
Gula pasir 3 sendok kecil
Cara Kerja
1) Isilah gelas kimia dengan air sampai 50 ml, kemudian tambahkan 1 sendok
kecil gula pasir. Biarkan melarut tanpa diaduk, hitung waktu yang
diperlukan sejak gula pasir ditambahkan hingga semua melarut.
2) Ulangi prosedur 1, akan tetapi pada percobaan ini campuran gula dan air di
aduk.
3) Ulangi prosedur 1, akan tetapi air yang digunakan mula-mula di panaskan
hingga mencapai suhu 50o C.
4) Ulangi prosedur 1, akan tetapi gula yang digunakan lebih dahulu digerus
hingga halus.

Gambar 1.2. Percobaan Pelarutan Materi

Hasil Kerja

11

Percobaan

Campuran

Waktu Pelarutan

Air 50 ml

12 menit 33 sekon

Satu sendok gula


(tanpa diaduk)
Air 50 ml

1 menit 6 sekon

Satu sendok gula


(diaduk)
Air 50 ml bersuhu 50C satu

6 menit 5 sekon

sendok gula
(tanpa diaduk)
Air 50 ml

7 menit 56 sekon

Satu sendok gula yg sudah di gerus


Tabel 1.2. Hasil Percobaan Pelarutan Materi
Pertanyaan
a.

Sebutkan

faktor-faktor

yang

mempengaruhi

proses

pelarutan!
Jawab :
faktor-faktor yang mempengaruhinya yaitu :
-

Factor Suhu

Factor Mekanis

Factor ukuran zat partikel

b.

Kondisi bagaimanakah yang menyebabkan proses pelarutan

paling cepat?

Jawab :

12

Ketika adanya pengaruh faktor pengadukan ( Mekanis),maka


proses pelarutan gula berlangsung dengan cepat.Saat air dan gula
dicampurkan lalu diaduk memakai sendok
c.

Apa yang dapat anda simpulkan dari percobaan diatas?

Jawab :
Dari
ke

empat

percobaan

diatas,dapat

disimpulkan

bahwa,campuran air dan gula yg diaduk dan tidak diaduk memiliki waktu
yang berbeda,proses pelarutan lebih cepat campuran gula dan air yang jika
dilakukan pengadukan
Sedangkan campuran gula dan air yang dipanaskan pada suhu
500C,cenderung lebih cepat proses pelarutannya dibandingkan dengan
pelarutan yang unsure gulanya digerus terlebih dahulu .

2.3. Percobaan Perubahan Materi

13

Pada definisi materi, dikatakan bahwa materi merupakan suatu obyek yang
memerlukan ruang dan mempunyai massa. Massa hanyalah salah satu sifat dari
materi,bagaimanapun, massa dapat membedakan materi yang satu dengan materi
lainnya.

Perubahan

materi

dibedakan

atas,perubahan

fisik

dan

sifat

kimia.Perubahan fisik yaitu perubahan bentuk atau wujud.Misalnya perubahan


warna, kilap, dan kekerasan merupakan contoh sifat fisik yang dapat digunakan
untuk menjelaskan keadaan fisik suatu materi. Sedang sifat kimia dapat
ditunjukkan oleh adanya kemampuan suatu materi untuk berubah menjadi materi
lain atau terbentuknya suatu zat baru.
Perubahan materi terbagi menjadi dua macam, yaitu :
1. Perubahan Fisika
Perhatikan es batu yang dipanaskan. Es yang awalnya berwujud padat akan
berubah wujud menjadi cair. Tahukah kamu, dan bahan apakah es batu dibuat? Es
batu dibuat dan air yang berwujud cair, kemudian didinginkan hingga membeku
menjadi padatan yang disebut es. Perubahan es menjadi air dan air menjadi es
merupakan perubahan fisika.
2. Perubahan Kimia
Bagaimana dengan lilin yang terbakar? Ingat! Pada pembakaran lilin, ada
lilin yang terbakar dan ada lilin yang meleleh. Lilin yang meleleh termasuk
perubahan fisika karena tidak menghasilkan zat baru. Adapun pada lilin yang
terbakar, lilin tersebut berubah menjadi asap dan gas yang tidak terlihat oleh mata.
Asap dan gas yang dihasilkan tidak dapat dikembalikan menjadi lilin. Perubahanperubahan tersebut termasuk perubahan kimia. Pada perubahan kimia dihasilkan
senyawa baru yang sifatnya berbeda dengan senyawa asal. Dengan kata lain
perubahan kimia adalah perubahan dari suatu zat atau materi yang menyebabkan
terbentuknya zat baru.

