Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

TEGANGAN

DISUSUN OLEH :
1. Juli wijaya
2. Agung
3. Imron setiaji
4. agil
KELAS : XA TKR

SMK NEGERI 1 MANGGAR


TAHUN PELAJARAN 2016/2017
TEGANGAN (YIELD)

Gambar 1: Gambaran singkat uji tarik dan datanya

Biasanya yang menjadi fokus perhatian adalah kemampuan maksimum bahan tersebut dalam
menahan beban. Kemampuan ini umumnya disebut Ultimate Tensile Strength disingkat
dengan UTS, dalam bahasa Indonesia disebut tegangan tarik maksimum.

Hukum Hooke (Hookes Law)

Untuk hampir semua logam, pada tahap sangat awal dari uji tarik, hubungan antara beban atau
gaya yang diberikan berbanding lurus dengan perubahan panjang bahan tersebut. Ini disebut
daerah linier atau linear zone. Di daerah ini, kurva pertambahan panjang vs beban mengikuti
aturan Hooke sebagai berikut:

rasio tegangan (stress) dan regangan (strain) adalah konstan

Stress adalah beban dibagi luas penampang bahan dan strain adalah pertambahan panjang
dibagi panjang awal bahan.

Stress: = F/AF: gaya tarikan, A: luas penampang

Strain: = L/LL: pertambahan panjang, L: panjang

Hubungan antara stress dan strain dirumuskan:

E=/

Untuk memudahkan pembahasan, gambar 1 kita modifikasi sedikit dari hubungan antara gaya
tarikan dan pertambahan panjang menjadi hubungan antara tegangan dan regangan (stress vs
strain). Selanjutnya kita dapatkan gambar 2, yang merupakan kurva standar ketika melakukan
eksperimen uji tarik. E adalah gradien kurva dalam daerah linier, dimana
perbandingan tegangan ()EdiberidannamaModulusregangan () s

Elastisitas atau Young Modulus. Kurva yang menyatakan hubungan antara strain dan stress
seperti ini kerap disingkat kurva SS (SS curve).

Gambar 2 : Kurva tegangan-regangan

Bentuk bahan yang diuji, untuk logam biasanya dibuat spesimen dengan dimensi seperti pada
Gambar 3 berikut.

Gambar 3 : Dimensi spesimen uji tarik (JIS Z2201).

Gambar 4 : Ilustrasi pengukur regangan pada spesimen

Perubahan panjang dari spesimen dideteksi lewat pengukur regangan (strain gage) yang
ditempelkan pada spesimen seperti diilustrasikan pada gambar 4. Bila pengukur regangan ini
mengalami perubahan panjang dan penampang, terjadi perubahan nilai hambatan listrik yang
dibaca oleh detektor dan kemudian dikonversi menjadi perubahan regangan.

Gambar 5 : Profil data hasil uji tarik

Batas elastic E(limit)

Dalam gambar 5 dinyatakan dengan titik A. Bila sebuah bahan diberi beban sampai pada titik A,
kemudian bebannya dihilangkan, maka bahan tersebut akan kembali ke kondisi semula
(tepatnya hampir kembali ke kondisi semula) yaitu regangan nol pada titik O (lihat inset
dalam gambar 5). Tetapi bila beban ditarik sampai melewati titik A, hukum Hooke tidak lagi
berlaku dan terdapat perubahan permanen dari bahan. Terdapat konvensi batas regangan
permamen (permanent strain) sehingga masih disebut perubahan elastis yaitu kurang dari
0.03%, tetapi sebagian referensi menyebutkan 0.005%. Tidak ada standarisasi yang universal
mengenai nilai ini.

Batas proporsional (proportionallimit)

Titik sampai di mana penerapan hukum Hooke masih bisa ditolerir. Tidak ada standarisasi
tentang nilai ini. Dalam praktek, biasanya batas proporsional sama dengan batas elastis.

Deformasi plastis (plastic deformation)

Yaitu perubahan bentuk yang tidak kembali ke keadaan semula. Pada Gambar 5 yaitu bila bahan
ditarik sampai melewati batas proporsional dan mencapai daerah landing.

Tegangan luluh (upper yield atas stress)


uy

Tegangan maksimum sebelum bahan memasuki fase daerah landing peralihan deformasi elastis
ke plastis.

