Anda di halaman 1dari 2

David Nugroho/F1314134

CRITICAL REVIEW:
Decision Usefulness of Cash and Accrual Information:
Public Sector Managers Perceptions
1. Sumber Data dan Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Australia Barat pada tahun 2003. Penelitian menggunakan
survey melalui pos. Kuesioner dibagikan kepada semua direktur, manajer senior, dan
manajer menengah di 24 dari 25 departemen di Australia Barat. Rincian per departemen
seperti struktur, nama manajer, dan nama posisi didapatkan dari website maupun laporan
keuangan tahunannya. Satu departemen tidak diikutkan karena informasi yang
diperlukan tersebut tidak ditemukan di website maupun laporannya. Opini dari direktur
serta manajer senior dan menengah juga dikumpulkan, karena dirasa memiliki
kepentingan yang cukup besar terhadap laporan keuangan akrual dan akan terlibat dalam
pembuatan keputusan internal dalam departemen. Total, terdapat 268 kuesioner
didistribusikan. Kuesioner terdiri dari dua bagian. Bagian pertama menanyakan
mengenai adopsi dan pemakaian akuntansi berbasis akrual dan kas di departemen
responden dan bagian kedua berfokus mendapatkan informasi latar belakang responden,
seperti jenis kelamin, kualifikasi, tingkat pengetahuan atas akuntansi akrual, masa kerja
di sektor publik, dan pengalaman di bidang sektor swasta.
2. Isi
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji sejauh mana informasi akuntansi akrual
berguna dalam pengambilan keputusan di pemerintahan Australia Barat. Akuntansi
berbasis akrual mulai diterapkan di Australia sejak diterbitkannya
AAS 29 oleh Departemen Pemerintahan (AARF 1993). AAS 29 berfokus pada
perubahan paradigma dari ketaatan fiskal ke konsep yang lebih luas yaitu evaluasi
kinerja. AAS 29 menyebutkan bahwa akuntansi akrual akan membantu mencapai
akuntabilitas tersebut dengan menyediakan informasi yang bermanfaat bagi manajemen
departemen pemerintah untuk tujuan administratif dan pengambilan keputusan.
Penelitian ini menyumbangkan literatur empiris mengenai kebermanfaatan akuntansi
akrual pada sektor publik dengan mencari masukan dari manajer sektor publik tentang
persepsi mereka terhadap kebermanfaatan informasi akuntansi akrual dan informasi
akuntansi kas pada 19 situasi pengambilan keputusan internal.

3. Hasil Penelitian
Berdasarkan jawaban kuesioner para manajer di sektor publik, ditemukan bahwa
akuntansi akrual lebih berguna dibandingkan akuntansi berbasis kas pada 16 dari 19
situasi pengambilan keputusan.
4. Kesimpulan
Penelitian ini menemukan bahwa manajer sektor publik di Australia Barat menganggap
informasi akuntansi akrual lebih berguna daripada informasi akuntansi berbasis kas di
sebagian besar situasi keputusan yang diperiksa. Konsisten dengan sentimen dari AAS 29
(AARF 1998), akuntansi akrual dianggap lebih berguna untuk pemakaian kewajiban
akuntabilitas, untuk menilai kinerja, dan untuk menilai efektivitas dan efisiensi
penyediaan barang/jasa. Penelitian ini menemukan bahwa masih dibutuhkan adanya
periode penyesuaian karena manajer sektor publik membutuhkan waktu untuk
memahami dan mengerti keuntungan informasi akuntansi akrual.
Selain itu, penelitian ini juga menemukan bahwa cukup banyak responden menginginkan
departemennya menggunakan sistem akuntansi ganda. Hal ini mengindikasikan bahwa
akuntansi basis kas juga memiliki informasi penting, seperti penilaian arus kas.
Penelitian ini menarik untuk dilakukan di Indonesia sebagai sebuah tinjauan atas
penerapan akuntansi berbasis akrual. Di pemerintah daerah Indonesia pada tahun 2013
Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 64 Tahun 2013
tentang Penerapan SAP Berbasis Akrual di Pemerintah Daerah. Peraturan Menteri ini
menjadi pedoman bagi pemerintah daerah dalam melaksanakan akuntansi berbasis akrual
secara penuh paling lambat tahun anggaran 2015. Pengamatan yang dilakukan hanya
pada satu lokasi geografis (Australia Barat) dapat menjadi masukan untuk penelitian
selanjutnya agar memperluas sampel, apalagi jika akan dilakukan di Indonesia yang
memiliki 514 Kabupaten/Kota dan 34 Provinsi yang semuanya menggunakan akuntansi
akrual, sehingga hasil yang diperoleh lebih merepresentasikan keadaan yang benar-benar
terjadi.