Anda di halaman 1dari 15

LABORATORIUM PENGENDALIAN KOROSI

SEMESTER GANJIL TAHUN AJARAN 2015/2016

PRAKTIKUM PENGENDALIAN KOROSI


MODUL

: Indikator Korosi

PEMBIMBING

: Ir. Yunus Tonapa Sarungu, MT

Praktikum : 21 Oktober 2015


Penyerahan: 28 Oktober 2015
(Laporan)

Oleh :
Kelompok

: VI

Nama

: 1. Shafira Damayanti
2. Sidna Kosim Amrulah

131411051
131411052

3. Tasya Diah Rachmadiani 131411053


Kelas

: 3B

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2015

BAB I
PENDAHULUAN
1

Latar Belakang
Penggunaan indikator dilakukan untuk menerangkan daerah-daerah logam yang
bersifat anodik dan katodik, serta untuk melihat suatu keberhasilan mengurangi laju
korosi dengan proteksi katodik. Elektrolit agar-agar digunakan supaya laju perpindahan
produk reaksi yang terbentuk pada permukaan logam dapat dihambat. Percobaan ini
dilakukan untuk menambah penjelasan tentang mekanisme korosi galvanik dan
mekanisme terbentuknya sel elektrokimia logam homogen.

Tujuan
Setelah mempelajari dan melakukan praktikumini diharapkan mahasiswa mampu :
1

Mengidentifikasi korosi logam berdasarkan indikator dengan menunjukkan daerah


yang bersifat anodik dan katodik pada logam yang homogen,

Melakukan reaksi anodik dan katodiknya.

BAB II
DASAR TEORI
2.1

Korosi pada Berbagai Logam


Korosi adalah suatu proses elektrokimia dimana atom-atom akan bereaksi dengan zat

asam dan membentuk ion-ion positif (kation). Hal ini akan menyebabkan timbulnya aliranaliran elektron dari suatu tempat ke tempat yang lain pada permukaan logam. Korosi dapat
terjadi pada semua logam namun dengan laju korosi yang berbeda-beda. Laju korosi adalah
kecepatan rambatan atau kecepatan penurunan kualitas bahan terhadap waktu. Laju korosi
dipengaruhi oleh potensial logam dan juga nilai rapat arus dari lingkungan atau logam itu
sendiri.
Salah satu logam yang dapat terkorosi dengan cepat adalah Zn karena Zn memiliki
nilai potensial yang lebih kecil dibandingkan dengan logam Fe atau tembaga. Zn adalah
logam yang putih kebiruan, cukup mudah untuk ditempa. Zn melebur pada suhu 410 oC. Dan
mendidih pada 906oC. Logam murninya melarut lambat sekali dalam asam dan dalam alkali.
Adanya zat-zat pencemar atau kontak dengan Pt atau Cu yang dihasilkan oleh penambahan
beberapa tetes larutan garam dari logam-logam ini akan mempercepat reaksi. Ini menjelaskan
larutnya Zn-Zn komersial (Svehla, 1990).
Fe yang murni adalah logam yang berwarna putih perak yang kukuh dan liat. Ia
melebur pada suhu 1535oC. Jarang terdapat Fe komersial yang murni, biasanya Fe
mengandung sejumlah kecil karbida, silsida, fosfida, dan sulfida dari Fe, serta sedikit grafit.
Zat-zat pencemar ini memainkan peranan penting dalam kekuatan struktur Fe. Berbeda
dengan tembaga, tembaga adalah logam merah muda, yang lunak, dapat ditempa, dan liat.
Melebur pada 1038oC. Karena potensial elektroda standarnya positif, ia tidak larut dalam
asam klorida dan asam sulfat encer, meskipun dengan adanya oksigen ia bisa larut sedikit
(Svehla, 1990).
2.2

Indikator Fenolftalein
Fenolftalein adalah senyawa kimia dengan rumus C20H14O4 dan sering ditulis sebagai

"HIn" atau "phph" dalam notasi steno. Sering digunakan dalam titrasi, tidak berwarna dalam
larutan asam dan merah muda di larutan basa. Jika konsentrasi indikator sangat kuat, dapat
berwarna ungu. Dalam larutan basa kuat, warna merah muda fenolftalein ini mengalami

reaksi yang lambat memudar dan menjadi tidak berwarna lagi. Molekul ini memiliki empat
bentuk:

Fenolftalein tidak larut dalam air dan biasanya dilarutkan dalam alkohol untuk
digunakan dalam eksperimen. Fenolftalein sendiri merupakan asam lemah, yang dapat
kehilangan ion H+ dalam larutan. Molekul fenolftalein tidak berwarna. Namun, ion
fenolftalein adalah merah muda. Ketika basa ditambahkan ke fenolftalein, kesetimbangan
molekul ion bergeser ke kanan, menyebabkan ionisasi lebih sebagai ion H + yang
dihasilkan. Hal ini sesuai dengan prinsip Le Chatelier.
2.3 Prinsip kerja Fenolftalein
Fenolftalein adalah indikator titrasi yang sering digunakan, dan fenolftalein ini
merupakan bentuk asam lemah yang lain.