Alat dan Bahan

14

Alat :
Tabung reaksi

: 4 buah

Rak tabung

: 1 buah

Pembakar spiritus

: 1 buah

Besi/logam

: 1 buah

Penjepit tabung

: 1 buah

Pengaduk kaca

: 2 buah

Bahan :
Kawat nikrom
Lilin
Serbuk belerang
Gula pasir
Cara Kerja
1) Nyalakan lilin dan amatilah lilin yang menyala itu, apakah lilin yang
menyala itu menyerap atau membebaskan kalor. Masukkan spatula
baja/besi kedalam nyala lilin selama 6 detik. Amatilah spatula/besi itu
apakah terbentuk zat baru pada lilin yang menyala.
2) Masukkan kira-kira 2 gram potongan-potongan lilin dalam sebuah
tabung reaksi. Dengan menggunakan penjepit tabung panaskanlah
tabung itu hingga lilin di dalamnya meleleh. Kemudian biarkan tabung
beserta isinya menjadi dingin. Apakah lilin yang meleleh menghasilkan
zat baru.
3) Lakukan seperti percobaan ke 2 gelas di atas dengan

Serbuk pasir

Gula pasir

15

4) Ambil sedikit serbuk belerang dengan pengaduk kaca, kemudian bakar (


tetap pada pengaduk ). Perhatikan belerang yang terbakar menghasilkan
zat baru.
5) Panaskan kawat nikrom pada nyala spiritus hingga berpijar, kemudian
biarkan menjadi dingin. Periksalah apakah kawat nikrom berubah
menjadi zat lain

Gambar 1.3. Percobaan Perubahan Materi

16

Percobaan
1

Lilin

Terjadi Reaksi Baru


yang
dinyalakan
akan

membebaskan

kalor,

dan

pada

spatula baja/besi yang dimasukan

Keterangan
Lilin membebaskan kalor,
Spatula tidak mengalami
perubahan fisik

kedalam lilin tidak terjadi reaksi baru


Lilin yang dimasukkan ke dalam Mengalami
2

tabung reaksi tidak terjadi zat baru

perubahan

fisik:
Padat ke cair

3a

Cair kepadat
Serbuk belerang yang dibakar akan Mengalami

perubahan

berubah menjadi cair dan setelah kimia


dingin menjadi padat kembali dan
berubah warna menjadi coklat
Gula yg dipanaskan dalam tabung Mengalami
3b

reaksi akan berubah menjadi cair dan kimia


terjadi perubahan warna
Belerang
yang
dibakar

perubahan

pada Mengalami

perubahan

pengaduk kaca menghasilkan reaksi fisik


baru yaitu menjadi gas dan berbau
menyengat
Kawat nikrom yang dipanaskan akan Mengalami

mencair dan berubah padat bulat lagi kimia


setelah didinginkan
Tabel 1.3. Hasil Percobaan Perubahan Materi

2.4. Percobaan Kromatografi Kertas

17

perubahan

Kromatografi adalah pemisahan campuran berdasarkan perbedaan


kecepatan perembesan atau perbedaan koefisien difusi. Komponen-komponen
yang dipisahkan akan didistribusikan antara dua fase, salah satunya merupakan
fase stasioner (tetap) ,dan yang berupa fase mobil (fase bergerak).
Fase mobil dialirkan menembus sepanjang fase stasioner. Fase stasioner
cenderung menahan komponen campuran, sedangkan fase mobil menghanyutkan
campuran. Berdasarkan perbedaan terikatnya suatu komponen pada fase stasioner
dan perbedaan kelarutan pada fase mobil, komponen-komponen suatu campuran
dapat dipisahkan. Komponen yang kurang larut dalam fase mobil, atau yang lebih
kuat terjerap (terabsorpsi) pada fase stasioner akan tertinggal. Sedangkan
komponen yang lebih larut akan kurang terjerat akan bergerak lebih cepat.
Alat dan Bahan
Alat :
Gelas Pembiak

: 3 Buah

Kertas saring

: 3 Buah

Lidi

: 3 Batang

Air

: Secukupnya

Bahan :
Tinta yang larut dalam air (Merah, Hitam, Biru)

Cara Kerja :
1)
2)
3)
4)

Siapkan kertas saring(kerta tissue) dengan ukuran 4 x 14 cm2


Tarik satu garis dengan pensil kira-kira 1cm, dari salah satu ujungnya
Buat noda dengan tinta hitam pada garis itu lalu biarkan mengering.
Gantungkan kertas itu dengan sebatang lidi pada gelas pembiak. Atur

ketinggian kertas saring, sehingga ujungnya tidak mengenai dasar gelas.