Tegangan luluh (lower yield bawahstress)


ly

Tegangan rata-rata daerah landing sebelum benar-benar memasuki fase deformasi plastis. Bila
hanya disebutkan tegangan luluh (yield stress), maka yang dimaksud adalah tegangan ini.

Regangany( yieldluluhstrain)

Regangan permanen saat bahan akan memasuki fase deformasi plastis.

Regangane ( elasticelastisstrain)

Regangan yang diakibatkan perubahan elastis bahan. Pada saat beban dilepaskan regangan ini
akan kembali ke posisi semula.

Reganganp ( plasticplastisstrain)

Regangan yang diakibatkan perubahan plastis. Pada saat beban dilepaskan regangan ini tetap
tinggal sebagai perubahan permanen bahan.

Regangan total (total strain)

Merupakan gabungan reganganT=+pplastis.Perhatikanbeban dan rega dengan arah OABE. Pada


titik B, regangan yang ada adalah regangan total. Ketika beban

dilepaskan, posisi regangan ada pada titik E dan besar regangan yang tinggal (OE) adalah
regangan plastis.

Tegangan tarik maksimum TTM (UTS, ultimate tensile strength)

Pada gambar 5 ditunjukkan),merupakanbesar denganteganganmaksimumtitikyang C (


didapatkan dalam uji tarik.

Kekuatan patah (breaking strength)

Pada gambar 5 ditunjukkan dengan titik D, merupakan besar tegangan di mana bahan yang diuji
putus atau patah.

Tegangan luluh pada data tanpa batas jelas antara perubahan elastis dan plastis

Untuk hasil uji tarik yang tidak memiliki daerah linier dan landing yang jelas, tegangan luluh
biasanya didefinisikan sebagai tegangan yang menghasilkan regangan permanen sebesar 0.2%,
regangan ini disebut offset-strain (gambar 6).

Gambar 6 Penentuan tegangan luluh (yield stress) untuk kurva tanpa daerah linier
Perlu untuk diingat bahwa satuan SI untuk tegangan (stress) adalah Pa (Pascal, N/m2) dan strain
adalah besaran tanpa satuan.

3. Istilah lain
Selanjutnya akan kita bahas beberapa istilah lain yang penting seputar interpretasi hasil uji tarik.

Kelenturan (ductility)
Merupakan sifat mekanik bahan yang menunjukkan derajat deformasi plastis yang terjadi
sebelum suatu bahan putus atau gagal pada uji tarik. Bahan disebut lentur (ductile) bila
regangan plastis yang terjadi sebelum putus lebih dari 5%, bila kurang dari itu suatu bahan
disebut getas (brittle).

Derajat kelentingan (resilience)


Derajat kelentingan didefinisikan sebagai kapasitas suatu bahan menyerap energi dalam fase
perubahan elastis. Sering disebut dengan Modulus Kelentingan (Modulus of Resilience), dengan
satuan strain energy per unit volume (Joule/m3 atau Pa). Dalam Gambar1, modulus kelentingan
ditunjukkan oleh luas daerah yang diarsir.

Derajat ketangguhan (toughness)

Kapasitas suatu bahan menyerap energi dalam fase plastis sampai bahan tersebut putus. Sering
disebut dengan Modulus Ketangguhan (modulus of toughness). Dalam gambar 5, modulus
ketangguhan sama dengan luas daerah dibawah kurva OABCD.

Pengerasan regang (strain hardening)


Sifat kebanyakan logam yang ditandai dengan naiknya nilai tegangan berbanding regangan
setelah memasuki fase plastis.

Tegangan sejati , regangan sejati (true stress, true strain)

Dalam beberapa kasus definisi tegangan dan regangan seperti yang telah dibahas di atas tidak
dapat dipakai. Untuk itu dipakai definisi tegangan dan regangan sejati, yaitu tegangan dan
regangan berdasarkan luas penampang bahan secara real time. Detail definisi tegangan dan
regangan sejati ini dapat dilihat pada gambar 7.