Pada kasus ini, asam lemah tidak berwarna dan ion-nya berwarna merah muda terang.
Penambahan ion hidrogen berlebih menggeser posisi kesetimbangan ke arah kiri, dan
mengubah indikator menjadi tak berwarna. Penambahan ion hidroksida menghilangkan ion
hidrogen dari kesetimbangan yang mengarah ke kanan untuk menggantikannya mengubah
indikator menjadi merah muda.
Setengah tingkat terjadi pada pH 9.3. Karena pencampuran warna merah muda dan
tak berwarna menghasilkan warna merah muda yang pucat, hal ini sulit untuk mendeteksinya
dengan akurat.Pada titrasi asidimetri antara asam - basa kuat, warna yang paling sering

muncul adalah dari tak berwarna hingga rosa kemudian menjadi ungu kompleks. Ternyata PP
sendiri memiliki warna yang berbeda pada pH < 0 atau pH > 12.
Rentang pH fenolftalein:

2.4 Sintesis Fenolftalein


Indikator ini dapat disintesis dengan cara mereaksikan 2 mol fenol dengan 1 mol
anhidrida ftalat dengan katalis asam sulfat pekat pada suhu tinggi. Sintesis ini ditemukan oleh
Adolf von Baeyer pada tahun 1871.

Cara pembuatan larutan fenolftalein adalah dengan melarutkan padatan PP pada


alkohol 96%. PP lebih mudah larut dalam alkohol dibandingkan dengan air. Kita hanya
memerlukan sedikit bubuk PP saja dalam pelarutan ini (konsentrasi kecil).
2.5 Penggunaan Indikator Fenolftalein Untuk Studi Korosi Logam
Indikator

penolphtalein akan mengindikasikan pembentukkan OH- pada katoda

dengan warna merah muda, sedangkan Ferrocyanida menunjukkan pembebasan Fe 2+ di anoda


dengan warna biru. Logam baja karbon rendah yang mengalami perlakuan mekanik akan

terjadi dua fungsi yaitu sebagai anoda di daerah Fe yang berwarna biru tua, dan sebagai
katoda pada daerah Fe yang berwarna merah muda. Daerah yang berwarna biru sebagai
anoda terjadi reaksi oksidasi menurut:
Fe Fe2+ + 2e- (oksidasi)
Sedangkan pada daerah yang berwarna merah muda sebagai katoda akan terjadi
pembentukkan OH- (reduksi air) menurut reaksi :
H2O + O2 + 4e-

4OH- (reduksi)

Jadi reaksi keseluruhan yang berlangsung pada hasil percobaan sebagai berikut :
3Fe + K4[Fe(CN)6] 3Fe2[Fe(CN)6] + 4K (warna biru tua)
Indikasi pada dua logam yang berbeda potensial sebagai contoh baja karbon rendah
dengan Zn. Jika kedua logam tersebut dihubungkan dengan kawat tembaga dan ditempatkan
dalam cawan petri yang berisi larutan yang akan dijelaskan pada bahan dan alat maka terlihat
indikasi-indikasi sebagai berikut :

Pada logam baja karbon rendah terbentuk warna merah muda sehingga pada baja karbon
rendah terjadi reaksi pembentukkan OH-. Menurut reaksi :
2H2O + O2 + 4e-

4OH- (reduksi)

Sedangkan pada logam Zeng terbentuk warna putih, artinya terjadi reaksi oksidasi:
Zn

Zn2+ + 2e- (oksidasi)

Reaksi keseluruhan yang terjadi pada hasil percobaan adalah :


2Zn + K2[Fe(CN)6] Zn2[Fe(CN)6] + 2K (warna putih)

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
1

Alat yang digunakan


1
2
3
4

5
6
7

1 buah pelat Cu
Termometer
Batang pengaduk

Bahan yang digunakan


1
2
3
4
5

1 buah Cawan Petri


Hot plate
Gelas kimia 250 ml
1 buah pelat Fe

4 gram agar agar


0,06 gram Kalium Ferricyanida
0,06 gram Kalium Ferrocyanida
0,1 gram garam NaCl
3 cc Phenolpthalein