5) Isilah gelas pembiak dengan air, kira-kira setinggi 1cm (permukaan air
tidak boleh mengenai noda tinta).

Air akan merambat naik, dan

menguraikan zat-zat warna tinta. Keluarkan kertas saring itu dari gelas
pembiak jika air sudah sampai ke ujung kertas bagian atas (lidi), dan

18

biarkan mengering. Berapa jenis warna yang terdapat pada tinta hitam itu
(catat).
6) Lakukanlah prosedur yang sama dengan tinta berwarna biru dan merah.

Gambar 1.4. Gambar Percobaan Kromatografi Kertas

Hasil Kerja
N Percobaan

Waktu

Warna

Hitam

3 menit 27 detik

Berubah menjadi warna

Merah

4 menit 2 detik

kecoklatan
Berubah menjadi warna jingga

Biru

3 menit 42 detik

Berubah menjadi warna, biru

NO
1
2
3

muda
Tabel 1.4. Hasil Percobaan Kromatografi Kertas

Pertanyaan :

19

a. Jelaskan mengapa zat warna dalam tinta terpisah pada krematografi


kertas?
Jawab :
Karena fase stasioner dipengaruhi oleh fase mobile dimana
fase mobile dapat menembus sedangkan fase stasioner cenderung
menahan komponen campuran dan fase mobile dapat menghancurkan
campuran
b. Apa yang anda simpulkan dari percobaan di atas?
Jawab :
Dari percobaan tersebut,dapat disimpulkan bahwa dalam
proses kromatografi kertas selalu mennglami perubahan warna.Hal ini
dipengaruhi oleh 2 Fase ,fase stasioner yakni fase mobile mengalir
menembus sepanjang kertas atau yang menjadi obyek stasioner,fase
stasioner cenderung menahan komponen campuran.Sedangkan fase
mobile menghanyutkan campuran.Berdasarkan perbedaan terikatnya
suatu komponen pada fase stasioner dan perbedaan kelarutan padsa
fase mobile,komponen-komponen suatu campuran dapat dipisahkan.

2.5. Percobaan Klasifikasi Materi

20

Materi terdiri dari Unsur, Senyawa dan Campuran. Unsur dan senyawa
tergolong zat tunggal dan homogen. Campuran terdiri atas dua jenis zat atau lebih
zat tunggal. Unsur tidak dapat diuraikan secara kimia menjadi zat-zat lainnya,
sedangkan senyawa dapat diuraikan menjadi zat lainnya.
Alat dan Bahan
Alat :
Peralatan Tulis
Bahan :
Bahan dapat dilihat disekitar lingkungan kampus
Cara Kerja
Dalam kegiatan ini, anda akan mencatat minimal 30 jenis materi
yang biasa anda temukan dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian anda
mengelompokan kedalam 3 jenis bagian, yaitu Unsur, senyawa, dan
Campuran. Berikan penjelasan yang cukup mengenai pengelompokan itu

Hasil Kerja
Jenis Materi

Golongan

o
Unsur

Senyawa

Campura

Keteranga
n
Rumus Kimia

n
1

Besi

Fe

21

Air

H2O

2
3 Alumunium

Al

3
4

Batu bata

Kopi

SiO2

C8H10N4O2

5
6 Semen

SiO2Al2O32H2O

6
7 Plastik

CH3OH

7
8

Udara

O2

Bensin

C8H18

Cermin

CuO

NaCl

8
9
10
1 Garam Dapur
11
1

Emas

Au

Nikel

Ni

Gula

Tembaga

12
13

C12H22O11

14
Cu

15
1 Besi berkarat

Fe2O3.2H2O

16
1

Timah

17
1 Asam Cuka

CH3COOH

H2SO4

18
1

Air aki

22

19
2

Alcohol

C2H5OH

20
Tabel 1.5. data Pengamatan hasil percobaan klasifikasi materi
Pertanyaan

Apa dasar anda mengelompokan benda-benda tersebut kedalam


Unsur, Senyawa dan Campuran ?
Jawaban :
Karena benda-benda tersebut mempunyai symbol dan
no.atom