Gambar 7 Tegangan dan regangan berdasarkan panjang bahan sebenarnya

- Hubungan Tegangan dan Regangan


Hubungan tegangan dan regangan dapat diketahui dengan jelas pada diagram tegangan dan
regangan yang didasarkan dari data yang diperoleh dari pengujian tarik. Ini juga berlaku hukum
hooke yang menyatakan tegangan sebanding dengan regangan. Dan tegangan (stress) adalah
beban dibagi dengan luas penampang bahan dan regangan (strain) adalah pertambahan panjang
dibagi panjang awal bahan. Persamaannya sebagai berikut :

Stress = = F/A ; F = gaya tarikan ; A = lua

Strain = =L/L ; L = pertambahan panjang

Gambar 8: Diagram tegangan regangan

Keterangan :
P = Proporsional stress = pertambahan tegan

E = Elasticity stress = titik dimana terjad

Y = Yield t stressterjadinyapenambahan=temparegangantanpa penambahan beban

U = Ultimate stress = tegangan maksimum yan

B = Breaking stress = titik dimana material

Pada titik nol sampai batas proporsional, tegangan berbanding lurus dengan regangan dan
membentuk garis lurus yang curam (semakin curam garis tersebut maka semakin kaku
materialnya). Pada titk nol sampai yield point merupakan daerah elastis. Pada titik yield
material akan mengalami pertambahan regangan tanpa disertai penambahan beban.

Untuk material tertentu umumnya tidak memperlihatkan batas yield yang jelas. Maka untuk
menentukannya digunakan metode offset. Dengan metode ini, kekuatan ditentukan sebagai
tegangan dimana bahan memperlihatkan batas penyimpangan/deviasi tertentu dari keadaan
proporsional tegangan dan regangan.

Gambar 9 : Penentuan tegangan luluh dengan metode offset

Cara metode offset adalah dengan menarik garis lurus sejajar dengan kurva tegangan dan
regangan (pada daerah proporsional) dan berjarak 0,002 atau 0,2% dari 0. Garis tersebut akan
memotong kurva tegangan dan regangan. Titik hasil perpotongan tersebut adalah titik yield
offset. Titik yield/luluh tersebut bukan dari hasil penguji sifat fisik bahan maka dinamakan titik
luluh offset.

Pada kurva/diagram tegangan regangan terdapat 2 daerah yaitu daerah elastis (dari 0 sampai
yield point) dan daerah plastis (dari yield sampai breaking point). Adapun sifat mekanik dalam
setiap daerah tersebut, yaitu :

- Sifat Mekanik Pada Daerah Elastis

Kekuatan elastisitas = kemapuan untuk menerima beban tanpa terjadi deformasi plastis.

Modulus Young (Modulus elastisitas) = didefinisikan sebagai ukuran kekakuan suatu material,
semakin kecil regangan elastis yang terjadi, maka semakin kaku material itu.

Modulus Resilience (Modulus kelentingan) = didefinisikan sebagai kemampuan material untuk


menyerap energi dari luar tanpa terdeformasi plastis. Energi yang diserap untuk meregang satu
satuan volume sampai batas elastisnya.

Kekerasan = kemapuan material untuk menerima penetrasi dan gesekan. Kekerasan berbanding
dengan elasttisitas sehingga benda yang punya elastisitas tinggi maka kekerasannya rendah

- Secara Umum Sifat Mekanik dari Logam Dibagi Menjadi :

a). Batas proposionalitas (Proportionality Limit)


Adalah daerah batas dimana tegangan dan regangan mempunyai hubungan proporsionalitas satu
dengan lainnya. Setiap penambahan tegangan akan diikuti dengan penambahan regangan secara
proporsional dalam hubungan linier : s = E e

b). Batas elastis (Elastic limit)


Adalah daerah dimana bahan akan kembali kepada panjang semula bila tegangan luar
dihilangkan. Daerah proporsionalitas merupakan bagian dari batas elastik. Bila beban terus
diberikan tegangan maka batas elastis pada akhimya akan terlampaui sehingga bahan tidak
kembali seperti ukuran semula. Maka batas elastis merupakan titik dimana tegangan yang
diberikan akan menyebabkan terjadinya deformasi plastis untuk pertama kalinya. Kebanyakan
material tenik mempunyai batas elastis yang hampir berhimpitan dengan batas
proporsionalitasnya.

c). Titik Luluh (Yield Point) dan Kekuatan Luluh (Yield Strength)
Adalah batas dimana material akan terus mengalami deformasi tanpa adanya penambahan
beban. Tegangan (stress) yang mengakibatkan bahan menunjukkan mekanisme luluh ini disebut
tegangan luluh (yield stress). Gejala luluh umumnya hanya ditunjukkan oleh logam-logam ulet
dengan struktur kristal BCC dan FCC yang membentuk interstitial solid solution dari atomatom karbon, boron, hidrogen dan oksigen. Interaksi antar dislokasi dan atom-atom tersebut
menyebabkan baja ulet seperti mild steel menunjukan titik luluh bawah (lower yield point) dan
titik luluh atas (upper yield point).