Prosedur Kerja
1

Persiapan Spesimen

Amplas spesimen yang akan digunakan (Fe dan Cu) sampai halus

Keringkan spesimen

Hubungkan spesimen yang akan diuji anoda korban dengan kabel

Letakan benda kerja pada langkah pada cawan petri kering

Persiapan Larutan
4 gram agaragar
0,06 kalium
ferrocyanida

0,06 kalium
ferricyanida
Larutkan dalam 250 ml aquades
0,1 gram NaCl

Panaskan larutan sampai temperatur mendidih dan bening,aduk

Pelaksanaan Proses Indikator

Dinginkan sampai 60oC

Indikator pp 3 cc

Tuangkan larutan dalam cawan petri sehingga logam tergenang

Diamkan larutan hingga membeku,tutup cawan petri. Amati selama 4 hari

BAB IV
DATA PENGAMATAN
Hari ke-

Gambar Pengamatan

Keterangan

0
(kondisi awal)

Belum terjadi perubahan pada


logam

Tampak atas

1
(Kamis, 22
Oktober 2015)

Tampak bawah

2
(Jumat, 23
Oktober 2015)

Tampak Atas

Tampak Bawah

Sudah mulai terjadi korosi


pada logam Fe. Ditandai
dengan perubahan warna
pada agar-agar di samping
permukaan logam Fe menjadi
biru tua.
Sedangkan pada logam Cu
tidak terjadi perubahan.

Perubahan
warna
pada
permukaan logam Fe semakin
banyak, artinya bagian logam
Fe yang terkorosi semakin
banyak.
Pada logam Cu masih belum
terjadi perubahan

Tampak Atas

3
Senin, 26
Oktober 2015

Tampak Bawah

Perubahan warna agar-agar di


sekitar logam Fe semakin
banyak, hampir menutupi
seluruh bagian dari logam Fe
tersebut.
Pada logam Cu tidak terjadi
perubahan warna sama sekali.

BAB V
PEMBAHASAN
5.1 Oleh Shafira Damayanti (131411051)
Pada praktikum ini dilakukan identifikasi korosi logam berdasarkan indikator dengan
menunjukan daerah yang bersifat anodik dan katodik pada logam yang homogen. Logam
yang digunakan pada praktikum ini adalah logam Fe (besi) dan Cu (tembaga).
Hal yang pertama dilakukan adalah membuat larutan untuk media. Media yang
digunakan adalah larutan campuran antara agar-agar 4 gram, 0.06 gram Kalium Ferricyanida,
0.06 gram Kalium Ferrocyanida, 0.1 gram NaCl dan 3 mL indikator Phenolptalein.
Penggunaan agar-agar sebagai media indikator adalah sebagai larutan kontrol, yaitu larutan
yang akan menghalangi kontak antara logam dengan lingkungan di luar agar-agar, sehingga
proses korosi yang terjadi memang merupakan proses yang dipengaruhi oleh lingkungan
didalam agar-agar saja. Selain itu sifat agar-agar yang transparan juga akan memberikan
kemudahan saat dilakukan pengamatan. Penambahan NaCl bertujuan sebagai jembatan garam
sehingga mobilitas elektron akan

makin meningkat dan korosi berjalan makin cepat.

Penambahan K3Fe(CN)6 bertujuan untuk menunjukan bagian logam yang teroksidasi yang
ditandai dengan adanya warna biru. Sedangkan Penambahan PP bertujuan untuk menunjukan
bagian logam yang reduksi ditandai dengan adanya warna pink.
Kemudian larutan yang telah dibuat, dimasukan ke dalam cawan petri yang berisi
logam Fe dan Cu yang telah disambungkan dengan kabel. Pengamatan dilakukan selama 3
hari, pada hari pertama logam Fe baru sedikit terkorosi di bagian samping-samping logam.
pada hari kedua logam Fe yang terkorosi semakin banyak, dan hari ketiga logam Fe hampir
semua tertutupi dengan warna biru tua yang artinya korosi semakin meningkat. Warna biru
tua pada besi menunjukkan bahwa besi teroksidasi yaitu terjadi pembebasan Fe2+ sehingga
daerah tersebut dapat dinyatakan sebagai daerah anoda.
Reaksinya : Fe(s) Fe2+ + 2e-. Secara keseluruhan reaksi ini menghasilkan senyawa
Fe2[Fe(CN)6]. Senyawa inilah yang memberikan warna biru pada media indikator (agar-agar).
Namun dalam pengamatan yang kami lakukan, tidak ada perubahan warna pada logam
Cu. Hal ini karena kesalahan pada penyambungan logam. Kabel yang dihubungkan pada
logam seharusnya diisolasi atau ditutup, karena kabel tersebut mengandung tembaga,
sehingga tembaga pada kabel yang bereaksi dengan logam Cu, bukan dengan logam yang