Kesimpulan apa yang dapat anda kemukakan dalam percobaan kali


ini ?
Jawaban :
Kita bisa mengetahui perbedaan, unsure, dan senyawa

2.6. Percobaan Mengukur pH Tanah dan Air


Asam dan basa merupakan dua golongan zat kimia yang sngat penting.
Dalam kehidupan sehari-hari kita mengenai bebagai jenis zat yang digologkan
sebagai asam,misalnya, asam cuka, asam sitrum, asam jawa, dan asam belimbing.
Demikian juga, kita mengenal berbagai jenis zat yang digolongkan sebagai basa,
misalnya kapur sirih, kaustik soda, air sabun, dan air abu. Salah satu sifat basa
adalah dapat melarutkan lemak itulah sebabnya abu(abu gosok) digunakan untuk
mencuci piring.
Asam adalah zat-zat yang mempunyai rasa asam, sedangkan basa adalah
zat-zat yang mempunyai rasa agak pahit. Asam dan basa dapat dikenal dengan
menggunakan bebagai jenis indikator. Indikator asam-basa adalah zat-zat warna
yang memberi warna berbeda dalam lingkungan asam dan lingkungan basa.
Indikator asam-basa pada awalnya diperoleh dari tumbuhan tetapi kini sudah

23

dapat dibuat dipabrik. Lakmus, sebagai contoh diperoleh dari liken, suatau
simbiosis jamur dengan alga. Liken biasanya tumbuh dibebatuan atau pepohonan.
pH didefinisikan sebagai Logaritma aktivitas ion hidrogen (H+) yang
terlarut. Koefisie aktivitas ion hidrogen tidak dapat diukur secara eksperimental.,
sehingga nilainya didasarkan pada perhitungan teoritis. Skala pH bukalah skala
absolut. Ia bersifat relatif terhadap sekumpulan larutan standar yang pH-nya
ditentukan berdasarkan persetujuan internasional. Pengukuran pH baik tanah
maupun air bisa dilakukan dengan beberapa cara yaitu dengan kertas lakmus, pH
indikator, dan pH meter. Pengukuran yang paling akurat adalah menggunakan pH
meter. Larutan asam mempunyai tingkat keasaman yang berbeda-beda. Perbedaan
tingkat keasaman dapat terjadi karena perbedaan kepekatannya. Ketika kita makan
bakmi atau bakso, kita menambahkan cuka atau jeruk lebih banyak untuk
menambah keasamanny, bukan? Selain karena kepekatan, tingkat keasaman juga
bergantung pada jenis asaamnya. Asam sulfat 5% jauh lebih asam daripada asam
cuka 5%; jus lemon jauh lebih asam daripada jus tomat.
Tingkat keasaman lazim dinyatakn dengan skala pH. Niasanya skala
berkisar dari 0 hingga 14 dengan ketentuan sebagai berikut:

Larutan asam mempunyai pH <7.

Larutan basa mempunyai pH >7.

Laruutan netral mempuyai pH = 7.

Jadi, semakin asam suatu larutan semaki kecil pH-nya. Lazrutan dengan
pH=1 memiliki sifat 10 kali lebih asam daripada larutan dengan pH=2; larutan
dengan pH=1 memilikisifat 100 kali lebih asam daripada larutan dengan pH=3,
dan seterusnya.
Alat Dan Bahan
Kertas lakmus atau pH indicator
Gelas elenmeyer
Gelas kimia
Sendok teh
Air mineral ( AQUA)

24

Sampel tanah (cara mengambil sampel tanah : ambil tanah kering dari
empat ujung dan tengah-tengah lahan kita, campurkan secara merata,
jemur beberapa jam supaya kering. Ini bertujuan agar tanah yang akan
diukur pH-nya merupakan bagian yang rata dari lahan kita).
Sampel air (air PDAM, air sungai, air asam tambang).
Cara Kerja
a. Cara kerja mengukur pH tanah
1) Ambil sedikt sampel tanah dan air mineral (aqua) secukupnya
(perbandingan 1:1)
2) Masukkan kedalam gelas kimia atau gelas elenmeyer
3) Aduk-aduk biar benar-benar homogen (merata)
4) Biarkan beberapa menit agar campuran air dan tanah tadi
memisah (tanahnya mengendap)
5) Setelah airnya terlihat agak jernih masukan ujung kertas lakmus
atau pH indicator kedalam campuran tadi (sekitar 1 menit)
tetapi jangan sampai mengenai ujung tanahnya.
6) Tunggu saat sampai kertas lakmus atau pH indicator berubah
warnanya.
7) Setelah warnanya stabil, cocokkan warna yang diperoleh oleh
kertas lakmus atau pH indicator tadi dengan warna petunjuknya
dan catat berapa nilainya.
b. Cara kerja mengukur pH air
1) Masukkan air PDAM kedalam gelas kimia 50 ml
2) Masukan ujung kertas lakmus atau pH indicator kedalam air
tersebut (sekitar 1 menit)
3) Tunggu beberapa saat sampai kertas lakmus atau pH indicator
berubah warnanya.