Untuk baja berkekuatan tinggi dan besi tuang yang getas pada umumnya tidak memperlihatkan
batas luluh yang jelas. Sehingga digunakan metode offset untuk menentukan kekuatan luluh
material. Dengan metode ini kekuatan luluh ditentukan sebagai tegangan dimana bahan
memperlihatkan batas penyimpangan/deviasi tertentu dari keadaan proporsionalitas tegangan
dan regangan.

Kekuatan luluh atau titik luluh merupakan suatu gambaran kemampuan bahan menahan
deformasi permanen bila digunakan dalam penggunaan struktural yang melibatkan pembebanan
mekanik seperti tarik, tekan, bending atau puntiran. Di sisi lain, batas luluh ini harus dicapai
ataupun dilewati bila bahan dipakai dalam proses manufaktur produk-produk logam seperti
proses rolling, drawing, stretching dan sebagainya. Dapat dikatakan titik luluh adalah suatu
tingkatan tegangan yang tidak boleh dilewati dalam penggunaan struktural (in service) dan
harus dilewati dalam proses manufaktur logam (forming process).

d). Kekuatan Tarik Maksimum (Ultimate Tensile Strength)

Adalah tegangan maksimum yang dapat ditanggung oleh material sebelum tejadinya perpatahan
(fracture). Nilai kekuatan tarik maksimum tarik ditentukan dari beban maksimum dibagi luas
penampang.

e). Kekuatan Putus (Breaking Strength)


Kekuatan putus ditentukan dengan membagi beban pada saat benda uji putus (Fbreaking)
dengan tuas penampang awal (A0). Untuk bahan yang bersifat ulet pada saat beban maksimum

M terlampaui dan bahan terus terdeformasi hingga titik putus B maka terjadi mekanisme
penciutan (necking) sebagai akibat adanya suatu deformasi yang terlokalisasi. Pada bahan ulet,
kekuatan putus lebih kecil dari kekuatan maksimum, dan pada bahan getas kekuatan putus sama
dengan kekuatan maksimumnya.

f). Keuletan (Ductility)


Adalah sifat yang menggambarkan kemampuan logam menahan deformasi hingga tejadinya
perpatahan. Pengujian tarik memberikan dua metode pengukuran keuletan bahan yaitu :

Persentase perpanjangan (Elongation) : e (%) = [(Lf-L0)/L0] x 100%

dimana : Lf = panjang akhir benda uji L0 = panjang awal benda uji

Persentase reduksi penampang (Area Reduction) : R (%) = [(A1 A0)/A0] x 100%

dimana : Af = luas penampang akhir A0 = luas penampang awal

g). Modulus Elastisitas (Modulus Young)


Adalah ukuran kekakuan suatu material, semakin besar harga modulus ini maka semakin kecil
regangan elastis yang terjadi, atau semakin kaku.

h). Modulus Kelentingan (Modulus of Resilience)


Adalah kemampuan material untuk menyerap energi dari luar tanpa terjadinya kerusakan. Nilai
modulus resilience (U) dapat diperoleh dari luas segitiga yang dibentuk oleh area elastik
diagram tegangan-regangan. Perumusannya : U = 0.5se atau U = 0.5se2/E.

i). Modulus Ketangguhan (Modulus of Toughness)


Adalah kemampuan material dalam mengabsorb energi hingga terjadinva perpatahan. Secara
kuantitatif dapat ditentukan dari luas area keseluruhan di bawah kurva tegangan-regangan hasil
pengujian tarik.

j). Kurva Tegangan-Regangan Rekayasa dan Sesungguhnya


Kurva tegangan-regangan rekayasa (engineering) didasarkan atas dimensi awal (luas area dan
panjang) dari benda uji, sementara untuk mendapatkan kurva tegangan-regangan sesungguhnya
(true) diperlukan luas area dan panjang aktual pada saat pembebanan setiap saat terukur. Pada
kurva tegangan-regangan rekayasa, dapat diketahui bahwa benda uji secara aktual mampu
menahan turunnya beban karena luas area awal Ao bernilai konstan pada saat perhitungan
tegangan tegangan=P/Ao-regangan. sesungguhnyaSementara pad luas area aktual adalah
selalu turun hingga terjadinya perpatahan dan benda uji mampu
menahan peningkatan tegangan karena = P/A.