satunya (Fe). Sehingga logam Fe tidak tereduksi. Yang seharusnya agar-agar di sekitar larutan
Cu menjadi warna pink, karena Pada logam Cu terjadi reaksi reduksi air yang akan
menghasilkan ion OH-. Reaksi nya : H2O + O2 + 4e-

4OH-. Ion OH- inilah yang

menyebabkan perubahan warna menjadi warna pink.


Reaksi Keseluruhan
Anoda

: Fe(s) Fe2+ + 2e-

Katoda `: H2O + O2 + 4e- 4OHReaksi

: 2Fe + H2O + O2Fe2+ + 4OH-

Eo sel

= Eo katoda Eo anoda

= 0,34 (- 0,44)
= 0,78 volt (Reaksi berlangsung spontan)
Sehingga logam Cu lebih cepat mereduksi logam Fe. Karena dapat dilihat pula dari
harga potensialnya yang lebih positif. Semakin negatif nilai potensial, maka logam akan cepat
terkorosi oleh logam yang memiliki potensial yang lebih positif. Hanya kesalahan pada
praktikum ini adalah Cu yang bereaksi dengan logam Fe adalah Cu pada kabel bukan dengan
logam Cu yang dihubungkan.

5.2 Oleh Sidna Kosim Amrulah (131411052)


Indikator korosi merupakan salah satu metode untuk menerangkan bagian-bagian
logam yang bersifat anodik dan katodik ketika logam tersebut aktif terkorosi. Logam yang
digunakan adalah besi (Fe) dengan tembaga (Cu). Kedua logam tersebut disambungkan
dengan kabel yang bertujuan untuk melihat mana logam yang lebih anodik dan lebih katodik
dari kedua logam tersebut.
Media yang digunakan adalah larutan campuran antara agar-agar 4 gram, 0.06 gram
Kalium Ferricyanida, 0.06 gram Kalium Ferrocyanida, 0.1 gram NaCl dan 3 mL indikator
PhenolPtalein. Penggunaan agar-agar sebagai media indikator adalah sebagai larutan kontrol,
maksudnya adalah sebagai larutan yang akan menghalangi kontak antara logam dengan
lingkungan di luar agar-agar, sehingga proses korosi yang terjadi memang merupakan proses
yang dipengaruhi oleh lingkungan didalam agar-agar saja. Selain itu sifat agar-agar yang
transparan juga akan memberikan kemudahan saat dilakukan pengamatan.

NaCl yang ditambahkan berfungsi sebagai jembatan garam yang akan memudahkan
pergerakan elektron dalam agar-agar. Penambahan K3Fe(CN)6 bertujuan untuk menunjukkan
tempat dimana Fe teroksidasi yang ditandai dengan adanya warna biru. Penambahan
Indikator PP akan menyebabkan adanya warna merah muda karena terbentuknya ion OH(basa) pada permukaan logam, warna merah muda menunjukkan tempat dimana reaksi
reduksi berlangsung.
Larutan dipanaskan untuk melarutkan agar-agar dan bahan-bahan lainnya. Indikator
pp dimasukkan pada saat suhu larutan sekitar 60oC untuk menghindari rusaknya struktur dari
senyawa pemebentuk indikator PP. Logam dimasukkan kedalam cawan bersama dengan
larutan tersebut. Larutan akan membentuk agar-agar padat seiring dengan menurunnya suhu
larutan. Pengamatan dilakukan setiap hari selama 4 hari.
Pada logam sambungan antara Fe dan Cu, setelah dilakukan pengamatan selama 4
hari terjadi perubahan warna Fe saja. Logam besi menjadi warna biru tua dan Cu tetap
berwarna cokelat. Warna biru tua pada besi menunjukkan bahwa besi teroksidasi membentuk
ion Fe2+. Reaksinya : Fe(s) Fe2+ + 2e-. Secara keseluruhan reaksi ini menghasilkan senyawa
Fe2[Fe(CN)6]. Oleh karena ituSenyawa inilah yang memberikan warna biru pada media
indikator.
Pada logam Cu terjadi reaksi reduksi air yang akan menghasilkan ion OH -. Reaksi nya
: H2O + O2 + 4e-