25

4) Setelah warnanya stabil, cocokkan warna yang diperoleh oleh


kertas lakmus atau pH indicator tadi dengan warna
petunjuknya dan catat berapa nilainya.
5) Lakukan percobaan diatas (1-4) dengan sampel berupa air
sungai dan air asam tambang.

Gambar 1.5. Gambar Percobaan Mengukur pH Tanah dan Air

Hasil Percobaan:
Percobaan

Sampel

Warna

Keterangan

pH
1

Air Tanah

7 Kuning,hijau,jingga
7

Air PDAM

6
6

Air
Asam Tambang

,
Kuning
Kuning,coklat

muda,jingga,kuning
7 Ungu,kuning,jingga

Netral

Asam
Asam

,
Kuning
Tabel 1.6. Hasil Percobaan Mengukur pH Tanah dan Air

26

Pertanyaan :
a.

Sebutkan fungsi atau kegunaan pengukura pH tanah dan air

pada bidang pertambangan!


Jawab :
Fungsi atau kegunaan pegukuran pH tanah dan air pada
bidang pertambangan yaitu untuk menunjukkan atau menentukan
tingkat kesamaan sesuatu larutan. Selain itu, kegunaan atau fungsi
pengukuran pH tanah dan air pada bidang pertambangan yaitu untuk
mengetahui drajat keasaman dan kebasaan pada tanah dan air
tersebut, sehingga membantu untuk reklamasi apakah tanah dan air
layak ditanami tanaman ataukah tidak (uji kesuburan tanah).
b.

Apa yang anda simpulkan dari percobaan diatas !


Jawab:
Kesimpulan dari percobaan pengukuran pH Tanah dan Air,

yaitu bahwa pH yang berkisar 0-6 berarti Asam, 8-14 berarti basa dan
pH 7 berarti Netral, sehingga dalam kehidupan sehari-hari kita dapat
mengetahui pH tanah dan air bagi keberlangsungan hidup.

BAB III
PENUTUP
3.1.

Kesimpulan
Kesimpulan Pemisahan Campuran
Jadi yang dapat saya simpulkan dari percobaan penyaringan dan
pengkristalan ini yaitu :
1. Apabila air, garam dan pasir dicampur saat dilakukan penyaringan, pasir akan
tertinggal pada kertas penyaring karena pasir merupakan suspensi.
2. Apabila air dan garam dilarutkan, maka garam dan air tersebut sulit
dibedakan karena ini disebut sebagai larutan solid.

27

3. Proses pemurnian yang akan menjadi sebuah Kristal disebut Kristalisasi.


4. Mengetahui perubahan warna awal setelah dicampurkan dengan air .
Kesimpulan Pelarutan Materi
Faktor- faktor yang mempengaruhi proses pelarutan diantaranya:

Suhu

Pemanasan pelarut dapat mempercepat larutnya zat terlarut. Pelarut


dengan suhu yang lebih tinggi akan lebih cepat melarutkan zat terlarut
dibandingkan pelarut dengan suhu lebih rendah.

Ukuran zat terlarut

Zat terlarut dengan ukuran kecil (serbuk) lebih mudah melarut


dibandingkan dengan zat terlarut yang berukuran besar.

Volume pelarut

Voleme pelarut yang besar akan lebih mudah melarutkan zat terlarut.

Pengadukan (Mekanis)

Pengadukan menyebabkan partikel-partikel antara zat terlarut dengan


pelarut akan semakin sering untuk bertabrakan. Hal ini menyebabkan proses
pelarutan menjadi semakin cepat.
Kesimpulan Perubahan Materi
Perubahan

materi

dibedakan

atas,perubahan

fisik

dan

sifat

kimia.Perubahan fisik yaitu perubahan bentuk atau wujud.. Sedang sifat kimia
dapat ditunjukkan oleh adanya kemampuan suatu materi untuk berubah menjadi
materi lain atau terbentuknya suatu zat baru.
Ada empat macam petunjuk yang menandai berlangsungnya suatu reaksi
kimia yaitu :
a) Pembentukan gas
b) Pembentukan endapan

28

c) Perubahan warna
d) Perubahan suhu
Kesimpulan Kromatografi Kertas
Fase mobile adalah fase yang bergerak, sedangkan fase
stasioner adalah fase diam. Perubahan warna pada fase stationer
disebabkan adanya rambatan dari fase mobile yang menyebabkan
terpisahnya zat-zat penyusun fase tersebut dan kemudian menyebabkan
perubahan warna.
Kesimpulan Klasifikasi Materi
Setelah melakukan percobaan dan pengamatan, dapat disimpulkan bahwa :
1. Unsur dan Senyawa tidak dapat diuraikan lagi menjadi zat yang lebih
sederhana melalui proses kimia.
2. Campuran dapat kita uraikan menjadi zat yang lebih sederhana melalui proses
kimia.
3. Penggabungan beberapa unsur menjadi senyawa atau campuran, dapat
digunakan untuk kepentingan hidup sehari-hari, contohnya: Benzena (C 6H2)
biasa digunakan untuk memberikan aroma pada gas LPG, sehingga kita dapat
mangetahui jika terjadi kebocoran,
4. Penggabungan unsur-unsur menjadi senyawa baru atau campuran tersebut
dilakukan agar unsur tersebut dapat lebih bermanfaat dari pada saat ia
menjadi zat tunggal.
Kesimpulan Mengukur pH Tanah Dan Air

Larutan dengan pH 7 disebut netral

Larutan dengan pH lebih dari 7 (8-14) disebut larutan basa

Larutan dengan pH kurang dari 7 (0-6) disebut larutan asam

Larutan asam dan basa adalah larutan yang tidak layak dikonsumsi,
sedangkan larutan netral adalah larutan yang layak dikonsumsi.

29

Asam adalah zat-zat yang mempunyai rasa asam, sedangkan basa adalah
zat-zat yang mempunyai rasa agak pahit. Asam dan basa dapat dikenal dengan
menggunakan bebagai jenis indikator.
pH didefinisikan sebagai Logaritma aktivitas ion hidrogen (H+) yang
terlarut. Pengukuran pH baik tanah maupun air bisa dilakukan dengan beberapa
cara yaitu dengan kertas lakmus, pH indikator, dan pH meter. Pengukuran yang
paling akurat adalah menggunakan pH meter.

3.2.

Saran
Untuk mengikuti berikutnya sebaiknya para asisten mendampingi
praktikum agar praktikan tidak kebingunan. Untuk selanjutnya praktikan harus
lebih teliti dalam pengguanaan alat-alat agar mendapatkan hasil yang maksimal.
Selama mengikuti Praktikum Kimia Dasar ini, kami telah banyak
memperoleh banyak pengetahuan yang sangat berguna.
a.

Disiplin adalah kunci keberhasilan dalam melaksanakan

b.

Ketelitian yang merupakan bagian dari etos kerja agar

tugas
mendapatkan hasil yang lebih sempurna.
Sebagai penutup penulis ucapakan terima kasih kepada semua pihak
yang telah membantu penulis dengan baik,

30

DAFTAR PUSTAKA
1. http://id.wikipedia.org/wiki/rekristalisasi
2. Purba,Michael. 2006. Kimia untuk SMA Kelas X Semester 1. Jakarta:Erlangga
3. Syukri,S. 1999. Kimia Dasar Jilid2. Bandung : ITB.
4. Oxtoby, D.W., Gillis, H.P., Nachtrieb, N.H. (2001) Prinsip-prinsip
5. Kimia Modern. Edisi ke-4. Jilid 1. Diterjemahkan oleh S.S. Achmadi. Jakarta:
Erlangga.
6. http://www.bimbingankimia.com/index.php?
option=com_content&view=article&id=9&Itemid=78
7. http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-smk/kelas_x/perubahan-fisikadan-kimia/
8. http://organisasi.org/perubahan_materi_atau_zat_secara_fisis_fisika_dan_kimi
a_ilmu_kimia
9. http://www.bimbingankimia.com/index.php?
option=com_content&view=article&id=9&Itemid=78

31

10. http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-smk/kelas_x/perubahan-fisikadan-kimia/

32