4OH-. Ion OH- inilah yang menyebabkan perubahan warna menjadi

warna pink. Nilai potensial sel kedua logam ini adalah : Eosel = Eo katoda Eo anoda = 0,34
(- 0,44) = 0,78 volt . Nil
ai potensial ini bernilai positif yang artinya proses korosi ini berlangsung secara
spontan.Laju korosi untuk logam Fe adalah sebesar 2,006425 mpy lebih besar dibandingkan
dengan laju korosi tembaga sebesar 1,783612 mpy. Ini menunjukkan bahwa Fe dengan
potensial yang lebih rendah akan terkorosi terlebih dahulu dan logam Cu terlindungi oleh
elektron yang dihasilkan dari reaksi oksidasi Fe (terjadi proses perlindungan katodik).

5.3 Oleh Tasya Diah Rachmadiani (131411053)


Praktikum ini bertujuan melakukan pengamatan korosi terhadap logam dengan
menggunakan indikator. Indikator akan menunjukkan apakah logam terkorosi atau tidak.
Indikator juga akan menunjukkan daerah mana yang menunjukan logam bersifat anodik atau
katodik.

Digunakan logam Fe dan Cu sebagai objek yang diamati. Indikator yang digunakan
adalah phenolphtalein, kalium ferrocyanida, dan kalium ferricyanida. Penggunaan indikator
phenophtalein akan mengidentifikasi pembentukan OH- pada katodik dengan warna pink,
sedangkan ferrocyanida dan ferricyanida menunjukan pembebebasan Fe 2+dan Fe3+di anodik
dengan warna biru tua.
Logam Cu dan Fe dihubungkan dengan kawat dan ditempatkan dalam cawan petri
berisi larutan. Larutan tersebut terdiri dari indikator, elektrolit agar-agar, dan NaCl. Indikator
digunakan untuk mengetahui logam mana yang terlebih dahulu terkorosi. Penambahan
elektrolit agar-agar bertujuan untuk menghindari terjadinya perpindahan ion secara bebas.
Penambahan NaCl bertujuan untuk mempercepat terjadinya korosi agar pengamatan dapat
dilakukan dalam waktu yang singkat. NaCl dapat mempercepat terjadinya korosi karena Cl memiliki sifat autokatalitik (menggantikan OH-).
Setelah dilakukan pengamatan selama 3 hari, di sekitar logam Fe muncul warna biru
tua. Hal ini menunjukkan bahwa logam mengalami reaksi oksidasi dan bersifat anodik.
Sedangkan pada logam Cu, seharusnya disekitar logam Cu muncul warna pink yang berarti
bahwa pada logam Cu terjadi reaksi reduksi yaitu terjadi pembentukan OH - dan bersifat
katodik. Namun pada praktikum kali ini Cu tidak menunjukan perubahan warna sama sekali.
Hal ini dapat dikarenakan yang mengalami reduksi pada katodik adalah Cu bukan H 2O. Hal
lain yang dapat menyebabkan tidak adanya perubahan warna tersebut adalah dikarenakan
praktikan kurang menambahkan Indikator Phenopthalein atau dapat juga dikarenan Indikator
Phenopthalein yang belum homogen ketika dicampurkan kedalam larutan sehingga Indikator
Phenopthalein tidak berfungsi optimum. Karena jika pada daerah yang berwarna pink sebagai
katoda terjadi pembentukan OH-(reduksi air), reaksi yang seharusnya terjadi adalah :
H2O + O2 + 4e

4OH- (reduksi)

Dari pengamatan dapat diketahui bahwa logam Fe mengalami korosi terlebih dahulu
dibanding logam Cu. Hal ini dapat dikarenakan logam Cu melindungi dirinya sendiri
kemudian melinungi Fe. Potensial sel Cu pun lebih positif dibandingkan dengan Fe. Karena
berdasarkan literature semakin positif Potensial Sel nya, maka semakin besar kecenderungan
zat untuk tereduksi. Maka, Cu tidak bisa digunakan sebagai pelindung Fe pada pencegahan
korosi proteksi anodik karena Cu mempercepat laju korosi Fe.
Reaksi yang terbentuk :

Anodik: Fe Fe2+ + 2eKatodik

: Cu2+ + 2e- Cu

Reaksisel

: Fe + Cu2+ Fe2+ + Cu